My Princess for Me – Part 4

My Princess for Me (Part 4)

Title                       : My Princess for Me (Part 4)

Author                  : Papillon Lynx

Maincast             :

–          Jung Bersaudara  :

Jung Yoo Ra, covered by Park Gyuri KARA

Jung You Ni, covered by Han Seungyeon KARA

Jung Yoo Na, covered by Jung Nicole KARA

Jung Yong Hee, covered by Kim Jaekyung RAINBOW

Jung Yeon Sang, covered by Goo Hara KARA

Jung Yoo Jin, covered by Kang Jiyoung KARA

 

–          Lee Bersaudara  :

Lee Jinki SHINee as Lee Jinki/Jura, covered by Lee Jinki SHINee

Kim Jonghyun SHINee as Lee Jonghyun/Hyun, covered by Kim Jonghyun SHINee

Kim Kibum aka Key SHINee as Lee Kibum aka Key/Ken, covered by Kim Kibum aka Key SHINee

Choi Minho SHINee as Lee Minho/Mui, covered by Choi Minho SHINee

Lee Taemin SHINee as Lee Taemin/Taega, covered by Lee Taemin SHINee

No Minwoo Boyfriend as Lee Minwoo/Mir, covered by No Minwoo Boyfriend

 

Support Cast      : Raja (Aboeji/Appa), Ratu (Eomonim/Eomma), Selir Raja (Eomonim/Eomma), Para

  Dayang, Para Pengawal, Yuri, Dewa Jodoh, Jung So Ah

Genre                   : Family, Life, Romance, Fantasy, Angst, a bit Comedy

Length                  : Sequel

Rating                   : NC-17

Summary             :

“Kau memilih kalung yang tepat, Yoo Ra-ah. Itu kalung yang  aku buat untukmu.”

 

“Kau bercanda? Untuk apa kau memberikan setengah kemampuanmu untukku??”

 

“Jadi, setiap putri memiliki kekuatan yang sama seperti kekuatan dewa yang menjadi pasangannya?”

 

“Mwo?! Persembahan pengantin? Aku tidak memintanya! Shirreo! Biarkan saja yeoja itu mati tenggelam. Aku takkan menyelamatkannya!”

 

“Seharusnya aku yang meminta maaf. Yeoja itu hampir saja membuatku lupa kalau sekarang yang menjadi istriku adalah kau. Mianhae.”

 

“YA! Jangan berpikiran mesum!”

 

“Mungkin sampai kapanpun ia takkan pernah mengakui keberadaanku..”

 

  1. A.   N : Anyyeong! Part 4 nih.. Gimana? Semakin seru kah tiap partnya?  Dan buat readers yang belum berumur 17 tahun atau lebih, tolong jangan memaksakan diri kalian untuk tetap membaca part ini ya. Hehe.. DILARANG KERAS!!! RATING BUAT PART INI NC-17. JADI KALAU NGGA MAU DEWASA SEBELUM WAKTUNYA, MENDING MUNDUR AJA OKE..

 

–    ALL POV IS AUTHOR’S POV –

 

@@@

 

Sebulan setelahnya…

 

“Hei, Mui! Untuk apa kau meminta kami semua berkumpul di sini, huh?” Yoo Na melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Mui dengan sinis. Bagaimana tidak? Yoo Na masih ingat dengan perkataan Ken bulan lalu kalau Mui lah yang membiarkan Ken dan dewa lainnya memilih seorang pengantin dengan sesuka hati. Walaupun tak dapat dipungkiri Yoo Na juga merasa senang sosok Ken yang menggunakan raga Key sebagai tubuh pengganti telah memilihnya, namun ia tetap saja kesal dengan Mui.

Mui tersenyum sekilas menanggapi pertanyaan Yoo Na yang terdengar sedikit sinis di telinganya. Namun sikap sinis yeoja itu bukan suatu masalah untuknya.

“Yoo Na-ah.. Jangan bersikap berlebihan.” cibir Ken yang berada di sampingnya. Yoo Na hanya merengut kesal.

SRET!

Mui menarik sebuah kain lebar berwarna hitam yang menutupi sebuah meja di tengah ruangan itu. Kelima putri terperangah dan memandang takjub. Lima benda dengan lima warna yang berbeda memendarkan cahaya yang sangat terang. Yoo Jin dan Yoo Ra bahkan sampai menutupi kedua mata mereka karena merasa silau.

“Seperti pelangi..” gumam Yoo Na.

“Ige mwoya (Apa itu)?” tanya Yeon Sang pada You Ni yang berada di sampingnya.

“Kalung untukmu dan lainnya. Kalung yang sama dengan kalungku.” Ucapan You Ni mematahkan rasa penasaran Yeon Sang dan keempat putri yang lain.

“Hajiman.. Untuk apa?” tanya Yoo Ra sambil mendekat dan menyentuh kalung berwarna hijau yang memendarkan cahaya berwarna hijau pula.

“Kau memilih kalung yang tepat, Yoo Ra-ah. Itu kalung yang  aku buat untukmu.” Jura tersenyum dan memakaikan kalung itu di leher Yoo Ra. Yoo Ra tersipu. Begitu juga dengan ketiga dewa yang lain. Mereka sama-sama memakaikan tiga kalung yang lain ke leher putri masing-masing.

Ken mengedipkan sebelah matanya setelah ia menggantungkan kalung berwarna merah muda di leher Yoo Na. Yoo Na mendelik kesal menutupi rasa malunya. Namun Ken dapat melihat dengan jelas wajah Yoo Na merona untuknya.

Hyun menuntun Yeon Sang untuk memunggunginya. Hyun memakaikan kalung berwarna kuning keemasan pada Yeon Sang setelah Yeon Sang mengangkat sedikit rambut panjangnya yang tergerai bebas.

“Gomawo..” ujar Yeon Sang singkat. Yeon Sang masih merasa kikuk setelah kejadian  waktu itu dengan Hyun. Yeon Sang takut Hyun masih marah padanya. Namun Hyun tersenyum, membuat Yeon Sang yakin kalau namja di hadapannya ini tidak pernah marah padanya.

Yong Hee juga demikian. Yong Hee dipakaikan kalung berwarna biru oleh Taega. Berbeda dengan Yoo Jin, ia memakai kalung berwarna merah sendirian. Seharian ini ia tidak bertemu dengan Mir.

