2NE, SCENE 3 SHOT 1: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

2NE, SCENE 3 SHOT 1: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

Written by Zikey

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Guest Star:

– G-Dragon a.k.a Kwon Jiyong

Supporting Cast:

– HaninB as Chae Yoo Bi (Kakak Yujin)

– Chae Inna (Keponakan Yujin)

– Ny.Lim Hae Sun

Mya as Hwang Soo Jung (Pengarah Lapangan)

– Alfi as Han Hye Ji (Sekretaris)

Genre: Angst, Mystry, Family, Life

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: 13

Pesan Zika: Maaf ya telat publish hehe… nanti kalau telat balesin komen kalian juga maaf yaaa ^^, tapi pasti ku bales kok. Janji!😀. Selamat menjalankan puasa yaaa😀, yang non, mohon dukungannya ya ^^

Inspiration: Manny (K-Drama)

 

Love means never having to say you’re sorry

[Jennifer Cavilleri – Love Story]

Rumah Yujin, Buam-dong

Setelah melalui hari-hari yang panjang dan berat, akhirnya, malam ini ia bisa menikmati saat terindah dalam hidupnya. Ketika duduk berdua di dalam restoran mewah dengan lilin menghiasi sekitar mereka, tersenyum ketika bertatap mata dengan pasangan lain, terharu ketika menyaksikan adegan pelamaran, dan terbang ke angkasa ketika menatap matanya—ia yang duduk di hadapannya sekarang.

“CHAE YOO JIN!”

Dasar menyebalkan! Kenapa mata ini harus langsung membelalak terbuka, dan kenapa harus dia yang memanggil-ku. Eh… itu?

Yujin mengerjap pelan, mempertajam pandangan, dan menyadarkan diri dari alam mimpi. Kalau yang ia lihat ini nyata, maka tidak lama lagi ia akan mati. Jadi, mari berharap ia baru saja tertidur kemudian orang ini masuk ke dalam mimpinya dan merusak dunia nyatanya.

“Bangun kau, dasar anak kurang ajar!!”

“Kyaaaa!! Yah, eomma! Sabar dulu, eomma-eomma, yaaaaaaaaa!!! Sakitsakitsakit, ya ampuuuunnn!!”

Sungguh, adegan pagi yang tidak elit sedikitpun. Kenapa tidak ada drama dalam dunia nyata ini, ya tuhan?! Yujin masih berusaha menarik kembali rambutnya, tidak ingin balas menarik rambut ibunya—yang tentu saja kelakuan biadap.

“Sakit.” Dengan satu sentakan akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari ibu beruang yang tengah mengamuk. “Bagaimana eomma bisa di sini?” tanya Yujin galak, sambil menyisir rambut coklat gelapnya dengan jemari.

“Mestinya aku yang bertanya! Bagaimana bisa ada laki-laki di rumahmu?” Oh! Sekarang Yujin tahu nyawanya terancam.

“TIDAAAKK!!” Tentu, ibu beruang yang satu ini telah menandai wilayahnya. Namun, jika beruang biasanya melarang beruang lain untuk masuk ke wilayahnya, beruang yang satu ini justru melarang Yujin keluar dari daerah teritorialnya. Jeritan tadi melengking begitu saja ketika dengan buas, Hae Sun menerjang Yujin yang hendak kabur.

“Jangan pernah mencoba kabur dariku, Chae Yoo Jin!” Suara gedebuk kerap terdengar, seiring pergulatan illegal antara ibu dan anak terjadi di kamar bernuansa pastel ini. Yujin nyaris kehilangan separuh rambutnya, sementara Hae Sun nyaris membuat baju koleksi musim ini—yang ia dapat dengan susah payah—sobek, ketika seorang laki-laki datang dan mematung di depan pintu kamar Yujin yang menjeblak terbuka. Awkward….

“Mmm… mungkin saya perlu menjelaskan?” Penjelasan sedetil apa pun juga tidak akan membantu. Kalau ditanya, hal paling mengerikan menurut Yujin, maka jawabannya sangat jelas, ibunya.

“Maaf, saya bukannya bermaksud mau menjadi laki-laki yang tidak punya sopan santun atau tidak tahu diri, tapi ini karena pekerjaan saya nantinya.” Hae Sun mematut matanya pada laki-laki berwajah mungil ini, menyipitkan sedikit matanya untuk membuat kesan menghina. Tapi kemudian, ketika senyum laki-laki ini mengembang, Hae Sun seolah ditarik ke langit dengan kecepatan yang mengalahkan kereta, roket, atau apa pun itu. Dan, ya, astaga, senyumnya itu!

“Si-siapa namamu, kau bilang?”

“Song Joong Ki, nyonya.” Yujin memutar bola mata, mengerti ada apa dengan ibunya sedetik setelah senyum Joong Ki mengembang. Song Joong Ki (25), pemegang gelar double degree, bachelor of International Business Sungkyungkwan University dan NYU. Dalam proses penyelesaian S2 di Universitas Chung-Ang, kategori professional, Graduate School of Advanced Imaging Science, Multimedia and Film. Sementara waktu tinggal bersama Yujin, hingga lulus S2 dan mendaftar di 2NE.

“Sudah cukup penjelasannya, jadi eomma silahkan pulang karena aku juga tidak membutuhkanmu di sini.” Yujin menarik ibunya untuk berdiri kemudian menuntunnya—secara paksa—untuk keluar dari rumahnya.

“Aku tidak mengizinkan komentar apa pun, tentang aku, atau senyum orang itu yang mempesona. Jadi, sampai jumpa ibuku yang tercinta!” potong Yujin bahkan sebelum ibunya benar-benar membuka mulut untuk melontarkan komentar, yang kemudian membuat Hae Sun jadi merenggut.

“Ya sudah, ini. Dari Inna, katanya dia merindukanmu, dan ia berharap kamu datang ke pentasnya sore ini. Dan dengar baik-baik, kalau sampai dikedatanganku yang kedua laki-laki itu masih di sini maka tamatlah riwayatmu. Kecuali kalau aku mendengar kabar kalian berdua akan menikah.”

“Sudahlah, sana pulang! Biarkan aku mengurus hidupku sendiri, sampai jumpa eomma! Aku mencintaimu.” Kemudian Yujin masuk dan menutup pintu. Tidak bermaksud tidak sopan kepada ibunya, tapi baginya hubungan ibu dan anak ini memang konyol. Ibunya yang kadang kekanak-kanakan itu membuat Yujin berasumsi bahwa wanita itu bukan seorang ibu, walaupun terkadang itu menyenangkan.

Nyonya Lim Hae Sun atau Chae Hae Sun—jika mengambil nama suaminya, merupakan ibu angkat Yujin yang mengelola perusahaan perseorangan di bidang Design Interior sejak lulus kuliah. Berawal dari karyawan PT, hingga membuat perusahaannya sendiri. Menikah dengan arsitek asal Canada yang saat itu sedang mengerjakan proyek gedung di daerah Gyeonggi-do.

“Maaf soal itu,”

Yujin memanyunkan bibirnya, “Aku yang harus minta maaf, salahku membuat oppa terlihat menyedihkan di hadapannya. Benar-benar salahku,” Joong Ki terkekeh.

