Lucky – Part 4

Title                 : Lucky

Author            : Hwang Sungmi

Genre              : Romance, Friendship, Life

Length             : 4 of 5

Rating             : General, PG-13

Main Casts      : Choi Minho (SHINee), Choi Siwon (Super Junior), Hwang Sungmi (OC’s)

Support Casts  : Lee Chunji (Teen Top), Yang Yoseob (B2ST), Wang Jihye

The story belongs to me and all of the casts belong to God  Happy reading \( ^0^)/

Pertandingan marathon baru berjalan 5 menit. Siwon dan Minho masih memimpin di posisi terdepan. Sementara di belakang mereka, di posisi kedua dan ketiga ada Chunji dan Yoseob. Dan dibelakangnya masih banyak para peserta namja yang berlari memperebutkan posisi terdepan.

Siwon dan Minho sontak menoleh ke arah tempat duduk Sungmi ketika mendengar teriakan gadis itu. Membuat konsentrasi 2 namja itu terpecah sehingga mereka membiarkan Chunji merebut posisi terdepan. Sekarang bukan lomba marathon yang penting bagi mereka. Tapi lomba merebut perhatian gadis yang sama sama mereka cintai.

“Siwonnie oppa! Fighting!” teriak Sungmi. Sungmi mengangkat tinggi-tinggi banner biru kecil bertuliskan ‘Choi Siwon’.

Siwon langsung tersenyum senang mendengar namanya disebut Sungmi. Siwon melambai ke arah tempat duduk Sungmi. Para yeoja yang berada di sekitar tempat duduk Sungmi mendadak menjadi ricuh. Mereka mengira kalau Siwon melambai pada mereka semua. Sedangkan Sungmi hanya tersenyum kecil dan kembali meneriakkan nama Siwon.

“Siwonnie oppa! Uri Siwon oppa!!”

Teriakan itu terdengar lebih mendominasi sekarang. Hampir separuh yeoja yang ada di lapangan menyerukan nama Siwon. Termasuk Sungmi. Siwon tersenyum semakin lebar. Memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.

Berbeda dengan Minho. Namja itu menghela nafas berat begitu mendengar nama yang diteriakkan Sungmi. Minho mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Minho marah. Bukan pada Sungmi, tapi pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa meyakinkan Sungmi untuk mendukungnya? Kenapa ia bisa kehilangan Sungmi semudah ini?

Minho mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai garis finish. Amarah menguasai dirinya sekarang. Dan kali ini Minho berusaha sekuat tenaga untuk memfokuskan pandangannya pada garis finish yang hanya tinggal beberapa meter lagi didepannya.

Sudah tidak ada siapa-siapa lagi didepan Minho. Ya, Minho berhasil merebut posisi terdepan. Ia berhasil menyusul Chunji yang tadi berada didepannya. Rasa sakit hatinya seakan hilang saat ia berlari. Maka dari itu, Minho ingin berlari terus jika dengan itu ia bisa menyingkirkan rasa sakit dari hatinya.

“Dan pemenangnya adalah….. Nomor punggung 10, CHOI MINHO!!!”

Suara announcer yang menyebut nama Minho terdengar membahana di seantero lapangan. Minho berhenti beberapa meter setelah garis finish. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat mengucur deras dari pelipisnya.

Ia tidak perduli dengan teriakan orang-orang yang kini menyerukan namanya. Ia tidak perduli dengan juara pertama yang berhasil dia raih. Ia tidak perduli dengan semua itu. Minho tidak merasa senang atau bangga seperti biasanya. Tidak ada senyum indahnya. Mata Minho melihat ke satu arah. Sungmi.

Minho melihat gadis itu juga tengah melihat kearahnya. Sungmi tersenyum dan melompat-lompat kecil ditempatnya. Minho tidak membalas senyum Sungmi. Ia malah berbalik kearah podium ketika namanya dipanggil untuk pengalungan medali.

Senyum manis yang barusan terukir diwajah Sungmi mendadak lenyap. Matanya masih mengikuti kemana Minho pergi. Ia bahkan tidak menghiraukan Siwon yang sedari tadi berteriak memanggilnya dari lapangan. Hingga akhirnya Jihye menyenggol lengan Sungmi.

