Between Two Hearts – Part 4

Between Two Hearts[4] : The Truth is…

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Kim Jonghyun, Lee Jinki, Lee Taemin

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-15

Summary :

“Seoul, aku kembali datang menyapamu. Ah, tidak…aku bahkan akan memelukmu, aku akan mendesak masuk menjadi penghunimu. Seoul…sebenarnya aku takut melangkah terus, tapi aku harus menyelesaikannya.”

+++++

Author’s POV

Menjalani suatu pernikahan tidak bisa selamanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Jalannya berliku walau hanya untuk menikmati suatu keindahan. Terkadang ketika muncul suatu titik terang menuju dunia yang lebih cerah, sebuah kerikil menyumbat titik tersebut—tak mengizinkan dunia indah dibaliknya terjamah.

“Minho-ya, kumohon, jangan buat aku khawatir…” Serra semakin gemetar melihat Minho yang melotot ketakutan dengan keringat deras yang mengalir membasahi seluruh wajah tampan itu.

“Andwae…! Jangan dekati aku, kumohon!” Minho mundur, menjauhkan jarak dari Serra yang kali itu tampak seperti Sunny di matanya.

Serra tidak mematuhi perintah Minho, yeoja itu menghimpun segenap keberaniannya untuk mendekati Minho. Yang ada dipikirannya kini ingin mendekap Minho…menghantarkan sedikit ketulusan cintanya untuk menenangkan Minho karena yeoja itu yakin ada masalah berat yang sedang menghantui namjanya kini.

Minho makin menjauh, tapi dia tidak melakukan perlawanan ketika Serra berhasil meraihnya ke dalam pelukan yeoja itu. Ia tersedu, meremas kuat-kuat piyama bagian belakang yang dikenakan Serra. Dunia seolah terbalik karena seorang namjalah yang menumpahkan air matanya dalam pelukan seorang yeoja.

“Tenanglah Minho-ya…ceritakan masalahmu jika kau merasa terlalu berat memendamnya, libatkan aku dalam kehidupan nyatamu mulai saat ini…” Naluri keibuan Serra mencuat, mengelus rambut Minho seolah namja itu anaknya—bukan nampyeonnya.

“Serra-ya…aku takut…tapi aku bingung bagaimana mengatakannya padamu.” Minho memejamkan mata, menghabisi tumpahan air matanya.

Sentuhan kelembutan yang diberikan Serra membuatnya kembali ke alam nyata—menyadari bahwa yang ada di hadapannya kini adalah Serra yang asli, yang dipenuhi dengan segenap kelembutan yang terpancar dari ketulusan cintanya.

“Mianhae Serra-ya…jeongmal mianhae…”

+++++

Sunny’s POV

Ingin rasanya aku lari, menyembunyikan diri dari sosoknya. Tapi ia selalu memburuku walaupun selama dua bulan ini aku mengacuhkannya. Me-reject panggilannya, menyingkirkan kemunculannya di pintu rumahku setiap hari, membuang makanan-makanan yang selalu dibawanya dengan niat untuk disantap bersama.

Tapi hatinya sekeras batu, ia bahkan masih bisa menantiku dengan penuh senyum, tanpa sedikit pun rasa bosan terpancar dari wajahnya. Jika kau di posisiku, apa yang akan kau lakukan?

Rasanya aku kesulitan bernapas setiap kali melihatnya. Jika aku menerima kembali cintanya, aku akan menyeretnya pada rasa sakit yang lebih hebat. Tapi di satu sisi tidak dapat kupungkiri bahwa hatiku telah terikat kencang pada dirinya.

“Key, kau tidak bosan pura-pura tersenyum seperti itu setiap bertemu denganku?” Aku menyambutnya dingin ketika ia muncul di ruang kerjaku. Hhh…ia bahkan datang ke kantorku…

“Mwo? Kau bilang aku pura-pura. Aniyo, aku sungguh-sungguh. Sejak kapan aku gemar bersandiwara. Kau tahu aku selalu bersikap apa adanya.”

Ia pun menduduki kursi yang ada di depan meja kerjaku, sekarang posisi kami berhadapan, saling menatap lurus.

“Kau tidak bosan mengejarku?” Aku melayangkan senyum sinisku, berharap ia membalasku dengan hal yang sama.

“Apa pantas aku bosan? Sementara kau menungguku selama beberapa tahun?” Ia tidak tersenyum sinis, melainkan kembali menyuguhkan senyum ketulusannya.

Hatiku berdesir hebat, aliran darah di tubuhku terasa makin cepat namun tidak dengan lajunya di otakku—yang seolah terhenti dan membuat otakku kehabisan oksigen untuk melanjutkan kerjanya. Aku hanya terpaku, berusaha melawan kekacauan yang tengah berkecamuk di hatiku.

“Cih, percaya diri sekali ya Tuan Kibum ini. Darimana kau mendapatkan berita bahwa aku menunggumu? Kasihan sekali, dugaanmu salah besar.” Akhirnya aku berhasil mengucapkan statement yang berkebalikan dengan apa yang dibisikkan hatiku.

“Dari matamu. Kalau aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, bagaimana?”

Author’s POV

“Cih, percaya diri sekali ya tuan Kibum ini. Darimana kau mendapatkan berita bahwa aku menunggumu? Kasian sekali, dugaanmu salah besar.”

“Dari matamu. Kalau aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, bagaimana?”

Sunny kembali terdiam, sementara Key terus menatapnya tanpa berpaling barang sedetik pun, ia masih menantikan jawaban dari Sunny.

Tidak lama Sunny beranjak dari kursinya, melangkahkan kakinya menuju pintu ruangannya dan menggerakkan gagang pintu sehingga benda berbahan baku jati tersebut terbuka lebar, sama lebarnya dengan mulut Key yang menganga melihat tindakan Sunny tersebut.

