Who I Am? I Am an Eve – SPY 5

 

Title       : Who I Am? I Am an Eve (Sequel From Fairytale and Myth)

Author  : ReeneReenePott

Maincast :

  • Key <EVE>
  • Jessica <EVE>
  • Jung Yoogeun <HUMAN> – covered by Henry Lau

Supporter cast : (tokoh masih bisa bertambah)

  • Hero <EVE>
  • Taylor <EVE>
  • Gyuri <EVE>
  • Madeleine <ELF>
  • Elias <ELF>
  • Claire <ELF>
  • Joon <ELF>
  • Kevin <EVE>
  • Tiffany <EVE>
  • Max <VAMPIRE>
  • Thunder <VAMPIRE>
  • G.O <VAMPIRE>
  • Nikky <VAMPIRE>
  • Chase <WEREWOLF>

Cameo :

  • Asley <WIZZARD>
  •  Oey <DWARF>
  • The Volturies <VAMPIRE>
  • Hogwarts Teachers Staff <WIZZARD>

Genre   : Fantasy, Romance, Thriller, Alternate Universe

Rating   : PG – 15

Length  : Sequel

Backsound : Yangpa ft. Davichi – Love Is All The Same

A/N : RATING NAIK!! RATING NAIK!! #dorr Biasa, rating naik, berarti ada adegan sadisnya o.o kalo kurang sadis bilang ya, nanti akan kuperbaiki di next Spy. ^^ Beware buat yang Taemints, sebelom nya aku minta maaf dulu yaa.. *kaborr*

Spy 5

Ravenclaw’s living room, Hogwarts

Beginning of December 2006 at 2.00 p.m

Asrama ini menarik juga, batin Key saat ia tengah terduduk di salah satu sofa di ruang rekreasi Ravenclaw. Beberapa anak memandangnya dengan tatapan aneh, namun banyak yang menyalaminya ramah. Beberapa gadis malah cekikikan saat ia sedang berjalan lewat. Ia memandang seragam barunya, yang ia kenakan tanpa jubah. Ia seperti berada di dunia yang berbeda sekarang.

Dengan malas ia melirik ke setumpuk perkamen, sebotol tinta dan beberapa set pena bulu, serta setumpuk buku dan selembar jadwal yang tergeletak di atas meja. Ia mendesah pelan lalu memasukkan semua benda itu ke dalam tasnya yang sudah di sediakan. Dirasakannya seseorang menghempaskan diri di sampingnya.

“Hai Key,” ujarnya ramah. Key menoleh pelan, dan setelah ia mengetahui siapa yang ada di sampingnya, ia kembali menatap ke arah lain.

“Hai juga,” jawab Key sedikit lemah. Murid yang ternyata pria itu menepuk bahu Key pelan.

“Mungkin aku orang keseratus yang mengatakan ini padamu, namun selamat datang di Asrama Ravenclaw,” sahutnya ramah. Ia tahu, Key tidak bermaksud mengusirnya. Key mengangguk, lalu melukiskan seulas senyum tipis di bibirnya.

“Kau baru orang kedua,” balas Key meringankan nada dalam suaranya. “Hey, ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu,”

“Ah, iya. Aku lupa. Perkenalkan, aku Seth Clearwater,” jawabnya sambil meengulurkan tangan kepada Key. Key menyambutnya dengan senyuman. “Aku setengah,” lanjutnya yang membuat kening Key berkerut bingung.

“Setengah?”

“Ya, setengah. Ayahku penyihir dan ibuku Munggle. Bagaimana denganmu?” tanyanya riang. Key gelagapan.

“Sebenarnya aku juga kurang tahu persisnya siapa diriku ini,” kalimat itu meluncur dengan sendirinya dari mulut Key. “Aku bahkan tidak mengetahui margaku, atau nama belakangku,” ungkapnya jujur. Seth menatapnya prihatin.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung,”

“Tak apa,” balas Key menenangkan. “Er, Seth, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kenapa sedari tadi murid-murid perempuan menatapku aneh ya? Apa karena wajahku tidak nampak seperti manusia?”

“Mereka baru pertama kali melihat wajah Asia sepertimu mungkin, padahal Cho juga berwajah Asia. Heran deh, aku juga bingung,” jawab Seth sambil mengangkat bahunya. Tiba-tiba kedua mata Seth menangkap 2 huruf yang diukir di balik botol tinta Key. “Kurasa marga atau nama belakangmu dimulai dari huruf ‘K’,”

“Apa? Bagaimana kau bisa tahu?” Key terlonjak begitu mendengar celetukan Seth. Seth menunjuk ke balik botol tinta milik Key.

“Biasanya, barang-barang pribadi murid diberi ukiran sesuai huruf dari nama depannya,” jelas Seth singkat. “Di koperpun ada, supaya bisa membedakan ini koper milik siapa,” Key tertegun. Koper, katanya?

“Bagaimana mereka bisa tahu?” gumam Key bingung. Ia sendiri tak pernah tahu marga atau nama belakangnya, dan ia tak pernah mendaftar masuk ke sekolah ini. Namun semuanya nampak telah direncanakan.

“Oh ya, kau belum memulai pelajaran ya? Kurasa ada baiknya kita berjalan-jalan ke sekeliling Hogwarts,” ide Seth membuat Key melongo.

“Lalu kau tidak ikut pelajaran?” tanyanya bingung yang disambut cengiran dari Seth.

“Si Kembar Weasley memang berbakat. Aku membeli beberapa Pastiles Pemuntahnya, dan aku bisa bolos hingga jam akhir,” ungkapnya yang membuat Key makin melongo. “Tapi aku iri padamu, seminggu pertama jadwalmu berbeda sendiri,” Key hanya bisa nyengir salah tingkah

“Besok jadwal kita kan sudah sama. Jadwalku itu untuk mengejar ketertinggalanku selama 3 bulan pertama,” ujarnya ragu. Tiba-tiba ia tersentak dan menatap Seth kaget. “Pastiles Pemuntah?”

“Wah, berarti kau benar-benar baru. Di asrama Gryffindor, ada anak kembar yang sangat berbakat. Kita bisa melihat mereka nanti saat makan malam di Aula Besar,” sahutnya dengan mata berkilat senang. “Mereka mudah berbaur dengan siapapun, apalagi adiknya, Ron dan beberapa temannya. Meski berbeda asrama tapi kami sering sekali berbincang bersama,”

“Wah, aku tak sabar menunggu hingga makan malam nanti,” Key menyahut. “Seth, maukah kau bercerita tentang pelajaran-pelajaran yang ada di sini? Sungguh, kurasa aku harus memulai segalanya dari nol, tapi kenapa aku langsung ditempatkan ke kelas 1? Padahal pelajaran sudah berlangsung beberapa bulan lalu,”

“Mungkin ada satu alasan yang membuat Professor Dumbledore percaya padamu. Dan well, aku bisa menjelaskannya untukmu,” balas Seth dengan senang hati. “Semua pelajaran di sini menarik kalau kubilang. Favoritku adalah Pertahanan terhadap Ilmu-Hitam dan Herbologi. Guru Pertahanan terhadap Ilmu-Hitam kita adalah Professor Quirrell, ia adalah orang yang menyenangkan. Sementara untuk guru Herbologi ada Mrs. Sprout. Ia baik dan selalu menjelaskan sesuatu secara ringkas. Ia juga tegas,” Key hanya dapat mengangguk meresponnya.

“Ada lagi?”

