Touch Your Heart – Part 9

Title            : Touch Your Heart Part 9

Author         : tiara_jinki

Main cast     : Lee Taemin, Choi Yoona, Lee Jinki (Onew).

Other cast    : Kim Kibum (Key), Kim Hyo Min, Choi Minho, Lee Hyunji and others.

Length         : Sequel

Genre           : Romance, family

Rating          : PG

 

*Onew’s pov*

Aku terdiam, semuanya seperti tidak nyata untukku. Aku seperti berada dalam mimpi buruk yang tidak berkesudahan. Aku tahu, ini adalah kenyataan yang amat menyakitkan yang harus ku terima. Kenyataan yang tak ku duga akan sangat menyakitkan untukku. Ini sangat berat. Eomma, ku rasa aku tidak sanggup untuk menjalani hidup ini tanpamu.

Kepingan kenangan indah itu kini satu persatu mulai terputar. Mengingatkanku akan saat-saat indah itu. Di mana semuanya bahagia. Tidak ada air mata, yang ada hanya senyum dan gelak tawa.

*flashback*

“mulai saat ini aku adalah eomma-mu. Jadi, kau harus memanggilku eomma, arasseo?”kata Hyunji ahjumma yang kini menjadi eomma-ku. Aku tersenyum, suara lembutnya lah yang membuatku tersenyum. Aku sangat menyukai suaranya. Hyunji ahjumma, anni, maksudku eomma kini menatapku dengan senyumnya.

Ku anggukkan kepalaku, “ne, arraseo eomma”. Tangannya mengusap kepalaku, senyumku kian melebar. Saat pertama kali kami bertemu dia melakukan hal ini padaku. Mengusap kepalaku –yang entah mengapa membuatku terdiam saat itu.

Kini, dia menggenggam tanganku dengan erat. “Onew-ah, kini namamu menjadi Lee Jinki. Apa kau tidak keberatan?”tanyanya.

Lee Jinki. Bukan nama yang buruk. “joahaeyo.tapi eomma. Bisakah aku tetap memakai nama Onew?”.

“tentu saja”.

Satu minggu berada di tempat ini sangat menyenangkan. Eomma sering meluangkan waktunya denganku. Walaupun di malam hari setelah ia pulang kerja ia tetap menemaniku belajar atau menemaniku hingga tertidur. Dia selalu memasang senyumnya walaupun lelah. Aku menatap wajahnya yang terlihat lelah namun tetap cantik. Aku sungguh beruntung menjadi anaknya –walaupun anak adopsi.

Aku melepaskan tangannya dari tubuhku, ku selimuti tubuhnya dengan selimutku dan membenarkan posisinya. Aku berjanji akan selalu menyanyanginya. Eomma, gomawo.

“Jinki-ya, lain kali jika ada temanmu yang menjahilimu atau berbuat jahat padamu. Kau tidak boleh membalasnya apalagi memukulnya. Kau harus sabar dan ingat, perbuatan jahat tidak boleh di balas dengan kejahatan. Kau harus membalasnya dengan kebaikan”. Aku tertegun, ku kira eomma akan memarahiku. Tapi, dia malah mengusap kepalaku dan menasihatiku dengan lembut.

“arraseo?”.

Aku mengangguk, masih menatapnya dengan bingung. “nah, itu baru namanya anak eomma”.

Dia memelukku seakan aku baru saja menghilang. Memelukku dengan erat, membuatku terdiam. Hari ini saat di sekolah, ada seseorang yang menjahiliku dan karena kesal, aku memukulnya. Dan terjadilah perkelahian yang membuat eomma harus meninggalkan pekerjaannya untuk datang ke sekolahku.

Tanpa terasa air mataku menetes, aku tahu ini cengeng tapi saat ini aku ingin menangis. Menangis dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan.

“eomma, gwenchana. Lebih baik eomma kerja saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri”ujarku di saat eomma sedang menatapku dengan cemas.

“ya, kau sedang sakit seperti ini bagaimana bisa eomma meninggalkanmu? Sudahlah, eomma akan mengambil cuti. Yang harus kau lakukan adalah beristirahat”.

Saat ini aku sedang demam, perutku terasa mual dan kepalaku sangat pusing. Eomma merawatku sejak semalam dan ku rasa dia hanya tidur beberapa jam saja. Wajahnya terlihat sangat lelah namun dia masih saja merwatku dengan sabar.

