At The End Part 3 [Not Cyber Love=Not LDR, Happy Ver.]

At The End 3.3
[Chronicles Not Cyber Love=Not LDR, Happy Ending]

Forbidden!!!

Ini agak banyak teks daripada percakapannya loh. Gapapa, kan? apalagi dibagian Athena POV. Ekekeke… soalnya menyuarakan isi hatinya sih. Disini, akan dikupas secara tajam (apa sih?!), semua yang terjadi di awal-awal. Kan, kalau kalian baca dengan teliti, di part 1 udah aku sembunyiin tuh banyak teka-teki. Iya, kan? Nah, disini deh jawabannya.

Sekali lagi aku mau mengingatkan urutan baca FF sequel bersequel (??) milikku ini ^^

Ikuti instruksi berikut ini:

1. Baca Cyber Love=LDR (Part 1 dan 2)
2. Lanjut ke By This Tears (Ini drabble)
3. Trus pindah haluan ke Ji I-summary “Not Cyber Love=Not LDR” (Disini ada ketentuan dengan cerita yang dibagi menjadi 2 ending [Sad and Happy ending]
4. Untuk baca Happy Ending, langsung aja baca Not Cyber Love=Not LDR [Happy Ending, Part 1 sampai 3] => NB Kalau mau baca Sad Ending bisa baca di (link sad ending) dilanjutkan ke The Letter.
5. Baru sampailah untuk baca Chronicles dari bagian ke-4, At The End (Akan dibagi menjadi beberapa part)

Dan maaf jika part ini terkesan buru-buru di beberapa bagian dan adegan (??), tapi semoga klimaks di akhir ceritanya tidak mengecewakan. ^_^

So, selamat membaca🙂

Author             : Ji I-el

Main Cast        : Lee Taemin, Athena Efrinne (it’s Taemints time), Lee Jinki ^^

Support Cast   : Lee Taesun (anggap aja kembarannya Taemin), Allichia Putri, Staff rumah sakit, Mrs. Lie, Mrs. Lee, Lee Minra, Kim Hana, Lee Jinki (maaf ya, abang Jinki dipindahkan jadi cameo soalnya disini emang Taemin dan Athena story line) ^^

Length             : Sequel

Genre              : Romance

Rating             : Teen

Summary         : “… I hope I still find a love for me in there, then I know right.” kataku sembari menuruti pintanya untuk meletakan tangan kananku di dadanya yang berdegup dengan frekuensi yang tidak dapat aku jelaskan.

***I-el

***Athena POV***

            Sambil menatap nanar kalung hadiah dari Taemin, aku berkata, “beautiful Kanagawa.” Aku mengulang pujian yang pernah Taemin ucapkan untuk daerah yang pernah ditinggali Taemin 5 tahun yang lalu. Kurasa memang benar, tempat ini benar-benar cantik.

Dihari aku pergi meninggalkan Korea, malamnya aku sempatkan menelepon Soojung eonni dengan telepon umum untuk memberitahu bahwa aku sekarang ada di Jepang. Terkejut? Sudah pasti. Dan Ia juga mengatakan bahwa Taemin dan Jinki pernah menanyakanku padanya, tapi aku sudah memohon agar Soojung eonni tidak memberitahukan mereka dimana aku.

Untuk saat ini, aku tidak mengaktifkan ponselku. Aku hanya memberitahu hotel tempat aku menginap pada Soojung eonni. Rencananya, setelah hari pernikahan Taemin lewat, aku akan kembali ke Korea untuk membereskan barang-barangku dan pindah ke kota lain atau mungkin pulang ke Indonesia. Karena jika Ia sudah menikah, tidak ada alasan bagiku atau Taemin untuk bersama, walau atas nama cinta.

Tidak ada yang tahu alasan aku melakukan ini sebenarnya, bahkan orang tuaku sekalipun. Tapi, yang pasti semua karena Hana. Aku masih terpukul dengan pembicaraan kami waktu itu di restoran. Otakku masih terbayang-bayang isi amplop yang menuliskan prediksi dokter tentang hidupnya yang bahkan tidak sampai satu tahun setelah dia dinyatakan boleh pulang.

Aku ingat betul, waktu itu dia bilang kalau dia sudah sembuh dari kanker rahimnya -yang sangat aneh bisa diidap oleh anak seusianya-, maka dari itu dia boleh pulang. Aku bahkan tidak curiga karena aku sempat lepas tangan dari perawatan atas dirinya, disebabkan demam typoid yang kuderita selama 4 hari. Dia memberitahuku dengan wajah yang ceria, seceria saat dia bercerita tentang tunangannya –yang sekarang aku ketahui sebagai Taemin-.

Aku juga masih terpukul saat dia cerita bahwa Taemin tidak kunjung menunjukan sisi perhatiannya, meski sudah lima tahun. Dan masih suka mengelak saat Hana meminta bertemu atau sekedar menjemputnya –padahal mereka kuliah di kampus yang sama-. Dia juga bercerita betapa dia sebenarnya ragu dengan pernikahannya karena dia tidak bisa memberikan keturunan, bahkan kemungkinan dia meninggal tiba-tiba. Dia juga meragukan bahwa Taemin akan berhenti membandingkannya dengan wanita yang disebut ‘little princess’ atau ‘moon’, ketika mereka telah menikah nanti.

