Regret

Regret

Title                   : Regret

Author               : Puppysaurus

Main Cast          : Park Hae In coverd by Krystal f(x),  Lee Jinki, Kim Jonghyun, Choi Minho

Support Cast     : Another Shinee member, etc

Rating               : PG-15

Genre                : Romance, Life.

Length               : Oneshot

Summary         : Ibaratkan hujan adalah kesedihan, matahari adalah kesuksesan bukankah kita

perlu keduanya untuk menghasilkan pelangi yang tak kalah indah?

Backsong          : Suju M – Blue Tommorow, Adele – Someone Like You

A.N :

Annyeong reader ini salah satu FF Oneshot abal saya. Entah kenapa saya ingin mengirim ff ini, tak layak memang, apalagi untuk diperhitungkan, tapi saya sudah berusaha memberikan yang terbaik. Bikinnya pas galau sih… kalaupun ga galau juga tetep aja abal.. Tapi saya berharap besar semoga reader dapat memberikan sedikit tempat untuk ff saya. Jangan lupa minta kritik dan saran para reader semua.

Hanya ada Hae In pov disini. Jadi jangan bingung ya, hehehe. Semoga feelnya dapet, ameennn. Apalagi kalau baca sambil ndengerin lagu-lagu mellow, ballad begitu.. Aku sih bikinnya sambil ndengerin lagu Blue Tommorow nya Suju M atau someone like you nya Adele dan ga tau mengapa dapat feelnya… Maaf bahasanya hiper alias alay..

Gomawo. J ^>^ J

+++

Pagi ini awan masih bertengger di singgasananya sedang sang surya masih terus memancarkan pancarannya mecoba menghangatkan semua sisi kehidupan. Hawa ruangan yang hangat ini telah berbaur dengan gelak tawa, derap langkah dan bisingnya kipas angin. Orang-orang ricuh dengan hal yang mereka pikirkan, udara berhilir mudik memasuki ruangan dan menggombinasikan suasana ruangan. Segala ekspresi itu terekam disini, terekam lekat dimataku.

Sinar-sinar matahari mengoyak pertahan dinding dan menghasilkan koloid yang saling berkelap-kelip di udara dan dengan lancangnya, ia melewati sang pemilik nafas berat itu. Yang entah mengapa ruangan ini selalu menghindar dari hembusan nafas itu, hembusan yang berpangkal dari pojok ruangan yang agak temaram itu. Nafas itu berulang kali keluar mencoba menetralkan perasaan gelisah sang empu.

Ya, akulah sendiri orang itu. Ku coba menghamburkan diri di kursi itu mencoba menyetimbangkan komponen ruanganan ini, nihil. Percuma. Ruangan ini begitu keras kepala. Ku letakan kepala ke meja dihadapanku, pasrah pikirku. Lagi-lagi mencoba menikmati alunan kehidupan konyolku. Ku edarkan mataku semua penjuru ruangan, mencoba menghibur diri. Namun ruangan ini mencoba meledekku, lagi, dengan menghadirkan sosok itu di ruang ini.

Annyeong” katanya sambil mengedarkan tatapan sendunya dan menyinggungkan senyum itu. Senyum yang menghangatkan. Ku pandangi dia dari jauh, tak ada celah dari kepala hingga kaki. Masih sama, namja berwajah tegas mempesona itu masih terlalu sempurna.

Annyeong Jonghyun.ah~” terdengar suara manja itu dan mencoba menggelayut di tangan namja yang baru hadir itu. “Syukur kau sudah sembuh Jonghyun! 2 minggu seperti setahun..” kata Chae Rin menyandarkan kepalanya pada bahu Jonghyun.

“Dasar yeoja manja…” batinku sambil menaikkan sebelah alis mataku dan tersenyum sinis.

Jonghyun-ah~ kau tahu, aku sangat khawatir?” kata Chaerin mencoba mengusik pandangan Jonghyun. Jonghyun hanya bergeming, masih terus memandang jauh kearah seseorang, yang tak lain adalah aku. Aku hanya menundukkan kepala dan menenggelamkannya di bawah lingkaran tangan lemah ini. “Aku juga khawatir apa kau tahu itu?” Aku menarik nafas lebih panjang menghilangkan dahaga hati ini. Menerawang suatu yang tak pasti.

