The Silent Touch of Marriage copy

The Silent Touch of Marriage – Part 5a

The Silent Touch of Marriage – Part 5a

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Main Cast:

  • Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))
  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum (Key)
  • Kim Yong Sang

Beta reader: Tulasi Krisna Maharani

Support cast:

  • Other SHINee members
  • Kim Hyunri
  • Tuan Lee
  • Nyonya Lee

Length: Sequel

Genre: Family, friendship, romance, sad

Rating: PG-16

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are Gods’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

***

Ada yang nanya nih kenapa part ini 5a bukannya 5? Gini nih, di part 5 aku ungkap flashback Jonghyun dan Hyora. Di part ini aku ungkap punya Hyora dulu. Bagian Jonghyun ada di part 5b.

Maaf ya nungguinnya lama. Maaf juga kalau part ini banyak typo atau feelnya kurang. Seperti biasa, aku ngerjainnya ngebut. Sehari jadi, karena waktu luangku cuma sedikit. Maafkan author yang tidak becus ini, readers (T.T)

***

Kibum mengutak-atik pulpen yang terselip diantara jemari tangan kanannya. Benda bertinta hitam itu tak urung mendapatkan perintah untuk melakukan kewajibannya pada tumpukan kertas putih dihadapannya. Ia seolah menjadi pelampiasan atas kegusaran pikiran tuannya.

Kibum menarik nafas panjang. Pandangannya mulai menerawang ke sudut langit-langit. Alasan yang menjadikannya sebagai manager yang tidak profesional untuk hari ini adalah kontrol emosinya. Kejadian di depan perusahaan semalam membuat akal sehatnya dipertanyakan. Serendah itukah derajatnya sekarang? Ia tahu, Kim Hyora wanita yang sudah bersuami, bahkan telah memiliki seorang putri yang hingga saat ini hanya ia ketahui namanya, Kim Yong Sang.

Tidak, pemikirannya tentang hanya mengenal nama Yong Sang salah besar. Sepasang mata bulat yang menatapnya tajam dari balik kaca mobil Jonghyun semalam adalah jawabannya. Meski tak melihatnya secara jelas, ia yakin itu adalah makhluk kecil yang hampir sempurna menghancurkan jalannya untuk mendapatkan Hyora kembali. Tatapannya melebihi kebencian dan kekecewaan Jonghyun. Bagaimana jika suatu hari ia dihadapkan pada gadis kecil bermata elang itu? Apakah jalannya akan hancur sepenuhnya? Entah, ia sama sekali tak berani menerka.

“Kenapa masih ada di sini? Kau tak makan siang?” sesosok makhluk berambut sebahu muncul dari balik pintu. Gadis itu memperlihatkan mimik heran sambil melangkahkan kakinya pelan ke arah Kibum.

“Aku tak berselera, Hyunri-ya.” ucap Kibum pelan. Sekilas ia menatap mata Hyunri lalu kebali beralih mengutak-atik pulpennya.

“Masih memikirkan kejadian semalam?” tebak Hyunri sembari mengambil posisi duduk di hadapan Kibum.

“Kau tentu tahu jawabannya melebihi aku,” Kibum kembali menatap Hyunri. Selain Hyora dan ibunya, Hyunri adalah orang yang mengenal dia melebihi dirinya sendiri. Layaknya malaikat penjaga, yeoja itu selalu aja tiap kali ia menemui masalah.

“Seandainya aku jadi kau, aku juga akan melakukan hal yang sama,” papar Hyunri datar. “Kau memang pejuang cinta yang keras kepala.”

Ucapan Hyunri tentang pejuang cinta membuat Kibum menatapnya dengan kedua alis mengernyit. Tumben Hyunri tak menunjukkan sikap kesalnya kala ia ada di dekat Hyora. Bukan terlalu percaya diri atau menganggap Hyunri sebuah mainan, sesungguhnya Kibum tahu perasaan yeoja itu padanya. Perasaannya tulus dan sabar, hanya saja sifat pencemburu yang dimiliki Hyunri membuatnya terkesan kekanak-kanakan. Jujur, jika mau, Kibum bisa saja beralih padanya dan membuang perasaanya terhadap Hyora. Namun, jika perasaannya diibaratkan seekor anjing yang telah ia pelihara dengan baik selama belasan tahun, anjing tersebut tak akan mudah meninggalkannya meski ia memukulnya berkali-kali jika teringat akan kasih sayang majikannya. Demikian pula dengan perasaannya, ia tak begitu saja bisa mengubur perasaan yang telah ia pelihara selama ini dengan penuh perjuangan.