“Aku akan memberi bukti ucapanku, tunggulah beberapa bulan lagi. Sekarang, dengan hormat kupersilakan tuan besar di hadapanku ini segera beranjak dan kembali pada rutinitas padatnya, aku pun harus menyelesaikan tugasku. Perlu kau tahu, ini bukan jam istirahat. Kalau saja kau bukan direktur perusahaan partner, kau sudah diusir sejak awal.”

“Sunny-ah…aku tahu ada yang salah pada dirimu.” Ucap Key ketika ia melewati Sunnya. “Bye Sunny, lain kali aku akan kembali.”

“Silakan kalau kau hanya ingin membuang waktumu.”

+++++

Serra’s POV

Waktu empat bulan rupanya sangat singkat hingga tak mampu menghilangkan raut ketakutan di wajahnya. Sekarang bahkan lebih aneh, ia terlihat seperti robot terprogram. Bangun di pagi hari, tersenyum menyapaku, beranjak ke kamar mandi lalu pergi ke kantor. Dan setibanya di rumah, ia selalu menampakkan ekspresi yang sama ketika melihatku, melotot ketakutan dengan getaran tubuhnya yang dapat tertangkap jelas oleh mataku dan juga keringat dingin yang bermunculan di sekitar keningnya.

Hari ini kuharap ia tidak melakukannya lagi, aku tidak ingin terus tejebak dengan kondisi yang nyaris serupa ini.

Trek…Pintu terbuka, aku pun mendapati sosoknya muncul dari balik pintu itu. Seperti biasa aku menyambutnya dengan semangat.

Tapi kali ini reaksinya berbeda, ia hanya mematung dengan wajah datarnya. Aku sangat bersyukur karena aku tidak lagi seperti hantu di matanya.

“Serra-ya…” Ucapnya pelan namun masih tertangkap oleh indera pendengaranku.

“Waeyo?”

“Bunuh aku sekarang!” Tidak lama ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya.

“Minho-ya, apa yang terjadi padamu? Aku semakin tidak mengerti dengan sikapmu.” Aku meraih benda kecil nan mematikan tersebut dan membuangnya jauh-jauh ke belakangku.

“Orang sepertiku tidak pantas hidup. Kalaupun hidup, aku hanya akan membuatmu sakit.”

“Ani, setiap orang di dunia ini memiliki kesempatan hidup, sekalipun ia adalah orang paling jahat di dunia. Minho-ya…kumohon, jangan menyimpan rahasia dariku. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”

She’s back….” Bisiknya dengan kembali mengeluarkan raut wajah mengerikan, jauh lebih membuat siapapun yang melihatnya ketakutan, termasuk aku.

“Siapa yang kembali? Dia? Dia siapa?” Aku semakin tidak mengerti.

“Serra-ah…aku bermain di belakangmu…”

Apa yang baru dikatakannya? Ani, dia pasti bercanda. Aku tidak mau percaya bahwa namja seperti Minho memiliki darah playboy di dalam tubuhnya.

Rasanya sakit mendengarnya, walaupun hatiku masih mengingkari, tidak ingin mengakui bahwa ucapannya itu benar.

“Dan ia hamil…”

Aku menyesal memintanya bercerita terus terang, aku tidak menyangka bahwa hal seperti inilah yang menjadi bebannya. Sekarang aku bisa mengerti kenapa ia selalu ketakutan saat melihatku, itu karena ia merasa telah melakukan hal yang dapat menyakitiku, karena nyatanya ada yeoja lain yang bahkan ia percayai untuk menyimpan benihnya.

Sakit, merasa dikhianati namun di satu sisi aku mengerti hasratnya. Ia tidak bisa melakukannya denganku karena memang jantungku akan terancam jika aku mengandung dan melahirkan. Aku mengerti bahwa ia pun pasti ingin memiliki keturunan dan menjalani hidupnya dengan yeoja yang normal, tidak seperti aku yang telah lama divonis memiliki gangguan pada cara kerja jantungku.

Andwae…denyut nadiku mulai terasa seperti pisau yang mengiris. Benda itu terasa menggerogoti nyawaku, sangat sakit—bedanya ia membunuh tanpa darah. Aku merasa tubuhku makin tak mampu menahannya.

Seperti tertarik gaya gravitasi, tulangku tak lagi mampu menyangga tubuhku, aku terkulai lemas di lantai, kesadaranku mulai kacau. Dan hal terakhir kulihat adalah—tangisan Minho.

Minho’s POV

Ketakutanku terbukti, aku akan ditawan oleh benihku sendiri. Hari ini aku mendapat kiriman paket berupa alat tes kehamilan dengan dua garis padanya. Bersama paket itu ada sebuah surat yang diketik olehnya.

Dear, Prince Minho…aku punya berita gembira…

Kau mungkin sudah mengerti setelah kau melihat alat tes itu. Masih ingat apa yang kita lakukan sekitar empat bulan lalu? Inilah hasilnya.

Ini hanya kabar awal dariku, aku akan datang tidak lama lagi. Mari kita sama-sama menjaga buah hati kita ini, OK?

Kiss for You,

Han Sunny

Secarik kertas itu membuat pikiranku luluh lantah, bahkan tetap menghantuiku ketika aku telah sampai di rumah.

Serasa kehilangan kesadaran, aku hanya mematung ketika mendapati Serra berdiri menyambutku. Ingin rasanya berlutut minta maaf pada yeoja ini.

Aku telah mengkhianatinya walaupun ini hanya kecelakaan. Tetap saja mau tidak mau aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat. Masalahnya, bagaimana dengan Serra?

“Serra-ya…” ucapanku mungkin terdengar menyedihkan, dan aku sendiri merasa diriku sangat memalukan.

“Waeyo?”

“Bunuh aku sekarang!” Pintaku seraya menjulurkan sebuah pisau lipat padanya.

Aku benar-benar dilema setengah mati. Rasanya lebih baik aku mati saja daripada melihatnya terluka.

“Minho-ya, apa yang terjadi padamu? Aku semakin tidak mengerti dengan sikapmu.”