“Kalung-kalung yang kita berdua belas pakai memiliki beberapa fungsi. Salah satunya adalah membuat kita semua menjadi awet muda. Kita tidak akan menjadi tua jika kita selalu mengenakan kalung yang kita miliki ini.” Jelas Hyun pada semuanya seraya memperlihatkan kalung berwarna kuning keemasan yang menggantung di lehernya. Mendengar penjelasan dari Hyun membuat Yeon Sang ikut memperhatikan kalung miliknya yang serupa dengan kalung milik Hyun.

“Kalung itu juga berfungsi sebagai penghubung kita dengan pasangan kita dan saudara-saudara kita yang lainnya. Kalung itu akan melindungi kita dari bahaya.” Tambah Ken. Tanpa sadar Yoo Jin membuka setengah mulutnya.

“Woaahh!! Keren sekali, Noona!” girang Yoo Jin seraya melirik ke arah You Ni. You Ni hanya tersenyum dan mengangguk.

“Maja (Benar). Kalung milik Yoo Ra dibuat dengan kekuatanku. Itu artinya, setengah kemampuan yang aku miliki akan menjadi milik Yoo Ra. Begitu juga dengan kalung yang lainnya.” Yoo Ra menoleh cepat ke samping dan menatap Jura tak percaya.

“Kau bercanda? Untuk apa kau memberikan setengah kemampuanmu untukku??” tanya Yoo Ra sambil menggenggam tangan kokoh Jura.

“Aku sangat serius, Yoo Ra-ah. Ini memang bisa terjadi karena kita sudah saling terikat. Lihat tanda di telapak tangan kita ini. Kita sudah ter-i-kat.” Jura mengangkat telapak tangannya dan memperlihatkan tanda keterikatan mereka di sana. Reflek Yoo Ra ikut memandangi telapak tangannya sendiri. “Kekuatan yang aku miliki akan menjadi kekuatan kita berdua.” Lanjut Jura.

“Begitu juga dengan pasangan yang lain. Ah iya, aku lupa. Setiap kalung milik putri memiliki kekuatan penyembuh.” Sahut Taega sambil menganggukan kepalanya mantap.

“Jadi, setiap putri memiliki kekuatan yang sama seperti kekuatan dewa yang menjadi pasangannya?” tanya Yoo Jin membuat kesimpulan. Taega mengangguk cepat. Yoo Jin berdecak kagum. “Itu artinya aku bisa menyambar namja sialan (*baca: Mir) itu dengan kekuatan petir di kalung ini? Hehe..” You Ni hanya menggelengkan kepalanya mendengar gumaman dari mulut adik bungsunya itu.

“Kita akan kembali ke dunia manusia besok.” Kata Mui membuat keputusan.

“HYUNG!”

JDEEEERR!!

Kilatan petir berwarna merah muncul di tengah-tengah mereka. Membuat para putri terlonjak seketika. Sedetik kemudian, sosok Mir muncul dari sana.

“Bisa tidak kau muncul tidak dengan cara mengagetkan kami semua?” cibir Ken seraya menenangkan Yoo Na yang masih terlihat kaget.

“Tidak ada waktu untuk membahas itu, Ken Hyung.” Sergah Mir cepat. “Mui Hyung, penduduk desa yang entah dari desa mana mengirim seorang yeoja untuk dijadikan persembahan pengantin untuk Dewa Air. Untukmu, Hyung! Baru saja yeoja itu sudah ditenggelamkan. Eottokhae??” Mui terkesiap. Bahkan semuanya juga merasa tak percaya dengan kabar yang datang dari Mir.

“Mwo?! Persembahan pengantin? Aku tidak memintanya! Shirreo! Biarkan saja yeoja itu mati tenggelam. Aku takkan menyelamatkannya!” Mui terlihat marah. Baru saja Mui akan pergi, tangan You Ni menahan langkah suaminya itu.

“Mui, tolonglah dia. Selamatkanlah dia. Aku tak mau dia mati.” Pinta You Ni dengan nada memohon. Mui menghela nafasnya dengan malas dan mengangguk. Jika You Ni yang meminta, Mui tak bisa menolaknya. Entah mengapa.

Mereka semua berlari menuju sungai yang menjadi tempat diadakannya upacara pernikahan mereka waktu itu. Mui segera mengacungkan tangannya ke arah permukaan air sungai dan air sungai itu pun terbelah menjadi dua. Begitu sungai terbelah menjadi dua, dapat terlihat dengan jelas tubuh seorang yeoja ada di tengah-tengahnya. Dengan tangannya yang lain, Mui mengangkat tubuh yeoja itu dengan gulungan air dan membawa tubuh yeoja itu ke daratan. Mui segera menghampiri yeoja yang terkulai lemas itu. Mui menyibakkan rambut panjang yang menutupi wajah yeoja itu dan seketika Mui  membeku di tempatnya. Jura, Hyun, Ken, Taega dan Mir juga mematung setelah melihat wajah yeoja itu.

“Oh, tidak. Ini tidak mungkin..” gumam Taega tanpa sadar sambil terus memandangi wajah yeoja itu tanpa berkedip.

“Kenapa Taemin-ah?” tanya Yong Hee cepat. Yong Hee memanggil Taega dengan panggilan ‘Taemin’ karena Taega sendiri yang memintanya.

“Itu.. Itu.. Pengantin pertama Mui.” Jawab Jura dengan tatapan tak percaya.

“Mwo?!” Yoo Ra langsung menoleh ke sampingnya dan melihat ekspresi kesedihan menghiasi wajah You Ni. You Ni juga terlihat tak percaya.

“Jung So Ah..” gumam Mui seraya memeluk tubuh lemas yeoja itu erat. You Ni terbelalak melihat Mui memeluk yeoja lain di hadapannya. Hatinya merasa sakit. Walaupun Mui pernah bercerita kalau ia pernah memiliki seorang pengantin dan pengantin itu adalah nenek moyang You Ni sendiri, tapi tetap saja You Ni merasa cemburu. Dan satu lagi. Kenapa nenek moyangnya itu masih hidup??

Mui bangkit sambil menggendong tubuh yeoja itu. Mui melewati You Ni tanpa memandang You Ni sedikitpun. You Ni semakin ingin menangis dibuatnya.

“You Ni-ah..Uljima. Aku akan meminta Jura untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin nenek moyang kita masih hidup sampai saat ini. Dan juga tidak mungkin ada yeoja yang sangat mirip dengannya.” Kata Yoo Ra mencoba menenangkan You Ni. You Ni hanya mengangguk lemah. Air matanya langsung mengalir begitu saja.

“Hajiman.. Yang aku takutkan adalah..” Taega menggantungkan kalimatnya dan melirik ke  arah Hyun.

“… Jung So Ah belum mati saat itu..” sambung Hyun membuat yang lainnya terbelalak.

