Be Mine [1.3]


Kriiiinggg

Kriiingggg

Aku menerjap-nerjapkan kedua mataku pelan ketika suara alarm yang ada di samping tempat tidurku berbunyi. Aku mendiamkan diri sejenak, merasakan bahwa aku masih berada di atas tempat tidur, masih mengenakan piyama dan memeluk gulingku. Hingga aku benar-benar menyadari bahwa kini aku bukan lagi berada di dreamland.

Yeah, bukan lagi di dreamland yang indah dan menyenangkan. Tapi aku sudah berada di dalam kehidupan nyata dan sebentar lagi akan melakukan rutinitasku sehari-hari sebagai anak SMA yang sangat biasa.

__

Title       : Be Mine

Author  : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)

Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun,

Length  : Trilogy

Genre   : Romance, Fluff, HHJJF (Happy Happy Joy Joy Fiction)

Rating   : PG – 13 / PG – 16

Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)

A/N        : Maklum, lagi terkena virus Minho-Bikin-Aku-Gila-Di-MV-Sherlock. Lagi dapet nyawa di FF ini, jadi bikin yang ini duluan. FF yang lain.. maafkan aku *bow* #plakk Aku nyari nyawa buat kalian habis nyelesein ini, oke? *ditabok* So, inilah persembahan dariku dengan 5% kejadian yang dialami olehku sendiri. Sisanya fiksi hohohoho…  Dan aku Cuma pake 1 POV di sini. Yaitu si cewe POV *serasa baca novel Twilight, New Moon sama Eclipse yang POVnya cuma Bella doang #plakk* Happy reading \(^o^)/

__

Aku melangkah pelan sambil bersenandung kecil selama berada dalam perjalanan ke sekolah. Gerbang sudah ada di depan, nampak banyak murid yang menaiki sepeda atau motor, dan yang paling mewah mobil mulai memasuki gerbang. Dan aku sama sekali tidak mempercepat langkahku, karena semakin lama aku mencapai gerbang, akan semakin lama jantungku terhindar dari ancaman sport jantung. Kenapa? Ah, kurasa kalian akan tahu nanti.

Earphone dan I-podku masih menyala, melantunkan sebuah lagu yang sedang ingin kudengarkan hari ini. 2NE1 – Ugly. Entah kenapa lagu ini sangat sangat menggambarkan isi hatiku hari ini. Dan ketika bagian reff lagu melantun, kaki ku sudah memasuki kompleks sekolah. Mataku berkeliling dengan liar, berharap bahwa sosok itu tidak ada di sini. Bila ia ada, bisa terkena serangan jantung aku.

Kurasa suasana cukup aman. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju ke kelasku yang terletak di lantai dua bangungan yang paling tinggi itu. Lagu sudah berganti menjadi Jung Yong Hwa – Banmal Song ketika aku mulai melangkah menaiki tangga. Suara gaduh mulai terdengar ketika kakiku melangkah memasuki kelas. Mungkin dia lagi. Aku melongokkan kepala, sekedar memastikan dugaanku benar atau tidak. Dan bingo! Tebakanku memang benar.

“___-ah, kau sudah datang?” aku menoleh ketika sebuah suara menyapaku. Namja imut berambut jamur pirang itu tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya setengah hati.

Ne,” jawabku. Banyak yeoja yang melirikku sinis. Tentu saja, seorang yeoja pas-pasan spertiku berteman dengan cukup akrab dengan namja yang notabene menjadi coverboy mading sekolah? Oh, ayolah, banyak yang menganggap ini merupakan suatu keberuntungan.

“Kau uring-uringan lagi? Kali ini karena apa heuh?” salah seorang namja lain yang berambut setengah botak berkata padaku. Well, dia juga salah satu namja yang sejenis dengan namja berambut pirang itu. Ah, kupikir untuk apa menyembunnyikan nama mereka? Yang berambut pirang, bernama Lee Taemin dan yang baru saja menodongku dengan pertanyaan itu namanya Key. Dua dari lima namja tertampan di sekolah versi majalah dinding. Entah kenapa aku bisa berteman dengan mereka, padahal waktu awal masuk ke sini tak ada yang cukup dekat denganku.

“Maaf, tapi hari ini aku sama sekali tidak uring-uringan. Kau salah, Almighty Key,” ujarku sambil melepas tas ranselku dan menaruhnya ke atas kursi.

“Tapi, ___-ah, tampangmu seperti orang yang sedang uring-uringan. Karena dia, ya?” well, yang berambut cepak dan jabrik itu bernama Kim Jonghyun.

“Dia? Dia siapa? Kau mengigau, Kim Jonghyun?” balasku datar. Mereka ini, meski kutanggapi dengan malas dan sedikit datar, tetap saja berceloteh mengajakku ngobrol. Terkadang aku berpikir, kenapa mereka mau berteman denganku? Bukannya yeoja cantik yang hobinya bersolek dan cerewet yang duduk di pojok sana?

“Tentu saja musuh abadimu, Choi Minho,” sahut Key sambil memutarkan kedua bola matanya.

Mwoya? Kalian gila,” desisku kesal. “Mana Jinki? Aku butuh dia untuk menyelesaikan PR fisika keparat ini,” tanyaku pada mereka.

“Tentu saja sedang berdiskusi dengan Minho di kelas sebelah,” jawab Taemin sambil menaruh dagunya ke atas meja. “Ah, PR itu ya? PR tentang lensa bla bla bla itu?”

“Hahaha… tentu saja. Memang PR apa lagi yang membuat otakku seperti septikteng selain fisika?” jawabku dengan tawa sumbang.

“Jadi kau depresi hanya karena sepuluh soal fisika ini?” tanya Jonghyun tak percaya. Aku mengangkat bahuku.

“Baru ibu soalnya, pabo. Anak soalnya ada empat sampai lima poin tahu,” sahutku sambil menyambar buku PRku dari tas dan melangkah keluar.

“Hey! Kau mau kemana?”

“Tentu saja meminta bantuan Jinki!” sahutku sedikit keras. Oke, kali ini aku harus bisa membiarkan mahkluk itu berkeliaran di sekelilingku. Ya, mahkluk yang membuatku gila setiap ada di dekatnya. Tak sampai 5 menit, aku sudah berdiri di depan ruang kelas Jinki, kelas XI – C. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung mengarahkan kakiku menuju ke tempat duduk paling belakang.

“Hey, ___-ah. Tumben ke sini?” Jinki langsung menyapaku ramah. Aku hanya tersenyum dan saat itu metaku dan matanya saling bertemu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku sambil mengacungkan buku PRku.

“Kalau bukan karena ini, aku lebih baik pergi ke kebun sekolah,” jawabku sambil menaruh buku itu di atas mejanya, dan langsung duduk di hadapannya. “Bantu aku mengerjakan sepuluh soal sialan ini,”

“Untuk apa  kau ke kebun sekolah? Mau menjadi tukang kebun?” heish, dia, mahkluk itu, mahkluk jangkung tak berperasaan itu menjawab dengan nada mengejek. Aku tidak menghiraukannya, dan memfokuskan diri pada Jinki yang mulai membuka buku PRku.

“Soal ini mudah, tahu, kenapa kau masih bingung?” tanya Jinki tak percaya. Oh, ayolah Lee jinki, kau tahu otakku tak seperti otakmu!

“Tentu saja aku masih bingung, aku kan tidak mengerti apapun tentang materi ini! Ayolah Jinki, kau tahukan kapasitas otakku tak seperti otakmu!” pintaku sedikit memelas. Tentu saja, pada saaat jam pelajaran kebanyakan otakku memikirkan satu namja. Sambil menghembuskan napas, akhirnya Jinki mengangguk.

