Heebaragi [2.2]

HEEBARAGI

Author : *Azmi

Maint cast :

  • Kim Kibum
  • Lee Jayoung

Other cast :

  • Halmeoni
  • Jung Nicole

Length : Oneshoot

Genre : Romance

Rating : PG 13

“Jayoung-ah, mengapa kau begitu menyukai heebaragi?” Kibum bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari tabloit tentang budidaya tanaman hias didepannya, mata rubahnya nampak menelusuri setiap informasi yang hanya sedikit dapat ia mengerti, karena jujur ini bukanlah bidangnya dan banyak istilah-istilah yang terdengar asing ditelinganya. Ia lebih suka membaca majalah tentang bagaimana perkembangan dunia fasion saat ini dibandingkan dengan benda-benda hijau atau segala sesuatu yang bisa membuat semua mahluk yang tergambar ditabloit itu dapat tumbuh dengan baik, “Aku rasa bunga ini jauh lebih indah,,,,” tambahnya sambil menunjukkan bagian dari tabloit yang menunjukkan gambar sebuah bunga teratai berwarna merah muda yang benar apa yang dikatakan Kibum bahwa bunga itu memang terlihat sangat indah dibanding dengan Heebaragi.

Jayoung meletakkan cangkir coklat panasnya dimeja setelah menyesap beberapa kali, “Karena teratai tidak selalu menghadap matahari,” jawabnya memamerkan senyum yang orang-orang bilang hanya dimiliki Jayoung, benar-benar khas Jayoung. Tergolong senyum yang mampu membuat orang lain tanpa sadar ikut menarik bibir tersenyum saat melihat sinar matanya yang tulus.

“Mengapa begitu?” tanya Kibum tak mengerti, ia menyingkirkan tabloit yang menutupi wajahnya kemudian memandang Jayoung sambil mengerutkan keningnya, “Ah, aku mengerti!” tambahnya kemudian, “Kau hanya menyukai Heebaragi karena Heebaragi satu-satunya bunga yang selalu menghadap matahari kan? kenapa kau begitu memuja matahari? Banyak bintang-bintang diangkasa yang jauh lebih besar dan terang dibanding dengan matahari. Kau pernah dengar tidak, katanya diluar angkasa sana ada bintang yang ukurangnya bisa ratusan kali dibanding matahari?” Kibum nampak antusias, semantara Jayoung hanya memutar bola matanya tak berminat.

“Aku tahu,,, aku selalu memperhatikan saat pelajaran astronomi, tidak sepertimu yang selalu memasang earphone saat pelajaran itu.” Desis Jayoung, “Dan berhentilah bertanya tentang Heebaragi, aku menyukai semua bunga hanya saja Heebaragi agak spesial bagiku.” Tambah Jayoung tegas.

“Aku kan bertanya baik-baik, mengapa kau selalu nyolot saat kutanya tentang Heebaragimu itu. Dasar gadis kasar!” Dengus Kibum. Sahabatnya semenjak kecil ini, entah rahasia apa yang disembunyikannya karena saat ditanya tentang mengapa ia begitu menyukai Heebaragi selalu saja mengelak dan tak ingin membahasnya. Kibum bahkan sampai bosan mendengar jawaban bahwa Bunga ini atau bunga itu tidak selalu menghadap matahari saat Kibum bertanya mengapa ia tak menyukai bunga lain yang menurutnya jauh lebih indah dibandingkan dengan Heebaragi.

“Sudahlah, sebenarnya ada perlu apa kau datang kemari? Aku sangsi kau tak ada maksud tertentu menemuiku.” Jayoung tersenyum sinis yang hanya dibalas cengiran oleh Kibum.

“Kau tahu saja,,,” Kibum menggaruk belakang kepalanya yang bisa dipastikan sama sekali tak gatal karena memang ia tak mamiliki ketombe apalagi kutu.

Jayoung bergidik melihat cengiran Kibum, tiba-tiba firasatnya menjadi buruk, “Kajja,,,!!” Kibum tanpa babibu menarik lengan Jaeyeon membuat kursi yang sedari tadi didudukinya berdecit bergesekan dengan lantai.

“Ya!! Kau mau bawa aku kemana??” pekik Jayoung, tubuhnya terseret mengikuti seretan Kibum, “Bagaimana dengan Heera Shopnya?”

Heera Shop adalah toko bunga milik Jaeyeon yang ia dirikan tiga tahun yang lalu tepat saat ulang tahunnya yang ke-19. Sebenarnya, toko bunga ini adalah kado dari orang tua Jayoung sekaligus hadiah karena sudah berhasil masuk Universitas nasional terbaik di Seoul. Nama Heera sendiri sebenarnya diambil dari panggilan yang diberikan Kibum padanya saat mereka baru pertama kali bertemu, ‘Heera’ sigadis Heebaragi.

“Masih ada Yumi Noona, tidak usah khawatir.” Jawab Kibum enteng. Berlahan ia melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan Jaeyeon begitu mereka keluar dari rumah kaca tersebut dan meliriknya. Kibum sempat melihat pandangan kesal dari Jayoung, bibir tipisnya sedikit mencuat sebal membuat Kibum samar-samar mengulas senyum.

“Kau selalu saja seenaknya,,” kaluh Jayoung namun tetap masuk mobil Audy hitam itu begitu Kibum membukakan pintu untuknya.

“Maafkan aku, tapi kali ini aku butuh sekali bantuanmu. Hanya kau yang bisa kupercaya.” Ujar Kibum lirih sambil memasang sabuk pengamannya, semantara Jayoung masih memandangnya sebal, “Kau tak ingin memasang seatbeltmu? Atau mau kubantu?”

Jayoung menepis kasar tangan Kibum yang terulur ingin memasangkan sabuk pengaman untuknya, “Tidak usah, aku bisa sendiri!” ujarnya ketus.

Kibum hanya bisa menghela nafas dan mulai menyetarter mobilnya, “Aku sungguh butuh bantuanmu Yeon-ah,” Lirihnya kemudian menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang, “Siapalagi yang bisa kumintai bantuan selain kau?”

“Tapi jam lima nanti aku harus mengajar ibu-ibu merangkai bunga dipanti lansia Key-ah.” Keluhnya pada pria yang biasa ia panggil Key tersebut.

“Tenang saja, aku janji ini hanya sebentar. Setelah itu aku akan langsung mengantarmu kepanti, jadi kujamin kau tidak akan terlambat.” Kata Kibum tersenyum sumringah.

Ia menoleh sebentar kesamping. Saat melihat Jayoung yang sudah pasrah ia kembali memfokuskan penglihatnya kedepan dan melaju dalam diam.