“Tentu saja! Dan masih banyak! Ada Ramuan, Astronomi, Ramalan, Rune Kuno, Telaah Munggle, Mantra, Pemeliharaan Satwa Liar, dan lain-lain. Tapi sebaiknya kau berhati-hati dengan guru Ramuan kita, Professor Snape. Dia mengerikan,”

“Kenapa bisa begitu?” kening Key merenyit ketika Seth menjelaskan sambil bergidik ngeri.

“Mulutnya pedas, matanya tajam, dan sangat suka mengkritik muridnya. Kecuali anak emasnya, tentu saja, Draco Malfoy. Kalau aku tidak mengingat bahwa Professor Snape adalah Kepala Asrama Slytherin, mereka sudah kuhajar,”

“Slytherin? Aku pernah mendengar nama asrama itu,” celetuk Key pelan. Seth mengangguk semangat.

“Tentu saja kau pernah mendengarnya, itu salah satu asrama yang… Err…” Seth menghentikan kata-katanya, membuat kening Key kembali berkerut.

“Yang apa?”

“Yah, secara garis besar, murid-muridnya tergolong orang yang licik, melihat segala sesuatunya dari harta, dan berdarah murni,” Seth mengerutkan keningnya sedikit, “Atau istilahnya agak tidak enak diajak berteman,”

“Sungguh, aku tak mengerti tentang darah-darahan. Apa maksudnya penyihir, Munggle, berdarah murni, aku sama sekali tak mengerti,” ucap Key. Seth membulatkan matanya.

“Apakah kau se-baru itu?” tanyanya tak percaya. Key mengangguk lemah, membuat Seth mau-takmau mendesah. “Di dunia sihir, atau yang bisa melakukan sihir, dibagi menjadi beberapa golongan. Golongan paling atas yang benar-benar memiliki darah penyihir, di sebut darah murni. Sementara kebalikannya, yang sama sekali tidak memiliki darah sihir, atau manusia biasa disebut Munggle. Di jaman dahulu, para penyihir darah murni ini membenci para Munggle dan menyebut mereka Darah Lumpur. Itu adalah hinaan yang paling menyakitkan untuk para Munggle, dan sekarang seharusnya mereka berhenti menggunakan kata itu, toh kalau bukan karena Munggle darah penyihir mereka akan punah perlahan-lahan,”

“Kenapa?” tanya Key. Seth mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum.

“Tentu saja. Para penyihir berdarah murni suka menikah dengan sesama darah murni. Lambat laun semua keluarga penyihir yang  berdarah murni akan menjadi saudara. Bagaimana mereka mau menikah nantinya? Dan sekarang, kebanyakan penyihir juga berdarah campuran,”

“Oh ya, aku mau bertanya tentang asrama-asrama di sekolah ini. Pada dasarnya semuanya sama, kan?” tanya Key lagi. Seth berpikir sejenak dan memandang Key.

“Pada dasarnya sih iya. Baiklah, lebih baik jika kuceritakan dari awal. Tahun lalu, Professor McGonagall menceritakan sejarah sekolah ini. Awalnya, pendiri sekolah ini ada empat, Godric Gryffindor, Rowena Ravenclaw, Helga Hufflepuff dan Salazar Slytherin. Karena itulah nama mereka diabadikan menjadi asrama-asrama yang ada di sekolah ini. Godric Gryffindor mempunyai jiwa gagah berani dan setia kawan, Helga Hufflepuff rendah hati dan suka menolong, Rowena Ravenclaw orang yang cerdas dan intelek, dan Salazar Slytherin si pecinta darah murni. Anak-anak murid Hogwarts masuk ke asrama yang sifatnya sama dengan dirinya,”

“Jadi, aku temasuk pintar, begitu? Aku rasa tidak,” gumam Key heran. “Aku heran kenapa Topi Seleksi memasukkan aku ke asrama ini,”

“Yah, Topi Seleksi memang serba tahu. Dialah yang menyeleksi anak-anak di sini,” jawab Seth singkat. Tangannya meraih segelas Butterbeer yang ada di atas meja, tenggorokannya terasa sangat kering setelah menjelaskan tentang sekolah itu kepada Key. Syukurlah Key termasuk orang yang cepat tanggap, jadi Seth tidak perlu mengulangi penjelasannya yang sudah seperti guru itu lagi.

“Oh ya, kau melupakan rencana kita. Katanya mau berkeliling sekolah ini, ayo!” seru Key semangat sambil menarik tangan Seth.

“Tapi pakai jubahmu dulu, sekarang sudah musim dingin, kau tahu? Kudengar kemarin ada beberapa anak kelas tiga yang terserang badai salju ringan,” tutur Seth dan bergegeas merapikan jubahnya yang setengah terbuka. Key memiringkan kepalanya, berpikir bahwa ia tak akan merasakan hawa dingin itu. Tapi untuk menjaga ‘image’ manusianya, ia pikir sebaiknya ia memakainya.

“Baiklah,” sahut Key pada akhirnya.

__

Old mansion, France

Same time, 3.00 p.m

“Kubilang kan, kau harus berhati-hati. Dan mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari,” Max bergumam pelan sambil menatap ke luar jendela.

“Masalahnya, Max, aku bingung harus berbuat apa,” ujar Jessica lemah. “Aku tidak pernah berada dalam situasi seperti ini, mengalami masalah dengan seorang vampir gila yang benar-benar membuatku bingung!”

“Aku juga akan bingung bila aku jadi kau, Jess,” celetuk Kevin mendukung kata-kata Jessica. “Sudahlah Max, jangan membuatnya panik, kau tahu semuanya akan baik-baik saja,”

“Aku hanya berkata kenyataan, Kevin, apa tidak boleh?” tanya Max bingung. Kevin balas menatapnya kesal, sementara Jessica hanya bisa memutarkan bola matanya.

“Haish, aku ingin keluar,” seru Jessica dan beranjak keluar ruangan itu. Thunder yang sedari tadi membaca novel mengangkat wajahnya.

“Kemana?”

“Kemana saja, asal aku bisa sendiri!” desahnya sambil melangkah cepat keluar bangunan itu. Kevin melirik Thunder, seperti mengisyaratkan sesuatu. Thunder mendesah, apa lagi ketika mata Kevin seperti menunjuk-nunjuk ke arah Jessica pergi.

“Oke, aku tahu, Kevin. Aku akan mengikutinya, oke?!” ujar Thunder menyerah. Ia melirik Max sebentar, dan benar-benar menghilang di arah yang sama ketika Jessica juga menghilang.

Malam itu terasa sunyi. Jessica terus melangkah tak tentu arah dengan santai, tak merasakan hawa semakin dingin apalagi sudah musim gugur. Ia terus saja melangkah, tanpa mengetahui bahwa Thunder mengikutinya tepat di belakangnya. Tak terasa ia kembali mengunjungi hutan dimana ia dan Nikky pernah bertarung meskipun ia kalah telak.

Srekk

Jessica menyadari ada seseorang di belakangnya. Ia membalikkan tubuhnya cepat, dan langsung mendapati Thunder yang cengengesan menatapnya.

“Untuk apa kau mengikutiku?” tanya Jessica dengan kening berkerut. Thunder mengeluarkan seringaiannya, sambil tetap mengantongkan kedua tangannya di saku celananya.

“Well, aku tak mau kejadian lalu terulang lagi,”

“Oh ayolah Thunder, aku sudah mengalaminya dan aku yakin aku pasti akan lebih hati-hati,” sahut Jessica. Thunder mengangkat kedua bahunya, membuat Jessica semakin jengkel. Tiba-tiba Jessica menyadari raut wajah Thunder berubah.

