5 Years Ago…

5 Years ago…

Tittle : 5 years ago …

Author : allaftbalks

Main cast :

–          Choi Minho

–          Shin Hyori (OC)

–          Kristal Jung

–          Lee Taemin

–          Choi Sully

Other cast :

–          SHINee’s Member

–          Choi Siwon

Genre : romance

Rating : G

Length : oneshoot

N.B : murni pikiran sendiri. Kalo ada kesamaan tokoh atau alur cerita mohon maaf.

 

Author POV

            Hujan deras yang mengguyur kota Seoul tak kunjung berhenti. Seorang namja berpawakan tinggi tegap duduk menatap keluar. Dengan gelisah ia terus menatap keluar café, sepertinya namja itu sedang menunggu seseorang. Hujan semakin deras, namun seseorang yang di tunggunya belum juga datang.

            Tak lama kemudian, pintu kafe di buka oleh seorang yeoja berambut coklat tua. Yeoja itu kemudian menghampirinya.

“minho oppa” teriaknya.

Namja yang di panggilnya ‘minho’ itu langsung terkejut.

“lama sekali kau, aku sudah bosan menunggumu” katanya datar.

“mianhae oppa, tadi aku kehujanan jadi aku terpaksa meminta Sica oenni mengantarku ke sini”

“okee, aku maafkan sekarang kau mau pesan apaa ?” Tanya namja.

“terserah oppa” jawab yeoja itu.

            Lalu namja bernama Minho itu, memanggil seorang pelayan yang berjalan di depannya.

“mianhae, tolong bawakan saya 2 cangkir kopi”

“tunggu sebentar” kata pelayan itu dengan sopan.

            Kemudian, Minho memperhatikan yeoja di depannya dengan seksama. Manik hitamnya menelusuri setiap jengkal tubuh yeoja itu.

“wae oppa ? ada yang salah dengan ku ?” Tanya yeoja itu, risi karena di lihat seperti itu.

“aniyo, hanya saja kau tampak berbeda hari ini” jawab Minho.

“tadi Sica oenni memaksaku untuk berdandan, apakah hasilnya jelek huh ?” jawabnya dengan malu-malu.

“tidak apa-apa, kau tampak lebih cantik”

            Semburat merah langsung menyergap pipi yeoja tersebut. Wajahnya tampak lebih lucu. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri mereka.

“silahkan ini kopinya”

“gamsahamnida”

            Dengan di temani 2 cangkir kopi, mereka berdua bercengkrama sampai hujan reda dan hari sudah mulai gelap. Tapi nampaknya dari salah satu dari mereka tidak menyadari, ada sepasang mata yang selalu memperhatikan gerak-gerik mereka. Dan sepasang mata itu Nampak kecewa.

                                                                                    —

            Udara kota Seoul sedikit lebih lembap, mungkin karena hujan yang mengguyurnya tadi. Dengan santai, Minho berjalan menyusuri jalanan kota Seoul sendirian. Hari ini, entah mengapa dia ingin sekali bertemu dengan Krystal. Seorang Yeoja yang akhir-akhir ini menghantui pikirinnya.

            Dia tidak mengetahui apa yang menyebabkan dia sering memikirkan Krystal. Mungkin Karena wajah Kristal mirip dengan seseorang yang di cintainya dulu. Entahlah, tapi bagi Minho ada sesuatu di diri Kristal yang membuatnya merasa nyaman.

            Minho melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam 9 malam. Itu artinya hari ini, Minho lupa menjenguk Taemin di rumah sakit. Teman satu groupnya itu memang sudah 1 minggu ini di rumah sakit. Entah karena penyakit apa, Taemin tidak ingin memberitahu siapapun.

            Sebenarnya Minho ingin sekali bertemu dengan Taemin. Tapi tidak mungkin juga, karena sekarang jam besuk sudah habis dan mungkin saja Taemin sudah istirahat.

            Sesampainya di apartement, Minho langsung menghambur kekamarnya. Tak peduli pada tatapan heran hyung-hyungnya.

“Minho kau kenapaa ?” Tanya Onew Hyung.

Minho tidak menjawab,

“sudah lah hyung, dia sedang patah hati” kata Key.

“enak saja ! aku tidak sedang patah hati !” teriak Minho dari dalam kamarnya.

Semua Hyung-hyungnya yang lagi menonton TV langsung tertawa.

                                                                                    —

            Salju mulai turun, dan udara dingin pelan-pelan masuk melalui jendela apartement yang sengaja di buka oleh Key. Onew, Jonghyun, dan Minho masih terlelap. Dengan susah payah, Key (ibu dari mereka) membangunkan mereka.

“bangun hyung !” teriak Key di kuping Onew. Tapi Onew hanya ngulet dan melanjutkan tidurnya lagi.

“Ya !! bangun sudah siang !!” teriak Key. Jonghyun langsung merespon dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.

“aku sudah bangun Key !” teriak Onew di balik selimutnya.

“sudah bangun bagaimana ? ayo cepat bangun ! kita akan menjenguk Taemin di rumah sakit !”

            Setelah mendengar kata ‘kita akan menjenguk Taemin dirumah sakit’ Minho langsung terbangun.

“jinjjayo ?” Tanya Minho.

“nde ! makannya kau cepat bangun dan mandi !”

Dengan sigap Minho langsung berlari ke kamar mandi. Di susul dengan Jonghyun yang berjalan sempoyongan di belakangnya.

“sekarang tinggal kau yang belum bangun Hyung ! yang lainnya sudah pada mandi !” Key semakin sebal, dengan kasar di menyibak selimut Onew.

