The Silent Touch of Marriage copy

The Silent Touch of Marriage – Part 5b

The Silent Touch of Marriage – Part 5b

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Main Cast:

  • Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))
  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum (Key)
  • Kim Yong Sang

Beta reader: Tulasi Krisna Maharani

Support cast:

  • Tuan Lee

Special guest:

  • Kim Taeyeon (SNSD)

Length: Sequel

Genre: Family, friendship, romance, sad

Rating: PG-16

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are Gods’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

***

Annyeong, ini part yang bagian Jonghyun. Sebelum ke cerita aku mau minta maaf (lagi). Part kali ini bener-bener pendek. Alasannya sederhana. Memang rahasianya Jonghyun cuma segini, ya sudah mau digimanain lagi? *plakk*

Maaf juga kalau ada typo sama feel yang kurang. Beberapa dari kalian mungkin tahu kesibukanku *reader: sok sibuk!* ya, aku ngerjain FF ini cuma 1 hari langsung jadi T.T kekurangannya pasti banyak. Mohon dimaklumi.

Untuk komen-komen kalian di part sebelumnya juga belum sempat aku bales. Maaf ya -.-v, nanti pasti aku balas kalau ada banyak waktu luang.  Terima kasih pengertiannya.🙂

***

Jonghyun menyeruput orange juice-nya tanpa selera. Pandangannya tertuju pada meja kayu di hadapannya. Sesungguhnya ia tak benar-benar memperhatikan benda itu. Lebih tepatnya tatapannya tengah menerawang. Mengetahui kebenaran tentang kelebihan yang membuat Hyora bertahan padanya seolah bukan sebuah solusi permasalahan. Itu justru membuat pikirannya semakin runyam.

Sepasang mata yang tengah memperhatikan Jonghyun memutar pandangannya. Selera makannya ikut memburuk. Melihat namja itu dengan raut wajah banyak pikiran memang tak aneh lagi, namun sampai tak menghiraukan makanan seperti ini, sepertinya ada hal yang perlu dipertanyakan.

“Huh, menyebalkan!” Jonghyun mendengus. Telapak tangannya melakukan hentakan kecil pada meja kayu di hadapannya.

Ya, ada masalah apa lagi denganmu kali ini?”

Jonghyun menatap rekan di hadapannya, Kim Taeyeon. Sesaat ia lupa sedang menikmati makan siang bersamanya.

Mianhae,” Jonghyun berbisik. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal, bingung dengan pergulatan perasaannya.

“Apa masalahmu? Ceritakanlah,” usul Taeyeon sambil melahap saladnya, berusaha mengembalikan selera makannya. “Namun jika terlalu pribadi, simpan saja, tak apa.”

Jonghyun memiringkan kepalanya. Pribadi? Oh, tentu saja. Masalah semalam diperusahaan Kibum, saran ayah mertuanya, atapun peperangannya dengan Hyora di tempat tidur, semuanya persoalan intern yang hanya layak ia ceritakan pada orang yang berstatus keluarga baginya. Namun, untuk seorang Kim Taeyeon−sahabat baiknya, orang yang telah dianggap bibi oleh Yong Sang, terlebih lagi ia tunangan Jinki, dalam arti lain Taeyeon adalah calon kakak iparnya–ia berhak tahu semua itu.

“Aku ada masalah lagi dengan Hyora,” aku Jonghyun setelah menghela nafas berat. “Kali ini berkaitan juga dengan Kibum.”

Kedua kelopak mata Taeyeon mengernyit begitu mendengar nama Kibum. Kim Kibum, ia tahu siapa namja itu. mereka sempat bertemu beberapa kali saat zaman SMU dulu.

Namja menyebalkan yang sejak SMU menjadi pesaing cintamu itu?” tanya Taeyeon polos, namun Jonghyun bisa menangkap keingintahuan yang besar dari pertanyaan itu.

