Between Two Hearts – Part 6

Between Two Hearts[6] : Another Prince

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Kim Jonghyun

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-15

Summary:

 Key : “Sunny-ah…aku tahu kau membenciku. Tapi kumohon, jangan bersandiwara seperti ini, aku tidak tahan. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku selalu, selamanya adalah Key-mu….”

Serra : “Mianhae…aku tidak mengenalmu, sungguh…aku bahkan bukan Sunny. Minho-ya…jangan diam saja, singkirkan tangan chingumu ini dari pinggangku….”

 

+++++

 

Minho’s POV

“Dimana Key?”

Key? Siapa Key yang dimaksudnya?

Hukum karma memang berlaku ya di dunia ini? Padahal ini hanya balasan yang kudapat di dunia, tapi rasanya mengapa begitu sakit? Bukan aku yang dicarinya, melainkan seseorang yang entah siapa, aku tidak tahu siapa pemilik nama Key yan baru saja disebutnya. Rasanya ini balasan untukku karena aku pun sering melupakannya, dan sekalinya aku teringat, aku justru tertipu dengan yeoja yang sosoknya mirip dengan Serra.

“Key? Key siapa, Sayang?” Omonim juga tidak kalah herannya denganku.

“Key? Key siapa? Eomma, siapa Key?” Sedetik kemudian ucapannya membuat kami yang mendengar saling menatap penuh tanda tanya. Bagaimana bisa Serra justru bertanya balik?

“Ahh…sudahlah lupakan…tidak penting sayang. Yang terpenting kau sudah sehat. Apa yang kau rasakan saat ini?” Kini abonim yang angkat bicara, sepertinya ia tidak ingin membuat Serra berpikir banyak, sesuai anjuran Dokter Park.

“Aku? Jantungku tidak sakit lagi. Wow ini melegakan! Apa yang sebenarnya telah terjadi?” Serra tampak tersenyum, tapi di akhir ucapannya tersirat ekspresi kebingungan.

“Banyak, tapi intinya kau mendapatkan keajaiban dari Tuhan,” aku menjawab sebelum orang tuanya menjawab.

Aku rasa sebaiknya Serra tidak tahu masalah transplantasi jantung, karena dari dulu ia memang selalu menolak dengan alasan tidak ingin mengorbankan hidup orang lain, hidup sang pendonor jantung. Bersyukur karena sepertinya mertuaku mengerti maksud jawabanku barusan, terlebih lagi Serra hanya mengangguk kini.

Serra menatapku datar, mulutnya sedikit terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu padaku, tapi ia urungkan setelah matanya melirik ke arah orang tuanya.

“Appa, Eomma, bisakah aku berbicara dengan Minho berdua?” tanyanya kemudian, disambut oleh anggukan kedua orang tuanya.

Kini rasa berdebar memenuhi dadaku, muncul pikiran-pikiran bernada cemas di dalam kepalaku. Aku takut Serra mengangkat tema pembicaraan itu, masalah yang membuatnya terbaring di Rumah sakit ini. Sungguh, aku takut kondisi kesehatannya  akan terancam lagi.

“Minho-ya…mendekatlah…,” pintanya padaku, membuatku jadi tersadar bahwa aku masih berdiri pada jarak yang tidak terlampau dekat dengannya.

Aku menuruti keinginannya, mendadak muncul perasaan ingin mengecup keningnya atau hanya sekedar memegang telapak tangannya, mengelusnya lembut. Tapi aku tidak berani, rasa bersalah begitu menghantuiku.

“Minho-ya, bagaimana nasib yeoja itu sekarang?”

Benar saja, ia mengungkit masalah itu. Haruskah aku menjawab? Jika aku mengalihkan pembicaraan, terkesan bahwa aku ini seorang pengecut yang lari dari masalah.

“Kandungannya gugur beberapa hari yang lalu. Saat aku datang ke rumah sakit untuk membayar biayanya, perawat mengatakan bahwa yeoja itu kabur dari rumah sakit…,” Aku berhenti bicara, menggantungkan kalimatku karena ingin melihat responnya dahulu.

“Lalu?” Ia tersenyum. Tapi, aku tidak berani memastikan maksud dari senyumannya itu. Mungkin saja itu adalah senyuman sindiran, kan?

“Serra-ya, apa setelah semua ini terjadi, kau masih mengizinkanku berada di sisimu?” aku memberanikan diri bertanya, sekaligus menyiapkan hati untuk menerima apapun jawabannya.

Aku bingung dengan diriku. Selama beberapa tahun pernikahan kami, aku tidak mencintainya. Di saat aku mulai mencintainya, muncul masalah serius. Dan kini, aku merasa tidak ingin kehilangannya, aku ingin menembus kesalahanku selama ini, aku ingin menjadi nampyeon yang baik untuknya. Dan aku rasa—aku mulai merasakan hal yang berbeda saat aku melihatnya, aku mulai menyadari bahwa rasa cinta telah tumbuh di hatiku. Salahkah aku? Serakahkah aku jika kini aku menginginkannya tetap menjadi milikku?

“Tentu, seperti yang kubilang, manusia sejahat apapun punya kesempatan hidup, begitu pula dengan kesempatan untuk dimaafkan. Termasuk kau…,” ia mengakhiri kalimat bijaknya dengan    sebuah senyuman yang kali ini bisa kurasakan sebagai senyuman ketulusan.

