Lucky – Part 5A

Lucky Part 5A

Title                 : Lucky

Author             : Hwang Sungmi

Genre              : Romance, Friendship, Life

Length             : 5 of 5

Rating             : General, PG-13

Main Casts      : Choi Minho (SHINee), Choi Siwon (Super Junior), Hwang Sungmi (OC’s)

Support Casts  : Kim Kibum (SHINee), Hwang Chansung (2PM), Hwang Rarin (OC’s), Kang Hyojoon (OC’s).

The story belongs to me and all of the casts belong to God  Happy reading \( ^0^)/

 

Sungmi menggerakkan tangan dan kakinya ke segala arah. Bermaksud untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku. Sinar matahari pagi menelusup masuk dari tirai jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Sungmi menguap lebar lalu beranjak dari kasurnya ke kamar mandi.

“Tumben sekali oppa belum membangunkanku.” gumam Sungmi.

Setelah selesai menyikat gigi, Sungmi berjalan ke arah dapur sambil mengelap mukanya yang basah dengan handuk putih miliknya. Ia mengambil segelas air putih dan meneguknya langsung.

Sungmi melihat ke sekitar dapur. Tidak ada roti dengan selai coklat favoritnya. Tidak ada nasi goreng buatan Eomma-nya yang lezat. Roti bakar juga tidak ada.

Yang ada di meja makan hanya tas kerja Appa-nya, design-design baju milik Eomma-nya dan sebuah laptop hitam dengan simbol apel yang sudah tidak utuh lagi milik Chansung. Pagi yang sepi.

Sungmi meletakkan mug-nya yang hanya tersisa setengahnya lagi dan bersandar di konter dapur. Gadis itu memandang sekelilingnya sekali lagi.

Kemana semua orang?, pikir Sungmi.

Sungmi akhirnya memutuskan untuk berdiam diri saja di kamar. Hari ini Sungmi tidak akan pergi sekolah. Karena hanya akan ada pengumuman pemenang lomba tahunan dan lagipula daftar hadir pun sudah tidak dihitung lagi. Sungmi sudah tahu siapa saja yang memenangkan berbagai perlombaan itu. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali mengucapkan selamat pada Jieun, sahabatnya yang memenangkan lomba renang, tapi Sungmi tidak mau bertemu dengan dua namja yang sedang dibencinya sekarang.

Ya, pergi sekolah sama saja dengan membuka kembali ingatannya tentang kejadian kemarin. Sungmi berusaha mati-matian untuk melupakan kejadian itu. Setelah menangis semalaman, ia berniat tidak akan menangis lagi untuk mereka. Jadi, buat apa ke sekolah?

Ketika akan berbalik, Sungmi menemukan notes kecil yang ditempel dengan magnet di kulkas. Ada dua. Yang satu dari Eomma-nya dan satu lagi dari Chansung. Sungmi mengambil notes-notes itu dan membaca notes dari Eomma-nya lebih dulu.

“Sungmi sayang, Eomma dan Appa harus pergi ke Mokpo. Sepupumu, Rarin, terkena demam parah. Dan Tiffany mendapat tugas ke luar kota. Jadi tidak ada yang menjaga Rarin. Eomma akan pulang besok malam. Hati-hati di rumah ya, sayang.”

Sungmi mendesah pelan dan beralih membaca notes dari oppa tersayangnya.

“Morning, nae dongsaeng! Maaf tadi malam oppa lupa memberitahumu kalau oppa ada acara hiking. Oppa tidak tega membangunkanmu tadi pagi. Oppa akan sampai di rumah sebelum jam 10 malam, oke? Don’t missed me! Hati-hati di rumah dan jangan lupa kunci pintunya ya.”

Sungmi berdecak kesal dan melempar notes-notes itu ke atas meja makan. Sungmi tidak suka sendirian di rumah. Karena pikirannya pasti tertuju pada satu orang.

Minho.

“Babo! Kenapa aku malah memikirkan namja itu sih?!” Sungmi menggerutu sendiri. Ia memukul kepalanya berulang kali.