Jonghyun mengangguk kecil. Sendi-sendi di lehernya bahkan terasa begitu berat untuk mengakui hal itu adalah benar. Ia tak bicara lagi. Untuk persoalan cinta segitiganya ia rasa Taeyeon mengetahuinya.

“Dia masih menyukai Hyora sampai sekarang? Hh.., dasar keras kepala!” dengus Taeyeon turut terdengar kesal. Kenyataannya ia memang risih jika mendengar kisah diantara Hyora dan Kibum. Sejak SMU ia telah menganggap Kibum sebagai oknum pengganggu.

Benar, Kibum memang keras kepala. Respon Taeyeon terhadap namja itu memang tepat. “Bukan hanya dia yang mengganggu pikiranku…,” lanjut Jonghyun, masih dengan nada bicara yang lemah. “Kau tahu bukan pernikahanku dan Hyora didasarkan atas perasaan yang berat sebelah? Menurutmu, hal apa yang membuatnya bertahan denganku selama enam tahun?”

Taeyeon mendesah. Pertanyaan itu agak rumit. Namun, ia adalah sahabat dekat Jonghyun, ia mengenal namja itu dengan begitu baik. Bahkan kisah cinta antara dia dan Hyora pun masih terekam bagus di memori Taeyeon. Jika ditanya apa kelebihan yang dimilikinya sehingga Hyora bertahan padanya, hanya ada satu jawaban. “Kau sabar,” ucap Taeyeon pelan. Ia kembali melahap saladnya, terdengar tak acuh.

“Kenapa kau bisa tahu?” kedua mata Jonghyun membulat.

“Jangan tatap aku seperti itu,” Taeyeon mendesah, “kau lupa aku telah mengenalmu begitu lama? Aku tahu semua sifatmu baik itu kelebihan, kekurangan, atau hanya kebetulan. Apakah itu yang ditanyakan Lee Ahjussi padamu?”

Jonghyun mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Entah mengapa Taeyeon mengingatkannya pada masa remajanya. Memangnya sejak kapan ia memiliki kesabaran yang begitu istimewa seperti yang dimaksudkan ayah mertuanya dan Taeyeon.

“Hei, apa kau ingat ketika musim gugur sebelas tahun lalu? Saat kau mengejar Hyora untuk memberikan buku saku kalau tak salah.” Taeyeon memiringkan kepalanya. Raut wajah Jonghyun masih menyimpan keraguan. Ia ingin sedikit memancingnya.

“Tentu aku tak akan pernah lupa peristiwa itu.”

-Flashback-

Gerimis hujan kian berubah menjadi deras. Perlahan tapi pasti diameter permukaan airnya meluas, terdengar dari suaranya yang makin kuat ketika menyentuh atap perumahan ataupun jalanan.

“Bagaimana materi trigonometri tadi?” Taeyeon melirik ke arah Jonghyun yang berjalan dalam diam di sampingnya.

“Menarik, kurasa aku perlu banyak latihan untuk dapat menguasainya secara maksimal,” jawab Jonghyun tanpa ekspresi. Tidak, ia tak bisa memikirkan materi kutukan dalam pelajaran matematika itu sekarang. Ada suatu perasaan yang membuatnya merasa khawatir.

Kedua bibir Taeyeon merapat. Ia tahu, ada sesuatu yang tengah dipikirkan Jonghyun. Kedua alisnya yang hampir menyatu dan tatapan yang menerawang cukup memberikan jawaban bagi Taeyeon untuk mengetahui suasana hati namja itu.

Mereka lanjut menyusuri trotoar dalam diam. Jonghyun menggenggam erat payung yang melindungi kepalanya dan Taeyeon dari imbas hujan. Sesungguhnya ia tak terlalu peduli jika hujan mengguyur kepalanya di tengah suasana hatinya yang gelisah seperti ini. Tapi, ia tak mungkin melibatkan Taeyeon dalam rencana mencari penyakit itu, gadis itu tak tahu apa-apa.

“Hujan makin deras, ayo cepat!” Taeyeon menepuk pundak Jonghyun, membuat namja itu sedikit terkejut.

