Inter Sexual – Part 4

Disclaimer  : We don’t own the character, they are belong to themselves.

Genre  : Teen Romance/Hurt/Comfort

Warning  : Gender bender, OOC, OC, elseword, typo dan misstypo, authorfic ^^.

Rated  : T

.

.

Aiesu © Chiyo Rokuhana

.

.

sHyning soHee collab with Eun bling-bling and Lynda

proudly present

I.S [Inter Sexual]

Lee Taemin (as boy), Lee Taehee (as girl), Choi Minho, and Lee Jieun (IU)

.

.

 

Bagian Keempat

Starbucks

Setiap aku bertanya pada eommaku.

“Kenapa tubuhku begitu aneh?”

Ia selalu diam.

Dan hanya tersenyum kearahku.

Aku sangat yakin dalam senyuman itu—

terselip rasa kesedihan.

“Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak.”

***

“Kau pasti kaget kan bertemu denganku lagi?”

Suara cempreng gadis bermarga Choi yang merupakan manajer cafe ini, kini menguar jelas melewati indra pendengaran lawan bicaranya. Mereka kini sedang duduk santai mengobrol di salah satu sudut cafe. Gadis itu menyeruput Caffucino float  yang sengaja ia pesan.

“Ya. Aku sial bertemu denganmu.” Perhatian Taehee mengarah pada jendela kaca. Ia menoleh sekilas menatap gadis dihadapannya yang menampakkan raut kecewa.

“Kau ini selalu saja kesal padaku. Apa salahku sih?” Raungnya.

Lee Taehee menatap intens kedalam iris obsidian milik gadis itu. Eunhee meneguk ludah, takut akan tatapan mengerikan yang di tujukan Taehee padanya. “Salahmu?” Taehee sengaja menjeda perkataannya. “Salahmu telah menjadikanku seperti ini!” Ucapnya tegas seraya menunjuk wig yang menutupi rambut aslinya.

“Bukankah kau sudah setuju dengan hal ini?” Protes Eunhee. Sebelum Taehee melayangkan sanggahan, gadis di depannya itu dengan sigap menyambar perkataannya. “Aku begitu kaget lho. Kau terlihat seperti karakter laki-laki moe di manga Another atau bishonen yang biasanya ada di manga-manga cewek. Bahkan para gadis terkagum-kagum akan penampilanmu. Bagaimana reaksi mereka ya, jika tahu bahwa kau itu perempuan?” Gadis itu memperhatikan tampilan Taehee dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Cih! Dasar gadis ini!

“Terserah kau Eunhee.”

“Hei! Kalau ditempat kerja panggil aku manajer, arra?”

Taehee mendengus. “Ya.” Jawabnya malas

“Jadi namamu Lee Taemin ya?” Raut wajah serius terpatri diwajah Eunhee. Alis Taehee terangkat. Ia heran. Gadis ini bisa serius juga, rupanya. Taehee mengangguk.

“OK! Aku sudah melihat CV dan ijazah SMP-mu. Rupanya kau pintar juga, ya?” Sindirnya halus. Kerutan dalam menghiasi kening Taehee. Bahkan ia tak pernah mengirim CV atau ijazah sekalipun. “Dari mana kau bisa men—“

“Aku tahu dari narasumber terpercaya. Mulai sekarang kau resmi jadi pegawai cafe ini. Selamat datang di Starbucks.” Potong Eunhee dengan cepat. Ia bangkit dari kursinya, perlahan melangkahkan kakinya menuju Taehee yang kini menampakkan raut bingung. Taehee dapat merasakan sebuah kehangatan. Rupanya Eunhee memeluknya dengan erat.

“O-oi manajer kau memelukku terlalu erat. Aku tak bisa bernafas.” Tak lama Eunhee melonggarkan pelukannya. Setitik air mata mengalir di pelupuk matanya. “Saking terharunya jadi sampai meneteskan air mata.” Eunhee mengusap genangan air yang mambasahi pipinya perlahan.

Pabo! Seharusnya aku yang terharu. Dasar gadis aneh.”

