Touch Your Heart – Part 7

Title           : Touch Your Heart Part 7

Author       : tiara_jinki

Main cast   : Lee Taemin, Choi Yoona.

Other cast   : Onew (Lee Jinki), Lee Taesun, Choi Minho, Kim Hyo Min, Key(Kim Kibum)

And others.

Genre        : Romance, Family, Friendship.

Rating        : PG

Length       : Sequel

A.N.           : Annyeong readers J adakah yang ingat ff ini? (kayaknya nggak deh). Bagi yang

Ingat dan menunggu ff ini, maaf yah karena menunggu lama. Yeah, Kelas

Sembilan ternyata begitu menyita banyak waktu. Ok, deh silahkan membaca ff

Buruk ini. Kekeke 😛

~Happy Reading~

“masih banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya. Apakah selama ini aku salah paham dengannya? Alasan kenapa dia pergi. Aku…ingin mengetahuinya. Karena itu, aku akan mendonorkan ginjalku”.

Taesun menatap adiknya dengan sendu, ia tahu selama ini Taemin ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, dulu Taesun tidak bisa mengatakannya pada nam-dongsaengnya dan lebih memilih ikut dengan Appa-nya meninggalkan Korea. “selama ini, aku selalu bertanya kenapa? Tapi tak ada seorang pun yang menjawabnya. Bahkan kau juga  hyung”lanjut Taemin dan menatap Taesun dengan mata yang berkaca-kaca.

“Taemin, sebaiknya kau pulang. Aku tahu kau lelah setelah perjalanan panjang dari Korea. Apa kau mau aku antar pulang?”ujar Taesun mengalihkan pembicaraan.

Air mata akhirnya menetes dari mata Taemin. “aku juga tidak ingin menjadi orang yang paling menyesal jika dia pergi. Mungkin saat ini tidak, tapi jika suatu saat dia pergi ke tempat yang tidak bisa terjamah olehku. Saat itu lah aku akan menyesal. Dan juga meminta agar waktu dapat di putar”ujar Taemin dan melangkah mendekati Taesun.

“sebelumnya, kalian tidak pindah kan? Aku masih hafal jalannya”ucap Taemin dan melangkah pergi.

Taesun membalikkan badannya dan melihat Taemin yang semakin menjauh. “aku merasakannya Taemin. Aku menyesal, karena saat umma memejamkan matanya untuk selamanya aku tidak bisa menemaninya. Sampai sekarang aku masih menyesal”.

***

Taemin memutar kenop pintu dan masuk ke dalam rumah yang nyaris tidak pernah ia kunjungi. Ia melihat ke setiap sudut rumah ini. Di rumah ini banyak terpajang foto Taemin dan keluarganya. Di setiap foto itu, umur Taemin masih kecil dan terakhir saat mereka foto bersama dengan wajah yang bahagia. Saat Taemin berumur 6 tahun.

Taemin menghentikan langkahnya dan mengambil sebuah pigura. Di dalamnya  terdapat fotonya dengan Appanya yang sedang memancing. Air matanya menetes. “sebenarnya apa alasanmu meninggalkanku waktu itu? Kenapa kau pergi? Pergi tanpa senyuman di wajahmu dan berlalu melewatiku begitu saja”ucap Taemin.

***

Tok…tok…tok…

Ketukan pintu membuat Yoona menghentikan aktivitasnya –melamunkan Taemin. Ia beranjak dari kasurnya dan memutar kenop pintu. Terlihat Mingi sedang berdiri dengan seulas senyum yang menghiasi wajahnya.

“boleh Umma masuk?”tanya Mingi.

Yoona tersenyum dan kembali ke kasurnya. “tentu saja Umma, kenapa tidak?”jawab Yoona. Ia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya.

Mingi menutup pintu dan duduk di samping Yoona. “Minho bilang, kemarin kau sedikit aneh. Ada apa? Apa kau ada masalah?”tanya Mingi.

Yoona berpikir sejenak. Itu karena Lee Taemin. “anni, hanya…”. Haruskah ia menceritakannya pada Umma nya?.

“hanya apa? Apakah ini karena namja? Sudah ceritakan saja pada Umma. Umma kan pernah muda sepertimu”ujar Mingi.

Yoona menoleh ke arah Mingi dan berpikir, yeah, ia harus mengatakannya pada Ummanya. Tapi bukan tentang ciuman itu. “hem, Umma. Jika ada orang yang mengatakan “selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik” apa maksudnya? Apakah mereka akan pergi?”tanya Yoona.