“Kau tak ingin memberiku masukan? Kau biasanya punya solusi yang bagus jika aku sedang dalam masalah,” Kibum tersenyum tipis, berusaha memancing emosi Hyunri yang sebenarnya.

“Aku tak berhak memberikan solusi untuk masalahmu kali ini, Key.” Hyunri menatap Kibum lekat-lekat. “Kau, Hyora, dan Jonghyun Oppa punya kesalahan kalian masing-masing. Aku hanyalah kilasan udara segar yang melintas disekitarmu, jika hilang, kau akan merasa sesak lagi. Dengan kata lain, aku hanya bisa memberimu hiburan sesaat dengan mengajakmu untuk melupakan sejenak masalahmu, namun jika aku keluar dan kau sendirian lagi di sini, kau akan kembali runyam.” jelas Hyunri bijak. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

“Jadi, aku harus bagaimana?” Kedua alis Kibum mengernyit. Bukannya berhasil memancing, justru dirinya yang telah masuk kedalam pancingan kata-kata Hyunri.

“Bicaralah dengan Hyora. Kau akan menemukan sedikit titik terang.” Hyunri meremas roknya ketika mengucapkan itu. Ia mungkin kesal jika melihat moment antara Kibum dan Hyora, namun itu adalah satu-satunya jalan keluar yang bisa ia berikan. “Tapi, sebelum itu, boleh aku tanya satu hal?”

“Apa?”

Hyunri menarik nafas panjang, berusaha menahan nyala api yang siap berkobar di dadanya. “Sebenarnya apa penyelesaian yang kau inginkan? Kau ingin menjadi laki-laki simpanan Hyora atau kau ingin Jonghyun Oppa dan Hyora bercerai?”

Hening sesaat. Kibum mengalihkan pandangannya secepat kilat dari tatapan Hyunri. Pertanyaan gadis itu merupakan hantaman besar untuknya. Kembali pada perumpamaan, ia seolah diberi pilihan, apakah kau ingin menjadi sel kanker agar inang kau hinggapi mati pelan-pelan? Atau kau ingin menjadi pisau yang menusuknya agar ia mati saat itu juga? Kibum meremas buku-buku jarinya. Sebenarnya setan apa yang telah menghinggapimu, Kim Kibum? Batinnya.

Kibum bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati Hyunri dengan perasaan setengah goyah. “Kau bilang akan mengajukan satu pertanyaan, tapi kau mengajukan dua. Aku tak berkewajiban menjawab rasa ingin tahumu yang tak konsisten itu,” ia menepuk pundak Hyunri, berdalih setepat mungkin agar yeoja itu tak menerka niat jahat yang kini merasukinya tanpa ia sadari.

“Sebagai sahabatmu aku peringatkan kau,” lirih Hyunri, tubuhnya mulai bergetar. “Kau punya tiga akar yang harus kau cabut agar menemui penyelesaian. Pertama Hyora, hak yang kau anggap telah direbut secara paksa yang harus kau dapatkan kembali. Kedua, akar yang lebih dalam, Jonghyun Oppa, penyebab yang harus kau singkirkan agar tak menghalangi jalanmu. Ketiga…..,” Hyunri berhenti sejenak ketika Kibum kembali menatapnya. Tatapan yang seolah berkata, katakan yang terakhir, aku akan mengatasinya juga.

“Bicaralah yang lengkap!” tepat, respon Kibum menunjukkan ia memang ingin tahu siapa masalah terbesar yang akan dikatakan Hyunri.

“Ketiga, akar yang terdalam, pemersatu akar yang lain agar tetap kokoh menopang pohonnya−putri mereka, Kim Yong Sang. Dia masalah terbesarmu sekaligus parasit yang tak bisa kau singkirkan ataupun kau olah agar memberikan suatu kebaikan.” Hyunri merasakan ujung-ujung jari Kibum yang masih melekat di pundaknnya mengeras. Ia tahu, respon nonverbal yang ditunjukkan Kibum itu menandakan ia ingin mengucapkan sesuatu namun ditahannya.