Walau hatinya hancur dengan sikap Taemin, Hana tidak bisa memungkiri kebahagiaannya karena akan menyandang status sebagai istri Taemin. Sehingga, kadang terbersit dipikirannya untuk segera menemukan wanita yang masih membayangi Taemin dan memintanya untuk menjauh dari Taemin atau meminta wanita itu agar membujuk Taemin untuk belajar mencintainya. Dan, kupikir dia telah menyampaikan pada orang yang tepat. Maka dari itu, sewaktu di mobil Lie ahjumma, aku membuka bingkai foto yang selalu aku bawa, mengambil fotonya, dan menuliskan beberapa kalimat di sana. Lalu, meninggalkannya di atas tempat tidur karena aku yakin dia pasti akan mencariku di apartement. Dan semoga semua perkiraanku benar.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Taemin POV***

Aku sudah benar-benar frutasi. Rasanya jika aku ingat lagi, aku ingin sekali mati karena aku tidak tahan dengan perlakuan appa kepadaku, tapi begitu Athena datang dan harus terpisah, aku tidak ingin mati dan ingin terus hidup dengan baik agar aku punya kesempatan untuk bertemu dengannya. Dan ketika dia pergi lagi seperti ini, apalagi ini karena keinginannya, aku langsung merasa tidak perlu hidup lagi. Hidup atau mati, keduanya sama dengan neraka buatku, sekarang. Dan hari ini adalah hari terakhir aku bisa mencarinya, walau tidak ada waktu lagi, tapi aku masih mengharapakan keajaiban.

Aku merapikan dasi dan menatap cermin sambil merapikan stelan jas hitamku. Sebentar lagi kami sekeluarga akan berangkat ke ballroom tempat acara wisudaku. Hana duduk dengan di sofa yang ada di belakangku. Akhir-akhir ini dia sibuk mengirim sms sejak seminggu lalu, entah untuk siapa.

“Kau sedang mengingatkan teman-temanmu untuk datang besok, ya?” Pertanyaanku membuat dia berpaling dari layar ponselnya. Aku berbalik lagi ke cermin dan kembali merapikan pakaianku. “Bermimpi sajalah karena hari esok untukmu dan aku itu tidak akan pernah ada.” Aku menyengir skeptis ke arahnya dari pantulan cermin.

            “Arrayo.” Jawabnya singkat, kemudian kembali lagi mengetik pesan di ponselnya. Ada apa dengannya? Sekarang, dia sangat dingin.

** Clouds El Moon **

Dan beginilah ketika kami sampai di rumah seusai acara wisuda. Tidak ada yang spesial bagiku. Tidak ada Athena di sudut manapun mataku mencarinya, padahal aku harap aku melihat wajahnya di barisan terdepan dan aku dapat menunjukan togaku dengan bangga.

Di ruang tamu, seperti biasa keluarga Hana dan keluarga kami bercengkrama. Sepertinya aku memang harus menyerah kali ini. Orang-orang suruhanku bahkan tidak menemukan jejak Athena sama sekali. Apa mungkin dia sudah berada di luar Korea? Kalau di Indonesia, pasti sudah sejak lama Allichia akan menghubungiku atau Taesun. Apa di negara tetangga? Argh.. Kalaupun iya, aku tidak bisa meminta orang-orang suruhanku bebas mencarinya karena prosedur perizinan yang agak rumit.

Tokk.. tokk..

Pintu kamarku diketuk. Ah, aku sudah tahu pasti itu Hana yang akan menyuruhku turun.

            “Aku tahu kalau oppa tidak akan turun, jadi aku akan sita foto ini.” Eh? Sejak kapan Hana masuk ke kamarku. Akupun bangkit dan melihat Ia sedang melambaikan lembar foto yang aku temukan di tempat tidur Athena waktu itu.

            “ANDWAE!!!” Aku segera mengejarnya dan menuruni tangga dengan berlari, tapi sialnya aku terpeleset dan semuanya berubah gelap.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***AUTHOR POV***

OPPA!!” Teriak Hana membuat semua yang sedang terlibat dalam topik perbincangan mengenai acara pernikahan yang akan diadakan esok, berubah menjadi tegang dan panik.

Tanpa komando dari siapapun, Mr. Jung segera menggendong anaknya dan berlari ke mobil serta meminta Taesun agar duduk di belakang untuk menjaga tubuh Taemin agar tidak terguncang. Kemudian, segeralah beliau mengebut menuju rumah sakit yang dipercayai keluarga mereka. Sementara itu, para wanita menumpang dalam satu mobil di belakang mobil yang sebelumnya sudah berangkat. Disusul dengan mobil lain yang mengangkut Hana dan keluarganya.

Sesampainya ketiga mobil tadi di rumah sakit, Taemin segera dibawa ke ruang ICU untuk diberi pertolongan darurat. Dan tak lama setelah itu, terlihat Jinki dan keluarganya menghampiri mereka.

            “Eotte?” Tanya Jinki serempak dengan kedua orang tuanya. Semuanya hanya menggeleng. Tapi, tak lama setelah itu, terlihat dokter yang keluar dan memberi kabar.

Dengan cemas, satu persatu anggota keluarga diberi tugas untuk bergantian menjaga Taemin yang koma akibat benturan keras pada pinggang dan kepalanya. Meskipun begitu, Taesun dan Hana juga Jinki selalu berjaga di rumah sakit, sedangkan orang tua mereka akan datang setiap sore untuk bergantian menjaga sementara ketiganya tertidur karena kelelahan.

Sudah hampir sebulan keluarga Lee diselimuti duka. Semuanya fokus menunggu saat Taemin bangun dari koma-nya, tapi seperti yang dikatakan dokter bahwa secara kasat mata, Taemin terlihat seperti tidak memiliki semangat untuk hidup. Bahkan dari hari ke hari tidak ada peningkatan kesadaran, yang ada hanya keadaan tiba-tiba Taemin semakin masuk ke dalam masa kritisnya dan ini membuat dokter harus berusaha keras untuk mengangkat tingkat kehidupan Taemin lagi pada ambang batas yang sama seperti sebelumnya.

Tiba-tiba saja di hari ke-24 Taemin dirawat, Jinki teringat dengan Soojung yang akan bekerja di bangsal rawat inap lantai 5 setiap shift malam. Karena jam di tangannya telah menunjuk pukul 11 malam, Ia segera menarik Taesun untuk ikut. Melihat itu, Hana mengekori di belakang mereka walau tanpa Jinki dan Taesun sadari, wajah Hana sudah pucat dan keringat dingin.

            “Kita mau apa kesini, hyeong?” Tanya Taesun sambil mencoba melepas tangannya.

            “Menemui perawat Soojung. Dia teman dekat Athena.”

