Into Your Eyes – Part 1

 

Title       : Into Your Eyes

Author  : ReeneReenePott

Maincast : Han Sohwa (a.k.a Sohwa.M) , Nikky Lee/ Lee Taemin, Lee Jinki

Supportercast : Jo Caerin, yang lainnya nanti temukan sendiri!

Genre   : Romance, Sad, Life

Length  : Sequel

Rating   : PG-13

Backsound : Long Way – JYJ, Hug – DBSK, Dream Boy – CN Blue

A/N : AKHIRNYAAA FF INI KELUAR!! Yang kemaren udah komen, komen kalian benar-benar membuatku terharu… 😀 aku persembahkan ini… dan aku yakin kalian akan terkejut! Karena Lee Jinki berhasil naik pangkat, dari Supporter cast jadi MAIN CAST! Yeeyyy… jadi apa dia nanti? *celingakcelinguk* lets cekidooot~!

NB : Sohwa ga pernah mau manggil Taemin dengan nama “Taemin”, maunya “Nikky”, sementara kalo author POV nyebutnya dengan sebutan Taemin kayak biasa. Arayo?

Kalau nemu Taemin dobel, untuk yang di Ending For Begining itu dicetak miring ya, kalo biasa berarti Nikky. Ngerti ya?? ^^

Part 1

Author POV

Ne, sajangnim. Akan ku usahakan, karena jadwal pemotretan dan syuting CF nya tidak bisa diubah,” Sohwa berbicara di telepon pada saat makan siang sendiri. Ia mengaduk-aduk Zhoupa Soup-nya, memastikannya mulai menghangat dan tidak telalu panas untuk dimakan.

Ne, gamsahamnida sajangnim,” klik, ia menutup telponnya. Sambil menghembuskan napas, ia melongok ke dalam mangkuk, dan menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya.

Ia tak bisa dibilang sangat nyaman dengan pekerjaannya, namun ia berusaha mencobanya. Memang tidak mudah menjadi seorang manager dari seorang artis yang tak hanya dari rupa dan wajah, bahkan nama, umur dan tanggal lahirpun sama dengan mantan kekasih lama, kan? Ia rasa itu merupakan suatu tantangan. Namun yang ia yakini, Lee Taemin yang menjadi artis ini berbeda dengan Lee Taemin yang dulu merupakan kekasihnya yang sangat dicintai dan mencintainya. Dulu. Tidak sekarang. Tidak setelah penyakit leukimia itu merenggut nyawanya.

Sohwa mengusap hidungnya, merasakan bahwa matanya memanas lagi ketika mengingat masa lalunya. Ia kembali menyendokkan sesuap sup itu ke dalam mulutnya, berusaha untuk melupakan kenangan pahit itu. Ah, bukan melupakan, tidak berlarut dalam kesedihan, tepatnya.

Satu hal yang diherankan Sohwa. Bagaimana bisa ada seorang Lee Taemin lain yang rupa dan fisiknya sama dengan Lee Taemin-nya? Pertanyaan itu terus berkelebat dalam benaknya saat perjumpaan pertamanya dengan Lee Taemin itu dulu.

Flashback

“Ne?” Sohwa menoleh bingung memandang Lee sajangnim. “Enam tahun?”

“Ah, ya. Lee Taemin-ssi, kurasa ia masih kurang yakin, bagaimana kalau kau menceritakan tentang dirimu kepadanya?” ujar Lee sajangnim yang membuat kening Sohwa berkerut.

“Ne, joneun Lee Taemin imnida, tapi itu bukan nama asliku. Nama asliku Nikky Lee, dan nama Taemin itu chinguku yang memberikannya. Aku lahir di California, selama 17 kehidupanku kuhabiskan di sana. Aku asli berdarah Korea, tapi aku tak tahu alasan lebih lanjut kenapa aku bisa ada di sana,” ujarnya. Sohwa membeku di tempat.

Dia bukan Lee Taemin-ku. Dia Lee Taemin yang berbeda. Ah, bukan Lee Taemin. Namanya adalah Nikky Lee. Bukan Taemin. Gumam Sohwa dalam hati.

“Sementara, Lee Taemin-ssi, ini adalah Han Sohwa, dia adalah calon managermu. Ia sudah mengakhiri kontraknya dengan bla… Bla… Bla…”

Sohwa memaksakan seulas senyum sambil menatap ‘jiplakan’ Lee Taemin dihadapannya.

