Erased – Part 4

Title                       :               Erased [4 .5] – The Right Way

Author                  :               Choi Minjin

Main Casts          :               Lee Jinki, Choi Minho

Supporting casts :            Song Jina (imaginary), Key, Jonghyun, Taemin, Park Jungsu, Narsha

Genre                   :               Life, family, sad, tragedy, a lil bit romance

Length                  :               Sequel

Rating                   :               General

AN                          :               Annyeong, ini FF sequel keduaku setelah ‘Hwasal’ sekaligus FF terpanjang yang pernah kutulis sejauh ini. FF ini juga agak membingungkan karena sering berganti point of view. Tapi nggak papa ya? Ya ya ya? *maksa*.

FF ini mungkin juga FF terakhirku sebelum aku mau fokus dulu ke ujian *doakan aku sukses ya chingu… ^^*, nanti aku akan balik lagi nulis FF tepat setelah ujian selesai. Please leave a comment ya, happy reading….

******************************

Jinki’s POV

Berhari-hari berlalu dengan kelabu. Di jam seperti ini, aku duduk dekat jendela memandangi hujan yang tidak juga lelah membasahi bumi. Setiap detik aku hanya terperangkap dalam lamunan. Lamunan yang nyaris sama setiap hari, bahwa mungkin takdirku akan sekelam langit di atas sana. Ia menangis dan sekarang tangisannya yang bernama hujan itu telah menjadi temanku.

Aku tetap tidak ingat. Tetapi kurasa menjadi ingat pun takkan merubah apapun.

Kepalaku tidak mau mengerti suasana hatiku. Berkali-kali ia berdenyut-denyut menyakitkan. Perutku pun ikut-ikutan. Sejak tadi aku harus bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut. Padahal aku belum benar-benar makan sejak semalam. Entahlah, aku tidak punya nafsu makan sedikitpun.

Setidaknya, meski mataku pun mulai berkunang-kunang, aku masih belum kehilangan kesadaran. Aku masih sanggup duduk di sini berjam-jam. Aku tidak ingin tidur dan memimpikan itu lagi, mendengar kata-kata itu terngiang di telingaku lagi.

‘Itu hanya masa lalu. Hapus saja semua itu dari ingatan kita.’

Kenapa aku ditinggalkan dan ingin dihapuskan? Apa itu semua karma untukku yang telah melupakan?

Tok tok tok.

Sebuah ketukan di pintu, terasa sangat aneh dan asing di telingaku. Hampir tidak ada orang yang pernah melakukannya. Hanya Jina yang sering datang tapi dia hanya tinggal membukanya, tidak perlu mengetuk. Sedangkan ahjumma penagih uang sewa biasanya tidak mengetuk, tetapi menggedor.

Aku bangkit, tapi pandanganku semakin kabur. Semua benda yang kulihat terlihat berwarna abu-abu, dan tampaknya seperti mosaic, disertai banyak kunang-kunang yang berterbangan. Aku harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh atau terpeleset di lantai yang jarang kusapu ini.

Kenapa pintu yang biasanya berwarna coklat kusam sekarang menjadi abu-abu? Bahkan tanganku sangat kesulitan memutar gagang pintu, seakan beratnya bertambah berkilo-kilo.

Di depan pintu, berdiri seseorang. Aku tidak dapat melihatnya, meski mataku sudah kufokuskan dengan maksimal. Tetap saja, yang kulihat hanya sosok berwarna abu-abu kekuningan yang kabur, semakin kabur dan akhirnya hitam.

Rasanya sakit ketika badanku menghantam sesuatu. Tetapi kepalaku ini jauh lebih sakit.

