[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR (HAPPY ENDING 3.3)

Mohon maaf sebelumnya karena lama menunggu…
Oh ya, sekali lagi aku juga minta maaf karena bagian ini akan sangat panjang. Semoga matanya tidak lelah saat membacanya, ya? Ya, semoga saja karena disini klimaks (bukan anti-klimaks ya ^^) yang kalian harapkan. Nunggu Taemin, kan? Nah, silahkan baca part ini. Semoga tidak mengecewakan kalian yang sudah menunggu lama.
Happy reading 

Author : Ji I-el
Main Cast : Lee Taemin, Athena Efrinne (it’s Taemints time), Lee Jinki ^^
Support Cast : Lee Taesun (anggap aja kembarannya Taemin), Allichia Putri, Staff rumah sakit, Mrs. Lie, Lee Minra, Kim Hana, Ranny Dwi, Cahya Rini, Mauren Shenna, Dina Aprilia. (Bnyk kan?!) ^^
Length : Sequel
Genre : Romance
Rating : Teen
Summary : “… I hope I still find a love for me in there. Then, I know right.” kataku sembari menuruti pintanya untuk meletakan tangan kananku di dadanya yang berdegup dengan frekuensi yang tidak dapat aku jelaskan.

***I-el
***AUTHOR POV***
“Kenapa kau diam saja dari tadi? Kau tidak suka kalau aku pergi, ya?” goda Jinki sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Athena, si gadis yang memang terlihat diam sejak keberangkatan mereka menuju bandara hanya bisa menunjukan senyum tertahan seraya mengatakan, “tidak. Buat apa aku begitu, Jinki?”
“Dasar, kau ini. Apa kau pikir dirimu itu pandai menyembunyikan ekspresi, heum?” goda Jinki sekali lagi. Kali ini dia menyolek pinggang Athena, dan hal itu sukses membuat Athena tergelak.
“Aishh, Jinki. Kau ini!!” sementara Athena sibuk memukul seluruh tubuh Jinki yang terjangkau tangannya untuk diberikan pukulan, operator bandara mengoceh mengenai informasi penerbangan yang Jinki ambil.
“Wah, sepertinya aku harus pergi.” Jinki menghentikan tangan Athena yang tampak belum puas untuk memberi balasan atas keisengan Jinki, kemudian menghampiri Mrs. Lie yang sejak tadi hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. “Halmeonni, Jinki pergi dulu. Baik-baik disini, ya. Kalau sempat, Jinki pasti mengunjungi halmeonni.”
Mrs. Lie bangkit dari duduknya, lalu mengelus pelan rambut Jinki sementara Athena menghampiri tempat Mrs. Lie duduk tadi, “Jinki, kau baik-baik disana ya. Ingat harus segera menyelesaikan kuliahmu. Oh ya, sempatkanlah untuk datang ke Korea, kudengar acara wisuda sepupumu akan dilaksanakan disana.”
“Ahh iya, kemarin dia mengirimkan email mengenai hal yang sama, halmeonni. Aku pasti datang, kan aku sudah janji padamu kalau aku akan lulus tahun ini juga, kan?”
“Bagus. Bagus. Senang rasanya jika aku akan melihat kedua cucuku bisa lulus tahun ini.”

Begitu melihat obrolan hangat antara nenek dan cucunya itu, Athena merasa tempatnya bukan di sana. Kau tahu bagaimana rasanya, jika kau berada di tengah-tengah suatu kelompok diskusi, tapi kau bukanlah bagian dari kelompok itu? Begitulah yang dirasakan oleh Athena.

Melihat perubahan ekspresi Athena, Jinki menghampiri Athena yang duduk menjauh, dan berlutut di hadapannya. “Hei, kau tahu tidak, aku tersiksa melihatmu dari tadi diam seperti ini. Kau yakin baik-baik saja?”
Athena mengangguk, “umm..” gumamnya mencoba meyakinkan Jinki akan kondisinya.
“Hei, Aku kan harus menyelesaikan skripsiku dulu. Nanti kalau ada waktu, aku pasti mengunjungimu.”
“Iya, aku tahu. Belajarlah yang baik.” Athena menengadah dan mencoba menyemangati dirinya sendiri.
“Astaga. Februari nanti kau ulang tahun, ya. Aku hampir lupa. Kalau kau takut aku tidak mengunjungimu di hari istimewa itu, ku pikir kau salah besar. Aku berjanji akan ada di sini saat hari ulang tahunmu.” dengan senyum yang percaya diri, Jinki mengelus puncak kepala Athena.