            “Lalu, hubungannya apa?” Taesun mengatur napasnya sambil memperhatikan Jinki.

            “Hubungannya ada pada kesadaran Taemin. Lagipula aku yakin dia tahu keberadaan Athena, tapi Ia merahasiakannya. Kalau dipikir-pikir, orang seperti Athena mana mungkin tidak memberitahu orang yang akrab dengannya tentang masalah ini. Kali ini pasti bisa.” Jinki terdengar yakin.

            “Hhh.. Kalian ini. Kenapa tidak menungguku?” Kata Hana yang terengah-engah.

            “Apa aku bisa bertemu dengan perawat Soojung? … Oh, di sebelah sana? … Baiklah. Jeongmal kamsahamnida.” Jinki berbincang sebentar dengan perawat jaga.

Tepat saat Jinki dan Taesun melewati pintu kaca menuju bangsal rawat inap, Jinki melihat sosok Soojung yang dia cari sedang mencuci tangan setelah keluar dari kamar rawat pasien.

            “Soojung-ssi.” Dipanggilnya segera perawat yang dicarinya sejak tadi.

            “Jinki­-ssi, mau apa lagi? Kan sudah kubilang aku tidak tahu keberadaan Athena.” Soojung hendak menghindari Jinki, tapi dihalangi Taesun.

            “Noona, tolonglah bantu kami. Kali ini, hyeong-ku, Taemin sedang koma. Sudah hampir sebulan dia berada di sini, tolong bantu kami untuk menghubungi Athena noona karena aku yakin hanya dia satu-satunya yang bisa membuat hyeong sadar.” Seakan mengerti tujuan Jinki, Taesun segera memohon dengan wajah memelas.

            “Ka-Kau bilang apa? Koma? Apa karena ginjalnya lagi?” Tebak Soojung.

            “Kenapa noona bisa tahu? Ah, itu tidak penting. Yang penting sekarang, tolonglah.” Taesun memohon lagi. Kali ini sambil meraih bahu Soojung dan menatapnya dengan lesu.         “Baiklah aku akan coba menghubungi dia.” Taesun bernapas lega ketika mendengarnya. Begitu juga Jinki dan Hana.

            Soojung menekan sejumlah angka dan menempelkan ponselnya ke telinga. “Moshi moshi. … I’m Soojung, I’m looking for a visitor named Athena Efrinne. Could you connect the phone line with her? … Oh, she isn’t there anymore?!” Soojung memandang Taesun dan Jinki bergantian. “Oh, really? … So, might you give me her phone number?” Soojung terlihat mengeja sejumlah nomor. “Oke, arigatou gozaimasu.”

            “Ada apa?” Tanya Taesun tidak sabaran, tapi tidak ditanggapi Soojung. Dia malah sibuk menekan sejumlah nomor lagi di ponselnya. “Ada apa, noona?” Tanya Taesun lagi.

            “Hah? Apa?” Tanya Soojung yang kurang konsentrasi sembari menunggu sambungan teleponnya diangkat. “Oh itu, tadi aku menelepon pihak hotel tempat Athena menginap karena dia selalu meneleponku dengan telepon umum. Tapi, sudah tidak menginap di situ lagi, dan katanya, Athena menitipkan nomor ponselnya selama di Kanagawa. Jadi, …” Kata-kata Soojung pada Jinki dan Taesun terputus begitu merasa seseorang mengangkat teleponnya. “Yeoboseyo.”

            “Noona selama ini ada di Jepang?!” Tanya Taesun tidak percaya. Beruntung Jinki segera membekap mulut Taesun sebelum Ia menyeloteh panjang lebar.

            “Athena, kau tahu sudah tahu kalau Taemin dirawat? … Sudah? Kalau begitu kau ada dimana, sekarang? … Oh, begitu. Ya, sudah. Kalau begitu cepatlah ke rumah sakit sekarang. … Iya, hati-hati di jalan, oke? … Jangan lupa aktifkan nomormu di Korea, ya? … Oke, sampai nanti.” Sambungan telepon antara Soojung dan Athena pun terputus.

            “Itu tadi Athena?” Tanya Jinki, dan dijawab dengan anggukan oleh Soojung.

            “Hoah..” Taesun berhasil melepaskan bekapannya. “Apa dia mau kesini?” Tanya Taesun.

            “Umm, ya.” Gumam Soojung. “Dia bilang kalau tadi sore dia sempat mengaktifkan nomornya ponselnya di Korea dan melihat pesan dari Hana dan sekarang dia menuju bandara.” Jelas Soojung. “Ngomong-ngomong, dimana Hana?” Menyadari itu, mereka bertiga segera menoleh Hana yang duduk sambil memeras perutnya, tapi tubuh itu tiba-tiba ambruk membentur lantai.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Athena POV***

            Aku melirik ponselku yang bergetar. Seingatku ini nomor Soojung eonni, jadi segera aku angkat. “… Yeoboseyo.” Namun tiba-tiba aku mendengar suara berteriak ‘Noona selama ini ada di Jepang?!’ yang bisa ditebak bahwa itu suara Taesun.

            Kudengar Soojung eonni berbicara lagi. “… Iya. Tadi sore aku mengaktifkan nomor ponselku di Korea dan membaca pesan terakhirnya yang mengabarkan aku tentang kondisi Taemin selama di rumah sakit. … Sekarang aku ada di dalam taksi menuju bandara. Aku mengambil jadwal penerbangan jam setengah 1. … Iya, sesampainya di Incheon aku akan langsung ke rumah sakit, eonni. … Ne, arraso, eonni. … Ne, eonni. Arra. 4 jama lagi aku sampai. Bye.” Aku putuskan sambungan teleponnya.

15 menit kemudian aku sampai di bandara yang terdekat dengan Kanagawa. Secepatnya aku menurunkan koper dan tas besarku dan melakukan boarding pass. Beruntung, aku tidak perlu menunggu lagi karena begitu aku selesai melakukan prosedur berikutnya sebelum keberangkatan, pesawat yang akan membawaku terbang ke Korea telah tiba.

