Obsession

OBSESSION

Author: helmyshin1

Main cast: SHINee and find by yourself

Genre: Thriller, Crime

Rating: NC 17+

Lenght: Vignette

Disclaimer: FF ini pernah dipublish di beberapa akun WP maupun facebook 😀

Shinichi’s Note: Well, saia tau kalo sebenarnya udah ada beberapa FF berjudul sama di blog ini, tapi gimana lagi, Cuma judul ini yang ‘ngeh’ sama cerita XD. Oh ya, Entar POV yang gak di kasih keterangan sama “SOMEONE POV” itu beda loh ya.. *Bacot mulu dari tadi -_-

 

Obsession | helmyshin illustration

Curse me, curse me for letting go

My collapsed heart is screaming

Don’t throw me away, don’t leave me alone

Want you, I want you like crazy

Your lips that left me shouldn’t love

Don’t love me, I threw you away

 

Seoul, 04.30pm

DORRR!!!

Seketika kubuka mataku terkejut. Suara itu begitu keras hingga membuatku terbangun dari tidurku. Ah, pasti orang-orang sedang bermain-main atau apalah. Mengganggu saja.

Akhirnya, kutarik tubuhku hingga berubah posisi menjadi duduk di atas tempat tidurku sendiri. Aku mengecek HP juga Ipod milikku.

Tidak ada apa-apa.

Sebelum aku beranjak dari tempat tidurku, terlebih dahulu kuangkat kedua tanganku sekedar untuk merenggangkan otot-otot pegalku. Hooaahhm… aku masih mengantuk sekali. Aku sangat lelah setelah sesi foto-foto kemarin.

Kurebahkan tubuhku kembali, menyelimuti diriku dengan selimut putih tebal hingga menutupi seluruh tubuhku. Aku mau tidur lagi..

***

Aku terbangun kembali beberapa saat kemudian. Sepertinya aku harus benar-benar bangun kali ini.

Kulirik sekilas jam weker di atas meja kamarku. Ekor mataku menangkap cahaya dari lampu LED berbentuk angka-angka yang berwarna merah.

Mwo? 04.55pm?! Sudah berapa jam aku tidur? 9 JAM! Sepertinya aku sangat lelah sampai tertidur begitu lama.

Kuambil ponsel yang tergeletak di meja dekat tempat tidurku, lalu memasukkannya ke dalam kantung celana selututku.

Cklek,

Aku memutar kenop pintu kamar dengan malas. Baru dengan beberapa langkah gontai kuseret kakiku, ada suatu cairan yang mengenai telapak kakiku.

Hah? A.. apa ini?

Kutekuk lututku berjongkok dan menundukkan kepalaku sehingga jarak antara lantai dengan wajahku hanya terpaut beberapa senti, lalu kuraba cairan itu dengan jemariku.

Merah, pekat, dan anyir.

DARAH?!

Ti.. tidak mungkin. Apa yang mereka lakukan?!

Kakiku melangkah asal menuju sumber cairan itu. Semakin mendekat, bau busuk dan anyir semakin tercium kuat. Dan kudapati seseorang sudah terbaring lemas.

“ONEW HYUNG!!!” jeritku kaget. Aku mengguncang tubuh Onew hyung, berharap dugaanku bahwa ia sudah tak bernyawa adalah salah besar. “Hyung! Bangun! Hyung.. apa.. apa yang terjadi..”

Tapi, tak ada respon apapun darinya. Nafas dan detak jantungnya pun sudah tiada.

“Tae.. Taemin..”

Tak jauh dari mayat Onew hyung, duduk Taemin yang bermandikan darah di sekujur tubuhnya. Dengan cemas, kuhampiri tubuh kurusnya itu. Sebuah headset masih menempel di rongga telinganya. Dan kutemukan sebuah gunting penuh darah tergeletak di atas lantai tak jauh dari kursi Taemin.

“I.. ini..” kuambil gunting tersebut dengan tangan yang bergetar.

Kini, tanganku sudah penuh oleh darah dari Onew hyung dan Taemin yang masih segar. Pasti senjata ini yang digunakan untuk membunuh Taemin. Lalu, kubawa gunting berlumuran cairan merah pekat itu untuk berjaga-jaga.