Sakit.

~~~~~

Mataku rasanya lengket, berat, membuatku khawatir jangan-jangan aku tidak bisa membukanya lagi. Tapi untunglah, dengan berusaha keras, akhirnya mataku terbuka sempurna. Dan yang pertama tertangkap mataku adalah langit-langit kamarku yang sangat familiar.

“Oppa? Kau sudah bangun?”

Suara itu bagaikan angin, begitu lembut dan berdesir dekat telingaku. Pemilik suara itu duduk berlutut di samping tempat tidurku yang pendek, memandangi mataku dengan sirat khawatir. Jina, tentu saja.

Aku mencoba melengkungkan bibirku, membentuk senyum kaku yang aku yakin pasti tampak aneh. Tapi setidaknya Jina cukup puas dan ia pun tersenyum seraya mengusap sedikit cairan di sudut matanya. Jina siapa ini? Dia seperti bukan Jina yang kukenal. Jina yang tegar dan tangguh ini akhir-akhir ini begitu banyak menumpahkan air mata.

“Kau baik-baik saja, oppa? Perlukah kita ke rumah sakit?”

Aku yakin pergi ke rumah sakit hanya akan menambah masalah yang sudah menggunung di otakku, jadi kupaksakan kepalaku yang masih berat ini untuk menggeleng,”Tidak. Aku pasti hanya sakit kepala biasa. Mungkin sedikit tidur akan membuatku lebih baik.”

Jina mengangguk, meski sebenarnya dia pasti masih begitu khawatir,”Tadi, sambil menunggumu bangun, aku membuatkanmu bubur. Sebetulnya aku tidak begitu pintar memasaknya. Tapi setidaknya masih berbentuk bubur.”

Aku tidak punya nafsu makan sedikitpun, tetapi aku tidak mau menyakiti perasaannya dan menyia-nyiakan bubur yang dibuatnya. Kupaksakan menelan makanan lembek yang terasa hambar di lidahku ini. Mungkin sebenarnya tidak hambar. Mungkin lidahku juga sedang kehilangan kewarasannya.

“Oh ya, Jina. Kau ada apa datang ke sini tadi? Untung kau datang dan mendapatiku pingsan.”

Tangan Jina yang sedang menyendokkan bubur terhenti sesaat. Ia menyipitkan matanya memandangku heran,”Aku datang karena temanmu meneleponku, oppa. Dia bilang kau pingsan. Aku sangat terkejut lalu langsung lari ke sini.”

“Temanku?”

“Iya. Katanya waktu kau membukakan pintu untuknya, kau langsung pingsan di depannya. Tadi dia sudah ingin membawamu ke rumah sakit juga. Tapi lalu dia memanggilkan dokter untuk memeriksamu di sini. Setelah membelikanmu obat, dia langsung pergi. Aku tidak mengenalnya.”

Kucoba memikirkan siapa kira-kira temanku yang mungkin datang ke sini. Pikiranku kosong, tidak ada pikiran sama sekali,”Bagaimana orangnya?”

“Yaa… dia tinggi, agak kurus, seperti itulah.”

Kurasa hampir semua temanku tinggi dan agak kurus.

“Oh ya, oppa. Dokter bilang secepatnya kau harus ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap.”

Ya, mungkin aku akan pergi. Kapan-kapan.

~~~~~

Minho’s POV

Malam yang tenang dan cerah, tanpa hujan dan petir yang menurutku justru membuatku semakin nyenyak tidur. Malam tenang seperti ini, Jonghyun dan Key biasanya pergi entah kemana. Mungkin mengencani wanita atau apalah itu, aku tidak peduli. Dan aku, andaikan bukan buron polisi, mungkin sedang jalan-jalan menikmati malam di tepi Han Gang yang luar biasa indahnya.

Tapi nyatanya aku hanya duduk di meja makan, memandangi lampu-lampu jalan di luar sana melalui jendela lebar sambil mengaduk-ngaduk pastaku dengan asal saja. Taemin duduk di karpet di depan televisi, sibuk mengerjakan sesuatu, mungkin pekerjaan rumah.

Aku masih geli mengingat reaksi Taemin begitu ia tahu aku buronan polisi. Key menjelaskan padanya berjam-jam, lalu Taemin seperti akan kabur dari rumah dan berkata akan hidup sendiri saja. Tapi beberapa jam kemudian, ia kembali dan berkata setidaknya dia akan membalas budi pada Kibum-hyung yang sudah menghidupinya bertahun-tahun.

Sampai sekarang, dia tidak mengajak Key bicara. Tetapi anehnya dia tidak marah padaku ataupun Jonghyun. Dia justru ingin menemaniku menghabiskan waktu persembunyian di apartemenku ini. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya.

Sesuatu mendorongku untuk ingin tahu. Lagipula aku sangat bosan tidak melakukan apapun sepanjang hari. Kuperhatikan Taemin yang tekun duduk beberapa meter di depanku,“Taemin-ah, kenapa kau hanya memusuhi Key, padahal aku dan Jonghyun juga… kau tahulah, ‘penjahat’?

Taemin berhenti dari kesibukannya menulis sesuatu,”Aku… aku hanya sangat kecewa.”

Kuletakkan garpuku lalu kusingkirkan pasta yang sudah dingin itu,”Kenapa? Dan kenapa hanya Key?”

Taemin duduk tegak, dihadapinya aku dengan kedua matanya menatap tajam,”Hyung, kau harus tahu, orang tuaku meninggal sejak aku masih sangat kecil. Padahal Kibum hyung sebelumnya juga yatim piatu dan tinggal bersama kami. Saat itu dia baru tujuh tahun tapi dia sudah merawatku sejak di panti asuhan. Sambil sekolah dia bekerja sambilan sampai ketika dia sudah sekolah menengah, kami dapat menyewa flat yang sangat kecil. Hingga akhirnya bisa seperti sekarang.”

Aku diam, bersabar menunggu lanjutan perkataannya.

“Dia begitu bekerja keras dan menderita untukku. Aku ingat dia rela hanya makan nasi dengan sedikit kecap agar aku dapat makan telur. Dulu dia tidur di lantai ubin yang dingin karena kami hanya punya satu kasur lipat kecil. Kibum hyung. Bertahun-tahun aku sangat membanggakannya. Aku bersumpah aku tidak akan meninggalkannya dan aku pasti akan membalas semua kebaikan yang telah dia lakukan padaku. Tapi begitu aku dengar bahwa dia… yah, itulah. Hyung, aku merasa seperti jatuh begitu dalam. Rasanya kebanggaanku ini remuk redam. Aku sangat sangat sangat kecewa.”

