The Devil – Part 11 (End)

The Devil [11] : Death and Birth (End)

Title : The Devil

Author : Bibib Dubu & mybabyLiOnew

Main Cast : Park Eun Hee, Lee Chaeryn, Shinee Member

Support Cast : Jung Yunho, G-Dragon

Length : Sequel

Genre : Mistery, Family, Sad, Fantasy

Rating : PG-15

Pesona pagi yang indah tidak dapat dirasakannya. Oksigen segar yang ada di sekitar terasa tidak mau berbagi dengan paru-parunya. Ia menggeliat, masih mengerjapkan matanya heran. Berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam hingga ia tertidur di sofa dengan bagian perut yang tidak tertutup kemejanya. Sayangnya, gagal.

Memang ada kalanya manusia tidak bisa mengingat apa yang terjadi dalam hidupnya karena daya ingat manusia terbatas, hanya beberapa orang yang dikaruniai kemampuan daya ingat tajam saja yang bisa mengingatnya dengan mudah. Terlebih, apa yang dialami Jinki bukanlah hal biasa.

Jinki pasrah, lelah memeras otaknya. Kini telinganya siaga pada keributan kecil yang mengusiknya dari arah luar. Ia mengenal salah satu suara itu dengan baik.

Ani, oppa-ku tidak mungkin membunuh!”

Deg,

Itu suara Chaeryn. Jinki terlonjak kaget, berusaha memaksakan tubuhnya yang lemas untuk keluar. Dalam otaknya ia berpikir, ini memang sudah waktunya. Dampak atas pilihannya untuk menjadi pembunuh. Dan inilah keputusan Eun Hee, melaporkannya pada pihak berwenang.

Sakit? Ya, sakit. Selain merasa kecewa atas sikap penolakan Eun Hee, ia tidak tahu harus menjelaskan apa pada Chaeryn.

“Tapi kami punya laporan kuat. Gadis manis, inilah hidup—fakta yang sebenarnya belum tentu sama dengan apa yang tampak. Sekarang, izinkan aku bertemu oppa-mu.”

Orang itu Jung Yunho, yang akhirnya menjejakkan kaki ke rumah Jinki setelah mendapatkan laporan dari Eun Hee.

“Kau pasti salah, pelapor itu pasti berbohong. Untuk apa oppa-ku membunuh?”

“Dia tidak salah.”

Pintu terbuka, muncullah Jinki yang berusaha berdiri tegak karena tak ingin tampak lemah di hadapan dongsaeng-nya.

“Aku memang melakukan itu. Mianhae… aku adalah oppa terburuk yang pernah ada. Tapi, aku punya alasan untuk semua tindakanku. Kau tidak perlu tahu—karena secara normatif, aku memang melakukan sebuah kejahatan. Ryn, setelah ini pulanglah dan tinggallah bersama appa dan umma, aku tidak akan membiarkanmu tinggal sendiri di rumahku. Aku tidak bisa menjadi pelindung dan pengisi harimu lagi. Mianhae….” Jinki membungkuk ke arah Chaeryn sebagai lambang permintaan maafnya yang mendalam sekaligus bentuk penyampaian rasa malunya.

Chaeryn terjatuh lemas di lantai. Air matanya mendarat sempurna bak hujan deras yang menghujam ke bumi, lantai menjadi sasaran cairan bening tersebut kini.

Yunho terdiam, terharu melihat pemandangan kakak-beradik ini, terlebih ia tahu cerita lebih lengkapnya dari Eun Hee, Key, dan Minho. Ia tahu, kisah ini muncul karena kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Yoochun ingin mengambil Chaeryn, dan Jinki ingin mengambil Eun Hee. Sayangnya, Jinki dan Yoochun terlanjur saling membenci dan memiliki penilaian buruk terhadap satu sama lain.

Yunho menahan diri. Untunglah ia tidak sampai mengungkapkan pada Chaeryn kalau salah satu orang yang dibunuh Jinki adalah Yoochun, kakak kandung Chaeryn sendiri. Juga, tidak mengatakan kalau semua pembunuhan beruntun yang dilakukan Jinki—adalah karena ingin melindungi Eun Hee, kakak kandung Chaeryn juga.

Yunho melakukan hal yang sama, membungkuk di hadapan Jinki, dengan maksud yang hanya ia ketahui sendiri. Ya, penghargaan untuk Jinki yang telah menumpahkan segenap kasih sayangnya pada kedua adiknya yang bahkan bukan saudara kandungnya. Juga, sebagai bentuk permintaan maafnya pada kedua Lee bersaudara ini, karena posisinya kali ini adalah sebagai tim penyidik—yang mau tak mau mendasari tindakannya dengan hukum negara.

“Mari ikut aku, Lee Jinki-ssi…,” ujar Yunho pelan seraya memborgol tangan Jinki dan mengiringnya ke mobil, berusaha mengabaikan tangisan Chaeryn yang makin meraung menyaksikan kepergian kakaknya.

+++++

Ia tidak bahagia begitu saja karena kisah ini telah menemukan titik akhir. Yeoja itu terlunta di jalanan yang terik. Semalam setelah melaporkan Jinki kepada pihak berwenang, ia tidak bisa memejamkan matanya. Rasanya seperti dihantui mimpi buruk, sayangnya yang menghantuinya bukan lagi mimpi, tapi realita yang menghantam hidupnya. Hingga pagi tiba, perasaannya makin tak menentu, ia memilih menyalurkan rasa tertekannya pada jalanan.

Rambutnya sudah tidak tersisir rapih lagi, bahkan aroma matahari telah menyatu dengan untaian mahkota bagian atas kepunyaan wanita itu. Wajahnya sudah sedikit berkilat-kilat, berminyak, dan ditempeli berbagai debu dari jalanan yang ditapakinya.

Orang yang ada di jalanan memperhatikannya, lebih tepat menganggapnya seperti orang gila. Sesaat tersenyum, tertawa, dan kemudian terisak meronta terduduk di jalanan.

Kenangan akan kisah indah dan pahitnya bersama Yoochun, muncul silih berganti dengan sosok Jinki yang memohon untuk dipanggil oppa. Akalnya tak mampu menilai mana yang salah dan mana yang benar—ia hanya tahu hitam dan putih yang dilaluinya bersama Yoochun saat mereka belum terpisah, saat ia masih suci—belum berstatus sebagai wanita pekerja malam.

Ia teringat bagaimana Yoochun berpeluh keringat untuk menghidupinya di tengah kerasnya jalanan, belum lagi hutang yang timbul karena Eun Hee sempat sakit. Hutang itulah yang menyeretnya pada peristiwa di mana mahkotanya terenggut untuk yang pertama kali. Mengingat itu, dan segala alasan Yoochun memilih ‘mempekerjakannya’, membuat Eun Hee tertekan setengah mati.

Berganti dengan bayangan Jinki ketika pertama kali datang dan ketika ia menangis karena mengira dirinya juga telah bermain di ruang panas bersama Eun Hee, membuat yeoja itu menyadari bahwa yang Jinki lakukan pun dilandasi oleh rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Namun yang membebani pikirannya kini, ia baru saja melaporkan Jinki!! Ini membuatnya gila, merasa bersalah sekaligus menyesal, karena tidak hanya kehilangan Yoochun—tapi juga kehilangan Jinki.

