The Devil – Part 9

The Devil [9] : Getting Angry More and More

Title : The Devil

Author : Bibib Dubu & mybabyLiOnew

Main Cast : Park Eun Hee, Lee Chaeryn, Member SHINee kecuali Jonghyun

Support Cast : Kai, Go Ah Ra

Length : Sequel

Genre : Romance, Fantasy, Family

Rating : PG-15

Summary :

Kai : “Ani, aku datang dengan sebuah peluang untukmu, Hyung. Tahukah kau, aku telah memohon pada Dewa kita demi mengembalikanmu ke dunia kita lagi.”

Taemin : “Jincha? Jadi aku bisa kembali sekarang?”Taemin girang setengah mati, bagaimana tidak—ini adalah hal yang paling dinantikannya.

Kai : “Ya! Tidak semudah itu, aku kan hanya bilang sebuah peluang, jadi bisa berhasil bisa tidak.”

+++++

Ia layaknya seorang penganut pessimism, yang merasa semua jalan untuk esok tertutup, tak menyisakan celah baginya untuk melangkah. Pikirannya seolah tertutup terhadap berbagai peluang untuk membangun hidup. Memang tidak ada pekerjaan membangun yang mudah, untuk membentuk fondasinya saja dibutuhkan waktu lama. Tapi, apa yang kita panen sesuai dengan apa yang kita tanam.

Padahal, sesungguhnya bumi itu bulat, melambangkan pergerakan yang lebih bebas, setidaknya kita tidak akan menemui ujung maupun siku yang dapat menghentikan langkah. Karena sesungguhnya, apa yang menghentikan kita hanyalah bersumber pada pikiran kita yang sempit, yang terkotak-kotakkan.

Remang, seolah hanya sedikit cahaya yang menerangi. Tidak tahu harus beranjak ke sisi yang mana agar dunianya kembali berwarna. Tidak ada lagi yang patut diperjuangkan, hanya  berjalan seorang diri—pikirannya dipenuhi dengan teriakan-teriakan semacam itu, membuatnya merasa tak ada lagi gairah hidup.

Matanya membengkak karena terpaksa menuruti kendali hati sang pemilik tubuh. Tulangnya melemah sementara, tidak mampu menyangga tubuhnya yang kian berkurang bobot. Tidak ada lagi pesona sang primadona, bahkan kini ia lebih mirip dengan seorang tunawisma—tidak terurus.

Ia hanya mengurung diri di kamar. Bagaimana tidak—satu hartanya yang tersisa baru saja lenyap, meninggalkannya bersama sejuta angan dan kenangan masa lalu.

“Eun Hee-sshi. Jebal, jangan terus bertingkah seperti ini… Semua manusia tak ada yang abadi, setiap jiwa kita akan kembali pada Sang Pencipta. Tak ada gunanya kau meratapi nasib, hanya akan membuatmu terjebak dalam kesedihan. Kita adalah manusia yang dituntut untuk terus menjalani hidup sebaik mungkin sampai ajal menjemput kita. Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini? Seminggu berlalu, setelah ini—minggu bahkan bisa jadi bulan berikutnya akan tiba, dan kau masih seperti ini?” ucap Key geram.

Di satu sisi, ia benci orang yang tampak seperti orang mati, seolah hidup telah berakhir dengan menghilangnya seseorang. Tapi, hati tulusnya merasa iba melihat yeoja pujaannya seperti ini.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kondisi Eun Hee yang seperti ini mengingatkannya pada Jonghyun yang kala itu terpuruk karena cinta, karena Eun Hee lebih tepatnya. Ada sekelebat bisikan setan yang menyerunya untuk membenci Eun Hee, kembali menilai Eun Hee sebagai salah satu pemicu kematian Jonghyun. Tapi buru-buru ditepisnya pikiran itu, tidak ingin dirinya terjebak dalam jalan yang serba salah.

“Enyah kau dari rumahku, memangnya kau siapa Key?”

Eun Hee mulai jengah karena menurutnya—Key hanyalah orang baru dalam hidupnya, yang tidak mengerti sejarah kehidupannya bersama Yoochun. Menurutnya, Key tidak memahami betapa Yoochun adalah orang yang sangat berharga, yang bahkan deminya Eun Hee rela menjual tubuh. Lalu Key siapa? Seenak dan segampang itukah berucap sok bijak?