Seraya pengumuman dari operator berteriak kembali, Athena merasa dirinya disedot kembali ke masa lalu. Dan aktivitas pasif tersebut malah membuat Athena termangu diam dengan tatapan kosong.
“Athena!!” panggil Jinki sehingga membuat Athena tersadar. “Maukah kau memanggilku ‘oppa’ sebelum aku pergi? Aku ingin sekali mendengarmu memanggilku begitu?”
“Hah?!” teriakan kejut Athena lantas membuat kesadarannya penuh. “Kau bahkan lebih muda dariku, tapi kau minta aku memanggilmu ‘oppa’. Dasar, bocah tidak sopan!” protes Athena.
Jinki mengernyit, lalu menjitak dahi Athena, “siapa yang mengatakan hal konyol begitu? Aku bahkan lebih tua 2 tahun darimu, babo.” Kali ini Jinki menarik pipi Athena ke kiri dan ke kanan bergantian. “Ayo, cepat panggil aku ‘oppa’!!!” perintah Jinki sekali lagi seraya menarik lengan panjang kaos yang Athena singkap hingga batas sikunya.
“Ne. Ne. Kalau aku memanggilmu ‘oppa’, apa imbalan yang kudapat?”
“Tenang saja. Sudah aku siapkan.” Tak lupa Jinki menunjukan eyes smile-nya.
“Jinki o-oppa.” ucap Athena agak terbata. “Sudah. Lalu, mana imbalannya?”
Segera saja Jinki mengecup kening Athena dengan cepat, “ahh neoneun neomu neomu yeppeo.” Serunya melihat semu merah di wajah Ahtena dan tanpa rasa bersalah karena telah membuat Athena membeku, Jinki melepaskan senyum bahagianya. “Sudah ya, aku pergi dulu. Bye halmeonni. Bye all!!!” Sementara Jinki berjalan lurus memasuki pintu keberangkatan, Athena ditinggalkan dengan wajah termengu tak percaya dengan apa yang Jinki lakukan padanya barusan.
** Clouds El Moon **

***Athena POV***
Di dalam perjalanan kembali ke rumah pasienku, aku masih terbayang-bayang apa yang Jinki lakukan barusan. Tidak, bukan saat dia mencium dahiku tadi, tapi kata-katanya mengenai hari ulang tahunku itu yang membuat aku sejak tadi terdiam.
“Kau masih memikirkan Jinki? Aku juga heran kenapa kau bisa tiba-tiba mengatakan bahwa dia lebih muda darimu.” Lie halmeonni membuyarkan pikiranku sesaat, lalu aku menoleh sekilas ke arahnya dan yang kutemukan adalah beliau berbicara padaku dengan tetap fokus menatap ke depan jalan sana.
“Loh, bukankah waktu di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, halmeonni sendiri yang bilang bahwa aku seumuran dengan cucu anda karena anda pikir aku lebih muda dari umurku yang seharusnya, kan?”
“Ohh, ya aku ingat. Tapi, bukan Jinki yang aku maksud. Melainkan cucu kembarku. Mereka memang lebih muda dua tahun dari dirimu.” Mataku mengerjap. Aksen yang elegan semakin membuatku yakin bahwa orang di sampingku ini memang penuh kejutan dan tidak mudah untuk ditebak.
Tiba-tiba aku menangkap sesuatu dari tanggapannya tadi, “cucu kembar anda? Bukankah Jinki kembar?”
Lie halmeonni menoleh heran kepadaku, “aku sedikit bingung bagaimana dirimu bisa bergurau seperti ini. Yang kumaksud dengan cucu kembarku bukan Jinki. Tapi, cucu kandungku. Jinki hanyalah cucu dari hyeong almarhum menantuku.”

Dengan kata-kata yang tadi halmeoni ucapkan, Aku melempar arah pandangku ke tepi jalan yang ada di kiriku dengan tatapan kosong, sesekali mengalihkan pandangan ke pohon-pohon yang mulai meranggas. Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba aku sangat merindukan Taemin? Sepertinya aku akan mati sebentar lagi jika aku tidak juga bertemu dengannya.

Entah bagaimana keadaannya sekarang. Apakah dia bisa merawat satu ginjalnya dengan baik? Seperti apakah wajahnya sekarang? Dan apakah dia sudah bisa menerima perjodohannya atau bahkan mungkin sudah mencintai tunangannya, dan melupakan janjinya untuk tetap mencintaiku? Kalau wajah, aku yakin dia pasti sudah sangat tampan saat ini. Dan masalah percintaannya, aku belum tahu pasti sebelum aku bertemu dengannya untuk menanyakan hal tersebut karena entah mengapa, aku selalu merasakan tidak tenang begitu sekelebat bayangan Taemin hadir dalam lamunanku.
** Clouds El Moon **

“Athena. Athena, bangun kita sudah sampai.” Aku merasakan tangan-tangan yang menepuk pipiku. “Sepertinya kau kelelahan sekali, mari kita masuk!” ajak Lie halmeonni begitu aku sudah terbangun seutuhnya.
Aku turun dari mobil, “ahh mianhae aku ketiduran.” kataku sambil membungkukkan badan di hadapan Lie halmeonni.
“Tidak apa. Kau mungkin terlalu lelah sehabis bekerja,kemudian tiba-tiba dijemput Jinki untuk pergi ke bandara.” Aku hanya tersenyum menanggapinya. Beliau benar, tapi yang lebih lelah itu otakku, bukan tubuhku. “Sekarang kau boleh lanjutkan lagi tidurmu di tempat yang lebih enak untuk tidur.” Lanjut Lie halmeonni sambil menepuk punggungku lembut. Aku menurut dan mengucapkan terima kasih, kemudian segera ke lantai dua, tempat kamarku berada.

Sesampainya di kamar, aku malah tidak bisa tidur. Dalam pembaringanku, aku masih memikirkan betapa Jinki malah mengingatkanku pada Taemin. ‘aku akan berada disini tepat di hari ulang tahunmu.’ Perkataan Jinki tadi sama seperti yang diucapkan Taemin menjelang hari ulang tahunku yang ke-18. Memang ada perasaan yang tidak biasa yang aku rasakan saat ada di dekat Jinki, tapi perasaan itu malah mengingatkanku pada betapa besarrnya cintaku pada Taemin. Cinta yang sampai saat ini belum juga padam, maka dari itu aku masih menunggunya.

