Because, You and I are Different – Part 3

Title: Because, You and I are Different.

Author : Sonya.

Main Cast: Lee Taemin, Kang Yunmi.

Support Cast: Other SHINee members, and you can find out yourself^^

Length: Sequel.

Genre: Fantasy, Romance, Friendship.

Rating: PG15.

Warning: Sudut pandangnya berubah-ubah (tulisan ber-format italyc adalah Taemin pov). Many typo(s). Gak jelas. And any imperfections.

*

“Yeobose –”

“appa…ini Taemin, appa!”

“ne, aku tahu. Ada apa?”

“Yunmi…Yunmi…”

“Yunmi? Ada apa dengannya?”

“dia…..baru saja tersiram…”

“MWO???????????”

“tak usah berteriak, appa!” Taemin menjauhkan ponsel dari telinga dan mengusap-usap telinganya yang pengang akibat teriakan appa-nya.

“BAGAIMANA BISA AKU TAK BERTERIAK, HAH? Cepat….! Cepat….! Yak! CEPAT!!!”

“CEPAT APA???? AKU TAK TAHU APA YANG HARUS KU LAKUKAN! KAU BELUM MEMBERITAHUKU!” Taemin ikut berteriak karena kesal akan apa yang dilakukan appa-nya. Bukannya memberikan solusi malah berteriak-teriak.

“jeongmal?” Donghae bertanya dengan nada bingung.

“aish, kau ini bagaimana sih. Dasar appa yang tak dapat diandalkan!” Taemin mengecilkan volume suaranya agar tak terdengar. Namun…

“YAK! AKU BISA MENDENGARMU, TAEMIN!!” Lagi-lagi berteriak.

“YAK! Jangan berteriak terus! Cepat beri tahu aku harus bagaimana, appa! Kalau kau tidak ingin ciptaanmu ini mati sekarang!”

Atau kau yang tidak ingin kehilangannya, eh Taemin?

Mana mungkin aku berpikiran seperti itu? Aku –akan sangat bahagia apabila dia musnah dari hadapanku.

Kau akan lebih bahagia jika dia tetap bersamamu, benar bukan?

Aniyo! Aku…ah sudahlah. Diam kau!

Oke, aku diam.

“panas! Cepat –kemari! Yak!” saking paniknya, Donghae tak dapat berbicara dengan benar. Namun, dengan keadaan panik seperti itu, otak Taemin yang kebetulan –atau memang dibuat kebetulan– pintar, dapat langsung mencerna apa yang dimaksud appa-nya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Taemin memasukkan handphone-nya ke saku celananya dan segera membopong tubuh Yunmi di punggungnya. Berlari menuju gerbang sekolahnya.

*

“Minho…bisakah kau diam? Tidak usah mondar-mandir seperti itu. Membuat kepalaku makin pusing. Kau tahu?” Key mengomel mengenai sikap Minho yang sedari tadi hanya mondar-mandir di depannya sambil komat-kamit tidak jelas. Sudah berulang kali Key, maupun Jonghyun dan Jinki menyuruhnya untuk duduk, tapi entah telinganya itu sedang tersumbat kotoran yang tidak dibersihkan selama 2 tahun sehingga ia menjadi tuli, atau memang sengaja men-tuli-kan diri sendiri.

“duduklah, Minho! Kau tidak ingin sekolah kita hancur kan gara-gara teriakan Key?”

Perkataan Jinki berhasil membuat Key yang duduk disebelahnya melotot. Yang dipelototi hanya diam seakan tak tahu apa-apa.

“aku hanya khawatir, hyung.”

Setelah sekian lama –dan beberapa kali diteriaki Key–, akhirnya namja bermata besar itu duduk disamping Jonghyun yang sedari tadi melamun dengan wajah yang aneh dan hidung yang kembang kempis. Wajah Jjong hyung saat berpikir lebih seram 5 kali lipat dari wajah-seram-aslinya, begitu kata Key.

“tidak usah khawatir begitu, Taemin akan baik-baik saja. Dasar 2min tidak bisa dipisahkan. Ckck,” Jinki berdecak sedikit kesal yang membuat Minho mengangkat satu alisnya.

“Taemin?”

“Tentu saja Taemin. Kau mengkhawatirkannya kan?” tanya Jinki heran.

“huh? Ah…ya…Taemin,” Minho mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian bergumam “mengapa aku bisa lupa? Tentu saja Taemin, kan?”

Drrt…drrt…

Jinki merogoh saku celananya mengambil ponselnya yang bergetar. Ada 1 pesan dari Taemin.

Hyung, jika kau pulang, bawakan juga tas-ku. Tidak usah mencariku, aku baik-baik saja.

Jinki tersenyum lega melihat pesan dari Taemin, membuat Key yang sedang memperhatikannya heran. “ada apa?”

“Taemin bilang dia tidak apa-apa.”

“oh syukurlah,” wajah Jonghyun seketika menjadi berseri setelah mendengar beritanya.

*

Taemin berlari menuju gerbang sekolahnya dengan Yunmi yang ia gendong di punggungnya. Sesekali ia meringis kesakitan karena dirasakan sakit di dadanya. Seperti dihunus beribu-ribu pedang tajam milik Inuyasha, katanya.

