I Love You [2.2]

Title                : I Love You part 2 end

Author            : onzea a.k.a zesha

Main Cast      : Lee Jinki, Kim Kibum a.k.a key – Gweboon as yeoja

Other cast       : Lee taemin, Kim Jonghyun, Choi minho

Length            : Twoshoot

Genre                         : Romance, Life, Family

Rating             : PG 13

—————————————————————————————————————-

Kau, saat kata perpisahan itu begitu indah kau ucapkan, duniaku seakan runtuh, hancur, porak-poranda bagaikan padang safana yang tertiup angin topan.

Rasa yang tumbuh dari setetes embun yang kau semaikan kini gugur tak terelakkan.

Hadirmu kini ku rindukan di tengah tetes airmata yang meresap jatuh ke tanah tandus

Aku ingin sosokmu kembali bersama mekarnya bunga-bunga sakura di musim semi

Kembali pada hati yang menantikanmu, pada hati yang membeku tanpa kehadiranmu, hati yang merapuh karena kepergianmu.

Ingin ku dengar lagi harmoni nyanyian surgamu yang menghilang seiring terpaan angin

Seandainya lirihnya angin yang berhembus bisa menyampaikan kegelisahan hatiku

Ingin ku sampaikan satu kata terindah yang menghiasi rongga hatiku sekarang dan selamanya

Saranghae

(@Wondergirl : Saying I love you)

I love you, your smile brighter than the sunset

your two hands that embraced me

I love you , I love you

I don’t want to separate with you, not even a single moment

when I lean on you

I hope the time will stop, I love you~

“gweboon~ saranghae…” suara merdu berbisik lirih di telinganya.  Merasuk, menjalar memenuhi ruang di bagian dari rongga hatinya yang lama kosong. Seutas senyum yang lembut tak meninggalkan kesan bahagia terlukis di bibir indahnya.

“na do, saranghae…” saling menggenggam erat, seakan tak ada satupun di dunia ini yang mampu memutuskan kaitan itu. Bagaikan sepasang burung yang saling beriringan terbang bebas di angkasa setelah terlepas dari sangkar yang telah membelenggu mereka.

Nampak kebahagian menyapa. Menyajikan sebuah langit luas tanpa batas untuk keduanya. Tak memikirkan akan bagaimana selanjutnya. Hanya tau sekarang mereka bahagia. Cukup dengan semiliki satu sama lain.

“maaf gweboon… selamat tinggal. Semoga kau bahagia..” dan ketika sebuah kata perpisahan terucap. Seluruh langit menggelap. Hujan badai menghantam mengenai sayapnya hingga ia terjatuh. Tak ada lagi langit luas yang bisa ia jangkau. Tak ada lagi sinar matahari yang menerangi hidupnya. Kini dia sendirian tanpa seorang pasangan. Terperangkap di dunia lain yang lebih gelap dari sebuah sangkar.

Butiran-butiran cairan bening menuruni pipi tirus seorang yeoja yang nampak masih terlelap dalam tidurnya. Pantulan cahaya bulan yang menjadi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Membuat tetesan airmata di pipinya tampak berkilauan.

Kening wajah cantiknya berkerut. Nampak beberapa peluh menempel disana. Bibirnya bergetar menyebutkan sebuah nama. Minho…

Gweboon turun dari atas ranjangnya ketika mendengar suara berisik dari lantai bawah. Membuka knop pintu kamarnya dengan berpegangan pada dinding. Tubuhnya masih lemah.

“Good morning~” berjalan gontai ke arah meja makan lalu menarik salah satu kursi untuknya duduk.

“selamat pagi juga… OMO‼” jonghyun memekik keras saat keluar dari dapur dan menemukan wajah adiknya dengan keadaan yang tidak baik. Lebih tepatnya berantakan. Mata sembab dan lingkaran hitam yang cukup besar di bagian bawah matanya.

“Kau kenapa??” meletakkan soup kimchi ke atas meja dengan asal. Tergesa menghampiri tubuh adiknya yang nampak lunglai.

“gwenchana.. hanya Bad Dream” segera menjauhkan telapak tangan pemuda itu dari keningnya lalu mengambil soup yang menganggur di atas meja.

“benar kau baik-baik saja?” gadis itu tak menghiraukan suara yang berkicau disampingnya. Hanya fokus pada soup kimchi yang tampak lezat. Menyuapkan sesendok besar kedalam mulutnya dengan tergesa. Dia kelaparan..

