Touch Your Heart – Part 8

Tittle          :    Touch Your Heart Part 8

Author       : tiara_jinki

Main Cast  : Lee Taemin, Choi Yoona, Lee Jinki (onew)

Other Cast : Kim Kibum(Key), Kim Hyo Min, Lee Taesun, Lee Junki and others.

Length       : sequel

Genre         : Romance, Family.

Rating        : PG

Yoona terdiam. Ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar mendengar kata yang baru di ucapkan oleh Onew. Onew melepaskan pelukannya dan menatap Yoona lekat-lekat. “mungkin, itu yang akan di lakukan Taemin. dia akan mengatakan “saranghae” padamu lalu memelukmu seperti tadi. Ku rasa dia akan melakukan itu padamu”ucap Onew dan tersenyum lebar membuat kedua matanya kian menyipit.

Yoona menghela nafas lega. “hah…oppa, ku kira… sudah lupakan. Kau membuatku kaget saja oppa”ujar Yoona.

“mwo? Memangnya kau kira apa? Hah, jangan bilang kalau kau berfikir tadi aku mengatakan itu dengan sungguh-sungguh? Aigo, tenang saja. aku tidak mungkin menyukaimu. Yoona-ya. Hahaha”ucap Onew dan tertawa memaksakan.

“ya! Aish, jangan lakukan itu lagi oppa. Kau bisa membuat orang salah paham”.

“hehe, geurae. Aku tidak akan melakukannya lagi. mianhae, aku hanya bercanda tadi”. ‘sebenarnya, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku di saat, sosok yeoja itu teringat olehku dan aku merasa kalau dia ada di hadapanku’.

Yoona mendengus kesal. Onew dan Taemin nyaris sama. Mereka berdua senang membuatnya kesal. “oppa, lalu, apa kau pernah jatuh cinta? Siapa yeoja itu? Apa dia seumuran denganmu?”tanya Yoona dan menatap Onew.

Onew terdiam, kepalanya sedikit tertunduk. Ia kembali mengingat yeoja yang sudah lama tak ia lihat. Senyum yang terbentuk di bibirnya pun sirna. “ne”jawab Onew pelan nyaris tidak terdengar.

*Flashback*

20 Desember 2006

 

Onew duduk di taman yang selalu ia kunjungi. Salju yang berwarna putih menghiasi taman ini. Matanya menatap seorang yeoja yang sedang duduk di sampingnya. Yeoja yang telah membuat perasaan aneh di hatinya. Yeoja yang telah membuat jantungnya berdetak lebih cepat saat menatap kedua matanya yang indah.

“Onew-ah, aku…”. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya, ragu akan perkataan yang ingin ia ucapkan.

Sedangkan Onew terus memperhatikan yeoja itu. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja menyatakan perasaannya pada yeoja yang bernama Choi Yoonra ini. Bisa di bilang mereka sangat dekat, namun selama ini Yoonra terus mengatakan “kau sahabat terbaikku, Onew-ah”. Sementara Onew menginginkan lebih dari sahabat. Ia menginginkan hubungan yang lebih dari ini.

Kepala Yoonra tertunduk, air matanya menetes. “mianhae”ucapnya pelan dan serak.

Onew terkaget saat mendengar perkataan Yoonra. Udara seakan menipis, membuatnya begitu sesak, dinginnya angin yang bertiup seperti menusuknya, hatinya seakan di hantam sebuah batu yang besar. Ia menghela nafasnya dan tersenyum, senyum yang memaksakan. “gwenchana, lagipula, tadi…aku hanya bercanda. Hahaha!”seru Onew lalu tertawa memaksakan.

Yoonra terdiam dan masih menundukkan kepalanya. “begitu yah…”gumamnya.

Tangan Yoonra bergerak menyeka air matanya, sosok Onew kini terlihat samar-samar di matanya padahal saat ini Onew berada di hadapannya. “Onew-ah, aku akan pergi”.

Mata Onew membulat, ia semakin sulit bernafas. Hatinya kini bagaikan kaca yang terjatuh ke  lantai. “mwo?! eonje? Eodie?”.

Bibir Yoonra membentuk ukiran senyum, lalu bangkit dari duduknya. “besok, New York”jawab Yoonra dan membalikkan tubuhnya, air mata kembali menetes dari pelupuk matanya begitu juga dengan Onew.

