Love Me – Part 1

LOVE ME 1

Author : *Azmi

Maint cast :

  • Kim Jonghyun
  • Choi Yumi

Other cast :

  • Jonghyun’s parents
  • Yumi’s parents

Length : Sequel

Genre : Angst, romance, married life

Rating : PG 13

A/N : kalau ada keterangan tanggal beserta musimnya berarti Flashback ya Reader. Okey selamat menikmati.

 

~~CHOI YUMI POV~~

Sesungguhnya aku sudah lelah, sangat lelah. Apa aku harus berjuang sekali lagi? apa aku harus memulainya dari awal lagi? Tak cukupkah perjuanganku dulu. Bukankah aku baru saja mendapatkan kebahagian kecil itu, mengapa harus begini lagi? Tuhan,,, kumohon hentikan, kumohon jangan biarkan aku berjuang lebih keras lagi. Demi seorang yang bahkan baru dua tahun ini kukenal, haruskah aku menderita sampai seperti ini? Seperti sakit ini merasuk hingga sumsum tulangku. Nyeri dan sangat sakit.

Bukan aku tak mencintainya atau cintaku telah pudar padanya. Bukan, bukan sama sekali. Harus kau tahu aku sangat sangat mencintai suamiku lebih dari apapun. Tapi haruskah cinta ini membawa begitu banyak luka dihatiku? Bukankah cinta seharusnya membawa kebahagian dan kenyamanan dalam rumah tangga? Aku sadar, sangat sadar bahwa disini aku adalah satu-satunya pihak yang mencintai. Bukan berarti suamiku membenciku, hanya saja ia belum bisa menggati posisi kekasihnya yang dulu dengan diriku dihatinya. Dia menyayangiku,, iya hanya sebatas itu tak bisa lebih. Itupun aku harus memperjuangkannya habis-habisan. Sikap dinginya berlahan luluh seiring dengan berjalannya waktu dengan kesabaran terdalam yang kumiliki. Tapi sekarang aku dituntut tuhan berjuang sekali lagi untuk mendapatkan hati suamiku.

Winter, November 26th 2009

Aku tak henti-hentinya mematut diriku didepan cermin yang merefleksikan sesosok gadis dengan dress yellow soft selutut, sedikit takjub. Apa ini aku? Kata eomma pita yang terpasang indah dirambutku adalah pemberian calon ibu mertuaku. Ia membelinya dari jepang khusus untukku. Indah, sangat indah.

“Ommo, putri Eomma neomu yeoppo!” seru Eomma begitu masuk kedalam kamarku. Ia memegang pundakku dan mengamati wajahku seksama lengkap dengan senyum hangat favoritku.

“Jinja? Benarkah aku sudah terlihat cantik Eomma?”

“Tentu saja. tak ada yang lebih cantik dibanding putri Eomma.” Serunya lagi sambil mencubit pipiku gemas. Aku tak marah, aku sangat senang saat Eomma mencubit pipiku karena aku merasa ada kasih sayang disana. “Kau gugup sayang?”

“Ne, sangat gugup. Bahkan lebih gugup dari pada saat menghadapi ujian kelulusan kemarin!”

Aku baru saja menghadapi unjian kelulusan, aku sungguh senang karena aku lulus dari Chunha High School dengan nilai yang sangat memuaskan, tentu saja karena aku berhasil masuk 3 besar. Hari ini aku akan bertemu dengan calon suamiku yang dipilihkan orang tuaku. Aneh memang, aku sama sekali tak menolak ataupun marah mengingat umurku yang baru saja menginjak 18tahun tetapi harus menghadapi perjodohan. Jika gadis lain yang mengalaminya mungkin mereka akan berontak. Tapi aku tidak, aku percaya orang tuaku pasti memilihkan yang terbaik untukku.

“Itu wajar sayang,, Eomma juga mengalaminya dulu. Yang penting kau sudah terlihat sangat cantik. Kajja!”.

—-

Kami –aku, eomma dan appa- memasuki sebuah restoran jepang mewah. Aku semakin gugup, bagaimana wajah calon suamiku? Apa dia tampan? Aku harap lebih tampan dari Appa. kekeke.

“Mr. Kim!!” seru Appa, membuatku dan Eomma menoleh kesebuah sudut dibagian restoran yang tepat disamping jendela kaca yang menghadap langsung jalanan Seoul yang padat. Ada seorang pria paruh baya dengan seorang  wanita disampingnya yang pasti adalah istrinya, apa mereka calon mertuaku? Kemudian mataku teralih pada seorang namja yang memandang kosong jalanan Seoul lewat jendela, jangan bilang itu adalah calon suamiku. Ommo jantungku mengapa berdetak dua kali lebih cepat.

“Mr. Choi!” seru pria paruh baya. Ia melambaikan tangannya, melihat itu Appa bergegas menghampiri mereka dan aku hanya mengekori Appa sambil menggenggam tangan Eomma erat.

“Tenang sayang.” Bisik Eomma mengelus punggung tanganku lembut.