Dari Jepang, membutuhkan setidaknya 2 jam untuk sampai ke Bandara Internasional Incheon. Dan memikirkan Taemin, sudah pasti membuat aku gelisah dan duduk dengan tidak tenang. Seorang wanita yang sedang tertidur dengan kaca mata hitam yang melekat di wajahnya, praktis merasa terganggu kenyamanannya. Tapi, aku tidak bisa tenang walau hanya sedikit.

Sepertinya Tuhan mendengar komat-kamit doaku, tidak sampai dua jam aku sudah ada di Bandara Internasional Incheon. Bagai dewi fortuna yang sedang berpihak padaku pula, barang-barangku yang pertama kali keluar dari bagasi. Dengan terburu-buru aku berlari sambil menarik koper dan tas besar yang kubawa. Dan begitu sampai di depan bandara, aku segera menaiki taksi dan meminta supirnya langsung mengantarku ke Seoul National University Hospital, segera setelah memasukan barangku ke dalam bagasi taksi.

Waktu dua jam lebih yang dibutuhkan untuk sampai ke tujuanku dengan kecepatan standart, sepertinya harus bisa aku potong beberapa menit, sehingga aku meminta supirnya menyetir lebih cepat. Dan sampailah aku di depan rumah sakit. Begitu turun, aku meminta ahjussi yang menyetir taksi itu untuk mengantarkan barang-barang di bagasi ke alamat yang ada di kartu namaku, setelah sebelumnya aku menelepon ahjumma yang tinggal di sebelahku untuk menyimpan barang-barangku untuk sementara.

Sekuat tenaga yang masih tersisa, Aku berlari ke bangsal khusus rawat inap bagi pasien yang butuh perawatan khusus atau bisa dibilang koma, seperti Taemin. Dengan napas terengah, aku menanyakan perawat jaga tentang kamar Taemin, dan sampailah Aku di depan kamar Taemin. Ada Taesun dan Jinki, juga seorang yeoja lagi, tapi bukan Hana.

            “Ya Tuhan, akhirnya noona datang.” Seru Taesun senang saat menghampiriku.

            “Nugu, oppa?” Tanya yeoja yang tidak pernah aku lihat di rumah mereka sebelumnya.

            “Oh, ini Athena noona.” Jelas Taesun.

            “Hhh.. Apa aku boleh masuk?” Tanyaku pada Jinki dan dia mengangguk tanda boleh.

Setelah memakai jubah khusus, penutup kepala, dan juga masker yang berwarna serba hijau, aku masuk dengan ditemani seorang perawat lain yang kebetulan menangani Taemin.

            “Taemin..” Panggilku lirih dan kurang jelas karena tertutup masker, tapi kuharap bisa memberitahunya yang sedang berada di alam bawah sadar bahwa aku ada di sini sekarang.

Aku menahan diriku sebisa mungkin untuk tidak meluapkan perasaanku dengan memeluknya. Jadi, aku hanya menggenggam tangannya. Kurasakan hawa hangat kuku dari telapak tangannya, pertanda masih ada kehidupan yang bersemayam. Aku menoleh sebentar ke kaca. Aku melihat wajah Taesun yang memandang tubuh hyeong-nya dengan tatapan penuh harap. Begitu juga Jinki dan yeoja disebelahnya. Mereka seperti menaruh harapan besar pada diriku.

Tapi, ini sudah batas kemampuanku. Dengan datang ke rumah sakit secepat mungkin, dan dengan memberitahukan Taemin bahwa aku sudah datang, hanya ini yang bisa aku lakukan. Selebihnya tergantung usaha Taemin untuk tetap hidup dan membuka matanya. Ya Tuhan, aku akan lakukan apapun jika kau membiarkan dia tetap hidup. Ya, apapun itu.

** Clouds El Moon **

“Astaga, aku tertidur?” Kataku saat sadar bahwa aku baru saja terbangun sambil menepuk dahiku. Aku lihat Taemin, ternyata matanya masih belum terbuka.

Dengan malas, mataku menatap sayu monitor yang menunjukan pergerakan kardiograf dan respirasi Taemin. Tunggu. Sepertinya Aku harus memanggil dokter. Aku pun berlari ke ruangan dokter dan memintanya untuk memeriksa Taemin, membuat Taesun dan Jinki terbangun dan kaget ketika melihat dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Taemin.

            “Noona, ada apa?” Tanya Taesun khawatir sampai menempelkan wajahnya di kaca.

            “YA! Tidak perlu begitu. Aku memanggil dokter untuk memeriksanya saja. Tadi, saat aku terbangun, aku lihat di layar monitornya kalau grafik terbaca ada peningkatan kesadaran. Aku hanya ingin memastikan itu.” Jelasku dengan tersenyum senang.

            “Jeongmalseo?!!” Seru Jinki dan Taesun bersamaan membuat yeoja yang sejak semalam menunggu menjadi terbangun.

            “Loh, Taemin oppa kenapa?” Seru yeoja itu panik dan menempelkan wajahnya ke kaca seperti Taemin.

            “Hanya diperiksa.” Kata Taesun memberitahu. “Oh ya, Minra, ini Athena noona. Noona, ini Minra, adik perempuan kami.” Taemin mengenalkan diriku dan yeoja yang ternyata adiknya.

            “Minra-imnida, bangapseumnida.” Katanya sambil menjabat tanganku. “Oh, jadi ini yeoja yang Taemin oppa cintai itu ya?” Celetuknya.

            “Heum?” Kurasa mataku sudah sebesar mata kodok sekarang.

            “Taemin-ah sudah sadar. Apa ada yang mau melihatnya?” Kata dokter yang keluar dari ruangan Taemin sambil tersenyum. Sekarang rasanya aku bisa bernapas lega.

            “Aduh, Minra. Kita nanti saja. Kita telepon eomma, appa, dan halmeoni dulu.” Kata Taemin sambil menahan adiknya yang ingin masuk terlebih dulu. “Athena noona, lebih baik kau duluan saja. Kurasa kaulah yang ingin dilihatnya pertama kali.”

