Diary Of a Murderer

Diary Of a Murderer

Author :  Evyansyah

Main cast : Lee Jinki and Oh Yun Ju

Other : Kim Jonghyun and Gong A-Jeung

Length : One Shoot

Genre : Angst, Romance, Friendship

A.N : Please jangan copas ya. Hargai pikiran, ide, dan tangan author!!! Jangan plagiat!!! INI PLOT AKUUUUUUUU!!!!!! *teriak pake toa*
Mianhae kalau ada salah tulis. Namanya juga manusia, selalu ada salah…. =.=

=-=-=-=-=

01 January 2012, Spring

Seoul

Bukan suatu hal yang harus aku permasalahkan saat ini. Ini benar-benar rumit. Antara yang aku lihat dan aku dengar. Antara bohong dan kebenaran. Antara kejujuran dan kebohongan. Mana yang harus aku percayai. Kejadian kemarin malam membuat hatiku tertusuk. Apakah ini yang disebut persahabatan? Ini yang disebut sahabat??

=-=-=-=-=-=-

Oh Yun Ju

Oh Yun Ju

Angkat telponnya~

“Mmm, yeobseo…” jawabku pelan. Pukul 02.00 pagi. Handphone-ku berdering begitu nyaring. Aku berusaha menahan kantuk yang tidak terbendung. Badanku serasa ingin patah. Lelah dan letih sepulang lembur bekerja. “Yun Ju imnida, ada yang bisa aku bantu?” Di sebrang begitu hening.  “Yun Ju-a, maaf menelponmu malam-malam begini. Salah. Pagi-pagi buta begini,” suara namja yang lembut itu membangunkanku dari mimpiku. Otakku seperti di setrum dengan tegangan tinggi.

“Tidak apa-apa, waeyo.. Onew-a?,” balasku pelan. Ku tahan emosi dan sebal yang meletup-letup di dadaku. Sebenarnya aku sebal dengannya, kenapa harus menelponku sepagi ini?  “Aku tidak bisa tidur, datanglah ke kamarku,” rengek Onew. Dia sudah dewasa, tapi sifatnya seperti anak-anak. Aku menghela nafas berat. Senyumku sedikit mengembang. “Baiklah…,” ujarku pelan. “Tunggu aku.”

PIP!

Kakiku melangkah perlahan-lahan. Mataku menyipit karena terlalu mengantuk.  Otakku mulai mengingat wajah namja bermata manis itu. Senyumnya yang melebar dan matanya meyipit saat ia tersenyum. Yang paling aku suka adalah… Hidungnya. Saat dia tersenyum, hidungnya akan lancip dan itu berhasil membuatku tertawa. Yang paling aku suka dari seluruh tubuhnya, bibirnya. Bibirnya begitu pink dan begitu menarik. Saat aku bersamanya, aku paling suka memperhatikan bibirnya. Saat pertama kali bertemu aku juga melihat bibirnya terus. Tanpa sadar, aku sudah masuk ke dalam kamar Onew. Aku lihat namja yang tertidur begitu manis. Tanpa basa-basi, aku segera duduk di ranjangnya. Memerhatikannya dengan saksama. Dia mungkin sudah kembali tidur.

“Onew-a, tidurlah…,” bisikku pelan di telingannya. Dengan sedikit mengubah posisi tidurnya, matanya terbuka sedikit. Menoleh padaku, lalu melebarkan senyumnya. “Ne, aku akan tidur…,” kata Onew pelan. “Sudah, tutup matamu ya,” ujarku sedikit berbisik. Dia mengangguk lalu kembali ke posisi semula. Dengan sigap, aku berdiri dari ranjangan Onew. Namun tertahan dengan suara dehaman Onew. “Mau kemana?,” tanya Onew sambil mengambil posisi duduk. Kedua matanya menyipit  dan kantung matanya bertumpuk-tumpuk di bawah matanya. “Aku bilang temani aku.”

