My Princess for Me – Part 2

My Princess for Me (Part 2)

 

 

Title                       : My Princess for Me (Part 2)

Author                  : Papillon Lynx

Maincast             :

–          Jung Bersaudara  :

Jung Yoo Ra, covered by Park Gyuri KARA

Jung You Ni, covered by Han Seungyeon KARA

Jung Yoo Na, covered by Jung Nicole KARA

Jung Yong Hee, covered by Kim Jaekyung RAINBOW

Jung Yeon Sang, covered by Goo Hara KARA

Jung Yoo Jin, covered by Kang Jiyoung KARA

 

–          Lee Bersaudara  :

Lee Jinki SHINee as Lee Jinki/Jura, covered by Lee Jinki SHINee

Kim Jonghyun SHINee as Lee Jonghyun/Hyun, covered by Kim Jonghyun SHINee

Kim Kibum aka Key SHINee as Lee Kibum aka Key/Ken, covered by Kim Kibum aka Key SHINee

Choi Minho SHINee as Lee Minho/Mui, covered by Choi Minho SHINee

Lee Taemin SHINee as Lee Taemin/Taega, covered by Lee Taemin SHINee

No Minwoo Boyfriend as Lee Minwoo/Mir, covered by No Minwoo Boyfriend

 

Support Cast      : Raja (Aboeji/Appa), Ratu (Eomonim/Eomma), Selir Raja (Eomonim/Eomma), Para

  Dayang, Para Pengawal, Yuri

Genre                   : Family, Life, Romance, Fantasy, Angst

Length                  : Sequel

Rating                   : PG – 16

Summary             : You Ni-ah.. You Ni-ah.. Mendekatlah.. Tak perlu takut. Kau adalah milikku. Kemarilah.. Kemarilah.. Aku bahagia, sekarang kau telah menjadi pengantinku..

 

 

  1. A.   N                 :

Hai.. Ini part 2. Ada yang masih nungguin? Ada yang udah ngga sabar? Oke deh, langsung aja. RCL ya! Gomawo.. J

 

-ALL POV IS AUTHOR’S POV-

 

@@@

 

“CHINGU-DEUL!!” teriak Yuri dari depan pintu kelas dengan wajah  yang terlihat begitu sedih. Yeon Sang yang sedang iseng mengisi waktu istirahatnya dengan menciptakan nada-nada di kertas partitur untuk ia serahkan sebagai tugas pada Jonghyun pun menoleh cepat. Tak hanya Yeon Sang. Semuanya menoleh dan menatap Yuri yang kini sudah berdiri di depan kelas dengan tatapan heran melihat kesedihan merayapi wajah Yuri.

“Ada apa, Yuri-ah? Kenapa kau terlihat sedih sekali?” tanya Yeon Sang pada akhirnya setelah keadaan di sekeliling kelasnya hening sesaat.

“Ada kabar buruk yang harus aku sampaikan pada kalian semua.” Yuri menangis. Cairan bening mulai mengalir melewati pipinya. Yuri menunduk, mencoba menepis perasaan sedih yang menjalar di hatinya saat  itu. Tapi, tak bisa. Yuri terlalu mengangumi sosok itu. Hingga Yuri seakan tak pernah mampu mempercayai kenyataan yang ada. “Jonghyun Seonsangnim..” kata  Yuri tersendat. Seluruh wajah murid di kelas 2-4 itu seketika berubah tegang. Terutama Yeon Sang. Entah kenapa, tangannya sedikit bergetar mendengar nama itu terucap dari bibir Yuri dengan ekspresi teramat sedih yang Yuri tunjukan. “Jonghyun Seonsangnim dan Key Seonsangnim.. Mereka mengalami kecelakaan bus kemarin. Dan mereka.. Meninggal di tempat kejadian.” Sontak, pensil yang digenggam Yeon Sang terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai kelas yang keras. Bahkan suara benturan pensil dengan lantai kelas itu dapat didengar oleh seluruh anak yang berada di kelas itu. Semuanya kaget mendengar kabar duka itu.

Sedetik kemudian, tangis Yuri pecah diikuti tangis murid yeoja yang lain di kelas 2-4 itu. Semuanya menangis. Murid namja juga terlihat sedih dan cukup terpukul. Walaupun baru beberapa hari mengajar sebagai guru seni mereka, namun Jonghyun menjadi sosok guru yang sangat disukai oleh murid-muridnya. Jonghyun yang ramah dan selalu membuat lelucon lucu di dalam kelas ketika sedang menyampaikan materi pelajaran seninya. Cara mengajar yang seperti itu yang sukses membuat semua siswa bersemangat untuk mempelajari seni.

Yeon Sang  tak tahan lagi. Air mata itu menetes tanpa ragu dari kedua pelupuk matanya. Ia juga sangat kehilangan Jonghyun. Apalagi setelah beberapa hari ini mereka semakin dekat. Sampai detik ini  pun, ia masih bisa merasakan sentuhan hangat tangan Jonghyun yang di awal pertemuan mereka mendarat dengan lembut di puncak kepalanya.

“Jonghyun Seonsangnim..” gumam Yeon Sang terisak seraya menundukan kepalanya dalam-dalam. Air matanya semakin deras keluar. Tanpa sadar kedua tangannya meremas kertas partitur yang ada di atas mejanya. “Pada siapa aku akan menyerahkan tugasku ini nanti??” Yeon Sang semakin terisak.

@@@

 

Yoo Na berdiri mematung di tengah lapangan basket. Pandangan matanya terpaku pada benda bulat dalam genggaman kedua tangannya. Ekspresi wajahnya datar. Sangat tak bersemangat. Padahal, biasanya, Yoo Na tak akan membuang-buang waktunya lagi untuk bermain basket ketika bola basket itu sudah berada di tangannya. Tapi kali ini berbeda. Semua berbeda ketika belum lama tadi ia mendengar kabar buruk yang sedang menjadi topik hangat seantero sekolah. Jonghyun Seonsangnim dan Key Seonsangnim meninggal karena kecelakaan. Saat kedua telinganya mendengar kabar buruk itu, paru-paru di dalam tubuhnya seperti hampa udara. Yoo Na merasa dirinya tak dapat bernafas dengan normal.

