1st Journey at Sōzōtopia – Part 8

1st Journey at Sōzōtopia

Track 8 – Kebenaran yang Terkuak

 

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra.

Guest Stars :  SHINee’s Lee Jinki, Super Junior’s Lee Donghae, Shin Ahra

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

Note : Also published at my very own blog (sozoofmine)

Taemin tersenyum sendiri saat melihat Hyo Ra berdiri termangu di tepi kolam, di taman belakang kediamannya.

“Kenapa kau masih di luar?” Tanyanya sembari berdiri disebelah gadis itu.

Yang disapa sedikit terkejut, menoleh sekilas, memastikan siapa yang menegurnya, “Kau rupanya. Ada apa kemari? Bukankah seharusnya kau siap-siap? Tinggal 2 hari lagi lho.”

“Pernikahanmu juga tinggal 3 hari lagi,” protes Taemin, memasang tampang sok serius. Karena Hyo Ra hanya tersenyum,  Taemin kembali angkat bicara, “Sepertinya kau juga sedang tidak bisa tidur. Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?”

“Kemana?” Hyo Ra langsung memutar badan, mendongak menatap Taemin penuh semangat.

Taemin terkekeh geli, “Di sekitar istana saja. Sekalian agar kau mengenal lingkungan barumu,” sahutnya ringan.

Hyo Ra ber-puh keras, “Kukira kau mau mengajakku kemana,” serunya kecewa.

“Memangnya kau mau kemana? Lagipula, sekarang ‘kan kau sedang dalam masa persiapan menikah. Tidak baik kelayapan tengah malam begini,” ucap Taemin, lagi-lagi memasang tampang serius.

Hyo Ra mendengus pelan, “Kau sendiri. Tinggal 2 hari lagi menikah, malah menggoda wanita lain. Bagaimana kalau Ahra tahu?”

“HEI! Kau itu juga calon istriku!” Seru Taemin sebal, “Wanita lain apanya?!”

Hyo Ra menjulurkan lidahnya, “Iya Putra Mahkota….” Ber-puh panjang, “Enak banget ya jadi putra mahkota, bisa nikah sekaligus dua.”

Taemin memasang wajah tersinggung, “Salah siapa? Kau sendiri yang minta supaya aku menikahi Ahra terlebih dahulu.” Menatap mata Hyo Ra lurus-lurus, “Kenapa kau tidak mengajukan syarat tidak mau dimadu? Bukankah itu lebih masuk akal?”

Hyo Ra menyeringai, “Jadi jalan-jalan nggak?” Berusaha mengalihkan pembicaraan.

Teamin menyipitkan matanya, menatap Hyo Ra dengan tampang sok galak, “Tidak.”

“Ya udah,” sahut Hyo Ra ringan, mengangkat bahu. “Aku jalan sendirian juga berani kok,” imbuhnya dengan cuek, meninggalkan Taemin yang terbelalak tak percaya.

“HEI! HYO RA!!”

Mendengar panggilan Taemin, Hyo Ra justru mempercepat langkah, menyeringai puas.

“OUCH!” Hyo Ra berteriak keras, menabrak dada Taemin yang tiba-tiba sudah berdiri didepannya. Taemin menyeringai penuh kemenangan, mengangkat bahu.

“Dasar tukang pamer,” desis Hyo Ra, memberengut. Gadis itu kembali berjalan, tanpa melirik Taemin yang segera saja salah tingkah karena gurauannya tidak ditanggapi. Akhirnya Taemin memilih untuk berjalan di sisi Hyo Ra. Keduanya berjalan dalam diam, menyusuri jalan-jalan di dalam istana, tanpa arah. Setiap bertemu persimpangan, Hyo Ra akan berhenti sebentar, mengerucutkan bibir, memutar bola mata, baru kemudian memilih jalur. Sukses membuat Taemin tersenyum geli melihat tingkahnya. Sesekali, baru beberapa langkah gadis itu berjalan, ia berhenti mendadak. Sejurus kemudian berbalik, kembali ke persimpangan terakhir, mengambil jalur yang berbeda. Taemin tetap mengikutinya, sesekali menghela nafas, sesekali menyeringai geli, sesekali berjengit kaget, sesekali menggelengkan kepala.

“Kenapa kau tiba-tiba mengajakku menikah? Ada hubungannya dengan Veneris?” Tanya Hyo Ra tiba-tiba, tanpa menghentikan langkah.

Taemin tertegun, menatap punggung Hyo Ra lamat-lamat. Bergegas menyusul Hyo Ra, menjajari langkah pelan gadis itu. “Apa kau menyesal, bersedia menikah denganku?” Tanya Taemin dengan nada buncah kekhawatiran, takut mendengar jawaban yang akan diberikan Hyo Ra.