“hmm, masitta~..”

“aish, harusnya aku tau kau akan baik-baik saja walau keruntuhan gedung bertingkat sekalipun”

“kau kira aku moster? Kejatuhan gedung bertingkat? nyawaku pasti sudah melayang pabho..”

“hehe.. siang ini aku kembali ke daegu. Kau benar tidak ingin ikut denganku?” gadis itu menggeleng mantap. Seharusnya pemuda itu bisa menebak dari awal jawaban gweboon.

Jonghyun memutak kedua bola matanya. Matanya menyipit ketika melihat sebuah frame besar tergantung di dinding ruang makan. Dia tersenyum miris saat melewatinya .

“seharusnya foto ini tidak berada disana..” Foto keluarganya saat masih utuh.

*

“taemin?..” gweboon dikejutkan dengan kedatangan taemin di rumahnya yang tiba-tiba.

“Hai..” sangat tidak wajar. Senyum taemin terlihat dipaksakan. Tentu saja. Pemuda itu sangat gugup.

“ada apa?” tanya gadis itu ragu. Sebenarnya dia belum ingin bertemu taemin. Mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

“aku minta maaf atas kelancanganku waktu itu noona..” gweboon bernafas lega. Setidaknya taemin datang tidak untuk memastikan jawaban gweboon.

“tidak apa. Lagi pula aku sudah melupakannya..” gadis itu tersenyum paksa.

“gomawo, aku lega mendengarnya noona..”

“Tidakkah sebaiknya kita bicara di dalam saja? Sepertinya tidak baik jika kita bicara di ambang pintu seperti ini,,” hanya basa-basi. Gadis itu tidak benar-benar menyuruh taemin untuk masuk ke dalam rumahnya.

Taemin masih mengenakan seragam kebanggaannya. Dia belum pulang ke rumah pastinya.

“tidak noona aku hanya sebentar. Sebenarnya aku kesini untuk berpamitan..”

“perpamitan? Kau akan pergi?”

“ne, pergi jauh dari seoul noona. Kami akan pindah ke jepang minggu ini”

“tapi, bukannya ayahmu masih harus menjadi kepala sekolah?”

“appa memutuskan untuk pensiun dan Mr. joon yang menggantikannya”

“mwo? Guru kimia gila itu menjadi kepala sekolah? Tidak salah?? Untung saja aku sudah lulus. Lalu bagaimana dengan jinki? Apa dia ikut dengan kalian?”

“ne, jinki hyung akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kami lagi..”

“jinjja??” kedua mata gweboon melebar seketika. Dia panik‼

“noona~”

Gweboon berlari meninggalkan taemin menuju sepedanya yang terparkir di garasi mobil. Lengkingan suara temin bahkan tak membuatnya berbalik.

Dengan hanya memakai celana pendek berwarna biru dengan kaos pink pulkadot, dan sandal rumah gadis itu terus mengayuh sepedanya.

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, gadis itu terus saja mengayuh sepedanya melewati beberapa pertokoan yang tampak ramai. Tak perduli pada peluh yang kini membasahi keningnya. Dia hanya perlu sampai kesuatu tempat dalam waktu yang cepat.

Beberapa orang yang melintas membuat sepedanya harus rela dipontang-panting kesana-kemari agar tidak menelan korban.

Clitttttttt~

Bruakk~

Menjatuhkan begitu saja sepeda yang tak bersalah. Berlari melewati lorong-lorong kelas yang telah sepi.

*

(@Infinite : BTD)

You told me I can’t have you, no matter how hard I try

I can’t let you go like this

It’s hard to deal with.. I don’t know what I should do… why why

Before the dawn, My heart isn’t pretending

Before the dawn, I want to hold onto you, no matter what

“JINKI‼” suaranya menggema di ruangan yang tampak kosong. Tak ada jinki di sana. Gweboon terjatuh di lantai. Nafasnya tak beraturan.

Dia mulai menangis. Tidak tau kenapa dirinya harus menangis. Hanya saja tak ada alasan untuk tidak mengeluarkan airmata yang membuat sesak dadanya.

“Jinki~” panggilnya ditengah suaranya yang bergetar. Gweboon bangkit, berjalan mendekati piano yang biasa dimainkan jinki. Dia teringat akan pertemuan pertama mereka.

Sampai sekarang gweboon tak mengerti kenapa begitu mudah baginya jatuh cinta pada jinki. Laki-laki yang tampak biasa namun berbeda.