Aku tidak sanggup melihat wajah lelah dan khawatir itu. Tapi, aku cukup senang karena dia mengkhawatirkanku, itu berarti eomma menyanyangiku. “apakah kau masih mual?”tanyanya dengan nada khawatir.

“anni “jawabku berbohong. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.

Dia menyipitkan matanya, mungkin untuk membuktikan jawabanku tadi. “aish, geotjimal. Kau tidak berbisa berbohong pada eomma, Jinki-ya”. Dia tersenyum dan menyubit hidungku.

“aya, appo eomma”. Cubitan itu cukup sakit, terlebih bagian yang di cubitnya adalah hidungku.

“karena itu, jangan berbohong pada eomma. Sudahlah, eomma akan mandi sebentar dan membuatkanmu bubur. Jangan bermain game”.

Sepertinya eomma membaca pikiranku  akan bermain game saat ia mandi walaupun aku sedang sakit, rasanya aku tidak bisa jauh-jauh dari playstation milikku.”hah, ne, eomma”.

“ingat yah tidak boleh bermain game atau apapun. Kau harus istirahat”. Dia membalikkan tubuhnya saat sampai di ambang pintu.

Aku menganggukkan kepalaku. “tenang saja. anak eomma ini tidak akan melawan perintahmu. Hehe”.

*end of flashback*

Jika mengingat itu, rasanya sangat menyakitkan. Karena, sekarang semuanya sudah berbeda. aku tidak bisa tertawa bersamanya. Melakukan hal yang menyenangkan dengannya. Menjaganya, membuatnya tersenyum, dan segala hal bersamanya. Semuanya tidak akan lagi bisa ku lakukan.

Air mataku tak habis-habisnya untuk terjatuh. Kepalaku tertunduk, seperti ada beban yang menimpa kepalaku. Semuanya terasa sulit, semuanya terasa berbeda tanpanya. Tidak ada lagi sosoknya yang akan mengkhawatirkanku jika aku sakit. Tak ada lagi dirinya yang memandangku dengan kasih dan senyumnya yang sangat indah. Tak ada lagi dirinya yang menyemangatiku untuk menjalani kehidupan ini. Dia…Eomma, kau telah pergi. Untuk selamanya.

Suaranya yang lembut tak bisa lagi ku dengar. Aku sangat mengenal suaranya, suaranya yang selalu terngiang di telingaku.

“Jinki-ya, sudah waktunya untuk tidur”.

“hei-hei, mencoba berbohong pada eomma lagi?”.

“aigo, lihat anak eomma saat ini. Sangat kotor dan bau. Cepat mandi!”.

“kau tahu Jinki-ya. Bagi eomma, bertemu dan merawatmu adalah suatu keajaiban yang datang di hidup eomma”.

“haha, apakah sekarang kau sedang merayu eomma? Jawabannya tetap sama Jinki. Tidak boleh!”.

“dia anakku. Aku sangat menyanyanginya. Walaupun kami tidak terikat darah tapi bagiku dia adalah separuh dari jiwaku. Jadi, jika dia tidak ada, sama saja seperti aku kehilangan sebagian dari jiwaku. Jadi, eonnie, eomma, appa, ku mohon anggaplah dia seperti kalian menganggap Jinki anakku yang telah tiada”.

“tenang saja, ada eomma di sini. Kau tidak perlu takut”.

“ya, Jinki-ya. Bukankah eomma sudah bilang untuk tidak tidur larut malam?”.

“yang harus kau ingat dari eomma adalah eomma sangat menyanyangimu dan itu takkan pernah berubah sampai kapanpun”.

“untuk membuatmu bahagia, eomma akan melakukan apapun asalkan senyum manismu itu tidak akan hilang”.

Eomma, terlalu banyak kenangan indah yang kau buat bersamaku. Kenangan indah itu kini begitu menyakitkan jika di ingat. Karena semua itu tidak pernah bisa ku lakukan lagi. kini kau pergi, rasanya seperti matahari menghilang begitu saja meninggalkan bumi dengan kegelapan. Seperti malam gelap tanpa bintang-bintang dan bulan.

“Onew-ah…”. Ini suara Key, terdengar bergetar. Aku menoleh ke arahnya dan mendapatinya sedang menatapku dengan air mata yang memupuk di sudut matanya.