“Hoi! Bangun! Bangun!” suara itu menggelayut di pikiranku, suara khas sosok itu, ternyata menenggelamkan pikiranku jauh lebih dalam. “Bangun! Ayo bangun Hae In! Ini suatu rasa yang salah! Suatu kesalahan!” batinku mencoba menghilangkan rasa yang konyol ini.

Ya~ Hae In.ah~” kata Park Nara membangunkan dinding lamunanku sambil menggoyangkan bahuku kencang.

Neh! Waeyo?” kataku datar sambil menaikan kepalaku dan menatapnya, sedang ia masih menggoyangkan tubuhku.

Ya~ Hae In.ah~ kau darimana saja? Masa dari tadi tak mendengarkan kami bergosip?” katanya sambil menunjukan mimik khasnya, yang imut sambil mengerucutkan bibirnya.

“Iya nih! Payah kau! Lagi klimaks ni!” kata Ki bum, salah satu namja kelasku yang hobi bergosip. Yah, entahlah namja kelasku doyan sekali bergosip?!

Neh, Arraso.. Kalian sedang bergosip tentang Chaerin kan?” ceplosku datar sambil melihat ke arah mereka yang sedang membuat lingkaran disebelah kursiku. “Kau pikir ini ladang buat bergosip apa?”

Ne! Tepat! Kau lihat itu Hae In! Sok mesra sekali dia, emang siapanya Jonghyun sih?” kata Eunhyuk semakin memprovokasi gosip panas itu dan juga diriku. Tapi membuatku bertanya, sejak kapan Eunhyuk homo? Eh bukan, maksudku tumben sekali dia peduli sesama makhluk sejenisnya? Biasanya dia mendahulukan perempuan…

“Padahal kan Jonghyun sama Kim Nara ?!” kata Taemin dari arah belakang secara tiba-tiba dan menatap iseng ke arah Nara.

Mwo? Hei Taemin kau jangan asal bicara kau!” sergah Nara sebelum Taemin bicara yang tidak-tidak, dan berlari hendak memukul kepala Taemin.

Aku hanya menatap kosong mereka, menatap guratan canda diantara mereka. Kemana canda antara kami? Antara aku dan Jonghyun. Hilang, secepat itukah hilang Jonghyun? Dan kenapa kau menarik dirimu dari hidupku? Apa salahku padamu? Aku rindu saat-saat itu, disaat aku mencoba mengobati lukaku dengan melihat padamu. Apakah aku melakukan kesalahan besar? Jatuh cinta padamu? Mianhae… Tapi kenapa harus itu yang kau lakukan? Aku takkan memaksamu menyukaiku. Aku tahu, kalau kau mempunyai hubungan dengan Jung Jessica, anak jurusan Kedokteran. Aku tahu kau menyukainya walau katamu hanya bertepuk sebelah tangan. Apa kau lupa? Aku yang memberi semangat ketika putus asa. Mencoba beberapa kali untuk melukai diri sendiri untuk melampiaskan kekecewaanmu. Aku hanya ingin kau bahagia, Jjong. Setidaknya menghargai dirimu sendiri, itu lebih baik. Aku yang akan membantumu melupakan kepedihan itu. Atau aku harus memulai mengajarimu kembali di sampingku? Aku tegaskan aku tak menginginkan kau menyukaiku, aku hanya ingin kita kembali ke tempat semula. Meniadakan kehadiranmu sama seperti membunuhku diam-diam, apalagi dengan perlakuanmu pada Chaerin. Apa kau benar-benar benci padaku? Mianhae.. Ya aku akui aku memang cemburu. Apalagi dengan Chaerin.

Chaerin mantan sahabatku. Aku juga tak menyalahkannya jikalau Jonghyun dekat dengannya. Semua mempunyai kebebasan memilih teman. Tapi aku pikir ini sebuah pembalasan dari Tuhan, aku pikir, karena aku meninggalkan Chaerin terpuruk di ruangan ini. Ruangan ini semacam saksi bisu, sakit hatinya padaku. Bukan sakit hati! Karena dia memang tak punya perasaan bahkan pada sahabatnya sendiri. Aku sering ia bohongi, demi keselamatannya ataupun keperluan pribadinya. Aku bingung, terkadang aku pikir ini bukan suatu yang adil bagiku. Aku masih terus berada di samping Chaerin, bahkan dikala ia kesepian. Tapi hati memang suatu yang rawan, mengetahui apa yang tak nampak, termasuk setitik ketidaksukaanku padanya. Aku tak menyalahkannya jikalau aku selalu tak direpon olehnya. Tapi aku tulus, entah apakah aku masih menyayanginya sebagai sahabat, tapi aku tahu ini sebuah bentuk rasa sayangku pada Chaerin. Akupun tahu sekarang, aku juga ternyata, terlalu naif sama seperti Lee Chaerin.

