Forbidden Love

FORBIDDEN LOVE

Title                       :

Forbidden Love

Author                  :

Papillon Lynx aka Iyas Meilya (fb: Papillon Lynx)

Main Cast            :

Lee Jinki SHINee aka Lee Jinki, Han Yurra (Reader), Lee Aita (Reader)

Support Cast      :

Kim Jonghyun SHINee aka Kim Jonghyun

Genre                   :

Romance, Sad, Songfic

Length                  :

Oneshoot

Rating                   :

PG – 16

Summary             :

Mengapa cinta ini terlarang? Saat ku yakini kaulah milikku. Mengapa cinta kita tak bisa bersatu? Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu..

Annyeong, Chingu.. Ada yang kangen denganku? Atau malah lupa sama aku? Oke deh, kenalan lagi. Choneun Papillon Lynx imnida. Ini ketiga kalinya aku kirim FF gajeku di SF3SI. Hehe.. Yap. Aku balik lagi bawa ff oneshoot ini. Dan genrenya songfic karena FF ini terinspirasi dari sebuah lagu Indonesia. Mau tau apa? Tebak sendiri ya. 😉 Oh iya, ff ini juga pernah aku publish di blogku dan di FB. Oke, jangan lupa setelah baca like dan comment. Gomawo.. J

Note: kalimat yang dicetak miring adalah kalimat langsung yang diucapkan tokoh dalam hati.

ALL POV IS AUTHOR’S POV

 

@@@

 

Aita masih duduk termenung di kursi meja makannya. Segelas air putih yang masih penuh terlihat di depannya dan berdiri tegap di atas meja makan. Aita menyampirkan rambut panjangnya ke belakang telinganya dan menghembuskan nafas panjang. Ketika ia mencoba melirik ke dinding di samping atas kanannya, jam menunjukkan pukul dua pagi. Aita semakin diliputi rasa khawatir yang dalam. Sampai jam seperti ini, orang terkasih yang ditunggunya belum juga pulang.

TING TONG!

Aita menoleh cepat ke arah pintu apartemen miliknya ketika sebuah suara bel membuyarkan lamunannya. Senyum manis segera menghiasi wajahnya dan dengan berlari-lari kecil, Aita membukakan pintu apartemennya. Aita tahu siapa yang berada di balik pintu itu.

CLEK!

Aita melongo dibuatnya. Orang yang dari tadi ditunggunya terlihat menggigil kedinginan dengan bagian atas kepalanya yang dihiasi butiran-butiran salju.

“Oppa..” gumam Aita dan langsung menarik namja di hadapannya untuk segera masuk. Namja itu melepas syal, sarung tangan dan jaket tebal yang membungkus tubuhnya dan menggatungnya di gantungan dekat pintu. Aita menuju dapur dan membuatkan segelas susu cokelat hangat. Ketika ia membalikkan badannya, Aita terkesiap. Namja itu sudah tertidur dengan pulas di sofa putih berbulu di hadapannya.

Aita meletakkan susu cokelat panas itu di atas meja di depan sofa dan berjongkok di samping tubuh yang tengah terlelap itu. Aita memandang wajah namja itu lekat-lekat dan sebuah senyuman miris menghiasi wajahnya. Kedua matanya mulai basah.

 

                Kau kan slalu tersimpan di hatiku

                Meski ragamu tak dapat kumiliki

                Jiwaku kan selalu bersamamu

                Meski kau tercipta bukan untukku..

“Oppa, apakah hari ini begitu menyenangkan?” gumam Aita seraya menghapus tetesan air mata yang luruh dan membasahi pipi mulusnya. “Bagaimanakah kencanmu hari ini dengan Yurra Eonni, Oppa? Apakah kau senang? Jika iya, aku juga akan senang. Tapi, apa saja yang Jinki Oppa lakukan dengan Yurra Eonni hingga pulang sepagi ini?” Nafas Aita tercekat mendengar gumamannya sendiri.

Untuk beberapa saat, Aita merasa seperti orang bodoh. Namun ia tak bisa menutupi perasaannya sendiri. Jelas sekali ia merasa cemburu dan sakit. Aita akui itu. Namun Aita juga berharap segera terlepas dari lubang dosa yang sangat dalam ini. Lubang dosa yang akan terus membawanya jatuh semakin dalam jika ia tak segera memupuskan rasa kagum yang telah berubah menjadi cinta itu kepada kakak kandungnya sendiri. Lee Jinki. Satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengannya dan selalu bersamanya dan melindunginya semenjak kedua orangtua mereka meninggal.

@@@

 

                Jinki menggeliat perlahan dalam tidurnya. Kedua tangannya reflek ia rentangkan ke atas. Jinki memaksa tubuhnya untuk bangun dari tidurnya. Ia meringis merasakan pegal dan kaku di sekujur tubuh. Setelah melihat ke sekeliling, barulah ia sadar kalau semalaman ia tidur di sofa. Pantas saja badanku rasanya pegal sekali. Batinnya. 

                Untuk beberapa saat, pandangannya mencoba menyapu ke sekelilingnya lagi. Dan ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di atas meja. Jinki tercenung. Segelas susu cokelat yang sudah dingin ada di sana. Aita? Diakah yang.. Astaga! Batin Jinki.

                Jinki langsung mencari sebuah kamar yang sudah sangat ia hafal di luar kepala dimana letaknya. Ia membuka pintu kamar itu dengan cepat dan melihat Aita sedang duduk di depan cermin meja riasnya. Aita sempat terlonjak dan menghentikan aktifitas menyisir rambutnya.