Ia meraih benda kecil tajam itu dari tanganku dan membuangnya jauh-jauh dari kami. Aku tahu ia tidak akan membunuhku, tapi aku sangat berharap itu terjadi.

“Orang sepertiku tidak pantas hidup. Kalaupun hidup aku hanya akan membuatmu sakit.” Aku mulai merasa ingin menangis saat mengucapkannya.

Sebenarnya, aku tidak ingin terus membohonginya karena perlahan ia pun akan tahu. Namun aku bingung bagaimana mengatakannya.

“Ani, setiap orang di dunia ini memiliki kesempatan hidup, sekalipun ia adalah orang paling jahat di dunia. Minho-ya…kumohon, jangan menyimpan rahasia dariku, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi”

Haruskah aku berkata jujur. Tidak…aku akan menyakitinya dan akan membuat tubuhnya dalam bahaya. Tuhan…apa yang harus kulakukan…

Rasa tertekan kembali menguasaiku, bayangan yeoja setan itu kembali tersodor di hadapanku. Ia tersenyum menggoda, merebahkan tubuhnya di hadapanku dan memposisikan tubuhnya dengan posisi miring menghadapku, lalu ia mengusapkan telapak tangannya dari kepala sampai pinggang, namun terhenti di bagian perut.

Suaranya bahkan mulai membahana, seperti bisikan yang tak terdengar orang namun begitu keras terdengar olehku.

See…apa ini? Peruku berkembang…langkahku mulai berat Minho-ya…bantu aku berjalan nanti ya…

 

Hei, menurutmu apa aku tetap seksi dengan perutku yang makin membuncit ini? Kubunuh kau kalau kau menjawab tidak, karena nyatanya aku tahu—keseksianku telah meruntuhkanmu. Aku bahkan jauh lebih menarik daripada Serra-mu itu, kan?

 

Minho-ya…ayo kemari, berikan sapaan hangat untuk bayi kita…untukku juga…aku membutuhkanmu, membutuhkan kehangatanmu…

 

She’s back…” aku berucap tanpa sadar, yang ada dipikiranku adalah bayangan Sunny yang semakin menjadi…ia bahkan makin mendekatiku dan menempelkan perutnya pada tanganku.

“Siapa yang kembali? Dia? Dia siapa?”

Pertanyaan Serra menyeretku kembali ke alam nyata, membuatku kembali sadar diri bahwa apa yang baru saja kulihat dan bisikan yang kudengar itu hanya halusinasi semata.

Tapi tetap, aku tidak akan tenang jika terus menyembunyikan ini. Dan kurasa akan lebih baik jika Serra mengetahuinya sejak dini dan dari mulutku sendiri,

“Serra-ah…aku bermain di belakangmu…” Akhirnya aku membuat pengakuan dengan mengalahkan segenap kepengecutanku.

Serra tercekat dan aku bisa menangkap bola matanya yang berusaha bergerak menghindariku dengan kondisinya yang sudah terlihat merah dan basah.

“Dan ia hamil…”

Ia tetap membisu, dan kini air matanya tidak malu-malu lagi mengalir di wajahnya. Hal yang sama terjadi padaku, aku tak dapat menahan air mataku lagi, aku yang mengatakannya saja sakit setengah mati, apalagi Serra— yang menjadi korban atas kebodohanku ini…

Brukkk…

Tubuhnya terjatuh lemas, membuat tangisku semakin menjadi. Andwae…Serra-ah…jangan buat aku bertambah frustasi…

Kumohon bertahanlah…Tuhan, Selamatkan Yeoja ini…

+++++

Jonghyun’s POV

“Mengapa kau jadi hobi makan? Bukankah kau selama ini mati-matian menjaga bentuk tubuhmu? Sunny-ah, kau kerasukan setan rakus jenis apa?” Aku menggodanya jahil karena setiap kali aku berkunjung ke rumahnya di malam hari, ia pasti sedang menyantap makanan, dari mulai yang berat hingga cemilan ringan.

Kuperhatikan tubuhnya, makin berisi. Sebenarnya tidak terlihat jelas karena ia memang memakai kaos oblong yang kedodoran, tapi dari diameter pergelangan tangannya aku sudah menangkap tanda-tanda pertambahan pesat pada berat badannya.

Ia hanya tersenyum padaku, kemudian kembali melahap sebuah sandwich jumbo.

Aku semakin menggelengkan kepala, “Sunny-ah, aku sudah mengingatkan ya…aku tidak mau dengar kau berteriak frustasi setelah kau makin membengkak nanti.”

“Berisik Jjong…kau lama-lama mirip ahjumma rewel. Kalau kau tergiur dengan makanan ini,  bilang langsung deh…” Ia membalasku dengan tawanya. Issshh…aku bahkan mulai menangkap perubahan pada bentuk wajahnya, yang tadinya berpipi tirus—kini mulai terisi gundukan kecil seperti bakpao yang tidak akan terlihat jika orang tidak benar-benar mengamatinya.

Sunny-ah…apa kau stress sampai hobi makan segila ini? Aku pernah mendengar ada tipe orang yang ketika stress—ia akan makan sebanyak-banyaknya.

Lalu, apa yang membuatmu tertekan?

Flashback

Apa yang terjadi padanya? Secara kasat mata memang tidak ada yang berbeda pada sikapnya, tapi jika diteliti lebih lanjut, sorot matanya lebih sering meredup. Ini bukan Sunny yang kukenal, yang selalu memasang sorot mata penuh kilatan dan optimisme.

Jika boleh aku menduga, apa mungkin ada kaitannya dengan Key? Ya, kurasa yeoja manapun akan merasa dipermainkan karena ditinggal oleh namjachingunya tanpa izin maupun kabar. Dan kini sang namja itu muncul dengan sesuka hati di saat Sunny sudah mampu menjalani hidupnya dengan tenang.