Mungkin aku mengerti. Meski hanya seujung kuku, aku dapat mengerti. Yang tidak kumengerti adalah kenapa aku hari ini aneh sekali, mau tahu urusan orang lain.

“Aku tidak mungkin mengkhianati kalian, hyung. Tidak mungkin aku melaporkan kalian ke polisi. Karena kita sudah kenal lama, dan aku tahu kalian orang baik, setidaknya menurutku begitu. Dan meskipun kalian tidak mau mengatakannya padaku, aku yakin kalian punya alasan logis untuk ini. Tapi kekecewaanku terhadap Kibum hyung… terlalu besar.”

Ingatanku melayang pada gambar-gambar suram dengan langit biru dan pasir putih. Ingatan yang berusaha keras kuhapus agar aku lupa, tapi tinta yang menggoreskannya mungkin adalah tinta permanen yang tidak akan pernah luntur. Kekecewaan, bertahun-tahun.

“Apa yang akan kau lakukan pada Key, berhubung kau kecewa padanya?”

Kali ini Taemin tidak langsung menjawab. Tampaknya ia sibuk meredakan kemelut besar yang sedang terjadi dalam hatinya,”Entahlah, hyung. Bagaimanapun, dia kakak sepupuku. Dia juga yang membesarkanku. Aku hanya berencana nanti setelah lulus, aku akan mencoba bekerja untuk membiayai kuliahku sendiri. Aku tidak akan membebaninya lagi dan aku akan menabung untuk mengganti uang yang telah ia keluarkan untukku meski aku tahu pasti tidak akan setimpal. Andai saja… andai saja aku tidak membebaninya sampai seperti ini, dia tidak perlu sampai melakukan tindakan kriminal untuk mencari uang. Mungkin memang… ini semua salahku.”

Sesuatu keluar dari sudut-sudut mata Taemin. Sesuatu yang tampak berkilauan di bawah cahaya lampu. Aku yakin mataku masih normal dan aku tidak salah melihat Taemin menangis.

Kekecewaan Taemin terhadap Key berbeda dengan kekecewaanku. Setidaknya Key merawat Taemin dan mereka besar bersama. Mereka saling menyayangi dan saling membutuhkan. Mereka tidak terpisahkan dan Key tetap menjaga Taemin apapun yang terjadi. Meskipun hidup mereka begitu berat, mereka berjuang bersama melawan dunia.

Tidak seperti seseorang yang meninggalkan seseorang yang bahkan dianggap sudah mati. Aku tidak mau menyebut namanya. Nama itu bagaikan garam yang disiramkan pada luka, pedihnya tidak tertahankan.

“Hyung, aku sudah pergi melihatnya.”

Suara Taemin memanggilku kembali ke alam nyata,”Hah? Apa? Siapa?”

“Dia. Waiter itu. Aku mengikutinya pulang. Sampai di flatnya sepertinya dia langsung tidur jadi aku kembali lagi siang hari. Waktu kuketuk pintu, dia membukanya tapi langsung pingsan. Aku mencoba mencari nomor telepon penting di ponselnya lalu kutelepon seseorang bernama Jina, mungkin pacarnya. Kupanggilkan dokter lalu aku pulang.”

Tunggu dulu. Taemin mencari orang itu?,”Kau ini… kenapa kau lakukan itu?”

“Maafkan aku hyung. Aku hanya penasaran. Hm.. menurutku kalian tidak mirip sama sekali, apa dia benar-benar kakakmu? Jangan-jangan hanya orang yang kebetulan punya nama yang sama?”

Kebetulan yang luar biasa. Andai saja begitu,”Entahlah, aku tidak peduli. Hei, kau jangan bilang siapa-siapa. Awas saja kau.”

Taemin hanya tersenyum jahil. Ia hendak melanjutkan pekerjaannya lagi ketika dia tiba-tiba teringat sesuatu dan menoleh lagi padaku,”Oh ya, hyung. Tadi kudengar…”