Key. Lee Kibum. Namja yang beberapa hari ini menjadi pelatih basket pribadinya. Guru olahraga yang diam-diam mulai mencuri hatinya. Guru olahraga yang menurunkan sedikit demi sedikit kemahirannya dalam bermain basket pada Yoona, hanya pada dirinya, berdua saja, tiba-tiba, sekarang sudah tak bernafas lagi. Tak dapat menjadi teman Yoo Na ketika bermain basket lagi. Tak dapat melatihnya. Senyumannya, mata kucingnya yang tajam, rambutnya yang hitam legam, kelincahannya, tak dapat lagi Yoo Na lihat dan rasakan.

Tanpa sadar, setetes air jatuh dan membentur permukaan bola basket yang berada di kedua tangannya. Yoo Na menangis. Dalam diam. Apalagi ketika tiba-tiba saja bayangan sosok Key seakan menghipnotisnya dan membuatnya merasa sosok itu datang menemuinya sore ini di lapangan untuk melanjutkan tugasnya sebagai pelatih basketnya seperti sore-sore sebelumnya. Air mata itu pun tak dapat terbendung lagi. Jika pada awal pertemuan mereka, Key ingin sekali Yoo Na bisa mengenalnya lebih dekat dan lebih banyak lagi, maka keinginan Key itu berhasil. Sangat berhasil. Karena sekarang, Yoo Na benar-benar merasakan sakitnya kehilangan sosok yang sangat didambakannya. Sosok yang baru bisa Yoo Na akui kalau dirinya mulai terpikat dengan namja yang hanya berbeda 3 tahun darinya itu. Namja yang sekarang bukan sekedar pelatih basket dan seorang guru untuknya. Tapi cintanya.

Mungkin, inilah pahitnya mencinta. Yoo Na sama sekali tidak tahu apakah Key memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi, sekarang namja itu sudah pergi jauh darinya dan bahkan tak dapat lagi dilihat olehnya. Tak masalah bagi Yoo Na jika selamanya ia tak dapat menyatakan cinta pada Key. Asalkan Key masih bisa tersenyum di hadapannya dengan nyata. Tapi sekali lagi, itu tak mungkin. Cinta pertama bagi Yoo Na ini, terlalu mudah untuk pergi. Dan terlalu sulit, sangat sulit untuk kembali.

@@@

 

Yoo Ra tersenyum getir. Hanya ada dia seorang diri di kelas itu. Beberapa buku terlihat menumpuk di atas mejanya dengan sempurna. Sastra Korea dan Perancis Modern menjadi judul dari buku-buku tebal itu.

Yoo Ra tahu ini sia-sia. Sudah 2 jam lebih ia duduk di bangku dalam kelasnya hanya untuk menunggu kedatangan dosen Sastra Koreanya memberikan materi tambahan padanya tentang Sastra Korea. Lee Jinki. Nama itu selalu berada di sudut terdalam hatinya. Hingga sulit sekali rasanya bagi Yoo Ra untuk membuang jauh-jauh nama itu dari hati dan ingatannya.

Ia lah dosen yang Yoo Ra tunggu. Yoo Ra tahu, kalau namja itu takkan datang menemuinya. Takkan pernah lagi, mulai saat ini. Karena Tuhan telah mengambil nafasnya. Mengambil detak jantungnya.

“Babo! Kenapa kau tak datang?!!” Rasa kekecewaan yang mendalam tersirat dari kata-kata Yoo Ra. Ia juga merasa menyesal. Selama ini, selama mereka dekat, Yoo Ra tak pernah bisa mengaku kalau dirinya menyukai Jinki semenjak pertama kali mereka bertemu. Semenjak Jinki menjadi dosen di kampusnya. Semenjak mereka mulai belajar bersama. Semenjak Yoo Ra mulai merasa berdebar di dekatnya.

Yoo Ra ingin mengaku ia cinta namun Yoo Ra khawatir hubungannya dengan Jinki akan berubah menjadi canggung. Dan Yoo Ra tak mau seperti itu. Ia berpikir, hari-harinya bersama Jinki akan terus berlanjut. Tidak hanya sampai sekarang. Tapi sampai nanti. Sampai ia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk membongkar perasaan yang memenuhi hatinya di depan namja bermata sipit itu. Namun sayang, takdir berkata lain. Takdir tak membiarkan Yoo Ra untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya.

Penyesalan memang tak pernah datang di awal. Yoo Ra paham sekali itu. Bahkan, sangat paham sekarang. Jika ia membuang rasa malunya dari dulu, jika dari dulu ia berusaha lebih keras memutar otaknya untuk menyusun kalimat-kalimat pernyataan cinta di depan Jinki. Jika, jika dan jika. Sekarang Yoo Ra hanya bisa berandai-andai. Rasanya benar-benar sakit kehilangan orang yang sangat dicintai dengan cara seperti ini. Dipisahkan dengan ajal. Rasanya tak dapat tertahankan, lebih dari sakit hati. Hingga hanya bisa dapat diluapkan dengan luapan-luapan tetes air mata yang terus jatuh dari kedua mata indahnya.

“Apa benar kau takkan datang..?” gumam Yoo Ra. “Kajimayo (Jangan pergi)! Andwaeyo..” isak Yura di sela-sela tangisnya. Biarlah ia menangis, mencoba mengekspresikan betapa sakit dan kehilangannya saat ini. Hari-harinya yang biasa ia lewati bersama Jinki takkan ada lagi. Senyuman Jinki, sikap konyol Jinki, tawa Jinki, wajah kesal Jinki, amarah Jinki. Semuanya tentang Jinki. Takkan lagi bisa ia rasakan. Yoo Ra tak ingin Jinki menjadi kisah masa lalunya.

@@@

“Suster, apakah sudah ada keluarga yang datang untuk menjemput mereka?” tanya seorang Dokter pada Suster asistennya ketika mereka masuk ke dalam kamar mayat. Di hadapannya, enam raga terbujur kaku di atas tempat tidur besi. Wajah mereka putih, bahkan membiru. Udara di sekitar mereka dingin oleh suhu badan mereka yang memang tidak menunjukan adanya tanda-tanda kehidupan. Bau di sekitar mereka mulai tercium tak sedap.

