Namja – Part 2

Title : Namja

Author : Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast : Kim Kibum, Kim Jonghyun, Kim In Young

Support Cast : Park Hana, Park Ha in, Kim Heera

Length : Sequel

Genre : Friendship, Romance, Family

Rating : PG – 13

***

Summary:

 “Eomma…semakin kau memelukku, kau makin menyesatkanku.”

 

Namja – Part 2 : Strange

Lantainya terbuat dari parquet, dindingnya putih bersih tanpa diberi ornamen sedikit pun. Sorot lampunya tidak terlampau terang, juga tidak terkesan gelap. Sebuah rak kabinet hitam yang dilengkapi perlengkapan home theatre terdapat di salah satu sisi ruangan. Tidak jauh di depan kabinet tadi terdapat dua buah sofa empuk berwarna coklat gelap berbentuk L yang seolah kontras dengan warna cat dinding ruangan. Di tempat inilah Key biasa berbagi rasa dengan eommanya, menceritakan banyak hal dari mulai hal sepele hingga masalah yang terberat. Di sinilah kenangan terukir, sebuah ruang keluarga yang nyaman untuk berkumpul di mana kesan hangatnya terpancar kuat—menelusup masuk ke dalam hati orang yang singgah.

Tapi rupanya rasa hangat tengah beristirahat sejenak, membuat empat orang sahabat itu mengatupkan bibirnya rapat sembari menatap kosong layar televisi flat. Film fantasy seru dengan sound effect menggelegar yang tengah dimainkan pun bagai tontonan tanpa makna, hanya dibiarkan berlalu begitu saja dan menyedot energi listrik dengan sia-sia. Hanya duduk di sofa sembari diam seribu bahasa, mereka tak ramai seperti biasanya.

“Ehm, Ladies. Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Sejak kapan aku berteman dengan orang bisu?” Merasakan hal yang janggal pada akhirnya membuat Key memecah keheningan, nada bicaranya yang ceria masih belum mampu memancing reaksi sahabatnya.

“Tidak ada apa-apa, mood-ku hanya sedang buruk,” Ha In menjawab ragu, jemari tangan  kanannya memainkan kuku jemari kiri. Pandangannya pura-pura ia alihkan ke televisi.

“Oke, sekarang ceritakan apa yang membuat mood-mu kacau,” pinta Key sambil menyilangkan tangan di dada, kepalanya ia miringkan ke kanan. Alisnya bergerak ke atas-bawah  seperti orang yang sedang merayu temannya untuk mengabulkan sebuah permintaan, tidak lupa senyuman manis ia ulaskan.

“Key, aku sedang dilema!” Ha In menjerit, tangannya refleks memeluk Key yang ada di sebelah kirinya.

“Ha In-ah, bisakah kau tidak memeluk Key?” Dengan spontan Heera protes kecil, sepertinya nasehat Jinki mulai merasuk ke dalam pikirannya.

“Mwo?” Ha In mendelik, “Kau seperti tidak sering memeluk Key saja.” Ia heran karena mereka bertiga memang sudah terbiasa memeluk Key, mengapa baru kali ini Heera protes?

“Heera-ya…?” Hana mengernyitkan alisnya, ia yang sedari tadi bungkam karena malas melihat Heera, akhirnya angkat bicara—melupakan sejenak rasa kesalnya setelah percakapan teleponnya dengan Heera dua malam yang lalu. Hana mulai merasa bahwa tingkah Heera sangat aneh.

“Key, maaf aku mengatakan ini. Tapi, apa kau tidak risih dipeluk maupun memeluk yeoja dengan mudahnya?” Heera mencoba mengutarakan isi pikirannya, tidak memedulikan  Hana yang tengah melotot seram ke arahnya.

“Heera-ya!” Hana berseru galak, ia tidak menyangka Heera akan tega mengatakan hal seperti itu.

“Kau tidak selayaknya marah padaku, aku melakukan ini karena sayang pada Key,” Heera tidak mau kalah. Ia balik menatap Hana tajam, tapi sesaat kemudian beralih ke arah Key dengan sorot mata sendu.

“Hei…semuanya, tenang, tenang…ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu?” Ha In tampak bingung melihat kedua sahabatnya yang saling melempar tatapan mengerikan.

Key masih membisu, mulutnya masih terbuka tanggung sejak Heera melarang Ha In untuk memeluknya. Jari kelingking kirinya menggaruk pelan bibirnya, sedangkan jempol kirinya ia tempelkan di pipi. Tangan kanannya ia pakai untuk menumpukan badan pada lututnya yang ia naikkan ke sofa.

Dipeluk maupun memeluk yeoja dengan mudah.

Key tahu apa maksud kalimat Heera tersebut. Ada sedikit perasaan terkejut mendengarnya. Seperti terkena setruman singkat yang cukup membuatnya kaget. Selama ini dia bukan bermaksud sembarangan memeluk maupun mengizinkan dirinya untuk dipeluk, ia hanya ingin memberikan kedamaian bagi sahabatnya.

Bagi Key, sebuah pelukan adalah simbol kedekatan; simbol keterikatan hati, simbol penyampaian kasih sayang. Karena seperti itulah cara eomma-nya menunjukkan kasihnya. Ia tidak pernah berpikir bahwa memeluk ataupun dipeluk yeoja adalah sebuah tindakan tidak sopan.

“Ne, aku mengerti. Heera-ya, kau mungkin berpikir aku adalah namja murahan, mudah dipeluk dan memeluk yeoja. Ya, kau tidak salah—sebagian orang pun akan menilai seperti itu. Gomawo karena telah mengingatkan aku.” Key mencoba berpikir positif pada akhirnya, bahwa Heera hanya ingin membuatnya lebih baik. Hatinya mulai bisa menerima, ia mencoba tersenyum.

“Nggg, Key, bukan…,” kehilangan kata, Heera ingin menjelaskan maksud sebenarnya. Ia paling tidak ingin disalahpahami. Karena yang sesungguhnya ingin Heera bilang adalah ‘Key, kau ini namja! Jangan main peluk seenaknya pada yeoja’, tapi Heera tidak cukup tega untuk mengatakannya secara gamblang.

Sayang, kalimatnya terpotong sebelum Heera menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan pada Key, “Ha In-ah, apa yang membuatmu dilema tadi?” Hana mengalihkan topik, sangat berharap Heera tak melanjutkan pembicaraan yang dapat menyakiti Key ini.

Tidak beda dengan mahasiswa yang menatap kosong papan tulis—meratapi nasibnya yang tidak bisa memahami penjelasan sang dosen, mau tak mau terhanyut ke dalam kubangan pikirannya. Ha In yang masih bingung mencerna maksud ucapan Heera, mendadak terseret ke dunia nyatanya. Ia menggeleng kuat mengusir apa yang ada di pikirannya, “Hah? Kau bertanya apa barusan?” Ha In merespon Hana.