Lima belas menit kemudian mereka telah sampai didepan sebuah toko mewah di Apgeujeong. Toko yang didominasi dengan kaca itu sukses membuat Jaeyeon mengernyitkan dahi, untuk apa Kibum membawanya ketoko perhiasan?

Sebelum kesadaran Jayoung terkumpul benar pintu disampinya sudah terjerembab terbuka membuatnya yang semula tengah sibuk memandang toko mewah lewat jendela pintu mobil itu terkesiap kaget.

“Yaa!! Bisa tidak sekali saja jangan mengagetkanku?!!” protes Jayoung kesal.

Kibum kembali memamerkan cengiran tanpa dosanya membuat Jayoung semakin kesal.

“Jangan manyun seperti itu, nanti keriputmu tambah banyak loo.” Goda Kibum mencolek dagu Jayoung yang masih setia duduk dikursinya, “Kajja!!” lagi-lagi Kibum menarik paksa Jaeyeon, namun kali ini Jayoung hanya pasrah tanpa berniat sekalipun melawan.

‘Dasar kunci semena-mena, suka semaunya sendiri, tidak pernah memikirkan orang lain dan bodoh, dasar kunci BODOH’ umpat Jaeyeon dalam hati.

****

“Chogiyo,,, apa pesananku minggu lalu sudah jadi?” Kibum bertanya pada seorang penjaga toko perhiasan dengan senyum yang tak pernah surut terpancar dari ujung bibirnya sejak tadi.

“Ahh, tentu saja tuan, kami sudah menunggu anda. Chankam, akan saya ambilkan dulu.” Penjaga toko itu meninggalkan Kibum dan Jayoung untuk mengambil pesanan Kibum.

Jaeyeon masih memandang Kibum dengan pandangan bingung, mencoba menerka-nerka apa yang tengah direncakan pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu.

“Jangan memandangku seperti itu,,,” tukas Kibum yang menyadari pandangan horor Jayoung namun senyum masih enggan terlepas dari bibir tipisnya.

“Aku tidak butuh senyummu, cepat katakan apa yang kau rencanakan!” Jayoung sudah tak sabar lagi. Melihat tingkah Kibum yang sedari tadi tebar pesaona dengan senyum tak hentinya seperti orang gila, walau sebenarnya Jayoung sendiri mengakui bahwa senyuman itu begitu indah dan kalau boleh jujur senyuman itu pula yang selama ini membuat Jayoung diam-diam menaruh hati pada Kibum. Entah sejak kapan yang jelas, begitu Jayoung menyadarinya rasa itu sudah tumbuh sangat besar. Hal yang membuat Jaeyeon meyesal adalah, bahwa ia tak punya sedikitpun keberanian untuk mengungkapkan perasaannya semenjak bertahun-tahun yang lalu. Dan saat ini mungkin semua sudah terlambat karena Kibum telah memiliki seorang gadis lain tiga bulan yang lalu.

“Kau ini tidak sabaran sekali sih, sebentar lagi juga kau akan tahu. Tunggu nona yang tadi mengambil pesananku sebentar. Kujamin kau pasti akan suka.” Kata Kibum sambil mengacak puncak kepala Jayoung  gemas.

Gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu sama sekali tidak berubah, ceroboh dan tidak sabaran. Kibum kembali mengulas senyum, hari ini ia akan membayar janji yang pernah dilontarkannya pada Jayoung  saat pertama bertemu dan yang paling penting adalah berita yang akan disampaikannya yang menurutnya adalah berita paling membahagiakan.

Suasana menjadi hening, Kibum sibuk dengan pikirangnya mengenai hal yang membuatnya bahagia setengah mati semantara Jayoung  sibuk menerka-nerka hal apa yang sebenarnya sedang direncanakan Kibum. Pria didepannya ini tampak berbinar membuat Jayoung  tanpa sadar ikut menarik ujung bibir mengulas senyum, walaupun sangat tipis, sampai sampai tak ada yang menyadari bahwa gadis itu tengah ikut berpartisipasi untuk kebahagiaan sahabatnya.

“Jayoung -ah, sebenarnya aku mengajakmu kemari karena ingin membayar janjiku padamu lima belas tahun yang lalu dan selain itu aku ingin mengatakan hal penting padamu…” Kibum memecah keheningan, raut wajahnya berubah serius.

Jayoung  mengalihkan pandangannya dari perhiasan-perhiasan yang dipajang toko itu dan berbalik menatap Kibum sambil mengernyit, namun detik berikutnya Jayoung  tersentak.

Kibum tiba-tiba saja menggenggam tangan kanannya dan memparhatikan jemarinya lekat, nampak seperti menganalisa setiap detail lekuknya hingga membuat Jayoung  tak nyaman sekaligus gugup.

“K-Key-ah, apa yang kau lakukan?” Jayoung  tergagap dan jantungnya berdebar kencang sampai tak mampu menarik tangannya dari genggaman Kibum padahal ia ingin sekali terlepas dari sana, karena ia tahu ini tak seharusnya. Kibum telah memiliki kekasih dan kalau ini dibiarkan Jayoung  akan benar-benar lupa kenyataan itu.

“Sebelumnya aku ingin kau mencoba cincin ini,,,” entah sejak kapan, sebuah kotak kecil yang berlapis beledru merah sudah berada digenggaman Kibum dan dalam sekejap pria itu telah membuka kotak berbentuk hati itu dan nampaklah sebuah cincin emas putih yang sangat indah dengan berlian kecil ditengahnya, bentuknya sederhana namun sangat anggun dimata Jaeyeon.

Tanpa sadar Jayoung  menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena kagum. Matanya tak pernah terlepas dari benda berkilau itu. Namun yang menjadi pertanyaan Jayoung  sekarang adalah untuk apa Kibum memberikannya cincin seindah itu, dan lagi pula seingatnya Kibum tidak pernah berjanji akan memberikan sebuah cincin padanya lima belas tahun yang lalu. Dan apa yang akan dikatakan pacar Kibum kalau tahu kekasihnya memberikan cincin pada orang lain meski sahabat kecilnya sendiri sekalipun.

“Indah?” tanya Kibum sambil memakaikan cincin itu dijari manis Jayoung  hingga membuat gadis itu tersentak dari lamunannya.

“I,,,indah.” Jawabnya. Tangannya mendingin meski saat ini Kibum masih menggenggamnya.