Kepalaku berubah arah memandangi keadaan di sekelilingku. Darah segar menambah warna pada dinding yang putih. Membuat sebuah hiasan abstrak baru yang mengerikan. Beberapa cipratan darah juga mengenai sebagian foto SHINee yang terpajang di dinding.

Rasa kantukku yang menjadi kini benar-benar musnah. Aku bergidik ngeri hingga sejurus kemudian, bau busuk yang begitu tajam memaksa masuk ke dalam rongga hidungku lagi. Akh, aku tidak tahan. Aku mual.. rasanya makanan yang kutelan pagi tadi harus aku keluarkan lagi. Aku melangkah menjauh pelan dari mayat mereka dengan pergelangan tangan yang kutempelkan ke hidungku.

“Mmmpphh..”

Di dalam kesunyian, aku menangkap sayup-sayup suara keran yang mengucur deras. Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju kamar mandi, tak peduli akan lantai yang kini dihiasi oleh darah yang menetes dari ujung jemariku.

Perasaanku sangat buruk.

***

Kreeeek..

Aku kembali terkejut begitu membuka pintu kamar mandi. Pupil mataku membesar kemudian. Kupercepat langkahku mendekati orang yang sudah terbaring itu. Ia tergeletak begitu saja dengan air keran yang menggenangi tubuhnya.

Kulitnya begitu dingin. Aku mencoba tenang, walau sebenarnya itu sulit bagiku. Akhirnya, kuputuskan untuk menekan jantungnya beberapa kali dengan tumpukan kedua tanganku setelah kuletakka gunting tadi. Perlahan, air yang menggenang di sekitar tubuhnya berubah merah oleh darah yang menempel di tanganku.

Ayo bangunlah.. jebal..

“Hhh.. hhh..” kuseka air mata yang berbaur dengan keringat dingin yang mengalir di wajahku. Damn! Sia-sia.. dia sudah tiada.

Aku langsung berlari keluar dorm sembari menekan tuts-tuts yang tertera pada layar handphoneku. Masa bodoh dengan ponselku yang kini dipenuhi bercak merah.

Aku harus mencari bantuan.

BRAK! WUUSSHHH…

Setelah mendengar bunyi itu, kupercepat langkahku lagi. Aku memasuki ruang santai yang ternyata, jendela di sana tertiup angin kencang hingga terbuka.

WUUUSSSSHHHH….

Angin berhembus lebih kencang menerpa wajahku saat aku hendak menutup jendela itu. “Aish, tidak ada sinyal!” gerutuku ketika wajahku menghadap ke luar jendela. Aku memasukkan ponselku kembali dan berbalik keluar.

Tiba-tiba, kusadari terdapat cairan yang mengenai telapak kaki telanjangku. Cairan ini lagi?!

Aku memperhatikan keadaan di sekeliling ruangan ini.

“Ireona! Apa kau baik-baik saja?”

Sunyi.

Aku memang bodoh. Bagaimana dia baik-baik saja kalau kepalanya bocor?! Darah juga mengucur deras dari perutnya. Membuat beberapa organ dalam perutnya keluar. Lintangan usus bercampur cairan kental berwarna merah kehitaman hampir saja menyentuh lantai jika saja posisinya tidak terlentang seperti itu.

Dia.. dia sudah mati..

Kulangkahkan kakiku mundur teratur.

Apa sebenarnya yang terjadi? Aku pikir ini bukan permainan. Mereka benar-benar mati!!

Segera aku keluar dari ruang santai. Tujuanku yaitu pintu dorm. Kufokuskan tujuanku hanya ke sana. Aku harus keluar dari sini sekarang.

“Hhh.. hhhh…”

Sial! Padahal pintu itu tinggal beberapa meter saja, tapi kenapa pintu itu terasa begitu jauh jaraknya?

“Tak perlu terburu-buru seperti itu,..”

Sebuah suara dingin menghentikan langkahku dan membuatku terdiam sesaat. Suara itu..

-FLASHBACK-

“ANDWAE..!!!”

“BANGUN! BANGUN!” Suara Jonghyun hyung menyadarkanku. Sepertinya ia cukup kesal karena usahanya membangunkanku gagal berkali-kali.

“Ini, minumlah,” imbuhnya sembari menyodorkan segelas air putih kepadaku. Segera aku meneguk air itu dengan cepat.

“Apa yang terjadi?” tanyanya. “Anio.. hanya mimpi buruk. Tak ada yang perlu dikhawatirkan” jawabku singkat lalu meneguk kembali segelas air putih tadi sampai tak tersisa.

