My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 1

My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip One

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Other Cast :

  • Other SHINee members
  • Lee & Shin family

Genre : Romance, Family, Comedy (dikit), Life

Length : Continue

Rating : PG-13

Author : Mira~Hyuga

A/N : Ini sebenernya ff jaman mana yang teronggok di flashdisk. Tadinya gak mau dilanjutin, tapi pas dibaca lagi, idenya ternyata bermunculan. Kkk~ Jadi, mohon dimaklum ya kalo bahasanya masih abal dan lebay… ^^v FF ini pernah juga dipublish di  http://96fanfictions.wordpress.com dan http://dreamworld96.wordpress.com. Sekali-sekali maen ke sana, ya…! ^^ *promosi*

Gomawo buat admin yg udah publish… Gomawo buat reader yang udah nyempetin baca dan komen… 😀 Gomawo semuaaa… ^.^ Happy reading!! ^0^

>>><<<

PART 1

(Jibyung’s POV)

Kuparkirkan motorku di halaman rumah, melepas helm yang kukenakan sambil berjalan memasuki rumah. Huh~Seoul semakin panas saja. Tapi itu justru membuatku semakin bersemangat. Haha~ Tapi memang sebulan terakhir ini suasana hatiku selalu bagus, sih…! Ada sesuatu selain cuaca panas yang membuatku senang. “Aku pulaaang…!” seruku sesaat setelah membuka pintu rumah.

“Oh~Jibyung-ah, sudah pulang? Cepat ke sini!” eomma memanggilku dari ruang keluarga.

“Waeyo?” tanyaku sambil mendekatinya yang duduk di sofa panjang tepat di depan TV.

“Duduk dan lihatlah itu! Aigoo~eomma ddal beruntung sekali…!” serunya heboh dan terdengar tidak sabar. Aku hanya menurut dan duduk memperhatikan TV setelah sebelumnya melepas jaket kulit yang kukenakan. Dan kemudian aku tahu bahwa yang sedang muncul di layar kaca—dalam sebuah acara infotainment (live) yang sedang eomma tonton—adalah SHINee yang baru menyelesaikan konser mereka di Seoul, dan salah satu dari mereka adalah tunanganku sejak seminggu yang lalu (setelah menjalin hubungan sebagai kekasih selama dua tahun). Heeeey~pantas saja eomma seheboh ini…! (._____.) “Aigooo~! Dia hebat!” puji eomma heboh, dan kemudian menatapku antusias, “Iya ‘kan? Dia hebat, dear…!”

Aku hanya tersenyum simpul. Ya, eomma benar. Dia sangat hebat, aku akui itu, dan aku juga mengaguminya. Suara dan sikapnya, itu yang kusukai darinya. Dan apa yang dia sukai dariku? Jangan tanya padaku…! Aku juga tidak tahu. (.____.)v

“Sekarang aku malah berharap kita bertukar posisi…” celetuk eomma lagi dengan tatapan yang fokus ke arah TV di depannya.

Aku tertawa sambil berderap ke arah dapur dan mengambil sebotol kecil air dingin dari kulkas dan langsung meneguknya. Hahh~ hari ini benar-benar panas.

“Ya!!”

BYUURR!

“Uhuk~uhuk~ Ya!! Kau tidak lihat aku sedang minum?! Uhuk~ Mengagetkan orang… uhuk~ sembarangan!! Uhuk~uhuk~” seruku sambil terbatuk-batuk karena tersedak air yang sedang kuminum. Dan kembaranku inilah biangnya! Shin Jikyung! Untung saja aku bisa menahan diri untuk tidak melemparkan botol ini ke arahmu!

Dia menepuk punggungku pelan dengan wajah tanpa dosa, seperti yang dilakukannya untuk mengagetkanku tadi. Hanya saja tadi lebih keras dari ini. “Hey, aku kakakmu..” katanya, terdengar berusaha menahan tawa.

“Ya, dan aku lebih muda darimu tidak lebih dari 5 menit!! Uhuk~” seruku setengah kesal dan masih terbatuk.

Jikyung tertawa dan kemudian mencubit pipiku dengan gemas. “Mian, aku merasa terlalu senang dan terlalu semangat, dan kau pasti tahu itu karenamu juga. Hahaha~”

“Ikatan batin, huh?”

“Nah~itu kau tahu.. Oh ya, bagaimana hari ini? Apa banyak yang mengunjungi butik kita?”

Aku hanya mengangkat bahu dan kembali meneguk habis air yang masih tersisa dalam botol yang masih kupegang. Keluargaku (aku, Jikyung dan eomma) memang senang merancang busana. Makanya kami juga punya butik sendiri yang kami jaga secara bergiliran dan ya… lumayan terkenal.

“Aigoo~anakku beruntung..!!”

Baik aku maupun Jikyung sama-sama menoleh ke arah datangnya suara, kemudian saling menatap beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat bahu dengan bersamaan sambil tertawa kecil. Aah~walaupun usia eomma sudah kepala empat, dia selalu terlihat bergairah dimana pun dan kapan pun.

“Ya sudah, aku berangkat..” pamit Jikyung yang kemudian berjalan menjauh setelah mendapat anggukan dariku. Samar-samar masih bisa kudengar suaranya yang mungkin sengaja dikeraskan, “Jangan khawatir, eomma! Aku tidak sama dengan Jibyung yang senang kebut-kebutan kalau mengendarai motor…”

Aisshh~ apa maksudnya?! Sok tahu! Memangnya kapan dia melihatku kebut-kebutan mengendarai motor? (=3=)

“Aigoo~Jibyung-ah! Tampan~”

Aah~eomma mulai lagi, deh… Yang jadi tunangan orang itu aku atau dia, sih? Untung ini di rumah, kalau di depan umum, aku pasti sudah mengantongi mukaku di saku celana karena malu…

“Shiroyo! Aku capek..” ujarku, lalu naik ke lantai atas dan memasuki kamarku—ehm~ maksudku kamarku dan Jikyung—merebahkan tubuh di atas tempat tidur setelah sebelumnya membanting pintu dengan keras dan melempar jaket kulitku ke sembarang arah.

Untuk sejenak aku hanya memandang langit-langit kamarku—ralat, kamarku dan Jikyung—dengan perasaan tidak menentu. Namun kemudian bayangan’nya’ saat bernyanyi sambil tersenyum, muncul di benakku, membuatku melting sendiri. (-__-)a Dan kemudian kuangkat tangan kiriku untuk memperhatikan cincin yang melingkar di jariku ini.

