Mesin Tanpa Jiwa

Title                       : Mesin Tanpa Jiwa

Author                  : Lee Jongki

Main Cast            : Jonghyun

Support Cast      : Jinki, Jonghyun’s parents

Genre                   : Angst, romance, tragedy, sad

Length                  : 2.706 words (one shot)

Type                      : Alternate universe, shounen-ai, songfic

Backsound          : BEAST – Fiction and Facts

Rating                   : PG-15

Jongki is back, guys!

Asha! Bahasa di FF ini… Sumpah ancur banget. Terlalu banyak repetisi meskipun cuma buat emphasis. Apalagi judul dan artworknya. EPIC PHAIL! Malu-maluin. Rasanya pengen gali lubang hidung Jjong dan hidup di situ selamanya. (‘-_-) Direkomendasikan sambil dengerin BEAST – Fiction and Fact. Kenapa? Biar nggak sepi. Hehehehe.

Btw, aku paling suka fotografer majalah Jepang. Kalian tau kenapa? Karena Jonghyun hampir selalu ada di samping Onew. /nosebleed Jangan-jangan mereka juga JongYu shipper? o_O Andai JongYu benar-benar nyata. (>_<)

FF ini kupersembahkan kepada semua reader di SF3SI tercinta terutama JongYu/OnJong/OnHyun shipper. Semoga bisa mengobati kerinduan kalian. (~o~) Tapi maaf kalo porsi romancenya dikiiiit banget (almost non-existent) karena ini Jonghyun-centric.

Please comment. Comments are <3. And no silent readers, ‘kay?

Teknologi itu hebat, Jonghyun mendapati suatu hari. Efisien, nyaman, dan bisa melakukan segala sesuatu. Hampir semuanya. Teknologi itu rumit, mengganggu, dan cacat, Jonghyun mendapati suatu hari.

-o-o-o-o-

No matter what I say to you right now,

It’s going to have no effect whatsoever

This isn’t right, this isn’t right

I can’t trust this fact

 

-o-o-o-o-

Ia tak tahu bagaimana menjelaskannya. Sesuatu yang dikiranya tak akan pernah ia lakukan, tapi ia harus. Tak bisa dielakkan. Itu adalah sebuah keharusan. Ia tak tahu tanggapan mereka atau apa yang akan mereka katakan. Ia mengharapkan situasi terburuk.

Dan benarlah.

“Tak mungkin. Kau…”

Hanya itu yang bisa dilontarkan ibu Jonghyun. Meski begitu, Jonghyun pikir itu lebih baik dari ayahnya yang diam seribu bahasa. Jonghyun ingin tahu yang ada di pikirannya. Ia perlu tahu.

Wajah ayahnya kosong, datar, dan hampir tak menunjukkan perasaan. Ia tahu dibaliknya tersembunyi perasaan kecewa, jijik, dan tak percaya. Kendati begitu ia masih ingin mendengarkan suara ayahnya untuk terakhir kali.

Tidak sempat.

“Aku tak percaya kau anakku. Kau mengecewakanku. Kau menjijikkan. Enyah!”

Itu adalah kali terakhir ia mendengar suara ibunya. Lalu barang-barang mulai beterbangan dari kamarnya, satu demi satu, sampai ia tak bisa membedakan apa yang dilempar. Semuanya melebur menjadi warna-warni yang kabur.

Penglihatan Jonghyun tak bertambah baik ketika ia duduk di dalam mobil, barang-barang pribadi dijejalkan di belakang, acak-acakan. Air matanya terus mengalir, menghangatkan pipinya meskipun ia menggigil. Gemetar karena kedinginan, karena ia terluka, karena ia tak butuh apapun selain mendengar orangtuanya berkata, ‘nak, kami mencintaimu dan menerimamu apa adanya.’

Mereka tak pernah.

Itulah yang paling menyakitkan.

-o-o-o-o-

“Jonghyun? Apa yang kau lakukan di sini? Sekarang masih jam 3 pagi.”

“Aku sudah cerita semua pada mereka.”