“Yeah! Gomawo Jinki-yah!”

“Cih, penjilat,” gumam orang itu. Baiklah, namanya Choi Minho, bukan ‘orang itu’. Aku meliriknya kesal, lalu kembali fokus dengan PRku.

“Lain kali kau harus mengambil kursus fisika,” ujar Jinki menasehati.

“Kalau waktu dan ekonomi meyakinkan,” sahutku sekenanya. Aku hanya menatap buku di hadapanku yang ia kerjakan dengan kecepatan yang menakjubkan. Oke, bukan hanya aku yang menjadi fansnya karena kemampuan otakknya. Semua haksaeng-pun begitu.

“Selesai!” serunya girang. Aih, Lee Jinki, pipimu benar-benar membuatku gemas.

Gomawo!”  sahutku dan bangkit berdiri, hendak kembali ke kelasku. Dari pada aku sport jantung di sini?

Ne,” sahutnya sambil melambaikan tangan. Aku hanya tersenyum dan terus melangkah keluar. Kurasakan ada seseorang yang menjejeri langkahku. Aku menoleh dan terkejut. Dia?!

Neo?!” pekikku kaget. “Untuk apa kau di sini? Mengikutiku pula?!” ia menoyor kepalaku.

“Yee, jangan GR duluan. Aku kan juga mau kembali ke kelasku,” ujarnya santai. Tapi kenapa jantungku tidak mau santai-santai juga sih?

“Kau menyebalkan, Choi Minho,” desisku agar tidak terdengar olehnya. Tapi ternyata ia malah tertawa garing.

“Menyebalkan? Kenapa aku menyebalkan?” what? Ia mendengarnya? Kok bisa?

“Ah, pergi sana!” seruku sambil mendorong bahu kekarnya menjauh, menuju ke keleas XI – A. Sementara aku sendiri langsung masuk ke kelasku, kelas XI – B. Dan sial! Ketiga namja itu malah cengar-cengir saat melihat kedatanganku.

“Ciye, pagi-pagi sudah mesra loh,” Jonghyun mulai menggodaku. Taemin dan Key hanya cekikian sedari tadi. Aku menatapnya sinis. Mereka pasti melihatnya lewat jendela.

So? I don’t care about that,” jawabku kesal. Jonghyun mengangkat kedua alisnya dengan raut wajah yang masih meledekku.

“Oh ayolah, ___, wajahmu merah sedari tadi,” kali ini Key yang bersuara. Aku memutarkan bola mataku kesal.

“Semoga bel! Semoga bel!” desisku kesal. Taemin menepuk bahuku. Aku menoleh menatapnya yang duduk di sebelahku.

“Wae?”

“Dia belum tahu perasaanmu yah?” tanyanya polos. Aku melongo menatapnya, dan menjatuhkan kepalaku ke atas meja. Hahhh… lihat, Jonghyun dan Key kembali cekikikan, ah, tidak tidak tidak, mereka sudah tertawa ngakak!

“Tentu saja belum, Taeminnie,” ujar Key dengan nada lebaynya yang lagi kumat, “Kalau Minho sudah tahu tentang perasaannya, kuyakin yeoja di sampingmu itu sudah tidak berani berangkat ke sekolah!” teruslah tertawa Key, toh itu tak akan berpengaruh padaku.

Jinchayo, kau benar-benar pabo, ___,”

Ara! Ara! Aku memang pabo, puas kalian?” jawabku ketus. “Dan aku setuju dengan kata-katamu, Key, aku tidak akan pernah mau berangkat lagi ke sekolah ini bila ia mengetahuinya. Aku langsung pindah,” ujarku tajam.

“Wow… tenang nona, tak usah sepanik itu dong,” Jonghyun kembali nyengir. “Memang mau sampai kapan kau menyembunyikan ini, lama-kelamaan ia pasti tahu juga,”

“Sampai saatnya tepat,” jawabku sekenanya. “Dan bila ia sudah punya yeojachingu, aku bisa mundur perlahan…”

“Dan aku tak akan membiarkan hal itu terjadi, Miss ___,” potong Key tajam. Aku mendengus mendengarnya.

__

Haiyah! Ige mwoya? Aku sama sekali tidak mengerti ini! Amoeba… fungii… protista… haiyah!! Sedari tadi yang kutangkap hanya tiga kata itu. Untung saja ini hanya selingan belajar. Bila besok ulangan, bisa mati bediri aku! Bagimana aku bisa belajar jika di otakku hanya ada satu nama, yaitu CHOI MINHO?

Aku menatap ke atas buku catatan biologiku dengan pasrah. Maaf, buku. Kurasa besok lagi kita belajar bersama. Huaaaa…. . Aku merasakan ponsel yang tergeletak di samping tempat pensilku bergetar. Sengaja aku mengaturnya dalam kondisi silent, aku malas jika sedang belajar begini ada telepon atau SMS yang mengganggu. Dengan lemas aku meraih ponselku, membuka flapnya dan langsung menjawab panggilan tanpa membaca siapa yang sedang menelpon.

Yoboseyo?” kataku lemah.

“___-ah? Kau sedang ada dimana?” ah, ini suara Taemin.

“Aku di rumah, Taem. Wae geurae?” jawabku sambil menegakkan posisi dudukku.

“Baguslah. Kau sedang belajar ya?” tanyanya lagi menghiraukan pertanyaanku. Aku menelan ludah sebelum menjawab perkataannya.

Ne, tapi aku baru saja menutup buku. Ada apa sih?” tanyaku lagi.

“Asik, kalau begitu, bergabunglah dengan kami,” jawabnya yang membuatku bingung.

“Hah? Kalian? Kau lagi kumpul berlima ya?” cepat-cepat aku melirik jam. Baru jam 8 malam, sih. Tapi untuk apa mereka keluar malam-malam?

Ne, dan kami sedang bosan hanya ngobrol di cafe. Rencananya kami mau mengajakmu nonton, mau?”

Mwoya? Nonton? Berlima? Jadi aku yeoja sendirian dong?” seruku kaget ketika memikirkan rencana itu lagi. Kalau mereka berlima… aish! Aku bertemu Choi Minho lagi!

“Tentu saja tidak, Key kan yeoja… Akh! Appoyo!” aku tertawa tanpa suara. Tentu saja, Key akan ngamuk kalau dibilang yeoja.

“Memang ada film bagus?” tanyaku lagi.

“Ah, Breaking Dawn sedang di putar…” ujar Taemin yang membuatku menelan ludah. Breaking Dawn? Eommaaa…. aku mau nonton! Masa bodoh deh ada Choi Minho atau tidak, yang penting aku bisa nonton Breaking Dawn!

Arasseo! Aku ikut!” seruku. Bisa kutebak Taemin mendesah lega di seberang.

“Yeah! Gomawo ___-ah, kami tunggu di cafe Chocolate Bun,”

“Hah? Cafe itu? Itukan ada di pertigaan depan rumahku?” tanyaku heran.

“Minho yang memaksa untuk ke sini. Sudahlah, nanti pulsaku habis. Cepat kesini! Kami sudah hampir mati kebosanan di sini!”

Ara! Ara!” klik. Aku memutuskan sambungan. Cepat-cepat aku menyambar celana jins 7/8-ku dan jaket tebal yang tergantung di belakang pintu kamarku. Untuk kaos, ah, kurasa ini cukup pantas hanya untuk sekedar nonton. Ya, kaus polo putih pemberian appa-ku. Terlalu besar, memang, tapi tak apa deh. Dompet, ponsel, semua sudah. Topi? Ah, hoodie yang ada di jaket saja cukup. Tak berapa lama, aku sudah melangkah menelusuri jalan setapak menjauhi rumah setelah eomma dan appa mengijinkan.

