Inter Sexual – Part 1

Disclaimer  : We don’t own the character, they are belong to themselves.

Genre  : Teen Romance/Hurt/Comfort

Warning  : Gender bender, OOC, OC, elseword, typo dan misstypo, authorfic ^^.

Rated  : T

.

.

Aiesu © Chiyo Rokuhana

.

.

sHyning soHee collab with Eun bling-bling and Lynda

proudly present

I.S [Inter Sexual]

Lee Taemin (as boy), Lee Taehee (as girl), Choi Minho, and Lee Jieun (IU)

.

.

 

Bagian Kesatu

 Different than Usual.

Setiap aku bertanya pada eommaku.

“Kenapa tubuhku begitu aneh?”

Ia selalu diam.

Dan hanya tersenyum kearahku.

Aku sangat yakin dalam senyuman itu—

terselip rasa kesedihan.

“Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak.”

***

“Taehee!”

Pemuda dengan perawakan jangkung berlari menghampiri sosok gadis yang dipanggilnya barusan. Lee Taehee menoleh kearah suara baritone yang tengah meneriaki namanya tadi.

“Minho. Ada apa?” Sembur Taehee begitu iris smoky black-nya menangkap sosok si pemanggil.

Choi Minho mengatur nafasnya dan dengan serampangan tangan besarnya merogoh kantung celana seragam coklat tua yang dikenakannnya. Sebuah kertas berwarna pink acak-acakan mendarat dengan sukses ke tangan lawan bicaranya, menimbulkan kerutan di dahi sang gadis.

“Apa ini?” Tanya Taehee

“Itu,” jeda sebentar, dengan nada yang terkesan malu-malu Choi Minho melanjutkan. “Tiket bioskop, Mission Impossible;Ghost Protocol. Kalau berminat, minggu depan kutunggu di depan sekolah. Annyoeng.”

Tak kuat menahan semburat merah yang terus menjalar di wajah tampannya, Minho ambil langkah seribu begitu ia menyelesaikan perkataannya.

“O-oi! Tunggu!” Taehee berteriak kencang, mencegah si jangkung melarikan diri. Tapi sayang, suaranya yang agak cempreng tak digubris oleh Minho. Sosok Choi Minho kini hilang di perempatan koridor.

“Bahkan aku belum sempat mengatakan iya.” Lirihnya.

Taehee memandangi tiket pemberian Minho dengan senyum sumringah. Sedetik kemudian senyuman itu pudar dari wajah cantiknya.

Aku tidak bisa.

Ia merobek tiket itu menjadi dua bagian dan membuangnya.

Mian, Minho…

***

Dia tidak tahu apa-apa tentang takdir Tuhan. Ketika dilahirkan tanpa mengenal sosok sang ayah, namun ia bersyukur memiliki seorang ibu yang selalu menyayanginya. Tapi ketika ia mulai menyukai keberadaannya, perlahan suatu kejanggalan aneh merasuk pikirannya, membuatnya harus merekontruksi ulang tentang pemikiran normalnya ’tubuhnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tubuhnya berkembang begitu aneh. Ia begitu berbeda dengan kebanyakan orang lain.

Well—hidup di zaman modern dan tidak mempunyai siapa-siapa, jangan pikir kalau Taehee akan tinggal dengan Paman dan Bibi yang jahat dilengkapi sepupu menyebalkan yang setiap saat akan mengerjaimu dengan tipuan dan candaan yang jauh dari kata normal ataupun kehidupan seperti opera-opera sabun murahan. Untuk seseorang yang memiliki apartemen sederhana yang jauh dari kata kumuh, ia dikategorikan cukup beruntung bisa tinggal dengan nyaman disana.

CEKLEK…

BLAM…

“Hari ini aku akan masak apa ya?” Ia seolah-olah bertanya pada dirinya sendiri. “Err- sepertinya makanan tadi pagi masih bisa dimakan.” Jawabnya.

Taehee melangkahkan kaki-kaki jenjangnya ke arah dapur, matanya terlihat tak fokus. Gadis ini masih memikirkan perihal ajakan kencan tersirat Minho dan bagaimana tiket pemberian pemuda itu harus berakhir di tong sampah sekolah. Choi Minho orang yang baik -setidaknya menurut Taehee-, saat semua teman-teman menjauhinya karena ia dianggap terlalu sempurna oleh mereka, Choi Minho dengan sigap berada di barisan terdepan untuk menghiburnya walau bukan dengan kata-kata berlafal romansa ‘Mereka belum tahu saja.

Ia meringis mengingat bagaimana keadaannya sendiri. Sempurna? Sempurna apanya? Hanya Minho pemuda yang begitu berbeda. Tidak seperti kebanyakan anak lelaki yang mengajaknya kencan dengan bumbu intimidasi dan paksaan di sana-sini, walaupun ia sendiri bersikukuh tak mau. Dan selalu saja Minho menolongnya. Ia begitu baik.