Rasanya agak janggal di awal kepindahan Jonghyun. Jinki takut Jonghyun marah padanya. Ia tak seperti biasanya. Tidak tersenyum, tak lagi menyanyi, bahkan tak bicara pada Jinki sepatah katapun. Kamar Jinki menjadi rumahnya. Dan ia hanya pergi saat mutlak diperlukan.

Jinki ingin sekali mendobrak pintu yang terkunci rapat itu, merangkul pinggang Jonghyun dan membisikkan kata-kata penyejuk hati di telinganya (“semuanya akan baik-baik saja. Pada akhirnya orangtuamu akan menerimanya dan kita bisa hidup bahagia”). Hal terakhir yang dibutuhkan Jonghyun adalah kebohongan. Jadi Jinki meninggalkannya sendiri. Apartemennya jadi senyap.

Jonghyun butuh waktu untuk menyendiri dalam diam, pikir Jinki. Dan ia benar. Penantiannya terbayar dengan manis. Tiga bulan kemudian ia bangun disambut senyum cerah dan belaian mesra. “Pagi, hyeong.”

Jinki tak sadar betapa ia merindukan suara kekasihnya sampai ia mendengarnya pagi itu; serak dan kasar namun merdu di telinga Jinki.

“Pagi, Nafas-Bau. Sudah lama sekali,” gumam Jinki. Ia menyeringai malas, bahagia dalam dekapan Jonghyun.

“Aku tahu. Maaf ya… Neomaneul saranghae.”

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan Jonghyun merasa aman dan nyaman, berbaring di ranjang bersama Jinki yang kikuk. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ujung bibirnya melengkung ke atas. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pula Jonghyun tahu bagaimana rasanya cinta: hangat dan menggelitik bagian dalam tubuhnya.

Sekaligus merupakan saat terakhir.

-o-o-o-o-

“Tadi siang terjadi kebakaran di restoran Haneul. Api berhasil dipadamkan namun api telah melalap hampir semua bagian restoran dalam waktu satu jam. Empat orang meninggal dan sembilan orang terluka berat…”

“Yeoboseyo. Anda telah tersambung dengan Lee Jinki. Saat ini saya sedang tidak bisa menjawab panggilan Anda. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi bip.”

-o-o-o-o-

Malam itu Jonghyun tidak kehabisan air mata, tidak lelah untuk menangis, gemetaran, sendirian dalam dingin (sebenarnya sedang musim panas. Temperatur mencapai lebih dari 28 derajat. Walau begitu ia masih menggigil, merasa kedinginan tanpa pelukan Jinki, tanpa leluconnya yang menghangatkan hati, tanpa senyuman Jinki).

Ia menyalahkan dirinya hari itu dan hari-hari sesudahnya. Sebab ia butuh tiga bulan penuh untuk mengerti bahwa persetujuan orangtuanya seharusnya tidak mengganggu hubungannya dengan Jinki. Tiga bulan penuh untuk menyadari bahwa yang ia butuhkan untuk membahagiakan dirinya hanyalah Jinki. Tiga bulan penuh berlalu sia-sia, dimana seharusnya ia bisa bangun di samping wajah damai Jinki, bukannya bantal yang kasar dan dingin. Tiga bulan penuh dimana ia bisa mencintai dan dicintai.

Kesempatannya melayang sudah.

-o-o-o-o-

It’s a lie, it’s a lie

We can’t end like this

Come back to me again, please come back to me

I can’t believe the fact that you are leaving me

 

-o-o-o-o-

Kau menjijikkan. Kau patut mendapatkannya.

Jonghyun mulai mendengar suara ibunya seminggu setelah peristiwa itu, setelah yakin Jinki termasuk diantara keempat korban (“apakah ini kediaman Lee Jinki? Maaf sebelumnya. Lee Jinki meninggal dalam kebakaran.”) Suaranya memenuhi benak Jonghyun. Kata-katanya selalu sama.

Kau menjijikkan. Kau patut mendapatkannya.