Tak sampai lima belas menit, aku sudah ada di depan Chocolate Bun cafe. Sambil menghela nafas, aku meraih gagang pintu dan melangkah masuk. Mataku berkeliaran mencari lima sosok yang, er, bisa dikatakan bersinar untuk ukuran mereka. Kalian tahu? Setiap mereka berkeliaran di sekolahku seperti ada cahaya yang mengelilingi mereka. Aku langsung mengenali sosok setengah botak Key ketika menoleh ke kanan. Dengan cepat aku mendekati mereka.

“Ya,” panggilku yang membuat kelimanya menoleh. Oh God, kenapa mereka benar-benar keren? Pakaian mereka memang tidak mencolok, namun setaraf untuk gaya artis. Ah, mereka benar-benar membuatku silau.

“Kau benar-benar akan nonton, ___-ah?” tanya Key sambil meneliti pakaianku dari atas kepala sampai ujung kaki. Aku memutarkan kedua bola mataku kesal. “Kau seperti orang yang baru bangun tidur,”

“Aku tahu kemampuan berpakaianmu setara Pangeran Harry, Key,” sergahku kesal. “Untung saja aku pakai pakaian begini. Kalau aku kesini dengan piyama gimana? Kalian mau dikira menculik pasien rumah sakit?” lanjutku. Lagi-lagi mataku bertemu dengan matanya. Aku langsung membuang muka menatap Taemin.

“Jadi kapan kita akan berangkat?” tanyaku. Jonghyun hanya nyengir.

“Sekarang saja, aku belum beli tiket soalnya,” ujarnya kalem. Aku mendengus.

“Memangnya kita mau nonton kemana? Kuharap jangan jauh-jauh dari sini, kakiku sudah pasti tidak kuat,”

“Tenang saja, kau bisa dibonceng Minho. Jinki sudah berdua sama Taemin, aku dengan Key, nah, dari tadi Minho yang sendiri,” aku lemas mendengar penuturannya. Kim Jonghyun… kau mau membunuhku?

“Okay, let’s go!” seru Key girang dan langsung melesat menuju parkiran. Aku tetap berdiri sambil melongo ketika empat punggung sudah membelakangiku.

Kkaja, ini helmmu,” tiba-tiba Minho menyenggol lenganku dan sebuah helm hitam dengan garis merah sudah ada dalam dekapanku. Pada akhirnya toh, aku juga mengikutinya. Aku terus mengekorinya hingga kami berada tepat di depan sebuah motor sport berwarna hitam yang sangat keren. Baiklah baiklah, pemiliknya juga tak kalah keren. Ups…

“Memangnya kita mau kemana sih?” tanyaku berusaha membuka percakapan. Ia menoleh sekilas dan langsung naik ke atas motor.

“Ke tempat bioskop lah, mana mungkin kita nonton di toko es krim,” sahutnya. Aku mengerang di dalam hati. Apakah semua lelaki seperti ini? Susah diajak berbicara serius?

“Aku juga tahu itu, tapi dimana bioskop itu?” tanyaku lagi. Kali ini giliranku untuk naik ke atas boncengan.

“Oh, itu di pusat kota,” jawabnya singkat. “Pegangan yang erat,” ujarnya. Terpaksa aku menggenggam kedua sisi jaketnya. Ia belum juga menjalankan motornya, walaupun sudah ia starter.

Wae? Bensinnya habis?” tanyaku bingung.

Aniyo, kubilang pegangan yang erat,” katanya lagi. Baiklah, hanya sekali ini aku harus melakukannya. Dengan ragu aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. “Itu lebih baik,” ujarnya puas. Dan kami langsung berderu menembus malam yang mulai dingin itu.

“Wah, benar-benar pasangan yang serasi,” goda Key saat melihatku turun dari atas boncengan. Aku mendelik padanya kesal, namun ia pura-pura tak melihatku. Kami sudah ada di depan sebuah mall besar di Seoul. Aku langsung melangkah mendekati Taemin sambil memasukkan kedua tangannku ke dalam saku jaket.

Kkaja, kupikir masih ada beberapa tiket tersisa, mengingat ini bukan malam Minggu ataupun hari libur,” Jonghyun berujar yang membuat kami langsung masuk ke dalam mall yang lumayan ramai saat itu.

__

Jadi, di sinilah aku sekarang. Di sebuah ruangan bioskop dengan tempat duduk terpisah dari Key, Minho, Jonghyun dan Onew. Kenapa sih Jonghyun bisa membeli tiket terpisah begini? Ah, mungkin itu lebih baik. Aku melirik Taemin yang ada di sampingku sambil mengunyah popcorn, matanya tak lepas dari layar. Aku mengalihkan pandangan lagi menuju layar, yang mepertontonkan pernikahan Bella dan Edward. Kurasa aku bisa berkosentrasi total dengan film ini.

__

“Hiyahhh… tadi filmnya sedikit menegangkan ya?” ujar Key sambil merenggangkan tubuhnya. Aku melirik Taemin yang masih memegang box popcorn yang tersisa setengah. Aku yakin ia tak bisa lagi mengunyah apapun setelah menonton film tadi. Kalian bisa menebak kan, apa yang tadi ditayangkan?

“Harusnya aku tidak ikut nonton tadi, itu sangat mengerikan,” gumam Taemin dengan suara yang terdengar masih shock. Aku hanya tertawa tanpa suara.

“Ayolah Lee Taemin, percaya atau tidak, Jonghyun sudah pernah melihat yang lebih parah dari tadi, hahaha,” sahutku asal. Jonghyun siap-siap menjitakku dengan tangannya yang berotot besar.

“Menurutku film tadi biasa-biasa saja,” ujar Jinki cuek. Aku berjalan beriringan dengannya di belakang yang lainnya.

“Kau tidak suka Twilight Saga, kah?” Tanyaku iseng-iseng. Jinki menoleh sebentar lalu kembali menatap jalan di depannya.

“Tidak terlalu juga. Tapi aku sudah menonton semuanya,” sahutnya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Memangnya aku harus bagaimana lagi? “Hei, kudengar kau sedang suka dengan seseorang, ya?”

“Mwo? Darimana pernyataan gila itu?” haish, kenapa dia mesti tahu sih?

“Key. Kau tahu sendiri mulutnya seperti apa,” balasnya lagi pelan. Aku menarik ujung bibirku dan menurunkannya lagi.

“Tidak. Key hanya melantur,” kilahku. Lebih baik ia tidak tahu. Kalian tahukan seberapa dekat ia dengan Minho? “Memangnya siapa yang seharusnya kusukai? Kurasa tidak ada,”

“Hey, kau meremehkan kami ya?” seru Jinki tak terima. Aku Cuma bisa nyengir.

“Karena kalian itu chinguku. Aku tak mungkin menyukai salah satu dari kalian,” aku tertawa pahit di dalam hati saat mengatakan ini. Apanya yang tak mungkin menyukai salah satu dari mereka? Helloo.. aku hampir gila karena seorang Choi Minho, oke?

“Baguslah kalau kau berpikiran seperti itu. Ingat, kupegang kata-katamu,” ujarnya tajam. Kenapa ia seperti sedang mencobaiku sih?

__

“Hey! Ada berita heboh!” salah seorang haksaeng berseru yang membuatku, Taemin, Jonghyun dan Key menoleh kaget. Berita apaan?

