Between Two Hearts – Part 7

Between Two Hearts[7] : Back To Zero

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Kim Jonghyun, Lee Jinki, A Little Girl, Minho’s Secretary

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-15

Summary:

Key :“Hyung, sekarang aku sedang di Seoul, dan yang aneh, kemarin aku bertemu dengan yeoja yang mirip sekali dengan Sunny, tapi dia bukan Sunny. Apa Sunny punya saudara? Kakak atau adik misalnya?”

Jonghyun : “Key-ah, aku juga di Seoul. Bagaimana kalau kita bertemu saja, ada hal serius yang ingin kubicarakan juga.”

Serra : “Berhenti mendesakku, aku butuh waktu. Aku juga bingung dengan semua ini, bingung kenapa aku marah padamu, bingung harus menggambarkan apa yang sedang kurasakan kini, dan yang paling tidak bisa kumengerti—bingung kenapa aku membencimu padahal satu-satunya orang yang tidak ingin kubenci adalah kau.”

Key : “Hei, dari mana kau tahu kalau mereka berbeda, kau bahkan tidak tahu siapa Sunny, kan?”

Minho :  “Ani, aku hanya asal bicara. Aku hanya berpikir bahwa manusia di dunia ini memiliki susunan genetik yang berbeda, jadi tidak mungkin ada yang sama.”

+++++

Author’s POV

Menjadi pemenang adalah hak setiap orang, tidak peduli siapapun ia dengan segala embel-embel yang melekat padanya. Sama seperti mahasiswa yang berhak meraih nilai A-nya, seorang pecinta pun berhak meraih sosok yang dicintainya.

Namun, prinsip itu roboh. Bukan pukulan berulang dari Minho yang meruntuhkannya, tapi fakta bahwa yeoja impiannya telah menjadi milik Minho. Bukankah merebut istri orang adalah perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan? Apakah dalam kondisi seperti ini seorang pecinta masih berhak berusaha untuk meraih? Namja itu ragu tampaknya.

Langkahnya gontai, memasuki sebuah gerbang taman kota, berniat menjernihkan pikiran dengan melihat hamparan bunga aneka warna dan rumput yang menghijau, sejuk. Duduk di sebuah bangku taman yang terletak di tepian, hanya memandang nanar lantai alam nan hijau.

Sakit, terlalu sakit hatinya. Seperti disayat beratus kali oleh silet, sebuah benda yang kecil namun melukai. Luka yang memilukan tertoreh, hanya karena hal yang mungkin dianggap kecil oleh orang yang tidak pernah merasakannya, cinta mendalam.

Oppa, wegure?” Seorang bocah cantik berusia sekitar delapan tahunan menghampirinya, bertanya dengan wajah innocent-nya, membuat Key mengulaskan senyum sejenak.

Oppa baik kok, gadis mungil. Hei, kau sendirian main di taman ini? Dimana orang tuamu?” Key mengelus rambut bocah itu dengan penuh kasih sayang, namja ini memang penyuka anak kecil.

Eomma sedang kerja, appa-ku sudah pergi entah kemana. Oppa, maukah menemaniku mengobrol? Aku bosan makanya aku kemari, padahal eomma sudah melarangku keluar rumah ketika dia tidak ada…,” pinta anak kecil itu dengan wajah tanpa dosanya.

“Tentu saja, oppa tidak keberatan. Tapi bukankah lebih baik kau bermain bersama teman sebayamu?” Key membalas dengan lembut.

“Aku ingin mengobrol dengan orang dewasa. Oppa, kenapa sih orang dewasa itu mudah sekali bersedih? Kalau begitu enak jadi anak kecil dong?” gadis kecil itu bertanya seraya duduk di sebelah Key.

Key terdiam sejenak. Memang benar, orang dewasa mudah bersedih, berbeda dengan masa kecilnya yang seolah ringan. Sekarang, ia merasa kesedihan mendalam sedang menderanya, atau hanya pikirannya sajakah yang mendramatisir keadaan? Karena sering kali seseorang merasa dirinyalah yang memiliki masalah terberat, jarang yang melihatnya dari sisi lain.

“Karena banyak yang tidak dimengerti anak kecil…,” Key menjawab singkat karena ia sendiri masih terjebak dalam penjara pikirannya.

Key’s POV

“Karena banyak yang tidak dimengerti anak kecil….”

Ani, bukan itu jawaban yang tepat. Entahlah, aku tak tahu. Tapi pertanyaan gadis kecil ini cukup mengusik pikiranku. Apa selama ini aku salah? Seolah diperbudak cintakah aku? Padahal aku tahu betul kalau cinta hanyalah sekian persen dari kehidupanku. Aku tidak dapat berpikir jernih hanya karena cinta, hatiku menangis saat ini hanya karena cinta? Hei, betapa sempitnya jalan berpikirku. Seharusnya semakin dewasa, kestabilan emosiku terkendali, pikiran pun harus jernih.

“Memangnya apa saja yang tidak kumengerti? Memang apa sih yang sering membuat orang dewasa sedih, cemberut dan menangis? Seperti yang Oppa lakukan barusan.”