“Stop!” tiba-tiba saja seorang security dengan nametag bertuliskan “Le3tEuk cElLalLu c3tHia” datang mengjampiri Taemin.

Aish dasar si kumis ini mengganggu saja. Tak tahu apa kalau aku sangat buru-buru? Dan lagipula, mana ada nametag tulisannya seperti anak bayi baru belajar menulis! Bahkan itu lebih parah. Aku yakin pasti otaknya bahkan lebih buruk dari caranya menuliskan namanya di nametag itu.

“mau kemana kau?” tanya Leeteuk saat ia lihat Taemin mendengus melihat tingkahnya yang abnormal. Dia memukul-mukulkan tongkat –yang biasa menjadi tanda bahwa dia adalah seorang security– ke tangannya dengan pelan.

“cepat bukakan gerbangnya!” titah Taemin sedikit tidak sabar.

“ohh tidak bisa! Ini masih jauh dari jam pulang, jadi kau tak bisa pergi dari sini, dan –oh siapakah dia?” tanya Leeteuk sambil menunjuk Yunmi.

“ayolah ahjussi, bukakan gerbangnya!” Taemin mengerluarkan jurus puppy eyes-nya. Namun entah karena jurusnya itu kurang afdol atau memang Leeteuk tidak melihat keimutan wajah Taemin karena terhalang oleh kumis tebal dan besar miliknya, dia tetap tidak mau membukakan gerbangnya untuk Taemin.

Aish,menyebalkan sekali security ini. Kalau sampai dia tidak mau membukakan pintunya, akan ku cukur kumis tebalnya itu dengan gaya mohawk.

“tidak, tidak, tidak. Aku curiga kau adalah pelaku penculikan yang sekarang ini sedang marak,” Leeteuk tiba-tiba maju mendekati Taemin dan mendekatkan bibirnya ke telinga Taemin kemudian berbisik. “apa setelahnya kau mencicipinya juga?”

“yak! Dasar kau ahjussi mesum! Cepat bukakan gerbangnya.”

Memangnya aku benar-benar terlihat seperti tersangka penculikan, apa? Wajahku ini tampan. Lebih tampan dari Minho SHINee, lebih imut dari Taemin SHINee dan yang pasti aku tidak semenyeramkan wajah Jjong hyung. Ck… Jjong hyung, Jjong hyung, aku jadi kepikiran, betapa hinanya dirimu dimataku.

“shireo~”

Security keras kepala. Ayo Taemin cari cara sebelum kau mati karena kesakitan. Lalu Yunmi? Masa bodoh!

“ahjussi,” Taemin menghela nafas sebelum melanjutkan. “aku akan memberikanmu voucher makan ramyeon gratis , asalkan kau mau membukakan gerbangnya. Ayolah! Jebal…”

“hanya ramyeon? Hello~ aku masih mampu membelinya!” Leeteuk menatap rendah Taemin sambil memelintir ujung kumisnya.

“baiklah, bagaimana kalau bulgogi?”

“aku sudah sering memakannya. Jadi, tidak.”

“aish, yasudah katakan apa yang kau inginkan?”

“umm…” Leeteuk terlihat berpikir sebelum kemudian dia tersenyum lebar membuat Taemin berjengit. “aku ingin… sosis sonays seperti yang dinegara sebrang itu.”

Taemin melongo mendengarnya. Sebelum Taemin menjawab, Leeteuk melanjutkan perkataannya lagi –yang lebih tepat di sebut bergumam

“Ah aku akan membuat video lipsync saja, siapa tahu bisa menjadi bintang iklannya.”

*

“APPA!”

Taemin berteriak-teriak tepat saat kakinya mulai menapaki rumah mewah milik Donghae.

Terlihat Donghae yang berlari terburu-buru keluar dari ruang kerjanya saat ia mendengar suara cempreng-mulai-berat milik Taemin.

“mengapa bisa seperti ini?” tanya Donghae sambil mengambil alih Yunmi ke dalam gendongannya.

“mollayo…” jawab Taemin sambil meringis.

“pabo,” Memangnya turunan dari siapa aku bodoh? Dasar appa tak tahu diri. Dan kau anak tak tahu diri, Taemin!

“ku dapat darimu,” Gumam Taemin. Namun entah karena telinga Donghae itu tajam atau memang suara Taemin yang terlalu keras sehingga membuat dia selalu mendengar apa yang anak itu gumamkan.

“jika aku bodoh, aku tak akan menjadi profesor dengan gelar sepanjang tembok China.”

Taemin mendengus dan memutar bola matanya. Jika appa pintar, tidak mungkin appa membuat aku menderita. Huh!

“ah cepatlah, appa! Dadaku ini semakin sakit saja rasanya.”

Donghae segera berjalan menuju sebuah ruangan yang ia sebut “Ruang Kerja”. Saat pintu itu terbuka, terlihatlah sebuah ruangan –persegi panjang– besar dengan lebar kurang lebih 30 meter dan panjang 45 meter. Ditengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah meja besar yang diatasnya terdapat komputer dan segala tektek bengeknya peralatan kerja Donghae. Didepan meja komputer itu terdapat sebuah “rumah kaca” dengan besar seperempat ruangan kerja itu. Disampingnya terdapat dua buah pintu transparant dan masih banyak lagi peralatan kerjanya yang sama sekali “asing” bagi orang lain termasuk Taemin.

