Forward – Part 2

Title: Forward

Author: HeartLess & Bibib Dubu

Beta-reader: Kim Nara

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Heera
  • Kim Jonghyun

Length: Multi Chaptered

Genre: Romance, Life, Social Issue

Rating: PG-13

Note:

The story is written all based to Author’s POV

*****

Cinta? Tidak ubahnya bom atom yang memporak-porandakan Hirosima dan Nagasaki. Oh Tuhan, mengapa kau harus menganugerahkan rasa itu padaku? Sungguh Tuhan, aku tak berani menentang semua yang telah ada pada diriku sebelumnya. Tuhan, semua pertahanan diriku seolah diambang keruntuhan. Tapi bolehkah aku goyah dan berpaling jalan? Sungguh aku tidak ingin—menyakiti dirinya dan juga mengancurkan diriku sendiri.

Tuhan, aku bukan berpatok pada masa lalu. Semua kelabu itu telah kupenjarakan pada tempat yang jauh. Tapi nyatanya apa yang melekat padaku saat ini pun sangat membelengguku.

 Lee Jinki, 11 Agustus 2011

 

Hyung, kau sudah makan?”

Terkejut setengah mati mendapati sebuah suara yang tiba-tiba sudah ada di belakang punggungnya, Jinki buru-buru menutup lembaran kertas diary yang baru saja ia penuhi dengan goresan pena abu-abu.

“Sudah. Taemin-ah, bisakah lain kali kau mengetuk pintu dahulu dan jangan masuk sebelum kuizinkan? Kau tidak mengerti norma kesopanan?” Untuk menutupi rasa paniknya, ia melemparkan sindiran untuk adik semata wayangnya, Lee Taemin.

Ah ne, mianhae. Aku hanya khawatir kau lupa makan karena kau tidak turun ke ruang makan saat jam makan malam.” Taemin tampak berpikir sejenak. Ada sesuatu yang sedikit mengusiknya, ingin diutarakan tetapi ragu. Ia tidak ingin kalimat yang terlontar dari bibirnya membuat Jinki tersinggung, tapi agaknya desakan untuk mengatakannya lebih mendominasi. “Hyung, masihkah menggunakan warna abu? Mian aku tak sengaja melihat, tapi sungguh—aku sedikitpun tidak membaca isinya.”

Ne, abu-abu. Aku heran mengapa kau tidak suka kalau aku menggunakan warna ini untuk menulis?”

Taemin berpikir sejenak untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Tidak lama ia bersuara kembali, “Hyung, abu-abu itu samar. Tidak setegas hitam dan juga tidak semurni putih. Abu-abu itu serba tanggung, tidak berani memilih kepastian. Ah entah, aku tidak pernah mempelajari filosofi warna. Ini hanya persepsiku saja.”

Sorot mata Jinki melemah. Sekalipun Taemin tidak pernah mempelajari filosofi warna, tapi perkataan adiknya itu cukup menohok.

Tidak jelas, samar, kabur, atau apapun istilahnya. Seperti itulah dirinya. Tidak bisa dibilang pengecut dan berpasrah diri, tidak juga bisa dikatakan pemberani.

Hyung, ini sudah awal bulan. Kau perlu menemuinya, kan?” Sedikit ragu, tapi Taemin memberanikan diri untuk mengingatkan Jinki. Inilah hal kecil yang bisa dilakukannya untuk Jinki.

Ah ne, akan aku agendakan. Gomawo sudah mengingatkan. Tae-ya, apa aku masih terlihat biasa-biasa saja?” Jinki menjawab sekaligus meminta pendapat Taemin.

Ne, kau masih terlihat biasa. Eh, tapi untuk detik ini, kau terlihat sangat suram. Hyung, kau tidak boleh berpikir aneh-aneh. Kurasa saat kau menulis diary, itulah saat dimana kau sedang memiliki masalah. Hyung, aku pernah membaca di internet, katanya semakin sering kita berkeluh kesah sekalipun hanya di atas selembar kertas—maka hal itu akan membuat tingkat keresahan kita bertambah. Nyatanya seringkali ketika kita menumpahkan perasaan kita pada kertas maupun orang, langkah kita itu tidak bertujuan pada problem solving.”

Jinki hanya mengangguk, tidak sepenuhnya ia menyetujui ucapan Taemin. Sepengetahuan Jinki – juga berdasarkan pengalaman yang dirasakannya sendiri –selama ini dia merasa sedikit lebih baik seusai menumpahkan pikiran dan beban yang menumpuk di otaknya. Memang benar hal itu tidak memberikan problem solving, tapi setidaknya sedikit meringankan beban pikiran. Bukankah lebih mudah mencari pemecahan masalah ketika otak kita tidak dipenuhi hal-hal yang terlampau rumit dan membebani?

“Sudah selesai pembicaraan kita? Tae-ya, aku sedang ingin berpikir seorang diri. Bisakah kau tidak mengusikku?”

*****

Heera masih memandangi Jinki yang datang lebih awal, setengah jam sebelum kelas dimulai. Namja itu tidak menyadari bahwa seseorang terpaku di pintu, ragu untuk melangkah—apalagi untuk duduk di tempat langganannya, di sebelah Jinki.

Langkah kakinya tertahan oleh bisikan hatinya yang memerintahkan sang pemilik tubuh untuk berhati-hati dalam bersikap di hadapan Jinki.

Mengapa? Pertanyaan itu masih bersemayam di kepala Heera sejak kemarin, sejak Jinki menyentaknya tanpa alasan jelas—padahal ia hanya bermaksud mengobati luka Jinki.

Jangan mendekat!!! Jangan sentuh aku!! Aku tak suka siapa pun meraihku di saat aku terjatuh, biarkan aku bangun dengan sendirinya!! Jangan dekati aku, menjauhlah kau dariku!!!

 

Kalimat yang Jinki ucapkan masih terngiang di telinga Heera. Di pikirannya mulai timbul berbagai prasangka. Apa ini penyebab Jinki selalu berjalan seorang diri? Karena ia tidak nyaman ketika orang lain ada di dekatnya? Tidak nyaman ketika ada yang menyentuhnya? Atau memang pemicu kejadian kemarin itu—seperti yang Jinki katakan—ia ingin bangkit seorang diri, tanpa bantuan orang lain?

Kalau alasan ketiga lah yang benar, muncul pertanyaan lanjutan di benak Heera. Setinggi itukah harga diri seorang Lee Jinki hingga sekuat itu ketidakinginannya untuk dibantu oleh orang lain?

“Heera-ya!” Seseorang memanggilnya dari belakang, ia menoleh—menghentikan dulu kegiatannya memandangi Jinki.