Flashback end

Srakkk

Noona, kau melamun lagi, hah?” sebuah suara membuyarkan lamunan Sohwa. Ia menerjapkan matanya, lalu menoleh dan matanya langsung menangkap sosok yang selalu membuatnya merasa resah itu. Raut wajahnya kaku seketika, pandangannya ia lemparkan ke arah lain. Tentu saja ia merasa kaget. Namja di depannya muncul seperti hantu.

“Bukannya kau ingin makan bersama para coordi-eonni?” sahut Sohwa agak dingin tanpa menghiraukan pertanyaan manusia di depannya.

“Tidak jadi, aku ingin makan bersama noona,” celetuknya sambil menggembungkan pipinya polos. Sohwa mendesah pelan. Bisa mati aku lama-lama bila sikapnya terus seperti ini, batin Sohwa. Ya, manusia atau namja yang tengah duduk di hadapannya dengan semangkuk ramyun itu tak lain tak bukan adalah Lee Taemin, entertainer yang baru debut sebagai seorang penyanyi 2 bulan lalu.

“Jangan terus-terusan memanggilku noona, aku hanya beberapa bulan lebih tua daripadamu,” ungkap Sohwa lagi. Taemin menatapnya polos.

“Tetap saja noona lebih tua daripadaku,” gumamnya. “Lagipula aku suka memanggilmu noona,” katanya lagi sambil tersenyum.

“Kau benar-benar manja,” celetuk Sohwa agak kesal. Maksudnya sedikit menyinggung, namun tanggapan Taemin tenyata lain.

“Biar saja, lagipula aku juga masih kecil,” sahutnya sambil mengembangkan cengiran khasnya yang mampu membuat para fans wanita histeris. Namun tidak dengan Sohwa. Ia memandang Taemin datar.

“Cepat habiskan makananmu,sehabis ini kau harus latihan dance,” sergah Sohwa dambil menghabiskan sup yang ada di hadapannya. Taemin menyeringai senang.

“Wah, noona tenyata memperhatikanku ya,” godanya manja. Sohwa memutarkan kedua bola matanya kesal.

“Kalau kau sakit, aku yang repot,” sahut Sohwa ketus. Taemin semakin menyunggingkan senyum lebarnya.

Noona bahkan menghawatirkanku,”

“Cepat habiskan makananmu dan segera latihan!” seru Sohwa tajam.

Sohwa POV

Aku menatap punggung Nikky yang menjauh dari pandanganku. Kenapa hanya aku yang memanggilnya Nikky sementara seluruh dunia memanggilnya Lee Taemin? Maaf, tapi bagiku nama Lee Taemin hanya untuk satu orang. Dan kupikir kalian tahu siapa Lee Taemin yang kumaksudkan itu.

Aku mendesah pelan. Sup yang kumakan sudah habis sedari tadi, namun aku sama sekali tak ingin beranjak dari tempat ini. Aku ingin merenungi lagi sikapku padanya. Selama ini aku selalu berbicara dengan ketus, bahkan terkesan dingin padanya. Benar, kan? Tapi anehnya, ia menanggapinya dengan… Ah, aku bingung mau menjelaskannya. Kepalaku serasa kembali di pukul-pukul dengan palu kecil tiap mengingat itu.

Ponsel di dalam saku jasku berbunyi menandakan pesan masuk. Kuambil dan kubuka kunci teleponnya, seulas senyum tipis terkulum di bibirku begitu membaca nama pengirimnya.

From : Jinki-oppa

Sudah makan?

Aku mendengus pelan lalu tertawa kecil. Mungkin aku nampak seperti orang kasmaran, tapi, aku hanya menganggapnya sebagai oppa. Tidak lebih. Kuketikkan sebuah balasan untuknya.

To : Jinki-oppa

Baru saja selesai. Kau?

Aku menekan tombol ‘Send’ dan melemparkan pandangan ke luar. Dan melamun. Aku kembali ke alam sadar begitu ponsel yang kupegang kembali berdering.

From : Jinki-oppa

Ne, aku juga. Kau langsung bekerja?

 To: Jinki-oppa

Nde, annyeong oppa.

From : Jinki-oppa

Annyeong.

Aku menghembuskan nafas setelah membaca balasan darinya. Kupikir aku tidak perlu membalasnya lagi, toh ia juga sudah mengucapkan salam perpisahan. Yang seharusnya kulakukan sekarang adalah kembali ke ruanganku lalu memastikan Nikky melakukan semua tugasnya dengan benar. Ah, ya, kegiatanku tak akan pernah lepas darinya. Enam tahun kontrak dan mungkin di perpanjang lagi.

