Between Two Hearts – Part 5

Between Two Hearts[5] : New Life

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Kontributor : Kim Nara

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Lee Jinki, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Sopir Taksi

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-15

Summary :

Taemin : “Kalau dia memang mengharapkan uang, sejak awal dia pasti sudah memintanya. Tapi dokter Park tidak bilang apa-apa kan? Berarti orang itu memang ingin organ jantungnya berguna untuk seseorang dan kebetulan orang itu adalah Serra nuna. Lagipula, aku benci dengan pemikiran kalian yang menyiratkan seolah uang adalah bentuk terima kasih!”

+++++

Key’s POV

Aku memang keras kepala, sekalipun Jonghyun hyung pernah mengingatkanku untuk tak mengusik Sunny, aku tetap melakukannya. Aku terkadang datang ke kantornya, tak peduli ia mengusirku di hadapan banyak orang. Bahkan nyaris setiap pagi aku datang ke rumahnya,  berharap sarapan pagi yang khusus kubuatkan untuknya dapat ia terima, tapi reaksinya selalu sama, tidak mengacuhkanku—menganggapku seolah tak ada meskipun sebenarnya aku berkelana di rumahnya untuk sekedar merapikan beberapa sudut yang menurutku sudah tak sedap dipandang lagi.

Mungkin hatiku sekeras baja hingga aku masih terus melakukan rutinitas baruku sejak aku menjejakkan kaki kembali ke Korea. Aku tidak akan menyerah, itulah yang terus melekat di otakku.

Aku mencintainya, tidak peduli orang lain menganggapku namja bodoh yang rela mengejar cinta seorang yeoja yang bahkan bisa dikategorikan tidak berbadan ideal lagi. Ya, kurasa ia memiliki hobi baru akhir-akhir ini, makan dalam jumlah banyak. Aku menyimpulkannya dari tumpukan bungkus makanan yang menghuni tempat sampah di ruang televisinya, aku rasa ia makan sambil menonton.

Tapi, pagi ini terasa hampa bagiku, tak ada lagi sikap dinginnya. Bukan karena ia telah berubah sikap dengan menerimaku, tapi…aku tak menemukan sosoknya. Pintu rumahnya terkunci, dan seorang tetangganya mengatakan bahwa ia melihat Sunny keluar dengan menyeret koper berukuran sedang tatkala pagi buta masih menyelimuti.

“Membawa koper? Kemana tujuannya? Sunny-ah…kau menghindariku?” aku berbisik lirih seraya membiarkan tubuhku merosot terduduk ke lantai, rasanya pagiku menjadi suram.

“Sekarang kau menyesal?” sebuah suara bergabung dengan kesedihanku, aku menoleh ke arah sumber suara, Jonghyun hyung.

“Hyung, kau tahu kemana Sunny pergi?” dia harapan terakhirku, orang yang mungkin tahu keberadaan Sunny saat ini.

“Aku tidak tahu, itulah sebabnya aku marah padamu kini. Aku rasa, dia pergi karena menghindarimu. Coba kau pikir betapa sakitnya dia melihatmu setiap hari muncul, seolah memaksanya untuk membuka pintu hatinya kembali, luka lamanya mau tak mau diingatnya lagi. Pernahkah kau berpikir seperti itu?”

“Ani, aku tidak sependapat. Aku datang untuk mengobati lukanya, karena akulah penyebab luka itu. Hyung, kenapa kau menyalahkanku?” Aku sedikit tidak terima, walaupun di dasar hatiku sedikit terdapat pengakuan bahwa ucapan Jonghyun hyung itu benar.

“Cih, kau memang keras kepala, aku heran kenapa dua orang keras seperti kau dan Sunny bisa cocok dulu? Sudahlah, tidak ada gunanya meributkan ini lagi. Sekarang, kita harus memikirkan tempat yang mungkin dikunjungi Sunny.”

Huh, seenaknya dia menyudahi, padahal ia yang memulai keributan ini lebih dulu. Hhh…sudahlah…aku harus bisa berpikir jernih di saat seperti ini.

“Bagaimana caranya?” Aku mulai melunakkan sikap, tidak ada gunanya emosi di saat seperti ini.

“Aku pegang kunci cadangan rumahnya, mungkin di dalam kita bisa menemukan satu petunjuk.”

+++++

Author’s POV

Darah terus mengalir sementara sang pemilik tubuh tak berkutik, ia sudah kehilangan kesadarannya. Rasa tertekan yang amat berat membuat Cortikotropin Releasing Hormone-nya bertambah jumlah cukup drastis, rahimnya berkontraksi hebat menanggapi hormon yang kian menggila desakannya tersebut.

Suasana sekitar yang sepi membuatnya tergeletak dengan kondisi mengenaskan, darah menggenangi sekitar tubuh bagian bawahnya. Sampai akhirnya ada seorang pelayan yang melihatnya ketika ia akan membersihkan meja bekas pengunjung yang datang. Kemudian sang pelayan itu melarikannya ke rumah sakit terdekat.

Suasana di ruang administrasi sedikit ricuh, beberapa petugas berdiskusi mengenai siapa yang akan bertanggung jawab atas pasien yang kondisinya sudah kritis tersebut, tidak ada seorang pun karena rupanya sang pelayan restoran yang membawanya tadi segera pergi—tak ingin kantongnya dirogoh hanya demi menyelamatkan seseorang yang sama sekali tak dikenalnya.

“Coba tanya perawat ruangan, tanyakan apakah pasien itu membawa kartu identitasnya di tas. Atau agar lebih cepat, cari saja handphone-nya. Kita hubungi saja nomor yang ada di sana.” Salah seorang petugas mencetuskan ide yang kemudian disambut oleh mata berbinar para rekannya.