Aku menarik boneka Pikachu yang selalu kuselimuti di sampingku ketika tidur. Tokoh kartun ini adalah hal yang paling tidak bisa aku tinggalkan, makanya aku rela kembali ke rumah hanya untuk mengambil boneka yang mendadak jadi barang favoritku tersebut. Aku ambil juga bingkai foto yang ada di atas almari di samping tempat tidurku. Aku tidak bisa pergi jauh tanpa kedua barang ini, sama seperti perasaanku yang tidak bisa pergi jauh karena cinta untuk Taemin.
** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

Hari senin ke-7 sudah hari ini. Dan tepat seperti dugaanku, selalu saja aku yang menunggu.
“Athena!!” teriak 4 orang wanita yang sejak tadi aku tunggu kehadirannya.
“Yah, hari gini muka ditekuk? Waktu di Korea kerjaannya ngegalau juga ya, bu?” sindir Cahya dengan gayanya yang masih sok asyik seperti zaman kuliah dulu. Tidak ingat umur.
“Tahu nih, katanya hari ini mau traktir kita-kita, tapi muka dilipat-lipat kayak origami begitu.” sahut Mauren, teman seperjuangan kami sejak masih kuliah di jurusan yang sama, dan dialah yang paling tua di antara kami.
“Ahh, kalian ini ditinggal dua tahun aja masih juga cerewet, ya? Heran deh.” timpalku karena tidak mau kalah dengan mereka lagi.
“Duduk. Duduk dulu ya semuanya.” kata Ranny yang sukses membuatku mengernyitkan dahi. Mendengar kata-kata Ranny, jelas aku protes. Seharusnya kan aku yang mengatakan itu.
Kepalaku menoleh pada Dina eonni yang paling pendiam diantara kami berlima, “eonni, dari tadi diam saja. Mau pesan apa?”
“Ah? Ah? Ah iya, terserah kamu aja deh. Aku sih tergantung kamu aja.” Aku tersenyum, lalu memeluk dirinya sampai tidak sadar ada setitik air mata yang menggenang di pelupuk. “Sudah. Sudah, aku jadi merasa gak enak nih. Masa setiap kali kamu menelepon aku atau bertemu denganku, kamu jadi nangis begini. Bukan Athena seperti ini yang aku kenal saat SMA tahu.” dikte Dina eonni.
“Ihh curang, kami gak dipeluk juga. Dasar, pilih kasih nih!” dengan kompaknya ketiga sahabatku yang lainnya mengajukan komplain mereka terhadapku. Kemudian Aku mengendurkan pelukan Dina eonni.
“Kalian tahu mengapa aku tidak mau memeluk kalian? Itu karena kalian yang paling mengeluh kalau aku curhat masalah Taemin.” mendengarku, mereka hanya saling pandang.

Aku mengambil alih pembicaraan dengan otodidak, aku ambil menu yang sejak tadi hanya mereka jadikan pajangan, dan menunggu pesanan datang setelah memanggil waitress.
“Tunggu, jadi kau masih sering membicarakan Taemin dengan Dina?” interupsi Cahya dengan raut wajah penasarannya. Aku hanya mengangguk.
“Jadi, kau masih memikirkannya?” tanya Ranny.
“Jangan bilang sampai sekarang kamu belum punya pacar karena menunggu anak ingusan yang tidak jelas itu.” terka Mauren tepat.

Mereka ini paling senang jika sudah mengorek-korek kisah percintaanku, padahal aku paling cuek dengan kelanjutan cerita cinta mereka dengan pacar mereka yang sudah bertahun-tahun sejak kami masih tingkat 1 dulu.
Aku pun mengangguk, “eh, tunggu! Kau bilang tadi apa? Anak ingusan? Jangan bilang begitu tentangnya karena..” kata-kataku terhenti karena terpotong.
“Aku masih mencintainya dan dia mantan tersayangku.” lanjut ketiga sahabatku sejak kami duduk di bangku kuliah tersebut.
“Lagian, kamu ngapain sih, masih aja mikirin orang yang belum tentu mikirin kamu kayak gitu? Hubungan kalian malah gak jelas kayak sekarang pula. Kamu tahu, diluar sana laki-laki yang menunggu kamu tuh udah mengantri?” ceramah Ranny.
Aku menarik napas panjang “Ran, dia itu udah jelas ada di Jepang. Lagipula akan lebih menyesal lagi buatku, jika tiba-tiba dia datang ke dalam kehidupanku lagi tapi dia menemukan aku udah bersama orang lain.”
Sepertinya Dina eonni tahu bahwa aku tersudut dengan kondisi yang kurang mengenakan. Ia pun mencairkan suasana aneh yang terbentuk tadi, “oh ya, ceritakan Aku tentang Jinki. Sekarang dimana dia? Apa mungkin nanti malam kau akan pergi dengannya maka dari itu kau mentraktir kami makan pagi?”
“Ah? Aniyo, eonni. Aku ada shift malam untuk hari ini, makanya aku batalkan janji makan malam kita, jadi makan pagi aja deh.” Aku terkekeh kecil. Ah, iya, aku jadi teringat Jinki. Bukankah dia berjanji akan datang hari ini?
“Hei, malah bengong lagi.” Ranny menepuk bahuku, “kok gak cerita ke kita ada cowok baru, sekarang?”
“Hah? Siapa? Jinki? Apaan sih, Jinki itu cucu dari pasien aku tahu, bukan siapa-siapa.”
“Yang bilang dia itu siapa-siapanya kamu itu siapa?” timpal Cahya yang membuat aku malah jadi bingung.
“Ya ampun, lemotnya otak kamu masih tetap sama, ya, The?!” kata-kata Mauren membuat aku cemberut, dan membuat Dina eonni menepuk bahu, menyabarkanku.
“Dasar maknae.” seketika aku menoleh ke Dina eonni dan aku menunduk malu.

