Love Me – Part 5

LOVE ME 5

Author : *Azmi

Maint cast :

  • Kim Jonghyun
  • Choi Yumi

Other cast :

  • Jonghyun’s parents
  • Lee Taemin
  • Kim Kibum
  • Choi Siwon
  • Shin Sekyung
  • Lee Jinki a.k.a Onew
  • Choi Minho
  • Choi Minhwan (FT island)

Length : Squel

Genre : Angst, romance, married life, Friendship

Rating : PG 13

 

STORY

Gemericik air hujan,

Udara dingin

Dan bau serbuk bunga.

Suasana yang paling disukainya. Ditambah dengan semburat kemerahan dari ufuk barat, terasa semakin sempurna. Dari balik kaca jendela besar itu, ia dapat melihat beberapa orang berlarian menghindari hujan, ada yang memakai payung, ada yang menggunakan jas hujan, ada juga yang hanya mengenakan mantel musim dingin. Walau tubuh mereka hampir basah oleh air hujan, namun senyum masih terlihat menggantung dibibir mereka.

Yumi juga tersenyum, dia tersenyum. Melihat kebahagiaan orang-orang disekelilingnya. ‘Suatu saat nanti aku juga pasti bisa tersenyum bahagia seperti mereka’ katanya dalam hati.

Iya suatu saat nanti, kesedihan akan berganti kebahagian. Tak ada jalan yang tak berujung, tak ada malam yang tak tergantikan siang, tak akan ada pelangi sebelum hujan, bahkan nafaspun suatu saat akan berhenti. Begitupun cobaan hidupnya cepat ataupun lambat ia akan berganti dengan senyum bahagia, biarkan waktu yang berbicara, setidaknya sebuah kesabaran adalah harapan paling sempurna untuk ia gantungkan.

“Hey,,, maaf toko bunga hari ini begitu ramai, sudah lama menunggu?” kata seorang gadis membuyarkan lamunan Yumi dari wajah-wajah ceria itu.

Walau sekarang tengah hujan, lebih tepatnya gerimis namun toko bunga milik temannya ini tak pernah sepi. Selain bunga-bunga yang disediakan sangat indah namun juga karena suasana di toko bunga ini juga sangat mendukung.

Bagian depan yang terbuat dari kaca membuat para pengunjung dapat melihat langsung keadaan luar toko, ditambah dengan bangunan kecil itu menghadap langsung kebarat sehingga setiap sore tiba kita bisa menikmati indahnya matahari tenggelam.

“Aku juga melihatnya tadi,,,” cibirnya, “Hanya saja coklat panasku yang tak bisa menunggu. Kau lihat ia sudah mendingin,,” ujarnya, matanya ia gerakkan menunjuk pada gelas yang sedari tadi berada dalam genggamannya.

“Hahaha, baiklah baiklah, aku akan meminta Jaeyeon mengganti coklat panas tercintamu itu, kau puas,,?” balas gadis itu tersenyum mengejek. Ia melambaikan tangannya pada pegawai di toko bunga miliknya, gadis itu tengah menyibukkan diri merangkai bunga-bunga segar.

“Jaeyeon-ah bisakah buatkan kami coklat panas lagi?” katanya setelah gadis yang dipanggil Jaeyeon itu menoleh, “Maaf merepotkanmu,” Sambungnya dengan nada dibuat terdengar agak menyesal.

Setelah itu ia menata dirinya sendiri duduk di depan Yumi, memandang gadis itu intens, nampak sedikit heran. “Kau serius dengan rencanamu?” Tanyanya akhirnya. Sebelum ini memang Yumi telah mebicarakan masalah ini padanya di telefon.

“Min-ah,, menurutmu apa ini rencana bagus?” Yumi balik bertanya.

Gadis yang dipanggil Min-ah itu memutar bola mata dan tersenyum sinis, ia menyederkan punggungnya di senderan kursi yang didudukinya, “Aku sedang bertanya Mi-ya, tidak bisakah kau jawab dulu,,?” keluhnya.

“Dan aku sedang meminta pendapatmu Min-ah, tak bisa kah kau beri aku saran dulu,,,?” Balas Yumi menirukan gaya Min Ah.

Min Ah berdecak sebal, ia mengangkat lagi punggungnya dari sandaran kursi kemudian menatap Yumi intens. Kedua sikunya ia tumpukan kemeja didepanya untuk menopang dagunya, kepalanya sedikit ia condongkan kearah Yumi, “Kalau kau yakin ini yang terbaik, aku mendukungmu,” katanya serius.