Eun Hee kembali terisak, air matanya belum juga mengering. Baginya ini adalah momen terkelam dari hidupnya—jauh lebih kelam daripada tragedi di mana ‘mutiaranya’ terenggut.

Hyung, Eun Hee benar. Aku pun memintamu menjauhinya! Aku sudah tahu siapa kau!” Minho datang, membuat keduanya mendelik bersamaan.

Baik Eun Hee maupun Key sama-sama menautkan alis, belum mengerti maksud kalimat terakhir Minho.

“Apa maksudmu?” Key bertanya dengan beberapa pikiran yang mendadak berkelebat di kepalanya.

“Key, kau sendiri yang bilang kalau kau adalah namdongsaeng dari Kim Jonghyun, kan? Aku tidak tahu apa motif aslimu mendekati Eun Hee. Walaupun memang kau mengaku bahwa kau mencintainya, tapi hati manusia yang sebenarnya siapa yang tahu.”

Minho mendekat kilat, meraih kerah sweater coklat Key dengan geram, emosi mulai menguasai dirinya. Air mata Eun Hee kian berlinang. Meskipun belakangan ia tahu kalau Key adalah adik Jonghyun, tetap saja dirinya merasa kecewa karena ia baru berpikir bahwa Key memang memiliki maksud tertentu ketika mendekatinya, bukan karena cinta—seperti yang diharapkan dirinya.

“Hhhh…,” Key menghela nafas panjang. Tidak pernah berpikir bahwa Minho akan salah paham padanya hanya karena ia adalah adik Kim Jonghyun.

Ne, seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku memang adik Kim Jonghyun. Tujuan awalku memang ingin tahu seperti apa yeoja yang membuat hyung-ku gila, mengurung diri di kamarnya selama berminggu-minggu dan bertingkah seperti mayat hidup yang bodoh, menyayat pergelangan tangannya hanya demi melampiaskan penderitaannya. Kalau kau di posisiku, kuperkirakan juga akan melakukan hal yang sama, bisa jadi kau malah sudah membunuhnya,” jelas Key, namun dirinya masih tidak melawan secara fisik—membiarkan tangan Minho masih mencengkram kerahnya.

Minho terdiam. Perlahan melemahkan cengkramannya hingga akhirnya benar-benar dilepaskan. Kepalanya tidak lagi mampu berpikir jernih, bagaikan berada di antara persimpangan—tidak tahu harus memilih jalan mana yang tepat.

Sementara Eun Hee, dirinya makin terisak. Kini ia terjongkok di samping Minho dan Key yang masih saling berhadapan. Key tersadar bahwa Eun Hee makin tertekan dengan suasana ini.

Hyung, haruskah aku mempercayaimu? Kita belum lama saling kenal—sulit bagiku menerimanya. Yang aku tahu, aku hanya ingin melindungi Eun Hee dari orang-orang yang mengganggunya. Sekarang secara rasionalnya, bisa jadi jauh di dalam hatimu kau menyimpan dendam atas kematian Jonghyun dan bukan tidak mungkin kaulah yang membunuh Yoochun…,” Minho berbisik di telinga Key, sangat pelan, berharap Eun Hee tidak mendengarnya karena saat ini yeoja itu masih terisak.

“Hentikan Minho, aku tidak sekeji itu. Sebaiknya kita berhenti bersikap seperti ini. Tidakkah kau melihat Eun Hee kita makin tertekan? Kau boleh menghajarku atau membunuhku jika memang terbukti akulah pembunuh Yoochun, tapi tidak di sini. Baiklah, aku pergi daripada membuat suasana bertambah ricuh. Jaga Eun Hee, kalau sampai ia melakukan hal bodoh, aku tidak segan membunuhmu.”

“Pergi kau pembunuh!!” Eun Hee berteriak, tidak tahan dengan kerumitan yang terbentang di hadapannya. Baginya—pembunuh Yoochun yang paling mungkin adalah Key. Karena sepengetahuannya hanya Key dan Minho yang mengetahui tentang Yoochun dan hanya Key yang punya alasan untuk membunuh Yoochun.

Key mengalah, tidak mengelak walau tuduhan ‘pembunuh’ menghampirinya. Key rasa, ini hanya salah paham. Ia bisa mengerti, siapapun orangnya—pasti akan menuduh dirinya sebagai pembunuh pada kondisi seperti ini.

