Love Me – Part 4

LOVE ME 4

Author : *Azmi

Maint cast :

  • Kim Jonghyun
  • Choi Yumi

Other cast :

  • Lee Taemin
  • Shin Sekyung

Length : Squel

Genre : Angst, romance, married life, Friendship

Rating : PG 13

A/N : kalau ada keterangan tanggal beserta musimnya berarti Flashback ya Reader. Okey selamat menikmati.

 

STORY

“Oppa,, apa terjadi sesuatu padamu?”

“Yumi-ssi aku hanya ingin istirahat, tolong jangan ganggu aku..”

“Tapi oppa,, kau tampak pucat. Apa oppa sakit?”

“Yaa!! Kau tak mendengarku? Aku hanya ingin istirahat. Kumohon jangan ganggu aku.”

“Op,,oppa,,”

“Dan tolong, bisakah malam ini kau tidur dikamarmu, maksudku dikamarmu sendiri.”

***

~YUMI POV~

Hari ini aku memasak sup asparagus, udang bakar dan tentu saja nasi istimewa yang kuciptakan sendiri. Aku selalu menambahkan potongan seledri di dalam nasi yang kutanak. Mungkin ini aneh, tapi Jonhyun oppa selalu menyukainya. Aku sering bereksperiment dengan resep-resep baru yang berbau seledri, sayuran berbau harum yang sangat disukai suamiku.

Menu hari ini mungkin tak terlalu istimewa, tapi aku berharap itu akan sedikit menghiburnya mengingat kemarin malam,, ah ani, dini hari iya pulang dengan keadaan yang kacau. Aku tak tahu apa penyebabnya dan tak ingin memaksanya menceritakannya padaku, aku hanya ingin sedikit meringankan bebannya, itu saja.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamarnya -yang kemarin sempat juga menjadi kamarku- dengan senyum secerah mungkin. Aku memang tak pernah mengetuk pintu saat ingin membangunkannya karena walaupun aku mengetuk sampai jari-jari tanganku bengkakpun ia tak mungkin dengan mudah terbangun. Entah sejak kapan kebiasaan bangun susahnya itu dimulai karena Eomonim pernah mengatakan padaku kalau Jonghyun sebenarnya tak begitu susah untuk dibangunkan tapi ia akan segera bangun saat aku menyentuh bahunya dan memanggil namanya, tak perlu keras karena walaupun aku berbisik ia akan tetap terbangun.

“Oppa…” panggilku dengan sedikit mengguncang bahunya. Kulihat ia sudah mengerjabkan mata. Ekspresinya saat bangun selalu sama seperti pagi-pagi yang lalu. Walau rambutnya berantakan, namun masih terlihat tampan dimataku, malah aku menyukai wajah kacaunya dipagi hari. Kerena dengan begitu aku bisa melihat wajah aslinya. Hanya aku. Aku yakin, walaupun dia belum bisa melihatku, hanya akulah satu-satunya gadis beruntung yang dapat melihat wajah kacaunya.

“Oppa, ayo sarapan…”

“Ini jam berapa ??” aku mengernyit. Bukanya menanggapi ajakanku ia malah menanyakan jam. Bukahkah dia sudah hafal jam pagi aku biasa membangunkannya.

“Jam setengah tujuh Oppa, wae?” ia memandangku sejenak kemudian menata dirinya untuk bangun. Ia tak langsung turun dari ranjangnya tapi kembali memangdangku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan tapi aku merasa ada sesuatu, kuharap sesuatu itu bukanlah hal buruk. Arhhh,,, akhir-akhir ini aku memang selalu berfikiran negative. Tak akan terjadi apa-apa Choi Yumi, berhentilah merasa cemas yang tak beralasan.

“Kau duluan saja Yumi-ssi, setelah mandi aku akan menyusulmu.” Katanya.

Baru sebelah telapak kakinya menyenteh lantai, ia mengernyit kembali mengangkat kakinya cepat. Ini,,, ia selalu seperti ini kalau tengah demam, aku hafal betul kebiasaanya karena ia sering sekali demam. Dan ia selalu merasa tersengat listrik saat kakinya menapak lantai karena dingin yang menyengat setidaknya begitu yang dia bilang padaku dulu.

aku meletakkan punggung tanganku dengan segera ke dahinya, dan ternyata benar, suhunya diatas normal. “Oppa, kau demam.”