“Dan kurasa, yeoja itu berhak mendapatkan balasannya setelah semua kejahatan yang dilakukanny. Aku tidak akan memakinya, hanya bisa mendo’akan semoga hatinya akan diluruskan, atau jika memang tidak bisa berubah—biar Tuhan yang bermain dengan hukumannya.” Serra melanjutkan lagi.

Tidak ada raut kemarahan ataupun kebencian di wajahnya kini. Oh Tuhan, mengapa ada yeoja sebaik dia? Sungguh, hatinya begitu memesona, membuatku ingin menangis haru saat ini.

“Gomawo, jeongmal gomawo…aku akan memperbaiki diri.” Kuraih tangannya, kucium lembut telapak tangan tersebut sambil berusaha menahan bulir air mata yang sudah mulai meronta ingin keluar.

Dia Lee Serra, yeoja dengan hati terlembut yang pernah kukenal. Dia laksana kerang di dasar samudra, memiliki sosok luar yang indah, dengan isi yang memukau—seperti mutiara yang terdapat di dalam cangkang sang kerang tersebut.

Serra-ya…saranghae…

 +++++

 Author’s POV

 “Hiks…hiks…”

“Sunny-ah, waeyo? Kau bilang ada di Seoul?”

“Sunny-ah, jawab aku…dimana posisi detailmu? Apa yang sedang kau lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi sampai kau menangis?”

“Argggghhhhhhhh”

“Datanglah ke Hotel Shine, aku supir taksi.”

 Rangkaian percakapan tersebut terulang kembali di memorinya untuk yang kesekian kali, lagi-lagi suara desahan penuh kecemasan keluar dari mulutnya. Selama perjalanan Jeonju-Seoul, pikirannya tak pernah bisa luput dari Sunny, suara erangan Sunny di telepon membuatnya gila memikirkan apa yang terjadi pada yeoja yang sangat disayanginya itu. Perjalanan selama 3 jam dengan menggunakan bus itu dirasakan sebagai perjalanan terlama yang pernah ia rasakan.

Kini ia sedang dalam perjalanan menuju Hotel Shine, nama hotel yang disebutkan di telepon. Berkali-kali ia mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya ke jendela taksi yang ia tumpangi setelah turun dari bus tadi, hanya sekedar untuk menyalurkan rasa gelisahnya.

Sang supir taksi melirik sebentar ke arah penumpangnya, sedetik kemudian ia tersenyum simpul. “Sudah sampai , Tuan,” ujar sang supir taksi saat mobilnya sudah sampai di depan sebuah Hotel bernuansa Mediteranian itu.

Penumpangnya segera tersadar dari lamunan dan spontan menjawab, “Ah, ne, khamsahamnida Ahjusshi,” sahutnya sambil segara menyerahkan uang untuk membayar nilai yang tertera di argometer taksi.

Orang itu keluar dari taksi, dengan langkahnya yang dipercepat daripada normalnya. Tidak butuh waktu lebih dari lima menit baginya untuk sampai di depan meja resepsionis hotel.

“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Tanya sang petugas dengan ramah, namun terkesan sigap.

“Ne, aku ingin menanyakan nomor kamar seorang tamu yang bernama Han Sunny.”

“Apa Tuan bernama Kim Jonghyun?” sang petugas langsung teringat sesuatu ketika mendengar nama Han Sunny disebutkan.

“Ne, aku Kim Jonghyun. Bagaimana bisa anda mengetahui namaku?” Jonghyun mengernyitkan alis pertanda bingung.

“Nona Sunny sudah check out dua hari yang lalu, tapi sebelumnya ia memohon padaku untuk menyampaikan sebuah surat pada seseorang yang bernama Kim Jonghyun, aku sendiri tidak tahu apa isinya.”

Jonghyun POV

Sunny menitipkan surat untukku?

“Ah, ne, khamsahamnida.”Aku segera menerima surat yang diberikan petugas resepsionis tadi, masih dengan perasaan heran. Kenapa Sunny menitipkan surat? Tidak bicara langsung padaku ataupun mengirim pesan singkat lewat handphone. Ada apa sebenarnya?

Aku segera keluar dari Hotel Shine, mencari tempat sepi yang cukup nyaman untuk duduk. Sebuah restoran yang berjarak dua bangunan dari hotel tersebut berhasil menarik mataku untuk singgah. Setelah memesan jogiyangnyeom-gui, aku membuka lembaran surat yang awalnya terbalut amplop biru .

Dear My Baby Crying,

Bukankah di dunia ini tak ada yang abadi? So am I…

Bukankah ada saatnya di mana hitam menjadi abu perlahan, untuk kemudian menjadi putih?

Kau tidak mengeti maksudku?

My Time is short, so I’ll use it to do something precious.

Termasuk kau, hartaku yang sangat berharga.

Bukan maksudku membayar hargamu dengan untaian kataku pada surat ini.

Tapi, inilah bentuk kenangan terakhirku, meskipun aku tahu bahwa kenangan yang sesungguhnya itu berada dalam hati kita.

Jjong, aku telah melakukan kesalahan besar. Tapi, biarlah aku membawanya bersama kepergianku. Semoga hal yang sudah kulakukan untuk menebus kesalahanku bisa menghapus rasa bersalahku.

Jjong, sudahkah kau menemukan maksud berharga dari suratku ini?

Ya, ini tentang pemilihan langkah, Jjong. Jalan pilihan hidup laksana labirin yang rumit. Terkadang logika tak mampu membawa kita ke arah yang diinginkan. Seringkali, ketika langkah kita salah, sulit kembali untuk ke titik awal, terperangkap dalam jebakan hidup. Yang selama ini kulupakan adalah hati, aku hanya mengandalkan otak. Aku telah salah, kuharap kau tidak.