“dia pergi Key…semuanya pergi… hah, dua orang yang begitu berarti meninggalkanku. Rasanya…begitu menyakitkan. Aku tak menduga akan seperti ini. Eomma, dia pergi untuk selamanya. Key…”. Aku mengalihkan pandanganku, yeah, semuanya pergi.

Dia memegang erat bahuku dan masih menatapku dengan senyum yang di paksakan. “kenapa kau berpikir begitu? Kau tidak menganggapku huh? Hei, masih ada aku, Taemin, Jonghyun, Eomma-ku, Yoona dan masih banyak lagi yang menyanyangimu. jadi..”. aku memotongnya, semuanya tidak semudah seperti dulu. Semuanya berbeda saat ini.

“aku tahu. Tapi, semuanya berbeda Key. Berbeda..”.

***

Hembusan angin malam menyapaku lalu pergi. Namun, dinginnya masih terasa olehku. Di sini cukup menyenangkan, setidaknya tidak ada yang menangis di tempat ini –ku rasa. Aku memejamkan mataku, menenangkan diriku dan menahan air mataku agar tidak terjatuh. “hah…ternyata kau di sini, oppa”. Suara itu, aku hanya ingin sendiri saat ini tapi dia datang.

Ku buka mataku dan menatapnya. Cukup senang dia datang tapi saat ini bukan waktu yang tepat. “hah…melelahkan. Kenapa kau ada di sini oppa? Kau bisa sakit oppa. Angin malam tidak terlalu bagus untukmu”. Dia duduk di sampingku dan menatapku.

Aku hanya bisa tersenyum tipis namun senyum itu tak bertahan lama. “kau sendiri, kenapa kau ke sini? Kau mencariku?”.

~end of Onew’s pov~

-Yoona’s pov-

Ternyata benar dia ada di sini. Setidaknya hatiku cukup lega melihatnya. “hah, ternyata kau ada di sini oppa”. Aku duduk di sampingnya dan menatap wajahnya yang terlihat murung. Dia tersenyum tipis padaku namun setelah itu senyumnya menghilang.

“hah…melelahkan. Kenapa kau ada di sini oppa? Kau bisa sakit oppa. Angin malam tidak terlalu bagus untukmu”, ucapku.

“kau sendiri, kenapa kau ke sini? Kau mencariku?”. Dia menoleh ke arahku, tatapannya yang selalu terlihat bahagia itu kini tak ku lihat.

“kalau aku jawab iya. Apa kau akan senang?”. Yeah, aku tahu, aku baru saja mengatakan hal yang bodoh dan tidak penting.

Dia tersenyum sekilas. “tentu. Karena masih ada yang mengkhawatirkanku. Itu berarti di dunia ini masih ada orang yang menyanyangiku”jawabnya dan menengadahkan kepalanya untuk menatap langit yang gelap tanpa bintang-bintang yang menemani sang bulan untuk menerangi malam yang gelap ini.

“tentu saja oppa. Orang sebaik dan menyenangkan seperti dirimu pasti banyak orang yang menyanyangimu”kataku dan ikut menatap langit yang entah mengapa membuatku tertarik di bandingkan dengan hal yang berada di sekelilingku saat ini.

“bagaimana denganmu? Apa kau menyanyangiku?”tanyanya dan kali ini dia menatapku. Tanpa senyum yang hangat itu.

“tentu saja. bagiku, oppa sudah seperti sahabat dan oppa-ku sendiri”jawabku tanpa nada ragu sedikitpun.

“geraeyo? Kalau begitu kau sudah seperti yeo-dongsaeng-ku sendiri. Aku berjanji, dari hari ini dan seterusnya aku akan menjagamu.”. Aku tersenyum mendengarnya, Onew oppa tersenyum juga namun senyum yang terukir tak seperti senyum yang biasa ku lihat. Aku mengerti, dia baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.

“jinja?”. Dan aku tahu betapa terpukulnya dia atas hal ini.

“ne”. Kali ini aku takut, takut jika dia akan berubah. Bukan seperti Onew oppa yang ku kenal lagi. Tapi, ku rasa itu tidak akan terjadi.

“oppa”. Panggilku, saat melihatnya sedang menatap lurus ke depan. Kosong.