Namun ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran Key, perlukah Eun Hee tahu bahwa Yoochun yang selama ini disayanginya setengah mati—hanya memperalat yeoja itu demi kesenangan pribadi, uang melimpah?

+++++

“Taemin-ah… ini kuhadiahkan untukmu.”

Chaeryn berlari riang menghampiri Taemin yang sedang melamun terduduk di bangku taman fakultas.

Taemin merespon. Pertama kali yang dilakukannya adalah mengamati sebuah bungkusan kado berwarna kuning yang disodorkan Chaeryn padanya, warna kesukaaannya.

“Wuah… gomawo Ryn… kuning, I like it. Eh, tapi dalam rangka apa kau memberiku hadiah? Memangnya aku habis menang sesuatu?” Taemin terlihat bingung sesaat kemudian.

“Ya! Ini hari ulang tahunmu! Masa kau lupa dengan tanggal lahirmu sendiri?” Chaeryn setengah berteriak.

Molla, tapi nyatanya aku memang tidak ingat.” Taemin menggedikkan bahu, ia tidak memperpanjangnya, karena memang ini bukan tanggal lahirnya yang asli. Ini hanya tanggal rekaan yang asal dipilihnya ketika akan melengkapi berkas untuk mendaftar kuliah. Tanggal lahirnya di dunia manusia.

“Hais… dasar kau… Tapi memang sih ada tipe orang yang tidak menganggap hari lahir sebagai suatu hal yang special. Ya sudah, saengil chukkahamnida, semoga kau bertambah dewasa, selalu sehat dan bahagia. Dan yang jelas aku sudah susah payah membelikan kado untukmu, kau harus menerimanya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang special. Cepat dibuka!”

“Iya iya, apapun darimu pasti kuanggap special. Aku buka deh~”

Taemin merobek kertas pembungkusnya dengan hati-hati agar kertasnya masih bisa ia simpan untuk kenangan. Didapatinya sebuah bingkai foto dengan border berupa tuts piano. Di dalam bingkai tersebut terpajang indah fotonya bersama Chaeryn saat bermain di Lotte World, tengah tersenyum riang.

Eotte? Kau suka?”

Ne, sangat bagus, fotonya juga… gomawo Ryn. Ini adalah kenangan indah darimu.” Taemin tersenyum dengan sensasi kebahagiaan tiada tara.

“Syukurlah… tadinya aku ingin membelikan bingkai foto yang bergambar kartun chibi SHINee, tapi Key melarangku—katanya tidak cocok untuk hadiahmu, jadi Key memilihkan yang ini.”

Senyum Taemin pudar saat mendengar nama Key. Kado ini, kadonya—justru dipilihkan oleh rival yang sangat dibencinya, menyakitkan.

Wae, kok wajahmu aneh? Bukankah kau bilang suka kado ini?” Chaeryn menyadari perubahan wajah Taemin, tapi ia tidak mengerti penyebabnya.

“Ah, ani, hanya terpikir sesuatu. Gomawo Ryn atas kadomu….”

Mencoba tersenyum kembali, menyembunyikan lukanya yang tertoreh kembali, “dan hanya kau yang ingat ulang tahunku,” ujarnya lirih.

+++++

Ia mengamuk. Sedikit saja seseorang mengusiknya, ia langsung menghabisinya di kala suasana sepi memungkinkannya untuk beraksi. Hatinya begitu sakit, sumber utamanya adalah seorang yeoja. Namun hatinya bersikeras tidak ingin memangsa hati yeoja itu. Ia mengalihkannya pada manusia lain yang mengganggu perasaannya juga. Tapi sia-sia, walau ini adalah korban kesepuluh yang ia habisi sejak delapan hari yang lalu—hatinya masih terasa ngilu, berdenyut tiada henti, dan membuatnya lelah setengah mati menahan rasa sakit.

Frustasi setengah mati dengan pilihannya, ia benar-benar menghabisi korban kesepuluhnya. Tubuh yang telah terkoyak bagian tengahnya itu pun masih ingin dicabiknya. Setelah menghabisi hatinya—ia menjilati darah yang terus mengalir dari tubuh sang korban—yang notabene hanya seorang pelayan toko yang menuduhnya sebagai calon pencuri hanya karena Taemin berdiri di satu pojok sambil memegangi sebuah bingkai foto bergambar kartun chibi Shinee.