“kau belum memberinya makan?” tanya Donghae sambil menatap layar komputernya dengan seksama setelah memasukkan Yunmi ke sebuah alat beruap panas. Jari-jari lentiknya dengan lincah menyentuh layar flat dihadapannya itu. Sesekali dia akan mengerutkan alisnya, kemudian berdecak, menggeleng dan tersenyum lebar. Taemin bahkan sampai mendengus sebal melihat kelakuan appa-nya yang menurutnya sangat aneh. Untung aku tidak aneh seperti appa.

“ku pikir ia tidak makan,” Taemin beralibi. Jelas-jelas kemarin malam gadis itu mengeluh ingin makan.

“bagaimana aku bisa mempunyai anak tak berperasaan sepertimu, huh?”

“semua sifat jelekku itu dari appa, kupikir appa tahu.”

Huh, bagaimana sih appa ini? Sudah jelas-jelas beliau yang tidak memiliki perasaan. Seenaknya saja menitipkan Yunmi pada anaknya yang tampan dan bersinar seperti Edward Cullen ini?

“cepatlah, appa! Kau tidak memberikan obat untukku?” Taemin menyandarkan punggungnya di sofa. Kepalanya terkulai lemas di kepala sofa besar berwarna merah itu. Tangannya masih sesekali meremas dadanya yang masih belum saja berkurang rasa sakitnya.

“obat untuk apa?” tanya Donghae acuh.

“tsk… kau sendiri yang bilang kalau aku akan ikut merasakan sakit jika dia juga sakit, dan sekarang dadaku ini rasanya seperti digerogoti Nagini.”

“kau akan sembuh sendiri jika Yunmi juga sembuh.”

“jadi… maksud apppa, aku ketergantungan olehnya, begitu?” sontak ia tegakkan tubuhnya.  Taemin membulatkan matanya kaget akan ucapan Donghae.

Yang ditanya hanya mengangguk dan bergumam sambil berjalan menghampiri anak bungsunya itu.

“apa aku sudah memberitahumu?”

Donghae duduk di sofa –disamping Taemin. Kaki kanannya ia tumpangkan di kaki kirinya. Ia senderkan punggung lebarnya kemudian membenarkan letak kacamatanya yang berframe hitam yang selalu senantiasa menemaninya saat “kerja”.

“Yunmi,” Donghae melanjutkan setelah melihat kedua alis Taemin bertaut menandakan bahwa dia bingung, “Jika dia hanya tersiram oleh minuman sedikit saja, dia tak akan sampai pingsan seperti ini. Tapi karena kau belum memberinya makan, dia jadi lebih lemah.”

Karena tak ada respon dari sang anak, Donghae kembali melanjutkan ceritanya, “sama hal-nya seperti manusia biasa –walaupun bukan Tuhan yang menciptakannya­–, dia juga butuh makan dan minum untuk energi-nya.”

“apa yang dia makan? Apakah sama seperti kita?” Taemin bertanya setelah lama terdiam. Sakit yang dia rasakan perlahan-lahan menghilang.

“kau tahu kan dia hanya robot? Dan kupikir, kentang cocok untuknya. Jadi, kau hanya perlu  memberikannya kentang –ku anjurkan itu digoreng, dan coklat panas untuk minumannya.”

“hanya itu?”

“ya, hanya itu? Kau pikir apa?”

Taemin menggeleng. Kupikir makanannya harus makanan yang mewah, ternyata hanya kentang? Tsk… kalau begini bagaimana aku bisa meminta ganti rugi pada appa kalau hanya kentang?

“appa…”

“hn…”

“bagaimana kalau… kalau kejadian seperti ini terjadi lagi?”

“ya jangan sampai terjadi lagi”

Tsk… appa ini keras kepala sekali. Untung aku tidak.

“aku bukan bodyguard-nya, appa. Aku juga punya kegiatan lain, bukan hanya untuk mengurusi dan tetap berada di samping dia. Dia itu kan robot, tetap saja robot tidak dapat berfikir seperti manusia. Dia tidak akan tahu apakah itu baik untuknya atau tidak.”

Taemin menatap kesal Donghae yang sedari tadi hanya diam menatap pintu transparant dengan kumpulan uap yang mengepul dan Yunmi didalamnya.

“panas. Dia hanya butuh udara panas. Jadi, kau bisa membawanya pergi untuk sauna, dan ku anjurkan lakukan itu minimal dua minggu sekali untuk menjaga kondisi tubuhnya. Dan, ku ingatkan sekali lagi karena dia itu adalah robot, air akan menjadi musuhnya.”

“mengapa begitu merepotkan?” Taemin mengeluh.

“kau juga dulu begitu merepotkanku. Sudah berumur 10 tahun saja kau masih selalu ngompol dicelana, membuatku repot, kau tahu?” kata Donghae sambil berjalan menuju komputernya  itu saat dilihatnya uap sudah mulai menipis.

“yak! Tidak usah membahas itu,” muka Taemin sudah sepenuhnya memerah karena malu.