“Sudah. Belajar saja sana!”aku tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang orang itu.

~~~~~

Jinki’s POV

Ini masih pukul empat pagi lebih sepuluh menit, tetapi kenapa di depan pintu flatku, kutemui barang-barang dan tas yang harusnya ada di dalam? Ayolah, aku sedang tidak ingin bercanda. Kepalaku sakit sekali, mungkin tidak lama lagi akan mengeluarkan asap hitam tebal seperti gunung berapi.

“Yah, kau. Lee Jinki!”

Ternyata si ahjumma penagih uang sewa. Wajahnya semakin terlihat menakutkan karena mataku sedang tidak fokus. Meski lemas dan sebal, sebisa mungkin aku tetap mempertahankan sopan santunku,”Selamat pagi.”

Dia memandangku dengan pandangan yang membuat perutku terasa teraduk-aduk, aku mengerti maksud pandangannya itu. Bahkan sikap sopan yang kupaksakan pun takkan mengubah keputusannya,”Kau ingat kan, aku sudah memberimu waktu satu minggu? Aku sudah sangat bersabar untukmu. Sekarang waktunya kau pergi. Aku bukannya tidak punya hati, tapi aku juga butuh uang.”

Aku yakin, apapun yang kukatakan, bahkan meskipun aku menangis dan berlutut di kakinya, dia tidak akan mengubah keputusannya. Tanpa kusadari, aku hanya tersenyum, singkat tanpa ketulusan, lalu dia pergi.

Barangku tidak begitu banyak, jadi aku mencoba mengangkat semuanya, tapi kemudian aku ingat tanganku hanya dua, lalu bagaimana? Dua tas, satu kotak besar dan satu koper. Mungkin aku harus menitipkan beberapa di antaranya dia suatu tempat sampai aku menemukan tempat baru untuk tinggal.

Matahari bahkan belum tampak di ufuk timur, tapi aku sudah merasa sangat kelelahan mengangkat semua ini sampai di tepi jalan. Langit hitam tanpa bintang di atas sana seperti hamparan perasaanku yang tak bertepi, begitu kelam dan suram. Bahkan, seakan ingin mengejekku lebih lagi, dia menurunkan hujan.

Kupejamkan mata, pikiranku berputar dalam keputus asaan. Hujan… berikan aku kesejukan agar aku dapat menahan diri dari keinginan bunuh diri. Tuhan… bantu aku tetap berdiri.

Suara sebuah bel sepeda memanggilku terbangun. Seorang pengantar susu bersepeda tersenyum kepadaku dari sela-sela kesibukannya memilah antara susu biasa dan susu low fat untuk arabeoji darah tinggi yang tinggal di seberang jalan. Aku merasa hangat. Bagiku satu senyum dari siapapun itu, cukup memberi semangat.

Kuangkat satu tasku yang paling penting, kutinggal yang lain di balik kotak besar yang tersembunyi, semoga tidak ada yang membuangnya setidaknya sampai aku kembali.

Dengan kaki pegal, aku mencoba melangkah mantap. Jalanan di depanku terlihat samar-samar dan buram di tengah guyuran hujan. Kepalaku juga terasa aneh. Rasanya seperti menaiki biang lala dengan kecepatan tinggi. Telingaku berdenging dan aku ingin muntah. Tetapi tidak ada waktu bahkan hanya untuk menghela nafas. Aku ingin segera pergi. Aku tahu kemana aku harus pergi.

~~~~~

Minho’s POV

Sementara Taemin masih tidur pulas, aku yang sudah hampir membusuk hanya diam di apartemen selama berhari-hari, akhirnya tidak tahan lagi. Kubawa Porsche hitamku keluar basement. Ternyata di luar masih gelap, matahari masih enggan menampakkan diri. Hujan yang tidak begitu deras membuyarkan semua perasaan terkungkung yang menyesakkan. Rasanya sejuk melihat limpahan air itu membasahi kaca mobilku.

Jalan-jalan yang kulalui belum begitu ramai oleh kendaraan. Tanpa sadar, tanganku yang dingin menyetir di jalan-jalan kecil dekat café itu, tempat orang itu bekerja. Tapi sekarang hampir pukul lima, pasti dia sudah pulang.

Huh, apa peduliku? Aku tidak ingin mempedulikannya sama sekali. Andai aku bisa lupa sepenuhnya. Lupakan, lupakan, lupakan! Di hidupku sekarang, aku tidak punya saudara. Hidupku telah lupa padanya.

Sial!

Untung aku masih sempat menginjak rem. Hampir saja aku menabrak yeoja ceroboh itu. Aku sedang malas untuk melakukan hal-hal tidak perlu, jadi kuklakson saja  dia. Dia menyingkir sembari menunduk. Payung putih yang dibawanya jatuh di sampingnya.

Aku tidak habis pikir kenapa ada orang sebodoh ini. Aku keluar dan kubanting pintu sekeras mungkin, melampiaskan kekesalanku. Kuhampiri dia yang masih mematung di bawah gerimis,”Kau tidak apa-apa?”

Yeoja itu mendongak, lalu terkejut melihatku.

Aku tahu kenapa dia terkejut karena aku pun sama terkejutnya dengannya. Dia adalah Song Jina, salah satu bagian masa lalu yang turut menggores luka dalam ingatanku. Aku bahkan sudah menganggapnya mati beberapa tahun terakhir ini. Tapi kenapa dia justru berdiri di hadapanku, seperti hantu yang bangkit dari kuburan kenangan.

“Minho?”

Tidak ada kata yang perlu kuucapkan. Aku berbalik tapi dia menarik tanganku, sangat tiba-tiba. Kutarik tanganku, tapi dia menahannya dengan kuat, agak tidak terduga melihat tubuhnya yang kurus.

“Minho, tolong dengarkan aku. Kau boleh membenciku. Aku memang salah karena percaya begitu saja pada mereka bahwa kau sudah mati. Aku memang salah karena tidak peduli untuk mencarimu. Tapi kumohon jangan kau benci oppa. Oppa tidak salah sama sekali. Dia tidak berniat melupakanmu.”