“Sungmi-ssi, Siwon oppa dari tadi memanggilmu, tuh!”

“Ah, ne.”

Sungmi kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Siwon. Ia tersenyum lagi. Tapi tidak setulus biasanya. Siwon menyadari perubahan ekspresi Sungmi. Ia hafal betul ekspresi gadis itu.

Ada rasa sedih.. Kecewa.. Rasa bersalah.. Semuanya bercampur. Membuat Siwon semakin bingung. Tidak biasanya Sungmi seperti ini.

Siwon secepat kilat menghampiri tempat duduk Sungmi. Sedangkan para yeoja yang ada di sekitar Sungmi hanya bisa melayangkan pandangan iri mereka pada Sungmi.

Siwon duduk disamping Sungmi. Namja itu memegang dahi Sungmi.

“Neo gwaenchanayo? Kau sakit, sayang?”

Sungmi menggeleng. “Ani, oppa.”

Para yeoja itu semakin riuh meneriakkan nama Siwon ketika melihat namja itu dekat dengan Sungmi. Apalagi ketika melihat skinship kecil yang dilakukan Siwon tadi.

“Kajja, kita pergi saja dari sini. Mungkin kau sesak. Oh ya, sampai jumpa di rumah Jihye-ah.”

Jihye hanya mengacungkan jempolnya pertanda ‘oke’. Tanpa aba-aba, Siwon segera menarik tangan Sungmi menjauhi tempat duduk penonton yang penuh sesak. Siwon membawa Sungmi ke kantin.

“Ini. Minumlah dulu. Tenggorokanmu pasti kering setelah berteriak-teriak, kan?” Siwon menyodorkan kaleng minuman pada Sungmi.

“Gomawo, oppa.”

Siwon mengacak lembut rambut Sungmi. Namja itu menyunggingkan senyumnya yang selalu bisa membuat yeoja manapun meleleh. Tapi kali ini tidak untuk Sungmi. Entah kenapa, ia tidak merasa tersanjung dengan senyuman Siwon.

Tiba-tiba Siwon meletakkan minumannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sungmi. Meminimalisir jarak antara dirinya dengan Sungmi. Siwon mungkin tidak merasa risih karena di kantin ini sekarang hanya ada mereka berdua.

Kaleng minuman Sungmi terjatuh begitu saja saat tangannya dicengkram Siwon. Sungmi berusaha memberontak ketika wajah Siwon hanya tinggal beberapa sentimeter dari wajahnya. Tapi Siwon memegang tangannya dengan kuat. Sungmi tidak bisa berkutik sama sekali.

Gadis itu menutup matanya. Bukan karena ia menikmatinya. Tapi karena ia takut.

Siwon menutup matanya perlahan. Wajahnya terus mendekat hingga bibirnya bisa menyentuh bibir tipis Sungmi. Namja itu bermain sebentar dengan bibir Sungmi. Bermaksud untuk membuat Sungmi terbiasa dan bahkan menikmatinya.

Sungmi tidak berani membuka matanya. Ia tidak mau melihat Siwon yang ada didepannya sekarang. Dia bukan Siwon. Dia bukan Siwon yang Sungmi kenal.

“Hyung!”

Suara berat seorang namja membuat Siwon terpaksa menghentikan permainannya. Siwon menoleh ke belakang dan mendapati Minho tengah menatap nanar kearahnya. Tangan kanan Minho menggenggam sebuah medali emas yang berkilauan terkena sinar matahari.

“Aku ingin bicara denganmu, hyung.”

Siwon mengangguk dan kemudian berbalik pada Sungmi. Ia sekarang tau kenapa Minho menatapnya dengan pandangan marah seperti tadi. Karena di hadapannya sekarang, Siwon melihat Sungmi menunduk.

Tapi Siwon bisa melihat dengan sangat jelas ada butir-butir air yang jatuh dari pelupuk mata Sungmi. Bahu gadis itu naik turun. Siwon mendengar isakan Sungmi.

Siwon menyentuh dagu Sungmi dan membuat Sungmi mendongak. Ia merengkuh wajah Sungmi dalam genggaman tangannya yang besar. Kedua ibu jarinya bergerak mengusap pipi Sungmi. Menghapus aliran sungai kecil di kedua pipi Sungmi.