Ya! Jangan rusak moment mengharukan ini hanya gara-gara ucapan kasarmu tahu.” Eunhee menggerutu. Ia masih melanjutkan tangisannya.

“Terserah.” Taehee memalingkan wajahnya. Tanpa sengaja gadis-tanpa-ekspresi itu bertatapan dengannya. Wajah si gadis tetap tak menunjukkan ekspresinya. Walaupun Taehee kaget, tapi ia berhasil menetralisir kekagetannya.

Benar-benar gadis yang misterius.

***

Bekerja paruh waktu memang sering Taehee lakukan, bahkan ia tak merasa lelah sama sekali. Mungkin dalam darahnya terdapat semangat kerja keras yang tinggi. Tapi lain halnya dengan pekerjaan barunya. Baru hari pertama saja Eunhee gadis-cerewet-menyebalkan itu sudah membuatnya kelimpungan. Menyuruhnya melakukan segala macam pekerjaan yang ada di cafenya, si gadis mengatakan kalau pegawainya berhalangan datang dan mungkin Taehee dapat menggantikannya. Hell, gadis itu memang berniat membuatnya banting tulang (dalam arti sebenarnya) di cafenya. Mulai dari berlatih menjadi penjaga counter yang ditemani gadis-tanpa-ekspresi. Gerakan Taehee yang kaku membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari orang disampingnya (siapa lagi kalau bukan si gadis bak mayat hidup). Melihat area dapur yang dikuasai gadis kepala chef berkewarganegaraan Jepang, Orihara Yumi yang terkenal akan kedisiplinannya dan jangan lupakan motto kebersihannya. Berlatih menjadi seorang valet, hingga mengakibatkan beberapa gelas dan piring-piring yang berada dinampan kayu pecah akibat si Eunhee -gadis menyebalkan itu- terlalu banyak meletakkan piring dan gelas. Dan terakhir, ia sekarang berada di loker pribadinya. Sambil menghela nafas dalam dan menyandarkan punggungnya di loker. Atensinya menuju jam yang melingkar ditangannya. Sudah jam sembilan. Ia mengumpat kecil akibat perbuatan si manajer sinting.

Dilepasnya celemek berwarna hitam yang melekat disekitar punggung Taehee yang ramping. Celemek itu ia letakkan ke dalam lokernya. Tak sengaja gendang telinganya menangkap sebuah percakapan yang bersumber dari belakang lokernya. Mungkin pegawai di cafe ini, suaranya terdengar khas seorang gadis. Mereka membicarakan suatu hal yang dari awal sudah membuatnya tertarik.

“…kau lihat tidak si Jieun tadi? Seharusnya kan dia senang bisa ditemani si pegawai baru nan tampan itu. Dasar aneh.”

Taehee bergidik ketika mendengar kata ‘tampan’. Ia menyembulkan kepalanya sedikit guna melihat objek yang sedang membicarakan dirinya dan gadis berwajah datar itu. Irisnya menangkap sosok gadis berambut ikal sepundak sedang berbicara dengan temannya, seorang gadis berperawakan tinggi yang sama seperti gadis berambut ikal itu, rambutnya yang lurus ia gelung.

“Hm. Benar Heamin!” Gadis berambut lurus itu menganggukkan kepalanya. “Waktu dulu aku sempat heran kenapa sih dia jadi seperti itu?” Tanyanya.

Gadis berambut ikal—Heamin—mencondongkan tubuhnya dan meletakkan jari telunjuk dibibirnya. “Kau harus berjanji tutup mulut mengenai hal ini, Sohee.” Gadis berambut lurus—Sohee—mengangguk antusias. Ia menggumam kata ‘Hm’. Taehee menajamkan pendengarannya, karena gadis bernama Heamin itu berbicara agak pelan.