Terus-menerus berulang. Ia mulai sinting. Gemeretak giginya tak mampu menghilangkannya. Tinju di bantal, dinding, cermin. Jeritan keras, sedu-sedan, kesunyian. Musik, video, voicemail. Tak ada yang sanggup menenggelamkan kata-kata itu. Jonghyun mulai mempercayainya.

Kau menjijikkan. Kau patut mendapatkannya.

Butuh tangan berdarah-darah dan satu setengah bulan kemudian agar Jonghyun bisa mendesak suara ibunya keluar dari kepalanya. Sekali lagi ia bisa mengendalikan akalnya, pikiran menjadi miliknya sepenuhnya tapi ia malah terseret ke dalam jurang depresi dan tak bisa memanjat keluar dengan mudah.

Jonghyun berusaha, ia berusaha keras untuk meloloskan diri. Ia memanjat dan terus memanjat, sampai ujung jarinya campuran putih dan merah, sampai air matanya habis, sampai ia letih. Tapi tidak berhasil. Hanya sebuah lagu trot, sebotol soju, gurauan konyol, atau satu benda yang mempunyai hubungan dengan Jinki bisa membuatnya terjatuh.

Kemudian Jonghyun merangkak dari dasar lagi sampai ia tak tahan. Memandang lekat sebotol pil di lemari obat, ia bersumpah bisa mendengar botolnya berderik, pilnya berbisik, merayunya, membujuknya untuk menelan sampai butir terakhir. Lalu ia kehilangan kendali atas pikirannya lagi, suara pil mengambil alih dan otaknya mencerna itu semua.

Kami bisa mengakhiri penderitaanmu. Kami adalah solusi permanen untuk depresi. Kami bisa mengeluarkanmu.

 

Kami bisa mengakhiri penderitaanmu.

 

Mereka merayunya setiap kali ia terjatuh, setiap kali ia merasa tak berdaya dan menginginkan Jinki untuk mengganti bantal dingin yang didekapnya.

Kami bisa mengakhiri penderitaanmu.

Suaranya semakin keras, berulang lebih sering, karena Jonghyun terus jatuh. Ia lelah mencoba keluar dengan kekuatannya yang tak seberapa. Hal-hal kecil sekalipun mengingatkannya pada Jinki. Tawa, senyuman, ranjang, mengingatkannya pada Jinki. Segalanya.

Kami bisa mengeluarkanmu.

 

Kali ini suara itu tidak membuat Jonghyun gila. Tidak ada lagi kepalan tangan berdarah, jejak air mata di bantal, atau teriakan keras. Ia melangkah dengan tenang, hampir kelihatan waras sampai ia mengambil botol dan menelan isinya satu persatu. Tiap tegukan, tiap sesapan air meredam suara sampai mereka benar-benar hilang dan semuanya berwarna hitam.

-o-o-o-o-

I still can’t forget you

I still can’t trust everything

Even today I can’t send you away like this

 

-o-o-o-o-

Namun tak lama kemudian kegelapan itu terganti dengan sebuah ruangan. Seorang dokter dan tiga temannya dengan raut khawatir duduk di sisi ranjang, meremas tangannya erat.

“Jonghyun! Shisus, kau masih hidup… Sialan, jangan pernah menakuti kami seperti ini lagi!”

Hanya kalimat itu yang bisa ditangkapnya. Ia tidak tahu suara siapa itu, karena hal itu tidak penting. Yang menjadi soal, Jonghyun mengutuk dirinya sendiri, adalah ia masih hidup, dan ia terjatuh lagi.

“Persetan dengan pil!” jerit Jonghyun keras-keras, meninju ranjang rumah sakit.

-o-o-o-o-

This is all a lie, not the truth

I can’t believe it any longer

I will tell you many times to come back to me

This is all just a lie

 

-o-o-o-o-

Ia masih berada di rumah sakit saat menyadari bahwa depresi tidak akan membantunya. Depresi tidak akan mengembalikan Jinki dan tak akan membuatnya merasa lebih baik. Jonghyun memang tidak pernah memanjat keluar sepenuhnya, tapi ia tak lagi sedalam dulu.