Hyo Ra menghela nafas panjang, menghembuskannya pelan-pelan, “Jawab dulu pertanyaanku.”

“Aku menyukaimu Hyo Ra,” Taemin menahan nafas, “Akan terdengar janggal kalau aku menggunakan kata cinta. Kurasa, kau pun tidak akan percaya. Jadi, karena aku menyukaimu. Kau wanita pertama yang membuatku merasa nyaman sekaligus khawatir tidak karuan. Satu-satunya orang yang entah mengapa membuatku merasa tak keberatan berbagi masa depan.” Melihat Hyo Ra yang tetap melangkah perlahan sembari menunduk, Taemin menambahkan, “Kalau kau bertanya adakah hubungannya dengan Veneris. Jawabannya adalah iya. Itu satu-satunya alasan yang membuatku diperbolehkan menikahimu. Apa kau menyesal?”

Hyo Ra menggigit bibir bawahnya, menggeleng tegas, “Tidak. Aku tidak akan menyesali apa yang sudah kuputuskan. Tidak akan pernah.” Mendongak menatap mata biru Taemin, “Bolehkah aku bertanya?”

Taemin menghembuskan nafas lega, tersenyum lebar, “Tentu.”

“Kau juga menyukai Ahra?”

Taemin kembali tertegun, sejurus kemudian tersenyum simpul, “Jangan bilang kau cemburu padanya. Itu akan membuatku… besar kepala,” ucapnya dengan nada setengah geli, setengah berharap.

Hyo Ra mengerucutkan bibir, “Kenapa kau selalu balik bertanya? Jawab saja, apa susahnya sih?”

“Terkadang, kau melakukan sesuatu bukan karena kau suka atau tidak suka. Tapi harus atau tidak harus.” Jawab Taemin diplomatis.

“Maksudmu?”

“Aku hidup dalam politik Hyo Ra. Terlalu banyak kepentingan atas pernikahan seorang putra mahkota. Dan sayangnya, aku tidak bisa mengabaikan kepentingan-kepentingan itu. Ahra adalah salah satunya.” Taemin tampak mengusap wajah, terlihat setengah malas setengah lelah membicarakan hal itu.

Melihat ekspresi Taemin, Hyo Ra memilih diam. Mulai meraba-raba seperti apa Taemin yang sebenarnya. Tampaknya ia seorang putra mahkota yang cerdas. Mampu menampung banyak kepentingan, bisa menyinergikannya. Juga berani berkorban demi kepentingan negerinya. Ditengah pemikiran itu, Hyo Ra tiba-tiba teringat Minho. Dan segera saja pertanyaan itu muncul. Untuk menyatukan dan memimpin beberapa negeri, mana modal yang lebih baik? Sebuah tekat  kuat tapi berasal dari energi dendam, atau kesanggupan untuk berkorban?

“TAPI AKU MENCINTAIMU, AHRA! KAU TAHU ITU!”

Teriakan keras seorang namja membuat Hyo Ra dan Taemin serempak menoleh ke sumber suara.

“Bukankah itu Ahra?” Desis Hyo Ra setengah tak percaya. Sementara itu, Taemin menghembuskan nafas kasar, berdecak.

“Jinki oppa, kumohon jangan begini,” suara Ahra terdengar putus asa. Gadis itu berkutat, berusaha melepas cengkeraman tangan namja itu dari lengannya.

“Kau bisa pulang sendiri ‘kan? Aku harus mengurus Jinki Hyung.” Ujar Taemin pada Hyo Ra.

Bukannya menjawab pertanyaan Taemin, Hyo Ra justru berjalan mendekati Jinki dan Ahra.

“Hyo Ra. Kumohon, jangan ikut campur. Biar aku yang menanganinya,” cegah Taemin, sigap meraih lengan Hyo Ra, menggeleng perlahan. Belum sempat Hyo Ra memprotes keberatan, Taemin kembali berkata, “Nanti aku jelaskan. Sekarang kau pulanglah dulu.”

Hyo Ra menatap punggung Taemin yang berjalan menjauhinya, berjalan kearah Jinki yang sekarang sedang berlutut di depan Ahra.