Yumi mengela nafas sejenak, kemudian menyenderkan tubuhnya kesenderan kursi. Ia mengedarkan pandangannya ke toko bunga temannya, nampak indah. Desain toko yang di sengaja menggunakan bahan kayu secara keseluruhan membuat toko itu jadi terlihat alami. Selain bunga-bunga disini juga disediakan berbagai keperluan untuk menanam bunga seperti vas dan pot. Disini tak ada bunga sintesis semua bunga asli, itulah mengapa Yumi merasa lebih tenang saat berada disini, aroma bunga membuatnya nyaman.

“Baiklah kalau begitu, akan kulakukan!” serunya semangat.

“Kurasa Siwon samchon juga sudah kaya sekarang, dengan uang yang dimilikinya dia pasti bisa memulai usahanya kembali,,!” Min Ah menimpali, “Menurutmu, perusahaan yang akan kau berikan pada Siwon samchon, apa tidak terlalu berlebihan?” tanya Min Ah melanjutkan.

“Ania, kurasa itu pantas untuknya, lagi pula tanpa Siwon samchon aku tak tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan Appa, aku kan tak tahu sama sekali mengenai perusahaan,,”

“Benar juga,,” kata Min Ah membenarkan, “Ehh, ngomong-ngomong, bagaimana kabar Jonghyun oppa?” Tanya Min Ah.

Wajah Yumi seketika barubah tegang, apa ia harus menceritakan apa yang terjadi tentang perselingkuhan Jonghyun pada Min Ah?

Menyadari perubahan raut wajah Yumi, Min Ah bertanya, “Terjadi sesuatu?”

Yumi masih terdiam, matanya menerawang menembus jendela kaca didepannya, ternyata sudah tidak gerimis lagi. Ia menghela nafas sesaat, “Aniya, dia baik. Hanya saja akhir-akhir ini Jonghyun oppa sering mengeluh sakit kepala badanya juga sering demam,,” ucapnya. Tak ada gunanya ia menceritakan masalah ini pada Min Ah, itu hanya akan menambah pikiran dan merusak kebahagiaan sahabatnya saja apa lagi bulan depan sahabatnya ini akan melangsungkan upacara pertungan dengan Kim Kibum. “Ohya, bagaimana dengan rencana  pertunanganmu dengan Kibum Oppa, sampai dimana persiapannya” Tanya Yumi mengalihkan pembicaraan.

Min Ah tersenyum, iya memang benar, bulan depan ia akan melangsungkan pertunangan dengan seseorang yang sudah dua tahun menjadi kekasihnya, “Itu,, semuanya Kibum Oppa yang mengatur,,” jelasnya sambil tersenyum malu. “Ehh, apa tadi kau bilang Jonghyun Oppa sering mengeluh sakit kepala?” Tanyanya antusias, wajahnya ia condongkan mendekati Yumi sambil melirik penuh arti.

“Benar, memangnya kenapa?” Tanya Yumi, dahinya mengernyit, sahabatnya ini aneh, Jonghyun Oppa sakit kepala tapi kenapa ia malah terlihat senang begitu?

“Itu pertanda baik,,” Katanya enteng.

“Mwo?”

“Ckk,, itu artinya Jonghyun Oppa akan segera ingat lagi, kau tak pernah melihat di televisi, orang-orang yang ingatanya akan kembali setelah amnesia biasanya sering sakit kepala,,,”

Yumi terkekeh, pemikiran sahabatnya ternyata tidak jauh darinya. Ia juga sempat berfikir seperti itu, “Ini bukan film Min-ah sayang,,,” kekeh Yumi.

“Mungkin saja kan,, Film juga dibuat berdasarkan apa yang biasa terjadi dikehidupan nyata.” Bela Min Ah.

Yumi nampak berfikir, benar juga. Mungkin ini bisa menjadi secercah harapan baginya. Lagi pula dokter Seo juga bilang Amnesia parsial yang dialami Jonghyun hanya sementara, dalam waktu dekat ia akan mendapatkan ingatannya lagi.

“Semoga saja seperti itu,,” Gumam Yumi lirih.

****

Yumi memutar-mutar ponsel yang berada digenggamannya, matanya menerawang menatap layar laptopnya tanpa fokus sedikitpun. Tugas yang seharusnya ia selesaikan hari ini juga karena besok harus ia serahkan pada profesor Song jadi tebengkalai. Ia menghela nafas frustasi, apakah ini memang yang terbaik. Tapi sejak dua hari dari insiden dengan Jonghyun waktu itu semua jadi bertambah buruk, semua jadi canggung, Jonghyunpun sekarang jadi jarang dirumah. Pulang saat dirinya sudah tertidur dan pergi lagi sebelum ia bangun.

Jadi sejak dua hari yang lalu ia belum sama sekali bertemu dengannya. Yumi merasa memang mereka butuh waktu untuk memikirkan semuanya, bagaimana kelanjutan hubungan mereka.