“Hmmm…kalian kan belum makan sejak siang, ingin kubuatkan apa? Key, kau punya apa di kulkas?” Heera merasa jengah karena ucapannya disela,  tapi akhirnya ia tidak melanjutkan karena hati kecilnya masih tidak tega melihat wajah Key yang bahkan tersenyum padanya kini. Senyuman yang cantik—membuat hati yeoja itu makin pilu.

“Ha In-ya, ayolah berbagi cerita pada kami.” Muak mendengar suara Heera, Hana tidak mau kalah. Sejujurnya ia bersyukur karena Heera tidak melanjutkan, tapi ia sudah terlanjur dibuat kesal. Sifat tidak ingin kalahnya kembali mencuat.

“Nggg…nanti saja, aku sedang malas bercerita.” Ha In makin linglung, tidak yakin kalau ini adalah suasana yang tepat untuk berkeluh kesah.

“Key, jawab aku. Kau punya bahan makanan apa di kulkas? Atau sebaiknya aku tidak jadi masak saja?” Tidak ada respon dari Key membuat Heera bertanya sekali lagi.

Key terbuyar dari lamumannya, ia merasa terjebak dalam suasana yang membingungkan. Ditepuk pipinya sendiri dua kali dengan pelan, hanya ingin membuat pikirannya tidak berkeliaran lagi. Ia lalu menjawab, “Ah, ya, aku lupa punya bahan apa. Bagaimana kalau kita ke dapur saja?” Ia mengambil jalan yang bijak, mungkin berpindah ruangan dapat mengubah suasana yang terasa aneh baginya ini.

Perpindahan ruang berarti nuansa yang berbeda, itu pengalaman yang dirasakannya. Jika rasa jenuh menggelayutinya ketika ia berkutat dengan buku perkuliahan, ia akan keluar kamar sejenak untuk mencari nuansa berbeda. Melihat pemandangan yang sama dalam waktu lama akan membuat manusia merasa jenuh.

“Ayo semuanya! Kita memasak bersama chef handal Key!” Mencoba untuk menghidupkan suasana, ia berseru riang—berharap suasana ‘dingin dalam panas’ yang menyeruak bisa tergantikan dengan keceriaan.

“Ne!! Ayo kita masak!” Ha In merespon positif. Walaupun sebenarnya ia paling tidak bisa berurusan dengan dapur karena dijamin masakan apa pun yang dihasilkannya akan membuat wajah yang mencicipi jadi pucat pasi. Tapi demi membuat suasananya menjadi hidup, ia merelakan tangannya menyentuh peralatan dapur lagi, “Aku sudah merindukan masakanmu Key!” lanjutnya lagi.

“Ya~ siapa yang mengajak Key masak? Biar aku yang masak. Kalian cukup duduk manis menikmati film-nya. Sekali-kali aku ingin memamerkan karyaku sendiri,” Heera kembali bersuara, caranya kini lebih halus namun intinya adalah melarang Key memasak.

“Isssh,” Hana mendesis pelan, ia bangkit dan memilih pergi mendekatkan diri pada box mini berisi koleksi DVD  yang terletak di kabinet. Hana tahu mengapa Heera tidak ingin Key memasak, ia ingin mencoba sedikit ‘tuli’.

“Okeee…kau yang masak. Karena kau sendiri yang bilang ingin memamerkan kemampuan memasakmu. Kalau rasanya tidak enak, aku tidak segan meledekmu ya!” Key mengizinkan pada akhirnya, walaupun sebenarnya ia sudah rindu memasak.

Key segera mendorong pelan Ha In agar kembali duduk di sofanya, juga menarik Hana yang masih menatap kosong kumpulan DVD. Kemudian Key duduk di antara keduanya. Tidak lama, ia menepuk-nepuk pelan perut kedua yeoja itu, “Sabar ya cacing-cacing perut di dalam, sebentar lagi hidangan lezat akan menghampiri kalian.” Ia membubuhi senyuman girang di akhir kalimatnya.

Sementara Hana dan Ha In saling memandang, lalu keduanya mengangguk seolah menyepakati sesuatu.

“Key, kau manis sekali…aku senang punya sahabat sepertimu.” Ha In berhambur memeluk Key. Disusul dengan Hana yang melakukan hal serupa, “Kau sahabat terbaik yang pernah ada,” kali ini Hana yang berujar.

***

“Jjong, aku akan memaafkanmu, tapi jangan pernah kau beradu mulut di tengah umum seperti itu lagi. Aku tahu, setiap orang punya opini, punya luapan perasaan. Tapi ada kalanya kau harus mengalah. Simpan opinimu dalam hati, atau utarakan langsung pada orangnya tapi jangan di depan public.” In Young menatap Jonghyun dingin, ia sengaja melakukannya agar namja itu menyadari tindakan bodohnya.

Jonghyun mengangguk sekali, ia meraih tangan yeojanya dan mengelusnya lembut dan lambat, “Nggg…aku…,” mulutnya berucap ragu, ia bahkan tak berani memandang In Young.

“Aku teman sekelas Key. Sebagai yeoja aku memang tidak mau punya namja seperti dia. Tapi kurasa untuk dijadikan teman, dia adalah orang yang menyenangkan,” yeoja itu melanjutkan, ia balas mengelus tangan Jonghyun untuk menunjukkan kasih sayangnya. Bagaimanapun Yeoja itu tahu bahwa Jonghyun mendambakan kelembutan di balik sikap kerasnya.

Hening, Jonghyun makin tertunduk.

Suasana kelas yang sepi makin terasa di hati keduanya. Sebenarnya mereka bisa berbincang dengan leluasa karena anak-anak yang lain belum terlihat duduk di ruangan, biasanya masih bertebaran di bangku-bangku outdoor yang terdapat di berbagai titik di sekitar fakultas. Tapi keduanya justru saling membisu untuk beberapa saat.

“Ne, aku tahu sikapku kekanakan sekali waktu itu. Mungkin aku yang terlalu gengsi. Aku tidak suka dipojokkan dan direndahkan, kau tahu itu kan?” Jonghyun memberanikan diri untuk bicara, wajahnya masih tidak ia tegakkan—hatinya mengutuki sifat kekanakannya sekaligus sedih mengingat bagaimana ia diperlakukan keluarganya. Hal yang menyebabkan ia sangat benci direndahkan sedikit saja.

“Ah, mian Jjong…aku membuatmu ingat lagi. Hmm, Jjong…tidak usah terlalu dipikirkan masalahmu di rumah,” In Young menghentikan sejenak kalimatnya, berpikir beberapa detik untuk melanjutkan, “Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau ingin konsisten pada jalan yang kau pilih? Berarti kau harus membentengi hatimu agar kuat. Stabilkan emosimu Jjong, mungkin masalahmu itu baru permulaan.”

Kali ini ia menggenggam kuat jemari Jonghyun, bermaksud menghantarkan sedikit semangat untuk namjanya.

