Family Game – Part 10

Title                 : Family Game (Part 10)

Author             : Park Ha Ki a.k.a Nysa

Main Cast        : Lee Jimi (imagine you), Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast   : Kim Yongsoo (father), Park Eunjoon (mother), Song Eunmi (grand mother)

Other Cast       : Kim Jonghyun

Length             : Sequel

Genre              : Family, Humor, Romance, Mysteri

Rating             : General

Summary         : 6 orang asing tinggal satu rumah sebagai sebuah keluarga.

A.N                 : Hallo semuanyaaaaaaaaa……. *lambai-lambai tangan bareng Onew.

Terima kasih buat para reader yang setia baca FF aku yang kurang berbobot

Atau mungkin tidak berbobot sama sekali. Ini FF sequel pertama ku jadi harap

maklum jika memang agak ancur gimana gitu. Oia buat reader yang uda ngerasa

bosen dgn FF aku ini, mulai sekarang kalian tidak akan kebosanan lagi karena

ini adalah part terakhir dari FF Family Game !! YEAY.. #PROK..PROK…

Buat semuanya, mohon sampaikan komentar, kritik, saran atau pesan dan kesan

kalian terhadap FF Family Game ini. Wassalam ^^

(FF ini diangkat dari sebuah komik, jadi sedikit banyaknya ada kemiripan)

 

FAMILY GAME (Part 10)

Author POV

Akhirnya, hari ini pun tiba. Hari berakhirnya permainan Family Game, semua penghuni rumah mengantar keberangkatan Jinki ke Jepang. Terlihat Appa, Umma dan Halmioni sedang berbincang dengan Jinki. sementara Minho, ia hanya duduk diam sambil memperhatikan pembicaraan antara Jinki-Appa-Umma- dan Halmioni. Sedangkan Jimi, ia berdiri mematung memandang kosong kedepan. Sepertinya ia benar-benar merasa sedih atas keputusan Jinki kali ini.

“Gwenchana?” Tanya Minho yang sepertinya menyadari ada yang tak beres pada diri Jimi.

“Nae, gwenchanayo” jawab Jimi meyakinkan.

Pada akhirnya, semua harus rela melepaskan Jinki. jika sebelumnya Appa, Umma dan Halmioni sudah berbicara panjang dengan Jinki sekarang giliran Minho yang mendapat giliran untuk berbicara.

“Minho, maafkan atas sikapku yang mencampuri urusanmu selama ini” ucap Jinki dengan tulus.

“Nae Hyung. Tidak apa-apa” jawab Minho bijak.

“Dan tolong jaga adik perempuanku. Bagaimanapun juga aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri” tutur Jinki kemudian. Dan entah mengapa hatinya seperti tidak rela ketika menyabut kata “adik”.

“nae hyung. Pasti” jawab Minho mantap.

“kalau begitu aku berangkat”

“hyung!” panggilan Minho menghentikan langkah Jinki. “ kau tidak ingin berpamitan dulu dengan Jimi?” Tanya Minho ragu-ragu.

“aku tidak ingin menggoyahkan hatiku” jawab Jinki singkat namun Minho dapat mengerti dengann jelas apa maksud dari perkataan Jinki barusan. Dan Minho berfikir jika dugaannya selama ini benar. Jinki memang sudah menyukai Jimi sejak pertama kali bertemu. Dan ia tau pasti kalau Jimi juga menyukai Jinki. tapi yang Minho tidak mengerti kenapa akhirnya seperti ini? Kenapa Jinki malah memilih untuk pergi? Apa dia menyerah? Tapi kenapa dia menyerah? Berbagai pertanyaan muncul dibenak Minho.

Sepulangnya mereka dari bandara, semua anggota keluarga Kim berkumpul diruang keluarga. appa, umma, halmioni, Jimi dan juga minho. Mereka semua berkumpul karena appa akan menyampaikan pengumuman.

“ begini, seperti yang kita ketahui bahwa hari ini tepat setahun kebersamaan kita di Family Game. Setelah ini kita semua bebas memilih untuk pergi dari sini ataupun akan tetap tinggal disini. Dan salah satu anggota keluarga kita, Jinki sudah memilih pergi ke Jepang. Dan.. dan..” appa terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“ Bagaimana dengan kalian?” lanjut umma yang tampak tak sabar dengan perkataan appa yang bertele-tele. “ Jimi?”  tanya umma kepada Jimi.