Pelampiasannya beralih, ia bahkan merobek wajah sang korban, meraih bagian teratas—otak. Ya, ia marah pada otak manusia—yang dengan mudahnya meng-judge orang hanya dari tampak luar. Diremasnya organ itu hingga bentuknya mengalami transisi, setelah puas ia menelannya sekali habis. Tidak peduli betapa penuhnya mulut—ini adalah bagian yang harus ia nikmati, begitulah yang dipikirnya.

“Hais… kau mengerikan, sudah berapa banyak korbanmu?” Sebuah suara mengusiknya, kali ini ia terperanjat karena bukan suara Jaejoong yang didengarnya.

“Jangan campuri urusanku, Kai,” ia mendengus kesal, tapi di hatinya ada perasaan lega karena yang barusan datang adalah saudaranya di dunia aslinya sana, Kai. Bukan manusia yang memergokinya sedang berlaku keji.

“Yah~ baiklah, itu memang kodratmu. Tapi tidakkah kau lelah melakukan hal seperti ini terus-menerus?” Kai hanya membalas santai, ia sedikit berjongkok untuk mengamati manusia yang baru saja dihabisi hyungnya itu, yang selanjutnya terdengar adalah decakannya.

“Aku lelah, tapi tidak ada jalan lain. Meskipun aku tidak tahu kapan ini semua berakhir, bahkan aku pun tidak yakin bisa mendapatkan seseorang yang hatinya tulus untukku. Aku lelah, tertekan lebih tepatnya. Aku sudah merindukan pulang, ke dunia kita,” suara Taemin melemah, begitu pula dengan tubuhnya yang tadinya dipenuhi gairah memangsa. Ia mengikuti jejak adiknya, terjongkok dengan posisi yang berhadapan dengan Kai.

“Hey! Kau melankolis sekali. Hyung, mengapa kau tidak bertanya kenapa aku bisa sampai ke bumi,” Kai terkekeh, seperti itulah ia—selalu terlihat tidak serius.

“Kai? Jangan bilang kau dikutuk seperti aku. Ya! Bagaimana bisa ekspresimu sesantai itu!” Taemin panik, berharap tidak ada lagi yang bernasib serupa dengannya.

Ani, aku datang dengan sebuah peluang untukmu, Hyung. Tahukah kau, aku telah memohon pada Dewa kita demi mengembalikanmu ke dunia kita lagi.”

Jinjja? Jadi aku bisa kembali sekarang?” Taemin girang setengah mati, bagaimana tidak—ini adalah hal yang paling dinantikannya.

Ya! Tidak semudah itu, aku kan hanya bilang sebuah peluang, jadi bisa berhasil bisa tidak.” Kai terlihat mulai bingung. Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan keberhasilannya, tapi bukankah peluang selalu ada?

“Yeah, as usual—tidak ada yang gratis di dunia ini, ternyata hal serupa berlaku juga di dunia kita.” Taemin mulai jengah kembali, ia tahu syaratnya tidak akan mudah. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Di dunia ini pasti ada orang yang paling kau cintai, kan?”

Taemin mengerjap seram, ia khawatir bahwa syaratnya adalah—memangsa orang yang paling dicintainya.

Ya! Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, tenang sedikit hyung. Kau tidak harus memangsa orang yang paling kau cintai, tetapi kau harus menemukan saudara kandung orang itu.”

Kai menjintak kepala Taemin keras, tapi Taemin tidak kesakitan—karena memang saat ini sosoknya masih berevolusi menjadi devil— perkasa.

“Baiklah, walau sama-sama berat karena tetap saja aku akan menyakiti orang yang kusayang karena kematian saudara kandungnya….” Taemin menyetujui dengan berat hati, setidaknya ini masih lebih baik daripada harus menghabisi Chaeryn.

“Hei, sabar. Siapa bilang saudara kandungnya itu harus kau bunuh?” Kai menyergah cepat.

“Maksudmu?”

+++++

Ada kalanya di mana seorang kakak menyayangi adiknya—sekalipun tidak berasal dari rahim yang sama. Langka memang, karena sering kali muncul perasaan iri pada saudara tiri. Sebaliknya, tidak selamanya satu kandungan menjamin bahwa ikatan yang ada di antara kakak-beradik akan terjalin kuat. Manusia bukanlah benda mati, yang tidak bergerak dan bisa diprediksi pikirannya akan suatu hal.

