At The End Part 1 [Not Cyber Love=Not LDR, Happy Ver.]

At The End 1.3
[Chronicles Not Cyber Love=Not LDR, Happy Ending]

Jreng jreng, maaf kalau aku akan banyak meminta maaf di sesi ini.
Aku minta maaf sekali lagi ya atas ketidakprofesionalanku dalam menyusun sequel dari FFku yang satu ini. Tapi, memang sebenarnya semua ini dikarenakan anggapanku yang bisa menuntaskan ceritanya hanya dalam 3 part Not Cyber Love=Not LDR [Happy ver.], ehh ternyata udah keren” pembagiannya dibuat jadi 1.3; 2.3; 3.3, aku malah ngerasa pesanku tidak tersampaikan, jadi kalau aku mau lanjutin di satu judul, ya ga bisa. Gak mungkin kan tiba” aku buat jadi 4.6; 5.6; 6.6.
(Ini untuk menjelaskan pertanyaan dr comment di cerita sebelumnya)🙂
Dan warning nih.. ehehe.. ceritanya akan terlalu panjang. Maaf bgt ya, semuanya karena ternyata chronicles ini harus dibagi lagi. Hhh.. Maaf ya. Aku minta maaf bgt. Mungkin ini akan menjadi FF yang pertama dan terakhir yg akan membingungkan kalian.
Oke, ada yang bingung saat baca ini. Ikuti instruksi ini:
1. Baca Cyber Love=LDR (Part 1 dan 2)
2. Lanjut ke By This Tears (Ini drabble)
3. Trus pindah haluan ke Ji I-summary “Not Cyber Love=Not LDR” (Disini ada ketentuan dengan cerita yang dibagi menjadi 2 ending [Sad and Happy ending]
4. Untuk baca Happy Ending, langsung aja baca Not Cyber Love=Not LDR [Happy Ending, Part 1 sampai 3] => NB Kalau mau baca Sad Ending bisa baca di (https://shiningstory.wordpress.com/2012/01/25/not-cyber-lovenot-ldr-imaginary-ver-1-2/ dan

https://shiningstory.wordpress.com/2012/02/01/imaginary-ver-not-cyber-lovenot-ldr-sad-ending-2-2/) dilanjutkan ke The Letter.
5. Baru sampailah untuk baca Chronicles dari bagian ke-4, At The End 
Oh ya, semoga ga ada typo, deh. Aku suka malu pas baca versi udh di publish, ehh msh ada typo yg nyelip walau udh di koreksi =.=
Happy reading! ^^

Author             : Ji I-el

Main Cast        : Lee Taemin, Athena Efrinne (it’s Taemints time)

Support Cast   : Lee Taesun (anggap aja kembarannya Taemin), Allichia Putri, Staff rumah sakit, Mrs. Lie, Lee Minra, Kim Hana, Lee Jinki (maaf ya, abang Jinki dipindahkan jadi cameo soalnya disini emang Taemin dan Athena story line) ^^

Length             : Sequel

Genre              : Romance

Rating             : Teen

Summary         : “… I hope I still find a love for me in there, then I know right.” kataku sembari menuruti pintanya untuk meletakan tangan kananku di dadanya yang berdegup dengan frekuensi yang tidak dapat aku jelaskan.

***Athena POV***

            “Umm kurasa kita harus masuk. Ini sudah tengah malam. Tidak baik di sini terlalu lama, apalagi bagi kalian para yeoja.” Mengerti dengan kekakuanku, Jinki bersuara.

           “Ahh, oppa ada benarnya juga.” Hana menanggapi dengan anggukan setuju. Kemudian dia hendak menggandeng tanganku, tapi Jinki berhasil meraih sebelah tanganku duluan.

             “Biar aku saja.” Kurasa itu permintaan persetujuan pada Hana.

Dan tiba-tiba Taesun menyela di antara aku dan Hana. “Permisi ya, aku mau di samping noona.” Dan diapun melakukan hal yang sama dengan Jinki, yaitu menggenggam tanganku, kemudian memasukkannya ke saku jaket yang dia kenakan.

Di dalam kamar yang ditunjuk oleh seorang house maid untukku, aku merenungkan keseluruhan hari ini. Terbersit rasa syukur sejenak karena aku masih hidup sekarang, tidak terserang asma, kemudian kehabisan napas, hingga akhirnya meninggal di hari pertama diumurku yang ke-23 ini. Kenapa harus ada hari yang seperti ini disepanjang sejarah hidupku, heuh?

Kreet..

Terdengar pintu terbuka perlahan. Di depan pintu bertengger sebuah teddy bear berwarna broken white.

       “Nugu?” tanyaku pada siempunya tangan yang menggendong boneka tersebut tepat di depan wajahnya.

              “Boo!!!” serunya, membuat aku kaget, tapi kilas senyum segera semerbak tersimpul indah di antara pipiku. “Aku masih hapal kalau hari ini noona ulang tahun.” Taesun menghampiri tempat tidurku, dan kusambut dengan mendudukan diriku.

               “Tapi, inikan sudah lewat beberapa menit, Taesun.”

             “Tidak apa-apa, noona.” Dia mulai mengambil tempat di pinggiran tempat tidur dan meletakkan bonekanya di sebelah kananku. “Kau tahu, begitu halmeoni bilang kalau kau akan kesini, tadi siang aku langsung ke mall untuk mencarikan kado, noona. Ehehe.. jadi maaf ya kalau kadonya kurang berkesan untukmu.” Taesun terlihat menggaruk kepalanya dan menyengir kuda.

            “Kau tahu tidak, noona bahkan sangat suka boneka ini.” kupeluk boneka pemberian Taesun erat-erat sebagai bukti perkataanku.

