Just a Moment

Just a Moment

Author : Jajangmyun

Main Cast: You and Kibum (SHINee)

Support Cast: Rin Riin (imaginary)

Length: Oneshoot

Genre: Romance, life, etc

Rating(*) :  PG-15

Summary :

Ini kisahku yang kedua, untuk pertama kalinya setelah empat tahun itu, aku berani… Aku hanya berharap kisah ini bisa berakhir bahagia pada akhirnya….

29 februari 2012

²²²

Tak perlu kalian tahu siapa aku, aku hanya seorang anak perempuan berusia 17 tahun yang ingin berbagi cerita, cerita mengenai seseorang, seseorang yang aku sendiri tak mengerti, apakah ia berarti lebih atau hanya sekedar kekaguman belaka. Ntah lah, mungkin hanya kalian yang mengerti, aku mulai dari mana ya,,, mungkin dari hari itu….

            Hari itu hari sabtu, seperti biasa, sebagai siswa tingkat akhir di sekolah menengah atas, aku menambah pendalaman materiku. Menurutku hari itu sangat melelahkan, apalagi ketika kubaca jadwal yang tertera di papan “MATEMATIKA”, sial, kenapa harus bertemu segala jenis angka di saat otakku hampir pecah karena pelajaran MATEMATIKA dan KIMIA di sekolah  tadi. Aku hanya mengikuti kedua temanku yang berjalan semangat menuju ruang belajar kami.

            Tak mudah bagiku untuk dapat mencapai lantai tiga di gedung ini,, kurasa hampir sebagian nafasku tertarik karena harus menaiki anak tangga yang jumlahnya hampir sejutaan itu #author lebay. Mataku sedikit berbinar ketika akhirnya aku dapat melihat pintu ruang kelasku… yes, aku bisa duduk , kalo perlu tertidur sebentar.

            Tapi tampaknya dewi fortuna memang belum memihak padaku, ketika aku berhasil duduk di bangkuku, seseorang masuk. Dengan gaya formal yang informal itu, dia meletakkan tasnya, membuka  tutup spidol dan menuliskan sesuatu di papan. Matematika, bab eksponen.

‘baru masuk langsung belajar, sabar dikit napa?’ rutukku dalam hati, sedikit kesal melihat ‘guru’ baruku itu. Dengan santainya dia menjelaskan materi yang… yah, bukannya sombong sih, tapi aku sudah cukup mengerti kok, hahaha… kupandangi dia sekilas, ntah mengapa rasa penat tadi hilang, sedikit semangat aku mengikuti pengajaran darinya. Diamati, matanya yang sipit dan tajam,  khas orang korea kebanyakan tersimpan erat dibalik kacamata berbingkai putihnya. Badannya yang atletis membuat siapapun nyaman menatapnya.

            Benar kan yang kubilang, ketika kuedarkan pandanganku ke sekeliling kelas, kulihat banyak yeoja – yeoja murid kelas ini, termasuk temanku tadi, mengamatinya tanpa berkedip. Dasar, yeoja aneh, gak bisa lihat sesuatu yang baru dikit.

“Kalian mungkin bertanya – tanya siapa saya?” ujar ‘guru’ baru itu di sela – sela break pelajaran.Tidak sedikit anak dikelas yang serempak menjawab YA.

“Nama saya Kibum”, ia lalu berbalik dan menuliskan inisial KM di papan tulis. “Saya, bukan pengajar baru, tapi bukan pula pengajar lama di kota ini… kalian boleh memanggil saya kakak ataupun oppa,, tapi jangan memanggil saya dengan sebutan bapak,  apalagi aboeji,, karena saya belum cocok di panggil begitu”, lanjutnya diakhiri dengan sebuah senyuman yang terkembang di wajahnya yang bisa di bilang, yah, lumayan lah.

Tak ada yang menarik darinya, kecuali ya itu, pembawaannya dan caranya mengajar. Dia berbeda, dengan balutan kemeja putih dan celana coklat, tapi,, sepatunya,, ah sangat tidak mecing menurutku. Dia menggunakan sneakers, tapi menurutku gaya itu sedikit banyak cukup asik juga.