“Ah, yang katanya ada haksaeng baru dari Jepang itu ya? Katanya haksaeng itu yeoja dan masuk ke kelas XI – A ya?” salah seorang lagi menyahut. Aku mengerutkan kening. Haksaeng baru? Yeoja? Dari Jepang? Apakah dia…

“Hey, ___-ah, kau mau kemana?” Jonghyun bertanya bingung padaku yang bangkit berdiri dan berjalan keluar kelas. Kurasa aku harus ke kantor guru. Ah, lewat kelasnya lagi. Tak apa deh, hitung-hitung sebagai latihan. Itu Minho. Lagi-lagi mata kami bertemu. Tidak, sekarang tujuanku adalah kantor guru.

Aku berjinjit sedikit ketika sudah berada di depan jendela kantor guru. Berharap haksaeng baru itu sudah datang, jadi aku bisa meihat rupanya. Aku mendesah ketika tak melihat siapa-siapa di dalam.

“___-ah? Kau di sini?” sebuah suara yeoja membuatku tersentak dan menoleh. Kedua mataku melebar.

“Kang Jiyoung?” gumamku. Ia menyunggingkan senyumnya yang selalu meluluhkan hati setiap namja.

“Annyeong ___-ah, mulai hari ini aku bersekolah di sini,” ujarnya girang. Aku iktu tersenyum, dan kembali berpikir. Apakah dia yang masuk ke kelas XI – A? Wah, kenapa aku jadi cemas begini? Lupakan, lupakan!

“Ah, jinchayo? Kau kembali dari Jepang?” tanyaku tak percaya. Sekali lagi ia mengangguk sambil tersenyum. “Pantas saja para haksaeng langsung heboh,”

“Apakah haksaengdeul di sini… ramah-ramah? Aku khawatir tidak mendapat teman,” ujarnya polos. Aku menyikut lengannya.

“Kau bicara apa? Semua haksaeng di sini sangat ramah. Memang yah, aku tidak punya teman yang sangat dekat di sini, tapi, mereka bisa cukup akrab denganmu,” timpalku.

Kriinggg

Kriiinggg

“Ah, Jiyoung-ah, kupikir kau harus meregistrasi ulang di kantor guru. Aku kembali ke kelas ya, annyeong,”

Ne, annyeong,” sahutnya sambil melambaikan tangan sementara aku mulai melangkah menjauh.

“Kau baru saja dari mana sih?” Jonghyun langsung menodongku dengan pertanyaan begitu aku sampai di tempat dudukku. Aku menoleh kepadanya sejenak lalu mengeuarkan buku dari dalam tas.

“Bertemu haksaeng baru itu, tentu saja. Dia chingu lamaku,”

__

Ak mencari-cari sosok Jiyoung di kelas XI – A. Ternyata benar, ia masuk ke kelas itu. Taemin, Key dan Jonghyun sudah ke kantin duluan. Jinki sudah melesat ke perpustakaan. Rencananya aku ingin mengajak Jiyoung, karena itu aku ke sini. Mataku terus-menerus mencari sosok Jiyoung dari balik jendela. Dan begitu aku menemukan sosoknya, dadaku langsung terasa sesak.

Ternyata ia sedang bercanda dengan Minho. Ah, hanya bercanda. ____ pabo! Untuk apa kau merasa sesak! Sehaarusnya kau bahagia! Well, apa yang perlu dibahagiakan? Tidak ingin mengganggu mereka, aku menahan bibirku untuk menyapa mereka dan berbalik ke kantin.

Kutemukan tiga mahkluk paling tampan versi mading sekolah itu sedang duduk di meja kantin sambil menikmati makanan mereka. Aku melangkah mendekati mereka, menghempaskan pantatku di kursi samping Jonghyun.

“Hey,” sapaku hingga ketiganya menoleh. Key menatapku bingung.

“Mana chingu-mu itu?” tanyanya heran. Aku terdiam sejenak, berpikir apa yang harus kukatakan.

“Er, kupikir nanti ada yang mengenalkannya,” sahutku sekenanya. Taemin mengangkat alisnya tinggi sambil menatapku bingung. Tak lama, dua sosok itu sampai di hadapan kami.

“Ah, ____-ah, annyeong!” suara Jiyoung membuatku menoleh dan tersenyum.

Annyeong Jiyoung-ah,”

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Minho padaku. Aku hanya mengangguk singkat.

“Kami sekelas waktu SD,” ujar Jiyoung.

“Jadi ini chingu-mu, ____-ah? Siapa namamu?” Astaga, Kim Jonghyun, kau benar-benar seorang player! Lihat, ia sudah mengedipkan sebelah matanya pada Jiyoung yang melongo. Aku menoyor kepalanya.

“Jangan sentuh dia, Kim Jonghyun. Jiyoung-ah, kau jangan sekali-kali bersentuhan dengannya. Bisa hamil kembar kau,” ujarku gantian pada Jiyoung.

“Ya!” Jonghyun berseru tak terima padaku.

Annyeong, aku Key, anakl kelas XI – B,” sapa Key sambil menjabat tangan Jiyoung.

“Kang Jiyoung imnida, kelas XI – A,” sahut Jiyoung manis. Taemin itu menyalaminya juga.

“Lee Taemin imnida, kelasku sama dengan Key,”

“Jiyoung-ah, kau mau makan apa? Kupesankan,” ujarku pada Jiyoung. Ia hanya tersenyum.

“Apa saja deh,” aku mengangguk. Lalu mengedarkan pandangan ke mereka berempat.

“Ada lagi yang mau memesan sesuatu?” tawarku.

“Aku ingin jus jeruk saja,” ujar Minho tiba-tiba. Aku hanya menatapnya sejenak lalu bangkit berdiri menuju ke depan. Sempat kudengar Key berbisik pada Jonghyun.

“Yakin atau tidak,  pasti ada alasan kenapa dia mau memesan makanan itu. Ya kan?” aku mendengus pelan mendengar itu. Telingaku cukup tajam, tuan Key.

Ahjumma, aku pesan jajjangmyun satu dan jus jeruk,” ujarku pada ahjumma penjaga kantin. Aku meraih dompet yang ada di saku rokku, menunggu ahjumma itu mentotal harganya.

“Totalnya 20.000 won,” aku langsung mengeluarkan dua lembar puluhan ribu won dan menyerahkannya. Tak berapa lama, pesanannya sudah ada di hadapanku. Waw, lumayan juga. Tak apa deh. Aku membawanya kembali ke meja kami.

Igeo,” kataku singkat sambil meletakkan makanan dan minuman itu secara hati-hati.

Gomawo,” ujar Jiyoung seraya tersenyum. Aku membalasnya. Mereka mulai bercakap-cakap, sementara aku hanya diam sambil memandang ke luar. Aku sama sekali tak ingin bergabung dalam diskusi mereka. Sejenak kupikir berada di perpustakaan bersama Jinki lebih menyenangkan dari pada di sini.

Sesekali aku melirik Jiyoung yang selalu menimpali ucapan mereka. Lihat, ia lebih cocok berteman dengan mereka ketimbang aku. Aku tak begitu memerhatikan sebenarnya, tapi ternyata Minho dan Jiyoung lebih banyak berinteraksi berdua. Sesak lagi. Hah! Benar-benar! Berada di perpustakaan bersama Jinki lebih baik daripada berada di sini!

“Kau sama sekali tak bersuara, ___,” tiba-tiba Jonghyun menyindirku. Aku tersentak dari lamunanku dan menoleh menatapnya.

“Eh?” tanyaku bingung “Aku sariawan,” lanjutku singkat. Daripada mereka berceloteh lagi? Bisa kurasakan Minho menatapku. Tapi kali ini aku memilih untuk lebih tak peduli.