Aku menghela nafas berat. Cepat-cepat aku kembali ke posisi semula, duduk di sampingnya.  “Yun Ju-a…,” namja itu belum juga mau tidur?? Posisinya kembali dia ubah. Tidur miring ke kanan. “Mianhae.. . Soal kemarin..,” suara Onew pelan. Mungkin hampir tidak terdengar. “Jangan di lanjutkan,” aku menahan kata-kata yang akan ia keluarkan. “Jangan di lanjutkan.” Namja itu menghela nafas berat. Mungkin ia tampak menyesal dari nada suaranya. Tapi aku seakan tidak bisa memaafkannya. Otakku tidak bisa menerima kata-kata “maaf” dari mulutnya. “Mianhae, aku mohon…,” pinta Onew dengan menyesal. Aku menahan luapan emosiku yang begitu tergambar. “Aku tidak bermaksud melakukannya… Aku sebenarnya sudah bersiap-siap.. Tapi dia…,”Onew berusaha menjelaskannya.

“Aku melihatnya sendiri… Kamu pikir aku ini bodoh?! Aku melihatnya kau bersama dengan A-Jeung. Kamu bilang… Kamu sedang bersama Jonghyun… Katanya kau membantu Jonghyun mengerjakan PR kan?! Tapi?? Kamu jalan bersama dengannya?! Aku susah payah mendapatkan kursinya, kamu tau? Tapi ternyata?? Kamu bersama dengannya, dengan A-Jeung. Aku pikir kamu akan menepati janjiku!!,” bentakku yang berusaha menahan luapan emosi. Onew menoleh lalu memejamkan matanya. “Mianhae, aku sudah bilang aku akan pergi bersamamu. Tapi dia terus memaksaku. Dia, A-Jeung yang menyuruhku untuk bilang padamu bahwa aku sedang membantu Jonghyun mengerjakan PR. Itu semua bukan mauku!,” bela Onew susah payah. Aku meremas selimut Onew. Sekencang mungkin aku memegang selimutnya. “Mianhae, aku harus kembali…,” ujarku pelan sambil secepat mungkin aku keluar dari kamar Onew.

“Mianhae…. Aku harus kembali…”

Braak!!!

=-=-=-=-=-=-=-

31 Desember 2011

Sender : Lee Jinki

 

Mianhae, aku tidak bisa datang. Jonghyun memintaku untuk membantunya mengerjakan PR. Sekali lagi, aku minta maaf. Tolong di mengerti ya…..

 

-MIANHAE-

 

SMS itu membuatku ingin membanting handphone yang aku pegang erat-erat. Aku tidak tahan dengan isi SMS itu. Dia bilang membantu Jonghyun mengerjakan PR?! Arghhh~ Persetan A-Jeung!!!! Dasar perempuan gatal. Baru kemarin ia gandeng namja tampan pemilik perusahaan terkenal. Sekarang, dia berusaha mengambil Onew. Persetan kau, A-Jeung!!!!!

Ku melihat foto berpigaru silver  itu. Perlahan-lahan aku mengambil foto itu. Jemariku mulai menyusuri wajah-wajah orang yang aku kenal. Namja di sebelahku tersenyum sambil mencubit pipiku. Yeoja di sebelah namja itu tertawa melihat tingkah aku dan namja yang saling berkelahi itu. Aku hampir ingin tertawa. Namun aku tahan saat aku mengingat baik-baik siapa mereka. Onew dan A-Jeung, namja dan yeoja yang aku maksud. Aku menahan emosiku saat aku perhatikan wajah A-Jeung. Namun emosiku menguap. Foto yang aku pegang dengan erat-erat itu aku banting.

“BEDEBAH KAU A-JEUNG!!!!!! PERSETAN  KAMU A-JEUNG!!!!!”

=-=-=-=-=-=-=-=-

2 January 2012, Spring

Seoul

Sejak kemarin malam, aku tidak mengobrol dengannya. Maksudku dengan Onew. Ya, saat makan, saat mencuci, saat di ruang keluarga.. Kami tidak mengobrol. Melempar senyum saja tidak….

Apa yang harus aku lakukan? Membiarkannya seperti ini??

=-=-=-=-=-=-

Suara benturan piring dan sendok begitu nyaring di telingaku. Jonghyun, adik Onew sedang pergi nongkrong di cafe bersama teman-temannya. Sisanya? Aku dan Onew. Ini hal yang paling aku benci di sini. Satu atap tanpa sapa dan canda adalah hal yang paling buruk dan mungkin yang paling bodoh menurutku. Suara benturan masih nyaring terdengar. Udara dingin membuatku semakin tidak nyaman dengan kondisi yang seperti ini. Perlahan-lahan aku membuka mulut namun bungkam seketika saat melihat dinginya Onew padaku sekarang. “Tolong… Ambilkan kejunya…,” pintaku agar keadaan kembali sepeti semula. Namun tidak seperti yang aku harapkan, ia tanpa memandangku memberikan kejunya lalu kembali makan rotinya.