Aku mencoba menulikan telinga mendengar ucapannya yang bagai rentetan peluru tidak peduli sekeras apapun usahanya memaksaku mendengar segala omong kosongnya. Aku hanya tidak ingin mendengarnya. Aku sudah terlanjur menganggap mereka membuangku dan aku tidak ingin anggapan yang sudah kubangun ini goyah yang lalu akan membuatku jatuh dalam jurang kesedihan lagi.

Tapi dia tidak mau melepaskan tanganku,”Minho, oppa tidak salah. Akulah yang salah. Aku yang mengajaknya pergi ke panti asuhan, aku yang tidak pernah memberitahunya segala tentangmu. Karena waktu itu, oppa tidak bangun selama berminggu-minggu. Begitu terbangun dia bahkan tidak ingat namanya sendiri. Dia bukannya tidak ingin ingat, tapi dia memang tidak bisa. Dia tidak pantas mendapat kemarahanmu, Minho.”

Berhasil, Song Jina. Kau sukses membuatku goyah.

“Minho, tolong jangan membencinya. Tolong…”

Kutepiskan tangannya dengan buncahan emosi, tidak peduli apa pun yang dikatakannya,”Kaupikir aku akan percaya cerita seperti itu? Kita tidak hidup dalam drama televisi. Tidak usah beromong kosong, tolong biarkan aku pergi. Lagipula aku tidak membenci siapapun. Aku memang tidak punya siapapun untuk dicintai ataupun dibenci. Maaf, permisi.”

Aku salut pada diriku sendiri yang dapat menjaga suaraku tidak bergetar. Sungguh aneh diriku ini, otak, hati dan mulut tidak sinkron sama sekali. Setidaknya aku bisa mempertahankan wajahku tetap datar, percaya atau tidak pada Jina.

Jina menggeleng sangat keras,”Tidak, aku tidak bohong. Sumpah. Minho, hentikanlah semua kesalahpahaman kita. Kesalahpahamanku, kesalahpahamanmu. Selama ini itu semua mengakibatkan begitu banyak kebencian dan kekecewaan.”

Aku masih tidak dapat memahaminya dengan benar. Kesalahpahaman. Kebencian. Kekecewaan,”Tapi itu semua sudah terjadi. Kita tidak punya kuasa mengubah takdir.  Hidupku sekarang terlalu berbeda dengan dulu. Dan tidak ada yang bisa diubah.”

“Berbeda?”

“Apa kau tidak pernah menonton televisi? Atau membaca surat kabar?”pertanyaan ini membuat diriku sendiri geli. Sungguh menggelikan,”Sudahlah.  Lebih baik kita jalani hidup masing-masing.”

Aku membuka pintu mobilku yang entah mengapa menjadi berkali-kali lebih berat daripada biasanya. Ada badai besar dalam hatiku, yang tidak kuat menahan sinar mentari yang mulai menampakkan diri. Aku harus segera berlindung.

“Minho. Setidaknya ingatlah. Ingat apa yang pernah Jinki oppa perbuat untukmu sebagai kakak. Ingat  bahwa kalian punya hubungan darah.”

Suara itu lirih sekali, bergetar dan terdengar sangat jauh. Untuk sesaat aku tidak bisa bergerak sampai akhirnya aku menutup pintu, lalu menyetir menjauh. Menjauh dari Jina.

Dari spion kulihat pandangannya masih menuju ke arahku, begitu keras bagai karang.  Lalu kulihat wajahku sendiri, keteguhannya dalam diam kini mulai runtuh. Ombak besar bergulung menghantamnya.

Kuhentikan Porsche-ku di dekat sebuah toko tutup di sudut jalan. Kepalaku berputar dalam berbagai kebingungan. Kuremas rambutku yang basah oleh air hujan, terasa lebih pusing. Goyah. Aku sudah goyah.