“Kau terlihat pucat,” timpal Key. Taemin hanya mengangguk setuju.

“Baiklah. Kurasa aku harus kembali ke kelas,” gumamku seraya bangkit berdiri.

“Mau kemana?” kali ini Jiyoung yang bertanya. Aku hanya tersenyum lemah.

“Aku mengantuk, dan aku ingin tidur,” jawabku. Aku mengedarkan pandangan ke mereka semua, sebelum melangkah pergi. “Annyeong,”

Kenapa bisa sih aku jadi begini? Mataku benar-benar mengantuk, dan kepalaku memang terasa sedikit pusing. Apakah karena mereka berdua? Hah, itu tidak lucu. Aku melangkah memasuki kelas, menuju ke mejaku, menghempaskan diri di kursi dan menelungkupkan kepalaku. Jinchayo aku benar-benar ingin tidur…

“___-ah, kau tidak ke kantin?” wah, kenapa suara Jinki terdengar olehku? Aku mendongak, dan benar saja. Jinki sudah duduk persis di depanku.

Aniyo. Aku mengantuk,” jawabku singkat. “Memangnya kau sudah selesai berburu di perpustakaan?”

Ne, sudah. Hey, kau sudah berkenalan dengan haksaeng baru itu?”

“Tentu saja. Ia chingu lamaku,” tukasku pelan dengan kepala kembali terkelungkup. “Namanya Kang Jiyoung, dan sekarang ia berada di kantin bersama dengan yang lainnya,”

Arasseo. Aku ke kantin dulu,” aku hanya menyahutinya dengan anggukan. Ya, pergi sana. Aku sedang tak ingin di ganggu.

__

Aku melamun lagi. Ya, tapi kali ini di tempat yang benar-benar strategis. Tempat yang tidak akan dikunjungi oleh siapapun kecuali kalau ia mau bunuh diri. Tapi tujuanku ke sini bukan untuk bunuh diri, oke?! Kurasa di sini, atap sekolah, adalah tempat keramat yang tidak akan dikunjungi siapapun karena tak ada gunanya. Benar kan? Buat pacaran tidak bisa, kecuali mau pacaran di lantai semen dengan angin yang lumayan keras di sini.

I-pod dan earphone sudah sempurna terpasang. Yang kulakukan hanyalah duduk meringkuk memeluk lutut, menyenderkan kepala sambil menatap kosong ke langit. Lagu 2NE1 – Lonely melantun, sangat tepat dengan kondisiku sekarang. Ingin rasanya berteriak sambil menyanyikan lagu ini. Kalau di sini, setidaknya tidak ada yang mendengar, kan?

“Baby I’m sorry, even I’m with you I’m lonely, I must be lacking when it comes to love please forgive this horrible person I am, I’m sorry, this is your and my story, I must not be worthy of this called love, even though I’m by your side… Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely, Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely… yeah…”

Aku terkesiap begitu earphoneku yang ada di sebelah kanan ditarik seseorang. Aku menoleh cept menatapnya, dan segera membuang muka begitu mengenali sosoknya. Aku menarik napas dalam sambil mengunci mulutku, meski aku masih ingin melanjutkan nyanyianku itu.

Lonely? Kau memang sedang lonely sekarang,” ujarnya pelan. Tuhan, jantungku… kenapa selalu seperti ini sih? Aku tetap mengunci mulutku, seolah tak mendengar perkataannya. “Suaramu bagus juga,”

Aku menoleh menatapnya. “Itu pujian atau sindiran?” sahutku ketus. Selalu begini. Sikapku padanya selaalu 180 derajat berbeda dari sikapku pada teman-temannya. Aku juga bingung kenapa bisa begini. Ia mendesah sambil ikut menatap langit. Baru kusadari, earphoneku yang ada di sebelah kanan sudah terpasang di telinga kirinya.

“Tidak dua-duanya,” sahutnya pendek. Aku mengalihkan pandanganku darinya, dan lagu sudah berganti. Kali ini Super Junior – It’s You. Haish, lagi-lagi lagu ini menggambarkan isi hatiku pada namja di sampingku ini. Siapalagi kalau bukan Choi Minho?

“Kau tidak bersama dengan Jinki dan kawanannya?” tanyaku tanpa ekspresi. Ia menoleh menatapku, namun tak kugubris sama sekali.

“Seperti yang kau lihat,”

“Jiyoung kemana?” tanyaku lagi. Pabo! Kenapa aku malah bertanya seperti ini?

“Oh, dia sedang berkeliling sekolah bersama salah satu chingu barunya. Tadi dia mencarimu, tapi Key bilang kau sedang tidur di perpustakaan,” cerocosnya yang entah asal atau kebenaran. Aku menaikkan ujung bibirku dan mendengus pelan. “Dia anak yang periang,”

“Siapa?” lagi-lagi aku menanyakan hal yang sudah fakta.

“Kang Jiyoung,” Tuh kan! “Dia anak yang manis dan ceria. Dia cantik dan pintar juga sih,” God, aku tak bisa bernapas!

“Dia selalu menjadi ulzzang di sekolahku dulu,” gumamku. “Seperti kalian,”

Jinchayo? Pantas saja haksaeng di kelasku selalu berebut mencari perhatiannya,” ujarnya takjub. Termasuk kau, kan? Aku tahu itu, Tuan Choi Minho, gumamku dalam hati. Aku tertawa tanpa suara.

Kriingggg

Kriiingggg

Aku mencopot earphoneku yang terpasang di telinganya maupun di telingaku, mematikan I-podku dan memasukkannya ke dalam saku. Aku langsung bangkit berdiri dan melangkah menuju tangga dengan cepat.

“Hey!” panggilnya. Aku berputar menatapnya.

Wae?”

“Kau mau kemana?” aku membulatkan mataku. Apa tadi ia tak mendengar bel sudah berbunyi?

“Tentu saja aku mau ke kelas!” jawabku sambil mengerutkan kening. Ia tersenyum lebar. Please, Choi Minho, jangan buat aku terkena serangan jantung, oke?

“Aku ikut,” aku hanya berbalik dan melanjutkan langkahku. Beberpa detik kemudian lengannya kembali bersentuhan dengan bahuku. Damn! Jantungku kembali berulah.

Kami—terpaksa aku harus mengatakannya—melangkah bersama meniti tangga hingga sampai ke lantai dimana kelas kami berada. Baiklah, ini kenangan yang akan terus kuingat. Berjalan berdampingan dengannya. Ketika sudah sambil di depan kelas XI – A, Jiyoung sudah melambai dan memasang senyumnya.

“Minho-ah! ___-ah!” aku hanya tersenyum mendengarnya. Minho-ah? Aku saja masih memanggilnya Minho-ssi. Tapi mereka kan memang dekat. Huft, sesak lagi.

“Jiyoung-ah, katanya tadi kau mencariku?” tanyaku padanya. Ia mengangguk pelan.

Ne, tapi aku tak dapat menemukanmu. Kau kemana sih?”

“Dia bersembunyi,” sahut Minho pendek. Aku mengangkat sebelah alisku.

“Kau jangan sok tahu,” balasku sedikit kesal. “Aku sedang merenungi nasib tahu,”

“Nasib? Nasibmu memang kenapa ___-ah?” tanya Jiyoung kaget. Aku hanya meringis sambil menatapnya.