Aku betulkan poniku yang berantakan, berdiri menghirup udara sekitar, lalu kembali duduk dan mengeluarkan ponselku yang bergetar. Ku tatap layar ponselku. Ada sebuah message masuk. Ku cermati message itu. Dari Choi Minho? Ku buka sms itu. Disela-sela aku membaca sms terdengar suara Injung, sahabatku dari kecil.

“Eh, aku dengar kemarin Choi Minho nembak yeoja sehabis tanding sepakbola ya?” kata Injung memulai mengganti topik gosip mereka. Aku memalingkan muka ke arah Injung, sedikit penasaran. Sedang Injung mulai tersenyum licik kearahku. Aku tahu benar makna senyum itu. “Hae In, Minho mantan calon namjachingumu bukan?” Dan pasti Injung tau makna tatapanku ini! “Kau Shin Injung! Mati kau!”

Neh! Benar itu Injung! Minho sudah pacaran dengan Nana.…” imbuh ki bum.

“Oh.. Kasian ya.. Yang naksir dengannya.. Apalagi yang sedang dekat dengannya.. Tapi salahnya sendiri, tahu Minho naksir berat dengannya malah ia abaikan, yah.. digaplok Nana dulu deh..” tambah Injung dan tersenyum padaku.

“O ya? Kasian sekali!” imbuh yang salah seorang yang lain.

“Iya benar! Bahkan Minho dengan tegas membelanya ketika ia menghilangkan bola tennis milik Park Seonsangnim yang galak bukan main.. Menjenguknya ketika sakit, mencatatkan catatan kelas yang kebetulan sama.. Neomu pabbo! Kalau jadi yeoja itu.. Namja seganteng Minho, disuruh menunggu.. yah digaplok orang lain dulu dong…” imbuh Shin Injung sambil melirik padaku.

Ne! neomu pabbo ya~” sambut yang lain sambil menganggukan kepala dengan kompak.

Aku hanya tertegun mendengar itu. Neomu pabbo? Apa aku terlalu bodoh? Kepala ini terasa berat. Membuatku menundukkannya. “Neomu pabbo?” kata-kata itu berputar di kepalaku.

“Minho ya~ mianhe.. mianhae..” kataku lirih dan terpaku dengan message yang ia kirimkan padaku. “Maaf atas apa yang aku lakukan padamu, aku tak sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku benar-benar bodoh, maafkan aku..” batinku. Ku tenggelamkan tanganku pada tanganku yang menengadah dan kutumpukan pada meja di depanku.

Mungkinkah apa yang kulakukan pada Minho setimpal setelah dibalas dengan ditinggalkan Jonghyun? Molla~ Tapi aku tak bermaksud seperti itu pada Minho. Aku hanya kagum padanya, tapi pada nyatanya aku terbuai dengan apa yang ia berikan. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Aku merasa hanya kagum padanya. Dan aku belum mengenal apa itu cinta, dan terlalu ceroboh soal itu. Aku tak cukup tahu bagaimana cara membalasnya, walaupun aku pernah punya cinta pertama tapi aku tak punya pengalaman tentang hal itu. Aku menghindar bukan berarti tak menghargainya, tapi karena aku tak tahu harus berbuat apa. Dan pada nyatanya namja sekelas Minho takkan pernah menunggu. Yeoja sepertiku bukanlah prioritasnya dan dalam waktu sekejap saja mereka sudah mendapatkan yang lain. Tapi aku tetap merasa bersalah dengan apapun asumsi Minho padaku. Aku merasa mempermainkannya, dan wajar iapun meninggalkanku.

Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku, aku benar-benar bersalah. Hatiku sakit mengetahui itu. Apa ini sebanding dengan apa yang mereka rasakan? Padahal bagiku ini sungguh menyakitkan.

Aku berlari keluar kelas tak tahan dengan pikiranku. Aku mau mencari udara, alibi macam picisan yang aku dapat untuk mengelabuhi teman-temanku yang menatapku aneh. Aku tahu sepasang mata itu mengarah padaku, sepasang mata Jonghyun menatapku khawatir, tapi ternyata hanya dapat menatap dan membiarkanku berlalu.