“Jinki Oppa!!!!” ia berteriak pada jalanan, membuat perhatian orang-orang sekitar tertuju padanya dengan tatapan miris.

Seorang namja datang menghampirinya, mengarahkan telapak tangan pada orang-orang sekitar sembari berkata, “tenang, aku mengenal yeoja ini.”

Sang namja tadi segera meraih tangan Eun Hee, ia menghentikan sebuah taksi yang melintas. Eun Hee hanya menurut melihat sosok yang dikenalnya itu. Ia hanya tertawa-tawa tanpa arti dengan sosot mata yang penuh kehampaan.

Keduanya tiba di sebuah tempat. Sang namja mengarahkan langkah Eun Hee ke dalam bangunan itu, rumahnya. Ia segera mengunci pintunya sembari tersenyum penuh kemenangan. “I got you….

Namja tadi menghampiri Eun Hee yang sudah menyandar lemas pada dinding yang ada di belakang sofa yang didudukinya. Ia mendongakkan wajah Eun Hee, mengelus pipinya, dan meraba bagian bibirnya. Mata namja itu berkilat penuh nafsu, kemudian kedua telapak tangannya saling bertemu, saling mengusap dengan gigi deretan atas yang menggingit bibir bawwahnya.

“Sekarang giliranku, setelah lama hanya bisa memendam hasrat dari balik meja bar, kini aku akan menikmatimu. Tak peduli walau kau kini tampak seperti orang gila, bagiku kau tetap primadona terindah yang pernah ada,” bisik namja itu ditelinga Eun Hee.

Yeoja itu hanya tertawa, tawa yang muncul di luar kendalinya, “Hehe… ne, aku primadona terindah… kau berani membayarku berapa?” ia meracau, menarik kepala sang namja mendekat ke wajahnya.

“Gratis ya? Hanya sekali kok… profesiku sebagai bartender tak memungkinkanku untuk membayarmu… aku punya keluarga yang harus kuhidupi… kau hanya sarana pemenuhan obsesiku, hahaha…,” orang itu terbahak kesetanan, girang karena akhirnya ia tidak sekedar menjadi penonton atas kemolekan tubuh Eun Hee.

Mwo? Tidak boleh! Kau harus bayar… karena uangnya akan pindah tangan ke Yoochun oppa kesayanganku…,” Eun Hee terisak sambil tertawa-tawa tidak jelas.

“Ckck… malangnya… kau jadi gila ya? Ah, peduli amat, kau masih cantik, Honey….”

Namja yang tak lain adalah bartender di bar tempat Eun Hee berkerja itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku celananya.

“Obat ini manjur untuk menidurkanmu, terpejamlah dengan damai, Honey….”

Ia membuka botol itu dan memaksa mulut Eun Hee terbuka, kemudian membiarkan bubuk itu memasuki mulut Sang Primadona.

Sraakkkkk,

 

Namja itu roboh karena cabikan yang mendarat di punggungnya, yang seketika membuat darah segar mengaliri tubuh kotornya. Rupanya ada seorang pahlawan yang ditakdirkan Tuhan untuk mengamankan Eun Hee kali ini.

“Hai namja tampan…,” gumam Eun Hee pada orang yang tampak pada pandangannya setelah si bartender tadi terkapar tak berdaya di lantai. Suara mulut Eun Hee lebih mirip seperti igauan karena ia memaksakannya di sela ketidaksadarannya melawan reaksi obat kantuk. Tidak lama ia terpejam, terseret ke alam peralihan hidup dan mati, ya—alam tidur.

“Tidurlah Sayang… kau lelah… Aku akan membawamu pada Minho,” ucap sang penolong tadi dengan lembut.

Ia terduduk sebentar karena masih merasa shock setelah lama tidak membunuh manusia. Ya, dia sudah lama tidak melakukan aksi sadis nan mematikan tersebut. Dan kau pasti sudah menebak siapa ia. Ya, dia Kim Jaejoong—makhluk yang masih satu jenis dengan Taemin.

Ia hanya memandangi sosok yang barusan roboh tadi, yang ia yakini telah menjadi mayat. Biasanya ia melakukan ritualnya. Tapi kali ini tidak, karena ia tahu—tanpa ataupun dengan memangsa hati sang korbannya itu, ia akan tetap musnah karena kesalahan yang telah ia perbuat.

“Tidak apa, demi kau, Sayang….” Jaejoong membelai rambut Eun Hee, yeoja yang ia cintai diam-diam. Yeoja yang datang ke cafe-nya pada suatu hari—yang memberinya kesan mendalam karena yeoja itu mau menggendong seorang nenek tua yang akan menyebrangi jalanan di depan café Jaejoong. Karena yeoja itu tidak marah-marah—bersikap kasar—ketika pesanan kopinya tidak sengaja Jaejoong tumpahkan sehingga meninggalkan bekas noda di kemejanya.

Pesona hati dan kecantikan yeoja itu memikat hati Jaejoong yang selama ini tidak berani mendekati kehidupan yeoja itu—ia khawatir jiwa devil-nya muncul jika ada pemandangan menyakitkan ketika ia berada di sekitar yeoja itu, karena nyatanya beberapa kali ia pernah terpancing untuk membunuh seorang ajussi yang habis bermain dengan yeoja itu.

“Ckck…,” rupanya ada sosok lain yang mengamati pemandangan tersebut. Sosok itu masih berdiri di ambang pintu, lebih tepatnya bersandar di salah satu sisi kusen pintu.

“Kau rupanya, Dragon. Apa maksud kedatanganmu? Apa waktu kemusnahanku sudah tiba?” Jaejoong pasrah melihat kedatangan teman sebangsanya ini.

Dragon bukanlah devil biasa, dia adalah devil kepercayaan sang penguasa negeri. Kedatangan Dragon ke dunia manusia pastilah memiliki maksud istimewa, begitulah yang dipikir Jaejoong.

Dragon tidak membalas pertanyaan Jaejoong, ia hanya meletakkan tangannya di dagu dan mengusap-usap dagunya yang runcing.

“Baiklah, aku tahu. Tapi, izinkan aku mengantarkan yeoja ini ke rumahnya. Aku tidak ingin ia ditemukan di tempat pembunuhan ini,” Jaejoong membungkuk pada Dragon, berharap Dragon mau memberinya waktu.

“Hmmm… by the way… kau harus berterima kasih pada Lee Taemin. Karena dia, kau tidak jadi musnah,” akhirnya Dragon membalas, tetap dingin.

“Maksudmu? Memangnya apa yang telah Taemin lakukan sampai bisa menyelamatkanku?”

+++++

Terlepas dari segenap kebenciannya pada Jinki, Key merasa iba melihat kondisi Chaeryn sore itu. Sejam yang lalu yeoja itu muncul di depan rumah Key, bersama Hyeri tentunya. Bahu Key bagaikan pelampiasan kesedihan yang bercampur dengan amarah dari lubuk hati Chaeryn, air mata yeoja itu tumpah di bahu Key.

Merasa tergerak dengan kisah persaudaraan yang mengharukan—di mana para oppa berusaha mati-matian untuk mendapatkan dongsaeng-nya agar bisa hidup bersama—yang berakhir dengan kisah pembunuhan, membuat Key mengajak Chaeryn pergi ke suatu tempat dengan dalih akan membawanya ke tempat yang menghibur.