Miss U Jjong…

Good Bye…

We can’t meet anymore…

Take care yourself…

Be carefull with your choice, think it more before you choose

Kalau kau tidak paham maksudku, aku hanya bisa berkata: Ya!!! Kim Jonghyun Pabo!

 

Aku tertawa membaca kalimat terakhir, tawa dalam isak tangis. Ya! Han Sunny, cepat datang kemari dan maki aku sesukamu. Aku bodoh, aku cengeng, aku…ah, apapun yang kau mau…muncullah Sunny….Ini konyol, kau pergi untuk selamanya? Sunny-ah…sandiwara macam apa ini?

 +++++

Author’s POV

Hidup harus tetap berlanjut kawan, nyawa yang masih melekat dalam raga kita adalah anugerah. Kau boleh kehilangan sesuatu, tapi bukan berarti kau boleh berdiam diri meratapi nasib.

Dia sudah berusaha, dan akan terus berusaha sembari mengikuti garis takdir yang sudah melebur dalam darahnya, putra tunggal keluarga Kim. Suka tak suka, titah sang ayah harus dipatuhinya—beranjak ke Seoul untuk mengurusi cabang perusahaan Kim Company.

Namja tampan itu membungkuk, memberikan salam hormat pada Appanya yang telah menyambut di teras rumah dengan senyum penuh kebanggaan, melihat putra kesayangannya telah tumbuh sempurna—kini berada di hadapannya dengan keadaan yang masih sama, anak yang hormat pada orang tuanya.

“Kibum-ah, kita makan siang dahulu. Kau pasti rindu masakan rumah ini. Oh iya, besok-besok kau harus berkunjung ke rumah pamanmu, kemarin istri sepupumu baru saja mendapat keajaiban.” Tuan Kim merangkul pundak Key, mengarahkan langkah Key menuju hidangan lezat yang sudah tersaji di meja makan. Tidak pula domimyeon pun tersaji di atasnya, makanan kesukaan Key. Hidangan ini terbuat dari ikan air tawar yang digoreng fillet, dicampur sayur-sayuran dan mie tepung kentang dalam kaldu mendidih. Kesan mewahnya muncul karena yang digunakan adalah potongan ikan tanpa tulang.

“Ah iya Appa, aku belum pernah bertemu istri Minho karena dia menikah sewaktu aku tidak di Korea. Memangnya ada kejadian apa? Mengapa disebut Kejaiban?” Key bertanya ketika keduanya sudah berhadapan di kursi meja makan.

“Kau tahu kan, keajaiban mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan sebuah kejadian di saat jantungmu nyaris tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, lalu tiba-tiba bisa kembali normal, seolah tidak pernah mengalami sakit parah.”

“Sakit parah? Sakit apa?”

“Gangguan kinerja Jantung sejak kecil. Sungguh, hidup gadis itu dipenuhi keajaiban, dari mulai diadopsi oleh keluarga Lee, sampai mendapatkan nampyeon dari keluarga pamanmu. Kau mungkin kurang mengenal Minho, tapi dia adalah anak yang luar biasa sejak kecil.”

“Siapa nama yeoja itu? Aku jadi penasaran seperti apa sosok yeoja beruntung itu.” Key tampak antusias, tidak biasanya Appa-nya menceritakan masalah orang lain.

“Namanya Serra.”

+++++

Serra’s POV

Tuhan, terima kasih mengizinkan aku tetap hidup. Ini adalah satu dari berjuta keajaibanmu, atau bahkan tak terhingga. Aku bahagia bisa kembali ke rumahku lagi, bersama Minho yang untuk sementara tidak pergi ke kantor karena ingin menemaniku yang belum pulih benar. Ini adalah suatu kebahagian luar biasa, bisa melalui hari bersama Minho dalam keadaan normal. Setelah semua cobaan yang membentang, termasuk masalah orang ketiga yang singgah di rumah tangga kami. Sudahlah, aku sudah memaafkannya…tidak penting lagi apa yang telah diperbuatnya, memaafkan Minho menjadi pilihanku. Cintaku padanya terlalu besar hingga mengalahkan rasa marahku.

“Jagi, ayo makan dulu. Sejak tadi kau hanya memandangiku, waeyo? Baru sadar kalau aku sangat tampan?”

Lamunanku buyar oleh suara berat Minho yang kini sedikit membungkukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan wajahku. Ia menaruh telapak tangan ke lututnya sebagai tumpuan agar mampu mengimbangi posisiku yang sedang duduk di kursi yang sandarannya membelakangi meja makan.

“Dari dulu kau tampan, sangat tampan malah. Aku melamun karena sedikit tidak percaya dengan kau yang berada di sisiku kini. Minho-ya, tetaplah seperti ini selamanya…aku tidak ingin kehilanganmu lagi….”

“Tidak akan, aku sudah bertekad. Seorang pria sejati tidak akan mengingkari janjinya.”

Ia mengecup keningku, hanya kening, tapi aku dapat merasakan ketulusannya. Aku tidak perlu kecupan di bibir, yang konon lebih mencerminkan perasaan mendalam. Bagiku, ketulusan, kelembutan maupun kehangatan bisa terpancar dari mana saja, yang paling sederhana adalah lewat senyuman.

“Malah sekarang aku takut dunia berputar…,” Minho berkata lirih sesaat setelah melepaskan kecupannya di keningku, kurasakan kesedihan mendalam di balik mata indahnya itu.