“Kumohon! Akan kuberikan apapun. Akan kubayar. Aku akan melakukan apapun. Kembalikan…” sekali lagi ia tidak kehabisan air mata, mengambil nafas dalam dan pendek di sela kata, mencengkeram tangan suster, “kembalikan..Jinki..padaku.”

Mereka semua merasa kasihan pada Jonghyun; ia bisa merasakannya, meresap ke pori-porinya, tatapan iba mereka membakar tubuhnya, menyalakan sebersit perasaan bersalah. Ia tak mau dikasihani.

Ketika Jonghyun tahu bahwa ketiga temannya telah membayar biaya pengobatannya, ia berusaha menyatukan lagi kepingan-kepingan hidupnya. Ia mulai menawar karena ia pikir ini akan membetulkan semua, karena ia pikir ini akan berhasil.

Akan kuperbaiki semua.

 

Aku tak akan bunuh diri lagi. Aku harus bersyukur atas kesempatan kedua ini.

 

Akan kubayar Minho, Key, dan Taemin untuk semuanya.

 

Aku akan mencari pekerjaan yang lebih layak dan membalas budi mereka bertiga, semuanya.

 

Aku akan meminta maaf pada orangtuaku karena aku telah mengecewakan mereka.

 

Aku akan minta supaya mereka menerimaku kembali dan dengan bangga mengakuiku sebagai anak lelaki mereka.

 

Aku akan menikahi siapapun yang mereka inginkan.

 

Aku akan berhenti jadi gay.

 

Aku tak akan menciumnya atau mencumbunya sama sekali, jika kau bisa mengembalikannya. Aku tak tahu bagaimana caranya… Tolonglah…

 

Ia bangun setiap hari, berharap bisa kembali ke rumah saat itu juga, Jinki tersenyum padanya, membisiki “pagi, Nafas-Bau, apa yang akan kita lakukan hari ini?” Ia berharap bisa menemukan selembar note, sebuah tanda, apapun yang menandakan Jinki sudah kembali dan hanya bisa tinggal jika ia terus menawar.

Tapi tawarannya sia-sia.

-o-o-o-o-

Now you are no longer next to me

That is the truth, I don’t want to believe it

Come back to me, even if I say this many times

All of this just has to be a lie right now

 

-o-o-o-o-

Jonghyun berhenti menawar sekeluarnya dari rumah sakit beberapa minggu kemudian. Meski begitu ia masih merasa tak berdaya.

Atau mungkin tawaranku tidak diterima karena Jinki belum benar-benar pergi, pikirnya suatu hari.

Awalnya ia menolak pendapat itu karena kedengarannya aneh.

Jinki sudah pergi, Jonghyun mengingatkan dirinya sendiri. Berhenti membohongi dirimu, katanya.

Benih suatu gagasan telah tertanam dalam otaknya. Mula-mula kecil, tidak tumbuh, tidak disiram, dan tidak terkena matahari. Kemudian mulai tumbuh perlahan, kadang-kadang terpercik air saat Jonghyun memandang lekat ranjang Jinki, mencoba mengkhayalkan Jinki masih di sana sementara sisanya adalah mimpi buruk. Tatapannya menjadi lebih sering, bahkan ada kalanya ia memanggil-manggil (“Jinki-hyeong. Berhentilah bermain-main. Ini tidak lucu. Aku mencintaimu”), dan benih itu disiram setiap hari, tumbuh lebih cepat dari sebelumnya.

Gagasan itu mekar seutuhnya, sinar matahari menyinarinya, saat Jonghyun membaca di internet suatu hari.

Teknologi itu hebat, ia mendapati hari itu juga. Efisien, nyaman, dan bisa melakukan segala sesuatu. Teknologi bisa menciptakan Jinki yang lain.