“Key Oppa, tempat apa ini?” Chaeryn yang kepalanya sudah terasa sakit karena terlalu banyak menangis, hanya bisa bertanya pasrah walaupun ia sudah menerka kalau ini adalah tempat yang konon dianggap ‘tempat yang menghibur’.

Key hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Ya, tempat ini memang tempat hiburan—tempat ia bertemu Eun Hee, tempat kerja Eun Hee. Kedatangannya kemari bukan ingin menyeret Chaeryn ke dalam dunia gemerlap semu, melainkan untuk mempertemukan ‘para dongsaeng’ dalam kisah persaudaraan mengharukan tadi.

Di pintu masuk ia berpapasan dengan Minho, “Hyung?” Minho merasa heran karena kedatangan Key kali ini diikuti oleh kemunculan seorang yeoja.

“Minho-ya…,” Key menatap Minho ragu, dalam otaknya ia ingin mengatakan banyak hal, tapi ia tidak ingin mengucapkan nama Jinki, Eun Hee, maupun Yoochun di hadapan Chaeryn.

“Kalau kau mencari Eun Hee, dia sudah tidak kerja di sini lagi sejak kemarin.”

Minho yang tak mengerti maksud Key, hanya berucap dingin. Sikapnya itu timbul bukan karena rasa bencinya pada Key, melainkan karena perasaannya yang tengah kacau balau melihat keadaan Eun Hee yang semalam dibawa ke rumahnya oleh seorang namja asing.

“Di mana dia sekarang?” Key cemas, ia tahu Eun Hee pasti tertekan setelah melaporkan Jinki ke pihak berwenang. “Ah, Minho-ssi, bisakah kita bicara di dalam mobilku?” Key segera menahan rasa penasarannya, ia tahu hal yang akan dibicarakannya adalah hal yang sangat rahasia, sehingga mengkhawatirkan jika percakapannya dilakukan di  depan pintu masuk klub malam ini.

Chaeryn hanya memandangi Key dengan tatapan tidak mengerti. Ia masih menerka-nerka siapa sebenarnya sosok Eun Hee yang dibicarakan oleh dua namja di hadapannya ini.

Sementara Minho, ia masih berpikir apakah ia akan menuruti permintaan Key atau tidak, di satu sisi pandangannya tertuju pada Chaeryn. Bukan karena terpikat oleh kemanisan rupa yeoja itu, melainkan karena teringat pada sosok manis lainnya, Eun Hee yang sangat ia cintai—bukan karena kemanisannya rupa Eun Hee sebenarnya, tapi karena alasan yang sama sekali tak bisa ia terka atau lebih pantas disebut tidak beralasan.

“Baiklah,” Minho menyetujui. Sebenarnya ia enggan memberitahukan keadaan Eun Hee lebih detail, ia tidak tega membeberkannya pada orang lain. Tapi wajah Chaeryn menimbulkan pikiran di otaknya. Ya, menerka-nerka apakah ini sosok ‘adik’ yang dimaksud Yoochun.

Ketiganya berjalan ke arah mobil Key yang terparkir di depan klub malam tersebut, Chaeryn kali ini memilih duduk di baris kedua—membiarkan tamu Key duduk di barisan depan.

“Baik, sekarang siapa yang akan bercerita?” Key membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan pengantar.

“Aku. Tapi sebelumnya, jelaskan siapa yeoja ini?” Minho memutar tubuhnya sedikit hingga kepalanya bisa menghadap Chaeryn yang ada di jok belakang.

“Dia Lee Chaeryn, adik Lee Jinki… Minho-ya… kumohon, jangan lakukan hal yang bisa menyakiti orang.”

Key turut melirik ke arah Chaeryn, muncul perasaan tidak tega pada yeoja itu, juga muncul rasa khawatir kalau-kalau Minho menyinggung masalah Yoochun lebih dalam.

“Bagus. Sekalian Hyung, kebenaran tidak sebaiknya disembunyikan, cepat atau lambat dia akan tahu. Geurae, Chaeryn-ssi, kau perlu tahu siapa Eun Hee yang akan kami bicarakan. Dia adalah eonnimu….”

Aniyo, dia bukan. Saudaraku hanya Jinki oppa, tidak akan kuakui yang lain.”

Chaeryn yang sedari tadi hanya menyimak sambil bungkam, kini mulai buka mulut. Ia masih gengsi untuk mengakui seorang pelacur sebagai kakaknya, terlebih lagi karena Eun Hee-lah, perhatian Jinki untuknya sangat berkurang drastis.

“Suka atau tidak, dia adalah kakakmu, ya, seorang pekerja malam. Chaeryn-ssi, sulit memang. Tapi nyatanya dia adalah saudara kandungmu. Dan kau tahu Jinki ditangkap atas dosa apa? Dia telah….”

“Minho-ya, cukup!” Key menyela, ia iba melihat wajah Chaeryn yang kembali berlinang air mata. Terlebih Key bisa menebak apa yang akan Minho ceritakan selanjutnya.

Hyung, biarkan nona ini tahu. Kulanjutkan, margamu yang asli adalah Park, ya, sama dengan Eun Hee dan seorang saudaramu lagi, Park Yoochun. Dan kau tahu bagaimana kabar kedua saudara kandungmu? Yoochun tewas dibunuh oleh oppa kesayanganmu. Karena kematian Yoochun, Eun Hee yang sejak kecil diasuh Yoochun pun depresi—terlebih setelah mengetahui bahwa Jinki yang membunuhnya. Eonni-mu…,” Minho mengehentikan ceritanya, bukan saja karena Chaeryn yang makin terisak, melainkan juga karena dirinya tak kuasa lagi menahan air matanya, kesesakan memenuhi rongga dadanya.

“Eun Hee kini tampak seperti orang tidak waras—dimulai sejak ia melaporkan Jinki ke polisi,” Minho melanjutkan ceritanya setelah ia membiarkan air matanya tumpah untuk beberapa saat.

“Cukup! Aku bilang cukup, jangan dilanjutkan… Aku akan menjelaskan di saat kondisinya tenang. Minho-ya, kumohon dengan hormat, keluar dari mobilku sekarang….” Volume suara Key makin melemah, suaranya sudah bercampur dengan isak tangis.

“Baiklah… aku dilarang, apa boleh buat. Chaeryn-ssi, temui aku kalau suatu saat hatimu sudah tergerak untuk menemui eonni-mu… Ini kartu namaku.” Minho membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar kartu nama untuk kemudian diberikan pada Chaeryn.

Chaeryn hanya terpaku, masih dalam tangisnya. Diabaikannya pemberian Minho hingga akhirnya namja itu hanya membiarkan kartu namanya melayang dan mendarat di lantai mobil.

“Aku pergi,” Minho kesal. Ia berlalu dari mobil Key sambil mengusap-usap wajahnya kasar untuk meredam emosinya.

Sepeninggal Minho, Key beranjak ke jok belakang, memeluk Chaeryn yang tangisnya makin pecah. Dipeluknya yeoja itu dengan erat, ikut terhanyut dengannya dalam tangisan. Hanya saja tangis Key lebih tenang daripada Chaeryn.