“Oppa..” ucap Aita lirih. Hati Jinki mencelos. Begitu melihat wajah Aita, perasaan bersalah merayapi relung hatinya. Dan ia rasa ia harus meminta maaf secepatnya karena semalam ia pulang sangat terlambat. Jinki yakin, Aita menunggunya sampai ia datang. Ia tahu benar bagaimana sifat dan kebiasaan yeodongsaeng kesayangannya itu. Aita memang selalu menunggunya pulang setiap malam. Entah ia pulang dari bekerja atau.. pulang setelah berkencan dengan Han Yurra, yeojachingunya.

Jinki melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Aita yang masih duduk dan menatapnya dengan bingung. Jinki berdiri tepat di belakang Aita hingga bayangan mereka berdua dapat mereka lihat dengan jelas di cermin. Aita menatap Jinki dari cermin. Begitupula Jinki.

GREP!

Jinki mendekap Aita erat dari belakang. Ia mengalungkan kedua tangannya dan menautkan jari-jarinya di depan leher jenjang Aita. Aita terkesiap dengan perlakuan kakaknya yang tiba-tiba.

“Mianhae..” bisik Jinki tepat di dekat telinga Aita. Aita merasa bulu kuduknya mulai meremang hanya mendengar bisikan Jinki itu. Aita merona. Nafas Jinki yang membentur lehernya lah yang membuatnya seperti itu. “Mianhae, karena telah membuatmu menunggu lama.” Sesal Jinki. Aita tersenyum. Ia sama sekali tidak merasa lelah selama ini selalu menunggu kepulangan Jinki setiap malam. Semua itu ia lakukan dengan tulus.

“Gwenchana, Oppa.” Jinki melepaskan pelukannya dan berjongkok di samping kanan Aita.

“Jeongmal?” tanya Jinki sambil memaksakan kedua mata sipitnya untuk melebar. Aita mengangguk.

“Ne.” Senyum manis langsung menghiasi wajah Jinki. Jinki bangkit berdiri dan mengusap puncak kepala Aita dengan lembut.

“Kalau begitu, kau mau kan menemani Oppa untuk sarapan di luar pagi ini?” Aita mengangguk lagi. “Kkaja! Gomawo. Saranghae, Aita-ah..”

“Na ddo, Oppa.”

@@@

 

                Aita dan Jinki sudah berada di sebuah café kecil yang terletak tak jauh dari daerah apartemen mereka. Jinki memilih tempat duduk di pojok ruangan dekat dinding karena tak seperti biasanya, café kecil itu dipenuhi pelanggan dan hanya tersisa sebuah meja di pojok ruangan. Café itu memang menjadi tempat favorit Jinki dan Aita. Mereka sering pergi sarapan berdua di sana.

Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan mereka dua buah buku menu. Aita dan Jinki menerimanya dan segera memilih pesanan.

“Emm.. Aku pesan sepotong roti sandwich isi cokelat saja. Dan minumnya…” Jinki mendelik.

“Ya! Jangan hanya pesan sandwich. Lihat tubuhmu. Sudah kering kerontang seperti itu, Aita-ah. Cepat tambah pesanannya!” titah Jinki. Aita mendengus kesal menanggapinya. Namun ia juga tak ada pilihan lain selain tak menuruti permintaan sekaligus perintah kakaknya itu. “Kalau begitu, sandwichnya tidak jadi. Aku pesan ayam goreng dan segelas air mineral saja.” Jinki tersenyum. Diam-diam, ia memperhatikan dan terus mendengarkan pembicaraan Aita dengan pelayan di samping mereka dari balik buku menunya.

“Ehem!” Jinki tersadar dengan kelakuannya sendiri dan berdeham untuk menutpi salah tingkahnya. Dalam hati ia merasa aneh dengan perasaan yang terus berkecamuk dalam hatinya ketika ia bersama dengan Aita. Akhir-akhir ini ia merasa gugup hanya dengan memandangi wajah Aita seperti itu. “Aku juga sama. Jadi ayam goreng dan air mineralnya dua ya. Gomawo.” Jinki dan Aita mengembalikan buku menu dan pelayan itu pun pergi setelah mencatat pesanan mereka.

“JINKI OPPA!” Pekik sebuah suara membuat Jinki dan Aita menoleh ke arah sumber suara. Seorang yeoja berambut cokelat terang sebahu melambaikan tangannya dan tersenyum lebar ke arah Jinki. Jinki menautkan kedua alisnya ketika yeoja itu sudah mengambil tempat di samping kiri Jinki. “Tak kusangka kita bertemu di sini.” Kata yeoja itu lagi.

“Chagiya..” gumam Jinki. Jinki menoleh ke samping kanannya dan melihat Aita dengan kepala menunduk. Jinki merasa sedih melihat Aita seperti itu. Jinki tahu persis apa yang dirasakan Aita sekarang.

“Oh, ada Aita juga. Annyeong, Aita-ah!” sapa Yurra dengan senyuman khasnya. Aita hanya mengangguk dan memaksakan seulas senyum di bibirnya. “Oppa pesan apa?” pertanyaan Yurra membuat Jinki terpaksa memfokuskan pandangannya kembali pada Yurra.

“Ah, ne? Ooh.. Biasa. Ayam goreng. Hehehe..” Jinki menutup kalimat jawabannya dengan mencoba tertawa di hadapan Yurra. Ia senang bisa bertemu dengan Yurra di tempat ini. Namun ia juga tak suka melihat Aita yang terlihat tersakiti karena kemesraannya dengan Yurra.

SRET!

Yurra menggamit lengan tangan kanan Jinki mesra dan bersender di bahu kokoh namja itu. Jinki kaget dengan sikap manja Yurra yang tiba-tiba. Sebelumnya dan selama ia dekat dengan Yurra, Yurra tak pernah bersikap seperti ini dengannya. Jinki akui ia merasa risih dengan perubahan sifat Yurra namun ia juga merasa senang melihat Yurra yang bersikap manis kepadanya.