“Sebenarnya waktu itu aku juga diberitahu Dongho.” Sohee mengerutkan keningnya. “Tahu saja ‘kan Dongho itu orangnya bagaimana? Sebentar saja bisa langsung akrab dengan orang baru. Dia pernah mengobrol dengan Jieun waktu mereka berdua bertugas menjaga counter. Awal mulanya, Dongho memang takut sih dengan wajahnya yang datar tak menunjukkan ekspresi itu. Sampai Dongho pernah memancingnya untuk mengatakan kenapa dia jadi seperti itu. Mungkin karena ia tak tahan lagi dengan sifat Dongho yang terus saja mengoceh. Kau tahu apa yang ia ucapkan waktu itu? Ia bilang ‘pembunuh’—“

“HAH?” Gadis yang bernama Sohee itu tercekat. Ia mengarahkan kepalan tangannya kearah bibirnya. Taehee yang masih setia mendengarkan pembicaraan mereka, matanya melebar. Heamin meletakkan jari telunjuknya dibibirnya. “Ssst… kau terlalu kencang.” Sohee menggumamkan kata ‘maaf’ berkali-kali.

“Bukan hanya itu yang ia katakan. ‘Aku pembunuh, jadi menjauhlah dariku.’ Begitu katanya. Dongho bilang tidak hanya tatapan matanya saja yang mengerikan tapi nada suaranya juga sebelas duabelas. Dingin sekali.”

Secara bersamaan Sohee dan Taehee melotot tak percaya. Sohee meneguk air liurnya. “Aku jadi tidak punya niat untuk berteman dengannya. Jangan-jangan nanti aku dibunuh.”

Heamin mengangguk afirmatif. “Benar. Dia sudah bilang ‘jauhi aku’ ‘kan? Kalau tidak mau ambil resiko lebih baik jauhi saja.”

Sohee dan Heamin tertawa bersamaan. Mereka meninggalkan Taehee yang membeku, menyender dilokernya.

Jadi, begitu ya?

Lee Taehee melangkahkan kaki jenjangnya menuju apertemen. Sebelumnya Eunhee gadis menyebalkan itu mati-matian menawarkan tumpangan. Tapi Taehee bersikeras menolaknya, ia beralasan, sekalian ingin berjalan-jalan dimalam hari. Alhasil, Eunhee dengan pasrah membawa mobilnya pulang menuju rumahnya.

“Aku pembunuh, jadi menjauhlah dariku.

Kata-kata itu terus terngiang dalam benaknya. Sebenarnya Taehee agak meragukannya, gadis itu—pembunuh? Pasti tidak mungkin. Ia menenggelamkan kedua tangannya didalam kantong celana hitam yang ia kenakan. Rupanya malam ini udara agak sedikit dingin. Atensinya mengarah kesebuah bangku taman yang berada tak jauh dari jaraknya berdiri. Catnya yang berwarna putih sudah usang dimakan waktu. Sinar putih rembulan menyemarakkan keindahan bunga-bunga berwarna-warni yang berjejer disekitar bangku itu. Ia ingat, dulu ketika ia berumur dua tahun. Ia sering diajak ibunya ketempat ini. Ibunya sering menangis diam-diam. Waktu itu dia masih sangat kecil, tak tahu apa-apa, ia kira ibunya terharu akan keindahan tempat ini. Tapi ternyata—ia salah. Mungkin tempat ini memang sangat cocok untuk orang yang sakit hati.

Taehee melangkahkan kakinya menuju bangku itu. Dari jauh memang terlihat agak mengerikan jika dimalam hari. Banyak pepohonan mengelilingi tempat itu. Ia agak sedikit merinding ketika ada sesuatu yang membelai tengkuknya. Tapi dengan santainya ia terus berjalan dan menghiraukannya. Taehee menghenyakkan pantatnya dibangku yang terbilang agak rapuh. Ternyata tak sia-sia juga ia kesini. Begitu mendongak, ia disuguhkan dengan pemandangan kanvas biru gelap yang luas. Tak lupa benda-benda berkilauan bagai batu permata bertaburan menyemarakan keindahannya.

Ketika Taehee menunduk perlahan, maniknya tak sengaja menangkap siluet seseorang tak jauh dari tempatnya duduk. Orang itu sedang duduk di rerumputan memandangi bintang. Ia kenal siluet itu. Gadis itu. Karena rasa ketertarikannya, ia melangkahkan kakinya kearah gadis yang masih mendongakkan kepalanya ke langit.