“Tidak juga, setidaknya ibumu menyukaiku. Sepertinya ibumu orang yang sangat menarik,”

“Mana, menarik?!” Ketika Joong Ki tiba di New York untuk mengambil gelar double degree-nya, saat itulah ia bertemu dengan Yujin. Orang Korea yang berbicara bahasa Inggris dengan lancar dan memiliki pengucapan yang baik. Kalau saat itu ia tidak bertemu Yujin, mungkin ia membutuhkan waktu berhari-hari untuk menemukan tempat tinggalnya.

“Apa kamu mau aku kembali tinggal di flat-ku?” Yujin menggeleng.

“Tidak perlu! Kita baik-baik saja tinggal di sini, aku sudah menganggap oppa sebagai kakak kandungku. Lagi pula, rumahku lebih dekat ke kampus oppa, dan rumah ini akan jarang berpenghuni kalau aku tinggal sendiri.” Tentu saja ketika Yujin kembali ke Korea, Joong Ki membalas jasanya sebelum Yujin membeli rumah sendiri. Dan mereka berdua pindah dari flat mewah Joong Ki, menuju rumah sederhana yang amat nyaman untuk jadi tempat tinggal berdua.

“Eh, tidak kerja? Hari ini katanya ada rapat proyek?” Yujin reflek memukul meja dapurnya yang terbuat dari keramik itu.

“Gawat!! Aku lupa, sangat lupa, astaga!” lagi-lagi terjadi keributan di rumah ini, namun kali ini Yujin berlari dengan kelabakan menyiapkan baju dan mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas.

“Aku yang masak, cepat mandi!”

“Terima kasih banyak oppa!”

Gedung 2NE, Chungmuro, Jung-gu

 “Hwang Soo Jung,” perempuan berkemeja biru yang berjalan bersama Yujin itu berhenti melangkah ketika mendengar suara yang memanggilnya dari belakang. Direktur mereka, terlihat gagah ketika berjalan dengan tangan terselip di dalam saku celana.

“Ada apa, sajangnim?”

“Sekali lagi melihatmu berjalan dengan earbud menancap di telingamu, gajimu akan kupotong.”

“Astaga, maafkan saya sajangnim, saya benar-benar mohon maaf.” Soo Jung membungkuk serendah-rendahnya kepada Jonghyun yang kembali berlalu.

“Eh sudah, untuk apa terus-terusan membungkuk begitu?”

“Karena aku bersalah, Yujin-ssi.”

“Apa yang salah dengan mendengarkan lagu saat berjalan? Itu biasa, hampir semua orang melakukannya. Itu hak orang, sajangnim tidak berhak memotong gajiimu karena hal seperti itu. Biar aku bicara padanya.” Soo Jung langsung menangkap lengan Yujin kemudian menggeleng.

“Anda tidak akan mengerti, Yujin-ssi. Sudah ayo, rapat sudah akan di mulai.” Yujin memilih untuk tidak memperpanjang topik itu, jadi ia hanya mengikuti Soo Jung menuju ruang rapat.

Tapi ia masih berfikir, apa masalahnya mendengarkan lagu saat berjalan? Hal yang sangat wajar, ketika orang bosan, 9 dari 10 orang di dunia akan memilih untuk mendengarkan lagu, atau membaca, atau bahkan melakukan keduanya bersamaan. Ia juga seperti itu, apalagi ia merupakan orang yang sangat menyukai musik. Benar-benar tidak bisa hidup tanpa mendengarkan lagu, jadi, kenapa ia tidak pernah mendapat teguran dari Jonghyun? Dan kenapa juga Jonghyun harus menegur orang-orang?

Omong-omong, APA KABAR KRU MU YUJIN?! Bagaimana iniiiii… waktu registerasi sudah hampir berakhir dan aku masih belum dapat kru, gawat! Gawat! Dan ya, gawat!

“Yujin-ssi, Yujin-ssi, apa anda menyimak apa yang sedang rekan kita bicaran? Yujin-ssi,” Yujin mendengar, iya, ia tahu ada yang memanggilnya. Tapi, Yujin tidak pernah bisa menyeruak, keluar dari pikirannya sendiri ketika ia telah tenggelam terlalu serius dan terlalu dalam.

Ketika itu, Jonghyun baru saja menghela nafas menahan dongkol, sekretaris Yujin masuk ke dalam ruangan dan membungkuk memohon maaf.

“Maaf jika saya mengganggu jalannya rapat pagi ini, sajangnim. Tapi, ada masalah darurat untuk Yujin kamdoknim, saya mohon izin untuk memberitahukan hal ini kepadanya.” Tentu, Jonghyun mengangguk karena ia malas menyadarkan Yujin. Terdengar suara helaan nafas dari Hye Jin, saat wanita itu melihat Yujin masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Dengan gaya seperti senior yang akan menghajar junior-nya, Hye Jin menoyor kepala Yujin. Membuat staff yang menyaksikan langsung melongo. Mereka tahu, Hye Jin lebih tua satu tahun, dan hubungan keduanya memang seperti orang yang sepantaran. Tapi kan, ini kantor!

“Aduh! Apaan sih, main toyor kepala orang aja!” Hye Jin hanya bisa meringis sambil mengedarkan pandangan tidak enak.

“Silahkan keluar,”

“Eh?” ketika melihat keadaan, kali ini gantian Yujin yang meringis setengah malu dan setengah tidak enak. “Maaf, sajangnim… saya—“

Jonghyun menukas tegas, “Silahkan keluar.”

“Ada keadaan darurat.” Hye Jin berbisik seolah bisa membaca pikiran Yujin, lalu buru-buru menarik atasannya keluar.

“Ada apa sih?” tanya Yujin masih berbisik, meski sudah keluar dari ruangan.

Hye Jin mendesah, “Inna hilang, katanya kabur dari sekolah.”

“APA?!”

“Ssshh… kecilkan suara anda! Di dalam sedang rapat,” Hye Jin mengingatkan.

“Siapa yang memberi kabar? Katanya apa? Inna hilang dari kapan? Apa tidak ada jejak-jejaknya? Guru mereka sedang apa sebenarnya? Masa menjaga muridnya saja tidak bisa? Sekolah macam apa itu? Memangnya tidak ada penjaga keamanan apa? Lagi pula, memang keponakanku itu super hero yang bisa terbang atau menghilang dari pandangan orang-orang? Bagaimana sih mereka ini, aduh! Kenapa bikin susah saja?! Kalau sampai Inna tidak ketemu hari ini, aku akan menuntut mereka. Dasar menyebalkan, perusak hari orang. Aarrgghh!”

Gerutu dan omelan Yujin mengiringi langkah cepat mereka, bersahut-sahutan dengan suara hentakan heels mereka. Hye Jin hanya bisa mengikuti dari belakang dan mendengarkan ocehan Yujin, bahkan ketika orang-orang di dalam lift merasa terganggu, Hye Jin sama sekali tidak bisa menghentikan ocehan Yujin. Hingga akhirnya, Yujin masuk ke dalam bus dan Hye Jin bernafas lega, setidaknya ia tidak perlu mendengar omelan Yujin dan kini bisa fokus mencari jalan keluar bagaimana menemukan Inna secepat mungkin.