Di saat yang sama, Jinki ikut menengok. Ia menjadi sadar akan keberadaan yeoja itu. Jinki memainkan ujung pulpen yang dipegangnya, benda itu ditekan-tekan ke dagunya hingga meninggalkan bekas cekungan. Dadanya bergemuruh, lagi-lagi ia terjebak dalam sebuah keraguan besar yang cukup membuatnya sulit memejamkan mata semalam. Ia ragu, ada sesuatu yang harus ia jelaskan mengenai kejadian kemarin—semalam ia juga sempat memikirkan hal ini. Tapi apa perlu disampaikan pada Heera? Jinki masih memikirkan baik buruknya.

Heera menghampiri orang yang memanggilnya tadi dan menuntaskan urusannya mengenai proposal seminar lingkungan dan kegiatan menanam sejuta pohon di berbagai sudut-sudut gersang yang ada di kampus. Mereka memilih duduk di bangku yang berada tidak jauh dari ruang kuliah Heera, masih berada di satu koridor.

“Yoora-ya, apa masih ada lagi kendala yang belum terpecahkan untuk acara kita ini?” Heera bertanya pada temannya tadi setelah ia melihat-lihat isi proposal yang sudah disetujui oleh rektor.

“Ada. Masalah kita yaitu apakah peserta yang datang akan banyak? Apalagi untuk kegiatan penanaman, kita butuh banyak tenaga, kan? Sedangkan –kau tahu sendiri – tidak banyak orang yang peduli lingkungan, apalagi mereka pikir ini hanya lingkup kampus. Urusan penghijauan kampus bukan urusan mahasiswa.” Temannya menjelaskan dengan raut wajah khawatir.

“Issh, mereka yang berpikir seperti itu adalah orang yang tak punya otak. Coba mereka pikir, kemana larinya asap-asap motor dan mobil yang mereka bawa setiap hari? Dengan banyaknya pohon di kampus kita, setidaknya bisa mengurangi tingkat pencemaran udara di sekitar kampus. Kau tenang saja, aku akan pikirkan caranya supaya banyak yang datang. Sekarang aku masuk kelas dulu ya…ada yang harus kubicarakan dengan chinguku.”

Chingumu? Lee Jinki? Ishhh….” Raut wajah Yoora nampak tidak suka.

Ne, Jinki. Memangnya kenapa?”

Ani. Hmmm, aku memang belum pernah bicara dengannya, tapi banyak yang bilang dia itu cukup menyebalkan jika diajak bicara. Di satu sisi isi obrolannya memang bermutu dan menambah wawasan. Tapi apa kau merasa nyaman berbincang dengan seseorang sementara dia sama sekali tidak menatap matamu? Aku kurang suka, kesannya ia tidak menghargaiku.”

“Hmm, mungkin aku tidak terlalu suka untuk bagian yang satu itu. Tapi terkadang kita harus beradaptasi dengan orang lain. Jangan hanya memandang sisi negatif dari tiap orang, lihatlah juga sisi positifnya—lalu sinergikan dengan dirimu, mungkin sesuatu yang menarik dan luar biasa akan muncul.” Heera menanggapi dengan santai. Ia sudah sering menemukan orang-orang yang mendiskreditkan individu yang berkarakter sedikit menyimpang dari kebanyakan.

“Hah, iya deh, seorang nona pemerhati masalah sosial sepertimu selalu bisa beradaptasi dengan orang lain. Hmm…sebenarnya Jinki cukup tampan menurutku. Yeoja lain juga banyak yang beranggapan seperti itu.” Yoora mulai antusias membicarakan Jinki, namja yang ‘kesendiriannya’ selalu menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang.

Molla, aku tak bisa menilai. Menurutku yang tampan hanya Jonghyun. Haha…tidak akan objektif lagi kalau aku disuruh menilai rupa namja.” Heera terkekeh, mengingat wajah Jonghyun membuatnya senang bukan main.

“Hahaha…dasar kau. Heera-ya, kau belum mengenalkannya padaku. Aku penasaran dengan namja yang bisa menghentikanmu sejenak dari kegilaanmu akan organisasi.”

“Tenang saja, aku pasti mengenalkannya padamu, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Ia sedang sibuk. Kalau kau ingin melihat wajah tampannya saja sih aku punya fotonya, tunggu sebentar.” Heera makin excited, dia merogoh tas dan kemudian mengeluarkan handphonenya.

Keduanya asyik melihat-lihat gallery foto di handphone Heera. Yeoja itu memang sangat mengagumi kesempurnaan wajah namja-nya. Tapi bagi Heera, keindahan fisik hanyalah sebuah bonus baginya—selama ini ia tak pernah memandang wujud seseorang dan bergaul dengan siapa pun—tanpa melihat penampilan orang itu. Maka Tuhan menghadiahkannya sesosok makhluk berhati luar biasa dan setampan Jonghyun.

“Dia sudah punya kekasih rupanya. Hhh, baiklah, singkirkan pikiran-pikiran yang tidak penting,” seseorang mendesah dari kejauhan.

Berniat ingin membicarkan hal penting dengan Heera, langkahnya justru tertahan saat ia mendengar ucapan Yoora mengenai dirinya.

Dia; Lee Jinki, membalikkan langkahnya dengan lemas. Ini adalah perasaan yang dibencinya—suatu kondisi ketika ia kembali mengutuki dirinya, di saat ia merasa ‘dikalahkan’ sebelum melangkah. Tapi yang membuatnya lebih kesal adalah, ia memang tak bisa melangkah.

Dalam hidup, terkadang apa yang diharapkan meleset jauh dari apa yang terbentang. Hidup penuh pertimbangan dan pemikiran. Jinki tahu pasti hal apa yang selama ini menggelayuti dan membebaninya, membuat langkahnya terseok walau hanya melewati jalan datar. Jinki sadar bahwa hidupnya harus ia siasati agar semua berjalan lancar sesuai dengan harapannya. Seringkali, seseorang harus membuang jauh ego untuk mempertahankan apa yang diinginkan, kemudian memilih sesuatu yang lebih realistis dan dibutuhkan; bukankah tidak semua yang diinginkan itu baik untuk diperjuangkan?

Tapi kali ini ada sedikit rontaan di dalam hati Jinki, ia mulai bosan dengan jalan yang selama ini dipeliharanya. Hidupnya seakan film klasik tanpa warna, tidak ada setitik pun goresan cat warna-warni pada kanvas perjalanan hidupnya. Sekarang Heera membuatnya dilema setengah mati, datang dengan segenap warna memukau. Ia dihadapkan pada dua pilihan : bertahan atau menyerah sebelum mencoba.