“Fisikaku,” gumamku sedikit berbohong. Hanya sedikit, jadi nilai fisikaku yang hancur lebur itu merupakan alasan kedua aku merenungi nasib di atap tadi. “Kurasa benar kata Jinki, aku harus mengambil kursus fisika,”

“Wah, itu guru yang kemarin ngamuk di kelas kita ya Minho-ah?” tanya Jiyoung ketika matanya menangkap sosok sonsaengnim berkacamata ala Bung Hatta *lupakan kalau dia mengenal bung Hatta* sambil membawa beberapa map kuning. Mampus! Itu kan Jang Sonsaengnim!

“Kya! Aku harus kembali ke kelas! Hari ini aku mendapat pelajarannya!” seruku dan langsung ngibrit kembali ke kelasku.

__

“Karena kalian sudah kelas 2, rencana pada akhir bulan ini kita akan mengadakan study tour yang rutin kita lakukan setiap tahun,” kata-kata Miss Lee membuat mataku segar. Study tour? Asik! Aku langsung menegakkan posisi dudukku. “Sesuai kesepakatan yang kita adakan beberapa bulan lalu, study tour kali ini kita akan pergi ke…”

Europe! Yeahhh!” seru semua haksaeng serempak. Aku hanya meringis. Eropa? Haduh…

“Yep. Kita akan mengadakaan tour keliling Eropa,” mataku kembali membulat. Mwoya? Tour?! Eommaaeotthokke? Tabunganku… hiks….

“Yeah!!” seluruh haksaeng bersorak girang. Hanya aku sendiri yang melongo di tempat dudukku. Bayangkan… paspor, devisa, tiket, hotel, biaya makan, huaaaaaaa bisa-bisa rumahku dijual untuk semua itu! Aku memerosotkan bahu. Tring! Aku langsung mengangkat tangan.

“Untuk pendaftaran serta pembayarannya bisa menghubungi administrasi, serta penjelasan tentang acaranya akan dilakukan lusa,”

Sonsaengnim!” panggilku. Miss Lee menoleh dan tersenyum.

Ne?”

“Apakah kegiatan ini wajib?” tanyaku was-was. Semoga tidak wajib.. semoga tidak wajib…

“Ini wajib, sayangku,” jawabnya sambil tersenyum. Aku memerosotkan bahu. Coba kalau hanya sekadar ke Gunung Seongju aku masih kuat. Tapi ini? Eropa! Biaya hidup di sana saja sangat mahal! Belum lagi aku tidak mempunyai paspor, apa yang harus kulakukan? Membuat paspor itu tidak pakai daun!

“Waeyo ___-ah? Kau tidak mau ikut?” tanya Taemin bingung. Aku menoleh menatapnya lemas, lalu memainkan pena yang ada di jariku.

“Bagi orang punya seperti kalian, ini bisa diatur dengan jentikan jari. Tapi bagi orang pas-pasan seperti aku? Ini seperti memikul 10 ton batu mengelilingi dunia,” ujarku hiperbola. Taemin hanya memandangku tanpa ekspresi.

“Kau kan bisa minta bantuanku,” gumamnya. Aku mendelik.

Mwoya? Kata appa-ku, kalau kita meminta bantuan akan masalah yang sebenarnya bisa di selesaikan sendiri, itu namanya merendahkan harga diri sendiri,” tukasku. Taemin mengerucutkan bibirnya.

“Memangnya kau bisa menyelesaikan masalah ini sendiri? Ayolah, lagipula kau bisa mengembalikannya dengan cara menyicil,” ungkap Taemin bijak. Wew, tumben sekali.

“Tetap saja kau merasa tidak enak,”

“Apanya sih yang tidak enak? Aku malah senang bisa membantu orang,” ya Tuhan, kenapa baru kusadari Taemin itu begitu baik? “Pokoknya, kau harus kubantu. Ingat itu, ___,” ujarnya tajam lalu kembali memfokuskan diri kepada soal-soal di papan tulis. Aku menatap wajahnya, lalu ikut meraih pena.

Haish, apa yang harus kulakukan? Aku tidak… “Aku akan memikirkan bantuanmu, Taem,” gumamku tiba-tiba. Tentu saja, aku harus mengkonsultasikan ini kepada eomma dan appa. Ia menoleh dan tersenyum senang.

“Pikirkan baik-baik, oke?” aku hanya mengangguk menaggapi ucapannya. “Hey, kau sudah nonton My Girl Friend is a Gumiho belum?” aku melongo. Lee Taemin is back! Oke, mungkin aku agak berlebihan. Tapi kalian baru tahu kan, kalau seorang Lee Taemin suka sekali menonton K-drama?

“Sama sekali tidak. Tapi kemarin eomma-ku baru saja menyelesaikan serial Full House hahaha…” jawabku menyahut.

“Hah? Drama jaman dulu itu? Aku sudah belasan kali nonton itu,” cibirnya. Aku mengerucutkan bibir.

Eomma-ku juga. Tapi dia sayang banget sama Young Jai. Ganteng sih, keren malahan. Tapi aku lebih suka Autumn Concert-nya Vaness Wu,”

“Oh, aku lupa kalau kau lebih suka drama Taiwan daripada Korea,” dumel Taemin. “Eh, Vaness Wu itu yang main di Meteor Garden, kan?” aku mengangguk semangat.

“Kau harus nonton itu Autumn Concert! Seru banget! Aku lupa Vaness jadi siapa, yang pasti tokoh yeoja-nya aku ingat. Liang Mu Chen! Anaknya Liang Xiao Le!” sahutku semangat soal drama favoritku itu.

“Ne, arasseo. Kau sudah bercerita berkali-kali bahkan memaksaku untuk membeli DVDnya, ___-ah. Tapi aku sedikit sebal sama Mu Chen. Kenapa sih dia tidak terus terang sama Vaness? Kan gak asik…”

“Lah, kalo si Mu Chennya ditekan terus sama keluarganya Vaness gimana? Kan nyakit juga Taem!” balasku membela tokoh favoritku itu. “Eh, kau sudah nonton?” ia mengangguk polos. “Kapan?”

“Selesai menonton Gumiho. Kau belum nonton Gumiho ya? Lucu tau!”

__

Keesokan paginya, aku bisa lebih semangat melangkah memasuki gerbang. Eomma dan appa sudah menyetujui, meski biayanya sedikit ada yang kurang. Mereka memperbolehkanku untuk menerima bantuan Taemin, dengan syarat aku harus mengembalikannya di kemudian hari. Langkahku terhenti begitu menangkap sosok Minho yang sedang bersandar di samping motornya. Kulihat banyak haksaeng yeoja yang cekikikan atau melongo terpesona menatapnya. Bingung, aku hanya meneruskan langkahku menuju kelas.

“Ya! ___!” aku menghentikan langkahku begitu mendengar suara berat yang selalu membuat jantungku seperi genderang perang itu memanggil namaku.

“Hm?” jawabku datar.

“Kau ikut study tour?” tanyanya. Ia hanya menanyakan itu? Astaga. Aku hanya menyahutinya dengan mengangguk. Ia mengembangkan senyumnya yang membuat para yeoja menjerit histeris dan membuatku panas dingin. “Joa!”

Oh, ___, janganlah banyak berharap. Mungkin ia membutuhkanmu untuk mendekati Jiyoung? Ups. Aku hanya memandang punggungnya yang menjauh dengan lemah. Meski harapanmu ada pada sebuah bintang di langit, tapi tetap saja kau tidak bisa meraih bintang, kan? Itulah fakta. Aku kembali melenggang menuju ke kelas, dimana tiga mahkluk tampan itu sudah duduk manis dan saling berbincang seperti biasa.

“Taemin-ah!” panggilku. Ia menoleh dan tersenyum.

“Wae?”

