Lucky – Part 1

Lucky part 1

Title                 : Lucky

Author             : Hwang Sungmi

Genre              : Romance, Friendship, Life

Length             : 1 of 5

Rating             : General, PG -13

Main Casts      : Choi Minho (SHINee), Choi Siwon (Super Junior), Hwang Sungmi (OC’s)

Support Casts  : Kim Jongwoon (Super Junior), Hwang Chansung (2PM)

The story belongs to me and all of the casts belong to God J Happy reading \( ^0^)/

Gadis manis itu tengah duduk bersandar di kursinya dengan damai. Sepasang earphone menancap apik dikedua telinganya. Matanya terpejam dan mulutnya seringkali bergerak ikut menyanyikan beberapa bait lagu yang sedang didengarnya. Gadis itu meluruskan kakinya ke bawah meja. Membiarkan kedua kakinya itu berhentak pelan mengikuti irama lagu.

“Sungmi-ah! Kupanggil kau dari tadi, tapi menengok saja tidak.” ucap seorang namja jangkung yang tiba-tiba menghampirinya. Sungmi masih saja diam dan tetap memejamkan matanya, menghiraukan seruan namja itu.

“Tsk, pantas saja.” Namja itu bergeleng pelan dan mendudukkan dirinya disebelah Sungmi yang masih asyik sendiri itu. Tangannya bergerak melepas earphone biru berbentuk kucing dari telinga kanan Sungmi dan memakainya di telinga kirinya. Sontak Sungmi menoleh dan mendengus sebal pada namja itu.

“Sedang apa kau disini, Minho-ya?” Sungmi berusaha keras supaya ucapannya bisa terdengar ketus. Tapi ucapannya malah membuat Minho terkekeh pelan.

“Mengajakmu ke kantin. Sudahlah, tak usah sok ketus seperti itu. Bagaimana kalau kutraktir kau cokelat hari ini?” ucap Minho yang langsung membuat wajah Sungmi berbinar senang. Minho tersenyum tipis melihat reaksi Sungmi begitu mendengar kata ‘cokelat’.

“Jinja? Baiklah, kali ini kau kumaafkan. Tapi, setelah ini, temani aku ke lapangan ya?” Sungmi menarik lengan baju Minho dan memberikan puppy eyes miliknya, jurus terampuhnya ketika sedang merajuk pada seseorang.

Minho mengernyit heran sebelum akhirnya menghela nafas. “Melihat Siwon hyung? Sampai kapan kau akan terus mengejarnya seperti itu, huh?”

“Sekaliiiiiiii saja, ya? Jebal…” rengek Sungmi sambil masih menarik lengan baju Minho.

“Ne..” jawab Minho pasrah.

Sungmi bertepuk tangan gembira. “Oke, kalau begitu ayo! Kajja! Nanti waktu istirahatnya keburu habis!” Gadis itu mencabut earphone kucing miliknya dari telinganya dan telinga Minho, kemudian meletakkannya di dalam tas selempang putih yang tergeletak dimeja. Sungmi menarik paksa tangan Minho untuk segera berdiri dan ia langsung menggiring Minho ke kantin.

*****

Sepasang yeoja dan namja duduk dibarisan bangku paling depan yang terdapat di lapangan outdoor itu. Si yeoja masih mengenggam sebatang cokelat sambil serius menatap kearah lapangan. Sesekali pipinya merona merah ketika namja yang berada di lapangan melambaikan tangannya sesaat pada yeoja itu. Sementara namja yang duduk disebelahnya hanya memandang bosan kesekeliling lapangan outdoor yang terbilang mewah. Bukannya dia tak suka olahraga, tapi dia merasa kesal melihat reaksi yeoja yang duduk disampingnya. Atau lebih tepatnya… cemburu.

“Siwonnie oppa! Fighting!” Sungmi mengepalkan tangan kirinya yang bebas disamping mulutnya dan berteriak dengan semangat. Tangan kanannya masih menggenggam sebatang cokelat.

“Aish, kau kan tidak perlu berteriak seperti itu, Sungmi-ah! Telingaku sakit tau! Suaramu itu cempreng sekali, sih!” Minho menutup kedua telinganya dan bertingkah seakan-akan Sungmi telah menghancurkan kedua telinganya menjadi debu (?).