Aku berjalan menuju kantin dengan sebuah ipod yang mendendangkan lagu. Aku pikir aku bisa sedikit tenang. Seperti biasa kantin ramai, dipenuhi siswa yang membolos dari kelas mereka. Ya, didukung dengan letaknya yang strategis, sehingga mudah dijamah dari segala sisi. Namun aku mendapatkan sesosok yang penting lagi dalam hidupku yang amat lama tak ku lihat. Jinki oppa, mantan tetanggaku yang merupakan alumnus sekolah ini. Ia terlihat tampan dengan setelan jas yang kasual dengan dibalut sweater berwarna biru muda yang cocok. Menambah kharisma seorang Jinki oppa. Ia sedang duduk dan menikmati makan siangnya. Aku menatapnya, “apa oppa masih ingat denganku?”

Jinki oppa menyadari aku manatapnya secara intens dan ia menatapku sebentar,

“Hae In?” katanya menerka.

“Annyeong oppa” kataku dan mendekat kearahnya dan membungkukan badan, menunjukan rasa hormatku. Ya tentu, ia adalah cinta pertamaku dan masih ada sebersit tempat di hatiku untuknya. Pantas bukan aku harus menghormatinya? Namja yang selalu ku doakan supaya selalu sehat dan tak melupakan aku teman kecilnya yang manja.

“Hai! Kau sudah sangat besar!” sapanya sambil mengacak rambutku lembut. “Oppa kangen sekali denganmu!” katanya.

“Apa benar oppa?” kataku tersipu dan duduk di tempat temannya yang tadi bersamanya karena temannya itu pergi ketika aku datang.

Neh!  Masa oppa bohong.. Kau kangen tidak denganku?” katanya.

Neh oppa” kataku lirih. Mana mungkin aku tak kangen dengannya, 8 tahun kami berpisah dengan meninggalkan banyak kerinduan, banyak sapa dan rasa yang tak terungkap. Aku dengan oppa berpisah semenjak aku pindah dari Busan ke Seoul tanpa pamit dan ucapan perpisahan, tanpa peluknya yang amat ku rindukan. Namun 3 tahun yang lalu ku dengar ia pindah ke London untuk melanjutkan studinya sambil bekerja. Dan semenjak itu pulalah kami semakin menjauh. Namun aku selalu mengiangkan janji kecil kami bahwa jika ia sudah besar nanti, ia akan melamarku dan menikahiku karena ia telah merenggut ciuman pertamaku, ciuman lugu yang hanya menyentuhkan bibir kami ketika aku masih berumur 5 tahun.

*flashback*

Aku rasakan bibir itu menyentuh bibirku lembut. Dan sekilat itu bibir lembut itu hilang dari permukaan bibirku. Ku buka mataku dan ku lihat Jinki oppa tersenyum padaku,

“Aku telah menciummu Hae In!” katanya sambil memegang bahuku.

Aku malu dan masih menundukan mukaku. Angin sejuk pedesaan menerpa rambutku dan mengibaskan poni Jinki oppa yang menambah kesan dalam hatiku, bahwa ia adalah pangeran paling tampan dalam hidupku.

“Kau tahu tidak Hae In? Berarti aku harus melamarmu dan menikahimu!” katanya memelukku. Pelukannya membuat tubuhku hangat dan membuat wajahku semakin memerah.

“Kita akan selalu bersama!” katanya sambil mencium pipiku singkat dan ku lihat senyum indah berkembang di pipinya.

*flashback end*

“Hei! Kau sedang apa Yoon Hae In?”

Mwo?” kataku kaget ketika merasakan seseorang memegang tanganku. Ku balikan badanku dan ku dapati Nara ada di belakangku. Heran menunjukan raut mukanya ketika melihatku.

“Apa yang kau lakukan? Berdiri di tengah jalan sambil menatap alumnus itu?” lanjutnya sambil menunjuk ke arah Lee Jinki oppa. Aku kaget mengetahui bahwa aku masih berdiri disini dan hanya membayangkan sesuatu yang tak pernah terjadi. Nyatanya Jinki oppa sama sekali tak mengenaliku walaupun ia pernah satu almamater denganku, kampus ini. Sepertinya ia melupakanku.