“Bukannya dunia memang selalu berputar ya?” Aku berpura-pura bodoh seolah tidak mengerti maksudnya.

Sejujurnya ada setitik kecil ketakutan yang serupa, ada semacam bisikan di telingaku yang mempertanyakan—apakah perasaanku masih seratus persen sama setelah perselingkuhannya. Tapi bukankah aku telah memafkannya? Berarti aku tak perlu takut…entahlah…aku tak tahu perasaan macam apa yang sedikit terbesit di hatiku ini. I Can’t describe it.

Minho’s POV

“Bukannya dunia memang selalu berputar ya?”

“Ne, dunia selalu berputar. Tapi, kita sebagai makhluk yang berdiri di bumi tidak merasakan perputarannya, kita hanya tahu melalui siang dan malam. Maksudku, aku takut putaran itu terasa, dan semua berbalik. Serra-ya…aku sangat takut kehilanganmu kini…apa aku pantas menyimpan perasaan ini setelah semua hal buruk yang kulakukan?”

Hening…ia tak menjawab. Ruang makan yang hanya berisi dua penghuni ini terasa sangat sepi, hampa, namun diwarnai suasana hatiku yang mencekam. Entahlah, aku tidak tahu mengapa aku menjadi pesimis seperti ini. Sejak kapan? Setelah nama Key itu terucap dari mulut Serra di saat ia baru siuman? Aku takut, ya, aku takut orang yang bernama Key itu sungguhan muncul dalam kehidupan kami. Tuhan, jangan renggut kebahagiaan ini….

“Ani, kau tidak salah. Tetaplah memendam rasa takut itu, tandanya kau memang mencintaiku—karena nyatanya kau tidak ingin kehilangan aku.”

+++++

Author’s POV

Layaknya teman lama yang sudah tak jumpa dalam waktu panjang, keduanya saling ber-high five dan melepas rindu. Kedua sahabat sejak kecil itu duduk di sebuah meja yang terletak di sisi café yang masih sepi. Hanya ada mereka dan seorang namja yang duduk seorang diri sambil membaca bukunya. Maklum, jarang sekali orang yang memilih makan es krim di cuaca yang cukup dingin ini.

Sebuah cafe yang menyediakan ice cream aneka rasa pun menjadi pilihan karena keduanya memang sangat gemar melahap ice cream sewaktu kecil, lewat ice cream jugalah keduanya akrab. Ya, karena hobi—bahkan nyaris selalu membeli ice cream di kios seberang sekolah dasar pada saat jam pulang sekolah. Dari momen itu keduanya sering membahas produk ice cream terbaru.

“Key-ah…tidak kusangka pipi bakpaomu mengempis drastis seperti ini…padahal dulu punyamu lebih berisi dari pada pipiku, kau kan lebih kuat maniak ice creamnnya”

“Hei…aku diet keras tahu! Aku tidak mau selamanya dijuluki si wajah bulat. Sekarang aku tampan, kan?’

Keduanya tertawa sembari memasukkan sesuap ice cream dari sendok kecil yang mereka pegang masing-masing. Sudah belasan tahun momen seperti ini tidak pernah ada.

“Yeah…kau diet karena seorang yeoja bernama Han Sunny itu kan? Hei…kau bahkan tidak mengenalkannya padaku sampai sekarang. Minimal kau perlihatkan fotonya kan bisa. Apa sahabatmu sendiri tidak boleh tahu seperti apa wujud yeoja yang mengikat mati hatimu?”

“Ya! Kwon Yuri!” Key melotot, tapi sesaat kemudian cahaya matanya meredup. “Dia sudah pergi, aku tidak tahu kemana ia pergi. Ah, sudahlah…jangan bahas tentangnya dulu…aku hanya bisa menunggunya saja.”

“Hei! Jangan muram seperti itu. Rasanya ini bukan Key yang kukenal, yang selalu dipenuhi sorot mata berkilat-kilat penuh semangat. Ayolah…hanya karena yeoja, ini tidak lucu.”

“Memang tidak lucu. Yuri-ya, kau juga pasti begini kalau berpisah dengan orang yang kau cintai” Key memanyunkan bibir, meledek sahabat kecilnya itu ala anak kecil yang meledek chingunya.

“Iya sih…tapi, ah, ani, aku tidak akan bermuram durja hanya karena namja kasar itu. Tidak akan, aku sepertinya memilih orang yang salah.”

“Kenapa kau merasa salah memilih?”

“Dia sangat mudah menghakimi orang, meninju Minho sepupumu itu dan menuduh kami berdua selingkuh. Coba kau bayangkan betapa sakitnya…mana mungkin aku berselingkuh dengan suami orang, lagipula…andai dia tahu bahwa aku mencintainya…”

“Ya! Kwon Yuri!!” Dua buah suara bertubrukan di udara, meluncur di saat yang persis sama dari dua mulut namja yang berbeda.

“Kau duluan!” titah sang pendatang pada Key, si pemilik suara selain dirinya.

Ah, bukan pendatang sebenarnya. Dia adalah namja yang duduk membaca majalah tadi, wajahnya sengaja ia tutupi begitu melihat Yuri dan seorang lainnya datang. Ia memang tidak mengenali Key, oleh sebab itu ia tidak langsung menunjukkan wajahnya pada Yuri. Ia bermaksud menyelidiki apa status namja yang datang bersama Yuri itu.

“Hei Yuri, kau juga bermuram durja saat ini. Sekarang tahu kan rasanya sakit karena cinta?” Key meledek.