“eolmana?”tanya Onew dengan suara bergetar menahan tangis.

“mungkin, aku…tidak akan kembali lagi”jawab Yoonra, masih memunggungi Onew

“jinja?”.

Yoonra menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk pergi. “selamat tinggal, Onew-ah”ucap Yoonra dan mulai melangkah.

Onew terdiam sesaat. “andwae!”seru Onew dan membuat Yoonra menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati Onew sudah ada di hadapannya dengan senyum di wajahnya.

 

Lalu, tiba-tiba Onew mendekap Yoonra ke dalam pelukannya. “sampai jumpa, itu yang harusnya kau katakan. Bukan ‘selamat tinggal’ apa kau tidak ingin bertemu denganku lagi? aku ini manusia terunik di dunia. Sayang sekali, jika kau tidak bertemu denganku lagi. hehe”. Air mata Onew terus menetes namun senyum tetap terukir di wajahnya.

Sedangkan Yoonra hanya terdiam,menikmati pelukan Onew. Mungkin ini adalah terakhir kalinya ia bisa merasakan kehangatan dekapan Onew. “sebagai sahabatmu…”. Suara Onew terdengar di telinganya, suara yang sangat ia sukai itu. Tidak akan ia dengar lagi.

“aku hanya beraharap yang terbaik untukmu. Walau, aku tidak tahu alasan kenapa kau pergi.  Walaupun kita tidak akan bertemu lagi. aku….aku selalu berdoa yang terbaik untukmu. Karena, aku sahabatmu”. Onew melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya, tidak berani menatap wajah Yoonra.

“sampai jumpa!”. Lalu, Onew berjalan menjauh, meninggalkan Yoonra yang masih terdiam di tempatnya.

*end of flashback*

“nugu? Apakah dia cantik? Apakah yeoja itu seumuran denganmu? Ah…aku jadi penasaran”. Suara Yoona menyadarkan Onew dari ingatan yang membuatnya sesak.

“hem, bagaimana yah? Ku rasa. Ne, dia seumuran denganku.”jawab Onew.

Yoona membuka mulutnya, siap untuk melontarkan pertanyaan pada Onew. namun, ia kalah cepat dengan Onew. Onew telah memotongnya lebih dahulu. “Yoona-ya, ku rasa ini sudah waktunya kau pulang. Bukan maksudku untuk mengusirmu. Hanya, aku takut jika orang tua dan oppa-mu mencarimu. Apa kau ingin ku antar?”.

Yoona berpikir sejenak. “tidak usah oppa. Ahjumma lebih membutuhkanmu. Besok, bolehkah aku ke sini lagi?”. Yoona bangkit dari duduknya dan menatap Onew dengan senyumnya.

“tidak ada yang melarangmu. Aku sangat berterima kasih jika kau mau meluangkan waktumu untuk Ummaku. Aku akan mengantarmu sampai halte bus. Tidak ada penolakan”.

***

Sinar matahari menembus kaca jendela dan menyentuh Taemin dengan hangatnya. Seakan menyuruhnya untuk pergi dari dunia mimpinya, yang mungkin lebih indah di banding dunia nyata. Taemin mulai menggeliat di kasurnya. Kelopak matanya terbuka perlahan, kedua tangannya terangkat ke atas. Taemin mengubah posisinya menjadi duduk.

Lalu, di lihatnya sekeliling kamar Taesun ini. Tidak ada Taesun, hanya ia sendiri. Matanya   beralih pada jam digital yang terletak di meja yang berada di samping kasur. Jam digital itu menunjukkan pukul 11.00 a.m.

Taemin sedikit membulatkan matanya, ini sudah siang dan ia baru bangun. Taemin beranjak dari kasurnya dan keluar dari kamar. “kau sudah bangun. Kajja, kita sarapan pagi”. Suara Taesun tertangkap telinganya. Ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Taesun yang sedang duduk di meja makan dengan selembar roti di tangannya.

Kakinya melangkah menghampiri Taesun. “ini sudah siang dan kau masih menyebutnya sarapan pagi?”ujar Taemin dan menarik kursi yang terletak di samping Taesun. Sungguh rasa canggung itu kini mmenghampirinya.

“bagiku, ini masih pagi. Ini baru jam 11”. Taesun membalas dengan santai. Tangannya sibuk mengolesi selai coklat kacang di rotinya.