Uljima… aku tidak tega melihatmu seperti ini…. Ryn, ikut aku ke suatu tempat. Aku akan membuatmu tenang…,” Key berucap lirih, yang disambut oleh anggukan yeoja yang masih berada dalam dekapannya itu.

Diusapnya puncak kepala Chaeryn dengan lembut, muncul perasaan ragu namun ia menguatkan diri untuk melakukan suatu hal. Di satu sisi Key puas karena Jinki sudah berada di tangan polisi, meskipun rencana awalnya untuk menghabisi Jinki urung ia lalukan.

Satu masalah lagi kita selesaikan hari ini Ryn, pikir Key dengan mantap pada akhirnya.

+++++

Message From : Unknown Number

Taemin-ssi, jemput Chaeryn sebentar lagi di Hotel Bling. Aku yakin ia akan sangat lemas setelah bermain bersamaku. Aku akan meninggalkannya yang kini terlelap di kamar 523.

Ini aku, Key

 

Kalap, itulah yang dirasakannya. Seketika amarah berkecamuk hebat di dalam dirinya. Prasangka buruknya terhadap interpretasi atas makna pesan singkat tersebut yang memicunya. Ia segera melesat, mengambil motor Jaejoong dari garasi dan melaju dengan kecepatan penuh menuju tempat yang dimaksud, sebuah hotel kelas bawah yang dikenal sebagai tempat bermain pasangan nakal.

Sementara di salah satu kamar hotel tersebut, Key baru saja memastikan kalau Chaeryn sudah terlelap setelah lelah dengan tangisnya. Ia mengusap kening Chaeryn pelan agar peluhnya tidak lagi memenuhi bagian atas wajah yeoja itu, “Tidurlah yang nyenyak Ryn… dan kuharap kau tidak terbangun hingga akhir. Mianhae aku memanfaatkanmu, tapi kau-lah jalanku… aku harus melakukan ini….” Ia memasukkan kembali handphone Chaeryn yang dipinjamnya ke dalam tas selempangan pemiliknya.

Diangkatnya tubuh yeoja itu dan ia letakkan di suatu tempat di dalam ruangan itu. Setelah itu Key terduduk di lantai dekat pintu, menyandarkan tubuhnya yang lelah ke tembok untuk kemudian ia istirahatkan dengan cara memejamkan matanya sembari menengadahkan wajahnya ke atap.

“Beginilah pengorbanan seorang saudara kandung… Ini demi kematian Soora dan Jonghyun hyung,” ia mendesah pelan beberapa saat kemudian, rupanya ia memang tidak berniat tidur—hanya terpejam untuk meringankan pikirannya.

Sementara itu, Taemin—yang memang sengaja dipancingnya datang, berlarian mencari nomor kamar yang tertera di layar handphonenya saat membaca pesan dari Key.

“Sekali lagi. Hyung, kau korbanku yang terakhir. Setelah itu, aku akan kembali ke duniaku tatkala proses Jinki hyung telah usai,” Taemin berbisik pada dirinya sendiri saat ia baru saja melewati kamar 519, yang artinya kamar 523 akan terlihat sebentar lagi.

Suara langkah Taemin tertangkap oleh Key, dari iramanya yang cepat dan bahkan terdengar sangat terburu-buru, Key sudah menerka kalau itu Taemin.

Brakkk,

Pintu terbuka dengan mudahnya, berdebam keras membentur tembok. Taemin masuk, disambut dengan senyum kemenangan Key.

“Selamat datang, Taemin-ssi. Apa kabarmu sore menjelang petang ini?” Key berbasa-basi, hanya untuk menunda waktu sampai amarah Taemin benar-benar muncul, Sampai Key memastikan kalau tenaganya sudah terkumpul penuh—setidaknya untuk melebihi kekuatan Taemin.

“Di mana Chaerynku?!” Taemin berang, bukannya menjawab pertanyaan Key, ia malah bertanya balik dengan kasar, memojokkan tubuh Key ke tembok.

“Tenang, dia sedang tertidur di suatu tempat. Kau kenapa? Marah? Karena apa? Karena aku bermain dengan Chaerynmu? Sejak kapan dia menjadi Chaerynmu? Huh, ia bahkan tak melirikmu dan lebih terpesona dengan ketampananku,” Key makin memancing, karena memang ini tujuannya.

Ia tidak sabar menangkap orang yang ia duga sebagai pelaku pembunuhan Jonghyun dan Soora. Untuk itu semua rencana ini dijalankan. Padahal, demi apapun, Key tidak pernah berniat menodai yeoja manapun, ‘bermain’ dengan Chaeryn hanyalah rekayasanya pada sebuah pesan singkat. Usahanya berhasil, Taemin datang dengan kondisi dikuasai amarah.

“Cih, aku tidak akan membiarkanmu lolos, Hyung…,” Taemin mendengus kesal.

“Tentu saja, kau kan memang pembunuh ulung, menghabisi Kim Soora dan Kim Jonghyun tanpa meninggalkan jejak. Darah pembunuhmu sudah sangat kental. Sekarang, kau juga ingin membunuhku, begitu?” Key masih tenang, dengan cekatan ia menjatuhkan tubuh Taemin dengan tinjunya yang kuat.

Taemin bangkit, matanya menyipit menatap Key sengit. “Baiklah, berhubung aku yakin kau tidak akan lolos dariku, kuakui saja sekalian…aku memang…-”

Trakkk,

Sebuah suara benda terjatuh datang dari kamar mandi, membuat ucapan Taemin terhenti sejenak.

“Cih, yakin sekali kau!” Key buru-buru menyambar, ia khawatir Taemin curiga dengan sumber suara tadi dan menyelediki kamar mandi, tempat dimana tubuh Chaeryn yang sedang terlelap diletakkannya di dalam bathtub.

Rasa cemas menyerbunya, ia yakin suara tadi muncul karena gerakan Chaeryn. Ia berharap Taemin tidak curiga dan Chaeryn tidak terbangun—dalam artian suara tadi muncul karena gerakan tubuh Chaeryn dalam tidurnya yang membentur tepian bathtub, meskipun tipis harapannya karena Key merasa suara tadi adalah suara benda terjatuh menumbuk lantai.

Ne, aku memang membunuh kedua orang yang kau sebut tadi dan bahkan sudah puluhan lainnya tewas di tanganku. Ah, ani, aku salah, tewas di mulutku lebih tepatnya.” Emosi Taemin makin membuncah, naik hingga ke titik puncaknya.

Cairan hitam mulai bermunculan dari sela tubuhnya, sementara urat-uratnya yang menegang—berontak hingga warnanya tampak jelas terlukis pada permukaan kulit Taemin. Key terbelalak seram menyaksikan bagaimana cairan itu merembes, menetes membasahi lantai.

Srrrt,

Taring Taemin kembali menghiasi wajahnya, sukses menhantarkan Key pada puncak ketakutannya. Prediksi Key meleset, nilai harapan untuk membuat Taemin bertekuk lutut di hadapannya langsung menukik drastis menjadi nol. Tidak ada lagi yang namanya peluang atau harapan, keyakinannya akan pengalamannya sebagai intel musnah seketika karena musuhnya bukan makhluk yang rasional. Bukan sekedar pembunuh ulung, melainkan pembunuh dengan senjata luar biasa yang tidak dimiliki manusia manapun.