***

“TIDAAAAAAAKKK!!!”

“HEI! Kau tak apa-apa? Sadarlah!”

Aku terbangun dari tidurku dan menyeka peluh yang kurasa mengalir deras menghias wajahku. Aku mencoba mengatur nafasku yang terengah-engah.

“Kau mimpi buruk lagi?” Onew hyung bertanya dengan raut muka cemas. Aku mengangguk ragu menjawab pertanyaannya. “Akhir-akhir ini kau sering sekali..” lanjutnya. Namun, aku hanya mendengar kalimat pertamanya saja karena terlalu tenggelam dalam pikiranku sendiri..

“HEI !!!”

“Ah, ne? Kau tadi bilang apa, hyung?”

Onew hyung menghela nafas sabar dan menarik tanganku menuju kamar mandi. “Cuci dulu wajahmu!” perintahnya. Aku menurutinya dan membasuh mukanya yang cemas. “Hhh.. mimpi ini lagi,” batinku.

Kami berjalan menuju ruang santai dan duduk di sofa depan televisi. “Ehem?” Onew hyung berdehem yang kurasa untuk memastikan apakah aku sudah sadar sepenuhnya.

“Ne?”

“Akhir-akhir ini sepertinya kau sering mimpi buruk. Ceritakan padaku,”

“Ah.. tidak apa-apa, hyung. Hanya mimpi buruk biasa, jangan khawatir. Mungkin karena  aku kelelahan. Kau juga tau kan, scheduleku padat akhir-akhir ini.” Balasku mencoba santai. Tapi tetap saja, seberapa keras pun usahaku untuk menutupinya, ia masih bisa melihat jutaan rasa kecemasan  yang kurasa berasal dari sorot mataku.

“Mimpi buruk biasa? Kau bilang biasa? Kau sampai keringatan dan berteriak histeris begitu! Kau bilang tidak ada apa-apa? Bagaimana bisa, hah?!” Onew hyung menaikkan nada bicaranya. Sementara itu, aku masih menunduk, memikirkan apa yang harus aku katakan.

Kuhembuskan nafasku gusar sembari meninggalkannya, “That’s OK, hyung!”

-FLASHBACK END-

Aku membalikkan badanku perlahan membelakangi pintu dorm. Kudapati seseorang berperawakan kurus cukup tinggi dengan sebuah jaket hitam yang membalut tubuhnya.

“Kau..” jemariku menunjuknya dengan cukup bergetar.

Dia melangkahkan kakinya pelan mendekatiku. Semakin dekat, dekat.. aku langsung tersentak menyadari apa yang sudah terjadi. Mataku membelalak lebar menampakkan amarahku yang amat sangat.

“Apa yang kau lakukan? Membunuh yang lain dengan alasan konyol, hah?!” seruku emosi.

“Aku melakukan ini semua demi kau!”

“Kau.. kau gila!” seruku sembari mengacungkan satu telunjukku ke wajahnya.

“Ya. Aku memang gila. Dan kegilaanku berkata bahwa kau harus menjadi milikku, bagaimana pun itu!”

“Apa maksudmu?!”

“Apa kau tak mengerti? Aku terlalu gila. Dan semua itu karena KAU!” potongnya dengan berbicara kasar.

Tanpa diketahuinya, aku tengah menyalahkan diriku sendiri. Damn! Gunting tadi tertinggal di kamar mandi!

“Kau akan mati di tanganku, karena kau harus menjadi milikku. Sekarang dan selamanya,” ucapnya dengan nada yang datar. “Teman-temanmu. Mereka hanya mengganggu kesuksesanmu. Kau bisa menjadi nomor satu jika mereka tidak ada! Apa kau tidak sadar akan hal itu, hah?!” lanjutnya yang membuat amarahku semakin bertambah.

“ANIO!! Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Berpikirlah dengan jernih!!” aku berteriak kembali dan menyeret kakiku ke belakang. Berharap aku segera sampai ke pintu dorm tanpa ia curiga. Kalau tidak, aku pasti akan mati karenanya.

“Aku tidak peduli. Egoku untuk memilikimu lebih besar dari apapun. Sangat besar hingga aku tak mampu melawannya.”