“Aku tahu,,, tak usah kawatir aku memang sering seperti ini..” ia menyingkirkan tanganku halus. Dan kembali mencoba menapakkan kakinya di lantai, namun dengan segera ku cegah.

“Aku tahu, Oppa tak pernah absen demam setiap bulannya… Chankaman, akan ku ambilkan sendal dulu..” wajahnya nampak bingung dengan yang barusan kukatakan. Aku tahu, ia pasti heran, aku hafal betul kebiasaannya demam. Sesungguhnya aku sangat khawatir melihatnya yang sering sekali tiba-tiba demam, hanya saja ia selalu berkata tak papa, ini hanya kebiasaan buruknya dari kecil. Aku tahu ia tak akan demam kalau tak sedang memikirkan sesuatu dan itu berarti memang sekarang ia tengah memiliki masalah. Dan bodohnya aku, aku tak pernah berani bertanya padanya, karena pasti yang aku dapatkan adalah penolakan.

Aku menaruh sandal hangat itu tepat dibawah kakinya yang tak benar-benar menapak lantai, hanya menggantung.

“Gomawo Yumi-ssi,,, argghhh” langkahnya tiba-tiba berhenti. Aku panik melihatnya mengerang sembari memegang kepalanya.

“Oppa, wae?”

“Ania,, hanya saja kepalaku sedikit pusing..”

“Ayo ke dokter Oppa…”

“Aniya, aku baik-baik saja.”

Bukanya hilang, rasa cemasku semakin membesar. Apalagi melihat wajahnya yang memucat. Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan itu? Kenapa kepalanya tiba-tiba pusing. Mungkinkah itu gejala ingatannya akan segera kembali seperti di film-film saat seseorang mengalami amnesia dan akan sembuh mereka akan mengalami sakit kepala. Tapi ini bukan film Yumi pabo. Suamimu sedang kesakitan dan kau malah ngelantur kemana-mana. Dasar pabo.

Seakan mengerti kecemasanku, Jonghyun oppa berujar “Gwaenchana Yumi-ssi,, nan Jeongmal Gwaenchanayo..”

“Tapi Oppa..”

“Hari ini aku tak ada waktu Yumi-ssi,, aku ada urusan,,”

****

Dan disinilah akhirnya aku berada, diruang dokter Han, dokter yang menangani Jonghyun oppa. Aku tak bisa menahan rasa khawatirkku dan membiarkannya setelah apa yang aku lihat tadi pagi. Walaupun Jonghyun oppa bersikeras mengatakan ia baik-baik saja, tapi bukankah ia memang selalu seperti itu, menganggap remeh sakitnya. Mungkin itu juga yang menyebabkan demamnya akhir-akhir ini semakin sering datang.

Berungkali aku menjelaskan apa yang kulihat tentang keadaan Jonghyun Oppa tadi pagi pada dokter muda di hadapanku ini, tapi berungkali juga ia tekekeh mendengarnya. Apa ia menganggap kecemasanku ini sebagai lelucon? Membuat kesal saja. Bagaimana orang seperti dia bisa menjadi dokter…

“Kau mencemaskan suamimu terlalu berlebihan Yumi-ssi, lagi pula bagaimana aku bisa memeriksa dan mengatahui apa yang terjadi pada suamimu, sedangkan kau hanya datang kemari seorang diri,,,” ia kembali terkekeh.

“Tapi, dokter…”

“Jangan terlalu cemas, kemarin dia sudah ceck up dan hasilnya sangat bagus…”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Jonghyun-ssi sangat beruntung memiliki istri yang sangat perhatian sepertimu..”

“Baiklah dokter Han, aku pulang dulu kalau begitu. Terima kasih atas waktu luang yang dokter berikan dan maaf telah mengganggu anda…”

***

~Author POV~

Suasana kembali hening. Jonghyun sudah tak tahu apa lagi yang harus ia katakan supaya wanita didepannya ini mau menerimanya kembali. Bahkan kopi dicangkir itu kini telah mendingin tanpa berkurang sedikitpun, masih sama seperti pertama kali pelayan mengantarkannya tadi, Jonghyun sama sekali tak berniat meneguknya. Berbeda halnya dengan wanita yang tengah menunduk disebrang mejanya. Dua botol air mineral dingin telah ia habiskan, Jonghyun tak heran, karena ia tahu dari dulu memang beginilah kebiasaanya. Ia jarang melewatkan apapun yang memiliki rasa melewati kerongkongannya, cukup dengan air mineral untuk menghilangkan rasa hausnya.