“Uljima, Sungmi-ah.. Uljima..”

Sungmi memberanikan diri untuk membuka matanya. Sekarang, ia melihat Siwon yang ia kenal. Siwon dengan tatapan teduhnya. Siwon dengan sentuhan lembutnya. Bukan Siwon yang kasar seperti tadi.

“Mianhae, sayang.. Jeongmal mianhae..”

Sungmi tidak menanggapi perkataan Siwon. Sungmi masih takut kalau Siwon akan berbuat macam-macam padanya.

“Oppa pergi dulu. Tidak akan lama. Tunggu disini. Jangan kemana-mana. Arasseo?”

Sungmi mengangguk. Siwon mengecup puncak kepala Sungmi dan kemudian menyusul Minho yang sudah pergi lebih dulu.

*****

“Apa yang hyung lakukan pada Sungmi tadi?!” Minho sedikit berteriak pada Siwon. Nafasnya memburu. Bukan karena lomba tadi. Tapi karena amarahnya sudah mencapai puncak. Minho tidak suka melihat Siwon mencium Sungmi, yeoja yang sangat dicintainya.

“Aku menciumnya. Kau puas?” ucap Siwon. Dia menyunggingkan senyum meremehkan pada Minho. Sementara Minho hanya menatap Siwon dengan tajam.

Sedetik kemudian Minho melayangkan tinjunya ke wajah Siwon. Minho juga mendorong Siwon hingga tubuhnya membentur tembok. Siwon hanya diam dipukuli seperti itu. Minho bahkan meninju perut Siwon berkali-kali.

“Brengsek kau hyung! Kau tidak lihat Sungmi menangis, hah?!”

Tanpa menunggu jawaban dari Siwon, Minho terus memukuli Siwon. Kali ini Siwon tidak tinggal diam. Dalam sekali gerakan, ia bisa membalikkan keadaan. Siwon memelintir tangan Minho ke belakang. Minho sedikit meringis ketika merasakan cengkraman tangan Siwon yang terlalu kuat.

“Aku akan membuatnya terbiasa dengan kehadiranku. Sungmi akan segera melupakanmu. Cepat atau lambat. Ingat itu.”

Siwon melepas tangan Minho. Saat ia hendak berbalik, Minho menahan lengannya.

“Hyung, aku rela Sungmi bersamamu. Jika memang itu yang Sungmi mau. Tapi aku mohon, tolong jangan buat dia menangis lagi.” Minho tidak berteriak. Ia berkata dengan pelan. Nyaris seperti memohon.

Siwon berbalik menghadap Minho lagi. “Tenang saja. Kalau soal itu, aku bisa.”

“Ne, gomawo hyung. Ah, dan mianhae untuk itu.” Minho menunjuk pipi Siwon yang sedikit lebam.

Siwon memegang pipi kanannya. Ia mengangguk. “Sudahlah, tak apa. Aku juga minta maaf soal tanganmu.”

Minho tersenyum samar. Langkahnya terhenti saat Siwon kembali memanggil namanya.

“Minho-ya, kau masih ingat perjanjian kita kan?”

“Hm. Aku ingat.”

“Kita sudah tau siapa yang menang. Jadi jangan dekati Sungmi lagi.”

“Aku mengerti, hyung. Congratulation.”

“Congratulation apa? Kalian menjadikanku barang taruhan, huh?”

Suara khas Sungmi mengalihkan pandangan dua namja yang baru saja berbaikan itu. Mereka mengalihkan pandangannya ke arah pintu tempat Sungmi berdiri sekarang. Siwon dan Minho melihat Sungmi berdiri disana sambil membawa dua buah banner. Banner dengan nama mereka berdua diatasnya.

“Kalian pikir aku ini boneka yang bisa dioper seenaknya?!”

“Sungmi-ah, ini tidak seperti yang kau lihat. Aku bisa–“

“Cukup! Aku tidak mau melihat kalian berdua lagi!”

Sungmi memotong perkataan Minho. Gadis itu membuang banner yang ada ditangannya dan berbalik pergi. Siwon dengan sigap menahan tangan Sungmi dan membalikkan tubuh Sungmi menghadapnya.