“apa-apaan ini ? tidak sopan !” kata Onew lalu menarik selimutnya kembali.

“hyung, kau tidak ingin menjenguk Taemin ?” Tanya Key.

“kita akan menjenguk Taemin ?” Taanya Onew.

“nde Hyung, kau tidak dengar tadi aku sudah teriak-teriak ?”

“mianhae, aku tadi sangat pulas tertidur”

“ya sudah sana kau cepat mandi !”

            Lalu Onew pun beranjak dari tempat tidurnya. Ini kebiasaan mereka ber 5 (bersama Taemin) jika pagi hari. Selalu saja, ada keributan kecil yang di timbulkan oleh 5 pemuda itu. Dan jika hal ini terjadi, pasti Key yang kelimpungan karena dia merasa punya tanggung jawab penuh atas mereka ber 4.

“Minho ! cepat mandinya ! sebentar lagi jam besuk akan habis !” teriak Jonghyun dari luar.

“sebentar lagi hyung !” jawab Minho dari balik kamar mandi.

“sudah lah hyung ! kau tinggal cuci muka saja dan gosok gigi !” kata Key yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.

“aisshh, Minho ini benar-benar …” dengan kasarnya Jonghyun menyalakan kran westafel dan membasuh mukanya.

            Setelah ke 4 namja tersebut selesai, mereka berangkat ke salah satu rumah sakit tempat Taemin dirawat. Di mobil pun keributan terjadi lagi. Mereka ber 3, kecuali Minho terus bernyanyi sepanjang jalan. Dan Minho hanya berkutat dengan PSPnya.

                                                                                                —

            Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung berlari menuju kamar Taemin. Di dalamnya terbaring, tubuh kurus Taemin yang di hiasi dengan berbagai macam kabel-kabel. Muka Taemin tampak leih pucat dari sebelumnya.

“Taem .. apakah kau baik-baik saja ?” Tanya Key yang langsung duduk di samping tempat tidurnya.

Taemin hanya menganggukan kepalanya “aku tidak apa-apa hyung !”

“tapi wajah kau, tampak lebih pucat dan tubuh kau tampak lebih kurus, apa yang terjadi ?” Tanya Onew dengan muka datarnya.

“aku benar-benar tidak apa-apa hyung, hanya sedikit bosan” jawab Taemin polos.

            Melihat keadaan Taemin, Minho hanya bisa menatapnya nanar. Dia sangat menyayangi Taemin, baginya Taemin adalah adik kesayangannya. Suatu hari dia sempat berfikir, jika Taemin meninggalkannya tapi fikiran itu langsung di tepisnya.

“Taem, apakah kau sudah makan ?” Tanya Minho.

“sudah hyung, tadi temanku datang menjenguk” jawab Taemin dengan senyuman cute-nya.

“teman ?” Tanya Minho penasaran.

“ohh, dia nonna ku hyung kau tak akan mengenalnya” jawab Taemin dengan sedikit gugup.

Minho hanya menatapnya aneh, “ada sesuatu yang di sembunyikannya” batinnya.

                                                                                    —

30 menit sebelumnya, di rumah sakit …

            Taemin berbaring lemah di kasur berseprei putih itu. Matanya menatap sekeliling ruangan itu. Ruangan dengan besar 10×10 itu, kini mengurungnya. Di tubuhnya tertempel beberapa kabel, yang menopang hidupnya. Sebenarnya dia sangat benci tempat itu, selain tempat itu mengurungnya, dia juga tidak suka bau obat yang sangat menusuk itu.

            Kini tubuhnya semakin kurus, mungkin sudah 2 hari lebih dia tidak makan apa-apa. Dan hari ini sepertinya berat badannya akan berkurang lagi.

Ckleeekk

            Suara pintu di buka, Taemin langsung menatap ke arah pintu. “mungkin suster” batin Taemin. Tapi…

“Taemin-ahh” teriak sebuah suara.

Itu bukan suara suster, melainkan suara seorang yeoja yang sangat di kenalnya. “nonna ?”

“Taemin-ahh” suara yeoja itu semakin dekat dengannya.

“nonna ? apa yang kau lakukan di sini ?” Tanya Taemin.

“ya ! Taemin ! untuk apa aku pagi-pagi datang ke sini kalau tidak ingin menjengukmu !” bentak seorang yeoja yang dipanggil Taemin dengan ‘nonna’.

“tapi nonna, bisa saja Minho hyung kesini dan kemungkinan kalian akan bertemu, apa kau tidak takut ?” Tanya Taemin sedikit was-was.

“tenanglah Taemin” jawab yeoja tersebut.

“nonna, tapi bukankah kau sedang di amerika sekarang ?”

“aigoo taemin-ah, aku sudah pulang 1 minggu yang lalu ”

Taemin hanya membulatkan mulutnya. Seorang yeoja yang dipanggil Taemin nonna itu, memperhatikannya. Taemin yang merasa risi di lihat seperti itu langsung complain.

“kenapa nonna ?” Tanya Taemin.

“kau semakin kurus” jawab yeoja tersebut.

“Hyori nonna, aku sudah 2 hari ini tidak makan wajar kalau badanku semakin kurus” Taemin menjawab dengan membulatkan matanya.

“berarti hari ini kau harus makan Taemin-ah” kata Hyori lalu mengambil sebaki makanan yang telah di siapkan suster di samping meja tempat tidur Taemin.

                                                                                    —

            Seorang namja berpawakan tinggi itu berjalan mengelilingi sungai Han sendirian. Dari ekspresi wajahnya terlihat dia sedang memikirkan sesuatu. Mata namja yang bulat itu terpaku pada sebuah tempat duduk di tepi sungai Han.