“Annyeong” Sapa appa begitu sampai sembari membungkukkan badan yang tentu saja aku ikuti. Mereka segera berdiri dan menyapa balik. Tapi kulihat pria itu, maksudku pria yang mungkin adalah calon suamiku masih memandang hampa jalanan. Apa ia tak menyadari kehadiran kami?.

“Annyeong” sapanya begitu wanita paruh baya disampingnya memegang pundaknya membuatnya sadar dari lamunan yang entah apa itu. Ia mendongakkan wajahnya, membuatku dapat melihatnya lebih jelas. Ommo tampan sekali, setelan jas hitam membalut tubuhnya sangat pas. Hidungnya yang bangir dipadukan dengan garis wajah yang tegas sungguh memperlihatkan bahwa ia begitu manly. Walau ku akui ia tak begitu tinggi. Ia kembali duduk dan juga kembali mengarahkan pandangannya keluar jendela, apa disana ada sesuatu yang sangat menarik?

“Apa kau Yumi?” tanya wanita paruh baya itu, yang sudah bisa kupastikan adalah calon ibu mertuaku.

“Ne, Joneun Yumi imnida,,  eomoni!” perkenalanku sambil membungkuk, tanpa sadar memanggilnya Eomoni.

“Ommo kau memanggilku apa sayang?”

“Eomoni” jawabku malu-malu, Aiss,,, apa aku salah?

“Aigo yeobo dia memanggilku Eomoni, Neomu Kyeopta!” kata calon mertuaku antusias. Senang rasanya ternyata yang dikatakan Min Ah sama sekali tak benar, ia bilang bahwa ibu mertua bisanya sangat jahat pada anak menantunya apalagi pada menantu Yeoja. Tapi kulihat Eomoni sangat baik, walaupun aku baru pertama kali melihatnya.

“Besan,, kulihat Anakmu dari tadi hanya diam saja, apa dia sakit?” tanya Eomma. Aku kembali menoleh kearah Namja ‘pelamun’ didepanku. Matanya masih saja terpaku pada orang-orang yang berlalulalang di jalan, apa ia tak pernah melihat jalanan ramai sebelumnya? Mengapa terlihat begitu menarik baginya?.

“Ahh maaf. Jjong…” Eomani memegang pundak namja itu membuatnya menoleh untuk kedua kalinya setelah salam tadi, “Ayo perkenalkan dirimu sayang!” suruh Eomoni.

“Joneun Kim Jonghyun imnida. Bangapsumnida!” setelah memperkenalkan dirinya ia kembali duduk tapi tak lagi memangdang jalanan. Mata kami bertemu, aku tersenyum padanya. Tapi tak ada reaksi apapun darinya, ia hanya memangdangku dalam diam, terkesan dingin dan tak berminat. Aku melihat keengganan dalam matanya. Ommo apa ia terpaksa menerima perjodohan ini karena orang tuanya? Jika memang seperti itu kupastikan hidup rumah tanggaku tak akan selancar yang aku pikirkan, dan Aigooo bagaimana kalau sebenarnya ia telah memiliki kekasih? Ahhh apa aku akan menjalani hidup seperti di drama-drama? Aniya aniya itu tak mungkin. Aku tak boleh berburuk sangka.

Aku masih merapikan pakaian-pakaian suamiku dalam diam. Hari ini ia akan pulang setelah satu bulan lebih harus dirawat dirumah sakit akibat kecelakaan yang menimpanya saat pulang dari kantor. Aku kembali menitihkan air mataku. Bukannya aku tak senang ia telah kembali sehat dan pulih, hanya saja ia meninggalkan ingatan tentangku disana dijalan terkutuk itu. Rasanya aku ingin sekali mengutuk jalan yang membuat suamiku melupakanku, hanya aku. Kalau tak mengingat suamiku begitu menyayangi motornya aku sudah buang kelaut motor berengsek itu. Tapi sayang aku hanya bisa menahan perih dan menangis dalam diam seperti orang bodoh.

“Yumi-ssi!” dia kembali memanggilku dengan sebutan itu lagi. sebutan yang susah payah kuperjuangkan kini menguap dari ingatanya begitu saja. Rasanya baru beberapa kali aku mendengar ‘Mi-ya’ keluar dari mulutnya, tapi mau bagaimana lagi ia tak mengingatnya sama sekali.

“Ne oppa?” cepat-cepat kuhapus air mata yang tak henti-hentinya mengalir, mengangkat kepalaku untuk melihatnya yang masih setia duduk ditepi ranjang rumah sakit.

“Apa eomma tak menjemputku?” tanyanya. Mengapa kau menanyakan Eomoni oppa? Aku sudah disini, tak cukupkah?

“Eomoni menemani Aboji kejepang untuk mengurus perusahaannya yang disana oppa.” Aku kembali melanjutkan kegiatanku semula, setelah kurasa ia tak lagi ingin bertanya.

“Yumi-ssi?” panggilnya lagi.

“Hmm?” aku menjawab dengan gumaman tanpa mengalihkan pandanganku dari tas berisi pakaian-pakaiannya.

