Possessive

Title                 :           Possessive

Author            :           Choi Minjin

Main Casts      :           Choi Minho, Han Injeong (OC)

Supporting casts :      Kim Jonghyun

Genre              :           Romance, sad, tragedy, horor

Length                        :           Oneshot

Rating             :           PG-13

Summary        :           -Jonghyun merenung dalam kesunyian yang datang tiba-tiba. Entahlah, selama ini menurutnya cinta antara Minho dan Injeong adalah cinta sejati. Tetapi apakah cinta sejati berbeda tipis dengan posesif?-

AN                   :           Please RCL, gomawo ^^

******************************************

Tiada malam tanpa mimpi tentang dirimu.

Kau yang begitu setia mengantui setiap malamku, yang datang tanpa lelah tersenyum dingin dalam pikiranku. Kau yang tidak pernah membiarkan otakku kosong sedetik saja tanpa seringaimu. Kau yang sudah menjadi candu dalam darahku.

Aku muak padamu.

Apa yang telah kaulakukan padaku? Kumohon menyingkirlah! Kumohon menjauhlah dari kepalaku!

~~~~~

Minho terbangun lagi untuk ketiga kalinya malam ini. Jarum jam pendek menunjuk angka dua dan kesunyian yang hampa memenuhi kamarnya. Ia hanya terbangun dengan banjir keringat, tetapi tidak ada suara apapun dari mulutnya. Bibirnya rapat terkunci, terlalu gemetar dan muak dengan apa yang baru dilihatnya.

Dia sudah terbiasa sebetulnya. Malam ini entah malam keberapa. Mungkin sudah kesekian puluh kali, dan itu sangat sangat sangat melelahkan. Dia ingin bebas. Dia ingin bebas dari jerat ini.

Jerat Han Injeong.

Han Injeong yang begitu cantik rupawan, baik rupa maupun hatinya. Han Injeong yang dulu memiliki mata indah bercahaya, rambut panjang bergelombang, dan bibir yang senantiasa melengkungkan senyum. Han Injeong yang sekarang sedang berdiri di hadapannya, tersenyum.

Minho memandangnya seperti biasa, nanar,”Injeong-ah.”

Yeoja itu hanya tersenyum. Ia berdiri tegak menatap dalam-dalam wajah namjanya yang masih terduduk di tempat tidur tanpa menyiratkan apa-apa dalam matanya. Dulu mata itu amat bercahaya. Sekarang cahaya itu telah hilang, digantikan kekosongan aneh bagai sumur yang dalam.

Minho memegang dadanya yang perih, mencoba meredakan gejolak yang tidak tertahankan sakitnya,”Injeong-ah, malam ini sudah tiga kali kau menemuiku. Masihkah kau ingin membangunkan aku lagi?”

Setelah menerima senyum dingin Injeong lagi, ia merebahkan diri. Dicobanya untuk menghentikan gemetar di seluruh tubuhnya,”Injeong-ah, Jal ja…”

~~~~~

Sunyi dalam ruang kelas. Meski seonsaengnim berusaha keras memaksimalkan volume suaranya untuk menjelaskan perang dunia kedua, semua siswa hanya menguap dan tertidur. Kecuali Minho. Dia masih membuka matanya lebar, memandang sesuatu.

Ia menatap kursi di depan itu.

Ia melihat Han Injeong, kekasih hatinya. Duduk tegak bagai karang, memandang lurus ke depan. Rambut panjangnya yang hitam legam berkilau oleh sinar mentari yang terang menembus kaca jendela, terlihat agak transparan. Minho menatap punggung dingin itu lekat-lekat hingga matanya pedas. Giginya nyaris bergemeletuk entah karena apa.

Perlahan, wajah rupawan itu menoleh kepadanya.

Bibir merah itu, kulit seputih marmer itu… perlahan mengembangkan senyum. Senyum yang tak mencapai mata hitamnya. Mata itu membuat Minho bergemeletuk lagi. Pelan-pelan sesuatu yang dingin membekukan menjalari perut, dada, tangan, hingga wajahnya. Sesuatu dalam dadanya membeku dan rasanya sakit sekali. Minho hampir tidak bisa menahannya. Kedua alisnya bertaut, menggambarkan kesakitan yang dirasakannya.

