The Laugh of Us

The Laugh of Us©

A Man’s side

Di antara gelak tawa anggotanya, pria itu tersenyum ikut bahagia. Melihat mereka berdebat, bercanda, saling memukul ringan, dan mengejek, baginya itu kesempurnaan dan pelega pikirannya ketika kelelahan menerpa fisiknya. Sambil sesekali ikut mengejek dan menambah bahan perdebatan, pria itu tergelak melepas rasa lelahnya. Agar lengkap keceriaan yang kini anggotanya rasakan.

Dia menaruh makanan kesukaannya yang masih bisa dimakan. Kenyang. Perutnya sudah minta berhenti dan di saat seperti ini dia beranjak ke keyboard di sudut ruang santai. Menekan tuts – tuts itu pelan, menyanyikan sebuah gubahan nada ceria yang mengandung emosi sebuah kerinduan hati. Anggotanya terdiam sebentar, lalu tersenyum, memahami emosi yang kini pria itu rasakan. Mereka ikut terhanyut tapi sedetik kemudian mereka biarkan perasaan itu, perasaan yang menguasai pria itu sekarang. Biar dia sendiri yang rasakan. Mereka kembali bergelut dengan aktivitas mereka sebelumnya.

Melodi – melodi itu berpacu dengan kilasan memori tentang dirinya dan seorang gadis . Tanpa gadis itu di 5 tahun terakhir ini, membuatnya kesepian. Ya, memang anggotanya tak pernah meninggalkannya. Tapi ada tempat di hatinya yang takkan bisa di isi oleh siapapun. Terlanjur di kuasai oleh gadis itu. Seorang gadis di teriknya sore. Yang membuat salah satu tempat di hatinya kosong tak berpenghuni.

Apakah masih ada kesempatan itu? Kesempatan untuk kembali mengenang perasaan itu. kesempatan untuk menikmati sore hanya berdua. Kesempatan untuk tertawa lepas di tengah ramainya taman sore itu. Dia sendiri tak pernah ke sana lagi, walaupun sekedar menikmati sore itu. Karena dia tidak mau jika bukan bersama gadis itu. Gadis yang ia rindukan leluconnya, gadis yang ia rindukan tawanya, gadis yang telah menguasai tempat khusus dihatinya.

A Girl’s Side

Sore itu masih ditemani teriknya matahari, sesekali hembusan angin menerpa wajah yang mengusir sedikit rasa panas. Ditemani dengan lelehan es krim cappucinonya, gadis itu mendelik ke beberapa arah memperhatikan orang – orang yang memenuhi ruang – ruang penuh bunga di taman kota itu. Tersenyum. Dia senang melihat semua itu. Melihat keluarga yang saling mengasihi. Tertawa, berlarian, menarik layang – layang, bermain sepeda, atau sepasang pria-wanita paruh baya  yang berkasih – kasih.

Dia taruh wadah es krimnya dan mengangkat gitarnya. Dia memetik gitarnya. Mengalunkan nada – nada kerinduan yang ceria. Dia yang menggubahnya sendiri. Dia menutup matanya. Sambil membayangkan bahwa hari ini, dia adalah orchestra dari kebahagiaan yang sekarang ada di hadapannya. Dan sebersit rasa menyelip diantara petikkannya. Rindu. Kepada seseorang yang dicintainya. Yang telah lama tak ditemuinya. Yang telah lama tak ia dengar suaranya. Yang telah lama tak ia lihat senyumnya. Yang telah lama tak ia lihat mata sabitnya.

Bagaimana mungkin semua itu bisa ia lalui dengan waktu yang cukup lama. 5 tahun ia tahan kerinduan itu. Ntah karena apa ia menahan perasaannya itu begitu lama. Membungkamnya ke sudut paling gelap di hatinya. Apa karena takut perasaan itu tak berbalas? Perasaan yang ternyata hanya dia yang rasakan.