Sedetik kemudian, Sungmi menjentikkan jarinya. Seolah dia telah mendapat ilham untuk menciptakan sebuah roket yang akan terbang ke Mars.

“Ah, kenapa tidak kusuruh saja Hyojoon kesini?” gumam Sungmi.

Sungmi lalu berlari menuju ruang tengah dan langsung menyambar telfon yang tersimpan diatas meja kaca kecil disamping sofa. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa dan mulai memencet nomor telfon Hyojoon yang sudah dihafalnya di luar kepala.

Tapi, baru saja Sungmi hendak menekan tombol hijau, ia teringat sesuatu.

“Hyojoon kan sedang pergi berlibur ke China. Ah, kenapa aku bisa pikun gini, sih?” Sungmi menggerutu—lagi—pada dirinya sendiri.

Sungmi meletakkan telfonnya kembali di tempatnya semula dan menyenderkan kepalanya di sofa. Tangannya bergerak memijit bagian pelipisnya yang terasa sedikit pening. Matanya juga masih terasa perih. Efek dari menangis semalaman.

Sungmi mengambil salah satu bantal sofa dan memeluknya erat. Dan beberapa menit kemudian, ia sudah kembali terlelap dalam dunia mimpinya yang indah.

*****

“Kau benar, Sungmi tidak mencintaiku. Aku salah. Mianhae..” ucap namja dengan pakaian seragam dengan motif kotak biru tua khas Seoul International High School.

Sementara namja yang duduk didepannya hanya tersenyum setengah sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di luar cafè itu. “Hyung seharusnya minta maaf pada Sungmi. Bukan padaku.”

“Tapi aku juga harus minta maaf padamu, Minho-ssi. Karena ulahku, kau jadi memar begitu.” Siwon menunjuk pipi kanan Minho yang lebam.

Minho mengusap pipinya. “Gwaenchana, hyung. Tak apa.”

Siwon menghisap pelan coffee lattè-nya. “Oh ya, apa kau melihat Sungmi tadi? Aku tidak melihat batang hidungnya sekalipun hari ini.”

“Sungmi tidak akan datang, hyung. Tampaknya dia terlalu marah padaku.”

“Hei, ada apa dengan raut wajahmu itu? Kau terlihat putus asa.” Siwon melipat kedua tangannya diatas meja.

Minho mengalihkan pandangannya dari arah jalanan diluar sana ke arah Siwon. “Aku tidak tau, hyung. Aku tidak tau harus bagaimana lagi supaya Sungmi mau memaafkanku.”

“Kau sudah mencoba menghubunginya?”

“Ya, aku menyusulnya tadi malam kerumahnya. Tapi, eomma-nya bilang kalau Sungmi sudah tidur. Padahal jelas-jelas aku melihat bayangannya dari jendela kamarku. Lalu aku mencoba menelfonnya. Jangankan diangkat, membalas pesanku saja tidak.” ucap Minho sambil menghela nafas berat.

Siwon tampak berfikir. “Mungkin Sungmi butuh waktu sendiri. Biarkan dia tenang dulu. Cobalah untuk tidak panik, Minho-ssi.”

Minho menatap kepulan asap dari mochacinno didepannya. Jarinya menyusuri pinggiran cangkir bermotif bunga itu. “Sungmi tidak pernah marah sampai seharian, hyung. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa. I can’t stay away from her, hyung..”

“Kau tau apa yang ada di pikiranku?”

Minho menggeleng. Siwon berdeham sebelum melanjutkan perkataannya barusan, “Aku rasa Sungmi mencintaimu.”

Minho mendengus. “Cinta sebagai seorang sahabat, mungkin iya.”

“Tidak, bukan itu yang kumaksud. Aku yakin Sungmi mencintaimu. Bukan sebagai seorang sahabat atau adik pada kakaknya, tapi selayaknya namja dan yeoja. Kau mengerti?”