Andwe! Aku tak menatap aumnus itu!” sanggahku menjawab pertanyaannya yang samar terdengar karena aku masih memakai headsetku.

Arraso, tapi mukanya jangan ngotot gitu dong. Eh bukankah alumnus itu bernama Lee Jinki, lulusan jurusan hubungan internasional?” katanya dengan disisipi topik Lee Jinki oppa.

Neh! Waeyo?” tanyaku.

“Bukankah dia sebentar lagi mau bertunangan dengan anak angkatan kita? Choi Richan?”

Ne! Aku dapat undangannya kok.. Tanggal 24 besok kok…” jelas Nara sambil mengangguk-angguk dan mengingat.

Mwo?” responku kaget terbata dan tanpa sengaja menjatuhkan ipodku, dan lagu yang sedang ku dengarkan menyeruak.

I heard that you settled down

That you found a girl

That you’re married now

I heard that your dreams came true

Guess she gave you thing

I didn’t give to you

Jantungku terpukul kencang, nafasku tercekat. Mataku pedih. Jiwaku tercecer tak berbentuk. “Apa lagi ini?”pikirku. Aku bingung, mati rasa. Air mata ini bagai mengalir bebas menyapu pipiku. Tubuhku bergetar. Tanganku menutup mulutku dengan rapi, mencoba menghalangi suara isak tangisku. Samar-samar ku lihat Nara bingung dengan apa yang terjadi padaku, aku memang tak menceritakan tentang Jinki oppa pada siapapun. Kepalaku menunduk menghidar dari tatapan aneh orang-orang yang melihatku. Memalukan, memang. Tapi hatiku sudah tersabotase oleh rasa, dan tak bisa bermanuver dengan apa yang terjadi. Aku tak peduli dengan orang-orang itu! Perasaanku benar-benar berada di titik nadir kali ini.

only yesterday

it was the time of our lives

we born and raised

in a summer haze

bound by the surprised

of our glory days

Aku sedih, kemana janji oppa waktu itu? Sebegitu mudahkah dilupakan? Aku kira kita bisa terus bersama selamanya oppa.. Aku menunggumu 8 tahun, menempatkanmu di dalam hatiku yang paling dalam. Mengingatmu ketika ku mulai jatuh hati pada yang lain. Menunggumu setia! Mendoakanmu! Mengingat janji konyol itu! Mengingat senyummu walau mulai samar! Menghiasi mimpiku dengan sosokmu. Jutaan kata yang ingin ku sampaikan menguap seiring dengan jejalan kenangan antara kami. Mulai dari bermain bersama. Oppa mengajariku membaca, menulis, tersenyum malu, bersepeda, dan setia. Mengingat insiden penyekapanku dulu ketika oppa tak mau aku pergi ke rumah nenek karena tak mau berpisah denganku, rumah oppa waktu itu dikunci dari dalam oleh oppa, sehingga ajumma dan ajushi terpaksa membobol atap agar bisa masuk dan mengeluarkanku. Mengingat tangisan oppa ketika aku harus pindah.

old friend

why are you so shy ?

aint like you to hold back

or hide from the light

Apa sudah tak berarti? Oppa benar-benar lupa pada sosokku? Atau pura-pura lupa? Karna telah dapatkan yang lebih oppa suka? Aku benar-benar kecewa oppa! Kiranya aku akan bisa bersanding dengan lelaki tampan berwajah oriental nan hangat, sepertinya. Berdampingan dengan pemuda berperawakan gagah seperti oppa. Tangan kananku memegang dadaku yang terasa mulai sakit.

I hate to turn up out of the blue uninvited

but I couldn’t stay away

I couldn’t fight it!

Sakit! Apa tuhan tak tahu, ia terlalu banyak memberi masalah padaku hari ini? Apa tuhan sadar aku sudah tercekik begini? Tuhan ingin melihatku menjadi lebih buruk? Apa tuhan sadar aku tak bisa bersandar pada siapa-siapa? Tapi kenapa tuhan memberikan ini semua padaku? Buncah hati ini menyimpan semuanya, semuanya yang ku pendam sendiri. Isakanku tak tertahan, Nara hanya merangkulku dan mengelus punggungku, mencoba menghentikan tangisku. Kata-kata eomma waktu itu terdengar jelas di telingaku. Membuat kilatan ulasan terproyeksi jelas di otakku. Mengingatkanku tentang apa yang baru ku sadari hari ini. Ternyata benar kata eomma.