Pria itu terus memandang jemarinya intens dengan senyum yang tak pernah pudar membuat debaran jantung Jayoung  semakin menjadi-jadi. Kalau seperti ini terus Jayoung  akan salah paham, atau memang sebenarnya ini bukanlah kesalahan dan Kibum memang benar-benar menyukainya dan berniat melamar Jayoung .

Diam-diam pikiran-pikiran aneh itu membuat sudut bibir Jayoung  terangkat mengulas senyum. Mata indahnya berbinar bahagia.

“Jarimu memang tak lebih panjang dari miliknya tapi aku yakin ukurannya sama dan akan sangat pas jika cincin ini dipakainya,,,” ujar Kibum sambil melepaskan cincin indah itu dari jari manis Jaeyeon.

DEG

Seketika senyuman dibibir Jayoung  lenyap. Dijarinya? Dijari siapa cincin itu akan pas, bukankah tadi dijari Jayoung  cincin itu sudah sangat pas? Jadi benar pikiran-pikiran indah Jaeyeon tadi adalah sebuah kesalahan?

“Yeon-ah, sebenarnya nanti malam aku ingin melamar Nicole. Aku gugup sekali, sebaiknya kata-kata apa yang pas untuk aku ucapkan nanti malam?” tanya kibum, wajahnya menerawang membayangkan bagaimana ia melemar Nicole nanti.

Bagai dibawa melambung tinggi kelangit kemudian dihempaskan dengan semena-mena kebumi, hati Jayoung  begitu sakit. Genangan air sudah mengkaver permukaan matanya. Kibum tega sekali dia melakukan ini padanya.

“A-aku harus pergi…” kata Jayoung  berdiri dari kursinya kemudian belahan mundur setelah itu berlari keluar. Ia tak tahan lagi, ia harus pergi atau Kibum akan melihatnya meraung menangis. Jayoung  tidak akan membiarkan hal itu terjadi, lebih baik ia mati dari pada Kibum melihatnya lemah dan menangis.

Jayoung  berlari dan terus berlari meninggalkan Kibum yang bingung setengah mati. Ia tak menghiraukan sekitarnya, ia menabrak pejalan lainnya namun tak membuatnya menghentikan langkah. Ia tak memermerdulikan yang lain, yang ia butuhkan sekarang adalah pergi menjauh dari Kibum.

Pria itu akan melamar gadis lain, tentu saja Jayoung  yang sudah memendam perasaannya bertahun-tahun menjadi terluka.

Tanpa sadar kakinya membawa ia sampai ke taman belakang rumahnya. Taman yang hampir separuhnya tertanami Heebaragi, bunga yang sangat dicintainya.

Ia terjatuh bersimpuh didepan sebuah Heebaragi paling besar ditaman itu. Masih dengan sesenggukan Jayoung  meremas rumput disekitarnya untuk mengurangi rasa sakit dihatinya.

“Heebaragi-ya,,, bagaimana ini? Rasanya sakit sekali…” Jayoung  terisak menyuarakan perasaannya, “Disini,,, disini sakit sekali” ujar Jayoung  sembari meremas baju didepan dadanya.

“Aku baru tahu ternyata menarik nafas bisa sesulit dan sesakit ini saat dadamu sesak memikirkan orang lain. Aku telah mencintainya bertahun-tahun, namun mengapa orang itu bisa merebut hati Kibum dengan hanya tidak lebih dari tiga bulan. Ini tidak adil Heebaragi-ya, ini tak adil bagiku….

“Sebenarnya apa yang dimiliki gadis itu yang tak kumiliki, mengapa lima belas tahun tak bisa membuat Kibum melihat padaku? Apa yang kurang dariku Heebaragi-ya? Apa aku kurang cantik, kurang halus atau karena aku ceroboh dan suka seenaknya? Kalau memang seperti itu, aku akan berusaha menjadi gadis yang anggun mulai sekarang, asal Kibum mau melihatku dan membalas perasaanku…

“Heebaragi-ya, tolong katakan padanya dan suruh dia untuk mencintaiku dan melupakan Nicole. Aku tahu ini egois, tapi aku mencintainya Heebaragi-ya…

“Kibum-ah totong lihat aku dan katakan kau juga mencintaiku, Jebal,,,,”

“Jebal….”

****

“Halmeoni, aku ingin jalan-jalan sebentar.” Ujar Jayoung  dengan suara serak hampir tak terdengar.

Jayoung  meletakkan mangkuk supnya dibak cuci piring kemudian mengguyurnya dengan air keran, ia mengambil busa yang sudah diberi sabun kemudian menggosokkannya pada mangkuk. Ia tampak menikmati pekerjaannya dan sesekali melirik neneknya yang tengah merajut syal dikursi goyang kesayangannya.

“Kau masih sakit Young-ah,,,” wanita tua itu menghentikan pekerjaannya, menatap cucunya dengan gurat khawatir, “Suaramu saja masih seperti itu,,,”

Jaeyeon tersenyum kemudian meletakkan mangkuk yang sudah bersih kedalam rak piring. Ia menghampiri neneknya dan berjongkok didepannya.

“Aku sudah tidak apa-apa Halmeoni,,,” katanya.

Satu minggu yang lalu Jayoung  pergi kerumah neneknya yang berada di Mokpo. Ia sengaja tak membawa mobil dan memilih naik kereta, sayang saat di stasiun tiba-tiba hujan turun sangat deras. Mau tidak mau, ia harus berlari menerobos hujan. Karena tidak mungkin Jayoung  meminta neneknya untuk menjemput. Nenek Jayoung  sudah sangat tua dan hidup sendirian di Mokpo sementara dirinya dan Ibunya-yang notabene adalah anak kandung nenek-tinggal di Seoul, kecuali setiap pagi Kim Ahjussi datang untuk merawat kebun milik nenek.

Karena kehujanan waktu itu, hampir lima hari Jayoung  tidak bisa turun dari ranjang dan juga tidak bisa menikmati liburannya dirumah nenek karena demam tinggi. Barulah kemarin demam Jayoung  turun walaupun ia masih sesekali bersin dan batuk membuat suaranya sulit keluar.

“Aku sudah lebih baik Halmeoni,,,” ujar Jayoung  sembari membelai pipi neneknya yang sudah mengeriput termakan usia.

Wajah tua itu tersenyum, “Young-ah,,, kau belum menceritakan pada nenek kenapa tiba-tiba datang kemari dengan wajah sembab seperti kemarin.”

“Aku janji kalau suaraku sudah kembali dengan normal, aku akan menceritakan semuanya pada nenek. Yaksokhae!!” ujar Jayoung  semangat, lupa akan tenggorokannya yang masih sakit dan membuat suara terdengar seperti desahan yang dipaksakan.