“Oh, tidak. Ini benar-benar akan terjadi,”

__

Hogwarts, England

The next day

Key serasa benar-benar dimasukkan ke dalam sebuah dunia asing namun benar-benar menarik. Ia dan Seth menelusuri kastil sembunyi-sembunyi, sambil mengenalkan beberapa ruangan tersembunyi yang ada di kastil itu. Key berusaha mengingat semuanya, karena ada ratusan ruangan berbeda, ribuan tangga yang pendek maupun tinggi dan berbeda ukuran untuk menuju ke suatu ruangan.

“Oh, ini benar-benar keren,” gumam Key takjub. Seth menyeringai puas.

“Tentu saja. Sekarang, ayo kita ke Rumah Kaca untuk pelajaran Herbologi. Di sana asa banyak tanaman unik yang tidak akan pernah kau temukan dalam dunia munggle,” mereka menuruni tangga lagi, kali ini lebih panjang dan berliku. Key hampir saja menginjak jubahnya karena terburu-buru mengikuti Seth. Tiba-tiba Seth berhenti tepat di depan Rumah Kaca terbuka itu dan melangkah mundur perlahan. Key merenyit bingung.

“Kenapa?”

“Sst, ternyata Mrs. Sprout masih ada, dan kitaa harus dapat ijin untuk masuk ke sini. Gawat kalau ia menemukan kita, bisa-bisa angka Ravenclaw dikurangi karena itu,”

“Huh, padahal isinya pasti sangat menarik,” gumam Key. Seth meliriknya, lalu menepuk bahu Key pelan.

“Tenang saja, besok kita mendapat pelajaran itu,” ujar Seth. Key mengangkat alisnya, lalu kembali berjalan menaiki tangga.

“Sebaiknya kita kemana sekarang?”

“Kalau kau mau, kita harus membereskan barangmu yang berserakan di atas meja itu,” sahutnya yang membuat Key nyengir. Yep, dia masih frustasi memikirkan PR Ramalan aneh dari Professor Trelawney.

“Oke, ayo kita kembali ke ruang rekreasi!” mereka berdua kembali berlarian ke atas, ke Menara Ravenclaw. Koridor saat itu sangat sepi karena semua siswa sedang mengikuti pelajaran. Key sempat berpikir, inilah tempat dimana ia bisa melepas kepribadiannya secara leluasa. Mereka sudah kembali berada tepat di depan sebuah pintu yang tidak memiliki lubang kunci, tidak memiliki pegangan, hanya sebuah pengetuk pintu berbentuk kepala burung elang. Seth menggapai pegangan itu dan mengetuknya sekali. Ketika Key mulai memerhatikan bentuk kepala burung itu, paruhnya mulai membuka, dan alih-alih mendengar suara koakan, ia mendengar suara lembut berkata,

“Apakah kau bisa melawan takdir? Bila kau bisa, bagaimana caranya?” Key tercengang, begitupula Seth.

“Pegangan itu berbicara pada siapa?” tanya Key bingung. Seth hanya meliriknya.

“Tentu saja pada kita. Untuk memasuki ruang rekreasi kau harus menjawab pertanyaan, bukan?” jelas Seth. Ingatan Key kembali melayang disaat Professor McGonagall mengantarnya ke ruang rekreasi itu. Professor McGonagall memang menjawab sebuah pertanyaan, namun ia tidak terlalub ingat persisnya karena saat itu ia masih sibuk memerhatikan keadaan sekelilingnya.

“Bolehkah aku menjawab pertanyaannya?” tanya Key. Seth mengangguk semangat, yang disambut senyuman tipis dari Key.

“Tentu saja, pertanyaan itu sangat membingungkan menurutku,” ujar Seth. Key mengerutkan keningnya, menatap Seth lekat sejenak, membuat yang ditatap menjadi salah tingkah.

“Mungkin jawabannya adalah, aku tidak bisa melawan takdir, tentu saja. Namun aku bisa membuat takdir berada di pihakku bila aku mau dan berusaha,” ujar Key yakin.

“Pemikiran yang tinggi,” jawab suara itu, dan pintu mengayun terbuka. Segera Key dan Seth melangkah masuk.

“Jawabanmu keren sekali, aku bahkan tak pernah memikirkan jawaban seperti jawabanmu,” gumam Seth takjub. Key hanya nyengir, bingung harus menjawabnya dengan apa. Tangannya mulai bergerak memeriksa tasnya, berharap menemukan benda-benda aneh yang menarik.

“Aku…” ungkap Key ragu,”Tak pernah memakai pena bulu. Apalagi yang seperti ini,” lanjutnya sambil mengacungkan sebuah pena bulu dengan bulu yang keemasan bercorak putih. Ukurannya cukup besar, namun begitu ringan. “Sudah hampir seminggu, namun aku masih agak susah kalau menulis cepat,”

“Aku juga dulunya agak sulit memakai pena macam ini,” sahut Seth cepat, “Aku membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyesuaikan diri dengan pena itu,” lanjutnya, “Aku dapat yang warna bulunya kebiruan. Tapi satunya lagi pasti berwarna putih. Kita di beri dua buah tiap anak,”

“Aku suka botol tintanya,”

“Botolnya Anti-Tumpah, kau tahu?” seringai Seth semangat. “Kakak-kakak kelas tahun lalu yang mengusulkannya. Kau tahu, waktu kakakku kelas dua kalau sudah diharuskan mencatat, pasti rata-rata botol itu pada muncrat kemana-mana isinya. Karena itulah, setiap botol diberi manta Anti-Tumpah agar para murid nyaman saat memakainya. Begitu ceritanya,”

“Hahaha… benar-benar lucu,”

“Well, Key, sebaiknya kita bergegas ke kelas Snape, kau tahukan,” Seth bergumam hati-hati. Key memutarkan bola matanya.

“Kenapa harus guru itu lagi sih,”

“Ayo!”

__

Finland,

In the middle of December 2006, at 8.00 a.m

“Kyahh… sampai juga!” Madeleine merenggangkan otot-otot bahunya yang kaku. Gurat wajahnya jelas menunjukkan kesenangan, tapi tidak dengan Joon. Bahkan Claire yang sama sekali tidak memberikan ekspresi apapun malah masih menunjukkan raut kelegaan. “Joon, kau kenapa?”

“Eh?”  Joon tiba-tiba tersentak karena Medeleine menyikutnya dengan sangat keras. “Ada apa?”

“Tidak, hanya…” Madeleine menggantungkan kalimatnya sambil memiringkan kepalanya, menatap Joon dengan seksama. “Kau lebih banyak diam kali ini,”

“Ck,”

“Iya, bukankah kau suka menyenandungkan lagu Monalisa? Sekarang bahkan suaramu jarang terdengar,” ucapnya pelan. Joon merenyitkan keningnya tidak suka.

“Bukankah kau yang cerewet? Kelamaan tinggal bersama Eve-Eve yang suka berceloteh itu ternyata bisa meng-asimilasi-kan sifat aslimu, ya?” (maap, author tak punya pilihan lain selain menyerap pelajaran sosiologi;baca>>asimilasi. Tapi setidaknya pelajaran jadi berguna, kan?#plakk)

“Sekarang nampaknya mulutnya yang perlu ditutup,” sergah Madeleine kesal. “Lebih baik aku tidak usah mengajakmu bicara saja tadi,”

“Kau juga harus mengunci mulutmu, kita sudah ada di depan gerbang Ellesmera,” hardik Claire halus dengan tatapan lurus ke depan.

Yep, tempat tujuan mereka. Kota para Elf, Ellesmera.