             “Iya, aku tahu noona akan suka boneka itu karena warnanya putih, kan?” tanya Taesun sambil menangguhkan kepalanya, aku hanya mengangguk. “Oh ya, Taemin hyeong. Aku tidak tahu apa dia akan memberikanmu hadiah, tapi seingatku, dia selalu menatap foto kalian berdua setiap tanggal-tanggal penting. Dan termasuk hari ulang tahunmu, dia pasti akan menangis sambil memeluk fotomu. Dan dia bilang kau sangat cantik mengenakan dress perawatmu itu, noona.”

             “Taesun..” berniat untuk menghentikannya bercerita tentang Taemin, aku memanggilnya dengan nada memelas.

          “Oh ya, ada lagi. Dia bilang sangat menyesal karena tidak bisa menjadi bagian penting dari hari-hari terindahmu. Umm.. Seperti saat capping day, hari wisudamu, dan bahkan hari pertama kau bekerja di Seoul National University Hospital. Dia bilang, ingin sekali menjadi orang yang senantiasa berdiri di sampingmu saat berfoto.”

              “Taesun..” kucoba lagi memanggilnya, tapi dia seakan tak mendengarku.

            “Dia mengoleksi semua fotomu. Dan bahkan tiga tahun yang lalu, saat dia pikir akan bisa bertemu denganmu untuk merayakan natal dan tahun baru bersama, dia merasa sangat bodoh karena tidak bisa menemukan dirimu. Dia, pasti sangat mencintaimu, noona.”

            Aku menangis keras, dan suara tangisanku membuatnya terkejut hingga bungkam. “Ta-Taesun, bisakah kau menghentikannya? Hatiku sudah cukup sakit dengan hari ini. Hari ulang tahun terburukku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu lima tahun ini.” Aku menangis sekerasnya dan tak peduli jika suaraku terdengar sampai luar.

            “No-noona..” panggil Taesun dengan suara yang panik. “Mianhae.. Jeongmal mianhae, noona. Aishh.. uljimma. Uljimma. Dangsin uljimarayo, noona. Imma here, now. Just calm down, okay?” Mendengar instruksi itu, aku pun langsung tenang. “Maaf, bukan maksudku untuk membuatmu sedih, hanya saja aku ingin noona tahu bahwa hyeong juga tersiksa. Dan akhirnya, hari ini terpaksa menjadi ada dan terlalu pahit bagimu karena cinta hyeong pada noona.” Taesun mengelus puncak kepalaku perlahan. Sungguh nyaman mendapat dekapan hangat seperti ini.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

 ***AUTHOR POV***

Suasana mulai mereda seiring tidak terdengarnya lagi suara tangis Athena. Taesun mendekap Athena terlalu dalam hingga Ia terbuai ke alam mimpi. Mungkin karena terlalu lelah dengan merasakan rana dari hidupnya, Ia tertidur dan sudah terlalu enggan untuk membuka mata.

Taesun pun membaringkan Athena dengan perlahan, dan menarik selimutnya hingga batas pinggangnya. Sekali lagi Ia menyelipkan helai-helai rambut Athena ke dalam jari-jemarinya dan beranjak dari kamar Athena. Tapi, baru saja hendak menutup rapat pintu Athena, di hadapannya tengah berdiri seseorang yang tanpa disadarinya telah mendengar segala yang terjadi di dalam kamar tersebut.

    “Ka-kau! Dasar! Mengagetkanku saja!” yang diajak bicara hanya menanggapinya dengan diam. “Kau mau masuk juga? Masuklah, sebelum matahari terbit, kurasa hanya itulah batas waktu yang kau miliki.”

              “Kuharap tidak.”

Segera saja sosok yang semula Taesun ajak bicara sejenak itu membuka pintu kamar Athena. Dan menjejaki kakinya perlahan di lantai-lantai kamar yang tertutup karpet tebal dan hangat terasa oleh kaki tersebut.  Sosok namja itu perlahan berlutut di depan Athena yang tengah tertidur lelap. Disapukannya jari-jari tangan besar miliknya di sela-sela helai rambut Athena dari puncak kepalanya hingga ujung rambutnya.

Dia tersenyum perih saat menatap wajah polos Athena. Jika diselusuri ke dalam hatinya, sebenarnya ingin sekali Ia mendekap Athena agar kehangatan cinta yang sejak dulu dia jaga hanya untuk Athena dapat tercicipi. Ingin sekali Ia mengecup bibir mungil yang memerah saat dilihatnya Athena mengecap dalam tidurnya, bahkan mungkin Ia ingin menyesap bibir atas dan bawahnya seperti hot jasmine tea yang biasa Ia minum setiap sore santainya.

Hatinya sakit, begitu sakit karena Ia tidak bisa melakukan seluruh angannya, walau wanita yang diharapkannya tepat berasa di hadapannya. Sungguhpun, Ia ingin melampiaskan kerinduannya, tapi tertahan dengan drama hidup yang melarang keinginan dagingnya tersebut.

Tak mau menunggu hingga yang ditatap sedari tadi bangun, Ia keluarkan sebuah kotak dari saku piyamanya. Tak begitu besar, tapi tidak kecil juga, mengingat ketika namja itu membukanya, sebuah kalung dengan bandul sebuah gambaran awan yang tergantung secara horizontal ada di dalamnya. Kemudian, diambilnya kalung tersebut, dan melingkarkannya dengan hati-hati di leher Athena, sehingga tidak ada ungkapan terganggu sedikitpun yang ditunjukan oleh Athena.

Begitu terpasang sempurna, Ia turunkan perlahan kepala Athena, dan menyangga kembali kepala Athena dengan bantal yang lembut. Ditatapnya Athena sesaat, tapi kemudian Ia melihat boneka Pikachu yang tertidur nyenyak di samping Athena. Sepintas, Ia tersenyum. Mungkin Ia teringat ketika Athena menanyakan karakter kartun favoritnya, begitu Athena tahu akan ada perpisahan diantara mereka.

Drrt.. Drrt..