“Dimana Hyora? Aku harus menemuinya.” tekanan jari-jari Kibum di pundak Hyunri menghilang. Jalan keluar yang dipilihnya adalah mengalihkan topik pembicaraan.

“Di kantin, ia sedang makan siang.” Hyunri mendengar langkah Kibum menjauh setelah itu. Ia menghela nafas lagi. Masih duduk membeku di kursinya, ia mulai berpikir. Setetes air mata mengalir di pipinya. Ia tak tahu, apakah dengan pembicaraan tadi akan membuat Kibum mundur atau malah semakin keras kepala. Tugasnya selesai untuk masalah ini, memberi nasehat sebagai sebagai seorang sahabat, dan berusaha membuka jalan yang benar untuk orang yang ia cintai.

***

“Boleh aku bergabung bersamamu?” tanya Kibum begitu menemukan orang yang ia cari. Sejujurnya ia menahan malu ketika pandangan mereka beradu. Nada bicaranya seolah terkesan tak pernah terjadi masalah apa-apa diantara mereka.

“Tak ada yang melarangmu, duduklah.” jawab Hyora, terkesan biasa saja, hanya melirik Kibum sekilas lalu kembali melahap makan siangnya.

Kibum mengatupkan bibirnya. Rasa canggung membuatnya bingung harus berkata apa. Tak biasanya Hyora menanggapinya dengan tenang seperti itu.

“Maaf untuk yang kemarin,” bisik Kibum setengah tertunduk, ia menarik nafas beberapa kali, mempersiapkan mental untuk jawaban yang akan diberikan Hyora.

“Lupakan saja. Aku, kau, dan Jonghyun Oppa sedang lelah saat itu, jadi emosi dengan mudah terpancing. Kau hanya berniat baik padaku, aku masih dengan sifat plin-planku, sementara Jonghyun Oppa, yah.. kau tahu jawabannya,” Hyora mengangkat kedua bahunya. Tangannya yang tengah menggenggam sendok dan garpu kembali mengaduk makanannya, santai.

“Kau..,” Kibum mencegat tangan Hyora, membuat sendok makannya terlepas dari tangan kanannya. Ia menatap Kibum tak mengerti. “Apakah ada yang kau tutupi? Ini bukan sikapmu, Hyora-ya,”

Deg, Hyora tersentak. Tatapan tajam Kibum menghujamnya, tatapan yang selalu membuat dadanya bergemuruh. “Aku berkata jujur, Key. Apalagi jawaban yang kau inginkan?”

Kedua alis Kibum bertaut. Genggaman tangannya pada Hyora terasa dingin. Ada sesuatu yang membuat jaraknya dan Hyora terasa semakin jauh. Bekas kemerahan di bibir bagian bawah Hyora menjawab pertanyaannya. “Apakah kau mulai jatuh cinta pada Jonghyun Hyung?”

Ne?”

“Err, bukan apa-apa. Lupakan saja,” Kibum memalingkan wajahnya. Ia terlalu emosi melontarkan pertanyaan. Jika Hyora menanggapi pertanyaannya, hubungan mereka bisa saja lebih buruk dari sekarang.

Hyora menelan ludahnya, terasa pekat. Ia benar-benar kehilangan selera makannya. Secara tak sengaja pertanyaan Kibum menyinggung perasaannya sekaligus membuatnya bersalah. Ia belum tahu kepastian perasaannya terhadap Jonghyun. Seandainya benar ia mulai memiliki perasaan terhadap Jonghyun, ia akan menorehkan luka yang baru pada Kibum. Namun di sisi lain timbul suatu pertanyaan, salahkah jika seorang istri mulai menaruh hati pada suaminya yang telah menjaganya selama 6 tahun?

“Err, Key, bisa kau lepaskan tanganmu? Orang-orang bisa berpikiran buruk jika melihat kita seperti ini,” bisik Hyora. “Jika ada yang ingin kau sampaikan, ucapkan saja secara wajar,”

Kibum buru-buru melepaskan tangannya. Huh, wajar? Seorang laki-laki yang menggenggam tangan wanita yang telah bersuami memang kurang sopan, tapi dalam hal ini mereka sama-sama memiliki rasa yang tertunda, cinta. Jika begitu, salahkah jika dua orang yang saling mencintai berpegangan tangan?