Bertahun-tahun aku tidak menangis. Tidak ada yang kurasa perlu untuk ditangisi. Tapi kini apa? Kenyataan yang kudengar seharusnya menyembuhkan luka masa lalu, tetapi nyatanya justru menambah garam. Karena bagaimanapun, tidak ada yang bisa dirubah.

~~~~~

Menjelang siang, terik seakan membakar puncak kepala. Meski begitu, pemandangan yang terlihat dari balkon apartemen Jonghyun sangat menyejukkan mata. Angin bertiup membuatku mengantuk. Tempat ini mungkin tempat terbaik untuk merenung.

Hidupku sejauh ini sangat aneh. Sekarang bahkan aku harus bersembunyi dari mata orang-orang yang akan membawaku ke penjara.

“Minho.”

Aku menoleh, ternyata Jonghyun sudah pulang. Dia terlihat agak lelah, tapi tetap tersenyum padaku,”Sudah lama?”

“Baru setengah jam.”

Jonghyun mengangguk, ia berdiri di sebelahku, ikut memperhatikan lalu lintas di bawah sana. Aku dapat merasakan ada yang tidak beres darinya. Jonghyun bukan orang yang cocok dengan nuansa suram yang sekarang membayangi wajahnya.

Sebenarnya aku bukan orang yang selalu mempedulikan orang lain. Tapi aku teringat semua kepedulian Jonghyun padaku. Rasanya sangat tidak berterima kasih jika aku tidak mencoba bertanya padanya,”Jjong, kau dari rumah sakit? Ada perkembangan apa pada noonim?”

Tebakanku benar, air muka Jonghyun berubah mendengar pertanyaanku,”Noona masih biasa saja. Seperti biasanya, tetap terbaring lemah seperti itu.”

“Jjong, terjadi sesuatu kan?”

Jonghyun tidak menjawab selama beberapa saat. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam,”Minho, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau kehilangan noona. Dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Tanpa dia aku hanya sendiri. Lalu apa artinya sendiri? Hidup sendiri itu tidak berarti. Akan kulakukan apa saja agar noona tidak meninggalkanku secepat ini. Dia harus bertahan. Dia harus sembuh. Dia harus membaik.”

Tanganku berat ketika kutepuk-tepuk punggung Jonghyun. Dadaku sesak entah kenapa. Jonghyun begitu takut kehilangan satu-satunya keluarganya yang tersisa, sementara aku berusaha menyingkirkan satu-satunya keluargaku yang tersisa dari kepalaku. Aku ingin hidup sendiri, tanpa bayang-bayangnya.

Itu semua karena selama ini kupikir dia meninggalkan aku. Ternyata apa? Ternyata akulah orang yang salah di sini.

Benar kata Jonghyun, hidup sendiri memanglah tidak punya arti. Hal itu baru kusadari hari ini. Sekarang aku mengerti kenapa bertahun-tahun aku merasa janggal dalam diriku, merasa takut akan perasaan sendiri, merasa tidak punya hal yang harus diperjuangkan, hanya senang melakukan hal menegangkan untuk melampiaskan perasaan janggal itu. Aku tahu sekarang. Itu karena kehampaan dalam hidupku yang tidak punya arti. Itu karena sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku merindukan appa, umma, dan sekarang, yang paling kurindukan karena ia satu-satunya yang masih bisa dijangkau mataku, Jinki hyung.

~~~~~

Park Jungsu memandangku tidak percaya. Pandangan itu membuatku berpikir aku sudah gila.

“Choi Minho, kau mau menemuinya? Ada apa?”

Kuyakinkan diriku sendiri bahwa yang kulakukan sudah benar,”Tolong aku hyungnim. Katakan padanya ini sangat penting. Sebentar saja, kumohon.”

“Minho, kau harusnya sadar bahwa dengan kau ke sini saat wajahmu sekarang muncul di berbagai pemberitaan adalah kecerobohan besar. Kau tahu, ‘dia’ tidak akan menyukai kunjunganmu kali ini. Kau membahayakan ‘bisnis’ kita.”

“Aku tahu. Aku sudah berhati-hati. Dan kau jangan khawatir, kujamin ini adalah kali terakhirku datang ke sini. Tolong kali ini saja kau bantu aku, hyungnim.”

Aku tahu dia heran atas perkataanku barusan. Tapi tidak ada waktu untuk itu,”Hyungnim, tolong.”

Dia mengangguk dengan berat hati. Kemudian ia berbalik, pergi ke sebuah ruangan yang terletak di ujung koridor, pintu yang ada di kanan. Setelah kira-kira lima menit, dia kembali.

“Masuklah, Minho.”

Aku mengikutinya menyusuri koridor berlantai hitam itu dengan kaki agak gemetar. Berkali-kali aku berusaha membersihkan tenggorokanku yang serak. Dalam beberapa detik, aku akan segera menjumpai orang yang menyelamatkan aku setelah kecelakaan itu. Orang yang telah membiayaiku sekolah dan orang tempatku bekerja selama bertahun-tahun. Dia, ada di balik pintu itu.

Begitu Park Jungsu membuka pintu itu, langsung kulihat dia di sana, duduk di sebuah kursi dekat jendela lebar. Rambut pendeknya yang hitam legam, matanya yang juga hitam, badan mungilnya yang berbalut pakaian kantor biasa, di mataku semua itu terlihat ‘lebih’ dibanding pandangan orang lain. Tentu saja karena aku tahu benar orang seperti apa dia.

“Direktur..”Jungsu membungkuk yang dibalas lambaian singkat tangan saja. Kemudian Jungsu pergi, meninggalkan aku berdua dengannya.

Dia memandangku seperti biasanya, ramah dan lembut. Senyum menghiasi wajah cantiknya,”Minho, lama tidak bertemu.”

“Maafkan aku, Narsha. Aku tidak seharusnya datang dalam situasi seperti ini.”

Dia menyiratkan persetujuan akan kata-kataku, tetapi tetap saja dia menggeleng,”Untuk adik kecilku ini, apapun yang kauperbuat tentu akan kumaafkan Minho. Nah, sekarang apa yang ingin kaukatakan? Tentu bukan hal sepele kan?”

Aku menenggak ludah, semoga suaraku dapat keluar dengan lancar,”Narsha, maukah kau… melepaskan tanah itu?”

Narsha menaikkan satu alisnya,”Tanah?”

