I’m Not A Playboy – Part 3

I’M NOT A PLAYBOY – Part 3

 

Author : Vinny a.k.a. vinvin

Main cast : Kang Ji Hyun (OC), Kim Jong Hyun

Support cast : Lee Tae Min, Park Min Ri (OC), Kim Ki Bum (Key), Choi Min Ho, appa dan Umma Ji Hyun, Kim Dong Woo (OC)

Length : sequel

Genre : romance, friendship

Rating : General (iyakah??)

Laki-laki itu melangkah pelan menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya perlahan. Gelap. Ditekannya saklar lampu. Dalam sekejap kamarnya menjadi terang benderang. Menampilkan kamar yang luas dan lapang dengan perabot-perabot mahal yang indah.

Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur besar yang empuk. Lelah. Itu yang dirasakannya sekarang. Mungkin dia bisa menyelesaikan segala masalah di perusahaannya, tapi kenapa mengurus seorang remaja laki-laki susah sekali?

*Flashback*

Dong Woo memasuki rumahnya dengan tenang. Dia memperhatikan rumah itu, rumah yang sudah tak dilihatnya seminggu ini karena harus pergi ke Jepang untuk mengurus kerja sama perusahaannya. Rumahnya tetap indah, tertata rapi dan bersih setiap saat –tentu saja karena dia punya banyak pembantu. Tapi rumah itu terlihat sepi. Tidak ada Jong Hyun, anaknya, maupun Key, keponakannya yang tinggal di rumahnya sejak setengah tahun lalu. Apa rumahnya memang selalu sepi seperti ini?

Dong Woo melangkahkan kakinya ke tangga yang berada di antara ruang keluarga dan ruang makan. kebetulan dia melihat Nam Ahjumma yang sedang melintas di ujung ruang makan. Nam Ahjumma yang menyadari keberadaan tuannya segera membungkuk dan memberi salam.

“Di mana Jong Hyun?” tanya Dong Woo tanpa banyak basa-basi.

“Tuan muda Jong Hyun baru saja pulang dari sekolah. Dia sedang berada di kamarnya,” jelas Nam Ahjumma.

“Baru pulang?” Dong Woo melirik jam tangannya. Jam delapan malam.

“Ne….”

“Apa dia selalu pulang malam?”

“Hm…. itu….” Belum sempat Nam Ahjumma menyelesaikan ucapannya, terdengar suara senandung seseorang.

Jong Hyun melangkah ringan menuruni tangga. Mulutnya tengah menyanyikan sebuah lagu ceria sedangkah jari telunjuk kanannya memutar-mutar kunci mobilnya. Dia belum sadar kalau Appanya sudah pulang dan berada di dekat tangga sekarang.

“Jong Hyun!”

Jong Hyun tersentak kecil mendengar suara berat yang sudah lama tak didengarnya itu. Appanya sudah berdiri di depan tangga, menunggunya.

“A… appa? Kapan pulang?” tanyanya berbasa-basi.

“Barusan. Apa kau baru pulang dari sekolah? Dan apa sekarang kau ingin keluar lagi?” Dong Woo memperhatikan kunci mobil Jong Hyun.

“Hm… ini…,” Jong Hyun ragu untuk menjawab. Tidak mungkin kan dia jujur pada Appanya kalau dia akan pergi ke bar seperti yang dilakukannya setiap malam? Atau berbohong saja?

“Sudahlah, Appa ingin bicara denganmu. Ikut Appa.” Dong Woo berjalan menaiki tangga. Lalu dia mengarah ke ruang kerjanya.

Firasat Jong Hyun langsung berubah buruk. Dia tahu kalau sampai Appanya mengajaknya berbicara di ruang kerja, itu apa yang ingin dibicarakan adalah hal yang cukup penting. Dan biasanya hal yang penting menurut Appanya adalah hal yang buruk bagi Jong Hyun. Terakhir kali dia memasuki ruangan ini adalah dua minggu lalu, saat Appa menyuruhnya pindah ke SM High School dengan alasan yang…. Yah, dia malas membahasnya.