__

Snape’s Class, Hogwarts

End of December 2006, 01.00 p.m

“Saya harap kau tidak terus-terusan berkutat dengan perkamenmu yang robek itu, Mr. Kim,” suara Professor Snape yang semakin meninggi membuat seisi kelas terdiam dan perhatiannya teralih ke seorang anak yang tengah meributi soal perkamennya yang robek hingga setengah. Bisa kalian tebak? Yep! Dia Key.

“Maaf, professor,”

“Dua kali kau mengabaikan pelajaranku, Kim. Tiga kali, maka kau akan mendapat detensi,” Key mendengus. “Dan kurasa kau sama sekali belum mencatat bahan-bahan yang kau perlukan untuk membuat ramuan sederhana untuk menyembuhkan bisul-mu,” lanjutnya dingin.

Pelajaran Ramuan benar-benar neraka. Key benci selalu dipanggil ‘Kim’ oleh professor itu. Ia memang baru tahu kalau namanya Kim Keybum, tapi jelas ia lebih suka dipanggil Key saja, bukan Kim. Ia tahu memang seharusnya dipanggil ‘Kim’, tapi bukankah itu terdengar aneh? Tatapannya mengedar, mendapati Seth mengepalkan tangannya ke arah Key sambil tersenyum, seakan memberi semangat. Key membalasnya dengan senyuman juga.

Setelah pelajaran Ramuan yang benar-benar membuat gondok itu berakhir (Key : fiuhhh) mereka langsung menaiki tangga melingkar ke menara tempat dimana kelas Professor Trelawney berada. Key yang baru menghirup napas kebahagian harus menekuk lagi wajahnya. Bagimana tidak? Ramalan sama parahnya dengan Ramuan, oh my!

“Hai Key,” seorang perempuan menepuk bahu Key. Key menoleh dan tersenyum.

“Hai Luna,”

“Kenapa berdiam di situ? Cepat naik, kau sudah mendapat PR karena telat, dan seharusnya kau tidak mendapat PR lagi karena telat lagi!” gadis berambut pirang panjang nan kusut itu berkata ramah pada Key. Kurasa kalian tahu siapa dia? Yep! Luna Lovegood.

“Oh yeah, aku akan ke sana segera,” ujar Key buru-buru. Tiba-tiba Luna ikut menyusulnya, membuat key sedikit bingung.

“Mau berangkat bersama?” tawarnya. Key tersenyum lagi.

“Tidak masalah,”

Key bertambah frustasi setelah pelajaran Ramalan. Ia diberi PR lagi! Dengan alasan yang sangat tidak masuk akal, membantu Seth menemukan letak dimana bukunya berada. Dan sekarang ia benar-benar harus melakukan kegiatan lain yang… mungkin bisa membuat pikirannya kembali jernih? Yep, kurasa Aula Besar merupakan salah satu pilihan yang harus dipertimbangkan.

“Hey! Sipit!”

“Hey Kunci!”

Suara alto dua orang anak laki-laki membuat Key menoleh kaget. Nampak dua sosok berambut merah, aha, si Kembar Weasley. Fred dan George.

“Hey, Weasleys,” sapa Key balik. Ia sama sekali tidak sakit hati di panggil ‘Sipit’ atau ‘Kunci’, justru ia merasa geli. Malah ia merasa ‘Sipit’ lebih baik daripada dipanggil ‘Kim’.

“Biar kutebak. Dari kelas Snape, huh?” ujar salah satu dari antara mereka. Entah yang mana yang bernama Fred, mana yang bernama George, susah membedakan mereka berdua. Key menggeleng puas.

“Kali ini jawaban kalian salah, meski.. yah, hari ini aku memang mendapat pelajarannya,” ungkapnya lesu.

“Hey, aku kan tidak mengatakan apapun soal pelajaranmu kali,” Key berhasil menebak bahwa yang satu ini bernama George.

“Tadi aku mendapat pelajaran Professor Snape lalu Professor Trelawney. Kalian tidak akan tahu seberapa buruk pelajaran itu,”

“Oh, tentu saja kami sudah sangat tahu. George, kita pernah diusir dari kelas Snape sewaktu kau menumpahkan ramuanmu yang hampir jadi kepada si Olyimpea, kan? Yang nyatanya malah membakar jubah anak itu,” Tuh kan, Key benar. Jadi yang satu ini yang bernama Fred.

“Oh ya, aku ingat. Wajahnya benar-benar mengerikan, kau tahu,” George nyengir, “Setelah itu Professor Trelawney memarahi kita habis-habisan sampai diberi PR meramal masa depan hingga 10 tahun mendatang karena memecahkan 20 bola kristalnya,” timpalnya. Key melongo.

“Kalian tahu, aku sama sekali tidak berminat menyentuh bola kristal miliknya,” ungkap Key jujur. “Lebih baik memelototi buku pelajaran daripada harus menyentuh benda itu, sungguh,”

“Bukankah anak kelas satu belum belajar menggunakan bola kristal?” tanya George bingung. Key menaikkan ujung bibirnya sebelah kanan.

“Namun ia tetap menyediakannya di dalam ruangan,” jawabnya singkat.

“Fred, George, aku tahu ini kurang sopan, tapi kalian menyingkir dulu ke meja asrama kalian,” tiba-tiba Seth sudah muncul entah dari mana. Key menaikkan alisnya, setengah menahan tawa ketika Fred maupun George memasang tampang kesal. Setelah kedua anak berambut merah itu pergi, dengan santai Seth duduk di samping Key.

“Jadi? Apakah ada sesuatu yang penting?” tanya Key heran. Seth menghembuskan napasnya berat, lalu menoleh menatap Key dengan pandangan sendu.

“Tidak ada, selain kenyataan bahwa Ariana—dia jelas-jelas naksir kau,” ungkapnya sedikit kesal. Key menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Ariana siapa?” tanyanya. Seth melotot menatapnya tak percaya, seolah mengatakan kau-gila-kalau-tidak-mengenalnya!

“Astaga, Key? Kau sudah lupa? Tampang sepertimu kurasa memiliki ingatan yang cukup kuat,” ungkap Seth kaget. Key tetap menatapnya datar.

“Aku tidak kenal dengan siapa itu Ariana. Lagipula, kita ini masih kelas satu kan, apaan sih main taksir-menaksir?”

__

A forest in France,

Same day, 06.00 p.m

“Hai,”

Jessica terkesiap begitu dilihatnya Nikky sudah berada tepat 5 meter di hadapannya. Oh, 5 meter. Bahkan dalam jarak 10 meter pun ia benar-benar muak melihat wajah Nikky.

“Ada perlu apa, Tuan Nikky?” tanya Jessica sinis. Setidaknya Nikky tidak langsung menyerangnya, itu yang ia butuhkan. Mengulur waktu.

“Perlu apa ya? Mungkin kau rasa kau tidak punya urusan apapun denganku,” jawabnya dengan nada mempermainkan. Jessica mendengus. Dia benar-benar ngotak, batinnya kesal. “Tapi aku, yang punya urusan denganmu, Miss Eve,” tiba-tiba ia menatap Jessica garang dan langsung menerkamnya.

“ARGH!” Jessica berteriak, berusaha menghindari tubuh Nikky. Well, sekali kulitnya bersentuhan dengan tubuh Nikky, keselamatannya bisa berkurang 75%.

“Wah, kelenturan tubuhmu memang patut dipuji, Miss Eve,” gumam Nikky dengan seringaiannya. Jessica mendengus, namun ia tetap menyimpan cakarnya.

“Terkesan, eh?” balas Jessica datar. Ia tak pernah berharap mengalami kejadian ini lagi. Dan sayangnya takdir berkata lain. Nikky menerjangnya lagi, masih dengan gaya yang ringan, mungkin sekedar pemanasan?

