Saengil Seonmul

Title                       :               Saengil Seonmul

Author                  :               Choi Minjin

Main Casts          :               Choi Minho, Kim Kibum

Supporting casts :            Lee Donghae, appa, umma

Genre                   :               Life, family

Length                  :               Oneshot

Rating                   :               General

AN                          :               Ini adalah sequel dari fanficku yang berjudul Hyung (dipublish tanggal 5 Februari 2012). Tapi ini bukan lanjutannya sih, lebih tepat disebut sisipan *apalah namanya*. Kalau di Hyung, Kibum sama Minho udah gede dan yah itulah *yang belum baca, silakan baca dulu #dasar author banyak maunya#, di sini menceritakan waktu Kibum sama Minho masih kecil.

Don’t forget to RCL.. gomawoo ^^

**************************************************

Minho, sebelas tahun. Ia memandang ke luar jendela dengan kesal, marah, benci. Pokoknya dia sangat sangat sangat benci pada orang yang sekarang duduk di atas tempat tidur, tidak berapa jauh dari tempatnya duduk.

“Minho-ya, sudah malam. Tidurlah.”

Minho melirik benci pada Kibum,”Jangan urusi aku. Tidur saja sana!”

Kibum merengut. Ia berbaring, lalu menghadapkan mukanya ke dinding, mencoba berpaling dari Minho, adik tirinya. Ia yang tidur di atas, mencoba memasang telinga sampai beberapa menit kemudian dia mendengar Minho menaiki tempat tidur yang ada di bawahnya.

Kibum membenamkan wajahnya dalam bantal, tidak bisa menahan air matanya. Ia mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan isak yang tidak juga mau berhenti. Tidak dapat lagi ia menahan sakit hati ini, sakit sekali.

Perlakuan Minho padanya, kadang memang membuatnya sakit hati. Tapi Kibum, yang pada orang lain tidak mudah mengalah, pada Minho tidak pernah bisa marah. Itu semua karena Kibum sudah terlanjur menyayangi Minho seakan Minho adalah saudara kandungnya. Ia ingat ummanya pernah berkata bahwa setelah umma Kibum dan appa Minho menikah, artinya Minho adalah saudaranya, bukan orang lain. Tidak ada istilah ‘tiri’. Minho adalah saudaranya. Titik.

Tapi kenapa, Minho begitu membencinya? Kenapa Minho tidak mau menghargai kasih sayang tulusnya?

Apa salahnya?

Setelah sekitar satu jam menangis dalam sepi, akhirnya Kibum tertidur. Dia terlalu lelah menangis.

Keesokan paginya dingin. Bagaimana tidak, sekarang tanggal 9 Desember, musim dingin menjelang dan Minho, seperti hari-hari dingin lainnya, bangun terlambat. Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung dan merasa janggal. Biasanya, jika ia tidak bangun pada waktunya, Kibum pasti membangunkannya dengan sangat cerewet. Tapi sekarang bahkan suaranya yang menyebalkan itu belum terdengar.

Ia bangun dan mengintip ke tempat tidur atas. Kibum sudah tidak ada di situ. Tempat tidur bernuansa pink itu sudah rapi, sangat berbeda dari tempat tidurnya yang masih tidak karuan.

Sambil merapikan tempat tidurnya, ia berpikir. Kemana Kibum sepagi ini? Apa sudah berangkat sekolah? Tapi ini masih pagi. Mungkin Kibum marah atas apa yang dilakukannya semalam? Semalam Minho mencoret-coret gambar-gambar Kibum yang sering dipuji-puji appa. Meski ada sedikit rasa bersalah di hatinya, Minho tidak akan peduli. Kibum memang sangat berbakat dalam bidang seni. Tapi lalu kenapa? Apakah itu berarti Kibum harus lebih disayang oleh appa? Apa itu berarti Minho yang tidak bisa menggambar ataupun bermain musik tidak pantas dibanggakan?