Kepusingan mereka terjawab, karena akhirnya seseorang berhasil dihubungi setelah melihat ponsel sang pasien sebentar lalu dikembalikan lagi ke asalnya. Orang yang dihubungi itu—Choi Minho, namanya tertera di list panggilan keluar terakhir pada handphone sang pasien.

Minho makin bingung, di satu sisi Serra tengah terjebak dalam kondisi koma, sementara sebuah panggilan kemanusiaan menghampirinya. Kemanusiaan? Ya, karena bisikan yang mendorongnya untuk memenuhi panggilan dari rumah sakit tersebut hanya rasa kemanusiaannya.

Butuh waktu nyaris tiga jam untuk mengalahkan rasa bencinya pada sang pasien yang namanya disebutkan petugas rumah sakit tadi. Bisikan untuk menelantarkannya begitu mendominasi kuat, namun masih ada secuil dorongan yang akhirnya membuat ia bangkit dari duduknya.

“Hyung, aku pergi dulu sebentar. Beri tahu aku perkembangan Serra. Aku masih akan berusaha mencari pendonor untuknya.” Minho menghampiri Jinki sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan suasana di sekitar kamar Serra yang masih hening itu.

“Minho-ya, kau mau kema…na?” terlambat, Jinki bertanya ketika sosok Minho sudah menghilang dari pandangannya, namja jangkung itu terkenal dengan kemampuan berlarinya yang super kilat sejak SMA.

+++++

Ada suatu titik balik, ketika kau menyadari bahwa langkahmu salah, tersesat atau bahkan telah tenggelam dalam jurang kejahatan. Namun titik balik itu menghampiri seseorang pada waktu yang berbeda. Beruntunglah jika kau menemukannya di saat kau baru saja melangkahkan kakimu pada jalan yang salah. Jika tidak? Rasa penyesalan hebat yang kau rasakan, menyesal karena mengambil hak orang lain, menyesal karena menindas orang lain, bisa jadi juga—menyesal karena ada hal sangat berharga yang harus kau relakan. Semua perasaan itu kini menderanya.

Terseok-seok, setelah mencabut paksa jarum infus yang menghujam pergelangan tangannya, ia mengendap-endap meninggalkan ruangan kelam yang tak akan pernah ia lupakan, ruangan yang ia sebut ruang pembunuhan. Bukan pembunuhan dalam arti umum, melainkan ruang dimana seoonggok tubuh mungil yang telah tak bernyawa—harus lenyap dari tubuhnya.

Tidak peduli rasa sakit yang ia rasakan pascaoperasi pengangkatan kandungannya yang baru selesai beberapa jam lalu, Dengan mengandalkan uang yang tersisa di tas yang setia menyertainya sewaktu ia dilarikan ke rumah sakit, ia menghentikan sebuah taksi. Tidak dipikirkannya orang-orang memandanginya aneh dengan cap ‘pasien rumah sakit yang kabur karena tak sanggup membayar biayanya’.

“Antar aku ke Hotel Shine!” perintahnya pada sang supir.

“Agassi, apa kau punya uang untuk membayar?” Rupanya sang supir waspada, tidak ingin terulang kejadian dimana penumpangnya tak membayar, apalagi melihat calon penumpangnya kini masih mengenakan seragam pasien rumah sakit.

“Tentu saja! Ahjussi, kau meremehkanku!” hardik Sunny seraya menyerahkan beberapa lembar uang.

Taksi pun melaju, Sunny menghembuskan nafasnya yang terasa sangat berat. Ia meraba perutnya yang kini tak berisi.

“Hh..hhh…” nafasnya mulai tersengal, rasanya ada sesuatu yang menindih dadanya, sangat berat dan menyesakkan. “Ahjusshi…palli…” ucapnya setengah merintih.

Sunny mengacak-acak isi tas-nya, mencari sebuah benda kecil yang mungkin dapat menyelamatkannya kini, hanya ini yang bisa diharapkan tatkala rasa sakit dan depresi menghantuinya.

Matanya berkilat tatkala menemukannya, sebuah sim card lama yang dilepasnya untuk sementara, benda tersebut dipasangnya kembali ke handphonenya.

“Yeoboseo….” Tak lama ia sudah tersambung dengan seseorang, namun sayang, getaran tubuhnya sudah tak kuasa ia tahan, karena di depan matanya kini…tampaklah bayangan bayi mungil yang sosoknya menjelma menjadi hantu mengerikan, “Aku di Seoul.” Lirihnya disela halusinasinya.

Oaaaa, oaaa….

Oaaaaaaa…oaaaa,

Suaranya memekakkan telinga Sunny, membuat tangannya refleks menutupi telinga dengan kuatnya.

Oaaaa, oaaa…

Ah, Eomma…untuk apa aku menangis seperti bayi, nyatanya aku bukan bayi di rahimmu lagi, aku telah dibunuh! Ya, gara-gara kau, aku tak bisa menikmati dunia! Jika begini, mengapa kau ingin membuatku dulu??? Hei…jawablah….

“Hiks…hiks…” Suara tangis Sunny tertangkap oleh orang yang ia hubungi di seberang sana.

“Sunny-ah, waeyo? Kau bilang ada di Seoul?” Orang itu panik, nada bicaranya sudah diselimuti dengan kekhawatiran. “Sunny-ah, jawab aku…dimana posisi detailmu? Apa yang sedang kau lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi sampai kau menangis?” pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab oleh Sunny.

“Argggghhhhhhhh” Sunny mengerang, tak kuasa lagi melawan halusinasinya akan bayi yang baru saja gugur dari rahimnya.