Ketika subway berhenti di stasiun Suwon, Yujin segera berjalan dengan tergesah. Kepalanya mulai dibanjiri pikiran-pikiran tidak penting namun mengkhawatirkan, ia mulai kebingungan mengenai apa yang harus ia lakukan. Bagaimana cara menemukan Inna di kota yang tidak begitu ia kenal baik ini, bagaimana cara membuat proses pencarian lebih efektif, dan berbagai perntanyaan ‘bagaimana…’ lainnya yang tidak berhenti membuat Yujin terus berfikir, menyusun rencana aneh, dan membuatnya kelabakan.

Yujin mulai kehabisan tenaga, kakinya tidak bisa berhenti melangkah, selama keponakan kesayangannya belum juga ditemukan, ia berjanji tidak akan berhenti untuk istirahat. Sesekali ia saling mengabari dengan sang kakak—ibu Inna—namun tidak satu pun dari mereka yang menemukan dimana Inna berada.

“Saat itu kami sedang sibuk membereskan perlengkapan pentas yang berhamburan. Seluruh orangtua murid sudah membawa anak-anak mereka, hanya Inna yang menunggu ibunya di dalam kelas. Guru pembimbingnya pergi ke supermarket untuk membeli es krim, dan ketika kembali Inna sudah hilang.” Penjelasan guru Inna tadi membuat Yujin semakin kesal dan tidak bisa berhenti mencari.

 “Yoon-yang!” Yujin menoleh dan mendapatkan secercah harapan.

Oppa, oppa, bantu aku mencari Inna, aku mohon, Inna kami menghilang, ia tidak ada di mana-mana.” Yujin kembali panik.

“Tenang, apa kamu sudah mencari di sekitar sekolah? Menurut guru mereka, kapan terakhir melihat Inna?”

“Di taman dekat sekolah, tapi tidak ada. Aku sudah berkeliling, tapi tetap tidak ketemu. Bagaimana ini?”

“Pasti ada, gadis sekecil Inna tidak akan berani pergi sendiri terlalu jauh. Tunggu sebentar!” Joong Ki menyingkir untuk menghubungi salah satu nomor di dalam kontaknya. Segera setelah itu, keduanya kembali mencari kemana pun mereka bisa berfikir seorang Inna akan pergi.

Dua jam berlalu sejak Yujin pertama mencari, dan kini bahkan Yujin tidak lagi memikirkan seperti apa orang melihatnya sekarang. Rambut yang basah di bagian ujung dan sedikit berantakan, peluh yang sesekali menetes di pelipisnya, panggilan dari kantor, tidak lagi Yujin peduli dengan semua itu.

“Yoon-yang, kita harus istirahat sejenak. Kita tidak bisa terus mencari dengan heels tinggi yang membalut kakimu itu, jangan memaksakan diri.”

“Joong Ki oppa!” seruan yang terdengar seperti jeritan kuntilanak di telinga Yujin itu membuat mereka berdua menoleh, kemudian, Yujin mengumpat sambil berdesah.

“Sungguh kebetulan bertemu denganmu di sini, apa oppa datang dari Seoul hanya demi menemuiku?” Sosoknya… seperti model kelas atas. Tubuhnya yang proporsional, tinggi badannya yang amat diidamkan para wanita, tungkainya yang indah, wajahnya yang bagai porselen, Yujin jadi ingin muntah. “Dia siapa, oppa?”

“Dengar ya Syl, aku sedang ada keperluan sekarang. Kita berbicara jika nanti ada waktu, oke?”

“Tidak mau! Oppa pasti tidak akan menghubungiku seperti waktu itu, aku mau bersama oppa sekarang!”

“Astaga,” umpat Yujin, “Aku duluan ya!”

“Tidak, tunggu aku! Sylvia, aku benar-benar tidak punya waktu sekarang. Aku akan menghubungimu kapan-kapan, oke cantik?” Gadis cantik bernama Sylvia itu langsung merona dan menganggung seperti anjing. Joong Ki melambai sebelum meraih tangan Yujin, hendak menggandengnya.

YA, OPPA!” Keduanya reflek menutup telinga. “Siapa perempuan ini? Selingkuhanmu?” Dengan sikap mengintimidasi, Sylvia mematut matanya pada Yujin yang kala itu berpenampilan berantakan, dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat Yujin mendesis kesal. “Oppa selingkuh dariku, dengan perempuan ini?”

“Apa-apaan sih? Kita bahkan tidak pernah pacaran, berhenti menatapnya begitu!”

Oppa! Apanya yang tidak pacaran? Kita bahkan sudah—“

“Heh,” potong Yujin, “dengar ya nona, kalau saat ini kami sedang tidak terburu-buru, aku akan meladenimu. Dasar naïf! Mana mungkin Song Joong Ki oppa menjadikanmu kekasih? Aku jauh lebih baik darimu, oh… Song Joong Ki oppa tidak pernah selingkuh. Mengerti?” dengan kesal Yujin merangkul pinggang Joong Ki dan merapatkan pada tubuhnya.

“Oh ya satu lagi, kami sedang mencari gadis kecil bernama Inna, rambutnya seperti rambutku, matanya seperti mata Joong Ki, umurnya sekitar tiga tahun. Kalau menemukan yang seperti itu, segera hubungi kami. Ok?” kemudian Yujin menggandeng Joong Ki pergi, nyaris seperti menyeretnya.

Oppa! Jangan berani tinggalkan aku… Oppa! Aku hitung sampai tiga, kalau oppa tidak berbalik padaku, oppa akan menyesal. Satu, dua… ini yang terakhir,” Yujin tetap menarik Joong Ki untuk segera pergi. “Tiga!” langkah Joong Ki berhenti, membuat Yujin tersentak ke belakang, sebuah senyum segera mengembang di wajah Sylvia.

Oppa, apa oppa benar-benar akan berlari padanya?” bisik Yujin tidak percaya.

“Kamu sudah terlalu banyak berjalan, istirahat sebentar.” Nyaris membuat Yujin menjerit kaget, Joong Ki langsung menggendong Yujin, membuat gadis ini mau tidak mau melingkarkan lengan di pundak Joong Ki. Joong Ki menoleh sekit pada Sylvia, memastikan gadis itu melihat seutas senyum di bibirnya. “Selamat tinggal, Sylvia.” Kemudian Joong Ki berlari seolah tidak ada yang bersandar di pundaknya.

“JOONG KI OPPA!!” meski keduanya sudah tidak bisa melihat sosok itu, suaranya tetap menggelegar dan memekikan telinga mereka, membuat Joong Ki langsung tertawa.

“Dasar perempuan, mudah sekali jadi mainan laki-laki.” Gumamnya sambil berjalan.

“Turunkan aku!” Joong Ki nyaris lupa bahwa yang ia gendong di pundaknya sedari tadi adalah perempuan. “Cepat turunkan!” Suaranya bergetar, membuat Joong Ki langsung merinding.