“Aku? Aku…ah, gomawo kau menyadarkanku gadis kecil. Aku adalah contoh orang dewasa yang tidak baik. Ah, tentang pertanyaanmu tadi, orang dewasa semakin mudah sedih karena banyak hal yang dipikirkannya, berbeda dengan anak kecil yang hanya tahu bermain. Tapi seharusnya, walaupun banyak masalah yang dipikirkan, aku tetap bisa tenang. Kalau kau besar nanti kau harus bisa berpikir dewasa ketika menghadapi masalah, kau harus membiasakan diri untuk itu.”

“Berpikir dewasa itu berpikir yang seperti apa, Oppa? Aku tidak mengerti….”

“Berpikir yang seperti…,” ucapanku terhenti karena aku merasa belum menerapkan apa yang akan menjadi lanjutan jawabanku, “berpikir secara jernih, bisa memahami suasana, bisa mempertimbangkan apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Intinya bisa berpikir seimbang, tidak hanya mengutamakan ego.”

Bicara mudah, tapi nyatanya hari ini aku telah melakukan kebodohan. Coba aku berpikir jernih, yeoja tadi bersikukuh bahwa ia bukan Sunny, mungkin saja ia benar kan? Kalau benar, rasanya wajar Minho begitu marah padaku. Dan kalau pun tidak benar, aku seharusnya tidak lagi memaksanya. Ini pilihannya, mungkin ada hal lain yang menjadi alasannya sehingga ia menghindariku. Dan yang harus kucari tahu adalah alasannya itu, bukan memaksanya untuk menerimaku. Ketika aku sudah tahu, maka aku dapat memulai langkah untuk mengatasinya.

Ya, mulai sekarang aku tidak akan menekanmu, . Sunny-ah….

+++++

Jonghyun’s POV

 

“Jjong…kau pernah iri pada saudaramu tidak?”

“Misalnya saudaramu mendapat perlakuan lebih istimewa, lebih beruntung darimu, padahal seharusnya kau pun mendapatkan hal yang sama. Pernah?”

Entah mengapa mendadak aku memikirkan pertanyaannya saat itu. Selama ini Sunny tidak pernah bertanya tentang persaudaraan, dan lagi jika dipikir secara mendalam, pertanyaannya itu seolah menyatakan bahwa saat itu dirinyalah yang sedang iri. Pada saudara? Siapa? Bukankah Sunny anak tunggal?

Mengapa baru terpikir sekarang olehku? Sunny-ah…mengapa aku tidak peka? Sunny-ah, kau ingin bermain cerita detektif denganku? Kau sedang memintaku untuk menebak? Lalu, apa maksud suratmu?

Bukankah di dunia ini tak ada yang abadi? So am I…

Bukankah ada saatnya di mana hitam menjadi abu perlahan, untuk kemudian menjadi putih?

Satu hal yang kupikirkan, kuharap kau masih ada di dunia ini, entah di belahan bumi yang mana. Aku tidak ingin kehilanganmu, sungguh. Lalu, apa maksud kalimat lanjutannya? Aku tidak dapat menerkanya, hitam apa yang kau maksud—menjadi putih?

Jjong, aku telah melakukan kesalahan besar, tapi biarlah aku membawanya bersama kepergianku, semoga hal yang sudah kulakukan untuk menembus kesalahanku bisa menghapus rasa bersalahku.

 

Sunny-ah, jangan bilang kau merasa bersalah atas sesuatu, lalu kau memutuskan bunuh diri untuk melenyapkan rasa bersalahmu. Pabo, kalau kau benar melakukan itu, aku akan menganggapmu sebagai orang terbodoh di dunia. Karena bunuh diri adalah cara paling pengecut, kau sama sekali tidak pantas melakukannya.

Drttt…drtttt…

Pikiranku teralihkan sejenak karena sebuah panggilan masuk dari Key, rasanya masih malas menjawab panggilannya. Bagaimanapun aku masih beranggapan Key yang menyebabkan Sunny pergi dari rumah menuju Seoul ini. Tapi, mengapa harus Seoul yang ditujunya kalau memang Sunny ingin mencari ketenangan?

Yeoboseo. Key, ada apa kau meneleponku?”

Hyung, sekarang aku sedang di Seoul, dan yang aneh, kemarin aku bertemu dengan yeoja yang mirip sekali dengan Sunny, tapi dia bukan Sunny. Apa Sunny punya saudara? Kakak atau adik misalnya?”

“Key-ah, aku juga di Seoul. Bagaimana kalau kita bertemu saja, ada hal serius yang ingin kubicarakan juga.”

Akhirnya, aku punya petunjuk. Ya, pernyataan Key mungkin sebuah petunjuk untukku untuk menjawab pertanyaanku mengenai keberadaan Sunny dan maksud surat Sunny. Saudara, entah mengapa aku tertarik dengan kata itu, kata yang sebelumnya juga sedang kupikirkan.