Tak lama makanan pun datang, kami menikmati seluruh hidangan yang tersaji, mulai dari makanan pembuka, main course, beverage yang menyegarkan pagi kami, hingga semangkuk kecil banana split dan sepotong waffle ice cream sebagai dessert. Sungguh jumlah makanan yang tidak sedikit porsinya, tapi sudahlah. Lagipula, kesempatan makan seperti ini sangat jarang didapatkan, bahkan hampir tidak pernah setelah kami lulus. Hitung-hitung karena kami semua berpencar tidak karuan karena pekerjaan.

Drttt..
Sambil merumpi, tiba-tiba ponsel yang ada di clutch merah maroonku bergetar. Aku memperhatikan layarnya. Ada apa dengan Lie halmeonni? Tumben sekali dia menelepon walau aku sudah pamit untuk pergi tadi.
Aku pun meletakkan ponsel itu di depan telingaku. “yoboseyo? … Ah, ne aku masih ada di restoran, halmeonni. Ada apa? … Menjemputku sekarang? … Ne? Oh, ya … Baik, aku segera kesana. Tapi bagaimana dengan barang-barangku? … Baiklah kalau begitu.”

Lie halmeonni mengakhiri hubungan teleponnya. Lalu, aku melempar pandangan menyesal pada keempat sahabatku.
“Ada apa?” dengan cepat Ranny bertanya tepat setelah aku menurunkan ponselku dari telingaku.
“Pasienku sudah menjemputku. Hari ini aku harus kembali ke Korea. Entah ada apa.”
“Kenapa cepat sekali?” tanya Cahya.
Dan aku hanya menggeleng cepat. “Entahlah, aku juga bingung, padahal seharusnya lusa kami baru akan berangkat. Tapi, kenapa malah jadi begini?”
“Ya, sudah. Kalau gitu kamu cepat turun. Tadi, kamu bilang sudah di lapangan parkir, kan? Ayo, cepat.” bujuk-bujuk Dina eonni, seraya mengambil clutchku.
“Hah? Iya, iya. Aku pergi dulu ya.”

Begitu aku selesai membayar pesanan kami di kasir, aku melambaikan tanganku kepada keempat sahabatku dari pintu kaca restoran. Sebenarnya, aku masih ingin bertemu dan berbincang tentang hidup kami selama kami berpisah, tapi entah kenapa desakan untuk kembali ke Korea lebih keras dibandingkan egoku untuk tetap duduk di dalam restoran bersama mereka.
** Clouds El Moon **

Sesampainya di lapangan parkir, aku segera membuka pintu penumpang belakang dari mobil Lie halmeonni yang dapat dengan mudah aku temukan sekarang. Aku lihat raut wajah gelisah.
“Kajja! Kajja! Ppaliwa, Athena.” Mendegar itu aku segera menutup pintunya.

Aku lihat di dashboard belakang ada tas jinjingku. Begitu aku membuka zipper-nya, tepat aku menemukan boneka pikkachu dan bingkai fotoku. Juga terselip beberapa buku bacaan dan juga nurse kit yang tersimpan di almari. Setelah melihat isi tasku, aku letakkan lagi tas tersebut di belakang dan duduk tenang di tempatku. Aku memperhatikan wajah Lie halmeonni yang memelas. Ingin aku menanyakan hal yang memprakarsai keputusan untuk kembali ke Korea yang mendadak ini, tapi aku bingung harus memulai dari mana.

Aku memperhatikan jalan tol menuju bandara yang ada di kananku. Satu tahun agaknya waktu yang tak banyak bagi Jakarta untuk membenahi wajahnya. Walau hanya sebentar waktuku untuk kembali ke negara asalku, aku masih merasa beruntung karena sempat mengunjungi keluargaku.

Aku tersenyum kecil saat mengingat bagaimana aku menggandeng tangan adikku untuk berbelanja pakaian. Rupanya, ketampanan adikku membuat remaja-remaja shopaholic atau yang hanya sekedar window shopping di mall menjadi iri padaku. Mengingatkan aku dengan diriku ketika masih berusia belasan tahun. Kadang aku sampai menginginkan namja gandengan orang di mall menjadi milikku.

Dan yang paling tidak bisa aku lupakan, ketika aku berpapasan dengan mantan pacar pertamaku yang tengah menggandeng seorang perempuan manis di mall yang sama, kemarin. Aku tersenyum ke arahnya ketika aku sedang memilih pakaian untuk Papa. Rupanya dia terpisah dengan yeoja itu karena si yeoja sibuk dengan dunia fashionnya sendiri.

Aku hampir mati karena tawaku begitu mendengar dia tidak suka melihatku jalan dengan berondong yang sudah jelas adalah adikku, dan dia hampir mati menahan malu begitu tahu laki-laki yang aku gandeng seharian di mall itu adalah adik kandungku. Aku juga tidak tahan melihat dia yang kebingungan ketika tahu bahwa aku masih sendiri. Memangnya ada yang aneh dengan status seorang perempuan muda yang masih single? Kurasa tidak. Aku hanya masih belum menemui lelaki dengan typical idamanku yang mencintaiku tanpa syarat dan tetap bisa bebas meski dilindungi seperti halnya seorang putri. Itu saja.