Kibum menegakkan posisi duduknya. Benar ucapan Hyora, akan timbul masalah baru jika ada orang lain yang melihat mereka seperti tadi. Memang ada yang ingin Kibum sampaikan selain permintaan maaf tadi. “Seandainya aku yang berstatus sebagai suamimu, seperti apakah kita sekarang?”

Hyora terpaku. kedua lututnya terasa lemas. Pertanyaan yang ditujukan Kibum menjurus pada satu hal. Kesalahan yang mereka buat di masa lalu sehingga tak bisa bersama. Lebih tepatnya pada kesalahan Hyora.

~Flashback~

Hyora memandang satu-persatu lilin kecil yang mengitari sisi kolam renang. Pemandangan kecil yang membuatnya terasa damai. Sinar lilin-lilin itu ibarat pelita yang menyejukkan hatinya. Ditatapnya seorang namja tampan yang kini duduk di hadapannya. Ada sesuatu yang membuat perasaannya tak karuan. Suasana malam yang terang menambah nuansa romantis diantara mereka.

Hampir dua jam keduanya berada di sana. Menikmati hidangan, menikmati angin, ataupun hal lain yang menyenangkan hampir mereka nikmati semua, namun Hyora masih belum menangkap tujuan Kibum membawanya ke tempat semewah itu meski hatinya telah menerka sesuatu.

Jemari Kibum bergerak perlahan, meraih jemari Hyora yang sejak tadi bertumpu bebas di atas meja. Sesaat keduanya saling menatap, tersenyum, seolah mengungkapkan perasaan mereka lewat pandangan.

Bibir Kibum terbuka perlahan, membuat Hyora yang menanti ucapannya semakin tak karuan. Genggaman tangannya terasa semakin hangat dan kuat. “Aku menyukaimu, Hyora. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Ya, pernyataan itu yang ditunggu Hyora sejak tadi. Kata-kata yang membuat darahnya berdesir hebat dan mengalir ke pipinya, menimbulkan semburat merah yang terasa panas. Kim Kibum memang sosok namja yang diidam-idamkannya, namun kali ini ia rasa bukan saat yang tepat. Sebentar lagi ia akan masuk ke semester yang lebih tinggi. Dunia perkuliahan tak sama dengan dunia di kalangan anak sekolah. Kali ini lebih baik fokus pada cita-cita. Toh jika telah lulus nanti mereka bisa memulai hubungan dan menjalaninya tanpa hambatan kerja kelompok, kunjungan lapangan, atau skripsi.

“Maaf, Key.” Hyora tersenyum simpul, menatap Kibum bijak. “Aku juga menyukaimu, namun sebentar lagi kita akan naik ke semester yang lebih tinggi. Aku ingin fokus pada kuliah dulu. Jika kau bersedia menungguku, setelah lulus mungkin kita bisa memulainya.”

Kibum tersenyum tipis. Kecewa memang. Namun keputusan yang diberikan Hyora bijaksana mengingat kewajiban mereka untuk belajar dan bersiap terjun sebagai tokoh masyarakat. “Oh, begitu, baiklah. Gwenchana.”

***

Suasana hening ketika memasuki rumah terasa agak aneh. Dengan Sedikit ragu Hyora melangkahkan kakinya masuk. Tak satupun makhluk yang menyambut kedatangannya untuk sekedar membuka pintu atau memberi salam.

Jawaban dari keanehan itu ada pada ruang tamu. Hyora melihat seluruh anggota keluarga kecilnya berkumpul di sana. Ini pukul 10 malam. Tuan Lee sang ayah yang biasanya lebih memilih berbaring di kamar, Nyonya Lee sang ibu yang biasanya telah tidur pulas, Jinki sang kakak yang belakangan ini sibuk dengan skripsinya, dan Taemin sang adik yang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian kini duduk bersama di atas permadani dan menatap kedatangannya dengan raut wajah tegang.

“Hyora-ya, boleh aku bicara sebentar?” Tuan Lee angkat bicara.

Hyora mengangguk, meski belum mengerti ia menurut dan bersimpuh di hadapan keluarganya. “Ada apa, Appa?”

Tuan Lee terdiam sesaat. Dadanya seolah menopang beban berat. “Saat ini kita sedang mengalami masalah dalam perusahaan.” ujarnya pelan, menatap mata putrinya penuh arti.