Sebenarnya Key ingin tertawa, tapi ditahannya sekuat mati karena merasa segan dengan sang pendatang tadi. “Giliranmu,” ujar Key pada orang itu, dengan suara cool dan diawali dua kali berdeham.

“Yuri-ya, kau salah menilaiku. Aku hanya emosi malam itu, aku memang sudah tidak tahan pada kelakuan Minho waktu itu.” Sang pendatang yang tidak lain adalah Jinki itu menjelaskan dengan raut wajah bingung, sedikit merasa gugup karena tiba-tiba keluar dari persembunyiannya—dua meja di belakang tempat Yuri duduk.

“Hei, Aku permisi ya….” Key tersenyum jahil, sudah bangkit dari duduknya dengan cekatan.

Yuri melotot, menggigit bibir bawahnya dan sorot matanya seolah bertanya pada Key—Apa yang harus kulakukan?

Key mengerti maksudnya. Ia menggedikkan bahu, mengedipkan mata melambangkan keusilannya,  lalu melenggang dengan santai bak pragawan sedang menapaki catwalk.

Jinki’s POV

“Yuri-ya, kau salah menilaiku. Aku hanya emosi malam itu, aku memang sudah tidak tahan pada kelakuan Minho waktu itu.”

Konyol, wajahku pasti sangat memalukan saat ini. Bagaimana tidak, aku tiba-tiba muncul dan menyerukan namanya, ini sangat memalukan. Tapi biarlah…demi menjelaskan padanya.

Aku mulai bercerita panjang lebar tentang rasa kesalku pada Minho, tentang bagaimana Serra menangis karena Minho, bagaimana Serra dengan setianya menunggu Minho.

“Baiklah, Jinki ssi, sejujurnya aku tahu cukup banyak tentang rumah tangga sepupumu itu. Tapi kau? Hei, apa kau tahu apa yang Minho rasakan selama ini? Dia sering terpuruk di hadapanku, merasa bersalah pada Serra karena belum mampu membalas cinta yeoja itu. Minho tidak sejahat yang kau kira.” Ia menatapku dengan ekspresi penuh kesinisan, tangannya saja sudah melipat di dada, menyiratkan betul kalau ia sedang ‘memarahiku’. Yah, aku tahu sikapku kekanakan saat itu.

“Oke, aku salah. Setelah melihat ekspresinya saat Serra kritis, aku tahu pikiran burukku tentangnya salah. Aku minta maaf karena telah menuduhmu juga. Tapi kau perlu tahu, saat itu kemarahanku juga disebabkan karena satu hal. Kau tahu apa itu? Kau. Ya, aku tidak mau kau jadi pengganggu rumah tangga orang, bukan image yang cocok untukmu. Kau, yeoja yang kucintai, aku tidak bisa menerima kenyataan saat itu, kukira kau selingkuh dengan Minho.”

“Hmmm.” Jawabnya kaku. Ah, aku jadi bingung.

“Yuri-ya…be mine please….”

+++++

Author’s POV

Key memutuskan untuk menekan bel rumah sepupunya, meskipun ia tidak yakin bahwa ini adalah alamat yang sesuai dengan tulisan yang tercantum di secarik kertas pemberian Appanya.

Rumah itu sepi, mungkin karena hari sudah beranjak petang, pikir Key.

Seseorang membukakan pintu untuknya, orang itu terpaku, otaknya berpikir sejenak. “Kibum?” tanya sang tuan rumah memastikan.

“Ne, ini aku. Ya! Daya ingatmu payah sekali Minho-ya, aku saja masih ingat padamu. Bagaimana bisa kau melupakan sepupumu yang keren ini,” omel Key seraya mendaratkan jitakan di kepala Minho.

“Huah…Kibum, Kau sungguh berbeda, terlihat lebih manly.” Minho masih tidak percaya, mulutnya belum mengatup sempurna setelah huruf terakhirnya meluncur.

“Ya! Jadi maksudmu aku dulu tidak manly?” Kibum tidak terima, ia kembali menjitak, kali ini kening Minho jadi sasaran empuknya.

“Setidaknya aku lebih manly….”Minho terkekeh tanpa dosa. “Sejak kapan kau datang ke Seoul?”

“Beberapa hari yang lalu. Appa menyuruhku kemari karena beliau bilang istrimu baru sembuh dari sakit parah. Sekalian, kenalkan aku padanya.”

“Tadi sih dia tidur, sayang sekali…tunggu beberapa menit lagi kalau kau tidak keberatan, otte?”

“Aku tidak jadi tidur kok, memangnya siapa yang mencariku?” sebuah suara ikut bergabung, dia Serra—yeoja yang sedang dibicarakan.

Key’s POV

 “Aku tidak jadi tidur kok, memangnya siapa yang mencariku?”

Suara yang membuatku tersentak, bahkan membeku saat ia menampakkan wujudnya. Dia Sunny-ku, yeoja yang membuatku cukup frustasi setelah kepergiannya yang tidak disertai kabar.

Sebuah dorongan menyeretku untuk mendekatinya, hasratku begitu kuat untuk memeluknya. Dia…mataku tidak salah, kan?”

“Sunny-ah…I miss you so much…” kuturuti hasratku, mendekati tubuhnya. Lalu beranjak ke belakangnya, dan entah setan apa yang menggodaku hingga aku melingkarkan kedua tanganku di pingganganya.

“Sunny, nuguseyo? Hei lepaskan aku!” ia marah, tapi tidak kupedulikan.