Aku membereskan tas tanganku yang berisi dengan sangat sedikit barang, meneguk air putih yang masih tersisa dan melangkah pergi menuju ke pintu lift yang ada di pojok ruangan besar ini. Setelah masuk ke dalam lift, aku menekan tombol lantai 5 dengan tenang.

Setelah aku sudah sampai di depan ruang kerjaku dan masuk ke dalamnya, aku sedikit terkejut mendapati asisten Lee sajangnim berada di ruanganku “Eh? Nayoung-ssi?” tanyaku kaget. Ia menoleh dan tersenyum menatapku.

“Ah, Sohwa-ssi, akhirnya kau datang juga. Saya telah menunggu anda untuk jadwal terbaru Taemin,” ujarnya yang membuatku terkejut. Mwoya?

Nde? Jadwalnya sudah padat akhir-akhir ini,” kataku bingung. Ia tersenyum.

Ne, tapi ia telah menerima kontrak untuk membintangi salah satu iklan CF kosmetika. Taemin sendiri yang menyetujuinya,” aku membulatkan mataku. Anak itu! Melakukan tindakan tanpa menunggu keputusan dariku heu? Dia menghargaiku sebagai manager-nya tidak sih? “karena itu, ini jadwal syuting CF itu. Semoga kau bisa mengaturnya dengan baik, Sohwa-ssi, annyeong,” ia menyerahkan sebuah amplop tipis yang tertutup rapi, dan aku menerimanya. Langsung ia berbalik pergi.

Aku menatap punggung Nayoung yang menjauh perlahan. “Ne, annyeong,” Nikky, kau benar-benar cari mati denganku ya? Aku menyobek ujung amplop itu. Setelah kertas yang ada di dalamnya keluar, aku membaca secara teliti jadwalnya itu. Makin kebawah aku semakin membulatkan mataku. Astaga! Mereka pikir Nikky robot ya? Aku mendesah. Memang jadwal ini tak segila itu, tapi ini membuatnya selalu pulang subuh setiap hari.

Jangan berpikir kalau aku mengkhawatirkan kondisinya, karena kalau ia sakit aku yang repot mengatur dan membatalkan jadwalnya lagi! Tidak hanya mengatur kalau kalian berpikir segampang itu, namun aku juga menjabat sebagai sopir otomatisnya. Dan karena aku seorang yeoja, aku ikut terjun langsung kalau ia sedang ada show besar. Alias sebagai half-coordi. Hebat kan?

Cklek…

Noona, kau sudah dapat jadwal baruku?” aku menoleh mendengar suara itu. Anak ini… sungguh tak sopan. Aku memandangnya datar dan mengacungkan kertas yang ada di tanganku.

“Tapi kau jangan pernah mengeluh bila kau harus pulang subuh setiap hari, karena tawaran ini kau sendiri yang menerimanya,” balasku pelan. Ia tersenyum menenangkan.

“Aku ini namja, noona. Tenang saja,”

“Lain kali kau tak boleh seperti ini, arra?!” ujarku lagi. Ia menundukkan kepalanya dan mengangguk.

Gomawo noona,” ujarnya dan tersenyum lagi padaku. Anak ini… matanya benar-benar membuat hatiku sakit. Kenapa sih harus ada seseorang yang mirip dengan Taemin?

Author POV

Taemin terus memerhatikan gerak-gerik managernya itu. Mumpung ia sedang mendapat istirahat, lebih baik ia mengunjungi kantor managernya. Kenapa? Ia sendiri tak tahu. Ia hanya bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan di ruangan ini. Apa karena mp3 yang terus mengalun di ruangan itu 24 jam nonstop? Entahlah.

Noona, aku kembali ya?” ujar Taemin tiba-tiba begitu ia mengecek jam tangannya. Sohwa yang sedari tadi berkutat dengan komputernya hanya mengengkat wajah sedetik sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Bukankah memang sudah seharusnya kau kembali?” jawabnya terdengar seperti gumaman. Taemin tersenyum sekilas, meraih gagang pintu dan melangkah keluar. Sohwa yang sudah menyadari bahwa Taemin tak lagi ada di sana hanya bisa menghembuskan napas berat. Setelah beberapa detik, berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Taemin dan mengawasinya. Itulah yang dilakukan oleh seorang manager, bukan?

Sohwa terus melangkah mengikuti Taemin dalam diam, dan sayangnya Taemin tidak mengetahuinya. Dengan tenang ia berhenti tepat di depan pintu setelah Taemin masuk ke dalam dan membereskan tasnya. “Omo, noona?” tanya Taemin kaget saat mendapati Sohwa sudah ada di depan pintu ruang latihannya.