“Masalah apa?” Hyora mengernyitkan alisnya. Ia memang tak terlalu ikut campur dalam urusan perusahaan layaknya Jinki sang calon penerus.

“Penjualan produk kita dikalahkan oleh perusahaan pesaing. Kita membutuhkan kerjasama dengan perusahaan lain untuk menerbitkan ide-ide baru.” tak mau berbelit-belit, Tuan Lee langsung mengatakan pokok permasalahan yang membuat perasaannya sedemikian runyam.

“Maksud Appa?” kerjasama? Entahlah, Hyora masih belum paham teknik para pengusaha dalam mencari sekutu untuk mengalahkan perusahaan saingan.

Hyora menarik napas panjang. Ternyata itu yang belakangan ini membuat appa-nya sering melamun dan susah tidur. Tak jarang ia melihat kedua alis ayahnya berkerut meski ia tengah menonton film komedi. Sosok appa yang dikenalnya sehat dan bersemangat kini tampak lebih kurus. Lingkar hitam di matanya menunjukkan betapa kerasnya ia berusaha hingga kurang memiliki waktu untuk tidur.

“Kau tentu tahu, perusahaan pesaing kita adalah perusahaan milik temanmu, Kibum. Lalu perusahaan yang ingin ayah ajak bekerjasama adalah perusahaan milik keluarga Jonghyun.”

“Lalu, apa yang bisa aku bantu?” Hyora memiringkan kepalanya. Sebuah usul yang bagus jika perusahaan keluarganya akan bekerjasama dengan perusahaan milik Jonghyun. Bukankah ayahnya dan ayah Jonghyun telah bersahabat selama puluhan tahun?

Tuan Lee meremas celana kainnya. Berat untuk mengatakan ini. Tapi, demi kelangsungan perusahaannya ia harus melakukannya. “Ikatan yang terkuat untuk mencari sekutu adalah perkawinan.” papar Tuan Lee, membuat senyum di wajah Hyora memudar.

“Maksud appa?” Hyora berbisik. Jangan katakan keluarganya meminta ia untuk melakukan kemungkinan terburuk itu.

“Maukah kau menikah dengan Jonghyun?” suara Tual Lee tercekat. Ia baru saja mencabut paksa salah satu kebebasan hidup putri kesayangannya.

Deg, tubuh Hyora terasa lemas. Nafasnya mendadak memburu. “A.. aku..,”

“Tolonglah, Hyora, kau satu-satunya yang bisa membantu keluarga kita.” pinta Nyonya Lee. Sebagai sesama wanita ia tentu menyadari keterkejutan Hyora. Ia menggenggam erat jemari putrinya.

Hyora terkekeh. Lelucon macam apa ini? Badannya bergetar pelan, diikuti genangan air di sudut kelopak matanya. “Apa tidak ada jalan lain untuk masalah ini, Appa? Aku baru 20 tahun. Aku belum siap untuk itu!”

Tuan Lee meringis. Ia telah menduga reaksi Hyora seperti ini. Ia tahu putrinya menyukai putra dari perusahaan pesaing, Kim Kibum. Namun dalam hal ini perasaan menjadi persoalan kedua. Jika tak segera menemukan rekan kerjasama, pemasukan mungkin saja menurun lebih drastis. Jika itu terjadi, dampak ekonomi tentu akan menjadi akibat yang lebih pahit daripada perasaan. “Ini benar-benar mendesak. Seandainya tak seberat ini, ayah tak mungkin mengorbankan kebahagiaanmu.” Tuan Lee mendekap kedua pundak Hyora. Hatinya turut teriris, namun untuk kali ini, inilah jalan keluar tercepat sebelum muncul akibat yang lebih fatal.

“Ha.. jiman,” Suara Hyora berubah serak. Cairan bening mulai mengalir di pipinya. Desakan orangtuanya membuatnya tak berdaya. Kedua saudaranya yang hanya menatap iba juga sama sekali tak membantu.

Appa tahu kau hanya menganggap Jonghyun sebagai kakakmu, namun ia bukanlah orang asing atau pria yang bisa berbuat kurang ajar padamu.” Tuan Lee masih bersikukuh meyakinkan Hyora. Untuk alasan kali ini ia benar. Ia mengenal Jonghyun sejak dalam kandungan. Calon dokter itu telah ia anggap sebagai putranya sendiri. Satu-satunya pemuda yang ia percaya. Seseorang yang dianggapnya mampu menggantikan perannya menjaga Hyora.