Apakah benar, aku, orang biasa yang hanya seorang designer dan anak dari seorang designer ini, telah dua tahun menjadi kekasih—dan bahkan sekarang sampai bertunangan—dengan idola seterkenal Lee Jinki? Atau lebih terkenal dengan SHINee Onew? Terlalu kebetulan kurasa, sampai aku sempat mengira ini hanya mimpi di siang bolong. Ya, walaupun hubungan kami masih dirahasiakan dari masyarakat luas, mengingat posisi namja itu.

Tapi mau tidak mau aku harus bersyukur karena Tuhan sudah memilihkanku jalan hidup ini, yang pasti adalah yang terbaik untukku. Lagipula, seperti yang dikatakan eomma tadi, aku sudah termasuk orang yang beruntung. Sangat beruntung malah.. Selama hampir 21 tahun hidup di dunia ini, tidak pernah terpikir olehku, jalan hidupku akan seberuntung ini. Eh~mungkin tidak sepenuhnya beruntung, karena mungkin saja di depan sana Tuhan sudah mempersiapkan suatu rintangan yang akan menghadang jalan hidupku ini. Makanya, sekaranglah saatku untuk bersorak senang sebelum masalah itu datang.

“AAAAAAAA~AKU SENAAAAAAANG!!! Eommaaaaaaa…. aku senaaaaang! Eommaaaaa~ aku senaaaang..!! Aku-”

“NE~ NA DO…!!”

Aku tertawa kecil mendengar suara nyaring eomma yang sepertinya juga mendengar teriakanku barusan. Benar-benar berjiwa muda. (.____.)

Aku berguling-guling sejenak di atas tempat tidurku karena cuaca yang kurasa malah semakin panas, sebelum akhirnya tatapanku terfokus pada sesuatu yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Benda berukuran sedang berbentuk panda itu bergerak-gerak sendiri karena terkena cahaya matahari yang menyeruak masuk melalui jendela di kamarku ini. *tau ‘kan? Mainan yang bisa gerak-gerak kalo kena cahaya matahari?*

Aku memperhatikannya cukup lama dengan posisi tengkurap, terkadang tersenyum sendiri mengingat bagaimana aku bisa mempunyai benda ini. Sebenarnya benda ini pemberian Dubu Sangtae—begitu aku memanggilnya—sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-20.

(Flashback)

Kuletakkan kedua tanganku di depan wajahku, untuk menurutinya agar aku menutup mataku. “Aku siap!” ujarku bersemangat.

“Apanya yang siap? Kau masih bisa melihat dari sela-sela jarimu itu, pabo!” Onew memukul jari-jari tanganku yang memang sengaja kurenggangkan agar tetap bisa melihat apa yang akan diberikannya padaku.

“Memangnya tidak boleh?”

“Andwae!!” serunya, membuatku sedikit terlonjak dan segera merapatkan jari-jariku.

Namun aku sempat membalas kara-katanya sambil menggembungkan pipiku, “Di sini aku yang berulang tahun, Dubu…” Kudengar dia mendengus sejenak sebelum kemudian menuntunku berjalan sedikit. “Sudah belum?” tanyaku.

“Diamlah! Kau ini cerewet sekali…”

“Kau ini kenapa, sih? Mengomeliku terus sejak tadi…”

“Selesai! Sekarang buka matamu…!” ujarnya kemudian setelah diam beberapa saat. Aku menurunkan kedua tanganku dari wajah, dan menemukan Onew sudah berada di depanku, menyerahkan benda itu—yang tengah bergerak-gerak di bawah sinar matahari, benda menyerupai panda yang sedang memegang papan kayu bertuliskan ‘I Love U’ di depannya.

“Ige mwoya?” tanyaku sambil menerimanya.

“Kau bisa lihat sendiri…”

“Lebih mirip mainan.” Komentarku datar sambil menggerak-gerakkan benda itu.

“Aku memilihnya karena kau cocok dengan benda-benda seperti itu.”

Mendengar perkataannya sedatar itu membuatku memelototinya dan memukul lengannya berkali-kali, “MWORAGO??! Kau kira aku masih anak-anak, hah?!”

Sambil tertawa, Onew menahan kepalaku dengan tangannya, membuatku tidak bisa memukulnya lagi karena tidak sampai (.___.) “Melihat benda itu, aku jadi ingat padamu.” Katanya dengan tetap menahan kepalaku.

Aku menghentikan seranganku dan malah menekankan kepalaku ke tangannya.

“Panda itu mirip denganmu. Makanya aku memilihnya.”

“YA!!! DUBU PABO! KAU HARUS MATI!!”

“Hahaha~”

(Flashback end)

Kubenamkan wajahku yang terasa panas di atas bantal, menjerit beberapa kali, namun tentu tidak terdengar keras karena teredam bantal ini, “Justru kau yang terlihat seperti panda!!”

(End POV)

>>><<<

(Jikyung’s POV)

DRRT~ DRRRRTT~

“Oh~ jamkkanmanyo…!” ujarku pada salah satu pelanggan di hadapanku sebelum mengangkat telepon yang masuk ke handphone’ku. Pelanggan itu mengangguk dan aku beranjak agak menjauhinya, “Yeoboseyo?”

“Ne, Jikyung-ah…” balas suara di seberang.

“Oh~ Onew… Waeyo?” ujarku dengan suara rendah, berjaga-jaga kalau-kalau ada yang mendengar.

“Kau sedang sibuk?”

Aku melirik sekilas ke arah para pelanggan yang sedang berkeliling melihat-lihat koleksi butik kami ini, “Oh? Ne, lumayan. Hehe~”

“Ehm~ apa malam ini ada acara?” tanyanya lagi.

Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat kalau-kalau hari ini ada janji yang kulupakan (aku agak pelupa =,=). Tapi sepertinya tidak ada. “Aniyo. Waeyo?”

“Malam ini… ibuku mengundang kalian makan malam di rumah kami.”

“Ah~ jinjja?” Seorang pelanggan lagi masuk ketika aku mengatakan kalimat ini. Aku yang memang berdiri di dekat pintu masuk segera membungkuk untuk memberinya salam selamat datang—setelah sebelumnya menjauhkan handphone dari telingaku. “Keundae… sepertinya aku masih sibuk nanti malam.” Ucapku lagi dengan nada semenyesal-menyesalnya.

“Keurae? Ah~ sayang sekali.” Onew mendesah kecewa, membuatku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

“Tapi aku akan usahakan hadir.” Ujarku akhirnya, kali ini dengan nada semeyakinkan mungkin.