*****

Ia meremas rambutnya, merasa geram dengan ketidakadilan yang menimpanya. Lagi-lagi sebuah penolakan ia dapatkan, tidak adil—menolaknya hanya karena alasan sepele.

Setelah kemarin para juri menolaknya, kini giliran seorang manager HRD di sebuah hotel mencacinya secara halus. Orang itu bilang, posisi front office tak hanya membutuhkan sosok tampan, tetapi juga namja dengan tubuh proporsional. Ya, secara tidak langsung manajer tersebut mempermasalahkan tinggi badannya.

Seperti inikah dunia? Hanya menilai dari apa yang tampak di luar. Padahal, coba kau ingat seperti apa wujud sepotong brownies? Hitam. Tak ada warna cerah barang sedikit pun, tak seindah blackflorest ataupun semenarik kue tart. Tapi rasanya? Bukankah ada banyak orang yang mengakui kelezatannya?

Dalam pekerjaan yang diincarnya ini, bukankah kemampuan berkomunikasi yang seharusnya diutamakan? Seharusnya kemampuanlah yang nantinya mempengaruhi performa kerja— bukan tampilan fisik.

“Argggg…,” Ia mengerang untuk yang kesekian kalinya. Kali ini ia menendang kerikil yang ada di dekatnya, tempatnya melangkah—menyusuri jalan setapak di sebuah taman yang letaknya tak jauh dari hotel ‘terkutuk’ itu.

Tempatnya berada kini terbilang sepi. Mayoritas orang rupanya masih bergelut dengan kewajibannya di dalam gedung-gedung yang menjulang tinggi, masih harus terkungkung dalam segala jenis masalah pekerjaan yang membuat pikiran tak jernih lagi.

Hal serupa terjadi padanya. Pikirannya seperti kumpulan demonstran yang berteriak ricuh, terlalu banyak tuntutan yang terlontar tapi sedikit pun tak ada solusi yang melintas. Di saat seperti ini, mengapa tak ada jalan yang terbuka untuknya?

Drttt, drrrttt,

Handphone yang masih berada dalam silent mode–bergetar dari saku celananya. Ia segera meraih benda tersebut. Ia masih berharap bahwa itu adalah panggilan dari salah satu perusahaan yang telah melihat surat lamaran kerjanya.

Unknown Number

calling

Jonghyun menekan ‘accept’ pada touch screen ponselnya.

Yeoboseyo,” Jongyun memulai dengan ragu.

“Sudah lama tidak melihatmu, kebetulan tadi aku berada di hotel yang sama denganmu. Apa yang kau lakukan disana? Hmmm, aku rasa kau sedang mengemis pekerjaan. Apa kau sedang terdesak?”

Rasanya serupa dengan terkena percikan air jeruk nipis tatkala lukanya masih menganga. Belum selesai masalahnya, muncul hal lain yang membuat emosinya terguncang. Jonghyun berang. Tapi sesaat kemudian ia berusaha mengendalikan diri, ia tahu karakter orang yang di hadapinya—suara itu sangat khas di telinga Jonghyun.

Ne, aku sedang mencari kerja. Tapi bukan mengemis,” Jonghyun mencoba membalas santai.

“Hebat, kau masih sama. Harga dirimu sangat tinggi—sama seperti ibumu.” Si penelepon makin mengejek.

“Kau boleh menghinaku, tapi jangan hina eomma-ku. Aku tahu kau masih iri dengan eomma-ku, karena nyatanya kau tak pernah mendapatkan cinta appaku hingga akhirnya kau terpaksa menjalani rumah tanggamu yang sekarang. Benar begitu, Eunri ssi?”

“Hebat betul anak kecil sepertimu menilaiku. Nyatanya aku cukup bahagia dengan rumah tanggaku, anakku pun tumbuh sehat dengan tubuh ideal. Tidak sepertimu.”

Jonghyun makin gerah. Ingin rasanya ia menyudahi pembicaraan sia-sia ini, tapi ia tak ingin dinilai gentar oleh si penelepon. “Huh. baiklah, lain kali pertemukan aku dengan anakmu. Aku ingin lihat setinggi apa dia. Sudah selesai ejekanmu? Kalau belum, aku dengarkan dengan senang hati.”

Nice, nada bicaramu tetap tenang. Tapi aku tahu—aku melihat wajah kesalmu. Kalau kau tak percaya aku sedang melihatmu, menengoklah ke arah jarum jam 3 dari posisimu sekarang. Aku akan menyambutmu dengan senyum manisku.”

Jonghyun penasaran, ia mengikuti perkataan si penelepon. Benar, sosok mengerikan itu kini melambaikan tangannya sembari tersenyum, menjijikkan—membuatnya ingin muntah. “Cih, ahjumma genit,” Rutuknya dongkol.

“Sudah lihat aku? Hmm, aku cantik kan? Tidak seperti eomma-mu yang kurus kering tidak terawat. Ah, sudahlah, waktuku tak banyak. Kalau kau butuh pekerjaan, aku punya sesuatu yang menarik untukmu. Sangat cocok untuk orang sepertimu.”

Klik,

Si penelepon memutuskan sambungan sebelum Jonghyun sempat berteriak—ingin mengutuki ucapan menyebalkan ahjumma yang sedari dulu sangat senang mengganggu kehidupannya.

*****

Jam kuliah telah usai. Menyisakan kepenatan di tubuh kebanyakan mahasiswa. Tidaklah mudah jika harus menyerap penjelasan dosen mata kuliah Industrial Statistics mata kuliah yang mau tidak mau harus diikuti mahasiswa semester tiga Jurusan Industrial Engineering.

Makhluk Tuhan yang menghuni perut mereka sudah menggeliat, menunjukkan aktivitasnya agar kehidupan mereka diperhatikan. Tidak sabar menahan lagi gejolak cacing perut, mayoritas anak segera berhamburan menuju kantin.

Tapi tidak dengan Jinki, namja itu masih menuntaskan kegiatan mencatat penjelasan dosen yang terpampang di papan tulis. Juga, Heera yang masih tak ingin beranjak—ia ingin punya kesempatan untuk berbincang lagi dengan Jinki.

“Jinki-ya, aku boleh minta waktumu sebentar?” Heera bertanya ketika Jinki sudah meletakkan pulpennya.

“Ah, aku yang harus meminta waktumu. Heera-ya, aku ingin minta maaf. Jangan salah paham dengan kejadian kemarin. Aku bukan membencimu ataupun menampik niat baikmu, hanya saja…,” ucapan Jinki masih tertahan. Pita suaranya seakan memberontak tak ingin lagi digetarkan. Otaknya masih memberikan perintah untuk tidak melanjutkan kalimatnya.