+++++

Minho’s POV

Key? Sunny? Dua nama itu membuatku gila setengah mati.

Lagi-lagi Tuhan menguji kehidupan rumah tanggaku. Mungkin inilah cara Tuhan menguji kesetiaanku pada Serra, Tuhan ingin tahu seberapa kuat cintaku pada anae-ku. Bukankah memang selalu seperti itu? Manusia mendapatkan ujian untuk mengetahui seberapa besar kapasitasnya.

Aku akan bertahan melalui ini, memang sudah seharusnya aku mempertahankan rumah tanggaku, mempertahankan Serra karena memang dia milikku. Bukankah seorang nampyeon memang harus menjaga anae-nya dari namja pengganggu? Aku tidak akan gentar.

Hari ini akan kuajak Serra berlibur, hanya liburan kecil di tepi danau. Sebuah cara sederhana namun memungkinkanku untuk menikmati hari bersamanya di tengah suasana alam yang indah.

“Serra-ya, kau hari ini ada agenda tidak?” Aku menghampirinya yang sedang berkutat dengan bahan-bahan makanan dan peralatan dapur, bermaksud mengajaknya berlibur.

“Tidak ada,” jawabnya tanpa melirikku sedikitpun.

Aku tahu, dia masih marah setelah kejadian kemarin walaupun aku sudah minta maaf padanya. Aku tahu ia pantas marah karena aku telat bereaksi. Melihat air matanya kemarin aku sedikit bingung. Mengapa ia menangis? Apa betul hanya karena aku telat bereaksi? Mengapa ia semarah itu? Biasanya ia bukan tipe pemarah apalagi sampai tidak mau memafkanku, rasanya aneh.

“Sampai kapan kau akan marah padaku?”Aku semakin mendekatkan jarak dengannya, kali ini kulingkarkan tanganku ke pinggangnya dan kuposisikan kepalaku di bahu kanannya.

“Hei, aku sedang masak, jangan ganggu pergerakan tubuhku dengan sikap tubuhmu itu. Duduk dan bersabarlah hingga aku usai!”

Rasanya tidak percaya bahwa yang barusan bersuara itu Serra-ku, yeoja yang menurutku memiliki hati terlembut. Ini pertama kalinya Serra menyentakku, biasanya kalaupun ia marah, bukan sentakan yang terlontar dari mulutnya, melainkan suara bernada sedih dengan diselingi desahan panjangnya.

Serra yang seperti ini mengingatkanku pada yeoja menyeramkan itu, Han Sunny. Sungguh, ia adalah yeoja bermuka banyak. Ia bisa menipu dengan sikap manisnya dan rayuannya yang terpancar dari gerak tubuhnya. Di satu sisi ia adalah orang yang bisa mengeluarkan statement mengerikan, seperti yang tertuang di dalam suratnya untukku.

Bicara tentang Sunny, mengapa wujudnya sangat mirip dengan Serra? Apakah ia memang sengaja muncul ingin menghancurkan kehidupan kami? Apa yang membuatnya memiliki keinginan seperti itu? Lalu, apa hubungan Sunny dan Key?

“Serra-ya, apa kau mengenal Key atau pernah bertemu dengan Key sebelumnya? Lalu, apakah Key sepupuku yang kau maksud dalam pertanyaanmu sewaktu di rumah sakit?”

Molla, ” jawabnya singkat lagi, membuatku bingung mengajaknya berbincang lagi.

“Serra-ya, kumohon berhentilah bersikap dingin padaku, ini tidak tampak seperti dirimu. Berulang kali aku sudah minta maaf padamu. Kalau kau masih tidak puas, katakan apa yang harus kulakukan agar kau membuka hatimu.”

Serra’s POV

“Serra-ya, kumohon berhentilah bersikap dingin padaku, ini tidak tampak seperti dirimu. Berulang kali aku sudah minta maaf padamu. Kalau kau masih tidak puas, katakan apa yang harus kulakukan agar kau membuka hatimu.”

Entah kenapa pikiranku masih mengatakan bahwa aku belum memaafkannya, meskipun hatiku sudah memerintahkan. Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku menjadi seperti ini, Minho betul—ini bukan seperti diriku.

“Berhenti mendesakku, aku butuh waktu, aku juga bingung dengan semua ini, bingung kenapa aku marah padamu, bingung harus menggambarkan apa yang sedang kurasakan kini, dan yang paling tidak bisa kumengerti—bingung kenapa aku membencimu padahal satu-satunya orang yang tidak ingin kubenci adalah kau.”

Sakit, ada semacam desakan hebat di mataku, aku tidak tahu apa ini, semacam perasaan marah yang bercampur dengan rasa sedih, kecewa sekaligus kebingungan hebat.

Seperti mencari-cari sebutir manisnya gula diantara hitam pekat kopi, aku belum bisa menemukan sisi yang menggembirakan. Padahal dari dulu aku mengidamkan keberadaan Minho di sisiku, namun di saat waktunya tiba, aku justru marah dengan alasan tidak jelas. Apakah memang seperti ini kodrat manusia? Tidak pernah merasa puas dengan apa yang terbentang di hadapannya. Aku mengutuki semua kebodohanku karena nyatanya aku tahu hatiku masih sangat mencintainya.