Tapi Donghae tidak mengubris perkataan protes Taemin. Dia tetap berjalan menuju komputernya, kembali menyentuhkan telunjuknya diatas benda flat itu. Setelah uap didalam ruangan itu sepenuhnya menghilang, ia segera menghampirinya dan mengulurkan tangannya membantu Yunmi berdiri.

“hey, kau sudah merasa lebih baik?”

Yunmi hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Wajahnya masih pucat, mungkin karena belum makan.

Donghae menuntunnya untuk duduk disamping Taemin yang sedari tadi hanya menonton adegan Donghae dan Yunmi.

Yunmi menatap Taemin kemudian tersenyum tipis-namun-manis. Membuat Taemin mengalihkan perhatiannya. Hey! Stop beating! Mengapa jantungku serasa akan keluar melihatnya tersenyum? Ini abnormal, Taemin! Kau harus periksa ke dokter.

“aku akan membuat makanan untuk Yunmi, kau temani dia.” Donghae berbicara pada Taemin sambil berlalu keluar.

Taemin kembali menatap Yunmi yang masih terus menatapnya sambil tersenyum. Taemin tersenyum canggung, membuat senyum Yunmi makin lebar dan jantung Taemin semakin berontak. Kau harus ke dokter, Taemin!

“apa disini panas?” tanya Yunmi.

Yang ditanya hanya menautkan alis tebalnya tak mengerti.

“kau berkeringat,” lanjut Yunmi. Tangannya terangkat menyentuh pelipis Taemin yang berkeringat tipis kemudian mengusapnya.

Tubuh Taemin menegang. Seperti tersengat saat tangan mungil itu menyentuh pelipisnya.

Mengapa… ini terasa menyenangkan dan… dan bisakah untuk saat ini saja waktu berhenti berputar?

Perutnya bergejolak menerima perlakuan manis dari Yunmi. Seperti banyak lirik lagu yang sering ia dengar, ada beribu kupu-kupu yang menari di dalam perutnya dengan menimbulkan sensasi aneh namun mengasyikan.

Taemin masih dalam keadaan bengong saat terdengar suara pintu terbuka.

Cklek…

Ia segera memalingkan wajahnya yang –ia yakin seribu persen– sudah berwarna merah padam. Mengusap wajahnya yang berkeringat dengan telapak tangannnya. Nafasnya memburu dan ia merasa udara disekitarnya kian pengap.

Apa yang terjadi? Ruangan appa sungguh tidak nyaman. Bagaimana mungkin aku merasa gerah sedangkan AC nya sudah jelas-jelas menyala.

“ini… kentang goreng spesial untuk Yunmi yang spesial,” Donghae tersenyum sambil menyodorkan sepiring penuh kentang goreng dihadapan Yunmi.

Senyum Yunmi semakin melebar dan mulai memakannya dengan lahap.

Apakah dia begitu lapar? Tentu saja! Kau tidak memberinya makan dari kemarin, Taemin!

“pakai dasi atau tidak perlu, ya? Ah, tidak usah saja. Dan lebih baik ku buka dua kancing atasnya, ini terkesan… sexy,” Donghae mematut dirinya di depan cermin besar. Hari ini dia sangat gagah –walaupun 6 tahun lagi umurnya sudah akan mendekati kepala lima– dengan menggunakan celana katun hitam dipadukan dengan kemeja biru bergaris putih dan jas berwarna hitam.

Taemin mencibir mendengar monolog dari appa-nya.

“appa harus pergi sekarang, ada pertemuan dengan rekan lama. Ah, sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Jika sudah selesai. Kau boleh pulang. Tak perlu menungguku sampai aku pulang.”

Lagipula siapa yang mau menunggumu? Kau terlalu percaya diri, appa!

“Yunmi, kau harus kuat, oke? Taemin akan menjagamu,” Donghae mengelus puncak kepala Yunmi yang hanya di respon dengan anggukan oleh Yunmi. Dia terlalu sibuk dengan kentang gorengnya.

Donghae segera berlalu tanpa berbicara apapun pada Taemin.

Appa lupa kalau aku juga ada disini. Dia lebih memperhatikan Yunmi daripada anaknya. Biasanya appa selalu melakukan itu juga padaku dulu saat wanita ini belum muncul.

Ya… bagaimanapun Taemin, berapapun usianya saat ini, dia masih –dan akan tetap menjadi– Taemin yang manja.

“ah iya…”

Nah, akhirnya. Aku tahu appa tidak akan lupa padaku. Anaknya yang paling tampan sedunia.

“coklat panasnya ada di meja.”

Tsk…

*

“yeoboseyo.”

“hyung, temani aku belanja!”

“huh?”

“palli! Aku sudah menunggumu dibawah!”

Plip…

Key yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya menatap bingung ponsel di genggamannya. Sudah membuat orang lain cemas karena tiba-tiba lari, sekarang dengan tanpa salam dan melupakan tata cara bertelpon yang baik, Taemin menyuruhnya untuk menemani anak itu berbelanja.

Setahu Key, Taemin tidak suka sekali shopping –tidak sepertinya–, dia akan lebih memilih membaca komik atau menonton TV daripada harus ikut Key belanja yang pasti akan memakan waktu paling sedikitnya 4 jam. Jadi, ada apa gerangan dengan bocah itu?