Raga mereka tertutupi kain putih sampai ke bagian leher mereka, hingga menampakkan wajah mereka dengan kedua mata yang terpejam rapat. Siapapun yang melihat wajah mereka, mungkin akan berdecak kagum. Dalam keadaan sudah tak bernyawa pun, keenam namja itu tetap terlihat tampan.

Dokter menggeleng perlahan. Rasa iba menjalari hatinya. Ia mendesah resah.    Sudah sehari lebih mereka berada di kamar mayat ini. Namun tak ada satupun orang yang datang untuk menjemput mereka. Memang seharusnya pihak rumah sakit berinisiatif mau memindahkan mereka ke rumah sakit kota. Mungkin.. Ke Seoul. Bukan di rumah sakit kecil seperti ini. Tapi, tak ada kebijakan seperti itu. Akan memakan banyak biaya tentunya.

Dokter mendesah lagi. Ia berlalu keluar bersama Suster dari kamar mayat itu. Sebelum ia pergi, ia mengunci kamar mayat itu dan memberikan kuncinya pada suster di sampingnya.

“Suster, apakah tak ada tanda pengenal yang lain??” tanya Dokter.

“Tidak ada, Dok. Hanya ada sebuah buku diary. Saya sudah membaca isi keseluruhannya. Itu milik salah satu dari mereka yang bernama Jinki. Dan sepertinya, mereka berenam adalah satu keluarga. Mereka bersaudara.” Dokter menganggukan kepalanya tanda mengerti. “Dan, ada beberapa lembar yang berisi kesedihannya ketika kedua orangtua mereka meninggal dan mereka harus membiayai hidup sendiri. Itu jelas, mereka tak memiliki orangtua dan sanak-saudara yang lain, Dok.” Dokter sedikit kaget mendengar hal itu. Akankah ia tetap membiarkan keenam mayat itu di sini hingga membusuk? Ia tak mungkin tega menyia-nyiakan raga mereka. Dokter berpikir keras, mencoba mencari cara agar ia bisa membawa keenam namja itu ke tempat yang lebih layak dan membuat mereka yang sudah berada di atas sana, bisa tersenyum tenang. Dokter dan Suster itu berjalan semakin menjauh dari pintu kamar mayat itu. Hingga bayangannya menghilang di belokan koridor.

Suasana hening. Memang hari sudah berganti malam. Jam di dinding koridor  sudah menunjukan pukul 11 malam tepat. Dan jarum pendeknya terus bergerak perlahan namun pasti.

DRAAAK!!

Tiba-tiba jendela besar yang tingginya hampir sama dengan tinggi dinding koridor terbuka lebar. Kacanya sedikit retak. Angin berhembus kecang dan masuk ke dalam ruangan kosong itu. Daun-daun pohon yang tumbuh di luar jendela berebutan masuk ke dalam bersama angin kencang itu.

Whuuuusssss….!!!!

Tiba-tiba angin yang lebih kencang masuk. Angin itu berputar-putar tak beraturan dengan gerakan cepat. Namun tidak cukup kuat untuk menerbangkan benda-benda berat di sekitarnya. Dalam hitungan detik, putaran angin itu melemah. Perlahan, hingga akhirnya menghilang. Dan tergantikan oleh sesosok tubuh yang dibalut oleh jubah tebal.

Namja itu tersenyum tipis dan mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk. Di detik selanjutnya, kedua matanya bergerak liar seperti mencari-cari sesuatu. Ketika apa yang dicarinya sudah tertangkap kedua matanya, namja itu segera melangkahkan kakinya menuju pintu di hadapannya. Ia mencoba membuka pintunya. Namun, pintunya tak dapat terbuka begitu saja. Ya, terkunci. Namja itu mengerang dan tetap berusaha keras membuka pintunya dengan kedua tangannya. Berkali-kali ia menekan kenop pintu dan mencoba mendorong pintunya. Tapi.. Nihil.

BYUUURRR!!

Seketika aktifitas namja itu terhenti. Ia menyeka wajahnya yang basah karena guyuran air yang tiba-tiba. Ia mengerang perlahan dan menoleh ke sampingnya ketika ia merasakan sosok yang sangat dikenalnya sudah berada di dekatnya. Sosok bertopeng dan berjubah putih itu. Mui.

“Apa yang sedang kau lakukan, Hyung??” tanya Mui dengan ekspresi datarnya. Namun Hyun takkan melihat bagaimana ekspresi wajahnya. Hyun menatap  Mui sama datarnya. Namun, sedetik kemudian, ia melayangkan sebuah senyuman bodoh pada Mui.

“Hehe.. Mianhae, Saengi. Aku sedang mencoba membuka pintunya. Tapi, susah sekali.” Aku Hyun sambil cengengesan. Mui hanya memutar kedua bola matanya kesal.

“Kau itu dewa atau manusia, huh? Gunakanlah kekuatan anginmu untuk mendobrak pintunya!”

Tiba-tiba, lampu yang menerangi ruangan itu berkelap-kelip. Semakin lama semakin cepat hingga  menimbulkan kilatan listrik dan lampu itu pun terbakar. Ruangan itu menjadi gelap. Sesaat kemudian sebuah kobaran api muncul dan mendekat ke arah mereka.

“Tukang pamer.” Cibir Mui ketika melihat sosok Ken muncul setelah kobaran api itu menyatu dan membentuk sesosok namja. Sosok Ken.

Ken tersenyum. Senyum evilnya.

“Aku datang untuk melihat pekerjaan kalian saja.” Kata Key lalu mendekat. “Kenapa masih berdiri saja di depan pintu?”

DUK DUK DUK!

“HYUUNG!!” sebuah suara yang sangat mereka kenal terdengar dari dalam ruangan terkunci itu.

Hyun menoleh pada pintu dan segera menempelkan telinganya di daun pintu itu. Key mendesah kesal sedangkan Mui memutar kedua bola matanya untuk kedua kalinya. Kedua namja itu merasa heran dengan sikap konyol hyung-nya yang satu itu. Hyun. Dia seorang dewa, namun masih saja melakukan sesuatu yang tak ada gunanya dan terkesan selalu membuang-buang waktu.

Mui akhirnya mengambil langkah mundur ke belakang. “Minggir kalian, jika tak ingin terpelanting karena kekuatan airku.” Key dan Hyun menurut dan  mendekat pada Mui.