Pesanan Jinki dan Aita pun datang. Yurra langsung mengambil sendok untuk menyuapi Jinki. Jinki menerima suapan dari Yurra dengan senang hati dan tersenyum. Namun ia sadar, ada seorang lagi di dekatnya yang tidak boleh ia lupakan keberadaannya. Jinki menoleh pada Aita dan melihat Aita belum menyentuh makanannya sama sekali. Reflek, tangan kiri Jinki menyentuh tangan kanan Aita dan mengelusnya perlahan. Aita mendongak dan kedua mata mereka bertemu. Jinki tersenyum dan menggerakkan bibirnya seolah ia berkata ‘saranghae’. Aita tersenyum dan mulai menyantap makanannya. Jinki kembali sibuk menerima suapan dari Yurra lagi meskipun tangannya sekaramg sudah merangkul pinggang Aita mesra tanpa sepengetahuan Yurra.

@@@

 

                DRRT.. DRRT..

“Yeobsseoyo, Chagiya?” sapa Jinki pada peneleponnya begitu ponselnya bergetar di atas meja menandakan ada sebuah panggilan masuk. Jinki memandang lurus ke arah televisi di hadapannya dan satu tangannya yang lain sibuk menekan-nekan tombol di remote televisinya, mengganti channel yang bisa menarik perhatiannya. Aita yang sedang menikmati biskuit di sampingnya menoleh cepat.

“Oppa.. UHUK!” Jinki kaget mendengar Yurra terbatuk di seberang sana. Reflek, Jinki menegakkan tubuhnya yang semula bersender di sofa.

“Yurra-ah, Yurra-ah.. Gwenchana??” tanya Jinki cepat. Aita yang mendengar ada nada kekhawatiran yang terselip di suara Jinki juga ikut merasa khawatir.

“Oppa.. Kemarilah.. Aku.. Aku.. UHUK!”

“Cepat katakan padaku! Kau kenapa?!” seru Jinki dengan setengah berteriak. Bukan karena Jinki marah, namun karena ia sungguh mengkhawatirkan keadaan Yurra.

“Oppa.. Penyakitku kambuh..”

DEGH!

“Tunggu aku!” Jinki langsung mematikan teleponnya dan melesat ke dalam kamar mencari jaket tebal musim dinginnya. Ia keluar kamar dengan langkah tergesa-gesa.

“Oppa!” panggil Aita membuat langkah Jinki tertahan. Jinki lupa kalau ia sedang bersama Aita sekarang.” Jinki membalikkan tubuhnya. Jinki tercenung melihat Aita sudah mengenakan sarung tangan dan mantel bulunya.

“Aku ikut bersamamu.”

@@@

 

                BRAK!!

“Astaga, Yurra-ah!!” pekik Jinki begitu membuka pintu kamar Yurra dengan kasar. Ia melihat Yurra tengah merebah di atas tempat tidurnya dengan posisi telentang dan bagian kepala menggantung di pinggiran kasur. Yurra terpejam dan cairan merah pekat terlihat masih basah  menghiasi sekitar  lubang hidungnya. Jinki segera membenarkan posisi tidur Yurra dibantu oleh Aita. Aita berinisiatif mencari obat yang sekiranya bisa mengobati sakit vertigo Yurra di dalam kotak P3K yang untung saja tergeletak manis di atas meja rias Yurra. Sedangkan Jinki sibuk menepuk-nepuk kedua pipi Aita mencoba membangunkan Yurra dan mengelap darah di sekitar hidung kekasihnya dengan ujung kaosnya. “Chagiya! Jebal, irreonna. Irreonna..” pinta Jinki. Mata Jinki mulai berair. Namun sebagai seorang namja, ia tak ingin memperlihatkan tangisnya.

“Ini obatnya, Oppa.” Aita segera menyodorkan setablet obat pada Jinki dan dengan bantuan Aita, Jinki memposisikan tubuh Yurra untuk duduk. Jinki meminumkan Yurra obat itu dan Aita memberikan segelas air mineral yang sudah terletak di atas meja dekat tempat tidur Yurra. Jinki merebahkan tubuh Yurra dan juga tubuhnya di samping tubuh tak berdaya Yurra. Jinki menarik tubuh Yurra hingga kepalanya menempel di dadanya. “Chagiya, cepatlah bangun. Cepatlah sembuh. Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku..” racau Jinki sambil mulai terlelap.

DEGH! NYUUT..

Aita yang melihat pemandangan di hadapannya seketika merasa hatinya mencelos dan terasa nyeri. Sontak, ia meringis menahan sakit dengan satu tangannya yang memegangi dada kirinya. Ia menangis dalam diam. Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Namun ia tak bisa. Kakinya terasa lemas dan yang ia lakukan sekarang justru ikut merebahkan dirinya di samping kanan tubuh Yurra. Aita masih terisak meskipun sangat lirih bahkan suara isakannya nyaris tak terdengar.

 

                Tuhan  berikan aku hidup satu kali lagi               

                Hanya  untuk  bersamanya

                Ku mencintainya

                Sungguh mencintainya…

Setetes cairan bening muncul dari sudut kedua mata Jinki. Jinki mengerjapkan kedua matanya. Dalam waktu yang singkat, ia merasa terbawa ke alam mimpi. Rasa khawatirnya melihat keadaan Yurra membuat tenaga Jinki terkuras. Sesaat Jinki tersenyum melihat wajah damai Yurra yang masih berada dalam dekapannya. Namun kedua matanya terbelalak melihat Aita itelah merebahkan tubuhnya di samping Yurra. Jinki tahu persis Aita tak tidur meski ia melihat kedua kelopak mata yeodongsaengnya itu terkatup dan terlihat sembab. Lagi-lagi ia merasa bersalah. Jinki memandang wajah sedih Aita dengan miris.