“Ya~ jangan berteriak, kau mau merusak tenggorokanmu?” marah Halmeoni.

Jayoung  mengulas senyum dam menggenggam tangan neneknya erat, “Halmeoni,,, aku sudah sangat lebih baik sekarang. Melihat wajah Halmeoni yang tersenyum membuatku lupa kalau aku sedang sedih. Senyum Halmeoni seperti matahari bagiku, persis seperti senyumnya.”

Jayoung  bangkit berdiri hendak meninggalkan neneknya untuk jalan-jalan, seminggu berada didalam rumah tanpa melakukan apapun membuatnya suntuk dan ingin segera menghirup udara segar pantai Mokpo yang sangat dirindukannya.

Namun, tiba-tiba tangan nenek terulur dan memamerkan jari kelingkingnya didepan wajah Jayoung .

“Apa?” tanya Jayoung  tak mengerti.

“Kau harus menepati janjimu!” Nenek Jayoung  mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Jayoung  yang sedari tadi tergantung bebas.

Jaeyeon terkekeh, “Yaksok!” ujar Jayoung  namun tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak seperti tengah mengucapkan kata-kata tadi dengan tangan yang ia angkat membentu huruf V agar neneknya parcaya.

****

Angin laut menerbangkan anak rambut Jaeyeon yang tak terjangkau oleh jepitan rambutnya. Poninya ikut berlambai mengikuti arah angin. Rambut hitam panjang sebatas punggungnya nampak jatuh dengan sempurna, lurus. Jepitan berbentuk daun Heebaragi itu hanya sedikit membantu mengikat sisi depan sebelah kanan dan kiri rambut Jaeyeon kebelakang namun masih membiarkan sebagian rambut tebal Jayoung  tergerai indah.

Jayoung  memejamkan matanya menikmati alunan angin yang menerpa wajahnya. Tangannya mencengkaram pembatas besi yang memisahkan jalanan dengan laut yang terhampar luas didepannya hingga membuat buku-buku jarinya memutih.

Aroma laut membuat hatinya lebih tenang, ia tahu ini tak bisa berlangsung lama. Ia tak boleh terus-terusan menghindari Key dan memilih mengasingkan diri ke Mokpo. Walau tidak bisa dibilang sepenuhnya bahwa Jayoung  pergi ke Mokpo untuk menghindari Key, ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menerima kenyataan bahwa Key akan melamar gadis Lain.

Semenjak kejadian itu, Jayoung  sama sekali belum bertemu dengan Key karena malam itu juga Jayoung  pergi kerumah Neneknya. Ia merasa tidak bisa bernafas saat melihat wajah Key yang merona bahagia ketika membicarakan gadis yang menurut Jayoung  merebut Key dari tangannya. Ia benci, sangat benci dengan gadis itu, walau ia tahu gadis itu tak salah dan kalau boleh Jayoung  mengakui gadis itu sangat baik dan polos. Ia begitu anggun sangat berbeda dengan dirinya yang bisa dibilang sedikit Tomboy. Ah,,, Jayoung  benci mengakuinya, karena sifat buruknya itu, Key tak pernah meliriknya. Walaupun sekarang Jayoung  berencana mengubah sifatnya, namun bukankah itu sudah terlambat, ia hanya akan melakukan hal yang sia-sia, lagipula kalau memang cara itu manjur untuk merebut Key kembali, itu artinya Key tak mencintainya dengan tulus. Ia tak ingin orang lain mencintainya bukan karena apa yang murni ada dalam dirinya. Ia ingin dicintai sebagaimana dirinya saat ini, beginilah dia dan inilah dia.

Jayoung  menghembuskan nafas pelan dan berlahan membuka matanya. Ia melepaskan pegangan tangannya dari pagar pembatas kemudian berbalik kekanan melanjutkan acara jalan-jalannya.

Seharusnya ia menikmati pemandangan yang tersaji indah disekelilingnya. Namun entah mengapa, keindahan itu tak begitu menarik saat ini. Ia berjalan menyusuri jalan dengan kepala yang tertunduk, hanya tangannya yang sedikit menikmati kegiatannya saat ini.

Tangan kecil itu menyentuh pagar besi yang terasa dingin dan terseret sepanjang ia melangkah. Sememtara tangannya yang lain ia kaitkan pada saku Hoody merah jambu yang membungkus tubuhnya agar tak kedinginan. Sesekali batuk masih keluar dari tenggorokannya yang gatal.

Tanpa ia sadari kakinya membawa Jaeyeon kesebuah tanah lapang disisi lain jalan yang ia lewati. Nampak seperti padang rumput didaerah pegunungan padahal sekarang ia berada didaerah pantai. Disana Jayoung  bisa melihat segerobolan ilalang yang menari mengikuti pergerakan angin yang teratur indah.

Jayoung  memutuskan duduk ketika melihat pohon mapel besar disekitar ilalang. Ia melepas jepitan daun Heebaragi dari rambutnya kemudian menggulung rambutnya keatas dengan dibantu sebuah ikat rambut yang ia ambil dari saku Coat-nya.

Jayoung  menghela nafas sesaat kemudian kembali merogoh saku Coat-nya hendak mengambil benda yang sudah seminggu ini tak ia gunakan bahkan ia matikan. Ia memandang layar hitam yang ditampilkan Smartphone-nya sesaat dan detik berikutnya ia menekan sebuah tombol beberapa detik. Sebuah bunyi khas menandakan bahwa benda itu kini aktif kembali.

Jayoung  disambut dengan keterangan 57 panggilan tak terjawab dan hampir semua dari Key  hanya sebagian kecil dari Ibunya dan juga Yumi, gadis yang bekerja di toko bunga miliknya. Detik-detik berikutnya, Smartphone itu tak henti-hentinya bergetar menandakan pesan masuk. Jayoung  menghela nafas kembali. Hampir 100 lebih pesan masuk dan juga hampir semuanya dari Key.

Sebenarnya ia sedang tak ingin membaca pesan itu, apalagi jumlahnya yang bisa saja membuat demam Jayoung  kambuh kembali saat membaca begitu banyak pesan. Namun ia tak setega itu tak membaca pasan dari Key dan langsung memnghapusnya.

Sender: Kunci

Young-ah, kau kenapa? Mengapa kau langsung pergi?

Sender: Kunci

Young-ah, kau dimana?

Sender: Kunci

Kau kenapa? Kau marah padaku?

Sender: Kunci

Ya!!! Balas pesanku!!!

Sender: Kunci

Young-ah kau sebenarnya dimana? Aku mencarimu, jangan membuatku cemas.