Mui mengangkat tangan kanannya ke udara dengan kedua mata terpejam. Seketika itu juga putaran air dalam jumlah yang besar muncul dan berputar-putar di sana. Mui tersenyum di balik topengnya dan membuka kedua matanya yang terpejam. Dengan cepat ia mengarahkan tangannya ke depan pintu dan air itu  melesat mendobrak pintu.

BRAAAK! BYUUURRR..

Pintu terbuka akhirnya. Mui, Ken dan Hyun masuk ke dalam ruangan itu. Tepatnya masuk ke dalam kamar mayat itu. Mui menginjak air yang menggenang di atas lantai. Perlahan, air-air itu mendekat dan masuk ke dalam tubuh Mui. Kembali pada tuannya.

“Hyung, tega sekali  kau menyiramku dengan air?” keluh seorang namja. Sinar bulan yang menembus jendela ruangan itu mengenai rambut merah namja itu. Tidak hanya rambutnya saja yang berwarna merah, namun jubahnya juga berwarna merah. Ken mendelik kesal melihatnya.

“Ya! Taega-ya! Itu jubahku. Cepat kembalikan! Aku tak sudi memakai jubahmu ini.” Pekik Ken. Taega merengut kesal dan melepas jubah yang memang bukan miliknya itu lalu melemparkannya pada Ken. Sedangkan Ken melemparkan jubah yang  tadi dipakainya pada Taega. Ken segera memakai jubah merahnya yang basah dan membuat suhu tubuhnya sampai panas sekali hingga jubahnya mengering. Dalam waktu lima detik saja jubahnya kembali kering seperti semula.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Mui.

“Aku juga ingin memiliki tubuh pengganti, Hyung.” Kata Taega jujur. Mui tersenyum dan mengangguk.

“Dimana Jura dan Mir? Mereka tidak ikut bersamamu?” tanya Hyun. Taega menggeleng sebagai jawaban.

Mui melayangkan pandangannya pada keenam tempat tidur besi di samping kanannya. Mui terkejut. Dua tempat tidur besi itu sudah tak berpenghuni. Tak ada raga di sana.

“Mereka sudah datang terlebih dahulu sebelum kita. Mereka sudah mengambil dua di antaranya.” Kata Mui. Mui mendekat pada ranjang keempat dari kiri. Ia memperhatikan wajah pemilik raga itu. Walaupun matanya tertutup, Mui tahu kalau namja itu memiliki mata yang besar. Mui memperhatian hidung dan bibir raga itu. Mancung dan tebal. Mui menyukai itu. Raga itu cocok untuknya. “Aku memilihnya menjadi tubuh penggantiku.” Ken, Hyun dan Taega mengangguk. Mereka juga melakukan hal yang sama seperti Mui. Menghampiri dan memilih raga yang akan menjadi tubuh pengganti mereka.

Mui menyentuh puncak kepala raga itu. Lagi-lagi kedua matanya terpejam. Mui menarik nafasnya dalam-dalam. Ketika Mui menghembuskannya, sinar ungu terang muncul di telapak tangannya yang menyentuh puncak kepala raga itu. Pelan namun pasti, raga itu menyusut dan terhisap ke dalam telapak tangan Mui hingga menghilang semuanya.

Mui melepaskan topengnya dan berbalik menghadap ketiga saudaranya. Wajah mereka sudah berubah menjadi seperti wajah dari raga-raga yang  mereka pilih untuk menjadi tubuh pengganti mereka.

“Bagaimana dengan wajahku sekarang?” tanya Mui dengan senyuman khasnya. “Apakah terlihat lebih tampan?”

@@@

Yong Hee terus mengurung diri di kamarnya. Ia duduk di atas tempat tidurnya yang berwarna cokelat tua. Matanya terlihat sembab. Tissue berserakan dimana-mana. Tidak hanya memenuhi tempat tidurnya.

Baru saja ia mendapat kabar dari teman sekelasnya kalau Taemin, Lee Taemin, sosok namja yang sampai sekarang belum bisa ia lupakan, meninggal. Meninggalkan dunia ini. Meninggalkan kenangan mereka di dunia. Meninggalkannya.

Sampai detik ini ia masih belum bisa melupakan Taemin. Meski Taemin telah tega menyakitinya dulu. Bagaimana pun, Taemin pernah mengisi hari-harinya dulu. Sebelum Yong Hee memutuskan untuk berpisah dengan Taemin dan melupakan semuanya. Melupakannya.

Tentu saja Yong Hee terpaksa memilih jalan itu, karena selama mereka dekat, Taemin tak pernah meresmikan hubungan mereka.

Taemin dan Yong Hee memang seperti sepasang kekasih. Teman-teman dekat mereka pun mengira mereka berpacaran. Taemin dan Yong Hee sama-sama tahu kalau mereka memiliki perasaan suka terhadap satu sama lain. Tapi sikap acuh Taemin yang terlewat batas membuat Yong Hee tak tahan. Sikap Taemin tak seperhatian dulu. Rasanya tidak enak sekali menjalin hubungan yang sangat dekat dengan lawan jenis namun tak ada kejelasan di antaranya. Hingga Yong Hee memutuskan untuk meninggalkan Taemin. Bahkan, Taemin pun tak peduli ketika Yong Hee mulai menjauh darinya. Yong Hee semakin sakit dibuatnya.

Jika Yong Hee ingin tertawa bahagia sekarang, itu sangat tepat dan harus ia lakukan. Karena akhirnya, ia bisa lebih mudah melupakan namja itu. Karena, Tuhan telah memisahkan jarak yang sangat-sangat jauh untuk Yong Hee dan Taemin. Tapi tidak. Yong Hee justru menangis. Yang ada di pikirannya sekarang adalah semua ini hanya mimpi. Dan ia berharap ketika terbangun nanti kenyataan kalau ia telah meninggalkan Taemin lah yang ada. Bukan Taemin yang meninggalkannya. Meninggalkan kehidupan namja itu sendiri di dunia ini.