Ada getaran di bawah bantal Athena. Penasaran, sosok yang kini terlihat jelas sebagai seorang Taemin itu pun mengambilnya. Begitu dilihat, ponselnya menunjukan tanda pengingat, dan tanpa persetujuan, dibukanya pesan pengingat tersebut. Tertulis, ‘February 25th, the day after my holy shit b’day. The moment which remins that I hate my b’day cause his engagement.

Terpukul, itulah yang Taemin rasakan. Hatinya remuk. Sebegitu bencinyakah seorang Athena sampai Ia tidak memberikan tanda apapun untuk hari ulang tahunnya, tapi memberikan pesan kebencian untuk satu hari setelah tanggal 24 February? Ia bahkan tidak mengerti bagaimana Athena bisa tahu bahwa tepat di hari ulang tahun Athena, dirinya telah bertunangan dengan Hana? Chia, ya, hanya satu nama yang terpikirkan sebagai sumber untuk Athena.

Dengan pipi yang sudah banjir air mata, Ia menarik selimut Athena hingga yeoja manis tersebut tenggelam dalam kehangatan semu dari benda mati tersebut. Dikecupnya kening Athena saat hatinya tidak sanggup lagi untuk menahan buncahan cinta yang tidak pernah terpikirkan untuk menghilangkannya tersebut. Dan, pergilah Taemin dari kamar wanita yang Ia cintai itu menuju kamarnya, kemudian menangis hingga matahari mengintip jendelanya.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

 ***Taemin POV***

Aku mengerjap sebentar sambil melihat langit-langit kamar. Sama sekali tidak ada rasa untuk bergerak, sepertinya. Kalaupun bisa, ingin sekali bisa menghindari dunia ini. Dunia dimana ada Appa, Kim Hana, dan semua drama yang didalangi oleh rasa tidak mausiawi dari appa, walau masih ada Athena di dunia ini.

              “Jagi..” Berisik!! Begitulah keluhku ketika mendengar suara gadis itu. “Ayo, bangun! Kita bantuin Taesun oppa, Jinki oppa, dan Athena eonni bersih-bersih halaman.” Aku mengernyit heran. Sejak kapan dia jadi peduli dengan orang yang baru dilihatnya?

            “Sudah sana. Aku belum mandi.” Awalnya aku keras padanya, tapi, sejak kejadian dia batuk darah sewaktu makan siang denganku setahun lalu, aku mulai melunak padanya. Entahlah, mungkin hanya rasa iba.

            “Ahh.. kan kita mau bantuin bersih-bersih, jadi tidak perlu mandi. Kajja!” Hana menarik tanganku sekuat tenaga dan mau tidak mau aku beranjak masih dengan piyama biru yang kukenakan.

Bermodalkan tenaga Hana saat menyeretku, aku turun ke lantai bawah, dan segera menghampiri pihak yang sedang bersih-bersih di halaman. Hei, Sejak kapan si Taesun yang terkenal hanya pintar menyelesaikan game itu jadi senang bersih-bersih? Lalu, ada apa dengan otak Jinki hyeong yang hanya bisa makan itu sampai mau capek untuk membersihkan rumah? Kemudian, aku lirik Athena yang sedang tersenyum. Sepertinya, hanya dia satu-satunya jawaban dan kemungkinan yang membuat pandangan pagi ini menjadi demikian hangat.

             “Wah, lihat kau tersenyum!” kata Hana sambil menunjuk bibirku lekat. “Aku hampir tidak pernah melihatmu tersenyum, bahkan dengan Taesun sekalipun.” Benarkah aku tersenyum? Tapi, kurasa itu memang karena aku melihat senyum Athena. Rasanya seperti mendapat pantulan dari senyum merekah Athena, makanya aku bisa tersenyum tanpa sadar.

        Kulihat Hana tiba-tiba berhambur di keseruan Taesun, Jinki hyeong dan Athena. “Aku ikut!!” seru Hana dengan semangat sambil menarik selang air dan mengarahkannya sembarang. Wajah Athena langsung berubah. Begitu pula Taesun dan Jinki hyeong. Senyum mereka hilang. Hanya ada kaku yang hinggap. Namun, tak lama Athena mengembangkan senyumnya lagi. Tak lupa Ia memberikan sikat dan memerintah Hana untuk membersihkan bagian yang belum  mereka sikat. Ah, mungkin yang tadi hanya ilusiku. Tidak akan ada yang terjadi pada Athena. Dan seharusnya begitu.

Mereka kembali menyikat lantai depan rumah dengan antusias. Aku masih bertahan untuk berdiri di samping pintu. Aku.. aku tidak ingin merusak mood yang Athena miliki. Aku yakin, mungkin di dalam otak Athena masih ada rasa tidak terima karena suasana kemarin.

Aku amati lagi dirinya yang sedang bermain sabun dan sedikit bercanda dengan Taesun. Oh ya, tadi malam kan memang dia yang menenangkan Athena. Kurasa ini salahku karena meminta Taesun menceritakan apa yang Athena dengar semalam tentangku, hanya untuk melihat reaksinya. Aku ingin mencari cinta yang mungkin masih tersisa di hati Athena untukku.

Melihat bahagianya lagi, terpikir olehku untuk menjadikan cintaku sebagai hidupku, seperti keinginanku sejak hari pertama aku mengenalnya. Aku juga ingin mengunci senyum seorang Athena hanya untukku saja. Bahkan aku tidak ragu sama sekali memiliki dirinya secara utuh dan memberikan diriku sepenuhnya untuk Ia miliki. Juga tidak ada rasa enggan sedikitpun untuk menitipkan benih cinta pada rahimnya.