            Dulu sekitar 5 tahun yang lalu dia menduduki bangku itu bersama seorang yeoja yang sangat di cintainya. Tapi mungkin kenangan itu sudah di kuburnya dalam-dalam, saat mengetahui yeoja tersebut berencana ke amerika.

            “aishh kenapa aku harus mengingatnya !” bentak Minho dalam hati.

            Dengan langkah cepat Minho berjalan kea rah apartemennya. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya. Sorot mata itu sama seperti sorot mata itu, Nampak kecewa.

                                                                                    —

Shin Hyori P.O.V

1 minggu yang lalu …

            “Annyeonghaseyo Seoul” teriakku saat aku menginjakan kaki di bandara international incheon. Aku sangat merindukan suasana di Kota ini. Merindukan keluarga ku, teman-temanku, dan seseorang yang sangat special untuk ku.

            Setelah mengecek barang bawaanku, aku berjalan menuju Lobi. Suasana Bandara tampak asing bagiku, padahal baru 5 tahun aku meninggalkan kota ini.

“Hyori unnie !” teriak suara seorang yeoja yang tidak asing bagiku. Aku menyebar pandanganku untuk mencari sumber suara itu.

“Krystall !!” teriakku, saat mengetahui siapa yang memanggilku.

“Hyori unnie, aku sangat merindukanmu” rengeknya.

“kau ini !” kata ku sambil tersenyum. Lalu Krystal memelukku.

“unnie, apakah kau tidak capek ? sini aku bantu bawakan barang-barang mu” tawar Krystal sambil merebut 2 tas koper besar yang akuu bawa.

“aigooo Krystal-ya, aku masih sama seperti dulu” kata ku.

            Lalu kami berjalan keluar lobi. Di sana sudah ada sopir yang menunggu. Krystal menyuruhku masuk kedalam mobil. Di mobil, aku bercerita tentang studyku di Amerika, dan Krystal dia bercerita tentang seorang namja yang sangat ia sukai.

            Selang beberapa waktu, akhirnya kami sampai di sebuah rumah berdesain tradisional korea. Yap ! ini rumah kami –aku, Krystal, dan Jessica. aku bukanlah keluarga mereka, hanya saja orangtua kami adalah partner kerja dan mereka menyuruh ku, Jessica, dan Krystal tinggal di rumah ini.

            Suasana rumah tampak sepi, mungkin Jessica sedang pergi. Setelah meninggalkan kota ini selama 5 tahun, aku sangat merindukannya. Aku berjalan menuju kamarku dan menaruh 2koper besar ku disana.

“Unnie, lebih baik kau mandi dan tidur. Matamu tampak lelah” kata Krystal mengagetkanku.

“aigoo Krystal-yaa, kau ini ! baiklah !” ujarku sambil mengacak-acak rambutnya.

            Lalu Krystal pergi entah kemana. Sepeninggalan Krystal, aku membuka lemari ku. Tak banyak baju disana, hanya beberapa baju yang sengaja aku tinggalkan. Aku menutup kembali lemariku, dan berjalan membuka jendela. Di luar salaju mulai turun, dan hawa dingin pelan-pelan masuk ke kamarku.

            Mataku tertuju pada sebuah kotak kecil yang terletak di atas meja belajarku. Penasaran, aku membukanya. Setelah melihat isinya, hatiku terasa seperti di tusuk ribuan pisau. Aku mengambil cincin itu. Yap ! cincin, cincin pemberian namja yang sangat aku cintai.

            Tak terasa, air mataku mengalir. Aku langsung mengusapnya, takut Krystal melihatku menangis. Setelah meletakkan kembali cincin itu, aku menutup kotaknya dan menyimpannya di dalam laci lemariku. Seperti aku menyimpan kenangan-kenangan bersama namja itu, di hatiku.

                                                                                                —

Minho P.O.V

Di waktu yang sama …

            “sudah lebih dari 5 tahun ini kau pergi nonna, bahkan aku tidak tau kau pergi kemana” kataku sambil menatap fotoku bersama seorang yeoja yang ku panggil nonna. Sekali lagi aku menatap foto itu. Foto yang diambil sekitar 5 tahun yang lalu. Foto dimana aku, dan seorang yeoja yang sangat aku cintai.

            “Ya ! Minho ! dia sudah pergi meninggalkan mu ! lupakan diaa !!” bentakku pada diriku sendiri. Aku melihat-lihat isi kamarku, lebih tepatnya kamar ‘kami’ karena disini lah tempat kami –aku, Onew hyung, Jonghyun hyung, Key hyung, dan Taemin- tidur.

            Aku membuka laci meja ku, di sana terdapat sebuah kotak kecil berwarna biru dengan motif love-love kecil yang cantik. Perlahan-lahan aku membukanya, isinya sebuah cincin dengan tulisan MH di bagian dalamnya. Sakit, hanya rasa itu yang dapat aku rasakan saat mengetahui isi dari kotak kecil itu.

            Bodoh ! tak seharusnya aku membuka laci ini. Karena didalamnya banyak sekali kenangan bersama yeoja itu. Selain kotak kecil itu, ada lagi kotak yang lebih besar lagi. Mungkin sudah lebih dari 5 tahun ini aku tidak membuka laci itu lagi.

            Karena di sanalah memori-memori bersama’nya’ berada. Dari awal aku mengenalnya, bersamanya, hingga akhirnya dia meninggalkanku. Semua terangkum dalam sebuah laci itu. Sudah cukup foto dan cincin itu, aku tidak boleh mencari-cari barang yang lainnya lagi. Dengan kasar aku menutup kembali laci itu, seperti aku menutup kembali kenanganku bersama Yoeja itu.