“Noona kumohon beri aku kesempatan sekali lagi…” ia berujar dengan nada memohon. Terdengar penuh harap. Siapa sangka bahwa ia telah memiliki seorang istri yang setia menunggunya dirumah, sementara kini ia telah berjuang memohon cinta pada orang lain.

Gadis itu mengangkat wajahnya, “Kau bukan hanya sedang menyakiti satu orang Jonghyun, kau tahu kau juga menyakiti hatiku. Aku juga seorang wanita, aku tahu persis apa yang dirasakan istrimu dirumah.” Sekyung menghela nafas panjang, “Aku tahu dari dulu kau memang keras kepala, tapi tak kusangka akan sebesar ini… kau bertindak seolah-olah tak ada orang lain yang perlu kau perdulikan selain dirimu sendiri, berfikir bahwa hanya perasaanmu saja yang perlu kau jaga dan kau turuti kemauannya. Mengapa kau tak pernah berfikir betapa egoisnya dirimu, mengapa kau tak pernah berfikir bahwa betapa kau telah melukai hatinya,,”

“Aku melakukan ini karena aku tahu kau juga masih mencintaiku, noona.” Sela Jonghyun. Ia masih menatap Sekyung sendu. Berharap tak akan ada lagi penolakan yang akan di dengarnya.

“Ne, aku memang masih sangat, sangat mencintaimu. Melebihi apa yang kau tahu. Tapi aku tak mau menjadi wanita jalang yang merebut suami orang lain,,, cinta bukan berarti bisa menjadi alasan untuk kita bersikap egois dan memaksakan kehendak kita. Kau sudah memiliki istri Jonghyun, kau harus ingat itu…”

“Kau mencintaiku, aku pun mencintaimu. Kita saling mencintai, tak ada keegoisan apapun dari cinta kita. Yang egois adalah jika dia memaksakan kehadirannya diantara kita.”

Sekyung menggeser kursinya agak kebelakang sedikit kemudian bangkit, berniat meniggalkan Jonghyun. Ia tahu sekeras apapun ia berusaha menolak Jonghyun sekeras itu pula Jonghyun akan mati-matian mempertahankan pendiriannya.

Sekyung membuka pintu kaca kafe yang setengah jam ini ia kunjungi bersama Jonghyun. Airmatanya sudah menyeruak sejak tadi. Ada sebagian yang sudah mengering namun dengan segera digantikan oleh lelehan yang lain. Belum selangkah ia meninggalkan pintu kafe itu, namun dari belakang sepasang lengan kekar telah melingkar sempurna di lehernya.

“Berikan aku kesempatan sekali lagi, noona. Kumohon,,, kumohon!!”

“Baiklah,,, aku akan menjadi wanita jahat, setidaknya sampai aku menghembuskan nafasku yang terakhir bulan depan.”

DEG

****

Yumi mencoba menajamkan penglihatannya melalui kaca jendela bis yang kini ditumpanginya. Beberapa kali ia mengerjabkan matanya, mencoba agar lebih fokus. Bis semakin mendekat pada objek yang tiba-tiba menjadi fokusnya. dan semakin jelas apa yang dilihatnya kini, airmatanya mengalir begitu saja tanpa ia sadari.

Suaminya, tidak salah lagi, itu memang suaminya yang tengah memeluk seorang gadis dari belakang. Yumi tahu benar siapa  gadis itu, gadis yang dulu mencampakkan suaminya. Tapi mengapa sekarang ia kembali lagi dengan tiba-tiba?

“Tolong hentikan bisnya,, hentikan bisnya!!” pekik Yumi diiringi decitan ban bis yang direm dengan tiba-tiba. Ia berlari keluar dari bis, tatapan heran dari penumpang yang lain dihiraukannya.

Satu langkah kakinya menapak jalan halus beraspal itu, namun ia mematung seketika. Nafasnya tercekat, matanya melebar sempurna. Apa yang dilihatnya kini tak bisa diterima otaknya apalagi hatinya, seperti tercengkram dengan kuat, sesak.

Benarkah apa yang dilihatnya kini? Benarkah suaminya melakukan hal seperti itu bahkan didepan umum, apa yang ada dipikirkannya. Dari dulu memang tak seharusnya Yumi berharap lebih pada Jonghyun, bukankah sejak awal Jonghyun sudah memeringatkannya agar tak membiarkan dirinya terlalu jauh tenggelam pada cintanya. ‘Jonghyun sudah memeringatkanmu, Yumi pabo. Sejak awal ia sudah memeringatkanmu. Mengapa kau begitu bodoh membiarkan perasaanmu berkembang semakin besar,,’ isak Yumi dalam hati.