Kali ini, Mingi yang berpikir. “hem…mungkin. Mungkin saja dia mengatakan itu karena ingin berpamitan padamu. Tapi, bisa saja tidak”jawab Mingi.

“umma, bagaimana Umma bisa bertemu dengan appa dan menikah?”tanya Yoona. Pertanyaan konyol keluar dari mulutnya.

Mingi tersenyum. “itu karena takdir. Yeah, takdir. Umma juga sempat berpikir kenapa Umma bisa menikah dengan Appa mu? Padahal kalau mengingat saat kami masih duduk di bangku  sekolah menengah, kami sering bertengkar. Yeah…seperti anjing dan kucing. Tapi, kau tahu kan, biasanya benci bisa berubah menjadi cinta. Tapi, semua itu tidak lepas dari Tuhan. Karena dia telah menentukan siapa jodoh kita. Entah siapa itu orangnya, kalau Tuhan sudah menentukan kalau dia adalah jodoh kita.  Maka  dialah yang akan menjadi pendamping hidup kita.”.

Yoona menatap langit-langit kamarnya, perkataan Mingi selalu terngiang di telinganya. “takdir”gumamnya.

Lalu, siapa yang akan menjadi jodohnya?. Apakah itu Taemin atau siapa?. Tidak ada yang tahu, bahkan dirinya sendiri. “hah…sudahlah. Lebih baik aku tidak usah memikirkannya.”ujarnya.

Kelopak matanya terpejam perlahan. Lalu, ia pun pergi ke dalam alam mimpinya.

***

“jadi, apa jawaban Yoona?”. Key menatap wajah Onew lekat-lekat. Raut wajah ini, kembali ia lihat. Raut wajah kesedihan. Untuk kedua kalinya, Key melihat sahabatnnya seperti ini. Percintaan yang menyesakkan.

Onew menggeleng lemah. “aku tidak sanggup mendengar jawabannya. Karena itu, aku langsung menyuruhnya untuk tidak menjawabnya. Karena tanpa ia beritahu, aku sudah tahu jawabannya. Dia memang menyukai Taemin”.

“tapi, bagaimana kalau tidak? Setidaknya, kau masih mempunyai kesempatan kan”ujar Key.

“walaupun begitu, aku tetap tidak ingin. Karena, Taemin juga menyukainya. Bagiku, perasaan Taemin lebih penting daripadaku. Dia sudah ku anggap nam-dongsaengku sendiri dan saat ini dia terlalu banyak masalah”. Balas  Onew dan menatap langit hitam yang di hiasi ratusan bintang yang berkilauan.

“kau sangat baik”gumam Key dan mengikuti menatap langit. “by the way, bagaimana keadaan ahjumma?”tanya Key.

“dia, entahlah. Dokter bilang, kondisinya memburuk”jawab Onew.

‘bahkan, di saat seperti ini. Kau masih mementingkan keadaan orang lain. Bagaimana kau bisa sebaik ini Lee Jinki?’batin Key dan menatap Onew.

“ya, Key”panggil Onew.

“mwo?”sahut Key.

Onew menoleh ke arah Key. “sepanjang aku menjadi sahabatmu. Aku tidak pernah mendengar kau membicarakan yeoja. Atau lebih tepatnya membicarakan tentang cinta. Key, katakan padaku kalau yang ku pikirkan ini tidak benar”ujar Onew dengan ekspresi bingung.

Key terdiam sejenak, ada yang sedikit berbeda. Yeoja yang duduk berahadapan dengannya siang tadi membuatnya tertarik. Tapi, tunggu dulu apa Onew memikirkan yang aneh-aneh tentangnya?. “ya! Aku masih normal!”balas Key sedikit teriak.

Onew terkekeh. “hehe, hanya bercanda”.

“tidak lucu!”.

***

Onew duduk di taman yang menjadi tempat favoritnya. Tempat ia meluangkan waktunya, tempat di mana ia menangis di kala sedih, tempat ia menikmati semilir angin musim gugur, dan tempat ia bertemu dengan dua yeoja yang mengisi hatinya. Dan membuatnya merasakan sesak yang sangat selama dua kali. Begitu sesak.

“annyeong, oppa”. Suara yeoja yang tak asing. Yoona.

Onew memasang senyumnya dan menoleh ke arah Yoona. “pagi sekali. Hem, ini masih jam 10 pagi. Bukankah setiap weekend kau bangun sekitar jam 11 atau 12 siang?”.

Yoona duduk di samping Onew dan menatap langit yang cerah hari ini. “weekend ini sedikit berbeda”jawabnya.