Yumi tampak frustasi, ia tak ingin meninggalkan Jonghyun sebenarnya, sangat tidak ingin. Tapi inilah yang terbaik, ia butuh menenangkan diri sejenak. Ini bukan masalah sepele, tidak hanya sekedar kesabaran tapi ini lebih dari itu, Jonghyun masih menautkan hatinya pada orang lain dan orang itu juga sepertinya menerima Jonghyun dengan sangat baik.

“Baiklah,,,,” katanya akhirnya pada dirinya sendiri, ia kemudian menekan angka lima selama beberapa detik dari ponselnya, setelah itu terdengar nada sambung.

“Taemin-a ini aku,,,” katanya setelah terdengar suara yang ia kenal dari ponselnya.

“Kau akan berangkat lusa bukan? Begini,, apakah masih ada tempat jika aku ikut, maksudku aku berubah pikiran dan bersedia ikut ke Afrika, apa masih bisa?” kalimat yang ingin diucapkan Yumi belum sepenuhnya keluar namun sudah terdengar lengkingan di seberang sana membuat Yumi seketika menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Apa Taemin ingin membuatnya tuli?

“Tentu saja, tentu saja masih boleh, aku akan mengatakan pada profesor Song sekarang juga, kebetulan aku masih di kampus. Kau bersiap-siap saja dan kemasi barang-barangmu.” Pekik Taemin semangat.

****

Jonghyun memasukkan beberapa pakaian Sekyung kedalam tas dalam diam, entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja terasa agak aneh. Ia seperti mencemaskan sesuatu yang tak diketahuinya, begitu mengganggu. Ia berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh itu, tapi sama sekali tak bisa pergi.

Setelah semua pakaian itu masuk seluruhnya kedalam tas, ia mengalihkan pandangannya menuju wanita yang kini tengah duduk ditepi ranjang sambil mengupas apel dengan seriusnya, mengingatkannya pada seseorang yang juga sering sekali menampakkan raut wajah seperti itu saat kemarin ia berada di rumah sakit. Mengupaskan apel untuknya, memijat kakinya, menyuapinya bubur, menyisir rambutnya dan mengelap tubuhnya dengan air hangat saat dokter tak membolehkannya mandi. Tangan lembut itu begitu telaten mengurusnya, entah mengapa jejak tangan halus itu ditubuhnya tiba-tiba terasa lagi.

“Mi-ya…” guamnya tanpa sadar.

Matanya masih menerawang menatap Sekyung, namun mengapa yang keluar dari mulutnya justru nama orang lain?

Sekyung yang menyadari gumaman Jonghyun menghentikan kegiatannya. Ia mendongak menatap ‘kekasihnya’ dengan alis terangkat, “Jonghyun, kau mengatakan apa tadi?” tanyanya.

Jonghyun tersentak, lamunannya buyar seketika, “Aku bergumam apa Noona?” tanyanya balik, ia sendiri tak merasa telah menggumamkan sebuah kata apapun.

“Ani, aku seperti mendengar kau memanggil sebuah nama,,,” jawab Sekyung.

“Benarkah? Aku tidak merasakannya…” elak Jonghyun, ia memang tak merasa sudah memanggil seseorang, nama itu keluar tanpa disadarinya. “Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang kita pulang, lagi pula noona butuh istirahat. Badan noona pasti masih sakit semua setelah menjalani kemo. Kajja…” ujar jonghyun seraya beranjak dari sofa yang dari tadi didudukinya.

“Bagaimana dengan apelnya?” Tanya Sekyung polos.

“Taruh saja disitu, nanti aku belikan lagi yang baru, kajja..” Ujar Jonghyun seraya bersiap mengangkat Sekyung untuk didudukkan di kursi roda. Ia melakukannya dengan sangat berlahan.

Persaan ini lagi, perasaan ini muncul lagi. Membuat kepalanya berdenyut pusing. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya agar lebih baik.

“Jonghyun wae..?” Tanya Sekyung heran.

“An,, aniya,,,” jawabnya.

Kemudian mereka berjalan menuju tempat parkir mobil Jonghyun dalam diam. Jonghyun sibuk dengan pikirannya yang tidak bisa dia mengerti, semua terasa begitu kabur dan samar, membuatnya frustasi sendiri, ‘Mi-ya’ siapa orang itu? Mengapa bisa dia menggumamkan nama itu tiba-tiba.

“Jonghyun” panggil Sekyung. Mereka sudah sampai di depan mobil Jonghyun, dan pria itu tak bergerak sama sekali, seolah tak menyadari bahwa ia sudah sampai. Ia masih saja terpaku dengan pandangan kosong, entah apa yang dilihatnya, matanya hanya menerawang kedepan, “Jonghyun,,” panggil Sekyung sekali lagi.