“Mau apa kau?” Tanyanya dingin tanpa menatap wajah Taehee yang terkejut. Ia menyadari kehadiranku.

“Pergilah.” Sarannya agak ketus.

Taehee yang masih berdiri dibelakangnya, perlahan mendekat. Tak jauh dari gadis itu duduk, ia menghenyakkan pantatnya diatas rerumputan yang agak basah.

“Kalau kau tak mau pergi, lebih baik aku saja yang pergi.” Gadis itu hampir bangkit dari duduknya, tapi tertahan oleh pertanyaan Taehee.

“Kau sedang apa disini?”

“Bukan urusanmu.” Sahutnya datar. Taehee tersenyum kecut. Ia seperti menghadapi dirinya sendiri ketika ia sedang tidak ingin diganggu. Sifat gadis itu agak sama dengannya.

“Waktu kecil aku sering kesini bersama Ibuku. Ibuku senang sekali menangis ketika berada ditempat ini. Waktu itu aku bodoh sekali, kukira ia terharu. Tapi—ternyata ia menangis karena sakit hati gara-gara Ayah yang tak pernah menampakkan batang hidungnya dihadapan kami semenjak aku dilahirkan. Dan sekarang—ia sudah pergi meninggalkanku.” Lirih Taehee, matanya menatap nanar kearah benda bulat yang bersinar paling terang di angkasa.

“Apa urusanku mendengar curhatanmu? Aku ini orang asing bagimu. Sama seperti diriku menganggapmu orang asing. Untuk apa aku peduli?”

Taehee tertawa garing. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Benar juga yah. Tapi sebenarnya aku hanya ingin menghilangkan sedikit bebanku dengan menceritakannya kepada seseorang.”

Gadis itu mendengus. Keduanya dilanda keheningan. Mereka berkutat dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya gadis itu—Jieun—memecahkan keheningan.

“Dunia itu—kejam, ya?”

“Eh?” Taehee dengan spontan menoleh kearah Jieun yang masih mendongakkan wajahnya menatap langit malam diatasnya. “Tidak juga. Walaupun kejam. Tapi tetap saja indah.”

“Walaupun indah, sebenarnya juga sangat berbahaya. Sama seperti bunga mawar. Jika kau memetiknya tidak berhati-hati maka akan tertusuk durinya. Makanya, dunia itu tak selamanya akan menjadi indah. Berangsur-angsur akan seperti racun mematikan. Makhluk hidup yang mendiaminya juga begitu. Manis diluar tapi didalamnya sangat beracun. Mereka itu sangat jahat, tak lebih seperti iblis.”

Spontan Taehee membuka mulutnya. “Salah! Salah jika kau menganggap semua makhluk hidup disini jahat. Orang jahatpun bisa menjadi baik. Bahkan seorang—pembunuh.”

Jieun tersentak ketika mendengar penuturan Taehee diakhir suku kata yang ia ucapkan. Tetapi ia dengan cepat berhasil menetralisir kekagetannya. Sang gadis mendengus. “Rupanya, kau sudah dengar, ya?”

“Eh?” Alis Taehee tertarik keatas. Ia tak mengerti apa yang diucapkan Jieun. “Apa maksudmu?” Ia menatap Jieun yang masih setia dengan kegiatan awalnya.

“Aku—seorang pembunuh!” Ada tersirat rasa ketakutan didalam bola mata obsidian Jieun.

Mata Taehee agak sedikit melebar. Jadi, rupanya benar.

“Itu—pasti tidak benar kan?” Taehee bertanya ragu-ragu.

“Jadi, kau tidak percaya padaku?” Jieun menoleh sekilas menatap Taehee. Lalu perhatiannya kini mengarah pada rerumputan yang nampak basah. Taehee mengangguk. “Kau jangan tertipu dengan tampang seseorang. Kau bilang orang jahatpun bisa menjadi baik. Berarti orang baikpun bisa menjadi jahat.”

Dalam hati Taehee membenarkan ucapan Jieun.