“ne?”sahutnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku tahu, kesedihan yang di alaminya tidak akan mudah luntur begitu saja. Karena itu, aku ingin membantunya menghilangkan kesedihan itu. “karena kau menganggapku sebagai yeo-dongsaeng mu. Maukah kau lebih terbuka terhadapku? Menceritakan apa yang kau rasakan. Menceritakan masalah yang sedang kau alami. Aku…aku hanya ingin melihat oppa bahagia –tidak seperti ini”.

Dia terdiam, tidak berkata apa-apa. Tanpa menatapku, tanpa senyum itu. Hanya menatap lurus ke depan. Suasana menjadi hening, tidak ada satupun dari kami yang berbicara. Aku mengangkat kepalaku, kembali menatap langit.

Karena terlalu asyik menatap langit –yang padahal tidak begitu menarik. Aku merasakan jantungku berdetak dengan kencang saat ku rasakan hangatnya pelukan dari Onew oppa. Dia memelukku sangat erat, seperti tak mau kehilanganku. “aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ku lakukan”katanya, kini aku yang terdiam.

“cukup dengan menemaniku di saat-saat seperti ini. Kau sudah membuatku bahagia”lanjutnya.

Entah mengapa, di saat seperti ini, pikiranku kembali memikirkan Taemin. Yeah, namja itu. Namja yang beberapa hari –namun seperti setahun bagiku tidak berada di sini. Kapan namja itu kembali?. Aku tidak bisa membohonginya lagi, pelukan Onew oppa mengingatkanku pada kejadian sehari sebelum kepergiannya Di saat tubuhnya memelukku, di saat bibir kami bertemu. Yeah, Lee Taemin, aku merindukanmu.

***

*Taemin’s pov*

Onew hyung…

Onew hyung, bagaimana keadaannya saat ini?. Aku begitu cemas.

Sepanjang perjalanan dari Italia menuju Korea, pikiranku selalu memikirkan tentang Onew hyung. Rasa cemasku setiap detik terus bertambah. Aku tidak sabar untuk melihat wajahnya dan menghiburnya. Dengan tak sabar, aku membuka pintu rumah Onew hyung dan mendapati rumah ini sangat sepi. Di ruang tengah, tv menyala, itu Key hyung. Di mana Onew hyung?.

“eh? Taemin-ah! Akhirnya kau datang!”. Dia menghambur ke arahku dan memelukku. Tidak lama, ia melepasnya. “kenapa kau lama sekali?”tanyanya.

Aku tersenyum, “di Eropa cuaca begitu buruk, kemarin, penerbangan ke Korea di tunda karena cuaca buruk itu. Di mana Onew hyung?”.

Key hyung membungkukkan badannya dan meraih koperku. Lalu, berjalan menuju sofa. “dia pergi”jawabnya dan kembali duduk di sofa.

Aku masih berdiri dan menatapnya. Pergi?, Malam ini begitu dingin tapi dia pergi?. Astaga, jangan-jangan dia. Tidak, tidak mungkin. Onew hyung tidak akan melakukan hal bodoh itu –bunuh diri. “eodie? Kenapa kau tidak mencegahnya untuk pergi?”.

Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. “hei, tenang saja. aku mengenalnya. Dia orang yang kuat. Dia tidak akan melakukan hal bodoh yang sedang kau pikirkan itu. Kau tahu, dia punya cara tersendiri untuk menenangkan dirinya. Dan ku rasa dia keluar untuk menyegarkan pikirannya”jawab Key hyung, tenang.

Aku teringat pada taman yang menjadi tempat favorit Onew dan Yoona itu. Apa dia di sana?. Aku begitu merindukannya dan…juga Yoona. Apa kabar yeoja itu?. “ya! Kau mau ke mana?”suara Key hyung menghentikan langkahku.

Aku meraih kenop pintu dan memutarnya. “menemui Onew hyung”. Angin malam menyapaku kembali, kakiku kembali berlari. Berlari menyusuri jalan menuju tempat di mana Onew berada saat ini. Aku yakin, dia pasti berada di sana. Di bangku yang berada di bawah pohon yang cukup besar, tempat favoritnya dan Yoona. Yoona, aku begitu merindukannya. Rasanya, aku ingin memeluknya dengan erat dan mengeluarkan semua rasa rindu yang berkecamuk di hatiku ini.