“Datanglah ke Hotel Shine, aku supir taksi.” Sang supir tergerak hatinya, ia mengerem mobilnya dan meraih handphone Sunny dari pemiliknya untuk segera menjawab pertanyaan yang ditangkap indera pendengarannya dari loudspeaker benda tersebut.

+++++

Minho’s POV

Dia orang paling gila yang pernah aku temui. Penipu ulung? Ya, aku terjebak dalam permainannya. Dan kini, di saat aku ingin menolongnya, yang kudapati ketika tiba di rumah sakit adalah berita mengenai kaburnya yeoja sialan itu. Alhasil aku memang harus tetap menanggung biaya rumah sakitnya. Bukan uangnya yang kupermasalahkan, tapi—membayar mahal untuk seseorang yang telah menipuku, aku tidak rela.

Ada sedikit rasa lega karena benihku gugur. Tidak ada lagi alasan baginya untuk menodongku, kan?

Kuanggap permainan ini berhenti untuk sementara, bahkan kuharap ini telah usai.

Aku kembali ke rumah sakit tempat Serra berada, masih dalam keadaan pusing memikirkan bagaimana caranya menemukan pendonor jantung. Orang mana yang mau jantungnya dipakai, sama saja ia harus merelakan hidupnya. Kecuali ada korban kecelakaan yang nyaris tak tertolong nyawanya dan ia bersedia mendonorkan jantungnya.

Dari jauh kulihat Jinki hyung tersenyum padaku, di sekelilingnya kulihat sanak saudara Serra saling berpelukan penuh bahagia. Ada apa ini? Apakah ada sebuah keajaiban terjadi pada Serra?

Aku berlari, tak sabar ingin turut merasakan kebahagiaan itu. Begitu jarakku mendekat, Jinki hyung memelukku erat sambil menepuk-nepuk punggungku dengan menggebu.

“Minho-ya!! Ada seseorang yang mau mendonorkan jantungnya pada Serra. Akhirnya Tuhan mendengarkan do’a kita semua.”

“Jincha? Akhirnya…Oh Tuhan…thanks.” Aku girang setengah mati. Tetapi sesaat kemudian aku berpikir, “Hyung, siapa orangnya? Mengapa ia rela mendonorkan jantungnya? Apakah ia korban kecelakaan atau bagaimana?”

“Mollayo, tadi dokter yang memberi tahu ini. Orang tersebut minta identitasnya disembunyikan.” Raut wajah Jinki masih sumringah, tapi kurasa tidak dengan wajahku, rasanya sedikit memudar. Entah kenapa aku merasa sedih karena memikirkan nasib pendonor itu. Siapa orangnya? Dan mengapa ia minta disembunyikan? Bisaanya, ada beberapa kasus dimana seorang pendonor mengharapkan ganti berupa uang—dengan alasan uang itu akan berguna untuk keluarganya pasca menghilangnya ia dari dunia ini.

“Kau terlihat tidak senang?” rupanya Jinki hyung menyadari ekspresi wajahku.

“Aniyo, bukan tidak senang. Tapi, entah kenapa aku merasa kasihan pada orang yang mendonorkan jantungnya itu, berarti ia harus mengorbankan hidupnya, kan?”Aku mengutarakan secuil isi otakku.

“Hmmm…menurutku, kalau ia sudah memutuskan seperti itu, berarti ia sudah memikirkan baik-baik. Minho-ya, sebenarnya aku sedikit berpikir, apa sebaiknya kita minta tolong pada Dokter Park untuk memberikan imbalan pada keluarga sang pendonor?” penuturan Jinki hyung benar, setidaknya kami harus berterima kasih.

“Tidak perlu!” sebuah sergahan membuatku dan Jinki hyung menoleh.

“Waeyo?” aku sedikit heran. Pertama, yang mengucapkan barusan adalah Taemin. Kedua, ia mengucapkannya dengan nada penuh keyakinan.

“Kalau dia memang mengharapkan uang, sejak awal dia pasti sudah memintanya. Tapi dokter Park tidak bilang apa-apa, kan? Berarti orang itu memang ingin organ jantungnya berguna untuk seseorang dan kebetulan orang itu adalah Serra nuna. Lagipula, aku benci dengan pemikiran kalian yang menyiratkan seolah uang adalah bentuk terima kasih!”

Baik aku maupun Jinki hyung terdiam, tidak tahu harus membantah apa karena nyatanya memang benar apa yang baru saja dituturkan Taemin. Ada sedikit rasa malu di hatiku, seorang bocah seperti Taemin menyadarkanku bahwa uang bukan segalanya, aku teringat kejadian di rumah sakit. Ya, walaupun yang akan kutolong adalah orang yang paling jahat di dunia, aku tetap harus menolongnya sebagai sesama manusia. Uang tidak akan meninggalkan kita, karena ketika kita memberi maka sumber-sumber uang lainnya akan menghampiri kita.

Taemin’s POV

“Kalau dia memang mengharapkan uang, sejak awal dia pasti sudah memintanya. Tapi dokter Park tidak bilang apa-apa, kan? Berarti orang itu memang ingin organ jantungnya berguna untuk seseorang dan kebetulan orang itu adalah Serra nuna. Lagipula, aku benci dengan pemikiran kalian yang menyiratkan seolah uang adalah bentuk terima kasih!”

Aku marah, rasanya sakit mendengar kalimat terakhir Jinki hyung. Bagaimana tidak, aku menyaksikan sendiri betapa sang pendonor itu tulus ingin menyerahkan jantungnya pada Serra nuna, tidak ada sedikitpun keinginannya untuk mendapatkan uang. Aku melihatnya langsung bagaimana air matanya terurai, ingin Serra nuna tetap hidup.