“Tunggu,” bukannya mengikuti saran Taeyeon, Jonghyun malah menghentikan langkahnya. “Aku lupa memberikan buku saku yang ingin dipinjam Hyora. Kau duluan saja, aku mau menemui Hyora dulu.”

Kedua bola mata Taeyeon membulat. Ia memutar tubuhnya, menatap Jonghyun penuh tanda tanya. “Kau mau menerobos hujan?”

“Kurasa tak masalah…,” ujar Jonghyun meyakinkan, tak ingin membuat Taeyeon khawatir dengan tindakannya.

Taeyeon mengangguk. “Kau tahu dimana dia?”

“Di halaman belakang sekolah, katanya ada janji dengan Kibum.”  Nada bicara Jonghyun berubah ketika mengucapkan itu. Ia memalingkan wajahnya dari Taeyeon.

“Kau cemburu, ya?” Taeyeon mengernyitkan alisnya. Mudah sekali mengetahui alasan Jonghyun yang sebenarnya di balik memberi buku saku itu.

“Tidak seburuk itu…,” aku Jonghyun, tak ingin terdengar lemah. “Ya sudah, aku pergi. Hati-hati, ya!”

“Kau juga!” ucap Taeyeon setengah berteriak, mengantar kepergian Jonghyun dengan senyum dan lambaian kecil.

***

Jonghyun mengatur nafasnya ketika sampai di lorong dekat halaman belakang. Kedua telapak tangannya bertumpu pada lututnya. Menerobos hujan ternyata lebih buruk dibanding lari 200 meter, pikirnya. Ia memutar kepalanya, mencari-cari sosok Hyora, barangkali ia masih ada di sekitar sana bersama Kibum.

Benar dugaan Jonghyun, Hyora masih berada di sana. Ia sama sekali tak bersama Kibum, namun kegiatan yang tengah dilakukannya membuat Jonghyun naik darah. “Omona, Hyora, apa yang kau lakukan di sini? Kau mau bunuh diri?” Jonghyun meraih lengan Hyora. Melihat gadis itu berdiri di bawah hujan seperti orang bodoh membuat Jonghyun tak habis pikir.

Hyora menoleh perlahan. Suara yang menghampirinya bukan suara orang yang ia nantikan. Ia menatap Jonghyun dalam, meski terguyur hujan, matanya yang kemerahan menunjukkan ia baru saja habis menangis. “Mana Key, Oppa?”

Mwo? dia belum datang?” Jonghyun terperanjat. Kedua alisnya mengernyit.

Hyora menggeleng lemah, bibirnya terkatup, tak lagi berani mengucapkan kata-kata lain.

Aish, mengapa Hyora sebodoh ini? Jonghyun benci mengakuinya. Sifatnya ini benar-benar kekanak-kanakan. Merasa iba, ia mengusap puncak kepala Hyora. Ketika telapak tangannya bersentuhan dengan kening yeoja itu ia menemukan masalah lain. “Astaga, sejak kapan badanmu panas begini?”

Hyora tak menjawab.

Jonghyun mendesah kesal. Ia berjongkok di hadapan Hyora. “Cepat naik ke punggungku!”

Hyora belum bergerak. Jika ia pergi, bagaimana kalau Kibum datang?

“Cepat naik, Lee Ahjussi bisa membunuhku jika kau mati di sini!” sungut Jonghyun, ia benci dengan jika sifat plin-plan Hyora mulai muncul.

Tak ada pilihan. Kedua kakinya yang mati rasa membuat Hyora harus menggunakan kaki Jonghyun untuk membantunya sampai ke tujuan. Ia segera naik ke punggung Jonghyun dan membiarkan namja itu menggendongnya.

“Maaf, Jonghyun Oppa, aku merepotkanmu,” bisik Hyora dengan suara seraknya. Entah apa yang terjadi jika Jonghyun tak menemukannya. Meski Kibum tak datang, entah mengapa ia merasa tenang dengan kehadiran Jonghyun. Ia merasa aman, benar-benar aman.