-o-o-o-o-

It’s a fact

My mind knows, but my heart can’t get accustommed to it

In the uncertainty, without even knowing, I keep clinging on to the different parts

This situation that fell on top of my head randomly

I can no longer handle it

If I can’t empty you, I will try to erase again

I will rewrite the story of you and I

 

-o-o-o-o-

Enam bulan setelah kejadian itu tak ada yang mengira Jonghyun akan merasa lebih baik. Walau begitu, mereka tidak menyangka ini.

“Hei, lihat! Ini Jinki!”

Senyum Jonghyun tak mencapai matanya, tapi masih mengherankan melihatnya tersenyum, tangan mengepit apa yang ia kenalkan sebagai Jinki.

Mereka bungkam sebab takut mengatakan hal yang salah, takut menyinggung Jonghyun, takut membuatnya depresi lagi. Dan mereka bungkam karena lidah mereka kelu, bingung, tak tahu bagaimana caranya untuk menanggapi situasi ini.

Minho memecah keheningan, berdehem, “uh, hyeong. Itu bukan…”

“Apa yang kau bicarakan? Dia Jinki!”

“Hyeong, dia… sudah tidak bersama kita lagi.”

“Dia ada di sini, Minho. Jadi diamlah.”

Kesunyian hinggap kembali, menyumbat tenggorokan mereka, dingin, menyesakkan. Tak ada yang berani untuk melawan, untuk menyuarakan pendapat di ujung lidah. Kesunyian menang, menindas pikiran mereka, menjeratnya dengan seutas tali.

Tapi tidak terhadap ‘Jinki’.

Saat terdengar bunyi logam berdenting dan Jinki menoleh, menimbulkan bunyi deru mesin yang keras, kesunyian lenyap. Pikiran mereka memutus tali itu dan meledak dengan kekuatan penuh.

“Dia itu robot, Jonghyun! Robot! Dia bukan Jinki-hyeong, dia sudah mati,” lengking Kibum melemparkan tangan ke udara.

“Tolong dengarkan kami… Dia bukan Jinki-hyeong,” Taemin berusaha tetap tenang, tak sadar air matanya mengalir. Ia tak menyadari inilah pertama kalinya ia menangis semenjak kematian Jinki.

Senyum Jonghyun hilang, digantikan garis lurus dan dua kepalan tangan, gemetaran. Gemetaran sama seperti di malam ia mendatangi orangtuanya dan di malam Jinki dipastikan meninggal. Namun ia gemetar bukan karena depresi, melainkan karena kemarahan.

Minho menangkap getaran Jonghyun, tak luput nafas berat yang ditariknya. Ia khawatir. Dengan lembut diremasnya bahu Jonghyun, “kita harus bicara, mari-“

“Jika kalian tidak percaya, lupakan saja! Dia Jinki. Kalau kalian tidak percaya, lebih baik bagiku! Sialan! Kukira kalian akan senang kubawa Jinki kemari. Kukira… Kukira… Ah, brengsek!”

Dengan bantingan pintu, kesunyian menyergap.

Menyumbat tenggorokan mereka, dingin, menyesakkan.

-o-o-o-o-

Like this again (Fiction in Fiction)

I can’t forget you (Fiction in Fiction)

I am writing the story that will never end in my heart

I will hold on to you (Fiction in Fiction)

I won’t let you go (Fiction in Fiction in Fiction)

Even today, I’m in the story of you and I that hasn’t ended still, in Fiction

 

-o-o-o-o-

Jonghyun berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bahagia.

Ia memaksa ujung bibirnya untuk mengukir seulas senyum cerah, yang bersinar, yang sesungguhnya. Jinki yang ini nyata, ujar Jonghyun pada dirinya sendiri, senyum tipis terlukis di wajahnya saat ia mendengarkan.  Ia ingin menutup mata, mengabaikan dentingan jemari logam Jinki menekan tuts piano, mempercayai bahwa ini adalah nada yang sama, menenangkan, seperti yang dulu dimainkan oleh Jinki. Ia ingin ikut menyanyi seperti dulu, menyandarkan kepala di bahu empuk Jinki, menyelipkan tangannya di sekeliling pinggang Jinki (yang tersentak akibat sentuhan yang tiba-tiba, setelah itu tersenyum).