“Ne, harusnya aku kuat, tapi aku belum bisa. Hhh, terima kasih karena kau memahamiku. Sekarang aku pergi ke kelasku dulu, aku tidak ingin kena marah dosen lagi karena keterlambataku untuk yang kesekian kalinya. Kelasmu mulai jam berapa memangnya? Kenapa masih sepi?” Wajah Jonghyun perlahan menunjukkan keceriaannya, senyum hangatnya kembali terpancar kuat.

Tanpa sadar In Young ikut tersenyum, “Haha, sama seperti kelasmu mulainya, jam sembilan. Tapi dosenku yang satu ini selalu terlambat, parahnya beliau jarang masuk dan sering memberitahu mendadak. Biasanya mahasiswa dibiarkan menunggu kabar tidak pasti,” ucapannya terhenti sejenak karena Jonghyun terkikik kecil.

“Huh, mentang-mentang orang sibuk jadi tidak sempat memberi tahu sebelumnya,” In Young mendengus kesal, ia sudah bosan menerima pasrah setiap kali waktunya habis untuk menunggu karena alasan seperti ini. “Ya! Kenapa tertawa seperti itu, Jjong?”

“Ckck, kalau begitu aku ingin jadi dosen saja. Kalau ada kesibukan manggung, aku kasih saja tugas pada mahasiswa,” Jonghyun menjawab polos, ia terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh pikiran yang sangat sederhana dan konyol dari seorang Kim Jonghyun yang dielukan banyak yeoja.

“Hah, mana ada dosen yang berprofesi sampingan sebagai musisi, kecuali kalau kau dosen di Jurusan Seni Musik. Lagipula, memangnya kau tertarik jadi dosen?” kepalan tangan In Young meninju pelan dada namjanya. Terkadang Jonghyun terlihat bodoh jika sedang bercanda, pikirannya terkesan terlalu sederhana.

“Shireo! Aku tidak tertarik, aku tidak mau hukum karma menimpaku. Huh, bagaimana mungkin aku mau jadi dosen, memperhatikan ucapan dosen saja jarang kulakukan. Aku muak dengan teorema dan segala jenis pembuktiannya. Ah, andai aku bisa memilih….”

“Eittsss….mulai melankolis lagi. Sudah sana, jangan terlambat lagi!” In Young menggoyangkan telunjuknya, menandakan isyarat larangan.

Melirik jam di pergelangan tangannya sekilas, kemudian ia terbelalak panik, “Andwaeee….sudah lewat delapan menittt!” pekiknya sambil bangkit dari duduk. “Bye Jagiya, See you!”

***

Senyumnya polos, membuat hati yeoja yang melihatnya merekah. Ia tidak bisa dikatakan tampan, setidaknya kesan itu yang akan tertangkap jika kau melihatnya sedang terdiam.Tapi ketika tawanya terlukis, atau sekedar senyum kecilnya yang tampak—kau dan para yeoja lainnya pasti akan ikut tersenyum atau bahkan berteriak histeris dalam hati.

Senyumnya melambangkan kebebasan, terkesan tidak ada keterpaksaan di dalamnya. Tawanya begitu lepas, membuat yang melihatnya ikut terhibur seolah ikut tertawa meski hanya di dalam hati. Ketika ia tersenyum atau tertawa, dua buah gundukan menggemaskan muncul di pipinya hingga orang sering memanggilnya ‘Pipi Bakpao’.

Wajahnya putih, tapi sudah tak lagi semulus remaja. Terdapat beberapa lubang kecil-kecil di sekitar pipi kirinya jika ditelisik secara seksama. Ia memang bukan pria sempurna secara fisik. Tingginya yang hanya berkisar pada angka 170 lebih, terbilang cukup pendek jika dibandingkan dengan tinggi badan artis-artis korea yang banyak digandrungi yeoja.

“Ya! Ha In-ah, sedang apa kau?” Orang itu membuyarkan lamunannya.

Ha In menggeleng kuat, sesaat kemudian ia berusaha bersikap tenang. Gugup hanya akan membuat namja di hadapannya ini sadar kalau dirinya adalah seorang pengagum sejati, bukan sekedar jatuh hati selintas pada sang namja.

“Ah mian aku melamun lagi,” ia mengambil jawaban paling aman, jelas saja Ha In tidak akan mengaku bahwa sang  lawan bicara lah yang sedang memenuhi otaknya.

Memandangi namja yang sedang menonton film romantic comedy dan sesekali tertawa itu membuat pikirannya seketika diseret ke dalam dunia yang berisikan senyum namja itu : senyum ketika membalas sapaan orang, senyum ketika melihat kejadian lucu, senyum mengejek, senyum ketika menghadapi situasi genting sekalipun.

“Huss, terlalu banyak melamun akan membuatmu bodoh. Otak harus selalu dipacu untuk berpikir, tidak mesti berpikir berat. Mengenang yang indah saja pun tak apa.”

“Ne Oppa, aku sudah bosan mendengar ceramahmu. Kau sudah pernah bilang padaku.” Ha In pura-pura cemberut, membuat namja tadi tertawa kecil.

“Oh iya Oppa, bagaimana keadaan istri dan anakmu?” tanya Ha In cepat, ia tidak ingin melihat tawa namja itu lebih lama lagi kalau tak ingin wajahnya menjelma menjadi tomat merah saking bahagianya melihat pemandangan indah tersebut.

Segores perih menelusup masuk ke dalam hati Ha In, membisikkan puisi cinta nan memilukan, menaburkan asam di atas luka yang tak pernah ingin ia rasakan. Luka itu tidak Ha In tunjukkan dan berusaha ia redam. Ini adalah kesalahannya, mengizinkan diri untuk jatuh cinta pada pria yang sudah memiliki istri sama saja dengan menggiring diri menuju sebuah kebuntuan kisah asmara. Cintanya hanya akan terkubur—mungkin akan termakan waktu jika ia tidak cukup tahan. Ya, Ha In tidak punya keberanian untuk merebut suami orang.

Mengambil suami orang sama saja merenggut kebahagiaan beberapa orang lainnya: istrinya, anaknya, keluarga besarnya. Merebut milik orang lain adalah simbol ketamakan, tidak bisa membedakan mana yang hak dan mana yang terlarang—tidak beda dengan para pengusaha rakus yang melakukan apapun untuk mendapatkan targetnya. Setidaknya Ha In berbeda dengan mereka, ia masih punya hati nurani.

“Mwo? Kenapa kau menanyakan itu?” Namja itu tersenyum simpul, ia bukannya tidak tahu maksud pertanyaan yeoja yang usianya terpaut empat tahun lebih muda darinya itu. Tapi ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.

“Memangnya aneh kalau aku bertanya? Kita kan teman bercerita, jadi boleh dong kalau aku menanyakan kisahmu, hehe….”

“Tidak ada yang salah, Saengi….” Namja itu mengelus-elus rambut Ha In, ia menarik nafas sejenak, “Hhh, seperti itu saja. Semuanya masih bisa dikatakan lancar.”