Hanya itu yang aku tahu begitu aku menatap mata sendunya ketika melihat wajahku secara nyata untuk pertama kali, dan ketika aku melihat kepolosan dunianya ketika dia tidur, dan bahkan saat sekarang Ia mencoba mengalihkan dunianya seakan aku tidak ada di sekitarnya untuk sementara. Yah, walau aku tahu, dibalik senyumnya itu, ada kepedihan ketika Ia sendirian saja. Tak jauh beda dengan hari-hariku begitu aku menghilang dari hidupnya.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Athena POV***

             “Hoahmm..” Aku menguap lebar dan mengangkat tanganku ke udara untuk sekedar merelaksasi ototku.

         “Ya!! Kalau menguap tuh ditutup dong mulutnya, noona.” Sontak aku langsung menyilangkan kedua tanganku di depan dada.

            “Taesun-ah, ngapain kau di sini?” tanyaku dengan suara khas orang baru bangun tidur, tapi sedikit meninggi.

         “Sudahlah, tadinya kupikir noona udah bangun. Ayo, ikut aku!” Taesun menarikku hingga aku terjengkang dari tempat tidur.

            “Aish… apa-apaan kau ini, Taesun. Kita mau kemana sih?” Aku berusaha menolak tarikan Taesun.

            Ia pun menghentikan tarikannya, lalu menoleh padaku. “Mem-ban-tu Jin-ki hyeong men-cu-ci mo-bil.” Seorang Taesun mendikteku? Sial anak ini.

            “Oke. Oke. Tapi, tidak bisakah kau beri noona waktu untuk sekedar cuci muka, sikat gigi, menyisir rambut, dan berganti piyama ini?” kata-kataku menghentikan niatnya untuk menarikku lagi. Dia menoleh dan memperhatikan aku seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki.

            “Well, kau benar sekali noona. Tampangmu saat baru bangun tidur sangat buruk. Baiklah, aku kasih waktu lima menit.” Siapa yang dia bilang buruk? Aku? Dasar anak ingusan.

            “Hei, bisakah kau mengingat bahwa aku ini lebih tua darimu, saeng?” aku memberi penekanan pada kata ‘saeng’ agar lebih jelas bahwa tidak sepatutnya dia bersikap begini padaku.

            “Bagiku, kau tidak lebih dari bayi besar yang kekanakan.” Setelah bicara seperti itu, Taesun melenggang pergi. Ada apa dengannya pagi ini? Bicaranya kacau sekali.

Setelah menutup lagi pintu kamar, aku segera pergi ke kamar mandi. Aku basuh wajahku dengan air dan mencari-cari handuk di lemari kaca yang ada di hadapanku. Kemudian, aku mengeringkan wajahku sambil bercermin.

           “Oh!” Gumamku begitu menyadari ada sebuah kalung yang melingkar di leherku. Aku raba bandulnya. “Ini gambar apa sih?” Aku membolak-balikan kalung itu, sebentar memiringkannya, lalu membutnya vertikal, dan akhirnya mengikuti arah jatuhnya bandul itu secara horizontal. “Ini gambar awan, ya?”

Aku menyipitkan mataku. Siapa yang memberikan ini? Taesun? Tidak mungkin dia. Semalam kan dia hanya memberikan boneka teddy. Jinki? Dia kan semalam langsung pamit pulang setelah mengantarku ke kamar. Lagipula mana mungkin si bodoh pecinta ayam itu mau memberikanku emas putih begini. Taemin? Heum.. Aku ragu, tapi dia kan memang dijuluki awan. Tapi, kapan dia memasangkan ini? Saat aku tidur? Apa ini hadiah ulang tahun untukku? Aduh, terlalu banyak pertanyaan di otakku sekarang. Kurasa, aku memang butuh udara luar.

** Clouds El Moon **

Begitu aku hendak turun menuju halaman, aku berpapasan dengan Hana di tangga. “Eonni.” Sapanya ramah. Tidak berbeda dengan saat aku merawatnya di rumah sakit.

            “Hana.” Sapaku tak kalah ramah. “How are you?”

            “I’m fine, eonni. How about you?

            “Umm.. I feel so so.” Dia mengernyit heran. “Kau mau kemana?”

            “Membangunkan calon suamiku, eonni. Ehehe..” Sementara dia menyengir senang, aku tersenyum rapuh. “Eonni, umm.. Ada yang ingin aku ceritakan. Nanti, kita jalan-jalan ya sore ini.”

           “Tentang apa? Calon suamimu?” Tanyaku pura-pura antusias. Kalau memang tentang Taemin, aku akan mencari alasan untuk menolak dengan segera. “Aniyo. Ini tentang apa yang eonni rawat setahun lalu.” Aku melebarkan mataku. Tentang itu? Ada apa lagi? “Dan, aku ingin meminta sedikit saran dari eonni. Ini ada hubungannya juga dengan Taemin oppa.” Mendengarnya memanggil Taemin seperti itu, aku ingin sekali tersedot ke luar angkasa, andai Aku bisa.

         “Jagi..” Teriaknya. Aku hanya bisa tersenyum, ketika Hana segera berlari menuju kamar Taemin yang hanya berjarak 2 pintu dari kamarku. Tak mau memenuhi otakku dengan pikiran-pikiran aneh, aku segera turun dan menghampiri Taesun dan Jinki.

Sesampainya Aku di halaman, aku malah melihat pemandangan Taesun dan Jinki yang sedang merapikan ember dan mengeringkan mobil saja.

             “Sudah selesai, ya?” Tanyaku sambil menggaruk kepalaku.

            “Noona telat.” Keluh Taesun sambil menyiram kakiku dengan air yang keluar dari selang.

          “Aku telat? Kalian berdua saja yang terlalu cepat mencucinya.” Belaku sambil mengambil kain pengering dan mulai membantu Jinki mengeringkan badan mobil.

            “Athena.” Panggil Jinki. “Kau masih mau main air?” Aku menjawab dengan anggukan sambil terus mengelap mobil. “Bagaimana kalau kita membersihkan lantai luar saja?” aku menimang ajakannya. Lalu, aku mengangguk.