Jong Hyun mengikuti Appanya untuk duduk di sofa coklat yang berada di sebelah kiri ruangan. Jong Hyun duduk di depan Appanya. Dia menatap Appanya dengan penasaran. Benarkah ini hal yang buruk? Semoga tidak seburuk menyuruhnya pindah sekolah.

Dong Woo menatap anaknya itu. Dia sudah yakin kalau keputusannya ini tepat. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan tingkah Jong Hyun. Dulu Jong Hyun membuat putri ketua yayasan sekolahnya yang lama patah hati. Hal itu benar-benar mencoreng wajahnya. Dia kenal cukup akrab dengan ketua yayasan sekolah itu dan membuatnya sangat malu dengan tingkah anak laki-lakinya yang hobi memainkan perempuan. Dia pun terpaksa memindahkan Jong Hyun ke sekolah lain daripada dia harus bertemu dengan ketua yayasan yang kenal cukup dekat dengannya itu dengan menanggung malu.

“Jong Hyun, dengarkan baik-baik,” kata Dong Woo memecah keheningan. “Appa sudah menjodohkanmu dengan seorang yeoja….”

“Apa?!” Jong Hyun terlonjak. “Jangan bercanda, Appa!”

“Appa tidak bercanda! Appa serius! Ini satu-satunya cara terbaik untuk mengubah sikap memalukanmu itu!”

“Sikap apa Appa?”

“Sikapmu yang selalu mempermainkan perempuan. Hanya dengan cara ini Appa bisa mengaturmu!”

“Cara apa lagi setelah menyuruhku pindah sekolah? Appa kira dengan ini aku akan menuruti kata-kata Appa?”

“Kau lupa dengan kata-katamu dua minggu lalu?”

Jong Hyun terdiam, berusaha mengingat kata-katanya yang dimaksud Appanya.

*Flashback*

“Hentikan semua sikapmu itu, Jong Hyun!” Dong Woo berdiri dari posisinya, berteriak.

“Sikap apa? Jalan dengan yeoja-yeoja itu lalu meninggalkan mereka? Apa itu salah? Aku bukan namjachingu mereka. Aku tidak punya kewajiban untuk menjaga mereka. Aku bebas, Appa!”

“Jadi kau mempermainkan yeoja-yeoja itu dan mempermalukan Appa karena mereka bukan yeojachingumu? Sungguh memalukan! Mau berapa banyak anak relasi Appa yang kau buat patah hati, hah?! Kau hanya mempermalukan Appa!” Dong Woo marah besar. Dan selanjutnya, keputusan sepihak pun diambil. Jong Hyun harus pindah sekolah.

*Flashback end*

“Maksud Appa….” Jong Hyun mulai sedikit mengerti maksud Appanya.

“Kau sendiri yang bilang kau memperlakukan yeoja seperti itu karena kau bukan namjachingu mereka. Sekarang kau bukan hanya menjadi namjachingu, tapi akan bertunangan!”

“Aku tidak mau!” teriak Jong Hyun.

“Aku tidak bertanya kau mau atau tidak. Ini perintah! Kau harus mau!”

“Tapi aku punya hak untuk mengatur hidupku sendiri!” Jong Hyun marah.

“Aku sudah mengatur pertemuan kalian. Kau harus datang!”

“Tidak! Aku tidak akan datang!” Jong Hyun menggebrak meja di depannya sampai bergetar. Dong Woo sedikit terkejut, tapi dia menyembunyikan keterkejutannya.

Jong Hyun berdiri degan kasar. Dia segera berjalan menuju pintu keluar dengan kaki dihentakkan.

“Jong Hyun!” Dong Woo memanggil anaknya. Tapi Jong Hyun tak peduli. Dia membuka pintu lalu membantingnya keras. Dong Woo hanya menghembuskan nafas keras-keras dan memegang kepalanya. Stress.

*Flashback end*

Dong Woo meraba tempat tidurnya. Dingin dan lapang. Hanya dia yang menempati tempat itu setelah dia kehilangan istrinya sepuluh tahun lalu. Dan hanya dia yang mengurus anak mereka sendiri. Walau tidak bisa dibilang mengurus karena dia hanya meninggalkan Jong Hyun di rumah sementara dia sibuk dengan segala pekerjaannya. Rumah hanya menjadi tempat persinggahannya selama ini.