Tiba-tiba, tangan kirinya yang menjadi tumpuan tidur Yurra dengan perlahan menyentuh puncak kepala Aita dan mengusapnya. Aita membuka matanya dan melihat Jinki tengah menatapnya dan melempar sebuah senyuman.

“Aku juga sangat mencintaimu, Aita-ah..” kata Jinki lirih sekali. Namun Aita dapat mendengarnya dengan jelas.

“Saranghae yeongwonhi, Oppa..” balas Aita dengan lirih juga. Jinki mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Begitupula dengan Aita.

@@@

 

                Pagi hari yang cerah sebagai awal yang baru untuk kehidupan Aita. Hari ini, Aita resmi mulai menjalani hari-harinya menjadi seorang mahasiswa setelah dua minggu yang lalu menghabiskan waktu liburan dalam rangka kelulusannya sebagai seorang pelajar SHS dari Nishi High School. Aita tersenyum lebar ketika mematut dirinya di depan cermin dengan menggunakan pakaian bebas, bukan lagi seragam seperti sebelumnya. Sebentar lagi, Aita harus segera  berangkat karena ia mendapat jam pagi untuk kuliahnya. Aita memadukan sebuah kemeja lengan tiga perempat berwarn biru langit dipadu dengan celana panjang berwarna putih dan sebuah ikat pinggang cokelat bertengger di pinggangnya. Hal itu membuat Jinki yang juga sudah siap akan berangkat bekerja mematung untuk beberapa saat begitu melihat Aita keluar dari kamarnya dengan penampilan yang tidak biasa. Aita terlihat lebih elegan dan dewasa. Nomu yeppo.. Batin Jinki dengan mulut terperangah.

“Apa aku terlihat aneh?” tanya Aita begitu menyadari tatapan Jinki yang terus memperhatikan penampilannya. Jinki hanya menggeleng dengan tempo yang sangat lambat. Hal itu membuat Aita tak bisa menahan tawanya. “Kkaja, Oppa. Kita berangkat sekarang. Kau sudah sarapan kan?” tanya Aita lagi mengalihkan topik. Mendengar pertanyaan Aita, Jinki langsung menggelengkan kepalanya cepat mencoba mengusir lamunannya tadi.

“Ne. Hajiman, bagaimana dengan kau?” Baru saja Jinki selesai bertanya, ia melihat Aita meneguk habis susu putihnya dan mencomot (?) sebuah roti sandwich berselai kacang dari atas meja makan. Jinki tersenyum dan menggandeng tangan Aita keluar dari apartemen mereka.

Ketika di perjalanan menuju kampus Aita, Jinki mengurangi kecepatan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket. Aita heran melihat Jinki yang memintanya untuk menunggu di dalam mobil saja. Namja itu pun setengah berlari masuk ke dalam mini market. Untuk apa Jinki Oppa ke minimarket? Bukankah kita sudah sarapan? Batin Aita.

Karena tak mau bosan menunggu, Aita iseng mengamati setiap sudut dasbor mobil oppanya itu. Ia tersenyum ketika melihat sebuah frame foto kecil yang memajang foto mereka berdua dan tampak mereka sedang menjilat sebuah eskrim bersamaan. Tanpa sadar, Aita mengusap perlahan frame foto itu. Namun ketika ia melihat ke samping, sebuah foto dengan frame kecil juga membuat hatinya sakit. Itu foto Jinki bersama dengan Yurra. Di dalam foto itu terlihat Jinki sedang mengecup kening Yurra dan mereka terlihat bahagia. Aita mencoba membuang perasaan sedihnya dan membuka laci di hadapannya.

Ia melihat sebuah kotak cincin berbentuk bintang dan berwarna biru ada di sana. Ketika ia membukanya, sebuah cincin perak terletak di dalamnya.

NYUUT..

 

                Rasa ini sungguh tak wajar

                Namun ku ingin tetap bersama dia                             

                Ku mencintainya…

“Apakah aku salah jika aku mencintai Oppaku sendiri?” gumam Aita. Namun kali ini ia tak mau menangis karena ia melihat sosok Jinki sudah berjalan mendekat dan masuk ke dalam mobil. Aita segera mengalihkan rasa sedihnya dengan memperhatikan Jinki yang membawa sebuah bungkusan sedang berisi biskuit.

“Untukmu.” Kata Jinki seraya menyerahkan sebungkus biskuit-biskuit itu pada Aita. Aita hanya bisa melongo dan tidak bisa menolak. Di detik kemudian, ia tersenyum. Ia memeluk bungkusan biskuit itu dengan erat ketika Jinki mulai melajukan mobilnya lagi.

@@@

 

                BRUKK!!

“Auuw!!” ringis Aita ketika seorang namja berlari dan menabrak tubuhnya dari belakang. Karena terlalu keras, hampir saa Aita oleng ke samping. Namun Aita segera menahan tubuhnya sendiri. Namja itu menghentikan larinya dan menghampiri Aita.

“Jeosonghamnida..” namja itu membungkuk beberapa kali. “Apayo?” tanya namja itu ketika melihat Aita masih memperhatikan lengannya yang sakit. Namja itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat wajah Aita yang tertutupi rambut panjangnya. Aita mengalihkan tatapannya dan melihat sesosok namja berambut kecokelatan memandanginya tanpa berkedip.

1 detik, 2 detik, 3 detik… 10 detik.