“Hanya saja kau memang ingin bangkit dengan mandiri? Begitukah? Aku bisa mengerti, mungkin pengalaman hidup membuatmu ingin melakukan apapun secara mandiri. Aku juga seperti itu, tapi ada saatnya aku lemah dan membutuhkan orang lain.” Heera tersenyum paham.

“Membutuhkan Jonghyunmu?” Jinki merasa kelepasan bicara, ia buru-buru menjelaskan, “Ah, mian, tadi aku tak sengaja mendengar percakapanmu.” Sedetik kemudian sorot matanya meredup, sepercik api seolah menyentuh hatinya. Ada sedikit perasaan bernama ‘perih’ yang mendesak masuk.

Heera tercekat, mulutnya sedikit menganga. Jinki mendengar pembicaraanku?

“Oo, kau mendengarnya? Mian kalau kau jadi mendengar opini kebanyakan orang tentangmu. Tapi yang mereka katakan memang benar. Hormati lawan bicaramu dan buatlah mereka merasa dihargai.”

Ani, aku tidak bisa. Kau jangan memaksaku, tolong hormati alasanku. Aku punya hak untuk membuat diriku nyaman.”

Nyaman? Heera memikirkan maksud perkataan Jinki, tapi ia tak berhasil memahami. “Nyaman? Kau benci memandang lawan bicaramu?” Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.

Ani, aku tak ingin membenci banyak orang dalam hidupku—hanya akan menyiksa batin. Tolong jangan bertanya lagi, atau aku tak akan bicara lagi denganmu,” Jinki membalas cepat. Ia tak ingin Heera menilainya sembarangan juga tak ingin topik ini berlanjut.

“Baiklah. Kalau itu maumu, aku hargai pilihanmu. Ah, kau lapar tidak? Kalau lapar, bagaimana kalau kita makan bersama di kantin?”

Jinki mengangguk, memang cacing perutnya pun sudah meronta. “Ne, aku ke kantin, paling hanya beli minuman ringan. Aku selalu membawa bekal makan dari rumah.” Jinki menjawabnya dengan senyum. Bagaimanapun sudah tak ada lagi alasan baginya untuk tetap cemberut di depan Heera.

Jinki berjalan di samping Heera, yeoja ini adalah orang pertama yang berjalan di dekatnya—orang yang ia izinkan, orang yang tak membuatnya merasa terancam. Diliriknya sesaat paras cantik yeoja itu, ia berbisik pilu dalam hatinya,

Mianhae, aku tak bisa menatapmu. Karena aku tak ingin orang memperhatikan sorot mataku, aku tak ingin orang mengganggu zona privasiku—aku ingin jiwaku tetap damai. Dan, aku tak ingin melihat mata orang—aku tak sanggup jika suatu saat harus mendapati sorot mata yang membenciku, aku tak ingin merasa terpojok.

 *****

Namja itu menghela nafas – sejujurnya ia tidak suka melakukan itu. Baginya menghela nafas berarti mengeluhkan keadaan. Tapi sebagai seorang manusia normal, bukankah siapa pun pasti pernah ingin sekali saja berteriak dan mengeluhkan sesuatu? Bukankah sangat manusiawi jika seseorang merasa lelah untuk situasi tertentu?

Lapangan basket dekat rumahnya itu tampak sepi. Rasanya wajar mengingat jam tanganya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan ini bukan malam minggu. Ia terduduk di tepi lapangan, merenggangkan urat syarafnya yang menegang selama seharian ini.

Memandangi langit malam dengan sedikit bintang membuatnya berpikir suatu hal. Bintang, akankah muncul dalam penantiannya? Sebuah titik terang di tengah hitam yang membalut hidupnya secara diam-diam.

Hyung!” Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, Jonghyun menoleh.

“Ada apa denganmu? Kau terlihat tak bersemangat?” Suara berat itu berasal dari orang yang menepuknya tadi. Jonghyun tersenyum tipis, “Ini sudah kesekian kalinya dan aku tetap saja ditolak dimana pun. Eh, kau sedang apa di sini, Minho-ya?”

“Soal pekerjaan, Hyung?” Bukannya menjawab Jonghyun, namja bernama Minho itu justru melontarkan pertanyaan balik.

“Begitulah,” Jonghyun tersenyum tipis, “Tenang saja, aku sudah kebal ditolak. Aku hanya perlu berusaha lebih keras.”

Minho menepuk punggung Jonghyun pelan. “Mereka yang menolakmu hanyalah orang-orang yang tidak mengerti nilaimu, Hyung. Sama seperti seekor katak yang tidak mengerti nilai sebuah berlian.”

Jonghyun tersenyum, Minho selalu tahu bagaimana cara memompa kembali semangatnya. Setidaknya meski tidak semua hal berjalan dengan lancar, tapi Jonghyun masih tetap bersyukur bahwa ia mempunyai Minho sebagai salah satu alasan mengapa ia bisa tetap bertahan dalam situasi yang sulit. Kalimat ‘teman adalah kekuatan dalam menghadapi masalah’ bukanlah istilah gombal semata.

Manusia itu ibarat sebatang lidi. Jika ia berdiri sendiri seringkali akan mudah dipatahkan dan seolah tidak berguna. Akan beda kisahnya jika ia bergabung dengan lidi lainnya yang akan menjadi sesuatu yang lebih kokoh dan memiliki daya guna lebih. Faktanya banyak orang-orang yang bisa tetap bertahan dalam cobaan terberat sekali pun, karena ia ingat bahwa ada seseorang yang selalu di sampingnya untuk mendukung dan menopang.

 

Itulah hal yang sering dikatakan pada Jonghyun ketika sahabatnya itu bungkam dan tak ingin menceritakan beban yang dipikulnya. Walaupun seringkali Jonghyun tak menceritakan semuanya pada Minho, kehadiran namja jangkung itu sangat berarti bagi Jonghyun. Minimal Jonghyun melupakan masalahnya sejenak ketika Minho datang dan menawarkan sesuatu.

“Basket, Hyung?”

Minho menjulurkan tangannya yang memegang sebuah bola basket ke arah sahabatnya, membuat Jonghyun tersenyum sekali lagi. Inilah kegiatan yang sering ditawarkan Minho ketika Jonghyun tampak muram.

“Berkeringat bagus untuk me-refresh pikiran,” Lanjut Minho sembari memutar-mutar bola basket dengan kedua tangannya.