Tapi aku tidak bisa dengan keadaan seperti ini.

Akibatnya, Taehee hanya memikirkan Choi Minho sampai menjelang malam, terlelap dengan si pemuda sebagai bagian dari mimpi abstraksinya. Nampaknya virus merah jambu dari si jangkung Choi Minho telah mencemari otaknya.

***

Sejak lahir gadis itu sudah tumbuh menjadi seorang perempuan. Kenyataannya—tubuhnya sudah berbeda semenjak ia dilahirkan. Terjebak antara paradigma ia seorang perempuan atau seorang laki-laki.

Hingga dihari itu…

Ia mengetahui segalanya…

Tentang segala keanehan tubuhnya…

[Lee Taehee POV]

[Middle School]

“Nah, anak laki-laki dimohon untuk keluar sebentar. Anak perempuan tetap berada disini.”

“Ah!! Seongsangnim bikin repot saja.”

Ne!!”

“Sudah sana kalian pergi.”

SRAAK..

BLAM…

Murid-murid lelaki menggeser pintu depan kelas dengan kasar. Murid perempuan hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan teman-teman kaum adam mereka.

“Anak-anak, saya akan menjelaskan tentang periode pertama kalian mendapat menstruasi. Nah! Di depan adalah gambar alat reproduksi. Kalian akan mengetahui periode pertama siklus ketika darah keluar pada titik ini, bla… bla…”

Semua teman-temanku menyimak penjelasan Seongsangnim dengan baik. Nampaknya mereka begitu menyenangi pelajaran ini. Namun aku… aku… hanya menunduk. Jadi, ternyata tubuhku ini aneh. Aku harus berpura-pura. Agar semua orang tidak mengetahuinya.

Bahkan aku belum pernah mendapat apa yang dijelaskan oleh Seongsangnim. Lebih buruknya, suaraku menjadi lebih rendah, bulu-bulu tumbuh dikakiku, dan dadaku tak tumbuh seperti kebanyakan perempuan.

Ketika melihat semua teman yeojaku yang sering diajak kencan. Aku iri. Aku juga ingin dicintai. Tapi hal itu tidak akan mungkin. Kenapa? Aku bukan seorang laki-laki bahkan juga bukan seorang perempuan. Kenapa tubuhku tidak bisa seperti yang lainnya?

[High School, Grade X]

Eomma!”

Ibuku menganggukan kepalanya kala aku memanggilnya. Bau harum masakan menguar diruangan kala itu.

Ne? Ada apa Taehee?” Ia tetap memunggungiku, masih sibuk memotong-motong beberapa sayuran.

EOMMA!” Teriakku. Akhirnya ia berbalik, iris mata obsidian itu memperhatikanku dengan tatapan khawatir. Ya—tentu saja khawatir. Melihat anaknya sendiri tiba-tiba mengeluarkan air mata.

“Ada apa?” Ia meletakkan pisau diatas meja dan segera mencuci tangannya. Sebelumnya ia mengelap tangannya. Tangannya yang masih halus itu, membelai pipiku dengan lembut. Dengan cekatan ia menghapus air mataku.

“Kau bisa jelaskan tentang hal ini?” Keningnya mengerut bingung, melihat sebuah kertas HVS yang berada ditanganku. Langsung saja ia mengambil kertas yang kupegangi. Dapat kulihat iris mata obsidian sekelam malamnya menyusuri tiap bait kata-kata dengan ekspresi wajah yang tak bisa kubaca.

“Apa benar.” Aku menunduk mencoba menahan air mata yang ingin meringsek keluar dari pelupuk mataku. “Apa benar yang dikatakan semua dalam kertas itu?” Aku mencoba tenang, melanjutkan kata-kataku yang tertahan. Sedangkan ia hanya menatapku dengan wajah yang hampir menangis.

“APA BENAR?” Kali ini aku berteriak. Air mata yang sudah kutahan akhirnya keluar juga. “Apa benar aku…tubuhku yang aneh ini dinamakan Inter Sexual?”

Sekali lagi ia hanya diam. Tapi kali ini air mata membanjiri pipi putihnya. Kupegangi pundaknya, iris kelam kami sama-sama bersibok. “Kenapa kau tak pernah memberitahuku? Aku hampir gila, sampai-sampai rasanya ingin bunuh diri saja.”

“Aku tak punya pilihan lain. Maaf  menyembunyikan hal ini darimu, hiks” Tangan putihnya membekap wajahnya yang kini dipenuhi air mata. “Dokter menyuruhku untuk membesarkanmu sebagai perempuan. Aku tak punya pilihan lain. Hanya ini satu-satunya cara, yaitu menyembunyikan semua fakta ini darimu.” Ia mengatakannya dengan sesegukan.