“Maaf Yujina, aku bukannya bermaksud menghina ‘kalian’… aku sekedar… itu… —“

“Turunkan!” dan… dengan gemas Yujin menancapkan gigi-gigi nya di daun telinga Joong Ki.

“AAAAAGGH!” Joong Ki tentu bisa menjerit lebih keras dari itu jika ia tidak ingat bahwa ia laki-laki, tapi… ya ampun… “YUJIN! Kamu ini anjing ya? Gigimu tajam sekali!” katanya sambil meringis kesakitan dan mengelus kasar telinga kirinya.

“Sudah aku ampuni waktu itu, sekarang mulai lagi… dasar murahan!” dengan penuh kesal, Yujin menendang tulang kering Joong Ki.

“Aagh! Yoon-yang dengarkan aku dulu… astaga, kakiku… aaahhh, Yoon-yang!”

Pusat Kantor Kepolisian, Paldal-gu, Suwon-si

“Aish! Aku harus bilang berapa kali sih? Aku tidak menculiknya! Gadis ini yang tiba-tiba berlari, memelukku dan memanggilku ‘appa’. Memangnya aku manusia bajingan? Mana punya aku pikiran untuk menculik anak orang lain?”

“Lalu, kenapa tidak langsung melaporkan kepada polisi?!” tuding Yujin.

“Eh! Aku kan hanya berniat baik! Anakmu itu memiliki ganguan psikologis, tahu? Siapapun itu, pasti akan langsung berfikir untuk menghiburnya dulu sebelum melaporkan ke kantor polisi!”

“Enak saja! Dengar ya, tuan-siapapun-namamu, gadis ini tidak memiliki gangguan apa-apa. Gadis cantik ini sangat periang, dan mana mungkin dengan sembarang memeluk orang sepertimu dan memanggilnya ‘appa’, jangan mengada-ada!”

“AISH! Terserah!” jeritnya frustasi, dan bersamaan dengan itu Chae Yoo Bi—ibu biologis Inna, yang mana adalah kakak Yujin—datang. Mereka terdiam selama beberapa saat, sementara itu Yujin merasa ada aura aneh di sekitarnya.

“Dimana Inna?” tanya Yoo Bi akhirnya, wajahnya tidak kalah kusut dibanding Yujin. Terlihat jelas seberapa tertekan wanita ini beberapa menit yang lalu, dan ketika Joong Ki masuk bersama Inna. Aura kelegaan dan rasa cinta seorang ibu memancar dengan terang.

“Sudahlah, pak polisi, tangkap saja laki-laki ini! Masukan ke penjara kalau perlu!” Yujin masih melanjutkan perdebatannya.

“Apa-apaan kau ini?!” ketika polisi semakin bingung bagaimana cara menengahkan dua orang di hadapannya ini, Yoo Bi menyeruak masuk dalam keributan dan memadamkan api.

“Terima kasih banyak karena telah menemukan anak saya, biar saya cabut tuntutannya. Maaf merepotkan anda sekalian, pak polisi saya mohon maaf. Yujina, keluarlah dengan Inna dan Joong Ki.”

“Tapi—“ Yujin segera menahan kalimatnya begitu melihat ekspresi dingin dalam wajah elegan milik kakaknya. Di dalam wajah yang penuh karisma itu, Yujin menemukan sebuah garis pandang dingin dalam tatapannya.

“Haaahh,” Joong Ki mengerang, “aku kan sudah bilang, jangan asal menuduh. Jelas-jelas tadi, laki-laki itu membawa Inna ke toko es krim. Iya kan, Inna?” Inna mengangguk, lengannya memeluk erat kaki Joong Ki.

“Tapi bisa saja kan itu hanya modus? Setelah membelikan es krim lalu baru dibawa ke markas. Aku yakin, dia bukan orang baik-baik!”

“Lebih baik biasakan untuk berpikiran positif.” Simpul Joong Ki, selang beberapa waktu Yoo Bi keluar dari kantor polisi disusul laki-laki tadi.

“Terima kasih, sudah memberi keterangan. Dan tolong beritahu wanita itu, belajar sopan santun dan berprasangka baik dengan orang lain.” Sindir laki-laki tadi.

Ne, maafkan kami. Sekali lagi terima kasih.”

“Apa yang kalian bicarakan di dalam?” tanya Yujin penuh rasa ingin tahu.

“Ayo pulang, biar aku antar kalian.” Yujin langsung merenggut begitu tidak mendapat respon, sementara itu Joong Ki tersenyum meledek.

“Sudah, kakak-mu pasti masih tertekan dengan kasus tadi.” Hibur Joong Ki sambil merangkul Yujin.

“Doh, lengan oppa ini berat tahu!” Yujin mendorong pelan Joong Ki setelah melepas rangkulannya, membuat laki-laki imut ini terkekeh.

“Omong-omong, oppa sedang apa di Gyeonggi-do?” Yujin baru sadar kalau ia sedang tidak di daerah Seoul.

“Bertemu teman, ia tinggal di Suwon, kebetulan bertemu denganmu.” Yujin mengangguk mengerti.

Begitu ketiganya masuk ke dalam mobil, bersiap melaju, aura aneh kembali terasa. “Emm, mungkin kalian berdua butuh waktu bicara berdua? Aku bisa mengantar Inna pulang.” Joong Ki menawarkan. Ia yakin keberadaannya tidak begitu membawa keuntungan bagi keduanya, begitu juga kehadiran Inna. Setelah memejamkan mata sebentar, akhirnya Yoo Bi menerima tawaran Joong Ki yang amat menolong itu.

“Innaya, eomma akan pergi sebentar dengan bibi-mu. Pulang dengan paman Joong Ki, tidak apa-apa kan? Jangan lupa untuk mandi dan ganti baju sebelum tidur siang.” Inna mengangguk, Yoo Bi juga Yujin langsung melesat keluar.

Begitu kedua pintu tertutup, Joong Ki langsung memberi usul, “eh, Inna, bagaimana kalau kita bermain? Lalu ke toko cokelat, bagaimana?” mata Inna langsung berbinar, dengan mata dan senyuman itu Joong Ki mengangguk mengerti, lalu segera melaju.

“Sebenarnya kamu ini kenapa? Tadi saat datang, aduh, rasanya seperti melihatmu baru saja kalah dari pertandingan gulat, tahu.” Yoo Bi melingkarkan lengannya di lengan Yujin, keduanya berjalan bersama, kemudian Yoo Bi mendecak.

“Aku baru menghancurkan hidup anak-ku, benar-benar ibu yang buruk!” ia menyalahkan dirinya.

“Apa-nya yang hancur? Jangan berlebihan, kejadian hari ini tidak akan terulang dan ini juga salah guru-nya, bukan salahmu.”

“Mungkin kejadian Inna kabur hanya akan terjadi hari ini, tapi mungkin besok ia benar-benar akan diculik.” Ekspresi Yujin mengeras.

“Apa kubilang tadi? Penjarakan saja orang itu! Aku yakin, besok ia akan mengincar Inna. Dan saat itu terjadi, aku hanya akan duduk dan berkata ‘See, I told you’.”