Ani, aku tidak mau punya kakak seorang pelacur. Hanya kau kakakku satu-satunya, Jinki Oppa, hanya kau.”

Chaeryn terisak setelah Jinki menceritakan sebuah kebenaran, bahwa ia masih memiliki seorang saudara kandung. Dan Jinki terhenyak, tidak menyangka bahwa Chaeryn akan menolak mentah-mentah berita ini, sekalipun Jinki sudah menceritakan alasan Eun Hee menjadi seorang pekerja malam.

“Kau hanya perlu waktu, Ryn,” Jinki berusaha bersabar.

“Sampai kapan pun tidak akan kuakui. Aku hanya ingin kau yang menjadi kakakku, satu-satunya. Begitu pula dengan kau, adikmu hanya aku, selamanya hanya kita berdua yang akan kuakui memiliki hubungan kakak beradik.”

Ya! Bicara apa kau! Aku bahkan bukan saudara kandungmu, tapi dia yang saudara kandungmu—harus kau akui! Pernahkah kau berpikir bahwa kau sangat beruntung karena Yoochun hyung tidak membawamu kabur juga saat itu, sehingga kau bisa menikmati hidupmu dengan tenang. Andaikan yang dibawa Yoochun hyung saat itu adalah kau, bukankah sama saja—kau akan menjadi pelacur juga?”

Ani, aku tidak akan pasrah begitu saja dijadikan pelacur.”

Chaeryn masih bersikeras, meskipun di hatinya ia sedikit membenarkan ucapan Jinki. Tapi tetap saja bagi Chaeryn, pelacur adalah cap yang hina. Pelacur adalah orang bodoh dan berpikiran sempit, seolah tidak ada jalan lain untuk lolos dari kematian dan bertahan hidup. Melacurkan diri mungkin dapat membuat raga tetap bertahan hidup, tapi hatinya mati.

Apa gunanya hidup dengan hati yang sudah mati rasa? Bukankah semua makna dan serba-serbi kehidupan hanya bisa dirasakan oleh hati. Orang yang hatinya mati adalah orang yang moralnya telah rusak. Pelacur termasuk di dalam kategori itu, pelacur adalah perusak kehidupan—bertahan hidup di atas keruntuhan hidup orang lain. Chaeryn tidak bisa menerima ini semua.

“Pikirkan baik-baik. Gunakan hatimu kali ini. Jangan pernah memanggilku oppa sebelum kau menerima eonnimu,” Jinki gerah, marah, dan geram. Baru kali ini ia sangat marah pada adik kesayangannya.

Ia beranjak dari hadapan Chaeryn yang masih terisak, langkahnya sedikit gontai. Prediksinya meleset jauh, padahal pengorbanan gilanya untuk membawa Eun Hee pulang sudah membuatnya tertekan setengah mati, membunuh orang banyak. Bahkan yang paling gila adalah melakukan sebuah pembunuhan yang ia yakini akan melepaskan Eun Hee dari dunia yang sesat, melenyapkan Yoochun dari dunia ini.

+++++

Fajar kian tenggelam, semburat kemerahan terpancar dari ufuk barat, warna jingganya menari-nari riang hingga awan gelap menggantikannya. Fenomena alam tersebut menemani Eun Hee, yang sedang termenung memandangi langit di teras depan rumahnya.

Sebuah pikiran terbesit, bahwa hidup akan silih berganti warnanya—layaknya warna langit di kala pagi dan petang. Begitu juga hidupnya, kini peluang untuk merubah warna hidupnya terbentang lebar, tapi ia bahkan masih terpuruk—tidak sanggup ditinggal pergi oleh oppanya.

Seseorang berjalan mendekatinya, Eun Hee hanya melihatnya sekilas karena pikirannya masih sesak terpenuhi oleh perihal kematian Yoochun.

Annyeong haseyo….” Orang tadi rupanya menghampiri Eun Hee, ia melihat sekilas pada kertas bertuliskan alamat, kemudian gerak bola matanya beralih pada foto yang juga dipegangnya, dan terakhir menantap Eun Hee dengan seksama.

Sillyehamnida… apakah kau yang bernama Park Eun Hee?”