Aita mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah namja itu. Seketika, namja itu tersadar dari aktifitas melamnnya. Lebuh tepat aktifitas memandangi wajah cantik Aita.

“Ah, maaf. Kau tak apa?” tanya namja itu seraya menyentuh lengan Aita yang ia tabrak tadi. Aita menarik dirinya, tak membiarkan namja asing di hadapannya menyentuhnya seenaknya meskipun ia sudah memaafkannya.

“Gwenchana.” Ujar Aita singkat lalu Aita membungkuk dan meninggalkan namja itu yang mematung memandangi kepergiannya. Sesaat setelahnya, namja itu tersenyum.

“Manis..” gumamnya.

@@@

 

                Jinki berada di apartemennya bersama Yurra ketika malam tiba. Mereka duduk berdua di sofa sambil menonton film klasik yang menjadi kesukaan Jinki. Meskipun sejujurnya Yurra merasa bosan dan tidak tertarik, namun kehadiran Jinki mampu menahannya tinggal berlama-lama bersama Jinki sekarang.

Jinki merangkulkan tangan kirinya di bahu Yurra. Jinki terlihat serius menonton film di depannya. Sedangkan Yurra?? Ia malah serius menonton wajah Jinki yang menurutnya sangat.. tampan. Merasa diperhatikan, Jinki pun menoleh.

“Wae? Setampan itukah aku?” goda Jinki sambil menyipitkan matanya dan tersenyum seduktif. Yurra merengut sebal dan meninju pelan dada Jinki. Jinki pura-pura kesakitan, namun Yurra membiarkannya.

“Ah iya, dimana Aita?” tanya Yurra ketika ia sadar hanya ada mereka berdua di apartemen itu.

“Oh.. Aita akan pulang agak malam. Ada tugas di kampusnya yang harus ia selesaikan bersama teman sekelompoknya. Dan katanya deadline tugasnya besok.” Jawab Jinki sekenanya. Yurra hanya mengangguk tanda mengerti. Yurra setengah bangkit dari duduknya dan hendak mengambil setoples makanan ringan yang ada di atas meja di depannya. Namun ketika tangan kanannya terulur, Jinki menahan tangannya dan menyematkan sesuatu di jari manis kanannya yang sukses membuat Yurra meneteskan air mata haru. Ia menatap kedua mata Jinki seolah tak percaya. Rasa senang, haru dan bingung bercampur menjadi satu membuatnya tak sanggup untuk berkata-kata. Jinki hanya tersenyum.

“Saranghae.. Will you marry me, Chagiya?” Yurra menutup mulutnya dengan satu tangannya. Air mata harunya menetes lagi ketika ia melihat dengan jelas cincin perak yang baru Jinki sematkan di jari manis kanannya.

“Jinki-ah.. Ini.. Ini..” Jinki menempelkan jari telunjuknya di bibir Yurra.

“Ssst.. Kau hanya perlu menjawab bersedia atau tidak, Chagiya.” Jinki tersenyum lagi. Senyuman tulus yang selalu bisa membuat Yurra meleleh dibuatnya. Sekali lagi Yurra memandang cincin indah itu.

“Ne. Aku bersedia, Jinki-ah..” jawab Yurra. Jinki tersenyum lebar dan merengkuh Yurra ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat Jinki merasa bahagia lamarannya diterima oleh Yurra, namun sekelebat bayangan wajah Aita menghampiri benaknya. Senyumnya memudar. Ia tahu ia akan sangat menyakiti Aita karena ini. Namun ia sadar, cinta yang terjalin antara dia dan adik kandungnya sendiri tidaklah pantas dan terlarang bagi mereka. Cinta yang ada di antara mereka tak hanya cinta antara kakak terhadap adiknya, melainkan lebih dari itu. Dan meskipun sulit, Jinki ingin segera mengakhirinya sebelum cinta mereka semakin rumit. Karena sampai kapanpun, hubungan darah di antara mereka tak dapat dihilangkan. Dan terlebih lagi, ia juga mencintai Yurra. Sama cintanya dengan Aita.

@@@

 

                Aita mendengus kesal untuk ke sekian kalinya. Ia merasa sangat-sangat sial hari ini. Bagaimana tidak? Berjam-berjam ia harus duduk bersebelahan dengan seorang namja yang menurutnya sangat menyebalkan. Dia adalah Jonghyun. Ya, namja yang tadi pagi menabraknya. Dan kenapa Aita bisa sangat tidak menyukai namja yang satu itu karena namja iseng itu menjadi teman satu kelompoknya dalam mengerjakan tugas kuliah. Kenapa bisa seperti itu? Ya, karena Jinki satu kampus, satu jurusan dan satu kelas dengannya. Jonghyun sama-sama mengambil kelas pagi untuk jurusan desain, sama seperti Aita.

“Hei.. Kenapa melamun saja?” Jonghyun menyenggol lengan Aita dengan sikunya. Aita melirik Jonghyun sebal. Aita tidak menyukai Jonghyun. Tapi bukan berarti benci. Ia tidak menyukainya karena selama di kelas tadi Jonghyun sibuk merayu teman-teman perempuan di kelas mereka.

“Tugas yang harus aku kerjakan kan sudah selesai aku kerjakan. Giliran tugasmu yang belum selesai. Ppali, aku tak betah lama-lama di sini denganmu.” Ucap Aita sarkatis. Jonghyun terkekeh seraya sibuk menulis tugasnya.

“Mwo? Baru pernah ada seorang yeoja yang menolak berdekatan denganku. Apa itu artinya kau tak tahan dengan pesonaku?” goda Jonghyun tanpa menatap Aita.