Dan statement ku barusan malah membuat aku berguman ‘Taemin’ dalam hati. Setidaknya aku sudah yakin, dengan hidupku bersamanya, aku tidak akan mengenal kata terkekang, dan tak pernah mendapati diriku yang terbatasi. Dia menyempurnakan hidupku, sejak di hari pertama kehadirannya dalam segelintir kecil cerita hidupku.

Aku menyadari sesuatu. Sepertinya kurang sopan bagiku untuk terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku menoleh ke arah Lie halmeonni dan yang kudapati masih bentuk wajah cemas yang sama. Aku sedikit khawatir dengan keadaannya ini. Apa ini semua karena Jinki? Karena sampai sekarang dia bahkan tidak mengirimiku pesan apapun. Biasanya, tanpa ada angin dan hujanpun dia akan riuweh mengirimiku kabar atau sekedar menitip pesannya untuk halmeonni, meski dia bisa mengatakannya sendiri secara langsung.

Walau besar rasa penasaranku, tapi aku tetap mengurungkan niatku. Sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu untuk tidak ikut campur dalam masalah orang lain, terkecuali jika mereka sendiri yang menceritakannya padaku. Sekalipun dia pasien yang menganggapku seperti cucunya sendiri, rasanya masih kurang pantas bagiku untuk mengetahui apapun yang dia pikirkan dan membuatnya cemas.

“Athena.” panggil Lie halmeonni ketika aku sedang sibuk dengan segudang pikiranku.
“Ye, halmeonni?” segera aku putar tubuhku untuk memperhatikannya bicara.
“Aku. Aku sedang meresahkan sesuatu. Tadi, tiba-tiba cucuku meneleponku dengan desah suara panik dan khawatir. Seumur aku menimangnya, aku bahkan tidak pernah melihat raut wajah cemasnya. Batinku gundah.”
“Memang ada apa, halmeonni? Maaf, jika Athena terkesan lancang karena menanyakannya.”
Lie halmeonni menggelengkan kepalanya, “tidak. Kau tidak lancang. Memang sudah seharusnya kau tahu. Karena ini ada hubungannya denganmu.”
Mendengar itu, aku tersentak kaku. “A-aku?” tanyaku terbata. Dijawabnya dengan anggukan. “Apa ini masalah Jinki?” Tidak ada tanggapan lagi dari Lie halmeonni. Aku sungguh bingung. Apa lagi yang terjadi pada Jinki si penggemar ayam lada hitam buatanku itu?

Akhirnya sampailah kami di Bandara Soekarno-Hatta. Dan begitu mobil terparkir di depan, kami segera turun. Melihat Lie halmeonni dan asistennya berjalan dengan terburu, aku mengekori mereka dengan suasana hati yang juga gelisah.

Bahkan di dalam pesawat, aku masih mendapati Lie halmeonni yang duduk tidak tenang di bangkunya. Di tempat dudukku, otakku sibuk menerka apa gerangan yang terjadi dengan Jinki. Suasana cemaspun meliputiku. Gugup? Iya. Takut? Dapat dikatakan juga demikian.

Aku masih dibuat bingung dengan ketergesahan Lie halmeonni ketika turun dari pesawat. Aku dan nona asisten Lie halmeonni pun mengikuti beliau dengan langkah yang terburu-buru. Mengambil barang-barang, menghampiri mobil jemputan yang telah menunggu, memberikan barang-barang bawaan kami, dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan.

Dari kaca spion depan, aku dapat melihat jelas sang supir yang sebulan lalu mengantarku ke bandara, sewaktu akan pergi ke Indonesia. Aku tersenyum sekilas mengingat saat-saat aku merasa seperti diculik oleh keluarga Lie halmeonni.
“Yeoboseyo… Mwoya? … Uljimma! Uljimma! Dangsin uljimarayo … Ne. Ne. Not long after, nae sonja … Aish jinjja, I wanna kill your father sooner … Ahh, ne ne. I’ll take care on way. Be patient, ne? thirty more minutes … Ne, nae sonja. Halmeonineun aldaeoyo … Ne. Wait for me, okay, Sonja?” halmeoni menerima telepon. Kira-kira dari siapa, ya? Sepertinya serius sekali masalahnya.

Setelah memasukan ponselnya ke dalam tas tangannya, halmeoni meraup bahu pak supir di depan tanpa mengucapkan apapun. Seperti sebuah isyarat yang dimengerti hanya oleh mereka saja karena pak supir menanggapi tangan halmeoni dengan anggukan.

Namun, entah ini perasaanku saja atau bukan, mobil ini membelah sepanjang jalan Incheon menuju Seoul semakin cepat. Dan bersamaan dengan itu, aku pun semakin merasa ada gejolak luar biasa yang dirasakan dadaku.
** Clouds El Moon **

‘Wow!’ gumamku dalam hati begitu melihat wajah rumah megah yang berdiri kokoh di hadapanku. ‘Rumah siapa ini? Besar sekali.’ mobil yang aku tumpangi masih berjalan pelan, walau sudah melewati pintu pagar tadi. Pantas saja, halaman depan rumah ini begitu luas, jadi tidak mungkin kami turun di depan pagar, lalu berjalan dari sana karena pasti akan lama.