Setelah cukup puas dengan tempat tidurnya, ia mandi dengan air hangat, memakai sweater dan mantel lalu sarapan sebentar dan akhirnya sekarang ia berdiri di halte bus, menunggu bus yang harus ditumpanginya untuk sampai ke sekolah. Kibum belum juga ditemuinya. Minho merasa senang, mungkin akhirnya si Kibum itu sadar bahwa dia tidak pantas untuk bertingkah seakan-akan dia adalah kakak. Tidak, Minho tidak akan pernah mengakuinya sebagai kakak.

Umur mereka sebaya. Persetan appa selalu menyuruhnya untuk memanggil Kibum dengan ‘hyung’. Dia tidak akan mau. Mereka sebaya meski Kibum lebih tua kurang lebih tiga bulan darinya. Kibum juga bukan kakak kandungnya. Kibum hanya orang lain yang mengganggu kehidupannya.

Sebuah bus berhenti. Ia naik cepat-cepat lalu mencari tempat duduk dekat pintu agar ia tidak mudah jatuh tertidur. Rasanya agak ganjil, karena biasanya Kibum akan duduk dua atau tiga bangku di belakangnya, yang selalu akan diabaikannya seakan-akan mereka tidak saling kenal. Sekarang Minho merasa seperti dapat bernafas bebas, tanpa beban seorang Kibum di balik punggungnya.

Di sekolah pun tidak ada Kibum.

Jam makan siang, Minho membuka bekalnya yang berisi nasi dengan kroket daging dan tumis brokoli. Ia duduk semeja dengan temannya, Lee Donghae.

“Kemana Kibum, Minho-ya?”

Minho mengedikkan bahu, tetap memakan bekalnya dengan lahap.

“Kok tidak tahu sih? Apa dia sakit? Kenapa sampai tidak berangkat sekolah?”

Minho menggeletakkan sendoknya di meja, wajahnya kesal,”Donghae-ya, jangan membicarakan orang itu lagi. Aku tidak suka. Lagipula kenapa aku harus tahu dia dimana? Aku kan bukan siapa-siapanya.”

Donghae menggaruk-garuk tengkuknya, merasa bersalah,”Iya, iya. Maafkan aku.”

Minho menoleh ke tempat duduk Kibum yang kosong dengan benci. Kibum… bukanlah saudaranya. Bukan bagian hidupnya. Kibum hanyalah orang lain yang tanpa malu menerobos masuk, mengganggu hidupnya.

Kursi kosong itu terlihat aneh, ganjil. Biasanya Kibum duduk di situ, memakan bekalnya sendiri. Sekarang terasa… seakan-akan Kibum tidak ada. Mungkinkah, nantinya Kibum akan menghilang dari hidupnya, sehingga hidupnya akan kembali seperti dulu lagi? Mungkinkah perpisahan yang sejak dua tahun lalu diimpikannya itu akhirnya akan terjadi?

~~~~~

Langit agak kelabu. Minho merapatkan mantelnya sambil berjalan santai menuju rumahnya. Sekali lagi tanpa Kibum yang menguntit di belakangnya. Rasanya ganjil, setelah dua tahun, ada sesuatu yang berubah.

Di muka rumah, sesuatu mengejutkannya. Ada banyak koper dan tas di teras, milik siapa?

Umma tirinya keluar dari pintu dengan membawa sebuah tas lagi. Begitu ia melihat Minho, dipaksakannya sebuah senyum. Minho tahu senyum itu palsu. Minho tahu ada hal tidak beres sedang terjadi.

“Minho.”umma mengelus pelan kepala Minho. Minho hanya diam, selama ini dia berlaku cukup sopan pada umma tirinya itu, tetapi ia tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai ibu.

“Kau baik-baik saja ya di rumah. Maafkan umma jika pernah membuatmu marah. Umma dan Kibum pasti akan sangat merindukanmu. Sekali-kali kunjungilah kami, ya.”

“Memang kalian mau kemana?”pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Minho tanpa terkendali.

“Hanya ke Daegu. Kibum sudah berangkat tadi pagi dan umma akan menyusulnya. Kami akan sering mengunjungimu, Minho-ya. Sampai jumpa ya.”umma mengecup singkat puncak kepala Minho. Lalu ia menaikkan semua tasnya ke dalam taksi yang sudah menunggu, dan setelah melambai pada Minho, ia pergi.

Minho bergumam pada dirinya sendiri,”Tidak usah repot-repot. Tidak usah mengunjungiku juga tidak apa-apa.”kemudian dengan senyum sinis, ia masuk ke rumah.

Jadi inilah harinya. Hari dimana hidupnya akan kembali seperti semula.