“Apa kau benar-benar istriku?” bagai tertohok, ia kembali menanyakan hal itu. Pertanyaan yang sama, mungkin sudah ratusan kali sejak ia sadar dari komanya. Air mataku kembali mengalir tak terkendali setelah tadi kutahan mati-matian agar tak keluar. “Ahh Mian,, tapi aku benar-benar tak mengingatmu sama sekali.”

“Gwaenchana Oppa,, kau bisa mengingatnya berlahan-lahan, aku akan membantumu!” suaraku terdengar serak. Kuharap ia tak menyadarinya. Tapi kurasa itu harapan kosong karena air mataku sudah tak bisa kukendalikan sementara ia memandangku seperti itu. Harusnya kau tak hanya memandangku seperti itu oppa, seharusnya kau turun dari ranjangmu dan mengusap airmataku setidaknya kau ada usaha untuk membuatku lebih tenang.

“Tapi ini aneh Yumi-ssi, mengapa hanya kau yang tak ku ingat. Aku mengingat orang tuaku, teman-temanku bahkan sopir dan pembantuku, aku mengingat semuanya. Aku sama sekali tak mengingat aku sudah menikah. Aku memang baru saja putus dari Sekyung Noona tapi…”

“Kumohon oppa jangan dilanjutkan. Bisakah kau sedikit saja menjaga perasaanku. Kau sudah mengatakannya berulang kali. Aku tahu oppa, aku tahu. Hanya aku yang tak bisa kau ingat tapi bukan berarti kau terus saja mendesakku. Aku juga tak tahu mengapa hanya aku yang kau lupakan…”  aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku. Aku selalu tak tahan jika harus membicarakan masalah ini dengannya. Apa kehadiranku begitu membuamu tertekan sehingga kau ingin membuang semua kenangan tentangku? Tapi apapun itu aku tak akan menyerah, aku akan tetap berusaha mendapatkan hati suamiku walau aku harus kembali memulainya dari nol. Ini demi orang tuaku yang sudah tenang di alam sana. Jujur seharusnya dulu aku tak perlu menikah dengannya secepat itu, seharusnya aku meneruskan kuliahku dulu dan lulus tapi karena kecelakaan pesawat yang menimpa orang tuaku sehingga aku harus mempercepat pernikahanku. Sungguh Tuhan benar-benar tangah mengujiku.

“Aku akan mengambilkan kursi roda untuk oppa, tunggu sebentar!” lanjutku begitu semua barang-barang telah tertata rapi seluruhnya.

“Ajussi, bisa bantu aku membawa masuk suamiku kedalam mobil?” pintaku pada Ajussi supir taxi yang kupesan untuk mengantarkan kami pulang menuju apartement. Sementara Ajussi sopir taxi memapah Jonghyun oppa masuk kedalam mobil, aku memasukkan tas-tas yang berisi pakaian-pakaian Jonghyun oppa kedalam bagasi taxi kemudian menyusul masuk dan duduk disamping Jonghyun oppa.

“Kemana Agassi?” tanya supir Taxi.

“Ke alamat ini ajussi” aku menyerahkan secarik kertas berisi alamat apartement kami.

Taxi kemudian melaju dalam diam. Kulihat Jonghyun oppa hanya memandang keluar jendela kosong. Tak ada semangat sama sekali, raut wajah yang sama yang mengingatkanku saat pertama kali aku bertemu dengannya.

“Yumi-ssi,,,?” panggilnya tiba-tiba.

“Ne oppa? Kau butuh sesuatu? Apa kau haus?”

“Ani,, kurasa ini bukan jalan menuju apartementku, apa kita salah jalan?” tanyanya bingung. Ahh benar ia juga melupakan tentang papapun yang menyangkut diriku selama dua tahun ini termasuk juga kepindahan kita ke apartement yang baru.

“Bukankah dulu oppa yang meminta kita pindah apartement yang memiliki dua kamar tidur, seminggu setelah kita menikah?”

“Benarkah?” Tentu saja kau tak ingat oppa. Kau sendiri yang tak ingin tidur denganku dan memilih membeli apartement yang baru.

Spring, february 3rd 2010

“Oppa,, ini apartementmu?” tanyaku begitu memasuki sebuah apartement bahkan sebelum sempat kuganti gaun pernikahan indah ini, masih dengan senyum mengembang. Cukup rapi untuk ukuran seorang namja.

Karena tak mendapat jawaban aku berkeliling memandangi tempat yang akan menjadi tempatku kedepan menghabiskan sisa hidupku. Aku terhenti disudut apartement tepat didepan sebuah meja yang tergeletak sebuah bingkai foto suamiku bersama seorang yeoja cantik, mereka terlihat sangat mesra. Apa ia mantan kekasih Jonghyun oppa? Tapi mengapa ia masih memajangnya sementara ada aku yang akan menemaninya kedepan.