“Onew-a.. Aku…” suaraku pelan. Dia memandangku dengan tatapan hangatnya. Lalu melebarkan pipinya naik ke atas sehingga mengukir senyum darinya. “Waeyo? Ada apa?,” tanya Onew lembut. Seakan-akan tidak tau apa yang terjadi kemarin. “Mianhae ne…,” ujarku tertunduk. Malu. Namja itu memegang pipiku, lalu mencubitnya. Suara terkekeh terdengar mengejek di telingaku. Aku melongos kesal. “Aku sungguh-sungguh tau!!,” bentakku kesal. Suara terkekeh itu semakin keras. “Hahaha, kamu tau? Kalau kamu sedang marah, kamu malah lebih manis,” ujar Onew sambil tersenyum simpul.

Aku berdiri lalu melongos pelan. Sebenarnya aku malu, tapi aku berusaha menutupinya. “Jangan memuji!,” ujarku ge-er. Dia kembali tertawa. Aku dengar suara kursi bergeser. “Siapa yang memujimu?? Itu suatu kenyataan yang tidak bisa di tepis..,” bisik Onew pelan yang berhasil membuatku terlonjak. Aku mendorong tubuh Onew sekuat mungkin. Aku berusaha membuat Onew menjauh dariku. “Mau kemana? Hey!!!!,” panggil Onew. Aku berusaha masuk ke kamarku. Namun berhasil di tangkap Onew. Dia melancarkan back hug-nya yang membuatku kehabisan nafas. Dia melakukannya sangat keras seperti menggenggam raket tenis. “Lepaskan aku!!!,” aku berontak. “Kamu dengar tidak? Lepaskaaaaan!!!!”

Satu kecupan di leherku membuatku berhenti berontak. Bukannya berontak, yang sekarang aku rasakan adalah ketenangan dan kenyamanan. Namun panik mulai merambat diriku. Aku injak kakinya agar ia melepaskan pelukannya. Segera aku masuk kamar lalu menguncinya. “Hahaha, Oh Yun Ju.. Oh Yun Ju… Ternyata kamu takut pria mesum!!,” ejek Onew. Memang aku takut pria mesum. Mana ada wanita di dunia ini yang tidak takut dengan pria mesum?! “Hey, semua wanita juga takut dengan pria mesum!! Kamu tau? Kamu itu sangat BABO!!! BABOOO!!!,” teriakku sekeras mungkin. Suara tertawa dari balik pintu kembali terdengar oleh telingaku. “Berhenti tertawaaa!!!!!”

TOK TOK~

Ketukan pintu menghentikan perdebatan kami. Ku buka kunci kamar lalu mengintip dari daun pintu. Sudah aku lihat Onew di peluk oleh… A-Jeung?! Aku perhatikan dengan saksama. Benar saja, yeoja yang memeluk itu adalah A-Jeung. Namun aku lihat tidak ada balasan dari Onew. Malah, wajah Onew kaget begitu A-Jeung memeluknya. Dasar, wanita gatal!

“Mana Yun Ju dan Jonghyun?,” tanya A-Jeung sambil menaruh barang belanjaannya dengan seenaknya. Onew tampak ragu-ragu. Ia melirik kamarku dan melihatku mengintip percakapan mereka. “Hanya berdua? Itu sangat bagus.” Ku tahan emosi yang hampir meledak. Aku kepal kedua tanganku. Gigiku bergetar. Keringatku bercucuran dari dahi. Aku mulai tidak tahan! “Mmm… S-sedang apa kamu kemari?,” tanya Onew ragu-ragu. A-Jeung tersenyum lalu mengelus pipi Onew pelan. “Menemuimu tentunya…,” balas A-Jeung. “Aku tidak ingin menemuin yeoja gatal itu!”