Dia kembali menjelaskan, kali ini mengenai peraturan apabila dia mengajar. Peraturan yang dimana ia membebaskan semua yang kami suka, selama kami nyaman, dan yang kusuka, dia tidak melarang tidur di kelas, berarti aku bisa memejamkan mataku sebentar lagi. Aku merenggangkan tanganku bersiap untuk melipatnya ketika tanpa kusengaja sepasang bola matanya yang sipit itu mengunci kedua mataku, membuat kantuk yang menjalar sejak tadi hilang seketika, seperti sihir, aku menurut padanya, mengikuti pelajarannya hingga sesuatu yang tak ku ingini terjadi. Jam itu habis tanpa sempat aku mengenal lebih jauh dengannya. Waktu itu kupikir, akanada banyak waktu untuk mengenalnya, karena dia pengajar di sini.

²²²

Esoknya, kupikir kejadian kemaren hanyalah sesuatu yang tak berarti, tak terlalu penting.Tapi kenapa setiap aku mulai belajar, aku selalu teringat kata – katanya.

Tersenyumlah saat mau mengerjakan soal – soal itu, walau ntar dipikir gila, tapi senyum aja, nanti pasti bisa”

Kata – kata itu memang memiliki tujuan untuk universal, tapi ntah mengapa begitu terpatri di otakku, seakan akan itu hanya ditujukan bagiku. Oh, kibum oppa,, kenapa kau mengganggu pikiranku.

Ternyata tak hanya sehari itu, berhari – hari bahkan hingga saatnya aku kembali mengikuti tambahan pelajaran. Sebuah harapan sedikit terpintas di otakku, berharap bahwa dia akan kembali mengajar di kelasku. Tapi, seketika harapan itu luntur saat kuingat hari itu adalah test pra ujian nasional, bahasa kerennya sih try out. Hufft, semoga dia yang ngawas. Ntah mengapa, aku sangat berharap kibum oppa yang akan mengawas di kelasku nanti.

Kenapa dewi fortuna itu gak pernah ada dijalanku? Disaat aku harus berhadapan dengan jutaan angka ini, lagi – lagi aku teringat dia, teringat kibum oppa.Andai ada kibum oppa, pasti aku semangat mengerjakan semua soal – soal ini. Kini aku hanya bisa menyelipkan sebuah doa di tengah – tengah doaku sebelum menjawab soal – soal ujian itu, doa agar aku bisa melihatnya walau hanya satu menit.

Aku tak mengerti dengan jalan takdir.Ya, mungkin itulah yang memang selalu dipikiran setiap manusia. Ntah kenapa, sepertinya aku mulai mempercayai kehadiran dewi fortuna, dan kekuatan pikiran yang pernah diajarkan guru fisika ku dulu. Jangankan kalian, aku saja gak mengerti bagaimana hubungan antara teori atom Rutherford dan kekuatan pikiran yang diajarkan guru itu.Tapi satu hal yang ku ingat dari pengajarannya itu.

Yakinlah, katika kalian merindukan seseorang yang mengganggu pikiran kalian, dia akan muncul dan hadir lagi di hadapan kalian”

Dan sepertinya apa yang dibilang guru itu ada benarnya juga. Aku melihatnya, kibum oppa, sedang duduk menunggu di sudut ruangan.Sesaat matanya lagi – lagi mengunciku.Menatap mataku intens membuat degupan tak nyata itu hadir di dalam dadaku. Sedikit bergermuruh layaknya kembang api di tahun baru. Rasanya aku ingin duduk saat itu juga begitu mendapat tatapan darinya.Lemas, terlalu lemas bagiku untuk melanjutkan perjalanan.Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyembunyikan rasa gugupku dengan menunduk, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan teman yang menemaniku membeli permen karet di toko seberang.Aku hanya meliriknya sedikit, melihatnya menunduk dan sedikit terbatuk.Kasihan juga melihatnya terbatuk seperti itu.Menjadi ‘guru’ pasti tidak mudah, perlu ketahanan mental dan fisik.