Yumi mengerjabkan matanya, namun begitu sadar dua orang itu telah masuk kedalam mobil yang diyakininya adalah milik Jonghyun. Masih sempat ia melihat Jonghyun menggenggam tangan gadis itu posesif seakan tak mau membiarkannya terlepas.

“Op,,oppa,,” Yumi melangkah, mencoba  mengejar mobil yang berlahan meninggalkannya itu.

“Oppa… oppa.. Oppa berhenti” semakin lama mobil itu melaju semakin kencang, meninggalkan Yumi jauh dibelakang. “OPPA…!!!”

Kaki Yumi terasa lemas, ia jatuh terduduk dipinggir jalan, isak tangisnya semakin keras. Sebuah bogem besar terasa menghantam dadanya. Airmatanya semakin sulit ia kendalikan, membasahi hampir seluruh permukaan wajahnya.

“Oppa,,, jebal..” kepalanya terangkat kembali menatap jalan didepanya, berharap tiba-tiba mobil itu berhenti dan orang yang sangat dicintainya keluar, berbalik padanya. Tapi nyatanya mobil itu bahkan kini sudah tak nampak lagi. Bukan hanya karena matanya yang buram karena air mata namun memang mobil itu telah meninggalkannya.

“Oppa, jebal… kembali… kembali Oppa…”

****

Cahaya terang menerobos masuk melalui jendela kaca yang bersebelah dengan pintu yang  menghubungkan dengan balkon apartemennya. Ia mengerjabkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang terasa menusuk permukaan matanya. Tanganya terangkat untuk mengusap matanya sekaligus membersihkan dari sisa-sisa air mata tadi malam. Ia melirik sekitarnya, ternyata ia tertidur di sofa ruang tamu.

“Oppa…” gumamnya. Kakinya menuntunya melangkah menuju kamar Jonghyun. Ia membuka knop pintu berlahan, tak ada apapun. Kamarnya masih rapi sama seperti kemarin saat Yumi terakhir kali membereskannya, itu berarti Jonghyun tak pulang tadi malam.

“Ternyata kau tak pulang, Oppa!” Gumam Yumi lirih. Senyum miris terukir dibibirnya.

Ini tak papa Yumi, ini tak seberapa dibandingkan dengan perjuanganmu dua tahun terakhir ini, tak ada yang perlu kau tangisi lagi, semua akan baik-baik saja. Ia berseru dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.

Yumi berjalan menuju dapur, membuka lemari es dan mengeluarkan beberapa potong roti tawar. Ia memanggangnya sebentar dengan alat pemanggang kemudian meletakkan roti tersebut di meja makan lengkap dengan selai coklat.

Ia menuliskan pesan di secarik kertas yang kemudian ia letakkan disamping roti panggangnya.

‘Jangan lupa sarapanmu Oppa, maaf hari ini aku hanya membuatkan roti panggang. Aku terburu-buru, ada jadwal kuis hari ini. Berikan semangat untukku Oppa. FIGHTING…!!! ^_^” _YUMI

****

Bandul itu ia genggam erat. Pikirannya melayang pada kejadian dua belas tahun yang lalu. Hari-hari yang dilaluinya dengan bahagia. Tak pernah terbersit sedikitpun bahwa ia akan mengalami semua hal ini.

Bagaimana orang tuanya mengecup keningnya sebelum tidur, sarapan bersama, bercengkrama, mengantarkan sekolah, liburan dan bermain bersama. Banyak temannya yang merasa iri padanya dulu. Menanyakan ini dan itu padanya, darimana ia mendapatkan mata indahnya, bagaimana ia mendapatkan rambut panjang berurainya, bagaimana pipi yang begitu halus itu ia rawat, semua ia jawab dengan memperlihatkan foto ibunya. Ia selalu berbangga diri dengan wajahnya yang tak ada bedanya sedikitpun dengan ibunya.

Ia tersenyum tipis, menyingkirkan butiran salju yang jatuh diatas kepalanya. Bukan karena sedang turun salju, hanya sisa-sisa salju tadi malam yang tertampung di dahan pohon yang berada diatasnya.