Taemin terdiam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Kini, dirinya sibuk mengusir rasa canggung yang menghinggapinya. “hei, kenapa kau tidak makan? Apa kau ingin aku membuatkanmu sesuatu?”. Suara Taesun mengganggu Taemin yang sedang mencoba mengusir rasa canggung yang ia rasakan.

“eh? Mwo?”sahut Taemin.

“ck, apa kau melamun huh? Tadi aku bilang, kenapa kau tidak makan? Apa kau ingin aku membuatkan sesuatu untukmu?”. Taesun mengulangi perkataannnya pada Taemin.

“ah, annio. Ini sudah cukup”. Taemin mengambil roti yang sudah di olesi selai coklat oleh Taesun dan memakannya perlahan. Sementara Taesun terus memperhatikan dongsaeng-nya.

Suasana menjadi hening, Taemin hanya menatap roti yang ada di depan matanya seakan roti itu lebih menarik di bandingkan apapun. Sementara Taesun hanya menatap Taemin, memperhatikan setiap lekuk wajah dongsaeng yang sudah lama tidak ia temui.

Sementara itu, pikiran keduanya melayang ke masa lalu. Di mana semuanya berubah, di saat  masa indah itu pergi meninggalkan kehidupan keluarga mereka.

*Flashback*

25 Desember 2003

“shireo, hyung! Aku ingin bersama eomma!. Lagipula, kenapa aku harus pergi? Kenapa aku, hyung dan appa harus pergi?! Aku tetap ingin bersama-sama, hyung! Kenapa kita harus pergi? Bagaimana dengan eomma jika kita pergi? Shireo! Aku tetap akan bersama eomma! Sampai kapanpun!”.

Blam!

Suara bantingan pintu terdengar jelas di telinga Taesun. Untuk pertama kalinya ia melihat Taemin berteriak di hadapannya. Hatinya benar-benar bimbang saat ini. Haruskah ia mengikuti Appa nya? Atau Ummanya. Kembali, bayangan Appa-nya yang menangis teringat di pikirannnya. Lalu, sosok Umma-nya yang memeluk seorang namja yang tak di ketahuinya.

Siapa yang bersalah?

Siapa yang paling terluka?

Appa?

Umma?

Air matanya menetes tanpa perintahnya. Menetes begitu saja, dirinya kini benar-benar bingung. Apa yang terjadi?. Apakah ini hanya mimpi buruk?. Apakah saat ini ia sedang berada dalam dunia mimpi?.

“appa…umma…”. Suara Taesun menjadi serak. Bulir bening membasahi pipinya, apa yang harus ia pilih saat ini?. Sejujurnya, ia tidak ingin memilih siapa-siapa. Ia sependapat dengan Taemin. Tidak ingin berpisah. Tapi, setelah matanya menyaksikan sendiri. Bagaimana Appa-nya meneteskan air mata tanpa henti. Bagaimana Umma-nya meneteskan air mata di dalam dekapan seorang namja asing yang bahkan tidak pernah ia lihat.

Kepalanya tertunduk, kedua tangannya terkepal, air matanya mengalir deras tanpa bisa ia hentikan. Semakin lama semakin deras. Ia sangat bingung, kenapa harus seperti ini?. Padahal, ia sering memimpikan kehidupan yang indah. Di mana ia akan terus hidup bersama dengan keluarganya sampai ia dewasa. Bersama dengan kedua orang tuanya yang semakin menua. Tertawa bersama, piknik bersama, tersenyum, dan segala hal yang menyenangkan.

Namun, sekarang semuanya begitu berbeda. Mimpi-mimpi indah itu seperti terbakar dan hangus. Hangus menjadi abu yang hilang tertiup desiran angin. Mimpi-mimpi itu kini tak bisa ia impikan lagi.

Taemin membuka sedikit pintu kamarnya, matanya mendapati hyung-nya sedang menangis di depan kamarnya. Ada apa dengan hyung-nya?. Apa yang terjadi?. Kenapa semuanya menjadi begitu aneh?. “hyung, uljima…”gumam Taemin, tak sanggup melihat butiran-butiran air mata terjatuh dari pelupuk mata Hyung-nya.