Ia meronta, tapi aku masih tak ingin melepaskan tanganku. Seolah ada gembok kuat yang mengunci tanganku agar tetap berada di posisinya. Semakin ia menggunakan tangannya untuk melepaskan diri, semakin aku kuatkan pelukanku. Aku tak ingin dia lepas dariku lagi.

“Ya! Kibum-ah, apa yang kau lakukan padanya? Jangan berbuat tidak sopan!” Minho mencoba melepaskan tanganku dari tubuh Sunny.

Tapi aku tidak akan melakukannya, entah setan apa yang merasukiku  hingga aku menjadi keras kepala seperti ini.

“Lepaskan aku! Jangan peluk aku sembarangan!” Sunny protes lagi. Rasanya aku ini seperti orang asing yang bertemu dengannya di jalanan lalu tiba-tiba memeluknya, dan ia merasa risih.

“Siapa kau berani memelukku sembarangan!” teriakan yeoja ini kembali menyayat telingaku.

Sakit, ia bahkan berpura-pura tidak mengenalku. Setelah ia sengaja pergi dariku, haruskah ia memperlakukanku seperti ini lagi?

“Kim Kibum! Kuperingatkan kau untuk melepaskannya!” Kali ini tenaga Minho yang digunakan lebih besar.

Justru, semakin dua orang ini memintaku melepaskan tanganku dari pinggang Sunny, aku semakin marah dan tidak terima. Aku benci dengan tingkah Sunny yang berpura-pura tidak mengenalku. Aku tidak akan melepaskannya sampai ia mengakui bahwa dirinya memang Sunny.

“Sunny-ah…aku tahu kau membenciku. Tapi kumohon, jangan bersandiwara seperti ini, aku tidak tahan. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku selalu, selamanya adalah Key-mu….” Ingin rasanya aku menangis saat ini, dadaku sudah terasa sangat sakit.

“Mianhae…aku tidak mengenalmu, sungguh…aku bahkan bukan Sunny…Minho-ya…jangan diam saja, singkirkan tangan chingumu ini dari pinggangku….”

Aku sedih karena ia pergi tanpa izin, terkesan ingin membalas dendam padaku. Aku kecewa karena ia menolak pelukanku. Aku marah karena ia bersandiwara seolah tak mengenalku. Semua perasaan itu berkumpul, menyatu, lalu bertumbukan karena masing-masing ingin mendominasi seluruh ruang hatiku. Tumbukan yang menghasilkan ledakan emosi dahsyat, membuatku kehilangan kendali dan mulai memikirkan sesuatu.

Air mataku mulai mendesak, rasa sakitku makin meluap. Aku mulai muak dengan sandiwaranya. Kuputar arah tubuhnya selagi Minho masih membeku. Segera kulayangkan kecupan di bibir yeoja ini, melumatnya bahkan menggigitnya. Ada segunung kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan yang kuhantarkan pada sentuhan bibir ini.

“Kubuat kau mengenalku, Han Sunny….” Aku melepaskannya, tersenyum penuh kemenangan. Namun air mataku tidak bisa diajak kompromi—terus mengalir, mempermalukanku karena seorang namja menangis.

“Key? Han Sunny?” Suara Minho mulai terdengar olehku. Aku tahu sepupuku ini tipikal orang yang merespon lambat.

Bukkk,

Sebuah tinju mendarat di wajahku, “Dia bukan Sunny yang kau bilang. Dia Lee Serra, bukan Han Sunny! Dan kuperingatkan kau untuk tidak menyentuhnya sedikitpun. Orang macam apa kau ini!”

Bukkk,

Lagi, wajahku dihantam keras. Kali ini aku menahan tangannya setelah ia berhasil memberi ‘hadiah’  untukku. Tapi semua kekuatan Minho tidak ada artinya bagiku. Ketika sifat keras kepalaku sedang berada di titik puncak, tidak akan ada yang bisa menghalangiku, kecuali…,

“Minho!!! Jangan bodoh, segera usir namja kurang ajar ini!”

Kini aku melihatnya, aku dapat merasakan Sunny mendorongku, terisak dengan tangan yang berusaha membungkam mulutnya agar tangisnya tidak semakin keras.

Sungguh, aku tidak kuat lagi melihatnya menangis. Ini untuk yang pertama kali aku membuat Sunny menangis terisak seperti ini, Sunny bukanlah tipe yeoja yang mudah mengeluarkan air mata. Rasa bersalah bagaikan menghimpit tubuhku hingga aku merasakan seluruh ragaku tak berdaya. Tuhan, aku mungkin orang terjahat di dunia.

Aku baru saja mendesaknya, membuatnya menangis hanya karena tidak terima dengan sikapnya yang berpura-pura tidak mengenalku. Tuhan, aku sepertinya telah melanggar definisi cinta. Nyatanya aku memaksanya, padahal cinta itu harus dilandasi kerelaan hati. Harusnya aku tidak melakukan ini, harusnya aku sadar bahwa Sunny berbuat seperti ini pasti ada alasannya tersendiri.

“Minho! Aku benci kau!” dia berteriak dengan berlinang air mata, berlalu meninggalkan kami berdua, aku mengikuti jejak Minho—kini ikut terpaku.

“Sunny-ah, kau memiliki hubungan dengan Minho?” sebuah pertanyaan krusial yang akhirnya berhasil kulontarkan. Entah, aku sebenarnya takut mengatakan ini, aku tidak sanggup jika harus menerima kenyataan pahit setelah mendengar jawabannya—meskipun aku tahu Sunny akan mengabaikan pertanyaanku karena nyatanya memang ia tidak lagi membalikkan badannya.