Setelah bersiap-siap dengan membereskan semua buku-bukunya, Key menuju elevator untuk turun kebawah. Seperti biasa, ia selalu tampil “eyes catchy” dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun.

Saat di bawah, dilihatnya Taemin sedang menunduk –sehingga poni rambut coklatnya menutupi sebagian wajah tampannya­– dengan memakai kaos hitam polos dan jeans longgar berwarna hitam sudah berdiri disamping mobil Porsche sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kaki kirinya ia silang menumpu kaki kanannya dan mulutnya tak berhenti mengunyah permen karet yang ia makan.

Taemin mengangkat wajahnya dan melihat Key yang mulai berjalan ke arahnya. Dia membuka kacamata hitam yang sedari tadi dipakainya kemudian menarik tangan Key dan mendorong tubuh hyung-nya itu untuk masuk ke dalam mobil.

“kau lama sekali, hyung. Aku sudah jamuran menunggumu.”

Taemin mengomel saat sudah memasuki mobil mewahnya itu yang ia dapatkan dari Donghae sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 16 kemarin. Karena dia jarang memakai mobilnya dan lebih baik menumpang dengan para hyung-nya jika akan pergi ke sekolah, mobil itu selalu ia simpan dirumah Donghae. Tak lama dia mulai menstarter mobilnya bersiap untuk pergi.

“kau pikir aku tak sibuk, huh? Oh –hai Yunmi. Apa kau baik-baik saja?”

Key menyapa Yunmi yang duduk dibelakang. Yunmi hanya mengangguk dan tersenyum membuat Key berbisik di telinga Taemin yang sudah mulai menyetir.

“bagaimana bisa kau tak tertarik padanya? Dia sungguh cantik.”

Taemin hanya memutar bola matanya dan mengkonsentrasikan pikirannya untuk menyetir. Mencoba melupakan pertanyaan Key yang jelas-jelas sangat mengganggu konsentrasinya.

*

“hyung, bagaimana kalau yang ini?”

“huh? Kau memilihkan baju untuk Yunmi atau untuk ahjumma penjaga kantin? Itu kolot sekali,” Key mencibir saat melihat Taemin mengangkat sebuah terusan berwarna ungu tua dengan bunga dimana-mana. Satu kata, norak!

“yasudah, kau pilih saja sendiri,” Taemin melengos dan kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di toko itu. Saat ini mereka sedang memilihkan Yunmi baju, mengingat Donghae hanya memberikannya sehelai kain saat datang ke apartemen Taemin malam itu.

“memang aku menyuruhmu untuk memilih?” tanya Key sarkatis. Dia terlihat sibuk memilih baju, celana, rok dan masih banyak lagi. Terlihat sekali pancaran excited dari mata kucingnya itu.

Taemin hanya memutar bola matanya kemudian meraih majalah yang ada didekatnya. Mulai membuka-bukanya dengan alis berkerut.

Majalah apa ini? Katanya majalah fashion, tapi isinya semua wanita dengan posisi dan baju yang sangat vulgar. Aku yakin pasti Jjong hyung suka yang begini. Mwo? Apapula ini? Dia hanya menutupi dadanya dengan tangan? Ini gila! Mengapa di toko ini bisa ada majalah seperti ini?

Taemin bergidik ngeri dan segera menutup majalah itu dan menyimpannya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko. Toko ini dipenuhi dengan semua jenis pakaian wanita, dari pakaian santai sampai pakaian mewah, pakaian pagi sampai pakaian malam, dan dari pakaian dalam sampai yang terluar sekalipun, serta aksesoris dan segala tektek bengeknya tentang wanita.

Sesekali pelanggan ataupun penjaga toko yang lewat didepan Taemin meliriknya menggoda ataupun mengedipkan sebelah mata mereka membuat Taemin mendengus sebal.

Aku tahu aku keren, tapi apakah tidak bisa mereka tidak menampilkan wajah menjijikan seperti itu?

“tumben kau baik mau merelakan uangmu untuk membelikannya baju, hey –Yunmi kau tak boleh memakannya!”

Yunmi yang ditegur segera menyimpan kembali bunga yang tadi berniat untuk dia makan. Kemudian berjalan menghampiri Key yang masih sibuk memilih pakaian dengan wajah cemberut, membuat Key tak tahan untuk tidak mencubit pipi mulusnya.

Taemin yang melihat hanya melengos dan memutar bola matanya. Ada bagian terkecil dalam hatinya yang tak suka melihat adegan itu. Dan tentu saja ia malas mengakuinya.

“kalau appa tak menyuruhku dan tidak mentransferkan uangnya, mana mungkin aku mau repot-repot melakukan ini,” Taemin menyandarkan punggungnya di kursi. Lama-lama bosan juga hanya menunggu Key berbelanja.

“ku pikir kau sudah mulai menyukainya.”

“jangan bodoh.”

Mana mungkin aku menyukainya? Hah! Indonesia akan bersalju kalau itu terjadi. Eh, kok aku malah memikirkan negara itu?

(masyarakat Indonesia bersorak gembira karena salju akan segera menghampiri negara mereka)

“by the way, mengapa tadi kau tiba-tiba menghilang? Membuat kami khawatir, kau tahu?”