“Jadi.. Kau ingin pergi begitu saja? Kau memang tak pernah peduli padaku, Lee Taemin.. Bahkan sampai saat kau pergi meninggalkan dunia ini pun, kau tetap menyakiti aku! Aku benci padamu, Lee Tarmin!! Arrggghhh..” Yong Hee menekuk kedua lututnya dan memeluknya. Yong Hee menelungkupkan wajahnya di atasnya. Ia tak ingin orang lain melihatnya terisak. Lebih tepatnya, masih terisak untuk yang ke sekian kalinya. Untuk Taemin.

@@@ 

 

You Ni-ah.. You Ni-ah.. Mendekatlah.. Tak perlu takut. Kau adalah milikku. Kemarilah.. Kemarilah.. Aku bahagia, sekarang kau telah menjadi pengantinku..

 

“Nuguya? Nuguya?? Apa maksudmu? Aku bukan pengantinmu. Aku takkan menjadi pengantinmu!” Kedua mata You Ni terpejam rapat. Kedua alisnya bertaut. Peluh hampir membasahi seluruh bagian wajahnya. Sedari tadi kepalanya terus menoleh ke kanan dan ke kiri merasa gelisah. Kedua tangannya mencengkeram sprei tempat tidurnya dengan erat.

Tidak. Takdir akan mempersatukan kita, You Ni-ah. Kalungmu.. Kalungmu.. Yang akan mempersatukan kita. Percayalah.. Aku tidak akan menyakitimu. Mendekatlah..

“Kalungku?” Dalam tidurnya You Ni menyentuh kalungnya.

Ya. Kalungmu adalah penghubung dunia kita yang berbeda. Takkan lama lagi, kau dan saudara-saudaramu akan bertemu dengan kami. Jangan menolak. Terimalah. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah yang ada di kerajaanmu. Terutama masalah yang ditimbulkan oleh Selir.

DEGH!

You Ni terjaga. Kedua matanya terbelalak lebar. Ia segera memposisikan dirinya duduk di atas tempat tidur. Satu tangannya terangkat untuk menghapus keringat di sekitar wajahnya. Pikirannya melayang.

“Hhh.. Mimpi itu lagi.. Apa maksdunya? Selir? Eommonim? Masalah apa??” You Ni menunduk dan memandangi liontin kalungnya. Setiap kali ia bermimpi seperti itu, pasti kalungnya akan mengeluarkan suara dengungan yang lirih dan memancarkan cahaya keunguan.

@@@

 

Tiga hari setelahnya…

 

“Bagaimana, Raja? Raja sudah mengambil keputusan?” Selir menyesap tehnya. Namun tatapan matanya terus memperhatikan wajah Raja. Diam-diam, Selir tersenyum licik.

“Hhh..” Raja menghela nafasnya panjang. Kedua matanya berkaca-kaca. “Ya. Sepertinya harus kulakukan.” Dalam hati, Selir bersorak kemenangan. Rencananya berhasil. Ia berhasil memperdaya Raja. “Selirku?”

“Iya, Raja?” Jawab Selir. “Raja tidak apa-apa kan?”

Raja mengangguk lemah. “Akan kucoba untuk baik-baik saja. Selirku, aku rasa kita tak perlu lagi menundanya. Panggil peramal itu malam ini juga. Dan, lebih baik kita tak perlu memberitahu perihal ini pada keenam anak-anak kita.” Raja memutuskan. Selir tersenyum dan bangkit.

“Baik, Raja. Saya pikir, anak-anak kita memang tak perlu tahu tentang masalah ini. Terutama pada Yoo Ra, You Ni dan Yoo Na. Kasihan mereka. Saya tak tega.” Raja membiarkan Selir melangkah menjauh dari ruang kerjanya siang itu. Selir terus tersenyum licik. Ia bahagia, sangat bahagia. Akhirnya ia bisa menyingkirkan ketiga anak tirinya itu. Dengan begitu, anak-anak kandungnya bisa mendapatkan harta yang lebih banyak. Dan ia akan segera mendapatkan gelar permaisuri yang sudah sejak awal ia damba-dambakan.

@@@

Malam ini keluarga raja berkumpul di meja makan panjang untuk menyantap hidangan makan malam mereka bersama. Biasanya, Raja hanya mengadakan jamuan makan malam bersama seperti ini satu kali dalam sebulan di awal minggu. Namun tak biasanya di minggu kedua ini Raja juga meminta seluruh anggota keluarga kerajaan untuk makan malam bersama lagi. Dan anehnya, Raja meminta keenam putrinya untuk mengenakan hanbok.

Sepanjang menghabiskan makan malam, tak ada satupun yang berbicara. Mereka semua makan dengan tenang. Ini memang sudah menjadi aturan. Lebih tepatnya menjadi kebiasaan bagi mereka semua. Raja paling tidak suka jika sedang makan bersama ada salah satu yang membuat keributan dengan saling mengobrol atau bersikap tak sopan. Menurut Raja hal tersebut tidak mencirikan kehidupan bangsawan. Bangsawan kerajaan.

Setelah 15 menit, makan bersama pun selesai.

“Putri Yoo Ra, Putri You Ni dan Putri Yoo Na. Ikutlah denganku sekarang.” Sontak ketiga pemilik nama itu bingung. Raja takkan memanggil mereka jika memang tak ada sesuatu yang sangat penting. Apakah ada masalah? Batin Yoo Ra. Namun ketiga putri itu tetap mengekor Raja dan Selir yang berjalan di depan mereka. Yoo Jin melihat kejadian itu. Ia segera berbisik pada Yong Hee dan Yeon Sang untuk mengikuti mereka juga dengan diam-diam.

Yoo Ni dan Yoo Na sedikit terkejut, ketika Raja dan Selir membawa mereka bertiga menuju sungai Jeollado yang berada di belakang istana persinggahan ratu. Istana milik ibu mereka. Dari jarak yang tak begitu jauh, ketiga putri yang lain bersembunyi di balik semak-semak yang terawat dan memperhatikan mereka.

“Ada apa, Appa? Kenapa Appa dan Eommonim mengajak kami kemari?” tanya Yoo Ra mewakili rasa penasaran kedua adiknya.