***

Ku rasa orang berpelukan itu wajar, dan tidak seharusnya aku cemburu dengan pemandangan ini. Yoona pasti mengetahuinya dan mungkin dengan memberi Onew hyung pelukan bisa membuatnya tenang dan terhibur. Seharusnya, aku tidak boleh seperti ini. Tapi, tetap saja aku cemburu. Rasanya sesak melihatnya berpelukan dengan namja lain, terlebih itu Onew hyung.

Aku hanya bisa menghela nafasku dan kembali berjalan pelan meninggalkan taman ini. Yoona sudah menemaninya dan aku sudah melihat wajah Onew hyung. Jadi, untuk apa aku berlama-lama di sana.

Tiba-tiba, terlintas pemikiran aneh di otakku. Tentang Onew hyung dan Yoona. Apa mungkin mereka? Anni, itu tidak mungkin. Tapi, kenapa tidak? Beberapa hari cukup untuk menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya. Apalagi, mereka sering bertemu. Bisa saja benih-benih cinta itu tumbuh.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mungkin orang-orang yang melihatku sudah menganggapku orang gila. Kenapa aku jadi memikirkan hal aneh itu?. Merasakan cemburu, jantung berdegup kencang, melihatnya tersenyum membuat bibirku juga ikut tersenyum, apakah ini cinta?. Apakah benar perasaan ini cinta?.

Aku kembali bertanya, padahal aku sudah mengetahui jawabannya. Ini sungguh membingungkan di bandingkan rumus-rumus fisika yang tak pernah ku mengerti.

*Taemin’s pov end*

***

-Yoona’s pov-

Dia kembali, namja itu telah kembali dan sekarang sedang duduk di tempatnya. Tidak ada yang berubah darinya, masih seperti Lee Taemin yang ku kenal. Tidak seperi sehari sebelum kepergiannya. Dari sini, aku dapat mendengar suaranya yang ku rindukan, mendengar gelak tawanya dan melihat senyum itu. Aku terus menatapnya, namun dia tidak.

“kenapa kau tidak menghampirinya?”. Suara Hyo Min mengalihkan perhatianku dari Taemin.

“nde?”.

Hyo Min menghela nafasnya dan menatapku. “hei, dia sudah kembali. Namja yang membuatmu tidak berkonsentarasi saat belajar. Namja yang terus kau cari-cari itu. Dia ada di sini saat ini. Dan kau hanya duduk dan menatapnya”.

Hanya saja, ada yang sedikit berbeda. tadi, di saat kami saling bertemu dan bertatapan. Aku tersenyum ke arahnya dan menyapanya. Namun, entah mengapa dia berlalu begitu saja. Aneh, tapi mungkin karena suaraku yang begitu pelan dan mungkin dia masih mengganggapku sebagai yeoja yang membencinya, maka dari itu dia tidak membalasku. Mungkin. “nanti saja”jawabku.

Hyo Min mendengus kesal, pandangannya kini terarah pada Taemin. “ya, Lee Taemin!”panggilnya. Apa yang ingin ia lakukan?!. Aku menatapnya tajam namun Hyo Min hanya menyeringai dan menghampiri Taemin.

Taemin menatapnya dan tersenyum. “hei, Hyo Min-ah”balasnya.

Aku masih terdiam di tempatku dan menatap mereka berdua. Aku takut dia akan berkata hal yang aneh-aneh pada Taemin. Hyo Min menatapku sekilas lalu kembali menatap Taemin. “apa kabar? Kau darimana saja?”.

Aku bernafas lega mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hyo Min. Setidaknya dia tidak mengatakan tentangku yang setiap hari merindukannya.

***

geudaelsaranghaneun maeumi gaseume neukkyeojinayo
jujeohaetdeon naui moseubi geudaeneun neukkyeojinayo
namaneul jikyeojudeon naeobsi mossandadeon
nareul saranghagehaetdeon geudael michindeusi bogosipeoyo

(This heart that loves you, can you feel it?

The hesitant look of mine, have you noticed that too?

Without you protecting me, I won’t be able to live on

You said you’ll be loving me, I miss that you like crazy)

Lantunan lagu yang di nyanyikan oleh Zia terus terdengar di telingaku yang tersumpal earphone. Mataku terus membaca buku yang baru ku ambil dari rak-rak buku di perpustakaan ini. Sementara pikiranku terus memikirkan tentang Lee Taemin. Aku tidak bisa menghentikan otakku yang terus memikirkan tentangnya.

Namja itu tiba-tiba datang seperti angin. Dia tersenyum ke arahku dan bibirnya mengatakan sesuatu yang ku rasa. ‘hei, apa kabar?’.