Key bertanya sambil tetap mengawasi dan melarang Yunmi yang hendak memakan apapun yang menurutnya menarik, seperti jepit rambut, lipstik, bandana, bulu mata palsu dan masih banyak lagi. Untungnya di toko itu sedang lumayan ramai, sibuk dengan urusannya masing-masing. Apalagi mengingat seorang wanita kalau sudah shopping pasti tak akan ingat sekelilingnya. Jadi, tak ada yang memperhatikan gerak-gerik Yunmi yang terlalu aneh untuk ukuran manusia.

“hey, Taem! Bisakah kau tak hanya diam saja begitu? Perhatikan dan larang Yunmi jika dia melakukan sesuatu yang aneh.”

Taemin hanya diam dan tak merespon perintah Key. Dia tetap dengan posisinya semula, duduk dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kirinya.

Tapi dengan segera ia mengangkat tubuhnya dengan malas setelah mendapat pelototan dari sang almighty itu.

“baiklah, baiklah.” Taemin berjalan dibelakang Yunmi. Mengikuti dibelakangnya kemana dia berjalan. Dan segera menarik tangan Yunmi mengajaknya ketempat semula apabila dia sudah mulai ancang-ancang untuk menyentuh sesuatu.

“kau belum menjawab pertanyaanku,” Key menuntut jawaban Taemin atas pertanyaannya tadi.

“Ada sedikit masalah yang terjadi padanya. Apa aku sudah memberitahumu?”

“belum, dan cepat beritahu aku!”

“dia tadi tersiram emm… jus kurasa, tidak banyak sih tapi karena –yah aku belum memberinya makan dia jadi terlalu lemah begitu. Kau tahu kan –Yunmi, tidak boleh!– kalau makhluk elektronik seperti dia musuh dari air, jadi yah begitu.” Jelas Taemin. Key masih mengerutkan keningnya bingung.

“mengapa kau bisa tahu kalau tadi dia dalam keadaan emergency?”

“aku sudah seperti terkoneksi dengannya –jangan sentuh itu, Yunmi!– jadi, saat ia merasa sakit, saat itu juga aku merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan. Ini sungguh membuatku gila.”

Taemin tidak lagi mengekori Yunmi. Tangannya bertumpu pada rak-rak baju di sampingnya, memejamkan matanya dan menekan pangkal hidungnya frustasi.

“waah, daebak!”

Taemin segera melotot ke arah Key yang terlihat bersinar setelah mendengar penjelasannya.

“mwo? Apanya yang hebat? Ini–”

“Taemin, apa ini?”

Yunmi tiba-tiba datang menginterupsi perkataan Taemin dengan membawa sesuatu yang dia angkat-angkat dan tunjukan pada Taemin.

Kedatangan Yunmi membuat kedua pria yang sedang berbincang itu menoleh dan kaget bukan main saat melihat apa yang Yunmi bawa, sebuah gantungan berisi bra berwarna biru langit.

Melihat itu keduanya sama-sama merona, merasa malu ditanya seperti itu oleh Yunmi. Karena tak satupun dari mereka menjawabnya, Yunmi pun bertanya lagi.

“Taemin, Oppa, ini apa? Bentuknya lucu… bulat bulat hihihi,”

Yunmi tertawa kecil sambil memperhatikan bra yang ada ditangannya. Tak sadar bahwa dua pria yang ditanya-nya itu sudah mati kutu gara-gara pertanyaan anehnya.

Keduanya saling berpandangan dan sama-sama memberikan siapa-yang-akan-mengajarinya look satu sama lain.

*

Setelah sekitar satu jam –yang dirasa Taemin seperti sepuluh tahun, apalagi dengan adanya insiden pertanyaan bodoh dari Yunmi– mereka selesai membeli banyak sekali baju untuk Yunmi. Sembilan kantong, itu banyak kan?

Dan tentu saja Taemin yang kerepotan harus membawanya karena Key menolak dengan berkata, “aku kan sudah memilihkannya, sekarang giliranmu yang membawanya.”

Cih, licik sekali otaknya itu.

“hyung, bagaimana?” tanya Taemin.

“apanya?” Key terlihat acuh menanggapi pertanyaannya. Dia sedang asik mengajari Yunmi bermain game di ponselnya sebagai taktik untuk mengalihkan perhatian Yunmi yang tadi sangat tertarik sekali dengan bra, sampai-sampai tak mau menyimpannya lagi.

“ituuu, masa kau lupa sih,” kembali wajah Taemin merona.

Mengapa aku yang malu jika mengingat kejadian tadi? Itu sungguh kejadian paling bodoh dan sedikit –eum atau sangat awkward selama berbelanja.

“tak mungkin kan kita meminta pendapat Jonghyun hyung, meskipun dia begitu tau tentang perempuan sampai ke arah yang seharusnya tidak dia ketahui, tapi… mana mungkin? Yunmi memerlukan itu kan, hyung?” Taemin kesal sendiri karena Key tetap tak menanggapi perkataannya.

“Jonghyun hyung? Sepertinya dia akan berumur panjang.”

Taemin menoleh ke arah Key saat mendengar perkataannya. Diikutinya arah pandangan Key dan seketika itu juga dia melihat tiga orang yang sangat familiar baginya, dengan Jonghyun salah satunya.