“Tuhan, kumohon berikan kekuatan untuknya dalam menjalani aktifitasnya”, doaku dalam hati.

Dan sampai kini, baru kusadari, itu pertemuan terakhir aku dan dia. Dua minggu berlalu, permen karet yang kubeli hari itu, yang sengaja kusimpan agar dapat kumakan di jam pelajarannya kini tak jelas bentukannya lagi. Hingga kuputuskan untuk membukanya dan menghabiskannya. Mengunyahnya sambil sedikit menangis, kenapa aku tak bertemu kibum oppa dua minggu ini, kemana dia. Jangan bilang kalau…

²²²

            “Ya, apa yang kau lamunkan?” ujar Rin Riin, teman sekelasku.Aku hanya menolehnya sebentar dan menatap kosong kedepan. ‘kemana kibum oppa?’ batinku.

            “Hmm,, gak kerasa ya, kita udah ujian tengah semester, sebentar lagi UAS, lalu UAN, SNMPTN, lalu kuliah”, lanjutnya.

            “Ya”, jawabku singkat.‘Dan tidak terasa sudah lama aku tak melihat Kibum Oppa’, lanjutku dalam hati.

            “Nara, nanti siang kita belajar MTK , otte?” tanyanya sedikit mengejutkanku.

            “Ne, dengan siapa?Apa kau bisa menghubungi Kibum Oppa?” tanyaku antusias.

            “Kibum Oppa, boleh juga ttu, dia orang yang sabar. Bisa lah mengajarkan kita yang bego matematika ini.Chankaman, aku hubungi dulu” ujar Rin Riin lalu pergi menjauh.

            “Ottokhe?” tanyaku begitu dia kembali.

            “Kata Oenni di sana tunggu beberapa saat, nanti dia menelpon lagi, sedang menkonfirmasi, mencari guru yang bisa mengajar,” sahut Rin Riin lalu duduk disebelahku.

            Tak lama berselang, handphone Rin Riin berdering, karena ia ke wc, aku yang mengangkatnya.

            “Saeng, nanti belajarnya bersama Jinki Soesangnim ya, jam 01 KST”, ucap Oenni di seberang sana.

            “Jam satu, kelamaan Oen, gimana dengan Kibum Oppa? Kalo Jinki soesangnim gak bisa dipercepat, dengan Kibum Oppa aja gimana?” ucapku deg – degan.Ntah kenapa ada rasa mengganjal.

            “Mianne, Kibum Oppa telah pulang”, jawabnya.

            “Pulang?” tanyaku tak mengerti.

            “Ne, dia sudah pulang…” ntah apa yang di ucapkan Oenni itu, aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Jantungku terasa ngilu sesaat.Oppa pulang?Maksudnya?Otakku masih eror untuk mencerna kata – kata itu.

            “Hallo, saeng. Gimana?Sama Jinki Soesangnim?” ucap oenni itu.

            “Ah, Ne. Ghamsahamida”, ucapku lalu menutup cepat telphon itu.Aku hanya meletakkan sembarang hape Rin Riin dan berlari ke toilet.

            Ini terlalu cepat buatku, hanya dua kali bertemu, kenapa?Kenapa secepat ini?Kenapa perasaanku benar.Dia pergi.Dia pulang.Ya, dia memang sudah pulang, kembali ke kotanya, SEOUL.Hanya sebulan dia mengajar dikontrak untuk mengajar di lembaga yang berada di cabang Incheon ini.Tak ada sesuatu yang special antara kami. Hanya tatapan dan kekaguman itu telah berhasil membuatku kembali merasakan perasaan yang sama, perasaan yang telah empat tahun tidak pernah kurasakan. Perasaan itu, perasaan yang memang kini kuakui.Aku mengaguminya. Hanya kalian yang bisa menilainya, apakah ini bisa disebutkan sebagai  sesuatuitu, atau memang hanya sebatas kagum.