“Kurasa kita akan mengalami pertandingan yang adil, Eve,” desisnya. Jessica menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi datar. “Kau dan aku, satu lawan satu. Kau pasti tahu akibatnya kalau teman-temanmu itu ikut membantumu,” Nikky menatap Thunder yang berdiri tak jauh dari Kessica.

“Well, Tuan Nikky, aku yakin kau akan memenangkannya dengan mudah,” ujarnya berusaha tenang. Mereka saling bertatapan dengan tegang sedari awal. Nikky menyeringai.

“Ya. Dan bisa kupastikan kau akan Ekkhh…” Nikky membuat sebuha garis dengan telunjuknya di depan lehernya. Jessica menyipit, memberitahu diri sendiri bahwa vampire ini tak pernah bermain-main.

“Ya, tapi sebelumnya TERIMA INI!” Jessica mencengkeram kedua bahu Nikky, membuat keduanya ambruk di tanah. Jessica langsung melompat ke atas pohon, menjauhi Nikky yang dengan kecepatan sepersekian detik bisa menancapkan benda runcing yang ada di mulutnya—yang sebisa mungkin harus dihindarinya. Jessica menggeram kesal, sementara Nikky menyeringai, menikmati bahwa emosi Jessica mulai tersulut dan sangat jelas sekali ia menikmati permainan ini.

“Oh ya, Miss Eve,” ujar Nikky tenang. “Kusarankan kalau memukul itu menggunakan tenaga, ya, pukulanmu sama sekali tidak terasa,” lalu ia terkekeh sendiri. Jessica menegakkan tubuhnya.

“Oh, tentu saja, Nikky, aku lupa kalau kau sudah mati rasa ketika Rosalie meninggalkanmu,” ujarnya mengejek. Raut wajah Nikky berubah seketika.

Flashback

“Kenapa Nikky berubah menjadi seperti ini? Bisakah aku mendapat penjelasan?” tanya Jessica smabil menatap G.O atau Thunder. Namun keduanya nampak salah tingkah.

“Kalau kami menceritakannya, kau akan merasa bahwa Nikky itu bodoh,” ujar Max tenang. Aku menoleh menatapnya yakin.

“Aku benar-benar ingin tahu, Max,” Jessica berpikir sejenak untuk melanjutkan kalimat yang ia pikir masih ambigu. “Mungkin aku bisa memasukkannya ke dalam daftar penyakit aneh yang menimpa mahkluk mistis?” Thunder langsung terbahak mendengar penuturan Jessica.

“Kau benar-benar ingin tahu?” tanya G.O memastikan. Jessica mengangguk yakin.

“Sebelum Tiffany dan Kevin datang, yah, kalian tahu kan kalau emosi Tiff suka meledak-ledak,”

“Baiklah. Nikky itu seorang mahasiswa yang bersekolah di Alaska dulu. Ia tertarik dengan seorang gadis vampir, namanya Rosalie. Ia benar-benar tergila-gila padanya, kau tahu kan wujud vampir dimata manusia itu seperti apa,”

“Ya, aku sangat-sangat mengerti. Eve juga sama kalau soal fisik,” Jessica mengangguk setuju. Tiba-tiba otaknya berpikir sesuatu. “Apa Nikky berubah menjadi vampir karena Rosalie?”

Max tersenyum senang. “Kau pintar ternyata,” ia mendesah pelan, “Ya, apa yang kau katakan benar. Nikky berubah menjadi vampir, dan mereka benar-benar seperti sepasang kekasih. Kami adalah teman-teman Rosalie awalnya, dan Rosalie meminta bantuan Nikky untuk membalaskan dendamnya kepada suaminya, yang sudah membunuhnya,”

“Kurasa aku tahu kelanjutan dari drama ini. Rosalie meninggalkan Nikky setelah balas dendam itu?” Jessica mengangkat bahunya, disusul dengan anggukan dari Thunder dan G.O. “Jadi anak itu patah hati?”

“Drama? Astaga…” G.O hampir tertawa mendengar komentar Jessica.

“Yep, benar sekali. Rosalie meninggalkan kami dan menghilang entah kemana. Sepertinya ia menghancurkan diri sendiri, atau apa, yang pasti kami tak mendengar kabarnya lagi,”sambung Thunder sambil melipat tangannya di dada, “Dan karena depresi cinta, dia jadi gila. Memacari manusia lalu membunuhnya. Itulah pekerjaannya sekarang. Membunuh dan membunuh. Lalu membuat koloninya sendiri,”

“Astaga,kalau benar-benar kumasukkan ke dalam daftar penyakit yang terjangkit di kalangan mahkluk mitos, salah satu penyebabnya adalah karena cinta,” ujar Jessica asal, bingung harus menanggapinya dengan apa.

“Aku suka gayamu, Madamoseille,” seru Max.

Flashback end

“Kau… beraninya..” geram Nikky menatap Jessica garang. Jessica hanya memasang wajah tanpa dosa, bertindak seakan hal itu adalah sesuatu yang biasa. Tapi ia tahu, ia harus segera berwaspada ketika sorot mata Nikky berubah tajam penuh dendam.

“Aku memang berani, Tuan Vampire Nikky Yang Terhormat,” semburnya, masih bermaksud memanas-manasi Nikky.

“Ah, aku tahu. Kau pasti mengetahuinya dari vampire-vampire tak tahu diri itu, kan?” cerca Nikky sinis. Jessica berjengit, astaga, apa yang barusan Nikky katakan tentang teman vampire-nya? Oke, mungkin akan lebih pas bila di sebut mantan teman vampire. “Berusaha mengorek informasi pribadiku, apa kau tertarik padaku?”

Jessica benar-benar ingin muntah. Dalam sejarah hidupnya, baru sekali ini ia bertemu dengan vampire yang sudah gila, narsis pula! Tanpa sadar Thunder juga ikut berekspresi ingin muntah. Nikky sedikit mengangkat ujung bibirnya, dan langsung menerjang Jessica, membuatnya terjengkang ke belakang.

“Shit!” umpat Jessica pelan. Nikky kembali menyeringai, langsung menyerbu lengan Jessica dan menjungkir balikkannya. Baiklah, ini kedua kalinya aku dijungkir-balikkan oleh pria! Umpatnya lagi dalam hati. Dengan kesal ia menjambak rambut Nikky, bermaksud membuat tubuhnya melengkung ke bawah dan melepas cengkeramannya, namun ternyata itu sama sekali tak berpengaruh, Nikky malah dengan lihainya menebas pinggang Jessica, hingga ia terhempas menumbur pohon yang ada di dekatnya. Memang tidak sesakit waktu tubuhnya membentur palang besi dulu, namun ini juga lumayan.

“Kau benar-benar lemah, Miss Eve,” ejek Nikky sinis. Jessica menghembuskan napas pelan, lalu menyerang Nikky lagi. Kali ini ia menyeret kakinya dan melemparnya asal. Mustahil memang, tapi nyatanya tubuh Nikky terlempar sejauh 6 meter dari tempatnya tadi berdiri. Yakin kalau pemanasan tidaknya hanya berhenti sampai di situ, ia kembali was-was dan menajamkan pendengarannya.

“Cukup pemanasannya,” ujar Nikky, tiba-tiba sudah berada di hadapan Jessica dengan tampang sangarnya. Jessica berjengit, menyadari bahwa Thunder tidak lagi berada di tempatnya. “Temanmu pergi, huh? Malang,”

“Silahkan bicara dulu hingga anda puas, aku akan menunggu,” ungkap Jessica sedikit jengkel dengan tingkah Nikky yang selalu mengomentari apapun yang ada di sekitarnya.