Jonghyun tersentak, menyadari dirinya tengah melamun, “Ahh mian Noona,,,” Jonghyun tersadar dan membuka pintu mobilnya kemudian mengangkat Sekyung masuk kedalam mobil Audy putinya.

Ia mulai melajukan mobilnya dalam diam.

“Jonghyun,,,” Panggil Sekyung lirih, ia menyadari keanehan pada diri Jonghyun,

“Ne,,?” gumam Jonghyun tanpa mengalihkan fokus matanya pada jalan didepannya

“Apa yang kau pikirkan,,?” tanya gadis itu.

“Ne??” tanya Jonghyun tak mengerti.

“Kau sedang memikirkan sesuatu? Sepertinya dari tadi kau tak fokus sama sekali, apa terjadi sesuatu?” Tanya Sekyung lebih jelas.

Jonghyun yang mengerti kecemasan gadis itu menolehkan kepalanya sebentar kemudian tersenyum, “Aniya, aku tidak sedang memikirkan apapun, hanya saja kepalaku terasa sedikit pusing, Gokjeongma,,”

Sekyung hanya mengangguk, tapi fikirannya tak sepenuhnya merasa lega atas jawaban Jonghyun, anak itu terlihat tidak baik dan Sekyung bisa merasakannya. Ia sudah mengenal Jonghyun lama, ia tahu ada yang mengganggu pikiran pria itu.

“Ahh, Sudah sampai…” pekiknya ceria, mencoba memecahkan suasana kaku diantara mereka, “Kenapa sekarang Noona yang jadi melamun?” tanyanya dengan senyum menggoda.

“tsk,, kau ini..”

Jonghyun membaringkan Sekyung di ranjangnya dengan begitu berhati-hati, kemudian menyelimutinya sampai kebagian dada, Jonghyun tersenyum manis, “Sudah malam, noona harus istirahat, aku pulang dulu ne,,,?” ucap Jonghyun lembut, ia membelai dahi gadis itu dengan sayang.

“Hati-hati dijalan,,,” ujar Sekyung.

Jonghyun beranjak dari tepi ranjang gadis itu, menatapnya hangat sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar, “Annyeong,,” serunya bagitu sampai didepan pintu kamar Sekyung.

Namun senyum cerah itu tak berlangsung lama, tiba-tiba saja kepalanya terasa terhantam benda keras, sakit dan pening,, “Arrrrgggghhh” teriaknya keras, ia sudah jatuh terduduk dilantai. Sekyung yang melihatnya kaget dan berlari menghampiri Jonghyun dengan cemas.

“Jonghyun-a, kau kenapa?” tanyanya panik. Ia memegang pundak Jonghyun yang bergetar.

‘Mi-ya’ nama itu berkelebat kembali dipikiranya. Siapa dia dan kenapa nama itu terdengar begitu menyakitkan dihatinya. Ia mencengkram kepalanya yang terasa ingin pecah.

‘Iya, aku bersedia’

‘Kau ingin sarapan apa, Oppa? Maaf aku belum tahu makanan yang kau sukai, jadi aku belum memasak pagi ini, Oppa ingin aku buatkan sarapan apa?’

‘Oppa, harus banyak istirahat. Tidak baik bekerja terlalu keras, kau harus ingat waktu!’

‘Ini adalah hadiah ulang tahunmu, Oppa. Bunga Iris ini, maukah Oppa merawatnya untukku?’

‘Aku tahu Oppa tidak mencintaiku, tapi biarkan aku bertahan sedikit lagi..’

‘Benarkah? Oppa sudah bisa merelakannya pergi?’

‘Tentu saja Oppa, kau kira sudah sejauh ini aku bertahan dan sekarang akan menyerah begitu saja? Bukan Choi Yumi namanya kalau begitu. Tentu saja aku akan menunggumu, walaupun sekarang Oppa belum mencintaiku, tapi aku yakin suatu saat Oppa pasti bisa melihatku. Kau tak usah berjanji, aku percaya padamu’

‘Aku percaya padamu Oppa, Jinchayeo,,,!!’

Jonghyun masih mencengkram kepalanya kuat-kuat, kalimat-kalimat itu terdengar samar-samar di telinganya, namun ia yakin ia sangat mengenal suara itu, suara ceria itu begitu akrab ditelinganya. Mungkinkan itu bagian hidupnya yang telah hilang? Mungkinkah ingatanya akan segera kembali?

“Jonghyun kau tidak apa-apa, katakan padaku dimana yang sakit?” Tanya Sekyung panik sekaligus kawatir melihat wajah Jonghyun yang tiba-tiba memucat.

“Kepalaku sakit sekali Noona, seperti ingin pecah,,” ucap Jonghyun dengan suara serak, “Siapa dia? Siapa Mi-ya, Noona?” tanyanya frustasi. Matanya menatap Sekyung dalam, tersirat kelelahan yang luar biasa disana.