Aku tidak tahan lagi. Setelah mendapatkan sambutan berupa kesuraman raut wajah Sunny tadi, aku segera memacu motorku, hanya ada satu tempat yang ada di otakku—rumah Key. Ya, aku akan memintanya untuk berhenti mengejar Sunny—karena kesedihanlah yang terpancar dari sinar mata Sunny saat dirinya bertemu Key.

Tidak butuh waktu lebih dari satu jam, aku tiba di pekarangan rumahnya setelah lebih dulu meyakinkan satpam bahwa aku punya kepentingan mendesak dengan Tuan besarnya.

Kini kami berhadapan. Biasanya aku selalu menyapa ramah dongsaengku ini, tapi kali ini mood-ku sedang tidak baik.

“A…annyeong…” Ia menyapaku ragu. Hhh, mungkin ia juga merasa heran dengan sikapku. Atau mungkin ia memang sudah menangkap maksud kedatanganku.

“Hyung, ada perlu apa datang kemari?” ia kembali membuka mulutnya sebelum aku menjawab.

“Key-ah, turuti apa yang diinginkan Sunny. Kau tentu tahu apa makna cinta yang sebenarnya kan?” Aku berterus terang tanpa kata pengantar sedikitpun.

“Aku tahu apa itu cinta. Tapi, masalahnya aku tahu bahwa yang terucap dari mulutnya tidak sama seperti apa yang ada di hatinya. Aku tahu hatinya masih untukku. Hyung. Apa kau tahu penyebab Sunny menjauh dariku?”

“Mollayo, dia tidak menjawabku. Begini, mungkin benar hatinya masih untukmu, tapi kurasa ia punya alasan kuat kenapa ia memilih menjauhimu. Kau tahu Sunny, ia adalah tipe orang yang mempertimbangkan semuanya dengan baik. Lagipula, sejujurnya aku pun sedikit tidak simpati lagi padamu.”

“Ne, aku tahu itu. Aku tahu apa kesalahanku…aku meninggalkannya begitu saja seolah tidak peduli perasaannya. Ya, berkali-kali aku telah mengakui kesalahanku. Apa sudah tidak ada kesempatan untukku? Nyatanya aku tahu cinta itu masih ada di hatinya, dia hanya…”

“Cukup Key, berarti kau belum paham apa itu cinta, kau masih memaksakan kehendakmu. Hargai keputusannya, aku yakin Sunny bukan tipe orang yang bodoh, dia pasti punya alasan kuat hingga mengesampingkan cintanya. Biarkan ia bahagia dengan pilihannya. Kalau kau tetap seperti ini ia akan tertekan. Kau tahu tidak, akhir-akhir ini Sunny gila makan, apa tandanya?” Aku memotong ucapannya, tidak tahan mendengarnya seolah membela diri—menyatakan bahwa pemikirannya itu tepat.

“Jadi menurutmu ia tertekan dan melarikan diri ke makanan, dan aku adalah penyebab rasa stress-nya?”

Aku tidak menjawab, membiarkan Key untuk menjawab sendiri pertanyaannya, biarkan ia menyadarinya sendiri.

Ia tertunduk, bisa kudengar ia menghela nafasnya dengan berat, dan beberapa saat kemudian ia menggigit bibirnya dengan mata yang mulai memerah.

“Baiklah hyung…mungkin kau benar, ia tertekan karena aku, aku sangat egois. Mulai sekarang aku akan menghargai keputusannya. Tapi, jika memang kondisinya memburuk, berarti bukan aku penyebabnya, dan aku akan mendesaknya untuk mengatakan apa yang sebenarnya membuat ia tertekan. Sampaikan padanya, pintuku selalu terbuka untuknya.”

Flashback End

“Sunny-ah…kau tidak mau cerita sesuatu padaku? Aku pendengar setiamu loh…” Lagi-lagi aku memancingnya untuk bercerita.

“Mwo? Cerita apa Jjong? Ohhh…iya, hari ini aku menemukan restoran Cina dengan cita rasa masakannya yang mantap, lain kali kuajak kau ke tempat itu.”

Ani, kau hanya sedang bersandiwara, aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku….

“Hais…yang ada di otakmu makanan melulu ya sekarang. Sekali-kali bisa tidak memikirkan aku?” Kembali kucoba untuk bercanda, sambil berusaha mengarahkannya pada jawaban yang kuinginkan.

“Shireo! Kau sih tidak perlu kupikirkan…” Ia tertawa, tapi sesaat kemudian wajahnya berubah serius. “Jjong…kau pernah iri pada saudaramu tidak?”

“Iri? Iri seperti apa maksudnya?”

“Misalnya saudaramu mendapat perlakuan lebih istimewa, lebih beruntung darimu, padahal seharusnya kau pun mendapatkan hal yang sama. Pernah?”

Sunny’s POV

“Misalnya saudaramu mendapat perlakuan lebih istimewa, lebih beruntung darimu, padahal seharusnya kau pun mendapatkan hal yang sama. Pernah?”

Pertanyaanku sangat konyol. Sebenarnya tidak ada gunanya, tapi entah kenapa aku melontarkannya. Ada sedikit rasa penyesalan di hatiku, kenapa aku bisa termakan rasa iriku pada Serra sampai rela mengorbankan permataku. Sebesar itukah rasa tidak terimaku karena selama ini Serra hidup dalam keluarga yang kaya raya, ia terlindungi dan bahagia—sementara aku tidak?

Tapi semuanya telah terlanjur, pengorbananku akan sia-sia jika aku berhenti disini, janinku tidak mungkin lenyap begitu saja, juga—aku tak ingin melakukan aborsi.

“Tidak pernah. Eh, pernah sekali sebenarnya, satu-satunya yang membuatku iri pada saudaraku hanya…aku satu-satunya yang pendek, huaa…Sunny-ah, kau membuatku jadi ingat ini lagi….” Sikap kekanakannya muncul, si baby crying.

“Bwahaha…malang sekali ya nasibmu Jjong. mungkin  kau hanya kurang minum susu berkalsium selama masa pertumbuhanmu.”

