Our Saturday Morning

Judul FF          : Our Saturday Morning [1shoot]

Cast                 : Kim Taeyeon, Lee Jinki

Genre              : Romance, Family

Author             : Song Miinah

FF oneshoot pertama nih. Rada nervous. Soalnya gak penah bisa bikin FF oneshoot sebelumnya J. Jadi, hope you’ll like it ok? Thanks.

 

~~~~

 

Seperti setiap Sabtu yang lalu-lalu, aku selalu bangun lebih awal dari mentari. Berlari kecil kearah pintu rumahkuseraya menyapa Sabtu pagi yang masih berembun. Aku selalu suka berdiri di ambang pintu sembari bersiul-siul kecil, menunggu pria serba kuning mengampiri gubuk kecilku.

“Pagi, Taeyeon.” Sapanya. Pagi ini dia juga datang. Dia memang selalu datang di Sabtu pagi. Menyapa pagiku dengan sapaan hangat dan senyum bapak-bapaknya.

“Pagi, Pak Pos.” Jawabku. Dia memberikan selembar amplop kekuningan yang sudah kutunggu-tunggu seminggu ini. Setelah membungkuk sekali, ia kembali menaiki sepeda tuanya. Sepeda ontel tua yang sama tuanya dengan usianya. Dia melambai sembari berusaha mengayuh sepedanya meninggalkanku dan amplopku. Dia masih punya tugas lain, selain menyapa Sabtu pagiku.

Hartaku. Aku selalu menerima ‘harta’ ini setiap Sabtu pagi. Amplop kekuningan dan bau rumah sakit yang selalu menjadi penghibur hatiku. Aku tidak pernah mementingkan keadaan amplop ini. Bagiku, asalkan amplop ini datang kepadaku setiap Sabtu pagi, itu sudah merupakan anugerah yang menyenangkan.

Sampai aku tua pun, aku tak akan pernah merasa bosan dengan amplop yang selalu datang di setiap Sabtu pagi. Amplop ini seperti candu bagiku. Bahkan sampai amplop ke-100 ini, masih saja aku berdebar-debar ketika ingin membacanya.

 

Setiap Sabtu pagi aku menitipkan cintaku disurat dan amplop ini. Kau selalu senang menerimanya, kan?  Setiap sabtu pagi aku selalu berharap agar dapat melihat senyum diujung bibirmu. Setiap Sabtu pagi aku selalu berharap agar aku dapat membuka mataku lagi. Agar aku dapat menitipkan cintaku di Sabtu pagi berikutnya, seperti hari ini. Agar aku dapat menyapamu dari sini.

Taeyeon, nafasku semakin berat saja. Entah kenapa dan sejak kapan bisa seperti ini. Aku benci seperti ini. Pandanganku buyar, dan semakin membuyar setiap detiknya. Setiap tarikan nafas yang kuambil, terasa melelahkan. Rasanya seperti seseorang berusaha merampasnya dariku.

Tapi tak apa-apa. Aku tak akan mengeluh tentang apapun yang kualami selama kau masih ada untukku. Selama masih ada kenangan Sabtu pagi yang membuat jantungku memompa lebih kencang ketika aku mengingatnya. Selama masih ada bayanganmu yang membuatku terasa hangat dan indah.

Taeyeon, bukan kau berjanji akan selalu mengingat Sabtu pagi kita? Akan terus menungguku? Akan terus mendukungku? Tetap ceria, Taeyeon. Aku selalu mengagumi wajah cantikmu yang sedang tertawa. Kau tak ingin membuatku khawatirkan?

Taeyeon yang bersinar dan menghangatkan, kau tau aku bukan pria yang mudah menyerahkan? Aku tak akan menyerah pada penyakit sial ini. Jadi, ketika aku menulis surat ini… aku baik-baik saja. Begitu baik  hingga aku menyesal memiliki tubuh lemah seperti ini. Walau tubuh ini terasa sangat berat, tapi aku tidak apa-apa.

Kini terfikir olehku, akan sangat sulit melawan penyakit ini. Tak sedetikpun ia mau lepas dariku. Aku berfikir untuk membiarkan ia ‘menumpang’ ditubuhku. Selamanya bersamaku. Kau tidak keberatan, kan? Tenang saja, kau tetap menjadi yang pertama untukku.

Taeyeon yang paling indah, teruslah percaya…

Ketika kau membuka matamu di Sabtu pagi… akan ada aku didekatmu. Bersama angin dan bersama mentari yang menerobos pepohonan.

 

~JINKI~

 

Mataku hampir meloncat keluar kali ini. Kelopak mataku menolak untuk mengepak. Dengan gemetar aku meletakkan surat itu ke meja. Entah kenapa kali ini aku benar-benar berharap tidak perlu menerimanya. Dering telepon terdengar sangat kencang kali ini. Membuat tubuhku tidak nyaman dan kaku. Jantungku memompa terlalu cepat. Rasanya sesak seperti tercekik.