Mungkin dengan memejamkan mata sakit ini akan sedikit teredakan.

Namun apa? Dia justru melihat Han Injeong lagi.

Tapi Han Injeong yang ini memiliki kulit putih merona, mata agak kecokelatan yang turut tersenyum bersama bibirnya, rambut hitam panjang yang tertiup angin. Ia duduk di sebelah Minho di tepian sungai di bawah rerindangan pohon. Angin sejuk berhembus pelan, meresapkan kedamaian.

“Minho, seberapa besar kau menyukaiku?”

Pertanyaan itu ringan saja. Minho tersenyum jahil mendengarnya,”Seberapa besar? Mungkin sebesar lubang hidung Jonghyun.”

Injeong memukul bahu Minho sekuat tenaga,”Aku serius, gaeguri-yah! Aku mau tahu!”

Minho menahan pukulan tangan Injeong yang baginya tidak terasa sakit sama sekali. Ia memandang wajah yeoja cantik itu tepat di kedua matanya,”Baiklah, akan kuberi tahu. Hmm… seberapa besar ya? Entahlah, kurasa tidak ada satu kata pun dalam bahasa apapun dimanapun di belahan dunia ini yang mampu menggambarkan seberapa besar aku menyukaimu.  Puas?”

Injeong tidak tersenyum. Matanya memandang jauh ke depan,”Bukan itu yang kuinginkan, Minho. Kuharap kau tidak menyukaiku sebesar itu. Kumohon.”

Minho tidak mengerti,”Kenapa? Apa kau tidak menyukaiku?”

“Tidak, bukan begitu, Minho.”Injeong tersenyum lagi, begitu cantik namun terpaksa,”Aku bohong jika aku berkata aku tidak menyukaimu. Aku sangat sangat sangat menyukaimu. Aku mungkin tidak akan sebahagia ini dalam hidupku jika aku tidak pernah bertemu denganmu.”

“Lalu kenapa aku tidak boleh…?”

“Karena…”sela Injeong,”Mungkin kau akan menderita, Minho.”

“Omong kosong. Kenapa harus begitu? Aku akan selalu mencintaimu.”

Injeong terdiam.

Begitu pula Minho.

Dan angin berhembus lagi, begitu kencang. Begitu tanpa ampun, membawa lari segala kenangan. Meninggalkan Minho membuka kelopak matanya perlahan, disertai aliran air dari sudut-sudut mata besar itu.

Kelas sunyi senyap. Semua orang sudah pulang. Minho berdiri, gontai ia berjalan dan akhirnya berhenti di kursi Han Injeong. Dibelainya kursi itu pelan, tanpa ekspresi tertentu di wajahnya yang tampan.

“Injeong-ah…”

~~~~~

Malam ini lagi.

Muak, Minho merasakan isi perutnya bergejolak tanpa ampun. Perih menusuk-nusuk hingga ulu hati, tidak tahan ia pun memuntahkan semuanya di kamar mandi. Setelah tenggorokannya sakit, setelah aliran air dari keran dimatikannya, dipandanginya wajahnya sendiri di cermin di hadapannya.

Siapakah dirimu? Apakah kau Choi Minho?

Mata itu begitu tanpa cahaya, tanpa kehidupan. Urat senyum di wajahnya begitu kaku, entah dapat berfungsi lagi atau tidak. Apa yang merubahmu, Choi Minho?

Jawabannya datang tanpa diminta dua kali. Minho menatap lekat-lekat cermin itu, memandang wajah Han Injeong di sana. Han Injeong yang seputih marmer.

“Tahukah kau? Aku sangat muak.”

Han Injeong tidak bereaksi sedikitpun. Minho meremas rambutnya sendiri,”Aku sangat muak! Kumohon, jangan muncul lagi di hadapanku!”

Han Injeong justru tersenyum. Senyum yang amat rupawan.

Tapi senyum itu bukanlah senyum yang diharapkan Minho. Semua syaraf tubuhnya segera mereaksikan tindakan. Dipukulnya cermin itu dengan tangan kanannya hingga retak, hingga wajah cantik tak manusiawi itu tak terlihat lagi, hingga cairan merah menetes deras ke lantai kamar mandi.

“Kau… bukan… Injeongku.”