Ah Ra, seandainya kau masih ada di dunia ini, semua pasti tidak akan seburuk ini. kau pasti bisa merawat Jong Hyun jauh lebih baik dariku…. Dong Woo memejamkan matanya, berusaha untuk terlelap, melupakan masalahnya sejenak.

***

Dari pulang sekolah tadi Ji Hyun hanya mengurung diri di kamarnya. Dia benar-benar malas untuk keluar dari kamar dan bertemu dengan Ummanya yang pasti akan membahas tentang perjodohan aneh itu. Dan karena itu dia belum makan malam juga, padahal sudah jam sembilan. Ji Hyun memang sudah lapar. Untungnya dia punya sekotak biskuit dan dua batang coklat, persediaan makanan daruratnya.

Ji Hyun berbaring telungkup di atas tempat tidurnya. Dia menggigit coklatnya pelan-pelan sambil membaca sebuah novel teenlit yang baru dipinjamnya dari Min Ri. Sedangkan buku fisikanya sudah sejak setengah jam yang lalu dia telantarkan di atas meja belajar.

Tok tok tok…. Ji Hyun menoleh ke arah pintu kamarnya yang diketuk itu.

“Ji Hyun, ini Umma….” terdengar suara dari balik pintu.

Ji Hyun menghela nafas. Dia bingung harus membuka pintu atau tidak. Sebenarnya dia sangat malas, tapi dia tahu sangat tidak sopan membiarkan Ummanya di luar. Akhirnya dengan sedikit ragu, Ji Hyun turun dari tempat tidurnya lalu membuka pintu.

“Kau belum makan malam kan? Ini Umma bawakan makanan untukmu.” Umma Ji Hyun tersenyum hangat sambil menyodorkan sebuah nampan berisi sepiring nasi dan beberapa lauk lain.

Perut Ji Hyun seakan memberontak lapar saat melihat makanan yang dibawakan Ummanya. Itu adalah makanan kesukaan Ji Hyun. Akhirnya Ji Hyun menerima nampan itu. Dia tidak ingin tidur dengan perut hanya terisi coklat dan biskuit.

“Boleh Umma masuk?” tanya Umma Ji Hyun.

Ji Hyun memundurkan badannya sebagai jawaban. Umma Ji Hyun pun berjalan masuk. Ji Hyun menutup pintu sebelum duduk di sofa, di samping Ummanya. Dia menempatkan nampan di atas pangkuannya dan mulai makan.

“Ji Hyun, besok makan malamlah dengan calon tunanganmu.”

“Uhuk,” Ji Hyun hampir tersedak. Dia meraih segelas air putih yang ada di atas meja dan segera meneguknya. Seharusnya dia tahu kalau Ummanya pasti akan membahas tentang perjodohannya. Tapi… calon tunangan?!

“Makanlah pelan-pelan,” kata Umma santai. “Besok Umma akan menjemputmu sepulang sekolah. Kami akan membiarkan kalian bertemu berdua dulu. Bicaralah baik-baik dengannya. Cepatlah akrab, ya?”

Ji Hyun meletakkan sendoknya dan beralih menatap Umma. “Umma, aku tidak mau melakukannya.”

Umma Ji Hyun menghela nafas lalu meraih tangan Ji Hyun ke dalam genggamannya. “Ji Hyun, Umma tahu ini susah untukmu. Umma tahu kamu tidak menyukai ini. Tapi Umma mohon, jalani saja dulu ya? Kita sudah berhutang banyak kepada Dong Woo. Tunjukkan kalau kita keluarga yang tahu balas budi. Lakukanlah ini demi Umma dan Appa, Ji Hyun. Umma berharap kau mengerti. Umma dan Appa sangat bergantung padamu.”