Dan kini, dia kembali  ke tempat di mana ia dan pria itu, biasa berbagi bahagia dan kekesalan yang terjadi pada hari dan hidup mereka. Setelah lima tahun  berada jauh dari tanah kelahirannya. Sekarang ia kembali, untuk menikmati kebahagiaan yang selalu tercipta di tiap sudut taman ini. Dan untuk seorang pria yang amat sangat ia rindukan.

Bolehkah aku memilikinya?

Sebuah rasa yang membuatku bahagia

Sebuah rasa yang menandakan aku punya hati

Sebuah rasa yang kadang menyiksa

Sebuah rasa untukmu yang berbeda

 

Kini pria itu duduk di samping gadis yang dirindukannya. Menunggu gadis itu menoleh padanya. Menunggu dia yang sedang memetik gitar sambil mengatupkan kelopak matanya. Laki – laki itu tahu kebiasaan itu,  dan hal itu juga yang dirindukannya.

Gadis  itu mengakhiri petikkannya. Sesuatu menghentikannya, atau lebih tepatnya seseorang. Menaruh gitarnya dan menoleh ke samping kanannya.

Kadang ia lupa bagaimana caranya bernafas jika pria itu menatapnya, begitu juga di sore ini, di taman ini. Dan kadang juga lupa bagaimana caranya menyapa dan bicara.

Pada akhirnya hanya pelukan yang bisa menungkapkan kedua perasaan itu. Hanya pelukan yang bisa membuat kerinduan itu terkatakan.

Dan ungkapan cinta itu akhirnya terucapkan dan menjadi awal untuk cerita mereka.

Mungkin benar aku meragu

Mungkin benar aku takut

Dan mungkin benar aku menjauhimu

Tapi itu salah jika kau katakan aku membencimu

Karena kau tak pernah setitikpun menyakitiku

 

Copyright By : Megi Annisa

Date : 31 Desember 2011

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

 

 

19 thoughts on “The Laugh of Us”

  1. aku mikir klo bilang ‘anggotanya’ itu kayaknya leader yg ngomong deh..hehe..
    klo iya, onew oppa orangnya melankolis juga yah..wkwk

    aku suka sama tulisan yang di bold-italic itu, aku bangeet..haha..
    keep writing yaa 😀

  2. Wah, daebak. Pertamanya nggak nebak siapa-siapa, tapi pas ada kata “mata sabitnya” aku nebak itu Onew. Bener nggak? Haha

    Nice story. Keep writing ^^

  3. Ahh.. Dari awal feel-ku dah bilang kalo itu onew… Pas yeoja-nya bilang ‘mata sabit’ aku makin yakin..
    Tebakanku bener ga, chingu?
    Aha! Aku suka ga bahasamu..

  4. thank you commentnya.
    iya, itu leader cutenya shinee. haha.

    omong masih ada 4 lagi loh yg sejenis ini. klu sempat nanti aku kirim lagi.

    semoga suka.

  5. awalnya bingung siapa ‘namja’nya itu tapi langsung tahu begitu ada kata ‘mata sabit’ hehe xD

    simple dan romantis 🙂 ditunggu karya selanjutnya!

  6. So sweeeeeeett~~
    Mata bulan sabit? Onew yaaaa? Kkkkk aku kalo deskripsiin Onew juga suka pake ‘mata bulan sabit’hihihi
    Mau dong jadi cewenya ;;)hahahhahahaha

  7. onyuuuu…
    Jdi itu menceritakan si cewe itu pcar onyu sblum si onyu jdi artis?dua2nya sm2 trkna penyakit bernama rindu,wkwk.Slama lima tahun,wowowow.
    Trus ktemuan lagi..
    Nice story ^^

  8. Aku suka sama ff ini,soalnya posisi namja itu aku banget hahaha
    dapet bgt feel nya,menutupi rasa rindu dan sepinya dengan distraksi pada hal lain
    dae-bak!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s