Aku buka kedua earphone yang menghalangi telingaku untuk mendengar suara Taemin. “nde?”.

Dia menatapku, aku menjadi gugup. Masih dengan senyumnya, dia mengulangi perkataannya. “apa kabar?”.

“baik. Neo?”. Tanganku menutup buku tentang sejarah kerajaan korea dinasti shila.

“cukup baik.”. Suasana menjadi canggung, aku hanya diam dan menatap cover buku yang ada di depanku. Sedangkan Taemin, entahlah, aku tidak tahu apa yang ia lakukan saat ini walaupun ia ada di hadapanku. Terlalu gugup.

Perpustakaan ini begitu sunyi, hanya ada aku, Taemin, dan Shin Hye (penjaga perpustakaan). Kami semua diam, sibuk dengan diri sendiri. Mataku melirik ke arah Taemin yang sedang menatap ke sekelilingnya dengan menggigit bibir bawahnya. Mungkin ia bingung ingin berbiacara apa.

“jadi, kau menghabiskan waktumu di perustakaan belakangan ini?”. Ia memulai percakapan, mengusir kesunyian yang menghinggapi kami beberapa saat yang lalu.

“anni, bagaimana denganmu? Apa saja yang kau lakukan selama di Firenze?”. Sedikit demi sedikit aku bisa mengurangi rasa gugup yang ku rasakan. Kami saling memandang, ia tersenyum tipis.

“tidak banyak. Apa Onew hyung memberitahumu kalau aku pergi ke sana?”.

Aku mengangguk. Lalu, kami mulai mengobrol ringan. Hal-hal yang ku rasa tidak terlalu penting untuk di bicarakan. Sampai Park Young Eun songsaengnim memanggil Taemin di ambang pintu perpustakaan. Dia berdiri dengan kedua tangan yang di lipat di depan dadanya. Dengan kacamata yang menghiasi matanya, tidak lupa dengan senyumnya. Guru yang cukup di senangi oleh para murid karena keramahannya. “Lee Taemin”.

Aku dan Taemin menoleh namun tidak dengan Shin Hye, dia terlalu serius dengan apa yang ada di layar komputer. “ne?”sahut Taemin.

“kau sudah menyiapkan semuanya?”tanya Young Eun songsaengnim.

Menyiapkan semuanya? Apa maksudnya?. “ne, songsaengnim”.

Alisku bertaut, mereka sedang membicarakan apa?. “kalau begitu ikut aku ke kantor”perintahnya dan pergi.

Aku menatap Taemin bingung, tapi Taemin hanya tersenyum dan memegang bahuku. “jamkamman”. Lalu, ia bangkit dan pergi meninggalkanku dengan rasa bingung atas percakapan singkat antara Taemin dan Young Eun songsaengnim.

Aku menghela nafas, namja ini kembali membuatku bingung.

***

Aku memegang tasku erat, sudah 15 menit aku berdiri di depan kantor. Sekolah sudah sepi, koridor pun juga sepi dan sunyi. Hanya ada aku yang berdiri seorang diri menunggu Taemin keluar dari kantor. Ini sudah lama, aku telah menunggunya hampir setengah jam. Saat di perpustakaan dan di sini. Satu hal yang membuatku bingung adalah kenapa aku masih menunggunya?.

“annyeong, Young Eun songsaengnim”. Itu suara Taemin. Aku menengok ke arah pintu dan mendapati Taemin sedang menutup pintu. Ia terkaget saat melihatku sudah ada di sini. “neo? Kenapa kau belum pulang?”tanyanya dan memasukkan kertas yang tidak ku tahu isinya ke dalam tasnya.

“menunggumu.”jawabku jujur.

Dia terdiam sesaat lalu tertawa kecil. “menungguku?”.

Aku dan Taemin mulai melangkah menyusuri koridor. “ne, apa lagi. Saat di perpustakaan tadi, Kau bilang ‘jamkamman’.”kataku.

“ne, aku tahu. Hajimman, aku kira kau akan pulang duluan dan tidak benar-benar menungguku”.

Entahlah, aku juga tidak mengerti Taemin. Aku hanya diam dan tidak membalas perkataannya. Tapi, apa yang ia lakukan di kantor selama setengah jam?. Dan percakapan antara Young Eun songsaengnim dengan Taemin masih membuatku bingung. “apa yang kau lakukan di kantor tadi dan kertas-kertas itu?”tanyaku.