Aku menolak mengangkat telefon itu. Dengan sukarela, aku mempersilahkan Eommaku mengangkatnya untukku.

“Taeyeon….” Eomma memanggilku dengan suara berat yang tak pernah kudengar sebelumnya. Dengan nafas yang memburuku aku menoleh pada Eommaku, “Ada apa?”

“Jinki sudah berpulang….”

Detik ini, aku merasa aku telah tewas oleh nafasku sendiri.

###############

2.5 tahun yang lalu

 

            “Aku menyukai kakak senior.” Ujarku sambil mengacungkan amplop kekuningan tanpa menoleh kearah wajahnya sedikitpun.

            “Hah? Kau suka aku? Benarkah?” tanyanya. Aku mengangguk cepat sambil terus menunduk. Aku terlalu malu untuk memperlihatkan wajahku yang sudah merona seperti ini.

            “Siapa namamu?” tanyanya lagi. Dengan hati-hati aku mengangkat wajahku menatapnya, “Taeyeon.”

            “Taeyeon? Kau anak kelas 2 yang waktu itu kan?”

            Aku mengangguk untuk yang kesekian kalinya. Astaga. Bagaimana dia masih mengingatku? Padahal perjumpaan kami yang pertama begitu cepat dan singkat sepeti mimpi indah dimalam hari.

            “Baiklah, Taeyeon… apa yang kau suka dariku?”tanyanya.

Aku kembali merona dibuatnya, “Kau… berkilau!! Kau berkilau seperti Sabtu pagi!”

Dia memicingkan matanya. Alisnya yang sedikit terangkat menjelaskan padaku bahwa ia bingung dengan alasanku tadi. “Begini… setiap aku melihatmu, kau terlihat sangat berkilauan dimataku. Kau begitu hebat dan mempesona. Rasanya sama ketika aku melihat mentari di Sabtu pagi.” jelasku.

Dia hanya tertawa ketika aku selesai dengan kata-kataku, “Kau lucu sekali. Tetapi aku punya hal yang akan membebanimu kalau kita menjalin hubungan. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku takut kau akan mencampakkanku nantinya.”

Aku menggeleng cepat, “Tidak apa-apa dan tidak akan!! Bukankah sudah kubilang kau seperti Sabtu pagi? satu-satunya yang aku sukai di Dunia adalah Sabtu pagi yang berkilau. Apapun kau, aku akan selalu menyukaimu karena kau seperti Sabtu pagi.”

Dia menatapku kali ini dengan senyum hangat yang membuatku mencair. Matanya terlalu teduh untuk kupandang seperti ini. “Aku percaya padamu. Mulai saat ini aku akan menjadi Sabtu pagimu.” Balasnya.

Aku nyaris meloncat kegirangan ketika mendengarnya. Hilang rasanya semua penat dikepalaku. “Tapi kau juga harus jadi Sabtu pagiku?” pintanya. Aku membesarkan mataku, “Hah?”

“Jadilah Sabtu pagiku yang paling hangat di Dunia.”

 

#########

            ‘Aku tak percaya akhirnya Jinki menyerah tentang Tumor Otaknya. Padahal sudah hampir 2 tahun dia berjuang.’

Ucapan yang aku dengar dari mulut seorang ibu-ibu di acara pemakaman Jinki seminggu yang lalu masih mengiang di telingaku. Mereka salah besar. Jinki tak akan pernah meyerah sampai kapanpun. Ia pria yang teguh. Aku percaya akan hal itu.

Sabtu pagi kali ini terasa hambar dan kosong. Aku seperti mengambang tanpa arah. Bahkan bau amis pantai sukar untuk kucium. Di otakku hanya ada keinginan untuk mencium bau rumah sakit pada amplop yang selalu Jinki kirimkan setiap Sabtu pagi.

Surat-surat Jinki kini sudah mengambang dilaut dalam bentuk perahu yang gagah. Mereka terus mengambang melawan ombak menuju ufuk terbitnya matahari di Sabtu pagi kali ini. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Bayangan matahari yang ingin menampakkan dirinya terlihat seperti Jinki yang sedang memanggilku. Aku terus menyeret kakiku kearah mentari. Bukankah Jinki bilang kalau dirinya itu cahaya mentari di Sabtu pagi? Aku hanya ingin meraihnya saat ini.

Dinginnya air laut sudah terasa sampai leherku. Entah kenapa semakin dalam dan semakin nyaman saja. Membuatku terlena hingga terus menyeret kakiku semakin jauh. 3  langkah kemudian aku merasa seseorang merebut nafasku.

Akhirnya… aku dapat merasakan apa yang Jinki rasakan. Ini terasa cepat dan sunyi.