N-ne?” Eun Hee tersadar dari lamunannya, “ne, aku Eun Hee. Nuguseyo?” Eun Hee memperhatikan baik-baik orang tadi, seorang yeoja yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Aku Go Ahra, Tapi kau tidak perlu tahu siapa aku lebih lanjut, yang perlu kusampaikan hanyalah sebuah buku harian oppamu.”

Oppa? Yoochun oppa?” Eun Hee masih mencerna, otaknya merespon lambat karena pikirannya yang sedang kacau balau.

Ne, dia hanya pernah menuliskannya beberapa kali. Mungkin hanya di saat ia sedang berada di puncak tekanan batin, aku menyimpulkan seperti itu. Mian aku membacanya lebih dulu. Kurasa kau perlu tahu ini.” Yeoja itu lalu membuka tas yang talinya sedari tadi ia apit di ketiaknya.

Eun Hee menerimanya dengan ragu, baginya sulit mempercayai orang baru—mengingat Key yang bahkan terlihat bak malaikat pun membohonginya. Tapi karena yeoja ini menyebut nama Yoochun, ia membukanya perlahan.

Page No. 1

Hari ini aku menemuinya, ani, bukan menemuinya karena ia memang sama sekali tidak melihatku. Yang lebih tepat adalah aku pergi menyamar dan melihatnya dari kejauhan, dari balik hiruk-pikuk dunia malam.

Sungguh, melihatnya melenggokkan tubuh di hadapan pria hidung belang—membuatku tertekan setengah mati. Aku hanya mampu menangis dari balik kacamata hitamku, tidak berani mendekat apalagi menyingkirkan satu-persatu para pria kurang ajar tersebut.

Aku pulang ke rumah, rasa sakit itu masih menggelayuti. Terlebih aku sempat bertemu dengan Ah Ra. Membayangkan yeojachinguku diperlakukan seperti itu aku tidak terima, apalagi adikku sendiri, rasa sakitnya melebihi itu.

Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus merubah keputusanku?

 

Keputusan? Eun Hee terhenyak memikirkan kata terakhir yang terdapat di dalam curahan hati oppanya pada halaman itu.

“Apa maksudnya dengan keputusan?” tanyanya pada tamu barunya, ada sedikit rasa curiga pada pertanyaannya, tapi ia masih belum berani menilai terlalu dini.

“Bacalah halaman berikutnya, aku tidak berani menjawab karena oppa selalu memendam hal ini sendiri. Aku takut kau akan menangkap makna yang berbeda kalau kuceritakan, khawatir telah tercampur dengan opiniku,” yeoja itu menjawab dengan senyuman getir yang terlukis di wajahnya, ada sedikit genangan air mata, ya, ia pun tidak menyangka kalau Yoochun—namjachingunya itu punya sebuah rahasia besar.

Eun Hee mengangguk, ia memberanikan diri membaca lembar berikutnya meskipun ia sangat takut jika saja apa yang akan dibacanya adalah hal yang akan membuatnya sakit.

Page No.2

Hari ini bos-nya datang padaku, menyerahkan sebuah amplop berisikan sejumlah uang untukku. Itu adalah uang yang kudapat di atas tangisan hati Eun Hee. Menyakitkan, tapi inilah jalan yang telah kupilih. Karena dengan atau tanpa kuserahkan ia pada bos-nya itu, keperawanannya telah hilang. Dan ia pernah bilang, bahwa ia rela kehilangan hartanya itu, demi aku. Ne, demi aku—saudara kandungnya. Itu berarti harusnya ia mau berkorban untuk saudara kandungnya yang satu lagi, yang saat ini masih belum bisa kuambil dan masih berada di dalam lingkungan keluarga Lee terkutuk itu.

Uang ini, akan kukumpulkan hingga waktu itu tiba. Waktu di mana aku mendapatkan kembali kedua adikku tercinta dan kami bisa pergi jauh ke tempat yang tenang, yang tidak akan direcoki oleh keluarga Lee. Eun Hee…mianhae…oppa banyak salah padamu…bertahanlah…mungkin setahun lagi.

 

Linangan air mata kembali mewarnai wajah Eun Hee, ini adalah puncak kesakitannya. Bagaimana tidak, oppanya menjadikannya pelacur—pekerjaan paling tidak bermoral yang ada di dunia ini.