“Waktu itu—hidupku dipenuhi dengan rasa bersalah. Sampai-sampai rasanya hatiku ini mati rasa. Dia—begitu menyayangiku, walaupun aku agak membencinya, dalam hatiku yang paling dalam aku juga menyayanginya. Dia—orang yang berharga.” Jeda sebentar. Jieun menghirup dalam-dalam udara malam yang seakan membuatnya tenang. “Apa Tuhan bisa mendengarkanku, ya? Permintaanku sih hanya satu. Aku—ingin sekali meninggalkan dunia ini.”

Meninggalkan? Sama saja itu artinya dengan mati, kan? Seketika mata Taehee melotot sempurna. Ia geram dengan gadis dihadapannya. Mudah sekali putus asa. “Memangnya Tuhan mau memaafkanmu yang sudah pernah membunuh orang? Kudengar orang yang seperti itu akan masuk kedalam api membara yang membakar tubuhmu sampai beberapa ratus tahun.”

Jieun mendengus. “Maksudmu neraka?” Taehee mengangguk. “Tak masalah aku masuk neraka sekalipun. Aku—memang orang jahat. Aku sudah tak berguna lagi hidup didunia ini. Aku memang pantas. Kau tak tahu bagaimana menderitanya diriku.” Ia tersenyum kecut. Menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

“Kalau kau bilang aku tak mengerti penderitaanmu itu, maka—kita tak akan pernah bisa berbicara seperti ini.” Jieun menoleh spontan kearah Taehee yang tersenyum sedih. Jieun dapat melihat rasa sakit yang terpancar dikedua bola mata smoky black Taehee. “Bahkan—aku sangat mengerti dirimu itu. Tatapanmu yang hampa, tidak—seluruhnya hampa baik jiwa maupun tubuhmu. Sama sepertiku dulu. Karena kehampaan itu lah yang akan menghubungkan kita dengan kematian. Memang kehidupan itu tak akan kekal, pasti kita semua ditakdirkan untuk mati. Biarkanlah hidupmu terus mengalir, suatu saat kau pasti akan bertemu orang-orang berharga yang kau kasihi di surga Tuhan.” Ia menghela nafas perlahan. Jieun masih setia manatap wajah Taehee yang nampak tersenyum tipis. “Tapi apapun yang hampa, pasti dengan segera akan mencari sesuatu untuk mengisi kehampaan itu. Kau tahu apa itu?” Jieun menggeleng.

Taehee tak langsung menjawab pertanyaannya sendiri.

“Kau bilang dunia itu kejam. Tapi kau itu lemah dan payah.” Mata Jieun melotot sempurna. Ia mendecih. “Hanya satu hal yang dapat menjadikan kau kuat dan mengisi kehampaanmu itu. Seseorang yang akan selalu berbagi denganmu. Seorang teman. Itulah jawabannya. Mereka adalah orang-orang yang juga berharga—sama seperti dia yang kau ceritakan. Aku—juga punya teman. Tapi sayangnya—dia menjauh dariku.”

Alis Jieun tertarik keatas, dan ia mendengus “Bukankah kalau kita dihadapkan dengan orang yang paling berharga bagi kita, kita akan menjadi sangat lemah?”

“Tidak! Dunia ini bukan hanya milikmu sendiri. Hidupmu juga bukan milikmu sendiri. Semua orang saling berbagi dan saling membutuhkan. Jika kau sendirian, maka kaulah yang paling lemah. Apa kau mau tak punya pekerjaan? Lalu tak punya uang untuk makan?” Taehee tersenyum jenaka. Ia menoleh kearah Jieun yang menatapnya dengan wajah datar. “Maka dari itu kita bisa senang dan sedih—dan saling mencintai…”

Taehee dapat melihat Jieun agak tersentak. Tatapan kehampaan di kedua bola mata obsidiannya itu sedikit mengikis. “Kau tidak sendirian didunia ini Jieun. Ingatlah itu.”

Jieun melebarkan kedua bola matanya.

“Kau tidak akan sendirian lagi didunia ini Jieun. Karena ada aku yang akan selalu menemanimu. Ingat itu.”