@@@

Hari sudah berganti malam. Namun Mui masih enggan untuk beranjak dari tempatnya. Ia terus duduk sambil memandangi wajah yeoja di hadapannya dengan intens. Matanya, hidungnya, bibirnya, garis rahangnya, bahkan rambutnya yang ikal benar-benar mirip dengan So Ah, pengantin pertamanya. Mui hampir saja menyentuh wajah yeoja itu namun segera diurungkan niatnya.

“Untuk apa kau berdiri di depan pintu seperti itu, You Ni-ah?” pertanyaan Mui yang tiba-tiba membuat You Ni yang berada di luar kamar merasa kaget.

SREEEEK..

You Ni akhirnya memilih masuk ke dalam kamar itu dengan perlahan. Ia takut membuat Mui marah dengan sikapnya.

“Sudah malam. Kenapa kau masih belum tidur?” tanya Mui yang  terdengar  sangat lembut. Prekdisinya salah. Ternyata Mui sama sekali tak marah padaku. Batin You  Ni.

“Aku menunggumu.” Jawab You Ni lirih. Kedua manik mata milik Mui membesar. Namun beberapa saat tatapannya berubah menjadi  sendu. Mui menghampiri You Ni.

“Kkaja!” Mui menggenggam tangan You Ni dan menariknya keluar dari kamar itu  menuju kamar mereka. You Ni hanya menurut dan reflek menolehkan kepalanya ke belakang, menatap wajah  yeoja yang masih terpejam itu untuk terakhir kalinya sebelum langkah kakinya membuat ia semakin jauh dengan kamar yeoja itu. “Tak perlu mengkhawatirkannya.” Kata Mui tegas membuat You Ni memalingkan wajahnya ke depan. Mui dan You Ni akhirnya sampai di kamar mereka dan Mui langsung menutup  pintu geser kamarnya itu rapat-rapat dengan sedikit kasar. You Ni terlonjak. Ia mulai merasa kalau sebenarnya Mui memang marah padanya namun Mui mencoba untuk menutupinya.

“Apa kau marah? Maafkan a-“

GREP!

Wajah You Ni bersemu merah. Tubuhnya kini sudah  berada dalam pelukan Mui. Mui memeluknya erat.

“Seharusnya aku yang meminta maaf. Yeoja itu hampir saja membuatku lupa kalau sekarang yang menjadi istriku adalah kau. Mianhae.” You Ni tersenyum dalam pelukan Mui.

“Gwenchana. Kau pasti sangat merindukannya.” You Ni mendorong tubuh Mui perlahan dan beranjak duduk di atas tempat tidurnya. “Apakah dia benar-benar mirip dengan nenek moyangku?” Mui ikut duduk di samping You Ni.

“Sejujurnya.. Ya. Mirip sekali. Tapi, itu tidak mungkin dia.” Mui mendesah panjang. Mengingat So Ah sama saja dengan membuka luka lamanya. You Ni hanya menggumam menanggapi jawaban  Mui. Mui memandang wajah You Ni lekat-lekat. Senyuman lebar terbentuk di kedua sudut bibirnya.

“Kau tak suka? Kau cemburu?” goda Mui.

“Aniyo!” elak You Ni cepat.

“Jangan berbohong. Aku ini dewa. Aku tahu kalau kau  memang cemburu. Akui saja..” Mui masih saja menggoda You Ni. You Ni menjadi kesal dan menyerongkan badannya ke samping. Ia tak ingin Mui melihat wajahnya yang sudah semerah tomat. Suasana hening. Namun beberapa saat setelah itu, Mui merengkuh kedua bahu You Ni dan mengalungkan kedua tangannya di sana.

“You Ni-ah.. Aku ingin memilikimu malam ini.” You Ni menoleh cepat dan seketika itu juga Mui mengerlingkan matanya nakal. “Tak ada salahnya kan?? Kita sudah menikah.”

“MWORAGO (APA KATAMU)?! Ah, andwae!!” Mui mematikan lilin-lilin yang menerangi kamar mereka seketika. “Mui, apa yang ingin kau lakukan??” You Ni mulai panik. Sedangkan Mui hanya terkekeh.

“Tenanglah.. Bagaimanapun, sekarang aku hidup dalam raga manusia. Tentu saja aku bisa merasakan hasrat untuk bercinta, bukan?” Mui mengerlingkan matanya nakal.

“Tapi-emph..” Mui mendaratkan bibir tebalnya di bibir mungil You Ni. You Ni terbelalak dan berusaha untuk menarik diri. Namun Mui memperdalam ciumannya dan memeluk pinggang You Ni erat. Jantung You Ni berdebar keras. Sensasi ciuman yang diberikan Mui benar-benar menghipnotisnya. Ia sadar, tubuhnya mulai melemas. Dan ia membiarkan Mui terus menyentuh setiap bagian tubuhnya.

Mui mendorong tubuh You Ni perlahan hingga kini You Ni sudah berbaring dengan sempurna di atas tempat tidur mereka. Mui tersenyum.

“Apa kau takut?” tanya Mui sambil memberikan ciumannya di setiap bagian wajah You Ni. You Ni mengatupkan kedua kelopak matanya rapat-rapat dan nafasnya terdengar ta beraturan. “Bukalah matamu..” Perlahan, You Ni membuka kedua matanya.

“Ne.. A-a-aku se-sedikit gu-gup. I-ni adalah pertama ka-kalinya untukku..” jawab You Ni terbata. Mui menghentikan aktifitasnya dan menatap kedua mata You Ni lekat-lekat.

“Tapi, kau terlihat sangat menikmatinya. Benar kan?” goda Mui membuat wajah You Ni semakin memerah. Belum sempat You Ni protes, Mui sudah kembali memberikan ciumannya di leher You Ni. You Ni mendesah dan matanya kembali terpejam. Hal itu membuat Mui semakin bersemangat.

Dengan kedua tangannya, Mui melepas melepas kain panjang yang membalut tubuh You Ni. You Ni hanya diam saja, membiarkan suaminya itu memuaskan hasrat bercintanya. Ia rela. Dan memang sudah kewajibannya untuk memberikan hal itu pada Mui.

Kini, tak ada sehelai kain pun yang menempel tubuh You Ni. Mui pun segera melepaskan kain yang membalut tubuhnya dan membuangnya ke sembarang arah.

“Bolehkah aku..” Mui menatap You Ni penuh arti. Dengan tatapannya yang sayu dan wajahnya yang masih memerah, You Ni mengagguk pelan. Mui tersenyum. “Saranghae.. Saranghae, You Ni-ah..” Mui mengecup dan menghisap bibir atas You Ni dengan perlahan. You Ni mendesah dalam ciuman mereka. Tak lama, You Ni pun mulai membalas permainan Mui.