“Haha… baiklah, mungkin kau benar. Lama tidak berolah raga bisa membuat orang menjadi mudah stress rupanya.”

Jonghyun bangkit dari duduknya dan meraih bola dari tangan Minho, sehingga namja jangkung  itu tersenyum dan ikut beranjak dari duduknya lalu merebut bola dari tangan hyung-nya itu. Tidak lama Minho melakukan dribble, berlari menuju ring basket yang dihiasi torehan grafiti.

Jonghyun berlari kecil menyusul. Mungkin ada baiknya melupakan beban pikiran sejenak dan melakukan hal yang menyenangkan. Bukan melarikan diri, melainkan beristirahat sejenak, melepas lelah sebelum kembali menghadapi kepenatan yang melelahkan.

 *****

Cuaca terik, membuat peluh terus mengalir. Ditambah lagi suasana kantin yang sangat ramai membuatnya makin tidak nyaman. Untuk yang kedua kalinya ia mengusapkan sapu tangan yang selalu ia bawa di tasnya, menyingkirkan butiran air yang membasahi wajahnya.

Pada awalnya ia selalu mengeluh setiap kali tubuhnya dibasahi keringat. Hingga akhirnya ia tahu bahwa keringat muncul dengan manfaat tersendiri, memperlancar sirkulasi darah; menurunkan suhu tubuh yang meninggi sewaktu melakukan aktivitas berat; keringat yang keluar pun membawa serta toxin atau racun-racun yang ada di dalam tubuh; menunjukkan sinyal penting bahwa tubuh berfungsi normal dan sehat; membersihkan kulit sambil melepaskan racun-racun dan mencerahkan wajah karena peluh yang bercucuran di wajah bermanfaat mengurangi kotoran yang menyumbat pori-pori untuk mencegah jerawat; keringat tidak secara langsung dapat menurunkan stres atau meningkatkan suasana hati. Sekarang ia tidak pernah lagi mengeluh hanya karena keringat.

“Jinki-ya, sebagian orang membenci cuaca yang seperti ini, tapi ada yang justru gembira. Baginya, panas adalah rezeki dari Tuhan, membuat roda kehidupannya bisa berputar. Kau tahu siapa? Penjual minuman dingin. Mereka benci mendengar orang mengutuki panas, ‘tidakkah kalian rela berbagi rezeki? Tidakkah kalian bahagia melihat kami bahagia?’ Seperti itulah kira-kira yang mereka pikirkan.” Heera menyimpulkan sesuatu setelah ia mengamati beberapa pengunjung kantin yang mengeluhkan panas matahari semacam ini.

Jinki mengangguk beberapa kali. Sebelumnya ia tak pernah berpikir seperti ini. Yeoja ini membuanya terkagum-kagum setengah mati. Tipikal yeoja cerdas dan peduli sekitar.

“Kau hanya mengangguk? Ah, tidak menarik.” Heera kesal karena respon Jinki dirasanya tidak terlalu antusias.

Jinki menghentikan langkahnya sejenak. “Hmmm, aku sedang berpikir. Kita tak berhak mengutuki hujan, panas maupun salju. Semua hal di dunia ini ada hikmahnya. Tidak bagi kita, tapi mungkin bagi banyak orang di luar sana.” Akhirnya ia angkat bicara.

Jinki awalnya memilih untuk diam, ia bukan tidak menyetujui pendapat Heera. Ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Semua hal di dunia ini ada hikmahnya?” Heera mengulang pertanyaan Jinki dengan nada bertanya.

Kalimat Heera, entah bagaimana menjadi topik perdebatan batin dalam diri Jinki. Terlalu tenggelam dalam pikirannya membuat ia tak lagi memperhatikan langkahnya, sehingga tanpa sengaja tubuhnya bersinggungan keras dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Jinki terhuyung, seketika tangannya refleks mendarat pada lantai, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh sempurna ke arah belakang.

“Kau!” Orang yang menabrak Jinki tadi segera menepis-nepis kulit dan pakaiannya, seolah membersihkan sesuatu yang kotor dari dirinya, padahal ia sama sekali tidak terjatuh.

“Ah maaf, aku tidak memperhatikan jalan tadi.” Jinki merasa tidak enak, ia buru-buru bangkit dan mengulurkan tangannya untuk meminta maaf. Bagaimanapun ini kesalahannya.

“Issh, kau…hei, kau berjalan bersama yeoja? Wah…cantik pula! Ternyata seorang gay sepertimu masih tahu berlian yang berkilau.” Namja tadi mencolek dagu Jinki, melirik Heera. Dan tepat di hadapan Jinki, ia mengerling genit dengan bibir yang tersenyum mengejek.

Heera tertegun, mengapa namja itu mengatakan demikian? Yang ia tahu, banyak orang yang menganggap Jinki anti-sosial, baru kali ini ia mendengar ada orang yang menyebut Jinki sebagai penyuka sesama namja. Heera membisu sejenak, otaknya seolah berhenti bekerja hingga akhirnya sebuah pertanyaan melintas,  mengapa Jinki diam saja?

“Oh, jadi sekarang kau juga bisu? Aku kira kau hanyalah gay yang berkedok anak pintar, ternyata aku salah.” Kali ini namja tadi menggoyangkan pelan daun telinga Jinki.

“Kau….” Jinki menyingkirkan tangan orang menyebalkan itu dari dekat telinganya.

Baginya tindakan orang itu tidak sopan. Sorot mata tajam terpahat di wajah Jinki, tapi mulutnya masih tidak bisa berkata lebih.

“Issh, apa kau pantas menghina orang seperti itu? Hei, kau tidak pernah tahu pasti apakah Jinki ini gay apa bukan, jadi kau tidak berhak—” Heera hendak meneruskan pembelaannya, tapi Jinki mencegahnya; mencengkram pelan bahu yeoja itu untuk memberi isyarat untuk tidak meneruskan apa yang ingin dikatakannya.

Heera menatap tak percaya. Ia bisa melihat kegetiran terlukis di wajah Jinki, tapi mulut namja itu masih terkatup sempurna. Heera tidak habis pikir, bagaimana bisa Jinki terima diolok-olok seperti itu?

Bagaikan patung, Jinki masih tidak mengeluarkan reaksi lanjut. Laksana ditimpa bongkahan es kutub, tubuhnya membeku. Berlawanan dengan hatinya yang terasa sesak dan memanas, emosinya ditumpuk dalam-dalam untuk dirinya sendiri. Ia merasakan nafasnya menderu seiring namja yang mengejeknya tadi berjalan melewatinya.

Perlahan tubuh Jinki menandakan kehidupan, tangannya terkepal keras. Saat ini juga ia ingin juga menghajar orang yang menuduhnya gay, tapi diurungkannya. Sekali lagi, ia memilih memelihara jalannya.