“Lancar tapi kenapa kau menghela napas dulu? Kau pasti bohong, iya kan Yoochun oppa?” sidik  Ha In curiga, telunjuknya mendarat di hidung Yoochun dan ia ketukkan pelan dua kali hingga membuat Yoochun sedikit membelalak kaget.

“Ah, mian Oppa, tanganku ini maunya jalan-jalan terus. Aku tidak bermaksud sembarangan menempelkan jariku di wajahmu.” Ha In panik, secepat kilat ia menjauhkan telunjuknya tadi.

Lagi-lagi Yoochun tersenyum kemudian ia mengacak-acak rambut Ha In gemas, “Tidak usah panik, aku tidak keberatan. Hmmm…mereka baik-baik saja, yang salah adalah aku sendiri,” Yoochun terkekeh.

“Maksudmu?” Wajah Ha In sudah seperti orang tolol setelah mendapatkan perlakuan di kepalanya dan melihat senyum Yoochun untuk yang kesekian kalinya. “Jangan bicara setengah-setengah, Oppa!” rengeknya salah tingkah.

“Ne, aku tidak setia, mulai tertarik pada anak pemilik rumah tempat aku menyewa sebuah kamar.” Bermaksud menggoda dengan gaya bercanda, ia justru disambut dengan ekspresi kebingungan Ha In.

Ha In berpikir sejenak, butuh waktu agak lama untuk menyadari bahwa anak pemilik rumah tempat Yoochun menyewa sebuah kamar itu adalah dirinya, “Errr…oppa? Ya! Yoochun oppa! Apa maksudmu? Hais, kau sudah punya istri, awas ya kalau berani naksir aku.” Bersikap galak, bentuk pertahanan diri yang dapat Ha In lakukan kini.

Ia tidak ingin hatinya berada di atas angin karena ucapan Yoochun tadi. Ia berusaha menganggap itu sebagai candaan belaka.

Kali ini Yoochun tergelak menyaksikan betapa memerahnya pipi Ha In, dugaannya benar—Ha In menyimpan rasa untuknya.

“Aku bercanda Saengi…mana mungkin aku suka pada bocah sepertimu.” Yoochun yang meletakkan telunjuknya di hidung Ha In.

“Hais, aku disebut bocah.” Disingkirkannya jari Yoochun lalu dihempaskan pelan, wajah Ha In memberengut.

“Memang kau masih bocah,” Yoochun menjawab jujur, ia menjulurkan lidahnya usil.

***

“Ya ampun Key….fotomu cantik sekali!” pekik satu dari sekerumun yeoja yang tengah melihat-lihat foto ketika kelas mereka berlibur bersama ke villa.

“Ehh, foto yang mana?” Key menanggapi heboh, ia berjalan tergopoh-gopoh mendekati kumpulan yeoja itu, “Memangnya aku sangat cantik ya? Hei, aku ini tampan tahu!” Key protes kecil, tapi ia tetap terkekeh. Dengan santainya ia merangkul pundak orang yang memekik tadi, namanya Eunri.

“Itu Key…waktu kita liburan di villa kemarin,” Eunri menjawab sambil meraih kamera digital dari tangan temannya, Hyora. Key hanya mengangguk, matanya ikut mengamati gambar dirinya yang ada di layar kamera tadi.

“Eh Key, katanya kau tahu outlet-outlet baju bagus tapi murah ya? Kapan-kapan kita jalan bersama ya~” Kali ini Hyuna yang menimpali obrolan.

“Tentu saja Hyu…aku pasti semangat kalau diajak shopping. Kau tenang saja, aku akan merekomendasikan yang terbaik sesuai dengan kisaran harga yang kau cari.” Mata Key berbinar jika sudah membicarakan salah satu dari sekian banyak hobinya ini.

“Whoaa…senang punya teman sepertimu. Oke Key, bagaimana kalau hari minggu ini sekitar jam tiga sore?” Hyuna girang, apalagi ketika akhirnya Key mengangguk setuju.

“Haha, kau aneh ya Key.” Sebuah suara bernada sinis bergabung, membuat Key harus menyiapkan hatinya. “Key, kau sudah seperti kaum kami, senang memboroskan uang,” lanjutnya tenang, tidak sinis seperti ucapannya yang pertama.

Key terdiam sejenak. Ia butuh waktu untuk membuat detak jantungnya kembali normal, ia menghimpun segenap kemampuannya agar hatinya tetap tenang dan aliran darahnya tetap stabil. Suara itu dengan kilat membuat sistem syarafnya berjalan tidak normal.

“Kau tidak mengerti, In Young-ah. Bagiku, shopping bukan hanya bicara tentang membelanjakan uang. Shopping bicara tentang kepandaian memilih, mencari yang terbaik dengan harga yang sesuai. Kecuali jika aku beli barang tanpa berpikir, kau boleh menyebutku boros,” Akhirnya sang otak mengirimkan sebuah jawaban yang tepat dan langsung Key lontarkan, tak ingin ucapannya terpotong sedikitpun karena nantinya tidak akan sanggup ia lanjutkan saking kikuknya.

“Haha, mungkin pemikiranku aneh ya?” Menyadari In Young tidak menjawabnya dan hanya menatapnya aneh, Key pun bertanya lagi.

In Young tersenyum penuh arti. “Hmm, alasan yang menarik. Kau namja yang unik. Tapi kau tahu tidak?  Konon belanja adalah hobi yeoja karena mereka terbiasa ikut ibunya pergi ke mall atau pusat perbelanjaan lainnya. Biasanya namja lebih suka bermain bola karena ayahnya membiasakannya seperti itu.”

Key membalasnya dengan senyuman kecil, “Sayangnya sejak kecil aku tidak punya ayah,” ucap Key sedikit lirih, membuat In Young dan yang lainnya diam seribu bahasa.

***

Bola matanya bergerak kesana kemari, tidak berani ia fokuskan pada satu titik. Sosok yang terlihat sangat indah sekaligus menyakiti hatinya. Ia tak berani membuka mulut lebih dulu, memilih menunggu orang yang duduk dihadapannya melakukannya pertama.

Rasa gemetar menelusup, menjalar ke setiap syaraf yang ada di sekujur tubuhnya. Ditatap serius oleh namja di hadapannya membuatnya ingin buang air kecil di celana, tapi tidak mungkin ia lakukan.

“Park Hana, kau seperti melihat setan saja.” Namja itu tersenyum meledek. Ia memandang Hana dengan mata yang menyipit, jaraknya dibuat lebih dekat, “Sejauh itukah perasaanmu padaku sampai kau tidak berani bertemu pandang denganku?” Ia bertanya lambat, setengah berbisik sinis.

“Kau menyebalkan,” desis Hana kesal. Ia memilih mengalihkan pandanganya ke pintu kelas. Rasa cemas menggelayutinya, ia khawatir orang yang melihat akan berpikir macam-macam ketika menyaksikan wajah Jonghyun yang terlalu dekat dengan wajahnya.