“Baiklah, Nona, siap kan diri dengan ‘main course’ dariku ini,” Nikky sudah menampakkan taringnya, membuat Jessica mau-tak mau ikut menyiapkan cakarnya. Bila Nikky bermain seperti itu, ia harus menyeimbanginya, jangan sampai ia kekurangan kekuatan.

Secepat kilat Nikky sudah merobek lengan Jessica lagi, namun kali ini karena cakarnya bukan taringnya. Jessica ikut mengejarnya, merangkul kedua bahu Nikky dari belakang dan melakukan gerakan jungkir balik. Bukannya ikut terhempas, Nikky malah melompat ke salah satu pohon. Tak mau kalah, Jessica meraih kepala Nikky dan berusaha menjatuhkannya kembali ke tanah.

Cakar Jessica yang menghujam tubuh Nikky sedalam 10 cm itu memang tak meninggalkan bekas darah, namun kulitnya nampak retak. “ARGH! Damn kau Jessica!” raungnya marah. Jessica berputar menghindari serangan Nikky, dan meliuk hingga tangannya meraih punggung Nikky dan menghujamkan cakarnya lagi kuat-kuat.

“Aku memang tak mempunya racun sepertimu, namun jelas soal kemampuan fisik aku sedikit di atasmu,” gumam Jessica. Nikky menggeram ketika kedua lengannya terkunci, tak bisa melakukan apa-apa. Tapi sayangnya kondisi itu hanya bertahan selama beberapa detik, sebelum Jessica yang menahan tangannya terhempas ke tanah.

“Sial, kenapa selalu punggungku…” umpatnya. Dengan sigap ia langsung meraih cabang terendah dan melompat ke arah Nikky. Melihat Jessica, Nikky langsung mengarahkan taringnya ke leher mulus Jessica. Kaget, ia meliuk menghindarinya.

Zretttt…

Segenggam rambut blonde jatuh ke tanah. Jessica mendelik kaget, menyadari bahwa setengah rambutnya sudah terpotong. Tidak hanya itu, bahunya sudah penuh dengan cairan berwarna hitam. Jessica mendengus menatap rambutnya yang sudah tak berbentuk lagi. “Kau memang mortal, tapi sayangnya darahmu tak memberikan efek apapun terhadapku,” ungkap Nikky meremehkan.

“Terserah apa katamu deh,” balasnya enteng. Tubuhnya memang sakit semua, tapi ternyata sakit itu semua dapat teratasi. Apa karena pertarungannya dengan Hero dulu? Dengan sigap ia menahan lengan Nikky yang menerjangnya lagi. Sementara Nikky mengatup-ngatupkan taringnya dengan ganas. Kesal, Jessica menggigit bahu kiri Nikky.

“AKH!” rintih Nikky karena di bahunya tercetak retak sedemikian parah akibat gigitan Jessica yang tak berkemanusiawian. Dengan seringaian puas ia kembali menerjang Nikky, kali ini ia yang gantian menjungkir balikkan Nikky. “Tahan Eve tengik ini!!” raung Nikky keras, entah kepada siapa. Jessica memiringkan kepalanya sejenak, tapi sedetik kemudian ia merasakan kedua lengannya di cengkeram sangat erat.

“SHIT!” pekik Jessica. Quimby dan salah satu temannya—entah siapa—menatap Jessica jijik. Sungguh bodoh ia, mana mungkin Nikky bermain jujur? Ia pasti sudah menyiapkan koloninya! Kedua vampir—muda—bertubuh besar itu menarik kepala Jessica ke atas, lalu membantingnya ke tanah.

Bruakkkk

“Harusnya aku tahu, Nikky, kau selalu membuat ulah dengan membatalkan persepakatan,” sebuah suara berat membuat Jessica menoleh cepat dan menghela nafas lega. Setidaknya ada Thunder dan Kevin di sini. Nikky menyeringai, sementara retak di lengannya sudah tak nampak lagi.

“Well, 3 banding 3. Sudah adil, kan?” sahutnya sambil tersenyum. Namun Jessica masih memandang penuh amarah. Dengan keras ia menendang perut Quimby, membuatnya terdorong ke belakang. Kedua vampir itu menggeram ke arah Jessica, namun Thunder dan Kevin menahannya. Jessica berpaling menatap Nikky sambil tersenyum tipis.

“Baiklah, Nikky, kuharap kau tidak akan terlalu pengecut bila melawanku seorang diri,” ungkap Jessica sambil menyeringai. Nikky membuang ludah.

“Sebaiknya segera kita mulai, Miss Eve,” Nikky dan Jessica sama-sama menyerang, membuat keduanya susah untuk menetukan arah serang. Tapi nyatanya, Nikky meraih pinggangnya dan melempar tubuh Jessica asal. Bersiap mendarat, ia mengeluarkan cakarnya untuk menyentuh tanah. Tapi ia sama sekali tai menyentuh apa-apa, malah sebuah tinju melayang ke arah pelipisnya.

BUGH!

Kali ini ia benar-benar menghantam tanah. Ternyata Nikky membawa koloninya lagi. Entah berapa orang. Tiba-tiba tubuhnya menegang begitu mendengar suara lolongan dari belakangnya. Werewolf? Well, mungkin ia bisa salah, namun hanya mahkluk itu yang memiliki kemungkinan datang ke tempat ini. Jessica berbalik, dan benar saja, Chase sudah menyerang dua vampire itu. Menerkam, menggigit, bergulat dengan seru. Jessica memalingkan tatapannya, beredar mencari Nikky. Kepada vampire itulah dia memiliki urusan.

Sebuah sosok hitam berkelebat bagai angin dian tara pohon-pohon arah jam 2 dari tempat Jessica berdiri. Mendengus kesal, ia berlari juga mengejar sosok yang ia yakini sebagai Nikky. Jessica mengerahkan seluruh kecepatannya, dan akhirnya ia berhasil mencengkeram bahu Nikky dan meninju pipinya. Nikky balas melayangkan tinjunya, namun Jessica meliuk dan memukul punggung Nikky. Geram, Nikky mengeluarkan taringnya, sementara tangannya mencengkeram tubuh Jessica keras.

“Akh!” Jessica merintih begitu dirasakannya Nikky menyeret kasar tubuhnya.

JLEBBB

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKH!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Jessica memekik keras begitu dirasakannya taring Nikky menghujam sangat dalam ke lehernya.

Krak

“HIYAAAAAKKKKKKHHH!!”

Brukkk

Jessica ambruk ke dalam tanah, hampir seluruh tubuhnya berlumuran cairan hitam pekat tanpa bau. Matanya setengah terbuka, mendapati sosok Nikky ikut berbaring dan menggeliat. Setidaknya hanya itu yang terakhir dilihatnya, sebelum semuanya berubah menjadi kobaran api dan ia tak bisa melihat apa-apa lagi.

Chase menendang tubuh vampire yang sudah putus kepalanya itu, dan kembali ke wujud aslinya. Setidaknya ia bisa mengalahkan 2 orang vampire, itu sudah cukup bagus. Nafasnya memburu, seluruh tubuhnya basah kuyup karena keringat, sementara pandangannya mengedar mencari sosok Thunder dan Kevin. Namun hanya satu yang di khawatirkannya keadaan Jessica setelah terdengar lengkingan tadi.

Ia berlari menuju ke sumber suara, namun langkahnya langsung berhenti dalam jarak 20 meter saat melihat 3 sosok berkerudung tinggi yang ada di samping tubuh Jessica dan Nikky yang tergeletak. Ia juga melihat Kevin dan Thunder ada di situ.