“karena tidak ada Taemin?”.

“mwo? Annio”sangkal Yoona.

“tidak usah di sembunyikan lagi. kalau kau menyukainya bilang saja padaku. Dan jika kau menyuruhku untuk merahasiakannya pada Taemin, aku tidak janji”. Onew tertawa kecil.

“ya!”.

“hehe, hanya bercanda”.

“sedangkan kau oppa. Sudah berapa jam duduk di sini?”tanya Yoona.

“hem, sekitar dua jam. Taemin sedang tidak ada, dan aku merasa sangat bosan. Makannya aku ke sini”jawab Onew dan menoleh ke arah Yoona.

Bibir Yoona membentuk huruf O. “Yoona-ya, apa kau mau menemaniku?”ajak Onew.

“odie?”.

“hem…kau mau atau tidak?”.

“asal oppa tidak mengajakku ke tempat yang aneh”.

“ku anggap itu sebagai jawabanmu. Kajja”. Onew menarik tangan, sedangkan yang empunya hanya mengikutinya.

***

Ting…tong…ting…tong…

Suara bel mengganggu Taemin. mengusiknya dalam kesunyian di rumah ini. Taemin membuka pintu dan dengan ekspresi datar ia menyambut orang yang bertamu ke rumah ini. “Taesun?”. Seorang yeoja berambut sebahu berwarna coklat keemasan bermata cukup besar berwarna hitam.

“sorry, I’m not Taesun. He is in hospital now”ujar Taemin datar.

“jadi, apakah kau nam-dongsaeng Taesun? Lee Taemin?”.

Alis kanannya terangkat, sedikit terkaget karena yeoja yang ada di hadapannya saat ini mengetahui namanya dan bisa berbahasa korea. “apa hyung membicarakan tentangku padamu?”tanya Taemin.

“selalu, tapi, apa boleh aku masuk? Di luar cukup dingin”.

Tanpa menjawab, Taemin memberikan jalan untuk yeoja itu -mempersilakan yeoja itu masuk ke dalam rumah Appanya. Taemin duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu. Matanya menatap yeoja itu, tatapan kosong.

Yeoja itu duduk berhadapan dengan Taemin, senyum menghiasi wajahnya. “Luna imnida, aku kira dongsaeng Taesun akan berada di sini seminggu lagi. ehm, apa kau keberatan kalau aku di sini?”tanyanya, saat menatap raut wajah Taemin yang datar.

“anni, lagipula ini bukan rumahku. Dan juga sepertinya kau dekat dengan Taesun hyung. Lalu, kenapa kau ke sini?”.

“hem, Taesun menyuruhku datang ke sini. Entahlah, mungkin untuk menemanimu”.

Taemin ingin tertawa mendengar jawaban dari yeoja yang bernama Luna ini. Menemaninya? Apakah Hyungnya masih menganggapnya, anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Anak kecil yang harus di perhatikan. “sepertinya, kau tidak usah melakukannya. Hyung-ku, dia masih menganggapku seperti anak kecil. Padahal, saat ini aku sudah berumur delapan belas tahun”.

“karena dia menyanyangimu”.

“yeah, semua orang selalu mengatakan itu. Tadi, kau bilang Taesun hyung selalu membicarakan aku. Memangnya, apa yang dia bicarakan tentangku?”.

***

Yoona melihat ke sekelilingnya, bau rumah sakit yang menusuk sedikit tidak di sukainya. “oppa, untuk apa kita ke sini? Siapa yang sakit?”tanya Yoona.

“ummaku”jawab Onew singkat.

Langkah Onew terhenti di depan sebuah kamar bernomor 14. Tangan Onew bergerak membuka pintu kamar itu. Terlihat seorang wanita yang sudah berumur dengan guratan-guratan di wajahnya sedang tertidur lelap. Yoona melihat ke arah Onew dan yeoja itu secara bergantian.

Kemudian, ia tertarik untuk menatap wajah wanita tua itu. Ia seperti pernah bertemu dengan orang itu tapi, kapan?. Terukir seulas senyum, senyum yang memaksakan. Onew berjalan mendekat dan berdiri di samping wanita yang ia bilang Umma itu. Yoona melakukan hal yang sama, ia hanya terdiam, ia merasakan kesedihan yang terpancarkan dari wajah Onew.

Kelopak mata wanita itu perlahan terbuka, kepalanya bergerak ke samping kanannya. Tersenyum saat melihat orang yang sangat ia sayangi sudah berdiri di sana dengan senyum yang terlukis di wajahnya. Tapi, seorang gadis juga berdiri di sampingnya. Seorang gadis yang familiar di matanya.