-o-o-o-o-

I will say this again, one more time

Right now you are next to me

I’m believing like that

 

-o-o-o-o-

Akan tetapi Jonghyun tidak bisa.

Berbeda. Tidak sama.

Suara logam beradu dengan melodi piano, mengalahkan nada-nada lembut, mengurangi efek menenangkan. Jonghyun tidak bisa ikut bernyanyi. Irama, nada, semua tenggelam di bawah dentingan keras menyebalkan. Ia tidak bisa bersandar di bahunya; dingin, dan tidak lagi pas. Juga ia tak bisa memeluk pinggang Jinki; kotak dan tidak mempunyai kehangatan (dan Jinki tidak tersentak ataupun tersenyum).

Jonghyun masih saja mencoba berbahagia di samping Jinki yang ini dan tertawa.

Tawanya canggung, dipaksakan, dan terasa baru.

“Ah. Jinki-hyeong… Aku rindu lelucon garingmu.”

Ia berkelakar, tertawa kecil saat mata dan bibir Jinki menunjukkan pengenalan. “Hahahaha.” Ia memaksakan gelak yang sama ketika Jinki ‘tergelincir’ saat melakukan body gag.

Tapi ia tahu tawanya palsu.

Lelucon Jinki yang ini tidak disampaikan dengan cara yang sama, suaranya datar dan artinya jadi hilang. Jinki yang ini cuma tertawa, tidak membalas dengan lelucon lain atau sesuatu hal konyol yang hanya mereka yang tahu. Jinki yang ini tergores dan penyok akibat dari body gag. Jonghyun harus memperbaikinya.

Masih juga ia berusaha membujuk dirinya. “Ini Jinki, dia nyata, dia sama persis seperti Jinki, dia lebih baik daripada tak ada sama sekali.”

“Aku merindukanmu,” gumam Jonghyun sambil mendekap selimut, kelopak matanya terasa berat namun ia memerintahkan dirinya untuk tetap terjaga, meresapi setiap detik yang berlalu bersama Jinki.

“Aku juga merindukanmu,” jawab Jinki, suaranya datar, berusaha merebahkan diri di ranjang, ingin meringkuk di samping Jonghyun. Jonghyun tersenyum pada kesungguhan Jinki, hendak tinggal tapi matanya berkata lain, “jal jayo, hyeong.” Mungkin hal ini tidak terlalu buruk, ujarnya pada diri sendiri, mata tertutup, siap untuk tidur.

Ia tidak mempercayai dirinya sendiri.

Makan waktu sepuluh menit agar Jinki bisa berbaring. Ia masuk dengan kikuk, deru bagiannya yang bergerak membuat Jonghyun tidak bisa tidur dengan tenang. Mengingatkan bahwa ia bukan manusia. Kemudian Jinki berada di bawah selimut, menghujamkan lengan robotnya ke sekeliling tubuh Jonghyun.

“Keluar dari ranjang ini. Kau bukan… Kau bukan Jinki,” desis Jonghyun.

-o-o-o-o-

Right now I’m writing such a happy story

But it is all just a wish still

 

-o-o-o-o-

Potongan logam berserakan di lantai dan sekitar ranjang Jonghyun. Kelopaknya masih terasa berat, sekarang matanya merah, pipi basah oleh air mata sekali lagi. Tapi ia terjaga sepanjang malam, membongkar robot. Kelegaan yang aneh berkecamuk saat ia melempar bagian terakhir ke lantai. Diamatinya logam kecil itu menggelinding menuju bawah rak. Lalu ia mendengarnya terus bergulir, mendengarnya menabrak dinding, mendengarnya ragu-ragu untuk berdiam di sana, mendengarkan kesunyian yang mengikuti.

Ia tak melakukan apapun selain duduk di sana, menatap potongan logam mengotori kamarnya. Kacau balau. Ia menyadari bahwa hidupnya bahkan lebih kacau lagi.