           “Woo…” sorak Taesun bersemangat sambil menyiram lantai luar rumah yang terbuat dari keramik tersebut. Sesekali Taesun mengarahkan airnya kepadaku dan Jinki.

             “Ini!” Kata Jinki sambil memberikan sikat lantai padaku.

Aku dan Jinki mulai menyikat lantai, setelah Taesun menebarkan sabun di lantai dan kembali menyirami lantai hingga banjir.

        “Taesun, jangan siram air lagi. Bukannya bersih, lantainya bisa-bisa lapuk nih.” Begitu Aku berkata seperti itu, Taesun langsung menekuk bibirnya yang merah itu. “Aigo.. neoneun gwiyeopta, saeng.” Sembul merah merona di kedua pipi Taesun.

            “Ahaha..”  Jinki tertawa keras melihat tingkah adik sepupunya. Akupun ikut tertawa.

            “Aku ikut!” Seru Hana yang berlarian ke arah kami, tidak peduli lantainya licin karena sabun. Aku melongok kaku, ketika aku melihat Taemin menyender di daun pintu sambil memperhatikan aku. Oh, tidak. Maksudku memperhatikan Hana, mungkin.

Walau aku agak bingung karena tiba-tiba ada Hana, untungnya aku masih bisa mengendalikan diri dan perasaanku, kemudian memberikan sikat yang tidak terpakai pada Hana dan segera tersenyum. Tiba-tiba, Taesun berseluncur ke arahku hingga aku jatuh terduduk. Spontan aku menarik bajunya, dan menghujaninya dengan pukulan ringan. Dia pura-pura kesakitan, lalu tertawa bersamaku. Jinki yang sejak tadi memperhatikan, hanya menggeleng keras sambil terus menyikat lantai. Lalu, pandanganku bertolak pada Taemin yang diam dengan tatapan kosong. Entah apa yang kini ada di pikirannya.

Aku menyingkir agak jauh dari Jinki dan Taesun yang sibuk bermain seluncur di lantai, dan Hana mengikutiku. Aku melihat senyum Taesun yang merekah, mengingatkanku dengan kejadian lima tahun yang lalu. Dia suka membuatku tersenyum sampai tertawa hingga perutku sakit. Walau, hanya lewat social media, tapi aku pikir hidupku sudah sangat dekat dengannya. Dia, sudah aku anggap seperti adikku sendiri.

            “Eonni.” Panggil Hana, membuyarkan khayalku. “Eonni dari tadi senyum-senyum ngeliat Taesun. Jangan-jangan eonni suka sama Taesun, ya?” Goda Hana dengan suara yang cukup untuk terdengar Taemin dan membuatnya menoleh.

            Aku masih tercengang dengan ucapannya. “Hah? Ani. Aniya. Jeongmal babo saram kalau aku suka sama namja seperti itu.” Tak sadar, kerasnya suara elakanku, malah membuat Taesun dan Jinki berhenti bermain, hingga akhirnya mereka memperhatikanku.

           Hana mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Aku akan bantu eonni, kalau tidak keberatan. Tidak usah mengelak seperti itu kalau eonni malu mengakuinya.” Bisik Hana padaku. Aku hanya menoleh ke arahnya dengan tatapan ‘aku tidak suka padanya.’ Tapi kurasa Hana bukanlah tipe orang yang dapat mengerti dengan bahasa tatapan mata.

** Clouds El Moon **

Sore ini, disinilah aku. Duduk di satu-satunya bangku yang ada di halaman taman sembari menunggu Hana bersiap-siap. Aku menautkan headset ke dalam lubang telingaku dan mendengar instrument-instrument ringan yang dibawakan Yiruma. Tapi, entah mengapa playlist yang kugunakan, malah memutar lagu Still With You.

Heaven knows what you’ve been through

So much pain

Even though you can’t see me

I’m not far away

We always say if one of us

Somehow went away

We’d light a candle and say a prayer

Know that love still remains

Close your eyes, go to sleep

Know my love is all around you

Dream in peace, when you wake

You will know I’m still with you

Merasa ada yang janggal, aku membuka kedua mataku. Sangat kaget begitu melihat kedua headsetku tengah terpangku di pahaku. Aku pun menoleh ke sebelah kiri. Ada Taemin yang sedang terpejam. Tenang menikmati bait kedua dari lagu favoritnya tersebut. Mati aku. Ya, kurasa sebentar lagi aku akan mati. Kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti ini? Apa dia tidak takut dilihat oleh Hana?

            “Oh, kau sudah membuka matamu?” Inikah suara Taemin? Ya Tuhan, sudah kuduga suaranya begitu halus tapi berwibawa. Tunggu, tadi dia bertanya padaku, ya?

            “Humm..” Aku hanya menjawab dengan gumaman dan anggukan ragu.

      “Tidak usah takut, Hana baru saja selesai mandi. Dia akan lama saat berdandan.” Kata Taemin memberi tahu, dan memasang kembali sebelah headset miliknya yang sempat terlepas.

         “Bukankah, kau bicara sedikit sekali?” Tanyaku membuat Taemin kembali membuka matanya.

      “Heum? Siapa? Aku?” Tanya Taemin memastikan. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. “Memang iya. Tapi, kurasa memang hanya denganmu aku bisa mengeluarkan semua suaraku. Kau tahu, bersuara itu membutuhkan napas, dan karena dirimu masih menjadi napasku, tentu saja aku hanya bisa bicara banyak saat ada dirimu.”

            “Ta-Taemin..” Aku memanggilnya pilu. Masih sebegitu berartinyakah diriku bagimu sehingga kau bicara seperti ini? Tapi, bukankah minggu depan kau akan menikah? Aku meremas lututku kuat-kuat.