Sekyung berlahan mengerti, ia tersenyum tipis dan mengacak puncak kepala Jonghyun. Ia kemudian beranjak sebentar untuk mengambil air putih di nakas samping tempat tidurnya, “Minumlah dulu, setelah itu kau pulang..”  kata Sekyung sambil menuntun Jonghyun meminum airnya kemudian membantunya bangun.

“Tapi Noona,,”

“Pulanglah,, dan kau akan tahu jawabannya,,”

Sekyung tersenyum sekali lagi, ia membelai pipi Jonghyun halus, “Ternyata cinta itu sudah tak sama, dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Seharusnya aku menyadari dari awal, ini hanya peralihan sementara..” Gumamnya. Ia menarik tangannya dari pipi Jonghyun. Ia tertawa kecil melihat ekspresi Jonghyun yang berkerut tak mengerti dengan kata-katanya tadi, “Pulanglah,,”

“Baiklah aku pulang, besok aku akan kembali lagi,,” Ujar Jonghyun akhirnya menyerah.

“Jangan kembali lagi besok,,” ucap gadis itu membuat Jonghyun kaget, “Jangan kembali lagi besok,” ulangnya.

“Tapi kenapa Noona? Bukankah noona sudah mahu menerimaku kembali?”

“Ckk kau ini, pokoknya besok jangan kembali lagi,,” ujarnya dengan berkacak pinggang. Jonghyun hanya mengerutkan keningnya tak mengerti.

Tiba-tiba tawa Sekyung meledak, ia tak tahan melihat raut wajah Jonghyun yang seperti itu, membuatnya gemas. “Sudah sana pulang, dan jangan kembali lagi besok,,,” Ujarnya seraya mendorong tubuh Jonghyun keluar mensionnya.

“Noonaaaa,,” pekik Jonghun seraya menggedor pintu mansion Sekyung yang sudah terkunci dari dalam.

‘Ternyata hatimu sudah bukan milikku lagi Jong,,’ gumamnya dalam hati.

“Sudah pulang sana,, Hati-hati dijalan ne,,” pekiknya. Ia tersenyum miris.

****

Jonghyun mengendarai mobil dengan kecepatan rendah, kepalanya masih sedikit pusing walaupun tidak separah tadi sewaktu di mansion Sekyung. Kelebatan-kelebatan dalam fikirannya membuat Jonghyun tidak bisa berkonsentransi pada jalanan. ‘Mi-ya’ dan ‘Yumi’ kini mendominasi isi otaknya, apakah dua nama itu memiliki hubungan? Mengapa kedua nama itu begitu nyaring terdengar diotaknya?

Jonghyun mengacak rambutnya dengan sebelah tangan sedangkan sebelahnya lagi masih siap diatas kemudi mobilnya, tampak frustasi. Sungguh ia gemas sendiri sebenarnya apa yang sedang ada dalam fikirannya, begitu menuntut untuk ia ingat tapi sekeras apapun ia mencoba semuanya tetap begitu samar, yang ada kepalanya terasa semakin pening.

Jonghyun terkesiap begitu mendengar suara dering ponselnya, ia menoleh kekanan kekursi penumpang disebelahnya dimana ia biasa meletakkan ponsel saat berkendara seorang diri. Namun ponsel itu tak ada disana, dimana ia meletakkan tadi? Ia menajamkan pendengarannya dan tersenyum bodoh begitu menyadari dering ponsel itu berasa dari dalam saku celananya, tapi yang membuat Jonghyun kembali mengumpat tak jelas adalah menyadari betapa bodohnya ia, mengapa ponselnya bisa ia letakkan di saku celananya bagian belakang?

Jonghyun berjinjit sedikit dan mengulurkan tangan kanannya kebelakang menggapai ponsel yang sejak tadi berisik membuatnya tak bisa berkonsentrasi. Tanpa ia sadari sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan, masih sibuk dengan ponselnya Jonghyun terkesiap saat bunyi klakson kencang memekakkan telinganya. Jonghyun seketika mengangkat kepalanya, dan baru menyadari truk itu sudah berada dekat didepannya. Reflek Jonghyun membanting setir kekanan membuat mobilnya menabrak pembatas jalan menimbulkan guncangan hebat dan membuat kepalanya sukses membentur setir mobil. Untung saat itu mobilnya melaju dengan kecepatan yang cukup rendah sehingga benturan dikepalanya tidak terlalu keras.

Jonghyun sedikit bersyukur tidak terjadi luka berarti padanya, hanya saja kepalanya terasa agak benjol begitu ia meraba permukaannya dan semakin menambah pening.

Jonghyun bergegas keluar, untuk mengecek keadaan mobilnya, mobil kesayangannya.