“Pegangan saja yang erat. Aku akan membawamu pulang.” Hyora mengikuti ucapan Jonghyun. ia melingkarkan lengannya erat-erat di leher namja itu.

Jonghyun mulai melangkahkan kakinya. Ia masih bergelut dengan kemarahannya. Ingin sekali dia menghajar Kibum yang sampai hati melupakan janjinya terhadap Hyora.

-Flashback end-

“Taeyeon-ah, menurutmu apa alasan appa menikahkanku dengan Hyora? Aku sama sekali tak mengerti, mengapa saat itu ia memisahkan Kibum dan Hyora yang jelas-jelas saling menyukai?” raut wajah Jonghyun terlihat makin gusar. Kejadian waktu musim gugur itu menambah setingkat lagi keingintahuannya.

“Ahjussi memang orang yang susah ditebak. Namun ingatlah, orang besar seperti beliau pasti melakukan tindakan didasari oleh suatu alasan,” papar Taeyeon bijak. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

Aish, tidak, perumpamaan yang diberikan Taeyeon sama sekali tak membantunya. “Jika memang begitu, mengapa ia tak mau memberitahu apa alasan itu? Ia malah membuatku, Hyora, Yong Sang dan yang lain menderita karena pilihannya. Tidakkah ia berpikir sebelum membuat suatu keputusan?!” nada bicara Jonghyun mengeras, kedua tangannya yang terkepal memukul meja di hadapannya.

Taeyeon terperanjat. “Tenanglah, Jonghyun-ah!” ia berusaha meyakinkan. Ia sama sekali benci melihat emosi sesaat Jonghyun yang lebih terlihat mendendam. Terlebih lagi ini rumah sakit. Kelakukan Jonghyun yang memukul meja akan membuang habis wibawanya sebagai seorang dokter.  “Lama atau tidaknya seseorang memendam rahasia bukan berarti ia tak punya alasan atau takut karena mengetahui dirinya bersalah. Tidak, itu sama sekali bukan jawabannya. Selama beradu argument dengan orang teladan sepertimu, baru kali ini aku melihat kau berpikiran picik seperti itu.”

Jonghyun mengusap wajahnya, frustasi. “Maaf, aku sedang kacau sekarang.” Ia merasa malu dengan tindakan kekanak-kanakannya barusan. “Dapatkah kau memberikan solusi untuk pertanyaanku tadi?”

Taeyeon menggeleng, ia menatap Jonghyun lekat-lekat. “Tidak, hanya Tuan Lee yang bisa memberimu jawaban yang paling benar. Tapi, satu hal yang  bisa kukatakan, seandainya ia menyimpan rahasia itu terlalu lama seperti pengakuanmu, jawabannya pastilah begitu rumit. Ada tiga kemungkinan, pertama ia ingin kalian menemukan jawabannya sendiri, kedua ia mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya, ketiga ia ingin memancing kalian agar tertuju pada jawaban yang benar lalu ia akan memanggil kalian dan memberitahu selengkapnya.”

“Kurasa jawabannya adalah yang ketiga,” ujar Jonghyun, masih dengan nada bicaranya yang terdengar sinis. “Pagi tadi appa menelepon. Beliau bertanya, apakah kau sudah menemukan alasan Hyora bertahan denganmu selama enam tahun? Setelah aku menjawab iya, beliau memintaku datang ke rumah seusai bekerja nanti.”

“Apa kau sudah siap?” tanya Taeyeon datar, berusaha tak memancing emosi Jonghyun lebih jauh lagi.

Jonghyun terdiam beberapa saat. Ia bahkan tak tahu apakah ia siap atau tidak. ia tak berani memberi jawaban yang pasti. “Entahlah, tapi aku akan berusaha untuk itu.”

***

Beberapa menit berlalu dengan diiringi percakapan pembuka. Jonghyun merasa tak leluasa dengan percakapan ini. Anggota keluarga lain memang meninggalkannya berdua saja dengan ayah mertuanya, namun entah apa, ada hal yang membuatnya canggung.