Apa kau bilang?! Wanita gatal?! Bedebah kamu!!!! “Siapa… Wanita gatal itu?,” tanya Onew mulai tidak nyaman. “Siapa lagi kalau bukan yeoja itu, Oh Yun Ju…,” ujar A-Jeung sambil mengeluarkan football cap yang ia beli. Lalu, ia cocokan dengan kepala Onew. “Kamu bilang, Yun Ju?!,” tanya Onew lebih keras. A-Jeung menoleh, lalu mendekati Onew. “Tentu saja. Dia hanya perempuan miskin yang tidak berpendidikan. Bagaimana dia bisa di terima di Universitas yang sama denganmu ya? Sungguh aneh…,” ungkap A-Jeung tampa rasa malu sedikit pun.

BRAAAAK!!!!!

Tampa di duga-duga, Onew memukul meja kayu yang ada di sebelahnya. A-Jeung tentu saja kaget dengan perlakuan Onew. “KELUAR KAU!!!!!,” bentak Onew. Dia dorong yeoja persetan itu untuk menjauh darinya. “BAWA TOPI INI, AKU TIDAK PERLU!!!! CEPAT, KELUAR KAU!!!!!! ATAU AKU TARIK KAMU KELUAR!!!!,” bentak Onew makin keras. A-Jeung tampak mengeluarkan cairan putih dari matanya. Aku sebenarnya tidak pernah melihatnya semarah ini. Tidak. “AKU AKAN KELUAR!!!!!,” balas A-Jeung sambil segera berlarii keluar.

Onew segera duduk di sofa. Lalu memukul meja kayu itu sangat keras. “Bedebah dia….,” desah Onew kesal. Aku segera menumpat di balik pintu. Onew-a….

=-=-=-=-==-=-=-=

3 January 2012, Spring

Seoul

Sejak hari itu, persahabatan kami pecah. Salah. Sudah dari dulu persahabatan kami pecah setelah A-Jeung berubah drastis. Ku tidak tau apa yang harus aku lakukan? Ini kah yang terjadi dengan persahabatan kami?

Ini jalan cerita yang di susun Tuhan??

Apakah tindakan ini yang akan aku lakukan??

=-=-=-=-=-=-

Mataku masih memandangi namja berwajah…. Mesum itu. Bibir seksinya menyeruput teh hangat. Namja itu adik Onew, Jonghyun. “Jadi… Onew sangat tidak suka dengan A-Jeung?,” tanyaku hati-hati. Bibir itu ia lepaskan dari bibir gelas lalu tersenyum sinis. “Ne, begitulah…,” balas Jonghyun pelan. Ia letakkan gelas berisi teh hangat itu di meja. Matanya memandang lurus padaku. “Kenapa memangnya?”

Aku membuang muka. Memilah kata-kata yang pas untuk aku katakan pada Jonghyun. Ia memandangku heran. “Aku tau… Noona mencintainya kan?,” tanya Jonghyun yang aku yakini dia hanya menebak. “M-mwo? Apa kamu bilang? Ti-tidak aaah~,” ujarku memelas. Aku mulai gugup. Jonghyun mulai tersenyum mesum. Ia menopang kepalanya dengan malas sambil memandangku penuh arti. Ia seperti menunggu sesuatu dariku.  “Mengakulah…,” goda Jonghyun. Aku mulai malas. “Noona… Suka dengannya kan? Dengan Onew hyung… Hehehe…”

Aku mulai berdiri. Lalu membuang muka. “Cih, aku tidak suka padanya! Sudah, aku mau pulang,” ujarku dengan kesal. Aku memaksa kakiku untuk menjauh dari namja bermata puppy itu. Dengan kesal, aku menutup pintu cafe.

Ring Ding Dong

Ring Ding Dong

 

5 January 2012

Sender : A-Jeung

Temui aku di rumahku, sekarang!

Ada apa dia memintaku ke rumahnya? Tidak seperti biasanya dia mengajakku ke rumahnya.

=-=-=-=-=-

CKLEK~

PRAANG!!!

“Kamu menghancurkan segalanya Oh Yun Ju!!!!,” teriak A-Jeung saat aku baru masuk ke dalam rumahnya. Dia memukulku dengan piring sehingga kepalaku berdarah-darah. Namun aku berusaha menahannya dan berusaha untuk bangkit. “Dasar bajingan!!!,” teriakku sambil mendorong  A-Jeung yang membuatnya menabrak pintu. Aku segera mengambil piring yang dekat denganku, lalu membenturkannya ke kepala A-Jeung. “Dasar bajingan!!!,” teriakku sekeras mungkin.