“Anggap saja orang itu malaikat yang tulus membantu nuna, jangan pernah kalian balas ketulusan seseorang dengan uang.”

Saat mengucapkannya aku ingin menangis, masih kuingat betul bagaimana orang itu menumpahkan air matanya tatkala ia mendatangiku dan mengutarakan keinginannya untuk menyelamatkan Serra.

Flashback

Kami semua menanti matanya terbuka, walaupun menurut dokter, kinerja jantungnya makin melemah. Tapi, bukankah keajaiban itu masih ada?

Tidak tahan melihat raut wajah orang-orang semakin sedih dan melankolis, aku memutuskan untuk menjauh sebentar. Karena kalau terus berada di sini, aku pun ingin menangis. Bagaimana tidak, aku tidak ingin kehilangan nuna kesayanganku, nuna yang hatinya sangat baik.

Kulangkahkan kakiku menjauh, yang ada di pikiranku kini adalah kantin rumah sakit. Aku baru sadar kalau cacing perutku sudah tidak sabar menanti.

Tidak terasa tubuhku sudah berada di lobi, meskipun kantinnya masih jauh. Tapi tak apa, rasanya pikiranku mulai segar. Seperti biasa, kulihat petugas administrasi yang tak henti melayani pembesuk maupun keluarga pasien dengan sabar. Terlihat pula sepasang suami istri yang tersenyum bahagia dengan tangan sang suami yang mengelus-elus perut istrinya yang sudah membesar, kurasa mereka baru konsultasi dari dokter kandungan.

“Taemin Ssi!” seorang yeoja memanggilku dari dekat loket administrasi.

Aku tertegun sejenak, suaranya tidak asing. Beberapa detik kemudian aku melirik dan mendapati sosok yeoja yang wajahnya ditutupi masker dengan kacamata hitam yang menempel di matanya. Melihatku yang hanya mematung, yeoja itu menghampiriku. Semakin ia mendekatiku, aku semakin bergidik karena menyadari siapa yeoja ini.

“Ikut denganku, kumohon.” Ia membungkuk di hadapanku, dan ini membuatku makin membeku.

“Nuna, jangan membungkuk di hadapanku.” Aku meraih pundaknya dan menggerakkan tubuhnya agar kembali tegap.

“Khamsahamnida, aku tahu kau bingung. Tapi bisakah kau mengikuti langkahku tanpa bertanya sepatah kata pun setelah ini?” ia bertanya kali ini, aku membalasnya dengan anggukan ragu.

Aku pun dibawa ke atap gedung rumah sakit, mungkin ia memilih tempat yang sepi untuk membicarakan hal penting.

“Aku, ah, kurasa kau pasti sudah menerka seperti apa sosok di balik maskerku.” Ia berujar kembali saat kami sudah berdua di tempat sepi.

“Aku tak yakin, tapi suaramu sangat mirip Serra nuna.” aku membalasnya dengan penuh ketidakyakinan, kalau dia Serra nuna—lalu siapa yang tengah terbaring di ruang rawat?

Ia membuka masker dan menaikkan kacamatanya ke kepalanya, “Aku Han Sunny, sosok Serra yang lain.”

Mulutku spontan ternganga, ia begitu mirip dengan Serra nuna. Siapa tadi namanya? Han Sunny?

“Omo, nuna…siapa kau sebenarnya?” aku memandangi wajahnya lebih lekat, benar-benar mirip. Tunggu, matanya sembab sekali, “Nuna, kau habis menangis?”

“Taemin ssi, jangan pedulikan orang jahat sepertiku, aku sudah sepantasnya menangis.” Ia menjauh dariku, duduk di lantai di tepi dinding, menyandarkan tubuhnya yang kurasa sedang lemah—terpancar dari rona wajahnya yang sangat pucat.

“Aku telah melakukan sebuah kejahatan yang kalau berhasil, akan menyingkirkan nunamu dari posisinya.” Ia berujar sambil memandangi langit biru yang mulai menggelap.

“Maksudmu?” Aku tidak mengeti, apa yang sebenarnya terjadi?

Author’s POV

Dua orang tengah berbicara di atap gedung rumah sakit dengan suasana yang terasa menegang di pikiran keduanya. Sang yeoja yang lebih dulu menyandarkan tubuhnya ke dinding, dan seorang namja yang pada akhirnya meniru gerakan yang sama, kini keduanya duduk bersebelahan.

“Empat bulan lalu, aku menipu Minho dengan berpura-pura menjadi Serra.” Mata yeoja bernama Sunny itu mulai berkaca-kaca. “Saat itu yang ada di pikiranku adalah membuat Serra hancur melalui bercinta dengan nampyeonnya. Aku berhasil, aku hamil setelah aku bercinta dengan Minho. Niatku adalah menawan Minho dengan benih yang ia tanamkan sendiri.”

“Ya! Jadi kau yang membuat Minho hyung tampak depresi selama beberapa bulan?” Taemin berang setengah mati, ia marah pada orang yang telah membuat rumah tangga nunanya kacau.

“Bisakah kau tidak memotong ceritaku?” Sunny tidak menjawab, ia hanya meminta Taemin diam dengan suara yang sudah diwarnai dengan isak tangis.

“Lanjutkan!” perintah Taemin dingin, ia bahkan tidak mau melihat wajah Sunny.

“Apa kau tahu kenapa aku melakukan itu semua? Karena aku iri pada Lee Serra! Kami dilahirkan kembar, tapi kenapa harus dia yang diadopsi oleh keluarga Lee? Kenapa harus aku yang tetap berada di keluarga asliku dan menanggung semua kisah hidup yang berat. Aku ingin ia merasakan penderitaanku, aku ingin melenyapkan Serra dan menggantikan perannya.” Sunny berhenti bercerita, tak kuasa menahan sesak di dadanya.