Mendapat kehormatan itu, aku masuk perlahan. Aku menggigit bibir bawahku saat melihat mata Taemin pelan-pelan terbuka. Kulihat dia mengerjap, mungkin sedang membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang sengaja diredupkan.

            “Taemin.” Panggilku untuk memberitahu bahwa aku ada di sisi kanan.

            “A-Athena.” Dia menoleh dengan susah payah ke arahku. Ya Tuhan, terima kasih karena telah mengabulkan doaku.

            “Taemin, kau ini. Kenapa kau tidak bangun dari kemarin-kemarin sih? Kenapa saat aku datang kesini baru kau mau buka matamu.” Aku berpura-pura menunjukan kekesalanku padanya. Dari balik oxygen tube-nya dia tersenyum, dan samar-samar aku dengar dia mencoba bicara. “Hah?! … Apa? Tidak terdengar, Taemin-ah.” Semakin menjadi-jadi, aku menggodanya.

            Entah dapat kekuatan dari mana, Ia menarik kepalaku hingga telingaku mendekat ke bibirnya. “Hei, bodoh. Kau.. itu.. sudah dengar.. Lagu So.. Goodbye yang dinyanyiin..  Jonghyun hyeong .. kalau.. kau merindukan.. ku tidak sih?” Taemin berkata dengan sayup dan lemah.

            “Iya, aku dengar semuanya. Dan kau mau bilang kalau dengan menutup matamu kau bisa membayangkan kehadiranku. Begitu? Dasar aneh!!”

            “Bukan.. begitu.” Suara Taemin seperti berbisik bagiku.

            “Lalu apa?” Tanyaku berpura-pura dingin.

            Ia memintaku mendekatkan kepalaku lagi. “Ka-karena kau.. pergi.. jadi, aku.. agak malas buka.. mata.. Kau tahu.. sepanjang aku uhuk.. tidur.. aku bisa melihatmu. Jadi.. daripada aku.. membuka mata tapi.. aku.. tidak menemukanmu.. uhuk.. lebih baik aku tidur.”

            “Sudahlah, kau istirahat saja. Aku tidak tega mendengar suaramu seperti itu.”

            “Tunggu..” Aku tidak jadi keluar, lalu mendekatkan telingaku lagi. “Selama aku tidur.. Aku hanya mengingat wajahmu.. sambil menunggumu memanggil.. namaku.”

Segera aku memeluknya dan dia membalas pelukanku. Aku terharu dengan usahanya untuk mengucapkan kata-kata tadi. Dia tidak bangun sampai selama itu karena menunggu aku sendiri yang memanggil namanya untuk menyuruhnya kembali dari alam bawah sadar. How sweet.

Dalam pelukannya, aku berkata tegas, tapi dengan suara lirih menahan haru, “Do you know what I’m gonna know? I hope I still find a love for me in there. Then, I know right.” kataku sembari meletakan tangan kananku di dadanya yang berdegup dengan frekuensi yang tidak dapat aku jelaskan.

Setelah puas memeluk Taemin, aku keluar agar bisa bergantian dengan anggota keluarga yang ingin menjenguk. Tapi, begitu aku membuka pintu untuk keluar, hawa duka segera menghampiriku. Aku paksa Taesun memberitahuku ada apa, dan aku segera tersungkur begitu mendengarnya. Jadi, beginikah akhirnya? Lalu bagaimana dengan Taemin?

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

 2 MONTHS LATER…

***AUTHOR POV***

            “Ahaha.. Disini eonni kelihatan cantik.” Kata Minra sambil menunjuk foto sepasang pengantin yang tertempel di album besar yang sedang dipangku oleh Athena.

            “Minra-ya, kau itu menghina atau memuji sih? Kalau kau bilang di sini aja eonni terlihat cantik, berarti yang lain, tidak?” Tanya Athena sambil sibuk membalik lembaran albumnya lagi.

            Minra yang duduk meleseh di karpet mengangguk. “Of course. Soalnya eonni itu cantiknya cuma di mata Taemin oppa aja.” Minra melirik Taemin sinis.

            “Aish, kau ini. Besok-besok kau tidak boleh ke rumah oppa, ya?” Kata Taemin yang sedari tadi sibuk melingkarkan tangannya di pinggang Athena, istri yang baru Ia nikahi lima hari yang lalu. Sedangkan Athena sibuk tertawa melihat keduanya.

Dan dimulailah pertengkaran mulut antara Taemin dan Minra. Di tengah pertengkaran mereka, para orang tua kembali masuk ke dalam rumah setelah berkeliling di sekitar pekarangan belakang rumah baru milik Taemin dan Athena.

            “Eh.. Eh, ini kok Taemin sama Minra kejar-kejaran.” Tegur Mrs. Lee melihat tingkah anaknya.

            “Taemin, appa suka air terjun mini yang kamu desain itu.” Kata Mr. Jung memuji sambil mengambil ancang-ancang untuk duduk di sofa..

            “Ah, appa bisa aja. Itu juga ide Athena kok.” Tanggap Taemin, kemudian mencium pipi Athena yang masih asyik membolak-balik album foto.

            “Ehh..” Seluruh orang tua berseru melihat moment kemesraan yang ditunjukan Taemin. “Anak muda zaman sekarang udah gak lihat-lihat tempat, ya?” lanjut Mrs. Lie mengomentari.

Dari arah dapur, muncullah pasangan yang membawa senampan kue kering dan sirup dingin. Dihidangkannya kudapan hangat tersebut di meja ruang tamu.

            “Dari pada cium-ciuman, enaknya ngemil cookies sabtu pagi begini, kan? Sebelum makan siang.” Heboh, Taesun menyindiri pasangan Athena dan Taemin tersebut.