“Empph.. Na ddo, Mui.. Mui.. Empphhh..” Ciuman Mui turun lebih ke bawah. Mui mulai mengulum apa yang sudah dari tadi ingin dikulumnya. Mui mengangkat selimut yang ada dengan satu tangannya yang bebas dan menutupi tubuh mereka dengan selimut itu.

“Yeah, say my name, Baby..”

“Mui.. Ehhh…”

@@@

 

CTEK!

“Auw! Ya! Kau ini yeoja atau namja, huh?!” pekik Ken sambil mengusap-usap dahinya yang memerah karena disentil oleh Yoo Na berkali-kali. Yoo Na hanya terus terkekeh melihat hasil siksaannya.

“Itu hukumanmu karena kalah dalam permainan ini.” Ken mendelik mendengar jawaban Yoo Na.

“Ya! Kita coba lagi. Kali ini aku pasti menang.” Kata Ken optimis. Yoo Na menyeringai. Ken dan Yoo Na mengangkat tangannya dan..

“Gunting, batu, ker-tas!” seru mereka berdua bersamaan. Ken memilih batu. Sialnya, Yoo Na memilih gunting. Ken langsung melompat kegirangan dan menjulurkan lidahnya berulang kali pada Yoo Na. Yoo Na hanya mencibir.

“Lihat kan? Aku bisa menang darimu. Aku tahu isi otakmu. Kau pasti akan memilih gunting. Ceroboh!” cibir Ken yang sudah siap-siap akan menyentil dahi mulus Yoo Na.

“Ya! This is not fair! Kau membaca pikiranku! Tidak, ini tidak sah! Aku yang menang!” seru Yoo Na sambil menghindari tangan Ken yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Key menyeringai.

“Lihatlah apa yang kau perbuat di dahiku ini!” kata Ken sambil menunjuk beberapa bekas kemerahan di sana. “Ini ulahmu. Kau sudah menang sepuluh kali. Jadi jika aku menang sekali saja tak apa kan?” Ken mengerlingkan matanya. “Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menyentil dahi milikmu itu.” Tanpa menunggu Yoo Na mengomel lagi, Ken langsung  melancarkan aksinya.

CTAK!

“AUW! Aphoo (Sakit)..” Ken terlonjak. Ia terlalu keras menyentil Yoo Na. Ken panik dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Yoo Na. Ken merasa bersalah.

“Gwenchana? Ah, mianhae..” tanya Ken sambil memandangi wajah Yoo Na yang menunduk. Ken mengusap-usap dahi Yoo Na lembut. Yoo Na terus merutuki perbuatan Ken. Tanpa sadar, Ken terus mendekat dan mendekat. Ia menatap Yoo Na dengan kedua matanya yang  sayu. Yoo Na mendongakkan kepalanya dan jantungnya berdetak cepat ketika sadar Ken tengah menatapnya seperti itu. Yoo Na tak dapat menghindar dan memejamkan matanya rapat-rapat hingga dahinya yang kemerahan berkerut. Ken tersenyum.

CUP!

Ken mengecup bibir Yoo Na kilat. Yoo Na membuka satu kelopak matanya takut-takut. Sedetik kemudian kedua matanya terbuka  lebar. Ken hanya tersenyum penuh arti menanggapinya.

“Untung saja aku masih bisa menahannya untuk tidak berlama-lama menciummu. Kalau tidak mungkin a..ku.. a..kan…” Key sengaja menggantungkan kalimatnya dan mengatakan kata-kata terakhir dengan tempo yang sengaja diperlambat olehnya.

“YA! Jangan berpikiran mesum! Dewa macam apa kau?!” Tawa Ken lepas seketika. Sekali lagi ia berhasil membuat Yoo Na salah tingkah dibuatnya. Akhir-akhir ini ia sangat suka dan ketagihan melihat wajah kesal Yoo Na yang seperti itu.

“Siapa yang berpikiran mesum? Jangan-jangan kau yang..” Lagi-lagi Ken menggantungkan kalimatnya.

“YA! MICHYEO (GILA)!!” Yoo  Na loncat ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ken tersenyum dan menjetikkan jarinya ke udara. Lilin-lilin yang menerangi kamar mereka pun redup. Ken berbaring di samping Yoo Na dan menarik selimut sejajar dengan dadanya.

“Jaljayo, Chagiya (Selamat malam, Sayang)..” Ken mengusap puncak kepala Yoo Na yang tertutupi selimut. Yoo Na tersenyum di balik selimutnya dan mulai terlelap.

@@@

 

“Aiish!” Ini sudah ke sekian kalinya Yoo Ra menggerutu dan merasa gelisah. Yoo Ra menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan kasar dan memposisikan dirinya duduk. Ia benar-benar tak bisa tidur malam ini karena suara berisik yang terdengar dari kamar sebelah. Kamar Ken dan Yoo Na.

Jura yang sedang memandang langit malam di dekat jendela menoleh dan melihat Yoo Ra yang  tampak berantakan. Ikatan rambutnya sudah terlepas, meninggalkan helai demi helai rambutnya yang bebas.

“Hei..” sapa Jura sambil beringsut di dekat Yoo Ra. “Kenapa belum tidur?” Jura bertanya meskipun sudah tahu apa jawabannya. Jujur saja, yang membuatnya masih terjaga juga karena suara berisik yang ditimbulkan oleh Ken dan Yoo Na. Sedang apa sebenarnya mereka? Kenapa berteriak-teriak seperti itu?? Aku tak menyangka ternyata Ken setangguh itu. Batin Jura. Yoo Ra hanya menggeleng dan mendesah resah. Ia benar-benar ingin tidur. Entah kenapa badannya terasa lelah sekali.

“Aku ingin sekali tidur. Tapi berisik sekali.” Ucap Yoo Ra yang terdengar manja di telinga Jura. Jura terkekeh, merasa gemas dengan istrinya itu.

“Mau jalan-jalan sebentar?” Yoo Ra tersenyum dan mengangguk cepat. Jura bangkit dan membuka jendela kamar lebar-lebar. “Ayo..” Jura mengulurkan tangannya pada Yoo Ra yang sudah berada di sampingnya. Yoo Ra menatap Jura dengan sedikit ragu namun ia tetap menerima uluran tangan Jura. Jura mengangkat tubuh Yoo Ra membuat yeoja itu terkesiap sesaat. “Pegangan yang kuat. Aku akan membawamu terbang.”