“Ya! Jangan kepedean! Untuk apa aku melirik namja lain? Aku sudah memiliki namjachingu yang sangat tampan dan perhatian. Dibandingmu tentu jauh sekali. Kau jauh di bawahnya.” Jonghyun kaget dan menoleh cepat. Namjachingu? Jadi Aita.. Batin Jonghyun. Entah kenapa terselip perasaan kecewa di hatinya. Jonghyun diam. Namun Aita menganggap Jonghyun kalah telak dengannya. Aita tersenyum penuh kemenangan.

“Joa. Kalau begitu, aku ingin melihat namjachingumu itu sekarang juga. Minta dia untuk datang menjemputmu. Jika dia memang perhatian, pasti dia takkan menolak permintaanmu untuk menjemputmu.” Tantang Jonghyun. Aita menatap tajam Jonghyun dan langsung meraih ponselnya dari dalam saku kemejanya.

“Oppa..” kata Aita begitu teleponnya tersambung dengan seseorang di sana. Jonghyun tercenung melihat Aita menerima tantangannya semudah itu dan terlihat sangat serius. Jonghyun merasa sedih. Pikirannya terlalu dangkal hingga ia menantang Aita seperti itu. Bagaimana jika dia benar-benar datang dan menjemput Aita? Hhh.. Rasanya aku takut sakit hati jika melihat Aita dengannya nanti. Jonghyun mulai tidak bisa berkonsentrasi dengan tugasnya.

“Jincca? Ah ne! Aku tunggu, Oppa. Gomawo.”

PIPP!

“Jonghyun-ssi, aku pasti bisa mengalahkan tantanganmu!” Jonghyun hanya menatap Aita dengan sendu. Namun Aita tak menyadari tatapan itu justru terlihat bahagia dengan pikirannya sendiri.

@@@

“Oppa!” panggil Aita sambil berlari menghampiri Jinki yang baru keluar dari dalam mobil. Aita langsung memeluk Jinki membuat Jonghyun yang berjalan perlahan di belakangnya membuang pandangannya. Jinki melepas pelukan Aita dan mengusap puncak kepala Aita. Baru kemudian ia sadar ada seseorang berjalan ke arah mereka dan menatapnya dengan ekspresi datar.

“Ah.. Kau teman satu kelompoknya Aita kan? Jeongmal gomawo ne, mau menemani Aita sampai larut malam seperti ini mengerjakan tugas.” Jinki membungkuk di depan Jonghyun.

“Tak masalah.” Jawab Jonghyun acuh membuat Aita mendelik kesal padanya. Namun Jonghyun tak mempedulikannya. “Jadi dia ini adalah..” Jonghyun menunjuk Jinki dan menggantungkan kalimatnya pada Aita.

“Maja. Jinki Oppa adalah-“

“Chagiya!” sebuah suara seorang yeoja terdengar dan muncul sosok Yurra dari dalam mobil Jinki. Aita begitu terkejut melihat kehadiran Yurra di tempat itu. Jonghyun menautkan alisnya ketika melihat sosok baru itu menghampiri Jinki dan menggamit lengan kiri Jinki dengan mesra. Aita yang berdiri di samping kanan Jinki melihat sesuatu yang melingkar manis di jari manis tangan kanan Yurra yang berada di lengan kakaknya itu. Dan hal itu juga yang membuat Jonghyun menatap Aita dengan tatapan bertanya.

“Aita-ah, lihat ini.” Yurra memperlihatkan cincin itu pada Aita. “Oppamu sudah melamarku. Dan enam bulan lagi kita akan menikah.”

JDEERR!!

Hati Aita seolah remuk mendengar pernyataan Yurra padanya. Aita terperangah dan air mata di mata indahnya mulai menggunung. Yurra tersenyum melihat Aita menangis. Yurra tak sadar kalau tangisan itu bukan tangisan turut bahagia dan haru, namun tangisan kesedihan dan sakit hati Aita pada Jinki. Aita menatap Jinki tak percaya namun Jinki hanya bisa membalas tatapannya dengan kedua matanya yang seolah berkata –maafkan-aku-

 

                Mengapa cinta ini terlarang

                Saat  kuyakini kau lah malikku

                Mengapa cinta kita tak dapat bersatu

                Saat kuyakin tak ada cinta selain dirimu…

Jonghyun menangkap sesuatu yang tidak seperti ia duga sebelumnya sedang terjadi saat ini. Ia merasa namja di hadapannya ini bukanlah kekasih Aita. Tapi kenapa Aita mengakuinya sebagai namjachingunya? Dan kenapa yeoja ini berkata kalau mereka akan menikah? Mana yang benar? Situasi apa ini?! Batin Jonghyun mulai kesal. Ia juga tak tega melihat yeoja yang ditaksirnya menangis dan ia yakin tangis itu bukan tangis kebahagiaan setelah mendengar Jinki dan Yurra akan menikah.

“Jonghyun Oppa..” Jonghyun membelalakan kedua matanya mendengar Aita memanggilnya dengan sebutan oppa. Padahal belum lama tadi               , Aita memanggilnya dengan embel-embel “-ssi”. “Antarkan aku pulang, Oppa. Aku tak ingin mengganggu Jinki Oppa dan Yurra Eonni.” Sontak Jinki, Yurra dan Jonghyun tertegun. Suasana hening.

“Aita-ah, kau pulang saja dengan kami. Aku tidak apa-apa. Lagipula, sekalian Jinki mengantarkanku pulang.” Kata Yurra mencoba membujuk Aita. Namun Aita menggeleng  dan memaksakan sebuah senyum.

“Aniyo. Aku akan pulang dengan Jonghyun Oppa saja.” Jonghyun tersentak. “Kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih.” Jonghyun menganga lebar. Sedangkan Jinki hanya diam saja menatap Aita yang sekarang tak mau menatapnya.