            “Oh ya, aku baru ingat pas tadi aku masak. Yang waktu itu ada di pesawat dari California yang harus transit di Jepang itu, Athena eonni, kan? Yang duduk disebelahku.” Tanya Karrie sambil meletakan piring kuenya. Athena mengingat sosok yeoja yang tidur memakai kaca mata hitam yang terganggu dengan kegelisahan Athena dan akhirnya tertawa sambil mengangguk.

            “Oh ya, aku! Aku juga ingat. Waktu aku mau ke California tahun lalu, sempat ada tabrakan taksi dengan penyebrang jalan. Lalu, ada yeoja yang sibuk menolong orang yang pingsan itu Athena eonni juga kah?” Athena hapal betul kejadian yang terjadi tepat saat beberapa menit ketibaannya di Korea lebih dari setahun lalu dan segera mengangguk.

            “Ternyata takdir memang sudah mengatur semuanya.” Kata Taesun berkomentar.

            “Karrie, coba kamu ambil tissue yang ada di meja makan.” Pinta Mrs. Lee sambil membantu Taesun menyusun gelas yang akan dituangkan sirup.

Ne, eommonim.” Jawab Karrie.

            Bingung, Athena mengernyitkan dahi. “Kok Karrie manggil ‘eommonim’ sih? Emang kamu udah nikah?” Protes Athena. Sentak semua orang tertawa mendengarnya.

Sembari menyantap kudapan yang dibuat tangan Karrie, keluarga besar tersebut berbincang dengan hangat.

            “Loh, Allichia sama Jinki kenapa belum pulang? Sudah hampir siang begini.” Kata  Ayah Allichia dengan bahasa Indonesia.

            “Oh iya, ini sudah hampir 4 jam. Memangnya melihat hasil jahitan gaun pengantin itu lama, ya?” Sahut Mrs. Lie. Dan akhirnya memprakarsai perbincangan dengan bahasa Indonesia di ruang tamu tersebut. Minra dan Karrie hanya melongok bingung.

            “Gak kok. Kan cuma sekedar mengecek proses yang sudah selesai saja.” Tanggap Athena sambil tetap mencermati foto-foto yang ada di pangkuannya.

            Taemin mendekatkan wajahnya ke wajah Athena yang anteng dan tidak berontak. “Sayang, dari tadi kenapa lihat foto terus sih? Akunya malah dianggurin jadinya.”

            “Idih, aku kan udah sering lihat kamu di kamar. Jadi, sesekali gak ngelihat juga gak rugi kok.” Sahut Athena atas kemanjaan Taemin.

            “Sudah. Sudah, kalian ini mendingan masuk ke kamar aja deh. Malu dilihatin orang tua.” Ujar Mrs. Lie yang spontan mengundang tawa dari orang tua dan adik Athena dan membuat Athena merunduk malu.

            “Tahu nih. Udah kalian bikin keponakan aja deh buat Taesun. Dari pada di sini. Hush hush..” Usir Taemin dengan usil.

            “Ya sudah kalau kalian maunya begitu.” Taemin segera menarik tangan Athena menuju ke kamar mereka yang ada di lantai dua.

            “Taemin. Apa-apaan sih?! Bikin malu aja.” Athena tidak henti-hentinya menghujani Taemin dengan pukulan ringan ke lengannya.

Merasa Athena membuat langkahnya lambat, Ia pun menunduk dan mengambil kaki Athena, sehingga badan Athena bisa tergendong ala bridal style.

            “Kya..” Teriak Athena yang otomatis mengundang tawa dari 4 keluarga yang sedang berkumpul tersebut.

            “Hyeong, buatkan aku keponakan kembar, ya?!” Goda Taesun sambil berteriak.

            “Beres. Kalau bisa kesebelasan sepak bola juga aku bikin.” Kata Taemin menanggapi. Dan Athena hanya menggeliat di dalam gendongan Taemin karena malu yang berlipat-lipat.

            Di lantai bawah sedang riuh suara tawa, begitu Taemin keluar dari kamarnya lagi dan berteriak. “Aku dan Athena tidak makan siang, ya? Jangan ganggu kami, jadi makan duluan saja.” Pesan Taemin dan hal itu semakin mengundang ledak tawa dari ruang tamu.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

The end~ ^_^

EPILOG (Bagi yang merasa sudah puas dengan akhirnya, tidak perlu baca ini karena epilog ini hanya bertujuan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Hana sehingga pernikahan Athena dan Taemin menjadi ada) ^_^

 

***Athena POV***

Di ruang tamu, kami sekeluarga sedang berkumpul dalam rangka open house rumah baru kami. Aku sibuk melihat foto-foto yang diambil selama prosesi pemberkatan nikah dan acara resepsi yang mengundang hampir 5000 kerabat dan relasi antara keluargaku dan Taemin. Megah? Tentu saja. Lelah? Oh, itu sudah pasti. Tapi, begitu aku melihat wajah berseri keluargaku, keluarga Taemin, keluarga Allichia, dan juga keluarga Jinki, membuat aku kembali teringat bagaimana aku bisa mendapatkan kebahagiaan ini pada akhirnya.

Saat itu, aku ada di kamar Taemin. Bgitu sadar, aku mengahabiskan beberapa menit untuk mengobrol dengannya. Antara haru, sedih, namun bahagia bercampur jadi satu dalam benakku karena orang yang aku cintai, sadar. Tak mau egois, aku keluar untuk bergantian dengan pihak keluarga yang sudah datang dan hendak menjenguk Taemin, tapi begitu keluar, suasana duka yang kental menangkap emosiku. Apa sadarnya Taemin harus memancing suasana begitu?

Keluarga Kim menghampiriku dan memintaku ikut ke sebuah rawat inap. Saat masuk, aku melihat wajah tubuh pucat Hana. Segera saja aku berlari menghampiri tubuhnya yang terbaring. Ku genggam tangannya, dan matanya pun beranjak terbuka.

            ‘Eonni~’ Lenguh Hana saat memanggilku.

            ‘Um? Ne, eonni disini. Hana kenapa begini, sayang?’ Masih kugenggam erat tangannya.

            ‘Eonni, Hana mau minta tolong.’ Dengan suara yang benar-benar sayup Hana berkata.

