Don’t Cry

Title                 : Don’t Cry

Author             : @methachswn

Main Cast        : Choi Minho, Shim Hyeorin (Imaginary Cast)

Support Cast    : Kwon Yuri, Shim Changmin.

Length             : One Shot

Genre              : Romance

Rating              : PG-13

Disclaimer

Choi Minho © mine GOD/ SMent

Don’t Cry © methachswn

ENJOY FELLAS!

Aku hanya bisa menatapnya jauh. Menekan perasaan yang membuncah didalam dada. Berusaha menutup luka yang bahkan si pembuat tidak sadar akan adanya luka itu.

Choi Minho dan Kwon Yuri. Bagaikan dua malaikat yang sudah ditakdirkan untuk selalu bersama.

Melihat kedua telapak tangan yang bertaut satu sama lain, dan bahu yang saling menempel, membuatku berusaha untuk semakin menekan perasaan yang sebenarnya sudah tidak bisa ditahan lagi.

Mengapa? Mengapa aku yang bersahabat lebih lama dengan Minho, malah merasakan sakit yang tak terkira?

Mengapa? Mengapa hanya Yuri yang dapat membahagiakan Minho?

Apa aku tidak bisa menjadi pil kebahagian dalam hidup Minho?

“Hyeorin-ah, palli! Minho ada dibawah,” Suara Eomma dan gedoran keras di pintu kamar, membuatku terbangun dan menggeliat malas.

Jam 7 malam. Aku baru bangun dan belum mengerjakan tugas sama sekali. Hikseu.

Biasanya aku akan dengan senang hati mengerjakan tugas-tugas itu bersama Minho, namun… yah, kalian tahu, semenjak Minho berhubungan dengan Yuri, aku menjadi tidak enak hati dengan mengandalkan Minho. Padahal, otak namja itu benar-benar memadai. Hikseu.

Wae?” Hanya itu yang keluar dari mulutku ketika melihat Minho ada di ruang tamu bersama Yuri. Bayangkan, BERSAMA Yuri.

Uri… Aku dan Yuri ingin mengerjakan tugas bersama,” Minho gugup. Aku tahu gerak-geriknya. Dengan senyum kikuk khas miliknya.

“O,” Mulutku membulat sempurna, “Lalu, untuk apa kesini? Mau minta persetujuanku? Tenang saja, sejak awal kalian jadian, aku sudah mendukung seratus persen. Tidak perlu bertanya terlalu sering, kalian pasti tahu jawabannya. No doubt,” Jawabku panjang lebar.

“Tapi… kita ingin belajar bersamamu, Hyeo-ah,”

Cih, berhenti mengucapkan namaku dengan nama pemberian Minho, Ms. Kwon.

No,” Aku menyilangkan tanganku, “Kalian ingin membuatku menjadi obat nyamuk? Hahaha, tak akan kubiarkan,”

Tidak ada yang menjawab leluconku. “Yasudahlah, lebih baik kalian mempercepat kegiatan belajar kalian, oke?”

“Tapi, Hyeo-ah…”

“Selamat belajar, Minho-ya! Yuri-ya!”

Aku berlari meninggalkan mereka kearah dapur. Ada Changmin oppa yang tengah menyantap sarapannya dalam diam.

Oppa, apakah mereka sudah pergi?” Tanyaku sambil menarik kursi disebelahnya.

Kepala Changmin oppa  terjulur kedepan, lalu pandangan matanya menyiratkan bahwa kedua sejoli itu sedang diantar keluar rumah oleh Eomma.

Waeyo, Hyeo? Kenapa kau bersikap seperti itu pada mereka?”

Aku mengigit bibirku, berusaha menahan tangis yang sebentar lagi akan jebol dari pertahannya.

“Aku menyukainya, oppa… Dan aku tahu itu tidak akan berhasil…”

Sudah beberapa hari ini aku menghindar dari Minho. Mulai dari jam pelajaran pertama hingga sekarang, jam pelajaran terakhir.

Saat Minho mengajakku kekantin, aku beralasan ingin ke toilet. Ketika Minho mengajakku untuk berpartner bersamanya, aku memilih untuk berpartner bersama Jonghyun. Ketika Minho menghampiri mejaku, dengan segera aku pura-pura tertidur.