Kkaja, kau ada pemotretan, kan,” sahut Sohwa tenang sambil menatap Taemin dan langsung berlalu pergi. Taemin mematung sejenak, lalu memegangi dadanya. Selalu seperti ini setiap Sohwa menatapnya. Jantungnya berdegup keras, pipinya mulai memanas. Ia senyum-senyum sendiri ketika pikirannya berkata kalau ia mulai menyukai manager-nya itu.

“Yah, kurasa aku memang naksir padanya,” gumam Taemin lalu mendesah keras dan lekas mengikuti Sohwa menuju ke tempat parkir.

__

Noona, kau hanya mematung di situ saja? Tidak mau makan dulu?” tanya Taemin polos sambil menyenggol lengan Sohwa yang tertidur. Sohwa membuka matanya perlahan, dan menoleh menatap Taemin.

“Kau ini makan terus. Nanti bila fansmu protes kenapa kau menjadi balon baru tahu rasa,” sahut Sohwa sedikit kesal. Ia sudah berusaha untuk tidur di ruangan itu, tapi ternyata suara bising di ruangan itu bisa menandingi diskotik jadi ia hanya bisa memejamkan matanya saja.

Noona, badan noona juga masih kurus, ayo makan, noona kan sudah duduk berdiam di situ selama 2 jam ini, apa noona tidak lapar?” kata Taemin lagi. Beberapa coordi hanya menatap Sohwa iri. Well, perhatian macam apa itu?

“Kalau kau mau makan, makanlah sana, aku masih ingin di sini,”

“Baiklah,” Taemin akhirnya menurut. Tapi jelas ia merasa sedikit khawatir. Apa yang akan terjadi pada manager-nya nanti? Apa? Apa yang barusan hinggap dalam pikirannya?

Taemin tersenyum lagi. Ya, kali ini, mungkin ia tidak akan salah. Manager-nya adalah gadis yang menarik.

__

Oh, I’m courious yeah~

Oh I’m courious yeah~

Taemin menoleh ketika sebuah ringtone berbunyi. Ia menatap manager-nya tanpa berkedip yang sedang mengangkat telepon. Dan Taemin semakin memperhatikannya , karena apa? Manager-nya tersenyum daalam telepon. Terbesit rasa penasaran dalam dirinya, siapakah yang menelpon, hingga membuat manager-nya tersenyum amat manis seperti itu? Ia rasa, sekeras apapun ia mencoba, manager-nya tetap saja berekspresi datar padanya.

Ne, oppa?” Sohwa berbicara dalam teleponnya. Taemin merenyit, ‘oppa’?

“…”

“Ah, sudah kok. Oppa sendiri? Apa oppa sudah makan?” tanya Sohwa riang. Kerutan di kening Taemin semakin dalam. Well, manager-nya bisa bersikap semanis itu pada orang lain, tapi kenapa tidak pada dirinya?

“…”

Oppa, cepat makan, kau bekerja terlalu keras. Ingat kalau tubuhmu itu bukan mesin. Oppa sudah dewasa, kan? Jadi harusnya oppa bisa mengatur diri sendiri,” nasehat Sohwa panjang lebar, hampir terkesan cerewet. Kali ini raut wajah Taemin berubah menjadi sedikit iri.

“…”

“Malam ini? Mianhae, aku tidak bisa. Aku masih ada acara. Mianhae oppa,”

“…”

Ne, geurom. Mungkin lain waktu bisa. Annyeong,” klik, Sohwa mematikan teleponnya, lalu menegakkan kepalanya. Sekejap ia bingung memandangi Taemin yang menatapnya tanpa berkedip sedari tadi. “Wae?”

Tuh kan, Taemin merutuk dalam hati. Sikapnya langsung berubah sekian derajat saat berbicara padaku. Dia tidak suka denganku, kah? Pikirnya bingung. “Aniyo, tadi siapa yang menelpon?” tanyanya.

“Bukan urusanmu,” balas Sohwa singkat dan bangkit berdiri sambil merapikan agendanya. Tanpa sengaja, Taemin menangkap sesuatu yang tejatuh, yang berasal dari selipan di agenda Sohwa. Ia menatap punggung Sohwa yang menjauh, lalu membungkuk dan meraih benda yang berupa kertas itu.

Atau yang ternyata foto itu. Darah Taemin berdesir. Apa ini?

__

Jinki oppa? Eodiga?” Sohwa bertanya pada telepon melalui earphone yang dikenakannya. Pandangan dan kedua tangannya fokus menyetir, sementara telinganya fokus menunggu kelanjutan kata-kata dari seberang.