“Serra-ya…bisakah kita mulai dari awal? Aku akan menceritakan semuanya, yang sebenarnya.” Kulihat sorot matanya sendu, ada sedikit kesan basah pada bola matanya, dan bisa kurasakan suaranya sudah terdengar berat—bukan berat karena jenis suara bass-nya, melainkan karena memendam perasaan sakit yang berat.

“Ini bukan sepenuhnya salahmu, aku saja yang sedang bingung.” Aku mengalah, tidak kuasa melihatnya yang sedih seperti ini, bagaimanapun dia masih Choi Minho yang kucintai….

+++++

Author’s POV

Kau yang duluan, Hyung,” Key meminta pada Jonghyun yang sudah tampak tidak sabar ingin menceritakan hal yang dibilangnya penting, tercermin dari nafasnya yang sudah terdengar seperti memburu waktu.

Ani, aku butuh kepastian darimu dulu, ceritakan mengenai yeoja yang kau bilang mirip dengan Sunny.” Jonghyun membalas cepat dan tegas.

“Baiklah. Yeoja itu adalah istri dari Minho sepupuku. Wujudnya persis dengan Sunny, aku sangat yakin tentang kemiripan itu. Tapi ketika aku memeluknya dari belakang, ia memaksaku untuk melepaskannya, ia bahkan menangis minta agar Minho menjauhkan tanganku dari tubuhnya. Aku tidak percaya ini, kuharap dia tidak sungguhan sudah menikah dengan Minho, kau tahu aku sangat mencintainya.”

“Aku juga, tidak ingin mempercayai apa yang akan kuceritakan. Coba baca ini, kuharap kau mengerti misteri yang tersimpan dibalik kalimat-kalimatnya, aku merasa frustasi karena tidak bisa memahami sahabatku sendiri.” Jonghyun menyerahkan surat dari Sunny, mukanya tampak penuh harap, ingin sekali Key dapat memecahkan rasa bingungnya.

Key meraih surat itu, mulutnya tidak kuasa terkatup ketika membaca satu-persatu kalimatnya. Mukanya berubah menjadi pucat pasi, mulai menyetujui ucapan Jonghyun-bahwa ia tidak ingin mengakui realita yang ia simpulkan dari deretan kalimat Sunny tersebut.

“Apa yang kau tangkap, Key?” tanya Jonghyun dengan suara bergetar.

“Sunny menyampaikan pada kita bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan besar dan ia tidak ingin kita melakukan hal yang sama, ia meminta kita untuk tidak sekedar menggunakan logika tetapi harus melibatkan hati juga. Dan…Hyung…kuharap aku salah mengartikan yang ini, ani, Sunny tidak boleh meninggalkan kita…” Key mendahului Jonghyun, air matanya tak mampu ia tahan. Bayangannya tentang Sunny berkelebat dahsyat, membuat pikirannya dipenuhi Sunny seorang.

“Key, ini belum tentu benar. Ada satu cara lagi, beri aku cara untuk bertemu dengan yeoja yang mirip Sunny itu, akan kupastikan siapa dia….”

+++++

Jinki’s POV

Rasa bahagia ini ingin sekali kuceritakan, dan Serra menjadi pilihanku untuk meluapkannya. Di sini kami berada, sebuah gazebo pada taman kecil yang ada di wilayah kompleks perumahan. Kami bercengkrama sembari menikmati spagetti yang baru saja iseng-iseng kubuat sebagai sarana belajar membuat hidangan yang sangat disukai Yuri tersebut.

Oppa, chukkae, akhirnya kau berhasil mendapatkan orang yang kau cintai.” Seperti kebiasaannya, menjabat tanganku ketika aku menceritakan sebuah berita bahagia padanya. “Perjalanan cintamu sangat bagus oppa…,” Ia melanjutkan, namun kali ini aura kesedihan menyertainya, ia meletakkan sejenak garpu yang sedang digunakannya untuk bersantap.

“Ya! Mengapa kau sedih? Bukankah barusan kau bercerita kalau Minho sudah menceritakan semuanya dan kemarin kalian sudah sepakat untuk berbaikan? It’s your time to enjoy your marriage life, Serra-ya.” Aku menyipitkan mataku, merasa ada yang janggal pada dirinya, ceritanya yang satu dengan lainnya saling bertolak belakang.

Ne, aku memang sudah berbaikan dengannya. Tapi Oppa, entah mengapa aku merasa lelah, aku juga tidak tahu mengapa, tapi ada semacam perasaan aku masih belum bisa merelakan semuanya….” Ia menahan katanya. Tapi intonasinya menandakan kalau kalimatnya masih akan berlanjut.

Aku menunggunya yang kini sedang menarik oksigen banyak-banyak, mungkin untuk meringankan pikirannya. “Apa menurutmu wajar jika aku tidak bisa sepenuhnya melupakan kesalahan besar yang dilakukannya—tidur bersama yeoja lain, walaupun aku tahu Minho juga korban dalam peristiwa itu?”