“Yang baru saja berhasil kauambil alih itu. Itu sebetulnya milik ayahku. Maukah kau kembalikan padaku? Atau setidaknya, jika aku tidak boleh, berikanlah pada kakakku.”

Narsha mendenguskan nafas, wajahnya mulai tidak bersahabat,”Apa yang kaubicarakan, Minho? Ayah? Kakak? Akulah yang menyelamatkanmu, membesarkanmu sampai seperti ini sementara mereka tidak peduli padamu, bukankah begitu? Lagipula itu tidak mungkin. Itu juga bukan salahku. Tanah itu sudah diambil pengadilan dan resmi bukan tanah keluargamu lagi. Kau tidak bisa melakukan apapun untuk mengambilnya, Minho.”

Aku sudah tahu sebelumnya, bahwa jawaban semacam inilah yang mungkin aku dapatkan. Seperti yang pernah dikatakan Jonghyun, akan sangat sulit mendapatkannya lagi. Padahal aku hanya ingin memperbaiki hidup Jinki hyung. Setidaknya, meskipun aku akhirnya harus berakhir di penjara atau pelarian, hidup Jinki hyung harus lebih baik dari sekarang.

Aku mendekati Narsha. Dua meter di hadapannya, kutundukkan harga diriku, aku berlutut. Permintaanku sebelumnya biarlah ia tolak, tetapi tidak untuk permintaanku kali ini,”Narsha, inilah permintaan terakhirku untukmu. Tolong dengarkan baik-baik dan kumohon wujudkanlah permintaan ini.”

Narsha memandangku tajam dalam diamnya. Aku tahu dia terkejut melihatku bahkan berlutut di hadapannya.

“Narsha, bukannya aku tidak menghargai semua yang kaulakukan untukku selama ini. Aku sangat berterima kasih dan semoga saja apa yang selama ini kulakukan untukmu sudah cukup membalas budimu. Sekarang aku mohon lepaskanlah aku. Aku ingin berhenti. Bebaskanlah aku.”

Aku mendongak, menatap wajahnya yang sekarang tidak lagi tersenyum ramah. Hanya datar dan dingin, seperti pahatan marmer putih yang rupawan.

“Berhenti?”

Ya, aku ingin berhenti. Sekarang setelah aku memahami pikiranku yang terdalam, pandanganku tentang ‘benar’ dan ‘salah’ pun telah berubah. Yang kulakukan selama ini, merampok bank, mencuri, memata-matai, bahkan pergi ke Jepang, Cina, Amerika dan Rusia untuk membobol dokumen rahasia perusahaan internasional, semua itu salah. Semua itu semata-mata hanyalah pelampiasanku untuk kesendirian, mencoba melakukan apa saja sesukaku karena hidupku tidak punya arti. Uang yang kudapat dan kuhamburkan sendiri, mobil mewah, semua itu tidak berarti. Kusadari, hidupku hampa sehampa-hampanya.

“Berhenti, Choi Minho?”wajah itu tersenyum dingin padaku,”Kau pikir ini semua apa? Tidak semudah itu. Kau tahu banyak tentangku, tentang perusahaanku, tentang bisnisku. Apa yang bisa membuatku yakin kau akan tetap diam, lebih-lebih setelah polisi berhasil menangkapmu? Tidak, Minho. Belum pernah dan tidak akan pernah, ada orang yang ‘berhenti’ dari pekerjaanmu itu dalam lingkunganku, kecuali mereka mati.”

Tanpa sadar dan tanpa rasa, bibirku melengkungkan senyum kecil yang suram,”Begitukah? Tapi bagaimana jika aku tetap ingin berhenti? Kau tahu, aku tidak peduli sama sekali pada bisnis-bisnismu. Aku hanya ingin berhenti dan aku akan melupakan semua ini. Tetapi jika kau tetap ingin menahanku, maaf Narsha. Aku harus pergi.”

Dengan mantap, aku bangkit dan berbalik. Tetapi di ambang pintu, satu dua tiga empat lima enam orang sudah menghadangku. Tiga di antaranya bahkan mengacungkan pistol ke kepalaku.