“Orang tadi tidak berniat menculik, aku tahu dan aku percaya padanya. Waktu aku sedang jalan dengan Inna, akan ke toko buku, tiba-tiba Inna melepas tanganku dan berlari memeluk seorang laki-laki di depan kami kemudian memanggilnya ‘appa’.”

“Tidak mungkin,”

“Sampai sekarang, aku tidak mengerti ada apa dengan Inna. Saat ia melakukan hal itu, wajahnya selalu murung sepanjang hari, tapi ketika ceria ia tidak pernah melakukan hal aneh seperti itu.”

“Lebih baik kita membawa Inna ke tangan ahli, mungkin kita memang harus membawanya ke lembaga perkembangan anak?”

“Tapi aku takut,”

“Lebih baik tahu saat ini juga, kakak.” Yoo Bi menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Keduanya berjalan dalam diam, masih saling melingkarkan lengan mereka.

“Astaga! Hampir aku melupakannya, ibu mau ke rumah-mu hari ini!” pekik Yoo Bi tiba-tiba.

“Ish, terlambat tahu! Aku sudah kena hajar pagi ini, tidak ada gunanya memberi tahuku sekarang.” Desis Yujin kesal.

“Maaf, semalam aku lembur, jadi lupa mengabarimu. Kemarin ibu menemukan alamatmu di kamarku, tahu kan, dia suka membongkar kamar orang? Begitulah, aku jadi tidak bisa beralasan.”

“Hadduuhh, kenapa sih ibu kita itu tidak berubah sedikitpun? Putri-nya kan sudah sebesar ini, bisa-bisanya menjambak rambutku dan bergulat.” Yoo Bi otomatis tergelak, ia bisa membayangkan seperti apa pergulatan antara ibunya dan Yujin.

“Lalu? Ia tahu kalau Joong Ki tinggal serumah denganmu?”

“Jelas tahu! Dan sialnya, waktu sedang sibuk mempertahankan harga diri, Joong Ki oppa masuk dan mematung di depan pintu kamarku.” Yoo Bi kembali tergelak, kali ini tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa perih.

“Sudah puas? Bagus, sampai ketemu di surga!”

“Eiy, eiy, eiy, tunggu sebentar, maaf-maaf. Habisnya, siapa sih yang tidak tertawa mendengar ceritamu? Apalagi kalau mereka mengenal ibu kita, dan… membayangkan laki-laki setampan dan seimut Joong Ki melihat pemandangan brutal seorang wanita dan ibunya, astagaaa~, hahahha. Tapi, percaya padaku, ibu merindukanmu.”

“Terserah, yang pasti caranya mengungkapkan sesuatu itu sangat aneh.”

Yoo Bi tersenyum lembut kemudian merangkul adiknya. “Mungkin karena kalian berdua tinggal dengan dad selama tujuh tahun, kalian tidak mengerti mengenai ibu. Setiap hari, saat melalui ruang keluarga, ia selalu merasa hampa karena hanya menemukanku di sana sambil menonton TV sendirian. Belum lagi, aku mengambil hagwon yang membuatku dari hari senin hingga jumat pulang jam 11.30. Sabtu aku pulang sore dari sekolah, dan minggu aku sekolah sampai siang. Walaupun ibu sendiri yang menganjurkanku, agar masa depanku baik, tapi aku tahu setiap hari ia merasa kesepian. Wajahnya sering terlihat cemas ketika melihat foto kalian berdua.”

“Kalaupun aku ada di sana saat itu, tidak akan ada bedanya. Aku juga sekolah, kak.”

“Ada, ketika aku kelas satu SMA, kamu dan Kris baru kelas dua SMP. Jadi kalau kita bertiga tinggal serumah, eomma punya Kris ketika kita berdua sekolah karena ia masuk sekolah internasional, dan ia memiliki kalian berdua ketika hari sabtu dan minggu aku sekolah.” Paparan Yoo Bi jadi membuat pikiran mendalam di kepala Yujin, ia baru sadar seberapa lengah ia akan hubungan kekeluargaan yang berjarak ini.

“Ketika aku tiba di masa pubertas, ketika aku butuh kasih sayang eomma sepenuhnya, semestinya itu kesempatan terbaikku. Tapi, kalian berdua terlalu banyak menyita ruang dihatinya, bahkan membuatku yang berdiri di depan matanya tidak terlihat. Jadi wajar, ketika kamu kembali dan merasa tidak ada perubahan pada ibu, aku mengerti, karena kamu tidak mengerti seperti apa ibu sebenarnya.”

“Jangan buat aku merasa bersalah,”

“Aku tidak bermaksud, hanya menceritakan, betapa kami kesepian selama tujuh tahun ini. Kami merindukan kalian, dan ketika liburan tiba, aku dan ibu selalu berdoa kalian pulang. Walaupun hanya satu bulan, tapi kami sudah bahagia karena bisa melepas rindu dengan kalian. Dan, sebenarnya ibu terlalu bahagia hingga tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkannya padamu. Putri-nya yang kembali tinggal di Negara ini setelah tujuh tahun berada jauh di luar benua Asia. Ia tidak ingin kamu berakhir sepertiku, atau anakmu terlahir seperti Inna. Karena itulah, sebenarnya ibu bisa saja marah besar padamu karena tinggal bersama laki-laki.”

Yoo Bi berhenti untuk menarik nafas, lalu melanjutkan. “Sudah cukup dalam tujuh tahun ia mencemaskan keadaan kalian berdua, apa sekarang, ketika akhirnya bisa bertemu dengan mu ia harus tetap merasa cemas dengan adanya laki-laki di rumahmu?”

“Tapi kan aku dan Joong Ki tidak ada hubungan yang akan mempengaruhi kami, lagi pula aku bisa jaga diri. Kehidupan di luar Korea lebih liar dari ini.” Yoo Bi tersenyum.

“Kamu belum mengerti. Mungkin Joong Ki hanya satu dari 10 laki-laki yang tidak seperti ini, tapi sembilan dari 10 laki-laki di Korea tidak akan pernah puas sebelum berakhir di ranjang. Mereka suka mabuk, dan karaoke, bekerja kemudian pesta, melepas stress dengan minum. Lalu tanpa sadar merenggut keperawanan kita, walaupun sebenarnya memang itu yang mereka cari. Karena itu, aku juga berharap sama seperti ibu.”

“Tapi harusnya ibu tidak lagi mengurusi urusan pribadiku, aku sudah dewasa dan bisa mandiri. Semua orang pasti begitu ketika sudah dewasa, ingin mandiri dan menjauh dari orang tua mereka.”

“Salah besar, orang-orang yang berfikir demikian akan menyesal nantinya. Kamu akan mengerti ketika sudah berada di posisiku.”

“Mungkin kalian harus tinggal bersama ibu, untuk kebaikkan Inna dan kebaikan ibu.” Yoo Bi mengerutkan alis mendengar pernyataan tiba-tiba Yujin.