“Hmm~ senang bisa mengobrol denganmu.” Ucapan Taehee membuyarkan lamunan Jieun. Si gadis (terlihat lelaki oleh Jieun) yang sudah bangkit dari duduknya kini merapikan celana hitamnya yang agak kusut. “Lain kali kalau menatapku jangan mengerikan seperti itu, aku jadi takut.” Taehee tersenyum mengejek. Jieun membalasnya dengan kening bertautan. Atensinya menuju jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Taehee menghembuskan nafasnya perlahan.

“Wah, tak disangka kita mengobrol selama satu jam. Aku harus pulang. Err—apa kau mau pulang bersama?” Jieun menggeleng. “Baiklah. Hati-hati ya.” Ucapnya.

Jieun mendengus. Ia menggeleng kepalanya perlahan. “Seharusnya yang mengatakan itu aku, Taemin.”

Taehee menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Eheehe, benar juga, ya! Ya sudah sampai jumpa besok.” Ia melangkahkan kakinya menjauh. Jieun menatap punggung Taehee yang kini tak terjangkau matanya. Kelopaknya terpejam menutupi iris sekelam malamnya sesaat. Dalam pikirannya terbayang sesosok anak kecil tengah tersenyum lembut.

“Jieun aku senang kau akhirnya bisa membuka dirimu.” Bisik suara lembut yang menyeruak digendang telinganya.

Ketika ia membuka kelopak matanya, sosok itu menghilang dalam pikirannya. Ia mencoba tersenyum, walaupun itu agak terasa sulit. Gadis itu menengadah, menatap nanar kearah angkasa gelap.

Apa kau mendengarkanku disini Soohyeon? Pemuda itu mirip denganmu bukan? Ia mengatakan padaku bahwa aku tak sendirian didunia ini. Sama ketika dirimu yang selalu mengatakan hal ‘itu’ padaku. Kau—orang pertama yang menyadari kehadiranku. Ikatan berharga yang selalu kau katakan ‘sahabat’ itu begitu kuat, hingga kau sudah tidak ada didunia ini pun masih sangat terasa.

Setetes air bening mengalir dipelupuk matanya. Air mata pertama yang ia keluarkan, hanya untuk dia. Selama ini ia tak bisa mengeluarkannya. Hanya karena ia menganggap air mata itu suci, sedangkan ia sama sekali tak pantas. Angin malam berhembus, meniup surai-surai hitamnya. Si gadis memejamkan matanya meresapi angin malam yang menyejukkan baginya.

Gomawo…Soohyeon.

Kelopak matanya terbuka, menampakkan bola mata obsidian yang kini terpancar kekuatan. Ia mengusap air matanya perlahan.

“Dia itu berbeda ya, Soohyeon?”

-To Be Continued-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisement

31 thoughts on “Inter Sexual – Part 4”

  1. Taeminnn pasti keren… jangan2 jieun nanti suka ama Taem?? Trus gimana Mino?? Jadi bingung… next part ditunggu…

  2. Pendek amat /slap

    Karena aku tau author kirimnya jadi satu, cuma saran aja buat next ff kata “di” sama “ke” dipisah kalo bareng sama ket. tempat atau waktu. Kayak “dimalam” seharusnya “di malam”, “keatas” jadi “ke atas”. Hehe, sebelumnya kayaknya aku udah ngomong sih 🙂

    Tapi itu ada yang aku bingung. Kenapa ada tanda – di tempat yang aneh? Mungkin aku aja yang nggak tau aturannya sih, tapi terkesan janggal aja, hehe. Atau mungkin itu berarti cara ngomongnya sedikit tersendat?

    Aku suka pemilihan katanya. Nice story, ditunggu part 5 ^^

  3. Uyeeee bener kan yang nepuk pundak Taemin itu si Eunhee hehehe. Karakter Ji Eun oke juga nih digambarinnya. Beda banget sama apa yang terlihat di TV. Cuma masih agak susah sih bayanginnya karena sering ngeliat Ji Eun (IU) ketawa dan unyu-unyu gitu. Tenang, kesalahan bukan ada pada author tapi saya aja yang kurang bisa mengimajnasikannya.