“Hei, kau tidak menghargai aku. Tatap aku, Hana-ya.” Jonghyun makin senang melihat Hana yang ketakutan, kali ini ia menarik wajah Hana agar arah pandang yeoja itu tertuju padanya.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Jjong?” Hana makin gerah, merasa dirinya dipermainkan oleh sang lawan bicara.

“Kita damai, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Bagaimana?” Tanpa menunjukkan raut wajah bersalah, Jonghyun menjulurkan telapak tangannya pada Hana dan membuat yeoja itu menggeleng tidak habis pikir.

“Ya! Kau orang paling menyebalkan yang pernah ada!” Hana berteriak kesal, sementara Jonghyun masih saja terlihat santai.

“Kalau kau memang niat minta maaf, seharusnya kau melakukannya dihadapan Key. Karena yang kau rendahkan adalah dia, bukan aku,” Hana mendengus kasar, mengabaikan tangan Jonghyun yang masih terjulur menunggu balasan, lalu pergi meninggalkan namja itu.

“Cih, yeoja menyebalkan,” gumam Jonghyun sambil menarik uluran tangannya kecewa.

Maaf itu datangnya dari hati, kan? Jonghyun merasa permintaan maafnya ditolak mentah-mentah. Maaf itu, perlukah kau memasang wajah memelas untuk mendapatkannya? Bagi Jonghyun, yang terpenting ia sudah berinisiatif minta maaf.

Dan yang membuatnya kesal adalah, bagaimana bisa seorang Park Hana yang jelas-jelas ia tahu bahwa yeoja itu menaruh hati padanya, justru kini tidak menghiraukannya.

“Huh, yang tidak sopan itu aku atau dia?” Jonghyun memiringkan kepalanya, memasukkan tangannya ke saku celana. Lalu tangan yang satunya lagi segera mengambil tas yang ada di kursinya.

“Terserah,” gumamnya pelan sambil melangkah meninggalkan kelas.

***

Urusan bisnis ke luar negeri membuat tubuhnya lelah. Sebelum sampai di kamar, Nyonya Kim merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dipandanginya interior ruangan itu baik-baik. Hasil dari pemaduan keingannya dan keinginan Key. Ia sebenarnya lebih menyukai warna hijau, tapi Key meminta warna pink agar dijadikan sebagai pelabur dindingnya. Alhasil karena menurutnya perpaduan hijau dan pink akan terlihat aneh, ia memilih warna abu sebagai penyanding pink. Warna sofa yang ia tiduri sekarang adalah perwujudan rasa mengalah seorang ibu atas anak semata wayangnya.

Ia tersenyum mengenang Key, hartanya yang paling berharga. Key adalah alasannya bertarung hidup setelah ditinggal untuk selamanya oleh sang suami tatkala usia kandungan Key masih lima bulan. Key adalah alasannya untuk tetap berjuang dengan urusan pekerjaan yang seringkali membuat tubuhnya berteriak. Key alasannya agar ia tetap tersenyum di hadapan buah hatinya itu, tidak ingin Key ikut terluka karena melihat lukanya.

Nyonya Kim segera meraih ponsel yang ia taruh di tas kecilnya, ia ingin memastikan keberadaan anaknya. Ia tahu kalau Key belum pulang, terlihat dari mobil Key yang belum terparkir di halaman depan rumahnya yang tidak terlalu luas. Bukan mobil Key sebenarnya, hanya ia pinjamkan pada Key ketika dirinya sedang tidak berada di Seoul.

“Kibum-ah, kau sedang dimana?” tanyanya ketika panggilannya sudah dijawab oleh Key.

“Sudah di dekat rumah,” jawab Key singkat. “Eomma, bisakah kau tidak meneleponku di saat aku sedang menyetir? Kau tidak ingin aku menabrak sesuatu karena tidak memperhatikan jalanan, kan?” Key berujar kilat, seolah tak mengizinkan eommanya untuk sekedar menjawab.

“Ah, ne. Berhati-hatilah kalau begitu, Uri Kibummie,” balas Nyonya Kim, tapi tidak ada tanggapan lanjut dari Key.

Klik,

Sambungan terputus tanpa persetujuannya. Nyonya Kim menghela nafas, masih memandangi layar handphone-nya. “Kibum-ah, kau sedang bad mood sepertinya.”

***

Gerbang kompleks rumahnya sudah tampak, laju mobilnya sengaja ia lambatkan. Entah kenapa ia tidak ingin cepat pulang. Sepanjang perjalanan pulang dari kampus, pikirannya tidak seringan biasanya.

Sedikit suara menyerupai decitan tertangkap dari dalam telinganya sendiri. Ia tidak tahu kenapa. Yang ia tahu, percakapan hari ini dengan In Young membuatnya tertohok.

Biasanya ia tak peduli sesering apapun orang-orang meremehkannya, ia hanya menganggapnya angin lalu setelah beberapa menit terlewati. Tapi suara In Young yang menyindirnya bagaikan musik yang temponya sengaja diperlambat, membuatnya dapat dengan jelas menangkap dan mengingat setiap katanya. Hal ini sekaligus membuatnya berpikir tentang ucapan Heera saat melarang Ha In memeluknya, juga tatkala dirinya dilarang memasak.

Konon belanja adalah hobi yeoja karena mereka terbiasa ikut ibunya pergi ke mall atau pusat perbelanjaan lainnya. Biasanya namja lebih suka bermain bola karena ayahnya membiasakannya seperti itu.

Belanja, ya, Key suka belanja karena eommanya sering mengajaknya ke berbagai pusat perbelanjaan sejak ia kecil. Sepasang ibu dan anak ini akan mudah terhanyut dalam arena yang dipenuhi berbagai jenis barang menarik itu. Dari mulai tempat belanja kelas rendahan sampai yang high class pernah jadi sasaran mereka. Eommanya memberitahu tempat-tempat untuk mendapatkan jenis barang tertentu. Dari mulai peralatan rumah tangga, hingga produk perawatan tubuh.

Dulu, eommanya tidak sesibuk sekarang. Selain berbelanja, kegiatan mereka setiap weekend adalah masak, dari mulai belajar memasak hidangan khas Korea hingga makanan khas negara-negara lain. Eommanya sangat hobi memasak sejak usianya masih muda. Katanya, masakan adalah salah satu trik pemikat pria, penarik suami agar pulang ke rumah.

Dalam pikiran Key, mendadak muncul kaitan antara ucapan Heera, In Young dan realita yang melekat pada dirinya. Batinnya tertekan setengah mati, sebuah pemikiran menyakitkan ia tahan sejak siang. Berkali-kali ia menepisnya, berusaha menganggapnya bagai angin lalu, seperti yang ia lakukan biasanya.

“In Young-ah…,” ucapnya lirih.

Apa karena In Young yang mengatakan? Seringkali, hal paling menyakitkan bisa menjadi hal yang biasa saja asalkan bukan diucapkan oleh orang tertentu. Tapi ini In Young, yeoja yang membuatnya yakin bahwa ia tidak layak disebut banci, gay, atau sebagainya.