Tanpa sadar, Hyo Ra dan Taemin ternyata telah berjalan cukup jauh. Dan sekarang, disinilah mereka berada, di depan kediaman Ahra. Menyaksikan sebuah peristiwa yang sepertinya tidak pantas disaksikan. Seorang namja –yang notabene adalah Pangeran Jinki, kakak tertua Taemin- sedang memohon, bersimpuh dengan wajah mengenaskan –campuran dari putus asa dan pengaruh minuman keras- dihadapan Ahra, calon iparnya semdiri. Jinki tak peduli pada tatapan tajam Taemin, ia terus saja berbicara pada Ahra, “Kumohon. Pergilah bersamaku. Hanya aku yang bisa membahagiakanmu Ahra. Hanya aku. Karena aku mencintaimu.”

Ahra melirik Taemin takut-takut, kembali memandang Jinki, “Oppa…” panggilnya lirih, “Kumohon jangan begini. Aku tidak bisa.”

Jinki meradang, berdiri tegak, “KAU BISA! Tentu saja kau bisa. Ikutlah denganku. Jangan kau pedulikan bocah tak berperasaan yang hanya mementingkan tahta itu!” Semburnya galak, siap menarik Ahra pergi.

“Lepaskan dia Hyung. Jangan membuat kekacauan,” ucap Taemin datar, menatap Jinki dengan dingin.

“DIAM KAU! Bocah tengik!” Jinki mendorong dada Taemin dengan kasar.

Taemin tak mengubris makian Jinki, “Masuk ke dalam, Ahra!” Ucap Taemin pada Ahra sembari menghentak keras tangan Jinki, membuat pegangan tangan namja itu lepas dari lengan Ahra.

Oppa…” panggil Ahra lirih. Bukan, bukan pada Jinki. Tapi pada Taemin.

“Masuklah.” Kali ini nada suara Taemin terdengar tegas memerintah. Ahra menelan ludah, melirik sekilas kearah Hyo Ra yang masih berdiri dikejauhan, bergegas masuk dan menutup pintu kediamannya.

Hyung! Ikut aku!” Perintah Taemin, tetap dengan nada tegas. Menyeret Jinki yang terhuyung-huyung, masih berusaha meneriakkan sesuatu pada Ahra.

Hyo Ra menatap nanar kedua namja yang berjalan menuju arah yang berlawanan dengan tempatnya berdiri, menghela nafas. Sejurus kemudian ia beranjak pergi. Tapi bukannya pulang, gadis itu kembali berjalan tanpa arah, mengikuti langkah kakinya. Sibuk membenak. Ia ingat betul, kemarin ia sempat berbincang lagi dengan Bibi Han, tentang Jinki dan Ahra. Baru saja ia melihatnya sendiri, Jinki memang mencintai Ahra. Tak rela dan tak terima saat gadis yang dicintai justru akan menikah dengan adiknya sendiri, Taemin.

Ahra adalah putri Kaisar Negeri Seribu Kupu-kupu. Negeri tertangga terbesar dan terkuat, juga berbatasan langsung dengan Negeri Para Penerbang. Negeri yang sempat diajak bersekutu oleh Minho. Itulah alasan mengapa Kaisar Donghae memaksa Taemin, Sang Putra Mahkota, untuk menikah dengan Ahra. Dengan adanya pernikahan ini, secara tidak langsung ada sebuah jaminan bahwa Negeri Seribu Kupu-kupu tidak akan bergabung dengan Minho. Mana ada seorang besan yang menyerang besannya sendiri. Donghae bukannya tidak tahu kalau Jinki menyukai Ahra. Tapi yang diinginkan oleh Kaisar Negeri Seribu Kupu-kupu adalah menantu putra mahkota, bukan pangeran biasa dengan kekuasaan yang terbatas. Taemin, dengan pertimbangan bahwa pernikahan ini akan menjamin keamanan negera, menghindarkan terjadinya perang besar, mengangguk setuju tanpa banyak bertanya.

“Sedang apa kau di tempat seperti ini? Di waktu seperti ini?”

Sebuah suara yang sangat familiar memecah pikiran-pikiran Hyo Ra. Gadis itu memutar kepala, mencari si penanya. Tak ada siapapun.

“Di sini.” Suara itu terdengar lagi, dari ketinggian.

“Key? Kau sendiri sedang apa?” Tanya Hyo Ra antusias, menatap iri pada Key yang duduk menjuntai di sebuah dahan pohon.

Key melayang turun, menarik tangan Hyo Ra tanpa merasa perlu bertanya. Tak lama kemudian, Key dan Hyo Ra sudah duduk berdampingan di atas dahan pohon, menatap bulan yang tersaput awan.

“Enak sekali ya menjadi dirimu. Bisa terbang kemanapun sesuka hati. Bisa mencapai tempat-tempat tinggi yang menakjubkan,” ucap Hyo Ra, tak melepas pandangannya dari sang bulan.