Gweboon tak mengerti kenapa jantungnya tak berdetak normal setiap menatap mata jinki yang selalu terlihat lelah.

“kau menunggu seseorang?” gweboon menoleh ke arah pintu. Disana jinki berdiri, menatap gweboon. Tangis gweboon pecah seketika. Dia ingin berlari ke arah jinki lalu memeluknya. Tapi apa yang akan dipikir jinki tentangnya nanti?

Dia berusaha meredam tangisannya. “aku menunggumu..” ucapnya kemudian.

“menungguku? Ada apa?” jinki menghampiri gweboon yang berdiri di samping piano.

Gweboon memutar bola mata kucingnya ke arah piano “aku ingin mendengarmu bermain piano, sekali lagi..”

“sebenarnya aku kesini bukan untuk bermain piano. Tapi baiklah. Anggap saja ini sebagai ucapan selamat tinggal dariku” seketika airmata gweboon mengalir deras.

“hei, Kau menangis?”

“benarkah kau akan pergi jinki??” gweboon menatap lekat mata jinki dengan kedua matanya yang sembab.

“Ne, senin ini aku akan pindah ke jepang dan menetap di sana”

“kenapa kau pergi??”

“Eoh?”

“kenapa kau ingin pergi dan meninggalkanku?” gweboon mencengkeram kuat kemeja jinki. Menunduk dengan airmata yang tak henti mengalir.

“apa maksudmu?” jinki menangkup lengan gweboon. Membawa mata gweboon untuk bertemu dengan matanya.

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu hingga rasanya aku sudah mau gila karenanya. Tolong jangan pergi jinki…” tangan jinki merosot dari lengan gweboon. Membiarkan gadis itu menggerang pada kemejanya yang di cengkeram gweboon.

“gweboon.. Kau mencintaiku? Benarkah? Ku kira selama ini kau hanya..”

“perasanku tulus jinki. Apa kau tak bisa melihatnya?” jinki mengambil kedua tangan gweboon menjauhkannya dari kemeja yang kini kusut dan basah.

“maafkan aku gweboon. Tapi aku sudah pernah mengatakannya padamu dulu. Jangan mencintaiku. Kau tak akan pernah bahagia bila bersamaku..”

“kau kira dengan kau meninggalkanku aku akan bahagia?” jinki menarik gweboon kedalam pelukannya. Hanya pelukan bisa. Karena tak ia pungkiri hatinya merasa aneh saat melihat gweboon menangis. Dia tak ingin gadis itu terus menangisinya yang tak bisa menjanjikan apa-apa.

“carilah pemuda lain yang lebih pantas untukmu. Yang pasti itu bukan aku..” jinki melepaskan pelukan singkatnya pada tubuh gweboon. Gadis itu masih saja menangis.

Dia lalu menarik tangan gweboon untuk ikut duduk bersamanya di depan piano. Tangannya dengan anggun mulai menari-nari di atas tuts piano. Melantunkan sebuah lagu sebagai ucapan selamat tinggal untuk gweboon. Gadis yang mencintainya..

*

Gweboon merapikan dress soft orangenya yang masih tampak rapi. Meneliti sekali lagi penampilannya pada kaca etalase. Kemudian melirik kembali kearah jalan raya yang tak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang. Mengingat ini bukan hari libur.

Dia mulai gugup.Terus memilin ujung rambutnya dengan jari.

“noona~”

“eoh?” gweboon menoleh kearah kanan jalan. Seorang namja imut muncul di antara kerumunan orang yang melintas. Tampak kesusahan melambaikan tangan padanya. Namja itu menghampiri gweboon yang nampak bingung.

“kenapa kau disini?”

“noona menunggu jinki hyung?”

“kau tidak sekolah?”

“aku baru saja pulang” gweboon melirik jam di tangannya.

“tapi ini belum waktunya pulang?”

“tentu saja. Aku pulang lebih awal setelah menyelesaikan beberapa dokumen mengenai pindahanku. Dua hari lagi kami akan berangkat ”

“kenapa cepat sekali??”

“huh? Jinki hyung yang memintanya”

“lalu dimana dia sekarang?? Bukannya dia ingin menemuiku?”

“mengenai itu… lebih baik noona ikut saja denganku”

*

“ku rasa kita harus tanya pada seseorang. Tempat ini terlalu besar” gweboon hanya mengangguk tak memberikan solusi apa-apa. Dia masih bingung kenapa taemin mengajaknya ke tempat ini.