“Maafkan Appa, Anak-anakku. Appa terpaksa melakukan ini. Beberapa hari yang lalu, ada seorang peramal yang datang ke kerajaan. Ia mengatakan kalau negara kita akan mengalami kehancuran. Dewa Air beserta dewa-dewa lainnya akan menghukum kita. Tak terkecuali rakyat dengan mendatangkan bencana besar. Dan satu cara untuk bisa meredam itu semua hanya dengan cara-“

“Menenggelamkan kami bertiga dan menjadikan kami pengantin dewa-dewa yang akan mendatangkan bencana? Begitukah, Appa?” potong You Ni. Raja terkejut. Ternyata tanpa sepengetahuannya You Ni bisa mengetahui semua ini. Raja melirik ke arah Selir. Raja mengira Selir yang memberitahu hal ini. Namun Selir memberikan tatapan tak tahu-menahu tentang hal ini. Yong Hee, Yeon Sang dan Yoo Jin yang mendengar hal itu juga sangat terkejut. Mereka tidak percaya dengan perkataan peramal itu. Terlebih lagi Yoo Ra dan You Na. Mereka tak sanggup membayangkan ayah mereka tega membunuh mereka hanya karena menuruti seorang peramal yang belum tentu berkata benar. Kenapa harus mereka bertiga?

“Bagaimana kau tahu, Anakku?” tanya Raja dengan tatapan khawatir.

“Aku mendengar pembicaraan Appa dan Eomonim waktu lalu.” Jawab You Ni berbohong. Maaf, Appa. Aku mengetahui semua ini karena mimpi-mimpiku. Firasatku. Karena de javu itu. Tapi aku tak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Appa kalau aku memiliki kemampuan seperti ini. Batin You Ni.

“Appa, apakah Appa serius ingin menenggelamkan kami?!” tanya Yoo Na yang sudah mulai emosi. Ia tidak percaya, di tahun 2012 ini masih ada yang percaya pada sebuah ramalan. Bukankah ada Tuhan yang sejak awal sudah menentukan takdir seluruh makhluknya? Batin Yoo Na kesal.

Raja memandang ketiga wajah putrinya bergantian. Raja terlihat sedih dan bingung harus bagaimana. Selir hanya tersenyum tipis melihat kekacauan yang sudah ia timbulkan. Dan sayangnya, Yoo Jin bisa menangkap ekspresi aneh dari wajah ibunya itu dengan jelas.

“Eomma.. Kenapa dia tersenyum di saat seperti ini?” gumam Yoo Jin lirih.

“Tersenyum? Apa maksudmu?” tanya Yeon Sang yang berada di samping kirinya.

“Ini tidak bisa dibiarkan!” Yoo Jin keluar dari persembunyiannya dengan tergesa-gesa. Yong Hee dan Yeon Sang mengikutinya. Raja dan Selir terkejut melihat kehadiran putri yang lain.

“Yong Hee! Cepat bawa adik-adikmu kembali ke istana selir!” bentak Selir yang mulai merasa takut. Ini semua diluar perkiraannya.

“Tidak. Bagaimana pun kita masih memiliki pertalian darah. Kami berenam tetap bersaudara, Eomma.  Meski hanya ada darah Appa yang mengalir di tubuh kami tapi itu yang membuat kami berenam bersaudara.” Jawab Yong Hee tegas. Selir terlihat marah karena anaknya sendiri bisa menggagalkan rencananya.

“Appa.. Tegakah Appa membunuh saudara-saudara kami? Bahkan Eomonim baru meninggal dua bulan yang lalu. Apakah harus ada yang kehilangan nyawa lagi?” tanya Yeon Sang yang mulai terisak.

“Appa tak tega. Tapi Appa harus. Ini demi keselamatan rakyat dan negara kita. Appa tak bisa egois. Terlebih lagi, peramal itu mengatakan-“

“Putri You Ni memiliki sebuah kalung yang menghubungkan dunia kita pada dunia Kerajaan Enam Dewa.” Semuanya menatap peramal yang sekarang sudah berada di samping Raja. Peramal itu berani sekali memotong perkataan Appa! Batin Yoo Na yang semakin emosi.

“Siapa anda?!” tanya Yoo Jin ketus yang juga sama kesalnya.

“Dia peramal itu.” Jawab You Ni.

“Eonni, kau tahu?” tanya Yeon Sang setengah berbisik.

“Ya. Dari mimpiku.” Jawab You Ni singkat yang hanya bisa didengar di telinga Yeon Sang yang tepat berada di sampingnya. Yeon Sang tak berani bertanya lebih banyak lagi meskipun ia sangat penasaran dengan jawaban You Ni. Yeon Sang merasa ada yang berbeda dengan You Ni. Ya, sejak dulu sebenarnya. Namun Yeon Sang mencoba untuk tak peduli karena menurutnya mungkin itu hanya perasaannya saja. Namun semenjak kepergian Ratu, Yeon Sang semakin melihat dan merasakan ada beberapa perbedaan yang terjadi pada diri kakaknya itu.

“Tiga putri keturunan Ratu harus ditenggelamkan di sungai ini untuk dijadikan pengantin para dewa. Sebenarnya, hanya putri kedua lah yang harus ditenggelamkan di sungai ini. Hajiman, Putri You Ni memiliki dua saudara kandung. Jadi, dengan petunjuk yang dewa berikan padaku, Putri Yoo Ra dan Putri Yoo Na juga harus dipersembahkan. Jika tidak, dewa akan marah dan menghukum kita semua dengan bencana.” Jelas peramal itu berbohong.

“Appa.. Aku bersedia. Aku menerima dengan ikhlas diriku dijadikan persembahan.” Kata You Ni.

“Eonni!” kata Yeon Sang setengah berteriak. “Jangan lakukan itu! Peramal itu pasti hanya mengada-ada.” Yeon Sang terisak lagi. You Ni tersenyum pada Yeon Sang.

“Anni. Sepertinya sosok yang berada dalam mimpiku itu adalah salah satu dari dewa-dewa itu. Dan memang menginginkan adanya persembahan.” Tapi aku juga mencurigai Eomonim. You Ni melanjutkan perkataanya dalam hati.

“Kalau begitu, aku juga.” Kata Yoo Ra dan Yoo Na serempak. “Aku tak mungkin membiarkan You Ni menanggung ini semua sendiri.” Jawab Yoo Ra bijak. Yoo Na mengangguk setuju meskipun ia sangat marah pada Appanya.