Spring, April 17th 1999

“Aigoo, Mi-ya apa yang terjadi pada gaunmu, kenapa bisa sekotor ini??” pekik Taemin saat melihat Yumi tengah terduduk dengan gaun yang sudah sangat kotor begitu juga dengan wajahnya yang penuh dengan celontengan tanah.

“Taemin-a,, Eotteokkae?? Eomma pasti sangat marah… hiks…!!!” Yumi berujar dengan isak tangis yang membuat Taemin semakin khawatir.

Taemin menghampiri Yumi kemudian berjongkok didepannya, tangannya terulur untuk mengusap airmata Yumi, “Uljima, Eomonim tak akan marah,” Taemin mengambil sapu tangan dikantong celananya kemudian mengusap wajah Yumi yang penuh dengan noda tanah, “Sekarang ceritakan apa yang terjadi padamu,,,”

Yumi mengangkat wajahnya, menatap Taemin dengan mata besarnya. Ia mengerjab sebentar kemudian tersenyum manis, “Tapi jangan bilang Eomma ne,,,? aku ingin memberikan kejutan untuknya..” Yumi mengatakannya dengan mata berbinar.

Taemin hanya menganggukkan kepala, kacamata yang bertengger dihidungnya ikut bergerak keatas dan kebawah.

“Aku tadi ingin mencabut heebaragi (bunga matahari) yang disebelah sana..” Ujar Yumi sambil menunjuk kebelakang dimana bunga matahari yang dimaksud berada, “Bunga itu kan masih kecil, jadi kupikir akan mudah untuk mencabutnya, tapi ternyata itu sangat sulit. Saat aku berusaha mati-matian, tidak disangka malah aku yang terjungkal kebelakang saat bunga itu berhasil kucabut. Sialnya aku jatuh ditempat yang salah. Aku tak melihat tadi bahwa disana ada kubangan lumpur,, Mianhae Taemin-a..” nadanya berubah lirih saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

Taemin hanya tersenyum tipis saat mendengarkan penjelasan Yumi. Ia membimbing Yumi untuk bangun. Begitu Yumi telah berdiri tegak ia kembali berjongkok untuk membersihkan gaun Yumi dengan tanganya. Ia mendongak menatap Yumi, “Gwaenchana, kenapa kau minta maaf padaku??”

“Itu,, aku,, kupikir kau marah”

“kenapa aku harus marah,,?? Lalu bunga itu mau kau apakan?” Tanya Taemin menyela jawaban yang akan dilontarkan Yumi dari pertanyaannya sebelumnya.

“Untuk Eomma,,” Jawab Yumi cepat, “Tadi malam kan Eomma sudah memberikan hadiah yang sangat istimewa untuk ulang tahunku, jadi hari ini aku ingin memberikannya bunga.” Jelasnya. Matanya berbinar bahagia sudah lupa tentang gaunnya yang kotor.

“Taemin belum memberikan hadiah untukku…” Ujar Yumi lirih. Ekspresinya berubah dengan cepat, kini ia memasang tampang merajuk, sungguh lucu.

“Tentu saja aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu…”

“Benarkah,,,? Mana,,? Aku ingin melihatnya..” sela Yumi antusias. Tampak sekali ia sudah tak sabar ingin melihat hadiahnya.

Taemin merogoh kembali saku celananya, kali ini bukan untuk mengambil sapu tangan tapi mengambil hadiah yang sudah ia siapkan untuk Yumi.

“Ini,,” Taemin memasangkan sebuah kalung pada leher Yumi, “Inilah hadiah spesial dariku”

Yumi nampak berbinar, ia meraba lehernya kemudian melihat bagaimana bentuk kalung yang dipakaikan Taemin padanya. Namun senyuman itu memudar begitu melihat bentuk bandulnya.

“Bandulnya jelek.” Kata Yumi manyun, “Taemin-a, kenapa bentuknya seperti ini? Ini seperti miniatur lonceng bel segitiga disekolah. Aku tak suka bentuknya..” Rajuk Yumi.

“Justru aku sengaja memilih bentuk yang seperti ini, ini akan lebih berguna..” bela Taemin, ia kecewa atas tanggapan yang Yumi berikan pada hadiahnya.

“Maksudmu..?”

“Ckk, makanya dengarkan dulu.. aku memilih bentuk yang seperti ini agar saat kau butuh bantuan atau sedang dalam kesulitan kau bisa memanggilku.” Jelas Taemin.

Yumi hanya bisa mengerutkan alisnya tak mengerti. “Dasar Yumi pabo!!” kata Taemin sambil menggetok kepala Yumi gemas.