“Kaget? Merasa aku keren dengan taring tajamku? Hmmm… atau kau penasaran ingin disentuh taringku? Wah sabar…prosesku belum selesai….”

Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Key, juga pada wajahnya. Napasnya seakan terhenti melihat bola mata Taemin yang berpendar merah. Taemin mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan bagaimana sepuluh cakar tajam nan berkilat itu muncul, kedua telapak tangannya ia hadapkan persis di depan mata musuhnya. Key pasrah, yakin dirinya akan tewas di tempai ini. Hanya saja, otaknya masih berpikir untuk meninggalkan petunjuk yang mengarah pada identitas Taemin sebagai pelaku pembunuhan. Juga, berharap Chaeryn masih bisa hidup setelah hari ini, ia telah berjanji pada Hyeri untuk melindungi sahabat sepupunya itu.

“Keren, kan? Mataku lebih keren dari softlens manapun karena ini asli.” Taemin mendekatkan wajahnya pada Key, sengaja memelototkan matanya pada jarak tidak melebihi lima centi dari mata Key.

“Baiklah…kita mulai ritualnya….”

Crakkkk…

Cakar tajam Taemin menancap di perut Key, membuat darah segar bertetesan di lantai. Key mengerang kesakitan karena sesuatu yang menusuknya tadi, belum beranjak dari kulit perutnya.

“Bisa kau rasakan prosesnya? Nikmat bukan? Sama nikmatnya dengan bermain bersama Chaeryn, kan?” desis Taemin keji sambil melepaskan tusukan cakarnya dari perut Key.

“Dan ini agar Chaeryn tidak lagi terpesona oleh ketampananmu.”

Ckkraukkkk,

Kali ini taring Taemin yang menembus rahang pipi Key, sementara cakarnya menembus kulit leher Key,  membuat namja itu tewas seketika dengan wajah yang kulitnya sudah terkoyak.

“Kau yang terakhir…,” ucapnya tatkala ia berhasil mengeluarkan organ hati dari tubuh korbannya untuk kemudian dilahapnya habis.

Grtk…grtk…,

Suara gemerutuk kecil mengalihkan pandangan Taemin ke arah sumber suara, membuat kegiatan bersantapnya terhenti.

“Key Oppa…,” Chaeryn berbisik gemetar, menangis sedih dan disertai ketakutan hebat. kakinya tak kuasa menahan getaran dahsyat sang tubuh, Chaeryn terjatuh di lantai.

Taemin mendekati Chaeryn, membuat Chaeryn bertambah yakin kalau nasibnya akan seperti Key. Yeoja itu pasrah, ia tidak kuasa lagi menahan getaran tubuhnya untuk bangun dan berlari.

“Tae-ya… langsung serang aku di titik rawan, jangan buat prosesnya sesakit yang dirasakan Key Oppa,” Chaeryn memohon, hanya itu yang bisa dilakukannya.

Taemin menarik wajah Chaeryn mendekat, dengan tangannya yang sudah tidak bercakar tajam. Kini giliran dirinya yang mendekatkan wajahnya pada wajah yeoja itu, perlahan, dan perlahan… mendekatinya, membuat yeoja itu makin dikuasai rasa takut.

Srttt

Taringnya melesap masuk, menghilang dari bibirnya tatkala organ berwarna pink tersebut menyentuh wajah Chaeryn, bersamaan dengan itu—sang yeoja pingsan.

Ia tidak menyakiti, apalagi membunuh Chaeryn. Taemin mengecup pipi Chaeryn dengan penuh kelembutan cintanya. “Aku sangat mencintaimu, Ryn…,” bisik Taemin getir.

“Nikmati untuk yang terakhir kali.” Suara Dragon membahana di telinga Taemin, membuat namja cantik itu mengedarkan pandangannya panik ke seluruh ruangan, mencari sosok pemilik suara yang dikenalnya.

“Dragon, apa maksudmu?” Taemin bingung, tidak menemukan sosok Dragon.

“Perintahnya adalah saudara kandung. Kau salah, Lee Jinki dan Lee Chaeryn tidak lahir dari sosok ibu yang sama. Maka, waktumu tidak lama lagi, kau tidak akan musnah dan Lee Jinki tidak akan mati, tapi orang itu akan tetap menanggung ulah kesalahanmu,” jelas Dragon, masih tidak menampakkan dirinya di hadapan Taemin.

Taemin makin kalut, matanya masih memutari seluruh sudut ruangan, tapi nihil. Dragon masih terbalut kemisteriusannya, sekali lagi suaranya menggema, “sebenarnya Jaejoong pun melakukan kesalahan yang sama. Ia mengira Lee Jinki adalah saudara kandung Eun Hee, yeoja yang disukainya, tapi karena kau yang terakhir melakukannya pada Lee Jinki, maka Jaejoong terbebas dan dapat kembali ke dunia kita—kau tidak. Baiklah, waktuku tidak banyak, selamat tinggal.”

Suara itu berhenti dan tidak ada lagi kelanjutannya. Yang tersisa hanyalah Taemin yang  terhenyak, air matanya bercucuran—pasrah karena tidak bisa melawan takdirnya. Sekali lagi ia mengecup wajah Chaeryn, kali ini di bagian keningnya.

“Selamat tinggal, Ryn… hiduplah dengan tenang… Semoga kau bahagia,” sekali lagi ia berbisik di telinga yeoja yang masih pingsan tersebut.

Tidak sampai satu menit, cairan hitam pekat mengalir dari setiap rongga di tubuhnya, bahkan keluar dari pori kulit di sekujur tubuhnya, wajahnya yang cantik memerah, lalu melepuh kepanasan. Ia terkapar di lantai, menggeliat kesakitan.

Bak ulat-ulat dan hewan tanah, melumat tubuh yang bersemayam di dalam liang lahat, membuat kulit serta tulang belulang habis termakan aktivitasnya. Begitulah cairan hitam pekat tersebut yang membuat permukaan kulit Taemin perlahan berlubang, yang diikuti dengan habisnya lapisan daging. Habis dan tidak menyisakan sedikit pun kulit dan daging, bahkan tulang belulang Taemin perlahan menghitam dan perlahan gosong terbakar. Hingga akhirnya, hanya menyisakan tumpukan abu berwarna hitam pekat.

Inilah akhir dari kisah seorang Lee Taemin, yang hingga akhir masih mencintai Chaeryn dan membiarkan yeoja itu lolos dari taringnya. Karena cinta, seseorang rela menahan sakit, bahkan seorang ibu rela bertarung dengan kematian demi menghantarkan buah hatinya ke dunia, melahirkan seonggok bayi mungil berwarna merah darah. Cintanya pada Chaeryn begitu besar, hingga ia membiarkan dirinya diliputi rasa sakit, berkali-kali dihantam sengatan panas cairan hitamnya walaupun akhirnya ia masih bisa lolos dari jeratan kalornya yang dahsyat. Namun nasibnya naas, kesalahan fatal menghantarkannya pada kemusnahan.