    Jadi penasaran sama hormonnya Taemin/Taehee. Dia punya kelamin ganda tapi cenderung ke mana ya? Ada kecenderungan kan pasti? Misalnya lebih ke hormon cewe atau cowo gitu. *ups entar malah jadi spoiler gak nih? hehehe*

    Penasaran lah sama masa lalunya Ji Eun ini, Author(s)-nya pinter naro tiga kata itu. Selalu pas lagi penasaran-penasarannya terus TBC deh hehe. Yowes semangat ya buat author(s)! 🙂

  4. aku kira dulu eunhee itu jieun. hahaha ternyata jieun ada orangnya sendiri.
    jangan2 eunhee itu adeknya minho lagi??
    makin suka ma ceritanya, tp ini kependekan thor. . hehehe
    soohyeon pasti laki2 yg disukai ji eun.
    kalo jieun ma taemin dan taehee mau jd taemin,minho gimna? huhhu
    thor, publishnya tiap 5 hari sekali ya ini? tgl 14 skrng tgl 19. dipercepat donk thor (maunya) aku keburu penasaran

    hehehehe

  5. soohyeon siapa ya? Masa lalu jieun kah?

    Sm kya komen di atas, aky penasaran taehee/taemin akan berakhir sbg siapa..

    Lanjutannya ditunggu thor

  6. huuuaaaa lagi-lagi berasa cepet bacanya, tbc oh tbc >_<
    di part ini aku ngerasain lebih banyak maenin kata2 ya hehe diksi..
    eunhee kenapa serba tau ya? agak curiga pas dia nangis meluk taehee, jangan2 dia tau rahasia taehee hoho..
    jieun bisa dengan refleks terbuka sama taehee karena mungkin mereka sensib ya dan hampir mirip ya sifatnya.
    jieun pembunuh? apa dia bunuh soohyun tanpa sengaja? makanya selama ini dia sering putus asa? hahaha
    lanjut ya!!

  7. Aaaaaih~ Taemin (atau Taehee.-.) Keren banget disini^^.

    Pasti Jieun (suatu saat) suka sama Taemin.3. Jieun-ssi, ngantri dulu ya kalau mau jadi pacarnya, soalnya saya juga lagi ngantri tapi diurutan pertama, kekekekekeke~.

    Update soon~~! A.S.A.P~!

  8. Uuuuuu…..*speechless*
    Taemin-Taehee?*jwb prtanyaan ka nandit*kyknya lbih cenderung ke sifat Taemin(namja).Abis krakternya dingin bner,sumpah.Jadi ngeri aqu*ngusap tengkuk*

    Muncul krakter bru lagi tuh,soohyeon,pacar iu yg udh mati kah?.Jdi si iu pembunuh?ku kira cuma sandiwara belaka#plak.

    Minho gg muncul.
    Next part ditunggu.

  9. wah kereeeeen …
    eonnie .. taemin kerja jadi OB ??
    tapi kug jaga satu konter sama jieun ??
    taemin kerja apa sih eon ??
    wah , eon ..
    jangan – jangan si jieun tau kalo taemin itu yeoja ??!!
    huaa ..
    penasaran ..
    aioo lanjut eon ..

  10. Aaa.. Aku kna sindrom..
    Sindrom males komen#digetok author
    tapi paling ga aq ninggalin jejak kan, chingu?*kedip2 gaje

    Ah, banyak nama dgn akhiran ‘hee’ di sini.. Sempet agak bingung jg.. Kkk~
    Mmm, kq aq nangkep ssuatu yg aneh dri sikap eunhee kd taehee, yah??