Ji Hyun menatap mata Ummanya. Dan Ji Hyun dapat merasakan kasih sayang yang besar di sana. Ji Hyun percaya dengan Ummanya. Dan dia tidak ingin melukai hati kedua orang tuanya. Pelan-pelan Ji Hyun mengangguk.

“Terima kasih,” Umma Ji Hyun mengelus kepala Ji Hyun lalu berjalan keluar dari kamar. Ji Hyun menghela nafas.

Aku harus bisa menjalaninya, tekad Ji Hyun. Tapi… aku lupa menanyakan Umma siapa nama namja itu…. Ah, besok saja aku tanyakan.

Ji Hyun melanjutkan makan malamnya yang terhenti sebentar.

***

Apa hal yang mengerikan bagi seorang playboy? Mungkin saat mereka terikat dengan seorang perempuan? Merasa terkekang kah? Tidak puas dengan seorang perempuan saja? Kalau memang playboy itu sedang benar-benar jatuh cinta, semua tidak masalah. Tapi bagaimana kalau hubungan itu didasarkan karena sebuah perjodohan? Paksaan orang tua? Tidakkah dia merasa semakin tersiksa?

“Sudahlah Jjong….” Min Ho mencoba menenangkan Jong Hyun setelah dia sendiri lebih tenang.

Jong Hyun hanya diam. Wajahnya dingin walau mereka sudah diam selama lima menit. Lima menit waktu yang cukup bagi Key dan Min Ho untuk berpikir dan menebak-nebak. Tapi bukan waktu yang cukup untuk menenangkan seorang Kim Jong Hyun.

“Siapa tahu yeoja yang dipilih Appamu itu cantik,” celetuk Key tiba-tiba. Jong Hyun melirik ke arah Key dengan tatapan membunuh yang sekejap membuat Key terdiam. Min Ho pun melirik kesal pada Key yang berbicara tak tepat waktu.

Jong Hyun kembali menatap kosong ke depan. Tapi pikirannya mulai bekerja. Bagaimana kalau yeoja itu ternyata cantik? Lalu juga baik, sopan, pintar, menarik, pokoknya tipe wanita ideal. Apa dia tidak menyesal menolak yeoja sesempurna itu? Tapi di dunia ini tidak ada yang sempurna kan?

“Mungkin Key benar….” kata Jong Hyun pelan. Key dan Min Ho saling berpandangan bingung.

“Mari kita lihat seberapa sempurna yeoja yang dipilih Appa….” Jong Hyun menyeringai kecil. Paling tidak dia dapat tambahan yeoja kan?

Sekarang Key dan Min Ho benar-benar bingung bercampur ngeri. Bagaimana bisa Jong Hyun berubah pikiran secepat itu? Tapi mereka sedikit lega Jong Hyun tidak down lagi.

“Ayo kita minum!” Jong Hyun menuangkan bir ke dalam gelasnya. Kemeriahan pun dimulai lagi.

***

Hari yang tidak harapkan Ji Hyun tiba juga. Hari di mana dia harus menemui namja yang dijodohkan dengannya, alias calon tunangannya. Ji Hyun merasa aneh saat mengatakan ‘calon tunangan’. Dia saja tidak mengenali namja itu, dan tiba-tiba mereka bertunangan? Konyol….

Ji Hyun turun dari mobil Ummanya –hari ini Ummanya yang mengantar dan menjemputnya—dan berjalan ke kelasnya. Perasaannya tidak seburuk kemarin, karena dia sudah mencoba untuk menerima keadaan. Tapi dia memang masih malas dan kehilangan semangat.

Saat melewati lapangan basket, pandangan Ji Hyun tiba-tiba terpaku pada seorang namja. Namja itu sedang melempar bola ke ring. Dan saat bola itu berhasil masuk ke dalam ring, beberapa yeoja yang berdiri di tepi lapangan bersorak riang.

Ji Hyun menggelengkan kepalanya. Namja itu yang paling pendek di antara anak basket lainnya. Tapi skillnya bagus juga. Walau begitu, dia memang namja yang menyebalkan dan playboy! Lihat saja, dia langsung tersenyum sambil menebar pesona ke yeoja-yeoja itu. Ckckck…. Dasar Kim Jong Hyun.