“Eomonim, wae geurae?”tanya Onew. Melihat pandangan bingung dari Umma nya.

“Choi Yoona?”ucap wanita itu saat mengingat-ingat siapa yeoja yang berada di samping putranya—lebih tepatnya putra angkatnya.

Yoona terkaget saat namanya di sebut oleh Umma Onew. Yoona menatap lekat-lekat wanita yang berbaring di hadapannya. Jinki! Bukankah dia Umma dari Jinki? Tunggu, lalu Onew?.

“ahjumma? Ahjumma, bukankah…”. Yoona semakin bingung.

“Jinki-ya, bisakah kau keluar sebentar. Umma ingin berbicara dengan Yoona”pinta Hyunji –Umma Onew.

Onew menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari kamar Hyunji. Dengan rasa bingung dengan apa yang terjadi.

“duduklah”ucap Hyunji pada Yoona, senyum tulus itu kembali terlihat oleh Yoona.

“apa kau bingung saat ini?”ujar Hyunji seakan tahu apa yang sedang di rasakan oleh Yoona.

“ne, bukankah, Jinki sudah…”. Hyunji memotongnya.

“yeah, dia memang sudah pergi. Onew dia ku adopsi setahun setelah kepergian Jinki. Karena aku masih begitu merindukan Jinki, karena itu aku menamakannya dengan nama yang sama dengan Jinki. Dia, Lee Jinki yang sedang duduk di luar itu nyaris sama dengan Lee Jinki, putraku yang telah tiada.”ucap Hyunji panjang lebar dan melihat ke arah luar pintu.

Yoona terdiam. “senang bisa melihatmu lagi Yoona”.

Yoona tersenyum, Hyunji sangat baik padanya. Padahal dulu, mereka hanya bertemu sebentar dan mereka sudah lama tidak bertemu. Tapi, kenapa di saat seperti ini ia bertemu dengan Umma Jinki?. Kenapa di saat wajah pucat dan alat medis yang tertempel di tubuhnya?. “nado, ahjumma”.

***

Taemin mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Luna. “setiap hari, ia menyesal karena tidak dapat berada di samping umma-nya untuk terakhir kalinya. Dulu, saat ahjumma tiada ia menjadi begitu frustrasi dan mengurung diri di kamarnya.”.

Cairan bening sudah siap untuk meluncur dari pelupuk mata Taemin. “aku tahu itu. Luna-sshi, mianhae. Sepertinya aku harus beristirahat saat ini. Lagipula, langit sudah gelap. Maaf, bukan maksudku untuk mengusirmu. Aku…”. Luna memotongnya.

Dengan ukiran senyum, Luna bangkit dari duduknya. “gwenchana, aku mengerti. Hem, kalau begitu, aku pulang dulu. Wajahmu terlihat sangat lelah. Maaf, jika aku mengganggumu”ucap Luna.

Taemin ikut bangkit dari duduknya dan mengantarkan Luna sampai di depan pintu rumahnya. Taemin tersenyum tipis dan melambaikan tangannya. “annyeong, hati-hati Luna-sshi”ucapnya.

Luna juga melambaikan tangannya, namun ia kembali membalikkan badannya dan melihat ke arah Taemin. “Taesun juga bilang dia sangat menyanyangi nam-dongsaengnya!”ujar Luna sedikit berteriak agar Taemin bisa mendengarnya. Lalu setelah itu Luna berjalan pergi.

“aku juga tahu itu”. Pintu rumah tertutup, Taemin menguncinya.

Ia berjalan menuju kamar milik Taesun, ia tahu karena kamar ini berwarna hitam dan putih, Taesun menyukai warna ini. Ia menjatuhkan tubuhnya ke dalam kasur empuk. Menatap langit-langit kamar ini, air mata yang sedaritadi ia tahan, akhirnya terjatuh membasahi pipinya. “aku tahu dia memang hyung yang baik. Tapi, orang itu. Apa dia masih sebaik dulu? Setelah dia meninggalkan Umma di saat ia menahan penyakit mengerikan itu? Apa dia telah berubah?”ujar Taemin dengan suara bergetar.

***

“ahjumma, dia sakit apa oppa?”tanya Yoona dan masih menatap Onew.

“kanker otak, stadium akhir”jawab Onew nyaris tidak terdengar oleh Yoona.