~~~~~

“Injeongku…”

Minho menyentuh pelan pipi halus yeoja itu dengan tangan kanan yang dibalut seadanya. Pipi itu putih, tapi masih manusiawi. Meski begitu mata berbulu lentik itu tak terbuka. Bibir pucatnya rapat. Minho masih mengerti, bahwa beharap akan ada suara keluar dari sela-sela bibir itu hanyalah sia-sia.

“Kembalilah.”

Tetap tidak ada reaksi sedikitpun dari yeoja yang terbaring itu. Minho menyentuh pelan selang yang membantu Han Injeong bernafas,”Aku tidak ingin melihat dia lagi. Aku ingin kau, Han Injeong-ku. Bangunlah.”

Minho berlutut di samping tempat tidur. Kakinya gemetar bersamaan dengan air mata yang mengalir deras, menetes ke lantai putih tanpa terkendali. Digenggamnya jari jemari kekasihnya yang tertidur lelap,”Injeong…”

Mungkin hanya dia dan Tuhan saja yang tahu seberapa besar ia ingin Injeong segera bangun. Minho rela memberikan apapun agar Injeong dapat membuka matanya lagi. Injeong yang sebenarnya, bukan Injeong yang setiap malam menghantuinya.

“Minho!”

Minho membuka matanya yang nyaris terpejam. Ia menoleh ke suara yang familiar itu, suara Kim Jonghyun.

“Kenapa?”

“Minho, Injeong pingsan lagi.”

Minho membeku di tempatnya berdiri. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela di koridor sekolah. Lagi? ini sudah kedelapan belas kali dalam seminggu,”Sudah dibawa ke ruang kesehatan?”

Jonghyun mengangguk, merasa sangat heran atas reaksi Minho yang biasa-biasa saja,”Kau tidak menjenguknya?”

Minho memandangi tangan kanannya yang gemetar,”Entahlah, Jjong. Aku sangat tidak tega, terlalu tidak tega melihatnya seperti itu terus menerus. Apa darah yang keluar dari hidungnya banyak kali ini?”

Jonghyun membisu. Ia hanya menepuk pelan bahu Minho yang masih menyandarkan kepalanya ke jendela.

“Jjong, apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin kehilangan Injeong.”

Jonghyun tahu apapun yang dikatakannya tidak akan berhasil memuaskan Minho. Dia tidak memiliki solusi dan ia sudah sangat mengenal Minho untuk tahu bahwa Minho sangat mencintai Injeong. Ia mengerti bahwa Minho dan Injeong bagaikan satu jiwa dalam dua raga. Jonghyun tidak mengerti apa itu cinta sejati sebelum ia melihat ketulusan Minho pada Injeong.

“Apakah dia benar-benar akan meninggalkanku?”

“Minho…”

“Injeong tidak boleh meninggalkanku. Tidak boleh!”

Jonghyun merenung dalam kesunyian yang datang tiba-tiba. Entahlah, selama ini menurutnya cinta antara Minho dan Injeong adalah cinta sejati. Tetapi apakah cinta sejati berbeda tipis dengan posesif?

Dan sekarang ia berdiri di sini, di kamar rumah sakit tempat Han Injeong dirawat. Ingatannya barusan pelan-pelan menghilang. Sekarang ia melihat sahabatnya, Choi Minho yang berlutut di lantai, tampak sangat menyedihkan. Dia bukan Minho. Dia hanyalah raga tanpa jiwa yang dirasuki ketidakrelaan. Ini sudah terlalu jauh. Jonghyun sangat khawatir jiwa Minho tidak bisa stabil lagi. Tapi apa yang bisa dilakukannya?

“Minho, ikut aku.”ditariknya Minho berdiri. Minho berontak, didorongnya Jonghyun.

“Apa sih? Aku tidak ingin pergi kemana-mana.”

“Tidak, Minho. Kau harus ikut aku! Kita harus ke sekolah. Belajar. Kau tidak boleh berada di sini sepanjang hari!”