~~~~~

Minho terdiam dalam sepi. Pekerjaan rumahnya dicampakkannya di atas meja, tidak tersentuh. Ia duduk dekat jendela seperti malam sebelumnya. Kali ini bukan karena merasa sebal pada Kibum, tapi hanya merasa sepi. Sepi dan sepi. Appa sedang pergi dan rumah ini terasa kosong sekali.

Tidak ada bintang, bulan pun tidak tampak. Minho menghela nafas dalam-dalam, sekali lagi merasa sepi.

Ia bangkit, lalu memanjat ke tempat tidur Kibum. Ternyata tidur di atas enak juga. Tanpa sadar Minho tersenyum, mungkin akhirnya dia akan memiliki kamar ini sendirian dan bebas untuk tidur dimana saja. Sepertinya dia harus cepat-cepat mengganti bedcover pink ini.

Dia merebahkan diri, merasa nyaman. Tetapi dirasakannya sesuatu yang mengganjal. Minho duduk lagi, menyingkirkan bantal dan menemukan sebuah sketchbook di bawahnya. Bukankah itu… sketchbook yang semalam dicoret-coretnya?

Minho membuka halaman demi halaman gambar-gambar Kibum. Semuanya bagus, andai saja tidak ada coretan-coretan yang telah ditinggalkan Minho. Di permukaan kertas Minho mendapati bekas basah. Seperti ada tetesan air yang sudah mengering. Air mata?

Apakah mereka pergi karena Kibum marah atas hal ini? Jadi mereka pergi karena Minho?

Meski hanya setitik, setitik saja, ada rasa bersalah menelusup dalam hati Minho.

Tapi kenapa? Kenapa dia harus merasa bersalah? Bukankah ini yang diinginkannya sejak lama? Ya, inilah yang diinginkannya. Tidak ada Kibum. Minho kembali menjadi anak tunggal, seperti dulu.