“Kau, anjing, bawa gadis ini pergi, kami berenam masih ada urusan,” salah satu dari sosok berkerudung itu berkata pelan. Ia percaya bahwa ini suara Jane. Ia melangkah tanpa suara, mengangkat tubuh Jessica dengan hati-hati, dan memandang ke ketiga sosok itu sejenak. Bagus sekali. Aro, Caius, dan Jane. Ia langsung membuang muka dan berlari menjauh.

Jane melepaskan pandangannya dari Chase dan langsung menatap Thunder tajam. “Sudah keberapa kalinya hal ini terjadi?”

“Oh, Jane sayang, janganlah terbawa emosi, mari kita becakap sedikit dulu setelah lama tak bertemu dengan kawan kita ini,” Aro menampakkan senyumnya. Thunder menatap Aro dari atas sampai ke bawah, lalu kembali menatap mata Aro tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Kami memang gagal menjaganya,” sahutnya dingin. “Yang bisa kami lakukan hanya tetap memastikan kestabilan emosinya,”

“Baiklah, aku tahu betapa repotnya menjaga seorang vampire gila,” Aro melirik Nikky jijik, “Karena itu aku tidak akan terlalu menyalahkan kalian,”

“ARGHGHHH!!” Nikky menggeliat lagi, karena mata merah Jane menatapnya tajam, seakan menyalurkan sesuatu padanya. Dalam sekejap  saja, seluruh tubuhnya langsung terasa sakit.

“Aro, janganlah terlalu bertele-tele, cepat singkirkan bangsat ini,” Caius berceletuk sambil menatap Nikky yang sudah lemas tergeletak. Jane masih fokus dengan pekerjaannya, menyiksa Nikky.

“Baiklah, baiklah, kau sangat tidak sabaran, Caius,” gumam Aro sedikit kesal. Thunder menatap Aro serius.

“Lakukan apa yang harus kau lakukan, Aro,” mulutnya menggumamkan sebaris kalimat itu. Aro menyeringai, lalu ia meraih kepala Nikky yang sudah lemas. Nikky perlahan menatapnya, meminta ampun. Dengan sigap Caius dan Jane memegangi tubuh Nikky.

“A… Aro…”

“Katakan ‘Halo’, Nikky,” sahutnya dengan suara hangat.

PRAKKKKKKKKKK

Brukkk

Caius dan Jane bangkit sambil menepuk-nepukkan tangan mereka, seakan membersihkan kotoran yang menempel. Thunder memejamkan matanya saat Aro mematahkan leher Nikky tanpa belas kasihan. Kini kepala Nikky sudah terpisah dari tubuhnya, sedikit menggelinding dengan tatapan yang kosong.

“Bakar mereka berlima,” sahut Aro kepada Thunder. “Urusan tentang Nikky sudah selesai di sini,”

__

Chase terus menatap wajah Jessica yang pucat. Memang wajah Eve sudah pucat dari sananya, tapi definisi pucat kali ini adalah, tubuhnya benar-benar kurus kering karena efek racun Nikky padanya, kalau mau membayangkan, adalah tubuh manusia yang terkena HIV. Memang, Pearl berhasil mengeluarkan racunnya—lagi—namun tetap saja ia merasa resah, entah kenapa. Tiffany menunggu di depan pintu kamar Jessica, menatap kosong ke arah jendela. Max dan G.O berdiri di sekeliling Jessica, juga sama dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi jelas berbeda dari tatapan Chase pada Jessica.

“Kau tidak pulang, Chase?” tanya Pearl lembut. Namun Chase sama sekali tidak menyahut. Pandangan Tiffany berpindah menatap Chase lekat-lekat. Arah pandangnya, bagaimana tatapannya, gerakan tangannya yang mengelus tangan Jessica…

Brakkk

“Aku keluar dulu,” Tiffany bergumam kesal sendiri. Max dan G.O mengangkat sebelah alis mereka, menatap Tiffany bingung. Dan akhirnya hanya Max yang ikut keluar mengikuti Tiffany.

“Kenapa, Tiff?”

“Kau tak menyadarinya?” tanya Tiffany balik. Max mengangkat kedua alisnya.

“Apa?”

“Chase menyukai Jessica, bodoh!”

To Be Conntinued

 TEASER – SPY 6

“Tidak, bukan apa-apa. Hanya… yah, surat dari keluargaku,” kilah Key tenang. Seth hanya mengangguk tanpa curiga.

“Kata Kevin, kau mendapat buruan lagi. Narapidana yang sekarang masih di LP,” katanya tenang. Jessica mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum.

“Kau tahu, koneksi dengan anak kembar yang ada di Gryffindor itu memang sangat seru,”

“Sedang ekncan diam-diam dengan Patrice Hawtson dan entah kapan selesainya,” jawab Key datar.

“Ron!”

“Ginny! Ada apa?”

“Aku tahu kau rindu padaku, sayang,”

“Hero!”

“Yep, kau benar sekali. Terimakasih Seth,” gumam Key tanpa sepengetahuan Seth. “Oh shit, baunya menjijikkan sekali,”

“Lebih baik kau bertarung dengan Chansung saja,”

“Chase!”

“Madeleine!”

“Kau kembali?”

“Baiklah, Hero. Aku akan kembali sebulan lagi. Ini memang sudah sepuluh tahun semenjak aku pergi dari Korea,”

TEASER – END

JEDERRRRRR!!!!! Nah loh nah loh!!!! *apa sih ren, lu ribut ajee* ADA APA DENGAN JINKI??? *heboh*

Jadi inilah, aku udah siap-siap digebuk Taemints. Dia mati dengan sangat-tidak-mengenakkan di sini. Dibakar pula. Huaa… maap!!! *sujud-sujud* Tapi… tadi kurang sadis yah?? Kalo kurang aku belajar bikin yang lebih sadis deh, tapi mohon bantuannya T^T

Mianhae untuk semua kesalahan ketik, typo, ketidaknyambungan, atau alur kecepetan XP

Jongmal-jongmal gamsahamnida buat yang baca… komen, like, atau kritik tetap dibuka lebar-lebar(??) XDD

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 5

  1. Rennn, aku kelewat dr part berapa ya? jd ga nyambung. Ntar kelar ujian aku mau baca ini, aku suka ff-mu yg ini tp bacanya mesti tenang krn cast-nya banyak bener, suka lupa mulu TT

    1. Entah say… dari part 3 mungkin?? hohoho…
      epep ini kan emang rada kaga nyambung (?) #jeduarrr
      Hoho… bikinnya aja mesti semedi dulu baru jadi #dibommasal
      Ini mah banyak sekalee hoho.. gamsa yaaww XDD

  2. eonni.. kayaknya makin Seru!!!!
    ah nikky jahat.. :p
    Jessica kena racun?? huweee emakku kena racun *NarikAmbulance

    Key nya udh gede ya?? cepet temuin sama Jessica.. *-_-
    Chase itu siapa aslinya?? aku lupa.. hehe

    suka sama Jessica ya?? hayo *noel”

    Eon lanjutinnya kok lama ya?? kekeke.. tapi entah kenapa disini semakin berasa Feelnya.. Daebak eon!!

    1. Ini baru opening tau, belom masuk inti cerita o.o
      Yah.. buat Jessica mah udah biasa, dia kan tahan banting selama hidup sama Hero #jedorrr

      Iyee.. tenang sayang. Secepetnya dia ketemuan, secepetnya konflik nongol. Hohoho XDD

      Lama?? yahh.. biasalah.. *eh?
      Gamsa yaa~~

      1. ishh.. kalau Jessica tahan banting.. knp ga dari dulu ak banting aja(?) *plak*
        asyik ada konflik.. makin seru nihh.. hha eonni sibuk ya?? it’s ok..