Aku terdiam, khawatir jawabanku salah dan justru memicu hal-hal buruk dalam rumah tangganya, tapi kurasa wajar kalau Serra bersikap demikian.

“Serra-ya…sebelumnya aku minta maaf kalau pendapatku salah, tapi menurutku hal itu wajar, karena semirip apapun yeoja itu denganmu, harusnya ia bisa merasakan perbedaannya, aku yakin pasti ada bedanya. Dan kalau boleh aku menyimpulkan, mungkin Minho juga tergoda oleh yeoja itu, kalau memang benar yeoja itu sesuai dengan yang Minho deskripsikan, Serra versi pemakai make-up.”

“Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, Minho tergoda atau sejenisnya. Tapi, dengan tidak bisanya Minho membedakan aku yang asli atau bukan, aku merasa hati Minho jauh—bukan untukku, melainkan untuk yeoja itu,” ia menuturkan dengan gamblang, tapi aku tahu ia masih mencari-cari keyakinan pada ucapannya itu.

Benar, pemikirannya tidak salah, Minho tidak memiliki rasa pada Serra, makanya ia tidak bisa membedakan. Menurutku, berhadapan dengan orang yang dicintai seharusnya menghadirkan sensasi tersendiri, sensasi yang kalau kau jabarkan bisa menjadi sebuah buku—lihat saja, banyak penulis buku yang mengangkat tema cinta, yang paling sederhana adalah buku tips dan trik cinta. Kalau Minho masih keliru, berarti ia belum menggunakan hatinya.

Oppa, aku jadi penasaran siapa sebenarnya yeoja bernama Han Sunny itu, mengapa ia sangat mirip denganku, mengapa ia mempermainkan Minho, dan mengapa ia yang tiba-tiba menghilang sendiri. Bisakah kau membantuku mencari tahu cara agar aku bisa bertemu dengan Key, aku ingin bertanya banyak tentang Sunny?

Geurae, akan kucari tahu, tunggulah beberapa hari. Aku juga penasaran dengan semua ini.”

Ya, mendengar ucapannya barusan, aku jadi penasaran juga dengan Sunny. Entah mengapa pikiran busukku mengatakan, yeoja itu berniat menggantikan posisi Serra, merebut semua yang dimiliki Serra, dimulai dari seseorang yang sangat Serra cintai. Dan kalau memang sebelumnya dia tahu Serra punya masalah dengan jantungnya berarti dia sengaja merebut Minho untuk membuat kondisi tubuh Serra drop dan memungkinkan nyawa Serra melayang, saat itulah ia akan masuk menggantikan Serra. Mungkinkah seperti itu? Atau aku saja yang kebanyakan menonton film?

+++++

Minho’s POV

Suara ketukan pintu berhasil mengalahkan perhatianku dari tumpukan berkas yang harus kuperiksa dan kutandatangani, aku mengizinkan tamu itu untuk dipersilakan masuk saat sekretarisku meminta konfirmasiku melalui telepon barusan. Terpaksa, karena menurut Sekretarisku, tamuku itu adalah direktur dari perusahaan ternama juga, aku tidak bertanya lebih lanjut karena kurasa penting.

Menyesal, itulah yang kurasakan. Harusnya tadi tidak kuizinkan. Kini Sekretarisku membuka pintu, mempersilakan tamuku masuk. Kau tahu siapa dia? Namja tidak sopan itu, sepupuku sendiri, si pengacau yang memeluk anaeku sembarangan, yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling karena kemunculannya mengingatkanku pada Sunny. Saat ini kepalaku pun mulai menegang, kurasa aku tidak bisa mengendalikan diriku kalau berhadapan dengan orang ini.

Huh, baru saja aku berbaikan dengan Serra dua hari yang lalu, kuharap kedatangan namja ini sekarang tidak menambah masalah baru untukku.

“Ada apa? Jangan mentang-mentang kau direktur Kim Company, jadi kau berhak datang kemari tanpa membuat janji denganku dulu,” selorohku kesal.

Mwo? Hei, anggaplah ini pertemuan antar saudara, bukan sebagai rekan bisnis. Wah, sepertinya kau sangat mebenciku ya? Aku mengerti, aku yang salah memang. Untuk itulah aku datang untuk meminta maaf padamu karena telah berbuat tidak sopan”

“Cih!” Aku mencibirnya, sama sekali tidak kutangkap nada ketulusan pada ucapannya, terdengar hanya seperti basa-basi menurutku.

“Huh, ternyata kau tidak mudah memaafkan orang, ya?” Ia berbalik mencibirku, mulai ingin menyulut emosiku rupanya.

“Harus semudah itukah aku memaafkanmu? Kau telah membuat hubunganku dengan Serra merenggang. Harusnya kau sadar diri, jelas-jelas dia bukan Sunny, mereka adalah dua sosok yang berbeda.”

“Hei, darimana kau tahu kalau mereka berbeda, kau bahkan tidak tahu siapa Sunny, kan?”