“Lepas!”

“Dengarkan aku dulu, Sungmi-ah.. Ini–“

“Aku bilang lepas! Aku benci kalian!”

Sungmi menarik tangannya dari genggaman Siwon dan berlari menjauh. Sungmi berlari menjauhi sekolah. Meninggalkan dua namja yang disayanginya di belakang. Sungmi terus berlari tanpa menoleh ke belakang.

*****

Sungmi tidak menghiraukan makian dari orang-orang yang tidak sengaja ia tabrak. Ia juga tidak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang disekitarnya. Sungmi menunduk. Membiarkan airmatanya jatuh ke tanah. Sungmi butuh tempat bersandar sekarang. Tapi ia tidak tau lagi harus datang pada siapa. Dulu, Minho-lah yang selalu ada untuknya.

Minho.

Barang taruhan? Sungmi tidak habis pikir kenapa Minho bisa berbuat seburuk ini padanya.

Langkah kaki Sungmi terhenti di sebuah taman yang terlihat tidak terurus. Semak-semak yang dulu tertata rapi membentuk pagar sekarang terlihat berantakan. Bahkan banyak bunga yang layu dan kering. Gadis itu berjalan menuju sepasang ayunan yang ada di tengah taman. Dulu, taman ini adalah tempat favorit Sungmi dan Minho untuk bermain. Tapi itu dulu. Sebelum mereka berdua masuk sekolah menengah pertama.

Sungmi duduk di salah satu ayunan itu. Ia menatap langit. Warnanya hitam, gelap. Tidak jarang ada petir yang terdengar. Sungmi jadi ingat kenangannya dulu saat Minho memeluknya ketika ada petir. Atau saat rumah Sungmi tiba-tiba mati lampu dan Minho terpaksa menginap dirumahnya karena Sungmi terus menangis. Atau saat Sungmi diganggu oleh geng anak nakal di sd-nya dulu.

Semuanya terjadi disini. Sungmi ingat semuanya dengan jelas. Sungmi ingat setiap detil kejadiannya. Semuanya.

Air bening itu jatuh lagi bersamaan dengan senyum Sungmi. Sungmi tersenyum mengingat semua kenangannya dengan Minho.

Tetes air hujan berlomba-lomba turun ke bumi. Seolah ingin menghapus sakit yang dirasakan gadis yang duduk di ayunan itu. Hujan membuat semua yang ada di taman itu basah. Termasuk Sungmi. Tapi Sungmi sama sekali tidak berminat untuk berteduh. Setidaknya hujan bisa menyembunyikan air matanya.

“Minho-ya..”

You’re everything I thought you never were

And nothing like I thought you could have been

But still, you live inside of me, so tell me how is that?

You’re the only one I wish I could forget

The only one I love to not forgive

And though you break my heart, you’re the only one

And though there are times when I hate you

‘Cause I can’t erase

The times that you hurt me and put tears on my face

And even now, while I hate you, it pains me to say

I know I’ll be there at the end of the day

(Beyonce – Broken Hearted Girl)

*****

To be continue..

2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Lucky – Part 4”

  1. Hayo looh.. Sungminya tau..
    Pasti minho nyesel stengah mati tuh ikut taruhan.. Udah kalah dijauhin sungmi pula..
    Next.. Next..

  2. hayo loh 2 choi tampan rebutan cewe…
    Aq ga suka cara siwon, nafsu itu mah, bkn cinta.
    Sama minho aja deh yg jelas2 udh dr dulu temenan…

  3. ternyata sungmin dukung siwon. Kasian minho..
    Sungmi kayanya cinta ma minho, klw siwon cuma sebatas kagum aja deh #reader sok tau

  4. Kasian minho,kenapa sungmi malah ngedukung siwon?..siwon kok kayak gitu ya?..aku yakin minho pasti sangat menyesal udah ikut taruhan memperebut kan sungmi..minho kau harus bersabar..makin keren nih

  5. uaaaaaaaa keren thor .suka banget ff ini .nyesek banget pasti klo jadi minho ,gk didukung *oppa aku selalu mendukungmu**ehh
    daebak thor .

    Salam kenal yaa reader baru 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s