Yoona terdiam, kanker otak stadium akhir. Yoona membenci ini, kenapa harus seperti ini?. Bagaimana jika dia pergi, bagaimana dengan Onew ?. “apa kalian pernah bertemu sebelumnya?”tanya Onew membuyarkan lamunannya.

“ne, tapi sudah lama. Saat itu, umurku sekitar 11 tahun. Di rumah sakit ini. Saat aku sakit tifus”jawab Yoona.

“ah, berarti kau yeoja yang menemani Jinki, putranya yah?. Umma sangat berterima kasih padamu, dia pernah menceritakannya padaku”. Nada suara yang terdengar riang itu entah mengapa bagi Yoona terdengar sangat menyedihkan.

“harusnya, akulah yang berterima kasih padanya. Dialah yang menemaniku bukan aku”ujar Yoona.

“tapi, baginya kau lah yang menemaninya. Sudahlah, ouh iya. Apa kau sudah makan? Di dekat rumah sakit ini ada restaurant ayam yang cukup lezat. Apa kau suka ayam? Aku sangat suka ayam. Mau tidak?”tanya Onew dengan senyum lebar dan membuat matanya menjadi segaris.

Yoona tersenyum. “ne, tentu saja”.

***

Taemin menggeliat, berkali-kali ia mencoba untuk memejamkan mata dan tertidur. Namun selalu gagal. Rasa gelisah, tiba-tiba menyerangnya. Ia membuka kelopak matanya dan menghela nafas panjang. “bagaimana ini? Aku tidak bisa tidur”.

Ia beranjak dari kasur dan keluar dari kamar Taesun. Kedua kakinya berjalan begitu saja, saat ini ia tidak tahu harus melakukan apa. Haruskah ia tidak tidur malam ini.

“appa, selalu meminum susu hangat jika tidak bisa tidur. Lain kali, kalau kau tidak bisa tidur. Cobalah meminum susu hangat. Ku rasa itu akan berhasil”.

Suara itu, suara Appa-nya terngiang di telinganya saat langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang design nya sama persis dengan kamar orang tuanya dulu di Korea. Kamar di mana biasanya, Taemin kecil tidur di antara Umma dan Appa nya. Air mata kembali meluncur membasahi pipinya.

Dengan ragu ia melangkah masuk ke dalam kamar itu. Benar-benar sama persis.

*Flashback

18 Desember 1995

Seoul, South Korea

Taemin menggeliat di tempat tidurnya, berulang kali ia mencoba untuk tidur namun tetap saja gagal. Ia melihat ke sampingnya, Taesun, hyung-nya telah tidur dengan lelap. Ia mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya. Terdengar suara tv yang masih menyala dari luar kamarnya.

Taemin tersenyum, kaki mungilnya berjalan keluar dari kamarnya dan berlari kecil menuju kamar orang tuanya yang tepat berada di sebrang kamarnya. Taemin membuka pintu kamar, terlihat Appa dan Umma nya sedang menonton sebuah film yang Taemin tidak tahu. Terdengar suara tembakan dari tv itu.

“Umma!”. Suara Taemin menghentikan aktivitas orang tuanya.

Chae Rin (umma Taemin) dan Junki (Appa Taemin) menoleh ke arah Taemin yang sedang berdiri di dekat kasur. Keduanya tersenyum dan menghampiri Taemin. “wae geurae? Kenapa kau belum tidur Taemin-ah?”tanya Chae Rin lembut.

“molla, aku tidak bisa tidur malam ini. Aku ingin tidur di kamar umma!”pinta Taemin dan membaringkan tubuhnya di kasur.

Chae Rin dan Junki saling berpandangan sesaat kemudian ikut berbaring di kasur. Posisi Taemin kini berada di antara Chae Rin dan Junki. “sekarang, apa kau bisa tidur?”tanya Chae Rin.

“hem…akan ku coba”jawab Taemin dan mulai memejamkan matanya.

“Taemin-ah, dulu, kalau Appa tidak bisa tidur. Biasanya halmeoni membuatkan susu hangat untuk Appa. Lain kali, kalau kau tidak bisa tidur pinta saja Umma atau Appa untuk membuatkanmu susu hangat. Appa rasa itu akan berhasil”ujar Junki panjang lebar pada Taemin yang setengah terlelap.

Taemin hanya mengangguk pelan dan memeluk guling kesayangannya.

*Flashback end*

Tangannya menyentuh kasur yang menjadi tempat Appa nya mengistirahatkan tubuhnya. Taemin memejamkan matanya, air mata sulit ia tahan. Mungkin, lebih baik ia membiarkan air mata itu terus terjatuh sampai kering. Agar saat ia berhadapan dengan orang itu, tidak ada lagi air mata yang akan terjatuh.