“Tidak.”Minho menarik tangannya yang ditarik keras oleh Jonghyun,”Aku ingin melihat Injeong lebih lama lagi. Aku ingin Injeong yang sebenarnya. Aku tidak ingin melihat… dia.”

Jonghyun mengerutkan alisnya,”Apa maksudmu Minho? Injeong yang sebenarnya? Dia? Aku tidak mengerti.”

Minho menggeleng. Ia menggenggam erat tangan Injeong yang dingin,”Bukan apa-apa, Jjong.”

Menggantung. Dalam keheranan. Dalam kesenyapan yang aneh.

~~~~~

In – jeong

Minho menuliskan nama itu di permukaan cermin yang retak-retak dengan tinta merah. Wajah putih Injeong dapat dilihatnya, berkali-kali lebih banyak karena retakan-retakan itu. Bagaimanapun, itu tidak memuaskan kerinduannya, keputusasaannya.

Injeong yang dirindukannya tidak akan dilihatnya lagi.

Karena itulah dia harus mengakrabkan diri dengan Injeong yang ini. Karena ia tidak sanggup hidup tanpa Injeong. Injeong adalah sebagian dari jiwanya. Injeong adalah pusat bagi tata suryanya.

Ia membanting begitu saja ponsel yang sedari tadi berdering nyaring. Karena masih saja berdering, dimasukkannya ponsel itu ke westafel lalu dinyalakannya keran. Bunyi dering itu mati dua menit kemudian.

Minho memandangi Injeong di cermin itu lagi, tanpa berkedip,”Injeong-ah… jagi…”

Senyum tak manusiawi itu terkembang lagi di wajah rupawan Han Injeong,”Minho…”

Halusinasi atau bukan, gila atau tidak, Minho terkekeh pelan. Suara itu sudah begitu lama tak didengarnya. Bahagiakah ia? Entahlah. Hanya terasa seperti paku-paku tajam menghujam ulu hatinya.

“Injeong. Maukah kau tinggal selamanya di sisiku?”

Tidak ada jawaban. Minho memandangi wajah itu dengan gamang,”Tidak mau?”

Masih senyap.

“Kalau kau tidak mau, tolong izinkan aku ikut denganmu.”

~~~~~

“Ya! Choi Minho!”

Jonghyun menggedor-gedor pintu kamar Minho yang terkunci rapat. Ia sangat panik dan menyesal. Menyesal kenapa tadi dia harus mengabarkan berita itu lewat telepon. Bodoh sekali dia. Bagaimana kalau Minho melakukan sesuatu yang berbahaya?

Minho sudah tidak bisa dihubungi lagi sejak setengah jam lalu. Jonghyun yang sudah memakai setelan hitam akhirnya datang ke sini karena terlalu khawatir.

Tapi pintu itu tidak juga terbuka. Entah apa yang sedang dilakukan Minho di dalam sana,”Minho, buka pintunya! Kita harus hadir di pemakaman Injeong. Minho!”

Jonghyun tidak sabar lagi. Sekuat tenaga didobraknya pintu itu berkali-kali. Bahunya sakit luar biasa tapi berkat usaha kerasnya, pintu itu akhirnya terbuka.

Kamar ini sangat berantakan, tapi tidak ada siapapun di sini. Jonghyun melangkah pelan menuju pintu kamar mandi yang tertutup,”Minho?”

Ia berhenti tepat di depan pintu itu. Dengan tangan gemetar, perlahan ia mendorongnya. Tidak dikunci.

“Minho?”

Hal pertama yang dilihatnya adalah pecahan-pecahan kaca di lantai. Dan kebanyakan terlihat seperti… terkena cairan berwarna merah.

Jantungnya memukul-mukul dada Jonghyun sangat kencang. Perlahan, sangat perlahan, ia mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

Nada suaranya pedih,”Minho…”

Jonghyun yakin sekarang, bahwa cinta Minho terhadap Injeong bukanlah cinta sejati. Cinta sejati tidak seperti ini. Cinta sejati itu membahagiakan, saling memiliki, namun merelakan. Cinta sejati tidak berarti bahwa nyawapun tak ada harganya. Cinta sejati bukan posesif.