“Aku juga!” teriak Yeon Sang. Raja dan Selir terkejut.

“Yeon Sang! Apa maksudmu?! Jangan bercanda!” bentak Selir. Yeon Sang menggeleng cepat.

“Tidak, Eomma. Jika memang ini harus dilakukan untuk mencegah kemarahan dewa dan bencana itu datang, maka aku juga ingin membantu. Dengan cara seperti ini pun tak apa.” Tersirat keyakinan yang terpancar dari kedua manik mata milik gadis itu.

“Ya. Kami juga.” Jawab Yong Hee dan Yoo Jin.

“Baiklah kalau begitu. Baiklah jika itu keinginan kalian. Maafkan Appa. Sungguh-sungguh maaf, Putri-putriku..” Raja terisak. “Peramal, tolong segera lakukan upacaranya.” Peramal mengangguk. Selir gelagapan. Senjata makan Tuan baginya.

“Andwae!” teriak Selir. Raja dengan sigap menahan Selir agar Selir tak mencegah ritual itu. Raja berpikir Selir sedih karena keenam anaknya akan dipersembahkan. Namun bagi Selir, hanya anak-anak kandungnya saja yang ia khawatirkan. Peduli setan dengan ketiga anak yang lain.

Selir tak dapat mencegah. Keenam putri sudah naik ke atas perahu yang berada di pinggir sungai bersama peramal yang menjadi kemudinya. Selir baru tahu. Ia lupa memberitahu pada peramal itu kalau  ketiga anaknya tidak boleh dilibatkan dalam masalah ini. Sekarang, ia hanya bisa menangisi kecerobohannya.

Dengan tatapan sedih, Raja terus menahan kuat-kuat tubuh Selir yang terus meronta. Raja memandangi perahu itu hingga menghilang tertutup kabut malam. Air mata jatuh perlahan membasahi pipi Raja.

“Ayo, Selirku. Kita kembali ke istana.”

Sementara itu, keenam putri bergidik ngeri berada di tengah sungai di malam yang dingin seperti ini. Hanbok yang mereka pakai tak cukup untuk menahan hawa dingin yang cukup ekstrim malam itu. Suasana gelap juga membuat mereka seakan tak dapat bernafas dengan normal.

Tiba-tiba, sebuah cahaya keunguan menerangi mereka semua. Semuanya menatap You Ni dengan takjub. Tepatnya menatap liontin di kalung You Ni yang memancarkan cahaya itu.

“Ba-bagaimana.. itu, itu bisa terjadi?” tanya Yong Hee sedikit takut.

“Ini kalung milik leluhur nenek moyang kita. Eomma memberikannya padaku. Kata Eomma, kalung ini mencari pemiliknya. Dan aku cukup bahagia, karena kalung ini memilihku. Kalung ini akan memendarkan cahaya dengan sendirinya di tempat yang gelap. Seperti saat ini.” Jawab You Ni.

“Daebak, Noona!” puji Yoo Jin. “Seperti cerita di komik yang pernah aku baca.” Perkataan Yoo Jin sepertinya tidak tepat dipakai dalam suasana dan kondisi seperti ini.

“Kalian semua siap?” pertanyaan si peramal mengagetkan keenam putri.

“Ya, aku rasa.” Hanya You Ni yang mampu menjawab. Tepatnya berusaha menjawab.

Keenam putri dapat melihat kedua mata si peramal terpejam walaupun samar-samar. Peramal itu seperti mengucapkan mantra.

Tiba-tiba perahu yang mereka naiki bergetar hebat. Membuat keenam putri dan peramal itu terombang-ambing di atasnya. Air sungai yang semula tenang mulai bergerak-gerak liar dan arusnya menjadi deras. Angin kencang berhembus di sekitar mereka. Petir menyambar-nyambar di atas mereka. Sebuah kobaran api yang cukup besar menerjang tubuh si peramal hingga peramal terjatuh ke dalam sungai. Para putri panik.

“You Ni, apa yang terjadi??” kata Yoo Ra sambil berpegangan di pinggiran perahu.

“Tenanglah.” You Ni terpejam. “Dewa, tolonglah kami! Selamatkan kami!”

BYUUUUR!

Perahu terbalik dan keenam putri  tenggelam ke dalam sungai.

BLUP BLUP BLUP..

You Ni menahan nafasnya. Ia berusaha untuk mengangkat tubuhnya ke permukaan namun tak bisa. Ia melihat ke sekeliling. Tak ada siapapun selain dirinya. Dimana saudara-saudaraku?! Pekik You Ni dalam hati.

“UHUK!” You Ni terbatuk. Ia tak bisa menahan nafasnya lebih lama lagi. Tubuhnya terus tenggelam. Dan anehnya, kakinya belum juga menggapai dasar sungai. Sungai apa ini? Kenapa sangat dalam?? Batin You Ni.

You Ni memegangi lehernya yang terasa sakit. Ia sudah terlalu banyak menelan air. Air itu masuk ke dalam paru-parunya juga. Dan membuatnya tak sadarkan diri seketika. Tubuh You Ni menjadi ringan dan semakin ringan. You Ni bergerak turun ke bawah yang entah ada atau tidak dasarnya.

@@@

 

“Mui!” Mui berbalik dan melihat sosok namja berambut pendek kecokelatan denga kedua mata yang sipit sedang menatapnya. Mui mengernyitkan dahinya. Suaranya ia kenal. Tapi.. Dia siapa? Kenapa ada manusia di sini? Dan kenapa manusia itu berdandan seperti Jura? Jubahnya berwarna abu-abu tebal dan terbuat dari bulu serigala. Bukankah itu milik Jura? Batin Mui.

“Hai, bagaimana dengan wajahku yang baru? Tampan?” Seketika itu juga Mui yakin siapa yang ada di hadapannya. Suara Jura.

“Hyung, baru saja aku tak mengira itu kau. Kau memilih tubuh pengganti yang cukup tampan. Dengan ragamu yang seperti itu, kau semakin terlihat berwibawa menyandang gelar sebagai Dewa Langit. Siapa namanya?” tanya Mui sambil  menunjuk ke arah tubuh Jura.