            “Hei, kau kenapa, The?” Taemin melepas headsetnya dan menangguhkan daguku. “Apa yang sakit? Sesak?” Ya Tuhan, mengapa kau harus memisahkan Aku dan Taemin dengan cerita yang seperti ini? Perhatian Taemin bahkan tidak ada yang palsu sama sekali. Semua bayanganku tentang Taemin yang sesungguhnya bahkan tidak ada yang meleset. Bahkan untuk alasanku menunggu Taemin, sama sekali tidak ada yang salah.

            ‘Aku masih mencintainya’ batinku. Kemudian, aku menggeleng lemah. “Nan gwaencahanayo, Taemin-ssi.”

    Matanya membulat. “Ka-kau panggil aku apa?” Taemin melepaskan genggamannya pada rahangku. “Kau pikir aku orang lain, The?”

        “Taemin-ssi, aku.. Jujur saja, aku…” Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. “Tapi, minggu depan kau akan menikah dengan Hana.”

            “Heh!” Ia mendengus. “Kau ini!” Taemin membuang mukanya dengan kesal. “Aku bahkan tidak bisa menumbuhkan cintaku untuk perempuan itu, kalaupun aku menikah, tidak akan ada gunanya karena kau ada di hadapanku sekarang, The. Aku masih mencintaimu.”

       ‘Ya, aku tahu itu, Taemin. Tanpa kau jelaskan pun aku sudah mengerti.’ Batinku dengan tatapan melengkung.

        “Dengar ya, kalau hari ini kau mengatakan ‘aku masih mencintaimu’, maka akan kupastikan pernikahanku dengan Hana akan batal.” Tegas. Dia sudah dewasa, sekarang. Lebih dewasa untuk cintanya. Dan mungkin itu karena aku.

Taemin meninggalkanku dengan kondisi tubuhku yang masih belum bisa berhenti bergetar. Tak lama berselang, Hana datang dengan menepuk bahuku. Setelah aku menghapus jejak air mata dipipiku, aku beralih dengan senyum untuk menghilangkan kecurigaan Hana, dan kamipun pergi dengan mobil yang disetirnya sendiri.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Author POV***

Disebuah restoran klasik, Hana memesan tempat agak di ujung. Dia beralasan untuk mendapatkan tempat yang privasi. Entah apa yang ingin dia bicarakan. Begitu pesanan datang, Hana segera mempersilahkan Athena untuk menyantap hidangan bersamanya. Suasana agak buram dan sulit untuk dicerna Athena. Sepanjang kunyahan gigi geraham mereka, hanya diam yang terajut disela keduanya.

Baru selesai menyapu selembar sapu tangan untuk menghapus noda di sekitar mulut mereka, Hana mulai menyuarakan apa yang sedari tadi ditahannya karena takut Athena tersedak atau semacamnya.

            “Eonni.” Panggil Hana ragu. “Umm.. Aku bingung harus memulai dari mana.” Menyadari kegugupan Hana, digenggamnya tangan Hana agar Ia lebih percaya diri.

       “Mulailah dari mana saja, sebisanya kau bicara. Aku ini kan bukan orang asing.”

           “Begini, eonni masih ingatkan masalah apa yang membuat aku sampai harus menghabiskan waktu lama di rumah sakit? Nah, itu.. itu..” Bicaranya terhalang oleh sebuah lubang besar yang harus Ia tambal terlebih dahulu.

Walau agak sulit dibagian awal bagi Athena untuk meyakinkan Hana agar bercerita padanya, akhirnya bujukan Athena berhasil hingga timbullah satu kesimpulan pembicaraan yang ditangkap tidak baik bagi Athena.

Athena menatap pilu mantan pasiennya tersebut. Entah apa yang harus Ia katakan saat ini karena lidahnya masih kelu dan sulit untuk diajak berkonsentrasi menemukan kata yang baik untuk membuat suasana mencair. Kemudian, pindahlah Athena sehingga sekarang Ia duduk bersampingan dengan Hana. Ditangkapnya kepala Hana dan meletakannya tepat di pundak kanannya.

           “Sudahlah, Hana. Kalau kau merasa ini terlalu berat, bagilah padaku. Seperti biasa yang kau lakukan saat masih dirawat di rumah sakit.” Athena masih mengelus rambut Hana. “Kau ingat, dulu, kau akan mencubitku bahkan tak jarang aku pulang dengan luka karena garukan dalam dari kukumu. Jadi, lakukanlah itu lagi jika kau merasa sudah tidak sanggup.”

         “Jeongmalseo? Eonni, mengizinkan aku untuk melakukan itu lagi?” tanya Hana dengan wajah yang terlalu gembira.

       “Tentu saja. Asal kau bisa hidup lebih baik dan bertahan seperti tahun lalu.” Mendengar Athena berkata begitu, Hana menarik kepalanya dari pundak Athena.

      “Eonni, untuk itu. Aku.. Aku.” Timbul tanda tanya besar bagi Athena. Lalu, dilihatnya Hana yang menyodorkan sebuah amplop coklat kepada dirinya. Dan segera Ia buka.

          Athena pun membaca lembar demi lembar kertas yang ada di dalamnya. “Ini, apa ini? Bukankah kau bilang waktu itu..” Kata-kata Athena tertahan oleh pelukan Hana.

         “Mianhae, eonni. Mianhae. Maaf karena sudah berbohong.” Ada sengatan yang tiba-tiba membuat sistem saraf Athena seketika itu berhenti. Lalu, dipeluknya Hana dalam-dalam seakan tak ingin terlepas. Dan dari pelukan itu, Athena berharap semoga esok menjadi lebih baik.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

 ***Athena POV***

Aku segera menyambangi pintu dan membukanya, diikuti oleh Hana yang masih saja jalan tertunduk. Entah aku harus marah atau aku harus mengacuhkan Hana saat ini, entahlah. Tapi rasanya aku ingin marah pada diriku sendiri yang telah ceroboh.