Ketika aura Minho menjauh, aku segera mengangkat kepalaku dan menangkap siratan kecewa terpancar dari dalam matanya.

Air mataku perlahan jatuh. Tidak, melihat Minho yang bercengkrama hangat dengan Yuri seperti luka yang belum kering dilumuri oleh air jeruk nipis. Pedih.

Dengan cepat aku pergi ke toilet untuk menghindari Minhp yang sepertinya melihatku berlari sambil menahan tangis.

Untung ada satu bilik yang kosong. Setelah memastikan wajahku masih layak untuk dilihat, segera aku keluar. Namun, pandanganku terhenti ketika disalah satu sudut aku menangkap dua bayangan yang sungguh aku kenal.

Minho dan Yuri. Sedang berpelukan.

Pandangan mata Minho ingin menjelaskan segalanya, namun itu semua yang kulihat adalah cukup.

Aku menaruh kedua telapak tanganku diatas pundak Minho lalu meremasnya pelan, “Kamsahamnida, Choi Minho-ssi.

Senyumku mengembang. Senyum perih namun bercampur ketulusan. Aku tahu, ini saatnya melupakan perasaanku yang tidak pas pada tempatnya.

Bukan, Minho bukan seseorang yang patut aku sukai. Dia pantas, amat pantas menjadi sahabatku.

Minho’s POV.

Aku berada diatap sekolah bersama gitar kesayanganku. Memainkan lagu-lagu galau. Sedari tadi memetik gitar, memainkan lagu Park Bom – Don’t Cry.

Ingin rasanya aku memainkan lagu ini untuknya. Agar berhenti menangis karena pemuda bodoh sepertiku.

Tidak, aku sama sekali tidak menggalaukan Yuri. Gadis itu sama sekali tidak pernah ada dipikiranku barang sedetikpun.

Hanya dia. Hanya Hyeorin yang ada. Tak akan pernah keluar dari dalam pikiranku.

Menyayanginya sebagai sahabat? Tadinya kupikir begitu. Namun setelah melihatnya menghindar dariku, menangis karenaku, dan berubah karenaku, aku berpikir ulang. Aku tidak bisa, tidak akan pernah bisa hidup tanpa Hyeorin.

Dia adalah pil kebahagiaan yang tidak pernah aku temukan sebelumnya.

Pintu usang atap terbuka dan aku mendapati Yuri  tengah memandangku gelisah. Aku tahu ini saatnya.

“Minho-ya, aku rasa ini sudah cukup. Kita sudah terlalu banyak menyakiti Hyeorin. Hubungan kita salah, mungkin dari awal aku tidak perlu menyatakan perasaanku padamu yang hanya berujung kagum…”

Setelah menyatakan hal itu, Yuri pergi.

Aku begitu bodoh hingga tidak bisa melihat bahwa Hyeorin menyukaiku. Begitu buta hingga membuat luka dalam bagi orang yang kucintai.

Sendirian. aku benar-benar sendirian. Hyeorin menghindar, dan sekarang Yuri pergi. Aku hanya sendiri. Bersama gitar kesayanganku.

Kembali aku memetik gitarnya, mengalunkan lagu Don’t Cry milik Park Bom dengan nada yang menyiratkan segalanya. Kepedihan yang tak berujung.

Love seems to change so easily, in place of our own greed,

a painful scar is left, gotta let you go and please don’t cry

Tidak, cintaku pada Hyeorin tidak berubah dengan mudah. Malah semakin kuat, saking kuatnya hingga membuat Hyeorin terlepas dari genggaman. Benar, cinta itu layaknya menggenggam pasir. Jangan terlalu kuat namun juga jangan terlalu lembut.

I guess I was not really the person for you, I couldn’t hold back my stupid heart
Which pained you and please don’t cry

Aku bukan untuk Yuri. Aku untuk Hyeorin. Choi Minho untuk Shim Hyeorin, dan Shim Hyeorin –tentu saja untuk Choi Minho. Itu mutlak.

It’s okay baby please don’t cry,
This long journey is about to end.
But someday, we will meet again,
In the next life, we will see each other again

Tanpa sadar, air mataku terjatuh. Kenyataan memang begitu menyedihkan.  Aku sendirian. Tanpa ada Hyeorin lagi.