***

Ia menarik kerudung jaketnya dari belakang hingga terbuka. Menampakkan wajahnya padaku. Kini, aku bisa melihat wajahnya dengan rambut hitam sebahu yang menghiasinya.

Sementara itu, mataku terus saja mencari-cari benda yang mungkin berguna untukku. Menyisir setiap sudut yang terdapat di ruangan ini. Ayolah.. tidak adakah benda yang berguna?

Walau mataku masih mencari, tapi aku tetap melirik ke arahnya sesekali. Mengamati gerak-geriknya agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya lagi. Dia sudah membunuh 4 temanku! Bagaimana dia tidak bisa dibilang berbahaya?

“Sedang mencari sesuatu yang berguna untuk membunuhku?” ucapnya membuatku cukup tersentak.

“Kau mungkin membutuhkan ini..” Tambahnya dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah.. PISTOL!

-FLASHBACK-

-SOMEONE POV-

Aku melangkah pelan memasuki rumah yang terdengar sepi. Entah bagaimana, aku suda berada di belakang seseorang bertubuh tinggi yang tengah menghadap layar televisi. Orang itu tak menyadari kehadiranku yang sudah berdiri di belakangnya. Ia terlalu berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Tanpa kusadari, namja itu telah terkapar di lantai. Aku tersenyum simpul. Sepertinya aku terlalu nafsu untuk melenyapkannya, sampai-sampai aku tidak sadar kalau sudah membunuhnya.

Tak puas dengan pembunuhanku, kubuang tongkat bisbol berlumuran darah dari genggamanku asal dan menarik sebuah pisau dari kantung celanaku.

JLEB!

Aku menambahkan satu tusukan yang menghias perut orang itu. Membuat organ-organ seperti usus juga hati yang berada di dalam perutnya terlihat cukup jelas. Darah kini bukan keluar dari satu titik saja, sehingga cairan pekat tadi mengalir lebih deras.

JLEB!

Satu tusukan lagi membuat hatinya terlihat sangat jelas dan ususnya keluar dari kantong perutnya.

“Hhhh.. Tak kusangka, sangat mudah membunuhmu. Kau hanya mengganggu ‘milikku’ ” gumamku lalu berlalu meninggalkan bangkainya.

Dengan langkah pasti, aku memasuki rumah itu lebih dalam. Tak mau membuang waktunya hanya untuk mengelilingi bangunan itu.

***

Kuhentikan langkahku ketika mendapati seorang namja tengah berjalan gelisah menuju suatu ruangan.

Merasa cukup aman, aku keluar dari persembunyiaan dan mengintip sedikit dari celah pintu.

Namja bertubuh manly memutar keran air sehingga air mengucur jatuh ke wastafel putih. Beberapa detik, dipandang bayangan wajahnya sendiri yang memantul pada cermin yang tergantung di atas wastafel. Ia menengadahkan kedua telapak tangannya di bawah keran agar butiran-butiran air bisa berkumpul di kedua telapak tangannya yang tidak datar. Lalu, dicipratkan air itu membasahi wajahnya.

“Hhhh..” namja itu mendesah pelan. Ia terlihat cukup buruk dengan wajah yang tak semangat. Kembali ia memandang kosong sisi wastafel yang masih penuh dengan air. Saat didongakkan kepalanya menghadap cermin, aku dapat melihat betapa terkejutnya ia. Karena, bayangan yang memantul di cermin bukan hanya bayangannya. Tapi juga bayanganku, sedang menatapnya tajam.

Di saat ia belum sadar sepenuhnya, aku terlebih dahulu mengunci kedua tangannya di belakang punggungnya. Hanya dengan satu tangan, kutarik rambutnya sampai ia terdongak ke atas dan langsung membenamkan kepala namja tadi di genangan air wastafel tanpa memberikan satu detik pun kesempatan bernafas untuknya.

“Mmmmppphh..” Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku. Satu tangannya lagi mencengkram pergelangan tanganku itu dengan kuat. Kakinya juga mencoba menendang-nendang udara kosong.

Namun, usahanya sia-sia. Tangan yang mencengkram pergelanganku itu lemah seketika dan lunglai begitu saja. Aku melepaskan tanganku dari kepala namja tadi dan membiarkannya roboh di lantai.

“Wow, ternyata nafasmu hanya bertahan sampai detik ini. Kukira kau bisa bertahan lebih dari ini.” Bisikku lalu keluar dari kamar mandi dengan melangkahi mayatnya yang kini terbaring di lantai, kubiarkan air keran terus mengalir keluar sampai membanjiri kamar mandi.