Tapi…

Minho membawa buku itu, turun, lalu dengan sedikit terburu-buru keluar dari kamarnya.

~~~~~

Sekarang sudah pukul sebelas malam. Minho menggigil di teras depan, entah menunggu apa. Dia hanya berpikir bahwa appa mungkin akan segera kembali membawa umma. Dan mungkin juga Kibum. Dipeluknya erat-erat buku gambar Kibum di dadanya. Benarkah mereka pergi karenanya? Kalau itu benar, berarti Minho telah membuat appa sedih. Tadi siang, adalah kali kedua dalam hidup Minho melihat appa menangis, setelah tiga tahun lalu umma pergi untuk selamanya.

Dan diakah yang menjadi penyebab air mata itu?

Minho mendekap buku itu semakin erat. Tanpa sadar, setetes air mata mengalir dari matanya yang besar. Air mata appa mengingatkannya pada kehilangan yang sangat menyakitkan tiga tahun lalu. Umma, Minho sangat merindukanmu.

Sebuah mobil berhenti di depannya. Minho berdiri bersamaan dengan keluarnya appa dari dalam mobil. Sendirian.

“Minho-ya, kenapa kau di sini? Jam berapa sekarang? Masuklah dan tidur.”appa mengelus kepala Minho dengan wajah sedih.

Minho menggeleng,”Appa, apakah mereka pergi karena Kibum marah padaku? Apakah mereka pergi karena aku?”

Sekali lagi, appa mengelus kepala Minho lembut,”Tidak, Minho. Kibum tidak pernah marah sedikitpun padamu. Dia sangat menyayangimu, apapun yang kaulakukan padanya. Ini hanya… masalah orang dewasa. Kau belum mengerti. Sekarang tidurlah, jangan khawatir. Mungkin mereka akan pulang besok. Dan cobalah kaupikirkan bahwa perbuatanmu semalam itu salah. Cobalah memanggil Kibum dengan ‘hyung’, karena dalam keluarga, dia adalah kakakmu.”

Minho bergeming. Tanpa kata, kakinya melangkah ke kamar. Tanpa menyalakan lampu, diletakkannya buku gambar Kibum di tempat tidur atas. Lalu ia membaringkan dirinya di tempat tidurnya sendiri, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran tidak menentu dari kepalanya. Dia ingin segera tertidur.

Rasanya baru sekejap, ketika tiba-tiba ia terbangun oleh cahaya. Seseorang menyalakan lampu. Siapa? Appa? Minho tetap menutup matanya, pura-pura tidur.

“Minho-ya, kau sudah tidur?”

Minho hampir saja terlonjak. Suara berbisik itu adalah suara Kibum.

“Sekarang sudah jam dua belas malam kurang tujuh menit. Tapi masih tanggal sembilan, kan? Saengil chukhahae, Minho. Adikku tersayang.”

Minho merasakan sesuatu ditaruh dekat kakinya. Lalu terdengar suara langkah kaki, lampu dimatikan, dan suara Kibum yang memanjat ke atas.

Pelan Minho membuka matanya, melihat apa yang ditaruh Kibum dekat kakinya. Dalam kegelapan, dia melihat sesuatu yang bulat. Ia merabanya dan ia yakin itu adalah bola basket.

Tiba-tiba ia teringat kenangan tiga tahun lalu, saat ulang tahunnya yang kedelapan, umma kandungnya memberinya sebuah bola sepak. Saat itu umma berkata bahwa suatu saat nanti ia akan dibelikan bola basket. Meski appa telah membelikannya, tapi Minho tidak puas. Dia ingin bola basket yang dibelikan umma di hari ulang tahunnya.

Susah payah Minho menahan isaknya. Ia sekarang punya bola basket di hari ulang tahunnya. Umma, Minho sangat sangat sangat merindukanmu.

~~~~~

Pagi dingin yang cerah. Setelah tadi terpaksa bangun tepat waktu berkat teriakan Kibum, sekarang Minho sedang menunggu bekalnya disiapkan oleh umma tirinya. Kibum sudah menunggu di pintu depan.

“Umma, kenapa kalian pergi kemarin? Appa bilang aku belum mengerti. Kan aku ingin tahu.”

Umma menggaruk-garuk tengkuknya,”Appa benar, Minho-ya. Kau belum mengerti. Sudahlah, yang penting kami sudah pulang.”

“Kenapa kalian pulang? Semalam kulihat appa tidak berhasil menjemput kalian.”

“Kibum menangis terus seharian kemarin. Dia bilang dia tidak ingin berpisah dengan appa dan Minho. Apalagi katanya kemarin adalah hari ulang tahunmu. Dia terus menerus memaksa ingin kembali. Akhirnya umma sadar bahwa mungkin umma terlalu kekanak-kanakan dan tidak memikirkan perasaannya.”

Minho terdiam. Setelah bekalnya siap, dia keluar. Kibum memandangnya sebal,”Lama sekali sih.”

“Berisik! Kalau tidak mau menungguku, berangkat saja sana duluan. Aku tidak perlu berangkat bersamamu.”

Kibum merengut, tapi tetap mengikuti Minho berjalan ke halte bus.

Tiba-tiba Minho berhenti, mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah sketchbook. Ia menyerahkannya pada Kibum, tanpa kata.

Lalu Minho berjalan lagi. Sementara Kibum masih terpaku memandangi sketchbook baru itu dengan tidak percaya.

-end-

-minjin’120207-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “Saengil Seonmul”

  1. Ah.. Seperti biasa.. Kereen..
    Jadi pengen baca yg “hyung” lg..
    Terus berkarya..
    Ditunggu karya berikutnya..