Satu, dua, sosok dalam hidupnya menghilang, itulah yang Chaeryn dapati begitu ia terbangun, seonggok mayat Key dan sosok Taemin yang tidak ia ketahui kemana hilangnya. Juga, sosok oppa-nya yang meninggalkannya untuk sementara karena harus merasakan dingin dan gelapnya sel tahanan. Bukan sementara jika pada akhirnya nanti hakim menjatuhi hukuman mati pada seorang Lee Jinki yang telah membunuh banyak orang demi melindungi seorang Park Eun Hee.

+++++

Berita Utama Hari ini:

Seoul Press, Seoul. Hari ini pengadilan akan melaksanakan hukuman eksekusi mati terhadap pelaku pembunuhan sadis, Lee Jinki.

Tidak diberitahukan secara pasti dimana eksekusi berlangsung, begitu pula dengan waktu pastinya. Hal ini bertujuan agar tidak ada pihak pengacau yang dapat mengganggu proses eksekusi.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Tuan Lee Junki, ayah dari Lee Jinki masih tidak sadarkan diri sejak seminggu yang palu pasca keluarnya keputusan hakim mengenai sanksi yang harus ditanggung anaknya. Sementara adiknya, Lee Chaeryn dikabarkan menderita depresi berat dan berhari-hari mengurung diri di kamarnya.

Sebuah mobil truk dengan bagian belakang tertutup—persis seperti truk milik perusahaan penyedia jasa paket, keluar dari sebuah lembaga pemasyarakatan. Pengawalan dua mobil polisi mengiringi perjalanan mobil truk tersebut.

Di dalamnya, seorang Lee Jinki sedang tertunduk dengan wajah dibanjiri keringat. Ia bukan takut akan hukuman yang akan diterimanya, melainkan sedang menahan rasa sakit yang bersumber dari ulu hatinya. Rasa sakit itu bercampur dengan pikirannya yang kacau berantakan, ia masih memikirkan nasib kedua adiknya, misinya untuk menyatukan dua yeoja itu belum tercapai—padahal kematian menghantuinya sesaat lagi.

Butiran keringat demi keringat bercucuran, petugas hanya menganggapnya sebagai simbol ketakutan Jinki akan hukuman mati. Mereka hanya mencibir menyaksikannya.

“Itu hukumanmu, nyawa dibayar nyawa,” ujar salah seorang dari petugas tadi dengan sinis.

Seluruh urat syaraf Jinki menegang, bahkan garis-garis kehitaman sudah mulai tampak dari kulitnya yang putih mulus, tonjolan uratnya tampak jelas. Sudah beberapa hari belakangan Jinki memang merasakan sakit sejenis ini. Bagian jari yang berdenyut, gigi yang terasa ngilu, serta mata yang terasa memanas.

Prosesnya berlangsung cepat, kali ini Jinki kesakitan karena merasa ujung-ujung jarinya ditembus sesuatu. Ia mengamati jemarinya, dan dapat ia saksikan perubahan pada warna kulit tangannya, menjadi merah gelap dan terkesan seperti hangus.

Kukunya memanjang, ia hanya bisa memandanginya—dengan heran dan rasa takut— disela buruan napas kesakitannya. Dan ia semakin merasa sakit beberapa detik kemudian, tatkala gigi taringnya tumbuh memanjang, membuat bibirnya terpaksa ia buka karena merasa janggal dengan perubahan pada struktur giginya.

Seorang petugas menyadari kejanggalan itu, ia langsung menepuk pundak teman sebelahnya yang mulai terkantuk-kantuk. “Hyung, makhluk apa itu?” petugas tadi ketakutan, begitu juga dengan temannya.

Terlambat, bola mata hitam Jinki sudah berubah menjadi merah, seketika kesadaran Jinki dan segala rasionalitas yang masih bersemayam di dalam pikiran Jinki—hilang, berganti dengan jiwa barunya yang tak terkendali, perkasa, dan arogan.

Ia bergerak lincah, taring tajamnya mencabik tiga petugas yang mengawalnya di bagian belakang truk hingga tewas. Kemudian dengan kekuatannya yang dahsyat, ia menembus lapisan pembatas yang memungkinkannya melihat kedua petugas yang ada di bagian depan truk.

Sang petugas menoleh karena kaget, belum sempat mulutnya menganga karena melihat sosok menyeramkan Jinki, sebuah cabikan cakar menusuk lehernya, juga leher petugas yang sedang mengemudikan truk.

Laju mobil itu mendadak tidak terkendali, hingga pada akhirnya menabrak dinding terowongan yang sedang dilaluinya saat tikungan menghadang. Berputar beberapa derajat hingga membuat dua mobil polisi yang mengawalnya tertabrak, terseret mundur ke belakang, yang kemudian juga membentur dinding terowongan tersebut, terguling hingga posisi mobil-mobil itu terbalik.

Dari dalam truk tersebut keluarlah Jinki, melewati mobil-mobil yang sudah berisikan mayat-mayat para petugas kepolisian. Ia melenggang tenang dan gagah, mendatangi sesosok makhluk  yang menyambutnya di ujung terowongan.

Welcome to our world.  Perkenalkan, aku Dragon,” ujar sosok itu saat Jinki mendekat.

Jinki membungkuk hormat—membalas sapaan Dragon, “So, who am I? I’m a Devil, right?,” sahut Jinki tunduk.

The End

+++++

Phuih…kelar juga kisah ini. Belum sebenarnya, bakal sequel tt nasib Eun Hee dan Chaeryn. Kenapa ga disatuin aja di part ini? Karena kisahnya akan lepas dari judul kisah ini.

Makasih banget buat readers yang ngikutin ff ini dari awal sampai akhir, terutama buat yang ninggalin komennya ^^

Maaf kalo di beberapa part ada yang ga dibalesin satu-satu (balesnya disatuin), kita berdua saat itu sedang mengalami situasi genting berarti. Tapi sebisa mungkin kita balesin kok ^^

Kami berdua mohon maaf kalau banyak kekurangan dari ff ini baik typo maupun hal lainnya.

Yap, seperti biasa, ditunggu kritik sarannya. Don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

51 thoughts on “The Devil – Part 11 (End)

  1. huuaahh.. endingnya tragis bnget,
    taemin ma key mati onew jd devil, eunhee ma chaerin kasian, trus minho gmana?
    tp daebakk bngettt salut ma authornya ff nya keren bngettt d^^b
    msh ada sequel nya kn, ok deh dtungguu🙂

    1. makasih banyak yaaa udah mau ngikutin ff ini dr aawal, makasih juga untuk oxygennya ^^

      sequelnya mungkin agak lama krn baru sampe part 2, ntar aku masukin k sf3si klo udah nabung stock sampe 5 part, hehe…

  2. YAAAA BIBIB EON,MIMI EON,,sukses.Sini ku ketjup kering satu-satu.Aigoo aigoo~~
    eh tpi bru sadar loh klo yg knalan sama jinki tuh si GD selingkuhanku yg ke empat*player -__-*
    Emng pantes dia jdi devil,cozz wajahnya rada evil <–mksudnya?.
    Yess..akhir yg mengenaskan bnget tpi keren.HUUU…YOU GUYS CATCH ME ON FIRE~~~
    DAEBAK,,mw ku traktirin apa?tpi dompetku gg sampe satu inchi tebelnya.Ywdh,ku ksih jempol jinki n key satu2,,nih.*tatapan horor*

    1. ga mau jempol jinki ama key…maunya sehelai rambut key yg unik bin ajaib itu ><

      iyaaa, GD itu unik, cocok jadi devil macem ini, tatapannya aja udh evil bgddd

      gomawo ya Fit udah mampir lagi(?)…makasih utk oxygennya ^^

  3. hah…
    kelar jg ni ff…endingx tragis amat…
    sempet nysek pas jinki d tngkap,tp mendadak emosi pas key tewas di koyak taemin…
    inilah alesan knp aq tkut bc ending tiap ff’ny bibib,krn pasti nasib key miris bgt…
    btw,i2 jinki jd reinkarnasix si taem y…
    akan ad skuel kah???