Ia menghela nafas berat dan mengambil ponsel dari saku celananya. Saat ini, ia bernar-benar membutuhkan sosok Onew. Jari-jarinya menekan keypad di ponselnya. Lalu, di dekatkannya ponsel miliknya ke telinga kanannya. Tak lama, suara Onew terdengar olehnya. Seulas senyum terukir di bibir Taemin. Entah mengapa ia sangat merindukan suara ini.

***

Yoona tertawa saat Onew menceritakan kejahilan yang telah ia lakukan pada Key dan juga pembalasan Key kepadanya. “sepertinya, kau benar-benar menikmati penderitaanku yah”ujar Onew bercanda.

“anni. Hanya itu sangat lucu”jawab Yoona dan menghentikan tawanya.

“yeah, Taemin juga tertawa saat mendengarnya”.

Nani wo shitemo, boku no kokoro wa

Mou, todokonai no ka

Replay, Replay, Replay

Terdengar suara dari ponsel milik Onew. Mata Onew melirik ke arah ponselnya dan tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dalam hitungan detik Onew melirik ke arah Yoona dan kembali ke ponselnya.

“yobossaeyo, Taemin-ah”. Onew sedikit mengeraskan suaranya, ia ingin melihat seperti apa ekspresi Yoona.

“hyung, sedang apa kau? Aku bosan”.

“aku? Sedang bersama Choi Yoona. Apa kau ingin berbicara dengannya?”tanya Onew dan tersenyum jahil pada Yoona.

Yoona terlonjak kaget mendengar tawaran Onew pada Taemin. “ya! Oppa”ujar Yoona sedikit berbisik agar Taemin tidak mendengarnya.

“mwo? Yoona?”.

“ne, mau tidak? Yoona terus bilang padaku kalau ia merindukanmu”ujar Onew. dan tertawa kecil.

Yoona menjadi semakin gugup. “ya! Aku tidak pernah mengatakan itu!”ujar Yoona. Kali ini ia sedikit mengeraskan suaranya agar Taemin bisa mendengarnya.

“haha, yeoja itu. Tidak usah hyung. Ku rasa dia akan gugup jika berbicara denganku. Lagipula, aku menelfonmu karena ingin mendengar suaramu. Ouh iya, ahjumma, bagaimana keadaannya?”tanya Taemin.

“tidak ada perkembangan. Taemin, ada apa denganmu? Suaramu, apa kau habis menangis?”. Onew bangkit dari duduknya dan berjalan mencari tempat yang cukup jauh. Supaya Yoona tidak mendengar obrolan antara dirinya dan Taemin.

Tidak terdengar suara Taemin. “walaupun kau membencinya Taemin. setidaknya, dialah yang memberimu kehidupan. Lagipula, kau tidak tahu kan kenapa dia seperti itu?. Semuanya yang ia lakukan, pasti ada alasannya. Taemin-ah…”. Onew menghentikan perkataannya saat terdengar suara Taemin dari ponselnya. Memotong pembicaraan.

“aku tahu. Aku bukanlah anak keci lagi hyung. Hanya saja, alasan itu, kenapa tidak ada yang mengatakan padaku?. Jika dia tidak ingin membuatku seperti ini. Seharusnya, dia mengatakannya. Dan hyung, bisakah kita mengganti topik pembicaraan? Aku sangat malas membicarakan hal ini”.

***

Taemin melangkah menuju ruang santai yang terdapat di rumah ini. Tangannya membawa segelas susu hangat yang beberapa menit lalu ia buat. Kakinya berhenti bergerak, tangan kirinya membuka tirai yang menutupi pemandangan kota Firenze di malam hari.

“mianhae, baiklah. Jadi, bagaimana hari pertamamu di Italia?”tanya Onew hyung.

Lampu-lampu yang berwarna-warni menghiasi jalan, sedangkan langit terasa begitu hampa. Tidak ada bintang dan bulan. Hanya gelap. “yeah, tidak begitu menyenangkan. Ouh iya hyung. Apa jawaban dari Yoona?”.

Dari tempat Taemin berdiri, ia bisa melihat Sungai Arno yang tenang. “hem, tentu saja. dia menyukaimu. Jadi, kapan kau akan pergi ke sini dan menyatakannya pada Yoona?”