Key justru mengulurkan tangannya, “Kemarikan tanganmu,” ucapnya datar, juga tanpa menoleh pada Hyo Ra.

“Ada yang ingin kuperlihatkan padamu,” imbuh Key cepat, membuat Hyo Ra memberengut. Selalu saja seperti itu, Key bahkan tidak mau sekadar menunggunya mengucapkan pertanyaannya terlebih dahulu.

Key berdecak kesal, “Cepat!” Serunya tak sabar, meraih dan menggenggam telapak tangan Hyo Ra dengan lembut. Mengabaikan keterkejutan Hyo Ra.

“Diamlah dan lihat saja. Kau boleh memejamkan mata jika kau merasa perlu,” ucap Key cepat, lagi-lagi mendahului Hyo Ra yang baru akan membuka suara.

Hyo Ra mendengus pelan, mengalah. Gadis itu memejamkan matanya perlahan, ikut berkonsentrasi. Beberapa saat kemudian tiba-tiba ia melihat Kaisar Donghae didepannya, wajahnya pucat dan tertekan.

“Tak ada waktu lagi, Ayah. Kita harus menyingkirkannya sekarang juga. Hyung sudah keterlaluan. Dia bersekongkol dengan Minho, merencanakan penyerangan ke istana, tepat saat upacara pernikahanku dan Ahra. Akan terjadi kekacauan besar, bahkan pertumpahan darah jika kita tidak mencegahnya.”

Hyo Ra yakin benar itu suara Taemin. Segera saja Hyo Ra tersadar, Key sedang menunjukkan apa yang ada dalam pikiran Taemin saat ini. Semuanya begitu jelas. Seolah-olah Hyo Ra berada dalam kepala Taemin.

Donghae tampak menarik nafas panjang, berat. “Aku mengerti Taemin. Tapi bagaimanapun, ia adalah hyung-mu. Apa tidak ada jalan lain? Apa kita harus membunuhnya?”

Taemin menggeleng, “Aku lebih baik tidak punya hyung. Daripada memiliki hyung seperti dia. Selalu mementingkan diri sendiri, tak mau berkorban. Bahkan berkhianat! Tidak Ayah.  Jinki memang anakmu, tapi dia bukan hyung-ku.”

“Taemin…” panggil Donghae lirih, menatap Taemin dengan pandangan jerih.

“Ayah! Kau adalah seorang kaisar. Kapan kau bisa bersikap tegas? Kalau kita bisa mengorbankan Ibunda demi kestabilan politik, kenapa kita tidak bisa mengorbankan Jinki? Ia sudah terlalu banyak berulah. Ayah tahu benar kalau Jinki lah yang membocorkan semua rencana kita pada Minho. Menghasut para menteri dan pejabat istana lainnya untuk mendukung Minho. Lebih dari itu, ia juga membantu Minho menyusun strategi untuk menyingkirkan kita. Membunuh kita! Jika selama ini aku diam saja, menutup mata, bukan berarti karena aku tidak tahu apa yang dilakukannya. Aku hanya berusaha memahami perasaan Ayah, perasaan Ibunda Kwon. Kalau tidak, sejak dulu ia sudah kusingkirkan. Tidak ada tempat untuk seorang pengkhianat di negeri kita ini,” papar Taemin tegas dan dingin, mengabaikan ekspresi Donghae yang buncah segala rasa.

“Serahkan saja padaku. Aku akan menyingkirkannya dengan jalan yang halus. Tidak akan ada kecurigaan. Aku hanya perlu persetujuan ayah sebagai kaisar.” Taemin mengakhiri argumen panjangnya dengan sebuah pernyataan yang bagi Hyo Ra terdengar seperti sebuah perintah tak terbantahkan.

Donghae mengusap wajah gamang, meraih stampel kerajaan. Tangannya tampak bergetar pelan saat membubuhkan stampel di atas kertas berwarna merah. Surat perintah resmi dari seorang kaisar untuk membunuh seorang pengkhianat, Lee Jinki.

Taemin menerima surat itu dari tangan Ayahnya, mengangguk sekilas untuk memberi hormat. Sedetik kemudian sudah menghilang, muncul tepat dihadapan Jinki yang tengah meringkuk disebuah ruangan yang penuh jerami kering.

“Kau seharusnya mengikuti saranku Hyung, kenapa kau keras kepala?” Tanya Taemin dingin, membelakangi Jinki.

Jinki mengangkat kepalanya, menatap punggung Taemin. “Memilih untuk meninggalkan Ahra? Kau gila. Aku bisa meninggalkan istana dan jabatanku, tapi tidak dengan Ahra!”