“Sebaiknya kau mandi Yumi-ssi, pasti kau sangat lelah!” teriak Jonghyun oppa. Aku terkesiap dan buru-buru melangkahkan kakiku menjauhi meja itu. Kulihat Jonghyun oppa keluar dari sebuah ruangan yang bisa kupastikan adalah kamarnya dengan baju yang sudah terganti lebih santai.

“Ne Oppa” jawabku agak gugup. Entahlah setelah melihat foto itu ada perasaan yang aneh muncul dihatiku.

Aku keluar dari kamar mandi setelah 10 menit membersihkan diri yang kebetulan kamar mandinya berada didalam kamar. Kulihat Jonghyun oppa tengah duduk disofa sambil memainkan ponselnya serius. Kulirik jam kecil diatas meja disamping tempat tidur menunjukkan pukul 11.00 malam. Hah mengapa aku tiba-tiba gugup seperti ini?.

“Oppa kau belum tidur?” kuberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

“Kau tak perlu gugup Yumi-ssi, aku tak akan berbuat macam-macam padamu. Aku berjanji akan mendapatkan apartement yang baru secepatnya. Setelah itu kita tak perlu berbagi kamar berdua!”

“Maksudmu Oppa?” aku benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakannya. Apa maksudnya dengan apartement yang baru dan berbagi kamar. Bukankah suami istri memang sudah seharusnya berbagi kamar berdua?

“Kau tak mencintaiku bukan? aku juga tak mencintaimu. Kita menikah karena terpaksa, jadi kita tak perlu tidur sekamar. Besok aku akan mencari apartement dengan dua kamar tidur. Kau bersabarlah.”

“Tapi, aku,,,”

“Ehh, kau sudah melihat foto Yeoja didepan kan? Dia kekasihku, walaupun kami baru saja putus tapi aku yakin aku akan mendapatkannya kembali. Jadi kau tak perlu khawatir aku akan berbuat macam-macam padamu. Kau juga bebas memiliki kekasih, aku tak akan melarangmu. Kita berdua bebas!” katanya sembari beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjang menyibak selimut dan menelusupkan diri kedalamnya. Sementara aku berdiri mematung disini. Menatap punggungnya yang bidang itu. Sungguh apa ini mimpi buruk? Jadi aku menikahi seorang pria yang sama sekali tak menginginkan pernikahan ini?

Aku menjatuhkan diriku disampingnya. Kami saling memunggungi. Tak terasa air mataku meluber keluar, bahuku terguncang. Aku tak peduli apakah ia mengetahui aku menangis yang jelas aku tak pernah membayangkan bahwa aku akan mengalami hal seperti ini. Kukira dengan pernikahan ini berlahan aku akan bisa melupakan Eomma dan Appa tapi nyatanya itu tak akan mudah. Perjalanan panjang kehidupan yang sulit menantiku. Eomma bantu aku dari sana, aku berjanji akan membuat Jonghyun oppa mencintaiku dan melupakan yeoja difoto itu, aku berjanji tak akan mengecewakanmu.

Ia memandang bingung seisi apartement kami. Matanya masih tertuju pada dinding yang menggantung foto besar pernikahan kita. Ia dengan tuxedo putinya dan aku berdiri disampingnya dengan gaun yang berwarna senada dengannya. Buket bunga ditanganku membuat foto kami jadi semakin indah. Saat itu aku benar-benar bahagia.

“Oppa sebaiknya istirahat dulu!” kudorong kursi rodanya menuju kamar, ia tak memprotes sama sekili kegiatan mengamatinya terusik. Aku membantunya turun dari kursi roda dan membaringkannya ketempat tidur.

“Aku akan pergi sebentar oppa, kau istirahatlah” aku berniat berkunjung kemakam orang tuaku. Sudah hampir sebulan lebih aku tak mengunjungi mereka selama Jonghyun oppa sakit. Aku tak sempat karena aku hanya fokus pada Jonghyun oppa, sama sekali tak beranjak dari rumah sakit.

“Yumi-ssi tunggu!!” serunya begitu aku hampir saja membuka kamar kami berniat untuk keluar.

“Ne Oppa,, kau memerlukan sesuatu?” tanyaku membalikkan diri menghadapnya. Ia tampak ragu untuk membuka mulutnya. “Kau ingin mengatakan apa Oppa?”. Aku mendekat dan mendudukkan diriku di tepi ranjang, membantunya mengangkat sedikit tubuhnya untuk bersandar kedinding.

“Ap,,apa aku mencintaimu?” tanyanya ragu. Mataku melebar sempurna tak menyangka ia akan menanyakan hal itu.

“Belum, tapi kau sudah berjanji akan berusaha mencintaiku.”  Jawabku. Aku menatap manik matanya, terlihat sendu dan mengisaratkan penyesalan yang mendalam.

“Benarkah?”

“Ne,, oppa mengatakannya sebulan sebelum kecelakaan itu terjadi!” satu bulan yang membuatku merasakan bahwa aku telah memiliki seorang suami walaupun pada kenyataannya aku telah menikah  selama 2 tahun.

“Apa kau akan menagih janjiku itu?” aku terdiam sesaat.