Tanpa terasa, air mata menetes begitu saja dari pelupuk mata Taemin. Rasa sedih menghinggapinya, ia tak kuasa menahan air matanya. Melihat hyung-nya seperti ini, Umma, dan Appa-nya. Kenapa semua orang di rumah ini menjadi begitu aneh?. Senyum jarang ia temui di keluarganya saat ini. Hanya wajah datar, tatapan kosong dan air mata yang ia lihat di keluarganya.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Ada apa dengan Taesun hyung?

Kenapa appa dan umma menjadi murung?

31 Desember 2003

 

“andwae, hyung, appa. Jangan pergi! Jebal. Eomma…eomma, bujuk appa agar tidak pergi. Eomma, kenapa kau diam saja? Ppali! bujuk appa agar tidak pergi. Hyung, hyung jebal jangan pergi. Appa, ku mohon aku akan menjadi anak yang turut dan baik asal kalian tidak pergi.” Taemin terus merengek pada Chaerin, Taesun dan Junki.

Semuanya hanya diam, tidak berbicara apapun hanya menatap sendu ke arah Taemin yang merengek agar Taesun dan Junki tidak pergi.

“Taemin-ah, tidak bisa. Kami harus pergi. Kalau kau ingin ikut. Kami bisa mengundur waktu untuk membereskan barang-barangmu”ucap Taesun dan mencoba menyentuh bahu Taemin.

Dengan kasar Taemin menghempaskannya. “ada apa dengan kalian? Kalian aneh! Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan tetap di sini! Kenapa kalian seperti ini? Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kalian hanya diam?”. Taemin mengeraskan suaranya, rasa kesalnya sudah memuncak. Emosi tak bisa ia kontrol.

Taesun terkaget, matanya sedikit membulat. Terkaget dengan apa yang baru di lakukan Taemin. “Taesun, kajja. Kita akan ketinggalan pesawat jika terlalu lama di sini. Taemin jangan nakal pada..umma-mu”suara Junki terdengar sangat pelan dan bergetar.

“appa…”. Air mata mengalir dari pelupuk mata Taemin. Tidak ada senyuman hangat itu. Tidak ada suara yang bahagia itu lagi. Semuanya menghilang. Semuanya berubah.

“jaga dirimu baik-baik, Taemin-ah. Jaga Umma. Umma, kami pergi dulu. Saranghae”ucap Taesun dan menggengam tangan Junki.

Chaerin menatap ke arah pintu yang baru saja di buka oleh Junki. Kedua orang itu telah pergi. Hanya Taemin yang tersisa, putranya yang sedang meringkuk dengan isakan tangis yang membuat telinganya begitu sakit. “Junki, Taesun…”. Air matanya semakin lama semakin turun tak terkendali.

Ia bergerak mendekat pada Taemin. “eomma, kenapa mereka harus pergi? Apa yang terjadi?”tanya Taemin dengan air mata yang membasahi pipinya.

Chaerin hanya tersenyum dan memeluk Taemin. membiarkan Taemin menangis dalam dekapannya. Membiarkan Taemin terus menerka-nerka. Tanpa mengatakan hal yang sebenarnya. Lebih baik seperti ini. Di banding mengetahui kenyataannya.

*end of flashback*

Keduanya terdiam mengingat masa lalu yang begitu berat untuk mereka berdua. Aktivitas mereka terhenti, hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

***

“mianhae, sudah merepotkanmu oppa. Gomawo telah mengantarku sampai sini. Annyeong!”. Yoona membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam bus yang sudah berhenti di halte bus.

Onew tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya pada Yoona. Lalu, ia berjalan kembali ke rumah sakit. Setiap langkah, pikirannya kembali mengingat bagaimana dirinya memeluk Yoona secara tiba-tiba dan mengatakan kalimat itu.

Apakah benar ia menyukai Yoona?. Apa karena Yoona nyaris mirip dengan Yoonra makannya perasaan itu datang dengan mudahnya. Apa karena Yoonra?. Apakah benar ini cinta?. Tidak, ia tidak mencintai Yoona. Ia hanya terbayang-bayang oleh sosok Yoonra. Yeoja yang pertama kali membuatnya mengenal cinta.

Tapi, setiap kali ia menatap wajah Yoona. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Terkadang rasa gugup mengusiknya setiap kali ia berada di samping Yoona. Dalam hatinya, selalu timbul perasaan aneh. Namun, semuanya berbeda jika dengan Yoonra. Apakah ini karena ia tidak bisa melupakan sosok Yoonra yang sudah lama tak di temuinya.