Malam Hari, Suwon-si

Yoo Bi menarik nafas dalam-dalam, merasa bodoh dan ceroboh. Bagaimana bisa seorang ibu kehilangan anaknya dua kali sehari? Ini keterlaluan! Ia tidak bisa berhenti menyalahkan diri-nya sendiri, dirinya jadi ingin memutuskan urat nadi-nya.

Ia tidak bisa… bukan, ia tidak boleh menangis, ia tidak pantas menangis. Salahnya! Ia harus bisa menemukan Inna tanpa bantuan siapa-siapa. Orang-orang yang berlalu lalang tidak berhenti menoleh padanya, wajahnya kusut, langkahnya tak tentu arah, matanya berkaca-kaca.

Kemudian, di antara kerumunan orang-orang itu, sosok laki-laki menggendong tubuh Inna. Yoo Bi ingin segera melepas emosinya, ingin menangis juga ingin berteriak marah, tapi ia bahagia. Yoo Bi menarik nafas lagi, mengatur emosi-nya, pura-pura kuat.

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Yoo Bi ketus. “Kembalikan Inna padaku!”

“Yoo Bi-ya, aku bukan orang yang akan mencelakai anak-ku sendiri. Jangan bicara padaku dengan nada menuduh, aku tidak bermaksud apa-apa.” Suara-nya pelan, nyaris berbisik, membuat Yoo Bi sulit mendengar. “Inna tidur, jadi jangan berteriak.” Ia menjelaskan.

“Sudah malam, sini, biar aku gendong anakku.”

“Mestinya kamu berterima kasih, aku menemukan Inna untuk kedua kalinya. Ibu macam apa yang bisa kehilangan anaknya dua kali.”

“Tidak perlu dibahas, aku juga sadar kok aku tidak pantas jadi ibu. Aku tolol, aku tidak siap, dan aku tidak suka masa muda-ku terganggu oleh anak sialan ini. Tapi coba pikir lagi, ini semua salah siapa?”

“Chae Yoo Bi, apa-apaan sih kamu?” laki-laki ini batal memberikan Inna pada Yoo Bi, ia melangkah mundur. “Aku terima kalau kamu benci padaku, tapi melampiaskannya pada Inna? Sungguh, aku akan membuat Inna menjadi hak milikku, tidak akan aku biarkan kamu menyentuh gadis ini.”

“Kwon Jiyong, jangan bercanda! Sadar! Siapa yang membesarkan Inna hingga sebesar ini, hah? Kamu pikir merawat Inna seperti merawat anjing? Aku tidak pernah melampiaskan apa-apa pada Inna, dia anakku, aku menyayanginya, tidak pernah menyesal aku memilikinya. Tapi setiap teringat bejat-nya laki-laki yang menghamiliku, aku ingin membuang Inna jauh-jauh. Itu dulu, saat wajah-mu masih menjadi hantu di kepalaku. Tapi saat semua hampir sempurna, lihat siapa yang datang? Jangan buang waktuku, sudah malam, aku ingin Inna cepat tidur di kasur-nya sendiri.”

“Biar aku yang menggendongnya sampai rumah!” Yoo Bi berdecak kesal, tapi tidak ada pilihan lain. Dituntunnya Jiyong hingga apartement miliknya, dan terpaksa ia membiarkan Jiyong masuk untuk membaringkan gadis-nya di kasur.

“Sudah larut, cepat pergi.”

“Maafkan aku, tidak ada yang bisa aku minta selain maaf-mu.”

“Aku sudah memaafkanmu, bahkan sebelum Inna lahir ke dunia ini.” Yoo Bi ingin menutup pintu-nya, namun Jiyong menahannya.

“Terima aku lagi, aku tahu hatimu belum berubah. Aku yakin kita masih sama, aku masih mencintaimu, kamu juga kan? Jika memang sudah memaafkanku, izinkan aku memulai semuanya dari awal.”

“Jiyong, segalanya berubah, tidak ada jaminan jika aku terus menunggumu. Aku memaafkanmu, tapi bukan berarti aku akan menerimamu kembali. Menerima kepergianmu saja butuh waktu, jangan buat aku semakin membuang waktu.”

“Aku tidak pernah bermaksud lari darimu atau lari dari tanggung jawab, aku hanya mencari cara untuk bertanggung jawab. Aku berusaha, selama bertahun-tahun aku berusaha, menjadi pantas untuk bertanggung jawab atas semuanya. Aku bahkan meraih mimpiku karenamu, karena anak kita. Setidaknya, izinkan aku bertanggung jawab untuk Inna. Biar bagaimana pun gadis itu darah dagingku, meski terlambat, aku tidak ingin Inna dewasa tanpa sosok ayah.”

“Konyol!” Baik Yoo Bi maupun Jiyong menoleh terkejut ketika mendengar suara parau milik Yujin. “Jadi anda yang bernama Kwon Jiyong? Dan anda yang melarikan diri setelah membuat kakak-ku hamil di usia remaja.”

—Dia yang Tak Bertanggung Jawab, Continued—

 

Sneak peek:

“Hyeong tahu, satu hal yang tidak pernah bisa ditaklukan oleh laki-laki?” Jonghyun mengangkat wajahnya, “kesepian. Aku kesepian hyeong, rasanya lebih buruk dari mati.”

“Tidak ada gunanya terus memikirkan gadis itu, ia sudah di luar jangkauanmu. Masih banyak ikan di laut, apa salahnya—“

“Tidak ada ikan yang seperti itu, hyeong. Semua orang tahu, di laut sana, masih ada seribu ikan yang berenang. Tapi, apa ikan yang dulu aku miliki ada lebih dari dua?”

“Mungkin tidak persis, tapi setidaknya sejenis.”

“Positif…,”

“Apa?”

“Hamil….”

­—

“Temui aku jika sudah bertemu dengan gadis yang sesuai.”

“Bagaimana jika aku tidak akan pernah menemuinya? Jika aku tidak akan pernah mendapatkan gadis yang sesuai? Apa kita tidak akan bertemu lagi?”

“Semua laki-laki bisa mencintai perempuan jika mau, laki-laki mana yang tidak suka perempuan?”

“Laki-laki yang seperti kami, Yoon-yang-a, laki-laki seperti kami yang tidak bisa menyukai kalian atau bergairah ketika melihat lekuk tubuh kalian.”