“Ne, johta! Kalau begitu aku akan—”

Perkataan Onew terputus dengan tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahiku dengan heran dan mencoba memanggilnya, “Yeoboseyo? Onew?”

Tidak ada jawaban.

“Yeoboseyo? Yeobose—“ Aku langsung terdiam begitu melihat layar LG Cooky’ku ini. Ternyata baterainya habis (-___-“) “—Hah! Jinjja paboji.” Aku menepuk keningku dengan agak keras dan kemudian memasukkan handphone’ku lagi ke dalam saku celana, sebelum akhirnya kembali melayani para pelanggan yang sudah menunggu itu.

Sebenarnya aku tidak sendiri. Ada dua orang yeoja yang menawarkan jasa mereka untuk membantuku. Sebenarnya ada empat orang. Hanya saja yang dua orang lagi bekerja setiap siang untuk membantu Jibyung. Ya, bisa dibilang mereka memiliki majikan masing-masing dalam satu tempat. (.___.)

Sore ini benar-benar banyak pelanggan. Ah~ sepertinya aku memang tidak bisa ikut makan malam di rumah keluarga Lee. Aku akan meminjam handphone Suzy dan memberitahukan eomma (karena hanya nomor handphone eomma yang aku ingat -___-).

(End POV)

>>><<<

(Jibyung’s POV)

Aku terbangun oleh suara ringtone handphoneku yang sialnya terletak tepat di bawah telingaku. (Kurasa aku tidak sengaja menindihnya dengan kepalaku saat ketiduran tadi=o=a)

Kuperhatikan layar handphoneku yang masih berkelap-kelip ceria(?) itu. Dubu Sangtae? Ah~ sebentar…!

“Byung-nim! Angkat telfonku cepaaat!! Ini penting sekaliiii! Cepat angkat! Angkat cepat! Cepat, cepat, cepaaaaat!!”

Tahu suara apa itu? Kalau tidak salah suara ringtone handphoneku jika Onew menelfon. Eh? Onew?! O.o Ah~ aku baru sadar dia baru menelfonku lagi sejak tiga hari yang lalu.

“BYUNG-NIIIM!”

Mendengar itu, aku segera mengambil LG Cooky itu dan mendekatkannya ke telingaku, “Ne?” ucapku singkat. Kurasa tidak perlu lagi menyapanya di telephone dengan kata ‘yeoboseyo’. Itu terlalu formal. (.___.)v

“YA! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?! ANGKAT TELFON SAJA LAMA SEKALI!!”

Refleks kujauhkan speaker handphone dari telingaku, dan akibatnya pundakku malah terasa sakit. Ah~ pasti karena posisi tidurku yang salah tadi. “Apa kau juga harus teriak-teriak begitu?” balasku sambil menelentangkan tubuhku yang semula tengkurap.

“Kau dimana sekarang?” dia malah balik bertanya.

“Di rumah.”

“Tidak kerja?”

“Tidak, hari ini giliranku sudah habis.”

“Oh~ Ya! Kau tidak tanya kenapa aku menelfonmu, dimana aku dan apa yang sedang kulakukan?”

“Baiklah. Kenapa kau menelfonku? Dimana kau sekarang? Bersama siapa?”

“Hahaha~”

“Kenapa malah tertawa?”

Sejenak kudengar dia menghela napas, dan kemudian bicara lagi, “Sudahlah. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama keluargaku.”

“Kapan?”

“Tahun depan! Ya malam ini, lah! Gimana, sih? Bisa ‘kan? Aku juga sudah mengajak eomma dan kakakmu.”

Aku terdiam sebentar, menatap jam dinding di kamarku. 05.24 pm. “Ah~ ne.” ucapku akhirnya.

“Johta~! Bersiaplah! Aku akan menjemputmu jam 7 nanti.”

“Oke.”

“Dandan yang cantik, Byung-nim! Ibuku lebih suka penampilanmu yang anggun, loh…”

“He? T-tapi aku-”

PIP!

Eeeergh~ DUBU SANGTAE! Aku belum selesai bicara, pabo! Aisshh~ anggun?! Penampilan YANG anggun? Memang biasanya penampilanku tidak anggun?! Ck~ menyebalkan!

>>><<<

“Jibyung-ah… Sudah siap belum? Lama sekali…” seruan eomma terdengar dari depan pintu kamarku. Aku mencibir sedikit dan mengambil tas tanganku, kemudian berjalan keluar.

“Kajja, eomma. Aku sudah siap…” ucapku padanya.

Eomma terlihat menatapku dengan mata membulat dan mulut yang sedikit terbuka, “Aigoo~! Neomu yeppeo…!” pekiknya.

“Eomma berlebihan sekali hari ini.” komentarku dengan nada datar dan membetulkan letak shal yang kupakai.

“Gwaenchanha.” Sahutnya singkat, lalu menggandeng tanganku dan kami turun dengan beriringan ke lantai bawah.

“Eomma, apa Jikyung tidak ikut?” tanyaku saat eomma menutup pintu rumah.

“Aniyo. Dia sedang sibuk di butik dan hanya menitipkan salam pada keluarga Jinki.”

“Ah~ arasso.”

Lalu kami berjalan melewati pekarangan, dan tepat ketika kami keluar dari gerbang rumah, sebuah mobil porsche hitam berhenti tepat di depan kami. Onew keluar dari mobil itu dengan senyumannya yang terus tersungging, “Annyeong haseyo, eommonim..” sapanya sambil membungkuk ke arah eomma, dan kemudian menatapku sebentar sembari mengangguk-angguk tak jelas, entah apa maksudnya. (-____-)

“Kalkkeyo?” katanya lagi sambil membukakan pintu mobil di bagian belakang. “Eommeoni, silahkan masuk..”

“Gomawoyo…” ujar eomma, membalas senyuman Jinki yang tidak hilang sejak tadi. Aku hendak mengikuti eomma untuk masuk dan juga duduk di kursi penumpang, ketika eomma berujar, “Sayang, kau mau membuat Jinki terlihat seperti supir? Kau duduk di depan…!”

“Keuraeyo…” Onew mengangguk-angguk sembari menarik lenganku untuk sedikit mundur, dan lalu dia menutup pintu mobil itu. Aku hanya bisa mencebikkan bibirku saat Onew menggiringku(?) ke sisi lain mobil dan membukakan pintu untukku.

“Lebih baik aku mengendarai motorku…” gumamku, yang ternyata cukup keras dan terdengar oleh namja sipit ini.

Kurasakan tangan Onew menyentuh puncak kepalaku lembut, namun kemudian menurunkan tangannya itu ke bahuku dan mendorongku untuk segera masuk.