Yoonra yang menolaknya dan meninggalkannya. Apa ini karena rasa rindu yang tak terbendung maka dari itu ia merasakan perasaan yang nyaris sama terhadap Yoona?. Sebenarnya siapa yang ia cintai?.

Yoonra…Yoona. Dua orang yang nyaris sama. Senyum dan tatapan keduanya hampir sama Namun, ada satu hal yang berbeda. Hatinya selalu meneriakkan nama Yoonra. Jantungnya berdetak 3 kali lebih cepat saat mendengar namanya. Nafasnya begitu sesak saat mengingat wajah Yoonra.

My heart keeps going towards to you

Langkah Onew terhenti di depan sebuah toko bunga. Warna-warni bunga menyambutnya, harum dari bunga-bunga itu tercium hidung Onew.

One by one, I count the memories

My heart can’t rest for even a moment

Bunga mawar putih, bunga kesukaan yeoja itu. Choi Yoonra. Dia selalu tersenyum saat melihat mawar putih. Matanya akan terpejam menghirup harum wangi bunga mawar dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Senyum yang terukir di bibir Onew meluntur. Sampai kapanpun ia akan tetap mengingat yeoja itu. Yeoja yang lama pergi tanpa kabar.

I must have gotten ill from missing you so much

Senyumnya, tawanya, teringat jelas oleh Onew. Tapi, yeoja yang mengisi hatinya kini tanpa langsung menorehkan luka yang amat perih di hatinya. Bahkan yeoja yang bernama Yoona, yang kini mengisi harinya. Juga menorehkan luka yang ia buat tanpa sengaja. Yoona, yeoja yang membuat perasaan aneh karena semua tingkah lakunya nyaris sama dengan Yoonra.

“ahjumma, seperti biasa. Satu bucket mawar putih”. Suara seorang yeoja yang tampak familiar di telinganya membuyarkan Onew dari lamunannya.

really, my heart must have done something somehow

I must have gone crazy over this hard love

“Yoonra…”. Onew terkaget dengan yeoja yang berada di sampingnya saat ini. Choi Yoonra, dia…dia ada di sampingnya saat ini. Tanpa berkata apa-apa lagi. ia memeluk yeoja yang ada di sampingnya saat ini.

“ya! Apa yang kau lakukan?!”. Kini suara itu berbeda. bukan suara Yoonra.

Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dan mendapati seorang yeoja yang masih memakai seragam sekolah sedang menatapnya dengan tajam. “ah…jeosonghamnida. Maaf, aku salah orang. Sekali lagi, mianhae…jeongmal mianhae”.

Pipi Onew memerah karena malu, ia mempercepat langkahnya. Ia begitu risih dengan tatapan aneh dari orang-orang yang melihat kejadian memalukan tadi. Ini semua karena yeoja itu. Ini semua karena Yoonra.

Even if I hold out my hands

No matter how much I call out

You’re always far from me

***

Last Christmas I gave you my heart

But the very next day you gave it away

Langkah Yoona terhenti oleh dering handphone-nya. Tangannya bergerak mengambil ponselnya dan melihat ke arah layar ponselnya. Tertera nama Minho, dengan malas ia mengangkat telfon itu. Jika Minho yang menelfon, dia pasti akan menyuruh Yoona membeli barang-barang yang di sukai Minho. Tanpa ada penolakan dari Yoona.

“mwo?!”ujar Yoona memulai percakapan.

“ya! Kau ini, tidak bisakah kau menjadi dongsaeng yang lembut untukku?! Ada di mana kau?”balas Minho kesal.

“wae? Kau ingin menyuruhku apa? Tidak usah berbasa-basi lagi!”.

Terdengar kekehan Minho dari handphone-nya. Sudah ia duga, dia akan menyuruhnya melakukan sesuatu. Menyebalkan. “hehe, kenapa kau bisa menebaknya? Ah, kau ingat kan kalau hari ini adalah hari ulang tahun umma?”.

“ah…ne, waeyo? Kau ingin aku melakukan apa?! Ppali! Di luar dingin sekali!”.

Rasa dingin yang sedari tadi mencoba memeluknya kini benar-benar memeluknya. Membuatnya menggigil kedinginan. “ah, kau sudah menebaknya. Tolong belikan kue tart yah. Yasudah. Hanya itu saja. jangan lama-lama. Bye!”.