Taemin menyeruput susu hangat yang ia buat. Manis dan hangat. Cukup membuatnya tenang dari emosinya yang tidak bisa ia kontrol beberapa menit yang lalu. “mollayo. Hyung…”.

Jalan begitu ramai, mungkin jika Taemin berada di luar. Suara bising akan mengganggu telinganya. “mwo? Apa kau rindu padaku? Hehe”.

Goresan senyum tipis terlihat di wajahnya. Ia memang merindukan Onew, walaupun baru sehari ia berada di sini. “bagaimana yah? Mungkin saja iya. Hyung, jika kau punya waktu. Datanglah ke sini”.

“mungkin. Tapi, aku tidak janji. Kau tahu kan aku harus merawat Umma ku”.

“aku tahu. Hyung, tempat ini seperti pemakaman. Sepi. Aku jadi takut”.

“Taemin-ah, hati-hati. Siapa tahu saja ada ‘sesuatu’ di belakangmu. Jangan sampai kau jantungan”canda Onew.

Taemin tertawa kecil. “gomawo, hyung. Berkatmu, aku merasa lebih baik sekarang. Kalau begitu aku tutup. Annyeong, hyung!”.

***

Onew kembali ke tempatnya, Yoona sedang menatapnya, tatapan yang menginginkan sebuah jawaban. Onew tersenyum. “tenang saja, dia bilang dia juga merindukanmu. Jadi, tidak bertepuk sebelah tangan kan?”.

“ya! Aish, oppa. Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Bisakah kita tidak membahas Lee Taemin?”.

“baiklah-baiklah. Aku minta maaf. Ah, dia, Taemin, sedang berada di Firenze, Italia. Sekedar memberi tahu agar tidak membuatmu penasaran dengan keberadaannya”.

Onew menyesap macchiato miliknya dan melirik ke arah Yoona. Dia terdiam, sepertinya sedang memikirkan kenapa Taemin ada di sana. “pada kenyataannya, kau selalu memikirkannya”ujar Onew, membuat Yoona kembali melihat ke arahnya.

“mwo?”.

“anni, lupakan saja. bagus kalau kau tidak mendengar”.

Yoona mendengus kesal. “hei, jangan seperti itu. Kajja kita kembali ke rumah sakit”. Onew bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Yoona.

***

Taemin membaringkan tubuhnya, rasanya lebih nyaman daripada sebelumnya. Susu itu cukup berhasil. Tapi, sampai saat ini kelopak matanya belum juga tertutup. Ia menghela nafas panjang.

“apa kau tidak bisa tidur?”. Suara berat mengagetkan Taemin. Di ambang pintu, Taesun tengah berdiri menatapnya.

“kenapa kau ada di sini hyung? Bukankah seharusnya kau ada di rumah sakit?”.

Taesun berjalan mendekat dan membaringkan tubuhnya di samping Taemin. “wae? Apa kau tidak mau aku ada di sini?”.

“anni”.

Kedua kakak beradik itu menatap langit-langit kamar. Hening mulai terasa, keduanya sama-sama terdiam. Sudah lama mereka tidak seperti ini. “mianhae”ucap Taesun.

Tanpa mengalihkan pandangannya, Taemin membalas perkataan Taesun. “wae? Kenapa harus meminta maaf?”.

“karena telah membuatmu seperti ini. Maaf yah. Aku memang bukan hyung yang baik untukmu”.

“ini bukan salahmu. Tidak ada yang tahu siapa yang bersalah. Mungkin hanya Tuhan yang tahu. Terkadang aku muak akan diriku yang tidak tahu menahu tentang semuanya. Terhadap diriku yang hanya bisa menerka-nerka tanpa mengetahui jawaban yang benar”.

“bukankah itu lebih baik?”.

Taemin menoleh ke arah Taesun yang juga sedang menatapnya. Pandangan mereka saling bertemu. “kalau aku. Aku akan memilih tidak mengetahui apa-apa. Di bandingkan mengetahui semua kenyataan yang hanya membuatmu semakin bingung”.

“mwo?”. Taemin tidak dapat mengerti maksud perkataan Taesun. Kenyataan yang membuatmu semakin bingung?.

“sudahlah lebih baik kau tidur sekarang. Ini sudah jam 3 pagi”. Taesun mengalihkan pembicaraan dan pandangannya dari Taemin yang masih menatapnya dengan bingung.

“aish, dasar kau hyung”gerutu Taemin, ia belum mendapatkan jawaban dari kebingungannya.

“hei, jadilah anak baik. Turuti hyung-mu ini. Aku akan matikan lampunya”.