Taemin menghela nafas, “Kau memang tidak tahu diri. Kau seorang pangeran Hyung. Status itu mengharuskanmu untuk berkorban, bukannya mementingkan diri sendiri.”

“Maka biarkan aku berhenti menjadi Pangeran!” Seru Jinki frustasi.

Taemin menyeringai sinis, “Kau tak waras. Kau pikir kau bisa mendapatkan Ahra kalau kau bukan pangeran? Bahkan dengan status pangeran saja kau tidak bisa memilikinya.”

Jinki menarik kerah turtleneck adiknya, menggeram, “Lepaskan dia! Biarkan ia bersamaku!”

Taemin tertawa keras, “Bukannya aku tak mau melepasnya, Hyung. Dia yang tidak mau.”

“Bajingan kau!” Tinju Jinki mendarat keras di pipi Taemin.

Taemin hanya tersenyum tipis, mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. “Kau sudah keterlaluan, Hyung. Aku tak akan membalas jika kau hanya memukulku, atau bahkan membunuhku sekalipun. Tapi jangan pernah merusak tatanan istana. Tutup mulutmu!” Serunya keras, mencegah Jinki yang hendak menyela. “Apa kau tidak pernah berpikir? Penyerangan yang kau rencanakan dengan Minho itu akan membuat seluruh negeri menjadi kacau. Aku tahu, di dalam istana ini banyak pejabat yang mendukung kalian. Tapi apa kau tahu? Para pejabat yang mendukung kalian itu adalah pejabat korup yang suka menimbun kekayaan demi dirinya sendiri? Para pejabat yang merasa masa-masa pemerintahan Siwon ebih menyenangkan hanya karena disaat itu mereka bisa berbuat sekehendak hati? Lee Jinki, sebagai pangeran, prioritas utamamu seharusnya adalah rakyat dan negara. Bukan seorang wanita!”

Jinki menggeleng lemah, “Aku bukan orang sepertimu. Kau bukan orang yang bisa mengorbankan orang yang kusayangi hanya demi negara, demi keamanan politik, demi kekuasaan.”

“Kau benar. Kau memang tidak sepertiku. Kau tak akan mampu membunuh orang lain.” Taemin menatap lurus-lurus mata kakaknya, “Jadi, menghilanglah, Hyung! Lenyaplah dari dunia ini! Bunuh dirimu sendiri!”

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, Key melepas pegangan tangannya. Tersengal mengatur nafas. Ia memforsir tenaga untuk membaca pikiran Taemin.

Hyo Ra menatap Key dengan perasaan campur aduk antara bingung, tak percaya, kaget sekaligus takut. “Kenapa kau menunjukkan ini padaku?”

Key justru memejamkan mata, masih mengatur nafas. Sejurus kemudian ia mendongak, tanpa membuka mata, ia kembali mengulurkan tangannya pada Hyo Ra, “Pegang saja.”

Hyo Ra ragu-ragu meraih tangan Key, menautkan jari-jari. Kali ini dihadapannya muncul sosok Minho, Yesung dan Jinki.

“Aku akan membukakan gerbang belakang tepat di malam sebelum pernikahan Taemin dan Ahra. Kalian bisa sembunyi di kediamanku terlebih dahulu,” nada bicara Jinki terdengar tidak mantap, penuh pertimbangan.

“Baik. Aku akan menyusul kalian tepat saat upacara pernikahan berlangsung. Aku akan menanganinya Taemin.” Minho melirik Yesung, “Kau urus sisanya.”

“Jangan menyentuh Ahra,” potong Jinki cepat.

Minho tersenyum sinis, “Percayalah padaku. Lakukan saja bagianmu dengan baik.”

Sekilas gelap, tiba-tiba hanya Yesung dan Minho yang bisa dilihat Hyo Ra.

“Jinki itu, bisa menjadi musuh dalam selimut,” keluh Yesung pelan. “Dengan kepribadian sepertinya, aku taruhan , suatu saat nanti ia kan membuatmu repot Minho.”

Minho mengangguk, mengiyakan. “Tenang saja. Aku sudah punya rencana untuk menyingkirkannya. Nanti, setelah kepentingan kita dengannya selesai.”

“Setelah menghabisi Donghae, kau juga harus melenyapkan Permaisuri Kwon. Tidak boleh ada anggota keluarga itu yang masih hidup. Aku ingin semuanya bersih.” Imbuh Minho datar, menatap serius pada Yesung.

Yesung mengangguk mantap, “Kau yakin Key bisa ditangani? Bukankah lebih baik kita membereskannya? Ingat, ia adalah tangan kanan Taemin.”