Matilah aku, aku keceplosan bicara, lupa kalau Kibum ini sangat cerdas—setidaknya waktu kecil ia selalu menjadi juara umum, namanya sering terdengar dielu-elukan tiap kali ada pertemuan keluarga besar.

Ani, aku hanya asal bicara. Aku hanya berpikir bahwa manusia di dunia ini memiliki susunan genetik yang berbeda, jadi tidak mungkin ada yang sama.” Aku berkelit, malu, ya, malu. Karena nyatanya aku pun tertipu habis oleh kemiripan dua yeoja itu, aku harus menjilat ludahku sendiri. Key tersenyum mengejek. “Memang tidak ada yang sama persis, tapi minimal mendekati persis. Ada bukan di dunia ini, anak kembar misalnya?”

Anak kembar? Hei…apa mungkin Sunny dan Serra kembar?

Key’s POV

“Harus semudah itukah aku memaafkanmu? Kau telah membuat hubunganku dengan Serra merenggang. Harusnya kau sadar diri, jelas-jelas dia bukan Sunny, mereka adalah dua sosok yang berbeda.”

Tunggu, ada yang menarik dari ucapannya, aku harus memastikannya.

“Hei, darimana kau tahu kalau mereka berbeda, kau bahkan tidak tahu siapa Sunny, kan?”

Kalau saja Minho mengatakan seperti ini, ‘Jelas-jelas anaeku bilang kalau dia bukan Sunny’, mungkin aku tidak akan curiga. Tapi, dia barusan mengatakan ‘mereka adalah dua sosok yang berbeda’. Berbeda, sebuah kata yang digunakan untuk membandingkan, dalam hal ini Serra dibandingkan dengan Sunny. Berarti ada kemungkinan Minho mengenal, mengetahui, atau minimal pernah bertemu Sunny. Aku harus mencari tahu, mungkin inilah caraku untuk menemukan maksud surat Sunny sekaligus menemukan sosoknya.

Ani, aku hanya asal bicara. Aku hanya berpikir bahwa manusia di dunia ini memiliki susunan genetik yang berbeda, jadi tidak mungkin ada yang sama.”

Bukan cara berkelit yang masuk akal, setidaknya otakku masih menolak statement-nya itu.

“Memang tidak ada yang sama persis, tapi minimal mendekati persis. Ada bukan di dunia ini, anak kembar misalnya?”

Barusan aku bilang apa? Ne, kemungkinan keduanya berwajah mirip adalah karena keduanya anak kembar. Tapi, bukankah Sunny anak tunggal?

“Tunggu, Kibum-ah…apa sebelumnya kau dan Serra-ku pernah bertemu?” Minho mendahului pertanyaanku, mungkinkah Minho menyadari hal yang sama denganku?

Ani, yang pernah kutemui dan kukenal adalah Sunny, bukan Serra. Wae?”

“Ah, tidak apa-apa.”

Bukan jawaban yang masuk akal, apalagi raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir.

“Sekarang giliranku, kurasa memang benar, kau bernar bertemu dengan Sunny-ku sebelumnya? Mengapa kau menyembunyikan fakta itu?”

+++++

Author’s POV

Pandangannya menelisik sekitar, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang sedang melakukan hal serupa dengannya—membuntuti orang.

Yeoja yang sedang dibuntutinya itu baru saja turun dari mobilnya, setelah seorang supir membukakan pintu untuknya. Tidak sia-sia ia membuntuti sejak mobil tersebut keluar dari sarangnya—rumah yeoja tadi. Ia awalnya hanya menerka-nerka, bahwa orang yang ada di jok belakang mobil itu adalah sang yeoja yang dicarinya, tapi ternyata ekspektasinya terwujud.

Yeoja itu memasuki sebuah super market, kakinya melangkah ke bagian sayuran. Rupanya ia adalah ibu rumah tangga yang baik, yang senantiasa memasakkan hidangan untuk suaminya sebagai pengikat—karena memang hasil pengamatan mengatakan bahwa salah satu hal yang bisa mengikat sang suami agar tetap lengket dengan sang istri adalah, masakan.

Namja itu masuk ke super market yang sama, berpura-pura mengambil beberapa barang dan memasukkannya ke keranjang, matanya tidak pernah lepas dari yeoja itu, namun ia bersandiwara dengan berpura-pura mengamati setiap kemasan yang akan dimasukkan ke keranjangnya.

“Ah, iya, kasir.” Sebuah pikiran melesat di otakknya, mendorong kakinya untuk mendekati kasir.

Ia membungkukkan badannya, melihat-lihat barang obralan yang terpajang di dekat kasir, lagi-lagi hanya triknya. Begitulah kerjaannya sampai saatnya sang yeoja mendekati kasir, ia menyalip duluan.

Barang belanjaan namja itu pun di scan barcode-nya satu persatu oleh sang kasir. Tidak banyak, hanya susu sarat kalsium favoritnya, alat pencukur bulu, gel rambut merek langganannya, dan sebungkus snack kentang kesukaannya. Barang-barang itu sengaja dipilihnya untuk menarik perhatian yeoja itu, yang kini berdiri di belakangnya.