A-Jeung tidak menyerah, ia memukul wajahku hingga membuat bibirku mengeluarkan darah. “Setan sepertimu pantas mati!!,” balas A-Jeung sambil berusaha menusukku dengan pecahan piring. Namun beruntung dia tidak mengenai sasarannya, jantungku. Tanpa mau kalah, aku mengambil cutter yang aku temukan. Aku berusaha menusuk perutnya. Namun yang kena adalah bahu kirinya. A-Jeung berteriak kesakitan. Segera aku mengambil kesempatan untuk menjauh darinya. “Kamu, setan yang tidak tau diri lebih pantas mati!! Kamu wanita jalang yang tidak tau diri. Bangsat kamu!!,” segera aku memukul kepalanya dengan piring.

Ternyata A-Jeung masih kuat. Keringat bercucuran di dahinya. Bahu kirinya mengeluarkan darah bekas tusukan cutter itu. “Mati kamu Yun Ju!!!!,” gertak A-Jeung sambil berlari membawa pecahan piring. Segera aku berlari menghindar. Cutter yang berlumuran darah itu aku ganti dengan pisau dapur. “Kamu menghancurkan rencanaku. Tinggal sedikit lagi, tinggal sedikit lagi Onew menjadi milikku!!!,”  bentak A-Jeung. Pecahan piring itu ia ganti dengan cutter yang baru aku lempar dan segera memotong kelingkingku!!!! “Kyaaaaa~ Ke-kelingkingku!!!!!,” teriakku panik saat melihat kelingkingku tergeletak di lantai.

“Ha… Ha… Hahahaha, saatnya kamu mati!!!,” bentak A-Jeung sambil menginjak kelingkingku. Aku berteriak histeris saat melihat kelingkingku ia remukan. Dengan sigap dan tidak mau kalah, aku berdiri dengan darah yang masih mengalir. “Kau… Kau… Bajingan… Keparat!! Lebih pantas mati di.. Di banding AKU!!!!!!!,” teriakku sambil mendaratkan pisau dapur itu ke bahu kanannya. Dia merintih ke sakitan. Darah segar membasahi bajuku dan baju A-Jeung yang bercampur dengan keringat dingin kami. “Wanita jalang yang hobinya mabuk-mabukan, yang menyuruh sahabatnya membatalkan janji, yang menggandeng para pria, lebih pantas MATI di banding hidup di dunia!!!!,” gertakku semakin kuat.

“MATI KAMU BAJINGAN!!!!!!!!!!!,” teriakku sambil mendaratkan sebuah tusukan ke jantungnya dan….

JLEB!

“Mati kamu… Mati… Mati… MATI!!!!!!!,” teriakku sambil terus menusuk pisau dapur itu ke jantungnya berkali-kali. Namun saat aku sudah sadar, aku perhatikan wajah yang terbujur kaku itu. Menutup matanya dengan darah di mulutnya. Bajunya basah dengan keringat dan darah. Kepalanya berlumuran dengan darah yang mengalir. Satu luka tusuk di dadanya begitu dalam. Aku akhirnya sadar. Sadar bahwa aku sudah membunuh sahabatku sendiri. Sadar bahwa aku sudah menjadi… Pembunuh.

“A-Jeung.. S-sadar. Kita belum selesai,” ujarku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tak terasa bulir air mata membasahi pipiku. “A-Jeung, sadar. Aku mohon.” Berkali-kali aku menggoyangkan tubuhnya. Tapi aku sadar, bahwa A-Jeung sudah mati. Mati di tanganku.

“A-JEUUUUUNG!!!!!!”

=-=-=-=-=-=-=-

Beberapa tahun kemudian….

15 February 2014

Seoul

Hari ini aku kembali menghirup udara kota Seoul. Sudah 2 tahun lamanya sejak kejadian mengerikan itu. Aku memutuskan untuk menangkap diriku sendiri. Itu bukan keputusan yang aku inginkan, bahkan yang tidak aku harapkan. Tapi semua sudah berlalu. Tidak ada yang perlu di sesali…

Semua sudah di susun Tuhan….