Bukkkkk,

Sebuah hantaman di wajahku membuatku tersungkur karena sedang berada pada kondisi tidak menyangka akan diserang. Rupanya aku lengah, terlalu tenggelam dalam pikiranku mengenai hubungan Minho dan Sunny membuatku tidak sadar bahwa tangan Minho sudah tidak lagi kutahan.

“Beraninya kau mencium anaeku dihadapanku!” telingaku menangkap suara berang Minho.

Bughhh,

Bugkgggh,

Buggghhkkk,

Entah selanjutnya berapa kali aku dihantamnya, aku tidak menghitung maupun membalas, aku terlalu kalut. Statement Minho bagaikan pedang panjang yang menghunus jantungku, membuatku tak berkutik menahan rasa sakit.

Barusan Minho bilang apa? Jadi benar Sunny adalah anae Minho? Sunny-ah, sejak kapan kau menikah dengan Minho?

 TBC…

+++++

Salah paham…yey…aku paling demen sama suasana kayak gini, haha…

Aku ngerasa bagian-bagian awal part ini agak meaningless…sempet bingung nulisnya karena berasa tulisanku ini ga ada nyawanya. Tapi akhirnya bisa kelar juga, entah sih bagus apa engga.

Yang pasti aku lega banget bisa nyelesain part ini. Aku kok ngerasa banyak banget dialog di part ini ya? Aku sebenernya kurang suka.

Yaudah deh udh bingung mau bilang apa. Ditunggu kritik sarannya. Don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

26 thoughts on “Between Two Hearts – Part 6

  1. salah paham…??? lagi…??? y ampuun…ni crta kykx bnyak amt salah pahamx…kasihn kan si paham d salah2in trz…lbh kasihan lg si key yg d gebukin sm minho…
    parah…parah…itu tulisan tbc ganggu d,pdhl kan lg seru2ny…
    ayo,lanjut berikutny…

  2. KYAAA!! Salah pahamm!! Kyaa minho jahat –‘ KYAA!! Suami2ku jangan berantemm #plak.
    KYAAAA!! Ceritanya makin buat aku penasaraaannnn!!!!

    Daebak daebak, bner2 daebakk!!!.

    Kok ak ngerasa si seera udh sedikit brubah ya, gk pemalu kyak wktu itu. Apa pngaruh jantung sunny??. Trus gimana nasib sunny?
    masih bingung sma nasib nya sunny thor, jelasin dikit boleh kayak nya, hehe –V

  3. waaaaaaaa ,,,, apa yg bakal terjadi selanjutnya ????
    dag dig dug serrrrr …
    minho jadi dilema lagee nech !!
    ajjiiibbb !!
    btw kata-kata yg “menembus kesalahan” tuch harusnya ‘menebus kesalahan’ bukan ??

    1. @dya: hehe, kayaknya aku yg emang doyan bikin salah paham. Dya, thx yah km slalu nongol di ff-ku ^^ jangan bosen2 mampir🙂
      @iislamiyah: iyap, gara2 jantungnya. coba km baca link yg aku kasih di part 5 deh biar ngerti ^^ btw, lah kan si sunny udah meninggal krn donorin jantung, jd ya engga gimana2, hehe…thx yah udah mampir ^^
      @anggie: haii anggi…makasih yah udah mampir n ninggalin jejak ^^
      @YOOnee_chan: km bener, harusnya menembus. thx yah ^^
      @dylanie: tungguin part berikutnya yah ^^ thx udh maen di ff ini
      @Seo a.k.a. Kang Minhyo: ne dilanjut. maen lg di part 7 yah ^^ thx udh mampir ^^

  4. Yehh…. Emang klo salah paham itu bahasan paling umum tapi menegangkan dalam sebuah cerita. Istilahnya nyawanya bisa keluar dr sebuah salah paham..hahahaha

    tuhkannnn… Dugaanku tepat,, pasti Serra-Minho-Key bakalan ada apa-apanya,,, ternyata Key sama Minong sodaraan… Ahh emang tuh paling seneng sama 91brother…… Tapi aku kira Sunny yg bakalan hidup ditubuh Serra…. May be cuma perasaanya do’ang yg terkadang munculllllllllll……. Jinki-YUriiiii??? Kok aq gx punya feel apa-apa ya….hehehe

    baiklah ditunggu lanjutannya…. Semangat bibib!!

  5. tuh kaaan!! pasti key ngirain kalo serra itu sunny, salah paham lagi, salah paham lagi. kasian itu key nya dibonyokin sm bibib eon u,u

    ga nyangka eon crtanya bakalan kyk gini, minho key trnyata spupuan. bkalan ada prsaingan antar sodara nih sprtinya? o.O

    next part ditungguuuuu~😀

  6. *ambil sapu kejar key* awas lu key, tu bini orang tau, lu maen nyosor aja?? *emosi*
    kayak2nya ni, si sera bakal punya kepribadian ganda ni, ntar dy perasaan dy berubah jd sunny ntar balik lg jd dy asli.. *sok meramal*
    makin seru aja thor, aq ngedukung minho buat nonjok key utk kali ini,, hehehehee

    1. @iheartaemin: thx yah udh mampir. Maen lagi di part 7 yah ^^
      @Vikeykyulov: emang separuh hidup gitu eon, sesuai ama judulna. Eh emg iyah Jinki-Yuri Cuma sekilas lewat aja, aku lg ga pingin kbanyakan kisah dlm 1 ff, apalagi aku ngerasa ff ini agak2 aneh gitu eon. ehehe…gomawo yah eonni…ntaran klo ada yg aneh bilang2 yah ^^
      @mahdaa: persaingan bukan ya…mmm, ntar deh simpulin sendiri yah, hehe…thx yah udh mampir…tungguin part 7 yah ^^
      @kim ra tae: semacem gitu tp bukan ganda jg. Gimana yah aku agak bingung jelasinnya, hehe…eh, sebenernya aku ga rela juga abang key ditonjok, tp apa boleh buat, hihi…thx yaah udh mampir ^^

  7. Yak! Yak!
    Dagdigdugser bacanya…
    Konflik masih berlanjut..
    Mudah2an key cepet sadar serra bukan sunny.. Biar ga dibogem ama minho lg.. Sayang2 muka cakep jadi babak belur..