“Temui aku di taman, Sohwa-ya,”

“Tapi di taman yang mana? Ada banyak taman di Seoul, apalagi di seluruh Korea Selatan” balas Sohwa tenang, tanpa ekspresi.

“Taman sebelum Han River. Temui aku di sana,”

“Baiklah,” Sohwa langsung mencopot earphone-nya saat telepon ditutup. “Ada apa sih dengan Jinki oppa? Heran sekali ia begitu ingin bertemu denganku. Apa sih yang akan dibicarakannya?”

Tak lama, mobil sedan yang Sohwa kendarai sudah berhenti tepat di depan sebuah taman di perempatan sebelum Han River. Setelah memastikan ia parkir di tempat yang aman dan tepat, ia mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobilnya.

Ia melangkah meneelusuri jalan setapak yang ada, dengan pandangan mengedar mencari sosok yang diharapkannya. Sampai akhirnya ia sampai dipenghujung jalan itu, dan terpaku dengan apa yang dilihatnya.

“Jinki… oppa?” gumamnya pelan. Namja yang memunggunginya berbalik, lalu menatapnya dengan senyuman lebar.

“Kau datang juga, Sohwa-ya,” katanya lembut. Sohwa tersenyum simpul, lalu melangkah mendekat.

“Ada apa? Apa yang ingin oppa bicarakan?” tanyanya langsung. Jinki tak langsung menjawabnya, ia hanya mengajak Sohwa untuk duduk di sebuah kursi panjang dengannya.

“Hm… ini… sudah hampir enam tahun…” desahnya memandang ke sekeliling, tak memandang Sohwa. Sohwa hanya diam, terus menyimak dan menebak-nebak kemana Jinki akan membawa percakapan ini.

“Kau masih memikirkannya?” tanya Jinki tiba-tiba menoleh padanya, membuat kening Sohwa berkerut bingung.

“Apa?”

Namdongsaeng-ku,” balas Jinki tenang. Sohwa tersentak, ia hampir tersedak air liurnya sendiri.

“Aku…” Sohwa berpikir sejenak, “Aku bingung. Dia… yang selama ini membuatku bertahan,”

“Apa kau keberatan bila ada yang ingin mengganti posisinya?” tanya Jinki pelan. Sohwa menatap Jinki heran, namun tak menjawab pertanyaannya.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?” kata Sohwa pada akhirnya, merasa kesal dipermainkan dengan kata-kata. Jinki menghela napas pelan, mengubah posisinya, menjadi berlutut di hadapan Sohwa sambil menggenggam tangannya. Sohwa menahan napas, berharap apa yang ada di dalam fantasinya tidak menjadi kenyataan.

Would you be mine?”

TBC

Gimana? Gimana? Bersedia nunggu?? Bersediakah?? T^T

Gomawoo untuk yang udah baca, apalagi komen *toel* komen, kritik dan saran, ditungguu~ XDD

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

13 thoughts on “Into Your Eyes – Part 1”

  1. Ren, ada beberapa typo. yg kuingat meneelusuri, di peluk-peluk. Nah, dipeluk-peluk harusnya kan?

    Aku penasaran, knp bs ada 2 org yg mirip bgd. Apa mungkin orang yg sama?
    Ayo Ren dilanjut ya ^^

  2. Aaa.. Jinki nembak sohwa.. Aigoo.. Aigoo..
    Trus apa yg dilihat nikky?? Apa foto taemin-nya sohwa..?
    Lanjut.. Lanjut..

  3. kembaran taemin kh?
    kok bisa mirip begitu?

    berharap sohwa ama nikky…
    tapi,tapi,
    ingin sohwa ama jinki juga~
    *nahlo, kenapa saya yg galau…

    ditunggu kelanjutannya!
    its cool!

  4. Ciee~nada dringnya udh ke jaman skrang.*nunjuk2 sherlock/digiles*

    loh loh,,itu kmbarannya bang pisang?0.o..
    Jiahh,,onew nembak sohwa,cuiit cuiit..*ditabok*Tpi entar bang pisang gimana dong?*eunri dilema*

    Eh jdi ini sekuel dri ff ‘ending for begening’ ya?kyaa~reene baik bnget mw nerusin..
    Lanjut lanjut,,penasaran aku.

  5. Aku galau baca ff ini
    hadeh aku tersentuh dengan jinki oppa tapi aku juga suka dengan perasaan Taemin

    hadeh galau dah

    waktu bagian sohwa pov aku ngerasa aku gak bisa masuk ke cerita y
    beda waktu author pov aku lansung bisa ngeh

    gak sabar baca lanjutannya
    lanjut trus

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s