Aku menatap wanita paruh baya yang masih duduk di sampingku. Dia terlihat tidak sabar untuk sampai di depan pintu, kurasa.
“Apa ini rumah anda?”
Lie halmeoni menoleh sekilas padaku, lalu membuang wajahnya lagi ke arah rumah yang telah berhadapan dengan kami. “Bukan. Ini rumah anakku. Kamu tunggulah disini.” kata beliau sembari keluar dari mobil. “Nanti biarkan dia masuk begitu saya perintahkan, ne?” katanya lagi. Kali ini kepada asistennya.

Setelah mendapat anggukan mantap dari asistennya, Lie halmeoni melangkah maju, dan segera disambut dengan bantuan orang-orang –yang kupikir house maid di rumah itu- untuk membuka pintu depan rumah megah tersebut. Aku hanya menggeleng begitu menyadari kehidupan orang kaya teramat merepotkan.

Agak lama aku diam di dalam mobil sembari menjentikan kuku-kuku kedua tanganku. Kali ini karena sekelebat rasa khawatir. Akhirnya, aku berani membuka suaraku untuk bertanya pada nona asisten.
“Umm, menurut anda apa yang terjadi di dalam?”
Dia hanya menunduk. Mungkin dia juga bingung menghadapi pertanyaanku. “Agassi, anda disuruh masuk ke dalam.” Oh rupanya tadi dia menunduk untuk membaca pesan singkat.

Masih dengan satu stel pakaian yang diberikan Jinki tempo hari, aku masuk perlahan. Tapi, daun telingaku langsung disuguhi keributan yang tidak menyenangkan.
“KAU PIKIR APA HAKMU?” suara Lie halmeoni mendominasi gema di sekitar ruangan.
“Dia anakku, EOMMA. Apa sulit baginya untuk memenuhi keinginanku?” suara laki-laki yang berat, tapi entah siapa. Tapi, bisa kutebak dari perawakannya, dia mungkin kepala keluarga di rumah ini.
“Sudah halmeoni. Sudah. Jangan bertengkar lagi.” serga seorang anak laki-laki yang memunggungiku. Ia berlutut sambil memohon, tapi, dia bukan Jinki.
Mataku berkeliaran mencari sosok Jinki ketika mendengar Lie halmeoni kembali berteriak, “TAEMIN!! Sudah kau masuk ke kamarmu, sana! Biar halmeoni yang menyelesaikan ini semua.” Tubuhku mematung mendengar nama itu. Belum lagi ketika seorang wanita dengan perawakan keibuan membantu namja yang tadi aku lihat bertelut itu dibantu untuk berdiri.
“Ta-Taemin.” Tanpa sadar gumaman otakku berubah menjadi suara yang terucap jelas dari pita suaraku.
“A-Athena. Kau juga ikut kemari?” Jinki. Dia menghampiriku dengan tatapan yang panik dan celingukan. Aku mundur perlahan.
“Noona. Athena noona.” Tiba-tiba muncul lagi sebuah suara baru. Itu Taesun. Itu pasti Taesun, pikirku begitu aku melihat wajahnya sekilas sebelum menunduk dan menggelengkan keras kepalaku begitu Jinki mencoba menggapai tanganku.

Lie halmeoni menghampiriku sambil berkata, “mianhae, sayang. Kau harus melihat ini. Tapi, inilah alasanku membawamu kesini.” Dengan lirih dia mencoba membujukku untuk tenang. “DAN KAU, Jung ssi. Dia adalah alasanku menolak keputusanmu YANG BAHKAN DENGAN BERANINYA KAU SEMBUNYIKAN DARIKU. ORANG YANG PUNYA ANDIL BESAR DALAM KELUARGA ANAKKU. DIA BAHKAN BUKAN ANAK KANDUNGMU, JUNG SSI!” Aku melihat tangannya yang tadi Ia gunakan untuk menunjukku, kini memegang dada kirinya. Keadaan berubah panik, tapi dengan cepat aku menahan tubuh lunglai Lie halmeoni dan mendudukannya di sofa.

Aku segera berlari keluar, membuka pintu mobil dengan terburu-buru, mengambil peralatan kerjaku dan tidak lupa sekotak obat emergency. Setelah itu, aku kembali berlari ke dalam rumah. Aku sudah terlalu terbiasa berlari seperti ini sejak aku ditugaskan di bagian Emergency Room.

Sesampainya di dalam, aku meminta orang-orang yang mengelilingi Lie halmeoni untuk memberi aku ruang gerak dan mengambilkan segelas air hangat. Aku berikan obat jenis lisinopril untuk menurunkan tekanan darah yang bisa memicu serangan jantungnya dan tak lupa aku mengukur blood pressure-nya segera setelah pemberian obat.
“170/100 mmHg, agassi. Anda tidak perlu cemas.” Infoku pada wanita yang sudah dapat kukira adalah anak perempuan Lie halmeoni.
“Halmeoni, bisakah anda menjaga emosi anda? Jangan seperti tadi.” Pintaku memohon.
“Tapi, aku sedang marah, Athena. Aku muak sekali dengan menantu Jung itu.” Lie halmeoni menunjuk ke arah dekat tangga dimana Jung ssi berada. Dan tidak jauh dari tempatnya, lensa mataku menangkap bayangan Taemin.
“Iya, saya mengerti halmeoni. Tapi, tenanglah sejenak. Tidak semua hal harus menguras emosi.” kataku berpura-pura sedang tidak mengalami emosi.