“Aku harus bangkit,” bisiknya pada diri sendiri, mengulanginya  di kepala sepanjang malam.

Jonghyun berusaha. Pergi kerja setiap hari, berbicara dengan semua orang yang diabaikannya, bergaul dengan Minho, Key, dan Taemin, tertawa, tersenyum. Ia hampir ‘normal’ lagi, kata teman-temannya dengan senyum bangga.

Tapi Jonghyun tahu benar, ia masih kehilangan sebagian dari dirinya. Dan kala ia pulang malam dipandanginya sebuah kotak berdebu berisi bagian-bagian mesin di pojok kamar. Senyumnya kecil, getir. “Aku masih merindukanmu. Aku masih mencintaimu.”

-o-o-o-o-

I kiss you as if there is nothing wrong

I can’t leave your sweet presence

There is no such thing as an end for us

 

-o-o-o-o-

Teknologi tidak sempurna, Jonghyun mengambil kesimpulan sambil terus menatap kotak. Teknologi itu rumit, mengganggu, dan cacat.

~끝~

Bijimana? Super-duper-amat-sangat-absurd-bin-ancur-banget-sekali, bukan? Liriknya juga nggak nyambung. Ugh. Semoga saja reader sekalian tidak kecewa.

Nyesek banget pasti jadi Jonghyun. *nepuk bahu Jjong* Aku tau rasanya, bang. Sama aku aja yuk… *kedip-kedip najong* *Onew: woy! Jangan sembarangan rayu namchin orang ya! Kuppoppo baru tau! Dasar stan rupawan!* #khayalantingkatdewadewiYunani

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “Mesin Tanpa Jiwa”

  1. Neomu-neomu-neomu johasseo~! Keren bageeett…

    Waktu baca awalnya sih agak nggak mudeng… Kata-katanya harus diproses agak lama di otakku biar bener-bener ngerti. Awalnya aku nggak tau kenapa Jonghyun diusir sama ortunya, tapi pas di tengah-tengah jadi mudeng juga…

    Terus waktu yang ‘pil’ itu, pil yang dimaksud pil apa ya? Jonghyun mau bunuh diri pake pil ya?

    Kasian ya Jonghyun, sampe segitunya. Kejam banget Lee Jongki, bikin biasnya sendiri super duper merana seperti itu…

    :p

  2. Super-duper-amat-sangat-kejam-bin-parah-banget-sekali jongki oppa mah.
    Liat noh,si jjong udh kaya manusia error bin tolol.Coba aja,keilangan jinki depresinya sungguh-sangat-amat kelewatan,,ck…ck…ck.Sampe beli robot segala lagi,,aigoo~yg sabar lah kau jjong,pasanganmu emang kaga pernah setia,,mending ma aku aja*dikubur jongki oppa*
    Dan apalagi itu?makan racun satu botol kaga mati?makanya jongki-ppa,,beliin si jjong racun yg mahalan gitu biar ngisep sekali aja lngsung terbang nyawanya.

    Hehe,tumben noh crita berat bnget..ngertiin apa,otakku lama klo konek../plaaks.Tadi prlu dua kli ku baca bgian atasnya,nyehehe…
    Onhyun,onjong,jongyu…bnyakin scene lucunya laen kali oppa,jdi lbih nyaman bcanya.O’key..
    Kemyong…!HWAITING!

  3. setelah berjuang lama akhirnya jjong bisa bangkit jg…meskipun ttp msh jatuh merindukan jinki lg.