***

“Rupanya kau di sini Taemin-ssi,” kataku lirih dan mendekati Taemin yang tengah menulis sesuatu di atas lembaran kertas putih yang berceceran tak rapi di atas meja.

Aku segera membekap mulutnya menggunakan satu tangan yang kubalut sarung tangan putih. Tanganku yang lain menggenggam gunting yang kutemukan di ruang tamu. Dengan cepat, kuhunuskan gunting itu menembus kulit Taemin tubuh Taemin yang dibungkus kaos hijau.

JLEB! JLEB! JLEB!

Aku menusukkan ujung gunting tajam asal ke tubuh Taemin.

“Mmmmppphhh… mmmhhh” Taemin mencoba memberontak, namun cengkramanku sangatlah kuat.

JLEB! JLEB! JLEB!

Terus kutusukkan ujung gunting, membiarkan amarah dan nafsuku untuk membunuh menguasai diriku sampai aku benar-benar puas. Darah terus muncrat dari dalam tubuh Taemin dan hampir mengenai wajahku kalau saja aku tak mundur beberapa senti. Perlahan tapi pasti, suara Taemin pun lenyap.

“Hhh.. hhhh… Seharusnya kau belajar dengan serius, Lee Taemin.”

Bekas-bekas darah berceceran di sekitar tempat duduk Taemin juga meja di depannya. Kertas putih di atas mejanya dan kaos hijau polosnya kini telah berubah merah oleh darah.

“Apa yang kau lakukan, hah?” teriakan seseorang cukup mengejutkanku. Aku memiringkan kepalaku dan mendapati seorang namja lain dengan kaos oblongnya terkejut.

“TAEMIN!!” teriaknya lagi dan melangkah mendekati mayat Taemin yang bermandikan darah segar.

DORRR!

Tak mau repot, lebih baik kutekan pelatuk pistolku ke arahnya. Langkah namja tadi terhenti karena ia roboh terlebih dahulu dengan peluru yang menempel di pelipisnya. Darah menggenang di sekitarnya.

“Seharusnya kau perlu berterimakasih padaku, karena aku tak membuatmu merasa tersakiti olehku, seperti teman-temanmu. Tapi, yaah.. no problem jika kau tak mengucapkan apa-apa.”

Aku berjalan lagi menjauh. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal dalam diriku. Kuputar tubuhku memandanginya yang sudah tak bernyawa, “Satu lagi, kau seharusnya tak terlahir di dunia ini, Lee Jinki.”

-FLASHBACK END-

Hee Hyo. Seorang gadis yang tak lain adalah orang yang sudah menghabisi hampir semua member SHINee menodongkan pistol hitamnya di hadapan pria yang hampir sama tinggi dengannya. Tanpa ba bi bu lagi, namja itu segera merebut pistol itu dari tangan Hee Hyo.

Tapi, Hee Hyo tak mengijinkan itu hingga tangan mereka beradu merebutkan benda hitam tersebut. Si namja menggenggam erat pistol agar Hee Hyo tak bisa mendapatkannya kembali. Namun, Hee Hyo terus berusaha menarik ujung pistol yang berhasil ia raih. Entah bagaimana, pistol itu terlempar cukup jauh dan mendarat beberapa meter dari mereka.

Tak ingin menunggu, Hee Hyo langsung memeluk namja itu sembari berbisik di samping daun telinganya, “Saranghaeyo.”

JLEB!

Ujung pisau perak yang cukup besar dan amat tajam menembus daging tubuh si namja. Pelukan Hee Hyo merenggang. Namja di depannya mundur dengan langkah lunglai seraya memegangi perutnya yang ditusuk pisau tajam. Dari bagian itu, keluar darah yang begitu segar. Begitu juga dengan mulutnya yang mengeluarkan cairan serupa. Baru beberapa langkah kecil yang ia dapat, ditarik pisau yang bersarang sangat dalam di perutnya dan membuangnya sembarang hingga akhirnya..

BAGH!

Ia roboh di atas lantai putih dengan posisi menghadap langit-langit.

“Hahahahaha..” tawa mengerikan menggema di seisi dorm yang sepi.