“YA.. kalau tak bisa menyetir, tidak usah bawa mobil. Kau ingin mati ya??!!” pekik pengemudi truk yang hampir merenggut nyawanya.

Jonghyun membungkuk dalam, “Mianhamnida Ahjussi, mianhamnida. Aku akan lebih berhati-hati lain kali.” Tanpa memperdulikan Jonghyun pengemudi itu melajukan truknya dengan kecepatan tinggi. Jonghyun mengumpat dalam hati, dia yang ngebut kenapa aku yang disalahkan. Rutuknya dalam hati.

Jonghyun memutar tubuhnya kekanan, ternyata tidak terjadi kerusakan terlalu parah dimobilnya, tapi cukup membuat ia meringis, cap depan sebelah kanan mobilnya gores hingga memanjang kebelakang sekitar 30cm. Mobil kesayangannya cidera.

“Ckk,, dasar Ahjussi gila,,,” umpatnya lagi. Jonghyun kembali masuk dan melajukan mobilnya dalam diam, kepalanya benar-benar ingin pecah sekarang dan ia ingin cepat-cepat sampai rumah.

****

Jonghyun membukan pintu mansionnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya sibuk memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Ia berencana melapisi setir mobilnya menggunakan spon kalau memang ada yang menjual alat seperti itu supaya lain kali saat kepalanya terbentur sakitnya tidak akan separah ini. Namun kalau dipikir-pikir sebaiknya ia berusaha lebih keras agar kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi lain kali.

Mata Jonghyun mengkap bayangan bunga iris saat ingin mengganti sepatunya dengan sandal rumahan. Bunga kuning kecil itu berada tepat diatas rak sandal disamping pintu mansionnya.

Bunga ini, bukankah bunga ini yang tadi tiba-tiba muncul diotakku? Tanya Jonghyun dalam hati. Ia hanya memandang intens bunga itu tanpa bermaksud menyentuhnya sama sekali, entah mengapa terselit rasa takut saat kulit tangannya ingin bersentuhan dengan bunga itu. Kepala Jonghyun kembali berdenyut kuat membuatnya mundur beberapa langkah kebelakang masih dengan mata yang tak ingin lepas dari bunga indah itu.

Tiba-tiba muncul siluet samar seorang gadis yang duduk membelakanginya. Gadis itu menunduk sibuk dengan bunga iris berwarna biru tua itu.

‘Kau tumbuhlah dengan baik,,’ gumam gadis itu pada bunga didepannya, Jonghyun tidak dapat melihat wajah gadis itu, namun dari nada yang terdengar, sepertinya gadis itu menahan tangisnya ‘Maafkan Jonghyun Oppa ne,,, ia tak bermaksud mengasingkanmu disini,’ lanjutnya.

DEG

Jantung Jonghyun seperti terhentak mendengar perkataan gadis itu, mengasingkan? Apa maksudnya?

‘Ia bukannya tak suka padamu, hanya saja ia tak bisa menerimamu karena akulah yang memberikanmu padanya. Tapi kau jangan khawatir, justru kau harusnya merasa bahagia dan bersyukur. Karena dengan kau diletakkan disini, itu artinya setiap pulang, kau lah yang pertama akan dilihatnya. Jangan sedih ne,,, bertahanlah bersamaku’

Tidak terasa airmata Jonghyun mengalir begitu saja, ia tahu maksud gadis itu tapi semuanya masih begitu samar, ia belum bisa mencerna dengan baik. Jonghyun mengulurkan tangannya hendak menggapai punggung itu, namun bagai kabut yang diterpa angin siluet gadis itu lenyap begitu saja.

Jonghyun mengerjabkan mata, kejadian itu, gadis itu dan kata-katanya seperti sebuah de javu bagi Jonghyun. Namun ada perasaan yang berbeda yang ia rasakan, mungkin ini adalah sepenggal ingatan masa lalunya yang hilang tapi sepertinya dulu saat kejadian ini terjadi bukan perasaan seperti ini yang dirasakannya. Semuanya berbeda, sungguh, ia sangat yakin bukan perasaan seperti ini yang dirasakanya.

Jonghyun kembali mengulurkan tangannya, namun kali ini untuk menggapai bunga kecil di pot itu. Ia memandang intens, bunga ini tampak tak terawat, layu dan keriput. Ia memutar pot itu dan menemukan sebuah tulisan disisi lain pot. ‘Jonghyun Oppa’s 22nd birth day, keep your helth Oppa^^_YUMI’

Jonghyun tersenyum miris, permohonan yang sangat sederhana dan biasa saat diucapkan dihari ulang tahun, namun entah mengapa terasa begitu dalam bagi jonghyun, hatinya bergetar. Sepertinya itu ditulis dua tahun yang lalu dihari ulang tahunnya.