“Justru itu, aku memerlukan Key. Sayang sekali jika orang sehebat Key dibunuh, dilenyapkan begitu saja. Dia akan menjadi panglima perang yang hebat di bawah kepemimpinanku nanti. Dengan adanya Key dan Veneris, aku yakin kita bisa menguasai negeri-negeri timur dengan mudah.” Papar Minho penuh keyakinan.

Yesung menatap tajam mata Minho, penuh pertimbangan. Minho menyadari arti tatapannya, segera meyakinkan, “Key bukan tipe orang yang setia pada seseorang secara pribadi. Ia mendukung Taemin karena sekarang ini, secara hukum memang Taeminlah putra mahkota yang sah. Saat nanti aku yang menjadi kaisar, Key pasti akan tetap mendukungku. Key itu, tipe orang yang setia pada negara, pada pemimpinnya, secara profesional.”

Hyo Ra tak sadar menggigit bibir bawahnya mendengar percakapan Minho dan Yesung itu. Kalau melihat situasinya, juga gambarannya yang tidak sejelas pikiran Taemin tadi, sepertinya ini bukan pikiran salah satu dari orang itu. Ini lebih mirip sebuah ingatan.

“Kau benar, ini ingatanku. Terjadi 2 hari yang lalu.” Suara Key memecah konsentrasi Hyo Ra.

Hyo Ra membuka mata, menatap Key -yang ternyata masih memejamkan mata- dengan penuh curiga, “Sekali lagi kutanyakan. Jawab dengan jujur. Kenapa kau memperlihatkan ini semua padaku?”

Key tersenyum miring, “Tidak penting apa tujuanku.”

“Bagaimana-”

Lagi-lagi, Key memotong pertanyaan Hyo Ra, menjawab dingin, “Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku tidak peduli sekalipun kau berpikir ini semua hanya tipuanku saja.”

Hyo Ra mendengus sebal. Ia memang mencurigai Key mengada-ada, membuat seolah-olah yang barusan dilihatnya adalah pikiran Taemin, Jinki, Minho dan Yesung. Bisa saja itu hanya tipu daya Key. Sejurus kemudian Hyo Ra menggeleng sendiri, merasa Key tidak akan melakukan hal itu. Apa untungnya menipu Veneris dengan hal-hal semacam ini?

“Aku tidak berminat menjadi penguasa negeri-negeri timur. Itu bukan hal yang ingin kulakukan. Bukan hal yang menurutku cukup menarik untuk diraih,” celutuk Key, tepat saat Hyo Ra berpikir, bisa saja Key melakukan ini karena ia ingin menjadi sang terpilih.

Hyo Ra menatap Key lurus-lurus. Key membuka matanya, menentang balik tatapan Hyo Ra. Raut wajahnya sempurna datar, tanpa ekspresi atau emosi.

Hyo Ra menghela nafas putus asa, benar-benar tidak ada yang bisa dibacanya dari sorot mata Key. Tatapan mata Key benar-benar datar, kosong. Tapi entah mengapa, Hyo Ra justru merasa Key adalah orang yang bisa dipercaya dan tidak memiliki tendensi apapun.

Hyo Ra memilih untuk mengalihkan pembicaraan, bertanya sambil lalu, “Apa yang sekarang terjadi pada Jinki?”

“Sebaiknya kau tidak melihatnya,” jawab Key sembari melepas genggaman tangan Hyo Ra. Wajahnya terlihat sangat lelah. Hyo Ra segera merangkul lengan Key, membuat Key sedikit terlonjak.

“Diamlah. Kau perlu istirahat,” ucap Hyo Ra cepat, sebelum Key sempat memprotes.

Sejurus kemudian Key tersadar, Hyo Ra sedang menutup pikirannya. Membuat mereka berdua tidak melihat atau mendengar apapun lagi. Tak menunggu waktu lama, kejadian di atas mercusuar kembali terulang, Keduanya tertidur dengan kepala saling bertumpu.

***

Next : Track 9 – Rencana Hyo Ra

“Kau harus segera memilih kemudian pulang ke semestamu.”

“Aku tidak akan melepasmu, Hyo Ra. Kecuali kau yang minta, aku tidak akan melepasmu. Jadi, jangan pernah menyesalinya.”

“Kau tidak akan melakukan itu. Kau ‘kan tidak tertarik pada kekuasaan.”

“Aku akan membantumu mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi hak-mu, sebagai seorang putra mahkota.”

Catatan Penulis :

Judulnya nggak nyambung? Biar aja deh, nggak usah dipikirin. Lagi nggak ada ide.