“Aissh~ ya!” pekikku pelan, dan Onew membalasnya dengan menjulurkan lidahnya padaku sambil tersenyum jahil. Dia berjalan kembali ke sisi kiri mobil dan duduk di belakang kemudi. Tidak lama kemudian, mobil melaju di bawah kendalinya.

“Eommoni, Jikyung tidak ikut?” tanya Onew setelah beberapa menit kami di perjalanan.

“Ani. Dia masih sibuk, dan memintaku menyampaikan permintaan maaf padamu dan keluargamu.” Jawab eomma dengan suara pelan.

“Ah~ sayang sekali.” Gumam Jinki pelan juga.

Aku menatapnya yang terlihat kecewa sambil berucap singkat, “Ne, sayang sekali.”

>>><<<

Sesampainya di rumah keluarga Lee, ibu Onew langsung menyambut kami dengan ramah sekali. Kami mengobrol sebentar dan kemudian mulai menyantap makan malam yang sudah terhidang sambil sedikit berbincang-bincang lagi. Hingga sampai waktunya dessert dihidangkan, nyonya Lee—atau aku memanggilnya eommonim—berkata, “Kami sudah membincangkan ini sebelumnya.” Beliau melirik abonim yang duduk di sampingnya.

Abonim mengangguk, lalu melanjutkan, “Kami rasa… lebih baik pernikahannya di percepat saja.”

“Ne?!” seruku dan Onew hampir bersamaan. Aigoo~ hampir saja aku tersedak ludahku sendiri. Onew menatapku dengan ekspresi masih terkejut, aku menatap eomma dengan ekspresi yang sama, eomma menatap eommonim dengan ekspresi yang tidak beda, dan eommonim serta abonim menatap kami dengan… senyum manis di wajah mereka.

Kami terdiam sebentar, hingga akhirnya aku refleks mengangkat sebelah tanganku *berasa di kelas dah=,=* kemudian berkata, “Keundae, aku dan Dubu… ah~ maksudku Onew, maksudku Jinki, baru saja satu bulan yang lalu bertunangan. Apakah tidak terlalu cepat, abonim?”

“Waeyo? Bukankah lebih baik? Kalian sudah saling mengenal satu sama lain. Hubungan kalian juga baik-baik saja. Kalian juga sudah dewasa, sudah cukup umur dan pantas untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tunggu apa lagi?” Kata abonim lagi.

Onew menatapku lagi, namun satu detik kemudian memalingkan wajahnya untuk kemudian meneguk air minumnya. Aku mendengus kecil dan menatap eomma yang ternyata juga sedang menatap kami.

“Aku… setuju saja, asalkan Jibyung dan Jinki juga setuju.” Ujar eomma sambil tersenyum, sukses membuat kedua bahuku merosot.

“Aku setuju.”

“Mwo?!” seruku, dengan cepat memutar kepala ke arah Onew yang sedang tersenyum-lebar-penuh-arti padaku.

“4:1. Eotteokhae?” tanya eommonim bersemangat sambil menatapku dan tersenyum penuh arti (juga).

IGE MWOYA?!

>>><<<

“Hoaaahm~ aku masuk duluan, ya…” Eomma menguap sembari berjalan ke dalam rumah, meninggalkanku yang masih berdiri di ambang pintu, berhadapan dengan Onew. Cish~ aku tahu eomma sengaja (=__=).

“Jikyung belum pulang, ya?” tanya Onew sambil menatap ke dalam rumah melalui bahuku. Aku mengikuti tatapannya dan menggeleng pelan sambil menunduk. “Ya~ kau jelek sekali! Kenapa wajahmu kusut begitu, calon istriku?” ucap Onew lagi dengan nada mengejek yang menyebalkan.

Aku menghembuskan napas sebentar dan membuka mulut, “Ya! Kau tidak merasa ini terlalu cepat untuk kita? Kita bahkan baru sebulan yang lalu bertunangan, hubungan kita saja belum menginjak tiga tahun.” Ujarku agak ragu, sembari menggaruk pipiku yang tidak gatal, takut dia tersinggung.

“Wae?” tanyanya sambil mengangkat daguku dengan punggung tangannya agar mendongak menatapnya. “Kau tidak senang, ya?”

“Ani… bukan begitu. Keunyang… apakah tidak akan ada apa-apa dengan karirmu nantinya?”

“Kau tidak dengar apa yang eomma katakan tadi? Urusan itu, mereka yang akan mengurusnya.”

“Tapi aku takut…”

“Yaissh~ takut untuk apa? Kau ini!” Onew menyentil pelan dahiku. Ah~ benar juga. Sebenarnya apa yang aku takutkan? Bukannya dengan menikah, kami bisa lebih sering bersama?

Onew kemudian memutar tubuhku agar berbalik dan mendorongku masuk ke dalam rumah, “Sudahlah, masuk sana! Udaranya mulai dingin, lagipula aku harus pergi lagi sekarang.” Katanya memerintah.

“Arasso. Annyeong, Dubu-ya…!” aku melambaikan tangan sambil bersiap menutup pintu. Dia balas melambai dan memberikan flying kiss sekali, yang langsung kubalas juga (^///^).

Aku menunggu sampai mobilnya menghilang dari jangkauan pandanganku, sebelum akhirnya menutup pintu rumah ini dan segera naik ke kamarku.

(End POV)

>>><<<

(Onew POV)

Aku mulai menstarter mobil dan melirik lagi rumah keluarga Shin sebelum kemudian meluncur membelah jalanan yang lumayan sepi ini. Manager hyung sudah berkali-kali mengontakku untuk segera bersiap-siap untuk scheduleku selanjutnya di malam ini.

Tapi saat aku melewati butik milik keluarga Jibyung, aku melihat Jikyung baru saja bersiap menutup butiknya. Aku benar-benar merasa melihat Jibyung lagi, mereka benar-benar hampir tidak bisa dibedakan. Mulai dari postur tubuh, gaya bicara, gaya rambut dan yang pasti wajah. Aku bahkan pernah salah orang saat hendak menjemput Jibyung kencan (-___-).

Selain itu, sebenarnya perasaan yang muncul saat aku bersama Jikyung tidak berbeda dengan perasaanku saat bersama Jibyung. Ini aneh, karena pasalnya Jikyung-lah yang membuatku lebih berdebar. Aku tidak tahu kenapa, dan aku mencoba untuk tidak mengindahkan hal itu, karena yeojachinguku—mungkin sekarang calon istriku—adalah Jibyung, bukan Jikyung.