                                                                                    —

Author P.O.V

1 minggu kemudian, malam hari di summer café …

            Hyori melangkahkan kakinya ke sebuah kafe yang lumayan terkenal di kota Seoul. Sesekali dia menghidari genangan air akibat hujan. Tapi matanya tertuju pada sosok namja yang sedang duduk di tepi jendela. Ragu-ragu dia memastikan wajah namja tersebut.

            Lalu dengan langkah pasti, Hyori memasuki kafe itu. Di dalam kafe, suasananya sangat hangat beda sekali dengan udara di luar. Hyori memilih tempat duduk yang agak jauh dengan Namja itu, tapi tetap saja masih bisa melihat gerak-geriknya.

“silahkan, kau mau pesan apaa ?” tanya seorang pelayan dengan sopan.

“vanilla latte” jawab Hyouri, dengan mata masih memerhatikan Namja itu.

“tunggu sebentar” kata pelayan itu lagi, sambil berlalu menginggalkan meja yuri.

            Mata Hyori masih terpaku pada sosok namja itu. Namja yang membuatnya saat ingin kembali ke Seoul, namja yang memberikan ia cincin, namja yang sangat berarti baginya. Wajah namja itu masih sama seperti yang dulu. Dengan mata bulat besar yang menjadi ciri khasnya.

“sialahkan pesanannya” kata pelayanan kafe, sambil menaruh cangkir berisi vanilla latte di meja.

“kamsahamnida Kim Jeong Soo-ssi” kata Hyori sambil tersenyum.

            Hyori meneguk vanilla lattenya saat pintu di kafe di buka oleh seorang yeoja yang sangat dikenalnya. Ya ! itu Krystal, dan dia berjalan menuju tempat namja itu berada.

“uhukk uhukk uhukk !!” Hyori terbatuk-batuk, mungkin karena kaget ia meminum vanilla lattenya terlalu banyak dan membuatnya tersedak.

Ia masih tidak bergeming, dan memperhatikan gerak-gerik mereka. Sampai akhirnya dia sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya. Dengan buru-buru dia membayar billnya, dan berlari keluar kafe. Tak peduli pada tatapan heran pengunjung kafe yang memperhaikannya.

                                                                                    —

Shin Hyori P.O.V

Di waktu yang sama …

            Ya ! aku tidak menyangka kau menyukainya Krystal Jung ! teriakku kesal, saat aku tengah berada di sungai han. Sungai  yang telah memberiku kesan mendalam pada seorang namja yang baru ketemui di kafe tadi.

            Dengan kesal, aku duduk di sebuah bangku tempat kami sering bersama ‘dulu’. Aku memperhatikan setiap orang yang berjalan berlalu lalang di sekitar ku. Saat aku memperhatikan orang yang lewat didepanku, saat itu juga aku menemukan sosok namja itu.

            Yup ! namja itu berdiri lebih tepatnya berjalan di depanku. Aku nyaris tidak percaya. Namja itu berjalan di depanku, dan aku dengan bodohnya hanya memandangnya tanpa memanggilnya. Oh Tuhan ! batapa bodohnya aku ! padahal aku sangat merindukannya ! yeoja babo ! bentakku.

                                                                                    —

Author P.O.V

            Dengan hati-hati Taemin menyibakkan selimut putih yang menyelimutinya. Perlahan-lahan dia duduk dan bangkit dari kasurnya. Tapi apa daya, baru sada dia bangkit untuk berdiri tubuhnya langsung ambruk. Untungnya Minho terbangun dan membantunya berdiri.

“Taemin-ah kau mau kemana ?” Tanya Minho khawatir.

“aku bosan Hyung, aku ingin jalan-jalan” jawab Taemin dengan wajah lesu.

“aigoo Taemin-ah, kau bisa membangunkanku” kata Minho setengah berdecak.

“aku tidak ingin merepotkanmu hyung” ujar Taemin dengan senyuman khasnya.

            Lalu Minho membantu Taemin untuk tiduran di kasurnya lagi. Tiba-tiba knop pintu di buka oleh seorang yeoja.

“Taemin oppa, aku sangat merindukanmu” teriak seorang yeoja yang langsung menghambur memeluk Taemin. Dengan muka yang seakan-akan biasa saja, Taemin hanya tersenyum kecut.

“Ya ! Choi Sully ! kau tak lihat keadaan Taemin ? dia masih lemah tak seharusnya kau memeluknya dengan kasar seperti itu !” bentak Minho.

“sudahlah hyung, aku tidak apa-apa” kata Taemin dengan senyuman getir.

            Terlihat sekali diwajahnya, bias-bias kesakitan karena mendapat pelukan yang sangat keras dari seorang Choi Sully. Taemin hanya tersenyum kecil sambil mengelus-elus rambut coklat tua Sully.

“Taemin oppa ! apa semua kabel-kabel itu membuatmu sakit ?” Tanya Sully di dalam pelukan Taemin.

“tidak Sully, kabel-kabel itu tidak membuatku sakit malahan kabel itu  membuatku lebih baik” kata Taemin.

Minho yang melihat adegan mesra sepasang kekasih itu mencibir “ sudahlah ! kalian membuatku iri saja” teriaknya.

“mendingan oppa keluar saja, daripada mengganggu kita !” cibir Sully. Tanpa sepatah katapun Minho meninggalkan mereka berdua.