“Cih, kau orang terbodoh nuna. Kebohohan pertamamu, harusnya kau bersyukur karena kau lah yang tinggal bersama orang tua kandungmu. Nuna, apa kau tahu Serra nuna sering kesepian sejak kecil, Nyonya dan Tuan Lee sering bisnis ke luar kota, untuk itulah aku selalu diundang menemaninya. Kebodohanmu yang kedua, aku tahu Serra nuna bukan anak kandung, tapi aku yang bahkan bukan saudaranya saja bisa menebak kenapa orang tua aslinya memilih agar dia diasuh keluarga Lee. Itu karena jantungnya lemah. Kau tentu tahu biaya berobat sangat mahal.”

Sunny makin terisak, merasa telah melakukan hal terbodoh, seperti yang dibilang Taemin. “Aku tidak pernah tahu kondisi kesehatan Serra….” balasnya lirih.

“Cih, lalu bagaimana bisa kau mengenali aku, Minho hyung dan mungkin orang-orang lainnya yang ada di sekitar Serra nuna, sementara kau tidak mengenali saudaramu sendiri?” Taemin mencibir marah, namun di dasar hatinya ia terenyuh melihat isak tangis nuna di hadapannya ini.

“Aku benar-benar tidak tahu…aku baru mengetahuinya ketika aku sedang bertemu Minho untuk meminta pertanggungjawaban atas kandunganku yang sudah berusia empat bulan.” Tangisnya makin mengeras, bahkan berkali-kali ia sesenggukan sambil meremas-remas dadanya yang terasa sakit.

Taemin’s POV

“Haruskah aku percaya padamu? Sekarang pun kurasa kau masih berbohong. Kemana kandunganmu yang katanya berusia empat bulan itu?” aku masih berhati-hati, bisa jadi ia sedang mengelabuiku juga mengingat Minho hyung pernah masuk dalam perangkapnya. Dan lagi aku heran, mengapa ia memilihku untuk menjadi tempat pengkuannya, bukan Jinki hyung yang lebih dewasa dariku?

“Kemarin aku keguguran dan hari ini aku kabur dari rumah sakit. Kau boleh cek sendiri.” Ia membalasku sambil menghapus butir air matanya.

“Lalu kenapa kau sadar? Apa karena kau merasa rencanamu telah gagal dengan gugurnya kandunganmu lalu sekarang bisa saja kau datang untuk memulai rencana barumu, hmm?”

Entah setan apa yang menguasaiku. Hati kecilku sebenanrya berbisik bahwa yeoja ini tidak sedang berbohong, tapi rasanya masih ada ketakutan bahwa aku bisa saja sedang digiring untuk masuk dalam permainan barunya.

“Karena aku tahu kenyataannya, Lee Serra sedang terancam…” jawabnya yang kemudian membuatku marah.

“Cih, Serra nuna terancam, kau mengambil simpatiku dan kemudian kau bisa menggantikan Serra nuna diam-diam. Begitu?” aku mulai berpikir busuk lagi tentangnya.

“Ani…kau salah memahami…” ia kembali berurai air mata setelah mendengar tuduhanku, mungkin aku terlalu berlebihan menuduhnya.

“Aku memang ingin menggantikannya, tapi bukan menjadi Lee Serra. Taemin ssi, izinkan jantungku menggantikan jantungnya, aku ingin ia tetap hidup. Jika jantungku menyatu di tubuhnya, aku anggap diriku masih hidup namun dalam tubuhnya…aku ingin menembus dosaku,. Lagipula hidupku sudah hancur karena permainanku sendiri…aku tidak akan bisa hidup tenang di bawah jeritan-jeritan yang mencaciku sebagai orang jahat.”

Kulihat kesungguhan di matanya, aku cukup terhenyak mendengar rangkaian pembicaraan ini, terutama ucapannya yang terakhir. Apa yang harus kulakukan? Di satu sisi aku bersyukur Serra nuna bisa terselamatkan. Tapi, bukankah ada satu nyawa yang harus dikorbankan?

“Antar aku menemui dokter. Tapi kumohon, rahasiakan bahwa aku yang mendonorkan jantung itu. Biarkan hanya aku, kau, dokter, dan Tuhan yang tahu semua ini…”

Flashback End

+++++

Author’s POV

Setiap oksigen yang kita hirup, setiap detik yang kita lalui, setiap kali kita masih bisa membuka mata melihat dunia, seharusnya kita mensyukuri hidup. Sebagian orang tak menyadari bahwa waktu yang diberikan adalah karunia tak terhingga dari Tuhan. Mungkin bagi orang yang sudah pernah nyaris dihampiri kematian, kembali melihat dunia adalah hal yang paling membahagiakan untuknya.

Beberapa petugas medis keluar dari ruang operasi dengan membawa sebuah kotak yang tadinya dipenuhi darah dan nutrisi yang diperlukan jantung baru untuk tetap berdetak meskipun telah dikeluarkan dari tubuh pemiliknya, sederhanannya itu adalah kotak yang dipakai untuk membuat jantung sang pendonor tetap hangat walaupun ada jeda antara waktu diambilnya jantung baru dari tubuh pendonor dan waktu operasi transplantasi dilakukan.

Dokter ahli keluar dari ruangan operasi tidak lama kemudian, ia langsung disambut dengan pertanyaan dari keluarga Serra.

“Kami belum bisa memastikan, untuk sementara operasi dikatakan berhasil. Jantung baru telah terpasang. Namun, selanjutnya tetap perlu dilakukan pemeriksaan apakah tubuhnya menunjukkan reaksi penolakan atau tidak.”