Jinki menelan bulat-bulat hinaan yang didapatkannya. Ia hanya mampu berkata lirih dalam hati,

Gay? Tidak apa. Lebih baik mereka menganggapku  seperti apa yang mereka pikirkan. Aku lebih baik menjadi Gay di mata orang daripada membiarkan orang-orang itu kemudian mengetahui apa yang tak perlu mereka ketahui. Tidak akan kuizikan….

“Tidak usah dipikirkan, terserah aku dinilai apa. Ayo kita makan,” ajak Jinki beberapa saat kemudian, membuyarkan lamunan Heera yang ada di sebelahnya.

“Hei?”

To Be Continued

 

Jangan ragu-ragu untuk memberi masukan maupun memberikan kritik, Ok? Semua itu akan sangat berharga untuk kami ^^

 

Source:

Musim di korea (cuaca terpanas jatuh pada Agustus):

Link 1

Link 2

Olahraga dapat me-refresh pikiran :

Link

Lebih lanjut tentang manfaat keringat:

 

©2012 SF3SI, HeartLess.

Officially written by HeartLess, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

61 thoughts on “Forward – Part 2

  1. ninggalin jjak dlu ah,,bru bc sdkit,
    syang mw bc skarang kburu2,tk bsa drsapi..
    ,wwuaah..kren bgt bhsasanya!!!
    bnyk pgtahuan yg bs d ambl dr crta ini!

    kalian daebak thor!!

    1. Kyaa.. Inilah jadinya kalo dua author bermutu saling bersinergi.. Sebuah karya yang walaupun fiksi tapi ada banyak pelajaran yg bisa diambil..
      Aku bener2 kangen baca FF berat macam begini..
      Vero n Bibib JJANG!!
      Ditunggu next part-nya..
      HWAITING!!

  2. tidak disarankan membaca fanfic ini dalam keadaan ngantuk, gak akan ngerti apa yg ada didalemnya……hahaha
    cuma nangkep jinki punya disorder, entah apa.. mungkin dia akan ngerasa terintimidasi karena tatapan orang…. mau nebak penyebabnya, tapi gak bisa mikir, haha ya ditunggu ajalah kelanjutannya🙂

  3. haii..
    pembaca baru
    baca part ini dulu.. maklum baru tadi di sms temen katanya forward bagus..
    ternyata bagus, berhubung langsung baca part 2 jadi penasaran banget, langsung cari yang part 1 tapi mau ninggalin jejak dulu disini

    karakter jinki bener2 bikin penasaran.. kenapa??
    banyak info, bahasanya oke, keren banget
    lanjutannya yaa di tunggu banget
    semangat!!!

    1. wah panda…selamat datang dalam kisah ini yah…
      makasih juga buat temennya yg udah ‘promosiin’ ff ini ^^

      gomawo yahpanda…jgn lupa mampir lg ke part 3 nanti ^^

  4. MaLKey’s hereeee😀

    Eoni mau bertanya nih :

    1. Tidak ubahnya bom atom yang memporakporandakan memporak-porandakan Hirosima dan Nagasaki.
    ini kata memporakporandakan di gabung atau di pisah ?? dan kenapa ada dua buah kata yang sama ?? di ulang-ulang gitu maksudnya..

    2. Pas bagian Jjong itu malem yah ?? Terus di lanjut bagian Jinki dan Heera itu siang hari. Apakah mereka di saat yang bersamaan ? atau beda waktu ??

    3. Eoni suka pengertian abu-abu ituu..

    Ahaaha beda dikit kuliahnya si Jinki dan Heera. Industrical Engineering sedangkan eoni mah Agricultural Engineering..wkwk*gg penting*

    Oh iya eoni penasaran ama anaknya Eunsri. Heera kah ?? Jinki kah ?? Atau Minho kah ??
    Dan eoni penasaran siapa namja yang mengatai Jinki itu GAY ?? pastinya itu namja mengetahui masa lalu Jinki..

    KYAAAAA ~~~!! JINKI !!! APA MASA LALUMU ??? OH I’M CURIOUS YEAH ~~!!!

    Overall, love it❤ :*😀

  5. Oh Tuhan, mengapa kau harus menganugrahkan menganugerahkan rasa itu padaku?

    Ah iyya ini juga lupiiinnn…pertanyaan yang sama dengan numb 1. kenapa di ulang ulang ?? padahal nggak ada tanda baca yang menyatakan itu di pisah..hehe

    1. haha, eonni…malu…jadi itu yg bener yg kedua :: memporak-porandakan, menganugerahkan. Nah, jd yg kedua itu hasil koreksian tp lupa kami delete yang pertamanya ><

      beda waktu. Jadi misal hari ni senen, nah Jinki-Heera itu hari senennya, pas Jjong nerima telpon dari Eunri ssi itu masih di hari yang sama (bukan malem), baru pas Jjong-Minho, itu malem slasanya. Bingung engga?

      Orang yg ngatain gay itu cuma cameo doang kok, cm ngenal jinki sebatas tau, makanya dia menilai dgn asal 'gay'

      wkwk, aku tdnya kepikir tu agricultural engineering krn di kmpusku ada. Tp setelah diskusi ama vero eon dan hasil searching, diputusin iini krn di korea ga ada tuh agricultural engineering, udh jelajahin web2 resmi universitasnya sih ga nemu

      Eonni, gomawo yah udh mampir n ninggalin jejak ^^

      1. Hahaha berarti bener ttebakan eoni, salah si delete pas di koreksi..
        siip dah ternyata kesalahan sedikit..:D

        oh jadi Jinki & Heera, Jjong & Eunri disaat senin siang atau pagi dan Jjong & Minho di malam selasa..begitu ??? maksud saeng gitu ?? namun tetap di hari yang sama..am i right ??

        ohh kirain namja itu si Key, ternyata cameo, soalnya sosok Key belum ada nongol di sini saeng😀

        hihihi kalo apke acricultural engineering pasti ntar kayak eoni, mainnya ama mesin mulu si Jinki & Heera, kasiiiiiaannn…
        pada praktek bawa traktor deh*gaje#keceplosan

        siiippp, masamaaaa…kan eoni selalu ada buat baca ff bibib, gomaweo buat infonya tadi yaaa..
        semangat !!!😀

        1. Iya begitu maksudku eon, hehe…

          Key? Ntar ada di part 3 lo g slh.

          wakakak, ngakak ngebayangin si onew bawa2 traktor, geli deh klo iya.

          sekali lg thx yah eonni ^^

  6. Eunri datang*lambai2*
    kyaknya aku sampe ga ngdip baca ini ff,tkut konsentrasinya buyar.Berat bener ni crita,daebaaaak.
    Sempet kget pas Jinki dibilng gay,ku kira bener,haha.
    Eh,,Jinki suka ma Heera ya?

    kasian jjong gg prnh keterima cumn krna tinggi bdan,aigooo~.
    Dongkol pas baca bgian Eunri,,buknnya ngasianin jjong malah..ck ck ck.