“Sedang apa kalian disini? Hai, Yunmi! Tadi kau kemana?” tanya Jonghyun.

Ternyata saat Taemin, Key dan Yunmi berbelanja, Jonghyun, Jinki dan Minho pun sedang berada di mall yang sama dengan mereka.

Sudah dapat ditebak kalau mereka pasti baru saja dari arena Timezone, karena kalau Minho ikut dalam acara mereka pasti dia akan memaksa siapapun untuk bermain basket dan baru akan beranjak dari sana jika sudah ada yang bisa mengalahkannya. Dan kalau sudah begitu, mereka hanya bisa mengerutu “bilang saja kau iri kodok, karena kau tak normal seperti kami. Haa diajak mencari pacar kau malah memilih main ini. Itu sama saja kau mengiyakan dugaanku selama ini, kalau kau memiliki hubungan dengan satpam sekolah kita yang berkumis tebal itu.”, dan karena memang sifat cool-nya itu sudah tertanam abadi didirinya, dia acuh saja mendengar gerutuan yang lain. Dan akhirnya, yang lainnya pasti akan pasrah karena mereka sudah tahu –atau sadar diri?– jika mereka tak akan bisa mengalahkannya. Bintang basket sekolah, sudah mendapatkan ratusan medali perak dan puluhan medali emas bahkan sudah pernah berangkat ke Amerika hanya untuk bertanding basket, siapa yang bisa melawan?

“aku? Bersama Taemin,” Yunmi menjawab pertanyaan Jonghyun dengan tersenyum. Wajar kan karena dia selalu tersenyum?

“kau baik-baik saja? Syukurlah,” Jinki mengelus puncak kepala Yunmi setelah Yunmi mengangguk. Taemin disebelahnya yang melihat adegan itu segera memalingkan wajahnya. Ada rasa tak nyaman dalam hatinya. Namun belum sempat Taemin menemukan jawaban dari  apa yang sedang ia rasakan, ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.

“ku tebak, pasti kalian dari Timezone, right?” tanya Key dengan wajah mengejek. Sudah dibilang jangan mengajak Minho kalau mau cari pacar, batinnya.

“kau sudah tahu jelas jawabannya dengan melihat si froggy tall ini bersama kami. Hey, kau kenapa?” Jinki menggoyang-goyangkan tubuh Minho yang semenjak menghampiri Taemin tadi membeku dengan mata bulat sebulat-bulatnya dan senyum yang bertengger di wajah tampannya.

“sepertinya dia kurang sehat, tadipun dia begitu disekolah. Hey, kodok!”

Key menepuk kening Minho dengan telapak tangannya dan seketika itu jika pria jangkung itu sadar dari lamunannya sendiri.

“auw… sakit, Key!” Minho bersungut atas sikap Key sementara tangannya mengusap-usap keningnya yang sedikit sakit.

“Taemin… dia siapa?” Yunmi berbisik pada Taemin dan menunjuk Minho dengan dagunya.

“dia Minho hyung,” jawab Taemin singkat. Pandangannya masih tertuju pada layar ponsel di tangannya dan tersenyum kecil.

Setelah mengangguk-angguk mengerti, Yunmi segera berjalan ke depan Minho yang seketika memundurkan langkahnya. Yunmi yang heran melihat tingkah Minho segera menghentikan langkahnya dan menautkan alisnya bingung.

“hai~” Minho menyapa Yunmi dengan gaya-nya yang dia yakini pasti sangat aneh.

Untungnya, ketiga temannya –selain Taemin karena dia sedang sibuk dengan kantung-kantung belanjaan dan ponsel ditangannya dengan senyum sumringah yang tidak hilang dari wajahnya– tidak memperhatikannya, mereka sibuk melihat dan menggoda wanita cantik dan seksi yang lewat.

“Lihatlah wanita yang memakai baju merah itu yang bersama Sooyeon, ku tahu namanya adalah Hyomin dan dia baru saja putus dengan pacarnya,” Jonghyun mulai bergosip.

“bagaimana kau tahu?” tanya Jinki yang mulai penasaran dengan perkataan Jonghyun. Terkadang dia merasa heran, bagaimana mungkin Jonghyun selalu menghapal wajah, nama dan segala informasi wanita-wanita cantik dan seksi sementara dia bahkan sangat sulit sekali untuk menghapal angka-angka Phytagoras.

“tentu saja, dia adalah teman sekolahnya Katie, mantan kekasihku yang blasteran Australia dan Korea itu,” jawab Jonghyun semangat.

“aku lebih tertarik pada wanita yang rambutnya diikat itu, yang memakai baju biru,” Key sudah mulai hanyut dalam percakapan yang dimulai oleh Jonghyun itu.

“dia Yeomi adik kelas kita jurusan bahasa, kau tahu? Dia pacarnya Jokwon!”

Oh, sudahlah lupakan mereka yang sedang bergosip.

Kembali ke Minho dengan wajahnya yang masih tetap tidak biasa. Senyum yang dipaksakan untuk terlihat manis dan mata yang berkedip lebih cepat dari yang seharusnya.

“hai… Minho… oppa,” Yunmi tersenyum menampilkan lesung pipi di dekat bibirnya. Mata bulatnya ikut tersenyum.