                                                                                                —

            Udara di luar sangat dingin. Salju mulai turun dengan derasnya. Minho berjalan di sekitar Rumah Sakit, sudah lebih dari seminggu ini Taemin di rawat di rumah sakit ini. Tapi ia tidak pernah tau penyakit Taemin. Padahal Taemin sudah sering keluar masuk rumah sakit.

            Dengan santai Minho berjalan di sekitar rumah sakit. Sesekali dia merekatkan jaketnya. Dulu dia bersama ‘yeoja’ itu sering sekali menyambut datangnya salju bersama. Tapi .. sudahlah itu semua sudah berlalu.

“Minho !” teriak sebuah suara.

Minho membalikan badannya. Onew dengan senyuman khasnya berjalan ke arahnya.

“kenapa kau di sini ? bukankah kau sekarang sedang menjaga Taemin ?” Tanya Onew heran.

“sudah ada Sully, jadi kurasa aku bisa jalan-jalan sebentar” jawab Minho.

“Baiklah ! apakah kau sudah makan ?”

“belum hyung”

“aku akan ke kamar Taemin dulu ! sebaiknya kau makan aku membawakan makanan lebih untuk kalian, jika kau lelah kau bisa menelfon ku atau Jonghyun untuk bergantian menjaga Taemin” kata Onew.

“kau baik sekali hyung, taruh saja di meja nanti aku memakanannya” Ujar Minho.

“baiklah ! kau mau kemana ?”

“aku ingin jalan-jalan sebentar, rumah sakit benar-benar membuatku penat”

“pulanglah sebelum Sully pulang, Taemin lebih penat daripada kau Minho”

“nde Hyung”

                                                                                    —

  Krystal P.O.V

Sungai han di waktu yang sama …

“Hyori unnie apakah kau sudah selesai melukisnya ?” tanyaku pada Hyori unnie yang duduk membelakangi ku.

            Tapi Hyori unnie masih diam, dan serius menggores-goreskan kuas di kanvasnya. Sudah lebih dari 5 kali aku bertanya, tetapi dia masih diam dan sangat serius. Karena penasaran aku menghampirinya.

“Hyori Unnie, apakah kau baik-baik saja ?” Tanya ku sambil menepuk pundaknya.

Tak ada reaksi.

“Hyori unnie !” aku mencoba menggoyang-goyangkan bahunya.

“aku tidak apa-apa krystal !” jawabnya lalu entah apa yang di lakukannya, tapi aku yakin dia habis menangis karena lingkaran merah di bawah matanya.

“kau menangis ?” Tanya ku.

“aniyo gwenchana” jawabnya.

            Lalu, karena penasaran aku melihat lukisan yang di buatnya. Sebuah bangku yang berada di sebrang sungai han, salju, dan sepasang cincin.

“lukisannmu bagus unnie” kata ku mencoba mencairkan suasana.

“gumawo Krystal” kata Hyori unnie.

            Hyori unnie pun melanjutkan melukisnya. Dan aku hanya memperhatikannya menggores-goreskan kuas di kanvas dan mencampur beberapa warna menjadi sebuah siluet yang bagus. Tapi lama kalamaan aku bosan, dan aku berniat beranjak dari tempat itu. Baru saja aku berdiri, seseorang memanggilku.

“Krystal !!” teriak suara itu, aku pun membalikkan tubuhku “Minho oppa !!”

                                                                                    —

Minho P.O.V

Di waktu dan tempat yang sama …

            Mungkin karena suasana rumah sakit yang membosankan, aku pun berniat pergi jalan-jalan sekedar untuk meregangkan otot. Sudah semalam ini aku bergantian dengan Key Hyung menjaga Taemin. Padahal baru semalam tapi aku sudah bosan dan ingin pergi dari rumah sakit itu.

            Dan inilah saat yang tepat untuk pergi sebentar, setelah Choi Sully –adikku yang merangkap sebagai kekasih Taemin- datang mengunjungi Taemin. Aku sangat jenuh bila melihat keduanya bermesraan di depan mataku, sungguh itu membuatku sangat iri !.

            Tapi aku belum menentukan tempat yang tepat untuk meregangkan otot-ototku. Setelah berfikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Sungai Han.

            Entah mengapa aku memilih tempat itu, padahal selain laci  sungai han termasuk salah satu sumber-sumber kenangan ku bersamanya. Ah sudahlah ! itu tidak penting lagi.

            Mungkin butuh 20 menit berjalan kaki, untuk sampai ke sungai han. Karena salju mulai turun, sungai han tampak lebih sepi dari biasanya. Aku berjalan mengitari sungai han, sampai akhirnya mataku menangkap seorang yeoja yang sedang duduk di salah satu tempat duduk di tepi sungai han.

“Kristal !” teriakku setengah berlari.

“minho oppaa !” teriaknya.

Aku menghampirinya, tapi tunggu dulu dia tidak sendirian melainkan bersama seorang yeoja.

“sedang apa kau di sini ?” Tanya ku, tapi mata ku tertuju pada yeoja yang sedang melukis dan membelakangi kami.

“ohh … aku … sedang menemani Hyori unnie melukis” kata Kristal pelan.

“Hyo…ri..?” tanyaku terbata-bata.

                                                                                    —

Hyori P.O.V

Di waktu dan tempat yang sama ..

            Hari ini entah mengapa aku sangat bosan di rumah. Aku memutuskan berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah. Tapi hal itu malah membuatku semakin bosan. Akibtanya, Kristal yang sedang asik mendengarkan lagu di kamarnya aku paksa menemaniku berjalan-jalan.