    1. Oalaahhh, takut sama nasib Key…hihi, ada-ada aja.

      Aku juga tiap baca ulang part ini emosi sendiri pas bagian Key, sekali lagi si abang nasibnya naas.

      Makasih ya udah mau baca ff ini dari awal ampe akhir. Makasih juga buat oksigennya ^^
      btw aku udah lama mikir, sepertinya aku harus manggil dya eon kah?

      Iyap ada sequelnya, tungguin aja ya…

  4. Woww…. Sungguh akhir yang tragis dan mengenaskan….. Kenapa Key-ny harus mati? Kenapa? Kenapa? #dramatisasi setting…..

    Wahhh… Baru sempet main lagi ke sini lgsg disuguhi ending devil……. Tuhkan!! Benerannnn endingnya gx ketebak…. Tp perkara Jinki yg ladi devil-ny sih udd nyangka sejak awal (tp gx ketebak proses-ny)hehehehehe

    Key mati, Jonghyun, mati, Taemin mati, Onew jadi devil.. Lah tinggal si Minong do’ang.. Kenapa gx diikuti mati sekalian sihhh #dihajar flamers….wkwkwkw

    hmm kayakny add satu typo deh,, cuma satu kok, dimana Chaerin disebut Eun hae waktu lagi di hotel sm Key!!

    Arggghhhhhhhh……. Aku speechless sama Jinki, sama Yoochun, sama Key sama Taemin…. Tp klo sm Minho nggak!! #beneran dihajar flamers…… Pokokny endingny gx ketebak!! Sukses buat duet maut Bibib sama Rahmi eon… Ditunggu sekuelny… Otte!!!

    1. Add yg ketinggalan!! Sebenarny sih udd sering banget ngomong ini sama bibib!!! Kenapa tiap FF yg add Key-ny selalu nasib dia tragisssssss….. Argggghhhhh!!!?! Bibib. . Sekali-kali bikin Key jd mujur napaaaaa!?!!!?

      1. Eonniii, makasih ya udah ngikutin ff ini dari awal sampai akhir plus oksigen2nya ^^

        Kalo Minho mati aneh dong ya? sejak awal kan dia emg ga terlibat dgn si devil, haha…

        Nasib Key ya? Bentar, inget2 dulu. Hmmm, sepertinya bakal ada yg ga tragis deh, ntar ya…

        Makasih juga udh ngingetin typo-nya ya🙂

  5. Akhirnya….the devil end….
    Entah knp aku sukaa bgt ma part 11 ini…

    eunhee yg depresi..
    yg dia manggil jinki oppa d jalanan… feel nya dapet bgt..jd berasa ikut depresi..

    Jg bag. yunho mo nangkap jinki d hadapan chaeryn… kerasa bgt kharisma yunho n jinki, pdhl status mereka beda,,,
    Aplg wktu jinki ngaku…# pengen nangis bareng chaeryn..

    Itu,taem knp ngakuin ngebunuh jonghyun n soora? Bukannya jjong d bunuh ma jinki?
    Trus, kpn jaejong melakukan hal yg sm taemin ke jinki? apa d part sblumnya prnah d ceritakan or mmg cm ada d pejelasan dragon part ini aja???mgkin aku lupa n tlewat bacanya…hehe

    1. Cie. . . Cie. . Cie… Niek dipanggil Eonni cieeee….wkwkkwwk

      Jempol deh buat Niek… Yg masalah Onjjong mati… Aq juga mikir gitu,, tp pas mau Koment lupa….hahaha

      Oh iya Niek… Ikutan Protes dong sama Bibib… Km kn suka lirik-lirik Key Tuhhhh… Sekali-kali nasib Key dibikin bagus napaaa…… Dr sekian banyak Ff bibib, Key selalu tragis prasaan…hahahaha

      maap.. Jiwa rempong saya sedang kambuhhhh….. Kaburrrrr!!!!

      1. Tau tuh si bibib,,,sng bner bikin key nasibnya ky gitu…pdhl dia nya jg suka lirik2 key…
        Yg namja, nasibnya key ga suram2 amat kan bib?? …ya…ya..ya…#kluarin smile eye nya taem,onyu,jjong,mino,key sekalian ma mnajernya..*apaini???

        Vii.. jgn kaburr… .jiwa rempongnya kumat kan??…noh balesin komen2 d ff mu…ms d anggurin??

        1. Iya… Ini juga lg nyicil balesin koment-ny… Br add wqt senggang….hahaha

          tp kok rada mls ya saya……wkwkwkw

          Maap y Bib… Ngerusuh di FF kmu…… #digetok panci sama Bibib……

          Saia Kangen kamu Niekkkkk….#hug Niek smpe sesekkkkkkkkk

    2. Iya niek eon, sepertinya di namja aku akan sedikit berbaik hati, tp entah deh…siapa tau mendadak berubah pikiran, hehe….

      vi eon, ga boleh males balesin komen atuh…kan readers aja udah belain komen, masa authornya ga bales? mesti timbal balik kan, hehe…aku pernah ga bales juga sih kalo lagi genting bgd dan part berikutnya udh keburu terbit, hehe…

      ga apa mau ngerusuh juga, malah seneng yang rusuh2 gini, hehe…

      1. Pelit amat bib…ms cm “sedikit” bbaik hati nya?itu jg klo ga berubah pikiran…ckckck
        Ky nya emg hobi ny bibib nganiaya PARA namchin nya….hahahaha…
        Tp gpp bib, silakan aniaya key spuas2nya #nyodorin key ke bibib
        #kaburr dr amukan lockets

        Vii,,,na doo «~ni anak emg sok sibuk ~ tp pcaya kok,emg sibuk bneran ….hahaha #hugbalik

        Hwaiting…4all

        1. hehe, aku bilang ‘sedikit’ krn aku ga tau itu termasuk happy ending atau bukan, tiap orang mungkin punya pikiran yg beda.

          key udh dari jaman kpn aku peloncoin, tuh makanya kurusan #digantung lockets

          iya ni vi eon sibuk kerja atau gimana toh?