Aku menunduk begitu semua orang terpaku di tempatnya masing-masing. Aku benar-benar tidak nyaman dengan keadaan ini. Baikkah jika aku menyingkirkan diri dari rasa keterasingan ini?
“Halmeoni, agassi, saya pamit untuk keluar sebentar. Boleh?” Izinku sambil tetap menunduk.
“Oh ya, silahkan. Sebelumnya, terima kasih karena telah menjaga eomma saya selama ini.” Aku pun mengangguk karena aku takut suaraku bergetar.
“Athena, jangan terlalu jauh, sayang.” Saran Lie halmeonni.
“Ne, halmeoni.” Akupun membungkuk dan berjalan pelan menuju halaman depan. Aku butuh ketenangan otak.

Saat menutup pintu, aku sempat melihat Taemin menggigit bibir bawahnya, seperti menahan suatu keinginan. Apakah dia ingin menemaniku di luar, tapi rasanya tidak mungkin walau itulah yang aku harapkan.
“Biar aku yang menemanimu.” tawar Jinki. Akupun hanya tersenyum getir.

Sambil berjalan dalam sepinya waktu menuju tengah malam, Jinki dan aku hanya diam. Hingga akhirnya aku yang mulai membuka mulutku perlahan.
“Buruk sekali.” Kemudian aku menghela napas panjang.
“Mianhae, gara-gara aku ulang tahunmu jadi buruk.” Aku menoleh ke arahnya penuh tanya. Sampai saat Jinki mengatakannya, aku bahkan lupa kalau hari ini masih hari ulang tahunku. “Aku. Ini karena foto yang terpajang di lemari di samping tempat tidurmu di Jakarta.” kurasa kedua alisku telah menyatu, sekarang.
“Jelaskan padaku!” sergahku cepat karena penasaran yang menjadi-jadi.
“Minggu depan itu acara wisuda Taemin. Dengan niat awal ingin menjodohkanmu pada salah satu dari Sonja-nya juga, kemarin Ia menelepon untuk memberi kabar bahwa hari ini beliau mau datang. Lalu, Aku sedang membantunya siap-siap sejak kemarin pagi. Dan dikamar Taemin, aku lihat figura foto Taemin dan Taesun berdampingan sewaktu ulang tahun mereka yang ke-15. Wajah Taemin di foto itu mirip dengan yang ada di fotomu. Dan akhirnya aku ingat, bahwa foto yang kau punya itu aku ambil saat acara pagelaran seni di sekolah Taemin, dulu. Aku yang memotretnya.
“Awalnya aku sempat ragu karena wajah Taemin berubah banyak. Kemudian, aku pastikan ingatanku dengan potongan foto yang ada di kamarmu dan aku yakin kalau foto itu adalah potongan dari gambar utuh yang aku ambil 5 tahun yang lalu itu. Dan aku memberitahukannya pada Taemin juga Taesun.”
“Lalu apalagi yang terjadi?” kataku seraya bangkit dari kursi yang sudah kami duduki begitu perbincangan kami mulai.
“Umm, lalu kemarin malam, tunangan Taemin beserta orang tuanya datang ke rumah. Aku pikir hanya pembicaraan biasa, sampai akhirnya aku dan Taesun dengar pembicaraan itu mengarah pada rencana pernikahan Taemin yang akan dilaksanakan sehari setelah acara wisuda Taemin. Lalu, Taesun mengadu pada halmeoni karena menurutnya Jung ahjussi sudah keterlaluan dalam memobilisasi keadaan. Tidak lupa juga Taesun bilang pada halmeoni kalau kau adalah yeoja yang selama ini diceritakan Taemin saat dia mencarimu di Indonesia 3 tahun yang lalu. Dan, akhirnya aku menyarankan agar kau tidak tahu keadaan ini. Tapi, semuanya malah jadi begini.” Dia menunduk sesal. Tidak tega melihat ekspresinya, maka aku memutuskan untuk membujuknya dengan mengatakan bahwa dia tidak salah. Dan dia merasa baik setelah mendengar itu.

Aku menyimak penjelasan Jinki dengan seksama. Dia bercerita bagaimana kagetnya dia saat mengetahui wanita yang selama ini Taemin ceritakan dengan antusias itu adalah diriku yang menurutnya kelewat diam dan tidak menarik diawal pertemuan antara aku dan Jinki. Bahkan dia menceritakan perasaan kemelut dan sakit kepalanya untuk menghubungkan yang terjadi antara aku dan Taemin. Sungguh orang yang pemikir.

Tiba-tiba Jinki meraih tanganku. “Maaf ya, ulang tahunmu jadi buruk sekali.” Lagi-lagi kepalanya menunduk dengan perasaan yang amat mendalam.
“Ah? Ani. Aniyo oppa.” Jinki memandangku dengan tatapan serius. Dan rasa kaku mengikat kami.
“Boo!!!” datanglah suara yang mengagetkan aku dan Jinki hingga kami terlonjak.
Aku menoleh ke belakangku, “Taesun, kau mau bikin noona mati karena kaget ya?”
Dia langsung beringsut diantara aku dan Jinki, “aniya. Mana mungkin aku mau noona mati. Masih terlalu cantik untuk mati, babo.”
“YA!!” protesku.