Tidak ada reaksi, pikir namja itu. Trik selanjutnya terpaksa dijalankan.

“Ah, agasshi, aku tidak membawa uang….” Namja tadi berpura-pura membuka dompetnya, tentu saja uangnya telah ia amankan di saku belakang celana jeansnya. Ia memasang tampang panik di hadapan sang kasir.

“Kalau begitu batalkan saja pembelian?” tawar sang kasir, masih mencoba ramah, padahal dalam pikirannya ia mencemooh namja tadi, menurutnya ini sudah biasa terjadi pada pengunjung yang tidak memiliki uang namun membutuhkan barang.

“Ah, aku sangat membutuhkannya. Uangku ada di ATM, bagaimana ya?” Namja tadi terus bersandiwara.

“Maaf, kalau begitu anda ke ATM saja dulu, lalu kembali lagi kemari. Bagaimana?” sang kasir merespon.

“Ah, agasshi, bolehkah aku meminjam uangmu? Sebagai jaminannya kuberikan kartu tanda pengenalku dan handphone-ku, nanti aku kembali lagi kesini.” Akhirnya yang dituju namja tadi tercapai, berinteraksi dengan yeoja di belakangnya itu.

Yeoja itu mengangguk, merasa bahwa namja yang baru saja bertemu dengannya itu adalah orang jujur. Ia menengadahkan tangannya, meminta jaminan yang disebutkan sang namja.

Sang namja tersenyum, menyerahkan jaminannya dan mengucapkan terima kasih setelah yeoja itu membayar barangnya.

Selesai, namja tadi membayar barangnya, selanjutnya ia berniat melangkah keluar, berpura-pura melangkah ke arah ATM Centre.

“Tunggu, aku ikut bersamamu, aku bayar dulu!” seru yeoja tadi seraya menarik bagian belakang kaos yang dikenakan oleh orang baru dalam harinya itu.

Namja tadi tersenyum, tidak mengelak walaupun ini di luar rencananya.

Transaksi selesai, namja tadi melangkah keluar menuju ATM centre, dengan seorang yeoja di sampingnya.

Agasshi, mengapa kau ingin ikut denganku?”

“Tentu saja aku takut kau berbohong, senyummu itu nakal. Bisa saja kartu pengenalmu palsu dan handphonemu adalah barang curian, kan?” ungkap si yeoja, sementara lawan bicaranya hanya terkekeh.

“Hmmm…kalau begitu periksa saja kartu tanda pengenalku, lihat foto yang ada di situ sama tidak dengan wajahku.”

Yeoja tadi menurut, ia mengamati seksama, sekali melihat ke kartu yang dimaksud, selanjutnya melihat wajah namja itu dengan cermat. “Sama. Jadi, namamu Kim Jonghyun?” tanyanya kemudian.

Ne, Lalu siapa namamu?” Jonghyun balik bertanya santai, tangannya ia sembunyikan di balik saku celananya, tidak ingin tanda-tanda getaran tubuhnya terlihat oleh yeoja itu.

“Aku? Baiklah, sebenarnya tidak baik memperkenalkan diri pada orang asing. Tapi kurasa kau bukan orang jahat. Aku Lee Serra.”

“Orang asing?” Jonghyun melirik kilat menghadapkan wajahnya pada  yeoja bernama Serra itu.

Sunny-ah…ini kau bukan? Mengapa kau bersandiwara dan menganggapku orang asing?

“Tentu saja Jjong, aku baru bertemu denganmu, jadi kau orang asing bagiku,” balas Serra sambil mengerjapkan matanya, grogi ditatap Jonghyun dari dekat.

“Jjong? Darimana kau tahu panggilanku adalah Jjong?” Rasa terkejut Jonghyun lebih kuat kini.

Sunny, inikah kau? Atau memang Serra? Kenapa mirip? Pikiran Jonghyun bertambah kacau.

“Ah, aku hanya menyebut suku kata pertama dari namamu, hanya asal,” jawab Serra enteng.

“Kau tidak sedang berbohong kan, Serra-ssi, ani, Han Sunny?”

TBC…

+++++

Fuhhhh…kelar juga…*lap keringet

Yaudah, aku lagi bingung. Cuma mau bilang, thx buat yang udah mau baca n komen. Kritik sarannya ditunggu ya…Don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

27 thoughts on “Between Two Hearts – Part 7

  1. bingung lah ini mau komen apa…………….
    yg pada nyari tau cuma kl taemin yg ngomong, tapi kapan ngomongnya? penasaran

  2. nah lho..nah lho…
    apa pula ini…???
    serra udh berubah sm minho…bahkan bilang klo dy benci sm minho…
    jgn bilang klo serra benci sm minho gara2 dy mukulin key…apa serra simpati smkey gr2 jantungnya sunny…pan si sunny mantannya key….
    udahlah key…klo emg serra g mau sm kamu,kesini aja…aku mau kok sm kamu,mau buanget malah hehehehehe…😀
    tp sumpah demen bgt deh klo key jd orang pinter macam gini…bisa nebak keanehan ucapan minho….
    ayo terus key…bongkar semua ulah minho….
    kayaknya kunci dari semua ini cm taemin deh….kan dy yg tau seluk belukdan alesan si sunny…
    bibib pinter deh bikin orang jd penasaran….
    lanjut next part,bib….
    jgn lama-lama ya….