Sungmi pun menoleh begitu mendengar perkataan Minho. “YA~! Minho-ya! Cih, jahat sekali! Masa kau tega mengatakan suaraku ini cempreng?! Daripada suaramu itu, menembus bumi sampai ke dasarnya, tau!” Sungmi memeletkan lidahnya ke arah Minho dan kembali menatap lapangan. Kali ini, ia memposisikan badannya supaya sedikit memunggungi Minho.

“Mworago?! Hey, aku ini lebih tua darimu ya! Jadi, bersikaplah sedikit sopan padaku.” Minho menarik ujung rambut Sungmi yang sedikit ikal dibawahnya itu. Membuat Sungmi mau tak mau berbalik lagi kearahnya. Gadis itu paling tidak suka jika ada yang memainkan atau menarik-narik rambutnya.

Bukannya menanggapi ledekan Minho, Sungmi hanya menatap Minho dengan tatapan membunuh paling sadis yang dimilikinya. Gadis berambut kecokelatan itu bangkit dari tempat duduknya dan mendekat kearah Soohyun yang kebetulan duduk tidak jauh dari tempat mereka.

“Sungmi-ah! Mau kemana kau?” teriak Minho begitu melihat Sungmi pindah dari bangkunya.

Sungmi hanya menoleh sesaat lalu kembali berjalan. “Pindah.” Jawabnya singkat.

Saat Minho hendak duduk disamping Sungmi yang sedang mengulum cokelat miliknya, gadis itu tiba-tiba menoleh dan berkata, “Minho-ya! Jangan berani-berani duduk disini! Atau kau mau tanganku ini melayang ke mukamu, hah?!”

Minho menghela nafas pasrah. Sepertinya ia telah membuat mood gadis manis itu hancur berantakan. “Ne..” ucap Minho dan kembali ke tempat duduknya semula.

Dan akhirnya ia hanya bisa melihat Sungmi yang asyik memakan cokelatnya dan sesekali menyemangati Siwon dari jauh. Mata gelapnya terus menatap Sungmi, seakan-akan apabila ia lengah sedikit saja maka Sungmi akan hilang dari pandangannya.

Minho tau rasanya kehilangan Sungmi. Hampir kehilangan, lebih tepatnya. Ketika ada saat dimana jantung gadis manis itu sempat tak berdetak untuk beberapa menit. Sakit. Minho tidak takut apapun. Kecuali kehilangan satu-satunya gadis yang menggenggam hatinya. Dan Minho tak mau lagi merasa seperti itu.

*****

Cuaca siang hari itu terasa sangat panas. Sepasang bocah laki-laki dan perempuan tampak asyik bermain air di sungai yang terletak tak jauh dari rumah mereka. Arus sungai saat itu agak sedikit deras. Kemudian bocah perempuan itu berjalan ke arah air terjun yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi dengan berpijak pada deretan batu-batu.

“Minho-ya! Ayo kemari!” Sungmi menggerakkan tangan mungilnya, mengisyaratkan Minho untuk mendekat padanya.

Minho menggeleng pelan. “Sungmi-ah, cepat kembali! Jangan disitu, arusnya terlalu deras!” ucap Minho agak sedikit berteriak. Suaranya tidak mampu menandingi suara air terjun yang ada tepat dibelakang Sungmi.

Sungmi mengerutkan keningnya, agak sedikit kebingungan dengan apa yang baru saja diucapkan Minho. “Apa? Kau takut ya?” teriak Sungmi disusul dengan tawa renyahnya.

“Kembali kesini sekarang juga, Hwang Sungmi!” Minho berteriak cukup keras. Kali ini suaranya dapat mengalahkan gemerisik air terjun. Matanya menatap Sungmi dengan pandangan cemas.

Sungmi yang awalnya sedang asyik memperhatikan ikan-ikan kecil yang berenang didasar sungai menoleh pada Minho. “Shireo! Disini menyena… AAAAA!!”