“Jeongmalyo?? Whoaa.. Chukkaeyo, Aita-ah!” Yurra terlihat senang.

“Jonghyun Oppa..”

“Ah, n-ne?” Jonghyun tergagap.

“Kkaja, bukankah tadi kau bilang ingin mengajakku ke suatu tempat?” Aita menghapus sisa-sisa air mata di sekitar matanya.

“Mwo?!” kaget Jonghyun. “Ah, ne ne. Kkaja!” Jonghyun segera menggandeng tangan Aita dan meninggalkan Yurra dan Jinki.

“Pasangan yang aneh. Tapi lucu. Iya kan, Chagiya?” tanya Yurra dengan senyuman khasnya.

“Ne.” Jinki masih memandangi punggung Aita yang semakin menjauh dengan nanar. Mianhae, Aita-ah.. Jeongmal  mianhae.. Batin Jinki.

@@@

Enam bulan kemudian…              

“Chagiya.. Neo gwenchana?” tanya Jonghyun sambil menghapus air mata di pipi Aita dengan ibu jarinya. Aita tersenyum. Ia mengalihkan tatapannya ke depan, menyaksikan kembali pemberkatan pernikahan Jinki dan Yurra. Dulu, ia pernah berangan akan berdiri berdampingan di atas altar bersama Jinki. Meskipun itu sangat tidak mungkin.

                Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi

                Hanya untuk bersamanya

                Ku mencintainya

                Sungguh mencintainya…

Jonghyun memandangi wajah Aita dengan miris. Meskipun  sejak peristiwa di malam enam bulan yang lalu mereka memutuskan untuk berpacaran, namun ia tahu sampai sekarang Aita masih menyimpan perasannya untuk Jinki. Dan Jonghyun juga tidak lupa, malam itu Aita meminta dirinya untuk  menjadi kekasih pura-puranya setelah Aita menceritakan semuanya. Tentang ia dan Jinki juga hubungan mereka yang tidak wajar. Saat itu tentu Jonghyun sangat syok mendengarnya. Namun ia tetap mengiyakan permintaan Aita untuk menjadi kekasihnya. Bukan  karena kasihan tapi cinta.

“Anni. Jangan terlalu mencemaskan aku, Oppa. Antara aku dan Jinki Oppa sudah tak ada apa-apa lagi. Kau ingat kan? Justru aku yang sangat mendukung pernikahan mereka.” Jawab Aita sambil tersenyum.

“Kau tak bisa berbohong, Aita-ah. Kau masih  merasa sakit kan?” Aita menggeleng. Jonghyun masih memandangnya dengan khawatir.

“Sudahlah, Oppa. Ini adalah yang terbaik untuk kita semua.” Kata Aita berusaha bijak dan menepis rasa cintanya pada Jinki. “Aku yakin Yurra Eonni bisa membahagiakan Jinki Oppa. Aku dan Jinki Oppa hanya berjodoh menjadi kakak dan adik kandung saja. Sudahlah..” Jonghyun melihat Aita tersenyum. Jonghyun rasa Aita sangat serius dengan perkatannya. Jonghyun pun membalas senyuman Aita dan mengusap pipinya.

“Ne. Kau pasti bisa. Ada aku di sini, Chagiya. Kau masih menganggapku sebagai namjachingumu meskipun Jinki dan Yurra sudah menikah kan??” Aita menggenggam tangan Jonghyun dengan kedua tangannya dan meremasnya perlahan.

“Aniyo, Oppa. Sebenarnya sejak aku meminta Oppa menjadi kekasihku di malam itu, aku sudah mulai membuka hati untukmu.” Jonghyun tersenyum lebar. Rasa senangnya membuncah.

“Apakah kau, Lee Jinki, bersedia menikah dengan Han Yurra, menjalani hidup dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kalian?” terdengar suara pendeta bertanya pada Jinki dan memenuhi ruangan gereja kecil itu. Dari bangku, Aita dan Jonghyun memandang punggung Jinki dan Yurra di depan  altar. Aita melihat dengan jelas wajah namja yang selama ini memenuhi hatinya itu menoleh pada Yurra dan mereka berpandangan dengan senyum merekah di bibir mereka. Aita tersenyum tulus mengikhlaskannya.

“Ne. Aku bersedia.” Jawab Jinki mantap. Pertanyaan  yang sama juga dilontarkan oleh pendeta pada Yurra dan Yurra menjawabnya dengan ceria, membuat para undangan terkekeh geli melihat mempelai wanita terlihat sangat bersemangat dengan pernikahan itu. Aita dan Jonghyun pun ikut tertawa.

Upacara pernikahan Jinki dan Yurra telah selesai. Kini tiba waktunya sepasang suami-istri baru itu melempar sebuket bunga pada para undangan yang terdiri dari muda-mudi yang pastinya belum  menikah. Ketika Jinki dan Yurra melemparkan buket bunga itu tak diduga seorang namja dan seorang yeoja menangkap buket bunga itu bersamaan. Mereka kaget dan saling pandang.

“Hei kalian!” Jonghyun dan Aita menoleh. “Menikahlah secepatnya. Susul lah kami!” seru Yurra ketika  berbalik dan melihat Jonghyun dan Aita lah yang menangkap buket bunga miliknya. Jinki tersenyum melihat Aita yang juga  tersenyum malu menanggapi  godaan Yurra. Jonghyun juga.

“Ne. Aku akan segera melamarnya setelah kami diwisuda.” Jawab Jonghyun gamblang dan sedetik kemudian ia menarik dan mengecup pipi Aita yang merona.