“Saat kau dalam masalah atau ketakutan maka jantungmu akan berdetak lebih cepat, seperti tadi saat kau terjatuh pasti jantungmu berdebar kan? Nah disaat seperti itu, kau dekatkan kalung ini didadamu, biarkan jantungmu yang memukul bandul itu, maka bunyinya akan sampai di telingaku kemudian aku akan datang untuk membantumu, sekarang kau mengarti Mi-ya??” Jelas Taemin.

Yumi mengangguk cepat, ia mengarti maksud Taemin. “Gomawo Taemin-a, aku akan memakainya selalu..”

“Baguslah,,”

“Oh ya,, kau mendapatkan bandul ini dari mana Taemin-a??” tanya Yumi antusias.

“Memangnya kenapa?”

“Aku juga ingin memberikan satu untukmu..”

“Huh???”

“Iya, supaya aku juga bisa menolongmu saat kau butuh bantuan. Ayo cepat beri tahu aku dimana kau mendapatkan bandul ini…” desak Yumi sambil menarik-narik lengan baju Taemin.

“Sebenarnya aku mendapatkan bandul itu dari peramal di taman bermain kemarin lusa,,”

“Yaa!! Mengapa tak mengajakku kalau kau pergi ke tempat peramal..??”

“Jangan salahkan aku, kau sendiri yang terlalu asik main dengan boneka jelekmu itu. Mana ada di taman bermain kau malah asik sendiri dengan boneka,,”

“Yaa,, kau bilang bonekaku jelek?? Kau sendiri tak punya boneka, kenapa menghina boneka orang lain??”

“Yaa, aku ini seorang namja, mana mungkin memiliki boneka.. dasar aneh!!”

“Yaaaa!!!’

Langit berwarna kelabu, karena awan bergumul menandakan hujan akan segera turun. Yumi kembali mengeratkan pegangannya pada bagian depan blazernya. Angin nampaknya tak ingin berkompromi lebih lama lagi, sebaiknya ia cepat-cepat sampai rumah kalau tak ingin basah kuyup karena hujan akan segera datang.

Ia tersenyum, aneh memang. Cuaca yang tak bersahabat yang hampir membuat badannya menggigil kedingan justru ia tersenyum tulus pada alam. Sesekali dalam derap langkah cepatnya ia mendongak keatas, memastikan hujan harus benar-benar turun, setidaknya saat ia telah sampai rumah atau yang lebih tepatnya apartementanya.

“Hujan,, hujan musim semi. Sangat indah,,” masih dengan berlari ia menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai lobi apartementnya.

“Annyeong,, Jung Ahjussi..” ia sempat menyapa security didepan pintu masuk gedung apartemanya.

“Annyeong,, nona Kim,,” pria paruhbaya itu tersenyum ceria, perut busungnya ia tekan sedikit kemudian membungkuk. Tangannya ia gerakkan seolah tengah mempersilahkan tuan putri masuk kedalam istana.

Yumi sempat melambaikan tangan sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju lift.

“Aku pulang…!!” serunya begitu masuk kedalam apartementnya.

Yumi mengganti cepat sepatunya dengan sendal rumahan. Pandangannya ia edarkan keseluruh penjuru mansionnya, mencari Jonghyun. Ia memiliki rencana untuk diberitahukan pada Jonghyun. Bukan rencana yang bagus menurutnya, tapi setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membuat mertuanya bahagia dan tak lagi menekannya.

“Yumi-ssi, kau sudah pulang?” Jonghyun muncul dari dalam kamar mandi.

Yumi membeku seketika begitu melihat Jonghyun. Nafasnya terasa tercekat, padahal tadi ia sudah menata hati tak akan mengingat lagi kejadian kemarian. Namun saat melihat wajah Jonghyun, bayangan kejadian didepan restoran kemarin dimana dengan mata kepalanya ia melihat suaminya sendiri berpelukan dan mencium wanita lain kembali berkelebatan di otaknya. Jangan menagis,,, jangan sekarang,,,

“Yumi-ssi,,!!” Seru Jonghyun, tangannya ia kibas-kibaskan didepan wajah Yumi, “Gwaenchanayo?”

Yumi tersadar dari lamunannya dan cepat-cepat memasang senyum. “Oppa, hari ini ada waktu? Aku ingin mengatakan sesuatu.” Kata Yumi.