    Next.. Next..:-)

  11. mksudnya jieun pembunuh it apa sih?
    soohyeon? ap it namja yg dbnuh jieun?
    msh penasaran ma eunhee dia koq bs tau yakk?
    dtunggu next partnya thor

  12. wah lagi2 TBc na tepat banget deh…
    wah taemin daebak deh,,,
    mau jadi cewek atau jadi cowok tetap aja bisa bikin yg lain terpesona..
    ditunggu updatetannya selanjutnya…

  13. Ahahahah g berhenti ketawa saat bagian eunhee dan taemin.. -gadis menyebalkan itu- ahahah, mereka terlihat akrab walaupun baru b’kenalan. 😀
    Woaaa ji eun dan taemin berbicara ♥(>̯┌┐<)•° kyaaaaa apa nanti ji eun jatuh cinta dgn taem? Sepertinya dia sedikit terpesona dgn taem karena taem mirip dgn seohyun? Haaahhh penasaran dgn kelanjutannya? Bagaimana bisa ji eun menjadi seorang pembunuh? Ttg masa lalu ji eun dan seohyun?
    Ahkkk, disini q suka taehee berubah jadi taeminnn… (♥▿♥ʃƪ)
    D'tgu part selanjutny thor…. Hwaiting (Y)

  14. hmm.. curiga sama ji eun.. seohyeon siapa pula itu? ><
    hoaa.. jangan2 nanti ji eun suka sama taemin..
    minho eodiga?? u.u
    next part deh langsung 😀

  15. Ah~ Udah update ya? Aduh, maaf ya aku baru muncul *bow*
    Aku jawab dalam satu kolom aja ya, soalnya inet aku lola abis -.-‘

    Pertama, Kenapa Choi Minho raib di part ini karena emang intensitas dia di chapter empat enggak diperlukan *digampar* ehehehe, terus Soohyeon hihihi, aku senyum-senyum aja waktu ngebaca komen yang ngira dia pacar Jieun, hehe. Padahal dia itu sohibnya si Jieun dan of course dia cewek ^^. Jieun naksir Taemin? Um, sedikit bocoran deh, kalau aku enggak salah denger dari dua author yang lain katanya sih mau dijadiin gitu. Tapi enggak tau juga lagi deh, aku kan cuma kebagian sisa-sisa -.-‘. Hormon kelamin Taemin lebih condong ke arah cowok, coba deh cek part 1 di situ dijelasin kok (ada kalimat bulu kaki sama suara lebih berat). Jieun ngebunuh Soohyeon? Aduh, maaf enggak bisa ngasih tau soalnya takut jadi spoiler ^^. Pekerjaan Taemin itu sebagai pramusaji di cafe Starbuck.
    Untuk urusan Taemin akhirnya sebagai cewek ato cowok kami juga masih berdebat. Ada yang pengen jadiin dia cewek ada juga yang pengen jadiin dia cowok. Yah, doakan kami semoga mendapat pencerahan ya kawan-kawan ^^. Dan kalau Taemin sama Jieun, nasib Minho? kan stok cewek masih banyak, lagian ada Jung Hara juga ^^.

    Soal tanda baca seperti kata depan serta peletakan tanda-tanda di tempat yang kurang tepat aku mohon maaf sangat. Waktu ngoreksi aku belum dapat pencerahan jadinya gini. Oke, di chapter tujuh aku bakal lebih berhati-hati ^^

    Nah, kalau masalah chapter pendek aku enggak bisa komen deh. Tapi kalau menutu aku pribadi porsinya udah sesuai ^^. Eum, kalau soal itu kami tidak punya wewenang karena blog ini punya admin yang bekerja sesuai apa yang sudah di tentukan ^^. Jadi, mohon pengertiannya ^^.

    Special Thanks buat:

    angangels, fafa_lee, zaKey, elsacynthia,Kim Nara, diii, ayachaan, Ri-chan, LIDERONYU, tazkiastriana, Kim Eunri, meida, Baek15, YOOnee chan, may_kyuhyun, Hyora Kim, nikitaemin, hanjia, avuanalintang, taurusgirl, Park Min Mi, WidyaJ, liitaemnst.

    Makasih banyak udah selalu setia baca fanfic buluk kami ^^

    Sign,

    Lynda

  16. Rada bingung sama castnya, jadi yeoja berwajah datar (jieun) itu beda sama manajer cafenya
    Nah manajer cafenya itu yeoja yg ditolong taehee?
    Trus knp bisa yeoja itu ad dlm “situasi” dimana taehee hrus nolong dia?
    Hmm..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s