 

                Rasa ini sungguh tak wajar

                Namun ku ingin tetap bersama dia

                Untuk selamanya…

 

Aita-ah.. Berbahagialah dengan Jonghyun. Aku  yakin dia sangat mencintaimu dan kau akan bahagia jika bersamanya. Tapi harus kau tahu, selamanya cintaku padamu takkan pudar. Entah itu cinta sebagai saudara atau sebagai kekasih. Aku akan terus mencintaimu. Kau memiliki tempat tersendiri di hatiku. Namun biarlah aku bersama Yurra dan mencintainya juga. Karena kita sudah ditakdirkan sebagai kakak dan adik oleh Tuhan. Aku berharap kau bisa mencintai Jonghyun sama seperti kau mencintai aku. Batin Jinki sambil memandang Aita yang sedang berlarian mengejar Jonghyun. Sedetik kemudian, Jinki menyunggingkan sebuah senyuman.

THE END

 

Gimana? Ada yang nangis? Siapa yang pilih jadi Yurra? Atau mau jadi Aita aja? Hehe.. Semoga tidak karena ff ini menurutku kurang berasa sedihnya. Hehe.. Terus buat yang ngga suka sama lagunya, jangan bash ya. Dan kalau ada typo tolong dimaklumi. Hehe.. Ya udah gomawo buar readers yang mau baca. Jangan lupa comment.. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

34 thoughts on “Forbidden Love”

  1. Ahh.. Feel-nya dapet.. Walaupun aku ga sampe nangis sch.. Tpi bkin suasana hatiku yg memang lgi kacau jadi smakin kacau..
    Good FF, chingu..

    1. Jeongmalyo? Pada au kira ngga ada sedih-sedihnya. Hehe.. Waduh, makin kacau yah? Haha.. Thanks ya. 🙂

  2. Ehem, aku maunya dapetin dua-duanya thor. jadi aku mau jadi yurra sama aita! #plaakk
    Lucuuuu pas Aita ngejar Jjong terakhirnya, pasti karena Jjong seenaknya nyium pipi Aita tuh! keren thor! daebak! ^^

    1. Hahaha.. Saya juga mau jadi Aita n’ Yurra ah.. #plak! author rakus!
      Hehe.. Iya, kejar-kejaran kaya kucing dan anjing (?)
      Oke, thanks udah baca dan comment ya.. 🙂

    1. Waduh jangan-jangan itu bukan karena baca ff ini tapi karena ada makhluk astral yang temenin kamu. Hiii.. Bercanda. 😉 Thanks udah baca dan comment, Chingu. ^^

  3. Daebak thor!..jdi diri Aita tuh sedih banget ya kayakx walaupun di ending nya aita nya bahagia,good FF..trus berkarya..

  4. Wktu pertama kli liat judul n summary-nya udh dpet firasat klo cinta mreka terlarang krna mreka brsodara.Emang sih,nyesek bnget klo punya prasaan bgitu ke kakaknya sndiri*yg sabar ya,aita*Untungnya jjong muncul ke khidupn aita,klo engga?bunuh diri kli ya tu orang/ppplaaakkakaka(?).Feelnya sungguh menggoyak2 hatiku.Hampir ngeluarin aermata wktu bgian akhirnya,tpi ga jdi.
    “kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih”jonghyun mengaga lebar-.suer langsung kesedek ludah pas bagian itu.Lagi galau2nya langsung aja ktawa ngebayangin ekspresi jjong…hahaha.
    Good job untuk author.

    1. Hehe.. Iya. #garuk-garuk kepala
      Emang dari judulnya aja udah bisa ditebak. Tapi semoga alur ceritanya ngga terlalu pasaran dan masih bisa menghibur ya.. 🙂
      Haha.. Di situ Jonghyun emang agak cengo. Wkwkwk..
      Tengkyu udah baca dan kasih komentar ^_^

  5. Yurra-nya itu Hyoyeon SNSD bukan?
    Aita-nya pemain ‘City Hunter’? Goo Ahra? Ah, lupa…

    FFnya baguuusss…
    Sorry garing bgt comment-nya

    1. Iya. Yurra pake gambarnya Hyoyeon SNSD.
      Bukan. Yan jadi Aita pake gambarnya Park Minyoung. Tapi bener dia pemain di City Hunter kok.

      Makasih ya..
      Gwenchana. 🙂

    1. Waduh, cup cup cup.. Uljimayo.. 😀
      Halah.. Milih yang langsung nikah. Oke deh, gwenchana..
      Yap. Thanks! 🙂

  6. Dapet feelna.. tapi kenapa gak bkin si Aita mati aj.. bunuh diri gitu..biar Jinkina jg ikutan gila.. hahahit sih mau gue.. bagus kok. Kesel sama Jinki! Aku jd ikutan emosi.. coba aita mati, pst dehh aku nangiss.. kata2na daebak, aku sukaaaa

    1. Waduh, kalau Aita dibikin mati ntar jadi ff thriller donk. Hehe.. Terlalu kejam kayaknya.
      Haha.. Jinki di sini agak gimana gitu ya.. AKu bikin agak beda dari karakter dia di ff ff lain yan biasanya setia pada satu cewe.

      Thanks udah mau baca dan kasih apresiasi ya. ^^

  7. aku nangiiiissss 😦
    aku mau jadi aita aja lah..
    punya oppa macam jinki dan punya namjachingu sekaligus calon nampyeon macam jonghyun..
    dua kebahagiaan sekaligus right ??

    nice FF..
    jalan ceritanya juga aku suka, happy ending 😀

  8. Gila thor sdih bgt, feel’a dpt, pkonya ff ini daebak! ^^b
    Di tnggu ya ffmu slanjut’a 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s