“Tapi bagaimana bisa kau berpikir seperti itu hyung? Tidak ada yang membuktikan kalau—“

“Dengarkan aku, kenapa yang Sungmi cari selalu kau? Kenapa Sungmi menangis ketika kucium sementara denganmu tidak? Kenapa Sungmi selalu tertawa ceria ketika bersamamu?”

Minho terdiam. Otaknya masih berusaha mencerna kata-kata Siwon. Memorinya mulai memutar semua kenangan Minho bersama Sungmi. Sejak mereka kecil sampai ciuman manis yang diberikan Minho pada Sungmi dua hari lalu.

“Aku.. Aku tidak mengerti, hyung.”

Siwon tersenyum. Kali ini senyum tulus, bukan senyum meremehkan seperti dulu. “Itu karena Sungmi juga mencintaimu. Trust me.”

“Hanya karena itu dan hyung menyimpulkan kalau Sungmi mencintaiku?”

“Kau tidak tau apa yang orang lain lihat, Minho-ssi. Bahkan anak kecil yang sedang bermain lompat tali pun bisa melihat kedekatan kalian.”

Minho terdiam lagi. Kali ini hati dan pikirannya tidak bisa diajak kompromi. Di satu sisi, hatinya ingin sekali menyetujui dugaan Siwon. Tapi, di sisi lain, otaknya memikirkan beragam alasan kenapa Siwon mengatakan hal seperti itu.

Siwon bisa membaca raut bingung di wajah Minho. Ia tampak berfikir. Dan sedetik kemudian senyum malaikat terlukis diwajahnya.

“Kau mau bukti?”

Minho hanya menatap Siwon dengan tatapan berharap. Seolah ide Siwon dapat menentukan hidup dan matinya.

“Bagaimana kalau…”

*****

Sekolah tidak begitu ramai hari ini. Banyak anak yang memutuskan untuk tidak sekolah. Yang berada di sekolah sekarang kebanyakan adalah anak-anak yang memiliki masalah dengan nilainya atau masih mempunyai pelajaran yang belum tuntas.

Key berjalan di sepanjang koridor sekolah sambil sesekali melongokkan kepalanya ke dalam ruangan yang ia lewati. Berharap kalau tiba-tiba ia bisa menemukan Sungmi dihadapannya sekarang. Key adalah teman sekelas Sungmi. Dan Sungmi-lah yang biasanya selalu mengajari Key rumus-rumus fisika yang membuat kepalanya ngebul. Karena itulah Key rela mencari Sungmi ke seluruh penjuru sekolah hanya untuk mengerjakan tugas fisika miliknya.

“Sungmi mana sih? Telfonnya masih tidak diangkat.” gumam Key pada dirinya sendiri. Tangannya mengetikkan pesan untuk Sungmi dan tak lama kemudian ada tanda ‘delivered’ terpampang di ponsel Key.

Ketika sedang asyik berjalan sambil melihat kesana kemari, Key merasa ada seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Sontak Key menoleh dan tersenyum lega begitu melihat sosok yang menepuknya barusan.

“Ah, Siwon hyung? Annyeong. Kenapa hyung lari-lari begitu? Dikejar Pak Satpam ya hyung?” tanya Key setengah bercanda.

Siwon mencoba mengatur nafasnya. Wajahnya terlihat panik. “Annyeong. Apa kau lihat Sungmi?”

Key menggeleng. “Aku juga sedang mencarinya, hyung. Memangnya ada apa sih sampai hyung mencari Sungmi seperti sedang mencari buronan saja.”

“Aku harus bertemu dengannya, Key. Sekarang. Ini penting.” ucap Siwon dengan penekanan nada yang terlalu berlebihan.

“Nan mollaseo, hyung. Tadi sudah aku telfon tapi Sungmi tidak mengangkatnya juga. Ada yang perlu aku sampaikan pada Sungmi, hyung?”

Siwon diam sejenak. Tak lama kemudian dia mengangguk.

*****

Sungmi terpaksa membuka kedua matanya yang masih terasa berat ketika ponsel miliknya terus berdering. Lagu Please Don’t Go-nya 2NE1 membangunkan Sungmi dari mimpinya. Ia mengucek matanya dan mengubah posisinya menjadi duduk di sofa.