“Kupikir aku butuh sedikit bantuanmu. Orangtuaku ternyata bisa membantu hingga separuh lebih biaya. Aku menggunakan gaji dari kerja sambilanku selama ini sebagai tambahan. Tapi ternyata masih kurang,” jelasku padanya. Aku tidak mau memberikan bebanku secara keseluruhan padanya.

“Mwoya? Kerja sammphhh..” aku langsung membekap mulutnya yang suka asal cerocos itu.

“Pelankan suaramu! Hanya kau dan aku yang tahu tentang ini. Aku kerja yaa.. di Chocolate Bun cafe itu!” kedua mata Taemin melebar mendengarnya. Aku melepaskan bekapanku darinya. “Kau mau membantuku?”

“Ne! Tentu saja aku mau membantu. Nanti akan ku urus,” jawabnya menenangkan. Aku mengembangkan senyum.

“Gomawo Taemin-ah!”

__

Lagi-lagi aku mendesah. Key terus-terusan menatapku seolah berkata ternyata-perasaanmu-tak-bisa-disembunyikan. Aku menarik ujung bibirku saat menatapnya. Ia malah menatapku tajam, sementara aku kembali menyuapkan sesendok sup kimchi ke dalam mulutku. Mataku berkali-kali melirik ke arah yeoja dan namja yang tengah bersenda gurau serasa dunia milik berdua. Siapa lagi kalai bukan Choi Minho dan Kang Jiyoung? Aku menyambar gelas tehku dan meneguknya hingga habis setengah.

“Kenapa sih Key, kau terus-terusan menatapku seperti itu?” tanyaku menggodanya. Ia menyeringai, tanda mengikuti permainanku.

Aniyo. Hanya saja ada nasi di sudut bibirmu,” gumamnya sambil mengelus sudut bibirku yang tidak ada apa-apanya. Aku menepis tangannya pelan.

“Berhentilah bercanda, Key,” desisku kesal. Bisa kulihat Jiyoung menatapku dengan pandangan menggoda. Dia pikir aku naksir Key, begitu pula sebaliknya. Dasar kau Key!

“Ya! Key! Jangan buat aku kehilangan teman sebangku!” seru Taemin tak jelas. Jonghyun hanya tertawa hambar menanggapi permainan konyol ini.

“Kalian semua ikut study tour, kan?” tanya Jonghyun semangat. Kami semua mengangguk.

“Tentu saja. Inikan acara wajib,” ujarku sambil menekankan kata ‘wajib’ itu. “Kalau tidak wajib aku malas sekali kalau disuruh ikut,”

“Ya, karena itu kau hampir depresi karena biayanya, kan?” celetuk Taemin asal. Kurasakan Minho menatapku bingung. Pandangan kami bertemu sejenak sebelum aku mengalihkannya dengan menatap Key.

Jinchayo? Jadi bagaimana ___-ah?” tanya Jiyoung khawatir. Aku tersenyum menenangkan.

“Tenang saja Jiyoung-ah. Aku bisa menyelesaikannya,”

“Oh ya, Minho-ah, bukankah kau pernah bercerita bahwa kau akan ikut dalam pertandingan basket antar sekolah?” tiba-tiba Jiyoung berseru kepada Minho yang duduk di sampingnya. Aku mengerutkan kening. Jadi dia ikut lomba itu?

“Iya yah Ho. Kau jadi ikut? Kenapa tidak langsung bilang? Kenapa Jiyoung yang tahu duluan?” cerocos Jonghyun yang mendapat pandangan tajam dari Key. Aha. Sepertinya aku tahu kenapa Key melakukan itu.

“Ah, aku lupa. Lombanya besok sampai lusa. Tentu saja dia tahu duluan, dia duduk tepat di sampingku,” jawab Minho cuek. Kulihat Jiyoung mengembangkan senyum malu-malunya. Ya, dia menyukai Minho. Pasti.

“Dimana lombanya?” Tanya Taemin datar. Minho menoleh menatapnya sejenak lalu mengaduk-aduk gelas di depannya.

“Di lapangan basket indoor sekolah kita. Sepertinya mulai nanti sore jam 4,” tukasnya pelan. Jujur aku ingin menonton. Tapi kerja sambilanku… lihat saja nanti deh.

“___-ah, kau ikut menonton kan?” tanya Key semangat. Aku menoleh menatapnya, lalu tersenyum.

“Ku usahakan ya,” jawabku. Lagi-lagi pandanganku bertemu dengan pandangannya. Kali ini ia mengerutkan keningnya.

“Memangnya kau ada acara apa?” tanyanya bingung. Aku meringis, bingung apakah harus berkata jujur atau tidak.

“Er,  yah, pokoknya lihat kondisi deh,” tukasku sedikit ngotot. Ia mendesah dengan tetap menatap mataku.

“Aku berharap kau datang,”

Deg….

Please, jangan beri aku harapan, Tuan Choi Minho. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ia hanya menatapku lurus-lurus sebelum memalingkan wajah. Aigoo

__

Mwoya? Ada pertandingan basket sore ini?” Nana, chingu di tempat kerjaku  berkata sambil mendelik kaget menatapku. Aku hanya mengangguk kalem.

Ne, tapi aku bingung apakah aku bisa mengambil ijin atau tidak,” desahku lemah. Nana hanya menatapku sambil menopang dagunya.

“Kau benar-benar suka padanya ya?” aku menoleh menatapnya.

“Bukan sekedar suka. Aku mencintainya,” balasku sambil tersenyum pahit. “Dan sayangnya cinta itu bertepuk sebelah tangan,”

“Ah, kau ini. Tidak mudah menentukan perasaan seseorang tahu,”

“Ah, yang penting apakah aku diijinkan mengambil cuti sehari hari ini? Aku ingin menghadiri pertandingan itu,”

“Pastikan saja pada Jungsoo sajangnim. Biasanya ia yang paling baik hati. Mumpung ia sedang berada di ruangannya, cepat bilang!” dengan semangat Nana mendorong punggungku mendekat ke ruangan Jungsoo sajangnim. Aku hanya menatapnya ragu, namun ia menatapku dengan penuh keyakinan. Akhirnya, dengan segenap kemampuanku akhirnya aku meraih gagang pintu dan memutar gagangnya. Pintu pun terbuka.

Annyeonghaseyo sajangnim,” sapaku sopan. Ia ikut menunduk, membuatku ikut menunduk lagi.

Ne? Waeyo? Apakah ada yang perlu dibicarakan?” tanyanya ramah. Aku hanya mengulum senyum tipis.

“Er, sajangnim, bisakan aku pulang sekarang? Aku sedang ada urusan,” pintaku. Jungsoo sajangnim tersenyum kecil, lalu mengangguk-angguk sambil terkekeh.

“Wah, wah, acara para remaja rupanya. Baiklah, kau kuberi kesempatan hari ini,”aku hampir melonjak kegirangan mendengar penuturannya.

“Ah, jinchayo? Gamsahamnida sajangnim,”

Ne, tapi jangan persalah gunakan kepercayaanku, arra?”

Ne, arraseumnida sajangnim!” seruku semangat sambil menunduk. Aku langsung bergegas kembali ke sekolah setelah mengganti pakaian pelayanku dengan pakaian biasa. Tanpa ragu aku langsung menaiki sebuah bus yang kebetulan ada di depan halte.

Sesampainya di sekolah, aku langsung melangkah menuju ke lapangan bakset indoor sekolah. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kiriku. Baru jam empat lewat lima belas menit. Berarti perlombaannya sudah mulai berlangsung. Aku mempercepat langkahku, mendapati lapangan basket indoor sudah penuh sesak degan para penonton dan pemandu sorak.