Key tidak tahu tepatnya sejak kapan, ah… bisa jadi sejak ia pertama kali masuk universitas dan bertemu di dalam jurusan yang sama dengan yeoja itu. Mengapa ia tidak yakin? Karena yang terjadi padanya pertama kali, ia terpesona oleh kecantikan yeoja itu. Awalnya ia pikir biasa saja, seperti umumnya ia mengatakan bahwa yeoja A cantik, yeoja B anggun.

Tapi ketika ia mulai merasa gusar dengan degup jantungnya yang terasa memburu, ia mulai berpikir ulang bahwa memang sesuatu yang tidak biasa sedang hinggap dalam hidupnya. Selama ini ia terus berpikir, tidak pernah berani memastikan kalau ia memang sedang jatuh cinta.

Ia tidak berani menyimpulkan ujungnya. Yang ia pahami hanyalah, bahwa berada di dekat In Young membuatnya memiliki keinginan lain yang tak pernah ingin ia lakukan pada yeoja lain. Bukan sekedar ingin melindunginya dan berada di dekatnya, tapi ingin yeoja itu ‘meliriknya’ sekali saja. Keinginan pertama tidak terwujud mulus, bagaimana ia bisa melindunginya kalau yeoja itu saja tak membuka pintu dan memang telah ada sosok lain yang melindunginya. Keinginan kedua mau tidak mau terwujud karena mereka memang sekelas dan sering berada pada event yang sama. Yang ketiga, bagi Key itu adalah keajaiban jika memang bisa tercapai.

Semakin teringat In Young, pikirannya makin kacau balau. Ia memutuskan untuk menghentikan mobilnya di dekat pos satpam yang ada di salah satu tikungan menuju rumahnya.

Blammm,

Suara pintu dibanting mengagetkan petugas keamanan yang sudah mulai terkantuk-kantuk. Ia buru-buru menenggak kopi kalengan yang diletakkan di mejanya.

“Ajusshi!” Key menyapa sang petugas dengan nada yang terdengar sedikit tidak sedap. Key menopangkan dagunya di meja yang ada di ruangan mini tersebut, berdiri di samping sang satpam. “Ajusshi, aku ingin menanyakan sesuatu, kau mau menjawabku?”

“Tentu saja akan kujawab,” balas sang petugas dengan ramah.

Key terdiam ragu. Punggung telapak kanannya masih menopang dagunya, sementara jemarinya seolah terjuntai jatuh ke arah kiri bawah dengan jarak yang dibiarkan tidak merapat.

“Kenapa kau justru melamun?” sang petugas heran melihat Key yang tidak kunjung membuka mulutnya lagi.

“Errr….begini, sebagai satpam kau pasti punya bekal kemampuan bela diri kan? Yang ingin kutanyakan adalah, kapan ajusshi mempelajarinya dan siapa yang membuatmu ingin menguasai ilmu bela diri?”

“Wah, aku belajar bela diri sejak kecil. Awalnya hanya main-main karena appaku bilang kalau seorang namja harus kuat. Lama-kelamaan aku jadi menyukainya dan appa memang sering mengajariku sedikit-sedikit ilmu yang beliau punya. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?”

Key mengangguk pelan. Kesimpulannya bertambah kuat, membuat pikirannya kian tak menentu. Ia segera pamit dan berjalan gontai menuju mobilnya. Rumahnya sudah tampak dari posisinya sekarang ini. Tapi, rasanya ia ingin menjauh sejenak, meredam emosinya lebih dahulu sebelum ia pulang.

Sayang, tubuhnya sudah lelah setelah terpaksa dipakai untuk mengikuti rapat kepanitiaan. Dengan hati bergetar, ia menjalankan kembali mobilnya, mengarahkan geraknya menuju ‘istana’. Tidak, untuk sementara tempat itu terasa menyesakkan baginya.

Tidak butuh waktu lama bagi Key untuk sampai di halaman depan rumahnya. Ia menggeliat sebentar, tubuhnya terasa sangat kaku dan ia butuh membuatnya sedikit rileks.

Trekkk,

Pintu terbuka, tampak sesosok wanita yang tersenyum padanya. Tangan wanita itu terbuka lebar menyambut kedatangan anaknya. Key berjalan ragu mendekat, gejolak batinnya kian menjadi. Key hanya membiarkan sosok itu memeluknya, tapi tidak memberinya balasan seperti biasa.

“Eomma…,” Key berbisik lirih, tenggelam dalam perang di dalam dirinya. “Lepaskan aku, Eomma,” pintanya kemudian, masih berusaha mengendalikan suaranya agar tak bergetar.

“Hmm? Kau kenapa Kibum? Wajahmu terlihat sangat kacau,” Wanita itu menanggapi, masih tidak juga melepaskan pelukannya. Bahkan ia mengelus puncak kepala sang anak.

“Eomma…semakin kau memelukku, kau makin menyesatkanku,” Key menyiratkan permohonannya sekali lagi. Tapi tangannya masih tak beraksi, ia tidak berani melepaskannya lebih dulu.

“Eomma tidak mengerti maksudmu. Mengapa kau berpikir seperti itu? Ah, kau hanya sedang tidak baik mood-nya. Bagaimana kalau kita membongkar dulu oleh-oleh yang eomma bawakan dari Thailand untukmu? Kau pasti senang.”

“Eomma, aku tidak mengatakan kau tidak menyayangiku. Eomma, berhentilah memelukku. Bagaimanapun aku ini namja. Eomma, mengapa kau tidak pernah mengajariku bahwa memeluk yeoja adalah tindakan yang tidak sopan untuk dilakukan oleh namja? Mengapa kau tidak mengajariku bela diri dan justru mengajariku memasak? Mengapa…kau justru mengajakku ke pusat perbelanjaan, bukan ke lapangan basket ataupun sepak bola? Mengapa Kau…,” ucapan Key berhenti begitu ia menyadari eommanya sudah berlinang air mata.

Tidak lama air mata Key mulai membuncah, membuat bibirnya ikut bergetar kuat. Key menyadari kedurhakaannya, tapi ia memang berhak protes untuk hal ini.

Nyonya Kim tidak marah mendengar luapan perasaan Key. Ia menangis karena ia menjadi sadar, bahwa pola hidupnya mau tidak mau melekat dalam pikiran Key, menjelma menjadi daging di dalam tubuh Key. Sejak Key lahir, ia sudah bertekad tidak ingin membiarkan ada jarak diantara mereka. Ia tidak ingin ditinggal lagi oleh orang yang disayanginya. Kematian orang tuanya yang tidak lama kemudian di susul oleh kematian suaminya—membuatnya terpukul setengah mati.

Karena pikiran itulah, ia ingin Key ada di dekatnya, menemani harinya, dan membesarkan anak itu dengan sepenuh hati. Tapi rupanya ia keliru. Dengan hati saja tidak cukup, terlalu mengikuti hati membuatnya memilih cara yang salah. Seharusnya ia mengajarkan hal-hal yang harus dianut oleh seorang namja.