~~~~~~

“Kaudengarberitanya?”

            “Apa?”

“TaeyeonakhirnyamenyusulJinki.”

            “Benarkah? Darimanakau tau?”

            “Kemarinjasadnyaditemukan di lautbersamabeberapaperahukertas.”

-TAMAT-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “Our Saturday Morning”

  1. berfikir… telefon.. pke P ya sayang 🙂
    berpikir.. telepon..

    Dia menatapku kali ini dengan senyum hangat yang membuatku mencair. — *masukkan taeng k kulkas* #abaikan

    huhuhu ff ontaeng.. tp knp meninggal.. hiks hiks.. ayo bikin lg ontaeng.. tp yg happy.. hahaha

  2. neomu johaeee~
    Taeyeon akhirnya bunuh diri atau keseret arus? *eh, mian rada ga ngerti kenapa taeyeon meninggal*

    Ayo bikin lg ff pairing ini.. Kekekek~

  3. Thor kok gak pake telpon aja,malah pake surat,,kan ditelpon itu kita bisa bicara sepuas nya,,kok taeyeon juga nyusul. jadilah sabtu pagi ku yg paling hangat di dunia,aq suka kata itu,daebak thor,,NICE FF

  4. aww, so sweet. Klo aku, Jinki bakal aku jadiin Senin pagi yg berkilau. Monday is the best day <- abaikan

    bener2 cinta mati ya, sama Jinki. Sampe ikut2an bunuh diri. Ceritanya keren deh 🙂

  5. waachh ,, ngenes ..
    gag nyangka taeyeon bakal nyusul jinki ..
    alna dia gag terlalu emosi atau ampe nangis darah gituw sich ,,, eh tapi ternyata akhirnya #apaan sich??
    LIKE !!!!

  6. Ini sad ya? Kok aku gak sadar ya?!

    Eum, disini -menurutku- Taeyeon-nya gak bunuh diri kan? Cuma jalan tapi gak sadar diri… *sok tau* *lempar sendal*

    Untuk FFnya…daebak!!!
    author jjang!

    Sekian *pang-pang*

  7. Aigoo.. aku ontaeng shipper.. tapi kenapa baru aj aku nemu ontaeng shipper, merekana malah mati?? Yahh tp setidakna, mereka bersamalah di akherat… hahahaha…
    Lanjutkan lagi Ontaengna yahh.. aku tunggu.. hehehehe

  8. Jleebbbbb *ngelap air mata*
    sedih sedih sangat!!!
    onew oppa pdahal baru aja bikin twitter tpi hrus meninggal #abaikkan 😀
    Kerenn BGT!.
    singkat tpi feel nya dpet.
    mnurutku tulisannya rapi ^^

  9. uwahh… FF-nya keren bget..
    tau” aja air mata udah jatuh..

    ngomong-ngomong,, bdanya Sabtu pagi ama pgi yag lainnya apa sih..?? #readerpabo

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s