Lalu tidak terdengar lagi suara berat Minho. Yoona mendengus kesal, kenapa dia tidak membelinya sendiri?! Kenapa dia begitu malas untuk keluar dari rumah?! Untuk apa kedua kaki panjangnya itu?!. Gerutu Yoona dalam hatinya.

~Toko Kue~

“agasshi, hmm…tolong bungkuskan kue tart itu untukku dan bisakah kau menuliskan happy birthday di permukaan kue itu dengan krim coklat?”pinta Yoona, setelah beberapa menit melihat-lihat kue yang ada.

“ne, tunggu sebentar”balas wanita yang menjadi pelayan di toko kue ini.

Lalu, Yoona melihat-lihat ke sekeliling toko kue ini. Toko kue ini cukup ramai dan ia rasa kue di toko ini pastilah enak. Kini, matanya tertarik melihat sesuatu di luar toko. Entah mengapa pemandangan itu mengalihkan pandangannya dari arsitektur toko yang cukup unik ini.

Seorang wanita berparas cantik dengan sebuah tongkat di tangannya. Dengan tiga orang namja yang sedang asyik menggoda wanita itu. Tanpa meperhatikan lebih lama lagi, Yoona yang merasa jengkel melihat ketiga namja itu keluar dari toko untuk memastikan apa yang sedang di lakukan ketiga namja itu pada wanita itu.

“hei, kau sangat cantik apakah kau mau bermain-main denganku?”.

“apakah tidak ada namja yang mau mendekatimu? Bagaimana kalau kau memuaskan kami malam ini?”.

“yeah, yeoja sepertimu. sebenarnya, banyak ku temui. Namun, karena kasihan bagaimana kalau kau bermain dengan kami malam ini? Haha”.

Kalimat-kalimat itu terasa begitu menyakitkan di telinga Yoona. Kekesalannya memuncak, tendangannya melayang begitu saja ke ketiga namja itu. Untunglah saat ini ia sedang tidak memakai rok. “ya! Apa yang kalian lakukan?! Pergi sana! Atau aku akan berteriak sekarang!”ancam Yoona dan melemparkan tatapan tajam pada ketiga namja yang sedang meringis kesakitan.

“aish, dasar yeoja aneh. Sudahlah, kajja kita pergi. Tidak ada gunanya meladeninya”ajak salah seorang dari ketiga namja itu.

Yoona baru saja akan melayangkan pukulannya saat sebuah suara menghentikannya. “gomawo, jeongmal gomawo”. Suara seorang yeoja, suara itu sangat lembut.

Yoona membalikkan tubuhnya untuk melihat seorang wanita yang mengeluarkan suara lembut itu. “Eh? Ne, cheonmanayo. Lagipula, aku jengkel dengan namja-namja itu. Aku paling tidak tahan dengan kelakuan namja seperti mereka”balas Yoona dan tersenyum.

Tatapan wanita yang memegang tongkat itu tidak lurus ke arahnya. Apakah wanita ini buta?. Dengan ragu, Yoona mengibaskan tangannya di depan mata wanita itu. Bola matanya tidak bergerak(?) mengikuti arah gerakan tangannya. Wanita ini buta. Keterlaluan sekali ketiga namja tadi!.

“namaku Choi Yoona, senang bisa bertemu dengan…”. Yoona mengulurkan tangannya dan menghentikan kalimatnya. Yeoja yang ada di hadapannya saat ini tampak lebih tua darinya.

“kenapa kau menghentikan kalimatmu?”tanya yeoja itu bingung.

“aku…aku rasa kau lebih tua dariku.”.

“ouh, umurku 20. Apakah wajahku terlihat tua?”tanya yeoja itu lagi, kali ini menyentuh wajahnya.

“ah, anni unni. Kau sangat cantik. Umurku 18 tahun. Bangapseumnida, unni. Nugu-ya?”.

Wanita di hadapannya mengulurkan tangannya namun tidak ke arah uluran tangan Yoona. “jeoneun Choi Yoonra imnida. Ternyata nama kita hampir sama yah”. Yoona menjabat tangan Yeoja yang bernama Yoonra ini.

“ne, aku juga tidak menyangka. Ah, kalau begitu aku pergi dulu. Ku harap kita bisa bertemu lagi. annyeong unni!”