Jonghyun membalikkan badan, berjalan menuju kamarnya sambil menggulung lengan kemejanya agak keatas. Sebelum membuka pintu kamarnya ia berbalik, “Hari ini tak bisa Yumi-ssi, aku ada janji dengan teman. Tak apa kan? lain kali saja kita bicarakan..” katanya enteng kemudian masuk kedalam kamarnya.

“Tapi Oppa,,”

Janji? Dengan teman? Apakah dengan Sekyung Eoni? Batin Yumi. Ia meletakkan tas selempangnya ke sofa kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Jonghyun.

Ia memutar knop pintu itu kemudian berlahan masuk. Dilihatnya Jonghyun tengah berdiri didepan cermin sambil memakai blazernya, nampak rapi. Tidak salah lagi pasti akan bertemu Selingkuhannya.

‘Selingkuhannya’ Yumi tersenyum miris mendapati otaknya tiba-tiba membisikkan kata itu. Bukan selingkuhan Yumi pabo, tapi kau yang telah merebut Jonghyun darinya. Kau hadir dan mengacaukan kisah cinta mereka.

“Sekyung Eoni maksud Oppa?” tanya Yumi lirih. Entah darimana keberanian itu muncul, yang jelas begitu ia sadar kata-kata itu telah lolos dari bibirnya begitu saja. Ia masih membeku di belakang pintu kamar Jonghyun.

Jonghyun seketika menoleh, matanya membulat sempurna, bagaimana Yumi bisa tahu, “Mwo??”

Airmata Yumi yang menggenang di permukaan matanya bergetar, sudah terlanjur, ia tak bisa mundur lagi karena cepat atau lambat ia tak mungkin sanggup memendamnya. “Teman yang oppa maksud adalah Sekyung Eoni kan?” tanya Yumi, mungkin terdengar tidak sebagai pertanyaan tapi lebih seperti penegasan. “Sekyung eonilah yang akan oppa temui.”

“Yumi-ssi,,”

“Aku melihatnya Oppa,,,” Yumi menghela nafas pelan, air matanya sudah mengalir bagai anak sungai, “Aku melihat oppa di restoran itu bersamanya, saat itu aku berada di bis, tapi aku masih bisa melihat Oppa dengan sangat jelas. Aku bergegas turun dan aku,, aku melihat,, aku melihat,,” Yumi kesulitan melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, Jonghyun sendiri masih membeku ditempatnya, memandang Yumi tak percaya.

“Oppa memeluknya dari belakang kemudian menciumnya,” lanjut Yumi lirih.

“Yumi-ssi aku,,”

“Dan saat aku tersadar, Oppa dan Sekyung eoni sudah pergi. Aku memanggil oppa dengan sangat kencang, aku berharap Oppa mendengarnya dan berhenti kemudian berbalik padaku, mengatakan padaku bahwa apa yang kulihat hanyalah salah paham. Aku terus berterik dan mencoba mengejar mobil Oppa, tapi kecepatan mobil Oppa terus bertambah, aku tak bisa mengejarnya. Aku lelah, sangat lelah,,, aku tak sanggup berusaha lagi,,”

Suasana berubah hening, Jonghyun masih tak bisa berpikir apapun sedangkan Yumi menatap kosong kearahnya dengan airmata yang sudah membanjir. Bukan kehidupan yang seperti ini yang ia inginkan, selalu mengalah dan menjadi orang yang berada di posisi bawah, tak tarlihat dan dihiraukan keberadaannya. Ia ingin sekali mengulang waktu jika bisa, kembali kesaat dimana semua orang memangdangnya dan membutuhkan kehadirannya. Tersenyum tanpa beban, bersama orang tua dan orang-orang yang menyayanginya.

Bukan seperti sekarang, ia seolah hidup seorang diri ditengah padang pasir yang gersang dan panas, membakar hampir seluruh permukaan kulitnya.

Dering ponsel Jonghyun memecah keheningan, ia merogoh saku celananya menekan tombol call kemudian melekatkan ponsel itu ketelinganya.

“Noona,,, iya aku segera sampai.” Jonghyun kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Kakinya melangkah hendak keluar, namun saat berpapasan dengan Yumi, tangannya terasa ada yang menahan.

“Jangan pergi,,, kumohon jangan pergi Oppa!”

Jonghyun menoleh, menatap Yumi. Mata gadis itu, ia tak sanggup melihat mata gadis itu. Selain merah dan penuh genangan air, matanya juga menyiratkan kesedihan dan penderitaan yang mendalam. Jonghyun serasa tersayat, namun Sekyung lebih membutuhkannya. Wanita yang dianggap sangat dicintainya itu sangat membutuhkannya sakarang.