Minho terpaku saat melihat senyumnya. Ada yang menjerit di dalam hatinya. Otaknya seakan buntu untuk memerintahkan Minho melakukan sesuatu, bergerak walaupun hanya sedikit untuk merespon sapaan Yunmi.

Bagaimana bisa ada wanita secantik dia, batinnya. Mata yang bulat dengan bulu mata lentik dan panjang, alis yang tidak terlalu tebal namun rapih itu membingkai mata bulatnya, hidung nya mungil namun lancip, bibir yang tipis melengkung indah jika tersenyum, rambut coklat ikal yang panjang, semuanya terasa pas ditubuhnya yang mungil itu, apa lagi yang kurang?

Ya, bukan rahasia lagi kalau Minho adalah pria yang cuek. Sudah berpuluh-puluh wanita cantik yang menyatakan perasaan padanya tapi dengan mudahnya ia menolak. Menurutnya, selama ini tak ada satupun wanita –selain Jira– yang mampu membuat hatinya bergetar, membuat jantungnya seakan melompat dari tempatnya karena terlalu cepat berdetak, dan membuat otaknya mengambil alih seluruh akal sehatnya.

Hatinya telah berkata.

TO BE CONTINUE….

HUAHAHAHA *autis. Ada yang nungguin ff ini kah? *ENGGA!

Maaf banget yaa lanjutnya lama huhuhu kan udah aku jelasin di blog aku hehehe-_-

Oh iya, cuman mau ngingetin kalau INI BUKAN COMEDY. So, maaf maaf banget buat kalian yang berharap ini akan menjadi sesuatu yang lucu atau bikin ngakak, pasti ini jauh dari harapan kalian kan? Maaf yaaaaa:(

Eh kebanyakan fluff-nya gasih? Fufufu:(

Dan satu lagi yang aku lupa jelasin di part-part kemarin, ini ceritanya selain terinspirasi dari My Girlfriend is a Gumiho, ini aku adaptasi juga dari komik jepang berjudul Zettai Kareshi, ada yang tahu kah? Itu ceritanya bener-bener keren sekeren kerennya! Itulohhh yang katanya drama versi korea-nya tuh katanya keluar Maret ini dan diperanin sama TOP Bigbang, tau dong yaaa? Hehe yasudahlah._.

RCL YAAAAWWWW ^^v

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Because, You and I are Different – Part 3”

  1. ini udh lama bgt ya kagak diposting2..
    ampe hampir lupa ama cerita y..
    daebak thor,,part slanjut y jgn lama2 ya diposting y..^^

  2. Waaah daebak nie ff . . .
    minho suka mha yunmi cz minho salting mulu
    wakakaka
    lanjut thor udh penasaran nie mha part 4 nya

  3. Akhrny part ni di publish jg..kr2 sp t yg sms taemin?? Kok dia snyum2 sndri..
    Next partny jngn lma2 y thor

    1. Cerita ny bagus,,
      Lanjutt ,
      Oh iy, d Indonesia memank ad salju kn, di jayawijaya, salju abadi lg,.dipertambangan gasbert,papua (klo ga salah tulisanny gini) aj suka trun hujan salju,

  4. Huwa.. Akhirnya keluar jg ni FF..
    Aigoo.. Teukkie alay bgt.. XD
    Kumis gaya mohawk?? Aku jdi pengen liat bentuknya gmn..
    Aish.. Insiden bra bkin aku hampir menjatuhkan harkat martabatku(?) sbagai pengajar.. Wkwk~
    Dan itu jjongie.. Knp sifatnya jelek smw.. Huhuhu..
    Next ditunggu..

  5. huaaa ..
    akhirnya muncul juga ..
    jiah .. si tem – tem suka tuh sama si yunmi ..
    si leeteuk jelek banget penggambarannya ??
    huahahahaha .. aku ngakak baca bagian yunmi nunjukin bra ke taemin sama key .. 😀
    jangan !!! jangan bikin minho suka sama Yunmi !!!
    yunmi buat tem – tem ajah .. 😀

  6. walopun nih FF bukan comedy tapi tetap aja lucu. hahaha 😀
    Taemin, kenapa tuh? kok senyumsenyum langsung setelah liat hpnya?
    Minho jangan bilang kau naksir Yunmi???
    aigo, OnJongKey~~~ malah bergosip –”
    lanjuttttt 🙂

  7. Wahhh daebak !! FF nya bagus bangeetttt ngebacanya juga bikin ngefly ! Part 2nya kapan? Udah atau belom?:D hhe ditunggu yaa kalau belum . Kalau udah gak sabar baca nihXD intinya baguss banget deh!!!

  8. horeeeeee aaaaaaaaaa :””D sekian lama aku menunggu~akhirnya di post juga hehe makin rame ceritanyaaaaa n,n bakal selalu nunggu lanjutannya~

  9. Apa yang dilihat TaeMin dari layar hpnya
    Seru sekali
    Lanjut” author
    Author susunannya sedikit berantakan jadinya membingungkan, dan juga adanya typho author
    Selamat berjuang º°˚˘ˆ▽ˆ º°˚˘ˆ▽ˆ
    Lanjut” lanjut”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s