 “Jangan pernah menyiakan orang yang ternyata kau suka dan iapun menyukaimu, walaupun kau tak bisa membalasnya tapi tetaplah hargai ia. Jangan meninggalkan sahabatmu dalam kesulitan bantulah ia dengan apa adanya dirinya. Jangan menjodohkan teman yang menyukaimu dengan orang lain, mereka akan menganggapmu perempuan yang tidak baik.  Itu perbuatan yang tidak baik, mereka akan membalasmu nanti dengan cara yang lain..” Aku menggigit bibir bawahku menahan isakan ini yang mulai membuncah. Tangan kananku meremas bajuku. Tubuh bergetar hebat. Air mata ini terjun hingga membasahi lantai. Nara memelukku erat, iapun menangis. Ia menuntunku keluar dengan tertatih, diiringi Injung serta Sunyeong yang tak kutahu kapan mereka datang. Sudah tak layak untuk ditonton umum mungkin pikirnya.

“Hae In  jangan menangis..”

“Kau harus percaya bahwa tuhan sebenarnya adil kalau kau mampu keadilanmu sendiri!” kata Nara diplomatis disesali dengan isakan.

“Kau adalah pemain utama dalam kehidupanmu! Dan semuanya akan berakhir dengan penuh makna karena kau adalah pemain utamanya! Hargai dirimu sendiri!” kata Injung sambil menangis hebat karena ku tahu ia memang sensitif, tak tega melihat apapun yang menyedihkan.”Jangan bodoh seperti ini!” lanjutnya.

“Tuhan itu tahu, tapi ia menunggu! Tuhan itu paham, tapi menahan!” kata Sunyeong  tegas seraya memelukku dari depan. Dia teman lamaku yang selalu tabah, sahabat yang selalu tegar. “Sudahlah… Ini bukan waktunya mungkin…”bisiknya.

nothing compares

no worries or cares

regret and mistake

they are memorize made

who would have known

how bitter sweet this would taste?

Aku samar-samar melihat mereka tersenyum sambil mengepalkan tangan mereka, memberi semangat padaku. Aku tersenyum getir. Entah kenapa aku merasa beruntung, melihat senyuman mereka. Aku merasa tenang. Segala yang kesedihan yang ada menguap entah kemana. Otakku berputar, hatiku merasa suatu pertanyaan yang harusnya sudah ku tanyakan sejak dulu. Aku terlalu bodoh bagi para pemikir kritis. Kenapa aku tak menyadari aku punya sahabat yang setia di kala aku jatuh seperti ini? Mianhae… seharusnya aku tahu itu bukan? Mianhae… Aku takkan mengulang ini lagi! Kini aku merasa lebih beruntung, Kenapa harus menyesal! Ini jalan dari tuhan! Benar kata mereka! Karena Tuhan selalu memberikan apa yang terbaik untuk kita. Semua kesakitan yang ada di dalam hatiku menguap lagi, menyetimbangkan angin sepoi taman kampus saat itu. Harum bunga mawar taman menyerbak seolah menenangkanku. Senyum sahabatku masih terus terkembang menentramkan jiwaku yang rapuh dengan segala mimpinya yang murni. Awan mendung di hatiku telah terevaporasi, dan air hujanpun telah mengering. Terbentuklah sebuah pelangi lembut di atas awan walau matahari tak terlihat, tapi amat lembut dan menyentuh hatiku. Ibaratkan hujan adalah kesedihan, matahari adalah kesuksesan bukankah kita perlu keduanya untuk menghasilkan pelangi yang tak kalah indah?

“Ya! Setidaknya  aku punya sahabat seperti kalian! Aku takkan menyesal lagi! Mungkin Tuhan bermaksud menyadarkan ku kalau aku sangat beruntung dengan memiliki kalian….” teriakku sambil menyeka air mataku dan disambut dengan pelukan ketiga sahabatku.

never mind

I’ll find someone like you

I wish nothing but the best for you too

“don’t forget me!” I begged.