Jonghyun meletakkan kembali bunga itu ditempatnya semula. Dengan langkah gontai ia hendak menuju kekamarnya, ia ingin segera istirahat, namun langkahnya terhenti begitu melihat Yumi tertidur di sofa ruang tengah, selalu seperti ini.

Ia menghampiri Yumi yang tertidur begitu pulas, lap top di meja pun masih terbuka walau kini layarnya sudah mati.

Gadis ini begitu damai saat tertidur, seperti tak ada beban sama sekali. Jonghyun memberanikan diri mengelus pipi lembut itu dengan sangat hati-hati takut untuk membangunkan, sebenarnya bukan takut ketahuan diam-diam telah menyentuh gadis itu, namun ada rasa lain seperti tak ingin mengusik kenyamanan tidur gadis tersebut.

Gadis itu sangat kurus dengan kulit putih pucatnya. tanganya yang kecil ia buat sebagai bantal untuk kepalanya. Jonghyun menyusuri hidung mungil itu, tidak terlalu bangir namun runcing dibagian ujungnya, sangat menggemaskan. Nampak ragu, tangan jonghyun berhenti di bibir gadis itu dan mengelusnya dengan sangat hati-hati, bibir bawahnya terlihat lebih berisi namun juga tidak tebal dibandingkan dengan bibir atasnya yang begitu tipis hampir tak terlihat. mulut itu begitu mungil, Jonghyun teringat betapa lembutnya tutur kata yang keluar dari mulut itu, Jonghyun juga belum pernah mendengar kata-kata kasar yang keluar dari bibir merah muda itu, hanya saja kejadian tadi pagi saat ia hendak menemui Sekyung membuat bibir itu berkeluh kesah, nampak sangat letih. Jonghyun masih sangat ingat bagaimana ia mengacuhkan perkataan gadis itu untuk tidak pergi, lagi-lagi matanya meneteskan benda cair tanpa ia sadari.

“Mianhanda,,” ucapan lirih itu mengalir begitu saja dari mulut Jonghyun.

Jonghyun berlahan menyelipkan tangan kirinnya kebagian belakang leher gadis itu dan tangan kanannya kebagian belakang lutut yang terlipat itu. Jonghyun mulai mengangkatnya, namun gadis itu menggeliat dalam dekapan Jonghyun, “Eomma,,” gumamnya, tanpa sadar tangannya sudah terulur memeluk leher Jonghyun, ia juga membenamkan kepalanya pada dada bidang Jonghyun. Kalau saja gadis itu terjaga pasti ia dapat merasakan jantung Jonghyun yang berdetak begitu kencang.

Setelah berhasil menggendong Yumi, ia nampak bingung, berdiri didepan di tengah-tengah kamarnya dan kamar Yumi. Ia harus berbelok kekanan dimana kamar Yumi, atau membawa gadis itu kekiri dimana kamarnya berada, sebenarnya bukan hanya kamarnya tapi juga kamar gadis itu.

Tiba-tiba sekelebat bayangan Sekyung terlintas diotaknya, Jonghyun menggelengkan kepalanya dan membawa Yumi kekanan, kekamarnya sendiri.

Jonghyun meletakkan Yumi dengan hati-hati di atas ranjang kemudian menarik selimut untuk menutupi gadis itu agar tak kedinginan. Sebelum Jonghyun beranjak dari sana, entah keberanian dari mana Jonghyun mengecup kening gadis itu, Jonghyun juga tak mengerti apa yang telah di lakukannya tadi. Namun beberapa detik setelah ia membuka matanya, mata gadis itu juga berlahan terbuka.

Jonghyun terkesiap dan menjauhkan wajahnya seketika.

“Oppa,,” gumam gadis itu, ia nampak mengernyitkan dahi menyadari Jonghyun berada disampingnya, “Apa yang Oppa lakukan disini?” tanyanya heran, ia memandang sekelilingnya, ternyata ia sudah berada di kamarnya bukankah tadi ia masih di ruang tengah, lalu kenapa sekarang ia sudah ada disini?

“Oppa menggendongku sampai sini?” tanyanya begitu mengerti apa yang telah terjadi.

“It,,itu aku,,,” Jonghyun tergagap salah tingkah, tangannya mengelus bagian belakang kepalanya, tampak gugup dan malu harus menjawab seperti apa, ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia lah yang telah menggendong Yumi sampai dikamarnya, apa lagi mengingat apa yang telah dilakukannya barusan, pipinya sudah memerah saja. Yumi tersenyum tipis.

“Gomawo,,,” ucapnya dengan senyum mengembang, sesaat Jonghyun terperangah melihatnya, sepertinya baru kali ini ia melihat gadis itu tersenyum seperti itu.