Kini Jikyung mulai berjalan menjauh dari butiknya itu dan menuju halte bus. Dia memang lebih senang naik kendaraan umum, berbeda dengan Jibyung yang lebih senang dengan motornya.

Aku menimbang-nimbang sebentar, sebelum akhirnya berhenti di bahu jalan di dekat Jikyung berjalan dan memanggilnya, “Jikyung-ah!”

“Oh~ annyeong!” sapanya riang.

“Pulang sekarang?”

“Ne.” dia mengangguk kecil.

“Bagaimana kalau kuantar? Kau tidak ikut makan malam tadi. Jadi anggap saja ini balasannya. Lagipula bahaya untuk perempuan sendirian malam-malam begini.” ujarku begitu saja. Dia terlihat berpikir sebentar, lalu mengangguk dan berjalan memutar, duduk di kursi penumpang di sampingku. Entah kenapa aku merasa senang.

Dia terlihat bingung saat aku tidak segera melajukan mobil ini, melainkan malah memandanginya, dengan intens. Aku segera tersadar dan cepat-cepat menyunggingkan senyum lebar, “Kau melupakan sesuatu, Jikyung-ah.” ujarku saat menyadari sesuatu itu.

“Mwonde?” tanyanya semakin bingung.

“Apa perlu aku yang pasangkan?” aku mendekatinya, mengulurkan tangan kananku ke arahnya. Ah~ tepatnya ke arah seat belt di dekatnya, hanya saja kulit tanganku sedikit menyenggol dagunya.

“Oh~ ne. Tidak usah, biar aku sendiri saja.” Katanya cepat-cepat. Spontan aku menjauhkan tanganku lagi dan kembali menegakkan dudukku, tidak lupa sambil memberikan senyuman padanya yang terlihat kebingungan. Dan aku mulai menginjak pedal gas, memutar arah untuk kembali ke rumah keluarga Shin, tidak mempedulikan manager hyung yang sepertinya mulai tidak sabar.

(End POV)

>>><<<

(Jikyung’s POV)

…A month later, 10.47 pm…

Aku menuangkan air putih hangat ke dalam dua buah gelas untuk kemudian membawanya ke dalam kamarku dan Jibyung.

“Oh~ jinjja?” suara pelan Jibyung terdengar saat aku membuka pintu kamar dan masuk. Aku tersenyum lebar melihatnya yang berbaring menyamping di atas tempat tidur. Pasti dia sedang berbicara dengan calon suaminya di telfon. Ckckck~ “Aa~ ne, ppajyo.” Pelannya lagi.

Aku meletakkan gelas untuk Jibyung di meja samping tempat tidur, dan meneguk habis milikku, tanpa melepas tatapanku dari saudara kembarku itu. Melihat raut wajahnya sebahagia itu, aku juga jadi ikut bahagia, tentu saja. Jalan hidupnya sangat mulus tanpa ada hambatan sama sekali. Aku merasa ikut senang saat dia memberitahuku bahwa mereka akan segera menikah.

“Ya! Neo jinjja! Dubu-Sangtae!” tiba-tiba dia berseru, membuatku memekik kaget dan hampir saja menjatuhkan gelas di tanganku. Jibyung menatapku dan nyengir lebar, lalu kembali melanjutkan kegiatannya, “Aniya! Tentu saja tidak. Berhenti mengatakan hal itu!”

Aku terkekeh kecil sembari meletakkan gelasku di atas meja, menghampiri tempat tidur Jibyung dan ikut berbaring di sampingnya, mengambil sebuah buku novel dari tangannya yang tidak memegang handphone, lalu  membacanya sekilas, dan kembali menutupnya. Aku memiringkan tubuhku, sehingga posisiku kini menghadap punggung Jibyung yang juga tidur meminggir.

“Araaa… Neo do… Ne… Jalja…” akhirnya dia mengakhiri percakapannya dan menjauhkan handphone yang sama dengan milikku itu dari telinganya.

Aku tersenyum simpul melihatnya tersenyum, kemudian melingkarkan tanganku di pinggangnya, “Haengbokhaesso?” pelanku.

Jibyung tertawa kecil sebentar, menghela napas lega dan menjawab, “Tentu saja.”

“Tidak terasa, besok kau sudah jadi nyonya Lee. Ya! Kau mendahului kakakmu.” Ujarku pura-pura merajuk. Dia terkekeh lagi.

“Ya! Aku juga tidak tahu kalau aku akan menikah secepat ini. Aku masih merasa ini terlalu cepat, tapi tidak bisa dipungkiri, aku senang.” Tuturnya dengan nada naik satu oktaf, dan kemudian melanjutkan dengan nada yang kembali turun ke semula, “Mian, Jikyung-ah…”

“Maaf apanya?” aku menepuk tangannya dengan agak keras, membuat dia menjerit tertahan, “Kalau kau senang, aku tidak bisa sedih, Jibyung-ah. Kau tahu itu. Lagipula jarak umur kita tidak jauh, kau sendiri yang selalu bilang kalau aku kakakmu, tidak lebih dari lima menit.” kataku setengah bercanda, namun tulus.

Dia tertawa pelan untuk ke sekian kalinya, lalu menghela napas lagi, “Sebenarnya aku ada sedikit gugup.” akunya hampir berbisik.

“Itu pasti, dan wajar. Onew juga pasti merasa gugup.” Tanggapku seraya mengangguk mengerti.

“Ne, dia juga mengatakannya padaku tadi.”

Aku mengangguk dan merubah posisiku menjadi duduk, mengambil gelas Jibyung yang masih berisi air dari meja dan menyerahkannya padanya, “Minumlah…”

“Gomawo.” Ujarnya seraya menerima gelas itu dan meminum isinya, sementara aku berjalan ke arah tempat tidurku yang berjarak beberapa meter dari letak tempat tidurnya, membaringkan tubuh lelahku dan menarik selimut hingga menutupi kaki sampai pinggangku.

Suasana senyap mulai menyeruak, hingga beberapa menit kemudian aku mendengar Jibyung mematikan lampu tidurnya—seperti biasa—karena dia kurang suka tidur dengan keadaan ruangan yang terang. Sedangkan aku membiarkan lampu tidur di dekatku terus menyala (yang terkadang dipadamkan Jibyung juga saat dia kebetulan terbangun saat tengah malam). Dan sebelum benar-benar memasuki alam bawah sadar, aku sempat mendengar perkataan Jibyung dengan samar-samar, “Jikyung-ah, aku takut.”