Satu hal yang kusesalkan, kenapa aku selalu terlambat, terlambat menyadarinya, terlambat mengetahui bahwa aku membutuhkannya.Terlambat mengetahui bahwa aku mengaguminya.Kenapa aku tak pernah di beri kesempatan?Kenapa aku terlalu bodohnya, bahkan tak pernah menanyakan nomor ponselnya?Kenapa aku tak menyadari bahwa pertemuan hari itu pertemuan terakhirku dengannya.Kenapa berakhir begini??? Kini dia telah pergi, dia telah kembali ke kota asalnya.  Kalaupun suatu saat nanti aku bisa pergi ke Seoul, belum tentu aku dapat menemukannya, karena Seoul itu luas, ada ribuan bahkan ratus ribuan penduduk di kota itu. Kini aku hanya bisa berharap suatu saat nanti, aku dapat bertemu dengannya.

²²²

Ini kisahku yang kedua, untuk pertama kalinya setelah empat tahun itu, aku berani… Aku hanya berharap kisah ini bisa berakhir bahagia pada akhirnya….

29 februari 2012

YYY

Aku menutup laptopku, mengakhiri tulisannku.Setelah menulisnya, berarti aku telah mengukirkan kisah itu, kisah yang kuharap dapat berakhir bahagia.Kini telah dua bulan berlalu. Ntah mengapa aku masih mengingatnya, sosok kibum oppa,  sosok yang begitu berkharisma di mataku, tidak bukan hanya dimataku, tapi juga teman – temanku. Ujian nasional memang telah berlalu, kini aku hanya bisa menanti dengan harap – harap cemas semoga aku lulus dan bisa melanjutkan studiku ke tingkat yang lebih tinggi. Kini aku hanya punya waktu sebulan, dan masih tetap berharap dapat bertemu kembali dengannya, walau cuman sekali.

“Ya , kajja. Kita hanya punya waktu lima menit untuk sampai ke kelas”, ujar Rin Riin, teman sekelasku lalu berlari. Aku mengangguk mantap dan berjalan, aku akan berusaha kibum oppa, sekuat tenaga untuk sukses, dan tetap berharap suatu saat akan bertemu kembali denganmu.

‘bughhh’, bunyi gedebum kecil begitu aku menabrak seseorang saat hendak akan menaiki tangga. Sesaat aku terpental kebelakang dan menahan sedikit nyeri di pinggulku.Tiba – tiba sebuah tangan terulur tepat dihadapanku, dengan pelan aku menyambutnya, dan sesaat aku terdongak, melihat pada sosok yang mengulurkan tangan itu padaku.Ya, kini aku yakin, keajaiban pikiran itu memang ada.Aku benar – benar yakin kekuatan rindu itu ada.

“Lama tidak bertemu”, ujarnya sambil tersenyum. Aku hanya melongo, tak mempercayai kehadirannya yang mendadak itu.Kini kibum oppa berdiri di hadapanku, dia telah kembali, dengan segala karisma dan pembawaannya, kini aku bertemu lagi dengannya.

“Tuliskan Nomormu”, ujarnya sambil menyerahkan ponselnya kehadapanku. “Aku ingin memiliki jejak tentangmu”, ujarnya lalu berjalan tenang, dan mendahuluiku.Aku hanya melongo, mencoba mengetik nomorku sambil menaiki anak tangga.Kami hanya terdiam, tapi kutau hatiku tak berhenti berteriak sangking bahagianya bertemu kembali dengannya.

“Ini kak”, aku menyerahkan kembali hapenya.Ia hanya tersenyum dan berjalan mendahuluiku. Tak lama ringtone hapeku berbunyi.

“Itu nomorku, jangan lupa di simpan ya”, ujarnya lalu membuka pintu kelasku dan masuk ke dalamnya.Aku hanya terdiam, memandangi pintu yang tertutup kembali lalu mencermati angka di layar hapeku.Ntah ini kebetulan atau takdir, tidak ini memang takdir, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Aku kembali bertemu dengannya, dan ia yang meminta nomorku pertama kali. Tuhan, terima kasih kau mau mendengar doaku.Terima kasih tuhan.Aku lalu menuliskan sesuatu di kontakku dan melangkah masuk.

²²²

08xxxxxxxx

Kibum oppa

State : Save

²²²

Aku akan selalu percaya pada kekuatan pikiran.