Kataku:

  1. Universitas Sungkyungkwan itu sebenernya gak ada program double degree, malah mereka gak ada jaringan kerja sama dengan NYU. Intinya itu karanganku aja😀
  2. Scene 3 ini terbagi jadi 3 bagian, soalnya ngebahas dua cerita. Satu tentang kakak-nya Yujin, sementara kisah satu lagi tentang temen Yujin. Di scene ini juga, masalahnya Jonghyun mulai aku bahas pelan-pelan. Seperti yang ada di foreword-nya, ini FF ini mengenai kisahnya Jonghyun, Yujin, sama Song Joong Ki, ya kan? Mungkin proses pembahasannya agak lamban, tapi sabar ya. Agak susah juga bikinnya ^^
  3. Next scene GS nya CAP sama Onew hehehe~, aku udah banyak nama Korea dari kalian di tabungan, jadi aku pake dari yang udah ada dulu deh yaa😀.
  4. Jonghyunnya cuma sedikit ya? Maaf-maaf, masih bagi-bagi plot soalnya😀.
  5. Kejutaaaann ^o^ hohoho… di part ini ada spoiler nya! Btw, scene 3 ini sub-judul nya gak asik banget ya? Hahaha… bodo ah, udah mumet😄
  6. Untuk segala kritik dan sarannya aku terima dengan senang hati ^^, harap koreksi kesalahan-ku yaaa~
  7. Feel-nya gak berasa? Mafa ya.. aku jenuh banget nulis Scene 3 ini, mau shot satu, dua, atau tiga… semuanya aku sama sekali gak kena feel-nya:/

Untuk kekurangannya harap maklum ^^, stay 2NE for the 2nd shot, PPYONG! ^o^. Oh ya, terima kasih sudah mampir <(^-^)>

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

 

 

33 thoughts on “2NE, SCENE 3 SHOT 1: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

  1. ini serius genrenya angst eon?
    kok aku dari tadi ketawa terus ya?😀
    ceritnya seru kok.
    dan soal jonghyun dan earbud temennya yujin itu aku penasaran.

    keep writing!

    1. Iya, tapi gak banget koookk🙂
      kan gak semua part nya angst kekeke~
      Seru? Wuaaa makasih🙂

      Sip, makasih banyak yah udah mampir
      Sorry telat bales ^^
      xoxo

  2. Dari pertamakali baca kalo ini terinspirasi dari manny aku udah excited bgt #curcol soalnya baru namatin film ituu dan itu lereen :’) ff ini juga kerenn!! Mana yang main joongki jadi kebaayang mukanyaa gitu hehehehe. Lanjuut

    1. Gak bener-bener terinspirasi sih, cuma waktu aku nonton Manny, tau kan? yg bagian si kecil tau-tau lari meluk cowok terus random manggil ‘appa’. Aku langsung kepikiran bikin scene semacem itu😀
      Kekekek~
      Sip ^^, makasih banyak udah mampir
      maaf telat bales
      xoxo

  3. Aku….ngikik2 ga jelas baca ini, sumpah ngebayang ibu-anak tarik2 rambut itu konyol.

    Ada typo, yg ketangkep cuma empat: biadap (biadab), biacaran (bicarakan), tergesah (tergesa) , menganggung (mengangguk). Aku ga gitu merhatiin typo krn keasyikan senyum2.

    Emmm, sebenernya aku mikir, apa kaitan kisah ini dengan kisah inti? Tp terus aku jadi mikir, di novel-novel juga kisahnya suka ga runtut, bab ini tiba2 udah cerita laen, tp ternyata semua bab akan memiliki hubungan. Ocee, kreatif lah untk masalah alur, ga runtut begitu aja.

    Ga apa sih alur lambat juga zik, asal semua bab punya makna. Dan bab ini, bermakna bgd. Seorang ibu yg mengkhawatirkan anaknya.

    Shoot berikutnya ditunggu ya zik ^^ Semangat yooo

    1. Hahahha bisa aja nih Kak Bibah

      Hah? Serius aku nulisnya biadap? *scroll ke atas* ampuuuunnn deh, pas aku lagi edit tuh mata ku udah bener2 baca pake b bukan p aaa malu deh hahaha.
      😀 , bingo bingo!
      Dan dari awal aku pasang type nya sequel-stand alone. Jadi ada kisah yang bisa dibaca tanpa perlu baca awalnya kekeke~

      Oh gitu ya? Cuma berat juga sih kalau bikin setiap bab nya bermakna. Awalnya aku mau bikin gitu, tapi agak susah ternyata, makanya sekarang aku edit, lagi dikejar supaya padet😀

      Sip! Makasih banyak kak udah mampir😀
      maaf ya telat bales komennya
      xoxo

  4. Aha! Makin kerenn..
    Tpi aku blm bsa nyambungin antar scene-nya..
    Next ditunggu..
    Preview next part bikin tambah penasaran..

    1. Serius???? wuaaaa makasih yaa
      Iya iya emang belum terlalu nyambung sih
      Sip sip! ^^
      makasih banyak udah mampir, sorry telat bales komen heheh
      xoxo

  5. Ooooohhh… kakaknya Yujin hamil di luar nikah? *O*
    Yoo Bi… Yoo Jin …. =.= kkkkk mirip amat namanya
    Gara-gara muncul ibunya Yujin, image cool nya Yujin berantakan masa hahahaha
    Langsung mikir “emang ya, semaco-maco nya orang… sama ibu pasti tetep tunduk juga”

    Naaaahh, itu di sneak peek nya… yang hamil? siapa lagi?
    Joong Ki gak bisa naksir cewek? seriusaaaannn??? gak salah ngartiin kan ini aku? O.Oa

    Shot 2 nya saya tunguuuuuuu ^O^. Makin bagus aja nih, improve nya cepet😀
    Kece badai *smooch

    1. Iya Lan… kasian yah ;_;
      Hahahah kebetulan Laaann, sebenernya mau pilih nama lain, tapi nama Yoo Bi dari Hanin ini karakter-nya cocok
      Hahaha, iya, aku sengaja bikin kayak gitu

      Ada deeeehh, makanya shot selanjutnya jangan kelewatan!
      Tahu dari mana Joong Ki gak bisa naksir cewek? Kan di sneak peek nya gak ditulis namanya😛

      Hahaha bisa aja nih si Lana *smooch balik*
      Dadaaahh~

  6. joongki gay? naksirnya jonghyun lg ntar…
    baru ngeh prolognya, yg ditelpon itu kris ya?
    terus yunji sama joongki, mau tinggal di flatnya joongki, terakhir jonghyun teriak sama kakak iparnya gara-gara ban mobilnya dilepas?

    setelah scene 3 baru nyadar, hihihi
    CAP? teentop? spoilernya jonghyun bikin penasaran🙂

    1. Hahahaha… enggak lah😄, masa iya sama Jonghyun?
      Pintar!
      Iyaaaaappp, total poinnya 200 yaaaa kekekke~
      Berarti scene tiga aku udah tepat sasaran hohoho

      Makasih udah mampir ^O^
      xoxo

  7. hahaha😀
    agak aneh menbayangkan Yujin dan ibunya bergulat.
    Semua orang pasti punya cara tersendiri untuk menyampaikan perasaannya *lirikibunyaYujin* :p
    GD jadi appa yang tidak bertanggung jawab… :p
    siapa yang Hamil? Yujin kah?
    ah, sneak peeknya bikin penasaran >.<
    lanjut eonni^^

    1. Hahahahha…
      aku juga gak kebayang gitu, anak tarik-tarikan rambut sama ibunya😄
      Betul sekali😀
      Hoh *O*, Yujin yang hamil? Jeng jeng jeng… di tunggu yaaaaa hohoho