  2. Ya Tuhan T—-T terharu bagian akhirnya. Ish udh brp kali kau membuatku menangis membaca ffmu minjin unn? :’)

    minkey…. X’3
    speechless, ini so sweet :’3

  3. haisshh.. Minho kok gitu yaa. tapi untunglah dia udah sadar. key, sabar banget menghadapi perilaku minho.
    ff-nya daebak thor (y)
    ditunggu ff selanjutnya 🙂

  4. Huua akk mau nangis thor T.T . …
    FF’y daeebak !! d^o^b ..

    tp thor akk blom pernah baca yg HYUNG … maklum readers baru ^o^ ehehhe
    mau link’y donk …pleasee 😉

  5. Kirain aku pas Si Kibum gak ada di rumah pas Minho bngun dan gak ada di sekolah. kirain, si Kibum lagi ngerjain Minho. soalnya kan Minho ulang tahun. kekekek tahunya dia ke Daegu.
    wow, aku lagi2 terharu pas bagian Kibum ngasih bola ke.Minho dan pas baca bagian Ayahnya Minho nangis.
    Seperti biasa, nggak kaget kalau Ff dari eonni keren.
    Minjin eonni Jjang! 😀

  6. Keren~ Johasseo~!

    Masih penasaran kenapa Kibum sama umma-nya mendadak pulang ke Daegu… ^^;;;

    :p

  7. Aer mata yang dari tadi udh menggenang di kelopak mataku,tepat akhir cerita airmataku jatuh,,,
    speechless aku eonn,MINKEY kalian emang sesuatu,lebih tpatnya critamu yg sesuatu ‘minjin’ unnie…Eomma nya si key masih labil kali ya,,ngambek krna sifat minho trus terbang dah ke daegu*dicincang key*,,,minjin eonnie..kau sukses membuatku makin mencintai seorang key#Plaaakhh (?)
    dan minho sperti biasa,,selalu sadar di akhir,tpi tetep aja noh acuh2 aja k kibum*ditendang*
    jjang,daebak,good job*apalah kalimatnya*Fooor minjin eonnie~~~*dance sherlock*

    1. Oh ia,,ffmu yg hyung dah ku baca blum ya?lupa lupa eonn..
      Tpi kyknya blom deh,,jdi bingung aku.
      Keyy,,mw udh baca mw blum yg penting ffmu kli ini eonn*nyomot tisu/buang ingus/ngelap airmata/eunri mulai error#plak plak plak*

  8. pasti mslh ortu ye..
    huhuhu
    lucu lah byngin mereka lg imut2nya..
    jd inget fanart minkey naik sepeda roda 3 boncengan.. lol…

  9. oiya unn, aku boleh minta link buat ff ‘Hyung’-nya nggak? aku search di shiningstory gak ada hehe, gomawoyo n_n

  10. hiks… keren banget ffnya…
    ngefeeelll..

    author the best, daebak, like it like it like it!

  11. kyaa..kyaa..suka banget sama ff ini
    kirain kibum nggak ngerasa apa2 setiap kali minho nyuekin dia (udah kebal) ternyata kibum sedih juga, tapi ditahan 😦
    ah, endingnya manis banget, kibum ngasih bola basket, minho ngasih sketchbook
    masih penasaran kenapa umma-appa mereka sempat tinggal terpisah
    entah gara2 abis nonton film yang aktornya anak2, aku jadi ngebayangin mereka emang masih anak2..hehe
    like this!

  12. Wah… Seperti biasa ff minjin eoni slalu memukau driku, DAEBAK ^^b
    Aku tnggu ya ff eoni slanjut’a

  13. Ahhhhhhh Minjin-yaaaa!!!!! Gx bisa ngomong apa-apa lagiiiiiii. . . . Familyship-nya kerasa bangetttttt… Pokokny aku tuh suka MinKey sodaraan… 91brothers dehhhh…….. Ngerti-ngerti,,,,, jadi kebayang FF Hyung lagiiiiiiii…….. Daebak pokoknya!!!!

  14. hhuuuaaahhh joahae

    author bagus nih ceritanya kyknya lucu deh wkwk aku mau baca yg hyung nya deh ^^

  15. Momen terakhir bikin senyum bahagia. Aww, so sweet persaudaraan mereka ❤

    'Hyung' itu yg Minho-nya kabur dari rumah sakit itu ya? Bukan? Oh, ya udah. Ya ya *telpon atau komen nih?*

    Nice story 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s