Keseimbangan Sungmi hilang ketika kakinya menginjak sebuah batu yang berlumut. Kakinya terpeleset begitu saja. Tubuhnya terhempas kedalam air yang kedalamannya melebihi tinggi badan Sungmi. Tangannya menggapai permukaan air, mencoba mencari apapun untuk dijadikan pegangan.

“SUNGMI!!” Minho segera mendekati tempat Sungmi tenggelam tadi. Minho pun panik ketika tak juga melihat kepala Sungmi. Rupanya gadis itu sudah tenggelam sepenuhnya. Minho yang terbilang pandai berenang pun segera menyelam dan mencari Sungmi.

Tak lama kemudian, Minho menemukan tubuh Sungmi. Ia menggapai tangan Sungmi dan menarik tubuh gadis itu. Minho segera membawa Sungmi ke daratan. Tubuh kedua bocah itu sudah basah kuyup. Pakaian mereka juga.

Minho menekan bagian dada Sungmi berulang kali, mencoba membuat Sungmi kembali bernafas. Ia ingat ayahnya pernah mengajarinya hal seperti ini.

“Aku mohon, bernafaslah! Sungmi-ah, ini aku! Bernafas!” ucap Minho lirih. Baru kali ini ia merasa takut. Takut kehilangan seseorang yang saat ini berada dihadapannya. Minho merasa frustasi ketika dilihatnya Sungmi tetap diam. Tak memberikan respon apapun.

“Sungmi-ah! Sadarlah! Aku mohon..” Kedua tangannya bergerak merengkuh tubuh Sungmi dalam dekapannya. Mata gelap milik bocah laki-laki itu mulai memerah dan kemudian setetes air mata turun dari matanya.

“Minho-ya! Apa yang terjadi? Sungmi kenapa?!”tanya appa Sungmi yang baru saja datang. Lelaki paruh baya itu segera berlari mendekati Minho untuk melihat kondisi putri kesayangannya.

“Sungmi tenggelam. Mianhae, ahjussi.. Aku tidak bisa menjaga Sungmi dengan baik. Aku menyesal..” ucap Minho sambil menunduk. Ia tak berani menatap appa Sungmi.

“Gwaenchana, Minho-ya. Sebaiknya sekarang kita bawa Sungmi ke rumah sakit.” Appa Sungmi mengangkat tubuh mungil putrinya dan membopongnya kembali ke rumah. Minho mengikuti langkah lelaki paruh baya itu dengan perasaan menyesal.

*****

Dokter masih menangani keadaan Sungmi dalam ruangan unit gawat darurat yang serba putih itu. Sementara di luar ruangan, eomma Sungmi terisak pelan. Appa Sungmi mengusap punggung istrinya. Chansung, oppa Sungmi, duduk disebelah eommanya sambil ikut menggenggam tangan wanita itu. Minho berusaha mengintip ke dalam ruangan lewat kaca di pintu ruangan.

“Yeobo, ottokhae? Bagaimana jika Sungmi tidak bisa diselamatkan?” ucap eomma Sungmi di sela tangisnya.

Appa Sungmi memeluk istrinya dan berbisik, “Serahkan saja semuanya pada Tuhan, yeobo.. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita..”

Minho berjinjit didepan pintu, masih berusaha melihat kedalam ruangan. Matanya membelalak ketika melihat alat pendeteksi detak jantung yang berada disebelah tempat tidur Sungmi menunjukkan sebuah garis lurus. Itu artinya…

Minho ingin sekali menerobos masuk kalau saja pintu itu tak dikunci. Dokter kemudian mengambil sebuah alat yang Minho tau untuk membantu mengembalikan detak jantung. Dokter menempelkan alat yang mirip sepasang setrika itu ke dada Sungmi dan membuat tubuh gadis itu sedikit melonjak.

Dokter yang memakai jas putih itu melakukan hal tersebut berulang kali. Minho menarik nafas lega ketika alat pendeteksi detak jantung mulai menunjukkan garis yang tidak beraturan. Pertanda kalau jantung Sungmi kembali berdetak.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan dokter tadi pun keluar. Appa dan eomma Sungmi segera menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan putri saya, dok?” tanya appa Sungmi. Tangannya masih merangkul eomma Sungmi.