Brukk!

“Auw!” Ji Hyun melihat ke orang yang ditabraknya. “Tae Min?”

“Hai, kau melihat apa sampai menabrakku?”tanya Tae Min sambil tersenyum. Dia selalu tampak ceria setiap hari.

“Nggak lihat apa-apa kok….” Ji Hyun tersenyum kecil, menutupi kalau tadi dia memperhatikan Jong Hyun. Diam-diam dia melirik ke arah lapangan basket, dan sialnya Jong Hyun memergokinya!

“Tae Min, aku ke kelas dulu ya!” Ji Hyun berlari melewati Tae Min. Entah kenapa perasaannya jadi aneh saat bertatapan mata dengan Jong Hyun.

***

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Ji Hyun membereskan buku-bukunya. Sepanjang hari ini Jong Hyun tidak mengganggunya sedikit pun. Dia merasa sedikit aneh  lega tidak berinteraksi dengan si menyebalkan itu.

“Ku dengar ada toko buku baru. Aku dan Hae Woo mau ke sana. Kalian mau ikut?” tanya Tae Min.

“Mau!”  jawab Min Ri bersemangat.

“Kalau kau Ji Hyun? Kalau mau kita pergi sekarang yuk!” ajak Tae Min.

“Mianhae, hari ini aku tidak bisa. Aku harus pergi untuk menemui….” Ji Hyun menggantungkan kalimatnya. Dia baru ingat kalau dia belum becerita pada kedua sahabatnya itu tentang perjodohannya. Mungkin dia harus menceritakannya sekarang.

“Menemui siapa?” tanya Min Ri penasaran.

Ji Hyun melirik jam tangannya. Masih ada waktu kira-kira sepuluh menit sebelum Umma menjemputnya. “Aku harus menceritakan sesuatu kepada kalian. Tapi kita ke tempat yang sepi dulu ya?”

“Baiklah, ayo cepat!”

Ji Hyun membawa Min Ri dan Tae Min ke samping gedung yang cukup sepi. Dia pun memulai ceritanya. Menceritakan tentang utang orang tuanya, lalu perjodohan itu. Dan juga bagaimana keinginannya untuk menolak.

“Omona….” Min Ri menutup mulutnya. Matanya masih terbelalak. Antara tak percaya, terkejut dan prihatin pada sahabatnya. “Apa ini kenyata-”

“Apa kau benar tidak ingin dijodohkan?” tiba-tiba Tae Min memotong ucapan Min Ri. Wajahnya tampak serius, membuat Ji Hyun sedikit salah tingkah.

“Ten… tentu saja aku tidak ingin, Tae Min. Tapi aku tidak punya pilihan.” Ji Hyun mendesah, menatap lantai di bawahnya.

“Kau punya pilihan, Ji Hyun….” Tae Min melembutkan nada suaranya. Sedangkan Min Ri hanya diam melihat mereka berdua.

Ji Hyun mendongak, menatap Tae Min heran. “Pilihan apa? Kabur? Itu tidak mungkin.” Ji Hyun tertawa hambar.

“Kenapa tidak mungkin? Kalau kau kabur aku bersedia menerimamu di rumahku. Aku tidak keberatan,” Tae Min bersikeras, seperti tidak tahu betapa hal itu tidak mungkin dilakukan Ji Hyun.

“Ini tidak segampang itu Tae Min. Lagipula aku punya alasan untuk melakukan hal ini. Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku….” jelas Ji Hyun.

Sebenarnya kalaupun bisa Ji Hyun ingin segera kabur. Tapi… kabur ke mana? Orang tua Min Ri belum tentu menerimanya di rumah mereka. Sedangkan Tae Min, dia itu kan namja. Kabur juga percuma karena orang tuanya akan menemuinya di sekolah atau mencarinya di rumah Min Ri. Ji Hyun juga tidak bisa meninggalkan sekolahnya. Dia sangat peduli dengan nilai-nilainya, dia senang bisa bersekolah, dan juga dia itu seorang President School.

“Jadi kau rela mengorbankan perasaanmu? Apa kau rela?” tanya Tae Min lagi.