Tiba-tiba sebuah tangan terulur dengan sebuah tisu. Kepalaku mendongak. Shim Hyeorin dengan wajah penuh air mata.

“Minho-ya, kalau kau ingin menangis, menangis saja. Aku ada disini untukmu. Kita berteman, bukan?” Dia memberikan jari mungil kelingkingnya padaku.

Aku tidak menjawab. Aku hanya kembali melanjutkan lagu itu sesekali melirik Hyeorin yang sudah banjir air mata. Ia terisak.

“Hyeorin-ah, mianhae. Jeongmal mianhae…” Aku merengkuh tubuhnya kedalam pelukan.

“Aku begitu bodoh hingga tidak menyadari, bahwa ada seorang gadis disini, disampingku, yang lebih berharga dari apapun juga. Mianhae, Hyeorin-ah…”

“Bukan, bukan Yuri yang menginginkan kita belajar bersama waktu itu. Tapi aku. Aku ingin bersamamu. Aku frustasi melihatmu menangis –yang baru baru ini aku sadar –bahwa kau menangis karenaku.”

It’s okay baby please don’t cry…” Aku mengusap kepalanya perlahan.

Saranghae…” Aku mengecup puncak kepalanya. Harum shampoo gadis itu memenuhi rongga hidungku, memberikan sensasi bahagia. Bahagia bahwa gadis ini memiliki perasaan berharga untukku.

“Aku akan memaafkanmu…” Hyeorin masih menyembunyikan kepalanya di dadaku. Dia tidak lagi terisak.

“Apa?”

“Aku akan memaafkanmu apabila kau memenuhi sebuah syarat mudah dariku.” Katanya dengan nada jahil.

“Apa?”

Alisku terangkat. Kira-kira apa yang akan dilakukannya?

“Aku ingin kau menjadi kekasihku. Simpel bukan?”

Sudut bibirku tertarik keatas. “Kekasih? Apakah status itu sudah cukup?”

Dan ketika kami tergelak bersama, kami berdua tahu… Kami adalah Pil Kebahagiaan bagi satu sama lain. Aku untuk Hyeorin. Dan Hyeorin untuk aku.

Kami  adalah satu. Selamanya.

-END-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

26 thoughts on “Don’t Cry”

  1. sooo swiiiit >.<
    Mengharukaan thor,,Minho emng cocok diksih pran beginian,hihi.
    Trus brkarya ne,,~

  2. Seruuuuuuu !!!
    Untung aja yuri juga ngerti
    Dan akhirnya minho pun sadar
    Kalo dia itu ga benerbener suka yurii
    Tapi dia sukanya sama hyeo
    Akhirnyaaaa mereka jadian juga
    Nice ff:D

  3. HWAAA LIKE IT XD

    Udah lama gak baca ff bagus kayak gini. Kyaa, so sweet itu si Minho sama Hyeorin. Cara penuturannya keren banget 😉

    Tapi ada yg bikin bingung. Pertamanya Hyeorin bilang udah jam 7 malam, tapi kok Changmin lagi sarapan? O.O

    Overall, daebak! Bikin ff lagi yaa -^^-

  4. ya! mino kenapa galau?? kkk~
    bagus thor xDD asal Minho bahagia, ma sapa aja juga boleh (?)
    tapi masih rada bingung sih kenapa mino jadian ma yuri dan kenapa mino nerima yuri dan juga kenapa mino gak nembak Hyeorin dari dulu *lola

  5. huaaaaa kereen ,ceritanya singkat tapi bagus .bahasanya keren .feelnya dapet banget .uaaaaaaaa pokoknya daebak thor (y)

    #salam kenal reader baru 😀

  6. Andwee!! Jangan sampe Minho ama Yuri!! #bawa spanduk penolakan keliling namsan tower (?)
    Huft, lega~ untung Minho gak suka sama Yuri 🙂 #ganti bawa spanduk penyetujuan aku pacaran sama Minho (?) *ditonjok hyeorin
    Lega banget baca.a, yg penting Minho bukan untuk Yuri, tapi untukku (?) *digiling flamer* gue juga flamer kali ya 😀
    Bagus banget!! Daebak!! Sad, Romance, Happy 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s