“Lee Jinki. Kakak tertua dari keenam namja itu. Sesuai dengan posisiku di sini. Pemimpin harus dengan pemimpin.” Jawab Jura bangga. “Kau juga tampan. Matamu terlibat besar. Sangat menarik. Kau lebih baik tanpa topeng itu, Mui.” Puji Jura. Mui hanya tertawa renyah.

“Mui! Hyung!” teriak Ken, Taega dan Mir bersamaan memanggil Mui dan Jura. Mereka muncul dengan cara yang berbeda. Ken muncul bersama kobaran apinya. Taega muncul dari dalam tanah setelah tanah-tanah itu mengeras dan membentuk beberapa pilar ke atas. Sedangkan Mir muncul dengan kilatan petirnya. “Pengantin kita.. Sudah datang.” Mui tersenyum. Ia tak sabar ingin bertemu dengan You Ni.

@@@

“UHUK!” Yoo Ra terbatuk. Matanya terpejam. Dadanya terasa sakit. Nafasnya juga sesak. Tapi ia merasakan tubuhnya seperti melayang. Apa yang terjadi? Batinnya.

Yoo Ra membuka matanya perlahan. Ia dapat melihat wajah seorang namja berada di atas wajahnya. Namja itu tengah menggendongnya. Ia memperhatikan namja itu, matanya masih belum bisa berfungsi dengan normal. Wajah namja itu terlihat samar-samar. Namun ia bisa melihat, namja itu mengenakan jubah berwarna abu-abu tebal. Siapa dia? Batin Yoo Ra.

Tiba-tiba, namja itu menunduk dan menatapnya. Namja itu tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya. Yoo Ra merasa tak asing dengan senyuman itu. Alis yang tebal, mata yang sipit, senyuman gigi kelinci. Tunggu sebentar! Yoo Ra kaget ketika melihat wajah yang sangat dikenalnya. Matanya sudah dapat berfungsi dengan baik.

“Hai, Pengantinku. Salam kenal. Namaku Jura. Dewa Langit. Tapi, aku tak keberatan jika kau memanggilku Jinki.” Yoo Ra terkesiap. Matanya membesar. Benarkan ini Jinki? Lee Jinki?! Tidak mungkin, ini pasti salah. Jinki sudah meninggal.

“Bagaimana jika kau mengutarakan perasaanmu sekarang padaku? Bukankah kau mencintaiku?” Yoo Ra membeku dalam gendongan Jura. Bahkan namja ini bisa tahu tentang dirinya yang mencintai Jinki. Apa ini mungkin? Jinki.. menjadi dewa? Dewa Langit?? Dimana aku sekarang? Apa di Surga? Atau di Neraka? Bukankah aku tenggelam ke dalam sungai dan mati? Tapi, dimana kelima adik-adikku? Batin Yoo Ra bingung.

“Kau.. Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mencintai Jinki? Dan.. Dimana kelima adikku yang lain??”

END OF AUTHOR POV

 

@@@

 

-TBC-

 

Gimana dengan part duanya? Adakah yang tidak puas dengan jalan ceritanya? Hehe.. Mianh. Kalau aneh. Harap dimaklumi masih dalam tahap belajar. Oke, makasih udah mau baca. Jangan lupa comment dan likenya ya. Apresiasi dari para readers sangat ditunggu dan diharapkan. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “My Princess for Me – Part 2”

  1. lanjuutt ^^
    sumpah keren banget ffnya.
    ditunggu kabar selanjutnya.
    jadi seneng deh merka paling nggak bisa berstau lagi meskipun dengn cara yang agak ajaib..
    hehehe…
    keep writing author^^

    1. Hehe.. Iya. Ini tujuan kenapa aku bikin Lee Bersaudara pada mati. Karena raga mereka akan dijadikan tubuh pengganti oleh para dewa.
      Thanks for comment. 🙂

    1. Yap. Di sini emang aku bawa cerita baru dengan menjadikan SHINee+Minwoo sebagai dewa. Biar ngga pasaran aja.
      Makasih udah kasih oksigen. 🙂

  2. Haha.. Tau rasa dch tuh selir ga tw diri..
    Rajanya kasian.. Tpi salahnya jg sch percaya ama ramalan..
    Next ya.. Ditunggu..

    1. Iya. Aku authornya aja bikin bejek2 tuh si selir. Hehe,
      Iya. Tapi buat keluarga kerajaan ngga jarang yang masih percaya hal-hal mistis gitu.
      Makasih udah komen ya. 🙂

  3. Critanya unik thor.Jrang2 dpet crita mcem bginian.Eh bukn jrang tpi emng gg prnah.Pling cumn dlem film ajj crita mcem bgitu,haghag.

    Owh,ngerti.Jdi krna itu author bikn kluarga lee pada mati.
    Next part eunri tunggu loh ^^

    1. Beneran unik? Wah, gomawo. Tapi aku malah belum pernah nnton film genre fantasy yang manusia jadi dewa atau tubuhnya dipake dewa. Hehe.. Aku malah ngga terlalu suka film genre fantasy. #plak!
      Yoi. Gomawo udah baca.

  4. Hehehe makin seru!!
    Jadi penasaran
    Akhirnnya selirnnya nyesel kan
    Lagi jahat !! Akhirnya harus kehilangan 2 anaknya
    Lanjuttt

    1. Yap. Selirnya nyesel sekarang. Tapi nanti? Masih ada kejutan tentang selir. 😉
      Waduh, yang bener kehilangan 3 anak. Yong Hee, Yeon Sang n Yoo Jin. 🙂

  5. serruuuu!!!! keren thor!
    yah senjata makan tuan tuh! kasihan selir!!

    couplenya udah ketebak nih!! keenam putri dpt pasangannya kan? #sok tau!#
    tp aku suka yoo na-key, hehe penasaran bgt!
    udah ah aku mau loncat ke part selanjutnya! Semangat ya author!

    1. Iya. Selirnya cuma kuat berambisi tapi ceroboh.

      Yap. Semuanya dapet pasangan kok. Hehe..
      Wah, banyak yang suka keyna couple yah? Emang couple yg bawel tu menarik. Wkwk
      Yo. Thanks udah baca n komen. 🙂

  6. pasti nyesel banget deh selir itu, niatnya cuma mau ngorbanin ketiga anak tirinya ,eh ternyata anak kandungnya juga menyerahkan diri dengan suka rela….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s