         “Noona! Noona!” aku bahkan mengabaikan Taesun yang memanggilku dengan suara keras.

Brak..

Ku banting pintunya tepat ketika Taesun berada di muka pintu. Entah mukanya terkena sambaran pintu atau tidak, tapi sekarang aku sedang tidak peduli dengan itu. Aish.. begitu aku melihat isi amplop itu, rasanya aku ingin meledak. Bagaimana mungkin hal itu bisa luput dari sepengetahuanku? Kenapa aku bisa begitu ceroboh pada Hana?

             “HANA!! ADA APA DENGAN NOONA, HAH?!” Taesun terdengar membentak Hana tepat di depan pintu kamarku. Aku putuskan untuk melerai mereka karena tidak baik bagi Hana mendapat perlakuan seperti itu secara psikologi. “KENAPA KAU MENGGELENG. DIA KAN PERGI BERSAMAMU, TADI.”

         “Taesun-ya, bisakah kau pelankan suaramu?” Kataku dengan sangat perlahan begitu aku mendapati mereka berdua masih berdiri di depan kamarku.

              “Noo-Noona, kau tidak apa-apa, kan?” Tanya Taesun dengan khawatir dan sigapnya melakukan inspeksi pada tubuhku seraya memutarkan tubuhku ke kiri dan ke kanan.

            “Aku tidak apa-apa, saeng.” Aku meyakinkan Taesun. “Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Ini sudah malam. Suaramu bisa membangunkan halmeoni, eomma, dan appa-mu.” Taesun mengangguk paham dan mulai berjalan ke arah kamarnya yang berada tepat di sampingku. “Kau juga, Hana-ah.”

Aku kembali lagi masuk ke kamarku. Tadi, aku melihat Taemin yang memperhatikan insiden singkat tersebut. Aku kembali teringat dengan kata-kata Taemin tadi sore, ‘kalau hari ini kau mengatakan ‘aku masih mencintaimu’, maka akan kupastikan pernikahanku dengan Hana akan batal’. Ya Tuhan, apa boleh aku begitu? Perawat macam apa aku ini, jika kebahagiaan Hana masih saja ingin aku rebut?! Wanita macam apa aku, jika aku bahkan terlalu egois akan cintaku pada Taemin? Ini pernikahan yang dinantikan oleh Hana, bukan? Ya, aku ingat setahun yang lalu, dia begitu bersemangat menceritakannya disela-sela rasa nyeri yang tak tertahankan tersebut sambil terus menarik tanganku hingga memerah. Tapi, kenapa harus Taemin orangnya? Kenapa bukan namja lain yang selama ini Ia ceritakan padaku?

Masih haruskah aku membuat senyumnya pudar karena cintaku? Bahkan untuk saat ini aku tidak berani untuk mengatakan pada Hana bahwa akulah wanita yang dicintai Taemin, hingga Hana sendiri sadar bahwa tidak pernah ada sejentikpun dirinya di hati Taemin. Dia sadar bahwa ada wanita lain yang lebih dicintai seorang Taemin ketimbang dirinya yang bahkan akan menikah minggu depan. Bagaimana aku mengatakan bahwa wanita itu adalah aku? Bagaimana aku mengakui bahwa sosok wanita yang selalu dipuja-puja dan dibandingkan dengan dirinya oleh Taemin saat mereka kebetulan sedang duduk bersama itu adalah aku?

Tiba-tiba saja terlintas perkataan Taemin lagi, ‘… kalaupun aku menikah, tidak akan ada gunanya karena kau ada di hadapanku sekarang, The. Aku masih mencintaimu.’ Ya Tuhan, apalah dosaku di masa lalu hingga hidupku untuk mencintai Taemin saja menjadi sangat sulit? Lebih sulit dibandingkan dengan menunggu bertahun-tahun. Baiklah, kalau memang ini semua karena ada diriku dihadapanmu, sekarang, kurasa aku tahu apa yang harus aku lakukan besok pagi. Mungkin ini jalan terbaik yang harus aku lakukan. Mulai besok pagi, tidak akan ada lagi nama Athena untuk keluarga ini.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

Huduh..

Panjang bener ya? Aku aja sampe panas-dingin pas ngetiknya dalam sehari (panas atau dingin nih? Plin-plan bener ah)😄

Oh ya, gimana, masih mau lanjut baca, kan?

Eaaa.. ya, semoga masih betah untuk stay tuned di FF ini🙂

Oh ya, maafkan jika disini masih terdapat typo, tp semoga ga parah krn aku udh ngecek ulang smpai 3 kali😄 Tp, namanya jg mata, yah ada batasnya😄

Terima kasih atas waktunya untuk membaca FF ini, apalagi meluangkan sedikit waktu lagi untuk comment ^^

Well, seperti biasa, comment like oxygen dan cara kamu berkomunikasi dengan authornya. Jadi, harap comment ya🙂

©2011 SF3SI, Ji I-El.

Officially written by Iza, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “At The End Part 1 [Not Cyber Love=Not LDR, Happy Ver.]

  1. Waa.. Aku suka ne FF!
    Aku nyesel bgt bru baca skarang.. Q coba cari di library kq ga ada ya..? Padahal aku pengen baca dari awal..