  3. KYaaaa… Akhirnya muncul juga ya… Reneepot… Kemarin aku baru nagih lohh… Ehh lgsg dikabulin…ah.. Ahh,,,, kamu paling bisaan deh bikin org seneng.,,,

    Huwahh.,, key di Hogwart.. Eh tunggu,, nih si key umur brp ya? Setahunkah? Tp postur dia kayak anak 11 tahun iya? Kn klo murid hogwart dimulai ketika mrk umur 11 tahun…. Ehm masih add quirrel,, bearti ini tahun pertama Harry dong…hahaha

    Eh tunggu Ren.. Seth clearwater alih profesi itu.. Dr werewolf jadi murid Hogwarts.. Sempet mikir, kok kayaknya add yg janggal.,, eh baru inget klo Seth itu temennya jacob yg adeknya Leah…hahahaha kamu pinter amat manipulasi cast-nya.. Dalam bayanganku mah si Seth itu Colin bersaudara yg jd penggemar fanatik Harry..

    Hmm Harry,ron,Hermione belum muncul ya… Tapi gokil tuh si kembar sarap… Ahh aku suka sama Fred……… Aku bayangin ekspresi Key andai ketemu sikembar beneran,, pengennya ketawa ngakak pasti mukanya jadi Lol…hahahaha

    Ahh.. Taemin ternyata patah hati sama si pirang galak Rosalie…. Saingan sama Emmett dong…hihihi

    sadisnya? Klo nurut aku gx sadis sih, maybe aq udd biasa baca pertarungan vampir yg dibakar2 itu (jadi inget Eclips, penuh adegan bakar2an..) tapi keren loh Reen, itu actionnya dapet feel-nya, terutama pas nikky (krn namanya nikky, aku jd gx ngebayangin Taemin.XD) dimusnakan.. Tapi sedikit rancu sih pas bagian Jessica, aku baca hrs dicermati tiap Jessica beraksi, but,, udd Ok kok……

    Ini belum sampe konflik nyatanya y Reen, aku seneng sih hogwart muncul,,, tapi aku jadi mikir ini nanti ceritanya bakal dibawa kemana? Tapi di next part-ny add ucapan Jess yg menyiratkan dia udd sepuluh th berlalu ninggalin Korea.. Apa artinya udd mau konflik puncak ya?? Berharap semoga ia…hahahaha

    tp .. Tapi,, itu ngapain si Jinki pake jatuh cintrong sama Jess juga… Jangan bilang ntar dia mau saingan sama Key.. Oh Nooo!!! Haru panggil Jacob buat bantuin Jinki nih,,,,,,,, tunggu ada yg kelewat… Itu si Madeleine sama Jjong ke Finlandia mau nyari apa sih?? Belok ke Polandia-Ukraina ajj gihh.. Skalian nonton Euro 2012,, minta tanda tangan Miroslave Klose ya…huahahahaha

    baiklah sekiranya cukup koment saya
    … Mohon abaikan yg tdk penting… Saya nunggu songfict-ny Reennn…. Aku cinta padamu sayang!!!! Kaburrrr #dilempar parang sama Reneepott……..

  4. Reneepott… Sorry ada typo.. Bukan Madeleine sama Jjong tp Joon…hahaha

    Oh iya Ralat… Itu Muggles klo yg darah lumpur.. Bukan Munggles ya Rennn… Aku barusan buka Harpot ke 7-nya.hahaha

    1. Komenmu menakjubkan sekali Viiii~~~~ *peluk cium*
      Iyah, tahun pertama, tapi nanti aku loncat-loncat lagi (??) jadi kehidupan mereka pertahunnya diceritain singkat aja, bisa berabad-abad ga selese-selese nanti kalo satu Spy untuk satu tahun O.o

      Hoho… kenapa bisa nyomot itu Seth Clearwater?? karena aku mandek cast sebenernya #Jedorrr Waduh.. berarti Leah masuk dong hahaha #dukkk

      Iye, gara-gara Rosalie… huahaha… awalnya juga ragu, Apa mending jangan Rosalie, tapi apa daya aku mandek cast(alasan bodoh) jadi ya sudah deh, urusan dia digebukin Emmet itu sudah urusan masing-masing (eh.. cuci tangan ini anak#plakk)

      Oke, aku akan belajar lagi buat adegan sadis.. *lirik tumpukan novel fantasi di rak*

      #sing Mauu dibawaa kemanaaa hubungan kitaa~~~ kutak akan terus jalani.. tanpa ada ikatan pasti
      Mau dibawaa kemanaa hubungan kita~~~~ jika kau terus menunda-nunda.. ku tak akan nyatakan cinta~~~ (malah nyanyi ini anak) #digantung
      Well… cerita ini arahnya kemana rahasia dong (halah, bilang aja plot belom selese XP) Tapi yang pasti, semua ini baru pengetahuan dasarnya aja. Nanti kan bakal rada-rada Sherlock gitu di kemudian hari #jedorrr

      Dasar maniak bola!! *jitak*
      Tapi gomawoh ya sayang.. *kecup basah* XDD

  5. Reene~ku komen lngsung di part ini yach,,,
    hana dul set:
    MWOYAAAA?!BEIBI TETEM MATI?trus itu banana milk msih ada skardus di rumhku buat siapa dong?Sadis bnget,suer inimah kaya bukan jesika,,parah.

    Tdinya sih agak aneh bca ffnya krna pke nama bratnya.Tpi itu catsnya ada yg dri pemain my lovely pilem harry potter jadi buat aku,,hihihi.

    Ini mah kece bnget ffnya reen*hmm jngan kget ya klo aku bgini,aku emang tipe orang yg sok sksd n nyosor aja#uhuk(?)*
    tipo berserakan(?) reen~
    lanjut lanjut hwaiting!

    1. Iyap.. tak apa XDD

      Ahh.. cuma syuting doang kok. Tenang dia lagi makan ayam goreng bareng Onyu CS.. #dihajar
      Kalo pake nama Korea, berasanya gimanaaaa gitu. Tapi nanti kepake kok, kalo mereka semua udah pada balik semua (apanya yang balik??)
      Oke, akan kuperbaiki di next spy~~
      gamsahamnida yaachh.. *kecup* XDDD

    1. Aduh!! *megangin kepala biar ga coopot* #gubraks!
      Hoho say.. aye tak janji say… produksi genre beginian menurutku harus semedi dulu hehe XDD
      Tapi gomawo yaa XDD

  6. uda banyak ketinggalan gara2 ujian. jadi ulang dari awal ceritanya supaya ngerti…

    huaa author, kenapa Taemin harus mati?! diselamatin gitu… next partnya masih ada taeminkah?

    FFnya keren tapi agak aneh kalau dicampur ama harry potter kalau ama twilight aja gappa masih nyambung. dan juga menerutku ga sadis amat kok.. -___-

    mian yaa.. kalau kata2ku aga nyebelin hehehe.. galau niih.
    next part aku tunggu

  7. Aku reader bru
    n maaf aku bru komen
    lagi keasyikan baca
    ffnya keren
    cmpuran harry potter, twilight, and eragon kan?
    Yg k 6 masih teaser aja? Blm ada ya?

  8. ciee senang bacanya si chase aka jinki jatuh cintrong. tp keynya gimana?? sumpah thor aku gk bisa bayangin muka jinki yg unyu unyu gitu jd wolfman dgn sixpacknya. berbulu2 lagi wkwkwkk

    tp so sweet jg loh dan… author kau menistakan taemin!! aq malah gk bisa bayangin wajah baby taem disini hahaha. lanjut!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s