“Jinki oppa. Taesun-ya.” Suara teriakan seorang gadis tiba-tiba saja menggelitik telinga kami.
Aku melihatnya terengah sambil menunduk. Kamipun berdiri, “Sun-ya.” Panggil Jinki membuat gadis tersebut menampakkan wajahnya.
“Loh?! Jung Hana?” pekikku kaget saat matanya beradu dengan milikku.
“Ya! Athena eonni. Darimana saja kau, aku merindukanmu, tahu tidak?” dengan semangat Ia menggenggam kedua tanganku dan melompat kegirangan.
“Kalian saling kenal?” tanya Jinki dan Taesun kompak. Alis mereka sama-sama tertaut.
“Kompak sekali.” Keluh Hana membuatku tersenyum. “Dia sudah kuanggap seperti eonni ku sendiri.” Hana melemparkan senyumnya lagi padaku. 2 bulan tidak bertemu, mungkin waktu yang terlalu panjang baginya mengingat aku yang selalu merawatnya saat dia di rumah sakit, dulu.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku tanpa basa-basi, masih dengan senyum yang merekah.
“Aku? Tentu saja bertemu Taemin sekalian menginap. Aku ini kan tunangannya, dan minggu depan kami akan menikah.” Mendengar pernyataannya yang ceria itu, senyummu menggetir. “Eonni, apa yang kau lakukan disini?”
Aku mati-matian menahan bulir kaca di mataku, dan baru sadar bahwa Hana barusan bertanya padaku. “Hah? A-aku.” Aku gugup, kakiku bergetar hebat dibawah sana kurasa. “Aku merawat neneknya Taesun.” Dia mengangguk senang, aku menggeleng pilu dalam hati.

Ya Tuhan, harus seburuk inikah ulang tahunku? Seberat inikah perasaanku ketika bertemu dengan Taemin? Dan haruskah sesakit ini saat aku mengetahui bahwa pasien kesayanganku yang ternyata akan bersanding dengan laki-laki yang sejak dulu telah menjadi separuh napas bagiku itu? Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup. Ini sungguh melelahkan.

Aku menoleh ke arah Taesun dan Jinki. Aku menatap keduanya, dan yang kutemukan hanya artian ‘maaf’ dari keseluruhan gerakan bola mata mereka. Aku menatap Hana yang masih berdiri di hadapanku. Wajahnya sungguh ceria dan aku tidak mungkin merusak senyumnya itu, begitu mengingat tangisan keras yang selalu aku dengar dari bibir mungil yang sekarang terlihat lebih merah muda. Sebagai perawat, aku harus bisa menyingkirkan kepentinganku. Bukankah begitu?
** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **
Merasa janggal?
Ahaha.. pasti dong.^^
Mianhae.. masih ada kelanjutannya dari Not Cyber Love=Not LDR [Happy ver.] ini.
Sabar ya dalam menunggu anti klimaks dari cerita ini. Tunggulah kisah bahagia apa yang akan ada di part terakhir dr happy ending ini sebenarnya dalam chronicles yang aku beri judul At The End. Dan ternyata aku harusnya membagi menjadi 3 part😥
Tp tenang, karena aku sudah menyelesaikan semua seriesnya ^^
Oh ya, aku minta maaf karena The Heaven Worker masih tertunda 
Jangan lupa comment ya. Karena comment like oxygen dan cara kamu berkomunikasi dengan authornya.

With a greatful heart,
Author: Ji I-el ^^

©2011 SF3SI, Ji I-El.

Officially written by Iza, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR (HAPPY ENDING 3.3)

  1. Aku menarik boneka Pikachu yang selalu kuselimuti di sampingku ketika tidur. —- lucu ya athena.. hahaha

    oh iya blum selesai.. pntes td diawal blg bukan anti klimaksnya.. hahaha

    jd at the end nya bkl 3 part?
    hmhmhm gmna ya akhirnya.. apkh taemin blik sm athena? ato happy endnya mlh athena sm jinki lgi…

    aq tunggu lanjutannya…

    1. ahaha..
      iya ya??
      Athena sama kok kayak aku, tapi aku narik mr. Teddy buat aku peluk pas tidur
      Thanks for ur comment ^^
      Maaf telat ^^

  2. eonni, knp ga digabungin aja yg happy version dgn at the endnya? kalo gini kn jd aneh. judulnya ending, tp ga ending. jd ga puas ah eon.. tp keren kok ^^

  3. OH MY GOD hehe, keren banget thooor aku nyesek itu athena sama taem ajaaa😦 ayo thor ditunggu kelanjutannyaaaaaa yaaaa jangan lama2 hehe😀

  4. akhirnyaaaaa FF yang aku tunggu-tunggu keluar juga!
    seru thor! ikutan tegang juga nih jadinya, semoga endingna gak mengecewakan ya thor😉

    ditunngu part selanjutnya!🙂

  5. thor abis at the end nya tamat,, aku request untuk buat yg versi athena sama jinki dong,, aku ngerasa mereka lebih cocok.. yayayayayyaya
    aku tunggu loh

  6. huaaa… makin complicated nih aku eh? harusnya athena.

    teoublenya banyak
    1. Ketemu Taemin yg uda tunangan
    2. Kayaknya Athena sendiri uda mulai suka ama Jinki
    3. Tunangan Taemin ternyata pasien kesayangan Athena
    4. dll. hehehe

    pokoknya nih FF bikin complicated banget, ditunggu selanjutnya

  7. Setuju sama milkyrilla, complicated banget ep epnya Ji I-el Eon-_-“.
    Aku sempet bingung bacanya tapi lama-lama ngerti kok =D.

    Endingnya menggantuung T~T ditunggu sekali next partnya! Betewe maap baru baca sekarang, soalnya minggu kemarin sibuk belajar buat UKK.__.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s