“emm.. aku…. Aku…” Jimi terlihat gugup dan gelisah.

“baiklah, aku em.. maksudku kami akan memberikan kalian kemudahan. Aku dan appa kalian akan menikah sungguhan dan kami berencana mengadopsi kalian. Bagaimana?” jelas umma kemudian.

“MENIKAH??? UMMA DAN APPA??” jerit Jimi tak percaya.

“bagaimana bisa nenek lampir dan pria baik hati bersatu” celetuk Minho yang kemudian sukses mendapatkan pukulan dari sang umma.

“ Bagaimana? “ desak Appa yang tampak tak sabar menunggu keputusan dari calon anak mereka. Semua terdiam, Jimi terlihat sedang berfikir dan menimbang-nimbang didalam hatinya. Begitu pula dengan Minho. Kali ini ia terlihat serius memikirkan tawaran dari Appa dan Umma.

“Aku bersedia menjadi anak kalian” Jimi memberi keputusan. Semua mata memandang kearah Jimi.

“Jincaaa???? “ tanya Umma tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Jimi mengangguk meyakinkan.

“ Gomawoooo honey!! “ Umma memeluk Jimi dengan erat. Ia merasa bahagia. Baru kali ini selama hidupnya ia merasa sebahagia ini. Karena sebentar lagi ia kan hidup normal menjadi ibu rumah tangga dan memiliki anak.

“ Bagaimana denganmu Minho? “ tanya Appa kepada Minho. Kini semua mata memandang Minho, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut namja itu.

“kalau Jimi akan menjadi anak appa dan umma, aku.. aku.. bersedia menjadi menantu kalian” jawab Minho lirih tapi terdapat keyakinan dalam kalimat yang diucapkannya.

“eeeeeh????????” semua memandang Minho dengan tatapan tak percaya.

SIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGGGG

Suasana hening untuk sesaat.

“KYAAAAAAAAAAAAAA MINHOOOOOOOOOOOOO KAU KEREN SEKALIIIIIIIIIIIIIII” Umma berteriak histeris lalu ia memeluk Minho sambil memukul-mukul punggung namja itu untuk melampiaskan kegembiraannya.

“Minho?” wajah Jimi memerah, ia tidak menyangka kalau jawaban Minho akan seperti ini.

“Umma tidak menyangka kau berani sekali. Kau melamar Jimi dengan cara yang keren!! “ ucap Umma dengan semangat.

“ Apa kau serius? “ tanya Appa penuh selidik.

“ Nae Appa! “ jawab Minho mantap.

Begitulah, pada akhirnya semua menemukan jalannya masing-masing. Jalan menuju kebahagiaan yang sebenarnya. Meskipun mereka adalah orang-orang kesepian yang menderita karena sebuah kata “KELUARGA”, tapi pada akhirnya mereka bisa bahagia karena sebuah kata itu pula. Keluarga, bukan hanya berdasarkan ikatan darah, meski kita orang yang berbeda tapi kita tetap bisa menjadi sebuah keluarga. bukankah semua makhluk ciptaan-Nya adalah sama? Kita berada dibawah langit yang sama dan kita berada diatas bumi yang sama. Kita semua, bersaudara. Aku, Kamu, Dia dan Mereka sama. Kita semua bersaudara dan kita semua berkeluarga. Mari saling mengasihi dan memberikan cinta kasih kepada sesame. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Family Game – Part 10”

  1. Daebak! Daebak!
    Berawal dari sebuah permainan.. Dan berakhir dgn knyataan yg manis..
    Jimi berhasil menularkan ketulusan serta arti kbersamaan kpd org2 di sekitarnya..
    Yeah.. Aku suka kata2mu, chingu..
    Gomawo udah nyelesein ff ini.. Padahal tadi q berharap ini masih panjang..!
    Keep Writing!
    FIGHTING!

  2. hahahhaaaa…. jadi begitu endingnya…?????
    Jinkiku emang cuma buat aku….. hahahhaaaa…..
    Minho ngelamarnya keren… kekekkeeee….
    “nenek lampir dan pria baik hati…” mulut minho kadang emang pedes ya….
    belajar dr Kibum… kekekkeee….
    selamet deh… buat Minho-Jimi… Appa baik hati n Umma nenek lampir
    selamat jg buat author… ceritanya ringan n bagus bgt….
    selamat jg buat Jinki… sampai ketemu di Jepang ya….
    Aku packing dulu…. (#dijitak author…)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s