“I’ll remember” you said

Some time it lasts in love but some time I hurt intstead

Dan ku lihat sosok itu berdiri disana  lurus tepat dihadapanku yang berjarak beberapa meter darinya dan iapun tersenyum lega padaku. “Aku tahu kau tegar Hae In! Aku percaya itu!” kata mata sendu itu dan, lagi-lagi, hanya menatapku dari tempatnya.“Ya! Aku beruntung!” batinku sambil menyinggungkan senyuman lebar menjawab pernyataan itu. “Aku lebih beruntung daripada mereka!” Aku adalah batu karang yang tegar atas ombak. Aku adalah kapas yang lembut walau tak terangggap. Aku duri mawar yang terabaikan karena tak seindah sang ratu. Aku manusia yang siap jatuh, karena aku adalah aku. Aku harus tegar! Karena aku adalah aku!

Ne! Gomawoyo!” teriakku sambil mengeratkan pelukanku pada sahabat-sahabatku dan membalas senyuman itu dengan sebuah senyuman terhangat yang aku punya. Kau tahu salah satu yang tak ku seselai dari semua ini, Jonghyun? Jatuh hati padamu, membiarkan aku jatuh hati padamu, bukan kepada Minho ataupun yang lain dan membiarkan rasa ini semakin besar dan biarkan waktu yang menjawabnya.

___END___

Annyeong-annyeong! Otthe? Otthe? Amatiran sih memang, tapi aku harap reader bisa menikmatinya. Dapet feelnya, dan bisa nangis bombai, tapi kayaknya ga dweh.. Ceritanya Hae In itu anak yang bener2 ga peka sama cowok, beberapa kali berpura-pura bodoh mungkin. Hehehe.. Saya tunggu kritik dan sarannya ya ^^ NO SILENT READER!! nanti timbal balik loh… 😛 *pura-pura mati*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Regret”

  1. Tunggu, aku rada nggak ngerti sama cerita ini, khususnya tentang Jonghyun. Jadi kenapa Jonghyun menjauhi Haein? Maaf, ini otakku agak eror, bzz.. -..-

    Terus ini juga “Ku tenggelamkan tanganku pada tanganku yang menengadah dan kutumpukan pada meja di depanku.” Typo ya? Rancu banget, ga bisa bayangin aku.

    Diksinya keren bangeet, cara penuturannya juga jelas, nilai moralnya dapet banget :’)

    Nice story ^^

  2. Wow sama kaya zakey eon,,diksinya keren ^.^,neomu joa!.
    Tpi deskripsinya kurng,,kya tempat misalnya.Itu aqu kurng ngeh.

    Gag nangis sih aqu,,tpi sedih ajj.Entah kenapa,muehehe.
    Naas bnget si Hae in,biarlah dy kna karma,wkwkwk.
    Jdi hae in-jjong sama2 suka?.Mirisnya wktu bgian hae in-jinki,,serasa dejavu untukku..lol.Engga ding,agk beda,humm.

    Keep writing ^.^

  3. hmmm,,
    mian author aku rada ga ngerti..
    Hae In kasian amat ga dapat sapa2,,
    tapi tenang sepertinya masih ada harapan sama Jonghyun oppa
    #meskipun aku ga ikhlas
    #dburu author

    sedih sich cuman ga ckup bkin mata sembab krna nangis,,
    mian klo banyak kritik..
    fighting thor,,
    di tunggu karya selanjutnya..

  4. aku baca cerita ini sambil dengerin lagunya suju yg blue tomorrow kayak yg disaranin,
    langsung berkaca kaca bacanya :’)
    dapet kata2 dari mana lagi bagus banget, apa jangan2 malah ngarang sendiri lagii…
    bguss bangett, ayo bikin lagi,

    #mentang mentang lagi galau jga, ahaha

  5. kasi jempol buat mu thor.
    sula banget ma kata2 ibarat hujan itu kesedihan matahari kesuksesan kita butuh itu untuk pelangi yang indah…
    yuhuuuu
    yap betuk penyesalan itu memang datang terakhir. setiap kejadian itu pasti ada makna nya.
    segala sesuatu indah pada waktunya.
    *ngelantur.
    heee
    keep writing!!!!

  6. keren… tapi kasian..
    cinta pertama emang gak pernah mati.. 8tahun juga masih ditungguin
    kirain bakal sama onew, ternyata cuma jonghyun yg masih disana memberikan senyumannya 🙂

  7. kasian Hae in, gag dpt onew,minho atau jong. mgkn suatu saat cintany kn brlabuh di Taemin/Key???kekee…#plak
    fanficny kereen,thor…^^
    keep writting!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s