Haha…dasar si baby crying-ku, kukira ia akan menjawab apa. Hah, sudahlah…tidak usah dilanjutkan pembicaraan ini, aku tidak mau ia sampai curiga padaku. Biarlah aku yang menyelesaikan sendiri semua ini.

+++++

Author’s POV

Suasana mencekam, semua yang ada terdiam sambil menundukkan kepalanya, ada juga yang memilih menutupi wajah dengan telapak tangannya untuk menyembunyikan tangis kecemasan, seperti yang dilakukan Minho saat ini.

Tidak jauh dari ruang ICU, ia terus berdo’a dengan air mata yang masih belum mengering. Bagaimana tidak, ia merasa bahwa dirinyalah penyebab semua ini.

Setelah kemarin kondisi Serra sempat stabil, hari ini kembali memburuk, bahkan Serra kembali tidak sadarkan diri dan dinyatakan dalam kondisi bahaya.

Minho merasa tidak seharusnya ia menceritakan tentang pengkhianatannya walau hanya sedikit. Harusnya ia ingat bagaimana kondisi jantung Serra, yang sudah sejak kecil memang lemah dan makin bertambah parah seiring dengan berjalannya waktu.

Sementara Minho terus berdo’a, dari ujung lorong datanglah Jinki dan Taemin yang semakin mempercepat langkahnya karena ingin segera mengetahui kondisi sepupunya. Terutama Taemin, matanya sudah terlihat sembab, sedangkan Jinki masih terlihat tegar. Ini karena mereka berdua dan semua orang yang menunggu, mendapat kabar bahwa kinerja jantung Serra makin memburuk.

“Hyung…apa ada perkembangan tentang kondisi nuna?” Taemin langsung bertanya begitu jaraknya dengan Minho sudah memungkinkan suaranya terdengar tanpa harus berteriak.

Minho menggeleng lemas karena memang sampai saat ini kondisi Serra di dalam masih belum diketahui pasti. “Saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdo’a.” Minho menambahkan jawabannya dengan ucapan lisan.

Jinki belum bereaksi, ia hanya berdiri menghadap pintu ruangan tempat Serra berada, lalu pandangannya beralih pada Appa dan Umma Serra, juga beberapa sahabat Serra. Ada sesuatu yang masih ditahannya, ia harus melihat kondisi terlebih dahulu.

“Minho-ya…aku ingin bicara empat mata denganmu.” Jinki mendekati Minho dan berbisik di telinganya.

“Tidak sekarang hyung, aku tahu kau ingin menyalahkanku untuk semua ini? Aku tahu aku salah, tapi kumohon…jangan memberiku tekanan lebih berat lagi.”

“Ani, aku bukan ingin menyalahkanmu, tapi menyangkut jalan keluar untuk menyelamatkan Serra. Ikut denganku sekarang juga, kali ini aku memerintah!” Wibawa Jinki sebagai orang yang lebih tua mulai keluar.

Minho’s POV

“Ani, aku bukan ingin menyalahkanmu, tapi menyangkut jalan keluar untuk menyelamatkan Serra. Ikut denganku sekarang juga, kali ini aku memerintah!”

Demi Serra? Kenapa Jinki hyung membicarakannya denganku—bukan dengan orang tua Serra? Ah, aku tidak sepenuhnya yakin ia tidak akan menyalahkanku dalam pembicaraan kami sebentar lagi. Siapa pun yang mengetahui kondisi rumah tangga kami, pasti menudingku atas semua ini…Beruntung selama ini Serra selalu menjaga image-ku di depan orang tuanya, kalau tidak? Entahlah…mungkin aku telah bunuh diri karena rasa bersalah yang semakin menjeratku—apalagi jika semua orang memojokkanku.

Aku pun mengikuti langkah Jinki hyung, berjalan menuju tempat yang cukup sepi untuk berbicara empat mata.

“Di sini sepi, apa yang ingin kau bicarakan?”

“Minho-ya, andaikan ada yang ingin mendonorkan jantungnya untuk Serra, bagaimana?”

“Aku sebenarnya ingin itu terjadi. Tapi hyung, kau tahu kan Serra sendiri yang menolak, ia takut jika jantungnya tidak cocok. Lagipula ia merasa berdosa menggunakan jantung orang lain—itu yang selalu ia bilang padaku.”

“Tugasmu adalah meyakinkannya, aku akan mencari pendonornya.” Jinki berujar tegas, ia pergi meninggalkan Minho yang masih mematung.

+++++

Sunny’s POV

Seoul, aku kembali datang menyapamu. Ah, tidak…aku bahkan akan memelukmu, aku akan mendesak masuk menjadi penghunimu. Seoul…sebenarnya aku takut melangkah terus, tapi aku harus menyelesaikannya.

Meninggalkan Jonghyun, meninggalkan Key…entahlah, mungkin aku tidak akan bertemu keduanya lagi. Permainan yang kujalankan ini sangat berbahaya, menguntungkan jika karakter-karakter orang dan kondisinya sesuai dengan prediksiku, tapi akan membuatku menghuni penjara atau alam kubur jika ada yang meleset sedikit saja.

Empat bulan yang lalu aku telah memulainya, kini dengan sedikit nekat aku akan menemuinya—dengan tubuhku yang sudah terisi individu lain.

Setelah Minho terikat padaku, aku akan menyingkirkan Serra yang asli. Ah, bukan membunuhnya tentu saja…tapi aku akan membuatnya menyingkir perlahan dengan keinginannya sendiri, aku telah memikirkan ini setelah aku mengetahui karakter Serra—aku yakin ia akan kalah.

Sebelum menemui Minho, aku menginap dahulu di sebuah Hotel untuk mengistirahatkan badanku yang akhir-akhir ini makin terasa berat.

Tiba di kamar hotelku, aku segera melangkahkan kaki menuju kasur. Tapi rupanya daya tarik kaca lebih kuat, aku mematut diri sejenak di depan kaca.