Ada beberapa hal yang tidak kujelaskan secara gamblang. Salah satunya adalah maksud perkataan Taemin, “Ayah! Kau adalah seorang kaisar. Kapan kau bisa bersikap tegas? Kalau kita bisa mengorbankan Ibunda demi kestabilan politik, kenapa kita tidak bisa mengorbankan Jinki?”

Salah satu dari kalian pasti nanya, “Taemin dan Donghae mengorbankan Ibundanya Taemin? Maksudnya??”

Iya ‘kan? #sotoy

Aku cuma mo bilang, “Biarkan imajinasi kalian melayang bebas dan rangkai sendiri jawabannya! Mungkin, percakapan Hyo Ra dan Bibi Han di awal Track 7 bisa membantu.”

Maaf, saya (terkadang) memang menyebalkan *deep-bow*

Ah-ya, Shin Ahra, maaf ya… cuma nongol bentar banget ternyata #PLAK

Tapi… akhirnya nikah ama Taemin lho…. Dicintai Jinki lagi, keren ‘kan? #angkat2-alis

Janji deh, happy ending buat Ahra!

Makasih.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “1st Journey at Sōzōtopia – Part 8

  1. Kok berasa pendek yah???#keasyikan baca ky nya…hehe
    Knp nasib jinki se ngeness ini…hiks..
    Tnyata taemin agk2 mngerikan jg kpribadiannya..smp2 appa nya klh kharisma…yah wlo tujuanny dm kerajaan..#klo bnr jg sih,,,
    Jd bingung mau dukung siapa..minho,taem,yesung, ga deh…biar aja tuh org b3 sibuk ma politiknya…heechul,biarkan dlm dunianya..
    key aja deh…enak bs terbang..#loh??

    D tunggu nextpartnya..fighting..

    1. 3.000 kata masih pendek? #pingsan
      Emang ngenes sih… tapi berkesan ‘kan? Adegan favorit aku tuh… hehehe…

      Yeap, entah kenapa aku ngerasa Taemin itu cocok buat karakter2 berkepribadian ganda begini #PLAK

      Makasih, Niek~
      FIGHTING!🙂

  2. Track ini semakin menguatkan pilihanku buat duku Hyora-Key….. Ehmm ternyata Taemin tak selembut covernya… Tipikal orang yang ambisius dan menelan sesuatu secara mentah. Tidak mau ditelaah dahulu, klo bahasa kenegaraannya tipe pemimpin yg konservatif (Benar konservatif atau malah otoriter)…hehehe

    Minho juga gx jauh beda sikapnya… Si Jinki kasian, baru sekali nongol udd lgsg di End-in.. Sama Taemin lagi huwahhhhh….. T.T

    Mengorbankan ibundanya?? Sepertinya aku tahu dehhh,,, kn yg ucapanya bibi Han itu ibu Taemin mati muda. Jadi…. Oh I see.

    Baiklah, mari ditunggu next track. Tetap dukung Hyora-Key lahhh….haha

    1. Vi~
      Aku suka analisamu! Hehehe…
      Gitu deh, klo dah menyankut politik, kekuasaan, banyak yang ambisius dan rela melakukan apapun #apalah-ini

      Hidup Hyora-Key! #eh

      tengKYU, Vi~🙂

  3. wouchh,,
    jinki,, knpa skli dteng lngsung jdi pengkhianat,, kasian, masa bru bntar muncul lngsung mati,,
    wouh taemin,, aku tak menyangka, trnyata kau orgnya kejam juga,,
    baca part ini, aku jdi mkir hyora bkal milih key,, ahh trserah hyora ja,,,
    keren,
    lanjuuutttt……

  4. aih aih ga nyangka trnyta taemin gayanya begono,aku pikir dia org yg nyante dan alim ternyata pemirsa sekalian tertipu tet tot…

    appa jinki aku miris denganmu,bru aja nongol udah hrus ditendang(?) aja #poorjinki yang sabar ya bang…

    aku jd pngen hyora ma key aja deh -reader labil- jgn ma taem,minho,pa lgi bang yeye->bru sdar ni org dkit bgt keluar.dan buat bang heechul terserah deh mau diapain tuh orang *speechless*
    setiap ada keyra psti ada moment romantis yg tjdi,pst suwit bgt tuh b2an datas pohon bgono tp brasa horor y *keinget ma kebiasaan kunti ahjumma* /plakk🙂

    next track kyanya tmbh seru tuh,bang dragon keluarkah??bang keluarlah kau bang jgn ngurusi konser terus…

    track 9 dtunggu 5hari lgi🙂 …

  5. kunti ahjumma? huakakakak…
    jadi berasa bikin FF horor-romance.