Kali ini Ji Hyun terdiam. Apa benar dia rela? Tidak, dia tidak benar-benar rela. Kalaupun rela, dia tidak ikhlas dan tulus menjalaninya. Dia punya perasaan sendiri. dia ingin bertunangan dengan namja yang mencintai dan dicintainya. Bukan malah karena sebuah perjodohan yang disebabkan karena janji masa lalu ataupun utang. Sebenarnya dia tidak bisa menerima ini! Pertama karena memang dia tak ingin dijodohkan. Kedua karena ini sangat tak masuk akal! Ini seperti adegan dari novel ataupun drama-drama TV. Ini sangat aneh!

“Aku…” Ji Hyun mencoba merangkai kata-kata. “Aku akan berusaha. Aku rela kok….” Sangat berat mengucapkannya. Tapi mau bagaimana lagi?

Tae Min menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan suaranya. “Bagaimana kalau… kalau aku yang tidak rela melihatmu bersama namja lain?”

Ji Hyun terdiam. Dia menatap wajah Tae Min bingung bercampur serius. Apa dia tidak salah dengar? Tapi melihat Min Ri yang juga terkejut –bahkan sampai matanya terbuka lebar—sepertinya pendengarannya benar. Apa mungkin Tae Min mengatakan hal seperti itu?

“Maksudmu….” Ji Hyun menelan ludahnya. “… apa?”

Dalam hati Ji Hyun berharap sedetik lagi Tae Min akan tertawa terbahak-bahak lalu mengatakan hal seperti ‘Hah, kau tertipu!’ atau ‘Aku cuma bercanda….’ Dia sangat berharap itu lah yang akan terjadi. Karena dia benar-benar tidak siap kalau Tae Min akan mengatakan….

“Bagiku kamu lebih dari sekedar temanku, Ji Hyun. Sudah lama aku memendam perasaanku padamu.”

Tidak! Tae Min mengatakannya! Ji Hyun benar-benar shock sekarang. Apa benar ini Tae Min? Kenapa? Selama ini Tae Min sudah Ji Hyun anggap saudaranya sendiri, sudah menjadi sahabatnya yang sangat baik. Tapi ternyata Tae Min punya maksud lain di balik semua itu? Tidak tuluskah pertemanan mereka? Apa semua hanya karena rasa suka? Apa bukan rasa persaudaraan? Tae Min, kenapa kau setega ini padaku? Jadi hanya aku yang menganggapmu sahabat? pikir Ji Hyun.

“Kau sahabatku Tae Min,” kata Ji Hyun tegas dan terdengar agak dingin. “Sampai kapan pun kau tetap sahabatku. Mianhae….”

Suasana menjadi hening sesaat. Sampai Tae Min membuka suara. “It’s ok.”

“Aku harus pulang. Bye.” Ji Hyun bangkit dari kursi yang didudukinya dan berjalan pergi dari sana.

Hatinya terasa sakit, seperti ditimpa batu besar. Rasanya sesak. Kenapa? Apa karena merasa dikhianati? Tapi apa salah Tae Min kalau menyukainya?

“Arghh!” Ji Hyun berteriak kecil. Dia tidak mengerti dengan perasaannya. Pastinya dia merasa semua sangat kacau!!

Beberapa bulan lalu perusahaan Appa kacau, pikir Ji Hyun. Lalu giliran Umma, Appa, dan keluarga calon tunanganku yang kacau sampai menjodohkan kami. Sekarang Tae Min yang kacau! Arghh…! Kenapa hidupku jadi seperti ini?

***

Sesak, sakit, perih. Rasanya dadanya dihantam keras dan diiris pelan-pelan. Kenapa sesakit ini rasanya? Kenapa?

Min Ri menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dia mencoba menahan air mata yang sudah sampai di pelupuk matanya. Uljima…. batinnya.

Dia menoleh ke sebelahnya. Tae Min masih menundukkan kepalanya. Sedangkan Ji Hyun sudah berjalan pergi tadi. Tae Min mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya kosong, menyiratkan kesedihan. Sesedih itu kah kau karena Ji Hyun? Tanya Min Ri dalam hati.