Benarkah ini aku? Tubuhku bahkan tidak ramping lagi, mulai membesar. Sebenarnya waktu empat bulan tidak akan membuatku sebesar ini, tapi aku memang sengaja memperparahnya dengan banyak melahap makanan.

Ini demi menyembunyikan kondisiku yang sebenarnya dari orang lain, terutama Key dan Jonghyun. Bukankah akan terasa aneh jika tiba-tiba badanku makin membesar sementara porsi makanku tidak berubah? Aku pun merelakan tubuhku dihuni oleh lemak berlebih, tidak boleh setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, itu prinsipku.

Setelah cukup lama memandang cermin, aku merebahkan diri di kasur, menerawang memandangi langit-langit. Kembali teringat sosok Key dan Jonghyun.

Sunny-ah…kenapa kau tega pergi ke Seoul tanpa bilang-bilang padaku…Sunny-ah, kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi?

 

Mungkin seperti itulah yang akan dikatakan Jonghyun andai setelah semua ini usai, aku masih punya kesempatan untuk berkomunikasi dengannya. Sayangnya itu akan terjadi dalam waktu yang cukup lama, aku mengganti nomor ponselku sejak kemarin. Aku tidak akan tahan mengabaikan panggilan dari Baby crying-ku nanti.

Sunny-ah…Jadi ini alasanmu menghindariku, karena kau sudah mengandung janin dari namja lain? Sunny-ah, kebodohan apa yang kau lakukan? Bukankah kau pernah mengatakan kau tidak akan pernah mau menikah dengan orang yang tidak kau cintai? Kau sungguhan mencintai namja itu?

Key akan melontarkan sederet kalimat itu atau kalimat lainnya yang masih memiliki kesamaan inti. Memang aku bodoh Key, tapi kau juga penyebab kebodohanku. Aku pernah bilang kalau aku tidak mau menikah dengan namja yang tidak kucintai, tapi nyatanya—kau, namja yang kucintai justru menghilang seenaknya dalam waktu lama, itu membuatku tidak berani berharap pada cinta. Saat itu aku mengira kau bahkan tidak akan muncul di hadapanku lagi dan tidak ada lagi hatimu untukku. Key…

“Arrgghhh…”Aku mulai mengerang, merasa perutku menegang dan sakitnya mulai menyiksa.

Ah, aku tidak boleh memikirkan Key, aku harus tetap stabil sehingga kandunganku tetap aman sampai waktunya ia lahir. Sebaiknya aku tidak membuang waktuku, menghubungi Minho adalah hal pertama yang harus kulakukan.

+++++

Author’s POV

Suasananya tidak ramai, hanya ada beberapa pengunjung saja yang datang untuk menyantap hidangan restoran itu.

Di salah satu pojoknya, dua orang masih berhadapan saling membisu. Sang namja menampakkan raut wajahnya yang sudah dikuasai emosi, namun ia bingung harus mulai meluapkan amarahnya dari mana, karena sebenarnya ia pun merasa kebodohannya ikut berperan serta dalam masalah ini. Sementara sang yeoja pun belum berani memulai percakapannya walaupun sebenarnya ia telah menyusun rapi semuanya.

“Terlalu lama, aku yang mulai. Jadi, aku ingin tahu apa kau tipe namja yang bertanggung jawab?” Akhirnya sang yeoja tidak tahan lagi.

“Apa perlu aku bertanggung jawab atas kejahatan yang memang telah kau rencanakan, Sunny-ssi?”

“Seorang pelacur pun, berhak menuntut orang yang menghamilinya sekalipun semua orang tahu kalau yeoja itu sendiri yang memancing. Tapi, bagaimanapun dan apapun alasannya, seorang namja yang telah menghamili harus bertanggung jawab karena ia turut berperan dalam tumbuhnya janin itu. Benar, kan?” Sunny tersenyum penuh kemenangan.

Ia tahu Minho adalah tipe orang yang bertanggung jawab. Sebelum ia memutuskan untuk memulai permainan ini, ia telah mempelajari dulu karakter orang-orang yang mungkin akan terlibat. Beberapa kali ia ke Seoul untuk melakukan pengamatan.

“Cih, apa kau ingin menyamakan dirimu dengan pelacur?”

“Terserah siapa pun aku dan bagaimana aku di matamu. Yang jelas aku menuntutmu, Choi Minho.”

“Bisa saja kan aku menolak? Siapa yang peduli dengan yeoja tidak punya hati sepertimu?” Minho berusaha tetap tenang, ia tahu yeoja dihadapannya ini jauh lebih pintar darinya dalam memainkan kata.

“Kau boleh tidak peduli padaku, tapi janin ini? Andaikan pun kau tidak bertanggung jawab, aku tetap akan mengantarkan bayi ini padamu, dan dengan begitu hidupmu dan rumah tanggamu sama-sama akan hancur bukan?”

Minho terdiam mati kutu, memikirkan cara lain untuk berkelit. Tapi tetap saja, permainan kata jenis apapun yang akan diucapkannya, di dasar hati Minho tetap mengatakan—ia harus bertanggung jawab atas janin itu.

Aku tidak mampu lari dari semua ini, jeratannya memang benar-benar maut, aku tidak bisa menentang nuraniku sebagai manusia. Bagaimana nasib anak ini saat lahir tanpa ayah? Jika aku tidak bertanggung jawab, toh anak ini akan sampai padaku dan akan tumbuh tanpa ibu kandungnya?

Tapi bagaimana dengan Serra? Arrggg…apa yang harus kulakukan?

 

Pikiran-pikiran seperti itu berkelebat di pikiran Minho, ia menelan ludahnya pasrah

“Apa kau masih bisa lari dariku, Choi Minho?” Sunny kembali tersenyum penuh kemenangan, kali ini ia bahkan bangkit dari duduknya dan berbisik di telinga Minho.