“bukan suatu hal yang penting untukmu. Ah, bagaimana kalau kita pergi ke taman dekat Namsan Seoul Tower?”. Ku rasa dia mengalihkan pembicaraan. Aku menghela nafas dan menganggukkan kepalaku.

“kajja”. Lalu dia menarik tanganku dan berlari. Taemin, apa yang kau sembunyikan?.

***

Kami berdua duduk di bangku yang sama yang menjadi tempat kami duduk sebelumnya. Bangku ini berada di bawah pohon sakura dan dari sini aku bisa melihat pemandangan kota Seoul. Langit berwarna jingga dengan gumpalan awan yang sedikit gelap. Aku menyesap espresso con pana yang sebelumnya ku beli sebelum berada di sini. Aku melirik ke arah Taemin yang sedang menatap langit.

“banyak yang berubah”ucapnya.

Salju mulai turun dan dingin mulai terasa pori-pori kulitku. Aku mengeratkan genggaman pada gelas yang menghangatkan tangan ini. “apa yang berubah?”tanyaku.

“hampir semuanya, hidupku, aku, dan…kau”jawabnya dan menatapku.

Ku rasakan jantungku kembali berpacu dengan kencang, gugup kembali terasa. “naega?”.

“ne, neo. Kau tidak seperti dulu. Tapi, aku suka itu”. Angin membuat rambutku berantakan, pipiku memanas mendengarnya.

“sedangkan kau? Apa yang berubah darimu?”tanyaku lagi.

“banyak. Tidak bisa ku jelaskan. Aku pun juga sedikit bingung akan perubahanku ini”jawabnya, masih menatapku.

“ah, aku tahu. Kau tidak lagi menggangguku dengan cicak menyebalkan itu”ucapku polos.

Dia tertawa dan akupun juga tertawa mendengar perkataanku sendiri. Terdengar konyol. “ah, seharusnya kau tidak mengatakan itu. Bagaimana kalau aku kembali menjahilimu?”.

Aku menghentikan tawaku dan tersenyum. “kalau begitu akupun akan kembali seperti dulu”.

“menjadi yeoja aneh, dan dingin terhadap namja itu?”.

“mungkin”.

“hei, apa kau mau mendengar sebuah lagu?”.

Aku menganggukkan kepalaku, selang beberapa puluh detik kemudian. Aku merasakan lantunan lagu di telingaku. Aku menoleh ke arah Taemin dan mendapatinya sedang memejamkan mata menikmati alunan melodi dari lagu tersebut.

Jakku iksukhan hyanggi naneyo geudael seuchyeotdeon barami
Jigeum nae gyeoteul jinaganabwayo
Naui gaseumsoge geudaemaneul bichuneun ssaringabwayo
Apeun sangcheokkaji gamssajuneungeollyo

Love U geudael tteoollimyeo ije dasi kkok nuneul gamjyo
Saranghae geudae du nun chaeul su itdamyeon
Saranghae geudae naege useum boyeojundamyeon
Jeogi byeolbitmajeodo modu gajyeoda jultende ohhh…
Saranghae ireon nae mam jeonhal su itdamyeon
Saranghae geudae geu mam gareuchyeo jundamyeon
Na modu darmagalkkeyo Love U Love U Love U yeongwonhi

 

(i keep smelling the fragrance of promise
i guess the wind that swept by you is passing by my side right now
maybe it’s a sunshine in my heart that shines on only you
it even embraces the painful scars

love you
bringing you up, i close my eyes tight once again
i love you. if i can fill up both your eyes
i love you. if i show you my laughter
i’d take everything under the starlight and give them to you
i love you. if i can convey this heart to you
i love you. if you teach that heart
i’ll become like it in every way
love you, love you, love you, forever)

Lagu ini seakan menggambarkan suasana hatiku saat ini. Aku menatap Taemin, dia pun juga begitu. Aku sadar, aku mencintainya, aku merindukannya di saat dia tidak ada di sampingku, aku memikirkannya setiap saat. Aku tahu ini cinta. Aku menyanyanginya. Ku peluk dia dan melapaskan semua rasa rindu ku. Aku tidak peduli dengan sikapku ini. Aku tahu pasti Taemin akan kaget tapi aku tidak memperdulikannya. Aku benar-benar merindukannya.