“Aku tak akan memaksamu oppa. Aku akan bersabar sampai oppa benar-benar siap untuk kehadiranku dihatimu!”

“Tapi kau sudah menungguku selama 2 tahun. Apa kau tak jenuh tak lelah? Jujur saja aku tak bisa memastikan apa aku bisa mencintaimu.” Ucapnya lirih.

“Aku percaya pada oppa, karena aku tahu oppa bukan tipe orang yang dengan mudah mengingkari janjinya.”

“Tapi aku,,,”

“Dua tahun, empat tahun, lima tahun, sepuluh tahun atau ratusan tahunpun aku tak akan menyerah untuk menunggumu oppa. Aku hanya akan punya satu suami didunia ini. Suami yang telah dipilihkan Eomma dan Appa, aku percaya pilihan mereka tak akan salah. Kalau aku lelah aku bisa istirahat sebentar kemudian akan berjuang lagi. Kalau aku jenuh aku tinggal mendengarkan suara merdu oppa saat bernyanyi, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku yakin aku akan bahagia menghabiskan masa tuaku bersamamu oppa, tentu saja dengan cinta yang banyak darimu.” Senyum getir tersungging dari bibirku. Tapi aku percaya Tuhan pasti akan membalas semua yang kualami dengan banyak kebahagianan suatu saat nanti.

“Aku pergi dulu oppa,,,”

“Kau akan pergi kemana?”

“Kemakam Eomma dan Appa. Hanya sebentar.” Aku melangkahkan kakiku keluar. Huuhh aku rindu sekali dengan mereka.

Aku membersihkan rumput-rumput kecil disekitar makam disamping kanan dan kiriku. Makam orang-orang yang paling kucintai didunia ini. Dua malaikat yang membuatku bisa merasakan hidup didunia  yang penuh dengan senyum juga tangis. Mengapa mereka begitu cepat meninggalkanku?.

Eomma, kau sudah tahu kan apa yang terjadi pada Jonghyun oppa? Ia mengalami kecelakaan sebulan yang lalu. Aku hampir saja menyusulmu begitu mengetahui berita itu. Tapi syukurlah oppa bisa bertahan. Tapi aku tak habis pikir Eomma, ia melupakanku. Ia membuang ingatanya dua tahun terakhir ini. Padahal itu adalah waktu dimana aku memasuki kehidupannya. Bukankah itu sangat tidak adil.

Jujur saja aku sangat sedih Eomma, perjuanganku yang hampir saja membuahkan hasil harus berakhir seperti ini. Aku harus memulainya dari awal lagi. Andai Eomma dan Appa tak pergi begitu cepat mungkin aku tak akan merasakan bahwa aku hanya seorang diri didunia ini memperjuangkan hidup.

Eomma, appa apa kalian baik-baik saja disana, apa kalian bahagia? Aku pasti akan menyusul kalian suatu saat nanti, Eomma dan Appa bersabarlah. Kita akan hidup bahagia disana. Tapi aku boleh kan mengajak Jonghyun oppa? Aku,, aku saat ini benar-benar telah mencintainya Eomma,, appa. Bukan lagi karena kalian tapi aku tulus mencintainya dari hatiku sendiri. Eomma, Appa bantulah aku dari sana. Aku akan memperjuangkan cintaku.

Aku harus pergi Eomma, Jonghyun oppa pasti sudah menungguku. Appa jagalah Eomma disana!. Aku pulang dulu.

Aku berjalan gontai menuju halte bus untuk pulang, aku harus segera masak untuk makan malam Jonghyun Oppa, ia pasti sudah sangat lapar.

“Yumi-ya?” sebuah suara mengagetkanku. Membuatku menoleh kesamping. Terlihat sebuah mobil ferrary berhenti dan segera turun seorang Yeoja yang sudah sangat kukenal.

“Min Ah!” seruku.

“Kau dari mana?” tanyanya.

“Aku dari makam!”

“mau menemaniku sebentar?”

“Min Ah aku harus segera pulang, kau tak bisa lebih cepat sedikit?” kataku gusar. Sudah hampir satu jam aku menemaninya memilih gaun untuk dipakainya keacara ulang tahun Kim Kibum kekasihnya.

“Ne ne, sabar. Aku harus membayarnya dulu kan?” serunya beranjak menuju kasir. Aku mengikutinya dari belakang.

“Mi-ya bagaimana keadaan Jonghyun oppa?” tannyanya memecah keheningan setelah kami hanya diam dalam mobil yang melaju menuju apartementku.

“Baik.” Jawabku sekenanya.

“Apa dia masih tak ingat padamu?” ia memelankan suaranya saat bertanya itu. Aku tahu ia tak ingin aku bersedih mengingat hal itu lagi.

“Secepatnya ia akan mengingatku kembali.” Senyum terpaksa tersungging dibibirku.

“Aku,, seandainya aku yang mengalami ini aku pasti sudah tak tahan Mi-ya. Kau adalah Jeoja paling tegar yang pernah kukenal. Apapun yang terjadi aku akan selalu mendukungmu.”