“Hajiman..,” apa yang bisa Hyora katakan untuk mengelak lagi. Menikahkannya dengan Jonghyun sama saja halnya dengan menyuruhnya menikah dengan Jinki. Bagaimana seorang adik bisa menikahi kakaknya?

“Ayah yakin dia bisa menjagamu, melebihi orang-orang yang selama ini dekat denganmu. Keputusan appa serahkan padamu.” Tuan Lee melepaskan kedua tangannya dari pundak Hyora. Ia telah meyakinkan Hyora. Kini tinggal menunggu keputusan putrinya untuk menentukan nasib perusahaanya yang telah dijaga keluarganya selama turun-temurun.

Hyora terdiam beberapa saat. Wajahnya tak lagi menunjukkan ekspresi marah, kecewa, atau menangis. Ia berusaha menggali ke dalam pikirannya. Perusahaan adalah warisan yang dijaga keluarganya sejak dulu. Banyak kenangan dan hal bersejarah yang ada di sana. Jika sampai perusahaan itu bangkrut, seperti apa leluhur akan memandang generasinya? Mengorbankan perasaannya tidaklah sebanding dengan perjiuangan para pendahulunya. Ia harus bisa memberikan sesuatu untuk menjaganya.

“Ne.., aku menyanggupinya.”

***

Hyora termenung di bangku kuliahnya. Ia tak benar-benar memperhatikan materi yang diberikan dosen barusan. Print out slide kuliah di hadapannya hanya berisi sedikit coretan, terbatas hanya pada yang didengarnya.

Ya, Hyora-ya, bagaimana kabarmu hari ini?” Kibum menghampirinya. Ia mengusap gemas puncak kepala Hyora.

“Jangan, Key!” Hyora menghempas tangan Key pelan, namun tegas.

“Ada apa denganmu? Hey, bukankah kita sedang dalam tahap pendekatan. Ayolah.., apa kau terlalu tegang?” Kibum berusaha merayu. Adakah yang salah dengan mengusap puncak kepala?

Hyora terdiam, tak menanggapi candaan Kibum. Dengan menyetujui permintaan keluarganya untuk perjodohan ia merasa telah mengkhianati Kibum. Ujung bibirnya kembali bergetar diiringi cairan di sudut matanya. “Lebih baik jangan teruskan ini,” lirihnya serak.

“Apa maksudmu?” Kibum tak mengerti. Apa masalahnya?

“Perusahaan kita…,” Hyora berbisik, berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak jatuh. “Kau tahu bukan keluarga kita sedang dalam perang dingin?”

Kibum mengangguk membenarkan. “Apa hubungannya dengan kita?” tanyanya polos. Jika orangtua bertengkar, anak tak harus dilibatkan, bukan?

“Ayahku ingin aku membantunya menyelesaikan masalah ini,” Hyora mengepalkan tangannya, berharap ia sanggup menyampaikan perjodohan itu pada Kibum.

“Hei, harusnya kau bangga jika appa-mu mulai memberimu tanggung jawab,” masih dengan pemikiran polosnya Kibum membenarkan usaha Tuan Lee.

Appa-ku berniat mencari rekan untuk bekerjasama. Rekan itu adalah perusahaan milik keluarga Jonghyun Oppa,” jelas Hyora. Kepalanya hampir mendidih mengumpulkan kekuatan untuk bicara.

“Lalu?”

Hyora memejamkan matanya. Takut dengan kenyataan, namun ia harus memberitahu kenenaran pada Kibum. “A..aku akan dijodohkan dengannya,”

“Kau bercanda?”

Hyora menggeleng.

Deg, Kibum membeku. Ia baru saja merasakan hatinya dihujani beribu panah. Tubuhnya menegang perlahan. Sorot matanya berubah tajam dan memerah. “Lalu, apa kau menerimanya?” tanyanya dengan suara bergentar.

Hyora mengangguk pasrah. Air matanya luruh. Bibirnya tak sanggupa lagi bicara.