“Syukurlah, ada keajaiban datang pada putri anda. Detak jantungnya sempat berhenti. Tapi setelah dibantu oleh beberapa alat, jantungnya berhasil berdetak kembali.” Jelas dokter yang tadi menangani Sungmi.

Selama orang tua Sungmi mengobrol dengan dokter itu, Minho mengendap-endap masuk kedalam ruangan Sungmi. Bocah tampan itu duduk dikursi yang terletak tepat disamping tempat tidur Sungmi. Tangannya menggenggam lembut tangan kanan Sungmi yang tidak tertancap selang infus.

“Hai, Sungmi-ah. Ini aku. Minho. Ayo bangun, putri tidur.” ucap Minho. Seulas senyum getir terukir diwajahnya.

Minho sempat mendengar dokter berkata bahwa Sungmi akan mengalami gangguan pernafasan dan trauma terhadap arus air. Dan sejak itu, Minho bertekad akan menjaga Sungmi. Menemani gadis manis itu selamanya.

*****

Sungmi menghempaskan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Ia baru saja mengelilingi toko buku dengan Chunji, teman sekelasnya. Minho yang biasanya selalu menemani Sungmi mendadak ada latihan basket yang mau tak mau harus ia hadiri. Sungmi menatap langit-langit kamarnya yang dilukis menjadi langit biru dengan banyak awan. Ia merentangkan tangannya ke kanan dan kiri. Rambut ikalnya pun tergerai begitu saja ditempat tidur.

“Capeknyaaaaaa..” ucap Sungmi lalu menghela nafas. Gadis itu masih berbaring di tempat tidur ketika sebuah ketukan pintu terdengar. “Masuk.” kata Sungmi tanpa mengubah posisinya.

Seorang namja masuk kedalam kamar Sungmi sambil membawa sepiring biskuit cokelat dan jus jeruk. “Hei, ganti dulu seragammu. Lalu cuci kaki. Jangan langsung tiduran seperti itu.”

“Ne, oppa..” Sungmi hanya menjawab singkat tanpa berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Chansung gemas melihat tingkah laku dongsaeng satu-satunya itu. Chansung kemudian meletakkan biskuit dan jus jeruk yang ia bawa di meja bundar kecil milik Sungmi.

“Apa perlu oppa gendong sampai ke kamar mandi?” Chansung meregangkan jari-jarinya dengan gaya yang berlebihan. Ia kemudian mengedipkan sebelah matanya. Sungmi kaget melihat perubahan tingkah laku oppanya itu. Ketika Chansung sudah bersiap akan menggendong Sungmi, gadis itu buru-buru lari keluar kamar.

“Aku ke kamar mandi sendiri saja, oppa!” teriak Sungmi. Eomma Sungmi memandang heran ke arah Sungmi ketika berpapasan dengan putrinya didapur. “Ada apa lagi dengan anak itu?” gumam Eomma Sungmi.

“Hahahahaha..” Chansung tertawa lepas sambil memegangi perutnya. “Dongsaengku masih sepolos dulu ternyata.” Namja itu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan duduk di kursi berwarna kuning milik Sungmi.

jikyeo jugo sipho
neoui jalmotdwin nappeun boreutdeul kkajido
himdeun nal utge mandeuneun geoya
jom himdeulgetjiman
neol saranghae rago maldo halgeoya
meonjeo nae phume oneun nal kkaji

(Kim Jaejoong – I’ll Protect You)

Ponsel milik Sungmi berdering. Ada panggilan masuk. Chansung yang sedang memakan biskuit sambil membolak balik majalah sport langsung mengambil ponsel adiknya itu dan menjawabnya.

“Yeoboseyo?” Chansung duduk kembali di kursi tadi dan mengunyah biskuit.

“Oh, mianhae, bukankah ini nomor Sungmi?” suara di seberang terdengar kikuk.

Ternyata seorang namja. Tumben sekali ada namja yang berani menelfon adiknya. Yah, biasanya para namja yang mengincar adiknya hanya berani menemui Sungmi pada jam sekolah. Chansung berdeham pelan. “Ne, ini memang nomor Sungmi. Ada perlu apa dengan adikku? Dia sedang di kamar mandi.”