“Itu, tidak usah dipikirkan. Aku harus tidur sekarang. Annyeong…” ucapnya cepat, ia tak ingin lama-lama berada dalam situasi seperti ini, sama sekali bukan Jonghyun, merasa gugup didepan seoarang gadis. Ia cepet-cepat beranjak dan melangkahkan kakinya keluar.

“Tunggu Oppa aku harus mengatakan sesuatu,,” pekik Yumi, begitu teringat ada hal penting yang harus segera disampaikannya pada Jonghyun.

“Besok saja, ini sudah malam, kau istirahatlah.” Balas Jonghyun, terdengar nada riang disana dan tanpa sadar bibirnya mengulas senyum.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Love Me – Part 5”

  1. First komen kah ??
    Huah,, dri part atu ampe empat byak sedih nya..
    Penderitaan yumi berat banget buat ngedapetin hati nya Jjong.. 😥
    Tapi part ini Jjong nya So Sweet banget…
    Ah,, penderitaan yumi mulai terbayar…
    Good thor..
    Coah,,coah.. 🙂

  2. Bener – bener part ini menyentuh banget, ampe aku yang baca ikut ngerasa sakit… Yumi bertahanlah sebentar lagi, sebentar lagi pasti semua penderitaanmu usai T..T. Jonghyun segeralah sadar kalo enggak Yumi nya nanti keburu pergi ama Taemin baru nyadar lagi…
    ditunggu lanjutannya, thor… hwaiting:D

  3. wah udh ada tanda2 jjong inget yumi. Moga cpet pulih deh ingatannya dan bsa inget yumi lg. Ditunggu lanjutannya..

  4. huuuaaaaaa nyesek.. apalagi pas jjong mengalami dejavu itu… huuuaaaaaa bikin mewek…
    sakiiitttt
    sakkiiiiittt hati ini… hiks hiks…
    apalagi pas byngn jjong lht bunga iris itu.. trus yumi yg blg ke bunga iris agar berthn bersamanya…
    huuuaaaaaaaaa

    dan thor….
    perlahan.. PERlahan… bukan Berlahan… /crying hard under blanket/

    ditunggu lnjutannya

  5. seruuu, wah si jong sampe nangis berarti sebenernya jong udah suka sama yumi ya, hmmm next part ditunggu secepatnya ya thor, hehe

  6. yumi. . . . kau harus pergi ke afrika. biarkan jonghyun tersadar dan tersiksa krna kau tdk ada disisinya. Yumi kau hrs pergi, ne ???? biarkan jonghyun yg menyusulmu #abaikan -__-”
    gemes deh sama joghyun, ngak sadar2 juga, siapa sih yg ngebuat ???? #ditendangauthor
    ._.v thor, keren kok 😀 ditunggu lnjutany ya ?? cepet =))

  7. Kapan jjong ingat kembali ya?,,beban yumi berat amat deh kayak nya,waduh jjong kok pake gengsi segala sih,waduh aku kasihan bgt sama yumi,jjong cepat sadar nanti yumi direbut org lain,nanti kau akan menyesal..lanjut

  8. hyaaaa
    giliran jjong ud mulai inget eh yumi na malah mau pergi.
    hwaaaa apa yg bakal terjadi selanjutnyaa.
    author azmi. azmi kan yah?
    ff mu berhasil buat penasaran..
    alur na enak d baca.
    pemakaian kata2 na enak.
    daebak deh

    d tunggu part selanjtnya

  9. yaaa…TBC nya disaat yg gak tepat,aku pnasaran ni gimana reaksi jjong dng kputusan yumi,lanjutannya ditunggu lho

  10. Ah,,
    part ini bikin nyesek, tp juga bikin seneng,,
    apalagi tuh bagian TBC, bikin tambah nyesek 😦
    keep writing!

  11. stlah part2 sblmnya bgtu menyesakkan..
    akhrnya ada tnda2 trbukanya kbhgiaan utk yumi…

    ayo..ayo..kelanjutannya!!

  12. ayo jjong oppa inget lg dong 😦
    kasian yumi, yumi jngan pergi sblum jjong oppa inget…
    penasarn bngt sama next partnya
    HWAITING ^_^

  13. ahhhh jong syukurlah sudah ingat….tapi masih aja ngingat sekyung…tp yg namanya cinta pertama yaa…..jjong udh mulai cinta ini sm yumi…sepertinya kesabaran yumi berhasil…tp yumi malah mau ke afrika yaa????hmmmmm

  14. disaat jong udah mulai sadar dan membuka dirnya u/ yummi,, knp sekarang giliran yumi yng harus pergi…
    penasaran sama reaksinya jong…

  15. waaaa!
    suka deh waktu jjong mulai inget masa2nya ma yumi 😀

    cuma mo beri saran sedikit ttng typo walaupun begitu saya gak terganggu kok xD
    #udah terlalu terhipnotis dengan ceritanya
    hehe,

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s