“MWO?!” pekik Yoo Ra.

“HUP!” Jura melompat sambil menggendong Yoo Ra. Yoo Ra reflek menutup kedua matanya. Apakah aku mati? Batin Yoo Ra.

“Aigoo.. Bukalah matamu. Ini indah sekali..” Perlahan Yoo Ra membuka matanya. Ia tak bisa percaya dengan kedua matanya. Matanya terus mengerjap meyakinkan dirinya kalau ini bukan mimpi. Jura membawanya terbang di atas langit. Awan-awan gelap berwarna biru kehitaman menghiasi langit luas malam itu. Jura memejamkan matanya sesaat. Ketika ia membuka matanya, muncul sebuah pelangi tak jauh dari tempatnya. Yoo Ra semakin menganga dibuatnya.

“Kau yang membuat pelangi itu??? Di malam hari seperti ini?” tanya Yoo Ra takjub. Jura terkekeh dan mengangguk.

“Apapun bisa aku lakukan. Ini keahlianku. Kau bisa menganggapku tukang sulap sekalipun jika kau mau. As your wish, My Wife.” Wajah Yoo Ra memerah seketika. Eomma, namja ini benar-benar bisa membuat hatiku senang. Batin Yoo Ra. Jinki terkekeh mendengar isi hati Yoo Ra.

Mereka terus terbang dan jarak mereka semakin dekat dengan pelangi buatan Jura itu. Hingga akhirnya mereka berdua menembus pelangi itu. Pelangi itu pun menghilang. Jura memejamkan matanya lagi. Kali ini ia menciptakan sebuah istana di atas langit. Yoo Ra tak bisa mengedipkan kedua matanya untuk beberapa saat melihat apa yang Jura buat sekarang.

TAP TAP!

Jura menapakkan kedua kakinya di istana itu dan menurunkan Yoo Ra dari gendongannya.

“Gomawo. Pelangi itu indah sekali.” Jura mengacak-acak rambut panjang Yoo Ra.

“Kita sudah sebulan menjadi sepasang suami-istri. Jangan bersikap formal seperti itu denganku. Santai saja. Kita sudah menikah, maka derajat kita sama. Manusia yang menikah dengan dewa, maka ia akan menjadi dewa juga. Dalam hal ini, itu artinya kau menjadi seorang dewi. Dewi Langit..” Jura tersenyum, menampilkan deretan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi. Yoo Ra seakan meleleh dibuatnya. Eomma, rasanya aku tak tahan jika harus berdua saja dengannya seperti ini. Batin Yoo Ra. Jura terkekeh. Dari tadi ia bisa mendengar suara hati Yoo Ra tentangnya. Tapi sepertinya Yoo Ra lupa dengan kemampuan setiap dewa yang memang memiliki kekuatan untuk membaca pikiran dan kata hati manusia.

“Ne. Kalau begitu, untuk apa istana ini?” tanya Yoo Ra sambil mengikuti Jura yang sudah mengambil langkah di depannya. Jura menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Jura tampak berpikir.

“Emm.. Anggap saja ini adalah rumah pribadi kita berdua.” BLUSH! Yoo Ra segera memalingkan wajahnya.

“Ber-ber-dua??” Wajah Yoo Ra memerah.

“Malam ini aku ingin kita berdua saja. Lagipula, bukankah tadi kau tak bisa tidur? Kau butuh ketenangan kan? Tak apa kan jika hanya berdua saja denganku??” Jinki mengedipkan sebelah matanya. Eomma, eottkhae?? Justru kemungkinan besar akan terjadi apa-apa jika aku hanya berdua saja dengannya. Aiish, nan bukkeuleowo (Aku malu)!! Ke sekian kalinya Yoo Ra berkata dalam hati dan ke sekian kalinya pula, Jura terkekeh gemas dengan yeoja di hadapannya ini.

@@@

 

DUK!

Kepala Yeon Sang sukses menyentuh meja kayu di hadapannya. Yeoja itu tertidur begitu saja. Seketika kedua mata Hyun yang semula terpejam langsung terbuka. Hyung memang memliki kepekaan yang sangat sensitif pada sekitarnya. Padahal sebelumnya ia tengah tertidur dengan pulas.

Hyun menoleh dan hanya menggelengkan kepalanya melihat Yeon Sang. Ia bangkit mendekat dan melihat apa yang Yeon Sang kerjakan hingga tengah tertidur seperti itu.

“Puisi? Dia masih suka membuat puisi?” gumam Hyun sambil mengamati huruf-huruf Hangeul yang tertera di atas secarik kertas tipis dan masih terlihat basah oleh tinta berwarna hitam. Hyun memutuskan untuk membaca puisi itu. Hyun ingat, ia baru pernah sekali membaca puisi buatan Yeon Sang. “Ah, tidak. Bukan aku yang pernah membaca puisinya. Tapi mata ini. Mata milik Jonghyun ini.” Gumamnya lagi. Lagi-lagi tubuh Jonghyun seperti mengirimkan sebuah sinyal yang berkaitan tentang ingatan Jonghyun tentang Yeon Sang pada diri Hyun.

 

Aku menari bersama bayanganku di bawah sinar bulan

Tempat ini sungguh berbeda dari dunia manusia

Dengan cahayanya yang tak akan redup dan terus menyala

Bulan mengelilingi gerbang istana layaknya gerbang sutra

 

Manusia selalu merasa bahagia di setiap pertemuan

Dan bersedih di setiap perpisahan

Tak selamanya pula bulan akan terus bersinar dengan terang

Memang itulah yang terjadi sejak dunia tercipta

 

Semoga kita diberkahi umur panjang, Kekasihku..

Dengan begitu, meski terpisah, kita masih bisa merasakan dan berbagi sinar bulan yang sama…

 

Hyun tersenyum setelah membaca puisi itu.

“Aku harap yang kau sebut sebagai kekasih itu adalah aku, Yeon Sang-ah..” kata Hyun seraya memandang wajah Yeon Sang yang terlihat lelah dalam tidurnya. Hyun merapikan kuas tulis, kertas-kertas dan puisi itu sebelum ia mengangkat tubuh mungil Yeon Sang dan membaringkannya di atas tempat tidur berkelambu putih tulang milik mereka.

Sudah sebulan ini mereka tidur di tempat tidur yang sama. Namun Hyun tidak berani meminta Yeon Sang untuk menjadi miliknya seutuhnya. Ia tidak seberani adiknya Mui yang ia tahu bisa dengan  mudahnya mendapatkan You Ni sepenuhnya. Hyun juga tidak bisa seberani kakaknya, Jura, yang dengan mudahnya menyatakan apa yang ia rasa dalam hatinya di depan Yoo Ra.