“Tae… Tae Min?” Min Ri mencoba membuka suaranya.

Tiba-tiba Tae Min berdiri. Ia meraih tasnya dan berlari pergi.

“Tae Min!” teriak Min Ri. Tapi Tae Min tidak mendengar. Dia sudah berada jauh di depan.

Min Ri menyandarkan tubuhnya di bangku itu. Dia meremas kedua tangannya.

Sakit, batinnya. Sakit sekali rasanya. Aku bisa merasakan sakit yang kau rasakan, Taeminie… Bahkan yang kurasakan lebih perih dari yang kau rasakan…. setetes air mata menetes pelan, mengalir di pipi Min Ri.

***

Suasana sekolah masih ramai. Ji Hyun mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah. Dia merasa ingin cepat-cepat kabur dari sana. Kali ini perasaannya benar-benar kacau. Dia seakan tidak shock, terkejut, tak percaya. Apalagi yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini? Saat sahabatnya yang dia percaya tiba-tiba berkata menyukainya? Apa hal-hal aneh tidak akan berhenti mengganggunya? Huh….

Mobil Umma Ji Hyun sudah sampai di depan gerbang sekolah. Ji Hyun segera membuka pintu mobil di sebelah Ummanya dan duduk di dalam, menghempaskan tubuhnya ke atas jok yang nyaman. Dia menghela nafas yang panjang. Perasaannya sedang buruk dan sebentar lagi dia harus menemui seseorang yang entah bagaimana rupanya. Ji Hyun berharap pertemuan ini ditunda, dibatalkan sekalian kalau bisa. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi.

“Kita pulang dulu ya? Nanti kalau kamu sudah mandi kita ke pergi ke butik, cari gaun yang bagus untukmu baru ke salon,” jelas Umma Ji Hyun sambil berkonsentrasi dengan jalanan di depan mereka.

“Tidak perlu, Umma…. Kan ini cuma makan malam,” tolak Ji Hyun. Menurutnya terlalu berlebihan juka dia harus mencari gaun baru dan merias diri di salon. Cukup tampil sederhana saja seperti dirinya yang biasa.

“Tapi ini makan malam dengan calon tunanganmu, jadi kamu harus tampil secantik mungkin.”

“Hm…. Terserah Umma….” Ji Hyun mengangguk. Daripada dia berdebat dengan Ummanya, lebih baik dia menurut saja. Lagipula pikirannya sudah cukup kacau untuk memikirkan hal lain.

***

Sudah jam tujuh malam. Yeoja itu duduk di depan sebuah meja bernomor 5. Dia mengenakan dress tanpa lengan warna putih yang panjangnya sedikit di atas lutut. Sesekali dia menyisipkan rambutnya yang tertata ikal di balik telinganya. Dia tak terbiasa mengurai rambut, apalagi ditata semacam ini.

“Sekarang jam sudah jam tujuh. Apa dia sudah datang?” kata Ji Hyun dalam hati sambil melirik jam tangannya. Dia melihat ke arah pintu masuk, siapa tahu namja itu datang. Ah, tapi kan dia tak tahu wajah calon tunangannya. Ji Hyun, kenapa kau jadi pabo? Ji Hyun meratapi dirinya. Kejadian akhir-akhir ini sepertinya berpengaruh ke kecerdasan otaknya.

Ji Hyun menunduk, memperhatikan kuku-kuku jarinya yang kali ini tampak indah. Biasa dia tidak menghias ataupun mewarnai kuku tangannya. Tapi karena kata Umma ini adalah makan malam yang penting, Ji Hyun benar-benar dipermak.

Saking serius memperhatikan kukunya, Ji Hyun baru menyadari ada seseorang berdiri di depannya. “Annyeong….” terdengar suara seorang namja.

Mendengar suara namja dia langsung berpikir. Dia… calon tunanganku kah? Hati Ji Hyun berdetak lebih cepat. Rasa gugup dan penasaran memenuhi hatinya. Seperti apakah wajah namja itu? Perlahan Ji Hyun menolehkan kepalanya ke arah kanan, dimana namja itu berdiri. Dia memperhatikan wajah itu dan tertegun.