“bukankah ini stadion olahraga?”

“ne, Ini tempat latihan khusus untuk tim basket nasional. Nanti kita bisa sekalian nonton mereka latihan, otte?”

“GWE~ AKU LOLOS SELEKSI. AKU AKAN JADI TIM NASIONAL..”

“Hwa~ Daebak. Chukae oppa..”

Siluet kenangan muncul tiba-tiba dipikiran gweboon. Tangan yang semula dicengkram erat taemin ditariknya paksa.

“noona ada apa?” taemin mulai kawatir melihat perubahan diwajah gweboon.

“bisakah kita cepat sedikit?”

“memang ada apa noona?”

“aku tidak suka tempat ini..”

“Baiklah‼ tunggu sebentar, aku kesana dulu noona..” taemin berlari meninggakan gweboon di pinggir lapangan basket.

Kedua mata gweboon seketika beralih pada beberapa orang yang sedang asyik berlatih di lapangan.Memasukan bola basket dengan dengan atraksi yang memukau mata.

“Nanti aku tak bisa mengantarmu pulang. Hari ini aku ada latihan..”

Tubuh gweboon tiba-tiba bergetar. Dia bersandar pada dinding di sampingnya. Matanya fokus pada seseorang yang sedang bermain di tengah lapangan. Lelaki dengan nomor punggung 03.

“Oppa bisakah kau meluangkan waktu akhir pekan ini? aku ingin mengajakmu ke lotte word untuk merayakan anniversary kita yang pertama”

“akan ku usahakan gwe. Maaf, aku harus pergi sekarang pelatih sedang menungguku”

“oppa~”

“Bukankah oppa berjanji akan datang? Aku menunggumu seharian ku kira kau akan terlambat, tapi ternyata kau tak datang..”

“aku tak pernah berjanji akan datang. Aku hanya berkata akan ku usahakan. Lagipula hari itu aku ada latihan yang lebih penting dari kegiatan berkencan denganmu”

Detik itu gweboon merasakan cairan bening menuruni permukaan kulit pipinya.

“kenapa oppa mengantar jiyeon pulang?”

“dia anak manajer tim basket. Apa salah mengantarkannya pulang? Waktu itu ayahnya sedang sibuk dan memintaku mengantarkan jiyeon”

“apa ayahnya juga menyuruhmu menemani jiyeon menonton film di bioskop?”

“mwo? Siapa yang bilang? Aku tak pernah pergi dengannya..”

“apa oppa akan percaya kalau aku bilang aku mengikutimu? aku bahkan melihatmu menggandeng tangan jiyeon mesra”

“kau mengada-ada gweboon. Aku tak pernah melakukannya..”

“kau berubah oppa. Aku merasa tak mengenalmu lagi..”

“Kalau begitu kita putus saja.. ku rasa ini waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya..”

“Andwe‼ oppa~ apa yang kau katakan?”

“aku bosan mendengar semua rengekanmu. Kau bahkan tak bisa mengerti keadaanku. Aku sibuk, aku butuh banyak waktu untuk lebih fokus pada tim basketku..”

“tapi oppa..”

“maaf gweboon… kita berpisah saja. Aku harap kau menemukan pemuda yang bisa membahagiakanmu..”

“noona~ gwenchana?” taemin terlihat panik saat menemukan gweboon tengah menangis.

Gadis itu mendongak mendengar suara taemin lalu menatap pemuda itu dengan matanya yang berair. Taemin segera mendekatkan tubuhnya untuk memeluk gweboon. Menenangkan gadis itu dengan membelai punggungnya.

“Apa ada seseorang yang menyakitimu selama aku pergi noona?” gweboon melepas pelukan pemuda itu lalu menggeleng. Mengontrol dirinya untuk berhenti menangis. Segera menyeka airmata yang tertinggal.

“gwenchana~” Gweboon tersenyum. Mengisaratkan pada taemin bahwa dia baik-baik saja.

*

“loker 003..” temin meniliti satu persatu loker yang di lewatinya. Sesekali melirik pada kertas di tangannya. Memastikan bahwa nomor yang dicarinya benar.

“Ah, kurasa ini lokernya..” memastikan kembali pada catatan yang di beri hyungnya.