Cinta sejati bukanlah sesuatu yang harus dibayar dengan darah.

-end-

-minjin’120218-

2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “Possessive”

  1. Daebak..feel-nya dapet banget nih,,karya eonnie keren,,kasihan minho depresi banget kayak nya.injeong nya meninggal gara-gara apa eon?..ff daebak luar biasa..terus berkarya..

  2. Cinta sejati tidak seperti
    ini. Cinta sejati itu
    membahagiakan,
    saling memiliki,
    namun merelakan.
    Cinta sejati tidak
    berarti bahwa
    nyawapun tak ada harganya.

    Aigoo minjin-aaah! Speechless lagi! Minjin-ah bagi email dong u.u

  3. jadi injeong ngehantui minho gitu yaa.. Ini sehidup semati namanya.

    Feel frustasinya minho kerasa dan daebak~

  4. hwaaa ,,,,, minjin jjang !!!!!!
    huuh ,, awalnya terasa mencekam kirain waktu itu injeong’nya udha meninggal .. tapi ternyata masih sekarat ..
    setiap ada kehadiran sosok injeong yg tersenyum entah mengapa aku jadi merinding …. brrrr ,,,,,
    endingnya minho mati ,,,, waaach sayang banget dia harus terseret perasaannya sendiri ampe nekat gitu ..
    waiting for your next writing !!

  5. Feel nya kerasa banget ~.~
    Merinding bacanya…… Aku bener-bener nggak tau harus komentar apaan.
    Pokoknya fanficnya keren 😉

  6. ah..feelnya dapet banget, minho keliatan banget depresinya
    suka banget deh quote yang ini:
    Cinta sejati itu membahagiakan, saling memiliki, namun merelakan. Cinta sejati tidak berarti bahwa nyawapun tak ada harganya. Cinta sejati bukan posesif.

    as always, daebak! 😀

  7. wah, minji eonni daebak! feelnya dapet banget. minho frustasi berat, miris, nyesek. kasian ngebayanginnya ToT ga tega aku~
    pas pertama baca aku kira injeong nya udh mati makanya minho dihantui trs…eh trnyta msh masa2 kritis ahah
    kutunggu ff lain karyamu minji eonni^^

  8. Kirain Injeong-nya sejak awal udah mati, jadi Minho halusinasi terus. Eh ternyataa… Keposesifan Minho membawa dampak buruk. Fufu

    Daebak as always. Waiting for your next ff ^^

  9. INNA LILLAHIIII……ga minjin unnie ga jongki oppa,,nyayat hati banget ini kisah cinta.
    ku kira injeongnya udah lama mati trus hantunya masih brgentayangan di bumi,,
    minho,,aigoo masih ada aku kenapa pke acara bunuh diri segala*dijewer key*
    emang bener minjin unnie,itumah bukan cinta sejati namanya…
    ck ck ck minhooooo!!

    klimat2 trakhirnya bikn eunri speechless
    daebak minjin unnie,,FIGHTING!!!

  10. OMEGAT !!!
    TRAGISS !! SUNGGUH CINTA YANG TRAGIS SAUDARA SAUDARA*capslock jebol*Terlalu bersemangat

    wadooow cinta sejati tidak harus beginiii, parah si Minho,,ckck

    DAEBAK INIII ~~!!! 😀

  11. Jleb ._.
    Pertama-tama aku pikir Injeong udah meninggal, terus yang muncul itu arwahnya. Ternyata salah, hehe. Minho terlalu sayang sama Injeong, sampai-sampai nggak bisa kehilangan dia bahkan sebelum Injeong meninggal. Ugh, nyeseknya TT TT

    Oh iya, Minjin Eonnie ingat aku nggak? Hehe~ udah lama nggak baca FF disini aku langsung baca FF Eonnie XD
    Mantep deeh! Aku nggak tau mau ngomong apa lagi >w<. Terus berkarya ya Eon 😀

  12. gosh! What can i say is : this fic is too DAEBAK!
    Ya ampun, z baru nemu ff tragis ini, dan it just WOW. I’ve lost my word!
    Minjin, kamu yg terbaik! I’m on you!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s