Brakk!! Kibum menghantam meja di hadapannya. Emosinya membuncah. Hina, rendah dan menjijikkan. Pikiran remaja labil menguasainya. “Kenapa kau menerimanya semudah itu. Apa kau mempermainkan perasaanku?!” bentaknya setengah berteriak. Ia kecewa, benar-benar kecewa pada sikap plin-plan Hyora.

Hyora menggeleng. Ia mengusap pelipisnya. Kepalanya terasa mau pecah. Satu lagi dosa telah ia perbuat, melukai perasaan Kibum.

“Kenapa kau tak menolaknya dan mencari jalan keluar lain?” tanya Kibum begitu emosinya terkontrol. Ia memang kecewa, namun melihat Hyora menangis membuatnya tak tega. Yeoja itu pasti punya alasan yang kuat di balik pengkhianantannya.

“Maaf, Key. Ini benar-benar mendesak. Aku tak tega melihat Appa-ku yang belakangan ini sering sakit memikirkan itu. Kemarin ia bahkan membujukku seolah hanya akulah yang bisa menyelamatkannya dan yang lain.” Hyora mengeluarkan segenap tenaganya untuk bicara. Menghabiskan nafasnya untuk memberikan penjelasan yang berarti.

Hening sesaat. Kibum mendekat. Masih dengan wajah frustasi dan tertekan ia menyentuh pundak Hyora. “Lakukanlah jika itu pilihanmu. Kau memang anak yang berbakti. Jonghyun Hyung orang yang baik. Semoga kalian bahagia.” ucapnya kemudian berlalu, memamerkan punggungnya yang kian menjauh tanpa menatap Hyora yang masih belum mempercayai semua ini adalah kenyataan.

~Flashback end~

 

“Entah, permasalahan di dunia ini tak bisa kita reka seenaknya. Belum tentu dengan berjalan dalam kegelapan di jalan yang lurus akan membuatmu terhindar dari tersandung batu dan belum tentu juga berjalan di atas jalan terang yang terjal akan membuat kontrolmu buruk sehingga terpeleset dan jatuh ke jurang. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.” Hyora menjawab pertanyaan Kibum sedemikian bijak setelah peristiwa 6 tahun silam terlintas di memorinya.

Perumpamaan itu, Kibum tahu, jalan gelap dan lurus itu adalah perumpamaan untuk dirinya, sementara jalan terang dan terjal itu adalah perumpamaan untuk Jonghyun.  “Seandainya kau disuruh memilih, mana jalan yang akan kau pilih?”

Hyora menggeleng, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Itu juga bukan kehendakku. Aku tak berhak atas pilihan itu. Seperti yang dikatakan Raja  Dhrtarastra dalam epos Mahabharata, manusia tidak berkuasa atas takdir, tapi bagai boneka kayu yang tergantung dengan seutas tali. Tuhanlah yang telah menentukan jalanku.”

Jawaban yang diberikan Hyora semakin bermakna ambigu. Kibum ingin Hyora memilih salah satunya. “Seandainya kau salah memilih jalan, dan kebaikan ada di jalan satunya, bagaimana?”

“Jangan pernah lupa, Tuhan itu Maha Adil. Ia tak pernah menciptakan hidup manusia sedemikian sempurna atau sedemikian menderita. Semua telah Ia atur. Kelak Ia akan memberi penyelesaiannya sesuai jadwal yang telah Ia rancang sedemikian sempurna.” sekali lagi Hyora menyikapinya dengan bijak.

“Seandainya jalan yang satu lagi memaksamu untuk masuk ke sana bagaimana?” Kibum memberikan umpan lagi, mengikuti alur pilihan Hyora.

“Kemungkinan itu selalu ada. Kau tak lupa bukan, keputusan manusia sewaktu-waktu bisa berubah. Selalu ada harapan dalam meraih sesuatu, namun kita harus teliti, apakah benar itu pilihan yang bagus atau justru menjerumuskan.” Hyora tersenyum simpul.

Penjelasan terakhir Hyora membuat Kibum menemukan suatu celah. Jika kesempatan itu ada, berarti ia masih punya jalan. Entah bagaimana nantinya digariskan, satu yang pasti, ia belum menyerah.

-TBC-

©2011 SF3SI, Chandra.


Officially written by Chandra, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

97 thoughts on “The Silent Touch of Marriage – Part 5a

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s