Sender: Kunci

Aku minta maaf kalau aku salah, tapi kumohon balas pesanku…

Sender: Kunci

Young-ah,,

Sender: Kunci

Yaa!!! Kau mau membuatku gila?!! Pulang sekarang juga!!

Sender: Kunci

Young-ah, jebal,,, ada apa denganmu?

Sender: Kunci

Aku menunggumu di taman biasa, terserah kau mau datang atau tidak!! Sekarang hujan lebat loo!!!

Jayoung  menghentikan pergerakan jarinya yang lincah diatas layar ponsel saat membaca pesan terakhir yang ia buka. Key, menunggunya ditaman? Tapi untuk apa? Dan bagaimana dengan calon tunangannya itu? Jayoung  bergidik ngeri membayangkan saat itu yang tengah hujan deras dan Key bertahan menunggunya. Jaeyeon tahu seberapa keras kepalanya Key.

‘Aaaaaaahhhh’

Jayoung  menekan kedua pipinya keras, cara yang selalu ia lakukan saat benar-benar kesal dan frustasi. Ia terlalu sayang dengan rambut indahnya hanya untuk mengacak rambutnya seperti yang selalu dilakukan orang lain saat dalam keadaan sama seprti dirinya saat ini.

“Sabodo amat” desahnya keras dan meletakkan kasar Smartphone-nya begitu saja ditanah.

Sebenarnya Jayoung  khawatir dengan keadaan Key, sangat sangat sangat khawatir bahkan. Pria bodoh itu kalau terus seperti ini, bagaimana ia bisa melupakannya. Ini akan semakin mempersulit posisi Jayoung .

Smartphone Jayoung  kembali bergetar dan mengalunkan sebuah lagu lawas dari Westlife. Jayoung  membiarkan lagu ‘You Raise Me Up’ itu terus teralun tanpa berniat mengangkatnya, namun karena selama beberapa menit berlalu panggilan itu masih terus mengusik Jayoung  membuatnya kesal setengah mati. Sebenarnya sudah dari tadi ia tahu siapa yang menelephone-nya tapi untuk saat ini ia belum siap untuk berbicara dengan Key, ia masih membutuhkan waktu.

“Ya!! Berhenti berdering!!!” bantaknya keras pada benda yang bahkan sama sekali tak mengerti ucapannya, namun entah mengapa benda itu langsung saja berhenti berdering membuat Jaeyeon mengernyit, apakah benda itu mengerti maksud Jayoung ? Membayangkan itu membuat tubuh Jayoung  merinding, mengingat saat ini ia sedang sendirian ditengah padang rumput.

Namun detik berikutnya benda itu kembali berdering, api kesal kembali tersulut kekepala Jayoung .

“Ya!!! KEY BODOH BERHENTI MEMBUAT KEPALAKU PECAH!!!” pekiknya lebih keras dari sebelumnya, dan seketika itu pula deringannya kembali berhenti. Namun Jayoung  sudah tak peduli dan mengabaikannya.

“Kim Kibum pabo!!!” teriaknya dan meraih kerikil disekitarnya kemudian melemparnya kedepan dimana ilalang berbaris dengan kencang.

“Kau tahu tidak, kau itu sudah menyakitiku. Berhenti menelepon, mengirim pesan dan juga jangan pernah menampakkan wajahmu lagi didepanku, aku tidak ingin lagi malihat wajahmu yang sok ganteng tapi bodoh itu!!”

Jayoung  membabibuta melemparkan segala sesuatu yang ada disekitarnya dengan brutal, untung saja ia masih sayang dengan Smartphone-nya, jadi ia tak jadi melemparkan benda itu saat berhasil ia raih kedalam genggamannya dan lebih memilih menggeletakkanya sekali lagi ditanah.

“Kim Kibum yang ganteng tega sekali kau padaku. Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku, dimana otakmu, kau sembunyikan dimana huh? Bagaimana kau tega memintaku mencoba cincin yang ingin kau berikan untuk melamar gadis lain? Kau pikir hatiku terbuat dari baja? Aku memang sudah bertahun-tahun menyimpan ini tanpa mengeluh tapi bukan berarti kau bisa menyekitiku lebih dalam lagi. Aku punya batas menehan rasa sakit, aku juga memiliki syaraf sama seperti orang lain yang bisa membuatku merasakan apa saja yang mengusikku….

“Mata rubah tajammu itu, mangapa sedikitpun tak bisa melihatku yang berada begitu dekat denganmu? Apa aku ini transparan dimatamu? Apa aku seperti sebuah bayangan yang tak berarti dihidupmu? 15 tahun itu waktu yang lama Key-ah, harusnya itu sudah bisa membuatmu sadar akan kehadiranku,,,

“Aku tidak ingin terus menjadi Heebaragi yang teracuhkan. Aku selalu melihatmu kamanapun kau pergi, mengikutimu dan selulu disisimu. Kau adalah matahari bagiku, tapi mengapa kau selau melihat bintang lain yang lebih terang dariku. Kau silau melihat cahaya terang mereka Key,,, sehingga tak bisa melihat bunga biasa yang tak bisa lepas darimu sepertiku. Aku tak bisa kalau tak ada kau, seperti Heebaragi yang layu saat malam menjelang, namun akan segera segar kembali begitu senja pagi berlahan naik…”

Jayoung  menghela nafasnya kembali. Ia lelah, sangat lelah. Suaranya yang hampir pulih kini kembali serak. Airmatanya pun kini menelesak keluar tanpa ia bisa kontrol. Airmata itu seperti aliran sungai yang deras, begitu mudah melewati pertahan Jayoung .

“Key-ah, Saranghanda!” lirih Jayoung  kemudian membenamkan wajah dilipatan lututnya.

Saat ini yang ia butuhkan hanya sebuah ketenangan, ia ingin menangis mengeluarkan semua persediaan airmatanya sehingga begitu ia pulang nanti ia sudah tak memiliki sisa airmata yang bisa keluar. Ia berjanji setelah ini ia tak akan lagi menangis dan akan melupakan semuanya, terutama,,,,, perasaannya pada Key…

Tubuh Jayoung  bergetar seiring dengan isak tangisnya. Keningnya yang pening saat beradu dengan lutut ia hiraukan. Pening itu kalah dengan sakit ia rasakan dihatinya.

Suaranya hampir tak bisa keluar, tangis Jayoung  hanya terdengar seperti cicitan yang dipaksakan. Tenggorokannya serasa tengah digaruk paksa oleh kuku-kuku tajam, perih.