“Maafkan aku Yumi-ssi,” Jonghyun melepaskan tangan Yumi dari lenganya berlahan kemudian mergerak meninggalkan Yumi.

Seketika pertahanan Yumi jebol, isak pilu meluncur sempurna dari hatinya yang serasa terkoyak. kakinya lemas tak mampu lagi menopang tubuhnya, ia jatuh. Sebelah tangannya menggenggam erat dadanya dan sebelahnya lagi menopang tubuhnya. Ia terisak hebat, Seluruh tubuhnya bergetar.

“Sakit,,,” lirihnya.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

30 thoughts on “Love Me – Part 4”

  1. aigo aigo pagi2 baca yg sedih.
    hiks.
    hueeeee
    yumi kau harus bersabar. jjong pasti kembali padamu.
    c sekyung na id sekarat kan.

  2. huuuaaaaaa hampir aj mewek…
    hiks hiks

    kshn yumi..
    thor… yumi dibikin punya penyakit jg.. biar jjong galau.. *mlh jd sinetron bgt* hahaha

    lanjut thor.. mkin seru… mkin bikin penasaran..

  3. Mending yumi sama taemin aja thor
    Kasian dia 😦
    aq lbh setuju yumi sama taemin
    Next part d tunggu ya secepatnya

  4. huwaaaaaaa aku ikutan galau #plak

    udahlah mending cerai aja. Daripada ribet. #jahat

    cepetan matiin sekyung deh. Aku jd bete. Katanya gamau jadi wanita jalang, tapi malah ngasih jjong kesempatan kedua buat jjong. Kesel. Sekyung picabokeun.

    AAAAAH DI CHAP INI AKU BENERAN BENCI JJONG!

    1. aigooo aku typo lagi TuT

      tapi malah ngasih
      jjong kesempatan
      kedua buat jjong. —> maksudku tapi malah ngasih jjong kesempatan kedua.

      kenapa ada ‘buat jjong’-nya jadi bikin bingung

  5. kyyyyaaaaa ,,,,,,, ngegalau nich abis baca ……:(
    kok jjong gag inget2 juga sich ??
    bete ,, sebel ,, hyyaaaaaa!!!!!
    yumi ,, fighting !!!!!!!! aku mendukungmu ..
    lanjuutt!!

  6. air mata udh mengambang thor. jjong sama sekyung nya jahat bangettttt, geregetan ih. lanjut thor ^goodluck ya

  7. 2 kata…
    Ga kuata 😥 huaaaaa jong super tegaa
    Tau si emang sekyung sakit
    Tapi ga gitu jugaaa
    Yumi! Udah sama taemin aja!
    Huaaaa:'(

  8. hueee makin nyesek bacanya tapi makin seruu,, ^^
    yumi bertahan cuman 1 bulan ko T.T
    aaa,, jjong 😦

  9. yah noh. . kasian yumi-nya T.T jonghyun jaht banget. author bahasanya keren, ngena banget di hati. ditunggu kelanjutanya, cepet ya. . 😀

  10. waaa.. galau galau galau..
    kasian banget yumi-nya.
    sekyung uda mau mati masih jahat aja 😦

    lanjut thor,
    bagus ceritanya, aku suka 🙂

  11. part 4 publish juga! Senangnya ^^

    Jjong, tega buanget. Pasti si yumi sakit hatinya banget banget tuh. Yumi jadi orang jangan lemah lemah amat napa?! Konciin jonghyun ajh dalem kamar biar gk ktemu sekyung *author : ngapa jadi situ yang emosi? -_-*

    Part 5 di tunggu ya thor. Cma sedikit typony. Mdh2an part slnjutny gk ad typo. Fighting

  12. ahhhh yumi….ikut ngerasain nyeseknya yumi,,,,hikssssss,,,,,ahhh se kyung jg kasian sih,,,paling g sebelum dy meninggal dy bs sm org yg dcintainya…tapi yumi…ya tuhan…kasian sekali…..taeminah lucu sekali waktu kecil…..

  13. ini kalo akhirnya gk sama jjong aku marah ah ama authornya.. sia2 dong air mata aku wktu baca ini. aishhh ane benci sekyung sampe kpan pun!!!! mau aslinya ato di ff ini!!! pengen kirim surt brdarah ane ke dia rasanya!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s