***

Onew duduk dan menatap Umma-nya yang sedang tertidur. Wajahnya sangat tenang membuat yang melihatnya ikut merasakan ketenangan. Tangan Onew bergerak menggenggam tangan Ummanya yang begitu kurus. Seperti tulang tanpa daging yang di bungkus oleh kulit yang mengeriput. “umma, aku takut…”ucapnya pelan supaya yang sedang berbaring tidak terbangun.

“jangan pernah pergi…walaupun ini tak mungkin untuk terjadi.”. Wajahnya menghangat karena air mata yang membasahi pipinya. Sosok yang selama ini terus tersenyum untuknya, saat ini sedang terbaring lemah. Ia begitu takut akan kehilangan orang yang begitu penting di hidupnya.

“aku tahu…kau sangat merindukan putramu yang telah tidak berada di dunia ini. Namun, di dunia ini masih ada aku yang membutuhkanmu…”. Genggamannya semakin erat, satu yang pasti dalam hatinya. Ia sangat mencintai Ummanya –walaupun dia bukan Umma kandungnya. Namun, ia sangat mencintai dan tidak ingin kehilangannya. Untuk saat ini, ia belum siap untuk hal-hal buruk yang akan menimpanya.

“tidak…aku tidak boleh berpikiran aneh. Tidak…aku harus optimis”. Mata Onew terpejam saat pikirannya memikirkan jikalau Umma-nya tersenyum untuk terkhir kalinya. Dan memejamkan mata untuk selamanya.

***

“Lee Taemin, hanya duduk di depannya. Lupakan rasa bencimu saat ini. Tenang Lee Taemin…tenang”ucap Taemin dalam hati sedangkan kepalanya terus tertunduk tidak terlalu berani untuk menatap wajah yang sedang tertidur itu.

Desahan nafas terdengar telinganya, apakah dia sudah bangun?. Kenapa ia begitu canggung? Kenapa seperti ini?. Kenapa begitu aneh?. “Taemin-ah…”. Suara berat itu. Suara yang sangat lama tidak ia dengar.

Air matanya mulai meluncur dari pelupuk matanya satu persatu. Ia masih belum berani mengangkat kepalanya. “ah…ternyata benar kau ada di sini Taemin-ah…”. Suara itu begitu lemah dan pelan.

“sudah lama…”. Masih tertunduk dan menatap ke bawah seperti ada sesuatu yang menarik perhatian Taemin di banding Junki yang sedang menatapnya dengan senyum.

“mianhae..karena selama ini tidak ada di sampingmu”. Sentuhan itu terasa menyentuh hatinya yang terkunci untuk orang yang ada di hadapannya. Tangan yang terpasang infus itu mengusap-usap rambut Taemin.

“apa kabar?”. Tangannya kini menyentuh bahu Taemin. Jantungnya berdebar-debar, udara seakan menipis. Tidak ia sangka, sentuhan ini sangat di rindukannya.

Taemin menyeka air mata dan mengangkat kepalanya. “mianhae, aku…aku…harus keluar”ujar Taemin dan pergi meninggalkan Junki yang masih menatapnya dengan sendu.

“hei, kau mau ke mana?”. Suara Taesun menghentikan langkahnya. Kepalanya bergerak ke arah Taesun yang sedang menatapnya dengan bingung.

“mencari udara segar”jawab Taemin dan melangkah pergi. Taesun ingin mengejarnya namun ia tertahan saat melihat ke arah kamar di mana Appa-nya sedang terbaring lemah. Ia hanya bisa menghela nafas dan menatap punggung Taemin.

***

~Onew’s pov~

Aku terdiam di tempatku, tubuhku sulit untuk beranjak dari tempatku. Air mata ini sulit untuk ku kendalikan, tetesan demi tetesan terus menetes. Jantungku berdetak terlalu cepat sehingga membuatku sulit untuk bernafas. Ku pejamkan mataku, menepis semua pikiran buruk tentang apa yang akan terjadi beberapa menit, jam atau beberapa hari lagi. Semuanya begitu menakutkan untuk di bayangkan.

Aku hanya belum siap jika semua itu terjadi saat ini. Terlalu cepat. Aku masih ingin menatap senyum indah itu. Merasakan hangatnya pelukan darinya. Menatap wajahnya yang tenang. Aku masih ingin merasakan itu semua bersamanya. Jika dia pergi secepat ini, Tidak, tidak, itu tidak mungkin terjadi. Onew, kau tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh!.