Semua yang mendengar penjelasan dokter Park bernafas lega, untuk sementara mereka  bisa tenang, beberapa di antara mereka berpelukan dengan orang yang ada di sampingnya. Kecuali Taemin, ia membalikkan badan dan menangis dalan kebisuan, satu orang hidup—namun orang lainnya harus tinggal nama. Tapi Taemin tidak berdaya karena memang itu keinginan Sunny sendiri, yang bisa dilakukannya hanya berdo’a agar Sunny tenang di sisi-Nya.

Minho’s POV

Tuhan…terima kasih telah mengembalikan Serra kami…bagaimanapun ini adalah keajaibanmu. Seseorang datang mendonorkan jantungnya dan operasinya berhasil, sungguh ini adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku.

“Lalu kapan kami bisa melihat keadaannya?” aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.

“Tunggulah sekitar dua jam lagi. Itupun hanya orang tuanya dan suaminya yang boleh masuk. Jangan banyak orang dulu. Dan lagi, mohon tidak membicarakan hal-hal yang berat yang membuatnya berpikir keras ataupun terbebani.”

Aku mengangguk sebagai tanda mengerti. Namun, ucapan dokter barusan sedikit menohokku, aku jadi teringat kebodohanku yang membuat nyawanya terancam ini. Tidak akan kuulangi, dan aku akan melakukan apapun untuk menebus dosaku, apapun—asal Serra memaafkanku.

Dua jam terlewati, aku dan kedua mertuaku masuk ke dalam ruangan. Aku hanya terpaku di sisi ranjang Serra, tidak ingin mendahului orang tuannya yang sedang membelai kening Serra yang masih terpejam dengan penuh kelembutan dan isak tangis bahagia.

Beberapa saat kemudian kulihat kelopak matanya berkedut, aku berharap ia membuka matanya kini. Rupanya harapanku terwujud, perlahan ia membuka matanya, menggerakkan bola matanya ke sekeliling dan tersenyum ke arah kami semua. Namun setelah itu, ia menampakkan raut wajah kecewa dengan bola mata yang seolah masih mencari seseorang.

“Dimana Key?” tanyanya dengan nada yang sedikit ragu, seolah memastikan bahwa pertanyaannya tepat untuk dilontarkan.

Key? Siapa Key yang dimaksudnya?

TBC…

+++++

Ini part yang bikin bingung setengah mati, bingung gimana nyampein apa yang mau aku certain.

Nah, tentang operasi transplantasi jantung, aku baca dari beberapa sumber, salah satunya( yang paling enak) dari sini nih

Terus ada yg nanya juga kenapa kok Serra yg habis operasi jantung pake jantung Sunny seolah menjadi Sunny krn orang yang pertama ditanya adalah Key? Nah, aku habis baca ini inih, di sumber ini dikatakan bahwa ada kecurigaan klo jantung itu ga hanya memompa darah, tp juga pusat berpikir. Kalo penasaran bisa di klik langsung aja ya ^^

Oya, Cortikotropin Releasing Hormone itu hormone yang merangsang kontraksi rahim. Kalau jumlahnya terlalu banyak bisa menyebabkan keguguran. Hormon ini disebabkan karena rangsangan dari otak (otak stress).

Okeee…seperti biasa, aku tunggu kritik sarannya. Ke depannya aku harus bikin bahasa yang lebih baik. Don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

51 thoughts on “Between Two Hearts – Part 5

  1. haduh…banjir sdh air mataq…kasihan amat sunny,tdx bwtq dy pnjhat tp skrg brubh jd malaikat…
    ”dimana key…???”,sumpah ni adl the most shocking scene in this part…kirain smw bkal hepi pas sera sdar,trxta g…msh ad teka-teki yg muncul.
    jgn2…karena jntungx sunny itulh makax sera nyari key,kira2 sera jatuh cintrong sm key g y…???
    kalo iy,kasihan amat si minho…
    ayo thor,cpt publish next part…

  2. ayayayayaya… keluar juga ff ini dari persembunyiannya. hahah. HYAAAAAA…!!!!! eonni!! keren bgt taukk!!! bikin penasaran aja nih ceritanya. ayo ayo eonn, lanjut lanjut lanjut lanjut.:)

  3. Hwooow…bibib eonn.
    Tapi ini sangat aneh seaneh-anehnya kata aneh dari yang teraneh yg sungguh menganehkan-*CUKUP!*
    Di part ni aku malahan kasian ma si sunny,padahal part2 sbelumnya pengen bnget ku pites tu yeoja*ppparah*
    Turut berdukacita atas kematian anak perempuan dari keluarga-*STOP!*
    Wehhgg(?)shock baca dua kata diatas ‘dimana key?’,,ini takdir beneran mainin tu keluarga kali ya#plak plok…
    Baiklah bibah(?) ehm,,bibib eonn maksudnya,ditunggu klanjutannya ya…
    Jngan kelamaan tapi*ngancem*

    1. aneh kenapa? ayo bilang2 ya…

      e iya bener namaku habibah. suka dipanggil bibib, bibah, bibul, bibonk atau apapun lah itu. tp di dunia per-ff-an ini nick-ku bibib #eunri: ga nanya

      lama engga ya part berikutnya? ga tau, tergantung takdir aja deh, haha…

      1. Apalah itu nama…
        Bnyak bnget coba.
        Bibib eonn,,,emng apa yg kau lakukan sampe panggilanmu bnyak gitu?tch tch tch…

  4. Omoo~ O.o … dmna key ? d mna key ?
    akk qraa ini mslah’y ampr slesai. ..trnyata !!!
    keren FF’y akk tunggu klanjutan’y ^o^b

  5. ngyahhh, daebak daebak daebak!