“apa jinki pernah menjadi tim basket nasional??” gweboon penasaran. Tidak ada yang salah. Tapi pemuda yang diajaknya biacara malah tertawa. Seolah mengolok-olok gweboon.

“huh? Noona bercanda? Jinki hyung punya penyakit jantung. Tak mungkin dia menekuni olahraga semacam ini. Itu sama saja bunuh diri..”

“jinki punya penyakit jantung??”

“noona tidak tau? Ah, mian. Seharusnya aku tau jinki hyung tak mungkin menceritakannya padamu..”

“kau tidak bercanda bukan?”

“tentu saja tidak. Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?”

“tapi…”

“ Tenang saja noona… Hyung sudah sembuh dia menerima translantasi jantung satu tahun yang lalu. Tak perlu kawatir..”

“benarkah??” gweboon menarik nafas lega. Temin hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan.

“aku heran kenapa hyung memintamu melihat isi loker ini..” taemin tampak berbisik pada dirinya sendiri. Tapi telinga gweboon menangkapnya dengan baik.

“kenapa?”

Klik!

Krettt~

Kosong.

Hanya ada sebuah kotak ungu bermotif bunga yang mereka lihat mengisi loker itu.

“kurasa seseorang sudah membersihkan loker ini”

“tunggu‼” gweboon menahan tangan taemin yang hendak menutup pintu loker. Gweboon menemukan sebuah note menempel di daun pintu. Dia mengenal tulisan tangan itu.

“catatan apa ini???” taemin membaca catatan yang tertempel di daun pintu. Gweboon nampak tak lagi tertarik dengan note yang dibaca taemin. Dia terlihat penasaran dengan kotak yang diambil taemin dari dalam loker.

“boleh aku lihat kotak itu??”

“huh?” gweboon mengambil kotak yang dibawa taemin. Lalu memeriksanya dengan teliti.

“FCM??” tertera di sudut kanan kotak itu.

“FCM?? Apa itu noona?”

“ah? Bukan apa-apa. Kita pulang sekarang??”

“tidak. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu noona”

“siapa?”

“kau akan tau nanti”

*

Wangi cokelat yang menusuk hidung tak membuat gweboon mengalihkan matanya dari pemuda yang dari tadi hanya mengaduk-aduk kopi panas yang asapnya tampak mengebul di udara.

Gweboon teringat akan sesuatu yang disimpannya di dalam tas. Mengambil benda itu lalu menaruhnya di atas meja.

“kau masih tak mau menceritakannya padaku?” gweboon berhasil menangkap mata jinki.

“aku merasa tak ada yang harus aku ceritakan padamu..”

“benarkah??” jinki mengesap pelan kopi di tangannya. Meneguknya beberapa kali walau lidahnya terasa terbakar.

“kau yang menciptakan lagu itu bukan? Lagu yang dinyanyikan minho saat menyatakan perasaannya padaku…”

“jika kau tau kenapa kau masih menanyakannya?”

“aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu”

“Apa untungnya kalau kau mengetahuinya sekarang?” jinki menatap mata gweboon yang menatapnya tajam. Kekesalan dari diri gweboon meluap seketika.

“kenapa?”

“apa maksutmu??”

“ada hubungan kalian berdua? Sejak kapan kalian kenal? dan apa maksutmu menyuruh taemin membawaku melihat loker minho?”

“kau ingin tau?”  Jinki terkekeh, dia beranjak dari duduknya lalu menghampiri gweboon.

“kau akan tau semuanya secara perlahan” melesat melewati gweboon yang masih terduduk.

Gweboon merasa sesak di dadanya. Mengepalkan kedua tangannya. Lalu mengarahkan berkali-kali pada pahanya. Dia tak merasakan sakit. Yang ada hanya sakit di dadanya.

Grep~

Tiba-tiba tangan gweboon ditarik kasar oleh seseorang. Gweboon tersentak. Diam saja saat orang itu meminta gweboon duduk di mobilnya.

Mereka berdua sama-sama terdiam, membiarkan hening mengisi ruang kosong di antara mereka berdua. Lampu jalanan yang nampak berkelap-kelip tak benar-benar menyita perhatian gweboon. Hanya seseorang yang berada disampingnyalah yang menjadi isi dari pikirannya.

Ciiiittttt~

Suara nyaring decitan rem mobil membuat kedua mata kucing  gweboon beralih pada wajah pemuda disampingnya. Pemuda itu nampak kepayahan mengatur nafasnya.