Hyun sadar, sudah selama sebulan ini ia bahkan hanya berani menyentuh dan menggenggam tangan kecil Yeon Sang. Ia sebenarnya ingin mengucapkan ‘jaljayo’ seperti Ken pada Yoo Na sebelum Yoo Na terlelap. Ia juga ingin bisa mengobrol dan bercanda dengan bebas tanpa ada rasa kikuk seperti yang Mir dan Yoo Jin lakukan setiap hari. Bahkan pasangan itu sering kali meributkan hal-hal sepele. Namun itu yang membuat kedekatan mereka semakin tampak. Apa mungkin aku masih belum banyak berusaha untuk mendapatkan hati dan kepercayaan Yeon Sang? Batin Hyun sedih.

Hyun lebih memilih Yeon Sang memarahinya atau memukulinya sekalipun. Rasa sakit di fisik tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hatinya yang terasa kosong seperti ini. Ia benar-benar ingin Yeon Sang bisa sepenuhnya percaya padanya dan membuka hati untuknya. Meskipun ia bukan Jonghyun, meskipun Yeon Sang hanya mencintai raganya saja, Hyun yakin ia bisa rela menerima kenyataan itu. Tapi kenyataan yang ada sekarang tidak seperti itu. Ia masih merasa Yeon Sang kerap menjaga jarak dengannya. Bahkan Yeon Sang belum pernah sekalipun menuruti keinginannya untuk memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ sejak sebulan yang lalu.

Air mata menetes lagi dari sudut mata milik Hyun. Hyun bangkit dan dengan satu gerakan cepat tangan kanannya, ia mematikan lilin-lilin kecil yang menerangi kamar itu dengan kekuatan angin miliknya. Hyun keluar dari kamar setelah itu. Ini adalah pertama kalinya ia tak ingin tidur sekamar bahkan satu tempat tidur dengan Yeon Sang. Perasaannya sangat kacau saat ini.

SREEK..

Pintu geser kamar itu tertutup. Suasana hening. Namun tiba-tiba Yeon Sang terjaga. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk dengan posisi kedua lutut yang terangkat. Ia menelungkupkan kepalanya di atas kedua lututnya dan kedua tangannya memeluk lututnya erat-erat. Yeon Sang terisak. Semakin lama ia semakin terisak. Ia tak cukup terlelap untuk tidak bisa mendengar ucapan Hyun tadi tentangnya. Ia merasa bersalah. Tapi entah kenapa, ia belum bisa membuka hatinya untuk Hyun meskipun Hyun hidup dalam raga orang yang sangat dicintainya sekalipun.

Hyun berdiri di depan pintu kamarnya. Ia dapat mendengar isak tangis dari dalam kamar. Tentu itu tangisan Yeon Sang. Namun ia tak ingin kembali ke dalam dan menghibur Yeon Sang.

“Mungkin sampai kapanpun ia takkan pernah mengakui keberadaanku..” keluh Hyun seraya menghapus air mata yang membasahi sekitar matanya dan berlalu pergi.

@@@

 

Keesokan harinya…

 

“Kalian yakin kita akan pulang ke dunia manusia dengan pakaian seperti ini??” tanya Yoo Jin sambil memperhatikan penampilan keenam dewa dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Lalu tatapannya teralih pada penampilannya sendiri dan penampilan kelima kakaknya. Yoo Jin tak bisa membayangkan jika mereka datang ke dunia manusia dengan mengenakan pakaian aneh seperti ini, hanya berbalut kain panjang seperti sprei tempat tidur. Bisa-bisa mereka dianggap gila setelah sampai di dunia nanti.

“Memangnya ada masalah?” tanya Mir.

PLETAK!

“Aissh.. Kenapa selalu memukulku???” keluh Mir seraya mengusap-usap kepalanya yang menjadi sasaran empuk Yoo Jin. Yoo Jin mengerang. Namja ini benar-benar tak tahu apa-apa. Gerutu Yoo Jin dalam hati.

“Michiesseo (Kau gila)?! Dengar, kita akan pulang ke dunia manusia. Jangan samakan dengan Dunia Enam Dewa ini. Tentu saja penampilan kita harus diubah. Kau mau orang-orang menganggap kita gila? Paboya (Bodohnya)!” jelas Yoo Jin panjang lebar dengan setengah berteriak. Mir sampai menutup kedua telinganya.

“Yoo Jin benar. Aku juga tak tahan selama sebulan ini memakai baju aneh seperti ini.” Sambung Yoo Na.

“Baiklah. Tapi kita harus memakai pakaian yang seperti apa?” tanya Jura.

“Aiish, jincca (Benar-benar)!” erang Yoo Jin sekali lagi. “Apa kalung yang kita pakai ini tidak ada fungsinya? Kita bisa membuat pakaian dengan kalung ini kan??” kata Yoo Jin seraya memperlihatkan kalungnya yang memendarkan cahaya kemerahan.

“Ah, keurom (Tentu)!” timpal Jura. “Tentu saja bisa. Kau pintar sekali, Putri Yoo Jin.” Puji Jura. Yoo Jin tersenyum bangga.

“Changkamman!” sela You Ni.

“Waeyo, You Ni-ah?” tanya  Yoo Ra sambil melirik ke arah Jura dan You Ni bergantian. “Apa ada yang salah?”

“Ne, sedikit. Sepertinya kita tidak boleh membiarkan keenam dewa menciptakan pakaian mereka sendiri. Aku takut mereka justru menciptakan pakaian-pakaian yang seperti kita pakai ini lagi. Benar kan?” Kelima putri yang lain mengangguk setuju membenarkan perkataan You Ni. “Jadi, kita saja yang menciptakan pakaian untuk mereka dan kita sendiri. Otthe (Bagaimana)??” usul You Ni.

“Maja (Benar)!” setuju Yoo Ra. Yoo Ra kemudian mengatupkan kedua matanya dan mengecup ujung liontin hijau miliknya. Yoo Ra membayangkan pakaian apa yang cocok untuk Jura.

Tiba-tiba saja gumpalan awan yang sangat banyak datang dan mengkerumuni tubuh Jura. Dan ketika Yoo Ra membuka matanya, penampilan Jura sudah berubah. Jura memandangi dirinya sendiri dengan heran.