Walaupun aku tidak terlahir dari rahimnya, walaupun darahnya tidak mengalir dalam darahku. Namun, sejak saat pertama aku bertemu dengannya. Aku merasakan kami terikat. Kami di takdirkan untuk bertemu. Kasih sayangnya kepadaku sama seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya sendiri. Dia selalu tersenyum padaku, melakukan apa yang ia bisa untuk membuatku bahagia.

Dia tidak pernah memarahiku, jika aku melakukan suatu hal yang salah, dia akan mengusap kepalaku dan menasihatiku dengan lembut. Karenanya, aku bisa merasakan seperti apa memiliki keluarga. Karenanya, aku dapat merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

Dia mengajariku banyak hal, dia memberikan kasih sayang yang tak bisa di ukur dengan apapun. Aku rela mengorbankan apapun asal ia bisa tetap berada di dunia ini. Aku akan melakukan apapun agar ia dapat bernafas dan menatap dunia ini.

Pintu terbuka, seketika aku bangkit dari dudukku dan menghampiri dokter itu. “uisa, bagaimana ? Eomma-ku, dia…tidak apa-apa kan?”tanyaku penuh harap.

Dokter itu menatapku tanpa senyum di bibirnya. Aku tidak suka ini. Tatapannya kepadaku menyiratkan rasa prihatinnya padaku. Tuhan, jebal jangan ambil dia. Umma…jangan pergi.

“mianhae, tidak ada lagi yang bisa ku lakukan. Tuhan telah berkata lain.”. Tangan dokter itu menyentuh pundakku. Kakiku lemas saat mendengar kalimat yang terucap dokter itu. Dalam hitungan detik, aku masuk ke dalam kamar dan mendapati seorang perawat sedang menutupi tubuh Umma-ku dengan sehelai selimut putih.

Ku tahan tangan perawat itu dan menghempaskannya. Mataku kembali mengeluarkan cairan bening itu lagi. Apakah ini benar terjadi? Apakah umma benar-benar pegi meninggalkanku?. Siapa saja, tolong katakan padaku kalau ini hanyalah mimpi. Jika ini mimpi, bangunkan aku. Aku ingin keluar dari mimpi buruk ini.

Aku menatap wajahnya yang tenang seperti tanpa dosa itu. Seakan ia tenang meninggalkan semua yang ada di dunia ini termasuk aku. Tak ada suara dari monitor itu lagi, wajahnya sangat pucat. “anni…annio. Eomma, ireona. Ireona! Eomma, apa kau tega meninggalkanku? Eomma, jangan pergi…jebal…”. Suaraku menjadi serak, tubuhku menjadi sangat lemas.

Kenyataan ini…kenapa begitu menyakitkan?. Eomma, kenapa aku merasakan sakit lagi?. kali ini, lebih sakit di bandingkan saat aku harus menerima kenyataan bahwa Yoonra tidak mencintaiku. Lebih sakit di bandingkan aku harus kehilangan Yoonra. Ini lebih menyakitkan. Luka yang terdapat di hati ini semakin melebar. Sangat lebarnya sampai sakit  yang ku rasakan lebih dari apapun. Eomma, apakah benar kau pergi?. Katakan padaku kalau ini hanya mimpi.

———————————————-TBC——————————————-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “Touch Your Heart – Part 8”

  1. Huwaa.. Endinggnya menyayat2..
    Dan apa yg terjadi dgn yoonra? Knp dy buta? Dan dgn smua kesamaannya dgn yoona, apa mrk b’saudara?
    Next, ne?
    Hwaiting!

  2. AIGOO~
    Gantung aku kalo endingnya menyayat gini -____-

    Eonni , tanggung jawab dong !
    Air mataku keluar nihh !!
    *langsung dipeluk si Taemin

    Kasian yah si Yoonra , matanya jdi buta 😥
    Ceritanya ini jadi ingat sama kisahnya temanku yg double menyedihkan !
    Udah ditolak , ibunya meninggal lagi –”
    *Aahh, curcol dehh!!

    Next aja lah eon_

  3. HYAAAA~~tiaraaaaa*elap ingus di baju tiara*

    Critanya…critanya…CERITANYAAA#plakplok.
    Nyayat.Si jinki dri awal ampe akhir gg ada ceria2nya neh,hwaaa…

    Lanjut saeng..gg mw tau aqu*ngacungin ayam#bltak*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s