“kau tidur di sini hyung? maksudku di sebelahku?”. Taemin merasa canggung saat mengetahui ia akan tidur bersebelahan dengan Taesun.

“wae? Ini kamarku. Jadi, aku tidur di sini. Memangnya di mana lagi? ah, apa kau tidak ingin tidur bersamaku lagi?”. Taesun menatap wajah Taemin yang terlihat gugup. Ia tersenyum geli.

“a…anniyo. A…sudahlah. Aku lelah”. Taemin menarik selimut berwarna biru muda sampai menutupi seluruh tubuhnya.

Taesun nyaris tertawa melihat kelakuan Taemin. “hei, Taemin apa kau sudah tidur?”.

Taemin tidak menjawabnya, matanya masih belum bisa terpejam. “sepertinya dia sudah tidur. Hah…lelahnya”. Suara Taesun terdengar di telinganya. Suara yang sudah lama tidak ia dengar. Kenapa seperti ini?. Kenapa ia begitu canggung tidur bersebelahan dengan hyung-nya sendiri?. Padahal dulu, ia tidak seperti ini. Bahkan dulu, ia sering tidur dalam pelukan hyung-nya –saat Taemin masih kecil. “hyung, aku menyadari sudah berapa banyak waktu yang ku lewatkan tanpamu. Aku…benar-benar merindukanmu..”.

***

Onew menatap Yoona yang sedang bercerita panjang lebar tentang kelakuan Taemin yang membuatnya kesal. Senyum terus terpajang di wajahnya saat melihat wajah Yoona. “huh, dan juga dia sering menjahiliku. Entah itu dengan cicaknya atau hal lain yang membuatku takut dan menjerit-jerit. Aku benar-benar kesal padanya”ujar Yoona.

“yeah, Taemin memang seperti itu jika ada orang yang mengacuhkannya. Anni, maksudku dia seperti itu untuk membuat orang yang mengacuhkannya menjadi tidak mengacuhkannya. Dia seperti itu padamu untuk membuatmu perhatian padanya”ucap Onew.

“cih, tapi tidak seperti itu juga oppa. Dia kan bisa mencari cara lain”.

“tapi, kau menyukainya kan?”tanya Onew.

Raut wajah Yoona berubah, dia memikirkan pertanyaan Onew. “hem…nan…”.

“kau memikirkannya saat dia tidak ada di hadapanmu. Kau menjadi gugup setiap kali Taemin ada di depanmu. Bukankah itu pertanda kalau kau menyukainya atau mencintainya?”.

“aku…tapi…”. Yoona ragu dengan jawabannya sendiri.

“saranghae”ucap Onew tiba-tiba membuat Yoona terkaget.

“mwo?”pekik Yoona.

“saranghae”ucap Onew lagi dan memeluk Yoona.

Yoona terdiam, ia terkejut dengan apa yang baru di katakan dan di lakukan oleh Onew. “apa yang sedang di lakukannya?!”.

—————————————–TBC——————————–

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “Touch Your Heart – Part 7”

  1. YAK Tiaraaaaa*jewer kuping tiara/bltak*,,tak tahu kah kau aqu hampir bulukan krna digantung oleh ceritamu ini?.
    Kmana saja dirimu,hum?*Tiara:udh gw jlasin di atas -_-*

    Eung,,aqu kngen sama Taem yg dulu.Jahil,usil,nakal*sama ajj-_-*..Ksian yg skarang nangis mlulu.

    Wowowow,,trnyata asumsiku meleset.Ou,jdi jinki anak adopsi,ngerti skrng.
    Eaaa~~Yoona kena malarindu(?).Eh eh eh,,,knp tuw jinki?krasukan hantu apa dia?ko tiba2 nyatain prasaan ke yoona.Hiks..konflik merentet begini,lalu stelah ini apa lgi?*ambil tisu yg disodorin tiara*
    Lanjutannya jngn klamaan yoo~ku tunggu loh saeng ^.^

  2. hyauwww… akhirnya akhirnya keluar juga ni epep. haha. hwaaa.. makin seru aja ini. ayo ayo lanjut lanjut lanjut. heheh

  3. wah…
    gawat nii..
    kayaknya ada cinta segitiga nii thor..^^
    makin seru…
    pada akhirnya yoona milih siapa ya thor?
    *ditunggu next nya

  4. achhh akhirnya muncul juga nieh FF,, udh nunggu lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bangetss…. next cerita jangan lama lama ya Author.. 😀 untuk cerita kali ini aku suka banget tapi kok onew oppa nya gitu siehh kasian kan taemin nya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s