Mestinya ia marah ketika Key minta diajari merajut. Mestinya ia marah ketika Key justru memilih pink sebagai warna favorit, karena hitam atau merah seharusnya lebih baik. Mestinya ia marah ketika Key menenangkan teman yeojanya dengan cara memeluk, cara yang sama dengan apa yang ia lakukan. Mestinya ia marah ketika Key menjadi senang belanja seperti dirinya. Mestinya, ah…berapa banyak lagi ‘mestinya’ harus terbesit di otaknya kini. Nyatanya, ia telah melakukan kesalahan besar. Membuat buah hati kesayangannnya justru dirundung penderitaan terselubung.

Key merasa adanya begitu sesak dan itu sangat menyakitkan. Tapi ia tidak bisa membendungnya lagi. Ia harus mengungkapkan semua kenyataan pahit yang melukai hatinya.  “Eomma…kenapa kau tidak mendidikku menjadi seorang namja sejati? Eomma, maaf aku terkesan menyalahkanmu. Tapi memang anak akan mengadopsi apa yang orang tuanya ajarkan. Eomma, masih bisakah aku menjelma menjadi namja yang sesungguhnya? Menurut kebanyakan orang, namja itu kuat, tegap, menyukai olah raga, tampan—bukan manis ataupun cantik. Namja tidak suka belanja, tidak suka ke salon, tidak suka memasak kecuali memang dia bercita-cita menjadi koki, lebih suka bermain dengan playstasion dan game online dari pada bergosip ria. Mengapa hal yang ada di dalam diriku justru bertentangan?”

To Be Continued

 ***

Big thanks buat Nandits (Kim Nara) yang selalu ngasih aku masukan detail dan mengoreksi kecerobohanku, hehe….

Juga buat Hanin dan Ayu yang udh ngingetin aku kalau gaya bahasaku udh ga sama. Buat Isna Eon dan Imanda Citra yang udah nungguin ff coba-coba ini.

Seperti biasa, aku terbuka dengan komen apapun, kritik sedetail-detailnya aku terima dan akan aku pertimbangkan. Asal jgn kasar bahasanya ya….

 Don’t be silent reader, Ok?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

43 thoughts on “Namja – Part 2

  1. Aaaaa.. Daebak!
    Feel-nya bener2 dapet..
    Btw, hyora itu aku ya?? Woaaa.. Gomawo..*bibib:kege-eran lu*
    hahaha..
    Next.. Next..
    Ini salah satu ff yg q tunggu..

    1. haha, bisa iya bisa engga. Aku suka bingung namain cast yeoja, jd yg melintas di otak itu yg kupake kecuali nama Heera, In Young, Ha In (ini ada yg request). Kalo Hana itu emang nama pilihanku krn aku suka nama itu. Berhubung aku sering liat nama user eon, jd ini yg kupake, hehe…

      Thx ya eonni udah baca n ninggalin jejak. Jangan lupa ntar mampir lg ke part 3 ^^

  2. hohoho
    daebak,,feel y dapet bgt..
    ku tunggu ya lanjutan y..
    oh iya salam kenal chingu,,aku reader bru dsni..
    ^^

    1. hai Jinri, salam kenal yah ^^
      reader baru? kalo gitu selamat datang di SF3SI, sering2 mampir ya ^^
      iyap, tungguin yah lanjutannya, gomawo udh mau baca n ninggalin jejak …

  3. hiks..hiks..hiks..T_T
    kasian key…tnang aja key,g slh kq namja suka masak org daddyQ aja msakanx lbh enk drpd momQ #jiah,knp malah curhat
    dan g slah jg klo namja suka shopping…stuju bgt sm ucpan key,shopping bkn hnya ttg bgaimana menghbiskan uang tp jg ttg menentukan pilihan…
    g sbr nunggu next part

    1. iya emg masak juga banyak cowo yg jago sih, ehehe…tp klo shopping, ngg…aku sih ngerasa shoping, ngerajut, ke salon, itu sih kerjaan cewe, ehehe…

      aku ikutan curcol ah. aku semalem baru baca ulang ini dan aku baru ngerasa klo scene akhir itu sedih. Aku nangis sndiri bacanya. Hueeee, Key sni kupeluk #author gaje

      eh dya, thx yah udh baca ff ini dan ninggalin komen ^^
      jgn lupa ntar mampir lg ke part 3 ^^

      1. u’r welcome…
        tenang aja…aq bakal sering komen kq,aq kan penggemar berat semua ff mu,apalagi klo cast nya si key…
        hehehehe🙂

  4. KYAAAAA!*teriak histeris*
    Itu ‘eunri’ aku kan?ia ya?ia ya?tau aja aku suka ma key,bibib eon#eh?
    Eh yg kalimat ini:’Heera meninju kepalan tangan ke dada namjanya’.Entah berapa kali aku ngulang2 baca klmt itu.Awalnya ku kira si heera tuh ninju kepalan tangan namjanya.Tpi ternyata trusannya ‘ke dada namjanya’.Agak aneh tuh klimatnya bibib eon,,hehe.*digampar*.Mungkin mksudnya kepalan tangan heera meninju dada namjanya…gitu ya kan?*kali ini dicekek*

    Ada dua dialog yg tanda koma di akhirnya cuma satu tuh*kalimat ku naujubillah ambrukadul,susah dimengerti*pokoknya intinya begitulah.Slah satunya yg ini:”Hah?kau bertanya apa barusan?’.Yg satu lagi aku lupa di mana.
    Trus ada kata ‘kau’ yg jika diperhtikn dri klmtnya itu harusnya ‘aku’*mkin belibet tulisanku*lupa di bgian mana tulisannya.
    Trus yg ‘hati nurnani’,ehehe itu typo ya?ko nurnani?

    Oke oke..sekian komen dariku.Jngan kebanyakan entar bibib eon gondok lagi.Overall INI JEONGMAL DAEBAK!SUER!*ganyante*Maaf klo komenku yg membuat asep hrus kluar dri kuping bibib unnie ye~
    Lanjut pokoknya,aku maksa lho*plak*HWAITING bibib eon ^.^

    1. sippp, thx ya eunri…bener kok itu aku yg ceroboh. Eh, tp yang tanda petik komanya cuma 1, aku baru nemu 1, yg satunya blm ketemu. Maleman aku liat lg yah ^^
      Eh itu nama eunri mah aku asal nyomot aja sih, alasannya sama kayak penggunaan nama Hyora, ehehe…

      iya lanjut kok tenang aja ^^
      thx eunri udh mampir, ninggalin komen dan kasih masukan ^^
      ntar maen lg yah k part 3

      1. Ya Allah *tepok jidat*
        Ntu kesalahanku yg udh ga asing lgi,kenapa hrus mendarat dimari?
        Tanda petik n koma.Bener,guruku udh gondok stiap kli aku kliru dngan dua ‘kata’-bukan tandany-itu.*pukul2 jidat ampe benjol*

        Oh ia,aku inget sekarang.Yg satu lgi yg pas lgi momennya ha in sama my lopely bang uchun*ditendang*.Langsung dah ku teliti bagian2 situ,dan ketemu deh.
        “Maksudmu’ Wajah Ha in sudah seperti…..,nah itu dia,hihi.