Suara dingin Narsha melantun jelas, membuat tengkukku merinding,”Kau tidak bisa pergi seperti itu. Kalau kau begitu ingin pergi, kau hanya boleh pergi ke alam sana.”

~~~~~

To be continued…

Admin Note : FF ini sudah pernah di post sebelumnya. Karena kesalahan jadwal, maka ff ini sempat kami tarik dan sekarang di publish ulang. Mohon maaf atas kecerobohan admin …*bow

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

49 thoughts on “Erased – Part 4”

  1. Aku ingat dia rela hanya makan nasi dengan sedikit kecap agar aku dapat makan telur. — ya owoh… nyesek bgt ya.. huuuaaaaa

    n jinki kshn.. diusir…
    keputusan minho udh bnr tuh… memohon buat nyerahin tnh itu buat jinki…

    Setidaknya, meskipun aku akhirnya harus berakhir di penjara atau pelarian, hidup Jinki hyung harus lebih baik dari sekarang. —- ini jleb bgt… aq terharuuuuu

    wuiihhh bossnya cewe… hahahaha
    narsha pula.. narsha brown eyed girl kan? hahaha

    1 part lg kan ya… huuuaa

  2. 1 part lagiiiii
    Haaaa seru bangettt ffnyaa!!

    Syukur deh Minho nya mulai mengambil keputusan yg baik buat Jinki nya juga. Lebih asik lagi kalo akhirnya mereka bisa bersatu lagi sebagai adek-kakak :):)

    Lanjut lanjuuuttt aaaa gasabaaarrr!

  3. Key baik bgt ma taemin ny, rela mkan nasi dngn sdkt kcap, y’ampun terharu. .
    Waah minho nya udah sadar nih,, niatmu baik untuk hyung mu..
    1 part lg? Cpt y. . Hhe

  4. Ah, Minho sudah tahu mana jalan baik yang harus dipilihnya. Sayangnya akan banyak rintangan yang menghadang Minho.

    Ternyata bosnya cewek. Nah, Narsha mau ngapain tuh sama anak-anak buahnya?

    Nice story. Lanjut!

  5. sepanjang part ini, aku bisa lihat gimana kompleksnya kehidupan mereka
    key yang berkorban demi taemin
    jjong yang berkorban demi noona-nya
    dan minho yang mendapatkan pelajaran dari itu semua.

    aku suka cara author menggambarkan konflik perasaan mereka di sini, seolah2 cerita ini emang dari masing2 tokoh, ngalir dan pure banget 😀

    last part..i’ll wait 🙂

  6. 1 part lagi.. Ga sabar ga sabar !
    Ini, byk kenyataan antara jinki-minho dan kibum-taemin yg bkin nyesek..
    Itu minho bisa lepas ga dari narsha?
    Jgn sampe minho hrus meninggal atau masuk penjara, paling ga jinki-minho hrus hdup bahagia deh..

    Good ff thor d^^b

  7. aku baru baca ff ini, komennya aku jadiin satu di sini boleh yaa :3 *wink*
    overall, aku suka sama alur ceritanya. apalagi ada sedikit sentuhan adegan actionnya… akhir-akhir ini aku suka sama gituan, wk. bahasa penulisannya juga enak, rapi, jadi enak dibacanya~
    kisah hidupnya para castnya juga ngenes banget masa;~~; cara penceritaannya bikin ikut ngerasain penderitaan mereka juga ;~~; belum lagi ada kata-kata yang menggugah hatinya…

    en-endingnya… minho jangan mati dulu pehluis. diakan belum ngelurusin masalahnya sama jinki ;A; jinki-minho-jina harus bersatuu

    tinggal satu part lagi kanyaah

  8. Satu part lagi dan mungkin aku akan nangis dan merasakan sesak di dada.
    Rumitnya hidup yang di jalanin Jonghyun, Key dan lagi Jinki, Minho dan Jina.
    Aku terharu sama usaha Key.
    Buat aku nundukkin kepala dan menyadari suatu saat nanti.
    Mungkin saja hidupku akan serumit mereka.
    Tapi, aku berharap enggak. hehe
    Wow, Minjin eon.
    aku nggak salah milih eonni jadi salah satu author ff favoritku.
    Minjin eonni jjang!
    di tunggu final partnya 😀

  9. Ihh..lnjutannya kpn??? Author minho ma onew nya jngn mati ya,,, eh sobang aku mw tnggl dmna, suruh d rmh ak aja ya dari pada di usir gitu, tp ak yakin pasti nanti ketemu minho. Author hwaiting

  10. 2 hri lalu part 4 ni dah sempet publish,trus di tarik lagi ya?
    dah ku baca sih cuman blom sempet komen,,,eh pas mau komen udh ilang ff nya.
    jdi skarang deh komennya.

    akhirnya kebongkar juga khidupan yg tersembunyi(?) dri masing2 prampok*dirajam jongkey*
    jjong yg bersikeras mempertahankan noonanya,,hiks.
    aplagi pas taemin nyeritain secara detail kehidupan key sama dia dri awal sampe akhir,,,-hanya makn nasi dengan sedikit kecap/tidur di lantai yg dingin-
    *mata mulai beraer*

    mau ngapain itu si narsha?aigoo minho,,,saat dirimu sudah bisa menentukan kebenaran,rintangan menyerbumu.
    last part minjin eonn,ku tunggu,,,FIGHTING!

  11. Hyaaa..
    Minho nyesek bgt..
    Seharusnya ff ini dapet komen yg lebih bermutu daripada kta2ku di atas.. Tapi ntah knpa otakku lg buntu..
    Pokoknya minjin is best..!

  12. mian thor baru komen sekarang.. soalnya aku baca lewat hape, jadi suasah kalo mau komen -_-

    “Dia begitu bekerja keras dan menderita untukku. Aku ingat dia rela hanya makan nasi dengan sedikit kecap agar aku dapat makan telur. Dulu dia tidur di lantai ubin yang dingin karena kami hanya punya satu kasur lipat kecil. Kibum hyung…” nyesek bacanya. kasihan banget mereka.
    gak sabar baca yg part 5 nya 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s