Jonghyun menghela nafas sejenak. Ia rasa baiknya langsung saja ke inti permasalahan. Pertanyaan yang akan dilontarkannya mungkin terdengar tak sopan. Tapi, jika ia tak menanyakannya, maka hatinya akan terus dipenuhi tanda tanya. Lancang lebih baik dibanding ia memendam rasa penasaran itu setengah mati. “Kenapa Appa memilih aku sebagai menantumu? Bukankah  Appa tahu saat itu Hyora dan Kibum saling menyukai?”

Tuan Lee mengangguk kecil. Terlihat ia menarik nafas dalam dan bepikir sejenak. “Saling menyukai bukan berarti dua orang itu pasti akan bersatu atau bisa disatukan. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, ingatkah kau saat itu perusahaanku sedang dalam persaingan dengan perusahaan milik keluarga Kibum?”

Ya, pertanyaan itu adalah hal lain yang hingga saat ini masih menimbulkan pertanyaan di benak Jonghyun. “Mengapa Appa memilih bermitra dengan perusahaan lain? Bukankah jika Appa berniat menjodohkan Hyora dengan Kibum persaingan akan mereda? Lalu, setelah Appa memilihku sebagai suami Hyora, Appa mengirim Hyora untuk bekerja di perusahaan Kibum? Aish, sebenarnya Appa ingin mengirim mata-mata atau bagaimana?” suara Jonghyun sedikit meninggi. Ini mungkin terdengar kasar atau bahkan terkesan ia tak mensyukuri pernikahannya dengan Hyora, namun jika ingin rasa penasarannya dituntaskan, ia harus mengatakan semuanya dengan jujur.

Tuan Lee menghela nafas lagi. Enam tahun ia merahasiakan ini, kini saatnya ia bicara pada menantunya sebelum ia menganggap pernikahannya dengan putrinya merupakan keputusan yang salah. “Banyak hal yang kupikirkan sebelum berbicara tentang pernikahan. Hyora dan Kibum saling menyukai, menjodohkan mereka memang jalan keluar termudah untuk meredakan persaingan saat itu, namun rasa suka Hyora terhadap Kibum bukanlah perasaan yang benar-benar ia ketahui secara mendalam.”

“Maksud Appa?” sebelah alis Jonghyun terangkat.

“Hanya sekedar rasa suka. Ia memang terkesan begitu tertarik dengan Kibum, namun di lubuk hatinya ia hanya menyayangimu.” Tuan Lee menatap Jonghyun lekat-lekat.

“Dari mana ayah mendapat kesimpulan seperti itu?” Jonghyun makin tak mengerti. mengapa jawaban yang diberikan ayah mertuanya sama dengan Taeyeon?

“Kau ingat bukan, peristiwa ketika kalian masih berada di tingkat SMU, saat itu kau menggendong Hyora di tengah hujan. Badannya panas karena menunggu Kibum yang telah melanggar janjinya di halaman belakang sekolah,” papar Tuan Lee, membuat kedua kelopak mata Jonghyun melebar. ”Kau satu-satunya orang yang menjadi tempat penampung semua curahan air matanya. Ia juga menampakkan ekspresi tulusnya padamu sesuai suasana hatinya, bukan dengan senyum yang dibuat-buat seperti di hadapan Kibum. Secara tak langsung ia bergantung padamu yang telah berlaku layaknya malaikat pelindungnya, namun sifat plin-plannya hanya mengartikan perasaan itu sebagai sahabat ataupun sebagai kakak. Ia belum pernah kehilanganmu, karena itulah ia belum paham perasaannya terhadapmu.”

Deg, entah perasaan apa, ada sesuatu yang bergetar dan mulai membuka harapan Jonghyun.

“Aku masih belum puas dengan jawabanmu, Appa.” Jonghyun semakin ambisius. Ia menginginkan penjelasan lebih.