            ‘Tolong apa?’ Waktu itu aku juga berharap keajaiban juga turun atas Hana.

            ‘Eonni, kau tahu kan kalau aku mencintai Taemin oppa?’ Saat itu aku mengangguk paham walau agak bertentangan dengan hatiku. “Tolong, bahagiakan dia, eonni. Sampai kapanpun dia tidak akan bahagia denganku, eonni.” Hana mulai menangis dan aku memeluknya.

Kemudian, suara tangis Hana semakin keras, aku yang panik segera melonggarkan pelukanku dan melihat wajahnya meringis. Tangisnya mulai pecah menjadi teriak kesakitan. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari ke ruang dokter untuk memanggilnya.

            ‘Athena. Athena, ada apa?’ Panggil Taemin yang duduk di kursi roda -yang didorong Taesun- panik melihatku tiba-tiba berlari.

Seketika, aku kembali bersama dengan dokter, kuminta mereka yang ingin melihat Hana untuk menunggu di luar bersamaku. Aku berharap setidaknya jikalau Hana bisa bertahan lebih lama lagi, aku akan coba merelakan dia bersama Taemin dan berjanji tidak akan pergi dari lingkungan hidup mereka seperti yang sudah-sudah.

            ‘Kamu suster Athena, kan?’ Tanya dokter. Dalam keadaan gamang, aku mengangguk. ‘Saya butuh bantuan kamu untuk melakukan CPR. Cepat kemari.’ Aku menurut saja. Sebenarnya hal itu menyalahi etika karena meski aku memang perawat yang sudah biasa dengan ER, tapi aku  tetap tidak sedang memakai seragam dan itu artinya aku sedang menanggalkan identitas perawatku. Walau begitu, aku tetap berniat menolong sebisaku.

Lama aku membantu dokter melakukan pertolongan darurat pada Hana yang tiba-tiba tidak bernapas. Meski lelah membayangi tanganku dan kaki yang mulai tidak sanggup menumpu, aku tetap mencoba memacu denyut jantungnya. Tapi, tiba-tiba dokter menghalangi tanganku.

            ‘Athena, sudah. Dia sudah tidak tertolong lagi. Hana sudah cukup hebat dapat melewati beberapa bulan dari hasil diagnosa tahun lalu, jadi mungkin inilah akhir pertahanannya. Mari, Athena, kita keluar menemui pihak keluarga.’ Ajak dokter.

Aku keluar dengan lesu. Aku duduk dengan tubuh gemetaran sambil terbayang-bayang seluruh kenangan tentang Hana. Tersegarkan kembali ingatanku pada semua pesan yang masuk ke dalam ponselku.

            ‘Eonni, eonni ada dimana? Taemin oppa sedang mencarimu.’

            ‘Eonni, hari ini Taemin oppa pergi ke Jeju. Walau aku sedih sebenarnya, tapi aku tidak bisa menghalanginya.’

            ‘Dia tidak akan menyerah sampai bertemu eonni. Pernikahan kami tinggal beberapa hari, tapi kurasa tidak ada niatan bagi Taemin oppa untuk berhenti. Hari ini dia mengerahkan seluruh orang-orang bayaran untuk mencari mu. Sebenarnya kau dimana? Kalau sebelum hari pernikahanku dengan Taemin, kau ditemukan, maka eonni yang akan menggantikanku.’

            ‘Eonni, hari ini Taemin oppa wisuda. Dia terlihat tampan sekali dengan jas hitamnya. Apalagi dengan toga, nanti. Mau lihat? Kalau begitu datanglah ke hotel dekat rumah sakit tempat eonni bekerja. Eonni masih memiliki banyak waktu.’

            ‘Eonni, Taemin oppa jatuh dari tangga karena aku merebut fotomu. Aku tahu itu sangat berharga. Mianhaeyo eonni, aku mengambilnya karena aku disuruh appa dan eomma memanggilnya untuk membicarakan pernikahan kami esok. Sudah aku duga ini tidak akan berhasil. Cinta Taemin oppa hanya untukmu. Ini menyebalkan.’

            ‘Ini sudah seminggu Taemin oppa dirawat, tapi dia masih belum sadar. Mungkin dia sedang mencarimu walau hanya dengan rohnya yang melayang. Eonni, kembalilah.’

            ‘Aku benci mengakui ini. Tapi, kurasa aku sudah memutuskan untuk merelakan Taemin oppa untukmu, eonni. Pernikahanku batal karena kejadian itu. Aku menangis semalaman, tapi menurutku kebahagiaan Taemin oppa lebih penting. Eonni, pulanglah. Rumahmu di sini, di tengah-tengah kehangatan keluarga Taemin oppa. Kemarin Jung ahjussi telah mengubah pikirannya, kau akan diterima sangat baik di tengah-tengah keluarganya, asal kau kembali.’

            ‘Eonni, akan pulang? Syukurlah, cepatlah sampai di sini. Aku menunggumu.’

Aku memandang ponselku yang masih menyimpan ratusan pesan dari Hana yang tidak pernah punya kesempatan untuk dijawab tersebut. Kemudian, aku mengambil lembaran foto yang Hana tinggalkan di bawah tempat tidurnya saat di rumah sakit dan tertulis di sana ‘Chukkaeyo, eonni. Selamat menempuh hidup baru dengan Taemin oppa.’, seakan dia sudah dapat menebak apa yang terjadi antara aku dan Taemin.

Berbarengan dengan tersenyum sambil melihat foto itulah, tiba-tiba Taemin mengatakan, “Sayang, dari tadi kenapa lihat foto terus sih? Akunya malah dianggurin jadinya.”  Menyadari dia tengah mengatakan hal yang menggelikan untuk telingaku, aku malah terpancing untuk menjawabnya.

Dan bagai boomerang, jawabanku malah menimbulkan pikiran gila di otak Taemin karena tiba-tiba dia menggendongku di depan tubuhnya, hendak membawaku ke kamar. Otomatis aku berteriak. “Kya..”