            Tidak lupa aku membawa seperangkat alat lukisku. Mungkin semenjak di amerika, inilah hobi baruku. Melukis disaat aku tidak lagi punya kegiatan penting.

“Kristal temani aku ke sungai han yaa ! aku ingin melukis disana !” rengekku saat menemukan Kristal sedang asik mendengarkan musik.

“tapi … unnie di luar salju masih turun dan udara pasti sangat dingin” kata Kristal dengan nada sedikit pelan.

“ayolaahh Kristal !” rengekku, dan rengekanku berhasil membuat hati Kristal luluh.

“Arraseo unnie ! tapi aku ganti baju dulu kau tunggu di depan yaa !” kata Kristal.

            Lalu aku beranjak dari kamarnya, dan menunggu di ruang tamu. Tak lama, Kristal keluar dari kamarnya mengenakan baju hangat. Dan kami berangkat ke sungai han dengan berjalan kaki. Sesampainya di sungai han. Aku mengeluarkan segala perlengkapan untuk melukis.

“Kristal kau dapat menungguku di situ” kataku sambil menunjukan tempat duduk di belakangku.

“arraseo unnie” katanya sambil berlalu menuju tempat duduk yang sudah aku tunjukkan.

            Tinggal sedikit goresan lagi, lukisan yang ku buat selesai. Lukisan bertemakan tempat duduk di sebrang sungai han, salju turun dan sepasang cincin. Entah mengapa hari ini aku sangat memikirkan namja itu. Aku masih sibuk menyelesaikan lukisanku, saat seseorang memanggil Kristal, dan suara itu… suara yang sangat aku rindukan.

            Dengan memeberanikan diri, aku membalikan badan. Benar dugaanku, namja itu .. namja itu berdiri tepat di depanku.

“Minho ..” kata ku sepelan mungkin agar namja itu tidak mendengarnya.

            Lalu seperti dugaanku, namja itu hanya berdiri mematung. Aku pun juga sepeti itu, berdiri mematung. Padahal aku ingin sekali menghambur memeluknya.

“kau ..” kataku.

“Hyori nonna, kapan kau pulang ?” tanyanya  dengan nada sedikit kaget dan seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami.

“aku pulang satu minggu yang lalu” jawab ku.

“ohh…” katanya.

            Hening

            Aku sibuk dengan pikiranku, mungkin Minho juga sibuk dalam pikirannya. Dan Kristal ? entahlah apa yang sedang ia pikirkan. Mungkin dia berpikir bagaimana mencairkan suasana ini. Lalu entah dari mana setan yang merasuki Minho, ia bertanya ..

“lukisanmu bagus nonna, sejak kapan kau suka melukis ?” tanyanya, mata bulatnya memeperhatikan hasil lukisanku.

“aku menyukai melukis sejak aku di Amerika” jawab ku.

            Tapi walaupun dia bertanya seperti itu. Masih tetap suasananya canggung. Dan aku belum menemukan topik yang bagus untuk mencaikrkan suasana ini.

“lihatlah, suangai han tampak lebih cantik saat salju turun” seru Kristal.

            Seruan Kristal tidak dapat mencairkan suasana canggung ini. Karena aku tidak suka suasana seperti ini aku pun berniat pergi meninggalkan sungai han. Saat aku sedang membereskan alat lukisku. Tiba-tiba tanganku di pegang oleh minho.

“wae ?” Tanya ku.

“tunggulah di sini sebentar, aku ingin berbicara denganmu” jawabnya.

“lalu kristal ?” tanyaku lagi.

“Kristal, tolong tinggalkan kami sebentar” kata Minho, lalu dengan patuh Kristal meninggalkanku dengan Minho berdua.

                                                                                    —

Author P.O.V

            Mereka berdua, Minho dan Hyori duduk dalam diam. Sepertinya diantara mereka, tidak ada yang tertarik memulai percakapan. Mungkin karena bosan, akhirnya Hyori memulai pembicaraan.

“wae ?” Tanya Hyori.

“aku butuh penjelasan tentang kejadian sekitar 5 tahun yang lalu” jawab Minho, matanya masih memperhatikan orang-orang yang berjalan di depannya.

“sudahlah, kau jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi” kata Hyori.

“Ya ! nonna kau dengan mudah bicara seperti itu tapi aku sangat butuh penjelasaanmu !” bentak Minho.

“mianhae Minho, waktu itu aku sangat terburu-buru jadi aku belum sempat menjelaskan kepadamu tentang keadaan ku” kata Hyori sambil menundukan kepalanya menekuri jalanan.

“kau dengan mudahnya meninggalkanku, saat aku benar-benar mebutuhkanmu nonna” Minho menghela napas sebentar, “kau benar-benar jahat Nonna !” tambahnya dengan nada sepelan mungkin.

“mianhae Minho, aku belum sempat memberitahumu tentang ke pergianku ke amerika”

“sudahlah nonna, tapi kenapa di saat aku sudah bisa melepaskanmu, kau datang lagi nonna ? wae ?” pertanyaan itu membuat dada Hyori sesak.

“Mianhae Minho” hanya itu yang dapat di katakan Yuri.

            Pikirannya berusaha mencerna pertanyaan Minho. “apakah aku sejahat itu ?” Tanya Hyori dalam hati. Minho pun beranjak dari duduknya.

“chakkaman ..” teriak Hyori, sambil menarik lengan baju Minho.

“wae?” Tanya Minho tanpa membalikan badannya.

“aku ingin berbicara dengan mu, temui aku di summer kafe jam 7” kata Hyori.