“Selama ini majikanku bilang bahwa jika ingin oppa tetap selamat, aku harus rela bekerja untuknya—menjual diriku. Aku rela, demi keselamatannya. Tapi yang tidak akan kulakukan, jika tahu bahwa ini hanyalah caranya untuk menyelamatkan adikku yang bahkan tidak kuingat. Bagiku, Yoochun oppa sangat berharga bukan saja karena ia saudara kandungku—tapi karena oppa jugalah yang menemani hariku sejak aku kecil.”

Eun Hee marah, nada bicaranya terdengar sarkatis. Tapi air mata tidak kunjung berhenti mengalir—membasahi pipinya yang mulus putih.

“Aku mengerti. Kita sebagai yeoja yang lebih menggunakan hati pasti merasa bahwa caranya menyakitkan. Tapi lain hal dengan pikiran namja yang lebih menggunakan otak, karena nyatanya memang keperawananmu sudah hilang. Jadi sekalian saja dikorbankan demi sebuah hal berharga lainnya. Secara logika pemikiran oppamu masuk akal.”

“Jangan ingatkan aku kalau keperawananku telah hilang… rasanya sangat sakit, apalagi setelah tahu ini semua.”

“Baiklah, aku salah. Tapi kumohon, lihatlah sisi baik dari pemikiran oppamu, bagaimanapun kalian masih punya satu saudara kandung yang masih harus diraih. Siapa yang tahu bagaimana nasib saudaramu itu di sana, mungkin itu yang dipikirkan Yoochun oppa. Dia juga menderita melihatmu, tapi dia tahan—dan dia pun tidak lantas berpangku tangan, setiap hari ia bekerja keras demi mengumpulkan uang untuk kehidupan kalian bertiga mendatang.”

“Diam, jangan membelanya. Aku tidak tahu apakah pikirannya salah atau tidak, yang aku tahu akulah membenci namja! Pergi kau dari hadapanku!”

Jebal… jangan bertingkah seperti ini, aku datang dengan harapan kau mau memahami pikiran oppamu dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah diperjuangkan oppamu. Dia bahkan sudah mencari tahu keberadaan adikmu. Jika kau mau, bacalah lanjutan diary oppamu.”

Ah Ra ikut terisak, padahal ini bukan menyangkut keluarganya. Tapi bagaimanapun ia ingin usaha Yoochun—namja yang dicintainya, tidak sia-sia hanya karena kematian namja itu.

“Kumohon, lanjutkan keinginan oppamu. Carilah adikmu dan bawa ia hidup bersamamu…,” Ah Ra tetap memohon, walau pada menit berikutnya Eun Hee telah menyeretnya di jalanan, menanggung perih karena gesekan kulitnya dengan aspal jalanan.

“Bukan urusanku. Justru aku membenci adikku itu, karena dia—aku dikorbankan.”

Eun Hee makin menangis, pertentangan hebat tengah menari-nari di otaknya—setan dan malaikatnya tengah bertarung untuk memenangkan sebuah keputusan hatinya.

Ia hanya belum bisa berpikir jernih, emosi masih menguasainya. Rasa sakitnya selama bertahun-tahun masih mengalahkan rasa ingin bertemu adik kandungnya.

“Yoochun Oppa… mengapa kau menjebakku dalam situasi sulit seperti ini. Mana yang harus kuturuti, hati atau otak?”

TBC…

+++++

Dua part lagi kisah ini tamat. Ayey….semoga hasilnya memuaskan.

Thanks buat semua yang udah mau baca, jangan lupa masukannya. Don’t be silent reader, OK?

18 thoughts on “The Devil – Part 9

  1. First kah?? Awalnya aku sempet mikir ini sebenarnya kaitan devil taemin sama kisah Eun hee ini apa sihhh….. Tapi setelah di part ini akhirnya nyambung juga…… Tae hrs bisa nyatuin Chaerin – EunHee biar bisa balik…

    Kayaknya ini konflik dasarnya antara Jinki-Yoochun deh sebenarnya…… Eh tinggal dua part….