    mau ngomong apa lagi? emang sih terasa sedikit takut kalau-kalau bahasanya nggak dimengerti, tapi keren kok, aku ngerti! haha. aku deg-degan banget pas baca yang dialog Sunny sama Taemin. pas operasinya berhasil, aku pengen nangis ngebayangin perasaan Taemin, seandainya aku yang jadi Taemin. hiks hiks😥

    wow? terakhirnya bikin penasaran. tadinya aku sempet mikir ini end-nya, ternyata bukan. o iya, tebakanku bener satu, bahwa Sunny yang ngedonorin jantungnya. tapi, dengan itu pula, tebakanku yang satunya juga slah. hehe. tadinya aku pikir Sunny ngelahirin dulu, tapi dia udah nggak nuntut Minho lagi. terus donorin jantung dan anaknya diurusin Key. Haha, salah besar deh😄

    lanjut lanjut lanjut ya!!! >,<

  6. Hikss..hikss..
    Ampun deh aku paling suka kalo author ini yang buat ff-nya.
    Makin penasaran, buruan ya thor di publish !

    Recommendation FF nih !

  7. Author pinter bgt nih bkin nangis, tulisan author enak bgt bca’a jd bkin tmbah sru critanya, aku tnggu ya part slanjutnya! ^^

  8. “Cih, lalu bagaimana bisa kau mengenali aku, Minho hyung dan mungkin orang-orang lainnya yang ada di sekitar Serra nuna, sementara kau tidak mengenali saudaramu sendiri?”……… ini pertanyaan yg sama ky komenku di part sebelumnya…..

    yg ditelpon sunny pas di taxi itu key, dan bilang sunny di seoul…. berarti part depan kemungkinan key nyari sunny tapi ketemunya serra…
    tapi kok aku ngerasa agak aneh ya pas tiba2 serra manggil namanya key… itu beneran dioperasikan, gak malah dituker sosoknya doang di ruang operasi?
    aku kepikirannya lbh msk akal kl pas serra ketemu key terus jantungnya serra berdebar kencang pas liat key…….🙂
    konflik triangle love deh nih ….

    1. eonni, perasaan aku ga bilang klo yg ditelpon itu key, di sini cuma ada kalimat:
      “Aku di Seoul.” Lirihnya disela halusinasinya.
      nah, ‘nya di atas kan merujuk pd sunny. dan orang yg ditelepon itu tau klo sunny ada di seoul krn dia sunny sendiri kan ya yg bilang? eh, salah nangkep maksudku ga?

      iyap, itu beneran dioperasikan. jadi aku baca klo jantung juga dicurigai bukan hanya berfungsi sbg pemompa darah, tp juga sbg sumber pikiran. ga tau sih bener engga, udah kutambahin tuh link di akhir yang merujuk ke sumber itu ^^

      dan nanti emg seperti yg eon bilang, serra emg berdebar klo liat key. udah ah ya, aku ga mau nulis lbh panjang lagi, ntar jd ngebocorin deh ^^

      gomawo yah eonni udh baca n komen ^^

  9. hellooww bibib, sori yak bru smpet komeng, biasa org sibuk pan gua *PLakk* hahaha😛
    Ada yg bkin pnsaran nih? Siapa org yg ditlp sunny pas ditaxi? Key? Jong? Ato Taemin?
    Key ama Jong gak mngkin. Org mreka aja gk tauk sunny kmana, tp org di tlp itu mlh tauk sunny di seoul..
    Taemin apa lg. Pan dia gak knal sunny.. jd siapa? Siapa? Siappaaaa?!! *guncang2 bdang bibib*
    Iih si abang minong tteup aja pngecut. Ms dia seneng klo sunny keguguran -___-”
    Wooohh trnyata tbakan gw 2 betul. Prtma sunny yg jd pendonor, trus sunny metong!!, sayang bgian anak’y gak btul. Siapa tauk klo btul dpt hdiah piring cantik *PLakk* kekek😛
    Wett wett tunggu!! Sjak kapan transplatasi jntung jd inget org yg pendonor rasaain? Emang’y geger otak?, wahh aneh nih disini *pose mikir*
    yampuunn bibib, maap yak pnjang, haha kebiasaan bngt gw.. dilnjut yak. Adios amigose..

    1. kalo betul dpt cium key! haha, ngarep juga ni aku.

      eh kenapa km mikir klo itu ga mungkin jjong atau key? mereka emg ga ttau sunny kemana, kan sunny-nya dulu bilang di awal pas nelpon klo dia ada di seoul. nah loh kelewat bacanya ^^

      nah iya nih aku lupa masukin source tt jantung. coba baca note-ku lg di akhir, aku udh nambahin source tt pertanyaan trahir kamu ^^

    2. btw aku malah seneng ama komen yg panjang2. apalagi klo ada yg nemuin kesalahan atau keanehan di dalam tulisanku. gpp lah ya bilang aja, kan aku jd lebih ati2 ntarnya.

      thx ya teng udh mampir n komen ^^

  10. Kemarin kayaknya aq udd Koment ya?? Kok hilang… Tau ahhh….. Setor wajah ajj dehhhh ya Bib… Apa koment aq emang sengaja dihapus app gimana sihh #tengokin B patrolnya….. Takutnya koment aq gx ngenakin.. Cz add beberapa kali aq koment di FF-nya bibip pd ilang……haha

    Jadi yg hidup skrg Sunny kah????

    1. ah kayaknya bukan cuma komen eonni yg ilang deh. balesan komenku buat ahjeong eon juga ga ada, pdhl aku udh bls 2x. ini kenapa yak? *garuk2 kepala.
      eh udh beberapa kali ilang terus eon? wah repot juga ya? emang eonni komen apaan toh? ah, aku mah nyantai aja mau dikomen apa juga. kayaknya bukan diapus b-patrol deh, mungkin emang sistemnya error

      lah eon, yg hidup itu Serra, kan sunny yg ngedonorin.