Aku melangkah ke sudut, mungkin ada tempat kosong. Dan ternyata memang ada. Langsung ku duduki dan mengecek siapakah yang sedang bermain. Masih sekolah lain yaitu Starship dan Cube, jadi aku hanya bersantai di tempat dudukku sementara gerumulan yeoja di sampingku ini berteriak histeris. Ah, masa bodohlah. Kini mataku malah liar mencari-cari sosok Taemin atau Jinki atau Key atau Jonghyun, mereka kan pasti datang ke sini. Tapi yang kutemukan adalah sosok Jiyoung yang duduk di barisan paling dengan dengan pom-pom dan terompet di tangannya, dan sepertinya ia tengah beranjak pergi entah kemana. Yeoja itu, sedari dulu tak pernah berubah, selalu menjadi seorang gadis periang yang menawan. Aku jadi meringis.

“Ya! Kau baru datang ya?” sebuah suara dan tepukan di bahuku membuyarkan konsentrasiku ketika mencari empat manhkluk paling tampan versi mading sekolah itu. Aku menoleh dan tersenyum mendapati Key yang menepuk bahuku.

“Hey Key,” sapaku ringan. “Ya, aku masih ada urusan tadi,”

“Mau ke tempat karantina? Kami semua di situ,” tawarnya. Ruangan yang dimaksudkannya adalah sebuah ruangan yang terdapat di dalam stadion, ah aku susah menjelaskannya. Pokoknya tempat itu khusus untuk mempersiapkan para peserta tanpa diketahui sebelumnya oleh para penonton. Aku hanya menatapnya bimbang.

Aniyo. Aku akan menonton dari sini saja,” tolakku. Key mencengkeram pergelangan tanganku.

Andwae. Kau harus ikut aku ke dalam. Kenapa sih? Kau tidak mau bertemu dengannya?” tanyanya yang tepat sasaran. Tapi ternyata aku tak bisa berbohong pada Key, jadinya aku hanya mengangguk saja.

“Aku tidak mau bertemu dengannya. Jebal, aku tak ingin ke dalam,” pintaku memelas padanya. Ia mendesah, lalu menatapku tajam.

“Ya, ___, mau sampai kapan kau terus seperti ini? Jiyoung ada di dalam, dan ia sedang mencari perhatian Minho. Cepatlah masuk ke dalam, aku tahu kau ingin bertemu dengannya,” tukas Key sambil tersenyum. Namun aku tetap menggeleng.

“Oh please Key, akyu benar-benar tidak ingin bertemu, berbicara padanya. Kau tahu sendiri reaksiku bila aku duduk di dekat anak yang begitu? Sudahlah Key, aku tak ingin masuk ke dalam,” tolakku lagi. Key mendesah, dan akhirnya ia mengalah.

“Baiklah. Aku akan menemanimu disini,” katanya tenang dan mengambil kursi tepat di sampingku. “Hey, kurasa Jiyoung itu naksir Minho,” ujarnya tiba-tiba. Aku hanya menghentikan aktifitasku sejenak, lalu kembali membuka ponselku yang berdering menandakan ada SMS masuk.

“Kau baru menyadarinya? Aku malah sudah menyadarinya sejak ia bertemu Minho pertama kali. Sekarang siapa sih yang tidak mempan akan pesona seorang Choi Minho?” cerocosku panjang. Key mengangkat kedua alisnya, dan lihatlah, ia mulai nyengir mengejek.

“Termasuk kau?” godanya yang membuatku memutarkan kedua bola mataku.

“Terserah deh,” ungkapku akhirnya. Aku membuka kunci teleponku untuk mengecek siapa yang mengirimiku pesan. Mwoya? Minho?

From : Choi Minho

Ya, eodiga?

Aku memerosotkan bahu, dan tanganku bergerak untuk memasukkan kembali ponselku ke dalam saku. Aku sedang dalam keadaan tidak memiliki mood baik untuk membalas pesannya. Kurasakan Key sedari tadi terus-menerus memerhatikan gerak-gerikku. Seringaiannya mulai nampak saat aku menoleh menatapnya.

“SMS dari Minho, eh?” kenapa dia bisa tahu?

“Ne, tapi aku tak berniat membalasnya,” jawabku kalem. Baru kusadari, aku tak memerhatikan pertandingan di hadapanku ini. Aku mendesah begitu melihat papan skor sudah menampakkan angka 25 – 15.

“Tenang saja, mereka akan maju sebentar lagi. Ini sudah quarter kedua,” tiba-tiba Key berceletuk. Aku menoleh menatapnya, lalu kembali melemparkan pandangan ke lapangan.

“Csh,” decakku pelan. Benar-benar membuatku kesal, si Key itu. Sambil menggigit bibir, aku memberanikan diri mengambil kembali ponselku, dan mengetikkan pesan balasan untuk Minho.

To : Minho

Di bangku penonton. Hwaiting!

Aku mendengus menahan tawa ketika membaca ulang balasanku untuknya. Terkesan sangat kaku, pabo, dan aneh. Tapi toh akhirnya aku menekan tombol ‘send’ juga. Key hanya mengamatiku yang senyum-senyum sendiri.

“Kau membalas pesannya? Wah, kemajuan,” aku meninju lengan atasnya begitu mendengarnya. Ia hanya nyengir 3 jari, membuatku mengerucutkan bibir.

“Apaan sih kau,” dan beberapa saat kemudian, pertandingan sudah selesai dengan skor 28 – 20 untuk Cube. Ponselku kembali berdering.

From : Minho

Jiyoung ada di sini. Kau tidak masuk?

TBC

AKHIRNYAAAAA #plakkk lanjutan gak akan lama, karena selesai di tulis semua baru di post. Huehehe #plakk

Otte? Otte?? Anehkah?? Well, ini hanya obsesi author aja kok. Pertama kali bikin main cast YOU secara chapter. Huahahaha #PLAKKK

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

40 thoughts on “Be Mine [1.3]”

  1. Aaa.. Di MV sherlock minho bener2 keren bgt.. Apalagi pas di bagian ‘bitnadta….sarajyeo..’ aaa…. aku meleleh kena flaming charisma-nya.. Hahaha..
    Aaa.. Sepertinya minho jg naksir yeoja-nya yah..??
    Nice, chingu.. Feel-nya dapet.. Smentara aku berpaling ke minho dlu ah.. Mianhae jjongie oppa#DUAGH
    Next.. Next..

  2. kereeeenn
    kaya’nya si minho itu suka ama si yeoja itu.
    cman gara” si jiyoung noh jadinya cast yeojanya gak berani maju.
    #maennebakajasih^^
    lanjooot

  3. kyny happy ending nih nanti…….
    kenapa motornya minho harus motor hitam dan helmnya pun hitam merah….sama kayak punya masnya…………..
    /jadi curcol
    berasa baca buku curhatan sendiri abisnya 🙂

  4. namja tampan versi mading.. hahahaha
    selalu ngakak tiap bc itu.. lol

    “Ne , tapi jangan persalah gunakan kepercayaanku, arra?” — ‘jangan menyalahgunakan kepercayaanku’ ya sayaaaang ^^

    seru seru
    itu minho kyknya jg suka sama si Aku/You itu ya..

    ditunggu lanjutannya

  5. annyeong author…
    aku new reader *deep bow
    bikin geme deh sama sikap nya si____. keke~~
    bagus ceritanyaaa.. *acung 4 jempol
    lanjut part selanjutnyaaa….

  6. aigoooo, ya ampuuun #abaikan.
    ff-nya seru bikin mesem2 sndiri, cast ceweknya juga nyantai, gak berlebihan. pokoknya top deh!
    jnki suka sama cewek itu ya?

    keep writing!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s