    Johaeee~ thor! Suka shounen ai yg kea gni d^^b

  4. Baca ini bikin frustasi sumpah. Tapi aku suka bahasanya. Repetisi itu kadang bikin feel-nya dapet..

    ff-nya Jongki tentang OnJong sad ending mulu. Sesekali aku pngen tau gimana kalo mereka dipersatukan, bukan dipisahkan oleh kenyataan yg kejam #eaa

    Oh, well. Keep writing (-_-)9

  5. ya ampuuunnn … jonghyun miris banget ..
    bersusah payah keluar dari lubang kenistaan …
    untung ajja akhirnya dia bisa sedikit menerima kenyataan ….
    beberapa kali baca JongYu pairing agak2 gag dapet gitu feel’nya *masih kalah saing ama JongKey & 2Min , tapi lama2 mulai dapet jg chemistry’nya ..^^

  6. Lama2 gue curiga, oppa jgn2 yeoja #eh #digampar soalnya gaya cuap2nya itu…. XD #ditamparlagi

    hehe ampun .-. Bercanda deh jgn marah u,u

    DAN DEMI…… INI NYESEK!!!! NYESEK PAS BAGIAN ITU TUH, JINKI ROBOT SAMA JJONG! AARGH DIRIMU BAKAT JD PENULIS CKCKCK #capsdiinjektomcat

    sumpah yaaaaaa ini fict dewa asli!!!! Asli keren! LOL

    teruslah menulis! Semangat dgn hidupmu! Yihaaaaa ~ (?)

    1. Sama. Lama2 gw curiga nih.. lee jongki itu sbner’y yeoja yah? ayo ngaku!! Ngaku!! Ngaku!!
      hahaha becanda diing.. 😛
      ff yg bngus,, walopun bhs’y berat skaleee *PLakk, maap lola* yaammplop abang Jong sayang ampe sgitunya dtnggal onew T.T

  7. Menderita banget Jong.
    Kasihan.
    Bagus author, buat hati jadi nyes ngebayanginnya.
    Ceritanya bagus author.
    Sedih banget.
    Tapi chemistry kurang bisa dibayangin soalnya biasanya pairing JongKey, OnTae, 2Min

  8. Lee Jongki? Ini pertama kalinya aku baca ff-mu dan aku langsung terkesan
    Kata-kata yang dipakai bener-bener dalem meskipun agak susak diartiin *??*
    Tapi secara keseluruhan, aku sangat menikmati cerita ini 🙂

    Nice story!

  9. jongki oppa.. remember me? remember me? *nyanyi danger – f(x)* xD

    omo.. sbnarnya sy ga suka dgn ksah ssma jenis -.- aq trlalu polos utk bsa mmbayangkannya u.u #pletak
    tp ini keren, oppa. bagian robot-robotan itu miris banget! kbayang deh, klo itu film mgkn sy uda nangis (?)
    soalnya nyesek amat liat jjong uda stress kyk gitu. blm lg ngbayangin robot onew (walo susah ngbyanginnya)
    pokoknya daebak deh oppa! kata-katanya bgus. fighting!! ^^

  10. Aigoo..
    ksiannya Jjong..
    teknologi it emg gak smpurna.. liat aja laptop aku,, bru aja dpke udh rsak #curcol…

    4 kata saja..
    FF INI KEREN SEKALI….!!!!

  11. ya ampun,kasian bgd jjong sampe depresi gitu

    udah,balik ama key lg aja tuh
    haha

    cerita.a bagus thor,tpi ko kadang aku ga ngerti sama bahas.a ya?

  12. Daebak . . . .!!!
    Aku. . . Aku . . . Aku. . . Aku gak bs ngmong lg . . . Keren bgt. . .

    Kau bnar2 author idolaku. . .

  13. onjong shipper? yay, samaa…

    nice shounen-ai story. sisi perasaannya aduh, berasa banget. nangis, pengen nonjok” dinding ngebayangin jjong kaya gitu T^T be strong jonghyun oppa. jatuh berkali-kali, sampe jadi stress gitu.

  14. well aku baca ini sambil denger lagu ‘aku jatuh cinta’ yang diputer kakak aku dan sukses buat aku mendayu2 bacanya….. “sial ini lagu kenapa klop banget, lbh sedih dr lagu yg disaranin”
    dan aku mau nangis, tp malu ada kakaku yg siap ngejek klo aku nangis cm krn tulisan hahahaha
    baca ini bener2 mainin emosi jiwa (?) nahloh hahaha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s