  6. alamakkk…iya bener, mestinya changmin, bukan jonghyun yg dibunuh tetem. Makasih udah ngingetin, bener2 kelewat pas baca ulang n editing.

    yg adegan jaejoong itu emg ga digambarin, tp sempat tersirat di part 10, hehe…
    dan dragon? iya emang baru ada di part ini

    bonus buat readers setia yang satu ini, hari ini aku mau bilang: makasih eonnniiii, makasih udah stia baca n komen 2 kali. Hehe, tumben apa kan aku manggil eonni #dongsaengsesatdankurangajar

  7. WOOO…bner tuh vi eon n niek eon,,padahal key kan namchingnya bibib eon juga,ia ga?Cinta ga sih sbnernya?*siap2 dijotos bibib eon*,,coba,di YSMFMSW,BTH,ini,trus entah apa lgi.Si key nae namching naas bener nasibnya.Klo dipikir2 mungkin bibib eon pengen ngelatih key supaya jdi namja beneran(?).*ngacir,tkut digebukin massa*

    1. namjachinguku ada empattt, dn key salah satunya, hehe…cinta atuh, kalo ga cinta masa iya sering bikin ff pake cast key? tp emg seneng sih bikin nasib key sengsara kkeee~

      oyaampunnn, key berasa bukan namja beneran aja. Eh, kadang aku mikir image key yg sekarang itu cuma buatan manajemennya loh? entah sih key aslinya gimana

  8. Hyaah.. Part ini menegangkan semua..
    Pas eun hee nyebut jinki oppa aku pengen nangis..
    Cuma minong yg slamat sehat wal afiat..
    DAEBAK!! Critanya bener2 ga ktebak.. Saluuutt..
    Ditunggu sequelnya..

    1. Alhamdulillah yah minong selamet, syukuran 7 hari 7 malem yuks

      Eonni, gomawo yaa krn udah baca ff ini dari awal sampe akhir dan udah ngasih kita oksigen…sequelnya ditunggu aja ya…

  9. maka dr it,aq udh sering blg,mgkn bibib jg bosen dengerx,sekali-kali bikin nasib key bhgia knp…
    ff yg BTH sm Namja blm ad ending kah…???

    hmhmhm…pnggil eonni y…
    mgkn aja klo km seumuran atw lbh muda dr member shinee…
    krn aq emg d atas mereka…※ capek deh,jd tua kq bangga amat y…

    always d tnggu next ff…🙂

    1. Oalah…iya berarti aku panggil dya eonni. berarti yg sering muncul di ff the devil ini eonni2 semua ternyata, dongsaeng kurang ajar nih maen sebut nama aja…

      yg bth akan segera muncul, ditunggu aja🙂
      kalo namja masih lama end-nya, itu ff baru soalnya

      makasih eonni ^^

  10. maka dr i2,aq jg sering ngmong sm bibib,mgkn bibib jg udh bosen,ayolah sekali-kali bikin key bahagia…

    hmhmhmhm…panggil eonni y…
    mgkn aja klo bibib seumuran atw lbh muda dr member shinee hehehe🙂
    cz aq emg d atas mereka…※ y ampun,jd tua kq bangga amat y…

    always nunggu next ff…🙂

  11. sumpah keren
    ternyata penggati taemin itu onew toh
    ah sumpah gk kebayang
    ditunggu lanjutan ff nya ceritanya eun hae ma chaeryn
    sumpah thor keren”
    12 jempol bwt author
    #pinjem jempol shinee ._.v

  12. bibib eon.. udah lama jadi sider wkwkwk aku tobat

    ini benar – benar miris nasib Jinki ama Taemin cuma gara – gara cinta, walau cinta yang berbeda.

    Key perkiraannya meleset jadi dibunuh taemin lagi ckckck..
    dan juga sequel tentang Eun Hee sama Chaeryn..

    1. Eaaaa, syukurlah akhirna muncul…hehe…

      Iya ya miris emang ni, tp aku suka ending macem ini…
      Iyap, sequelnya ditunggu aja ya?
      Makasih banyak ya udah baca plus ninggalin jejaknya ^^

  13. Nasib prince Taem kasihan banget.
    Mau kembali ga jadi malahan musnah d depan orang yang dia cintai.
    JinKi juga tragis, ngelakuin segala hal buat EunHee malah masuk penjara dan berakhir menjadi devil.
    Key nasibnya lebih tragis lagi, Yeodongsaengnya mati sadis, hyungnya mati ketembak, Key sendiri mati karena kasus (buat ngungkapin pembunuh saudaranya).
    Sad ending.
    Jadi dilema juga ngebayanginnya.
    Pengen nangis coz prince Taem

  14. Ga kebayang akhir dari hidup Taem, Key dan Dubu tragis.
    Prince Taem musnah.
    Key mati sadis.
    Dubu menjadi devil.
    Tragis banget.
    Untung JaeJoong selamat.
    Pangeran yang 1 pergi yang 1 masih bertahan.
    Seperti keluarga yang tragis ini.
    OnKey = Taem.

    1. Imelll…makasih ya km selalu komen di tiap part…aku bales disini aja ya?

      Eh, aku agak ga ngerti sama maksud komenmu di bagian ini:

      Pangeran yang 1 pergi yang 1 masih bertahan.
      Seperti keluarga yang tragis ini.
      OnKey = Taem.

      Makasih banyak ya udah baca ff ini plus ngasih komen ^^

  15. AnjiiiirT_______________T Galau banget sih endingnyaaaa. Nggaknyangka pas lagi baca ada tulisan The End
    Huaaaaaa Taemin nya mati :””””””””””( Kasian Taeminniem. Kasian Jinki…

    Eonni bibib sama eonni mybabylionew emang SUPER DAEBAAAKKKK. Cerita kalian gak ketebak banget tau gak siiiii T-T
    10 jempollll

  16. waaa… malah onew oppa skrng yg jd devil
    kasian bgt taemin hilang sblm ryn tau kalo sbnernya taemin tu cinta bgt sm dia
    uuhh,, knp key n taemin musti mati??
    kelanjutannya dah ada blm ya
    pnasaran bgt…

  17. jinki jd devil? Omona… Endingnya tak terduga..
    Di part ini jg ga nyangka tau-tau castnya ad GD.
    Keren bgd ffnya.. Bahasanya jg bgus bgd..
    Pokoknya TOP bgd lah.. Maaf ya bru komen d part ini.. Ditunggu karya yg lainnya..

  18. maaf bru komen.. nggk nyangka key mati di tangan taemin… padahal key sma taemin bias q.. nggk tahan pnderitaan key… taemin paboya.. nggk nyangka klo jdi key.. trnyata yg sihadapinya bkan mannusia.. but devil

  19. Saya sudah baca ff anda ini dari awal hingga akhir, kalau boleh saya ingin menjadikan ff ini sebagai novel. Jika novel nya Berhasil maka kontrak novel kita bagi 2, bagaimana?? Apakah anda setuju??

    1. maaf mas Avin, saat ini saya dan partner menulis saya memang sedang dalam proses mengajukan ini ke penerbit. Jadi kami memutuskan untuk tidak menerima tawarannya…😀

  20. annyeong aku new reader ff mu eon
    aku langsung rangkum komen aja ya dari part 1-11
    awal pas baca agak ngeri soalnya aku bukan termasuk pencinta fantas, tapi karna alurnya menarik jadi ketagihan buat baca
    suka sama kisah kaka beradik yang harmonis tapi penuh masalah
    awalnya agak gregetan bacanya soalnya sekalian nebak ini yang devil sebenernya siapa tapi pas key bilang pembunuhnya ada di pesta ini baru deh langsung nebak kalo itu taemin
    kalo boleh tau judul sequel ff ini apa sij eon?
    gomawo, pokoknya daebak deh ff nya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s