    1. Umm cari di link tempat karya” main author diletakin deh.
      Apa ya namanya, aku lupa..
      Jarang muter” sih
      Umm well, thanks for ur comment ^^

  2. Ji I-el-ssiii…
    aku suka FF iniii dari awal ampe akhiiirrrr sekarang…

    DI LANJUTKAN !!! POKOKNYA HARUS LANJUTKAN PART 2..
    AKU MENUNGGU !!!

    keren banget niih, sepertinya Athena akan pergi jauh jauh dari keluarga itu dan menghilang..ckck

    kasiiiiiann sekali sih idup Athena, cintanya pada Taemin bener-bener suliit..
    Joahae😀

    1. Eh iyakah??
      Wuahh senangnya mengetahui itu ^^
      Humm iya, sepertinya dia memang akan pergi, tapi kita lihat saja nanti ^^
      Hu-umm kehidupan yg pelik ya
      Well, thanks for ur comment ^^

  3. Betaah, sangat. Ayooo thor lanjuuut😀 author selalu buat penasaran karena ff nya yang ber-part😦 di tunggu kelanjutannyaaa ya, dan aku berharap athena sama taemin

  4. Aigoo ya-_- complicated sekali iniiii =\.
    Bingung, endingnya sama sekali nggak ketebak, tapi karena endingnya pasti happy ending (karena judulnya mengatakan bahwa ep ep ini happy ending.__.), Taemin balik lagi sama Athena kah? =|.

    Well, lanjutannya jangan lama-lama ya Eon =D, keep writing Ji I-el Eon *big hug*

    1. Wuihh..
      syukurlah endingnya tidak dapat ditebak krn klo km bisa nebak, akan sangat disayangkan😄
      Iya, yg penting happy ending toh?? ^^
      Sipp ga lama, sabar ya🙂
      Thanks for ur comment ^^

  5. aduh rasanya pingin nangis..

    Athena gunakan caraku.. ungkapin secara terang2an di depan Taemin dan Hana.
    Hana ga peka banget deh, itu Athena tu suka ama TAEMIN bukan ama Taesun.

    aduuh.. next part aku tunggu, jangan lama2 loo.. hehehe

    1. Jangan nagnis, sayang
      Ini kan bukan sad ending..
      yah, setidaknya nangisnya jgn lama” deh ^^
      Umm Athena bukan org yg frontal syang, jd dia tidak bisa sepertimu ^^
      Thanks for ur comment ^^

  6. Kenapa kesan nya masih sad ending ya? Apa mungkin karena terlalu menyesekkan???
    Aigo, pasti Athena lagi dilema akut nih… *nyanyibarengd’masiv*
    harus optimis Athena bakalan happy ending ma Taemin🙂
    lanjut lanjut lanjut

    1. Iya yahh??
      aku juga bingung, ,slhnya aps otakku berpikir, jalan cerita seperti inilah yg terpikirkan ^^
      Oke, sudah di lanjut kok
      Thanks for ur comment ^^

  7. akhirnya bisa bc ini juga

    siempunya… dipisah ya.. si empunya..

    bahkan mungkin Ia ingin menyesap bibir atas dan bawahnya seperti hot jasmine tea yang biasa Ia minum setiap sore santainya.

    ‘ia’ klo di tengah kalimat.. gak perlu diawali dgn huruf kapital… ^^ kecuali ‘ia’ itu menunjuk Tuhan.. baru pke huruf kapital ‘Ia’

    lucu deh byngin athena maen2in pikachu.. diselimutin.. digendong2.. hahaha

    aaa itu isi amplopnya ap? ayo ayo lanjut..

    1. Maaf ya atas typo ini..
      aduh, aku nyesel deh krn masih kurang teliti😦
      Aduhh pokoknya maaf maaf maaf -bow-
      Wll, thanks for ur comment ^^

  8. Hah….. Akhirnya kesampaian baca jugaaa…

    Itu si Hana cerita apa sama athena… Kok athena jd keder begitu… Huwahhhh…

    Tp aq optimis jd kisah indah krn udd pasti judulnya happy ending…

    Masih sedikit bingung sih peran Jinki sebenarnya disini sbg apa…hehehe abis kemarin sempet deket sama athena… Trs Minho juga kemana tuhhh,,,, ngilang gitu ajj…XDD

    baiklah… Ayo taemin.. Sekali-kali bersikap egois.. Batalkan pernikahanmu dg Hana…. Kembali pada athena… Yoyoyo…hahahaha

    1. waduhh.. memangnya slama ini tdk kesampean utk baca??
      Umm apa ya??
      umm tunggu aja di next partnya ^^

      Kamu psti msh kebayang sama sad ending ya??
      itu bda sayang😥
      Coba deh km perhatian before story-nya😦

      Ahaha..
      kita lihat saja nanti apa yang akan terjdi ya??
      Thanks for ur comment ^^

  9. nice nice dr awal aku udah nungguin ini ff thor . pokoknya aku gak rela klo athena sama taemin gak happy end *eh ^^v

  10. yeay! akhirnya author ji I-El muncul juga!
    sejak awal ceritanya udah bikin penaaran aja thor~

    ceritanya berakhir happy ending kan thor? entah kenapa ceritaya jadi seperti sad ending😦 kasian athena😦

    ok, ditunggu part terakhirnya ya thor😉

  11. oia taesun suka ama the? tapi perasaan bkannya taesun uda pnya cewe ya?

    huaaaa nyesek deh kalo ada di posisi athena, jadi apa isi suratnya? apa tentang kalo hidup hana gakan lama lagi? trus apa yg akan ter jadi selanjutnya? penasaran lanjut yab

    keep writing:)))

  12. annyeong eonni msh inget aku? inget dooong~ *wink wink*😉
    aaah crta mcm ini nih yg bkin aku ga bisa ga makin mncintai Taemin u,u
    part ini penuh dngan ke-galau-an ya? kasian amat hdupya pas blm ketemu sengsara, eh pas ketemu trnyata malah lbh sengsara😦

    ah iya d versi happy ending ini Minho ga nongol ya eon? terus si abang Jinki sbnrnya dia ke Athena itu prsannya gmna ya? di yg happy ending sempet deket bnget, mknya kupikir dsitu Jinki nya suka sama Athena, tp di part ini malah lain lg. yah jd sdkit pusng jg sih =.=

    ah iya itu amplop coklat isi apaan? haiya ini si Hana bikin pnsrn juga. oke komenku sgini aja deh, overall ffnya daebak eon!! berhasil bkin aku nangis yg pas Taemin pov itu :”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s