(End POV)

*

(Jibyung’s POV)

Setelah berkata seperti itu, aku menunggu respon Jikyung selama beberapa detik dengan pandangan ke arah langit-langit kamar. Namun aku tidak juga mendengar suaranya, hingga akhirnya aku menyimpulkan sendiri bahwa Jikyung sudah tidak bisa diajak berbicara lagi. Haaah~ padahal aku ingin mengatakan ini. Tapi tak apa, lah. Dia pasti lelah sesudah bekerja tadi.

Aku takut. Takut pernikahan kami memang terlalu cepat dilaksanakan dan membuat berbagai masalah berpeluang besar memasuki kehidupan rumah tangga kami nanti. Aku takut belum dewasa, takut tidak bisa melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan. Ah~ terlalu banyak takut yang kurasakan. Tenanglah, Jibyung. Semuanya akan baik-baik saja. Semua akan terasa membahagiakan mulai besok.

>>><<<

Pernikahan kami dilaksanakan secara tertutup di salah satu gereja yang berada di Seoul dan letaknya lumayan jauh dari lingkungan yang bisa dikatakan ‘tidak aman untuk Onew’, atau lebih ringannya tidak ada wartawan yang berkeliaran (.__.). Tamu undangan pun hanya kerabat dari kedua pihak dan member SHINee sendiri yang dianggap bisa merahasiakan hal ini dari publik.

Tanpa sadar aku menahan napas saat abonim menuntunku hingga ke altar, dimana Onew sudah menunggu dengan senyuman bahagia sekaligus gugup terpancar jelas di wajahnya. Dia tampak tampan dan gagah dalam balutan tuxedo putih yang kudesign sendiri beberapa waktu lalu itu. Kemudian mataku kembali tertuju pada wajahnya yang masih dihiasi senyum. Ah~ eomma-ya… Nan michyeosseo! (>//<)

Onew mengulurkan tangan kanannya saat aku sudah sampai di depannya. Aku pun meletakkan telapak tanganku di atas telapak tangannya yang dingin, dan dia pun menarikku berdiri di atas altar. Suasana sunyi dan khidmat membuat jantungku berdebar lebih cepat lagi. Aku semakin gugup. Seorang pastur sudah berdiri menghadapi kami. Wajah ramahnya paling tidak bisa membuatku sedikit lebih tenang.

“Lee Jinki, apa kau bersedia menerima Shin Jibyung sebagai istrimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?” ucap pastur itu dengan serius. Saking seriusnya, aku bisa melihat kerutan di wajahnya semakin bertambah banyak (.___.)v.

“Ya, aku bersedia.” Jawab Onew dengan pelan, mungkin masih gugup. Namun aku bisa melihatnya tersenyum dari sudut mataku.

“Shin Jibyung…”

Ah! Sekarang giliranku!

“…apa kau bersedia menerima Lee Jinki sebagai suamimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?”

Aku menghembuskan napas dengan pelan dan kemudian menjawab, “Ya, aku bersedia.” Tidak terlalu keras, sih. Tapi sepertinya lebih keras dari Onew.

“Pakaikan cincin pernikahan pada jari pasanganmu.”

Lagi-lagi aku menghembuskan napasku, sedangkan Onew menarik tangan kiriku dan memasangkan cincin pernikahan kami di jari manisku. Dan saat giliranku memasangkan cincin satunya lagi di jarinya, aku bisa melihat Onew menatapku dan tersenyum penuh arti.

Aku menatapnya tajam dan menggerakkan bibirku, mengatakan ‘Mwoya?’ tanpa suara.

“Sekarang kau boleh mencium pasanganmu.” Suara pastur itu terdengar lagi.

(.___.) J-ja-jamkkanmm… mati kau, Shin Jibyung! (O.o)

“Kisseu…” Onew berbisik, suaranya mungkin hanya bisa terdengar olehku dan dia sendiri. Dan demi apa senyumannya jadi terlihat menyebalkan begitu?!

“Bolehkah mencium pasanganmu?” pastur itu mengulangi perkataannya lagi (yang entah sejak kapan juga jadi terkesan menyebalkan di telingaku).

Onew mulai memegang daguku dan mendekatkan wajahnya seiring aku memundurkan kepalaku dengan perlahan, ragu. Bi-bisakah… tidak ada scene ini? Di sini banyak orang, aku malu… (>//<). Mereka bahkan sudah terdengar cekikikan saat aku terus memundurkan kepalaku.

Aku menoleh sedikit menatap Jikyung yang duduk di barisan kursi paling depan. Anak itu malah mengangkat alisnya, seolah mengatakan ‘tunggu apa lagi?’

“Jangan bertingkah memalukan, Byung-nim. Pernikahan ini membuatmu lebih sangtae dariku, ya?” bisik Onew lagi, yang sepertinya sembari mengatupkan rahangnya dengan kesal.

Pernikahan. Ah~ benar juga. Dia sudah jadi suamiku mulai sekarang. Kenapa aku malah ragu begini?

Aku menelan ludah sekali, lalu dengan perlahan mendekatkan wajahku padanya sambil menutup kedua mataku. Hingga beberapa detik kemudian, aku merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirku dengan lembut.

Sebenarnya ini first kiss-ku, anyway…

(End POV)

>>><<<

(Onew’s POV)

“Cukkahae!”

Aku menjabat tangan Jonghyun dan memekik saat dia menonjok perutku beberapa kali. Dia tertawa kecil, dan kemudian memelukku sekilas.

“Gomawo, Jjong.” Ujarku.

“Hyung!” giliran Taemin yang berhamburan memelukku.

“Taemin-ah…” gumamku, balas memeluknya.

“Chukkahae, hyung!”

“Gomawo…”

“Selamat menempuh hidup baru, hyung.”

“Gomawo, Minho-ya.”

“Yaaah~ Chukkahae. Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal ini. Kau menikah di usia semuda ini, hyung.”

“Nado.” Aku merespon perkataan Key sembari memeluknya sekilas.

“Mana ucapan selamat untukku?” sebuah suara menginterupsi dari samping kiriku. Aku menoleh dan mendapati Jibyung mendelik ke arah kami.

“Noona!” Taemin tertawa dan kembali menghambur memeluk Jibyung, diikuti oleh yang lain. Dan sebaliknya, Jikyung yang barusan memberikan selamat pada Jibyung sekarang beralih padaku.

“Oneeeeew! Yaaa~ adik ipaaar…” katanya sambil tertawa dan memelukku.