    All right,,moralnya dpet lgi n ini sunnah(?) untuk dilnjutkan.
    Istrinya Yunho n istrinya Jjong….FIGHTING YAA!! ^^

    1. ahaha…kedip mataa atuh fit…sakit loh ga kedip2…
      iyah Jinki suka ama Heera. Eh kadang aku suka ketuker2 loh inget mengingat karakter Heera di ff ini sama di namja, ahaha…

      iyah dilanjutkan kok fit🙂
      makasih yah udh baca n ninggalin jejak…jgn bosen2 yah maen

  7. Mkin pnsran,,,sbnrnya ada apa ma jinki??? …suka ttg abu2 nya..
    jd pengen nyoba nulis pke abu2..#gpnting..hehe
    Next part dtunggu…
    Benar2 baca ini hrs pke konsentrasi penuh…g bisa smbl lalu…daebak buat klian b2..
    Fighting…

  8. huaaah akhirnya keluar juga(?) aku nungguin ini ff lama banget rasanya T^T
    overall, keren~~~ *two thumbs up*
    aku penasaran banget ama si jinki nya. next part nya jangan lama-lama yaa thor😉

    1. iyah emang lama sih jarak dari part 1-nya…mian ya nunggunya lama…abis kalo duet gini kan mesti sepakat dulu dan waktunya juga susah.

      Semoga next part ga lama yah…gomawo udh mau baca n ninggalin jejak ^^

  9. Hufhh… #nariknafas
    Berat… apalagi buat makhluk berotak dong-dong macam aku #hiks
    Dan semua tokoh di FF ini berfilsafat #nepokjidat
    Dont think too much, guys. Life is simple #gandengGDragonMonsterBingleBingle

    1. Oalah, klo kamu dong-dong aku apaan dong? secara km itu author yg paling kusuka, km author ter.

      Ff ini berat gr2 filsafat yah? Itulah kenapa aku ngerasa stuck ama gayaku, padahal ini tuh udah diringanin dan disimpel-kan sama vero eon, style-ny udh tercampur. ama style vero eon.
      ah ya aku mau bicara lebih panjang lewat email aja boleh yen?
      gomawo yah yen udh mampir n komen ^^

  10. maaf aku baru komen di part ini
    sejauh ini aku suka sama ffnya, soalnya penuh filosofi dan karakternya kompleks (terutama jinki) aku suka karakter kompleks!😀
    keren banget jinki bisa menahan emosi ya, padahal di dalam udah menggelegak tuh
    jinki sama heera agak bertolak belakang ya karakternya? dari yang aku tangkap sih begitu, meskipun mereka klop kalau udah diskusi

    lanjuuuttt!

    1. wah…iyah gapapa kok…dibaca aja udah seneng ^^

      Iya bertolak-belakang tp ga begitu kentara klo udh ngobrol, hehe…

      thx yah udh mau baca n ngasih komennya…

      ntar maen lagi yah ke part 3 ^^

  11. Pertama aku mau bilang, aku penasaran banget sama onew >< Pertama kukira kena disorder, cuma liat balesan komen eon diatas (atasatasatasnya lagi) kayaknya bukan disorder ya? :s Pasti sesuatu yg tak terduga ya eon kya yg di ICBY? Yg ternyata itu (lupa castnya ==) lesbi😮 Ah aku nggabisa nebak dan penasaran pake bgt T.T

    Oiya eon yg ini kelewat atau memang disengaja? : "Ah ne, mianhae. Aku hanya khawatir kau lupa makan karena kau tidak turun ke ruang makan saat jam makan malam. Taemin tampak berpikir sejenak….

    Itu setelah 'malam.' ngga pake kurung tutup? Aku nemu dua yg kaya gtu cuma yg satu lupa :s

    Dan tadi aku baca balesan komen eon diatas, aku sedikit setuju. Kalo ini eon tulis sendiri pasti bahasanya bakal berat bgt *maaf eon T.Tv* Tapi setelah duet dg vero eon forward ini nggak ngalahin ICBY *beratnya*. Cuma aku tetep suka 22nya, dg tingkat keberatan bahasa apapun xD *yang penting masalahnya asik*

    Dan btw, aku suka bgt karakter Jong disini, dan jujur nggasuka karakter Onew –v

    Maaf komenku ngelantur nggak jelas T.Tv

    1. hai haninb😀
      wah, penasaran ya? hihi…
      oh yang petik penutup itu mungkin emang kelalaian kita, yang gak teliti…
      moga nantinya kita gak lalai lagi hehe..

      tunggu kelanjutannya ya (eh?)
      thanks for the oxygen🙂

    2. Hanin, dicermatin aja yah siapa tau kamu nemu jawabannya, hihi…

      He? seberat ICBY? Wah berarti perlu disederhanakan biar ga pusing2 banget ya…Ayo Vero eon kita berjuang ya!

  12. woah~ aku baca ini kadang2 sampe diulang loh eon krna bhsnya yg ‘wow!!’ bnget u,u

    oya, setelah baca ini aku jd keinget ff I Can’t Be Yours. itu punya bibib eon kan? aseli ini bhsnya ga jauh beda sm ff yg itu, harus mikir baik2 spya ngerti. tapi gpp jadi readernya bakalan lbh pinter krna disuruh mikir *eh?-_-v

    aku juga penasaran bnget sm karakter abang ayam disini, sulit dimengert karakternya dia. ah lagi2 aku keinget ICBY yg gak disngka malah lesbian-_- tapi aku yakin sih kalo onew oppa psti bkn gay krna udah ada ktrngannya diatas.

    ini kolaborasi yg prtama kan? mdh2an kolaborasinya sukses deh eonnideul. ah iya part slnjutnya dtungguuu~ *mrgreen*

    1. holla mahdaaa^^
      “wow”?? haha…

      bibib emang keren nih, aku aja yang ngebantu nulis sampai takjub loh.. wah…
      eum pokoknya nantikan terus kelanjutannya deh,hihi…

      ah iya ini kolaborasi pertama
      makasih loh dukungannya😀

  13. membaca ff ini perlu hati2 dan teliti juga ,, #secara otakku loading nya lumayan lambat ..
    kalo gag gituw pesan yg terkandung dalam kata2 nan filosofis itu gag akan nyampe .. ^^
    but, i like it …..
    diskusi tokoh dan kata2 yg dipake mencerminkan realita kehidupan yg gag gampang dimengerti ,, karena semuanya bisa diliat berbeda dari sudut pandang yg berbeda juga ….. *ah apalah ini bacotku ,, aku jg gag ngerti bisa bacot kyk gini …
    yg jelas ditunggu next part’nya !!!!!