      Lanjut? Sip! Makasih ya udah mampir😀
      xoxo

  8. aaaaaaaaaakkkkkkkkk…. setelah sekian lama menunggu ahirnya.
    muncul juga part ini…
    part ini aku mbacanya jadi ikut panik gara-gara yujin nyari inna yg ilang.
    joongki udah keluar yaa.. aku masih binggung sm asal-usulnya & termasuk mbayangin dia pake inggris kentel keke~~~
    Mas GD itu disitu rambutnya warna apa ya?? masa iya meah. keke~~
    tapi iya Jonghyunnya dikit pake banget..
    tp good job kaya biasanyaaaa..
    ditunggu lanjutannya author zikey. *lambay-lambay

    1. Aaaaaaaakkk…. senangnya tetap setia menanti😄
      Kekekeke, tenang, entar bakal lebih jelas di scene 4
      Mmmmm… aku sih yaa bikinnya si GD itu model rambutnya di My Heaven, tau kan? Yang gondrong-gondrong kece gimana gitu😄 *mimisan*
      Masa iya merah hahahha nyentrik banget hahahha

      Siiiippp~ makasih ya udah mampir😀
      xoxo

  9. aku speechless. Keren, daebak!

    oooo jadi kakaknya yujin mba? kasian ToT

    ituuuuuuu spoilernya asli bikin penasaran!!!! i’m so curious yeaaaaah *nyanyi bareng syaini (?)*

    part depan ada onyu? asiiiiik😄

    itu siapa yg ga suka cewe? gay kah? #ngaco

    pokoknya next chap ditunggu :3 aky reader baru hihi *ga ada yg nanya -___-*

    1. Iiiihhh kok kamu baik banget siiiihhhh *kecupbasah*
      reader baru FF ku tapi mau baca dari awal dan tetep komen.. aaaaa terharu nih😀

      Iya, kasian yaaa.. efek terlalu cinta tuh
      Hahahha *ikut nyanyi*

      Biasanya sih, kalau gak suka cewe gay, iya kan ya? kekeke
      Siiiipppp~ Makasih banyak ya udah mampiiiirrrr😀
      xoxo

  10. haaah?! Z telat baca ini, brarti udah 2 part kulewatkan, huhu
    oke, ak gabungin komenku d sini aja yah, mash mau capcus k part sbelumny dlu.

    Ad bang GD, yeeah! Joongki jadi cast, horee! Suka sama perangny vs yujin, haha.
    It d bagian ‘ngintip’ it, ad yg hamil lagi?! Penasaraan

    can’t wait longer, next chap yoo!

    1. Haaahh?! telat bales komen😄

      Yeaaahh, go GD!! Wohooo~
      Laaaahh, kan si Joong Ki emang udah cast dari awal? ckckck~
      Perang? Perang yang mana nih? Mamanya Yujin sama Yujin? Atau Yujin sama cewek-nya Joong Ki? kekeke
      Betul sekali hohoho

      Siiiippp! Ditunggu yaaa
      Makasih udah mampir ^O^
      xoxo

  11. msih ngebayangin gmn nasib rmbut yoojin skrng..lol.

    Oh my GD(?),,dia appanya inna?jdi kkaknya yoojin hmil diluar nikah yo?,,gmn sih bang gd,,kau tk brtanggung jawab…lol.

    Hey part jjong cumn lewat duang dimari(kecewa),pdhal aqu jg menunggu jjong-yoojin moment,,haa somplak bner deh,wkwk.

    Eh?maza zii?joongki gg trtarik dngn cewe?kata ‘kami’,,brarti gg cuma si joongki ajj dong.Waddow,,mreka gay0.o?omo…

    Positif?hamil?nugu?yoojin?siapa yg hmilin yoojin?joongki? 0.0 o..ouu

    tpi aqu agk binun sm part ini deh,knapa ya?molla.Ditunggu next part nya ka zika..hwaiting ^^

    1. Hahahha.. gak apa-apa kok rambutnya, cuma kusut aja..

      iya iya, jahat ya GD aaaaaa~
      maaf yaaaaa, masih bagi-bagi part nih, kasusnya jjong belum kena banget jadi susah ngambil bagiannya hehehe

      ‘kami’ itu maksudnya ya para lelaki yang sejenis itu😀
      Agak bingung? hhhmm kenapa??

      siiipppp ^o^ makasih banyak yaaa udah mampir
      xoxo

  12. agak bingung di bagian sneak peek; “Laki-laki yang seperti kami, Yoon-yang-a, laki-laki seperti kami yang tidak bisa menyukai kalian atau bergairah ketika melihat lekuk tubuh kalian.” apa ya itu maksudnya? penasaran.

    gelap juga ya masa lalu kakaknya Yujin.
    adegan awal Yujin sama ibunya itu asli konyol kak, ibu anak kok kayak anak kecil😀

    part selanjutnya ditunggu kak

    1. Nanti dijawab di shot 2😀

      Iya, biasalah namanya juga remaja kurang perhatian ^^
      Kekeke, kan ceritanya saking cintanya jadi begitu😄

      Siiipp! Makasih banyak loh udah mampir😀
      xoxo

  13. Nah loh. Ternyata 3rd scene nya udah keluar dari 3 hari yang lalu *telat*

    Ya ampun, sebenernya ibunya Yujin itu umur berapa? Pake jambak-jambakan segala. hahaha. Konyol banget! Jangan-jangan saking ‘semangat’ ibunya jambak yujin, di kamar yujin berserakan rambut yujin lagi =)) Di sini ke-kece-an Yujin langsung menguap! hyaha

    Nah, Joongki keluar juga. Setelah baca part ini baru ngeh sama prolognya. Ternyata sejak prolog joongki sudah muncul. *nods*

    Sylvia ini satu dari ‘gadis-gadis’ nya Joongki ya? Wahaa di scene ini Yujin di jadiin tumbal. kkk~

    Apa itu? Positif hamil? aku langsung kepikiran itu bagian dari flashback kakaknya yujin yang dihamili GD .-. *plak*

    Dan.. Kak Zika! Aku mulai sok tau nyambung-nyambungin. Chairman will, dokumen, kasus, revenge, dan Keluarga Younji. Aaah, makin seru! Makin Keren! Kece deh!

    2nd shot nya ditunggu Kak! Dan masih setia nunggu jjong banyak muncul :3 Ehehehe😀

    1. Hahah gak apa-apa ^^

      Maunya umur berapa? hohoho, kan ceritanya cinta anak kekeke
      =)) , menguap ya? hahaha, kasian deh si Yujin gak kece lagi😄

      Betul sekali hohoho, cuma di prolog gak aku kasih nama🙂
      Mestinya sih di setiap part Yujin jadi tumbal😄
      Flashback? Iya bukan yaaaaaaa~, baca aja ya shot selanjutnya~

      Hah? Emang Chairman Will nya udah keluar ya? *lupa* #bacaulang
      Yunji kali? Younji mah main authornya sf3si =))
      Makasiiihh, kamu juga komennya kece😄

      Sabar yaaa, masih aku bagi bagi nih jatah munculnya ^^
      makasih banyak ya say udah mampir
      xoxo

  14. dgn sgt disayangkan..
    aq gak ngerti cerita di part ini tuh apa intinya… *nangis*

    ceritanya trmasuk ringan sih.. tp aq gak nangkep mksd ceritanya apa…
    emmm agak keganggu jg sm dialognya…

    ditunggu next partnya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s