“Ne, aku tahu. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Oh ya,, bagaimana kabar hubunganmu dengan Key oppa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku sedang tak ingin membicarakan masalahku.

“Kami baik, sangat baik!!” jawabnya bersemangat, senyum cerah tersungging dari bibirnya. Senyum yang sudah dua tahun ini tak pernah menghiasi wajahku, bahkan mungkin aku sudah tak tahu bagaimana caranya.

“Syukurlah kalau begitu.”

—-

Aku membuka pintu apartementku berlahan dengan sebuah bungkusan berisi bubur yang sempat kubeli tadi bersama Min Ah. Tentu saja bubur untuk Jonghyun oppa. Ia sangat menyukai seledri #anggap saja seperti itu# jadi kuputuskan untuk membelikanya bubur seledri.

Kulangkahkan kakiku menuju kedapur untuk menuangkan bubur kedalam mangkuk kemudian berjalan menuju kamar Jonghyun oppa. Kulihat ia masih tertidur tenang dalam selimut. Wajah damai yang sangat kucintai.

“Oppa bangun,,” kataku sedikit mengguncang bahunya, aku terpaksa membangunkannya karena ia harus makan. Ia menggerang dan berlahan membuka matanya. “Oppa harus makan.”

“Yumi-ssi kau sudah pulang?” tanyanya berusaha bangun dari tidurnya.

“Ne,, oppa makan dulu ne,,” aku menyodorkan sesendok bubur seledri padanya. Ia membuka mulutnya tanpa protes. Pasti ia sangat lapar. Aku menyuapinya dalam diam. Yang terdengar hanya suara kecapan mulutnya dan suara sendok yang beradu dengan mangkuk.

“Sudah cukup Yumi-ssi aku sudah kenyang.” Katanya memecah kehening.

“Ne,, Oppa minum susunya.” Aku menyodorkan segelas susu padanya lagi-lagi ia tak memprotes dan hanya menurut.

“Yumi-ssi?” katanya begitu gelas susu itu telah kosong dan diletakkanya di samping meja tempat tidurnya.

“Ne Oppa?”

“Berapa umurmu?” tanyanya. Sungguh miris, dua tahun hidup bersama dan ia baru menanyakan umurku.

“20 tahun oppa, Wae?”

“Ani,, berarti kau dua tahun dibawahku?”

“Ani,,”

“Ani?” wajahnya menggambarkan kebingungan, sungguh lucu aku jadi ingin mencubitnya.

“Kau sudah 24 tahun oppa, aku 4 tahun dibawahmu.” Jawabku dengan senyum menyungging. Ia masih mengerutkan keningnya, “Kau melupakan dua tahun masa lalumu oppa.”

“Ah Ne arasseo.” Jawabnya lirih. Aku tahu kau kecewa karena melewatkan dua tahun usiamu oppa. Tapi aku berjanji akan membantumu mengingatnya lagi.

“Yumi-ssi berarti kau masih kuliah, bukankah umurmu baru 20 tahun? Tapi mengapa satu bulan terakhir ini aku tak melihatmu meninggalkanku dirumah sakit sejenakpun!” tanyanya lagi. Huhhh aku merasa aku seperti harus berkenalan lagi dengan suamiku. Lucu sekali.

“Aku mengambil cuti oppa,, dan seminggu lagi masa cutiku akan habis. Aku akan mulai kuliah lagi. Oppa tak apa kan aku tinggal sendirian?”

“Tentu saja. Kau pikir aku anak kecil?” protesnya menggembungkan pipi. Yaaa sudah berapa lama aku tak melihat ekspresi itu? Lega rasanya, setidaknya walaupun ia belum bisa mengingatku tapi aku masih bisa melihatnya tersenyum bahagia aku sudah sangat bersyukur. Pelan-pelan kau pasti akan mengingatku lagi oppa.

“Ne arasseo,, baiklah oppa bisa istirahat lagi. Aku akan kembali kemarku.” Aku hendak beranjak sembari membawa mangkuk dan gelas bekas makan malam Jonghyun oppa untuk kucuci kedapur sebelum sebuah tangan menggenggam lenganku, membuatku berhenti seketika.

“Ada apa Oppa,,?”

“Kau tidur dikamar lain?” tanyanya bingung “Jadi selama ini kita tak tidur bersama?”

“Ani, satu bulan sebelum kecelakaan itu Oppa memang sudah mengijinkaku tidur disini, tapi kukira karena oppa tak ingat jadi kuputuskan untuk kembali tidur dikmarku yang dulu.” Jawabku.

“Ani,, kau boleh tidur disini!” katanya lirih. Benarkah ia mengijinkanku tidur disini? Apa aku tak sedang bermimpi?

“Kau sungguh-sungguh Oppa?”

“Ne,, “

“Gomawo Oppa. Baikalah aku akan mencuci mangkuk ini dulu, oppa tidur saja dulu aku akan akan menyusul nanti!”