    Baiklah ditunggu lanjutannya… Kayaknya aku lebih milih eunhee gx sama siapa-siapa deh…. Masa depan cast-ny absurd semua sihhh…hahahaha

    semangat Bibib! Rahmi Eon Juga!!6ehehe

    1. ntar makin nyambung kok eon….hmmm, knp eon berpikir tae yg bakal nyatuin?

      iyah, awalnya krn konflik familly Jinki-Yoochun sih eon…
      haha, kan emg ini bukan romance eon…ntar ngerti maksudku deh ya ^^

      kita udh namatin ini kok, tinggal nunggu publish aja ^^
      thx eonni udh mampir ^^ ditunggu lg yah ke part 10

  2. awauw…mkin menegangkan.,
    knp si key munculx dikit amat y…skrg smw tokohx stress tngkat dewa.
    key yg d tduh pmbnuh,jinki krn bnyk membunuh,chaeryn bnci pux ka2k plcur trz eun hee yg tw knytaan ttg oppany…
    dua part lg kelar…???
    musti nunggu dg sabar nih…

    1. authornya juga stresss tingkat dewa, hehe…namanya jg udh mau end, makin memuncak, hehe…
      iyap tungguin aja, udh ditulis ampe tamat kok ^^

      thx yah dya udh mau mampir ^^

  3. Aaa.. Jadi yg bunuh yoochun……jinki? Aigoo..
    Trus tugas taem nemuin chaeryn sama eunhee??
    Trus nasib taem n jinki gmn kalo key tau mereka yg bunuh sora n jjong??
    Next.. Next..
    Fighting!!

    1. hmmm, sama kayak pertanyaanku ke vikey eon, knp eon ngerasa klo taemin yg bakal nyatuin chaeryn ama eun hee? emang pernah dibilang yah atau authornya yg emg pikun *klo aku emg pikunan soalnya, hehe

      nah itu dia nasib jinki ama taem gimana yah? aku suka bagian yg ini nanti, hahaa…
      ntar mampir lg ke part 10 yah eon…gomawo udh maen ke part ini ^^

  4. TBC? hwaa~ cpt bgt, masih mau lanjutt,,
    udh ga tau mo komen apa, ff ni bner2 daebakk d^^b
    2 part lg yaa, OnKey dtunggu,
    fighting thor!!!!!!

  5. yee ternyata tebakanku benar jinki yg bunuh
    kren thor kata”nya jga bgus
    wah si taem disuruh pa tuh sama kai ?_?
    semoga eun hae mau nerima ke2 sodara kandungnya (cherin dan jinki)
    ditunggu next partnya thor
    cepet bgt ya udh 2 part lgi udh mw end

  6. rasanya aku udah baca deh -,-
    mungkin di blognya eon kali ya??

    beneran nih 2 part lagi mau end?

    kalu begitu aku tunggu next partnya

  7. yaolloh si chaeryn teh pingin tak tabok!!eunhee gini karna dia taemin lagi kunaon suka sama yeoja nu suka si key!!!lier aing mah!!marah banget sama chaeryn itu teh!!!wehhh ddemo ikki!!

    bagus thor,cuma agak benci aja sama si chaeryn te-a!!kunaon taemin jadi makhluk mengerikan?padahalkan mukanya itu muka malaikat,senyumnya juga kayaangel!!!

    1. hihi, sunda bgd dirimu…aku jg orang sunda untungnya, tp ga terlalu ngerti bahasa sunda…

      eh, marah sama chaeryn ? kenapa engga marah sama Key?

      gomawo yah udh mau baca n komen ^^ mampir lg yah ntar ke blog-nya

  8. wah part ini penuh dengan ke-stres-an (?)
    semua tokoh pd stres-_- eunhee stres krna ditinggal oppanya, jinki stres krna korbannya bnyk bnget, key stres krna di judge pembunuh, dan chaeryn stres krna gamau nerima sodaranya yg trnyata pelacur. ah iya eonnideul bknnya kalo seayah itu tetep sodara kandung ya namanya? emng sih notabene bkn dr kandungan yg sama-_-

    ah tapi aku penasaran bnget ini sama misi yg dibawa kai buat taemin! pnsran bnget kira2 taemin disuruh ngelakuin apa utk sodara chaeryn? awalnya kupikir dia disuruh ngebunuh gt, tp opiniku lngsung dipatahin sm crta diatas-_-

    dari part ini baru deh ketauan nanti apa hbnungan antara eun hee-taemin-chaeryn. ah smpai part inipun aku br nyadar brrti dasar crita ini itu bkn ksh cinta, tp hbngan keluarga. pdhl awalnya kupikir jinki itu cinta bngt sm eun hee u,u

    baiklah komenku sgini aja, part slnjutnya slnjutnya dtunggu eonnideul~😀

    ps: gimana itu nsibnya taemin-jinki kalo udah ketauan sm key? o.O

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s