Sungmi meraba pinggiran meja bundar didepannya dan meraih ponselnya dengan mata setengah terpejam. Tanpa melihat siapa yang menelfonnya, Sungmi langsung menekan tombol answer.

“Yeoboseyo?”

“Sungmi-ah! Untunglah akhirnya kau mengangkat telfonku juga. Kemana saja kau?!”

Sungmi menjauhkan ponselnya dari telinga sebelum suara bawel di seberang sana merusak pendengarannya. Setelah penelfon itu tenang, baru Sungmi mendekatkan kembali ponselnya. “Ya, mianhae, Key. Aku ketiduran. Ada apa? Tumben sekali kau menelfonku.”

“Ada kabar buruk, Sungmi-ah..”

“Kabar buruk? Kartu ATM milikmu sudah over-limit? Atau kacamata gayamu diambil Taeminnie? Atau—“

“Minho kecelakaan dan sekarang kritis, Sungmi-ah..”

Perkataan Key barusan membuat Sungmi diam. Setetes air bening jatuh dari matanya. Lalu disusul dengan butiran-butiran lainnya. Sungmi mendadak jadi bisu. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

“Sungmi-ah, are you still there?”

“K-Key.. Kau berbohong, kan? Ini tidak lucu, Key..” ucap Sungmi akhirnya.

“Aku serius. Sungmi-ah, sebaiknya kau segera ke rumah sakit. Sebelum terlambat atau kau akan menyesal..”

Sungmi memutuskan hubungan telfonnya dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku baju. Tanpa pikir panjang, ia menyambar mantel coklat panjang yang tersampir di sofa dan berlari ke luar rumah. Sungmi melihat ke jalan raya dan melambaikan tangannya pada taksi yang kebetulan lewat.

“Seoul Hospital, Ahjussi. Tolong cepat.” ucap Sungmi pada supir taksi yang ditumpanginya.

Si supir mengangguk dan taksi itu pun segera melaju menuju rumah sakit.

I’m losing my way again

I’m praying to the sky I want see you and hold you more

it cant be if it’s not you

I cant be without you

it’s okay if I’m hurt for a day and a year like this

it’s fine even if my heart’s hurt like this

yes, because I’m just in love with you

(Super Junior’s Yesung – It Has To Be You)

*****

Sungmi berjalan tergesa-gesa di sepanjang lorong rumah sakit yang bernuansa putih itu. Sungmi terus saja melihat ke kanan dan kiri, mencari nomor kamar yang tadi diberitahu Siwon. Beberapa menit yang lalu, Siwon menelfonnya dan mengatakan kalau berita buruk itu benar. Sepulang dari cafè tadi, Minho tertabrak mobil dan terpental sekitar 3 meter dari tempatnya semula.

Sungmi masih terus berjalan sambil menggenggam ponselnya kuat-kuat. Air mata sudah menggunung di kedua pelupuk matanya. Siap tumpah kapan saja. Dalam hatinya, masih ada setitik harapan kalau saja berita itu tidak benar. Ia ingin sekali melihat Minho ternyata baik-baik saja dan memeluknya seperti dulu.

Semua kenangan itu kembali terputar di pikiran Sungmi. Ketika ada petir besar, Minho pasti memeluk Sungmi dan menutup telinga Sungmi supaya tidak mendengar suaranya. Setiap Sungmi takut, Minho pasti selalu disisinya dan berkata, “Tenang saja, aku disini.”. Dulu, Minho juga yang selalu menemani Sungmi ke rumah sakit meskipun Sungmi sudah menolak ratusan kali. Ya, Minho-lah yang selalu membuat Sungmi merasa nyaman. Minho yang selalu ada untuknya saat Sungmi membutuhkan seseorang sebagai tempat bersandar.

Ya, sekarang Sungmi sadar. Ia tidak menyayangi Minho. Ia lebih dari sekedar menyayangi namja tampan itu. Ia mencintainya.