Sunny meraih tangan Minho, menggerakkannya ke bagian perutnya yang telah mulai membesar, memasukkan tangan Minho ke dalam blouse longgarnya agar dapat langsung merasakan kulit perutnya. Tangan Minho bergetar hebat, begitu juga dengan seluruh tubuhnya. Ia mulai ketakutan.

“Kau takut, Honey? Jangan takut, kita akan merawatnya bersama.” Sunny menangkap perubahan sikap Minho saat jemari namja itu menyentuh perutnya.

Minho menarik tangannya, tidak berani lagi menghadapi kenyataan pahit di hadapannya. Ia mulai seperti orang kerasukan, getaran tubuhnya makin hebat, sementara matanya melotot ketakutan dan tidak berapa lama ia terisak, meminta Sunny agar menjauhinya.

Sunny makin merasa dirinya di atas angin. Ia justru makin mendekati Minho, membiarkannya ketakutan dan menikmati tingkah Minho yang sudah tidak normal itu lagi.

“Jebal…jangan mendekatiku…” Minho terus memohon, tapi tidak dihiraukan oleh Sunny.

Ddrttt drtdddttt…

Handphone Minho yang tergeletak di atas meja bergetar, keduanya beradu cepat untuk mengambil benda itu, dan Sunny memenangkannya.

Jinki Hyung

Calling

“Kuangkat ya…sekalian saja biarkan Jinki tahu apa yang telah di perbuat adik iparnya pada sepupunya…” Serra mengangkat teleponnya, bermaksud membuat Minho bertambah frustasi.

“Yeoboseo, Minho-ya…keadaan Serra makin gawat, jantungnya terus melemah. Kita harus segera temukan pendonor jantung…”

Deg,

Ponsel itu terjatuh dari tangan Sunny. Seketika bisikan-bisikan yang mengatakannya sebagai orang terjahat di dunia, mulai memenuhi pikirannya.

Minho berusaha melawan rasa takutnya, mengambil bendanya yang terjatuh tadi. “Hyung, bisa ulangi ucapanmu tadi?” pinta  Minho kemudian.

“Kita harus segera temukan pendonor jantungnya. Kondisi Serra makin parah.”

Minho tidak menjawab, ia segera memutus sambungannya. Saat ini sebuah tekanan baru memenuhi pikirannya, ia berusaha keras menjernihkan otaknya.

“Mengapa aku tidak pernah tahu kalau jantung Serra bermasalah?” Sunny terisak.

“Sejak lahir jantungnya tidak normal.” Minho membalas dingin pertanyaan Sunny, kemudian berlalu meninggalkan Sunny.

Sunny makin merasa bersalah, tubuhnya terjatuh pingsan setelah sebelumnya berkontraksi hebat karena rangsangan kuat yang diterima dari otaknya. Dan darah berwarna agak pekat pun merembes dari celana krem yang dikenakannya setelah Sunny tidak lagi sadarkan diri…

TBC

+++++

Gomawo udah mau baca…jangan lupa komen yah…Don’t be silent reader, OK?

 

Gomawo udah mau baca…don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

36 thoughts on “Between Two Hearts – Part 4

  1. Huaaa,, makin seru ceritanya,, pasti menyesal kali si sunny *tapi ga tau jg deh kalo dy emang ga brperasaan*
    serra bertahanlaaa.. Hwaiting..
    Author jg hwaiting🙂

  2. y ampuun…ini cerita makin lama makin menguras emosi.kasihan minho..dy jd mrasa brslah udh menghianati serra.kasihan key..g d anggp sm sunny pdhl dy msh ngrep sm sunny.kasihan serra…slma prnikahn sm minho g prnah d anggp eh,skalix d anggp mlh si minho udh trlnjur ”main” sm cewek laen.,trakhr kasihan jg sm sunny yg kemakan rasa irix sndri sampe hrz ngrbanin diri smpe hamil,dtmbah lg rasa brsalahx pd serra pas tw serra skrat.
    i2 akhrx sunny k’guguran g y…kykx mnding k’gu2ran d..biar smw org bs hdup tnang

  3. Author-nim..
    Kau berhasil mengaduk-aduk prasaanku..
    Serra bertahanlah.. Semoga donornya cepat ada..
    Itu sunny keguguran kah? Aku pengennya sch begitu#sadis
    biar minho ga terikat sama dia lg..
    Next part ditunggu..

  4. Minho kesantet apaan eon?
    Mta melotor,kringet ngucur trus*serem ngebayanginnya*
    brat bnget beban si minho ampe bikin dunia terbalik,,,eaa.
    Gimana coba byangin uri karisma minho nangis di pelukn seorang yeoja*getok2 pala*

    puas awak melihat sunny kna batu*napa jdi padang bgini?*
    itu yg pas dia pingsan trus ada drah ngerembes dri
    roknyaculik key dari penjara bibib eon,bawa pulang..kunciin di kamar.

    Serra kau harus brtahan demi minho mu itu.Kmu kudu harus ambil jantung orang yg udh buat kmu sengsara slama ini,kta laen..yg nakdirin kmu idup kyak gitu*ngelirik bibib eon#dicincangdirebusdisatedibakardisantap*

    bibib eonnie,hehe*paan seeh,cengengesan kga jelas*
    di tunggu part slanjutnya.
    Hehe#prang(?),,,HWAITING.

  5. Itu yg pas dia pingsan trus ada drah ngerembes dri roknya,kguguran ya?mangkin sukur aja itu si suni.

    Key sangat terlalu kasian bnget di crita ini*bahasanya mulai*.Bibib eon parah deh,,
    culik key…..)
    kan kpotong tuh pas komen di atas,ini klimat yg ilang nya gitohh…ehehe.

    1. km orang padang ya?

      eee, jgn segitu bencinya ama sunny ah, hehe

      aku mau nyate kamu aja ah yaaaa, dikombinasi ama sate ayam, hehe #gajelas

      ayo tungguin yah lanjutannya ^^
      gomawo…

      1. ani ani,aku bukan orang padang…
        tpi entah mengapa tiba2 kata ‘awak’ terbesit di otak,,,

        nyate aku?aku?*biar berasa dramatis*bgaimana nanti suamiku si key?dia akn sngat kecewa istrinya disate ama tukang sate yg mangkal di pinggiran jlan*bibib eonn:mw nurunin martabat gue?*

        key,,,ku tunggu klanjutannya,hwaiting!