“Baju apa ini? Terasa sempit dan panas. Leherku juga seperti terikat.” Komentar Jura. Yoo Ra tersenyum. Melihat Jura sekarang seperti ia melihat Jinki dulu. Kemeja putih polos dengan dasi berwarna merah. Begitupula dengan jas dan celana panjang hitam yang dikenakan Jura sekarang. Jura sangat tampan.

“Itu namanya setelan jas, Hyung.” Jawab Mir. Jura mengernyitkan dahinya.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Jura.

“Di antara kita, hanya aku yang paling sering bermain ke dunia manusia. Tentu saja aku tahu, Hyung. Itu pakaian untuk seorang namja. Biasanya orang-orang yang sudah bekerja saja yang memakai pakaian seperti itu. Atau bisa juga dipakai untuk menghadiri acara-acara yang formal.” Jura hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mulai mengerti. Yoo Ra tersenyum melihat wajah polos Jura.

BYUUUR!

“Nae Manura (Istriku), kenapa kau menyiramku dengan air???” tanya Mui tiba-tiba pada You Ni. Semuanya menoleh ke arah Mui dan menahan tawa. Mui terlihat basah kuyup sekarang.

“Changkamman kidaryeo (Tunggu sebentar).” You Ni tersenyum. You Ni memperhatikan Mui yang terlihat basah. Dalam hitungan detik, air yang membasahi kain yang membalut tubuh Mui mengubah penampilan Mui. Sekarang Mui mengenakan kaos berwarna biru dengan dibalut kemeja berukuran ¾ semi formal dengan celana jeans berwarna biru.

“Nan joa (Aku suka).” Kata Mui memuji pakaian yang diciptakan You Ni untuknya.

JDEEERR!!

“YA! Kenapa kau menyambarku dengan petir, huh?!” marah Mir pada Yoo Jin. Yoo Jin memutar kedua bola matanya heran.

“Mau bagaimana lagi? Kau kau Dewa Petir. Jadi aku menciptakan pakaian untukmu dengan bantuan kekuatan petir.” Yoo Jin menjulurkan lidahnya dan terkekeh melihat suaminya yang terlihat gosong. Namun lama-kelamaan penampilan Mir berubah. Mir mengenakan sweater berhoodie warna hijau toska dan skinny jeans berwarna senada. Tak lupa Yoo Jin juga menciptakan kacamata hitam untuk Mir. Mir terlihat tampan. Sebelumnya memang Yoo Jin mengingat-ingat tokoh-tokoh dalam komik yang sudah pernah dibacanya dan membayangkan pakaian-pakaian dalam komik itu. Mir terlihat fashionable sekarang.

“Baiklah. Kali ini aku setuju denganmu. Aku akui kau pintar memilih pakaian untukku. Aku terlihat keren dengan penampilan seperti ini.” Mir tersenyum dibalik kacamata hitamnya dan mengacak-acak rambut Yoo Jin. Yoo Jin tertunduk malu dengan wajah bersemu merah.

“Bagaimana dengan kau, Putri?” tanya Taega sambil melirik ke sampingnya. Yong Hee tampak berpikir.

“Jujur aku bingung bagaimana cara menggunakan kekuatan dalam kalung kristal ini.” Ucap Yong Hee lirih. Taega menanggapinya dengan tersenyum.

“Gwenchana. Aku sudah ada ide untuk menciptakan pakaianku sendiri.” Jawab Taega. Taega mengecup kalungnya.

“Berikan aku pakaian seperti pakaian yang dipakai Mir.” Dalam sekejap mata, penampilan Taega sudah seperti penampilan Mir. Hanya saja Taega memakai pakaian serba putih. Kaos putih, jaket kulit berwarna putih, skinny jeans berwarna putih dan kacamata berbingkai putih tebal. Rambut merah milik Taega terlihat sangat kontras dengan pakaiannya sekarang. Yong Hee menelan ludahnya melihat ketampanan Taega.

“Yoo Na-ah.. Kenapa kau menciptakan pakaian seperti ini padaku?” tanya Ken setengah mengomel. Yoo Na memandang Ken dari atas sampai bawah tanpa merasa ada yang salah.

“Itu namanya training. Pakaian untuk olahraga. Dulu, Key Seonsangnim selalu memakai pakaian seperti itu saat mengajar. Kau tidak suka ya?” Kekesalan Ken seketika hilang. Ia melihat kesedihan di mata Yoo Na. Sepertinya Yoo Na merindukan sosok Key dengan pakaian seperti ini. Batin Ken.

“Oh, keuraeyo (begitukah)? Gwenchana. Begini lebih baik daripada sebelumnya.” Yoo Na tersenyum tipis.

“Hyun..” Hyun tersentak dan menoleh ke sampingnya. Ia melihat Yeon Sang tengah menatapnya dengan intens. “Kau ingin pakaian seperti apa?” tanya Yeon Sang sarat akan kecanggungan. Yeon Sang tak berani menatap mata Hyun lebih lama. Dan itu yang membuat kesedihan merayapi hati Hyun lagi.

“Anni. Aku akan menciptakan pakaian untukku sendiri. Kau tak perlu repot.” Kata Hyun dengan nada yang datar. Yeon Sang mendongak dan terlihat sedih mendengar jawaban Hyun. Hyun mengalihkan tatapannya. Ia tak ingin melihat wajah sedih Yeon Sang. Lalu, Hyun memejamkan matanya. Angin semilir datang dan mengoyak anak rambut dan menabrak tubuhnya. Hyun sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja kotak-kotak hitam-putih dan celana jeans berwarna hitam. “Kkaja, kita berangkat sekarang!” Hyun menggandeng tangan Yeon Sang mengikuti langkah saudara-saudaranya yang lain. Yeon Sang hanya menurut dan diam saja. Ia tak ingin membuat suasana hati Hyun semakin buruk.

Semua putri termasuk Yeon Sang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun-gaun yang cantik. Bukan dengan kain panjang lagi. Satu per satu dengan cara berpasangan, mereka masuk dan menenggelamkan diri mereka ke dalam sungai yang menghubungkan Dunia Enam Dewa dengan dunia manusia.

BLUP BLUP BLUP!

Enam pasang pengantin itu bergandengan tangan dan sudah tak terlihat lagi di atas permukaan sungai. Mui dengan sigap melindungi dirinya dan yang lainnya dengan gelembung udara besar berisi oksigen agar semuanya dapat bernafas dalam air.

Mereka berdua belas semakin lama semakin turun ke bawah sungai. Para putri terlihat panik karena semakin ke bawah semakin tak ada cahaya yang menerangi mereka. Tiba-tiba kalung milik mereka berdua belas memendarkan cahaya dengan sangat terang. Hal itu cukup untuk menghilangkan sedikit demi sedikit rasa takut dalam diri para putri.