Aku menggeliat pelan begitu kudengar samar-samar sebuah rintihan. Aku berusaha bangun dan kudapati Jonghyun oppa dengan keringat yang begitu banyak membasahi tubuhnya menggeliat disampingku. Apa ia sedang bermimpi buruk?.

“Sekyung noona kumohon jangan tinggalkan aku,, Jebal. Tetaplah disisiku.”

“aku,,, aku tak bisa hidup tanpamu Noona. Kumohon tetap tinggal…”

DEG

Jonghyun oppa mengigau Sekyung eoni?. Nama yang sudah lama tak kudengar bahkan hampir kulupakan kini malah disebut-sebut dalam mimpi suamiku. Hatiku terasa dicabik-cabik. Sakit sekali rasanya. Sungguh apapun itu, kumohon jangan lagi mengucapkan nama itu disampingku oppa. Aku disini, aku istrimu disampingmu oppa. Mengapa kau malah menyebut nama wanita lain?. Berhenti menyebut namanya. Kepalaku rasanya ingin pecah. Kumohon,,, kumohon oppa.

TBC

Hallo,,, aku kembali lagi… kekeke

Ini adalah FF ketigaku yang aku kirim kesini setelah 2 FF sebelumnya. ‘Endless Moment’ dan ‘Heebaragi’. sebenarnya FF ini sudah lamaaa banget ngendep (?) di folder PC jauh sebelum dua FF diatas dibuat, hanya saja aku gag pede buat mublis ni FF. Jujur aja aku ngerasa FF ini gatot a.k.a gagal total. Aku minta maaf semuanya….

Dan sudilah kiranya teman-teman meninggalkan komennya untuk Author yang sangat masih butuh banyak masukan ini, sekedar untuk perbaikan diri. Dan biar lebih akrab gitu, kita bicara dari hati kehati (?)….

Baiklah segitu aja, terimaksih yang udah bersedia jadi Reader yang baik, yang mau ninggalin jejaknya pha lagi yang mau sekalian ninggalin sepatunya untuk Author #Sarapp

Buat sider juga makasih ya, udah mau baca. Aku tahu kalian punya alasan tersendiri memilih untuk tak menampakkan diri. Aku bisa merasakan kok, aku kan cenayang (?) terhebat sepanjang Shinee masih bersinar… kekeke

TERIMAKASIH SEMUANYA ^^

LOVE YOUUUU~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

36 thoughts on “Love Me – Part 1”

  1. kasian yuminya..
    yg sabar ya yumi,,moga si dino itu bisa buru2 sadar klo yg ada di samping dy thu cuma yumi,,si sekyung mach udah kelaut..hhe
    dtunggu next part y,,thor..
    ^^

  2. Nyesek!sumpah.
    Aq yg baca hampir nahan napas(?).

    Gg tau knapa tpi ku rasa feel critanya lbih dpet klo main catsnya Taemin ato Onew,,*aneh*

    Eumm,,author gg ngasih tanda pemisah antara flashback sama wktu skrang,,jdi agak bingung.

    Diksi n pnggunaan hrf kpitalnya diprhatikn lgi ne?..
    All right gitu ajj deh,hehe.
    Jdi author yg punya ff Endless moment n Haebaragi?aqu sukk yg Haebaraginya,,hoho.
    Next part ditunggu.

  3. Kagum banget sama yumi bisa setegar itu.idih,jjong sulit amat deh ngelupain sekyung padahal yumi setia banget sama jjong,,apakah kah sesulit itu jjong?.oh ya thor sama kayak komen eunri eon di atas author gak ngasih tanda pemisah diantara flashback sama waktu sekarang jadi bikin org bingung n huruf kapital nya diperhatikan lagi. ..menurut aq feel nya dapat banget,, next..

  4. Ah.. Nyesek bgt jadi yumi..
    Mudah2an yumi bisa bertahan dan jjong bsa mlupakan sekyung..
    Next ditunggu ya..
    Oya, chingu author ‘heebaragi’ ya? Aku suka karyamu yg itu, chingu..

  5. Third.-.
    Whaaa~ Great FF Unnie, Keep Writing for Next Chap ya!!
    Cuma agak bingun unn, kalo udah selesai tulis
    FLASHBACK END atau tanda lain biar aku gak bingung ya eonn!
    Thanks^^

  6. Ini nyesekin bangettt
    Jongg kenapa kamu ga inget щ(ºДºщ)
    2 tahun dan bener bener gainget apa apa
    Sabar sabar pasti nanti jong jadi lupa sama sekyung pasti!!!
    Lanjutt

  7. menurut ku ff ini gak buat aku bingung walaupun ada flashback nya..semua dengan lancar aku pahamin..
    cukup nyesek baca nya karena kasiaaann bngeeet ama yumi nya 😦

    ok!i’m so curious…wait a the next part !!!

  8. For most recent information you have to pay a quick visit
    the web and on web I found this website as a most excellent site for most
    recent updates.