“Ah, geurae. Bilang saja Siwon menelfon. Nanti akan kuhubungi lagi. Kamsahamnida.” Ucap namja itu dan segera memutus sambungan telfonnya bahkan sebelum Chansung sempat berkata apapun.

Siwon? Rasanya nama itu tidak asing bagi Chansung. Tapi, siapa ya? Ah sudahlah.

Chansung melempar ponsel Sungmi ke kasur dan kembali duduk dikursi nyamannya. Membolak balik majalah sport yang sengaja ia simpan di kamar Sungmi. Supaya ia bisa membaca majalah sambil menjaga adiknya itu ketika belajar.

15 menit kemudian Sungmi masuk kekamarnya. Tentu saja sudah berganti baju. Ia masuk sambil membawa beberapa buku yang baru dibelinya sore tadi. Sungmi mengambil salah satu buku dan meletakkan sisanya di atas kasur.

Sungmi menghampiri kakaknya yang masih asyik membaca majalah dan mengambil sebuah biskuit. Ia mulai membuka halaman pertama bukunya dan membaca apa saja yang tertera disana. Chansung melirik adik perempuannya itu.

“Kenapa kau masih membaca buku seperti itu? Hei, ini sudah mau liburan. Sana, kau baca saja buku-buku bergambar dari pada seperti itu.” Chansung menunjuk rak buku disebelah kasur Sungmi. Rak itu cukup besar dan didominasi oleh buku cerita bergambar dan novel favorit Sungmi.

Sungmi menoleh pada kakaknya. “Aku sedang malas membaca buku bergambar itu, oppa. Memangnya membaca buku seperti ini harus saat sekolah saja?” Dan Sungmi pun terkekeh pelan.

Chansung diam disindir seperti itu oleh adiknya sendiri. Well, ia akui kalau otaknya memang tidak seencer Sungmi. Sungmi sempat memenangkan medali emas dari olimpiade sains dan bahasa Inggris. Itu juga yang membuatnya bisa masuk kelas akselerasi dan juga sempat loncat kelas, sekali.

“Ah, iya. Tadi ada yang menelfonmu.” ucap Chansung yang teringat namja tadi.

Sungmi menoleh pada kakaknya. “Nugu, oppa?”

“Ehm.. Si..Siwon kalau ngga salah. Eh, bener kan?” Chansung mengusap dagunya beberapa kali sebelum kembali menoleh pada Sungmi.

Sungmi membulatkan matanya. Ia menyimpan buku ensiklopedi mini miliknya dan mengguncang bahu kakaknya itu. Wajahnya senang sekali. “Siwon oppa? Jinja? Kyaaaaaa~”

Chansung mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf v ke depan Sungmi. “Beneran.”

Sungmi langsung meraih ponselnya yang tergeletak diatas kasur dan mengecek daftar panggilan masuk. “Kyaaaaaaaaa~ Siwonnie oppaa!”

Gadis itu kemudian berguling-guling diatas kasurnya sambil terus tersenyum. Tampak rona bahagia terpampang jelas diwajahnya. Seperti papan iklan yang menyala dijalanan.

“Oh, dan tadi dia bilang akan menelfonmu lagi. Jadi tenang saja. Tak usah menelfonnya balik. Arachi?” sahut Chansung ketika jari Sungmi baru saja akan menekan tombol hijau diponselnya.

“Oh, arasseo..” jawab Sungmi sambil—masih—tersenyum. Wajahnya benar-benar seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan paling canggih di dunia oleh ayahnya.

Chansung hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi adik kesayangannya yang satu ini. “Ya sudah, oppa keluar dulu. Karena masa ujianmu sudah selesai, kau boleh menggunakan laptop sepuasmu. Daaaah..” Chansung beranjak dari tempatnya duduk dan mengacak lembut rambut Sungmi sebelum ia keluar.

“Ne! Gomawo, oppa!”

*****

Siwon berjalan mondar mandir dikamarnya yang terbilang luas itu. Dari depan TV plasma miliknya ke wastafel yang berada disebelah pintu, lalu kembali lagi ke depan TV plasma-nya. Begitu seterusnya. Ponsel touch screen berwarna hitam masih berada dalam genggamannya. Terkadang, ia putar ponsel itu.