Jura melirik Hyun, Ken, Mui, Taega dan Mir bergantian yang juga sedang balik menatapnya. Jura mengangguk. Sedetik kemudian, secara bersamaan, para dewa meletakkan tangan kanan mereka di puncak kepala istri-istri mereka dan cahaya menerangi sekitar telapak tangan mereka. Ketika keenam dewa menjauhkan tangan kanan mereka, kesadaran keenam putri sudah menghilang.

@@@

 

Seorang yeoja bangkit dari tidurnya dan beranjak keluar dari kamarnya. Kakinya berjalan tak tentu arah dan akhirnya mengantarkannya ke depan sebuah kamar. Yeoja itu terkesiap. Namun sesaat kemudian, senyuman licik terukir di wajah tirusnya. Ia menyibakkan rambut panjang ikalnya ke belakang dan mendekat pada enam tabung kaca besar berisi air dan juga berisi.. enam tubuh yeoja!

“Jadi, Mui dan saudara-saudaranya menyimpan tubuh enam putri di dalam tabung kaca berair ini?” Yeoja itu menyeringai. “Menarik sekali. Dan sekarang mereka semua pergi ke dunia manusia?” Yeoja itu terkekeh. Yeoja itu memutari tabung-tabung kaca itu dan memandangi tubuh-tubuh yang terendam air di dalamnya. “Apakah ini artinya keenam putri sudah mati?” gumam yeoja itu. Yeoja itu tampak berpikir keras. “Haruskah aku menghancurkan keenam tabung kaca ini? Atau.. Aku menyusul mereka ke dunia manusia?” Yeoja itu terkekeh pelan dengan kedua matanya yang berkilat.

-TBC-

-END OF AUTHOR’S POV-

 

Bagaimana? Penasaran siapa yeoja itu? Penasaran kenapa tubuh para putri disimpan di dalam tabung kaca berair? Apakah benar para putri memang sudah mati? Hehe.. Tunggu aja di part 5 ya.. ^^ Jangan lupa lika dan comment! Gomawo.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “My Princess for Me – Part 4”

  1. waaaww, aku ya ini yang komen pertama ? ahaha.. asiknya :p

    wuuuw cerita nya emang NC-17 banget nih, seruu tapi, detail banget nyeritainnya,
    yaahh,
    aku suka pairingannya yoo jin sama mir nih, mereka berantem mulu yaa kerjaannya…
    oya kesian aku kalo ngeliat hubungan hyun sama yeon sang… kapan yeon sang bisa nerima hyun.. ckck

    oya siapa ee itu cewek yang terakhir, jahat yah ? aa jadi penasaran sma part 5 nya.. ditunggu yaaaa 🙂 fightinggg ! XDD

    1. Haha, ne. Kamu pertama. Tengkyu! ^^

      Hayo, kamu udh 17th blm? 😉
      Aku kira bakal bnyk yg g mudeng saking detail nan rumitnya aku buat. Hehe..

      Iya. Mereka jadi couple yang jarang akurnya. HyunSang emang sad mulu. Tapi nanti ada happynya kok. 🙂

      Yeoja misterius. Wkwk, ditunhu aja next part, Chingu. Thanks udah ngikutin terus n ksh komen ya. 🙂

  2. bagus eonn daebakkkkk…………. di tunggu lho next partnya 🙂 ahh iya nc-17 untung aku udah 18 hehehe 🙂 nice 🙂

    1. Okeydokey. 😉
      Thanks udah baca n kasih komen terus ya. ^^

      Harusnya aku yang panggil kamu eonni kalo gitu. Haha, aku masih 17th. 😉

  3. bagus bagus..
    daebak.
    jgan” cewek yang di bagian terakhir itu pengantin pertamanya mui. oh noooooo!!
    konflik mulai keliatan nih.
    lanjuutt

    1. Hehe.. Silakan menebak-nebak dan penasaran. 😀 Yap, mulai dari part ini mulai muncul konflik baru. Di awal juga udah ada konflik kan? Sama selirnya.
      Yoyoy. Tengkyu udah komen. 🙂

  4. wahhh semakin seru aja nih ceritanyaa
    penasaran sama next partnya,
    banyakin partnya key sama yoona dong thooor, hehehe

    next part ditunggu secepatnya ya 🙂

  5. Wah, sepertinya keinginanmu bakal terwujud. Part depan aku emang buat lebih banyak buat KenNa.Ditunggu aja ya. Thanks udah kasih oksigen. 🙂

  6. nc 17 ya? hehehe jd gugup bcanya.. padahal cuma di bgian minho aja ya? sayang jg sih, utk nambah kesan romantis minho& yoo ni hrs jadi nc 17… tp itu terserah author yg buat.

    aq paling suka key-cole.. mreka so sweet!! :* bnyakin key-cole ya? ya? ya?
    dan utk jjong-sang… wahh nasib kalian menyedihkan T,T sabar ya abang jjong… mungkin karna itu kau menyalurkan nafsumu pada baby taem ya? #kesel #inget swc seoul 2

    siapa sih nenek-nenek itu? #eh?# maksudku so ah? wahh jahat tuh cwek!! ayo author semangat bikinnya!!

    1. Hehe, ngga kok. Adegan nc mui-you ni itu juga berkaitan dengan alur cerita di part-part selanjutnya. Justru aku bikin adegan nc mereka bukan untuk bikin kesan romantis. Wkwk.. Nanti lama-lama juga kamu mudeng maksudku, Chingu. 😉

      Jiah, yoo na kali. Bukan nicole. Hehe.. Cuma covernya aja pake picnya nicole.
      HyunSang bakal happy juga kok. 🙂

      Part depan bakal ketauan siapa yeoja asing itu. Tunggu aja, ne? ^^

  7. Hyaah.. Siapa pula tuh yeoja..??
    Ksian jjong.. Di saat yg laen dah sneng2 dy msih bergalau ria..
    “Yeonsang-ah.. Ayolah trima hyun sbagai jjong..”
    next.. Next..

    1. Hehe, untuk sekarang masih rahasia donk!
      Yeon Sang belum nerima Hyun karena masih nganggep Hyun itu cuma manfaatin raganya Jonghyun. Jadi ya mereka masih ‘menggalau’. Hehe

      thx udah komen yo. ^^

  8. ceritanya keren thor^^ ohya kalo bisa momennya ken-yoo na dibanyakin dong u,u
    soalnya aku suka banget couple yg itu ~~
    ok, next partnya jangan lama ya thor 🙂

Leave a Reply to Felecia Larassati Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s