Onew dan Taemin mati di tempat yang sama dengan darah yang tak kunjung berhenti mengalir. Tubuh Jonghyun semakin dingin karena air dari keran masih menggenangi tubuhnya. Minho dengan kepala bocor sekarang tak bisa apa-apa. Mereka kini hanyalah seenggok daging yang sudah tak bernyawa.

“Kau tau.. di sini sakit. Sangat sakit hingga tak bisa disembuhkan lagi. Lebih baik aku membuatnya mati rasa sekalian.”

JDOORRRR!!!

“Kau.. kau adalah.. milikku se..lamanya.. Key..”

Suara parau hampir tidak terdengar karena begitu lirihnya. Sebuah peluru menancap di jantung Hee Hyo yang mungkin menjadi tanda akhir kisahnya.

BRAG!

Hee Hyo jatuh menimpa Key. Kepalanya bersandar di dada Key yang juga sudah tak bernyawa.

WUUUSSHH…

Angin kencang membuka paksa pintu dorm hingga menghantam dinding, sampai menimbulkan bunyi yang cukup mengerikan.

BRAK!

JDAARRRR!!!

Gemuruh petir mengiringi jiwa Hee Hyo yang menyusul Key. Hujan deras dengan backgroung gelap turun begitu saja, membasahi mayat Key dan Hee Hyo yang terbaring di dekat pintu. Darah kental mereka bercampur air hujan. Membuat cairan yang semula pekat itu mudah mengalir menelusuri jalanan.

Sudah jelas. Rasa yang dimiliki Hee Hyo bukanlah rasa cinta lagi. Melainkan, sebuah… obsesi.

-END-

Gimana? Gaje? Aneh? Lebe? Alur kecepetan? Gak jelas? Kurang kejam? Endingnya terlalu pasaran gara2 mati semua *orang dibunuh gimana gak mati?!

Kalo gak suka, tetep comment ya!! Kritik saran saingat dibutuhkan!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

65 thoughts on “Obsession”

  1. Aku pikir awalnya pelakunya anggota SHINee juga, atau Key sendiri tapi dia nggak sadar. Eh, ternyataa :3

    nggak kecepetan kok, jelas banget malah. Btw, kayaknya aku pernah tau username author di tempat lain deh, haha~

    1. Pelakunya anggota SHINee? salah dong~ XD

      Pernah liat dimana? Usernameku emang udah bertebaran di mana2, udah tenar *overPD #ABAIKAN

      Coba aja klik usernameku, ntar bakal nyasar ke ‘dunia’ku kok XD

      Btw, thanks for read and comment 🙂

  2. sadis bgt. sampe ngeri sndri ngebayanginnya. aku kira awalnya yg mnjadi obsesi gdis itu minho. trnyata key. wah, ngeri euy. bagus thorr.

  3. Pas awal baca ak ngira pelakunya key sendiri loh.hha.
    aku suka sama scene2 pembunuhannya itu keren bgt!!!

    Hemm, tpi mgkn bakal lebih jelas kl dijelasin jg gimana terobsesinya Hee Hyo sma Key dan sebenernya Hee Hyo itu siapa?
    apa Hee Hyo itu tmn Key? Noona koordi? fans?
    soalnya yang aku tangkep Hee Hyo itu cuma orang yang obsesi sma Key.

    However, Nice FF ^^~

  4. tadi d kirain minho, kesini kesini ternyata malah key yg jd obsesi si cewe.
    Fee psikopat nya dpt thor, great ff ^^
    Pendek tp ttp berisi

  5. .aq suka ceritanya,walaupun ngeri ngebayangin member SHINee dibantai mengerikan seperti itu ..thor penjelasan tentang Hee Hyo nya menurut ku masih kurang deh#plak..terus berkarya thor dengan imajinasi mu yg luar biasa

  6. asli merinding disko *?* bacanya
    ngeri…
    sama kaya komen2 sebelumnya, aku kira awalnya ini minho… taunya key.

    akan lebih seru kalau dijelasin siapa itu yeojanya dan apa hubungannya sama key, dan kenapa yeoja itu bisa segitu terobsesibnya sama key.

    over all bagus kok, aku suka n_n

  7. EOMMAAAAAA ~~~!!!!#SCREAM
    MENYERAMKANNN!!!#sembunyi di pelukan Key

    astaga aku juga pikir awalnya yang bunuh itu anggota SHINee laiinya ternyata yeoja toh,,
    btw yeoja itu pacarnya Key yah ??