    1. Dya eon, menurutku segini sih Key telat nyadarnya, hehe…
      Serra benci Minho krn bagaimanapun dia inget kalo Minho pernah maen ama Sunny, plus adegan pemukulan itu jg sih…

      Next part ditunggu aja ya eon ^^
      makasih banyak udah mau mampir di ff2 ku

      1. iy jg sih telat…tp cuman dikit. #ngbelain key nih ceritanya
        itupun krn dulu key lg buta sm cintanya dy k sunny…jd suka g pake logika klo mikir…
        tp sekarang kan udh enggak lagi…y iyalah orang udh mo kelar hehehehehe…🙂

        semangat terus bibib….
        ditunggu jg ff yg laen….

  3. Author…..

    Sekedar saran aja, krn aku itu ga gitu suka masalah yg beribet, aku pengen saranin kenapa ga itu masalah serra-sunny itu di selesain.. Terus baru masalah key-minho-jjong ato apalah gitu..

    Soalnya thor.. Aku juga penasaran bgt sama si serra-sunny😄
    hehe😀

    cuma itu doang, sih thor.. Anyway, FFnya bagus!! Lanjut thor^^
    jgn lama2, yaaa😉

    1. Mmmm, sebenernya masalahnya akan ‘selesai’ hampir secara barengan sih, ehehe…ini dua part lagi kok, ga akan bertele-tele ribet gimana. Makasih banyak ya sarannya ^^

      Makasih banyak ya udah mampir, next chap ditunggu aja yaaa

  4. Cie cieee~~~
    Part 7 kelar*ngangsurin sapu tangan dari tukang bajaj di sebelah*
    Itu ada roh nya si sunny di dlem tubuh serra ya?jdi aneh serranya.Pngen bnget ku triakin di kupingnya -WOY,ITU CHOI MINHO!!!,,NAMJA PUJAAN HATI LO!!!-,,Minho ksian.Duo kim menderita.Jinki brpikiran sesat*digoreng MVP*.Taemin gg muncul.Serra..?*angkat tangan deh aqu*

    Bibib eon mw tw gag?si changmin dinistain sama vi~eon di ff bru dia.Dibikin jhat.Alesannya krna suami dia si key dibikin mrana trus di epep eonni.HAHAHAHA,,timbal balik dia.Epil bner tu anae key*siap2 dpet batako lagi*

    Apapun ini epep daebak lah.
    Ditunggu lnjutannyo yoo eoön~

    1. Buset dah aku maunya handuk bekas Onyuuu…

      Changmin? Ga apa deh, emg cocok sih dia jadi evil2 gitchuuu, aku setuju ama vi eon…

      #Eunri nangis dipojokan

      Makasih ya udah mampir lagi ^^

  5. aiiicchhh ,,, koq bisa serra sikap dan perasaannya berubah gituw ??
    apakah donor jantung itu bisa merubah perilaku org yg dpt donor ??
    waaacchh ,, key dan jjong udha kayak detektif ajja nech ..🙂
    moga berhasil tuch misi rahasia (??) mereka …………
    akankah serra berpaling dari minho dan membuka hati buat key ??
    penasaran to the max !!!!!!!
    lanjutkan !!

    1. Iya ada pengaruh jantung itu juga, trus emg dasarnya Serra marah juga kan Mino maen ama Sunny.

      Oya, sepertinya aku harus manggil Yoonee Eon juga kah? Watir salah manggil juga ni…

      Lanjutannya ditunggu aja ya…makasih udah mampir+komen ^^

  6. Ternyata udah keluar ya part 7 nya… semakin complicated ajja… kasian ama Mino bebannya berat banget… si Taemin bakalan jadi juru kunci ni kayaknya… ditunggu next partnya…
    Oh, ya hampir lupa itu kayaknya panggilan buat Serra itu Serra-ya karna diakhiri huruf vokal.. itu setahu aku, mian kalo salah.. hehe… satu lagi daebakk buat bahasa author bagus sangattt ^^d

    1. Oalah…iya yg bener Seera-ya, makasih banget ya udah diingetin lagi, aku pernah dikasih tau juga sama temenku, tp suka lupa.

      Makasih ya Fa udah mau baca+komennya, part 8 ditunggu aja ya…

  7. skrng kok serra jdi berubah gtu sih sifatnya
    jdi mirip sunny
    jdi kyk ada 2 jiwa gtu dlm tubuhnya serra
    asal mreka ktmu sm taemin
    bz terungkaplah smuanya,
    cuma taemin yg tau kan sunny donorin jantungny buat serra

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s