“apa apa?” gweboon melihat peluh mulai membanjiri kening jinki.

“Akhh‼! Dadaku… akkkh‼ sakit..‼”

“jinki‼ gwenchana?” Jinki terus menggeram menekan bagian dadanya. Jeritan-jeritan melengking bagaikan sayatan di telinga gweboon. Gweboon mulai panik.

Gweboon merogoh telpon genggamnya dengan tangan gemetar, mendial sebuah nomor lalu mengatakan pada seseorang disebrang sana bahwa dia membutuhkan bantuan segera.

Gadis itu mengeluarkan sapu tangan putihnya untuk menyeka keringat yang terus mengalir dari kening jinki.

“o -b-a…-t..” samar-samar gweboon mendengar bisikan jinki. Gadis itu segera mengeluarkan semua barang yang ada di dashboard mobil. Memilahnya satu-persatu mencari botol yang berisi obat.

“yang ini??” gweboon menemukan sebuah botol dan langsung membukannya. Mata gweboon berair saat merasakan jinki tak lagi menggerang. Jinki tampak diam dengan tangan masih memegang bagian dadanya.

“jinki‼ jinki‼ ini obatnya‼!”

Dengan tangan yang masih gemetaran gweboon memasukan satu-satunya tablet yang ada di botol obat itu kedalam mulutnya. Membuka mulut jinki dengan kedua tangannya, lalu memasukkan obat itu melalui mulutnya kedalam mulut jinki.

“jinki‼ bangunlah‼ ayo buka matamu‼!” gweboon mengedarkan pandangannya kearah jalan yang sepi. Tampak lengang tanpa satu kendaraanpun yang melesat melewatinya. Airmata gweboon mengalir. Dia menangis sembari memeluk tubuh jinki yang tak berdaya didekapannya.

Gweboon menggerang lagi. Di saat seperti ini, pikirannya kalud, buntu. Dia tak tau apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan jinki.

Gweboon turun dari dalam mobil lalu merogoh lagi telpon genggamnya.

“TOLONG CEPAT DATANG KEMARI‼ JINKI TIDAK BERGERAK, AKU TAKUT‼ AKU MOHON CEPATLAH TOLONG DIA..”

Tubuh gweboon merosot ketanah setelah sambungan itu mati. Tubuhnya sangat lemas dan lelah. Dia tak bisa berfikir lagi. Kepalanya pening dan mulai berkunang-kunang. Pandangannya mengabur di sela-sela airmata yang masing mengalir dari kedua matanya.

Dia  merasakan seseorang menghampirinya, bicara padanya tapi dia tak bisa menangkap ucapan orang itu sama sekali. Dan setelah itu pandangannya benar-benar gelap.

*

Hari dimana semua orang berkumpul, menangis dan menyesal adalah ketika hari pemakaman itu tiba. Tak ada yang bisa diperbuat kecuali menangis, ketika jasad orang terkasih terkubur di bawah timbunan tanah.

Begitupun gweboon, kedua matanya tak henti mengeluarkan air mata. Pedih?? Tentu saja. Dia tak menyangka akan secepat ini kehilangan orang yang dia cintai.

Ketika satu persatu pelayat mulai menyusut, meninggalkan area pemakaman. Seorang laki-laki dengan setelan baju rumah sakit di balik jas hitam yang dipakainya, berjalan setengah terpincang sembari memegang dadanya mendekati gundukkan tanah yang masih basah. Dia melihat seorang gadis tengah berdiri disana, sendirian.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kantong jasnya. Jas yang dipinjamnya dari seseorang. Dia menyodorkan saputangan itu ke hadapan gadis yang terisak.

Gadis itu mengambil sapu tangan yang disodorkan kepadanya tanpa menoleh ke arah orang yang memberi sapu tanggan itu padanya.

Gweboon dan seorang pemuda di sampingnya, berdiri termangu menatap sebuah makam. Nampak sibuk dengan pikiran masing-masing.

Gweboon melangkah pergi ketika dirasa sudah cukup rasa kehilangan yang di curahkannya dengan memandangi gundukkan tanah itu.

Seorang pemuda menatap gweboon lekat saat gadis itu melewatinya. Seperti tak merasakan kehadiran pemuda itu disampingnya.

*

Wangi rumput yang basah dan udara dingin yang mulai masuk melalui celah pakaian yang dikenakannya, membuatnya mulai tidak betah berlama-lama berada di depan pagar rumah. Menunggu adalah hal yang paling dibenci gweboon.