  6. Abis liat komen2 yg author reply aku jd bingung sama perasaan(?)aku sendiri… Semuanya kasihan😦 kira2 siapa ya pendonor jantungnya? Asal jangan Minho atau keluarganya sendiri… *egois* atau jgn2 malah Sunny yg donor jntgnya krn merasa bersalah dan gak kuat lebih lama menjalani hidup? *ngaco mode on* hehe ditunggu ya author part selanjutnya, maaf baru komen di part ini karena aku baru hari ini baca ff ini u.uv

  7. Bibiiibbbbb *teriak pake toak*. kangen gak ama gw?.
    Bibib: enggak! *tegas*
    gw: yaudah deh aku pulang aja😦

    hehe becanda diing. komeng kok komeng🙂
    sbner’y rada kaget liat minho di gmbarkan jd namja pengecut (dlm arti cinta ke serra) trus depresi pulak. biasanya pan minho syelalu jd namja keren dngn blsejuta karisma *lebe*..
    jd mnurut gw ini kayak angin segar bwt karakter minho *ape coba :D*

    baiklah. nih gw mau sotoy yah.. tebak2 kitu. hehehe.
    kenpa smua org ngarep sunny keguguran. menurut ilmu sotoy gw. kyk’y sunny gak keguguran deh. jstru dia mungkin bklan tobat jd baik. nyesel gitu..
    tebak gw ntr sunny lah yg jd donor jantung. scara anak kembar psti apa2 cocok. trus masalah anak. mungkin ntr anak’y di adopsi sm minho en serra. gimane nasip sunny? yahhh inalilahiwainailaihirojiun.. kekeke

    hahahaha.. yaudah dr pada mkin ngaco. aku pulang aja deh,, ditunggu part slanjut’y. adios amigos~~

    1. hiyaaa, si ateng datengg.
      ee, jgn pulang atuh, ditunggun komennya kok…

      oya benerrr, aku juga ngeliat karakter minho biasanya perfect bgd…sekali-kali menistakan minho yah…hehe

      mmm, bener ga ya tebakannya…hihi, kyaknya engga jugan deh ^^

      gomawo yah udh mampir, ntar maen lg ke part 5-nya ya ^^

  8. Jadi,, itu Sunny bakal keguguran kah…. Wahhh,,, si Sunny gx tahu klo Serra punya penyakit jantung…. Nyesel tujuh turunan deh tuhhhhhhh,,,

    Ehmm,, Bib add sedikit typo tuh,, yg paragraf akhir2 itu,, Sunny dibilang Serra… Trs entah knp ngerasa di Akhir part itu bahasanya agak berbeda, alurnya terasa cepet beda sm paragraf2 atasnya.. Atau aq yg ngerasa galau sendiri ya…hehe

    Ok dehhh! Di tunggu next part nya….

  9. katanya kau karakter orang-orang yg bakal ikut berperan di permainannya, kok sodara kembar sendiri punya penyakit gak tau sunnynya?
    masih kurang pinter nih….hehe

  10. Biiiiib aku muncul lagi~~~ baru nyampe rumah jam setengah 9 ga pake mandi langsung baca ini dulu *jorooook*

    berhubung baca dalam kondisi di mana tingkat konsentrasiku hanya 50% comment kali ini gak sedetail biasanya Bib, mian😦

    surat Sunny pas ngasih tau Minho kalo dia hamil dan juga flashback bagian Jonghyun gimana kalau diitalic? biar keliatan bedanya hehe

    aku masih kurang ngerasa feelnya pas:
    1. Minho ngaku kalau dia udah main di belakang Serra. Kurang dapet feelnya mengenai perasaan Serra yang terkejut, marah, terkhianati gitu-gitu.
    2. Pas Sunny tau kalo Serra punya penyakit jantung itu juga kurang dapet feel rasa bersalah dan terkejutnya Sunny.
    mungkin narasinya yang kurang sehingga bikin aku merasa kurang dapet feelnya hehe.

    aduh apa ini? commentku gini amat. maaf ya Bib😦 tapi aku enjoy banget baca yang ini, ceritanya bikin deg-deg ser

    1. iyap….aku edit2 lagi ndits, ntar klo udh kuedit aku tanya2 lagi pndapatmu ya, hehe. untuk narasi, aku mesti banyak2 baca ff hyena itu dulu deh biar dpt wawasan. kadang aku ga cukup kuat dalam merasakan ndits. ah semangat lah ya belajar narasi!

      thx a lot y ndits…k

  11. kerrrreeeen!!!!
    aku mencium sesuatu tentang kelanjutan ceritanya, tapiii… aku tidak suka merusak kejutan!!! haha…

    lanjutnya jangan lama-lama ya. aku ga sabar mengetahui apakah tebakanku benar atau tidak ^^

  12. hmm… Sunny… Sunny… kau itu pintar, sayang kepintaranmu dikalahkan oleh rasa iri mu yang sangat menakutkan… ternyata rasa iri yang berlebihan itu sangat menyeramkan…. FF ini baguuuus banget ampe nyesek juga bacanya T____T

  13. Kekeke~ saya salah, ternyata Jinki sama Taemin itu sepupunya yah?

    Kenapa Sunny hamil segalaaa? Eh, tapi di akhirnya itu… apa dia…

  14. Ya ampunn nyesekk, ff nih bener-bener menguras emosi.
    Mungkin aku jahat kalo berfikir bgni, tapi aku sangat beharap Sunny-nya keguguran. trus dia depresi karena rasa bersalahnya ama Serra & akhirnya dia yg ngedonorin Jantungnya buat Serra..
    Hhh.. lanjut dlu dehh, penasaran akut nihh

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s