  8. Bujug itu si key maen nyium2 bini orang*jewer kuping key,masukin ke koper,bawa ke hawai,,kita bulan madu di sono ya yeobo*

    si minho lagi tangannya luwes bnget maen nonjok2 suami gue.Kudu benerin dulu itu otak bang karisma,dia pan yang bikin si suni bunting.Bilang gitu kek ada orang yg mirip sera.*getok2 pala minho pake palu maenan*
    Kibum juga noh,bukannya nyari kepastian dulu malapan langsung aja meluk2 nyium2 orang laen,bikin gue cemburu aja.

    Jadi si yuri ma onyu jadian,ko aku ga dpet feelnya ya?apa mungkin krna moment tntang onyu-yurinya jrang bhkan bisa dibilang nyaris ga ada,,kkk..

    Di part ni aku kasian ma semuanya.Apalagi key sama jjong,,aku nyaris ikut nngis waktu jjong ngebaca isi surat dari suni,krna keingetan ma momen2 jjong-suni,,,hwaa~ eomma~~~.
    Oke konflik makin bejibun..*buang napas* LANJOOOT EOONNNIIIE….FIGHTINGNGNG!

    1. @marjihadlr: iyah tungguin aja yah lanjutannya. Gomawo udh mampir ^^
      @Ahjeong eon: thx yah eonni dah mampir ^^. Nggg, ntah knp aku klo ngebayang Minho, ngerasa klo dia emg agak lola, abis suka kliatan bengong gitu #ditabok fansnya, kaburrr
      @hyora eon: ntar aku bales bogem minho dah *gaje* thx yah eon udh mampir…^^
      @kim eunri: buset nih anak maen bawa kabur key aja, langkahi dulu mayatku (horor amat ya?) eh2, emg jinki-yuri itu cm numpang lewat aja. Tdnya aku malah ga mau bahas mereka lg, tp ntar di ending pasti ada yg nanya gimana nasib mereka n minta sequel kayak di YSMFMSW (narsis), aku ga sanggup nulis yg baru lg, hehe…yoiii, lanjut kok fit. Thx yah udh mampir ^^

  9. ah gila gila key ngerebut kiss nya serra minho aja belum pernah

    kayaknya ceritanya bakal seru kalo serra agak deket ama key

    1. @farahkim: mmm, key deket ma serra ya? Ntarny dibilang deket juga engga, dibilang jauh jg engga, hehe…thx yah udh mampir ^^
      @nabilaflames10: hehe, key genit yah ganggu2 istri orang? Thx yah udh mampir ^^
      @eka: hmmm, jadinya sama siapa yah? Yoiii, tungguin next part. Thx yah udh mampir ^^

  10. Maaf, maaf banget aku lagi ga bisa balesin komen satu-satu. Lagi ujian soalnya. Aku ga bosennya bilang makasih buat yg udh mau ngikutin ff gagal ini.

    Makasih juga buat Yoone_chan, iya harusnya menebus bukan menembus.

    Jangan bosen2 yah baca ff ini, kritik saran yang membangun sangat ditunggu ^^

  11. Aku suka part ini, konfliknya jadi terasa… aku yakin sebentar lagi perasaan cinta Serra ke Mino akan sedikit goyah karena kehadiran Key… hmm, itu bener sih yang dipake tuh tubuh Serra, tapi jantungnya milik Sunny.. entahlah bagian mana yang akan mendominasi dan kurasa itu juga akan mempengaruhi pilihan Serra kelak pada Mino or Key… who knows??
    Ditunggu part selanjutnya, jangan lama2 ya udah penasaran tingkat 10 wkwkwk…. Hwaiting^^d

  12. Maaf ya Author-nim, di part lalu saya coba komen tapi error terus.. walhasil saya baru komen sekarang.

    Aigoo~ itu kenapa jadi pukul-pukulan begitu? Salah paham itu bener-bener biang kerok deh. Saya tetep dukung Serra sama Minho aja. Gimanapun juga, kalau sampai Serra punya rasa sama Key, saya masih nganggep kalau sebenernya itu perasaan Sunny. Dan seharusnya cuma ada satu jiwa yang melekat di satu tubuh. Karena itu tubuhnya Serra, saya lebih setuju kalau dia sama Minho ajah *ngotot *ditoyor

    1. Masuk kokk komenmu di tiap part, ni aku lagi liat. Maap ya aku lg ga bisa bales semuanya, mumet banget baru pulang mudik. Aku bales yg ini aja ya?

      Iaa bener, emang dasarnya Sunny sih yg suka ama Key. Dan Key juga emang sukanya ama si Sunny.

      Endingnya … emmm, ama siapa yaaa? Baca aja ya? Udah tamat kannn

      Makasih banyak ya udah mampir +komennya😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s