“tunggulah didalam sayang~ dia pasti terlambat lagi”

“tapi umma..” mata gweboon kembali meneliti jalan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah mengikuti ibunya.

“appa berbohong lagi, huh! menyebalkan‼” jonghyun menarik tangan adik perempuannya untuk duduk di sampingnya. Mood gweboon memburuk. Itu karena ayahnya yang berjanji datang tepat waktu sekarang terlambat. Ini adalah hari istimewa untuk gweboon. Hari perayaan keberangkatan gweboon. Besok pagi gadis itu akan berangkat ke jepang untuk melanjutkan studynya.

Gweboon memang tak lagi membenci ayahnya seperti dulu. Itu karena ayah dan ibunya memutuskan untuk kembali bersama.

“bagaimana tempat tinggalmu disana??” jonghyun beralih dari layar TV memandangi gweboon yang nampak sibuk dengan Iphone nya.

“huh? Lumayan, dekat dengan kampus..”

“aku ragu kau akan hidup dengan baik disana.. dalam waktu satu minggu aku jamin kau akan pulang dan merengek ‘umma aku pindah saja’”

“YA‼ kau kira aku anak kecil?”

“jjong berhenti mengganggu adikmu‼ gweboon kau sudah menghubungi jinki??”

Gweboon menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa memberitahu jinki tentang jam keberangkatannya yang di undur.

Gweboon sengaja melanjutkan kuliahnya di jepang. Alasan utamanya hanya jinki. Dia merindukan pemuda bermata sipit itu. Ingin selalu bersamanya.

Setelah malam itu, saat jinki tiba-tiba pinsan. Gweboon mengetahui bahwa jantung yang berada di dalam tubuh jinki adalah milik minho. Minho mendonorkan jantungnya pada jinki sebelum meninggal karena kecelakaan mobil.

Jinki merasa bersalah dan berhutang budi pada minho. Karena itu diam-diam jinki selalu memperhatikan gweboon, dan menjaga gweboon dengan caranya sendiri.

Gweboon memandangi Iphone nya lagi. Beberapa menit yang lalu gweboon mendapatkan sebuah pesan singkat dari jinki. Gadis itu terkekeh lalu menaruh kembali Iphonenya ke atas meja.

Dia bangkit dari duduknya saat mendengar suara deham di belakangnya. Ayahnya pulang. Itu artinya makan malam telah siap.

Sebelum beranjak ke ruang makan gweboon kembali memandangi Iphonenya. Memastikan bahwa pesan yang diterimanya beberapa menit yang lalu tak salah kirim atau dia yang salah baca. Bibir plumnya tersenyum lebar. Dia tak sedang bermimpi.

‘kim gweboon, saranghae’

END

Aneh? Gantung? Bingung?

Mian, aku gak pinter buat ending

Apapun kritik dan saran akan ku terima dengan lapang dada..

RCL, please‼ 😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “I Love You [2.2]”

  1. Thor coba flashback sama waktu sekarang itu dipisah dan di akhir flashback nya dikasih tanda apalah gitu biar org gak bingung,.aq mengira jinki yg meninggal eh ternyata itu flashback nya minho meninggal,gara2 gak ada tulisan flashback jadi bingung deh .kepanjangan FCM itu flaming charisma minho ya thor?..karya berikutnya di tunggu

  2. dkirain jinki yg meninggal,,hampir ajj nangis..
    ff ini daebak tp end y nanggung amat yakk??
    seperti y saya butuh sequel..
    ^^

  3. hampir galau karena d kira td jinki yg meninggal.. Jadi itu flashback ya?
    Setuju sm komen d ats, kalo alur flashback bisa d kasih tanda atau warna fontnya d ganti..
    Nice ff chingu-ya..

  4. Aku… Sedikit bingung sama ceritanya
    Untung kalimat yang dicerita akhirnya jelasin kalo yang meninggal itu minho
    Hehehehe tapi keren ceritanyyaa
    Pantes waktu pas itu taemin bawa gwebon ke lokernya minho

  5. Gag nyangka klo yg mninggl trnyata Minho.Agak bingung ma alurnya.Mungkin cra penyampaian author yg kurang,wkwkwk.

    Nice ff b^^

  6. Haha~bener gantung…thor XD
    mo liat pas gwe ketemu jinki lg di jepang
    tp Like dah nih FF kehkeh… 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s