    Makanya Key milih cewek yang bener napa ?? gini kan jadinya ?? mati sia-sia..ckck

    Kasian sekali OnJong2Min, matinya tragiiisss 😀

    overall its nice 😀

      1. gimana gg berapi apiii itu membuat aku SHOCK 😀

        oalaahhh…
        untung Key punya fans yang manis macam aku (?)
        aku gg akan tega menyakitimu Keeeyyy :* #alay

        masaaaamaaaa….
        di tunggu ff selanjutnya yaaa 😀

  8. wow ..
    sadis eon ..
    tapi bagus ..
    aku kaget kalau yang mbunuh mereka cewek .. aku pikir cow eon .. 😀
    kan jarang ada cast cew di buat sesadis itu ..

  9. keren! itu mati semua akhirnya, tapi itu cuman mimpi kan ya thor??.
    ak msih bingung sma kta2 cwek itu yg bilang klo ‘seharusnya kau tak lahir ke dunia ini, lee jinki’, emang itu knpa ya thor??

    daebak, lanjutkann~

    1. Itu bukan mimpi, say.. It’s real 🙂

      kalimat itu, maksudnya si cewe gak rela kalo Onew lahir di dunia ini, coba kamu baca lebih teliti, Cewenya bilang kan, andai aja Onew gak lahir, pasti Key bisa jadi leader atau lebih dari itu 🙂

      Ini oneshoot, say.. gak ada lanjutannya.. kalau mau baca karya2 ku *hallah* yang genrenya beginian (?) klik aja usernameku 😀

      Gamsa~

  10. Sadiis!woy sadis!
    Pesikopat tu yeoja,fans fanatik i hate you*woy sabar eunri*

    nice ff author yg cantik.>.<

  11. Hwaaaaaaaaaaa….T.T
    abang onew smha minho tewaassss,
    kasian T.T

    eonnie gomawo ne #bow
    fanfic na bagus, nyereminnnnnnnnn

  12. jinjja……. aku merinding bacanya.. o_o

    hhhaaha, aku kira jg awalnya minho xD
    bagus atuthor~~~~~~
    neomu choa!

  13. Pembunuhan Minho paling sadis. Hee Hyo tak tahu ampun. Obsesinya pada Key membuatnya jadi pembunuh.

    Author ini suka ya bikin cerita psichology? Sempat mampir ke blog Author sepertinya punya cerita yang seru-seru.

    Nice story.

  14. ya allah. serem amat T^T. tapi keren22. aku pikir yang mati dikamar mandi itu si minho, hahaha tanya jjong. wkwkk. nice ff

  15. awalnya sedikit enggak ngeh sama jalan ceritanya, hoho dibaca sampe akhir baru ngeh ><
    horor ya o.o\ sadis ^o^

  16. pertamanya aku kira cwe ini terobsesiny sm minho
    ternyta key
    msh kurang dkit
    knp tu cwe smpe pngen ngebunuh smua mmber shinee
    knp mmber shinee yg laen d bilang penghalang??

  17. Sebenarnya aku udah baca FF ini 3 hari yang lalu, tapi baru komen sekarang. hehe.
    eon, kamu sukses banget bikin cerita horor.
    aku nggak bisa tidur selama 3 hari setelah baca FF ini #curhat, abaikan.
    aku suka ceritanya.
    Kenapa Taemin ama Minho paling sadis pembunuhannya?
    aku bisa membayangkannya.

  18. keren *,*
    keep writing, aku mau ff yang kayak gini lagi, ketagihan!! kkk
    *padahal yang baca baru 14 tahun =_= tapi aku ga ketakutan sih, udh biasa baca ginian, ehh ketahuan anak nakal kkk~*

    Sadis bgt si Heehyo… gila!

  19. Author kereen banget sumpah thor!! sampe merinding bacanya, apalagi di rumah sendirian.
    Ditunggu karya selanjutnya yaa thor!! 😉
    Good Job 😀

  20. Mengerikan, obsesi yang sangat mengerikan.
    Sasaeng, mengerikan. Keep writing author. Ditunggu karya lainnya

  21. keren kak keren sangat keren. awalnya gak mau baca sumpah karena udah tau genrenya. tapi ternyata keren. keren abis. gak nyesel sama sekali nyebacanya ~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s