  5. kok yoochun eonni, td udah ngira kalo itu dubu oppa, aish~

    Seperti biasa, bahasanya aku suka.. Padat berisi.
    Oya, saat percakapan In young-Jjong ada tertulis Heera yg mungkin seharusnya In young.
    Hanya 1 typo, daebak deh author sm beta-readernya :3

    1. haha, deskripsinya mirip sosok Jinki yah? lah kan jinki udh kujadiin pacarnya Heera, masa aku jadiin sosok yg dikagumin ha in? eh iya yah ada yg salah ketik nama? thx yah udh ngingetin…^^ mampir lg yah di part 3 ^^

  6. pengen nangis pas key ngadu ke eommanya…….

    key, nanya gimana caranya jadi laki gitu, diumurnya udah segitu? /ikutan mikir caranya apaan tapi ya? entahlah, haha
    ditunggu selanjutnya…

    1. Aku juga nangis di bagian akhir…nyesek sendiri bacanya ><
      caranya? nggg, eonni mikir ff ini bakal mengarah pada caranya ya? mmm, aku punya maksud lain bikin ff ini, hhe…semoga engga mengecewakan yah…

      thx yah eonni udh mampir…btw aku udh bales komen yg di part 1 ^^

  7. “Sayangnya sejak kecil aku tidak punya ayah.”
    Kalimat itu berasa miris bgt, andai aku jd In young, aku bkalan nyesal stgh mati udh ngritik key.
    Aku tharu d bag. Key ngomong ke umma nya..nyesek bgt..
    Sini key biar ku peluk..#ehh

    1. iyap, in young emg nyesel kok, ntar aku jelasin di part 3 ^^

      niek eon (berasa aneh), key udh aman di pelukanku kok #diseret Jinki

      thx yah udh nyempetin mampir ^^ ditunggu lg di part 3🙂

        1. ehhh? awalnya aku binngung maksudmu. Mikir lima menitan ada kali ya. Dan akhirnya nyadar Kalo pelafalan Niek-Un bisa mirip ama nickhun, ahaha *otak lemot

  8. akhirnya muncul juga~~~ini salah 1 ff yg aq tgu” lhoo eon XDD
    akhir” part ini bener” nyesek…rasanya aq pengen nangis pas key ngomong ke eommanya..T,T
    banyak hal yg bqn aq hampir nangis,slh satunya yg ya itu,,trs ad lagi yang key nginget” omongannya inyoung sama key ngomong kalo dia udh gak punya appa😦
    oh yaa…aq penasaran..emang jjong diapain sih di keluarganya??o.O,disia”kah??#sotoy
    omo….ha in sukanya sama ahjusshi😮 #ditendangchun,mksdq sukanya sama org yg beristri bahkan punya anak XDD..berharap ha in bisa nemu cwo yg laen…hoho ^o^
    dan seperti biasa,aq suka gaya bahasanya bibib eon, berbunga” gitu…#apaansih?-_-,uhmm…pokoknya gitu ._.v
    aq tgu part 3.a~~^o^
    jangan lama” yah eon~~hahahaa,hwaiting!😀

    1. huaaa, abangku (uchun) dibilang om2 ><
      hehe, tp emg disini udh om2, tp om2 awet muda dan ganteng, haha…
      jjong ya? ntar diceritain kok ^^
      bentar, aku bingung. Bahasaku berbunga? maksudnya? berbunga2 gimana? #garuk kepala

      sip tungguin yah part 3-nya ^^ thx yah udh mampir ^^

  9. beehh jlep banget ff nya eon…
    yang waktu Key bilang ke Inyoung kalo dia dari kecil udah gak punya ayah, aduuhh mantep banget itu. Inyoungnya nyesel gak ya Key jadi bilang begitu? wkwkw
    dan, eommanya key bakal gimana ya nanti? soalnya tindakannya key itu sebenernya bener, cuma eommanya pasti sedih juga karena key ngomong gitu
    oh iyaa!! ininih si Jonghyun ada yang misteriusnya juga ternyata. di keluarganya dia diapain ya itu ._.

    waah ditunggu part 3 nya yaa😀 oh iya, salam kenaal :D:D

  10. hai bibib eon, aku dtng lagi ~(‘o’~)(~’o’)~
    ah part 2 ini feelnya kerasa bnget! sedih juga pas yg part si in young nyindir key oppa, dan key bls kalo dr kecil dia emng udah gapunya ayah, beuh beneran jd sedih bynginnya. mdah2an in young nya nyesel gt akhrnya.

    terus jjong oppa, wah ada mslh apa coba di kluarganya dia? ah stelah liat scene Jjong-Hana aku malah jd shipper mreka wk😀 kyknya seru aja kalo mreka barengan. sang mantan idola & sang mantan fans.

    scene yg akhir itu jg seru bngt antara key oppa & eommanya. aku yg bc beneran dilema gatau mau di kubu siapa-_-” antara key oppa atau eommanya.

    ah komenku sgini aja, part 3 ditunggu eon~🙂

    1. hai mahdaa, seneng liat username km lagi😉
      in young emg nyesel kok, ntar aku jelasin…

      eh, jjong-hana shipper? hehe, semoga engga mengecewakan yah ^^

      thx yah mahdaa udh mampir ^^

  11. Ini mah bisa dikatakan cinta buta, tidak ada yang salah menurutku kecuali cara eomma Key mendidik putranya…
    Untung Key masih punya sahabat2 dan perasaannya pada In Young yang semoga dapat membantu Key menuju jalan yang benar… Next paaarrtt….

  12. Rapi sekali! Ya ampun, suka sekali! Ah, aku jadi fans mu mulai sekarang.😀
    Bisa banget sih mikirin tema kek gini, sesuai pula dengan karakter Key yang lebih menjurus ke “wanita” itu *dihantamlocket*
    Gak mau komen banyak”, mau pindah ke part 3 cepat sih. Hehe.

    1. Ahaha, entah. Mungkin ff ini semacem bentuk rasa greget liat Key yg makin hari makin imut aja, bukan makin ganteng. Ngeliat gerak tubuh Key itu… errr, jgn jauh2, perhatiin aja gerakan jarinya. Aaaaak, Key jgn gitu si😦 #gajelas

      Thx a lot ya udah mampir ke ff ini😀

  13. nyeseeeek😥
    sedih banget, jadi karena key gak punya ayah jadi dia kemayu gitu. key juga suka sama in young, dan jonghyun-hana sepertinya cocok jg.
    keren banget nih eunni

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s