“Tapi kenapa?” Tanganku masih setia memegang pundaknya yang bergetar karena ia menangis. “Eomma selalu saja menyembunyikan apapun dariku. Seperti hubunganmu dengan Appa yang telah lama berakhir.”

“SUDAH CUKUP!!” Tangannya berpindah menutup telinganya berusaha tidak mendengarkan apa yang kubicarakan. “Kau…terlalu muda untuk mengetahuinya. Kau terlalu muda untuk menanggung beban Eommamu ini!!”

Aku melepas pegangan dari pundaknya dan berbalik memutar menuju jendela disudut dapur. “Itu, pasti karena aku ‘kan? Aku memang membawa kesialan untukmu. Lebih baik aku tidak usah lahir saja.”

Tiba-tiba saja sebuah kehangatan kurasakan dibelakang punggungku. Ia memelukku.

“Kenapa? Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri? Kau tidak salah, Appamu meninggalkan Eomma hanya karena dia tidak cocok lagi denganku.”

Tanpa diduga air mata itu mengalir lagi, bukan kemauanku.

“Berjanjilah, apapun yang terjadi. Kau harus hidup, hidup demi Eommamu ini. Cintailah dirimu sendiri. Apapun yang akan menghancurkan hidupmu, kau akan selalu berjuang untuk hidupmu.” Ia berhenti sebentar. “Mian, karena telah melahirkanmu dalam keadaan seperti ini.”

Aku berbalik dan melepaskan pelukannya dengan lembut. Kupeluk tubuh kecilnya yang sudah membesarkanku selama ini. Ia balas memelukku. “Aku akan mengingat janji itu, Eomma. Selalu…” Bisikku dengan lembut.

Ya selalu.

Dan itu merupakan kata-kata terakhirnya.

Hingga esoknya, ada sebuah berita yang membuatku shock. Ia telah meninggalkanku, untuk selama-lamanya.

Benar bukan? Aku ditakdirkan hanya untuk menyengsarakan orang-orang yang berada didekatku. Realita ini membuatku merasa putus asa. Kenapa selalu seperti ini?

Aku sendirian. Aku tak punya apa-apa, selain diriku. Yang membuatku kuat, tidak akan menangis, dan tidak akan membuang hidupku, hanya janji itu. Hingga akhirnya janji itu merupakan sebuah harta yang paling berharga untukku selamanya.

Ya selamanya…

 “Semoga kau tenang berada disurga, Eomma.”

***

I.S atau Inter Sexual orang-orang yang terlahir dengan gender yang membingungkan. Laki-laki dan perempuan. Ini bukan cerita bersettingkan fantasy seperti dibeberapa film-film. I.S… umumnya, mereka tidak dapat bereproduksi. Karena mereka berbeda, mereka cenderung bersosialisasi dengan mencampur adukkan kedalam dua gender. Berpura-pura sebagai laki-laki atau sebagai perempuan.

Itulah...

Keadaan yang sebenarnya…

Ku tatap wajahku dicermin, merapikan beberapa helai rambut yang menghalangi pandanganku.

“Hey, kau sudah datang?” Tanya seseorang disampingku, ia membuka lokernya dan mengambil sesuatu dari sana.

“Hn.” Jawabku tanpa menoleh. Bukan bermaksud tidak sopan karena tidak memandang lawan bicara. Hanya saja dia terlalu banyak bicara dan jika kuladeni akan memakan waktu banyak.

BLAM!

Ia menutup pintu loker. Menyandarkan tubuhnya dan menatapku intens.

Wae?” Tanyaku begitu menyadari tatapannya yang menusuk.

Ya! Lihat dirimu baik-baik! Kau itu cantik dan pintar. Tidak seharusnya kau bekerja ditempat kotor seperti ini.”

Aku memutar bola mataku. “Ucapanmu kuno. Aku bosan mendengarnya.” Sahutku kemudian melengos pergi, meninggalkannya yang berdecak lidah melihat tanggapanku.

Yah, dia memang benar. Untuk apa aku bekerja ditempat kotor seperti ini. Club malam, tempat dimana kau membuang uangmu hanya untuk alkohol dan yeoja. Tempat berkumpulnya orang-orang sakit jiwa yang haus akan nafsu. Tempat dimana attitude, norma dan agama dibuang jauh-jauh. Dan yah, tempat yang mencukupi kehidupanku beberapa tahun ini.