  11. omg! Jujur aku benci sama sunny, dan ntah knpa ak gk sedih liat dia keguguran + mendonorkan jntung nya. Pdhal tmen ku smpet kasihan sma dia.
    kok ak rasa part ini singkat ya? Tapi ttp baguss dan ngena ke hati.
    seera, akhirnya bngun jga, senang nya! Lanjutkan thor! Ditunggu part 6 nya ya ^^

    1. part ini singkat? engga kok, jumlah halamannya sama aja ama part2 sebelumnya🙂

      hoho, jangan seneng dulu sepertinya, hehe…

      sipp, maen2 lagi yah ke part 6. gomawo ^^

  12. omg! Jujur aku benci sama sunny, dan ntah knpa ak gk sedih liat dia keguguran + mendonorkan jntung nya. Pdhal tmen ku smpet kasihan sma dia.
    kok ak rasa part ini singkat ya? Tapi ttp baguss dan ngena ke hati.
    seera, akhirnya bngun jga, senang nya! Lanjutkan thor! Ditunggu part 6 nya ya ^^ haha

  13. Koment-ny apa ya?? Oh gini…. Pertama aq ngomenin yg sunny itu… Pada akhirnya dia yg terjebak dalam permainannya sendiri…… Dia sih bukan org jahat. Tp cuma sedikit egois. Sama so’al Judul… Pertamanya nihh… Asumsiku nih.. Between 2 hearts tuh mengacu pada Serra-Sunny-Minho.. Tp krn Sunny-nya mati berarti antara Serra (sunny) – Minho – key… Wahhhh Konfliknya bakalan seru nihhhhh…… Yah begitulah komentku…. Add dua kali sih koment di FF yg ini kehapus… Yg di part berapa itu ya yg add merpati tak pernah ingkar janji itu lupa dehhhh…. Balesin balesan komentmu itulohhh…hahahaha

    maksudnya itu yg hidup Serra tp Jiwanya Sunny… Kn waktu siuman yg dipanggil nama Key… Kan Serra gx kenal sama Key……. Klo komentku ya koment biasa ajj… Plg ngomenint cerita atau sedikit apa….. Kamu pasti tahulah koment ala-ala diriku…muehehehe

    1. hoho, tebakannya ada benernya ada juga kurangnya. hihi, aku tutup mulut ya eon.

      oiya iya, aku inget obrolan kita tt merpati, tak apalah eonni, nasip komennya ilang.

      hehe iya aku apal kok gaya komen eonni. eh pdhl kloa ngasih kritikan juga aku ga akan marah kok eon ^^

      bth thanks yah udh mampir ^^

  14. Tuhkan bener dugaanku pasti Sunny yg donor jantungnya xDv wah2 udah baca artikelnya sih tp jgn blg kalo Serra jd suka sama Key-_-ditunggu next part ya author~^^

  15. Hi bibib eon ^^/ *sokkenal-_-*
    Mian baru komen di part ini, lah itu akhirnya sunny mati kan? Terus itu serra bisa tau key krna jantungnya sunny ada sm dia pasti *soktau-_-*
    Dan jangan bilang kalo dia malah lupa sm Minho…….

    Menurut prediksi sotoyku, bakal ada cinta segitiga nih, antara minho, serra, dan key. Nanti minho udah mulai suka serra, key itu tetep suka sm sunny dan ngirain serra itu sunny, dan serra? Gatau ini msh abu-abu, prediksiku blm tembus smpe sana u.u *sotoyyabess*

    Komennya sgini aja deh, pkoknya I’m so curious sm part slnjutnya~😀

    1. hihi, gpp tenang aja urusan komen2 mah…dibaca aja aku udh seneng ^^

      sok kenal juga gpp, kan kita jd kenal ^^

      Serranya gimana yoo? hihi, ga mau jawab ah. ini ga panjang kok, cuma 9 part.

      thanks ya udh maen ke ff-ku🙂

  16. gemes banget dhe ama part ini ..
    dari sunny yg berubah jadi baik ,, terus serra yg tiba2 nanyain key ….
    hiyaaa ,,,,,, cikal bakal masalah niech ..
    penasaran mode on !!!

  17. woah udah lama ga bca ff shinee, dan skalinya iseng nyari dapet yg keren..
    huah seru dah, tp entah knp aku ga trlalu suka tkoh utamanya pake nama sunny..jd kbayang si sunny snsd..huhu
    tp over all crita ini menarik, apalagi pas baca part 1 nya..
    dan bkin penasaran..
    ^^

  18. jangan2 Serra jadi suka sama Key lagi… Aish~ jadi cinta segitiga dong, ah tapi gapapa tambah seru nanti konfliknya kkkk~~ … Next>>>

  19. Engh, part ini jujur saya agak bingung *lolakambuh

    Tapi secara garis besar saya paham kok. Itu di awal-awal teganya Minho ninggalin Sunny, jahat-jahat gitu dia juga manusia kali bang! Dan di akhir-akhir itu, kenapa Sunny jadi baik gitu? Saya jadi bimbang!

    Ngeliat endingnya yang Serra manggil nama Key, berarti “Between 2 Hearts” itu antara Minho ama Key, gitu? *sotoy

  20. knp sunny tiba2 berubah jdi baik gtu ya??
    bukannya dia ga suka sm serra
    knp serra malah nyebut nama key
    apa sbagian ingatan sunny jg ikut kbawa gra2 operasi jantungnya?
    mkin pnasaran deh

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s