Yakinlah, katika kalian merindukan seseorang yang mengganggu pikiran kalian, dia akan muncul dan hadir lagi di hadapan kalian”

2 May 2012

NB: Hi,,, ini ff ku yang pertama,, maafkan atas keabal – abalan ff ku ini.. ff ini kisah nyata loh, walau disisipin khayalan di sana sini, hehhehe… oh ya, ff ini cuma satu jam, jadi mianne kalo ceritanya agak nganu… makasih ya buat reader yang udah mau baca #menunjuk 90 derajat. Ghamsahamida J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Just a Moment”

  1. Aku mau kok diajarin ma jinki oppa kl key oppa gak bisa hehe (≧∇≦)(mode serakah)….
    Key oppa balik gara2 aku yah…hahaha*BUGH..
    Okh…lupakan.. (๑-﹏-๑)
    Aku setuju nih sama nih..FF menyangkut kekuatan fikiran coz aku pernah ngrasain…kya gitu..hehe… (≧∇≦)

  2. Koq ngegantung ya? Ap prsaan aku z *plaaaakkk
    tp tak apa q suka, nice ff,
    thor buat sequelnya donk! Q penasaran gmna kelanjutan mereka,. Ya ya ya *kedip kedip

  3. huuuaaaaa pas bgt.. lg tergelo2 sm key.. au au au

    Dengan gaya formal yang informal itu, — oh.. gimana ya itu?

    “Yakinlah, katika kalian merindukan seseorang yang mengganggu pikiran kalian, dia akan muncul dan hadir lagi di hadapan kalian” —- wahhh… ntar coba ah.. kli aj key ato jinki ato member shinee yg lain muncul di hdpnku /plaaakkk hahahaha

    ffnya bagus kok.. cuma perhatiin lg pengetikan/penulisannya ya.. lumaya typonya..
    keep writing..

  4. Sudah kuduga ini cerita nyata, aku juga pernah soalnya tapi alay banget, sumpah *buka aib*

    Keren deh, aku suka ceritanya. Tapi penulisan nama awalnya pake kapital ya, awal kalimat juga begitu.

    Overall, daebak ^^

  5. daebak kata-katanya aku suka 🙂
    aku akan selalu percaya pada kekuatan pikiran
    overall bgus…
    Ditunggu karya selanjutnya

  6. Thor kok ngegantung sih#plak..bahagia nya aq gara2 kibum balik lagi..oh ya kibum kembali lagi karena apa? dan kok aq nggak jadian sih sama kibum*ngarep tingkat akut*..tpi bagus kok n keren abis,,terus berkarya

  7. Thor kok ngegantung sih#plak..bahagia nya aq gara2 kibum balik lagi..oh ya kibum kembali lagi karena apa? dan kok aq nggak jadian sih sama kibum*ngarep tingkat akut*.kata-katanya daebak…tpi bagus kok n keren abis,,terus berkarya

  8. nggak tau kenapa saya malah ingat guru TIK saya di sekolah. nanti ah mau nunjukin ini ff… gaya dan karakter Key disini hampir sama kaya guruku… omonaaa~

    Nice ff thor d^^b Keep writting 🙂

  9. Ehem. . . Kisah nyata ia? Bisa ketebak sih klo ini kisah nyata… Huwahh. . Enak amat pas lagi ngegalau UN ketemu yg seger2… Sumprit. . . . Bikin ngiri.. Cie, , akhirnya ketemu lagi. . . .

    Semangat!!! Aku juga mau percaya pada pikiran ah. . Siapa tahu ntar suatu hari aku bisa ketemu…..hahahay

  10. aku juga percaya kekuatan pikiran, apalagi klu lagi pengin liat ‘dia’ #eaa.
    tulisannya serunya nanggung, pertama udah seru, bahsanya formal tp kesannya informal nyantai gitu
    tp waktu ‘sabar dikit napa?’, kesan informalnya yg seru tu jd hilang, jd berasa smsan, sorry ya author, cuman kritik, klu gak enak dihti maap – maap ya? #melas
    keep writing!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s