=-=-=-=-=-=-=-

Aku tertegun saat melihat seorang namja tersenyum manis. Saat aku baru keluar dari penjara, namja itu menyambutku. Yang sudah 2 tahun tidak bertemu denganku. “Yun Ju-a, aku merindukanmu…,” ujar namja itu pelan. Ia tersenyum simpul. Namun pandanganku masih tidak bisa percaya. Rangsangan otakku berusaha mengingat-ingat nama namja yang sudah lama tidak aku temui. “Aku sungguh-sungguh merindukanmu…,” ujar namja itu lagi. Kakiku tiba-tiba bergerak. Seakan ada magnet yang menarikku untuk menemui namja itu lebih dekat. Tanganku melingkari lehernya. Tanpa aku rasa, aku sudah memeluknya sangat erat. Sangat erat.

“Onew-a!!!,” teriakku setelah aku mengingat nama itu. Namja itu tertawa dan membalas pelukanku. “A-aku merindukanmu. Ya, aku sangat merindukanmu.” Namja itu semakin mengeratkan pelukannya. “Kamu tau….,” ujar Onew pelan. Ia menghela nafas pelan. “Aku mencintaimu,” sambungnya sembari melepaskan pelukannya untuk melihat wajahku. Aku tertegun saat mendengar 2 kalimat yang jarang aku dengar.

Dia menuju ke kursi taman yang cukup dekat dari tempat kami berdiri. Ia duduk dengan penuh berwibawa dan setelah itu, ia pukul 2 kali tempat di sebelahnya. Maksudnya menyuruhku untuk duduk. Tampa basa-basi, aku segera memenuhi perintahnya.  Dia merangkulku lalu mendekatkan bibirnya ke pipiku. Tak terasa, satu kecupan kecil mendarat di pipiku. Otakku menyuruhku untuk diam. Menyuruh tubuhku agar tenang dan tetap diam di tempat.

“Lupakan A-Jeung. Dia hanya masa lalu. Jangan kamu ingat-ingat dia. Ini hari yang baru, buang masa lalumu. Dan ingat… Masa lalu bukanlah suatu hal yang selamanya kamu harus simpan. Masa lalu yang buruk kamu buang sejauh mungkin, seperti saat kamu membuang abu mayat. Masa lalu yang baik kamu simpan itu, seperti kamu menyimpan uang di dalam berangkas, Arasseo?,” jelas Onew lembut. Matanya memfokuskan pada mataku.

“Dan… Aku sangat mencintaimu. Itu satu hal yang belum kamu tau… Oh Yun Ju…,” ujar Onew dengan tulus. Namun, aku menanggapinya dengan dingin. “Aku ini pembunuh…,” ujarku sambil tertunduk malu. Dia menutup mulutku. Menyuruhku untuk bungkam.

“Aku mecintaimu…. Sekali pun kamu seorang pembunuh….,” bisik Onew yang tepat di telingaku.

Onew segera menarikku kepelukannya. Untuk sesaat aku merasakan masa laluku hilang di balik pelukan Onew. Hangat dan teduh di matanya membuatku semakin aman. Senyum lebarnya membuatku yakin untuk maju ke depan… Bukan mundur ke belakang. Aku membalas pelukan Onew. Seerat mungkin aku memeluknya. Aku tak ingin melepaskannya… Aku tidak ingin kembali ke masa lalu.. Aku tidak akan melakukannya….

=-=-=-=-=-=-

16 February 2014

Seoul

Life is indeed strange …
Life is a thing that is really confusing …
Between friendship with a relationship
Between love with friendship

Past that never happened, it must be away from my life. I have to remove all my shameful past.

The past is like ash body, which should throw away
The past is like garbage, which should be in the fuel to be burned
Allow me to open a new page …
Let me happy …. Forever ….

 

-The End-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Diary Of a Murderer”

  1. Daebak thor,tpi aq merasa ngeri ngebaca nya,ku kira oh Yun ju gak ngebalas perlakuan A-jeung ,ternyata eh ternyata#plak,malah Yun ju yang jdi pembunuh, terus berkarya ya thor,

  2. Aku memutuskan untuk menangkap diriku sendiri. — eh? mgkn mksdnya ‘menyerahkan diriku sendiri’ kli ya.. ke polisi kan…

    sadis bgt itu berkelahinya.. beuuhhh mantap.. hahaha…

    n so sweet endingnya…
    oh btw.. “aku mencintaimu” itu 2 kata, 1 kalimat. bukan 2 kalimat.. hehehe

    1. oh ya kelingkingnya copot.. jd itu skrg yunju g punya kelingking 1.. *knp jd mikirin kelingking* hahaha