Aku turut tertawa sambil memeluknya juga, “Kakak ipaaaar…”

Aneh. Aku masih merasakan hal yang sama saat dekat dengannya. Jantungku tetap berdebar dengan lebih kencang. Onew, kau sudah terikat janji pernikahan sekarang. Dengan Shin Jibyung. Ingat itu!

“Aigoo~ kalian… aku bahkan masih tidak percaya kalian sudah menikah.” Dia tersenyum, namun air mata menetes dengan mulus di kedua pipi putihnya. Mungkin terharu, atau dia sedih karena aku bersama Jibyung? Ah~ Jinki, kau ngelantur lagi.

Dan apa yang kulakukan ini?! Menghapus air matanya dengan ibu jariku?! “Kenapa menangis?” dan perkataanku meluncur begitu saja tanpa bisa kukontrol.

Jikyung menepis pelan tanganku dari wajahnya, dan sambil tersenyum dia menunjuk Jibyung, “Karena dia juga menangis.” Katanya dengan santai.

Aku mengikuti arah yang ditunjuknya, dan benar saja. Jibyung juga menangis di hadapan dongsaeng-dongsaengku. Aigoo~ apakah kembar memang seperti ini? Apakah kalau Jibyung melompat ke jurang, Jikyung juga akan melakukan hal yang sama? (-___-)

Jikyung mendorong pelan punggungku agar mendekat ke arah kembarannya itu. Aku menurut dan pura-pura menerobos di antara Key dan Minho, “Pangeranmu telah tiba, Tuan Putri.”  Godaku, mengulurkan satu tanganku pada Jibyung.

“Mwohaniya?!” sembur Jibyung galak, tapi kemudian menghambur ke pelukanku, “Dubu-yaaa…” dia terisak pelan.

“Ya! Tidak ada yang harus ditangisi di sini, Jibyung-ah…” komentar Key datar, sembari memperhatikan Taemin yang sedang merekam semuanya dengan handycam.

“Ara…” tukas Jibyung dengan nada sebal, masih dalam posisi memelukku. Aku tertawa begitu pun yang lainnya, termasuk Jikyung. Jujur, aku lebih suka mendengar Jikyung tertawa.

***

Walaupun hanya pernikahan sederhana, diam-diam dan tertutup, setidaknya ini juga momen berharga, kan? Jadi tidak ada salahnya diabadikan.

Jonghyun berlari kecil ke tempat kami berkumpul untuk berfoto bersama—setelah mengatur self timer kameranya. Aku merangkulkan masing-masing tanganku ke bahu Jibyung dan Jikyung.

“Kimchi~!”

Lampu blitz kamera tersebut menyala sekali, menandakan bahwa foto selesai diambil. Jonghyun kembali beranjak untuk melihat hasil fotonya, lalu tiba-tiba berdecak kurang puas, “Di sini… yang mana pengantin dan mana yang bukan hampir tidak bisa dibedakan. Onew hyung! Jibyung-ah! Kenapa pose kalian seperti itu sih?” protesnya, membuatku menggaruk kepala canggung.

“Hanbeon ddo! Tapi kali ini pengantinnya saja.” Celetuk eomma ringan.

“Eh?”

“Keurae! Pengantinnya saja.” Eommonim menimpali.

“Kami bersedia jadi backgroundnya, hyung!” kali ini Taemin, disambut dengan suara tawa yang lain, termasuk aku. Dan tanpa basa-basi lagi, aku menarik Jibyung untuk maju beberapa langkah. Tapi sebelum itu, aku sempat melirik Jikyung sejenak. Dia tersenyum lebar tanpa lepas memperhatikan kami. Jikyung-ah, semoga setelah mengikat janji sehidup-semati dengan Jibyung, aku bisa menghilangkan perasaanku padamu. Aku hanya butuh waktu sedikit saja. Ya, semoga.

>>><<<

Kami merayakan pernikahan ini dengan makan malam bersama di rumahku. Barbeque party. Kekeke~ SHINee juga ikut merayakan. Cukup menyenangkan, kurasa. Tapi agak menyebalkan juga.

“Eh~ aduh… Siapa yang memotong dagingnya? Aissh~ kenapa apinya mati lagi?” kudengar eommonim bergumam kebingungan.

Sebagai menantu yang baik *eciee* aku menghampirinya dan menawarkan bantuan, “Perlu bantuan, eommonim?”

“Oh? Ah~ ne, ne. Tolong nyalakan apinya, ya!” titahnya halus. Aku menurut dan mulai melakukan apa yang dimintanya. Eommonim pergi entah kemana, dan Taemin yang sejak tadi mengikutiku kemanapun malah tetap anteng dengan handycamnya, “Taemin-ah, ada minat membantuku?” tanyaku datar.

“No, no. Ini harimu, jadi lakukan sendiri apa yang kau mau. Kau ‘kan pengantin baru.” Katanya tertawa, membuatku pura-pura turut tertawa, namun kemudian berseru keras, “Ya! Neo imma!”

“Hahaha~”

Setelah apinya kembali menyala, aku memanggil eommonim yang sepertinya sedang ada di dapur, “Eommonim, apinya sudah menyala lagi!”

“Aah~ Pengantin Baru! Sekalian panggangkan dagingnya, ya!?”

“Mwo?! Ah~ ne, eommonim.” Jawabku tak percaya sembari menatap dongsaeng-dongsaengku, Jikyung dan Jibyung yang entah sedang melakukan apa. “Excuse me! Adakah yang mau membantuku?”

“Jalhaebwa, pengantin baru~!” tanggap Key tanpa menoleh padaku. Mwoya ige? Yang pengantin baru, kan bukan aku saja! Aissh~

“Pengantin baru!” eomma menyembulkan kepalanya dari dalam dapur.

“Ne!” sahutku menahan kesal.

“Bukan kau.” Tukas eomma datar, yang membuatku malu juga senang. Kalau bukan aku berarti sekarang Jibyung. Kekeke~ akhirnya Jibyung juga mengalaminya. XD

“Ne, eommonim.” Sahut Jibyung.

“Bantu kami di dalam, ya!”

“Ah~ ne…” dia berjalan melewatiku. Aku menjulurkan lidahku ke arahnya, dan terkekeh pelan saat dia terlihat ragu untuk membalas. Tentu saja. Dia tidak akan membalas kalau ingin imagenya baik di depan eomma.

Tapi, “Ya! Tidak cocok pengantin baru seperti itu!” sergah eomma. Padaku. (T.T) Jibyung tertawa (menertawaiku) lalu masuk, dan aku mulai memanggang daging-daging di hadapanku yang jumlahnya cukup untuk membuat tanganku pegal, kurasa.