Ji Hyun membelalakan matanya. “Kau… kamu….”

Namja di depannya ikut terkejut. Tapi tiga detik kemudian dia tiba-tiba tertawa.

“Ne, Kang Ji Hyun. Ini aku, KIM JONG HYUN!”

Ji Hyun masih shock. Ini… ini mimpi kan? Semua ini hanya mimpi bukan? AARGHHH….!!!!!

TBC…

 

A.N: Bagaimana? Apa part 3 ini agak datar? Part ini lebih seperti jembatan yang menghubungkan part 2 dan part 4. Jadi maaf kalau agak mengecewakan. Karena ff ini work in progress, jadi aku tidak bisa janji akan mengirim part 4 dalam waktu dekat. Aku harus konsentrasi belajar untuk ujian. Dan menjelang ujian, kesibukanku pun pasti bertambah. Bahkan weekend yang biasanya aku free, mesti ke sekolah buat belajar. Jadi aku akan sulit untuk meluangkan waktu untuk menulis ff ini. Harap maklum ya. Tapi kalau banyak yang ingin tahu lanjutan ff ini, silakan tinggalkan comment kalian ya. Aku akan berusaha nulis lanjutannya kalau memang banyak yang suka. Kalau ada saran atau pun kritik, silakan sampaikan. Dan sampai ketemu lagi di part 4 entah kapan. Makasih semua J  

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

30 thoughts on “I’m Not A Playboy – Part 3”

  1. aq kasian sm minri T.T
    jihyun sih enk ya disukai 2 namja gtu ceritanya…

    next part ditunggu..
    fighting buat ujiannya ya

  2. Yeah.. Akhirnya mrk ktemu..
    Yah kasian taem n minri cinta bertepuk sbelah tangan..
    Next part ditunggu..

  3. Annyeong…. aku reader baru disini…. fafa imnida#bow mian baru leave comment di part 3 nya….. aku suka bgt sama ceritanya, juga alurnya.. walaupun agak kecepetan tapi ff ini kereeenn bgt…. keep writing 4 author , i’ll be waiting 4 next part, hope it’ll be released soon…. fighting!!!!!

    1. annyeong fafa… salam kenal.. selamat datang di sf3si 🙂
      moga-moga kamu betah di sini ^^
      benarkah alurnya terlalu cepat? nanti di part-part selanjutnya aku akan memperhatikan alurnya..
      makasi fafa… 😀

    1. cinta segi empat? hm… 😉
      makasi udah ngikutin ff ini, min mi.. dgn km ninggalin comment di ff ini udah cukup utk menambah semangatku buat nglanjutin ff ini.
      makasi ^^

  4. Tidaaaaaaaak!!! TBC nya gag tepat banget. Aku lagi keenakan baca. Bikin penasaran niih.

    Aku ngerti kok kalo chingu sibuk, hehe. Kita kan sama2 anak sklh. Tapi kalo ada waktu senggang lanjutin dong ff ini secepat mungkin. Aku udah terlanjur suka. Tolong ya chingu. Gaya bahasamu enak dicerna. Gud luck. 🙂

    1. hehehe.. sengaja tbcnya dikasi di situ. biar agak seru dikit *apaan sih nih author?* 😛
      makasi udah suka ff ini… ini ff pertamaku ^^
      sabar ya chingu..

  5. Bagus thor!!
    Tapi kenapa Taemin Q di buat sedih?moga2 Taemi ntr punya pasangan yaa.kasian.*DiGetokAuthor*
    Di tunggu lanjutannya thor:-D

  6. Asik bgt critanya!!!!

    Aku gg yakin dh klo ini ff pertama… Masalahnya, bagus bgt! Aku suka..aku suka…
    Siap nunggu next part

    1. wah.. makasi chingu pujiannya ^^
      benar kok, ini fanfic pertamaku. tapi selama ini aku emang suka nulis cerita, cuma bukan berupa ff.
      makasi mau nungguin 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s