    1. Yoonee_chan😀

      eh, emangnya agak susah dicerna ya? hum….
      mungkin nanti dipikirkan gimana supaya lebih ringan dan lebih gampang dimegerti, tapi tetap berbobot hihi…

      tunggu next partnya ya^^ jangan bosen2 juga kasih masukan😀
      gomawoyo YOOnee

  14. tetap berbobot dan selalu lugas.. *kapan ya saya bisa nulis selugas chingu berdua? ._.*

    Kehidupan Jinki masih gelap dan saya bener2 penasaran kenapa Jinki tidak suka memandang orang lain saat bicara? kenapa Jinki seolah tidak jadi diri sendir… dia kaya menyembunyikan hal besar… aish~

    banyak kalimat2 pemikiran yang bikin saya ngangguk2 setuju. KEREN banget dah😀

    *bingung mau komen apa lagi* pokonya saya tunggu lanjutannya dengan sabar dan penasaran ^^

    1. gelap? haha berasa gimana gitu kata ‘gelap’ :p

      kami berdua juga masih sama-sama belajar kok🙂 (terutama aku hehe)
      yeah tunggu kelanjutannya ya. moga gak bosen-bosen mampir, ngasih masukan juga hihi

      thanks Aya-chan ^^

  15. Keren!
    Aku baru baca dan emang agak kliyengan untuk ngerti -_-
    So far aku belum bisa nemuin tokoh favorit aku disini
    Heera aku agak gimana pas tau kalo dia orang yang gila kebersihan, Jinki masih amat sangat tertutup, dan Jonghyun aku ngerasa belum ada yang istimewa.
    Tapi aku suka Taemin! Hahaha
    Biar dia jadi cameo aku suka ngeliat dialog dia sama Jinki😀
    Semoga di part selanjutnya bisa ketauan siapa Jinki sebenernya heuheu
    Ditunggu thor😀

    1. Berat ya? Semoga di part 3 bisa lebih mudah dimengerti yah…

      Tokoh favorit? Hihi…ada yang bisa ku rekomendasiin engga yah? Emang engga ada tokoh yang ‘bener’ sih di sini kayakna…

      thx ya Nindy udah mau baca n ninggalin jejaknya. Next part mampir lagi yah ^^

  16. suka banget ama ff ini, mengajak pembaca ikut berfikir hehe
    masi penasaran banget ama jinki disini. kenapa dy jadi begitu, udah dari kecilnya seperti itu atau ada sesuatu.
    kasian jinki belum apa-apa udah patah hati, keduluan ama abang dino hehe
    oke ditunggu kelanjutannya ya🙂

    1. Suka? Syukurlah…tapi kami masih harus belajar menyederhanakan ini biar engga terlalu pusing dicerna.

      Tentang Jinki? Hmmm. ntar juga tau. Disimak aja yah setiap katanya kali aja ntar km nemu jawabannya sebelum kami ceritain

      thx yah udah mau baca n mampir…jangan lupa main lagi ke part 3 ya?

  17. fanfic yang kutunggu-tunggu akhirnya muncul juga! yeay!
    tutur katanya yang bagus bikin pembaca tertarik baca fanfic ini!
    dan banya banget informasi-informasi yang baru kudapatkan disini🙂

    ditunggu kelanjutannya thor!😉

  18. Aw, *mian ya telat bgt koment nya*
    Ugh, omaigad *perlu berpikir*
    keren, keren, sebagian besar komentarku sm ky diatas *wohoho*
    kl mslnya oppadeul shinee baca gimana ya, *keke*

    Hwaiting, hwaiting! Berjuanglah demi readermu author-deul!!

  19. Woooowww *mian telat amat komenny*
    keren, keren buanget, *ak rasa kritik dan saran diatas dah mewakili yg mau ak smpaikan*

    Fighting, hwaiting! Berjuanglah author-deul (?) !!
    Reader selalu menunggu…~

    1. komenmu dobel chingu, aku bales yg ini aja ya?

      Ga apa telat juga ^^
      Kalo ntar punya masukan jangan ragu bilang ya?

      Makasih banyak loh udah mau baca n ninggalin komen ^^
      ntar mampir lagi di part 3 ya…

  20. baca jg akhirnya.. hehehe

    ad yg keliru..
    “Hah, iya deh, seorang nona pemerhati masalah sosial sepertimu selalu bisa beradaptasi dengan orang lain. “Hmm…sebenarnya Jinki cukup tampan menurutku. Yeoja lain juga banyak yang beranggapan seperti itu.” Yoora mulai antusias membicarakan Jinki,

    itu tanda petik di tengah dialog… hehehe

    jinki jg punya rasa ya ma heera kyknya…
    kasihan jjong..
    eh jgn2 ank si tante yg nlpon jjong itu minho..

    lanjut deh lanjut

    1. Oceee, udah dibenerin.

      Huhuhu, seyemmm ah kalo rahmi eon tebak2an, biasanya suka bener. Kali ini bener ga ya???

      Hehe, ntar baca lanjutannya aja ya🙂
      Makasih banyak eonni udah nyempetin baca ^^

  21. Ya ampunn bahasanya, T.O.P.B.G.T d^^b
    Jjong kasian😦 Eunri? dia itu wnta yg mnikah dg appa-nya Jjong ya? hmm.. aku jd berfikir jangan-jangan anaknya Eunri itu Minho?!
    Hwa Jinki nya suka ama Heera. Duuhh aku penasaran baget nihh ama Jinki.
    Lanjut ke part selanjutnya dulu dehh

  22. Bibib-ssi, komen diatas panjang2..🙂 agk berat ya masalah Jinki -_- sebenernya dia kenapa siy? penasaran nih sama kelanjutan ceritanya.. Jinki-ssi, ada apa denganmu? berbagilah denganku, apa yg kamu pikirkan😉

  23. Setelah berbulan” d bookmark, akhirny bs bc jg.
    Hmmmm, ff ini benar” tipikal fiksi favoritku. sebgian besarny diisi dgn narasi, n it bagus bget.
    ah, mau capcus k part 3 deh. Penasaran.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s