“Argh!” Siwon menghempaskan tubuhnya dan mengacak rambutnya frustasi.

‘Apa aku benar-benar harus menelfonnya?’ pikir Siwon.

Namja tampan itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menekan beberapa angka dan simbol gagang telfon berwarna hijau di ponselnya. Siwon bangkit dari duduknya, masih dengan telfon ditelinganya. Tangan kanannya memegang ponsel sementara tangan kirinya berada di dalam saku celana yang dipakainya.

Telfonnya diangkat pada deringan kelima, agak lama memang. “Yeoboseyo?” ucap suara di seberang. Namja?

“Oh, mianhae, bukankah ini nomor Sungmi?” Siwon yang tadinya merasa lega karena telfonnya diangkat, mendadak bingung. Ia pikir ia salah memencet nomor.

“Ne, ini memang nomor Sungmi. Ada perlu apa dengan adikku? Dia sedang di kamar mandi.”

Oh, jadi ini kakak Sungmi? Fiuh, kukira aku salah nomor, batin Siwon. Ada kelegaan yang membuncah dibenaknya saat itu.

“Ah, geurae. Bilang saja Siwon menelfon. Nanti akan kuhubungi lagi. Kamsahamnida.”

Setelah mengucapkan salam, Siwon buru-buru memutuskan sambungan telfonnya. Ada seukir senyum tipis diwajahnya. Yah, Sungmi berhasil mencuri perhatiannya sejak gadis itu memasuki sekolahnya untuk pertama kali. Saat itu, Siwon berada ditingkat dua. Ia berbeda satu angkatan dengan Sungmi. Walapun sebenarnya ia berbeda dua tahun dengan Sungmi.

Siwon memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam saku. Namja itu berjalan kearah wastafel, ingin membasuh wajah tampannya itu dengan air. Siwon kemudian beranjak dari tempatnya berdiri ke lantai bawah karena makan malam sudah tersedia dan appanya juga sudah menunggunya dibawah. Siwon berniat akan kembali menelfon Sungmi setelah makan malam.

Tiba-tiba Kim Jongwoon–atau yang akrab dipanggil Yesung–sepupu Siwon yang baru saja datang dari Swiss, mengunjunginya. Jadilah Siwon terpaksa menemaninya dulu. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari pendidikan mereka sampai masalah wanita. Yesung pulang sekitar jam 10 malam.

Setelah Yesung pulang, Siwon segera menelfon Sungmi lagi. Pikirannya tak pernah lepas dari Sungmi akhir-akhir ini. Tangannya dengan lincah memencet nomor Sungmi yang sudah dihafalnya luar kepala. Ia kemudian mendekatkan ponselnya ke telinga.

Kali ini telfonnya diangkat pada dering kedua. Lebih cepat daripada yang tadi.

“Yeoboseyo?” tanya suara diseberang. Ah, tidak salah lagi. Ini pasti Sungmi. Gadis itu memiliki ciri khas dalam suaranya yang terdengar seperti anak kecil.

Siwon berdeham pelan untuk mengusir rasa gugup yang menyerangnya tiba-tiba. “Ehm, Sungmi-ah, ini aku, Siwon. Akhir pekan nanti kau ada acara tidak? Bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan?”

*****

To be continue..

 

2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Lucky – Part 1”

    1. Aaaaaah~ ada yg komen! Wah mian mian baru aku liat sekarang.. Aku malah baru tau kalo FFku dipost disini hehehe~
      gomawooo 🙂 lanjutannya udah aku kirim ko 😉 tungguin yah^^

  1. IGE MWOYA??? YAKK! CHOI SIWON!! URUS SAJA TIFFANY-MU ITU!!! #dorrr *lupakan*
    ani, ani, YAA~~~~ Sungmi-a~ kau jangan mau dengan setengah ahjussi itu.. #bletakk
    nice FF thor, ditunggu lanjutannya~~~ ^^

  2. Jangan2 siwon mau menyatakan perasaan nya ke sungmi,,terus bagaimana nasib si minho..aish,bikin aq penasaran nih ff..lanjut thor,

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s