“aku tidak janji” kata Minho, lalu seolah di perintah tangan Hyori melepaskan baju Minho.

                                                                                    —

Drrtt drrtt drrt …

            HandPhone Minho bergetar tanda telefon masuk. Dengan sigap dia memencet tombol hijau.

“Ne ..” katanya ditengah-tengah ia berjalan.

“oppa, siwon oppa sudah dating cepatlah pulang !” teriak suara di sebrang sana.

“siwon hyung ? kapan dia pulang ?” Tanya Minho.

“ne, molla” jawab suara di sebrang sana.

“oke sully, aku akan pulang” kata Minho lalu menutup telfonnya.

            Dia langsung berlari ke halte terdekat. Karena jarak rumahnya dengan sungai han agak jauh. Tak lama kemudian, sebuah bis berhenti di depannya.

            Di dalam bus, ia masih memikirkan tawaran Hyori. Sebenarnya dia sangat mencintai Hyori. Tapi saat bertemu tadi, entah mengapa suasana menjadi canggung. Seolah-olah dia dan Hyori tidak saling kenal bahkan tidak pernah bertemu.

            Bis pun sampai di halte di sebuah desa kecil. Lalu dengan mantel yang di rekatkan Minho berjalan keluar  dari halte tersebut. Udara di desa itu lebih dingin dari pada di kota. Atau mungkin karena salju sudah mulai turun lebih deras lagi.

            Kaki Minho berhenti pada sebuah rumah yang lumayan besar. Setelah berfikir cukup lama akhirnya Minho memasuki rumah itu.

“YA ! Minho ! kau lama sekali” baru masuk saja dia sudah di marahi oleh ayahnya.

“mianhae appa, tadi ada urusan sebentar” kata Minho sambil melepas matelnya.

“Minho !!” teriak seorang namja dari ruang keluarga.

“hyung !” Minho langsung berlari menghambur ke arah seorang namja yang di panggilnya hyung itu.

            Setelah berkangen-kangenan, Siwon mengutarakan arti dari kepulangannya ke Seoul.

“jadi begini appa, aku sudah bertemu dengan jodohku” kata Siwon sedikit malu-malu yang langsung dapat sambutan meriah.

            Mereka semua berkumpul di ruang keluarga, di temani dengan 5 cangkir kopi dan beberapa kudapan-kudapan kecil.

“jinjja?”Tanya Ayah mereka tak percaya,

“ne appa, dan aku ingin memperkenalkannya pada kalian besok” jawab Siwon.

“apakah kau mengenalnya saat di amerika oppa ?” Tanya Sully yang sedikit berdecak.

“ne, dia sangat baik dan cantik” jawab Siwon.

“tapi bagaimana kita bisa berkenalan dengannya, sedangkan dia orang amerika ?” Minho Nampak sedikit kesal.

“aniya Minho, di orang Seoul” ujar Siwon, yang langsung membuat Minho kaget.

“apakah yeoja itu bernama Hyori ?” tebak Minho.

“bagaimana kau bisa tau ?” siwon balik bertanya.

            Minho diam. Kini pikirannya di penuhi oleh keputusan siwon yang akan menikahi Hyori. Entah mengapa, Minho langsung berfikiran bahwa itu Hyori. Dan ternyata fikirannya itu benar. Minho melirik jam dinding, sudah jam 7 dan dia ingat tawaran Hyori siang tadi.

“aku keluar sebentar” Minho mengambil mantelnya dan keluar rumah.

                                                                                                —

            Sesampainya di kafe, Minho menyebar pandangannya ke seluruh sudut kafe. Mencari keberadaan Hyori.

“Minho !” teriak sebuah suara.

            Terlihat seorang yeoja dengan mantel pinknya. Wajahnya Nampak lebih berseri-seri. Dan itu membuat Minho tidak nyaman. Minho berjalan ke arahnya.

“aku kira kau tak akan datang” kata Hyori dengan mimik muka memelas.

“aku tau alasan kau pulang nonna” kata Minho yang langsung membuat Hyori kaget.

“aku pulang karena ingin bertemu denganmu” kata Hyori sedikit menutup-nutupi sesuatu.

“aniya nonna, kau pulang karena kau akan menikah” mendengar itu dada Hyori rasanya sangat sesak.

“kauu … tau dari siapa ?”Tanya Hyori.

“siwon hyung yang memberi tahuku, selamat nonna ! oh ya urusan cincin yang ku berikan padamu 5 yang lalu anggap saja sebagai hadiah pernikahanmu” kata Minho lalu beranjak dari kursinya.

“tapi…” percuma saja, Minho sudah pergi.

                                                                                    —

5 month later…

            Hyori memandangi wajahnya di cermin. Kini wajahnya Nampak lebih cerah di banding 3 minggu yang lalu. Hari ini, hari pernikahannya bersama Siwon. Entah apa yang ada di fikirannya sehingga ia mau menerima lamaran Siwon.

            Hyori masih menatap bayangannya di cermin. Mungkin jika ia dulu mau menerima tawaran Minho akhirnya tidak mungkin sesesak ini. Tanpa terasa air matanya menetes, membasahi pipi merahnya.

“mengapa kau menangis unnie ?” Tanya Kristal yang sedari tadi menemani Hyori di sebuah ruangan.

“aniya Kristal, hanya saja mungkin keputusanku terlalu cepat” jawabHyori, lalu mengusap air matanya dengan tisu.

“unnie pilihanmu tidak salah, aku pantas bersanding dengannya” kata Kristal mencoba menghibur Hyori.