Beberapa saat kemudian…

“Jinki-ya!” eomma memanggilku lagi saat daging yang kupanggang sudah sekitar sepertiganya, untung ia tidak memanggilku dengan ‘pengantin baru’ lagi. Aku menoleh. “Bantu Jibyung di sini!”

“Tapi aku belum selesai dengan dagingnya, eomma.”

“Ah~ ppalli! Kalian ‘kan pengantin baru. Jadi—”

“Algyesso, algyesso.” Putusku, kemudian menghentikan kegiatan memanggangku dan memasuki dapur, mendapati Jibyung yang tengah mengolah ikan.

“Ada yang perlu kubantu?” tanyaku langsung.

“Eh? Ne! Ambilkan kain lap lagi, ya!” katanya ringan.

“Yang ini?”

“O, gomawo.”

Aku baru saja akan meninggalkan dapur saat mendengar Jibyung mengaduh pelan, “Waeirae?” tanyaku, menghampirinya lagi, dan langsung meraih tangannya yang berdarah di bagian jari tengah. “Omo!”

“Aigoo~!” eomma muncul dari pintu dapur dan menghampiri Jibyung, “…kau terluka. Cepat obati! Jinki-ya, kau urus ikannya, ya?!” titahnya padaku sembari menarik Jibyung entah kemana. Mungkin untuk mengobati lukanya.

Aku menghela napas berat. Apa yang salah dengan ‘pengantin baru’ ya? Kenapa harus aku lagi yang melakukannya?

Beberapa saat kemudian (lagi)…

“Sudah selesai?” eommonim menghampiriku yang masih serius dengan ikan-ikan ini.

“Sedikit lagi.” Jawabku pelan.

“Biar aku yang melakukan ini. Kau cuci bahan-bahan yang lain, ya!”

Hhaaaaaahh! (¬_¬’)

(Lagi) Beberapa saat kemudian…

“Pengantin baru! Tolong bereskan semuanya di meja makan, ya!” terdengar suara eomma (lagi) dari ruang makan.

“Aku atau Jibyung?!” tanyaku setengah berseru.

“Kalian berdua!”

Aku dan Jibyung bolak-balik mengambil peralatan makan dan teman-temannya(?) sementara yang lain—maksudku Jonghyun, Minho, Key, Taemin dan Jikyung—satu persatu masuk rumah dan dengan santainya langsung duduk di meja makan bersama orang tua kami yang sudah stand by duluan.

Jibyung menyikut pinggangku pelan, dan kami saling bertatapan dengan wajah teraniaya(?). Apa yang salah dengan ‘pengantin baru’?! Aigoo~ entah mereka sengaja atau tidak, yang pasti ini tega sekali… (╥.,╥)

>>><<<

Tepat setelah makan malam bersama selesai, aku dan member lain pamit untuk kembali bekerja. Orang tuaku dan keluarga Shin terlihat kecewa. Aku juga, sebenarnya. Ya, tapi apa boleh buat?

Jibyung mengantarku—kami—sampai ke pelataran rumah. Aku berbicara sebentar dengannya, sedangkan member lain langsung masuk ke dalam mobilku sembari berdehem atau bersiul dengan nada menyebalkan (-__-).

“Kalian menginap di sini?” tanyaku pada Jibyung tanpa mempedulikan dongsaeng-dongsaengku itu.

“Aniyo. Setelah membantu beres-beres di sini, kami akan langsung pulang.” Jawab Jibyung santai, dan cepat-cepat menambahkan saat melihatku menunjukkan ekspresi cemas, “Gwaenchana. Walaupun kami semua wanita, tapi aku yakin akan selamat sampai rumah.”

“Tentu saja harus selamat!” aku menjitak puncak kepalanya sehingga dia meringis kecil dan terdengar sorakan menyebalkan (lagi) dari 4 orang mengesalkan ini.

“Keureom… aku pergi, ya!” pamitku.

“Ne. Hati-hati!”

“Kisseu, hyung!” celetuk Key nyaring, “Ciuman perpisahan.”

“A-andwae—” Jibyung hendak protes, tapi langsung terputus saat aku merengkuh wajahnya dan mencium keningnya sekilas.

“Yaaaaa~” mereka bersorak lagi. Apapun asal kalian senang, my dongsaengs! Hahaha~

Jibyung terlihat susah payah menahan malu, dan aku dengan santainya melambaikan tangan padanya, juga pada Jikyung yang sejak tadi berdiri di ambang pintu rumahku, memperhatikan kami sambil tersenyum-senyum.

>>><<<

To Be Continued

Admin Note: Mohon maaf part 1-nya tertinggal karena memang part 1 ini kami terima belakangan ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 1”

  1. ohh pantes saya bingung..
    perasaan udh pernah baca yg part 2 nya,,trnyata yg part 1 emang baru dikirim toh..
    ^^

    1. kkk… iya, itu padahal aku kirimnya barengan kok. kayaknya ada kesalahan di emailnya ==” ckck
      maaf ya, kalau ngebingungin, maaf baru balas komennya, dan makasih udah baca 😀

  2. Huaaaaa
    Oneww gimana bisa dia lebih sesuatu sama jikyungg sedangkan dia suaminya jibyung. Nantii kalo istrinya tau gimanaaa???
    Lanjuut

  3. hweeeeeeeeeeeee..muuiiiaaappeeeehhh.
    kece kece,,,itu ank kmbar namanya mripp bner.
    kdng suka blibedd.

    lanjoood.

    1. muiiaakuuuh! *plakplak
      LOL xD

      iya, mirip bener, namanya aja cuma beda sehuruf, ckck ._. *toyor author* #eh
      maaf kalo bikin belibet ><
      terus makasih~

  4. Joha joha !! ;D

    Ciiee pengantin baru~~~ *sorakin onyu+jibyung bareng taem*

    kok kayaknya onyu punya rasa ama si jikyung ya ?? onyu kamu gak boleh ama suka jikyung ya !! Pokoknya onyu ama jibyung XD

    yep, next part lanjuttt ya ^0^
    Hwaiting !

  5. Ajaib ya kalo kembar…. Yang satu nangis, satunya lagi ikut nangis.__.
    Onew kok labil sih sama perasaannya? Ati-ati loh… Jangan mengecewakan pihak manapun wkwkwk

  6. ªkŮ belum baca Ɣªήğ part ini
    Soalnya dulu bacanya langsung part berapa ƍįıƭÛ lupa
    N jα̲̅ϑΐ penasaran
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ
    Walaupun udah †ªΰ endingnya Ŧǻρί pengen baca lagiii

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s