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Jayoung  bisa sedikit mengontrol dirinya. Ia berlahan mengangkat kepala namun masih dengan mata yang tertutup rapat. Matanya seperti lengket tak bisa dibuka, mungkin karena tangis yang membuat matanya sembab dan bengkak.

Jayoung  sedikit membenahi poninya yang acak-acakan kemudian berlahan membuka matanya. Semua tampak buram dimata Jayoung , apa dia menangis terlalu lama?

Jayoung  hendak menggapai ponsel disampingnya namun yang kini diraihnya seperti bukan ponsel. Jayoung  menajamkan penglihatannya, dan sekejab kemudian ia menyadari yang kini tengah digenggamnya bukanlah ponsel melainkan sebuah sepatu cats putih. Ia mendongak hendak memastikan kaki siapa yang kini tengah dipegangnya. Namun detik berikutnya mata besar Jayoung  membulat sempurna hingga urat-urat matanya yang sudah memerah dapat terlihat jelas.

“Sudah lebih baik?” tanya pemilik sepatu yang masih digenggam Jayoung  lengkap dengan isinya. Pemilik kaki itu tersenyum samar.

“Kh-Khey…” gumam serak Jayoung  hampir tak terdengar.

“Mau membantuku melempar ini?” pemilik kaki yang ternyata Key itu mengulurkan tangan dengan cincin didalamnya, “Sepertinya tadi kau jago sekali melemparkan batu..” lanjut Key.

Tak ada respon dari Jayoung , mulutnya masih sedikit terbuka dan matanya juga melotot tak berkedip. Sungguh posisi yang kalau dalam suasana normal bisa membuat Key terkikik hingga sakit perut. Wajah Jayoung  terlihat sangat konyol.

“Sampai kapan kau akan memandangiku seperti itu?” ucapan Key menyadarkan Jaeyeon, ia mengerjab-ngerjabkan matanya dan segera menarik tangannya diatas sepetu Key.

Sejak kapan Pria menyebalkan ini duduk disampingku? Tanya Jayoung  dalam hati. Apa ia melihat dan mendengar semuanya? Matilah aku!!! Rutuk Jayoung  melanjutkan.

“Kau tak mau membantuku melempar ini?” sekali lagi Key mengacungkan tangannya yang menggenggam cincin tepat didepan wajah Jayoung .

Jayoung  hanya memandangnya tak mengerti, bukankah ini cincin yang waktu itu? Tidak salah lagi ini memang cincin yang seminggu lagu Key pakaikan kejarinya untuk mencoba ukurannya apakah sudah pas atau  belum, sebelum memberikannya pada kekasih sebenarnya Key.

Melihat reaksi Jayoung  yang lambat, Key menarik tangan Jayoung  dan meletakkan cincin itu ditelapaknya. “Lemparlah sejauh yang kau bisa!” ujar Key melihat raut wajah Jayoung  yang bingung.

Jayoung  memandang cincin yang kini berada dalam genggamannya kemudian beralih memandang wajah Key, Key hanya mengangguk meyakinkan Jayoung .

Jayoung  masih belum puas dengan reaksi Key, “Uhntuhk ahpa dhi bhuangh?” tanyanya.

“Aku sudah tak membutuhkannya lagi.” Jawab Key dengan senyum hangat.

“Mwoh?”

“Aku sudah tak membutuhkannya dan ingin membuangnya.”

“Thapih innih kahn mahal shekhalih.”

Key memutar bola matanya kesal, Apa Jayoung  tengah menguji kesabarannya? Tinggal melempar cincin itu jauh-jauh apa susahnya sih? Lagipula mahal atau tidak bukankah Key yang mengeluarkan uangnya.

Key bangkit dan menarik Jayoung  untuk mengikutinya berdiri, ia menggenggam pergelangan tangan Jaeyeon menyiapkan ancang-ancang untuk menuntun Jayoung  melemparkan cincin itu sekuat tenaga.

“Begitu hitungan ketiga, kita lempar cincin ini sekuat tenaga dan setelah itu semuanya akan membaik.” Kata Key tepat dibelakang telinga Jayoung . Posisi Key yang berada tepat menempel dibelakannya membuat Jaeyeon tak bisa berkutik. Nafas pria itu terasa menyapu dikulit kepala bagian atasnya membuat Jaeyeon bergidik.

Kali ini Jayoung  tak bisa lagi mengelak, ia mengangguk pasrah dan siap-siap untuk melempat cincin itu sejauh yang ia bisa separti apa yang Key minta.

Key memberi aba-aba, “Hana Dul,,,, Shit!!” bersama dengan hitungan ketiga yang lolos dari mulut Key, seketika itu pula cincin indah itu melesak masuk kedalam ilalang dengan mulus.

Jayoung  tersenyum samar, mungkin dengan hilangnya cincin itu, kesempatan untuk Jayoung  mendapatkan Key kembali terbuka. Lalu bagaimana dengan rencananya untuk membuang perasaanya? Ah,, itu sudah tak penting lagi.

Key berlahan melepas genggaman tangannya pada Jayoung  dan membalik Jaeyeon agar menghadapnya.

“Dia menolakku!” kata Key memecah keheningan. Jayoung  mengernyitkan dahinya tak mengerti. Apakah lamaran Key ditolak dan itulah sebabnya Key meminta Jayoung  untuk melempar jauh-jauh cincin itu?

Key membimbing Jayoung  untuk kembali duduk.

“Dia menolakku karena dia merasa kalau aku tak mencintainya dan mencintai orang lain,” Key berujar tanpa memandang Jayoung , matanya lurus menerawang hamparan ilalang sementara Jayoung  masih memandangnya meminta Key melanjutkan agar ia tak semakin bingung.

“Dia bilang aku tak perhatian padanya, aku lebih memerhatikan orang lain daripada dirinya. Aku selalu menceritakan orang itu saat berada disampingnya, membuatnya bosan dan jengah. Kau tahu Young-ah,,,” Key mengalihkan pandanganya untuk melihat mata indah Jayoung , yang merupakan bagian dari Jayoung  yang paling disukainya. Mata itu begitu sempurna, dari sepanjang ia mengenal Jayoung , satu-satunya yang paling ia kagumi adalah bagaimana mata Jayoung  bisa bicara. Tidak perlu mengutarakan apapun, mata itu sendiri yang menjelaskan apa yang dirasakan pemiliknya.

“….Bahkan aku diputuskan sebelum aku sempat mengutarakan keinginanku untuk melamarnya. Sungguh tragis!” Key tersenyum miris mengatakan kalimat terakhirnya.