            Tapi tetap saja perasaan Yuri tidak bisa di bohongi. Kalau boleh memilih dia lebih memilih tidak menikah sama sekali, dari pada dia menikah tapi hatinya tidak tenang.

“Hyori-ssi kau sudah di tunggu oleh mempelai pria di atas altar” kata seorang yeoja dari balik pintu ruangan itu.

“hwaiting unnie, pilihanmu tidak salah” Kristal menyemangatinya.

                                                                                    —

Minho P.O.V

Diwaktu dan tempat yang sama …

            Mungkin inilah akhir dari hidupku. Melihat wanita yang paling aku cintai bersanding dengan hyungku sendiri. Entahlah, aku lebih ingin mati dari pada melihat mereka mengucapkan janji suci itu di atas altar.

            Setelah mengenakan jas ku, aku berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan. Di sampingku terdapat sully, wajahnya sangat berseri-seri berkebalikan dengan wajahku yang sangat buram dan kusam.

            Sebentar lagi acara akan di mulai. Di depanku Siwon hyung dengan balutan jas hitamnya tampak lebih tampan. Dan di sebelahnya, sudah lah aku tidak ingin memperhatikannya lebih jelas lagi. Sudah cukup aku mau duduk di sini melihat mereka.

            Prosesnya tidak lah lama hanya beberapa menit saja mereka sudah resmi menjadi suami istri. Oke setelah acara ini selesai aku ingin cepat-cepat pergi. Sekilas wajah Hyori sangat berseri-seri mungkin dia sangat senang. Sudahlah aku tidak suka acara ini, acara ini membuat dadaku lebih sesak lagi. Mendingan aku menunggu mereka di luar greja ini.

            Aku berjalan melewati mereka –para tamu undangan- ke luar bangunan greja ini. Sepertinya air mata ini, sudah ingin mengalir. Sesampainya di luar, aku langsung mencari tempat yang lebih nyaman. Dan pilihan ku jatuh ke sebuah tempat duduk di bawah pohon –entah namanya apa.

            Aku mendongakkan kepalaku menatap langit biru. Karena musim dingin sudah berlalu, langit tampak cerah hari ini. Fikiranku melayang ke kejadian 5 tahun yang lalu, mungkin sungai han dan salju menjadi saksinya. Dan cincin itu, entahlah aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tanpa aku sadari, Kristal duduk di sebelahku.

“eotteohge doengeoya Kristal ? kau tampak lebih lelah ?” Tanya ku, Kristal hanya menatap ke depan tanpa mepedulikan pertanyaanku.

Oke mungkin dia sedang sepertiku, mungkin dia menyukai Siwon hyung, entahlah.

“oppa, mungkin kita senasib” Kristal menundukan kepalanya.

“wae ?” Tanya ku heran.

“kita senasib, sama-sama di tinggal pergi orang yang kita cintai” kata Kristal. Dan itu membuat ku tambah heran.

“kau mencintai Siwon hyung ?” tanyaku penasaran.

“enak saja ! seleraku belum terlalu tua !” bantah Kristal. Aku hanya tersenyum kecil.

“lalu ?” Tanya ku.

“kau di tinggal Hyori unnie menikah, dan aku di tinggal seseorang yang sangat aku sayangi” seperti biasa, Kristal menundukan kepalanya dan menggembungkan mulutnya.

“wae ?”

“aku baru di kabari oleh Sica unnie bahwa orangtuaku kecelakaan pesawat, itu sebabnya sica unnie tidak bisa menghadiri acara ini” kata Kristal, mukannya sedikit merah mungkin ia hampir menangis.

            Entah setan dari mana yang merasuki ku. Aku menarik tubuhnya ke pelekukanku. Dan dia menangis sejadi-jadinya. Penderitaanku belum seberapa, di bandingkan dengan penderitaan Kristal. Jujur aku masih mencintai Hyori, sangat mencintainya, tapi aku lebih mementingkan kebahagiaannya. Cinta memang tak harus memiliki.

“gumawo oppa, saranghae” kata Kristal tiba-tiba.

“nado saranghae Kristal” kata ku sambil mengecup pelan ujung kepalanya, dan Kristal mempererat pelukannya.

                                                                                    END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Between Two Hearts

4 thoughts on “5 Years Ago…”

  1. MinStal, TaeLli… how I hate these couple *ditendang author*

    ceritanya menarik sih ya, bikin greget. Tapi seharusnya sebelum tanda baca kayak !, ?, itu ga ada spasinya, dan sebelum dialog ditutup itu ada titik atau komanya. Terus yg bener itu ‘noona’, bukan ‘nonna’ 🙂

    nice, keep writing ^^

  2. Aaa.. Aku penasaran sama taem-nya.. Dia knp…???
    Slebihnya.. Nice!
    Cuma bberapa kali bingung, kp tiba2 ada yuri..

  3. banyak part yg bikin bingung ==a
    yg di scene awal waktu di cafe, ‘salah satu dari mereka tidak menyadari ada sepasang mata yg sedang memperhatikan geral-gerik mereka’, itu berarti salah satu yg lainnya menyadari gitu ya?
    pas lg rusuh pagi2 itu kan mau jenguk taemin, masih pagi kenapa jam besuk udah abis-.-
    ada bagian yg tidak terceritaakan, kenapa taemin sakit? di akhir ga ada kisahnya..
    nah minstal itu akhirnya pacaran ya? dia saling bilang saranghae gitcuu:)
    masih ada typo tanda baca dan kata ^^
    kadang2 nyelip nama Yuri,

    tapi ceritanya bagus kok, orang yg dicintai nikah sama kakak. hiks. nyesek!! 😦

    hwaiting^^!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s