Langkah Sungmi melambat ketika dilihatnya Siwon sedang menenangkan seorang ahjumma yang berusia sekitar setengah abad. Sungmi kenal siapa yang dipeluk Siwon. Ahjumma itu adalah Eomma Minho. Tiba-tiba perasaan Sungmi menjadi tidak enak.

Sungmi menghampiri Siwon dan Eomma Minho. Ia menarik lengan kemeja Siwon hingga namja itu berbalik kearahnya.

“Oppa, mana Minho?” suara Sungmi sedikit bergetar.

Siwon menggeleng. Eomma Minho malah terisak semakin keras. Melihat reaksi Siwon, Sungmi segera membuka pintu kamar bernomor 302 itu. Didalamnya ada seorang uisa dan perawat. Perawat itu sedang melepas alat infus dan pendeteksi detak jantung. Sedangkan uisa yang memakai jas dokter itu menarik sebuah kain putih menutupi wajah seseorang yang sedang berbaring diatas ranjang rumah sakit.

Perawat dan uisa itu menoleh dan sedikit mengangguk kearah Sungmi sebelum keluar ruangan. Meninggalkan Sungmi dengan siapapun yang terbaring di ranjang itu.

Sungmi berjalan mendekati ranjang itu. Tangannya bergetar ketika membuka kain yang menutupi wajah orang itu. Sungmi diam. Air matanya mengalir deras ketika melihat siapa yang terbaring kaku diranjang. Tangannya menyusuri setiap lekuk wajah orang itu. Seolah meyakinkan dirinya sendiri kalau ini bukan mimpi. Tapi, semakin lama hal itu malah semakin membuatnya sakit. Ini nyata. Bukan mimpi.

“Minho-ya.. Ireona.. Palli.. Ireona..” ucap Sungmi di sela tangisnya. Tangannya mengguncang bahu Minho.

Sungmi terisak semakin keras. Ia tetap berusaha membangunkan Minho, walaupun memang sebenarnya Minho tidak akan mungkin bisa bangun lagi. Setetes air bening dari pipi Sungmi jatuh ke pipi Minho. Seolah namja itu juga ikut menangis.

“Jebal.. Ireona, Minho oppa.. See? Aku memanggilmu oppa. Sekarang ayo bangun..”

Tangan kanan Sungmi menutup mulutnya. Supaya isakannya tidak terdengar sampai keluar. Tapi percuma, Sungmi terisak keras. Sampai akhirnya ia jatuh berlutut disamping ranjang rumah sakit. Kedua tangan Sungmi masih bertumpu di atas ranjang. Mencoba menahan tubuh Sungmi agar tidak jatuh.

Kemudian yang terdengar dalam ruangan itu hanya detak jarum jam yang terus berputar dan isakan tangis Sungmi. Hening.

The sadness reflected in my tears told me

You can’t, you can’t, don’t leave like this

Please just one more time, one more time, hold me in your arms again

The next time I close my eyes to meet you

Hold me as I stay still in that spot

(SHINee – Please Don’t Go)

 

*****

To be continue..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Lucky – Part 5A”

  1. Arrgghhh.. Ini cuma boongan kan?? Cuma skenario biar sungmi mw maafin minho kan??
    Andweee.. Minho-ya.. Jebal kajimaa..#hiks
    Next.. Next..

  2. huaaaaaaaaaa
    itu beneran apa nggak????
    ommo itu boongan kan????
    jadi deg-degan sendiri saya..
    buruan dilanjut ya author yg baik,,penasaran banget ni..
    >,<

  3. Huaa,minho kok meninggal tpi kayak nya itu rencana mereka aja deh..tapi kumohon minho jangan meninggal..andwae,andwae#hiks..next,next..

  4. huaaaaaaa thorrrr minho .kenapa harus mati si thorrr .sedih banget sumpahhhh thorrrrrr .jangan mati thorrrr .aku sayang banget sama minho *ehhhh .part selanjutnya segera thor .*hiks..hiks*

  5. Omo,,
    minho oppa meninggal?
    Andwae..andwae.. #lebay 😦
    next partnya jangan lama-lama ya author 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s