Airmata Jayoung  kembali mengalir. Seharusnya ia bahagia Key tak jadi melamar gadis itu dan bahkan sekarang mereka putus, namun saat melihat raut wajah kecewa Key membuatnya sesak.

“Mengapa kau menangis lagi?” Key bingung dengan rekasi Jayoung , jelas-jelas tadi ia mendengar-lebih tepatnya mencuri dengar-dari mulut Jayoung  sendiri kalau ia menyukai dirinya tapi mengapa mendengar berita itu Jayoung  justru kembali menangis.

Key berlahan menghapus airmata Jayoung  dengan kedua ibu jarinya, “Jangan menangis lagi Ne,,? Aku memang kecewa tapi aku bahagia, sekarang aku bisa mengenali perasaanku sendiri. Mataku sudah terbuka sekarang.”

Suasana menjadi hening, Key seperti tak ingin melepas pandangan matanya dari mata Jayoung , ia ingin menyelami kedalaman mata itu dan terseret didasar paling dalam. Mata itu begitu indah, hitam kelam, besar dan bersinar. Walau saat ini mata itu tengah berada dalam kondisi tak baik karena habis menangis, tapi mata itu tetap memancarkan cahayanya.

“Aku sudah pernah bilang belum, kalau matamu begitu indah Young-ah…” kata Key lirih, “Young-ah, Saranghamnida…”

DEG

Jantung Jayoung  terhentak, reflek tangannya menyingkirkan kedua tangan Key yang masih masih menempel di kedua pipinya. Apa ia tak salah dengar? Apa yang barusan didengar Jayoung ? Bukan halusinasi semata kan?

Jayoung  menggelengkan kepalanya keras, “Anhi,,, Anhi,,,” airmata Jayoung  yang sudah mengering kini tergenang kembali.

Key kaget, bukan reaksi seperti ini yang ingin didapatnya. Ia yakin Jayoung  juga mencintainya, tapi mengapa ia serta merta menolak Key?

“Wae?”

“Ahndwehyo, ahku tidahk mau. Ahku tidahk mahu jahdi pelariahn…” Jayoung  masih menggeleng-gelengkan kepalanya keras. Ia tidak bisa, bukan cinta seperti ini yang diinginkannya. Ia tak ingin dijadikan pelarian oleh Key. Ia memang mencintai Key, sangat mencintainya, tapi bukan berarti Key bisa memanfaatkannya.

Key kembali merengkuh wajah Jayoung  agar berhenti menggeleng, “Pelarian apa? Kau dengar sendiri kan tadi alasan apa yang membuatnya memutuskanku. Dari awal memang yang kucintai itu kau Yeon-ah, aku hanya belum menyadarinya sebelumnya dan kini mataku telah terbuka.”

Berlahan Jayoung  kembali tenang, ia menatap Key mencari kebohongan dalam matanya tapi sejauh ia menyelami mata itu, yang didapatkannya adalah tatapan tulus.

“Maafkan aku karena terlambat menyadarinya, seandainya dari awal aku peka, maka kau tak perlu menangis seperti ini Young-ah. Aku bodoh, aku bodoh. Jelas-jelas ada berlian teronggok didepannku tapi aku malah mencari batu ditempat yang jauh. Aku bodoh, Maafkan aku…”

Seketika Jayoung  memeluk erat Key, ia mengangguk dipundak namja itu. Ia ingin menghentikan racauan Key yang menurutnya sangat tidak penting. Yang dulu biarlah berlalu, yang terpenting sekarang adalah bahwa Key sudah membuka hati dan matanya, menyadari didepannya ada gadis yang sangat mencintainya.

Key membalas rangkulan Jayoung  lebih erat. Membiarkannya dalam posisi seperti itu beberapa lama, sampai tangan Jayoung  berlahan mengendur dan melepaskan pelukannya.

Jaeyeon tersenyum manis pada Key, ia meraih ponselnya dan dengan secepat kilat membidik gambar Key. Key yang belum siap terlihat sangat lucu di kamera ponsel Jayoung . Ada airmata dikedua pipinya dan tatapan matanya terlihat sendu membuat Jaeyeon terkikik.

Sebenarnya Key marah, Jayoung  tanpa seijinnya mengambil gambar dirinya dengan seenak hati, apa lagi melihat hasilnya yang buruk. Tapi saat melihat Jayoung  kembali tersenyum membuat Key menelan kembali umpatan-umpatan yang sudah ingin mendesak keluar dari mulutnya. Bibirnya tertarik keatas ikut tersenyum.

“Kau tak ingin membalas pernyataan cintaku?” tanya Key membuat Jayoung  menghentikan tawanya saat menikmati gambar bodoh Key. Ia mengernyit tak mengerti. “Katakan kau juga mencintaiku!”

Bukannya melakukan apa yang di pinta Key, Jayoung  justru menggeleng, bibirnya tetap tertutup rapat.

“Wae??” tanya Key kecewa. Jayoung  kembali menggeleng.

“Young-ah, sebenarnya aku sedang sakit, tapi aku tetap memaksakan diri menyusulmu ke Mokpo hanya untuk mengutarakan perasaanku. Ini karena tiga hari yang lalu aku menunggumu di taman semalaman dalam keadaan hujan. Dan sekarang aku hanya ingin mendengarkanmu mengatakan cinta secara langsung padaku, tapi kau malah menolaknya. Kau tega sekali.”

Key kira, ucapannya yang memelas tadi bisa membuat Jayoung luluh namun Jayoung  kembali menggeleng, ia menunjuk lehernya dengan jari telunjuknya seolah ingin memberitahu Key kalau tenggorokannya sedang sakit dan tak bisa mengeluarkan suara.

“Tadi kau bisa bersuara..” geram Key.

Jayoung  masih saja menggeleng, “Sherahhk!” ucapnya.

“Ya!! Itu kau bisa bersuara. Serak pun tak masalah, yang penting katakan kau juga mencintaiku. Aku pasti bisa mengerti apa yang kau ucapkan.” Tukas Key.

Jayoung  masih bersikeras menggeleng, dan sekarang justru ia mengalihkan pandangannya dari Key dan menatap ilalang didepannya. Ia tersenyum samar karena berhasil mengerjai Key, Key harus mendapatkan sedikit pelajaran.

Key yang sudah kesal setengah mati membalikkan tubuh Jayoung  menghadapnya cepat, secepat ia mendaratkan bibirnya diatas bibir Jayoung .

Mata Jayoung  membulat sempurna, jantungnya berdetak cepat seperti saat ia habis mengikuti lomba maraton waktu di Sekolah menengah.

“Sudah membuat tanggorokanmu membaik? Sekarang katakan!” Tukas Key begitu melepas bibirnya dari bibir Jayoung .