    track depan… (ngintip word) nggak ada bang Ji Yong. adanya mas Seulong. gimana? #angkat-angkat-alis

    wah… tau aja klo FF di sini post setiap 5 hari sekali😀

    Makasih, Widia~

  6. waaachhh ,,,, ceritanya makin complicated tapi seru !!!!!!!!!!
    keadaan lagi genting ,, bener2 kerasa feel’nya ..
    jd ikut deg deg’an gituw …..
    dari pemaparan sifat taemin di atas jadi salut dhe ama dia ,,,, bisa menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi meskipun itu bener2 pilihan yang sulit …..
    kyaaaa ,,, gag sabar baca next chapter !!

    1. KYA!!
      Salute untuk Yoonee…
      Dirimu tetep bisa liat sisi baik dari Taemin. Sip, sip, sip…
      Terkesan dingin dan kejam, tapi sebenernya Taemin itu cuma realistis pragmatis aja, kok.

      Makasih,Yoo~🙂

  7. wah, penasaran dgn nasibnya Jinki.
    Hm, apa Hyo Ra milih Key?
    Aku cukup kaget pas tahu karakter Taemin kyk gtu.
    bener2 gak nyangka.
    wah, track 9, bakal seru.
    di tunggu yah yen eon😀
    This ff so daebak!🙂

  8. YEN UNNIE! DIRIKU GALAU 7 KELILING (?)
    sekarang agak bimbang sm taemin –‘ kagak jadi dukung HyoTae ah! Apalagi HyoKey ato HyoMin. Udeh Dragon-Hyora aja LOL *labil abis

    bau2nya sih bisa sm si key nih –‘ cuma dia kan plg ke alamnya, jgn2 ntar key jd manusia biasa trus sm hyora lalalala *ngarang.

    Udah ah pusing, gimana nanti aja soal couple sih. -.-

    unniiieeeee ini tamat track brp sih?! Geregetan suer, ke mana si dragon! Suka dong sm hyoraaaa biar aku ada pilihan *duagh

    next part amat ditunggu u,u ffmu ini super duper sangat banget suer sumfeh daebak dehhhh *bawel xD

    1. 7 wonders?
      Kekeke…

      Tamat di track 11. Tapi masih ada track Outro buat penjelasan hubungan Dragon-Hyora.

      Apalah itu? Super duper …. (?)😀

      Makasih, Van~🙂

  9. Kereeennn.. Jadi deg2an sndiri palagi dah tau sifat asli’x taem, ga nyangka jga sih ma taem tapi pasti sulit bgt jadi taem harus mementingkan masalah kerajaan daripada pribadi’x..
    Jadi bingung nihhh, hyora ma key aja dehh kan moment2’x slalu sweet trus kalo ma key..

    Next track..
    fighting!!

    1. He-eh, nasib Taemin ini… dilematis #apalah??

      Banyak pendukung Hyora-Key ternyata🙂
      Gimana, Hyora? Mau nggak sama Key? #digamparKey

      Ne, FIGHTING!

      Makasih, May~

  10. hehehe, mian thor baru komen skg. lupa mulu abisan… enakan komen di lepi dripada via ponsel, u_u
    jujur ya, aku suka banget sama karakter key disini. dan kebetulan dia bias aku di shinee, kyaaaaaaaa~
    udah ah pokoknya keren… titik.

  11. *garuk garuk leher*
    Jinki goblok ya?? #dorrr
    Ibunda Taemin diapain?? *melongo, lupa sama Track 7*
    Haishh… pa jadinya Ibunda Taemin itu… DISURUH BUAT DEKETIN SIWON BIAR SIWON DIJATOHIN, gitu?? Makanya dia dibilang selingkuh sama Siwon, gitu? #dorrr

    HYO KEY MOMENT!!! YEY!!! #JEDUAKKK
    AYo… lanjutt~~ XDDD

    @vania :Udah deh, biar adil, Hyora balik lagi ke pelukan Kyu aja…. XDDD

  12. Aaaaaaak ini complicated bgt ya Allah di satu sisi taemin itu baik tapi kejam gitu juga minho sama ajaaaaa~ tapi kalo jinki hidup sama orang tersayang udah cukup tapi ga tegas kalo mimpin ga profesional.
    Dan jinkinya mati yaaaaa aaaaaaaaaakk sedih

  13. Huft emosi meledak”
    Ternyara minho kampret
    Taemin banyak menanggung luka
    Kasihan banget ama taemin mengorban apa yang dia saya demi negara

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s