Dia membalas pelukanku dan mengeratkannya. Suasana menjadi hening, hangatnya pelukan ini mengalahkan rasa dingin yang menyentuhku. Aku hanya tidak ingin dia pergi. Pergi tanpa memberitahuku seperti yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.

“aku akan meninggalkan Korea dan menetap di Firenze, Yoona-ya”. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya. Apa yang baru ia katakan?.

“mwo?”.

“aku akan menetap di Firenze”.

-Yoona pov’s end-

***

~Onew’s pov~

Salju putih berjatuhan, hembusan angin menerpaku, dunia seperti berhenti berputar. Aku melihatnya. Yeah, benar aku melihatnya, dia, Choi Yoonra. Aku masih diam di tempatku. Kembali menatap ke arah yeoja dengan tongkat di tangannya.

Rambut hitam lurus panjang, dengan dress berwarna putih sepanjang lututnya. Wajahnya, dia Choi Yoonra!. Aku berlari ke arahnya, kali ini aku tidak salah orang. Aku menatapnya dan menggenggam tangan Yoonra. “Yoonra?”.

Dia tidak melihat ke arahku. Tapi, kepalanya bergerak ke arah kanan di mana aku berada. “Onew?”. Suaranya, dia benar-benar Yoonra.

“apa kau Yoonra? Apa kau benar-benar Choi Yoonra?”.

——————————————————–TBC———————————————

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Touch Your Heart – Part 9”

  1. waaa kenapa taemin pergi lagi?
    kasian yoona, dia baru sadar perasaannya tapi udah mau di tinggal lagi 😦

    akhirnya onew jumpa lagi sama yoonra, semoga abis ini onew bisa bahagia ya..
    daebak thor, lanjut lanjut ^_^

    1. kenapa taemin pergi?
      tanya sama taemin deh *sodorin taem*
      kkk~
      iyayah, kasihan sama yoona, kenapa aku baru nyadar? *plak

      Amin, semoga Onew bahagia bersama author *di rajam mvp*kabur*

      Makasih 🙂

  2. Onew ketemu yoonra?! :O maaf thor baru comment hehe 😀 ramee banget ditunggu part 10 nyaa yaaa

    1. Onew ketemu author di dalam mimpi *plak

      aku juga baru sempet balas comment. Maaf juga yah.

      Makasih shaela 🙂

  3. Woaaahhh…tiara daebak.
    Pas bnget naro tbcnya disitu.Dan itu membuatku makin prustasi*jambakin rambut kiri key*
    Taem?mw prgi lagi?MWO?MWOO?!ada apa gerangan shingg mmbuatnya prgi?cemburu?jngn,,andwae.
    7 hrf,,
    Lanjoud

    1. aku gak daebak kok. FFku masih butut nan gaje eon.__.

      Wkwkwk, syukur deh kalau pas naruh tbcnya.

      Jangan frustrasi, ntar ketahuan kalau habis dari RSJ *di cekek eunri eon*
      canda eon, aku lebih frustrasi lagi.___.

      Ada apa? silahkan bertanya pada taem *sodorin taem*

      kekeke, maaf yah eon baru sempat balas comment-nya. Masuk sekolah langsung di sibukin sama tugas dll, makasih bgt yah eon udah mau comment. *bow 90 derajat*

  4. GOOd..NICE..
    sukak thor
    di tunggu kelanjutannya ya ^^
    *lagu Howl _love u_ nyambung banget ama ceritanya thor..
    🙂

  5. Yah.. Taem menetap di firenze..?? Trus yoona ksian dunk..
    Jinki ktemu yoonra??
    Next.. Next.. Ditunggu..

    1. yah, kasihan yah si Yoona. Jahat banget authornya bikin Yoona kayak gitu *plak

      selamat menunggu~
      gomawo ^^

      1. bagian Key-Hyo Min ada di part 6 ehm…aku juga lupa sih *plak kalau gak salah sepuluh atau sebelas juga ada.__.a aduh beneran lupa (author pikun, padahal masih muda-___-)

        Oh, syukurlah kalau misalnya makin bagus, tapi aku masih ngerasa gaje._.
        makasih yah ^^ *bow*

        1. Cheonma eon..
          Terus berkarya!
          Sekali2 buat ff cast nya key dong..
          Hahaha gpp klo lupa’an..
          Aku juga kok eon..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s