Jayoung  mengerjab-ngerjabkan matanya bodoh namun detik berikutnya ia tersenyum lebar sambil mengangguk cepat.

“Neh, lebih bhaik.” Ucapnya dengan pandangan yang belum sepenuhnya fokus.

“Katakan!” tuntut Key lagi.

Jayoung  tersadar, ia menarik senyum bodohnya, raut wajahnya berubah serius.

Sungguh mengagumkan, batin Key. Dalam sekejab, ekspresinya bisa berubah-ubah. Sedetik menangis sedetik marah sedetik diam sedetik tersenyum bodoh dan sedetik kemudian berubah serius.

“Nadoh sharanghamnidah, jeongmhal jeongmhal sharanghamnida Kihm Khibuhm.”

Key tersenyum lebar dan kembali membawa Jaeyeon kedalam dekapan hangatnya.

Diam-diam Key merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda yang berkilau. Pelan-pelan Key melepaskan pelukannya dan memakaikan sebuah kalung yang bercahaya diterpa senja sore dileher Jayoung .

“Ini untuk janjiku 15 tahun yang lalu..” bisik Key.

Jayoung  meraba lehernya dan menemukan sebuah kalung putih dengan bandul berbentuk bunga matahari. Walau tak sama persis dengan miliknya yang dihilangkan Key 15 tahun yang lalu, namun bandul itu sudah mewakili betapa tulusnya Key.

Jayoung  tersenyum, air mata bahagianya luruh, “Gomawo.”

“Sebenarnya ini ingin kuberikan seminggu yang lalu saat di toko, tapi kau sudah pergi begitu saja.”

“Setidaknya karena kau memberikannya sekarang, suasananya jadi semakin romantis!”

Jayoung terkekeh sendiri mendengar ucapannya, kepalanya menunduk malu-malu.

“…. Begitulah ceritanya Halmeoni, Youngie sangat mencintaiku selama ini, dia tak berani mengungkapkannya karena takut cintanya kutolak. Dia bilang dia itu Heebaragi yang tak pernah bisa lepas dari matarinya, yaitu aku. Tadi saja ia sampai menangis keras di taman sebelah pantai. Apa aku begitu mempesona, Halmeoni?” Key berujar sembari menerima bubur yang disodorkan Halmeoni.

“Yahhh!!!” pekik Jayoung  dari seberang, ia membuka paksa selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.

Mereka berdua kini tengah berbaring di dua ranjang yang bersebelahan. Sebenarnya Key tak benar-benar berbaring, ia tengah menikmati buburnya sementara Jayoung  tadi telah makan lebih dulu.

Demam mereka kambuh bersamaan setelah pulang dari padang rumput dan dijalan mereka kehujanan. Jadi beginilah hasilnya, mereka justru merepotkan Halmeoni yang sudah tua.

Batuk Jayoung  bertambah parah, tenggorokannya serasa ditusuk-tusuk dan Key tak berhenti bersin-bersin, namun dari bakat mengoceh yang dimiliki Key, ia tak henti-hentinya membanggakan diri bahwa Jayoung  tak bisa hidup tanpanya didepan Halmeoni. Halmeoni hanya bisa terkekeh.

“Berhentih membhangghakahn dhirih!!” pekik Jayoung  lagi. Ia menatap tajam Key, namun yang ditatap mengabaikannya dan justru dengan santainya melanjutkan makan seperti tanpa dosa membuat Jayoung  kesal setengah mati bahkan kalau diperhatikan dengan seksama kedua kuping Jaeyeon sudah mengeluarkan asap.

“Aku tak membanggakan diri, memang itulah kenyataannya.” Jawab Key enteng, “Halmeoni, begitu sulitkah menolak pesona seorang Kim Kibum? Mengapa Lee Jayoung  sampai begitu tergila-gila padaku?”

“YAAAAHHH!!!!”

-END-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Heebaragi [2.2]”

  1. 해바라기 haebaragi..
    trus yg bnr itu ‘perlahan’ pke P..

    eh itu sbrnya namanya Jayoung apa Jaeyeon…??? suka muncul.. (?)

    agak g nyangka key nyusul k mokpo.. hhahaha
    kirain nunggu jayoung blik k seoul dulu..

    eiii jodoh nih ye.. sakit pun berbarengan..

    keren thor..
    terus berkarya..
    tp tulisannya perhatiin ya.. lmyn typo nya..
    fighting

  2. wuahh ikut sedih wktu jayoung’y nangis … Kim kibum , kau memang seperti matahari hehehe.. Akhirnya happy ending 🙂 … Ceritanya daebak .

  3. sempet kecewa.. Ih key, kok mau ngelamar nicole

    Kirain bakal sad lho, ternyata key mlh nyusul ke makpo

    Ciee.. Sakit aja sampai barengan. Ketahuan soulmate-nya ^^

    Good ff thor, keep writing ne~

  4. so swweeet akhirnya,wlau sesak di pertengahan.
    author,kau sukses membuat listrik menjalar ke seluruh tubuhku*apaan coba*
    typonya lumayan tapi thor,,,hehe.

    di tunggu karyamu yg lain.

  5. Authoooorr 😥
    Bagus sekaliii #lebay ==
    DAEBAK BANGET THOOORR >///<
    pokoknya keren. apalagi pas bagian jiyoung (?) nangis gara-gara denger cerita key.
    aku ikutan nangis …hikss..hiks..(?)
    #HappyAnniveSHINee4th!!!

  6. Thor kok ada dua sih nama nya jayoung dan jaeyeon,bikin aq bingung! ,tpi daebak banget,ikut terharu pas jayoung/jaeyeon tuh nangis ,akhirnya ceritnya happy ending,emang jodoh gak kemana-ya,,trus berkrya ya thor..FIGHTING

  7. hadehhhh Akhirnya keluar juga FFnya…. aku udah nunggu lama….. banget.
    dan hasilnya daebak banget thor….

    unyu’-unyu’ gimana gitu ceritanya
    key emang mempesona banget. tolong dong siapa aja bantu mengendalikan ketampanan key…..

    happy ending horeeeee…..

  8. Cham, ini part 1na yang masih kecil2 it bukan? Aku part 1 perasaan dah baca. Eh tp rada lupa ceritana. Bahkan baca part 2 aj, ud bikin aku ngerti. Kayak stand alone gitu.. aku yakin sangat klo part 1na udah aku baca.. Main cast Key, apalagi yg bergenre romance pst aku baca… aku puas baca ini FF…. suka and makin membuat aku tambah gemes sama Key..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s