Dari semua pekerjaan yang kulakukan hanya di tempat inilah aku dapat mencukupi semua kebutuhanku. Tunggu dulu! Jangan kau pikir aku menjual tubuhku disini. Jika kau berpikir seperti itu maka kau salah BESAR bung! Aku disini hanya berperan sebagai waiters tidak lebih!

Bekerja disini bukan hanya gajinya saja yang lumayan besar tetapi tips-tips dari pelangganlah yang membuatku lebih memilih pekerjaan ini dibanding yang lain. Yah, walau kuakui resiko yang kuhadapi lebih besar. Apalagi jika harus bertemu dengan pelanggan hidung belang. Ugh. Ingin rasanya aku mematahkan hidung mereka. Tapi well kau tahu slogan ‘pelanggan adalah raja bukan?’

Glek!

Kupersiapkan mentalku, entah apa lagi yang akan terjadi malam ini. Aku hanya berharap tidak akan ada hal buruk yang menimpaku malam ini, yah semoga.

“Taehee kau sudah datang? Antarkan minuman ini ke meja sembilan!” Ucap salah seorang pegawai yang cukup kukenal. Seorang yeoja cantik bernama Han Jinmi. Ia sama sepertiku, bekerja ditempat kotor ini untuk membiayai kehidupannya. Bedanya ia adalah seorang mahasiswi hukum semester 3. Aku terkadang heran, kenapa seorang mahasiswi hukum sepertinya rela bekerja ditempat ini.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” Tanyanya heran, alisnya saling bertautan.

Ani!” Ucapku menggeleng kemudian mengambil nampan berisi lima botol soju dan beberapa gelas yang serta menemaninya.

Dentuman alunan musik menggiring langkahku hingga menemukan meja dengan tag name bernomor sembilan. Tanganku dengan cekatan meletakkan lima botol soju dan beberapa gelas tersebut ke atas meja.

“Lepaskan!” Pekik seorang yeoja. Mataku melirik kearahnya. Kulihat yeoja dengan seragam lengkap sekolahnya duduk bersama seorang namja tua bertubuh besar yang memaksa menciumi lehernya.

Aku menggelengkan pelan kepalaku, mencoba mengacuhkan pemandangan disampingku.

‘Bukan urusanmu Taehee!

“Silahkan di nikmati.” Ucapku seraya membungkuk, walau aku tahu hal itu tidak akan didengar dan digubris oleh mereka. Well itu harus kulakukan.

Kakiku beranjak meninggalkan meja itu.

“Lepaskan aku Pak tua!” Pekikan si yeoja menembus indra pendengaranku.

Kepalaku kembali menggeleng. Enggan berurusan dengan orang itu dan membuat masalah. Walau sebenarnya aku sangat ingin mematahkan tangan si namja tua brengsek.

PLAK

“Kau sudah kubayar! Jadi diam! Dan turuti perintahku!” Si namja tua berteriak, kontan membuat kakiku berhenti.

Oke, cukup. Ini sudah keterlaluan.

Kakiku memutar dan kembali menghampiri meja tersebut.

BUGH

Satu pukulan keras berhasil menghantam hidung bangirnya.

YA! APA YANG KAU LAKUKAN HUH?” Teriaknya geram.

“Cih! Kau bertanya padaku Pak tua? Seharusnya pertanyaan itu kau tanyakan pada DIRIMU SENDIRI!”

BUGH

Kembali pukulan kerasku mendarat di pipinya dan berhasil membuatnya terjungkal. Langkahku menghampirinya, menarik kerah bajunya hingga tubuhnya sedikit terangkat.

“Dengarkan aku baik.baik! Jika kau berani menganggu yeoja lemah lagi. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu!  Cih!”

BUGH

Satu pukulan lagi untuk memuaskan hasratku.

“Apa yang kau lakukan?” Seseorang menarik lenganku hingga membuatku berdiri dan menghadapnya.

Mati kau Lee Taehee! Lihat apa akibatnya jika kau bertindak sok pahlawan.

Kau. Dipecat!” Ucapnya geram seraya mendorong tubuhku.

Great! Kau kehilangan pekerjaan sekarang.

Aku memandang sekitarku, sudah banyak orang berkemurun. Apa yang mereka lihat? Pertunjukan seorang waiters yang menghajar pelanggannya dan dipecat?

Hey! Dimana yeoja itu? Haha great! Bahkan tak ada ucapan terima kasih atas aksiku barusan.

 

-To Be Continued-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

66 thoughts on “Inter Sexual – Part 1”

  1. Kasian banget kalo kaya gitu punya 2 gender… Pasti hidup taehee rumit dan oenuh dengan beban (?) trs dia salama ini hidup sebagai cewe y… Trs minho suka sama taehee tp dia takut bikin minho kecewa makanya dia ga mau nerima minho… Ihhh seru ihhh (?)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s