            “Hyeong, buatkan aku keponakan kembar, ya?!” Ini lagi si Taesun ikutan menggila.

            “Beres. Kalau bisa kesebelasan sepak bola juga aku bikin.” Taemin berteriak keras sambil menutup pintu. Setelah meletakkanku di tempat tidur, Ia keluar lagi. “Aku dan Athena tidak makan siang, ya? Jangan ganggu kami, jadi makan duluan saja.” Pesan Taemin dan hal itu semakin mengundang ledak tawa dari ruang tamu.

            “Taemin!!” Tegurku yang malah mendapat tatapan seduktif dari Taemin, membuat aku bergidik. “Ka-kau mau apa?” Tanyaku sambil menarik selimutku sampai ke batas leher.

            “Kau dengar kan tadi Taesun minta keponakan? Ayo, kita kabulkan keinginannya! Bukankah adalah  noona yang baik dan berjanji akan selalu melakukan permintaan Taesun?” Taemin merangkak di kasur dan aku semakin menekuk kaki-kakiku. “Lagipula kita kan sudah sering melakukannya. Jadi, kurasa sekarang tidak akan sulit lagi.”

            “Iya, aku tahu. Tapi, tidak mesti menunjukan raut muka begitu, kan? Kau membuatku takut, Taemin.” Aku menyilangkan kedua tanganku dan berteriak ketika Taemin menarik tanganku paksa. “YA!! TAEMIN KAU HARUS DAPAT IZIN DULU DARIKU. TIDAK SEENAKNYA BEGINI!!!!!” Entahlah suara teriakanku sampai ke lantai bawah atau tidak. Tapi, yang pasti SEJAK KAPAN TAEMIN JADI BEROTAK YADONG BEGINI??!!

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

Hosh.. Hosh..

Panjang ya?? Kekeke.. Mianhae, Aku merinding disco sendiri dengan adegan ‘itu’. Ahaha..

Kalau ada yg kecewa, aku minta maaf. Dan kalau ada yang kurang berkenan dengan adegan itu, aku juga minta maaf. Selera orang kan beda. But, thanks ya udah setia ngebacanya ^^

Harap comment krn commen like oxygen dan cara kamu berkomunikasi sama saya🙂

FYI, setelah ini aku akan fokus ke The Heaven Worker sama FF yang tertunda setahun lalu yang niatnya mau aku jadiin sequel. Masih ingat Half Married –FF pertamaku, 2 tahun lalu-, nah sekarang aku janji akan fokus ke 2 FF ini. Tapi, kalau agak-agak mandek, maklumin ya ^_^

Pai pai ^_^

©2011 SF3SI, Ji I-El.

Officially written by Iza, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “At The End Part 3 [Not Cyber Love=Not LDR, Happy Ver.]

  1. akhirnya taemin ama athena juga……………….happy ending oiii… i like it🙂 pagi” uda baca ff🙂 oke dhe daebak thor….

  2. yeay akhir y athena ma taem bersatu jg..
    suka sama ending y,,thor..
    dtunggu karya slanjut y,,thor..
    ^^

  3. Kyaaaa!! Udah selesai thoor haha
    Sedih gara2 hana meninggal😦 hana udah relain taem sama athena, sedih bangeeet
    Geli dan kebayang taem ngegoda kaya gitu hahaha taeem😄 kyaa athena beruntung! (?) Tapi seneng juga ya kalo taem bisa bahasa indo haha thooor aku suka banget sama ff nya apalagi castnya taem hehe, ayoayo ff lainnya di tunggu😀

  4. KYAAAA ~~!!! DAE TO THE BAK !!!
    HAPPY ENDIIIINNNGGG ~~~!!! walopun ada sad ending dikittt..

    omegat !!! sejak kapan siii Taemin jadi yadong gituuuu ????

    Oh iyyaa, masih ada typo, cukup banyak sih😀

    Overall nice, see yaaa in another FF😀

  5. aaah jadi gitu toh, Athena balik lg ke korea stlh dpt kbr Taemin koma. Aku bingung eon ini mau komen apa =.=

    d part ini aku malah jadi kasian sama Hana, tapi emng kodratnya dia psti meninggal di akhir crta u,u

    komenku segini aja lah eon. The last, SEJAK KAPAN TAEMIN JADI BEROTAK YADONG BEGINI??!! ;A;

    1. ps: bukannya HM udah tamat ya eon? atau mau dibikin after story gt?
      aaaah~ aku bakal nungguin kalo gt! Hwaiting~ ^^;;

  6. Dan dapat ditebak klo aku lebih suka yang Happy Ver.😀
    kyaaa~~~ rasanya pengin teriak teriak >.<
    Syukurlah Taemin sembuh dari koma dan bisa hidup bahagia ma Athena.
    Turut berduka cita juga atas meninggalnya Hana…

  7. Wow Akhir yg membahagiakan!! And the story was happy ending………

    Chukkae buat athena-taem…. Chukkae,,, kisah cinta yg berliku……

    Ehh FF half married kayaknya pernah denger dehhh… Yg cast-ny Minho bukan ya???????

  8. akhirnya berakhir dengan happy ending!

    selamat buat athena dan taemin, semoga bisa mengabulkan doanya taesun yaa–punya keponakan kembar hehe

    ditunggu FF selanjutnya ya eonni🙂

  9. Taemin Oppa jadi yadong-..-” Oppa berguru sama Eunhyuk Oppa ya? Jangan-jangan sebenernya Eunhyuk Oppa ada di ‘behind the scene’ ep ep ini lagi.__. #ApalahIni-_-.

    Yeyeyeyeyeyeyey~ Happy ending \^O^/ *tebar jengkol*. Oh iya, kalau bisa anaknya kembar 20 ya Athena Eonnie, Taemin Oppa ^.~.

    Akhirnya selesai juga ep ep ini, Ji I-el Eon~! Nggak nyangka ternyata Hana itu baik T,T padahal aku kira dia jahat TT___TT. Daebak Eon ep-epnya~^^bb

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s