“Hal yang tak dimiliki Kibum adalah suatu kesabaran. Ia memiliki ambisi yang terlalu besar hingga membutakan dirinya pada sesuatu yang sebenarnya tak berhak ia miliki. Ia benci dikalahkan dan keras kepala. Kau sendiri menyadari hal itu, bukan? Pikirannya sempit. Coba kau bayangkan, dia tahu Hyora wanita yang telah bersuami, namun ia belum menyerah untuk mendapatkannya. Ia sama sekali tak memikirkan bagaimana akibat jika ia berhasil mendapatkan Hyora kembali. Berapa orang yang akan tersakiti? Ia hanya memikirkan diri sendiri. Aku tak mau namja egois seperti dia mendampingi putriku,” jelas Tuan Lee panjang lebar. Semua beban dan pertimbangannya ia ungkapkan sedetail mungkin agar Jonghyun mengerti.

Entah ini suatu prestasi atau apa, Jonghyun mulai mendapatkan arti dalam menyandang statusnya sebagai suami Hyora. “Lalu, untuk alasan bekerja itu, mengapa Appa biarkan Hyora bekerja diperusahaan Kibum? Bukankah sebagai bagian dari penerusmu ia harusnya membantu Jinki Hyung di perusahaan Appa?”

Tuan lee mengangguk. Benar, bukan hanya Jonghyun, orang lain tentu memikirkan hal yang sama jika melihat keputusannya mempekerjakan Hyora di perusahaan pesaing. “Ia tentu akan membantu Jinki, namun tidak sekarang. Sejak  kecil Hyora bermimpi akan bekerja di perusahaan yang memakai sistematika seperti perusahaan Kibum. Aku tak mau menghalangi mimpinya. Mengingat sifatnya yang plin-plan, aku ingin ia mengetahui jawaban akan perasaannya sendiri. Lambat laun ia akan menyadari siapa yang lebih pantas ada di sisinya, kau atau Kibum.”

Jonghyun terdiam. Memang kemungkinan itu sulit terjadi, namun Hyora pasti akan tahu siapa yang pantas untuk mendampinginya. Entah kapan itu, yang pasti ia harus sabar dan menunggu.

“Ada lagi yang ingin kau ketahui?”

Jonghyun menggeleng. Ia kehabisan argument dan pertanyaan.

“Kalau begitu aku tinggalkan kau sebentar. Renungkanlah semua itu.” Tuan Lee menepuk pundak Jonghyun sembari tersenyum bijak kemudian melangkah keluar ruangan.

Jonghyun menatap punggung Tuan Lee yang berjalan menjauhinya. Sosok professional dan teladan itu benar-benar pemikir yang luar biasa, ia akui itu. Kembali dengan pergelutan perasaannya, Jonghyun kembali mendesah. Hampir semua jawaban telah ia dapatkan. Kini ia hanya tinggal merangkai semuanya menjadi susunan yang teratur. Meski ini membuka celah harapannya, namun ia yakin, ke depannya pasti akan timbul berbagai persoalan, namun dengan modal harapan ini ia mempunyai tumpuan dan alasan untuk memeranginya hingga ia menemukan titik puncak pada akhir kelakuan Hyora, keharmonisan atau kehancuran rumah tangganya.

-TBC-

©2011 SF3SI, Chandra.


Officially written by Chandra, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

64 thoughts on “The Silent Touch of Marriage – Part 5b

  1. betul2 appa yg bijaksana.. smpe segitunya pmikiranx..
    ah, kpn ad part brkutnya? ini udah bln agustus loh.. ktx sbulan sekali..
    gak sabar nih bc lnjutannya..
    cpt d posting ya,..

  2. uwaaahhhh daebak bgd mertua.a jonghyun.. bijak bgd.

    wahhh author.a keren deh bikin cerita sebagus ini.. cerita.a sulit d tebak. kereeennn..

  3. Unni daebak bisa berpikir kayak gini..
    Jjong kok jadi keren yah di sini?aslinya sih suka ama key but… *pengen punya suami yg kyak gtu* (plakkk, sadarlah!)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s