  3. ngeri adegan bunuh2an nya hahahaha jangan2 author pernah bunuh orang juga, jadi tau bagaimana *apasih abaikan
    good FF thor hehehehe

  4. Wah, ini dia jenis ff kesukaanku. yg rada2 psikopat dn bnyk darah2’a.kekek.
    oia kl bleh komen, klimaksnya kurang deh author. Mgkn bkal lebih menegangkan kl dtmbh bbrpa scene dmna A jeung berusaha nyingkirin yun jo tnpa spngtahuan yun jo sblm akhir’a trjadi baku hantam (?) itu. *ini pndapat aku loh yaa ^^*
    However, nice ff ^^~
    smga komen yg ak tulis membangun yaa ^^~

  5. Keren banget ceritanya thoor tapi aku sedikit takut waktu berantem.. Serem juga ._.
    Tapi selebihnya kereeen! 😀

  6. entah berapa ekspresi yg aku kluarin wktu baca crita di atas..
    apalagi waktu baca adegan berantemnya,sampe aku pegangin jari kelingking.
    akhirnya sweeet,,,mw kritik tpi udh dikatakan smua sm mimi eonn.

    saranku atau menurutku kualitas(?)kata2 dlem ff author msih ada yg harus diperbaiki,,,sperti kata ‘tampa-tanpa,mau-ingin,tau-tahu’dan mungkin masih beberapa lagi.

    segini aja komenku thor*ngusap keringet*
    daebakk d^-^b..
    karyamu yg lain,ku tunggu.

  7. Pertama, yang harus diancungi jempol adalah genre ceritanya, di saat yang lain berlomba-lomba untuk menulis romance, dirimu menulis angst (?). Yah,apapun genre-nya yang penting beda lah, aku kurang ngeh juga sama2 genre hehee..

    Tapi, sepertinya tulisannya masih harus dipoles..
    ada beberapa catatan/ pertanyaan nih..

    1. Jadi sebenarnya, Yun Ju sama Onew tinggal satu rumah? Mereka bukannya temen ya?

    2. A Jeung & Yun Ju, berantemnya di dapur, di ruang makan, atau dimana ya? soalnya tertulis:

    “Kamu menghancurkan segalanya Oh Yun Ju!!!!,” teriak A-Jeung saat aku baru masuk ke dalam rumahnya.” —-> kupikir tadinya ini di ruang tamu, karena baru masuk ke dalam rumah. Tapi, setelah baca kalimat selanjutnya kok deskripsi saya jadi berubah. karena ada kalimat ini:

    a) Tanpa mau kalah, aku mengambil cutter yang aku temukan. —> kayaknya bukan di dapur hehe.. krn cutter biasanya bukan di dapur kan ya?
    b) Cutter yang berlumuran darah itu aku ganti dengan pisau dapur. —> Eh di dapur deh..

    Jadi, TKP nya dimana ya? Cutter, piring, pisau dapur?

    3. Sisanya seperti yang sudah dikomentari oleh readers di atas, pemilihan kata..

    Oke.. sekian dulu dari saya. It’s nice anyway =)

  8. keren ff nya.. Author.
    Tapi agk ngeri pas adegan berkelahinya,, apa lagi kalo ngebayangin jari kelingkingnya terpotong.. Iiiiihhh..

    Daebakk thor..

  9. Yunju sama Onew itu satu rumah? Awal aku baca, kirain Onew adiknya, terus ganti jadi suaminya…terus mikir mereka tinggal satu asrama, tapi kok cwek cowok dijadiin satu? O.o

    Rada kaget pas adegan berkelahi itu. Hehe, agak ganjil aja bacanya, apalagi mereka saling memecahkan piring. Haha

    Overall, ide ceritanya keren kok 🙂

  10. daebak thor!
    serem -______-
    itu a-jeung sana yun jo kok serem sih berantemnya? lempar-lempar piring? biasanya cewek bukannya jambak-jambakan doang?
    thor, tau ga? *author: engga*
    namaku ajeng loh.
    ajeng —-> a-jeung.
    gak sama kan ya?
    *bergidik ngeri*
    mana di sini a-jeung nya nyebelin parah ._.

    Dia sudah dewasa, tapi sifatnya seperti anak-anak —> aku ketawa baca ini hahaha lol

    Dia melancarkan back hug-nya —> mau dong di back hug Onew oppa *mupeng mode: on*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s