  9. Kasian Yumi nya 😥 *ikutanangis . Oh ya sdkt masukan aja nih thor , author gak ngasih pemisah antara yg flashback sma masa skrg jd sempet ngebingungin hehe tapi aku suka cerita nya kok . Di tunggu ya next chapternya^^

  10. baru bisa bc skrg T.T

    Sikap dinginya berlahan luluh… PERlahan.. bukan BER…

    tulisannya rapi loh n.n
    cuma utk kata depan.. yg menyatakan tempat.. dipisah ya..
    ke sebuah
    di sini
    di bagian
    di samping
    ke arah
    di tepi
    ke dalam

    berlalulalang »» berlalu lalang

    “Annyeong” Sapa appa — pke ‘annyeong haseyo’ biar trlht sopan.. klo annyeong aj.. itu banmal.. n agk g sopan.

    Aku kembali menitihkan air mataku. »» menitikkan

    klo nyebut negara ato nama kota.. diawali huruf kapital ya.. Jepang. Korea.
    trus nyebut Tuhan.. juga huruf kapital.

    eh thor.. nyesek bgt T______T
    huaaaa yumiiiiii
    tabahlah…
    lanjut thor

  11. Ceritanya bagus dan menarik aku suka . Tapi ada beberapa typo tuh 😀
    Err well saat aku baca ada beberapa kata yang harusnya di awali dengan huruf p tapi di tulis dengan huruf b , kaya perlahan jadi berlahan 😀
    Di perbaiki ya author typonya :D.
    Fanfic ini keren , apalagi ini mengangkat marriage life yang angst-angst gitu aku suka akakakka 😀
    Oh iya satu lagi , Sekyung tiga bulan lebih muda dari jonghyun jadi Sekyung bukan noonanya Jonghyun 😀
    Hwaitting! Next part sangat di tunggu 🙂

  12. Miris sangat… Yummi berjuanglah pasti kelak kau akan mendapatkan hati Jongie… Hwaiting!!! Jangan patah semangat mungkin Jongie kehilangan memori tentang dirimu karena hampir semua memori digunakan untuk mengingat dirimu saja Yummi…

    Aku suka ide ceritanya, sad feelingnya terasa sangat dari awal baca ni ff…

    Kalo gag salah nemu 2 typo. ‘sekili’ =sekali (?)… trus ‘kemar’= kekamar(?).. Mian kalo salah.. hehe…

    Ditunggu lanjutannya… HWAITING!!!

  13. Ahh author udah bikin aku yang galau jadi tambah galau#curcol
    tapi FFnya bagus kok thor, feelnya dapet gitu 😀
    Keep writing ya,,

  14. Min Ah…kurasa kau terlalu banyak nnton sinetron#dicincang
    yg dblg mybabyLiOnew tuh bener..hehee…teliti amat ._.v
    gak gatot koq thor..keren malah..kasian bgt sm yumi..T^T..apalagi pas dy denger si jjong ngigo ttg sekyung..miris bgt 😦
    aq tgu next part.a ^^

  15. Aigo thor, ini baru part 1 tp dah bikin aku nyesek…
    Tp keren kok, ga gatot…
    Lanjut ya thor !

  16. pas tadi liat part 4nya, dan ngeliat main castnya bang dino udah gitu angst… aku langsung meluncur nyari part 1 nya.

    HUWAAAAAAH SEDIH BANGET !!! ngenes, kebayang banget nyeseknya Yumi ToT

    pas awal dijodohin lucu bgt, awalnya jjong dipuji-puji, ujungnya —> Walau ku akui
    ia tak begitu tinggi.
    WAKAKAK LOL

    masib ada beberapa tapi thor. Over all aku suka. Cuma setuju sama komen2 diatas, agak agak bingung pas flashback. Sebaiknya diberi tanda 🙂

    tunggu komenku di part selanjutnya ya :3

  17. ahhhhhhh….kasian sekali yumi dilupakan sama jjong…mana ortu nya udah g ada lagi….hmmmm…kenapa cm yumi ya dilupakan????padahal sebulan sebelum kecelakaan mereka udh lumayan baik…pengen baca yg jong pov ada g ya…daebak…lanjut baca ya

  18. aku baru nemu ni ff..
    keren, yumi hebat banget bisa tahan ma jjong oppa yg kayak gitu,
    lajut ke part selanjutnya….

  19. Nyesekkk nyesekk banget baca ff yg ini </3
    Jjong nya kan skrg lgi kena amnesia tu nah nnti pas dia inget lagi_-_ si yuminya pasti dicuekin lagi kan
    Untung si yuminya tegar .-. Aku sih ngarepinnya biar nnti si yumi nya ada yg deketin terus si jjongnya cemburu(?) Masak ia ? Wkwk xD

  20. kyaaaaaaa!
    ffnya bagus,daebak! 😀
    aku suka kata2nya,alur ceritanya juga menarik xD
    bayangin ekspresinya jonghyun yg garang..lucuuu :p
    bikin penasaran sama ff selanjutnya,
    mian azmi-ah *?* aku baru nemu ff ini,
    -bow-

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s